Wisata Islandia dibuka Juni, Standar Tes COVID-19, Bali Oktober?

this formate

REYKJAVIK, bisniswisata.co.id: Perdana Menteri Islandia Katrin Jakobsdottir berencana mengurangi pembatasan kedatangan internasional paling lambat 15 Juni 2020. Sementara mulai 15 Mei beberapa profesional, ilmuwan, pembuat film dan atlit telah tiba di Islandia untuk melakukan uji coba system tes COVID-19 dan karantina yang telah dimodifikasi.

Pemerintah Islandia, kutip Lonely Planet  meminta pelancong mengunduh dan menggunakan aplikasi resmi yang juga telah digunakan warga setempat. Aplikasi penelusuran ini telah disempurnakan dan dipastikan mampu menjaga privasi pengguna. Data pribadi akan dirilis hanya untuk tujuan pelacakan, jika ditemukan infeksi/penularan.

“Ketika para pelancong kembali ke Islandia, kami ingin memiliki semua mekanisme untuk melindungi mereka dan kemajuan dalam mengendalikan pandemi. Strategi pengujian, pelacakan, dan isolasi skala besar di Islandia telah terbukti efektif sejauh ini. Kami ingin membangun pengalaman itu. Menciptakan tempat yang aman bagi mereka yang menginginkan perubahan pemandangan setelah musim semi yang sulit bagi kita semua,”kata Thordis Kolbrun Reykfjord Gylfadottir, Menteri Pariwisata, Industri, dan Inovasi, Islandia. Hingga saat ini, di Islandia tercatat ada 1801 kasus COVID-19 dan sepuluh kematian.

Selain Islandia, negara- negara destinasi wisata dunia lainnya juga mulai bersiap “melonggarkan” pembatasan pergerakan pasar wisata, dengan sejumlah persyaratan. Sikap berhati- hati dan mengendalikan euporia kebebasan bergerak sangat dihindari.

Bali Tumpuan Indonesia

Bagaimana dengan kepariwisataan Indonesia? Yang pariwisatanya memiliki kaidah Sapta Pesona  yaitu 7 (tujuh) unsur dalam setiap produk pariwisata serta dipergunakan sebagai tolak ukur peningkatan kualitas produk pariwisata. Ada dimensi keamanan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan.

Tujuan Sapta Pesona Wisata menurut alm Joop Ave (ketika itu) tidak semata-mata untuk kepentingan pariwisata. Dalam tataran lebih luas adalah strategi  meningkatkan disiplin nasional,  jati diri bangsa, berfokus pada citra baik bangsa dan negara.Secara komunal, kepariwisataan Indonesia memiliki standar kelokalan yang khas.

Ir. I Gst N Wisnu Wardana

Bali misalnya memadankan kearifan lokal Tri Hta Karana (THK) dalam dinamika perkembangan kepariwisataannya. Nilai tradisi yang diakui pihak badan pariwisata dunia UNWTO, bahkan lembaga ini membantu Yayasan Tri Hita Karana dan Paguyuban Pelaku, Pemerhati THK pelaksana THK Assesment dan Accreditation Awards me link dan match kan intisari nilai THK ke dalam kode etik pariwisata global. Dan pada akhirnya tumbuh konsep kepariwisataan berkelanjutan di level internasional.

Terkait pandemic COVID-19, apakah THK Assesment and Accreditaion Awards tetap dilaksanakan?

 “Assesment dan akreditasi THK Awards 2020, tetap dilaksanakn dengan peserta terbatas. Akibat penutupan sementara property mau pun objek wisata peserta, “ungkap Ketua Yayasan Tri Hita Karana, Ir. I Gst N Wisnu Wardana, menjawab bisniswisata.co.id.

Pilot Proyek

Menurut Wakil Gubernur Bali, Tjokorde Oka Artha Ardana Sukawati saat melakukan rapat dengan  Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani di Bali,  mulai Juni-Oktober 2020 akan melakukan gaining confidence .

Hal ini  mencakup persiapan dan revitalisasi destinasi, perencanaan program promosi serta bantuan terhadap para pelaku pariwisata. Dan destinasi pariwisata di Bali mulai dibuka secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan, promosi, penyelenggaraan event MICE Roadshow dan Media Campaign pada Oktober 2020.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menerapkan program CHS (Cleanliness, Health, and Safety) di setiap destinasi maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai strategi mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi COVID-19.

Menurut Sek. Kemenparekraft  saat ini Kemenparekraf sedang menyiapkan langkah-langkah pemulihan antara lain menyusun SOP yang mengacu pada standar kesehatan, kebersihan dan keselamatan. Rincian program pemulihan akan dibahas dan dikomunikasikan ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, Bali ditetapkan menjadi pilot project dalam penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lainnya di Indonesia.

Secara umum, Giri menjelaskan, konsep CHS mengacu pada protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan serta secara spesifik mengimplementasikan Sapta Pesona yang merupakan jiwa pariwisata Indonesia.

Catatan 60 Hari dari Markas Gugus Tugas COVID-19

this formate
Jika tulisan ini berisi evaluasi kinerja Doni Monardo, jatuhnya akan menjadi  subjektif dan serius. Subjektif, karena saya menjadi bagian dari komando yang dia pimpin. Serius karena tulisan evaluatif harus melalui kegiatan setengah riset. Di samping, tidak pada tempatnya sebuah evaluasi diluncurkan di saat “pertempuran” tengah berlangsung.Jika tulisan ini berisi agenda selama dua bulan menjabat Ketua Gugus Tugas Covid-19, lantas apa bedanya dengan jadwal kegiatan rutin? Tinggal minta catatannya kepada Kolonel Budi Irawan, Koorspri Ka BNPB maka lengkaplah point-point kegiatan Doni Monardo dua bulan terakhir. Ada ratusan aktivitas yang tercatat secara detail.Menarik justru kalau kita melihat dari sisi terdekat. Dekat secara emosional, maupun dekat secara jarak.  Bukankah, itu yang ada dalam benak setiap orang jika melihat kiprah Doni Monardo? Kebetulan dalam banyak kegiatan, saya bagian sebagai pelaku sekaligus saksi mata.

“Tolong, pak Doni di-make-up dulu sebelum tampil di TV. Saya kasihan melihatnya. Wajahnya lelah, kecapean”. Itu salah satu pesan WhatsApp yang pernah saya terima.

Artinya, berada pada sentral perhatian bangsa sebagai Komandan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, memang setiap gerak, setiap penampilan, selalu menjadi sorotan.

Untuk kesehatan, tanpa bermaksud mengesampingkan perhatian masyarakat, tetapi Doni Monardo adalah seorang jenderal bintang tiga aktif. Pola hidupnya adalah pola hidup prajurit. Begitu teratur, sesibuk apa pun aktivitasnya.

Enam-puluh hari, telah ia lalui dengan tidur di kantor. Selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu ia dedikasikan segenap waktu, tenaga, dan pikiran untuk memerangi Covid-19. Setiap hari pula, tak kurang dari lima sampai delapan kegiatan dikerjakan. Mulai dari rapat terbatas secara virtual dengan Presiden Joko Widodo dan pejabat terkait lain, rapat internal, menerima para tamu, mengkoordinasikan program Gugus Tugas, tanda tangan surat dan, wow … membalas satu persatu pesan masuk di hapenya.

Itu artinya, praktis selama 60 hari, sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor. Ia bekerja mulai jam berapa saja, dan selesai jam berapa saja. Dan jangan sekali-kali bertanya, “Sekarang hari apa ya?” Jangan. Sebab, itu pertanyaan khas milik Doni Monardo kepada orang-orang terdekatnya.

Lupa hari, bukan berarti lupa persoalan penting lain. Jika Anda kenal Doni Monardo, atau setidaknya kenal dengan orang yang dekat dengan Doni Monardo, tentu mahfum, bahwa ia termasuk pemilik daya ingat di atas rata-rata. Ia dianugerahi daya ingat yang luar biasa (tapi bukan untuk mengingat-ingat sekarang hari apa).

Contoh, tentang jumlah atau angka. Kebanyakan staf akan lupa atau hanya menduga-duga dan mengira-ira. Tapi Doni bisa menyebut dengan pasti, berapa jumlah (misal) APD yang dikirim ke Jawa Barat. Berapa luas lahan gambut yang terbakar tahun 2109. Berapa kg rendang yang dikirim dari Padang ke Palu untuk korban banjir bandang dan lainnya. Selain itu, ia ingat betul peristiwa-peristiwa penting, seperti misalnya tanggal berapa, bulan apa, dan di mana ia bertemu siapa dan membahas apa.

Begitulah, Doni Monardo selalu bekerja dan bekerja, dan hanya berhenti ketika rebah terlelap di tempat tidur. Jam istirahat Doni selama 60 hari terakhir, antara tiga sampai empat jam sehari. Betapa tidak. Pukul 00.00 tengah malam, terkadang ia masih bekerja. Bahkan, pukul 01.00 ia masih bergumam, “Waduh… masih ada ratusan WA yang belum terbaca  nih .”

Memasuki dan selama Ramadhan, kurang dari 4 jam kemudian dia sudah bangun untuk makan sahur. Nanti, selesai sholat shubuh  ia lanjutkan memejamkan mata barang satu-dua jam lagi.

Fokus di Kantor

Satu per satu agenda yang sudah tersusun pun ia jalani dengan semangat. Sebagian pekerjaan dilakukan di ruang lantai 10 Graha BNPB.

Nah ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Doni Monardo hampir tidak pernah duduk di kursi dan meja kerjanya. Hampir tidak pernah. Jadi, jangan pernah membayangkan Doni Monardo seperti seorang eksekutif yang duduk di kursi pimpinan, dengan meja kerja besar penuh dokumen di atasnya.

Termasuk jika harus menandatangai berkas atau dokumen penting. Tak jarang ia lakukan di atas meja di ruang staf. Bahkan, sering terlihat, ia menandatangani berkas di meja ruang tamu, bahkan di punggung ajudannya.

Dalam enam puluh hari kerja sebagai Kepala Gugus Tugas, hampir semua waktu ia habiskan di dalam kantor. Dari kantor pula ia mengendalikan semua pekerjaan. Dari kantor pula ia menerima semua laporan perkembangan yang terjadi di lapangan.

Sebagai perbandingan, selama 60 hari kerja, kurang dari 10 kali Doni meninggalkan Graha BNPB. Dua kali ke Istana Negara. Sekali ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dua kali ke RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekali ke Terminal Pulogebang, Jakarta Timur. Dan beberapa acara lain.

Nah, selama beraktivitas di lingkungan Graha BNPB, juga banyak catatan yang menarik. Jika dirunut tentu sangat panjang. Sekadar menyebut satu contoh, adalah saat suatu hari ia mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI-AD, lengkap dengan tiga bintang di pundak, serta berbagai brevet d dada kiri.

Hari itu, dan beberapa hari setelahnya, foto-foto dan berita-berita Doni Monardo mengenakan seragam militer (PDH) viral. Tidak sekadar viral, tapi juga disergai berbagai komen dari masyarakat luas sampai ke teman-teman terdekat.

Bahkan saat konferensi pers, para wartawan kelihatan sekali surprise melihat penampilan Doni yang biasanya mengenakan ham dan rompi BNPB, hari itu tampil dengan PDH perwira tinggi TNI-AD. Sejumlah wartawan (umumnya berusia muda), menampakkan ekspresi “melongo”, seolah baru sadar, bahwa Doni Monardo adalah militer aktif. Jenderal bintang tiga.

Suasana itu terbawa sampai ke akhir jumpa pers. Usai Doni Monardo mengakhiri keterangan, biasanya disusul dengan sesi tanya jawab. Nah, di sesi tanya jawab, terjadilah kejadian yang tidak biasa. Jika hari-hari biasa para wartawan beradu tunjuk jari, hari itu sepi. Nyaris tidak ada satu pun yang mengajukan pertanyaan.

Antara masih surprise dengan PDH yang dikenakan, atau segan bertanya, demi memandang tiga bintang di pundak Doni Monardo. Entahlah, yang jelas baju PDH Donj yang dikeluarkan dari lemari menjadi saksinya.

Berita “Miring”

Catatan lain, adalah hari-hari saat Doni Monardo cukup dibuat galau akibat berita media yang “miring”. Dalam 60 hari, setidaknya ada dua berita miring yang –diakui atau tidak—membuat Doni Monardo hari-hari itu agak “pelit senyum”.

Yang pertama, saat ia seperti “dibenturkan” dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Topiknya tentang pelonggaran izin operasional bagi transportasi umum. Atas kebijakan tersebut, statemen Doni yang kemudian viral dan dipotong lalu disebar-luarkan adalah pernyataan yang berbunyi, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tapi kebijakan pemerintahnya yang bisa membingungkan masyarakat.”

Doni gerah karena merasa bukan begitu kalimat yang ia maksud. Doni, atas berkembangnya berita yang menyorot kebijakan Menhub tadi mengatakan, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tetapi pemberitaannya yang membingungkan masyarakat.”

Bergantinya kata “pemberitaan” dengan “pemerintahan” tentu saja sebuah perbedaan yang sangat jauh. Oleh sebagian kalangan, pernyataan yang keliru tadi bahkan di-croping lalu di-share di berbagai platform medsos. Tak pelak, Doni pun seperti sedang dibenturkan dengan Menhub (pemerintah).

Memang, ada beberapa media yang tidak keliru dalam menulis pernyataannya. Persoalannya adalah, yang di-share dan diviralkan adalah pernyataan yang salah tulis. Jadi, meski sudah ada upaya untuk mengklarifikasi kepada media-media yang salah kutip, tetapi nyaris menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Selain karena jumlah media (online) yang sangat banyak, banyak pula di antara media tadi yang semata-mata mengejar klik bite. Caranya, dengan menampilkan berita-berita yang insinuatif, berita-berita dengan paradigma “bad news is a good news”. Dalam bahasa yang lain : New virus (covid 19) is no problem, News virus is big problem.

Masih ada satu berita lagi yang membuat perhatian Doni tersita untuk mengklarifikasi. Pernyataan yang ia ucapkan usai melakukan Rapat Terbatas dengan Presiden. Bahwa orang kelompok usia 45 tahun ke bawah dipersilakan bekerja.

Dikutip begitu saja, sehingga memicu kontroversi, terkhusus bagi pembaca berita online yang terbiasa hanya membaca judul saja dan langsung bikin kesimpulan. Mulai dari yang komentar nyinyir hingga yang bernada hujatan.

Tidak ada yang salah dengan statemen itu. Tidak ada media yang salah kutip. Yang menjadi masalah, karena media tidak menuliskannya secara lengkap. Bahwa, kelonggaran tadi diberikan tetap dalam konteks PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Sebab, kelonggaran bekerja kepada kelompok usia di bawah 45 tahun, memang dengan stressing atau penekanan pada kalimat “tetap mengacu pada ketentuan PSBB dan protokol kesehatan”.

Dengan dukungan data yang dihimpun Ketua Pakar Gugus Tugas, Prof Wiku Adisasmito, Doni Monardo mengimbau para pimpinan perusahaan atau instansi untuk memprioritaskan karyawan yang bekerja pada kelompok usia di bawah 45 tahun. Itu pun, harus karyawan yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.

Adapun bidang yang diperbolehkan, sesuai Pasal 13 Permenkes No. 9/2020 tentang PSBB, adalah 11 bidang. Kesebelas bidang itu adalah tempat kerja yang memberikan pelayanan: 1). Hankam; 2). ketertiban umum; 3). Pangan; 4). BBM & Gas; 5). Pelayanan kesehatan; 6). Perekonomian; 7). Keuangan, 8). Komunikasi; 9). Industri; 10). Ekspor dan impor; 11). Distribusi logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Ihwal mengapa usia 45 tahun ke bawah yang diberi kelonggaran? Juga bukan tanpa alasan. Berdasar catatan Tim Prof Wiku, kelompok usia itu yang risiko kematiannya paling kecil (15%), meski risiko terpaparnya besar. Sedangkan, risiko kematian kelompok usia di atas 46 tahun, sebesar 85%. Semua data itu dihimpun sejak pemerintah memberlakukan Masa Darurat Kesehatan Maret lalu.

Lebih rinci data Tim Pakar Gugas menyebutkan, sebagian besar korban Covid-19 meninggal adalah pemilik penyakit bawaan ginjal, yakni mencapai 7 dari 10 pasien. Urutan kedua, yang berpenyakit jantung, 5 dari 10 pasien.

Hidup Sehat ala Doni

Bersyukur, melewati 60 hari bertugas sebagai Kepala Gugus Tugas, tidak ada tanda-tanda kendor sedikit pun dari sosok Doni Monardo. Dalam banyak kesempatan, ia mengatakan, sedikit saja pasukan melihat panglimanya kendor, maka mental prajurit di lapangan bisa terganggu.

Konsisten dengan jargon Pentahelix, ia menyelaraskan semua program tadi menjadi program kerja kolektif. Bencana, baik alam maupun non alam, adalah tanggung jawab bersama. Karenanya, penanganannya pun harus bersatu dan bersama-sama.

Pentahelix adalah model gotong royong yang sangat sesuai diterapkan di Indonesia. Termasuk ketika bangsa ini dilanda wabah seperti yang sedang kita alami. Keterlibatan pemerintah bersama unsur masyarakat/komunitas, pengusaha, akademisi, dan media menjadi modal utama melawan bencana.

Dalam bingkai itu pula Doni tidak pernah mengendorkan semangat melindungi masyarakat dari paparan corona. Prinsip Doni Monardo, yang sakit harus sembuh, yang sehat tetap sehat. Yang tak kalah pentingnya, warga tidak boleh terpapar virus dan juga terkapar akibat dampak PHK.

Ingin tahu bagaimana Doni Monardo menjalani resep hidup sehat? Ia punya semboyan “empat sehat lima sempurna”. Berbeda dengan pengertian umum, empat sehat lima sempurna jaman dulu.

Nah  Doni merumuskan empat sehat lima sempurna ini kaitannya dalam menghadapi wabah Covid-19.

Yang pertama, mengenakan masker. Kedua, menjaga jarak (social & physical distancing). Ketiga, rajin mencuci tangan dengan sabun. Keempat, olahraga dan tidur teratur dan tidak panik. Lima penyempurnanya adalah makanan yang bergizi.

 

Presiden Jokowi Apresiasi Digelarnya ‘Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia’

this formate

Kemenparekraf Whisnutama ( kanan) saat membuka konser bersama di  6 TV ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia yang diinisiasi Komunitas Bersama Jaga Indonesia dan didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berjalan sukses Sabtu malam dan menghasilkan penggalangan dana Rp 4 milyar lebih.

Disiarkan secara langsung di enam stasiun televisi swasta yakni RCTI, SCTV, Net TV, Trans 7, ANTV, dan Kompas TV, konser yang menghadirkan puluhan artis ibu kota ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 4.017.217.884 yang nantinya akan disalurkan untuk membantu tenaga kesehatan yang berjuang menghadapi pandemi COVID-19, serta para pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19.

Presiden Joko Widodo juga turut menyambut baik digelarnya acara ini dan mengapresiasi semua pihak yang telah berinisiatif untuk bahu membahu, saling membantu dan menunjukkan rasa solidaritas seperti yang ditampilkan dalam konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia. “Semoga acara ini bisa menginspirasi banyak orang dan mempererat rasa persatuan kita,” kata Joko Widodo.

Presiden mengajak masyarakat untuk terus berinovasi dan berkreasi di tengah keterbatasan pandemi ini dan saling mendukung dengan mencintai karya anak bangsa, bangga dengan buatan Indonesia dan beli buatan Indonesia.

“Saya yakin setelah masa pandemi COVID-19 ini berakhir akan semakin banyak inovasi dan karya-karya yang akan bersinar. Mari bersama jaga Indonesia,” kata Joko Widodo.

Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia berlangsung selama dua jam mulai pukul 20.00 WIB. Konser dibuka dengan pemutaran video “Bersama Jaga Indonesia” yang mengajak masyarakat untuk menjaga Indonesia dengan disiplin membantu memutus penyebaran Covid19 dan tidak patah semangat bagi yang terdampak.

Acara kemudian berlanjut dengan dipandu Andhika Pratama dan Gading Marten sebagai pembawa acara. Selama acara, keduanya tidak henti mengajak masyarakat untuk terus berdonasi membantu pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif juga tenaga medis.

Adapun artis yang tampil diantaranya Erwin Gutawa Orchestra, Yovie Widianto, GIGI, Radja, Rossa, Andien, Via Vallen, Inul Daratista, Dira Sugandi, Yura Yunita, Tompi, Sandhy Sondoro, Iwa K, Afgan, Rizky Febian, Arsy Widianto, Rizki & Ridho, Andre Taulany, Sule, Andhika Pratama, Gading Marten, Baim Wong, Maia Estianty, dan lainnya. Penggalangan donasi sendiri masih akan terus dibuka melalui kitabisa.com/konserjagaindonesia dan benihbaik.com/campaign/bersamajagaindonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan Kemenparekraf/Baparekraf akan terus berupaya menjalankan mitigasi atas dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif seperti arahan Presiden Joko Widodo.

“Pariwisata dan ekonomi kreatif adalah sektor yang paling terdampak dari pandemi COVID-19. Dengan semangat bersama dan solidaritas, kita bisa bersama-sama menghadapi pandemi ini dan menjadi lebih baik lagi kedepannya,” kata Wishnutama.

KBRI Stockholm Gelar Sosialiasi Tata Laksana Pasien COVID -19 di Swedia

this formate

Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia tengah menjelaskan tara laksana pasien di Swedia

STOCKHOLM, Swedia, bisniswisata.co.id: Akhir pekan dimanfaatkan  KBRI Stockholm untuk kembali mengadakan bincang virtual bersama WNI yang dilakukan secara online. Bertindak selaku narasumber adalah Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia.

Ihdina mengangkat tema “Covid-19: Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia” dan pada sambutan pembukaannya, Dubes Bagas menyatakan pohaknya memfasilitasi WNI  untuk menanyakan langsung khususnya hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan di masa pandemi ini.

“Pemerintah Swedia menyebutkan bahwa setiap warga harus tetap berhati-hati dan aturan social distancing juga tetap akan terus berlaku sebagaimana telah diputuskan sebelumnya. Hal ini penting kita ingat, karena di Stockholm sendiri telah terdapat lebih dari 10.000 orang terinfeksi Covid-19″ ujar Bagas.

Sama halnya dengan di Latvia, walau sekarang aturannya lebih dilonggarkan, tapi warga diminta tetap berhati-hati dan penggunaan masker atau penutup wajah dalam transportasi publik sudah wajib. Mohon agar aturan-aturan ini selalu dipatuhi  semua,  tambah Bagas.

Dalam paparannya, Ihdina menyatakan bahwa virus Covid-19  memiliki masa inkubasi 2-14 hari dengan gejala klinis utama adalah demam, dan diikuti dengan gejala saluran pernapasan seperti batuk, hidung tersumbat, sesak napas, dan mungkin juga muncul gejala non-saluran pernapasan seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan diare.

“Yang harus dipahami bahwa virus Covid-19, SARS-CoV-2 memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan berikatan dengan Angiotensin Converting Ezyme 2 (ACE 2) Receptors di tubuh. ACE 2 ini ada di berbagai organ tidak hanya paru-paru, tapi juga hati, ginjal, usus, bahkan otak. Oleh karena itu, Covid-19 bisa mengakibatkan multiple organ failure” ujar Ihdina.

Dalam tata laksana pasien di Swedia, Ihdina menyatakan bahwa pasien yang tiba di rumah sakit dengan gejala klinis tersebut akan mendapatkan perawatan sesuai dengan medical assesment pasien tersebut.

Tidak semua pasien serta merta akan dimasukkan ke unit perawatan intensif, karena sebagai negara dengan rasio unit perawatan intensif per 100 ribu penduduk yang termasuk rendah dibandingkan negara Uni Eropa lainnya, membuat Swedia harus memperhitungkan dengan baik kapasitas unit perawatan intensif yang digunakan.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lonjakan yang dapat melumpuhkan fasilitas kesehatan yang terjadi di beberapa negara Eropa lainnya, seperti Italia. Keputusan seorang pasien masuk ke perawatan intensif dilakukan oleh tim dokter emergency rumah sakit.

“Per 16 Mei 2020, terdapat 29.207 kasus Covid-19 di Swedia dan 997 kasus Covid-19 di Latvia, dengan angka kematian sebanyak 3.646 jiwa di Swedia dan 19 jiwa di Latvia,” kata Ihdina

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah WNI yang tinggal di Swedia, Latvia, negara-negara Eropa lainnya, bahkan yang tinggal di Indonesia. Kegiatan semacam ini dipandang baik untuk terus dilakukan guna menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19.

 

Mallorca Jadi Pilot Project Dibukanya Kembali Pariwisata di Spanyol

this formate

Mallorca menyimpan sejarah Islam (foto: travel passionate)

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Pulau Mallorca yang merupakan tujuan wisata favorit bagi warga Jerman, Inggris, dan tentu saja Spanyol ini bersiap membuka diri bagi para pelancong. Pulau cantik yang beriklim khas mediterania akan mulai menyambut tamu dalam jumlah terbatas pada akhir Juni. 

Keputusan ini akan menjadi semacam ‘pilot project’ dimulainya kembali sektor pariwisata yang telah terhenti karena pandemi Covid-19, kata Francina Armengol, Presiden Regional Kepulauan Balearic, Kamis (15/5) seperti dilansir CNN. 

Rencananya, para pelancong dari Jerman dan negara-negara Eropa lain dengan tingkat infeksi virus Corona rendah, akan didatangkan oleh biro perjalanan besar TUI.

“Kami siap melakukan pilot project ini pada akhir Juni. Perlu persiapan agar kelompok wisatawan ini dapat merasa aman karena kesehatan mereka terjamin,” kata Armengol. 

Mallorca adalah pulau terbesar di Spanyol yang berada di Kepulauan Balears. Jaraknya sekitar 200 kilometer dari Barcelona. Pesonanya telah mendunia, terutama karena iklimnya yang khas. Di sana, matahari bersinar hampir sepanjang tahun (300 hari dalam setahun), bahkan di saat musim dingin sekalipun. Pada musim panas, matahari bersinar 10 jam sehari. Sedangkan di musim dingin, warga Mallorca tetap dapat menikmati matahari selama lima jam setiap harinya.

Tak banyak yang tahu bahwa ada jejak sejarah Islam di Mallorca. Indikasinya adalah bahasa. Penduduk Mallorca akrab dengan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Bahkan, mayoritas penduduk Mallorca merasa bangga dengan bahasa, budaya, dan arsitektur bangunan mereka yang merupakan warisan dari kebudayaan Islam. Sejarah mencatat, Mallorca memiliki warisan peradaban Islam yang sudah tersimpan selama berabad-abad.

Banyak orang Jerman memiliki holiday homes di sana. Minggu lalu, sekitar 200 pemilik rumah mendesak otoritas setempat agar diizinkan kembali berkunjung segera setelah kebijakan lockdown dicabut. Untuk mengantisipasi datangnya para pelancong, penguasa setempat telah menyiapkan sejumlah tindakan guna meminimalisir penyebaran virus mematikan ini.

Pada musim panas mendatang, petugas medis akan memberlakukan kebijakan wajib test kesehatan bagi para wisatawan, baik yang jelas menunjukkan gejala Corona maupun yang nampak sangat kecil. Mereka akan mengisolasi pelancong jika kedapatan hasil tesnya positif.

Selain itu Pemerintah Balearic juga sedang membuat applikasi ponsel yang dapat digunakan pelancong untuk menginfokan kepada otoritas setempat, jika mereka telah melakukan kontak fisik dengan seseorang yang baru-baru ini dinyatakan positif Covid-19.

Jika suatu saat Anda berkesempatan melancong ke Mallorca, sempatkanlah untuk menyambangi istana milik Raja Alfabia, penguasa Muslim terakhir pulau ini.

 

 

 

CEO IATA: Refund Tiket Dengan Voucher Lebih Fleksibel

this formate

Refund Tiket penerbangan jadi isu dunia ( Foto: unsplash.com/ Raychan)

MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memberikan perhatian utama masalah refund tiket dengan voucher oleh perusahaan penerbangan akibat pembatasan perjalanan dan kebijakan Lockdown ditengah pandemi global COVID-19 , kata Alexandre de Juniac, CEO IATA.

Dia meminta masyarakat memahami regulasi EU 261, peraturan yang menetapkan aturan umum tentang kompensasi dan bantuan kepada penumpang jika terjadi penolakan naik pesawat dan pembatalan atau penundaan lama penerbangan

Menurut regulasi EU 261, maskapai penerbangan Eropa harus mengembalikan sekitar 9,2 miliar Euro sebagai kompensasi terhadap penerbangan yang dibatalkan hingga akhir Mei,” kata Alexandre de Juniac, CEO IATA.

Padahal EU 261 bukan dirancang untuk menghadapi pembatalan massal akibat sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown untuk memerangi pandemi COVID-19.

Sekadar informasi, flight compensation regulation 261/2004, atau biasa disebut EU 261 merupakan regulasi yang dibuat untuk kenyamanan penumpang pesawat ketika penerbangannya mengalami penundaan (delay), tidak bisa boarding (denied boarding) misal karena overbooked, atau bahkan ada pembatalan (cancel) dari pihak maskapai.

“Oleh sebab itu, kami meminta fleksibelitas penerapan aturan ini agar bisa menggantinya dengan sistem refundable vouchers – atau penundaan reimbursements – sehingga perusahaan penerbangan dapat menyimpan uang tunai demi bertahan hidup terutama di masa krisis seperti saat ini. Kami pastikan, konsumen tetap akan mendapatkan pengembalian, tetapi butuh waktu,” kata Juniac.

Sejauh ini sudah 16 negara anggota Uni Eropa yang mewakili 70% populasi Eropa mendukung permintaan tersebut. Alih-alih mengamandemen regulasi EU 261 yang bertujuan untuk memperjelas panduan, Komisi Eropa justu mengeluarkan rekomendasi yang tidak jelas. 

Sejujurnya, menurut Juniac tindakan ini tidak membantu sama sekali maskapai penerba gan dan konsumen. Keduanya butuh kejelasan. Permintaan ini bukanlah mudah bagi IATA. Setiap orang yang bepergian harus diperlakukan adil dan bayarlah apa yang menjadi hutang mereka. 

“Tetapi dengan menerapkan regulasi EU261 yang fleksibel, kami yakin dapat memfasilitasi dan menjaga agar sektor ini tetap hidup selama krisis,” tambah Juniac.

Jika perusahaan penerbangan kehabisan uang, keadaan akan makin buruk. Banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Situasi ini akan memberi dampak negatif pada seluruh mata rantai industri perjalanan dan wisata. Selama ini industri penerbangan mampu mendorong bisnis di sektor terkait lainnya, dan menghubungkan ekonomi. 

Menurut Juniac, memulai kembali aktivitas ekonomi dengan sektor transportasi udara yang terseok-seok ibarat sedang bertinju seumur hidup tapi dengan satu tangan terikat di belakang.

“Kami minta negara-negara anggota Uni Eropa (UE) untuk meyakini bahwa pendekatan yang harmonis lewat sistem reimbursements dan vouchers dapat dilaksanakan dengan baik. Hak penumpang tidak akan hilang, hanya perlu sejumlah penyesuaian,”kata Juniac.

Di Indonesia

Refund tiket menjadi isu hangat juga ditanah air begitu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi melarang mudik 2020 berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020.

Imbasnya, permintaan refund tinggi, tak terkecuali untuk tiket pesawat. Namun, bentuk refund tiket pesawat yang diberikan justru dikeluhkan calon penumpang. Mereka mengeluhkan, adanya kebijakan refund khusus tiket pesawat yang dikembalikan tidak dengan uang tunai, melainkan voucer.

Kebijakan refund berupa voucer ini juga ditanggapi oleh Asosiasi Travel Agent Indonesia ( Astindo) melalui Sekretaris Jenderal DPP, Pauline Suharno.

Ia meminta perhatian kepada seluruh maskapai agar refund tiket berbentuk dana yang ditransfer ke rekening customer atau travel agent.

“Bukan mengembalikannya dalam bentuk voucer ataupun deposit, karena dalam kondisi saat ini seluruh industri, khususnya dalam hal ini adalah travel agent pun sangat membutuhkan dana tunai,” kata Pauline melalui rilisnya bulan lalu.

Ia mengkhawatirkan, apabila dana refund konsumen dan top up deposit tidak dikembalikan kepada yang berhak yaitu konsumen dan travel agent, maka puluhan miliar rupiah uang milik konsumen dan travel agent dianggap bagian dari aset mereka.”Karena mengendap di rekening bank mereka,” tambahnya.

Pauline juga bertanya, apakah ada jaminan bagi pemegang voucher refund, maupun pengusaha travel agent, perihal uang tiket dikembalikan utuh..”Sangat disayangkan baik konsumen maupun travel agent menjadi yang paling dirugikan dalam hal ini, maskapai penerbangan beroperasi bermodalkan uang milik konsumen dan travel agent,” jelasnya.

Sebelumnya, Kemenhub RI mengatakan, masyarakat bisa melakukan refund tiket maskapai. Namun, pengembalian pembelian tiket tersebut tak bisa berbentuk uang tunai.

“Airlines tidak ada kewajiban kembalikan uang cash, tapi dalam voucer yang 100 persen sama nilainya dengan yang sudah dikeluarkan,” kata Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto saat teleconference dengan wartawan

Novie menjelaskan, aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 185 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Melalui aturan tersebut, lanjut Novie, maskapai wajib melayani penumpang yang akan refund tiket. Misalnya dengan penjadwalan ulang, atau mengganti rutenya pada kemudian harinya.

Pernyataan Novie pun lantas segera diterapkan sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia seperti Garuda Indonesia, AirAsia, Citilink, Lion Air, dan sejumlah maskapai lain yang akhirnya melakukan refund berupa voucher.

Contohnya, jika melihat situs resmi Garuda Indonesia, tertulis jelas kebijakan refund dilakukan dengan menggunakan Travel Voucher.

“Refund hanya dapat ditukarkan dengan travel voucher yang dapat digunakan untuk pembelian tiket Garuda Indonesia selanjutnya,” tulis laman resmi Garuda Indonesia.

 

Alasan Operasional, AirAsia Tunda Layanan ke Surabaya

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: PERPANJANGAN masa pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah dan alasan operasional,  AirAsia Indonesia menyesuaikan pengoperasian penerbangan berjadwal rute internasional dan domestik secara bertahap, dan akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020 pada rute tertentu. 

Sementara penerbangan Kuala Lumpur-Surabaya dan Johor Bahru-Surabaya yang semula dijadwalkan beroperasi secara terbatas mulai 18 Mei 2020, ditunda. Pihak AirAsia, tidak merespon ketika dikonfirmasi bisniswisata.co.id dan tidak dijelaskan kendala operasional tersebut terkait dengan kasus enam penumpang dalam dua penerbangan AirAsia Kualalumpur- Tawau positip terpapar COVID-19.

Dikutip dari media online CNNT, petugas kesehatan daerah Tawau Dr Suzalinna Sulaiman memperingatkan penumpang yang menggunakan penerbangan AK5742 AirAsia pada 1 Mei dan AK5740 pada 4 Mei untuk segera menjalani pengujian COVID-19. Sekitar 400 penumpang AirAsia disarankan untuk menjalani tes Covid-19 setelah enam penumpang pada dua penerbangan dinyatakan positif. Dr Suzalinna mengatakan semua penumpang discreening pada saat kedatangan dan ditempatkan di karantina sesuai protokol saat ini.
“Namun, setelah enam dari mereka ditemukan positif, kami ingin semua penumpang menjalani tes kedua,” katanya.
Empat kasus positif ditemukan pada penerbangan pertama dan dua pada yang kedua.
“Orang-orang yang naik dua penerbangan yang dites positif tidak menunjukkan gejala,” kata dokter itu kepada wartawan.
Diperkirakan sumber infeksi berasal dari seorang warga yang tiba dalam penerbangan dari Kuala Lumpur. Dia mendesak semua penumpang untuk mematuhi jarak sosial yang ketat untuk melindungi anggota keluarga.
Calon penumpang terdampak penundan pembukaan rute penerbangan ke wilayah Jawa timur dan daerah lain di Indonesia, dihimbau untuk selalu memperhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan oleh otoritas wilayah atau pemerintah di wilayah/ negara asal maupun tujuan.

AirAsia telah menerapkan langkah-langkah kewaspadaan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan para tamu dan awak pesawat. Seluruh tamu diwajibkan menggunakan masker dari mulai proses check-in, masuk ke pesawat, selama penerbangan hingga pengambilan bagasi saat tiba di bandara tujuan. Tamu diharapkan membawa masker cadangan, cairan pembersih tangan, dan mengikuti ketentuan bagasi kabin AirAsia terbaru. Tamu diharapkan tiba 3 jam sebelum jadwal keberangkatan untuk menghindari kepadatan antrian sehubungan dengan pemeriksaan kesehatan di beberapa titik sebelum keberangkatan.

WTTC Dukung Kebijakan IATA Tolak Kebijakan 14 Hari Karantina

this formate

 MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menilai kebijakan wajib karantina selama 14 hari bagi orang-orang yang baru mendarat dapat memukul industri penerbangan.  

“Perjalanan internasional tidak mungkin dapat dimulai dalam kondisi seperti itu,” kata Alexandre de Juniac di IATA Media Briefing pada COVID-19, seperti dilansir dari website mereka. hari ini, dan dia pun menegaskan IATA menolak kebijakan itu.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Inggris minggu ini mengumumkan kebijakan wajib karantina selama 14 hari bagi orang-orang yang baru mendarat. Kebijakan ini merupakan bagian dari rencana negara tersebut melonggarkan aturan lockdown. 

Sayangnya, tidak ada keterangan detil soal berapa lama kebijakan ini akan berlangsung dan dalam kondisi bagaimana. Hal serupa juga dilakukan Pemerintah Spanyol. Mereka memberlakukan wajib 14 hari karantina bagi siapapun yang baru mendarat. Kebijakan ini akan berlaku hingga setidaknya 24 Mei atau mungkin lebih lama. 

Menurut Juniac perjalanan internasional tidak mungkin dapat dimulai dalam kondisi seperti itu. Survei terbaru IATA terhadap 11 maskapai penerbangan besar menunjukkan 84% penumpang mengatakan kebijakan karantina merupakan salah satu masalah utama dan 69% di antaranya mengatakan mereka tidak akan kembali melakukan perjalanan dalam kondisi seperti itu.

Juniac menambahkan, “Prioritas utama kami adalah memulai kembali industri ini dengan aman.” Solusinya, menurut dia bukan pada penerapan wajib 14 hari karantina, tetapi dengan pendekatan risiko yang berlapis serta perlunya koordinasi secara global. Negara asal orang-orang ini harus betul-betul menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan. 

“Sistem berbasis risiko yang kami tawarkan termasuk pemeriksaan suhu dan tindakan lain saat keberangkatan. Ini penting untuk memastikan mereka yang memiliki gejala COVID-19 tidak dapat terbang,” imbuh Juniac.

Sistem yang kuat di masing-masing negara, termasuk mencatat dengan baik jumlah orang terinfeksi serta penelusuran kontak yang ketat, dapat membantu mengelola risiko terutama mengidentifkasi mereka yang tidak menunjukkan gejala.

“Kami menentang kebijakan karantina karena masih ada cara lain. Kombinasi tindakan di atas, jika diterapkan dengan baik secara global, dapat mengelola risiko,” tegasnya.

IATA juga bekerjasama dengan organisasi penerbangan sipil internasional ICAO – salah satu badan PBB – dan pemangku kepentingan lain dalam menerapkan sistem berlapis berbasis risiko ini. Tujuannya untuk mengembalikan konektivitas global dengan aman dan efisien.

Sikap WTTC

Sementara itu World Travel & Tourism Council (WTTC) menyoroti sektor pariwisata yang akan menghadapi pemulihan bertahap selama beberapa bulan mendatang serta bagaimana penanganan industri ini terhadap proses perbaikannya.

WTTC juga mengingatkan negara-negara anggota Uni Eropa untuk ‘hati-hati’ bertindak sebelum memutuskan apakah turis yang datang perlu melewati karantina 14 hari karena tindakan karantina saat kedatangan turis akan menjadi ketidaknyamanan bagi turis itu dan menempatkan negara-negara yang memberlakukan aturan itu pada posisi yang tidak menguntungkan.

“Kami menyerukan kepada pemerintah untuk menemukan solusi alternatif daripada mempertahankan atau memperkenalkan tindakan karantina kedatangan. Setelah seorang pelancong diuji dan dinyatakan aman untuk bepergian, maka selanjutnya tidak perlu lagi ada karantina,” ujar Presiden & CEO WTTC, Gloria Guevara dari situs resminya.

WTTC mendukung sikap Komisi Eropa bahwa karantina tidak perlu dilakukan jika tindakan pengamanan yang tepat dan efektif dilakukan di titik keberangkatan dan kedatangan, baik itu untuk penerbangan, feri, kapal pesiar, bus, dan kereta api 

Survey dari lembaga penerbangan internasional IATA, sebanyak 69 persen pelancong mengklaim mereka tidak akan pergi ke tempat di mana ada pemberlakuan karantina 14 hari untuk turis yang datang.

Guevara mendukung penuh Komisi Eropa yang mengumumkan akan mulai kembali membuka Travel & Tourism 2020. Paket pedoman dan rekomendasi Komisi Eropa telah dirancang untuk memastikan pendekatan terkoordinasi untuk pariwisata dan transportasi di tingkat Eropa berdasarkan tindakan pembatasan.

“Langkah oleh Komisi Eropa ini diharapkan akan memulai kembali perjalanan secara bertahap di Eropa pada musim panas ini, sambil memastikan keselamatan dan kesehatan para pelancong dan mereka yang bekerja di sektor travel & tourism,” tambahnya.

Milenial Diburu Pulihkan Wisata Domestik, Bagaimana Kenyamanan Destinasinya ?

this formate

Wisata pantai di Bali, menyedot banyak kunjungan wisatawan domestik dan mancanegaea. ( foto: Hotel Discount)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial dua tahun terakhir  sudah menjadikan traveling sebagai bagian dari gaya hidupnya bahkan 80% pesanan tiket penerbangan dan hotel mereka adalah untuk tujuan domestik karena itu pemerintah harus fokus ke segment pasar ini.

” Milenial diburu dan diharapkan bisa berperan memulihkan wisata domestik. Tapi apakah destinasi wisata sudah disiapkan untuk kenyamanan berwisata mereka ?.  Pertanyaan saya satu saja dulu, bisakah pemerintah dan swasta pelaku industri wisata menyediakan WC umum yang bersih ?,” kata Gaery Undarsa.

Gaery Undarsa selaku Chief Marketing Officer & Co-Founder tiket.com langsung mengungkapkan pengalamannya sebagai wisatawan domestik atau wisatawan nusantara ( Wisnus) di negri sendiri.

Berbicara ketika menjadi nara sumber Anton Thedy dalam Live Insta Story membahas potensi wisatawan domestik memulihkan sektor pariwisata pasca COVID-19, Gaery mengatakan di tiket.com pihaknya fokus pada pasar domestik karena daya belinya kuat dan lebih memberikan masa depan.

Kondisi masyarakat di tengah pandemi global dengan aturan Stay at home, Work from Home termasuk belajar dan beribadah juga semua dari rumah diyakininya akan menjadi boom waktu untuk mendorong masyarakat Indonesia bahkan dunia kembali melakukan kegiatan wisata begitu pandemi global COVID-19 mampu ditaklukan.

” Berwisata sudah jadi bagian gaya hidup berbagai kalangan , kaki gatel untuk jalan-jalan apalagi bagi saya yang tidak pernah berdiam diri lama-lama di kantor maupun di rumah,” kata Anton Thedy tergelak 

Anton menjelaskan akibat kakinya ‘terpasung’ maka sehari dia membuat Live Insta Story di akun Instagramnya hingga 8 x sehari bahkan pernah juga 10 kali dalam sehari demi menyemati diri maupun para mitra franchise serta masyarakat luas. Anton juga terus belajar dari para nara sumbernya yang mau berbagi ilmu.

Seperti halnya Gaery, dia juga sepakat domestik traveler akan memulai perjalanan setelah ‘aturan’ kembali dilonggarkan sehingga masyarakat terutama kalangan milenial  dapat kembali berwisata.

Gaery mengatakan info yang diperoleh dari mitranya di China, destinasi wisata domestik di negri itu sudah mulai bangkit lagi meskipun aturan ketat masih terus berlaku, mereka tidak takut apalagi perang harga tiket penerbangan menguntungkan konsumen.

” Ibarat boom waktu, negara yang mengawali pandemi global ini dari kota Wuhan sudah ramai berwisata karena sekian lama terkukung di rumah sehingga ramai-ramai berwisata lagi tidak menunggu 6 bulan atau setahun kemudian,”.

Hal yang sama akan terjadi di Indonesia. Tengok saja kondisi bandara Soekarno-Hatta kemarin, begitu ada kelonggaran dan ada penerbangan langsung ramai dengan penumpang dengan berbagai alasan dan tujuan meski pemerintah melarang mudik Lebaran.

Co.founder dari Startup lokal murni milik anak bangsa ini menilai kalangan milenial ini punya nasionalisme yang tinggi, jumlahnya besar dan memang kemampuan dan keinginannya menjelajah negri karena tidak ribet untuk berwisata di dalam negri.

” Ada yang sudah mampu berwisata ke luar negri tapi mungkin hanya sekali dalam setahun, selebihnya mereka berwisata di dalam negri bisa sampai 6 x setahun karena memang lebih mampu juga menjadi wisatawan nusantara,” kata Gaery apalagi slogan tiket.com adalah “Mau kemana? Semua ada tiketnya”.

Peluang outbound travel atau berwisata ke luar negri paska COVID makin kecil karena untuk naik ke pesawat saja jauh lebih lama karena adanya standar internasional protokol kesehatan yang harus dilewati. Lama menunggu bisa 4 jam untuk mengikuti prosedur sebelum boarding  di bandara internasional.

” Akan banyak prosedur yang harus dilewati, meski nanti akhirnya orang akan terbiasa. Dulu kita bawa minuman dalam tas boleh begitu ada kasus teroris akhirnya tidak ada lagi likuid yang bisa masuk kabin. Itu kan juga New Normal yang akhirnya kita terima saja,”

Anton Thedy, owner TX Travel bersama Gary Undara, Co-Founder tiket.com ( kanan)

Menurut Gaery, yang harus didukung pertama untuk memulihkan bisnis travel & tourism memang operator penerbangannya. Kalau harganya tidak terjangkau tidak ada pergerakan manusia maupun kegiatan bisnis dan lainnya. Jadi industri penerbangan harus di dukung dengan aturan kesehatan yang aman dan harganya kembali terjangkau.

Tiket.com yang akan memperingati ulangtahun ke 9 tahun perjalanannya sebagai pionir online travel agent (OTA) di Indonesia yang diluncurkan 11 Agustus 2011 sudah menyentuh pencapaian terbaiknya dari berbagai indikator mulai dari pendapatan, kenaikan jumlah pelanggan, awareness masyarakat terhadap tiket.com, dan kualitas setiap produk dan pelayanan.

” Kami punya 1000 karyawan dan 500 orang customer care sistem kontrak. Begitu COVID-19 datang dan semua aktivitas pindah ke rumah masing-masing, saya jadi senang manasin mobil di luar,” kata Gaery tergelak.

Dia beruntung, tekhnologi yang dimilikinya memungkinkan untuk bekerja dari rumah. Meskipun  operasional tiket.com masih menerima pesanan tiket dan akomodasi dari masyarakat semuanya dilakukan dengan digitalisasi.

” Saat begini konsumen tidak bisa diiming-imingi dengan strategi marketing, promo ataupun diskon-diskon jadi justru jadi berkah buat kami karena biaya tidak ada yang dikeluarkan alias dibikin NOL sehingga gaji karyawan aman dan kami punya amunisi bahkan Tunjangan Hari Raya ( THR) bisa diberikan meskipun level yang tinggi terpaksa dicicil dua kali pembayaran,” ujarnya tanpa beban.

Gaery  lalu mengingatkan agar pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pelaku wisata selama masa tiarap akibat pandemi global COVID-19 benar-benar memperhatikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan nusantara.

” Kedua orangtua saya terakhir baru dari Derawan yang menjadi destinasi wisata selam. Sudah lama dipromosikan dan dikunjungi wisatawan mancanegara juga tapi untuk mencapai kesana infrastruktur dan prasarana tidak menunjang. Padahal swastanya sudah buat resort yang indah tidak kalah dengan Maldive,” ungkapnya.

Pengalamannya sendiri  bila berwisata ke Bali terutama liburan sekolah dan hari besar lainnya seperti Lebaran akan selalu terulang menghadapi kemacetan, pantai Kuta yang tidak nyaman dan sulit mencari WC umum apalagi yang bersih.

Maintenance alias masalah perawatan masih jadi tantangan terbesar negri ini. Ada obyek wisata baru saja setahun kemudian kita datangin lagi perawatannya sudah tidak terlihat padahal masih baru. Apakah wisnus dan wisman harus menghadapi WC bau di tengah aturan New Normal yang mendunia dengan standard higienitas tinggi,”

Dia berharap wisnus terutama milenial jangan hanya diharapkan berwisata ke dalam negri, tetapi kebutuhan utamanya di destinasi wisata juga menjadi perhatian pemerintah daerah dan pusat sebagai penerima devisa pariwisata. 

” Percayalah daya beli mereka ( local buying power ) masih kuat, jangan hanya berorientasi pada wisatawan mancanegara,” katanya mengingatkan.

 

Strategi BPR Lestari Berjalan Dalam Badai di Era  COVID-19  

this formate

Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pimpinan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) Lestari ( Foto: @alex-pchandra)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Apa yang dilakukan seorang traveler yang juga bos BPR Lestari di Bali ketika pulau dewata yang dicintainya mendadak sepi wisatawan domestik maupun mancanegara ?

Adalah Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pimpinan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) Lestari asal Bogor yang tetap optimistis bisa berjalan terus menembus badai di era COVID-19 meski setiap orang mengeluh kapan berakhirnya badai.

” Setelah badai pasti ada jalan yang terang. Memang kita sekarang tidak tahu dan belum melihat dimana ujungnya, tetapi terus saja jalan dan jangan berhenti,” ujarnya pada Anton Thedy, pemilik TX travel dan pelopor franchaise travel pertama di Indonesia dalam Live Insta Story Reseller Travel Agency ( RTA) awal pekan ini.

Pria kelahiran Rangkasbitung jelang usia 51 tahun ini sudah  20 tahun membangun jaringan bisnisnya di Bali baik di sektor keuangan yang dijuluki Rural Bank alias perbankan kelas dua, bisnis hotel dan villa serta usaha lainnya.

Dia juga penggemar traveling dan kerap ikut Anton Thedy berwisata dengan TX Travel sehingga hubungan keduanya tidak terputus dengan kesibukan masing-masing. Pemilik jaringan BPR Lestari di Bali, Malang, Solo, Bekasi, Jakarta dan Serpong ini dari awal sudah berpesan nikmati saja berjalan di tengah badai.

Seperti keyakinan umat Muslim bahwa Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya, maka baru selintas bicara saja Alex sudah menunjukkan sosok pria yang selalu optimistis menghadapi berbagai tantangan dihadapannya.

Berbagi pengalaman menghadapi krisis saat terjadi Bom Bali pertama tahun 2002 dan Bom Bali ke dua tahun 2005 serta menghadapi bencana seperti erupsinya Gunung Agung, Bali, ketika wisatawan domestik dan mancanegara harus dievakuasi, Alex mengaku cukup ketar ketir juga apalagi tahun lalu bisnis yang dikelolanya di BPR capai Rp 6 triliun.

” Erupsi Gunung Agung tahun 2018 sampai tahun berikutnya tidak fatal dan semua aktivitas pariwisata kembali normal bahkan menjadi lebih kuat,” ungkapnya. 

Hal yang sama juga terjadi ketika Bom Bali pertama meledak di Legian. Alex yang rumahnya di Denpasar mendengar jelas dentuman bom di tengah malam. Besok paginya ketika mengecek sebuah tokonya di kawasan Legian barulah paham tempat kejadian sudah seperti lubang kawah, mengerikan.

Toko miliknya kaca-kacanya pecah tapi isi toko yaitu garment tidak ada yang hilang.Setelah itu Bali sepi sekali tidak ada turis yang datang. Kondisi Bali saat ini persis kondisi 2002. Bedanya wisatawan domestik dulu masih bisa jadi juru selamat. Kalau sekarang tidak ada yang  datang. Tiga tahun kemudian pariwisata Bali  bangkit bahkan lebih kuat meski dihantam lagi dengan Bom Bali II.

“Saya mau bilang tidak ada badai yang tidak berlalu. Lewati saja semua,  kan Corona juga datang tidak bilang-bilang dulu sama kita semua jadi lewati periode tanggap darurat ini dengan sabar, introspeksi ke dalam, siapkan karyawan dan perusahaan untuk bangkit lagi,” ujarnya santai.

Alex mengatakan strategi menembus badai di era COVID ini sangat tergantung pada kondisi perusahaan di saat normal dan melakukan ekspansi yang tepat, maupun di saat  kondisi booming alias menguntungkan tentunya sehingga memiliki tabungan untuk hidup survive ditengah badai.

” Kondisi dan posisi kita hari ini tergantung hidup kita sebelumnya karena krisis itu suka atau tidak suka akan berulang datang dan yang kita pelajari hari ini jadi bekal di kemudian hari untuk mampu betjalan di tengah badai apapun,”

Dia ingat sekitar 10 tahun lalu, tokoh-tokoh panutannya seperti Hermawan Kertajaya mengingatkan pentingnya memanfaatkan media social seperti Twitter untuk promosi. Lima tahun kemudian Alex mulai membuat gerakan intern untuk go online karena jika tidak dilakukan akhirnya tamat riwayat alias go home, ujarnya kocak

Itu sebabnya di saat memasuki pandemi global ini, pihaknya yang punya tokoh panutan lain seperti Tum Desem Waringin dan James Gwee langsung action saja dan malah ada produk baru yang disebut Deposito Go, salah satu layanan home banking yang diperkenalkannya.

” Memang kita harus gerak cepat, Hotel dan Villa saya tutup, bekukan dulu biar nggak ada fix cost, lalu lihat celengan ( tabungan) ternyata setelah dihitung bersama untuk bayar gaji pegawai BPR sebulan capai Rp 200 juta dan kami masih bisa bertahan untuk dua tahun ke depan,” kara Alex P. Chandra.

Di bulan Mei 2020 ini, masyarakat maupun dunia usaha sudah menjalani hidup di era New Normal tanpa harus menunggu berakhirnya badai dan datangnya vaksin untuk mengatasi  pandemi global.

” Itu artinya kini kita menjalani akselarasi digital online sehingga harus mempersiapkan diri. Ketika normalisasi datang karyawan dan perusahaan sudah tancap gas lagi dengan produk baru sesuai kebutuhan jaman,”

Out of the box

Usahanya berawal ketika 20 tahun lalu bersama dua rekannya membeli BPR Lestari yang nyaris bangkrut seharga Rp 300 juta. Posisi tinggi di PT Bank Central Asia Tbk cabang Bali tidak menggoyahkan niatnya untuk membangun BPR alias Rural Bank menjadi bank yang dipercaya masyarakat.

Tapi selama 4 tahun pertama, ia tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti irama kerja yang ada. Padahal strategi meyakinkan keluarga dan teman dekat sudah dijalankannya agar mau menaruh dananya di BPR Lestari. Memang nasabah sudah 6.000 orang, namun, transaksi nyaris tidak ada karena saldo yang tak bertambah.

”Jangankan orang lain, teman sendiri saja tidak ada yang percaya menaruh uangnya di BPR Lestari. Minimnya kepercayaan juga terjadi saat rekrutmen pegawai karena iklan lowongan kerja tak direspons masyarakat,” ungkapnya.

Tak mau gampang menyerah, kondisi ini dijalaninya dengan tetap optimistis meski tidak satupun yang melamar sehingga jumlah karyawan tak bertambah hanya 15 orang. Dia fokus untuk membenahi karyawan yang sudah ada. 

Satu demi satu tahap pelatihan berhasil dilewati. Selanjutnya, perbaikan terus-menerus dilakukan. Momentum kebangkitan baru dirasakan Alex di tahun 2003, saat ada orang yang percaya dengan mendepositokan uangnya sebesar Rp 25 juta di BPR Lestari.

” BPR selalu diasumsikan bank butut jadi saya ingin buktikan bahwa BPR Lestari itu bagus, sehat dan bukan industri keuangan kelas dua. di Bali kami rangking 6, nomor dua terbaik setelah rangking bank plat merah,” kata Alex tergelak.

Harapannya terbukti jika diawal fokus pada  sumber daya manusia yang berkualitas dan memperbaiki proses maka ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan. Kunci sukses ada di layanan yang berkelas sembari melakukan pendekatan personal.

Perseroannya juga tidak pernah mengenakan pinalti jika ada nasabah yang mendadak ingin mencairkan depositonya. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat akan terus mekar. Di samping  juga menjanjikan kecepatan kepada pemohon kredit.

Maret tahun lalu pihaknya meluncurkan  Lestari 2.0 karena BPR itu tidak bisa melakukan transaksional. BPR hanya melayani deposito dan produknya memang tidak bisa melayani transaksi yang berakibat biaya dan kreditannya menjadi mahal. Nah ini berlangsung selama 20 tahun.

Itu sebabnya dia melakukan transformasi besar melalui digitalisasi. Bertepatan dengan event 4thn Bali Business Round Table dengan tema ‘Politik dan Ekonomi Indonesia  Maret 2019’, BPR Lestari memperkenalkan transformasi produk baru dengan memperkenalkan aplikasi Mobile Lestari 2.0 di BNDCC, Nusa Dua, Bali

Acara yang diselenggarakan tiap tahunnya oleh direksi tujuannya mengadakan rapat umum pemegang saham dan  memberikan laporan pertanggungjawaban kepada pihak pemegang saham. “Saya memberikan laporan pertanggungjawaban kita kepada para nasabah yang sebenernya merupakan pemegang saham terbesar. Jadi kita infokan apa yang kita sudah kerjakan, apa yang berhasil dan mana yang belum dan kurang,”

Intinya setiap nasabah memiliki informasi yang akurat dan merasakan pelayanan yang terbuka dan personal. Kembali ke soal pariwisata Bali, Alex optimistis, Bali aman-aman saja dan tetap akan menjadi primadona pariwisata Indonesia, katanya meyakinkan dan pastinya badai pasti berlalu….