Social Distancing Sulitkan Pengusaha Resto & Cafe di Yunani Untuk Bangkit

this formate

Restoran dan Cafe di Yunani buka lebih awal dari jadwal awal Juni 2020. ( Foto: AFP)

ATHENA, Yunani, bisniswisata.co.id:  Restoran dan kafe di Yunani dibuka lebih awal dari jadwalnya pada Senin lalu saat negara tersebut tengah bersiap meluncurkan ‘musim wisata’, momen yang penting bagi perekonomian Yunani.

Namun dengan adanya beberapa aturan, membuka kembali restoran dan kafe di era  New Normal tampaknya menjadi sedikit lebih sulit. Terutama adanya atura jaga jarak ( social distancing) yang membatasi bisnis hingga sekitar 50 persen dari kapasitas yang ada. Penempatan meja juga hanya diperbolehkan bagi yang di luar ruangan saja (outdoor table).

Aturan tersebut membuat para pemilik bisnis mempertanyakan kebijaksanaan dalam membuka bisnis kembali usai lockdown selama lebih dari dua bulan. Kewajiban menjaga jarak antar kursi itulah kesulitan dalam membuka kembali restoran dan kafe disebabkan oleh Jarak minimumnya adalah 70 cm hingga 1,7 meter. Setiap meja juga hanya boleh diisi maksimum enam orang.

“Kami harus disinfeksi semuanya sepanjang waktu. Kami harus mempekerjakan seseorang untuk membersihkan, serta mengawasi pelanggan. Namun kami tidak bisa melakukannya,” kata seorang pemilik kafe bernama Vangelis Daskalopoulos, seperti  dikutip AFP kemarin.

Daskalopoulos mengatakan bahwa mereka tidak tahu bagaimana akan mengelola hal tersebut. Dia khawatir akan virus corona, namun dia harus menjaga agar bisnisnya tetap berjalan. Terlepas dari rasa waswas beberapa orang seperti Daskalopoulos, para pelanggan senang akan kesempatan untuk bersosialisasi lagi di kafe.

Seorang pelanggan bernama Giorgos Karavatsanis menuturkan bahwa dia senang sudah terlepas dari isolasi selama beberapa bulan terakhir. “Saya senang bisa berhubungan kembali dengan teman-teman. Kafe di Yunani memiliki dimensi sosial. Mereka adalah jantung dari distrik,” tutur Karavatsanis.

Meski sudah boleh beroperasi sejak Senin, 25 Mei 2020, tidak semua tempat makan dibuka. Tiga dari sepuluh kafe diperkirakan tetap tutup karena takut akan pertumbuhan bisnis yang lambat.

“Kami sangat gelisah untuk melihat bagaimana  bisnis akan kembali berjalan. Tidak ada yang bisa memprediksi seberapa percaya dirinya para pelanggan untuk kembali ke kafe dan restoran,” tutur Nikos Nifoudis dari Thessaloniki Catering Initiative.

Meski begitu, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan bahwa kesulitan sudah di belakang mereka. “Dari 1.300 kedatangan ke Yunani dari luar negeri beberapa hari terakhir ini, tidak ada kasus virus corona yang terdeteksi,” tutur Mitsotakis kepada stasiun televisi Star.

Namun, dia mengaku bahwa dia khawatir akan dampak krisis terhadap kelas menengah Yunani. Dia memperkirakan bahwa tahun ini resesi akan terjadi antara 5 – 10 persen.

Awalnya, seluruh tempat makan dijadwalkan untuk buka pada 1 Juni 2020. Semakin menurunnya penyebaran virus corona memungkinkan tanggal pembukaan dipercepat.

Sejauh ini, Yunani mencatat kurang dari 180 kematian karena virus corona. Sejak 4 Mei 2020, mereka telah secara progresif membuka bisnis yang berkaitan dengan pariwisata.

Hal itu dilakukan setelah diberlakukannya lockdown pada Maret 2020 guna mencegah kontraksi ekonomi yang bisa mencapai 13 persen dari output tahun ini.

Pada 14 Maret 2020, tepatnya dua hari setelah Yunani mencatat kematian pertama akibat virus corona, restoran-restoran ditutup. Mereka hanya diperbolehkan melayani take-out dan pesan antar.

 

Meski Bisnis Pariwisata Terhenti Sumba Tetap Menyapa Dunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sumba adalah destinasi yang masih perawan & jauh dari keramaian turis. Dalam dua tahun terakhir akomodasi hotel-hotel dengan kualitas yang lebih baik bertambah terus.  Di saat akses dan amenities meningkat, datanglah pandemi global.

Kedatangan Virus COVID-19 di seluruh dunia juga berdampak pada pariwisata Sumba dengan ditutupnya obyek wisata maupun ditundanya Festival Pariwisata yang berlangsung periode Maret-Mei 2020.

Namun industri pariwisata setempat tidak menyerah begitu saja. Melalui forum Kamisan  dengan tema Sumba Menyapa Dunia, Norbeto,  pendiri www.exploresumba.com, mengungkapkan kesiapannya menerapkan New Normal saat pariwisara bangkit kembali.

Acara yang digelar secara daring ini cukup mendapatkan perhatian dari para perwakilan VisitIndonesia Tourism Office ( VITO) di mancanegara serta pelaku wisata lainnya. Kegiatan yang berlangsung dua jam pada Kamis lalu ( 28 Mei 2020) memberikan gambaran keindahan alam dan hospitality.

Setelah COVID-19, banyak orang akan mencari tempat-tempat yang tidak ramai dikunjungi seperti halnya Sumba. Apalagi ada Sumba Hospitality School yang  mempersiapkan Sumba tourism. Tidak hanya sebagai tempat diklat tapi juga menawarkan akomodasi yang bisa dimanfaatkan pengunjung.

Pemerintah daerah juga senang dengan keberadaan Nihiwatu resort yang menjadi hotel terbaik dunia selama  dua tahun berturut-turut. Keberadaan resor ini telah membuat pembangunan infrastruktur meningkat di sana seperti perbaikan jalan sehingga aksesibilitas darat yang lebih baik. Akomodasi di Sumba terbilang lengkap. Mulai dari Rp 200 ribu/malam hingga harga US$ 1000/ malam di Nihiwatu.

Explore Sumba sebagai salah satu tour operator di Sumba adalah usaha tour operator bebas plastik. Untuk supply air minum tamu menggunakan gelas atau botol air alumunium yang bisa dibawa oleh tamu-tamu sebagai suvenir. Jadi tamu-tamu cukup mengisi ulang. 

” Mulaii sekarang kami juga sudah menyiapkan handsanitizer atau sabun antiseptik dengan air mengalir, handuk dingin yang sudah di disinfeksi. Sebagai tour operator kami  sudah merancang protokol baru dalam pengoperasian tour,” kata Norbeto Rodrigue Sanchez dari Explore Sumba.

Pihaknya tengah mempelajari referensi-referensi dari berbagai tour operator yang telah membuat protokol mengantisipasi kenormalan baru ( New Normal) di industri perjalanan. Selain itu juga mengikuti terus aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Protokol kesehatan sesuai rambu-rambu dari Workd Health Organization ( WHO) sudah kami sosialisasikan ke staf, mitra hotel, restoran dan lainnya” tambahnya.

Durasi perjalanan ke Sumba minimal 2 malam. Durasi tersingkat ini bisa dilakukan dengan tinggal di salah satu sisi pulau saja. Di bagian barat suasananya lebih tradisional dan budayanya otentik. Di bagian timur banyak air terjun & tenun ikat. Waktu terbaiknya selama bulan April-November pada saat kemarau.

“Pola perjalanan singkat 3 hari 2 malam bisa dilakukan dengan in-out dari satu bandara. Pola perjalanan panjang bisa dilakukan dengan in-out di 2 bandara berbeda. Pola paling ideal adalah masuk dari Sumba Timur & keluar atau mengakhiri perjalanan di Sumba barat ” paparnya.

Di Sumba Barat sudah banyak hotel di tepi pantai. Perjalanan udara dari Bali baik ke bandara di Sumba barat & Sumba Timur wakrunya selama satu jam. Selain itu untuk perjalanan lompat pulau di NTT bisa dilakukan dari Ende di Pulau Flores, dari Kupang di Pulau Timor dengan durasi penerbangan yg tidak lama.

“Sampai saat ini, wisatawan dari Belanda & Perancis merupakan pasar utama pariwisata Sumba. Selain itu wisatawan dari Spanyol & Italia,” kata Norbeto.

Sumba merupakan salah satu pilihan terbaik, jadi ini juga menjadi salah satu poin yang akan membuat pulau ini lebih mudah untuk dipromosikan & dijual. Banyak orang yang tidak tahu Sumba memiliki apapun yang dicari oleh wisatawan,mulai dari pantai landai berpasir putih, ombak-ombak untuk surfing, trekking, air terjun dan budaya. 

Pulau ini betul-betul surga bagi mereka yang mencari ketenangan. Ada banyak desa-desa adat yang bisa dikunjungi di Sumba. Mengunjungi desa adat bukan sekadar untuk memotret selfie untuk media sosial , tapi juga tentang mengenal dan berinteraksi dengan warga asli Pulau Sumba.

Orang Inggris Khawatir Jika Wisata ke Asia Akibat Kasus COVID-19

this formate

Pemandangan kota Barcelona, Spanyol. Negara ini jadi tujuan wisata nomor satu yang imgun dikunjungi turis Inggris. ( foto: Insolash.com/ Enes)

LONDON, bisniswisata.co.id: Sebuah survei dilakukan bagi warga Inggris untuk mengungkap perasaan mereka tentang COVID-19 terutama pola traveling di masa depan, kerugian finansial, dan pendapat mereka mengenai liputan media. Hasilnya, hampir 9 dari 10 (88%) orang setuju bahwa bepergian ke luar negeri tidak aman karena wabah COVID-19

Survei oleh Official-esta.com ini  untuk mengungkap dampak COVID-19, mengungkap pemikiran dan pendapat publik tentang kepemimpinan, tujuan perjalanan, uang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Ketika dunia terus berjuang melawan COVID-19, pemerintah, perusahaan dan individu dari seluruh dunia semua menghadapi tantangan ekstrim karena pembatasan perjalanan diberlakukan dan industri travel terhenti.

Sebagai bangsa, kita bersama-sama membantu orang yang rentan, menghargai para tenaga medis di garis depan, melakukan apa yang kita lakukan untuk mengatasi virus COVID-19, sementara kehidupan kita sehari-hari berubah secara dramatis.

Dampak langsung pandemi terhadap pariwisata telah dirasakan di hampir setiap negara, di mana diberlakukan pembatasan perjalanan yang menyeluruh sehingga akankah  ada nasib jangka panjang bagi industri pariwisata di seluruh dunia?

Langkah-langkah baru sedang diperkenalkan setiap hari ke negara-negara di seluruh dunia untuk mengurangi penyebaran virus.  Beberapa dari pembatasan ini termasuk mengkarantina penumpang yang masuk.

 

Pembatasan lainnya dengan membatalkan penerbangan komersial, melarang kunjungan warga asing  bahkan beberapa negara menerapkan peraturan yang lebih ketat daripada yang lain.  Tetapi, negara mana yang memiliki tindakan pembatasan paling banyak pada saat data dikumpulkan? 

Negara-negara dengan pembatasan perjalanan terbanyak karena COVID-19.

Ranking negara .       Pembatasan

1.Sri Lanka                       37

  1. Malaysia.                     26

3 Saudi Arabia.                 26

  1. Iraq.                              19

5 Pilipina.                          18

Walaupun negara-negara ini berada di urutan teratas daftar, survei telah mengungkapkan bahwa banyak dari kita memiliki pendapat sendiri tentang pembatasan perjalanan yang saat ini diberlakukan di Inggris, terutama  apakah kita setuju atau tidak setuju dengan kebijakan itu.

Lebih dari 1 dari 10 (12%) berpikir masih aman untuk melakukan perjalanan meskipun ada wabah COVID-19 dan kebijakan lockdown di Inggris tidak penting karena yang penting adalah mengurangi penyebaran virusnya.  

Persentase ini meningkat menjadi hampir 2 dari 10 (18%) dari mereka yang berusia 25-34, dibandingkan dengan hanya 6% dari lebih dari 55 yang berbagi pendapat ini. Ketika sampai pada keputusan yang dibuat oleh pemerintah Inggris, dua pertiga (67%) merasa bahwa Inggris memang harus menutup perbatasan ketika akhirnya lockdown per 23 Maret lalu.

Negara-negara seperti Argentina, Australia dan Prancis melakukan pencegahan dulu dengan menutup perbatasan sebelum tindakan lockdown. Menyuarakan keprihatinan yang sama, lebih dari sepertiga (37%) petugas kesehatan yang disurvei percaya bahwa pemerintah tidak melakukan aksi yang cukup untuk melindungi negara.

Seperti apa perjalanan dan pariwisata setelah COVID-19?. Industri pariwisata telah terkena dampak global dengan semua perjalanan terhenti, tetapi apakah ini mengubah gagasan masyarakat untuk berlibur di tahun-tahun mendatang?

Lebih dari 1 dari 3 (34%) orang khawatir tentang mengunjungi negara-negara Asia di masa depan karena pandemi global ini bahkan seperempatnya (23%) bersumpah  tidak akan pernah mengunjungi China lagi meski pembatasan dicabut.

Tapi, sepertinya pandangan baru tentang perjalanan ini akan berdampak pada negara-negara di semua sisi dunia, karena yang lain menyatakan mereka tidak akan pernah berlibur di Italia (16%), Amerika Serikat (13%) atau ke Prancis lagi (12%).

Sebanyak 3 dari 10 orang  (31%) dari mereka yang disurvei mengatakan mereka akan terlalu takut untuk bepergian setelah larangan dicabut, tapi ada sejumlah kecil orang yang akan pergi ke luar negeri lagi kurang dari 2 bulan ( 60 hari) hingga 10 bulan ( 300 hari).

Meskipun mereka juga tidak tahu berapa lama pembatasan ini akan berlangsung, tapi memang perlu waktu setidaknya satu tahun bagi mereka untuk mempertimbangkan untuk traveling bahkan jika berwisata di dalam negri sendiri. Data dikumpulkan periode 3-6 April 2020 lalu.

Negara tujuan.  Rata-rata berapa hari wisata lagi

1.United Kingdom (staycation)       311

2.Spain                                                519

  1. USA.                                                589
  2. Itali.                                                 610
  3. China.                                              652

Juga terungkap bahwa Spanyol tetap menjadi salah satu tujuan wisata  favorit bagi publik Inggris.  Data menunjukkan 1 dari 10 (11%) akan memilih untuk mengunjungi Spanyol sebagai tempat pertama mereka bepergian setelah pembatasan dicabut.

Virus ini, sejauh ini, menelan biaya rata-rata hampir £ 3.000/ orang akibat rencana perjalanan yang dibatalkan, pernikahan dan acara lainnya. Menimbulkan  biaya tambahan untuk pekerjaan rumah tangga, makanan dan biaya keterlambatan pembayaran cicilan-cicilan. Pastinya COVID-19 telah memberatkan masyarakat dan pendapatan mereka dengan hilangnya penghasilan hampir mencapai 20%.

Selain kenaikan tagihan makanan, hiburan, dan rumah tangga karena sebagian besar dari kita telah menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, orang tua mengalami peningkatan biaya rata-rata £ 230,45 untuk pendidikan di rumah sejak sekolah di Inggris ditutup pada 20 Maret  .

Bagaimana dampak liputan media tentang COVID-19 menunjukkan perbedaan dalam beberapa generasi Dari hari-hari awal media meliput virus, hingga briefing COVID-19 yang sekarang setiap hari. Ada perbedaan pandangan antar generasi ketika menyangkut bagaimana media menggambarkan pandemi.  

Lebih dari sepertiga (37%) milenium percaya bahwa media beritanya melebih-lebihkan menurut mereka yang berusia 16-24 dan hampir 4 dari 10 (37%) setuju dengan pernyataan ini. Dibandingkan hanya 6% dari mereka yang berusia di atas 55 tahun yang memiliki pandangan yang sama. Hal ini menunjukkan kurangnya kepercayaan pada media dari mereka yang berusia di bawah 34 tahun.

Jayne Forrester, Direktur Pengembangan Internasional di Official-esta.com berkomentar: “Sementara kita masih di tengah-tengah wabah COVID-19, penting untuk mendengarkan pendapat publik dan kekhawatiran tentang situasi kita saat ini,” ungkapnya. 

Maklum, industri perjalanan saat ini berhent, i sementara negara-negara di seluruh dunia mengambil berbagai langkah untuk mencegah penyebaran virus. Sangat menarik untuk melihat perbedaan pendekatan dan juga pandangan publik tentang perjalanan di masa depan.

“Meskipun kami belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan, atau kapan pembatasan akan dicabut, jelas akan ada dampak besar pada industri pariwisata dari pandemi global. Industri tidak berhenti total karena hotel-hotel di seluruh dunia terlihat membuka pintunya bagi para pekerja medis dan saling mendukung melalui masa-masa yang penuh tantangan ini. “

 

UNWTO Rilis Panduan Pemulihan Pariwisata

this formate

Foto: UNWTO rilis panduan pemulihan pariwisata (ilustrasi: voicesdotcom)

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id:  Organisasi Pariwisata Dunia ( UNWTO) merilis panduan pemulihan pariwisata. Panduan ini disiapkan Komite Krisis Pariwisata yang beranggotakan UNWTO, perwakilan negara anggota, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), Organisasi Maritim Internasional (IMO), Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dan Bank Dunia (WB).

Penyusunan panduan ini juga melibatkan Dewan Internasional Bandara (ACI), Asosiasi Internasional Kapal Pesiar (CLIA), Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Dewan Pariwisata Dunia (WTTC), serta Pemerintah Spanyol.  Berikut, rinciannya:

TUJUH PRIORITAS PEMULIHAN PARIWISATA

  1. Siapkan likuiditas dan amankan pekerjaan
  2. Pulihkan kepercayaan melalui prosedur keselamatan dan keamanan
  3. Kolaborasi pemerintah-swasta untuk reopening atau pembukaan kembali yang efisien 
  4. Buka perbatasan secara bertanggung jawab
  5. Harmonisasi dan koordinasikan antara protokol dan prosedur
  6. Ciptakan Nilai tambah pekerjaan lewat teknologi baru
  7. Jadikan inovasi dan prinsip keberlanjutan sebagai normal baru

SIAPKAN LIKUIDITAS DAN AMANKAN PEKERJAAN

 

  • Beri pengecualian, pengurangan atau/dan penundaan pembayaran jaminan sosial dan fiskal serta tagihan penting lain bagi perusahaan, wiraswasta, dan pekerja (terutama mereka yang paling rentan terdampak)

 

  • Buat instrumen keuangan untuk memfasilitasi ketersediaan likuiditas (penundaan pembayaran pinjaman, jaminan pinjaman, atau pinjaman kredit yang fleksibel untuk modal kerja)
  • Tinjau ulang kebijakan pembatalan dengan memperhatikan hak-hak konsumen dan perlunya likuiditas bagi perusahaan   
  • Perbesar dan perluas jaminan sosial (tunjangan asuransi bagi pengangguran dan pencari kerja)
  • Dukung pekerja dan pencari kerja melakukan transisi ke pekerjaan baru saat memasuki era normal baru
  • Buka dialog antara perusahaan dan serikat pekerja (standar buruh internasional)

PULIHKAN KEPERCAYAAN MELALUI PROSEDUR KESELAMATAN DAN KAMANAN

  • Susun protokol keselamatan dan kebersihan yang proporsional untuk mengurangi risiko di seluruh mata rantai sektor pariwisasta dan di setiap langkah para pelancong yang bepergian
  • Siapkan informasi yang jelas untuk wisatawan terkait kebijakan baru di tempat-tempat tujuan dan perusahaan
  •  Beri informasi yang jelas terkait misalnya hak dan jaminan para pelancong jika mereka jatuh sakit saat bepergian, atau ketika tiba di tempat tujuan
  • Fokuskan komunikasi yang berpusat pada manusia – empati, kepastian dan koneksi
  • Kampanyekan pesan yang tujuannya untuk membangun kepercayaan termasuk langkah-langkah keamanan yang perlu diambil oleh daerah tujuan wisata dan perusahaan

KOLABORASI PEMERINTAH-SWASTA UNTUK REOPENING ATAU PEMBUKAAN KEMBALI YANG EFISIEN

  • Bangun mekanisme kolaborasi pemerintah-swasta, baik dalam definisi maupum implementasi terkait protokol kesehatan
  • Buat protokol yang dapat ditindaklanjuti dan proporsional dalam koordinasi penuh antara swasta dengan otoritas kesehatan; ini perlu untuk memastikan protokol berbasis bukti ilmiah dan dapat diterapkan
  • Bagikan pengetahuan yang baik
  • Tentukan mekanisme untuk mendukung adaptasi perusahaan, daerah tujuan wisata, serta pelatihan bagi staf (keuangan dan pelatihan)
  • Alokasikan investasi untuk sistem data yang lebih baik

BUKA PERBATASAN, TAPI DENGAN BERTANGGUNG JAWAB

  • Perkenalkan dan adaptasikan proses dan prosedur di perbatasan yang telah disesuaikan dengan kajian risiko berbasis pada bukti kesehatan 
  • Secara berkala, revisilah aturan pembatasan dan protokol perjalanan. Ini penting untuk memastikan segalanya tetap proporsional terhadap risiko kesehatan masyarakat.
  • Tingkatkan penggunaan teknologi untuk perjalanan yang aman, lancar, dan tanpa gangguan
  • Sediakan informasi yang terpercaya, konsisten, dan mudah diakses bagi swasta dan pelancong, terutama terkait protokol dan pembatasan perjalanan
  • Tentukan dengan jelas peran dan tanggung jawab semua pihak termasuk pemerintah,  swasta, dan wisatawan
  • Pemerintah dan blok kawasan sebaiknya segera menerapkan  e-visa/visa saat kedatangan/kebijakan tanpa visa, dan untuk sementara hapus biaya pembuatan visa untuk mendorong permintaan. 

HARMONISASI DANKOORDINASIKAN ANTARA PROTOKOL DAN PROSEDUR

  • Selaraskan protokol dan prosedur pariwisata (terkait kesehatan) ke tingkat global
  • Pastikan koordinasi regional dan internasional terlaksana saat membuka kembali perbatasan
  • Terapkan standar internasional ICAO untuk pembuatan dokumen perjalanan untuk kepentingan pertukaran data penumpang. Pastikan ada pengaturan pengadaan formulir isian data kesehatan penumpang: siapa yang mengeluarkan dan bagaimana mengumpulkan serta membagi data tersebut
  • Pastikan ada koordinasi kebijakan bersama antara otoritas pariwisata, kesehatan, dalam negeri, dan transportasi.
  • Buatlah aplikasi untuk menelusuri jejak pengunjung yang mampu bekerja interoperabilty

CIPTAKAN NILAI TAMBAH PEKERJAAN LEWAT TEKNOLOGI BARU

    • Adopsi kebijakan nasional yang mendukung transformasi digital pada tempat tujuan wisata, perusahaan, pegawai, dan pencari kerja
    • Dukung perusahaan untuk mempercepat transformasi digital

 

  • Perkaya aplikasi dengan profil-profil baru: cybersecurity, big data analysis, dan data scientists

 

  • Dukung pencari kerja dengan tambahan ketrampilan baru: produk baru, pemasaran, dan market intelligence
  • Sediakan lebih banyak pelatihan online yang lebih baik untuk meningkatkan ketrampilan para staf dalam memberikan layanan, bekerja di back office, teknologi, bahasa, dan langkah-langkah keamanan 
  • Sediakan pelatihan online gratis bagi mereka yang paling terdampak, bermitra dengan universitas, perusahaan teknologi, dan lembaga pendidikan serta pelatihan lainnya. 
  • Perbanyak pelatihan online gratis seperti yang ada di UNWTO Online Academy dan dukung pengembangan dan pemasaran pelatihan itu dalam berbagai bahasa

JADIKAN INOVASI DAN PRINSIP KEBERLANJUTAN SEBAGAI NORMAL BARU

  • Melakukan konsolidasi ekosistem inovasi baik di tingkat nasional maupun global
  • Bantu kembangkan peluang bagi perusahaan besar untuk bekerja dengan start-up sehingga proses baru dapat lebih mudah dan lebih cepat diimplementasikan, serta lebih efisien (inovasi terbuka)
  • Dorong dan berikan penghargaan kepada start-up dan pengusaha agar terus memberi usulan solusi inovatif.
  • Berinvestasi dialam transformasi digital untuk perencanaan dan manajemen destinasi yang lebih baik
  • Percepat transisi menuju circular economy dalam rantai sektor pariwisata
  • Mulailah bertransisi ke pariwisata yang lebih efisien dan rendah karbon untuk beradaptasi dan mengurangi beban krisis iklim
  • Tentukan daya dukung & majukan manajemen destinasi yang efektif: bangunlah sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan & bertanggung jawab melalui nilai tambah dan sistem pengukuran serta pemantauan berbasis data yang lebih baik (UNWTO INSTO Observatories & UN Measuring Sustainable Tourism Initiative).

 

New Normal Gagal, Korea Selatan Terapkan Lagi Pembatasan Sosial

this formate
  1. Sepasang warga Seoul dengan memakai masker melintas di sebuah jalan di kota Seoul, Korsel. Pemerintah kembali berlakujan kebijakan jaga jarak   ( Foto: Reuters/ heo ran)

SEOUL, bisniswisata.co.id: Korea Selatan pada memberlakukan kembali aturan jaga jarak sosial (social distancing) yang sejak awal bulan Mei lalu sempat dilonggarkan oleh pemerintah setempat guna menekan pebyebaran virus COVID-19 namun gagal.

Langkah itu diambil menyusul serangkaian klaster penyebaran virus corona (Covid-19) yang mengancam keberhasilan negeri ginseng dalam menahan epidemi tersebut. Padahal Korea Selatan dianggap sebagai salah satu model global dalam cara mengekang virus corona.

Akan tetapi, negara itu belakangan melaporkan lonjakan terbesar infeksi baru Covid-19 setelah hampir dua bulan masyarakatnya merasakan kehidupan normal yang baru (new normal).

Kasus-kasus baru itu sebagian besar berpusat di wilayah Metropolitan Seoul, tempat bermukimnya separuh dari penduduk Korea Selatan. Temuan kasus itu memaksa para pejabat setempat memperkuat kembali aturan-aturan jarak sosial yang sebelumnya sempat diperlonggar sejak 6 Mei lalu.

Dengan pemberlakuan kembali pembatasan sosial itu, museum, taman, dan galeri seni semuanya ditutup kembali mulai Jumat, (29/5/2020) hingga selama dua pekan ke depan. Sementara, perusahaan-perusahaan didesak untuk memperkenalkan kembali model kerja yang fleksibel, di antara langkah-langkah pembatasan lainnya.

“Kami telah memutuskan untuk memperkuat semua tindakan karantina di wilayah metropolitan selama dua minggu mulai besok hingga 14 Juni,” kata Menteri Kesehatan Korea Selatan, Park Neung Hoo, dikutip iNews.id dari AFP, Kamis.

Warga juga disarankan untuk menahan diri dari pertemuan sosial atau pergi ke tempat-tempat ramai, termasuk restoran dan bar. Sementara, fasilitas keagamaan diminta untuk lebih waspada dengan tindakan karantina.

Namun, tidak ada penundaan baru untuk pembukaan kembali sekolah secara bertahap yang saat ini sedang berlangsung. “Dua minggu ke depan sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi di wilayah metropolitan (Seoul). Kita harus kembali ke jaga jarak sosial jika kita gagal,” ujarnya.

Pemerintah Korsel mengumumkan 79 kasus baru infeksi Covid-19 pada Kamis pejan ini, sehingga totalnya menjadi 11.344. Ini adalah lonjakan kasus harian terbesar di negeri itu sejak 81 kasus diumumkan pada 5 April lalu.

Pertambahan kasus itu antara lain muncul gudang perusahaan perdagangan daring (e-commerce) Coupang di Bucheon, sebelah barat Seoul. Pada klaster baru ini, ditemukan 69 kasus, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea.

Sekitar 4.100 pekerja dan pengunjung di gedung itu berada di bawah pengawasan isolasi secara mandiri, dengan lebih dari 80 persen dari mereka telah diuji sejauh ini, kata Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Gang Lip.

Implementasi Protokol Kenormalan Baru ( New Normal) Tunggu saat Destinasi Wisata Siap

this formate

Whisnutama (kanan)  saat kunjungan ke hotel belum lana ini. Pihaknya telah menyusun protokol New Normal ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Persiapan protokol kenormalan baru ( New Normal) pariwisata telah disusun untuk nantinya diterapkan ketika suatu daerah telah dinyatakan siap. Protokol ini akan melalui beberapa tahapan, mulai dari melakukan simulasi, lalu sosialisasi dan publikasi kepada publik, dan yang terakhir melakukan uji coba.

Hal itu diungkapkan Menparekraf Whisnutama Kusubandio dakam rilisnya, kemarin, bahwa Kemenparekraf  telah mentusun program Cleanliness, Health and Safety (CHS) sebagai tatanan kenormalan baru di destinasi wisata dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan industri pariwisata dan ekonomi kreatif serta kementerian/lembaga terkait

” Program ini merupakan strategi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar masyarakat nantinya dapat tetap produktif dan aman Covid19. Pelaksanaan tahapan-tahapan ini harus diawasi dengan ketat dan disiplin serta mempertimbangkan kesiapan daerah, ” ujarnya.

Mengenai waktu penerapannya kapan? Harus dilihat betul kondisi RW dan RT daerah tersebut dan tentunya kesiapan masing-masing daerah. “Kami telah melakukan koordinasi dengan beberapa kepala daerah yang wilayahnya berpotensi nantinya untuk dapat memulai penerapan protokol ini” tambah Wishnutama.

Target penerapan New Normal tergantung dengan kesiapan daerah masing-masing. Ada daerah yang sudah siap dan sangat detail dengan segala sesuatunya. Itu tentunya jadi salah satu tolak ukur. Namun persiapan New Normal perlu dilakukan sekitar satu bulan sejak daerah itu dinyatakan dibuka.

“Bukan dari sekarang ya, tapi satu bulan sejak saat daerah tersebut bisa dibuka. Khusus di sektor pariwisata, banyak sekali yang sedang dipersiapkan untuk dibuka. Tidak hanya wisata alam, tapi juga restoran, hotel, dan berbagai jenis wisata.

“Semua sudah kita persiapkan. Saat ini dalam tahap sinkronisasi dan harmonisasi, termasuk dengan Gugus Tugas. Jadi, ini perlu dikoordinasikan dengan Gugus Tugas COVID-19 karena sangat penting,”itanbah Wishnutama.

Lebih lanjut Wishnutama menjelaskan, pihaknya akan berkoordinasi juga dengan pihak Garuda, jika destinasi wisata dinyatakan dibuka, termasuk dengan pihak hotel.”Kita akan menyiapkan paket-paket wisata dengan harga yang menarik,” ucap Wishnutama.

Wishnutama menambahkan, di era pandemi corona Covid-19 ini atau era digitalisasi terakselerasi dengan cepat. Hal itu terjadi dalam berbagai sektor, termasuk untuk promosi pariwisata. Ke depan akan banyak dilakukan melalui digital, karena itu akan lebih efektif dan spesifik.

Mengenai penerapan Cleanliness, Health and Safety (CHS), semua itu perlu kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan, baik pihak bandara, hotel, dan yang lain-lain. Jika perlu, misalnya, mereka yang melanggar dicabut izinnya, tandas Wishnutama.

 

Semangat Kreasi dan Kolaborasi Warnai Acara Virtual Kopdar Komunitas.   

this formate

Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf Agustini Rahayu saat membuka acara “Virtual Kopdar Komunitas ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Suasana penuh kehangatan dan semangat berkreativitas antar komunitas mewarnai acara “Virtual Kopdar Komunitas” yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 28 Mei 2020. 

Berlangsung 120 menit, tiga komunitas yang berasal dari Jakarta, Kutai Kartanegara, dan Parapat di Danau Toba secara bergantian menghadirkan kreasi mereka. Memenuhi ruang dengan penuh tawa, canda, dan di saat bersamaan bangga akan kekayaan seni dan budaya Indonesia. 

Ketiga komunitas itu adalah Komunitas Oi di Kutai Kartanegara, Komunitas Regu Kerja Didi Petet (RKDP) di Jakarta, dan Komunitas Pondok Kreatif Parapat di Danau Toba. 

Kepala Biro Komunikasi Kemenparekra/Baparekraf Agustini Rahayu saat membuka acara “Virtual Kopdar Komunitas” mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang kreatif bagi anggota komunitas dan menjadi ruang menebar  semangat untuk masyarakat pada umumnya ditengah pandemi. Aktivitas semacam ini sekaligus  menggali kekuatan seni dan budaya tanah air sebagai daya tarik pariwisata dan ekonomi kreatif.  

“Komunitas merupakan bagian penting dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Karena itu penting untuk kita dapat terus saling mendukung terutama di masa-masa sulit pandemi COVID-19 seperti sekarang ini,” kata Agustini Rahayu. 

     Tiga komunitas kopdar dan saling menghibur meski secara virtual

“Virtual Kopdar Komunitas” dibuka dengan apik oleh penampilan dari RKDP yang memvisualkan lagu “Wajah Rinduku” dan “Sejenak Untuk Peduli” dalam seni pantomim. Di sesi kedua, RKDP menghadirkan suguhan yang lebih menarik dengan memparodikan sejumlah adegan dalam film-film kenamaan. Mulai dari Warkop DKI, Dilan, Si Doel Anak Sekolahan, dan lainnya. 

Sementara Komunitas Oi dalam tiga sesi keseluruhan acara membawakan lagu-lagu milik Iwan Fals. Mulai dari “Wakil Rakyat”, “Bongkar” juga “Bento”. Menariknya penampilan dari komunitas itu selalu diiringi dengan magisnya bunyi dari alat musik khas Dayak, Sape’ Dayak. 

Tak kalah menarik adalah suguhan dari Komunitas Pondok Kreatif Parapat yang memainkan lagu-lagu dengan iringan khas musik Batak. Latar belakang Danau Toba benar-benar menjadikan penampilan mereka sangat indah dilihat. 

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Djoko Waluyo menambahkan, beragam penampilan yang disajikan para anggota komunitas dalam acara tersebut merupakan sebagian kecil dari kekayaan khazanah seni dan budaya tanah air yang begitu besar. 

Kemenparekraf/Baparekraf akan terus memotivasi komunitas dan para kreator untuk terus berkarya. “Tidak ada kekuatan sedahsyat kolaborasi. Bersama kita akan bisa terus menggali potensi yang kita miliki di masing-masing daerah,” kata Djoko Waluyo. 

 

Sharing Orangtua Soal Kebiasaan Traveling Bersama Anak Pasca C-19

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  Hampir setengah dari orang tua milenial mengatakan bahwa ide melakukan perjalanan mereka telah berubah sejak penerapan stay at home, dan adanya pembatasan perjalanan karena COVID-19. 

Komunitas Bebe Voyage, yang ahli mengumpulkan orang tua penggemar  wisata ke mancanegara mensurvei para orang tua untuk mengetahui bagaimana mereka akan mengubah rencana traveling karena COVID-19.  

Responden menyatakan dengan cara yang berbeda bahwa sifat krisis yang berkembang membuat mereka sulit untuk merencanakan atau mewujudkan kebiasaan traveling jangka panjang. Di kutip dari Travel Daily News, survei dasar ini dilaksanakan antara tanggal 4 dan 19 April 2020 dengan 69 responden dari seluruh dunia.

Banyak responden (52%) berencana untuk melakukan perjalanan dengan jumlah yang sama, tetapi mereka mengatakan akan melakukan traveling berbeda.  Perubahan paling konsisten pada kebiasaan bepergian yang menonjol adalah kecendrungan untuk bepergian lebih dekat ke rumah (26%) dan berfokus pada “tinggal di rumah” (17%).

Rencana traveling jangka pendek jauh lebih tidak terduga, kata mereka, karena ada begitu banyak yang tidak diketahui mengenai perkembangan virus dan potensi kebangkitan.  

Sebagian besar responden ingin melihat COVID -19 sudah hilang  sebelum mereka mulai merencanakan liburan (45%) atau bahkan mulai bepergian (44%).  Namun, beberapa responden (39%) masih mempertimbangkan traveling untuk akhir musim panas / awal musim gugur.  Lainnya fokus pada petualangan di luar ruangan (28%) atau liburan “staycation” (16%).

Anggota komunitas Voyage Bebe tinggal di seluruh dunia dan di seluruh lokasi, keinginan mereka untuk melakukan perjalanan sebagian besar didorong oleh keinginan untuk mengunjungi keluarga besar.

Meniadakan traveling sementara waktu akan membawa refleksi yang lebih eksistensial di sekitar perjalanan.  Banyak responden merasa mereka ingin lebih berhati-hati,  fokus pada perjalanan yang berkelanjutan, memberikan kontribusi kepada komunitas dan membangun empati yang lebih besar melalui pengalaman.

Bébé Voyage telah berkembang menjadi komunitas yang menghubungkan pengalaman para  orang tua yang traveling dengan membawa anak-anak, saling berbagi dan memberdayakan lewat tips untuk memperkaya pengalaman perjalanan keluarga mereka. 

Tetapi tujuan Bébé Voyage jauh lebih besar dari itu dengan memberdayakan anak-anak untuk menjadi penasaran, berpikiran terbuka, dan jadi  pengembara seumur hidup dengan memperkenalkan mereka pada budaya dan pengalaman baru untuk membangun dunia yang lebih baik dan lebih damai untuk semua.

 

Gua Marmer, Pesona Alam yang Manakjubkan

this formate

 

                      Sumber: greatbigstor

CHILI, bisniswisata.co.id : Perlu waktu lebih dari 6.000 tahun bagi alam untuk menghasilkan ukiran warna-warni surealis pada dinding gua. Inilah penampakan menakjubkan Gua Marmer yang merupakan permata tersembunyi obyek wisata terbaik di wilayah Patagonia, Chili.

Lokasinya terpencil. Gua indah ini terletak di tengah Danau General Carrera dan hanya dapat diakses dengan pesawat, lalu disambung dengan menumpang perahu atau kayak.

Gua ini terbentuk secara alami dengan lorong – lorong yang sangat indah. Hal paling menakjubkan adalah saat menyaksikan danau berwarna biru memancarkan sinarnya ke dalam gua sehingga menjadi biru.

Gua marker dengan motif dinding yang rumit dan unik ini berpermukaan halus. Ukiran mahakarya di luar maupun dalam gua terbentuk dari tempaan air yang berasal dari gletser yang mencair yang ada di sekitar danau. 

Selama ribuan tahun, air gletser yang kaya mineral ini membasuh gua dan secara perlahan mengukir bebatuan padat ini. Air gletser telah mengubah warna dan bentuk Gua Marmer menjadi biru, hijau, hitam, dan kuning yang indah.

Penduduk sekitar menjaga kelestariannya dengan ketat. Alih-alih menambang batu-batu marmer unik ini, mereka melindunginya dengan hanya mengizinkan turis untuk datang menikmati keindahannya. Berikut link videonya : https://www.youtube.com/watch?v=EK1TEeGrrYk

 

Halal Bi Halal KBRI Pretoria Bahas Berkah Persaudaraan

this formate

PRETORIA, Afsel, bisniswisata.co.id: Di tengah pandemi global COVID-19, warga Indonesia di Afrika Selatan tetap menjaga persahabatan dan persaudaraan dengan Halal Bi Halal virtual dengan diisi ceramah agama, ungkap rilisnya hari ini.

Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria menyelenggarakan acara pertemuan virtual antara masyarakat yang dipimpin oleh  Duta Besar Indonesia di Pretoria, Salman Al Farisi, dalam perayaan Idul Fitri 1441H.

Acara ini disemarakkan oleh dakwah Al Ustad Mhd.  Jabbal Alamsyah Nasution, Direktur Pusat Studi Mawarith, Universitas Darussalam Gontor, Jawa Timur, yang membahas berkah dari persahabatan dan persaudaraan.  

Kegiatan silaturahmi ini diikuti oleh warga negara Indonesia yang tinggal di Afrika Selatan dan tiga negara lainnya yaitu Botswana, Lesotho dan Eswatini.

 “Saya berharap kita melaksanakan doa-doa dengan lebih khusyuk di rumah-rumah dan terus bekerja dan melakukan tugas-tugas kita sebaik-baiknya. Insya Allah, dengan niat baik dan upaya, kami akan lebih produktif dan terus memberi manfaat bagi masyarakat “, kata Dubes Salman Al Farisi, kemarin.

Selama wabah, Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria tetap hadir untuk melaksanakan tugas-tugas Misi Indonesia di luar negeri dengan memperhatikan situasi dan kondisi setempat.  Mengikuti prioritas Jakarta saat ini untuk melindungi warga negara Indonesia, mengemban Misi Indonesia di luar negeri, termasuk mengatur kegiatan yang lebih selektif di Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria.

 Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria telah memfasilitasi pemulangan 27 warga negara Indonesia dari Afrika Selatan untuk kembali ke Indonesia dan mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar kepada penduduk di area wilayah kerja.

 Di sektor ekonomi, Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria terus melakukan tugas untuk meminimalkan dampak pandemi terhadap negara.Mendukung sektor bisnis, termasuk BUMN, untuk terus berkembang ke Afrika Sub-Sahara melalui, antara lain, menyediakan informasi dan data pendukung.

 Selain itu, Duta Besar Indonesia di Pretoria juga aktif untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari diskusi dengan universitas dan komunitas Islam hingga wawancara dengan media massa dan pemberi pengaruh media sosial tentang pembaruan terkini dari Afrika Selatan.

Afrika Selatan telah menerapkan penguncian nasional yang ketat sejak 26 Maret 2020 dan terus dievaluasi  secara bertahap. Sekitar 500 orang Indonesia yang tinggal di Afrika Selatan, Botswana, Lesotho dan Eswatini adalah pelajar, ibu rumah tangga dan pekerja profesional.  

Dari pemantauan Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, hingga saat ini, semua warga negara Indonesia telah diamati dalam kesehatan yang baik tanpa laporan COVID-19 yang positif.