Tawaran Menggiurkan, Jepang Akan Subsidi 50% Biaya Turis Yang Datang

this formate

Foto: Unsplash.com/ David Edelstein @jlhopes

TOKYO, bisniswisata.co.id: Siapa yang suka berwisata ke Jepang ? sudah tahu belum kalau bos dari Badan Pariwisata Jepang, Hiroshi Tabata, berencana siapkan dana subsidi US$ 12,5 miliar untuk menarik para pelancong kembali ke Jepang, dimulai segera setelah bulan Juli.

Dikutip dari Simple Flying, Hiroshi Tabata mengatakan subsidi sebesar itu pada sebuah acara dengan media pekan lalu, Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan  untuk memberikan subsidi 50% biaya wisatawan yang berkunjung ke negaranya.

Meski begitu, Pemerintah Jepang belum menjabarkan secara detail seperti apa program ini akan bekerja, biaya apa yang akan ditanggung, atau bagaimana subsidi akan didistribusikan. Sebab, hingga saat ini, Jepang masih memberlakukan lockdown yang melarang wisatawan ataupun warga negara asing memasuki negara tersebut.

Program itu membuat Jepang menjadi negara yang akan mengikuti jejak negara-negara lain untuk mendorong pariwisatanya pada musim panas ini. Bulan lalu, Pulau Sisilia di Italia mengumumkan program serupa. Pemerintah di sana akan mengganti biaya perjalanan wisatawan, mencakup setengah dari penerbangan mereka dan sepertiga dari biaya hotel mereka.

Subsidi liburan setengah harga untuk turis asing ini menyusul merosotnya kunjungan wisman atau kedatangan penumpang yang paling suram dalam sejarah penerbangan Jepang akibat COVid-19.  Hari ini, di Bandara Narita yang biasanya sibuk, hanya ada beberapa kedatangan dan keberangkatan internasional di tengah sejumlah pembatalan.

Memang baru sebatas rencana dan belum ditetapkan secara konkret dan detail. Tidak ada kata tentang bagaimana hal itu akan dibayar atau apa kriteria dan pengecualiannya.  Sayangnya juga tidak ada jaminan mereka akan menanggung setengah dari biaya kelas satu All Nippon Airways dan Park Hyatt di Tokyo.

Jepang memiliki respons yang menarik terhadap pandemi COVID -19 karena mereka jauh lebih lambat daripada banyak negara lain untuk menutup perbatasan mereka, sebagian karena menjadi tuan rumah Olimpiade yang dijadwalkan berjalan di sana tahun ini.

Tetapi pada bulan April, Jepang bergerak maju dan mulai melarang pengunjung dari banyak negara meski tidak melarang semua negara.  Tetapi pada tahap ini, permintaan untuk perjalanan telah runtuh  dan sejumlah maskapai penerbangan telah memangkas penerbangan ke dan dari Jepang

Hasilnya adalah hanya 2.900 pengunjung yang masuk mendarat di Jepang pada bulan April. Padahal   tahun lalu ada 31,9 juta pengunjung mengalir ke negara Asia Utara yang populer itu.  Tahun ini, di balik penyelenggaraan Olimpiade yang ditunda,  Jepang mengharapkan kunjungan 40 juta wisatawan mancanegara.

Ini adalah perubahan drastis dari satu  negara yang biasanya kelebihan kedatangan jumlah wisatawan dan bersiap untuk acara olahraga dunia yang berlangsung empat tahun sekali. Pesta Olimpiade itu telah dijadwalkan kembali ke tahun 2021.

Inbound travel telah lama menjadi kontributor signifikan bagi ekonomi  Jepang yang stagnan dan Pemerintah Jepang sangat ingin memulai pendapatan menguntungkan dari sektor ini lagi.

Tetapi masalahnya Japan Airlines dan All Nippon Airways secara drastis juga mengurangi jadwal internasional mereka dalam beberapa bulan terakhir.  Japan Airlines telah memangkas layanan internasionalnya hingga 96% hingga akhir Juni.  

Padahal maskapai ini menjalankan beberapa penerbangan ke Chicago, Vancouver, Los Angeles, London, Bangkok, Kuala Lumpur, Jakarta, Hanoi, Ho Chi Minh, Manila, Dalian, Hong Kong, Taipei, dan Kaohsiung.

All Nippon Airways juga memangkas sebagian besar penerbangan internasionalnya yang jadi jalur andalan  seperti ke Bangkok, Manila, Singapura, Hanoi, Kuala Lumpur, Sydney, Los Angeles, San Francisco, Chicago, Vancouver, Mexico City, London, dan Frankfurt.

Sebagian besar maskapai penerbangan internasional yang biasanya terbang di Jepang telah menangguhkan layanan mereka di sana.  Hari ini, di Bandara Narita yang biasanya sibuk, hanya ada beberapa kedatangan dan keberangkatan internasional di tengah sejumlah pembatalan.

Pemerintah Jepang berhati-hati tetapi ingin menghidupkan kembali inbound travel. Ingin lebih banyak penerbangan beroperasi dan airport penuh, sementara kontrol perbatasan tetap ketat.

Untuk menghidupkan bisnis wisatanya, ada laporan peluang  bisnis menguntungkan dari pasar pelajar dulu yang ditargetkan baru kemudian dengan pasar wisatawan. Kalau Hiroshi Tabata targetkan turis asing sudah masuk Juli untuk liburan setengah harga bisa jadi memang terlalu optimistis.

Namun bagi wisatawan Indonesia bisa jadi tawaran menggiurkan itu ditindak lanjuti dengan berwisata ke negri Sakura itu. Maklum Hubungan Indonesia dan Jepang memang punya sejarah panjang. Hubungan itu berlanjut dengan tingginya kunjungan pariwisata antar kedua negara.

Bukan hanya wisatawan Indonesia yang bepergian ke negeri Sakura tersebut, tapi juga tumbuhnya minat wisatawan Jepang untuk berkunjung ke Indonesia dengan berbagai budaya dan iklim tropis yang ditawarkan.

 

 

Kebun Raya Bogor Dan Sejarah Dunia yang Disimpannya

this formate

BOGOR, bisniswisata.co.id : Kebun Raya Bogor biasanya ramai oleh pengunjung di saat merayakan Lebaran.  Tapi adanya pandemi virus COVID-19 memaksa saya kali ini ‘puasa’, tidak piknik ke ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor (KRB) yang juga baru berulang tahun.

Padahal tanggal 16 Mei lalu KRB baru saja merayakan HUT ke-203. Di tahun-tahun sebelumnya, nyaris selalu saya berkunjung, sendiri ataupun bareng istri dan teman komunitas. Bagi saya, KRB bukan sekadar tempat menggelar tikar di hari Minggu, bukan sekadar tempat buat ngocok arisan sambil makan bareng tetangga atau konco lawas. 

KRB juga bukan sekadar taman luas dan indah yang asyik dijadikan lokasi rekreasi keluarga. Lebih dari itu, KRB adalah satu dari sekian warisan dunia di Indonesia, yang berjarak hanya sekitar 60 Km dari Titik NOL Jakarta, museum tumbuhan terlengkap dunia, dimana kita bisa belajar khususnya jenis-jenis tumbuhan tropika. 

Museum tempat tumbuhnya pohon Kelapa Sawit tertua di dunia, tempat singkong yang asal Amerika pertama kali dikembangbiakkan, tempat dimana anak-anak bisa melihat pohon yang beragam dan banyak lagi.

Jalan-jalan dan belajar di areal KRB yang superluas sungguh mengasikkan, karena langkah kita seperti masuk balik ke lorong waktu dua  abad silam ketika VOC, usaha dagang Belanda di Hindia Timur bangkrut dan bubar pada 1 Januari 1800, dan Eropa dilanda perang, yang antara lain menyebabkan Kerajaan Belanda (penguasa tanah Nusantara tempo itu) jatuh ke tangan Inggris, antara tahun 1811 – 1816.

Perang Eropa dan kemelut politik yang terjadi saat itu, membuat perekonomian Belanda lesu. Normalisasi dilakukan dan Kerajaan Belanda mulai mengembangkan ilmu pengetahuan di tanah jajahannya di timur. 

Cornelis Theodorus Elout, dan G.A.G.P. Baron van der Capellen dikirim ke Indonesia. Dalam misi itu, disertakan pula Prof. Caspar George Carl (C.G.C) Reinwardt, ilmuwan berkebangsaan Jerman yang pindah berkarir di Belanda, selaku penasehat. 

Tahun 1816 CGC Reimward diangkat menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan untuk Pulau Jawa. Reinwardt langsung memulai riset dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan, Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan dan menganggap eksplorasi tumbuhan dan masalah pertanian juga merupakan tugasnya di Hindia Belanda. 

Dalam kapasitas tersebut, Reinwardt berinisiatif untuk mengumpulkan dan mendata semua tanaman yang terdapat di sebuah ‘kebun botani’ di sekitar halaman Istana Bogor yang sebelumnya didiami oleh Letnan-Gubernur Thomas Stamford Raffles bersama isterinya Olivia Mariamne Raffles selama masa peralihan dari Pemerintah Inggris ke Kerajaan Belanda di Pulau Jawa pada tahun 1811 sampai 1816. 

Samida, hutan buatan warisan Pajajaran

Kebun Botani yang terletak di dekat Istana Bogor (dibangun pada Agustus 1744 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, dan kini menjadi kediaman resmi Presiden RI, Joko Widodo) tak lain adalah “Samida” – hutan buatan yang dibangun pada abad ke-15 oleh Surawisesa, raja terakhir Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan, Bogor. 

Sebagaimana terpahat dalam Prasasti Batu Tulis yang dilestarikan di Desa Batutulis – Bogor, tak jauh dari Istana milik Bung Karno, disebutkan bahwa Raja Surawisesa membangun Samida, yakni hutan buatan di tengah kota pakuan.

Fungsinya sebagai areal konservasi alam sekaligus sebagai areal berburu dan berlatih ‘kanuragan’ para prajurit yang dipimpin Panglima Jalak Harupat (diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungi Jl Pajajaran dan Jl Juanda di lingkar KRB). 

Samida dibangun untuk memutus kebiasaan masyarakat menebang hutan secara sembarangan. Dengan adanya samida misalnya, kebutuhan masyarakat akan kayu  bisa ditumbuhkembangkan lewat apa yang ditanam di samida. Jadi ihwal konservasi lingkungan, Indonesia sudah memulainya sejak zaman Pajajaran.

Di areal Samida, .kebun botani’ warisan Surawisesa dari Pajajaran itu, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff membangun Istana Bogor dengan taman luas dan indah dimana  hingga tahun 1942 berturut-turut menjadi tempat kediaman para gubernur jenderal Belanda di Indonesia. 

Di masa Raffles, Gubernur Jenderal Inggris dan penulis buku terkenal bertajuk Stories of Java (terbitan London, 1817), Samida mulai dikembangkan.  Melalui bantuan seorang ahli botani William Kent. 

Lahan yang awalnya merupakan halaman Istana Bogor ini dikembangkan menjadi sebuah kebun yang cantik. Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya yang sekarang.

Pada tanggal 15 April 1817 Reinwardt mencetuskan gagasan untuk mendirikan kebun botani kepada Gubernur Jenderal G.A.G.P. Baron van der Capellen, gagasan tersebut kemudian disetujuinya.

Akhirnya, tanggal 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal G.A.G.P. van der Capellen secara resmi mendirikan sebuah Kebun Raya di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti “tidak perlu khawatir”) dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. 

Di mana KRB didirikan Reinwardt? tak lain adalah di lokasi Samida (seluas sekitar 120 hektar) yang sudah termasuk di dalamnya Istana Bogor. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu.

Pelaksaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan William Kent (yang sudah bekerja sejak masa Raffles) dan sekaligus merupakan kurator dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris.

Sekitar 47 hektar tanah di sekitar Istana Bogor dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara.

Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. 

Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teijsmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, Teijsmann melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia).

Hal Ini merupakan sebuah kerja keras dimana sebagian koleksi KRB harus ditanam ulang dan memindahkan beberapa pohon yang terlalu besar, memberi label merah untuk menandai tanggal penanamannya yang masih dapat  kita lihat sekarang. 

Selama masa jabatannya, Teijsmann berhasil membawa ribuan spesies tumbuhan ke KRB dari perjalanan-perjalanannya ke berbagai negara. Dan atas jasanya, pihak KRB memberikan penghargaan berupa tugu peringatan di Taman Tijsmann dengan 4 spesies pohon jati dan verbena dari marga Teijsmaniodendron diambil dari namanya.

Teijsmann kemudian digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer, pada tahun 1867 ia menjadi direktur dan digantikan oleh Prof. Dr. Melchior Treub. 

Kubah Kebun Raya Bogor

Pisah dari istana

Setahun kemudian, pada tanggal 30 Mei 1868 kepengurusan KRB (seluas 67 hektar) secara resmi dipisah dengan kepengurusan Istana Bogor dan halamannya yang luas keseluruhannya mencapai 28,4 hektare, dan luas bangunan 14.892 m². 

Awalnya KRB hanya digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda. Namun pada perkembangannya pendirian KRB nyatanya mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, sekaligus sebagai wadah berhimpunnya ilmuwan terutama bidang botani di Indonesia secara terorganisasi pada zaman itu (1880 – 1905). 

Sejarah mencatat, berawal dari KRB lah kemudian lahir lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).

Setelah kemerdekaan, tahun 1949 ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg berganti nama menjadi Jawatan Penyelidikan Alam, kemudian menjadi Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LLPA) yang untuk pertama kalinya dikelola dan dipimpin oleh bangsa Indonesia, Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. 

Pada waktu itu LPPA punya 6 anak lembaga, yaitu Bibliotheca Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, Herbarium Bogoriensis, Treub Laboratorium, Musium Zoologicum Bogoriensis dan Laboratorium Penyelidikan Laut. Pada tahun 1956 untuk pertamakalinya pimpinan KRB dipegang oleh bangsa Indonesia yaitu Sudjana Kassan yang menggantikan J. Douglas.

Terkait pengembangan koleksi tanaman yang sesuai dengan iklim di Indonesia, KRB membangun beberapa cabang kebun raya lainnya, semisal: Kebun Raya Cibodas (Bergtuin te Cibodas, Hortus dan Laboratorium Cibodas) di kaki Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat.

Luasnya 120 hektar berada pada ketinggian 1400 mdpl, didirikan oleh Johannes Elias Teijsmann tahun 1866, mempunyai koleksi tanaman khas dataran tinggi beriklim basah daerah tropis dan sub-tropis. Tahun 1891 Kebun ini dilengkapi dengan Laboratorium untuk Penelitian flora dan fauna. 

Kebun Raya Purwodadi (Hortus Purwodadi) di Jawa Timur. Luasnya 85 hektar berada pada ketinggian 250 mdpl, didirikan oleh Van Sloten tahun 1941, mempunyai koleksi tanaman khas dataran rendah beriklim kering daerah tropis.

Kebun Raya “Eka Karya” Bedugul-Bali didirikan tahun 1959 oleh Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Luasnya 159,4 hektar berada pada ketinggian 1400 mdpl, mempunyai koleksi tanaman khas dataran tinggi beriklim kering. Inilah kebun raya pertama yang sepenuhnya dibangun oleh anak Indonesia.

Berinduk dari KRB, kini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui PKT Kebun Raya LIPI telah membangun 27 Kebun Raya di 20 Provinsi di seluruh Indonesia. Dan ini masih dirasa kurang. Para pakar menyebut, dengan luas mencakup 34 provinsi, minimal Indonesia harus memiliki 50 buah kebun raya. 

Ibu beragam instansi 

Jangan lupa, gegara KRB, di Indonesia juga lahir berbagai instansi dan kementerian, semisal Kementerian Pertanian dan Perkebunan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan lainnya. 

Bukan mengada-ada bila saya menyebut KRB sebagai lokasi wisata paling banyak saya kunjungi. Bukan karena lokasinya yang cuma 60Km dari Monas yang merupakan Kilometer NOL Jakarta tapi juga ragam mengetahuan (ihwal flora) yang bisa saya dapat dari situ.

Bayangkan, sebagai pusat penelitian dan pusat konservasi luar kawasan (eks-situ) tumbuhan terbesar di Indonesia, KRB memiliki luas sekitar 87 hektare, dengan jumlah koleksi tumbuhan sejumla 12.531 spesimen yang dikelompokkan ke dalam 3.228 jenis, 1.210 marga, dan 214 suku.

KRB merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia karena menjadi kebun raya tertua di Asia Tenggara. Sedangkan untuk skala dunia, KRB merupakan tertua ketiga setelah Kebun Raya Pandova di Italia yang kini berusia 304 tahun dan Royal Botani Garden Sydney di Australia yang kini berusia 204 tahun. KRB yang kini berusia 203 tahun, berarti Cuma berjarak satu tahun dari Kebun Raya Sydney.

Di forum internasional, pengelola KRB kini dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Intenational Association of Botanic Garden (IABG) untuk wilayah Asia. Jabatan Sekjen IABG chapter Asia dipegang oleh Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI, Didik Widiyatmoko. 

Selain itu, PKT Kebun Raya-LIPI atau Kebun Raya Bogor juga menjadi anggota Botanic Garden Conservation International bersama 3.000 kebun raya di dunia. Bagi Indonesia sendiri, dari waktu ke waktu keberadaan KRB berperan penting sebagai benteng terakhir penyelamatan flora di Indonesia.

Banyak orang di dunia mendambakan bisa singgah di KRB. Bahkan berbagai pasukan elit dunia, nyaris tiap tahun datang ke KRB untuk belajar bagaimana teknik hidup di alam bebas dengan memahami fungsi dan guna tumbuh-tumbuhan yang dikoleksi oleh KRB. 

Jadi tunggu apa lagi? Bila pandemi COVID-19 sudah reda, ayo para travelers, sempatkan datang ke KRB. Saksikan ragam keajaiban alam yang dikoleksinya. Jangan sampai para kenalanmu dari luar negeri bilang “Lha…kamu lahir dan besar di Indonesia, kok nggak faham dahsyatnya Kebun Raya Bogor?” 

Demi Jaga Jarak Sosial, Robot Barista pun Bertugas

this formate

Robot Barista direkrut untuk pastikan jaga jarak sosial (foto: Reuters)

SEOUL, bisniswisata.co.id: Grafik penularan virus corona di banyak negara mulai melandai. Penerapan lockdown pun dilonggarkan. Kafe dan restoran diizinkan kembali buka dengan syarat tetap menerapkan praktik “social distancing” atau menjaga jarak sosial.

Korea Selatan termasuk negara yang berhasil mengendalikan wabah virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 11.000 oang dan menewaskan 267. Pemerintah setempat perlahan mulai melonggarkan aturan dari semula intensive social distancing menjadi apa yang disebut sebagai “distancing in daily life.”

Banyak cara dilakukan untuk mensiasati agar praktik menjaga jarak sosial tetap terlaksana. Sebuah kafe di Daejeon, kota terbesar kelima di Korea Selatan, ‘mempekerjakan’ robot barista yang dengan sopan dan sigap melayani pengunjung cafe.

“Ini teh latte Rooibos pesanan Anda. Silakan menikmati. Sebaiknya diaduk dulu,” kata sang robot saat mengantar pesanan ke pelanggan. Gelas-gelas pesanan diletakkan di nampan yang terpasang dalam komputer besar berbentuk kapsul warna putih.

Robot-robot ini diyakini mampu memastikan penerapan jaga jarak sosial di tempat-tempat umum terlaksana, kata Lee Dong-bae, direktur penelitian di Vision Semicon, perusahaan penyedia smart factory solution yang bersama-sama lembaga sains milik negara mengembangkan robot barista ini, seperti dilansir Reuters. Mereka berencana memasok robot-robot barista ke setidaknya 30 kafe tahun ini.

“Sistem yang kami bangun tidak memerlukan input (data) pelanggan mulai dari pemesanan hingga pengiriman. Meja-meja disusun berjarak agar robot-robot dapat leluasa bergerak. Ini cocok dengan kampanye menjaga jarak jauh,” imbuhnya.

Pemesanan enam minuman akan diproses di sebuah kios dan siap tersaji hanya dalam tujuh menit. Satu-satunya karyawan manusia di kafe berlantai dua itu adalah pastry chef, orang yang bertanggung jawab menyiapkan kidangan kue-kue khas Eropa seperti kue tar, mousse, kue kering, dan sebagainya. Dia juga bertugas melakukan bersih-bersih dan mengisi ulang bahan-bahan.

 

China Paska COVID-19 Panen Wisatawan Domestik ke Kunming

this formate

Danau Dianchi yang dipenuhi burung camar saat musim dingin, kota tua Dali dan Lijiang  serta kota modern Kunming ( Foto: Lovepik ).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Liburan Lebaran hari ke dua warga Jakarta dan di provinsi lainnya di Indonesia biasanya menyerbu obyek wisata. Tentu saja hal itu terjadi tahun 2019 lalu ketika Indonesia dan 210 negara di dunia belum terpapar COVID-19.

Data April lalu yang diungkapkan Haryadi Sukamdani, Ketua PHRI adalah sebanyak 180 destinasi dan 232 desa wisata di Indonesia ditutup. Jadi liburan Lebaran kedua tahun ini disaat ada larangan mudik dan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 H di rumah saja, maka kemeriahan bersilaturahmi bersama keluarga besar cukup dalam kenangan dulu.

Tenang saja slogan Stay at home #traveltomorrow sudah terbukti  di negara asal virus COVID-19 tadi yaitu China. Negara sumber asal virus yang sudah pula mengklaim menuntaskan pandemi itu setidaknya sudah membuktikan warganya telah berwisata kembali.

Tidak jauh-jauh, mereka pergi saat liburan Mayday alias Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2020 lalu ke destinasi domestik seperti Kunming di Provinsi Yunnan yang terkenal cantik sebagai kota bunga.

“Sedikitnya 9 juta wisatawan domestik China berkunjung ke Kunming. Selain perusahaan penerbangan memang memberikan diskon harga tiket pesawat juga tiket masuk obyek wisata disana terjual hingga 347 juta tiket,” kata Christian Wen, profesional tour guide Indonesia.

Pasca COVID, perusahaan penerbangan China menghidupkan kembali bisnis perjalanan bahkan dengan harga tiket pesawat yang disebut pers setempat seharga Bok coy.(https://bisniswisata.co.id/maskapai-china-beri-diskon-gila-gilaan-untuk-pikat-wisatawan/)

Berbicara di Live Insta Story Anton Thedy di Instagram, pria yg akrab dipanggil Owen ini mengaku sudah lima bulan tidak ke Kunming sejak awal Januari 2020. Biasanya pria yang melayani wisatawan Indonesia di Kunming ini sibuk mengantarkan peserta Charter Flight Kunming yang di jual TX Travel yang didirikan Anthon Thedy juga.

Anton Thedy dan Christian Wen berbagi cerita soal Kunming

” Dulu di Jakarta hanya bisa tinggal  tiga hari tiap bulannya karena peserta tour yang datang silih berganti. Sekarang sudah lima bulan di rumah saja,” ujarnya tergelak sambil menambahkan rekan-rekan  guide di China terus memberikan update termasuk kedatangan 9 juta wisatawan domestik merayakan Mayday di Kunming.

Rejeki di hari besar itu dalam mata uang resmi China bernama Renminbi mencapai 7 miliar. Nah tiap tanggal I Oktober akan ada libur lagi karena merupakan Hari Kemerdekaan China dan Libur Imlek 2021 yang rata-rata libur selama 7 hari.

” Jadi prediksi wisatawan domestik yang akan menggerakkan bisnis pariwisata paska COVID-19 terbukti di China,” kata Christian Wen.

Menurut Wen, laris manisnya paket ke Kunming karena cuacanya tidak terlalu ekstrim sekalipun di musim dingin. Dikenal dengan produksi obat dan minuman herbal dan juga kue dari bunga ros ( mawar) yang enak dikenal sebagai Rose Cake.

” Di provinsi Yunnan ada musim bunga-bunga yang populer seperti Sakura, Tulip dan Mawar. Masih ada bunga Matahari dan bunga Seruni atau Krisantemum aneka warna ” tambahnya.

Provinsi ini kaya akan sumber daya alam dan memiliki jenis tumbuhan terbanyak seantero Tiongkok. Dari sekitar 30.000 spesies tetumbuhan dataran tinggi, Yunnan memiliki sekitar 17.000 lebih jenis.

” Ada pasar bunga yang buka 24 jam dan mau cari bunga apa saja ada. Bangunan pasarnya mirip hangar pesawat yang besar,” jelas Wen.

Selain itu juga Kunming dikenal sebagai tujuan wisata friendly Muslim dengan beragam obyek wisata alam maupun buatan yang indah. Ada pepatah di China kalau mereka tidak memiliki satu jenis wisata maka mereka akan bikin. 

Itu sebabnya di negri itu yang tidak ada adalah pantai, selebihnya semua ada bahkan untuk air terjun yang spektakuler dan terbesar didunia juga hasil karya cipta sendiri.

Kunming adalah ibukota Yunnan,  salah satu provinsi di Tiongkok yang terletak di sebelah barat daya. Wilayah Yunnan terbentang seluas 394.100 kilometer persegi atau 4,1 persen dari total luas daratan Tiongkok. Populasi penduduknya diperkirakan sekitar 47 juta jiwa.

Ibukota Yunnan dulu juga dikenal dengan nama kota Yunnan. Wilayahnya berbatasan dengan Provinsi Guangxi, Guizhou, Sichuan, dan Daerah Otonomi Tibet, juga berbatasan dengan negara Vietnam, Laos, dan Myanmar.

Bukan hanya terkaya akan jenis tetumbuhan dataran tinggi, Provinsi Yunnan juga merupakan provinsi dengan etnis paling beragam. Ada 52 etnis di wilayah itu. Yang paling banyak adalah etnis Han yang mencapai 92 persen populasi.

Daya tariknya ada Dianchi Lake, juga disebut dengan nama Lake Dian atau Kunming Lake. Julukan lainnya adalah Sparkling Pearl Embedded in a Highland atau A Dianchi earl on the Plateau.

Danau Dianchi adalah danau air tawar terbesar di Provinsi Yunnan dan terbesar keenam di seluruh Tiongkok. Luasnya 298 kilometer persegi dengan panjang 39 kilometer dari utara ke selatan dan lebar 13 kilometer di titik terlebarnya. Kedalaman danau ini 4,4 meter.

Tepian danau terbentuk dari kaki pegunungan di keempat sisinya. Panjang garis pantainya 163,2 kilometer. Lebih dari duapuluh sungai bermuara di danau ini. Salah satu atraksi menarik di tempat ini adalah pemandangan ribuan atau mungkin jutaan burung camar di salah satu sisi danau. 

Burung-burung camar ini konon hanya ada di waktu musim dingin. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Atraksi yang ditawarkan di tempat ini adalah foto bersama burung camar. 

Ratusan fotografer lokal nampak menenteng kamera DSLR dan contoh foto jepretannya menawari para pengunjung untuk foto bersama burung camar. Harganya RMB 25 (sekitar Rp. 50.000) untuk satu foto.

Apalagi daya tarik Kunming ini ? Christian Wen mengatakan provinsi Yunnan juga dikenal dengan kota-kota tuanya yang seperti  Dali, dan Lijiang.Kota tua Dali penuh pekerja seni gaya indie yang senang mengekspresikan diri, baik melalui art performance maupun art work.

Sementara Lijiang adalah sebuah kota tua yang sudah masuk dalam daftar UNESCO. Di kota kuno ini rumah-rumah tua tetap dipertahankan  dan disulap menjadi toko souvenir, restoran, bahkan bar.

 ” Kotanya sudah berumur sekitar 1000 tahun dan biasanya turis Indonesia enggan pulang ke hotel karena banyak menghabiskan waktu untuk belanha dengan berbagai pernak-pernik yang ditawarkan,” kata Owen.

Pria yang memiliki pengalaman 27 tahun sebagai tour leader ini sebelum mengakhiri bincang-bincangnya dengan Anton Thedy mengingatkan bahwa bekerja sepenuh hati membuat profesi ini bisa menambah banyak saudara dan tidak ada matinya.

” Saya tidak khawatir meski sekarang semua terhenti karena pandemi global, dinikmati saja kehidupan saat ini di rumah karena setelah ini berlalu orang akan traveling lagi,” ujarnya meyakinkan.

Kelar COVID-19, seperti halnya wisatawan China yang juga menjalani social distancing dan sempat bekerja, belajar dari rumah akhirnya tidak menunggu tahun depan untuk berwisata. Mereka langsung berwisata meski dengan aturan yang ketat. Tak ada yang mampu menghadang langkah mereka. Sabar dulu wisatawan Indonesia….

 

ACI dan IATA Bertekad Hidupkan Lagi Layanan Penerbangan

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id : Airport Council International ( ACI)  dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), dua organisasi penerbangan besar dunia telah mengeluarkan pedoman bersama yang bertujuan mengembalikan bisnis industri perjalanan yang tengah terseok akibat pandemi virus corona (COVID-19) yang masih berlangsung.

Pandemi ini memang telah menyebabkan industri penerbangan mengalami kelesuan dan sekitar 95 persen pesawat di seluruh dunia terpaksa menghentikan sementara operasinya, ungkap rilis yang dikeluarkan IATA pekan lalu.

Dalam peta jalan (roadmap) untuk membuka kembali sektor penerbangan global di tengah pandemi, sejumlah tindakan antisipatif penyebaran pandemi pun akan dilakukan di seluruh perjalanan penumpang. Hal ini dianggap mampu meminimalisir risiko penularan corona di bandara dan di dalam pesawat.

“Langkah-langkah tersebut harus konsisten dilakukan secara global dan dapat terus ditinjau, diperbaiki, dan dihapus jika diperlukan,” kata gabungan dua organisasi tersebut.

Baik ACI maupun IATA merupakan anggota utama dari sebuah gerakan yang disebut ‘Covid-19 Aviation Recovery Task Force (CART)’ yang dipimpin oleh Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

 Pendekatan bersama mengusulkan pendekatan berlapis dari langkah-langkah di seluruh perjalanan penumpang untuk meminimalkan risiko penularan COVID-19 di bandara dan pesawat udara sebagai upaya mencegah penerbangan menjadi sumber infeksi ulang secara internasional.

Langkah-langkah tersebut harus konsisten secara global dan harus terus ditinjau, ditingkatkan, dan dihapus ketika tidak lagi diperlukan, untuk memastikan pemulihan yang merata.

 ACI dan IATA adalah anggota sentral dari COVID-19 Aviation Recovery Task Task (CART) yang dipimpin oleh Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).  CART memungkinkan kolaborasi antara pemerintah maupun pemerintah dan industri.

Hal ini untuk memastikan harmonisasi dan konsistensi langkah-langkah yang penting untuk memulihkan konektivitas udara dan kepercayaan penumpang dalam perjalanan udara.

 “Bandara dan maskapai telah bergabung bersama ICAO dan industri penerbangan yang lebih luas untuk mengatasi tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh penerbangan komersial dalam memulai kembali industri global sambil terus menghentikan penyebaran COVID-19,” kata Direktur Jenderal ACI World Angela Gittens.  

Menurut dia, saat ini tidak ada langkah tunggal yang dapat mengurangi semua risiko memulai kembali perjalanan udara, tetapi dia percaya pendekatan yang konsisten secara global dan berbasis hasil merupakan cara paling efektif untuk menyeimbangkan mitigasi risiko dengan kebutuhan untuk membuka ekonomi dan untuk memungkinkan perjalanan.

 Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac mengatakan, “Keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan itu termasuk kesehatan masyarakat.  Mengembalikan konektivitas udara sangat penting untuk memulai kembali ekonomi global dan menghubungkan kembali orang-orang. 

Pendekatan berlapis yang direkomendasikan oleh bandara dan maskapai penerbangan menjaga kesehatan masyarakat sambil menawarkan pendekatan praktis untuk memulai kembali operasi secara bertahap.  

“Penting untuk diingat bahwa risiko penularan di kapal sangat rendah.  Dan kami bertekad bahwa penerbangan tidak akan menjadi sumber infeksi ulang yang signifikan,” kata Alexandre de Juniac.

Pihaknya telah bekerja terus menerus dengan pemerintah untuk memastikan bahwa segala tindakan yang dilakukan secara konsisten dan dengan dukungan ilmiah.  “Itu adalah kunci untuk memulihkan kepercayaan publik sehingga manfaat memulai kembali penerbangan dengan aman dapat diwujudkan. ” tegasnya.

 

Mengintip Perpustakaan Mahal di Distrik Elit Gangnam, Seoul

this formate

Perpustakaan Sojeonseolim mengutip biaya bahal bagi pengunjung yang datang (Foto: GQ Korea)

SEOUL, Korsel, bisniswisata.co.id: Perpustakaan sering dipandang sebelah mata di Indonesia. Padahal bisa menjadi tempat wisata ilmu yang nyaman dan mengisi celah pasar wisatawan mancanegara yang bersedia menghabiskan waktu diperpustakaan dengan biaya yang mahal pula.

Perpustakaan berbayar yang mengutip fee lebih mahal dari harga buku, barangkali hanya ada di Seoul, Korea Selatan. Berlokasi di antara menara-menara apartemen mewah di distrik Gangnam, perpustakaan mungil bercat putih bernama Sejeonseolim ini mengenakan biaya bagi non-member mulai dari 30.000 won atau sekitar Rp 360.000, per lima jam, hingga 50.000 won (Rp 600.000) untuk seharian penuh. 

Sojeonseolim sendiri dalam bahasa Korea artinya “hutan buku yang dikelilingi batu bata putih.” Di sana, buku-buku disusun di rak-rak setinggi lebih dari 2 meter. Dinding dalam ruangan dicat pucat sehingga menciptakan cayaha yang cukup terang.

Sekadar info, distrik Gangnam merupakan kawasan elit di Seoul yang dikenal sebagai tempat tinggal para artis papan atas, publik figur, keluarga para konglomerat (chaebol), dan pesohor lain.

Perpustakaan yang baru dibuka Februari lalu sudah menarik perhatian banyak orang, umumnya mereka yang datang berusia di antara 30 dan 40-an tahun. Meski mahal, peminatnya cukup banyak. Mereka biasanya datang sendiri dan menghabiskan waktu sesukanya.

Setelah berhasil menghadapi badai pandemi COVID-19, Pemerintah Korea Selatan mulai melonggarkan sejumlah restriksi. Berkat ini pun dimanfaatkan pengelola perpustakaan dengan menggelar acara-acara kecil, seperti kuliah tentang budaya dan seni, serta konser piano.

“Orang modern perlu ruang yang memisahkannya dari rumah atau tempat kerja. Di sana, mereka dapat merasakan kebebasan,” kata Hwangbo Yumi, sang direktur perpustakaan seperti dilansir Asia Nikkei. “Kami merancang perpustakaan dengan konsep ruang belajar pribadi, jauh dari rumah.”

Bertempat di basement, para pengunjung dapat mengakses koleksi lebih dari 30.000 buku dan majalah. Semua telah dikuratori para ahli. Buku-buku yang tersedia mencakup sastra, filsafat, seni, travel, dan genre lainnya. Selain itu, ada cafe di lantai satu yang menjual sandwhich dan kudapan lain. Kopi dan teh juga tersedia gratis.  

Cafe akan berubah fungsi menjadi bar yang menyajikan steak, aneka pasta, dan hamburger setelah pukul 6 sore. Mereka juga menyiapkan wine. Para pengunjung diizinkan membawa gelas mereka ke sofa basement dan senyaman mungkin meringkuk di sana sambil membaca.

Perpustakaan dan cafe ini berada di sebuah bangunan berlantai enam. Dulunya,bangunan yang dirancang arsitek asal Swiss Davide Mucullo ini, merupakan museum kecil. Perusahaan penerbit dan restoran WAP C&E kemudian menyulapnya menjadi perpustakaan. Mereka menghabiskan dana sekitar US$ 4,6 juta atau setara Rp 66 miliar untuk biaya renovasi.

“Bukan hanya ada banyak buku di sini, saya juga suka arsitektur dan interiornya,” kata Kim Ji-hae, 38, salah seorang pengunjung yang mengaku baru pertama kali datang. “Saya ingin datang lagi dan menghabiskan banyak waktu di sini,” kata pekerja hotel itu.

 

 

Halal Bil Halal Virtual KBRI Stockholm

this formate

Suasana Halal Bihalal di KBRI Stockholm yang diikuti peserta lintas agama dan ucapan Hari Raya dari Melu Retno Marsudi ( Foto: KBRI Stockholm)

STOCKHOLM, Swedia, bisniswisata.co.id: KBRI Stockholm bersama dengan Pengajian Al-Ikhlas Stockholm menyelenggarakan kegiatan Halal Bil Halal Virtual bersama masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia.

“Kegiatan dilakukan secara online, dikarenakan mengikuti kebijakan Pemerintah setempat untuk tidak mengadakan kegiatan perkumpulan lebih dari 50 orang selama masa pandemi COVID-19,” ungkap Fajar, Humas KBRI Stockholm.

Sebagai pengawal kegiatan adalah Takbir yang dipimpin oleh Abu Zairi. Kemudian dibuka dengan pesan Idul Fitri dari Ketua Pengurus Pengajian Al-Ikhlas, Indra Gunawan Naumira

Sambutan dan pesan Idul Fitri juga diberikan oleh Bagas Hapsoro; Dubes RI untuk Swedia dan Latvia dan Pembina Pengajian Al-Ikhlas, Cut Usmaniah. Sedangkan moderator adalah Katrun Nada Danielsson, anggota Pengajian Al-Ikhlas.

Dalam sambutan pembukaannya, Dubes Bagas menyatakan bahwa situasi saat ini memang berbeda, tidak seperti biasanya. Bulan Ramadhan tahun ini memang terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kini dunia menghadapi pandemi Covid-19.

“Tantangan kita semakin berat karena selain menekan hawa nafsu, kita juga dihadapkan pada rasa takut, khawatir dan cemas dengan keadaan yang terjadi saat ini.” ujar Dubes Bagas.

Meskipun demikian, kita tidak boleh kalah dengan keadaan. Kita harus menguatkan hati kita dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon ampunan dan perlindunganNya,  agar kita dijauhkan dari segala macam penyakit dan mara bahaya.

Selain berserah diri kepadaNya, kita juga tetap harus waspada dan ikhtiar dengan menjalankan Protokol Kesehatan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah ” tambah Dubes Bagas.

Dia  juga mengharapkan agar setiap WNI dapat terus taat mengikuti imbauan Pemerintah setempat mengenai langkah-langkah yang harus diambil warga terkait penyebaran Covid-19 serta informasi resmi Pemerintah setempat dan KBRI terkait perkembangan situasi terkini.

Kegiatan dilanjutkan dengan video Shalawat dari Reza Ningtyas Larne beserta grup Six-See Voice. Reza sendiri populer sebagai kontestan Swedia Idol 2009.

Kemudian perwakilan organisasi dan perkumpulan WNI di Swedia dan Latvia turut memberikan ucapan selamat Idul Fitri, baik itu secara langsung maupun melalui kiriman video. Organisasi yang turut bergabung adalah Svensk-Indonesiska Sällskapet (SIS), Persekutuan Reform Injili Indonesia (PRII), Banjar Bali, No Limit Ministry, Indonesiska Föreningen Göteborg, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Komunitas Katolik Indonesia Swedia (KKIS), masyarakat Indonesia di utara Swedia, wakil masyarakat Indonesia di Latvia, dan Indonesiska Kultur Föreningen Göteborg.

Diputarkan juga video ucapan selamat Idul Fitri dari perorangan dan keluarga masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia, termasuk WN Swedia yang menjadi sahabat Indonesia, seperti Isabel Nielsen. Selain itu, diputarkan pula video ucapan selamat Idul Fitri dari keluarga besar KBRI Stockholm dan video ucapan selamat Idul Fitri dari Retno Marsudi, Menlu RI bagi seluruh masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri.

Kegiatan juga dimeriahkan dengan pemutaran video kiriman penampilan lagu dari Chryssi Domu Manurung, Rio Ahmad, dan Totti Ardika Ketut. Chryssi menyanyikan lagu “Imagine” dari John Lennon sambil memainkan gitar, sama halnya dengan Totti yang mendendangkan lagu Ebiet G. Ade, “Masih Ada Waktu”.

Sementara itu, Rio menyanyikan lagu “PadaMu Ku Bersujud” dari Afgan Syah Reza. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Fauzan Arafat.

Walaupun tidak diadakan dengan bertatap muka secara langsung. Kegiatan Halal Bil Halal Virtual yang diikuti peserta dari lintas agama ini diharapkan dapat menjadi pelipur rindu untuk saling bertemu, bersilaturahmi, dan saling maaf-memaafkan satu sama lain, masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia.

 

Nasi Goreng Kang Fir di Ruang Belajar

this formate

PHNOM PENH, bisniswisata.co.id: Aaah nasi goreng di ruang belajar? Iya! Nasi goreng, fried rice bukan nasi “goreng” ala Sunda ya? (goreng = jelek). Setidaknya — kalau belum pernah merasakan kelezatannya—, pasti pernah mendengar namanya disebut-sebut.

Ya, nasi goreng merupakan salah satu kuliner Asia yang sangat terkenal di dunia. Dari Eropa sampai Afrika, dari Amerika sampai Australia, makanan ini sangat dikenal luas. Bahkan bagi masyarakat di Asia Tenggara, nama dan penyajiannya sudah sangat umum dari kelas restoran/hotel bintang 5 sampai rumah makan dan kaki lima. Nasi goreng sangat mendapat tempat dihati orang-orang sebagai salah satu makanan segala kalangan.

Diplomasi nasi goreng KBRI Phnom Penh berhasil menarik minat para muda-mudi Kamboja dan Indonesia untuk bertemu,  menjalin keakraban lewat layar video conference dalam acara Masak Nasi Goreng sambil Belajar Bahasa Indonesia.

Para muda-mudi tersebut terdiri dari pembelajar bahasa Indonesia pada Pusat Budaya Indonesia di Kamboja (Pusbudi), Sekolah Nurul Iman, dan Pasukan Khusus Kamboja Brigade 911 (di bawah koordinasi bersama dengan Atase Pertahanan), para pelajar Kamboja yang sedang studi di Indonesia; para alumni Indonesia di Kamboja yang tergabung dalam Indonesia-Cambodia Alumni Network (I-CAN); hingga para mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh program double degree di National Polytechnic Institute of Cambodia (NPIC) dan peserta lainnya yang tertarik dengan budaya dan bahasa Indonesia.

Pemelajar bahasa Indonesia dan Khmer

Sekitar 50 peserta berpartisipasi pada program virtual  KBRI Phnom Penh bersama Pusbudi dan pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Kamboja tersebut, menghadirkan bintang tamu Firdaos (akrab dipanggil Kang Fir). Koki rumah makan Warung Bali di Phnom Penh yang telah tinggal di Kamboja lebih dari 20 tahun. Rumah Makan Warung Bali terkenal dengan makanannya yang enak, harga terjangkau.

Kang Fir dan Nurul Fitri salah seorang pengajar BIPA di Kamboja, menjelaskan cara memasak nasi goreng. Dijelaskan bumbu-bumbu dasar nasi goreng dan bagaimana cara mendapatkannya di Phnom Penh.

Bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesia dan Khmer, kedua belah pihak peserta dapat mengerti apa yang dimaksud. Peserta dipersilahkan menyela jika ada hal yang tidak jelas, maklum peserta warga Kamboja belajar bahasa Indonesia, warga Indonesia belajar bahasa Khmer.

Selain saling menyapa, peserta pun bersendagurai sembari memperhatikan dengan seksama prakti membuat nasi goreng ala Kang Fir dan menunggu kuis berhadiah.

‘Acara ini merupakan salah satu upaya KBRI di tengah pandemic COVID-19 untuk tetap dapat melaksanakan kegiatan terpadu. Acara yang memanfaatkan teknologi virtual dan media sosial ini, juga bertujuan untuk mempromosikan kuliner, rumah makan dan produk Indonesia di Kamboja. Kegiatan promosi Indonesia, diupayakan dengan cara-cara kreatif, inovatif, efisien, dan efektif’, ucap Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja Sudirman Haseng.

Masa Menunggu Solusi COVID-19

this formate

Akhirnya umat Muslim tiba dihari kemenangan, merayakan hari Raya Idul Fitri 1441 H, 24 Mei 2020 setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Ada 1,8 milyar umat Muslim di dunia yang merayakan dengan cara yang berbeda, tanpa bersilaturahmi bahkan sholat Ied tetap di rumah.

Hilda Ansariah Sabri

Saat ketika mulai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, jujur saja saya pribadi sempat gelisah dan stress dengan pemberitaan yang bersliweran di dunia maya akibat jumlah penderita COVID-19 terus meningkat bahkan sampai sekarangpun di Indonesia kurvanya tidak melandai. 

Ketakutan akan dampaknya pada sektor ekonomi, sosial dan ekologi menghantui pikiran apalagi pemanasan global telah kita rasakan akibat  perlakuan manusia pada alam semesta juga sudah melampaui batas.

Di saat yang sama, pandemi global ini dalam waktu singkat telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, membuat virus yang tidak tampak oleh mata ini langsung menjadi musuh bersama.

Aktivitas bekerja, belajar, beribadah dari rumah nyaris dalam tiga bulan terakhir banyak diterapkan di berbagai negara di dunia,  membuat masa menunggu solusi COVID-19 baik secara ilmiah maupun dari langit terasa begitu lambat.

Untunglah seiring dengan ibadah bulan Ramadhan mengantarkan umat Islam terutama  meningkatkan ibadah guna menemukan hikmah dari bencana ini. Meski pertanyaan terus berkecamuk, bisakah kita menikmati ujian kesabaran ini ? atau haruskah kita menginstall ulang kehidupan  paska COVID-19 ?.

Industri pariwisata yang langsung terpukul dengan pandemi global ini banyak merumahkan karyawan tanpa gaji. Ujian berat membuat pengusaha dan karyawan masing-masing cari selamat .

Pengusaha harus menginstall ulang bisnis modelnya, begitu juga karyawannya ramai-ramai mencoba usaha baru terutama kuliner sekedar bertahan hidup. Data dunia juga tidak main-main lebih dari 100 juta karyawan industri pariwisata terancam hilang pekerjaan gegara pandemi ini.

Dalam sebuah webinar dari Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia ( ICPI) yang diketuai Prof. Azril Azahari Phd,  belum lama ini, pilihan temanya  adalah Install Ulang Pariwisata Indonesia. Pandemi ini menghasilkan New Normal ataukah black Swan yang seharusnya sudah bisa diprediksi bukan sekedar kejadian langka yang tiba-tiba?

Hadir nara sumber lainnya Dr Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden SBY dan Adi Satria , Vice President ( VP) Marketing Loyalti Distribution Accorhotels  di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Mengapa perlu menginstall atau memprogram ulang pengembangan pariwisata Indonesia ? Azril yang selama ini memang vokal memaparkan bahwa  daya saing pariwisata Indonesia lemah.

Tanpa ada COVID -19  di beberapa hal yakni safety and security, healthy and hygiene, tourism information, dan environment sustainability memang sudah lemah.

“Pemerintah lebih menargetkan kuantitas daripada kualitas. Pilih investor asing sehingga tidak berdampak signifikan pada rakyat. Pariwisata harus dilihat juga spend of money-nya, makanya kontribusinya rendah,” kata Azril di suatu kesempatan.

Acara yang dipandu oleh Dr Devi Kausar,  Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Jakarta ini mengingatkan berbagai kalangan untuk cepat beradaptasi karena masa menunggu yang tidak jelas kapan berakhirnya pandemi global.

Ada yang berandai-andai bisnis pariwisata bisa come back Juli, Oktober atau bahkan Desember 2020 ? namun yang pasti tanpa harus menunggu musuh bersama bisa ditaklukan,  maka kini disadari atau tidak kita sudah menerapkan aturan New Normal, jaga jarak, sering cuci tangan dan menjalankan protokol kesehatan lainnya sesuai standar WHO.

“Pariwisata tergantung dari 3 A yaitu akses, amenity dan atraction, ke depan harus touchless jadi harus dipikirkan dari sekarang bagaimana penerapannya. Soalnya safety and security, healthy and hygiene bukan lagi sebatas omongan tetapi harus dijalankan supaya kepercayaan wisman untuk datang lagi  ke Indonesia tetap tinggi, ” kata Sapta.

Sementara Adi Satria mengatakan jangan buang waktu di masa menunggu ini karena  selain  harus cepat beradaptasi, mengubah mindset saja tidak cukup karena juga harus action di real time

” Kami tengah menyiapkan hospitel menggabungkan hospitality di properti hotel dengan pelayanan rumah sakit ( hospital) untuk menjadikan Novotel Mangga Dua, Jakarta tempat karantina mandiri bagi para ODP COVID-19 dan yang positif ,” kata Adi sambil menambahkan program ini segera diluncurkan.

Model bisnis yang menyesuaikan keadaan ini menurut saya sah-sah saja apalagi info dari WA grup soal sebuah keluarga WNI baru pulang dari Belanda langsung diangkut ke RS COVID-19 di Wisma Atlit Kemayoran tapi ternyata kekurangan jatah makan. Hospitel bisa menjadi alternatif untuk karantina diri.

Pihaknya mengatakan bukan hanya karyawan yang harus diselamatkan tetapi juga para pemilik jaringan hotel ini sehingga model bisnis yang harus diubah menjadi hospitel. Untungnya Accor memang punya standar tinggi saat pembangunan hotel sehingga sistem AC juga bisa di lock cegah penyebaran virus.

Azril menambahkan bahwa kehadiran COVID-19 memenuhi kriteria teori Black Swan, untuk itu perlu paradigma baru dan restrukturisasi untuk menyelesaikan pandemi, lewat proses bertahan, pemulihan, reimaginasi dan melakukan reformasi. 

” Itu sebabnya mungkin perlu Program Studi baru di Fakultas Pariwisata, perlu install ulang pengembangan pariwisata RI,”kata Azril.

Apapun nama dan teorinya yang jelas masa menunggu solusi COVID-19 ini pilihannya ada dalam diri kita. Mau terus galau dan stress atau cepat beradaptasi dengan kondisi pandemi ?.  Haruskah kita  menginstall ulang kehidupan dengan  memulai hidup dengan cara baru ?.

Mungkin inilah cara Tuhan meminta kita untuk meng-install ulang tata kehidupan kita, agar kita makin bersyukur atas nikmat alam, nikmat kesehatan, nikmat ilmu dan nikmat iman karena kita telah dikaruniai akal dan hati. 

Tips-tips untuk beradaptasi dengan situasi baru ini beredar dimana-mana. Berbagi nasehat dan berbagi ilmu tiap hari kita rasakan. Adalah Anton Thedy, pendiri TX Travel dan pelopor franchaise travel agent dengan jumlah franchise hingga 255 cabang yang selama 1,5 bulan terakhir berbagi ilmu lewat Live Insta Story mencapai 7-10 kali per hari.

Lewat media Instagramnya dengan akun @antonthedy dan @ resellertravel dia mewawancarai nara sumber dari berbagai organisasi di sektor pariwisata, bahkan para karyawannya yang bisnis kuliner, mitra kerja seperti profesional guide  hingga para pelanggan jalan-jalan dari perusahaannya sendiri yang ternyata bos-bos gede kategori unicorn.

Cara Anton Thedy menyebar semangat, berbagi ilmu dan terus menggelitik nara sumber dengan berbagai pertanyaan membuat saya sebagai pendengar setianya memiliki banyak inspirasi dan program semasa menunggu solusi COVID-19.

Di hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri ini, keinginan ‘tancap gas’ karena banyak program yang ingin diterapkan memang menggelegak. Namun belenggu berupa ujian kesabaran akan masa menunggu solusi COVID-19 masih harus diatasi.

Sudah banyak nikmat Allah SWT sang pencipta dalam kehidupan kita dibandingkan ujian COVID-19 ini, oleh karena itu marilah rapatkan barisan. Ikuti himbauan pemerintah dan para ahli kesehatan. Bentengi diri dengan doa-doa terbaik karena berdoa adalah senjatanya orang yang beriman.

Tafsir Quran Surat al-Insyirah Ayat 5-6 Sesungguhnya bersamaan dengan kesusahan dan kesempitan itu terdapat kemudahan dan kelapangan. (Tafsir al-Mukhtashar). Jadi yakinlah masa menunggu solusi pandemi ini selalu berprasangka baik pada Allah SWT.

.

Kapan Orang Bisa kembali Bepergian, Simak Panduannya

this formate

Suasana musim panas di pinggir pantai ( Foto: Lonelyplanet.com)

 JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat ini hampir seluruh negara di dunia berkutat mencari cara bagaimana hidup ‘berdamai’ dengan virus corona. Karena, meskijumlah warga yang terinfeksi mulai menurun, bukan berarti pandemi sudah berlalu. Selama vaksin belum ditemukan, orang diminta untuk tetap menjaga jarak sosial, mengenakan masker, dan rajin mencuci tangan. 

Sejumlah negara mencatat, penambahan kasus positif virus corona mulai melandai. Pekan lalu Uni Eropa menyerukan dibukanya kembali perbatasan antara negara-negara anggota yang memiliki tingkat infeksi COVID-19 yang sama. 

Beberapa negara bahkan menyatakan telah berhasil mengatasi pandemi ini. Mereka memutuskan mengambil langkah nyata untuk kembali membuka hotel dan fasilitas penginapan lain, serta membangun zona perjalanan yang aman.

Sayangnya, hingga kini orang belum berhasil mengetahui pola perilaku virus yang menyerang saluran pernafasan ini. Kebijakan negara dapat berubah setiap saat, bahkan dalam hitungan menit jika kemudian ditemukan ada potensi peningkatan jumlah orang yang terinfeksi. 

Dalam beberapa bulan ke depan, waktu bepergian akan bergantung pada kebijakan kesehatan publik negara tujuan, kemampuan melacak dan menguji virus corona, serta penerapan hukum pembatasan sosial. 

Berikut ini panduan yang dilansir Lonely Planet di beberapa negara terkait waktu yang pas untuk memulai perjalanan wisata:

Australia dan Selandia Baru

Australia dan Selandia Baru secara resmi menyepakati pembentukan “gelembung trans-Tasman” yang memungkinkan keduanya mencabut larangan atura perjalanan selama pandemi. Artinya, orang-orang di dua negara ini dapat saling bepergian tanpa 14 hari karantina.

Sementara itu izin bagi wisatawan internasional kemungkinan baru bisa dibuka pada Oktober mendatang, seperti disampaikan Perdana Menteri Australia Scott Morrison.

Dubai

Penguasa Dubai mempertimbangkan untuk kembali membuka diri bagi pelancong pada Juli. Meski demikian, mereka mengingatkan keputusan ini bisa berubah sewaktu-waktu dan menundanya hingga September. Restoran dan toko-toko akan kembali buka pada 24 April saat negara tersebut melonggarkan kebijakan lockdown. Namun aturan jarak sosial yang ketat akan terus diberlakukan. Dubai masih mencari cara untuk menyambut wisatawan dengan aman.

“Tempat-tempat masih banyak yang tutup. Apakah akan dibuka pada Juli saat perlahan-lahan semua mulai dibuka? Atau September? Kami perlu memastikan bahwa kami siap jika ternyata semuanya berjalan lancar lebih awal,” kata Helal Al Marri, direktur jenderal Departemen Pariwisata dan Perdagangan Dubai, kepada Bloomberg TV yang dilansir Lonely Planet.

Indonesia

Sementara itu Pemerintah Indonesia menyatakan akan mulai menyambut wisatawan asing pada Oktober mendatang. Itupun tidak berlaku di seluruh wilayah, hanya beberapa tempat yang dianggap aman, seperti Bali, Riau, dan Yogyakarta.

Italia

Italia akan melonggarkan larangan perjalanan internasional pada 3 Juni dengan mulai membuka perbatasan.Mengizinkan warga asing masuk tanpa karantina. Sejak lockdown dibuka, beberapa kafe dan restoran mulai beroperasi, tetapi masih outdoor.

Sementara itu pantai-pantai akan segera mengikuti jejak dengan aturan baru yang ketat seperti menyiapkan kursi berjemur dan payung-payung  berjarak 5 meter. Pengunjung juga diwajibkan mengenakan masker jika hendak menjauh dari payung. Larangan berkumpul di pasir dan laut pun diberlakukan.

Portugal

Hotel-hotel di beberapa wilayah seperti Algarve diharapkan dapat dibuka pada Juni dan Juli. Meski demikian, pemerintah setempat memutuskan untuk tetap menutup perbatasan dengan sejumlah negara. 

Dewan Pariwisata Portugal bekerjasama dengan otoritas kesehatan nasional membantu sektor pariwisata untuk menyambut para pelancong dengan kampanye “bersih & aman”. Pemerintah juga mengeluarkan sertifikat bagi pelaku industri yang berhasil memenuhi standar kebersihan baru. Jurubicara dewan pariwisata kepada Lonely Planet mengatakan: Pada 14 Mei lalu sudah ada 3.856 pelaku bisnis yang mengajukan untuk mendapat sertifikat itu.

Portugal telah memasuki fase kedua dari tiga tahapan sebelum betul-betul melonggarkan kebijakan lockdown. Restoran, kafe, toko kue, dan tempat-tempat belanja sebagian mulai dibuka.