Eka Moncarre Minta RI Promosikan Kuliner di LN Dengan Rempah-Rempah Aseli
this formateEka Moncarre ketika promosikan kuliner lewat Festival Indonesia di Paris tahun lalu. ( Foto: VITO France)
PARIS, bisniswisata.co.id: Bumbu jadi alias bumbu instant bukan cara yang tepat untuk mempromosikan makanan Indonesia dan rempah-rempah Indonesia di luar negeri, kata Eka Moncarré, Country Manager Visit IndonesiaTourism Office ( VITO), Perancis, hari ini.
“Apalagi dengan adanya COVID-19, semua orang di dunia akan lebih memilih makan makanan organik yang alami dan bukan dengan bumbu jadi. Sekarang semua orang akan memiilih go natural, go green, dan makan makanan dari alam, bio food sangat laku di Eropa dan akan jadi trend dari pasca COVID-19,” kata Eka
Hal ini menanggapi pernyataan pakar kuliner William Wongso di sebuah media di tanah air bahwa untuk mempromosikan bisa dilakukan lewat bumbu bubuk dan lebih baik menggunakan bumbu yang sudah jadi ( instant) supaya restoran Indonesia di luar negeri juga tidak bangkrut.
Menurut Eka Moncarre, bumbu jadi alias bumbu instant itu mungkin bagus buat orang-orang yang ingin masak makanan Indonesia secara praktis tapi bukan sebagai cara yang tepat untuk mempromosikan makanan Indonesia dan rempah-rempah Indonesia apalagi di luar negeri.
Orang-orang di Eropa terutama orang Perancis lebih suka bumbu yang segar(fresh) dan mereka tidak suka bumbu instant apalagi yang dibuat di Indonesia yang nota bene ada bahan pengawetnya.
” Prinsipnya orang Perancis tidak suka makanan dengan produk kimia, mereka lebih suka makanan dengan bumbu alami, go nature. Jika kita memperkenalkan rempah2 Indonesia dengan bumbu instant, bagaimana dunia bisa tahu tentang kekayaan rempah-rempah di Indonesia ? ini sama sekali bertolak belakang,” tegasnya.
Para chef di Perancis tidak pernah akan memasak dengan bumbu jadi dan mereka anti dengan bumbu jadi. Mereka ingin membuat dan meracik bumbu mereka sendiri. Bahkan untuk membuat kaldu pun, mereka tidak pakai penyedap rasa, tapi dibuat dari kaldu sari tulang ayam atau sapi.
Saat ini Indonesia sedang berjuang agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Sosial, dan Budaya (UNESCO). Ini penting mengingat Jalur Rempah bisa membuka peluang promosi kekayaan nusantara di kancah global.
“Jadi yang kita perlu tunjukkan rempah-rempah bukan bumbu instant. Sebagai diaspora Indonesia yang tinggal di Perancis dan juga perwakilan resmi dari kemenparekraf di Perancis, saya rasa perlu untuk saya menjelaskan ke semua pihak supaya tujuan kita membawa nama Indonesia di luar negeri bisa berhasil,” ungkapnya.
Tugas utamanya, kata Eka, adalah mempromosikan Indonesia di Perancis dan meningkatkan wisman Perancis ke Indonesia. Selain mempromosikan pariwisata Indonesia, juga lewat gastronomi Indonesia dan produk-produk Indonesia di Perancis.
Eka mengaku cukup terkejut ketika pernah mengundang William Wongso ke Paris untuk mempromosikan makanan lewat festival Indonesia di Perancis ternyata yang digunakan beliau adalah bumbu instant dari satu merk bukan bumbu segar dengan alasan logistik.
Begitu pula halnya ketika tahun lalu membuat cooking demo dihadapan para chef Perancis yang terkenal dan yang digunakan beliau adalah bumbu instant. Hal yang sama dilakukan saat demo masak di sekolah Cordon Bleu yang mendunia.
“Sekarang kalau tujuan kita untuk mempromosikan rempah-rempah, yang harus ditonjolkan adalah rempahnya. Kalau memang susah untuk mengekport rempah-rempah segar, kita bisa buat dalam kemasan bubuk tetapi natural alami tidak ditambah bahan kimia,”
Restaurant-restaurant Indonesia di Perancis mereka lebih suka membuat bumbu sendiri fresh untuk membuat rendang, pertama cost lebih murah dan lebih asli. Rempah-rempah bisa didapat di toko asia, walaupun bukan datang dr Indonesia tapi sama, atau di toko India juga bisa didapatkan.
Itu sebabnya pihaknya meminta perhatian pemerintah dan semua pihak untuk memiliki satu visi dalam mempromosikan gastronomi Indonesia di mancanegara seperti yang sukses dilakukan oleh Thailand.
“Saat ini jalur rempah kita masih belum dikenal, makanan Indonesia belum banyak yang tahu, dan kalau caranya kita promosikan Indonesia seperti ini, bisa kacau, karena tidak fokus dan bercabang-cabang,” tutup Eka.
PT Kereta Api Pariwisata Salurkan Donasi Paket Sembako dan APD
this formateTotok Suryono, Dirut PT Kawisata menyampaikan bantuan di RS Hasan Sadikin, Bandung.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT kereta Api Pariwisata (Kawisata) menyalurkan bantuan 550 paket sembako, Alat Pelindung Diri (APD) dan media pencegahan penyebaran Covid-19 kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 dan rumah sakit di wilayah Jakarta, Bandung dan Semarang melalui program Kawisata Peduli.
Totok Suryono, Dirut PT Kawisata menyampaikan bahwa program donasi paket sembako dan APD ini merupakan bentuk kepedulian pada masyarakat kelas ekonomi bawah yang saat ini menjadi kelompok yang paling merasakan dampak negatif dari penyebaran virus COVID-19.
Disamping juga bentuk kepedulian kepada para tenaga medis sebagai pahlawan garda terdepan di tengah pandemi Covid-19. “Kami membagikan paket sembako sebanyak 550 paket, dimana setiap paket bantuan bernilai kurang lebih Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) yang berisi beras, minyak goreng, gula pasir, susu, sarden dan sirup,” jelasnya.
Selain itu, APD dan media pencegahan penyebaran Covid-19 yang dibagikan berupa masker medis, faceshield, handscoen dan baju APD. Paket donasi sembako akan diberikan ke panti asuhan, masyarakat terdampak pandemi virus corona (Covid-19), pegawai outsourcing dan penjaga pintu perlintasan.
Sementara, donasi APD untuk rumah sakit akan diberikan kepada Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta, Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung, dan Rumah Sakit Karyadi di Semarang, jelas Totok Suryono.
Humas Kawisata, M. Ilud. Siregar menambahkan bahwa bantuan sembako dan Alat Pelindung Diri (APD) serta media pencegahan penyebaran Covid-19 ini juga merupakan partisipasi Kawisata untuk mendukung pemerintah dalam melaksanakan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta larangan mudik sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19.
“Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dan pandemi dapat segera berakhir sehingga kondisi dapat kembali normal, “tutup Ilud Siregar.
Sekjen UNWTO: Kepercayaan Adalah Mata Uang Baru di Dunia
this formatePT Angkasa Pura II, memberi tanda kuning di lantai lorong masuk pesawat di Bandara Soetta untuk menerapkan social distancing. Kelonggaran perjalanan akan dilakukan Uni Eropa secara bertahap di 27 negara Eropa. ( Foto: Angkasa Pura II)
MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Zurab Pololikashvili, Sekretaris Jenderal UNWTO, Badan Pariwisata Dunia mengatakan bahwa kepercayaan adalah mata uang baru dunia. Oleh karena itu setiap kebijakan perlu langkah konkretnya.
” Kami telah menyerukan langkah-langkah konkret yang merobah kata-kata dukungan menjadi suatu tindakan nyata termasuk rencana aksi yang ditetapkan oleh Uni Eropa untuk meluncurkan kembali pariwisata secara tepat waktu, bertanggung jawab dan terkoordinasi,” ujarnya.
Pekan lalu Uni Eropa berencana mencabut pembatasan perjalanan untuk mengatasi dampak ekonomi Corona. Pencabutan pembatasan perjalanan di dalam negri dilanjutkan lintasi perbatasan internasional, akan memungkinkan banyak manfaat sosial dan ekonomi yang dibawa oleh pariwisata untuk kembali tidak hanya di Eropa tetapi di seluruh dunia.
” Di era New Normal, kepercayaan adalah mata uang baru kami dan pariwisata secara ideal diposisikan sebagai kendaraan untuk menyalurkan kepercayaan,” kata Zurab Pololikashvili
Jika orang percaya pada pemerintah dan sektor pariwisata untuk menjaga mereka aman dari bahaya, maka mereka memang akan melakukan perjalanan besok, tegasnya.
Sebagai sektor utama interaksi dari orang ke orang, dan sektor yang mempromosikan solidaritas dan persahabatan, pariwisata akan memainkan peran kunci dalam menyebarkan kepercayaan lebih luas, dengan manfaat bepergian jauh melampaui pariwisata itu sendiri.
“Hanya dengan cara ini kita dapat mendorong ekonomi kita kembali ke arah pertumbuhan dan mulai membangun kembali masyarakat kita, ujarnya.
Tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan yang terkoordinasi untuk setiap bagian dari mata rantai pariwisata termasuk perjalanan, akomodasi, makanan, dan waktu luang yang akan membuat orang menjadi lebih aman untuk bepergian.
Dalam berbagai pernyataan sebelumnya, Zurab Pololikashvili selalu mengingatkan bahwa sangat penting bahwa kita membuat dunia bergerak lagi. Soalnya data WTTC terbaru menunjukkan 100% dari semua tujuan perjalanan memiliki batasan.
“Kami memantau pembatasan perjalanan di seluruh dunia dan jumlah wisatawan internasional bisa anjlok antara 60 hingga 80% tahun ini tergantung pada kapan dan di mana pembatasan perjalanantmau dicabut, “
Penurunan pariwisata global telah mempengaruhi perekonomian nasional maupun dunia. Mata pencaharian masyarakat tertutup dan terbukti tanpa sektor pariwisata yang kuat dan vital, jutaan pekerjaan dan usaha kecil berisiko hilang.
Pernyataan Sekjen UNWTO ini tidak lepas dari reaksinya atas rencana Uni Eropa mencabut pembatasan perjalanan untuk mengatasi dampak ekonomi akibat pandemi global. Aktivitas perjalanan yang terhenti akan diizinkan kembali untuk mendorong kembali kehidupan di 27 negara Eropa.
Hampir semua perjalanan dihentikan di Eropa, sebuah pukulan telak bagi sektor pariwisata yang biasanya menyumbang hampir sepersepuluh dari hasil ekonomi UE. Bahkan di dalam wilayah Schengen, setidaknya 17 negara telah menempatkan pengaturan perbatasan darurat untuk mengendalikan penyebaran virus.
Komisi eksekutif UE akan membuat banyak rekomendasi yang meningkat secara perlahan, termasuk membuka perbatasan. Pemeriksaan perbatasan internal perlahan-lahan akan dicabut ketika situasi kesehatan membaik.
Lithuania, Latvia dan Estonia membuka perbatasan bersama pada tengah malam 15 Mei lalu. Ini pencabutan pertama di wilayah Uni Eropa (UE) untuk mengaktifkan lagi ekonomi yang lemah akibat wabah virus Corona.
Belasan penjaga perbatasan Estonia memindahkan semua tanda yang mengarahkan kendaraan untuk berhenti di perbatasan. Mereka kemudian duduk di sisi jalan untuk minum kopi dan makan kue.
Tapi beberapa negara-negara yang melonggarkan lockdown tetap memaksakan masa karantina dua minggu bagi pelancong yang datang dari luar negeri. Komisi UE memperkirakan sekitar 6,4 juta pekerjaan pariwisata dapat hilang dari 12 juta pekerja yang sebelumnya ada.
Komisi UE juga akan menentang permintaan maskapai penerbangan dan sekelompok negara anggota UE yang dipimpin oleh Jerman untuk menangguhkan undang-undang. Peraturan itu menjamin wisatawan mendapatkan pengembalian uang tunai penuh untuk penerbangan dan perjalanan yang dibatalkan.
Sebagai ganti dari pengembalian berbentuk uang, justru maskapai penerbangan yang kekurangan uang menawarkan voucher yang menarik. Penumpang pun harus mau menerima pergantian tersebut. Masalah ini belum menghasilkan solusi win-win termasuk di Indonesia.
Melongok Kesiapan Taiwan Pulihkan Perjalanan Internasional
this formateTaiwan menawarkan harapan bagi upaya pemulihan perjalanan internasional (foto: financial times)
TAIPEI, Taiwan, bisniswisata.co.id: Pemerintah Taiwan berencana kembali membuka diri bagi pengunjung dari luar negeri. Tak tanggung-tanggung, pulau yang oleh bangsa Portugis disebut Ilha Formosa (Pulau yang Indah) ini menggandeng Sekolah Kedokteran Universitas Stanford di Amerika Serikat untuk bersama-sama merancang protokol baru, termasuk prosedur karantina dan rejim pengecekan kesehatan yang ketat.
Sejauh ini Taiwan dianggap sebagai salah satu negara yang sukses menghadapi pandemi Covid-19. Jumlah warga yang terinfeksi virus corona tak sampai 500 dan 7 di antaranya meninggal. Padahal, lokasi negara yang bernama resmi Zhog-hua Min-guo – artinya Republik Cina (Republic of China/ROC) – amat dekat dengan Cina yang merupakan sumber virus corona Covid-19.
Uji coba akan berlangsung bulan depan dengan menerbangkan 500 orang dari San Francisco, AS, ke Taipei, ibukota Taiwan. Sebelum berangkat, semua orang ini harus dipastikan bebas Corona. Mereka akan menjalani tes virus Corona dan melaksanakan karantina. Begitu mendarat di di Taipei, mereka pun tetap diwajibkan menjalankan tes setiap dua hari dan karantina 14 hari. Prosedur ini wajib dipatuhi bagi semua orang yang hendak bepergian ke Taiwan.
“Tujuan uji coba ini adalah untuk mendapatkan formula yang pas berapa lama periode karantina yang aman dan sesingkat mungkin sehingga orang yang harus bepergian singkat untuk urusan bisnis bisa memperpendek masa karantina hanya beberapa hari saja, bukan dua minggu,” kata Jason Wang, profesor di Stanford Medical School, yang ikut merencanakan proyek ini bersama pejabat kesehatan Taiwan, seperti dilansir Financial Times.
Rencana ini muncul seiring dengan banyaknya negara lain juga tengah mencari cara agar beberapa perjalanan internasional dapat segera dipulihkan. Jepang dan Hong Kong, misalnya, menerapkan tes corona di bandara sesaat setelah penumpang mendarat. Sebelum hasil tes keluar, mereka diminta untuk tetap di bandara.
Sementara itu beberapa negara, termasuk Spanyol, menghentikan semua perjalanan internasional bagi non-residents. India bahkan menolak penerbangan dari luar negeri masuk ke negara tersebut.
Keadaan yang telah berlangsung beberapa bulan ini mengakibatkan industri penerbangan dan bandara menghadapi krisis terburuk dalam sejarah. Itu sebabnya pelaku industri ini mendorong pemerintah untuk mencari cara agar perjalanan internasional dapat kembali dibuka.
Pemerintah Taiwan sedang mempertimbangkan untuk memberi izin masuk sejumlah warga negara asing yang kunjungannya penting bagi ekonomi dan politik. Menurut Prof Chang, mereka tetap akan dites begitu tiba di Taiwan dan saat berada di sana pun mereka wajib melakukan tes berkala dalam interval tertentu. Namun mereka bisa diizinkan meninggalkan karantina jika ada pertemuan dengan perusahaan atau pemerintah yang telah dijadwalkan sebelumnya.
Dengan cara seperti itu, Pemerintah Taiwan berharap dapat menekan penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan ini. Tidak ada yang tahu, sampai kapan pandemi Covid-19 akan berlangsung dan membatasi ruang gerak serta interaksi masyarakat dunia. Selama vaksin belum ditemukan maka aturan berkehidupan new normal harus terus dilanjutkan, yakni: menjaga jarak, melakukan tes berkala, dan menjalankan karantina.
Program AADC Kunci UMKM Beradaptasi Ditengah Pandemi
this formateProduk kerajinan dari UMKM diharapkan bertahan di tengah pandemi global ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA,bisniswisata.co.id: Kemampuan menerima, beradaptasi, mengoptimalkan tekhnologi digital dan kemampuan berkolaborasi dengan kreatif menjadi kunci bagi pengusaha UMKM untuk bisa bertahan dan lebih cepat beradaptasi di tengah wabah pandemi COVID-19.
“Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk bisa bertahan dan lebih cepat beradaptasi di tengah wabah pandemi COVID-19,” kata Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf.
Dia berbicara saat acara Ngobrol Santai Blibli Seller Eps.40 “Beli Kreatif Lokal #BanggaBuatanIndonesia melalui Live Insta Story akun instagram @kemenparekraf.ri bersama VP Galeri Indonesia Blibli Andreas Ardian Pramaditya.
Nia mengatakan Kemenparekraf memiliki prinsip yang bisa diterapkan bagi UMKM untuk segera beradaptasi di situasi saat ini yaitu Accept, Adapt, Digital, dan Creative Collaboration (AADC).
“’Accept’ yang dimaksud adalah kita harus menerima kondisi saat ini untuk dihadapi bersama-sama. Lalu berikutnya adalah ‘Adapt’, kita harus menyesuaikan dan cepat beradaptasi dengan kondisi saat ini. ‘Digital’, saat ini adalah suatu keniscayaan, UMKM juga segera bertransformasi dan yang terakhir adalah ‘Creative Collaboration’,” ungkapnya
Nia juga mendorong masyarakat untuk saling bahu-membahu menjadi pahlawan bagi produk lokal dengan cara ikut berkontribusi dalam program #BeliKreatiflokal dan #BanggaBuatanIndonesia.
Program tersebut, jadi cara untuk mendukung pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, fashion, dan kriya agar mampu meningkatkan omzet penjualannya dengan optimasi promosi melalui platform e-commerce secara terintegrasi.
Dia juga menjelaskan, pihaknya memberikan tempat bagi 500 pelaku ekonomi kreatif (ekraf) terpilih yang produknya bisa dipasarkan secara cuma-cuma. Namun, lanjut Nia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pelaku ekraf.
Seperti, lokasi usahanya harus berada di sekitar Jabodetabek, akun sosial media tidak boleh di mode private. Pengikut (followers) dari akun pendaftar program ini tidak lebih 10.000 followers. Dan program ini diperuntukkan khusus untuk pelaku ekonomi kreatif bidang kuliner, fashion, dan kriya.
“Saat ini sudah ada 4.000 yang mendaftar dan 900 yang mengisi form. Nantinya akan dikurasi menjadi 500 UMKM. Mereka akan diberikan pendampingan oleh mentor-mentor profesional mulai dari pengemasan, produk, hingga promosi. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan konsultasi gratis dari ahli hukum terkait HKI yang akan diberikan pada 100 pelaku ekraf terpilih, ” katanya.
Pada kesempatan yang sama, VP Galeri Indonesia Blibli Andreas Ardian Pramaditya juga menjelaskan, perekonomian Indonesia sedang diuji, berbagai sektor terdampak COVID-19. Blibli.com sebagai e-commerce mendukung UMKM untuk bertahan di tengah pandemi dengan tidak mengambil komisi dari tiap transaksi.
“Kami terus mencari dan memberikan yang terbaik bagi merchant UMKM kami. Di tengah pandemi ini, kami memberi margin nol persen, semuanya kami kembalikan kepada para mereka di tengah pandemi ini,” katanya.
Andreas menjelaskan di Blibli saat ini memiliki kanal khusus yaitu Galeri Indonesia yang sengaja disediakan untuk para seller UMKM yang telah dikurasi produk-produknya.
“Untuk itu kami butuh komitmen yang kuat dari para seller terhadap produknya. Agar kepercayaan masyarakat akan produk lokal bisa terjaga. Sehingga masyarakat juga bisa bangga pada produk buatan Indonesia,” ujarnya.
Kelar COVID, 76 % Wisatawan Nusantara Pilih Tujuan Wisata Domestik
this formateCandi Borobudur di Magelang, jadi salah satu tujuan wisatawan nusantara yang datang ke Yogyakarta ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Geliat wisata mungkin terhenti di momen yang tidak menentu ini selama pandemi global COVID-19, tetapi data dari Booking.com mengungkapkan bahwa hal ini tidak menghentikan orang di seluruh negeri untuk memiliki harapan terkait perjalanan mereka di masa yang akan datang.
Booking.com sebagai pemimpin perjalanan digital menelaah jutaan daftar keinginan wisata dibenak para wisatawan yang tengah menanti selama dua bulan terakhir dengan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah untuk melakukan perjalanan wisata kembali disaat yang tepat.
Walaupun destinasi Internasional seperti Tokyo, Kuala Lumpur dan Singapura terus menginspirasi impian perjalanan wisatawan nusantara ( Indonesia) tapi tidak mengherankan jika destinasi wisata domestik meraih hampir 76% dari total daftar keinginan orang Indonesia di tengah masa yang penuh ketidakpastian ini.
Keinginan melakukan wisata domestik ini sebuah peningkatan dari periode yang sama tahun lalu ketika properti domestik seperti hotel menyumbang 55% dari yang masuk daftar keinginan. (Daftar keinginan merujuk pada berapa kali pengguna mengklik tombol hati pada properti tertentu di Booking.com).
Sejak awal Maret, daftar keinginan teratas destinasi domestik para wisatawan nusantara adalah Yogyakarta, Jakarta, Ubud, Bandung dan Seminyak, hal ini menunjukkan pantai dan kota bercuaca cerah mendapatkan pilihan terbanyak diantara yang lain.
Terkait destinasi internasional yang masuk daftar keinginan teratas para wisatawan nusantara adalah kota-kota metropolitan Asia yang merupakan kombinasi antara kuliner yang otentik, budaya populer, kemudahan akses dan syarat perjalanan yang mudah meraih perhatian para wisatawan.
Untuk kemudahan akses, Tokyo berada di peringkat pertama, diikuti Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok dan Seoul sedangkan Osaka, Kyoto, London, Paris dan George Town menyusul pada peringkat selanjutnya.
10 daftar destinasi wisata idaman para wisatawan nusantara untuk destinasi domestik adalah Yogyakarta, Jakarta, Ubud, Bandung, Cangu, Seminyak, Kuta, Surabaya, Uluwatu dan Jimbaran.
Sedangkan 10 destinasi Internasional yang ingin dikunjungi adalah Tokyo, Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok, Seoul, Osaka, Kyoto, London, Paris dan George Town.
Terkait keinginan dari wisatawan mancanegara ( global) kemana destinasi pilihannya maka ternyata Bali meraih peringkat kedua dalam daftar keinginan diikuti dengan Andalusia, Catalonia dan Florida. Sementara itu, Krasnodar Krai (Rusia) berada di posisi pertama.
Total dari 27 destinasi di Indonesia yang masuk ke dalam daftar keinginan wisatawan global ternyata Bali, Nusa Tenggara Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta dan Jawa Barat merupakan 5 destinasi di Indonesia yang paling diinginkan wisatawan global periode Maret dan April 2020.
Bermimpi tentang perubahan suasana dan kesempatan untuk menikmati pengalaman menginap di luar rumah mereka sendiri dan jenis penginapan yang dipilih orang Indonesia atau wisatawan nusantara adalah, hotel, wisma tamu, villa, apartemen dan resort.
Hotel menyumbang 43% dari seluruh daftar properti yang diinginkan oleh wisatawan Indonesia dalam dua bulan terakhir. Vikas Bhola, Regional Director, South Asia Pacific di Booking.com mengatakan saat-saat ini adalah saat yang tidak terduga dan menantang di mana keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
“Kita mengetahui bahwa pada saat-saat seperti ini, bermimpi untuk menjelajahi dunia kembali memberikan kekuatan luar biasa untuk menyegarkan imajinasi kita dan membuat semangat tetap tinggi,” kata Vikas Bhola.
Sungguh menakjubkan melihat beragam pengalaman wisata yang berbeda yang diimpikan oleh pelanggan sementara mereka menunggu kesempatan untuk bepergian kembali, tambahnya.
Membuat daftar keinginan di Booking.com adalah cara yang menginspirasi semua orang untuk mulai berharap tentang perjalanan mereka, dan pihaknya berkomitmen untuk mewujudkan impian-impian itu menjadi kenyataan ketika waktunya tepat
Survey yang dilakukan Booking.com, methodologinya berdasarkan pada perbandingan data daftar keinginan di Booking.com antara bulan Maret dan April 2020 dengan bulan yang sama di tahun 2019.
Pemilik Cafe di Jerman Wajibkan Pengunjung Kenakan Pool Noodles
this formateCafe Rothe kembali buka setelah kebijakan lockdown dilonggarkan (foto: CNN)
SCHWERIN, Jerman, bisniswisata.co.id: Jerman telah melonggarkan kebijakan lockdown setelah tutup selama kurang lebih dua bulan. Meski demikian penguasa setempat tetap mengingatkan warganya agar tetap waspada. Mereka minta agara aturan social distancing atau saling menjaga jarak tetap diterapkan guna mencegah penyebaran virus corona.
Sebuah kafe di kota Schwerin, ibukota Mecklenburg Vorpommem, sebuah negara bagian atau bundesland di Jerman menyambut keputusan itu dengan gembira. Pemiliknya memutusan untuk menerapkan social distancing dengan unik. Caranya dengan membagikan pool noodles kepada para pelanggan yang datang.
Jika biasanya pool noodles dipakai saat berenang, kini benda yang terbuat dari busa polietilen apung itu ditempelkan pada topi jerami yang dibagikan kepada para pelanggan untuk dikenakan saat mereka makan dan minum di sana.
Pemilik Cafe Rothe mewajibkan pengunjungnya mengenakan topi jerami tersebut. Pemandangan unik para pelanggan cafe yang tengah duduk-duduk di teras mengekanan topi jerami dengan dua pool noodles warna-warni diunggah sang pemilik di laman Facebook mereka.
“Ini adalah metode yang sempurna untuk memisahkan pelanggan – sekaligus menyenangkan,” kata Jaqueline Rothe, sang pemilik, saat diwawancarai TV lokal RTL yang meliput pembukaan kembali kafe dan restoran itu, seperti dilansir CNN.
Meski nampak lucu dan menyenangkan Rothe mengaku betapa sulitnya menjaga jarak 1,5 meter. Kafe ini normalnya memiliki 36 meja di dalam dan 20 kursi di luar.
Sebagaimana diketahui, Jerman telah melonggarkan sejumlah pembatasan setelah Kanselir Angela Merkel mengatakan negara itu berhasil melewati fase pertama pandemi. Namun dia tetap mengingatkan warganya agar tetap waspada karena jika lengah dan berhenti menerapkan social distancing.
Soalnya jika lengah maka lonjakan jumlah kasus baru yang terinfeksi akan terjadi.Jerman mencatat ada 174,400 orang terinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan ini; 7.884 di antaranya meninggal dunia.
Kota Schwerin memiliki penduduk sekitar 100.000 dan mempunyai sebuah kastil unik terletak di sebuah pulau di danau utama Schwerin, Schwerin See. Kastil Schwerin ini bertumpu pada 8,900 tiang kayu Oak, dan memiliki bangunan lebih dari 600 kamar serta 15 menara.
Selama berabad-abad, istana ini merupakan kediaman bangsawan dan saat ini kastil Schwerin berfungsi sebagai museum dan rumah bagi parlemen negara bagian Mecklenburg-Vorpommern. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kota Schwerin sehingga tindakan pemilik cafe memang beralasan.
Raty Ning: Selalu Ada Peluang Untuk Bisnis MICE Daring
this formateRuang konferensi yang senyap ( Foto: unsplash.com)
JAKARTA,bisniswisata.co.id: Pertemuan daring menjadi aktivitas yang kini dilakukan banyak orang baik secara individual, komunitas, perusahaan, organisasi profesi maupun asosiasi di tengah pandemi global COVID-19 yang secara serentak menyebar ke seluruh benua.

Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membawa perubahan dalam sektor Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition ( MICE) memotivasi AIM Group International, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kongres, acara, dan komunikasi, menerbitkan hasil survei “Acara mensponsori selama Crisis COVID-19″.
Survei ini dilakukan di antara 350 perwakilan perusahaan farmasi dan biomedis yang mencakup semua bidang pengobatan utama untuk lebih memahami jika sponsor tradisional konferensi seperti perusahaan farmasi dan biomedis tertarik pada acara digital dan bagaimana mereka akan berinvestasi.
Hasilnya 78% akan tertarik untuk mensponsori acara yang sepenuhnya virtual. Tapi sebagian besar sponsor perusahaan juga ingin melihat kembalinya acara tatap muka langsung di Musim Gugur.
Musim gugur di Eropa terjadi di bulan September, sampai ke akhir bulan November. Musim gugur di Benua Eropa adalah jenis musim peralihan dari musim panas ke musim dingin. Optimisme bahwa pandemi bisa berakhir sebelum akhir tahun rupanya cukup tinggi.
Bagaimana nasib bisnis MICE di Indonesia menghadapi pandemi yang belum terlihat ujungnya ? Raty Ning, President Director PT Pacto Ltd mengatakan meskipun belum ada riset yang dilakukan terhadap klien perusahaannya, peluangnya pasti ada bahwa acara daring juga bisa menjaring sponsor.
“Peluang pasti ada, diharapkan meeting virtual dan traditional malah bisa melengkapi satu sama lain sehingga bisnis MICE tetap dapat terus berjalan,” ungkapnya, hari ini.
Pacto adalah perusahaan Profesional Conference Organizer ( PCO) dibalik kesuksesan Indonesia menggelar pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) 2018 dengan peserta tembus angka 36 ribu orang.
Dampak pandemi COVID-19 terhadap industri MICE, salah satunya PCO sangat signifikan/besar. Dampak langsungnya adalah terjadinya penundaan dan pembatalan event, baik skala nasional maupun internasional.
“Prediksinya, event nasional baru akan kembali digelar pada September tahun ini. Seperti halnya keyakinan rekan PCO di Eropa, kami juga optimistis jika telah memperoleh izin penyelenggaraan event oleh Pemerintah start September,” kata Raty Ning.
Kegiatan konfrensi oleh grup perusahan nasional diharapkan sudah mulai bergerak lagi. Sementara event internasional, khususnya asosiasi internasional diprediksi akan kembali digelar pada kwartal kedua tahun 2021, tambahnya.
Melihat fakta ini, maka PCO melakukan penghematan di berbagai sektor agar dapat survive. Dia mengakui perusahaan MICE yang termasuk pelopor bidang PCO di Indonesia adalah Pacto Convex dan Royalindo dan yang terbanyak adalah perusahaan level Event Organizer ( EO) yang menjadi bagian dari bisnis PCO.
Berbicara tentang jumlah event kedokteran yang diselenggarakan di Indonesia, rata-rata jumlahnya lebih dari 200 event per tahunnya. Berdasarkan data dari IDI pada tahun 2017 tercatat 267 event, di 2018 ada 234 event dan pada tahun 2019 jumlahnya malah meningkat di angka 279 event.
“Rata-rata event kedokteran ini disupport oleh para mitra masing-masing asosiasi kedokteran, rumah sakit dan instansi terkait lainnya,” jelasnya.
Mitra yang dimaksud di sini bisa dari perusahaan farmasi, laboratorium, alat kesehatan. Namun untuk data event yang sifatnya di-organized sendiri oleh Mitra (perusahaan di bidang kesehatan), maka pihaknya tidak memiliki datanya. Karena data tersebut bersifat confidential dari setiap perusahaan
Klien korporat Pacto Convex cukup beragam dari berbagai sektor industri, diantaranya pertambangan, farmasi/health-care related product, product, asuransi, perbankan, telekomunikasi, konstruksi, airport management, port operator, dan lain-lain.
Bisnis MICE termasuk industri padat karya karena setiap kali konferensi nasional maupun internasional berlangsung di Indonesia maka akan menyerap banyak tenaga kerja dan melibatkan banyak sektor.
Tamu peserta butuh hotel, makan, minum, kendaraan, penterjemah, pra dan post tour, hiburan, ruangan pertemuan membutuhkan dekorasi, pasokan food & beverage, tekhnisi, MC, atraksi seni dan budaya dan beragam kebutuhan lainnya dimana kegiatannya bukan hanya sehari tapi bisa 7-8 hari.
Oleh karena itu saat bisnis ini menjadi tiarap akibat COVID-19, Raty bersikap realistis saja dan meminta para pelaku MICE untuk mempersiapkan New Normal dalam bisnis MICE mendatang.
” Saatnya kini untuk belajar bagaimana mengoptimalkan kemampuan kita dibidang tekhnologi digital untuk penyelenggaraan konferensi internasional, misalnya,” kata Raty.
Sebagai Ketua International Congress and Convention Association (ICCA) Indonesia, sejak awal pandemi bahkan negara belum mengumumkan warganya terpapar Corona, pihaknya memilih untuk mendorong pemerintah dalam meningkatkan kegiatan MICE.
” Pada 25 Februari 2020 di JIExpo Convention Centre & Theatre, kami menyelenggarakan ICCA Indonesia Forum 2020 untuk menginformasikan pada dunia sebagai negara yang aman untuk dikunjungi berlibur, bisnis maupun untuk melakukan MICE, tambah Raty.
Apalagi secara infrastruktur dan akses, Indonesia banyak memiliki beragam fasilitas untuk MICE di berbagai kota di Indonesia. Begitu pula ini merupakan industri yang paling cepat mendatangkan devisa, dikarenakan karakter turis MICE memiliki jumlah spending atau belanja yang jauh lebih besar ketimbang wisatawan leisure.
” Kini setelah ada 17.025 kasus terpapar COVID -19 dan pemerintah disibukkan dengan penanganan pandemi dan mengatur negara, mari kita jangan banyak menuntut tapi sebaliknya bantu sebatas yang kita bisa,” ujarnya.
Data ICCA menunjukkan pada tahun 2018 Indonesia menduduki posisi ke-36 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 122 pertemuan tingkat regional dan dunia.
Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-11. Namun Indonesia masih berada di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia.
“Melihat data ICCA tahun 2018, kami melihat masih banyak peluang bagi Indonesia untuk mendatangkan pertemuan asosiasi internasional (association meeting) melalui bidding internasional. Kelar COVID-19, Insya Allah ICCA Indonesia tancap gas lagi,” kata Raty Ning optimistis.
Menikmati Keindahan Kota Mekkah di Waktu Malam dari Gua Hira
this formateMEKKAH,Arab Saudi,bisniswisata.co.id: Selalu menjadi mimpi bagi banyak jutaan umat Muslim lainnya di dunia untuk merasakan bulan Ramadan langsung di dua kota suci, Makkah dan Madinah dilanjutkan dengan merayakan hari kemenangan Idul Fitri.
Rindu beribadah di depan Kabah saat tempat suci umat Islam dari seluruh dunia ini masih tertutup akibat pandemi global COVID-19 tentunya membuat semua ingatan melakukan ibadah haji maupun umroh yang pernah kita lakukan akan muncul kembali dalam ingatan seperti yang kini saya rasakan.
Saat itu matahari telah rebah di ufuk bukit yang melatari Kota Mekkah, Arab Saudi. Berbarengan dengan itu terdengar azan berkumandang diiringi nyala lampu dari pucuk-pucuk menara Masjidil Haram.
Yang menarik, kumandang azan dan nyala lampu listrik berawal dari Masjidil Haram itu melingkari Ka’bah itu. Lalu seperti pemicu terar kumandang azan dari masjid-masjid lain yang ada di Kota Mekkah.
Bersamaan dengan itu menyala juga lampu yang dimulai dari lingkungan Masjidil Haram diikuti nyala lampu bangunan-bangunan lain di sekitarnya, menjadikan Kota Mekah terang benderang di waktu Magrib.
Pemandangan spektakuler itu saya saksikan dari sisi ‘pintu’ bagian belakang Gua Hira di pucuk Jabal Nur (Bukit Cahaya), sekitar 7 Km di sebelah timur Kota Mekah. Saat Magrib itu, tahun 1997, saya tak sendiri, melainkan bersama 4 (empat) teman wartawan/sastrawan.
Kami bersama-sama melaksanakan ibadah Umroh, yakni: Ahmadun Yosi Herfanda (dari Harian Republika), Badri (kameraman TPI/Televisi Pendidikan Indonesia), Isson Khairul dari Majalah Gadis, Mas Danarto (almarhum) – budayawan dan penulis buku Orang Jawa Naik Haji.
Gua Hira di pucuk Jabal Nur merupakan catatan tersendiri dalam dunia Islam, karena di gua itu suatu hari di Bulan Ramadhan pada kitaran 14 abad silam, Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, yakni QS.96 (Al-Iqra’ atau “Segumpal Darah”) ayat 1 – 5.
Namun begitu Gua Hira dan Jabal Nur tidak masuk dalam peta wisata (religi) Kota Mekkah. Bahkan pemerintah Arab Saudi melalui otoritas Kota Mekkah tegas menyebut bahwa Gua Hira di pucuk Jabal Nur sebagai bukan tempat ziarah.
Penegasan ini tercatat di banyak buku dan brosur wisata, bahkan tertera sebagai pengumuman resmi dalam 6 bahasa (Arab, Turki, Inggris, Itali. Urdu, dan Bahasa Indonesia), yang menyatakan “Semenjak Muhammad SAW diutus menjadi Nabi, tidak ada dalil kuat yang menunjukkan Nabi Muhammad SAW menziarahi Gua Hira untuk melakukan shalat atau berdoa, dan para sahabat Nabi pun tidak melakukan hal itu”.
Uniknya, dari masa ke masa, ada saja jamaah yang datang ke Kota Mekkah, baik untuk umrah ataupun yang mendapat panggilanNya menunaikan ibadah haji, yang ingin bisa menjejakkan kaki ke Gua Hira di pucuk Jabal Nur itu.
Rasa ingin tahu untuk kemudian menjejakkan diri di gua tempat Muhammad SAW (sebelum masa kerasulan) melakukan kontemplasi untuk membersihkan diri dan memikirkan kondisi masyarakat Kota Mekkah yang masih jahiliyah.
Dari ‘pintu, atau rongga sebelah belakang Gua Hira ini pula kami bisa melihat ke bawah, ke arah Kota Mekkah yang bergelimang cahaya di waktu Magrib. Waktu pergantian hari dalam kalender Islam, yang mengharuskan kami segera berwudlu secara tayamum, karena tak ada air sama sekali di bukit Jabal Nur.
Di imami almarhum Mas Danarto, kami pun menunaikan shalat Magrib di atas batu pipih dan tempat bersih yang ada di dalam rongga Gua Hira. Subhanallah.
Bukit batu
Tahun 2017, saya kembali mendapat kesempatan datang ke Mekkah, Kali ini bersama Resti, istri saya, untuk memenuhi panggilanNya menunaikan ibadah haji tahun 1438 Hijriyah. Alhamdulillah, rangkaian ibadah haji yang terpusat di Arafah (serta Musdalifah dan Mina) usai kami laksanakan.
Pada tanggal 5 September 2017, kami kafilah Haji Mandiri Indonesia asal Pamulang, Tangerang Selatan – Banten, telah kembali ke tempat kami menginap selama di Mekkah, yakni di kawasan Syisha yang terletak sekitar 5 Km di sebelah Tenggara Masjidil Haram.
Saya sudah ngepak koper, rapi. Tapi masih ada waktu tinggal sehari di Mekkah, sebelum esok kami diangkut bus ke Jeddah dan terbang pulang ke tanah air dengan Garuda Indonesia. Apa yang bisa dilakukan di sisa waktu? Balik ke ‘pasar tumpah’ di depan hotel buat beli oleh-oleh? Atau berkunjung ke peternakan unta, atau…?.
Alhamdulillah, rasanya…tak ada lagi situs wisata religi (dan non-religi) di seputar Mekah yang belum saya kunjungi. Saat itu tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada kontur sebuah bukit gersang kecokelat-cokelatan. Kontur gunung berbentuk punuk unta yang sudah amat saya kenal, dan tak lain adalah Jabal Nur.
Saya taksir, jaraknya hanya sekitar 5 Km saja dari hotel tempat kami menginap di kawasan Syisha. Mendadak saya ingat Resti yang berulangtahun ke-60 pada tanggal 1 September 2017, tepat saat kami wukuf di Arafah, tanggal 9 Dzulhijah yang sekaligus merupakan puncak tahun haji 1438 hijriyah.
Apa salahnya saya ajak Resti mendaki Jabar Nur dan instropeksi diri sejenak di Gua Hira di bagian pucuknya. Ibarat pepatah Gayung beesambut, ternyata rekan sekamar Resti yaitu Sundari dan Mimi juga ingin ikut mendaki. Eko, teman sekamar saya, juga ingin ikut bersama istrinya.
Ada Ika, Kang Nana dan seorang adik laki-lakinya juga bergabung sehingga alhasil, ditambah saya dan Resti, kami berdelapan siap mendaki Jabal Nur dan Gua Hira. Selain Resti dan Sundari yang memang hobi outdoor activity, keenam teman lainnya awam dengan urusan mendaki gunung.
Bahkan bila sampai di Jabal Nur maka hal ini akan jadi pengalaman pertama mendaki gunung bagi mereka. Tapi tidak soal karena yang penting mereka punya niat dan motivasi kuat untuk ‘wisata jalan kaki’ sambil mendaki gunung. Fisik mereka pun, dalam pandangan saya cukup sehat. Inshaa Allah, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun apapun alasannya, teknik dasar umum mendaki gunung perlu juga disosialisasikan. Antara lain: pendaki harus sehat dan mampu melangkah dengan baik dan benar. Ikuti prosedur. Gunakan alas kaki yang tepat, enak dan nyaman.
Idealnya sepatu gunung dengan tumit tertutup. Tapi berdasarkan pengalaman 20 tahun lalu, Jabal Nur relatif mudah untuk didaki. Untuk itu saya dan Resti cukup menggunakan alas kaki berupa sandal Spartan, yang kini populer disebut sebagai sandal gunung. Itu pula yang dikenakan teman-teman lain.
Berdasarkan pengalaman, track to top of Jabal Nur bisa didaki dalam tempo sekitar 2 jam. Sama sekali tak ada pohonan di atas sana. Sepanjang pendakian, yang ada Cuma tebing-tebing padas, tonjolan batu andesit. Pokoknya, batu-batu melulu.
Oleh karena itu selain membawa makanan siap kunyah, jangan pernah lupa berbekal cukup air minum, yang tiap seperempat jam sekali minimal harus kita teguk seperlunya agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Jangan lupa jas hujan, lampu senter dan tongkat.
Tongkat amat disarankan untuk dibawa dalam setiap aktivitas mendaki gunung, tak cuma bagi kalangan tua tapi juga kaum muda. Karena tongkat berguna sebagai alat pegangan tangan saat kita melangkah, terlebih mendaki di lokasi yang tak ada akar atau pepohonan untuk dipegang.
Tongkat yang kita gemgam dan ‘menghujam’ di tanah, juga sangat berarti untuk menstabilkan posisi tegak tubuh saat melangkah turun ataupun naik. Alhamdulillah, di tas saya selalu tersedia tongkat lipat dari bahan metal geranium. Dan di bagian bawah Jabbal Nur ada banyak kios penjual tongkat dari batang kayu siwak, bagi siapa yang perlu.

Berangkat tengah malam
Pada 20 tahun silam, saya mendaki Jabal Nur selepas sholat Asyar saat matahari sudah amat condong ke Barat. Tapi tetap saja, panasnya minta ampun! Karena itu, dalam pendakian kali ini saya menyarankan berangkat tengah malam dari hotel di Syisha, saat udara teduh. Maklum di Mekah saat itu, udara malam pun masih dalam kitaran angka 35* Celsius.
Teman-teman setuju. Keperluan dasar perjalanan yang perlu dibawa, kembali di-check. Khususnya air minum yang cukup plus makanan kering buat bekal di jalan, wind-jacket, jas-hujan, juga kamera. Seorang teman yang hanya mengenakan sandal jepit, saya sarankan menggantinya dengan sandal Spartan, pinjam punya temannya.
Untuk menghemat waktu dan tenaga, dari depan penginapan di Syisha kami menuju lokasi star di kaki Jabal Nur dengan menggunakan taksi. Ada dua jenis taksi yang resmi beroperasi di Mekkah saat itu, yakni taksi argometer berupa sedan sebagaimana umumnya, dan taksi berupa mobil minitruk bak terbuka berkapasitas 10-12 orang penumpang, yang bisa disewa dengan sistem sekali jalan dan antar ke tujuan, dengan tarif antara 6 – 12 RSA (Real Arab Saudi) per penumpang.
Kami berdelapan memilih taksi ‘bak terbuka’, dan dikenakan tarif 10 Real tiap orang, dengan catatan taksi (pengemudinya seorang laki-laki asal Pakistan) langsung berangkat ke tujuan tanpa harus ngetem, nunggu penumpang hingga hingga klop berisi 12 penumpang.
Sekadar info, saat itu 1 Real setara Rp 3.400. Jadi masing-masing kami harus keluar ongkos Rp34.000, yang bila masuk ke Toko Indonesia yang banyak bertebaran di Kota Mekah (dan Madinah) bisa ditukar dengan 1kg terur ayam buat teman masak mi instan produk Indonesia yang harganya sekitar Rp6.500/pc. Sebungkus mi instan produksi Indonesia, dijual dengan harga 2 Real atau sekitar Rp 6.800.
Padat merayap
Tahun 1997, lokasi yang jadi tempat awal pendakian Jabal Nur dan Gua Hira masih amat sangat sepi. Jalan masuknya belum punya tanda apapun, sampai-sampai sopir taksi argometer yang mengantar kami tempo itu harus putar-putar dulu.
Saat pertama itu akhirnya tiba di satu jalan dimana di sisinya terdapat sebuah rumah yang (selain daun pintunya) seutuhnya terbuat dari gundukan batu. Atau sesungguhnya itu adalah bukit rongga batu yang diberi daun pintu. Selebihnya? Sepi. Dua jam mendaki, kami tak berpapasan dengan pendaki-pendaki lain.
Situasi sungguh berbeda dengan kedatangan saya yang kedua kali ini bersama teman-teman satu kloter. Tempat awal pendakian sudah berobah ramai. Rumah-rumah tembok berderet-deret, sebagian diubah menjadi toko atau warung penjual kebab, bahkan ayam goreng kriyuk-kriyuk.
Minuman berkarbonasi produk USA juga mudah didapat di lapak-lapak warung yang menempatkan kaleng dan botol-botol minuman ringan itu dalam coolbox ataupun kulkas. Yang kangen makan mie soto ayam berbagai mie instan produk Indonesia juga ada penjualnya.
Tak cuma kami berdelapan, tempat pendakian ini dipadati ratusan orang dari berbagai bangsa. Mereka bergerak naik (ataupun turun) secara rombongan, dengan pemimpin kelompok memegang atribut atau bendera negara masing-masing.
Ada rombongan dari India, Pakistan, Inggris, Perancis, Ghana, Mesir, Turki, Amerika, Tiongkok bahkan rombongan-rombongan jamaah asal Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura. Semuanya satu tujuan: mendaki Jabal Nur dan berkunjung ke Gua Hira.
Meski bukan tujuan wisata yang resmi tetap saja menjadi magnet untuk melihat langsung tempat Nabi besar beribadah. Sekali lagi, Jabal Nur dan Gua Hira khususnya memang bukan tempat ziarah, sebagaimana Jabal Uhud di Madinah ataupun lokasi ziarah lainnya di Mekah yang masuk dalam peta wisata.
Tapi siapa bisa melarang minat orang untuk melihat Gua Hira, tempat di mana ayat suci Al-Quran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SWA melalui perantara Malaikat Jibril?
Berapa ribu pendaki memenuhi Jabal Nur saat itu? Apakah ini ada kaitannya dengan musim haji tahun 1438H yang dihadiri 2,2 juta jamaah dari luar Arab Saudi? Entahlah, Yang pasti padatnya pengunjung, rombongan yang hendak naik ataupun hendak turun, menjadikan situasi jadi padat-merayap.
Siapapun tak bisa melangkah dengan leluasa tanpa kemungkinan ‘bersenggolan’ dengan tubuh orang lain. Sementara saya tahu persis, jalur menuju puncak, yang paling lebar hanya kitaran 2 meter.
selebihnya jalur-jalur sempit yang bersebelahan dengan jurang di sisinya yang terbuka. Alhasil, berangkat dari bawah sekitar pukul 01 malam WAS, baru sekitar pukul 04 pagi kami tiba di pilar batu alam yang merupakan titik triangulasi, Jabal Nur
Jalan kaki ke penginapan
Di bagian tertinggi dari Jabal Nur ini situasi tak lagi padat-merayap, melainkan berjubel. Semua orang menyasar Gua Hira yang terletak di jalan agak menurun, di pinggir sebuah tebing, beberapa belas meter dari titik triangulasi. Jalan masuk ke rongga bagian dalam harus melalui celah sempit, yang memaksa tubuh seseorang harus dalam posisi miring dan agak membungkuk untuk bisa ‘nyeplos’ ke dalam ataupun balik ke luar.
Ada semacam jendela lebar di belakang rongga, dimana di bagian bawahnya terhampar keindahan pemandangan Kota Mekah. “Jendela” ini bisa juga dijadikan jalan masuk ataupun keluar. Tapi perlu kehati-hatian, karena harus meliwati bagian amat sempit berbatas jurang menganga.
Rongga bagian dalam Gua Hira juga tidak terlalu luas, paling hanya bisa memuat belasan orang saja. Sementara tiap orang yang berhasil masuk ke Gua Hira, umumnya cenderung untuk tinggal berlama-lama, mumpung bisa berkunjung.
Maka bisa dibayangkan padatnya kitaran seputar Gua Hira saat itu. Melihat situasi dan kondisi saat itu, saya memutuskan diri untuk tidak lanjut masuk ke Gua Hira. Resti juga setuju mendaki hanya sampai titik triangulasi itu saja, dan tidak menjejakkan kaki ke Gua Hira. Tapi teman-teman lain berfikir lain. “Gua Hira sudah di depan mata… sayang betul kalo nggak sampai dijajaki,” kata seorang teman.
Silakan saja. Saya tak bisa melarang, asal tetap berhati-hati. Keenam teman pun bergerak ke bagian celah yang agak menurun, menuju Gua Hira yang penuh sesak. Sementara saya dan Resti menunggu di titik triangulasi Jabbal Nur. Ada bagian yang agak datar di titik itu yang juga sudah penuh diduduki orang.
Alhamdulillah, seorang laki-laki tinggi besar (sepertinya orang Turki) berdiri, dan (dalam Bahasa Inggris) menyilakan Resti untuk duduk di tempat yang tadinya ia duduki. Tempat kosong yang nyatanya tak cuma bisa diduduki Resti, tapi juga muat untuk saya ikut mendudukinya.
Di situ saya dan Resti menunggu teman-teman yang sedang berjuang menerobos masuk ke Gua Hira, sembari menikmati wajah Kota Mekah bergelimang cahaya listrik yang bergelimang di bagian bawah. Subhanallah.
Kejutan terjadi. Semua teman ternyata…berhasil masuk ke Gua Hira dengan berbagai cara. Bahkan ada yang mengaku masuk hingga dua kali. Mereka datang satu persatu dengan wajah berseri. Sempat saya tawarkan ke Resti kalau-kalau ia ingin juga mencoba masuk Gua Hira. Tapi Resti menggeleng pasti.
Ia bilang, cukup sampai di titik ketinggian ini saja. Alhamdulillah. Dan lagi, sudah waktunya shalat Subuh. Orang-orang sudah tampak tayamum, dan shalat sendiri-sendiri karena situasi di lokasi tak memungkinkan menggelar shalat berjamaah. Ada yang menggelar selendang sebagai pengganti sajadah, ada yang shalat sembari duduk atau berdiri.
Di bagian yang agak terbuka di ‘pilar’ triangulasi, saya dan Resti shalat bergantian. Khusyu, dan jelas menghadap Kiblat yang ditandai oleh keberadaan puncak Menara ZamZam yang terang-benderang di bagian bawah.
Lepas Subuh, perlahan kami bergerak rutun tapak demi tapak. Gelombang orang yang hendak naik rasanya semakin banyak. Tapi karena matahari sudah terbit dan tanah menjadi terang, jalan ke bawah terasa lebih gampang.
Satu hal yang juga kini tampak, ternyata ada banyak kambing di Jabal Nur. Khabarnya merupakan peliharaan warga yang sengaja digembalakan di kawasan itu. Anehnya, itu kambing makan apa? Tak tampak kehijauan di sekujur Jabal Nur. Tapi begitulah Allah SWT punya kuasa. Siapapun makhluk, ada bagian resekinya masing-masing,
Sekitar pukul 07 pagi kami tiba di bagian bawah. Banyak taksi menawarkan diri untuk mengantar kami pulang ke penginapan di Syisha. Tapi kami semua sepakat untuk jalan kaki saja. Alasannya? “Sayang 10 Real. Daripada buat patungan naik taksi bak terbuka, mending dibeliin telor ayam sekilo,” kata satu teman.
Jalan pulang memang terasa lebih dekat, apalagi bila dilakukan dengan rilaks sambil melihat-lihat suasana Kota Mekah yang kian wah. Satu lokasi yang paling ingin disasar teman-teman pagi itu adalah: mampir ke restoran ayam goreng plus minum-minuman ringan berkarbonasi ala waralaba asal Amerika Serikat, yang mulai ramai didirikan di Kota Mekah dan kota-kota besar lain di Arab Saudi.
Banyak gunung sudah saya daki. Tapi pengalaman mendaki Gua Hira di pucuk Jabal Nur sungguh membekas di hati. Apalagi bila ingat kalimat bijak bahwa cuma orang-orang yang mendapat hidayahNYa saja yang bisa datang (untuk umroh atau haji) ke Mekah. Dan kami memenuhi pangggilannya datang ke Mekkah, yang usai ibadah kami sempatkan diri untuk berkunjung ke Jabal Nur dan Gua Hira. Alhamdulilah terima kasih Ya Rabb…
