Program AADC Kunci UMKM Beradaptasi Ditengah Pandemi

0
17

Produk kerajinan dari UMKM diharapkan bertahan di tengah pandemi  global ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Kemampuan menerima, beradaptasi, mengoptimalkan tekhnologi digital dan kemampuan berkolaborasi dengan kreatif menjadi kunci bagi pengusaha UMKM untuk bisa bertahan dan lebih cepat beradaptasi di tengah wabah pandemi COVID-19.

“Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk bisa bertahan dan lebih cepat beradaptasi di tengah wabah pandemi COVID-19,” kata Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf.

Dia berbicara saat acara Ngobrol Santai Blibli Seller Eps.40 “Beli Kreatif Lokal #BanggaBuatanIndonesia melalui Live Insta Story akun instagram @kemenparekraf.ri bersama VP Galeri Indonesia Blibli Andreas Ardian Pramaditya.

Nia mengatakan Kemenparekraf memiliki prinsip yang bisa diterapkan bagi UMKM untuk segera beradaptasi di situasi saat ini yaitu Accept, Adapt, Digital, dan Creative Collaboration (AADC).

“’Accept’ yang dimaksud adalah kita harus menerima kondisi saat ini untuk dihadapi bersama-sama. Lalu berikutnya adalah ‘Adapt’, kita harus menyesuaikan dan cepat beradaptasi dengan kondisi saat ini. ‘Digital’, saat ini adalah suatu keniscayaan, UMKM juga segera bertransformasi dan yang terakhir adalah ‘Creative Collaboration’,” ungkapnya

Nia juga mendorong masyarakat untuk saling bahu-membahu menjadi pahlawan bagi produk lokal dengan cara ikut berkontribusi dalam program #BeliKreatiflokal dan #BanggaBuatanIndonesia. 

Program tersebut, jadi cara untuk mendukung pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, fashion, dan kriya agar mampu meningkatkan omzet penjualannya dengan optimasi promosi melalui platform e-commerce secara terintegrasi. 

Dia  juga menjelaskan, pihaknya memberikan tempat bagi 500 pelaku ekonomi kreatif (ekraf) terpilih yang produknya bisa dipasarkan secara cuma-cuma. Namun, lanjut Nia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pelaku ekraf.

Seperti, lokasi usahanya harus berada di sekitar Jabodetabek, akun sosial media tidak boleh di mode private. Pengikut (followers) dari akun pendaftar program ini tidak lebih 10.000 followers. Dan program ini diperuntukkan khusus untuk pelaku ekonomi kreatif bidang kuliner, fashion, dan kriya.

“Saat ini sudah ada 4.000 yang mendaftar dan 900 yang mengisi form. Nantinya akan dikurasi menjadi 500 UMKM. Mereka akan diberikan pendampingan oleh mentor-mentor profesional mulai dari pengemasan, produk, hingga promosi. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan konsultasi gratis dari ahli hukum terkait HKI yang akan diberikan pada 100 pelaku ekraf terpilih, ” katanya.

Pada kesempatan yang sama, VP Galeri Indonesia Blibli Andreas Ardian Pramaditya juga menjelaskan, perekonomian Indonesia sedang diuji, berbagai sektor terdampak COVID-19. Blibli.com sebagai e-commerce mendukung UMKM untuk bertahan di tengah pandemi dengan tidak mengambil komisi dari tiap transaksi.

“Kami terus mencari dan memberikan yang terbaik bagi merchant UMKM kami. Di tengah pandemi ini, kami memberi margin nol persen, semuanya kami kembalikan kepada para mereka di tengah pandemi ini,” katanya.

Andreas menjelaskan di Blibli saat ini memiliki kanal khusus yaitu Galeri Indonesia yang sengaja disediakan untuk para seller UMKM yang telah dikurasi produk-produknya.

“Untuk itu kami butuh komitmen yang kuat dari para seller terhadap produknya. Agar kepercayaan masyarakat akan produk lokal bisa terjaga. Sehingga masyarakat juga bisa bangga pada produk buatan Indonesia,” ujarnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.