Lockdown Dicabut, Restoran Steak di Perancis Ini  Langsung Buka Tengah Malam

this formate

Restoran di Perancis ini dibuka tengah mala ( Foto: Reuters)

NANTES, bisniswisata.co.id: Restoran steak di kota Nantes, Perancis ini sudah tutup selama 11 minggu. Wajar jika pemiliknya tak sabar menunggu kapan kebijakan lockdown dicabut. Begitu pula dengan masyarakat ysng juga sudah menanti kapan bisa makan bersama kekuarga atau teman.

Itu sebabnya ketika otoritas setempat mengumumkan kafe-kafe dan restoran diizinkan kembali buka pada Selasa (2/6) waktu setempat, pemiliknya tak mau menunggu lama. Mereka pun segera buka tepat tengah malam saat pergantian hari.

Ketika jam menunjukkan pukul 24:00, para pegawai segera membuka pintu restoran, memberi kesempatan pelanggan yang ternyata sudah mengantri cukup lama. Ada sekitar 100 orang mengular di luar restoran. Mereka sama antusiasnya dengan sang pemilik restoran untuk menjajal kembali sensasi makan di luar rumah. 

“Senang melihat pelanggan kami. Sekaligus bahagia menyaksikan dukungan mereka,” kata Jean-Pierre Le Bot, sang pemilik, saat mengamati meja-meja restoran yang penuh sesak.

Biasanya, saat normal, restoran ini akan tutup sebelum tengah malam, dan buka kembali keesokan hari saat makan siang tiba. Namun hari itu pemilik restoran memutuskan untuk buka tengah malam persis saat pergantian hari untuk menyambut dicabutnya aturan lockdown

“Sangat menyenangkan melihat begitu banyak orang bahagia,” kata Le Bot, seperti dilansir Reuters.

Restoran, bar, dan kafe-kafe di Perancis tutup sejak 16 Maret saat pemerintah menerapkan aturan lockdown secara nasional untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Pemerintah Perancis memutuskan mencabut kebijakan lockdown yang berlaku per 2 Juni.

Keputusan ini didasari catatan yang menunjukkan terjadi penurunan jumlah warga yang terinfeksi. Ini berarti restoran dan bar diizinkan buka kembali, berjemur di pantai boleh dilakukan lagi, dan larangan perjalanan sejauh lebih dari 100 kilometer dicabut. 

Kembali ke restoran yang dulunya merupakan penjara itu, keadaan terlihat belum betul-betul normal. Meja-meja diatur sedemikian rupa di jalan-jalan untuk memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik. Para pelayan mengenakan masker dan segera membersihkan meja dengan cairan disinfektan segera setelah pelanggan pergi. Cairan pencuci tangan pun tersedia di sejumlah tempat.  

Bagi pelanggan seperti Vincent Thepaut, dia mengaku sangat menikmati makanannya bersama teman-teman. Menurut dia, itu adalah rasa kebebasan setelah terkunci selama berminggu-minggu. “Sudah lama kami tidak melihat orang lain.”katanya

 

 

CUCI tangan dulu, kaki, basuh muka juga boleh, ada sabun relak dan daun sisih

Produktif dan Tetap Aman dari COVID-19

this formate

“Pelonggaran pembatasan perjalanan yang tepat waktu dan bertanggung jawab, membantu bangkitnya kemanfaatan sosial, ekonomi bisnis kepariwisataan secara berkelanjutan. Kebangkitan pariwisata, berkontribusi pada mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia. Sektor ini adalah pendorong pembangunan berkelanjutan dan pilar ekonomi. UNWTO menekankan perlunya kewaspadaan, tanggung jawab, dan kerja sama internasional ketika dunia perjalanan wisata dibuka kembali secara bertahap.”

(Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili )

DENPASAR bisniswisata.co.id: Memedomani protocol yang dikeluarkan UN World Tourism Organization ( UNWTO) sejumlah  stakeholder kepariwisataan mulai menerapkan secara ketat Standard Operation Procedure Hygiene and Cleanliness sesuai karakteristik usaha masing- masing. Dengan harapan pembukaan layanan dengan tatanan perilaku normal baru, tidak membahayakan pelaku usaha, pekerja dan pengunjungnya.

“Lebih patuh dan disiplin. Secara tradisi– jika kita melaksanakan dengan baik dan benar nilai kearifan lokal Tri Hita Karana–, menjalani keseharian yang harmoni dengan sesama, alam lingkungan untuk kemuliaan Penciptanya, sudah menjadi gaya hidup. Bagaimana gaya hidup tradisi ini di internasionalkan,” ungkap Ayu Gayatri Kresna owner rumah belajar dari dapur Bali Utara Pengalaman Rasa.

Jika dikaji ke belakang, saat berkunjung ke rumah budaya Rumah Intaran di raya Kintamani- Kubutambahan,  Bengkala ini, ada gentong air di depan rumah tempat basuh tangan, kaki, muka sebelum memasuki area halaman dalam pekarangan. Ada kran air di depan dapur Pengalaman Rasa, di depan ruang latihan NimbaSraya lengkap dengan sabun lerak dan daun sirihnya.

Wakil Gubernu Bali pun mengakui, protokolol kesehatan yang dikeluarkan WHO mau pun kesehatan perjalanan yang dikeluarkan UNWTO, terkait erat dengan nilai bersih, sehat aman dalam kaidah Tri Hita Karana. Berdasarkan dimensi adaptasi, selayaknya unit usaha kepariwisataan di Bali mampu menerapkan protokol internasional dalam wajah tradisi Bali yang Hindu.

“Uniqness dan daya saing kepariwisataan Bali ada didalamnya”, tegas Tjokorda Oka Ardana Sukawati dalam webinar yang digelas Litbang PemKab Badung.

Bagaimana respon pelaku industri hotel di Bali Selatan ?

Tanggapan diberikan manajemen The Sanctoo Villas and Spa yang berlokasi di Kabupaten Gianyar. SOP telah disusun sesuai kebutuhan, staf sudah diberikan sosialisasi mengenai pedoman bagaimana langkah-langkah preventif untuk meningkatkan hygiene dan kebersihan setiap kamar, public area terutama pada high-touch object.

“Kenyamanan tamu selama menginap di The Sanctoo Villas and Spa merupakan prioritas utama kami sehingga tidak ada rasa khawatir untuk menghabiskan liburan selama masa pandemic COVID-19 mau pun dimasa akan mendatang” ujar General Manager I Putu Subali Adi Putra.

Secara garis besar The Sanctoo Villas and Spa menerapkan:

  1. Standard Kesehatan dan Keselamatan untuk Staff
  2. Secara rutin melakukan pengecekan suhu tubuh dengan thermo gun yang sudah disiapkan dan mencuci tangan secara teratur.
  3. Semua staff wajib mengenakan masker wajah dan disposable gloves untuk staff yang secara langsung melayani pengunjung.
  4. Selalu mengingatkan untuk protocol physical – distancing saat bekerja.
  5. Standard Pelayanan untuk Pengunjung
  6. Pengecekan suhu badan dengan thermo gun saat kedatangan dan mengingatkan untuk mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer serta standard physical-distancing
  7. Masker wajah dan hand sanitizer akan disediakan untuk semua pengunjung
  8. Untuk antisipasi, disediakan room isolation dan team emergency  yang akan membantu pengunjung atau staff yang terlihat menunjukan gejala COVID-19 dan akan dirujuk ke rumah sakit terdekat yang menangani pasien COVID-19 sesuai dengan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Bali.
  9. Standard Pembersihan Facilities dan Product.
  10. Fasilitas hand sanitizer telah disiapkan di beberapa publik area.
  11. Meningkatkan penyemprotan desinfektan ke seluruh public area.
  12. Melakukan deep-cleaning secara berkala di semua kamar and publik area
  13. Food and Beverage Operation selalu mengikuti International Standard HACCP ((Hazard Analytical Critical Control Point).

Dengan adanya Standard Operation Procedure Hygiene and Cleanliness yang dilakukan di The Sanctoo Villas and Spa,  para pengunjung tidak perlu khawatir untuk menentukan pilihan akomodasinya.

BHA: Kampanye ‘Bali is My Live ‘ Mendapat Respon Positif  

this formate

Setelah COVID-19 berakhir, Bali berada di tempat kedua setelah Gold Coast Australia yang ingin dikunjungi wisatawan dari negri kangguru itu. ( Foto: unsplash.com/Aron Visuals) 

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Kampanye Bali is My Live yang berlangsung dua bulan sejak diluncurkan pada 30 April lalu mendapat sambutan positif, kata Jean-Charles Le Coz, Marketing Advisor Bali Hotel Association ( BHA) , hari ini.

Di kutip dari situs balihotelsassociation.com, Le Coz mengatakan, sementara perjalanan mungkin tidak dapat dilakukan saat ini, asosiasinya  ingin memberikan rasa budaya, musik, tarian, makanan, dan orang-orang mengenal Bali.

“Dalam sebuah survei baru-baru ini tentang warga Australia oleh portal perjalanan online tentang tujuan-tujuan teratas yang direncanakan akan dikunjungi oleh orang-orang Australia tidak mengherankan melihat Bali di tempat nomor 2,” katanya.

Bali berada di tempat kedua setelah Gold Coast Australia,  jauh di depan saingan terdekatnya di Asia Tenggara. Bali nyaman sepanjang tahun, seperti halnya Gold Coast sehingga menjadikannya sempurna untuk liburan musim sem bersama keluarga atau dengan sesama anak muda.

Menurut Jean-Charles Le Coz, negara-negara seperti Australia adalah salah satu sumber utama pengunjung ke Bali sebelum COVID-19 melanda. “Mereka mulai merencanakan tujuan liburan berikutnya meskipun perbatasan internasional dan negara bagian ditutup karena virus COVID-19”

Kampanye Virtual 60 Hari di media social Bali is My Life (Bali adalah hidupku) merupakan pernyataan yang kuat yang mencerminkan fakta bahwa Bali tidak hanya seperti tujuan wisata tetapi pulau yang indah yang dimiliki dan orang Bali yang menyambut wisatawan untuk menikmati pulau itu.

Bali Hotels Association adalah asosiasi profesional hotel dan resor berbintang di Bali.  Anggota termasuk manajer umum dari lebih dari 157 hotel dan resor, mewakili 27.148 kamar hotel dan 35.849 karyawan di sektor hotel Bali.

Hidup dalam komunitas Bali maka kuat dengan filosofi lokal yang disebut “gotong royong” yang berarti bergabung dengan tanggung jawab dan gotong royong. Pengguna media resmi di seluruh dunia akan dapat menikmati budaya Bali dalam dua bulan ke depan sebagai bagian dari kampanye pariwisata virtual yang baru baru.

Dibawah Bali Hotels Association, kampanye Bali is My Life akan mencakup 240 posting dan cerita dari anggota hotel dan resor yang dirancang untuk memberi tahu para pelancong bahwa mereka akan disambut kembali dengan hangat ketika sudah aman untuk dikunjungi lagi.

“Pesan utama BHA adalah bahwa Bali akan dengan hangat menyambut Anda kembali secepat mungkin untuk bepergian lagi,” tegasnya.

Untuk saat ini, ada rencana yang ditetapkan bagi Bali untuk menjadi lokasi percontohan dalam program Cleanliness, Health, and Safety ( CHS) dimana Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini sedang mempersiapkan untuk menyambut pengunjung setelah pandemi coronavirus berakhir.

 

Thailand Belum Mau Buru-buru Buka untuk Turis Asing, Ini Alasannya

this formate

Thailand belum terima turis asing (foto: CNN)

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Saat banyak negara di Eropa memutuskan untuk membuka kembali untuk menerima turis pada musim panas mendatang, Thailand justru menyatakan masih akan menunggu beberapa bulan lagi.

“Masih bergantung pada situasi wabah. Tapi saya pikir paling awal, kami mungkin melihat kembalinya wisatawan akan terjadi pada kuartal keempat tahun ini,” kata Yuthasak Supasorn, Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), kepada CNN Travel. 

Dia menambahkan kemungkinan akan ada pembatasan: siapa yang boleh datang dan kemana mereka bisa pergi. “Kami tidak akan membukanya sekaligus,” imbuhnya. 

“Kami masih waspada tinggi, belum bisa menurunkan kewaspadaan. Kami harus melihat negara asal [para pelancong] untuk memastikan apakah situasi (di tempat) mereka benar-benar membaik. Dan terakhir, kami juga harus memperhatikan apakah operator bisnis kami siap menerima turis dalam keadaan new normal. “

Yuthasak juga mengingatkan, saat Thailand membuka kembali untuk turis asing, mereka hanya diizinkan mengunjungi tempat-tempat tertentu.

 “Kami telah melakukan studi tentang tempat-tempat yang mungkin dapat ditawarkan kepada turis asing, yakni wilayah terpencil dan tertutup. Pemantauan kesehatan di tempat-tempat itu dapat mudah dilakukan,” ujarnya.

Dia menyebut Koh Pha Ngan dan Koh Samui sebagai contoh. “Dengan demikian ini akan bermanfaat bagi wisatawan dan penduduk lokal, karena ini hampir mirip semacam karantina.”

Yuthasak mengatakan mereka sedang menyelesaikan kerangka kerja untuk memulai kembali pariwisata. Tetapi sebagian besar keputusan ada di tangan CCSA – Pusat Administrasi Situasi Covid-19. Merekalah yang akan memutuskan kapan waktu terbaik untuk membuka pembatasan pariwisata.

Untuk saat ini, Thailand masih menutup rapat perbatasan. Mereka tidak mau mengambil risiko.

Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) telah mengeluarkan larangan sementara atas semua penerbangan komersial internasional ke negara itu, hingga 30 Juni, kecuali penerbangan repatriasi. Sementara itu, untuk warga Thailand yang pulang dari penerbangan repatriasi, harus masuk fasilitas karantina selama 14 hari.

Pada 26 Mei, Kabinet Thailand setuju untuk memperpanjang keadaan darurat nasional hingga 30 Juni. Thailand nampaknya telah berhasil mengendalikan virus yang di banyak negara telah mengakibatkan kerusakan. Hingga 27 Mei, Thailand yang dikenal dengan julukan Negeri Gajah Putih atau The Land of White Elephant, mencatat 3.042 kasus Covid-19 dan 57 kematian. Sejauh ini laporan kasus baru terbilang minim, bahkan terkadang nol.

 

 

Garda Terdepan COVID-19 di Bali Dapat Akomodasi di Bali Paragon Resort Hotel

this formate

Sedikitnya 297 kamar hotel di Bali Paragon Resort Hotel untuk para tenaga mefis di Bali yang menjadi garda terdepan arasi COVID-19. ( Foto Kemenparekraf) 

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Bali Paragon Resort Hotel menyediakan akomodasi bagi tenaga kesehatan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Udayana, Jimbaran, salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di Bali.

Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscata dalam siaran pers hari ini mengatakan, penyediaan fasilitas akomodasi merupakan salah satu wujud konsistensi Kemenparekraf/Baparekraf dengan industri pariwisata dalam upaya bersama penangulangan wabah COVID-19.

“Kami memastikan para tenaga kesehatan mendapat pelayanan yang terbaik, dari mulai fasilitas kamar, makanan, hingga laundry, semua harus memenuhi standar kesehatan yang baik,” kata Nia Niscaya.

Dalam kerja sama ini, Kemenparekraf dan Bali Paragon Resort Hotel menyediakan 297 kamar yang terdiri dari 246 kamar tipe single dan 51 kamar tipe double sebagai fasilitas bagi 346 tenaga kesehatan. i

Nia mengatakan, standarisasi kesehatan sangat penting untuk diperhatikan agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman. Tidak hanya bagi tenaga medis tapi juga para staf dan pekerja hotel dan industri secara keseluruhan.

“Dengan demikian para petugas medis dapat beristirahat dengan baik, dekat dengan tempat pekerjaan, dan lebih efektif dalam bertugas. Sehingga segala sesuatu lebih baik bagi petugas medis berjuang menghadapi COVID-19 ini,” kata Nia Niscaya.

Lewat kerja sama ini diharapkan tidak hanya dapat membantu penanganan COVID-19, tapi juga sekaligus membantu pekerja dan pengusaha hotel. Khususnya bagi pekerja langsung atau pekerja tidak langsung hotel tersebut, serta penambahan penyerapan tenaga kerja lainnya seperti penyedia makanan.

“Kerja sama ini juga sebagai bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata, salah satunya bisnis hotel agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya dengan program tersebut. Namun semua dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol dan SOP kesehatan yang ketat,” ujarnya.

Sebelumya, Kemenparekraf telah memfasilitasi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan untuk mendapatkan akses transportasi dan akomodasi bekerja sama dengan puluhan hotel. Mulai dari Accor Group, Swissbel Hotel, Reddoorz, Grand Sahid, dan Hotel Le Meridien. Untuk penyedia jasa transportasi, Kemenparekraf bekerja sama dengan Panorama Destination, White Horse, Antavaya, dan Grab.

“Dukungan dan kerja sama dari industri pariwisata menjadi upaya bersama kita dalam menghadapi pandemi COVID-19,” kata Nia Niscaya.

 

Apa arti Status Khusus Hong Kong Bagi Pelancong

this formate

Pemandangan ‘kota vertikal’, gedung-gedung tinggi di Hongkong dari Victoria Peak. ( Foto: ©Megan Eaves/Lonely Planet)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Selama ini berwisata ke Hong Kong bukanlah sesuatu yang rumit, tapi sederhana. Baik untuk bekerja atau pelesiran, bahkan untuk tinggal di Hong Kong. Bagi wisatawan Indonesia, Hong Kong juga punya magnet sendiri apalagi dalam paket wisata termasuk kunjungan ke Macau.

Namun pariwisata Hong Kong ke depan mungkin tidak lagi menarik banyak pelancong karena akan banyak aturan akibat status khusus Hong Kong telah dicabut AS. Wisatawan asal AS bakal menempuh prosedur rumit bila ingin ke Hong Kong, demikian pula sebaliknya usai AS mencabut hak khusus Hong Kong

Dikutip dari Lonely Planet, Presiden AS Donald Trump telah mencabut status khusus Hong Kong pada Jumat, 29 Mei 2020 sehingga bakal banyak aturan yang berubah bagi warga AS yang pelesiran ke kota semi otonom itu.

Langkah AS itu, didorong oleh politik dalam negeri China, setelah parlemen negeri itu secara resmi menyetujui undang-undang keamanan nasional baru, yang bisa berdampak besar tidak hanya pada lanskap politik dan ekonomi Hong Kong, tetapi juga bagaimana rasanya bepergian ke sana.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memenuhi syarat untuk status khususnya di bawah hukum AS, dan menakutkan investor.  Hong Kong dan AS memiliki perjanjian perdagangan khusus yang memberikan keistimewaan ekonomi negara-kota yang tidak dinikmati oleh China.  Pengaturan ini juga memberi China dan AS akses tidak langsung ke pasar masing-masing.

Selama lebih dari 20 tahun, warga AS yang ke Hong Kong tidak harus mendapatkan visa atau melalui prosedur imigrasi yang sama seperti para pelancong ke daratan China. Hal Itu karena Hong Kong secara teknis bukan bagian penuh dari pemerintah China.

Hong Kong adalah Wilayah Administratif Khusus yang beroperasi di bawah prinsip “satu negara, dua sistem” yang diberlakukan untuk memudahkan transisi dari pemerintahan Inggris ke Cina.

Setelah lebih dari seabad sebagai koloni Inggris, Hong Kong kembali ke kedaulatan China pada akhir 1997, tetapi mempertahankan banyak norma ekonomi, politik, dan sosialnya sendiri daripada sepenuhnya berasimilasi.

Perbedaan itu membuat Hong Kong sangat menarik bagi investor dan pemimpin bisnis internasional – misalnya, Hong Kong adalah rumah bagi lebih dari 2.000 perusahaan Eropa. Amerika Serikat, Inggris, dan anggota Persemakmuran Inggris seperti Kanada dan Australia.

Namun, Amerika Serikat telah mengambil sikap yang teguh pada langkah-langkah baru Tiongkok daripada Kanada atau Uni Eropa. Trump menyatakan akan mengambil tindakan untuk mencabut perlakuan istimewa Hong Kong sebagai wilayah pabean dan perjalanan yang terpisah dari seluruh China.

Maka hal Itu bisa berarti perubahan cepat pada cara orang Amerika bepergian ke Hong Kong, dimulai dengan persyaratan visa. Padahal selama ini visa hanya diperlukan bagi mereka yang bekerja atau belajar di Hong Kong.

Bila biasanya warga AS yang ke Hong Kong hanya butuh paspor yang berlaku minimal sebulan di luar masa tinggal, dana yang memadai untuk perjalanan, dan bukti akan kembali ke rumah atau bepergian ke tempat lain.

Tapi, kini warga AS yang ingin ke Hong Kong bakal menempuh prosedur yang sama, ketika mereka ingin pelesiran ke China. Jadi, warga AS harus menyiapkan paspor yang berlaku untuk setidaknya enam bulan di luar masa inap, visa masuk dan visa keluar. 

Pengunjung diwajibkan reservasi ke hotel dan melapor ke kantor polisi setempat pada saat kedatangan dan membawa paspor, visa Cina, atau izin tinggal mereka setiap saat.

China Daratan jauh lebih ketat dalam menerima pelancong yang datang. Bahkan situs web Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa pejabat perbatasan Cina memiliki wewenang untuk menolak masuknya pelancong asing tanpa peringatan atau penjelasan. Bahkan, Kedutaan Besar AS dan Konsulat AS tidak dapat melakukan intervensi atas nama pelancong jika ditolak masuk ke Cina.

Sebaliknya, respons Amerika Serikat juga dapat mempersulit warga negara China yang bepergian ke Amerika Serikat, termasuk mahasiswa pascasarjana yang memegang visa dan peneliti dari China.

Kanada, sementara ini juga prihatin tentang dampaknya nanti pada kemampuan ribuan warga Kanada untuk tinggal, bekerja, dan bepergian di Hong Kong..

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan dalam konferensi pers bahwa “Kami memiliki 300.000 warga Kanada yang tinggal di Hong Kong dan itulah salah satu alasan mengapa kami ingin memastikan bahwa satu negara  , dua pendekatan sistem terus berlanjut,” ujarnya. 

Inggris juga sedang mempertimbangkan perpanjangan hak visa untuk sekitar 300.000 warga negara Inggris yang tinggal di Hong Kong.  Saat ini visa BNO seperti itu mengizinkan enam bulan perjalanan di Inggris, tetapi perpanjangannya, jika disahkan, akan memungkinkan warga negara Inggris di luar negeri hingga satu tahun.

Memang masih harus dilihat secara pasti bagaimana Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan UE menanggapi hilangnya otonomi Hong Kong secara efektif . Jadi apa artinya itu bagi para pelancong yang berharap melihat “kota vertikal” untuk diri mereka sendiri, atau  tinggalkan untuk cari pantai baru, destinasi wisata baru ?.

 

Setelah Sukses Kendalikan Virus Corona, Hanoi Kembali Macet

this formate

Hanoi kembali macet usai pemerintah Vietnam mengumumkan pelonggaran lockdown (foto: Medium)

HANOI, bisniswisata.co.id: Kota Hanoi, ibu kota Vietnam, kembali macet. Pengendara motor bermasker tumpah ruah di sejumlah ruas jalan.  Kehidupan seolah sudah kembali normal.

Setelah memberlakukan lockdown selama 3 minggu, negara dengan pangsa pasar sepeda motor berbesar di dunia itu mulai melonggarkan aturan jarak sosial. Meski sudah lewat 40 hari sejak pelonggaran yang mulai diterapkan sejak 23 April lalu, tidak ada laporan baru penduduk yang terinfeksi. Bisnis dan sekolah pun sudah kembali dibuka.  

Vietnam merupakan salah satu negara di Asia dengan 0 kasus kematian akibat CIVID-19. Kesuksesannya seperti terlewatkan. Orang lebih banyak merujuk Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong saat mengambil contoh sukses mengendalikan penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan ini. 

Ternyata, Vietnam menyimpan cerita sukses yang lebih menakjubkan. Negara berpenduduk 97 juta orang ini hanya mencatat 328 kasus COVID-19 dengan 0 kasus kematian. Padahal negara yang berpenghasilan menengah ke bawah ini berbatasan dengan Cina dan jutaaan orang Cina berkunjung ke sana setiap tahun. 

Belum lagi sistem kesehatan di sana yang jauh tertinggal dibanding dengan negara lain di kawasan Asia. Menurut Bank Dunia, hanya ada 8 dokter untuk setiap 10.000 penduduk. Rasio ini hanya 1/3 dari rasio di Korea Selatan.

Bagi sebagian orang fakta ini sepertinya too good to be true. Tetapi menurut seorang dokter penyakit menular, Guy Thwaites, yang bekerja di salah satu rumah sakit rujukan untuk merawat pasien virus corona COVID-19, angka itu cocok dengan realitas di lapangan.

“Saya pergi ke bangsal-bangsal setiap hari, saya tahu kasusnya. Tidak ada kematian di sana,” kata Thwaites, yang juga mengepalai Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford di Kota Ho Chi Minh, seperti dilansir CNN.

Jadi, apa sebetulnya kunci sukses Vietnam menangani pandemi COVID-19? Menurut para ahli kesehatan, jawabannya ada pada sejumlah faktor, mulai dari kecekatan pemerintah merespons sehingga penyebarannya dapat dicegah, hingga pelacakan kontak yang ketat dan kebijakan karantina, serta komunikasi publik yang efektif. 

Vietnam termasuk negara yang paling dini mempersiapkan diri menghadapi pandemi COVID-19, bahkan berminggu-minggu sebelum kasus pertamanya terdeteksi. Saat banyak orang, termasuk Pemerintah Cina dan WHO masih keukeuh menyatakan bahwa virus ini tidak dapat menular dari manusia ke manusia, pemerintah Vietnam tetap bertindak. 

“Kami tidak menunggu guidelines dari WHO. Data yang kami kumpulkan dari luar dan dalam (negeri) kami jadikan dasar untuk mengambil tindakan lebih awal,” kata Pham Quang Thai, wakil kepala Departemen Pengendalian Infeksi di National Institute of Hygiene and Epidemiology di Hanoi.

Vietnam, negara yang sering digambarkan sebagai negara bahagia dan optimis ini, mulai mempersiapkan diri lebih awal dibandingkan dengan banyak negara lain. Pada awal Januari, otoritas bandara di Hanoi International Airport sudah memberlakukan cek suhu bagi penumpang yang baru tiba dari Wuhan. Mereka yang kedapatan demam akan diisolasi dan secara ketat dimonitor. 

Pada pertengahan Januari, Wakil Perdana Menteri Vu Duc Dam memerintahkan agar  lembaga-lembaga pemerintah mengambil “langkah drastis”demi mencegah penyebaran dengan memperkuat karantina medis di gerbang perbatasan, bandara dan pelabuhan.

Kecepatan Vietnam, negara dengan pangsa pasar sepeda motor terbesar di dunia ini, merespons pandemi COVID-19 menjadi kunci sukses keberhasilannya. Pencegahan yang dimulai sejak awal Januari itu, jauh lebih dulu dibanding negara-negara lain, banyak membantu negara tersebut mengendalikan penyebaran virus itu.

 

 

Bali? Kembali ke Normal Lama, Bertani

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: PARIWISATA Bali pulih dalam waktu dekat, dengan melakukan standar tatanan kehidupan baru? Mimpi di siang bolong, tegas Nyoman Artha pegiat Koprasi Tani Bali Jagadhita menanggapi wacana membuka kepariwisataan Bali dalam kaidah Bali Next Normal yang digadang- gadang pemerintah dan sejumlah asosiasi.

Argumentasinya, jelas Direktur PT Aroma Wali Dewata Nusantara ini, pariwisata membutuhkan keadaan aman dan nyaman, baik dalam perjalanan dari tempat asal menuju destinasi (Bali) mau pun saat mereka ada di destinasi. Tidak mudah meyakinkan wisatawan untuk merasa aman, nyaman dalam masa pandemi atau pasca pandemi ini.

Nyoman Artha dan jejaring Pasar Rakyat

Dengan ambruknya ekonomi dunia, dampak ikutan pandemik penyakit ( bencana kesehatan) orang akan lebih berfikir pada kebutuhan pokok mereka dan upaya untuk bertahan atau mengubah arah aktivitas mereka untuk bisa survive. Traveling bukanlah kebutuhan pokok, apalagi traveling ke luar daerah atau pun ke luar negeri, kecuali dalam keadaan mendesak, ungkap pemilik usaha berlabel Balizen ini.
Mahalnya biaya perjalanan, akibat pembatasan dan bertambahnya item dokumen, prosedur dalam setiap proses traveling, dengan resiko tetap tinggi tertular virus, diyakini Nyoman Artha mengikis  minat masyarakat melakukan perjalanan jauh.
“Memaksakan diri untuk berfikir dan melakukan usaha- usaha recovery pariwisata dalam waktu dekat ini, sama seperti usaha beruang kutub memaksakan diri untuk berburu pada musim dingin di Kutub Utara. Tenaganya akan habis untuk membawa berat tubuhnya melewati tebalnya salju dan dinginnya cuaca, sementara binatang buruan sangat jarang keluar. Dia akan mati kelaparan dalam waktu singkat, karena tidak dapat buruan, “ paparnya dengan nada prihatin.

Apa sebenarnya yang harus dilakukan Bali untuk bertahan?

“Jaga stabilitas produksi pangan, sehingga kita bisa swasembada pangan, walau tidak harus selalu beras. Jaga distribusi pangan sehingga setiap orang bisa makan, punya atau tidak punya uang. Bangun kembali kegiatan- kegiatan gotong royong dan fokus untuk petani tetap bisa berproduksi dan masyarakat bisa makan,” papar Co- founder jejaring Pasar Rakyat.

Berhenti korupsi, berhenti cari profit hanya untuk diri sendiri saja, kita bekerja hanya untuk bisa bertahan beroprasi serta bertahan makan untuk anggota keluarga. Lakukan trobosan untuk produk- produk turunan, serta bangun asset- asset intangible saat “musim dingin” (darurat pandemik) bagi ekonomi ini, ungkap Artha disela kegiatan menyiapkan paket sayur segar bagi warga Desa Tembok, Buleleng yang “tertahan” di Denpasar, akibat pembatasan pergerakan masyarakat.

Mengakui atau tidak, tradisi pertanian adalah muasal  kepariwisataan Bali,  wisatawan manca negara mau pun domestik ke Bali mencari ketenangan alam. Tatanan hidup harmoni dengan menjalankan konsep berkehidupan Tri Hita Karana dirusak oleh budaya hedonism. Sah dan wajar jika ada tokoh masyarakat di Sanur dalam obrolan ringan di Kebun KalpaTaru mengatakan:

“…Manusia Bali sedang menjalani karma nya; mereka dulu mendapat hadiah pariwisata karena merawat alam yang melahirkan segala budaya yang ada saat ini. Setelah pariwisata besar, mereka kemudian membunuh alam — yang telah memberikan segala kehidupan….”

Menyadari “karma” itu, Nyoman Artha dan jejaringnya (Koprasi Tani Bali Jagadhita, Pasar Rakyat) mempelopori upaya memerdekakan pikiran, selanjutnya mendayagunakan akal untuk berkreatifitas dan mensyukuri hidup.

Nyoman Artha mengingatkan,”jika semua bisa saling bantu dengan “cerdas”, Bali tidak hanya menjalani tatanan kehidupan normal baru. Bali justru kembali ke kejayaan masa lampaunya dalam hal memproduksi  pangan. Jarak orang kerja di kebun itu minimal 5 meter, jadi melebihi syarat yg ditentukan oleh institusi internasional mana pun dan pasti aman, “asal” selalu waspada.

Bali tidak perlu menjalani New Normal, tapi kembali ke normal lama, bertani kekinian dengan kearifan lokal sebagai kunci utama.

Social Distancing Sulitkan Pengusaha Resto & Cafe di Yunani Untuk Bangkit

this formate

Restoran dan Cafe di Yunani buka lebih awal dari jadwal awal Juni 2020. ( Foto: AFP)

ATHENA, Yunani, bisniswisata.co.id:  Restoran dan kafe di Yunani dibuka lebih awal dari jadwalnya pada Senin lalu saat negara tersebut tengah bersiap meluncurkan ‘musim wisata’, momen yang penting bagi perekonomian Yunani.

Namun dengan adanya beberapa aturan, membuka kembali restoran dan kafe di era  New Normal tampaknya menjadi sedikit lebih sulit. Terutama adanya atura jaga jarak ( social distancing) yang membatasi bisnis hingga sekitar 50 persen dari kapasitas yang ada. Penempatan meja juga hanya diperbolehkan bagi yang di luar ruangan saja (outdoor table).

Aturan tersebut membuat para pemilik bisnis mempertanyakan kebijaksanaan dalam membuka bisnis kembali usai lockdown selama lebih dari dua bulan. Kewajiban menjaga jarak antar kursi itulah kesulitan dalam membuka kembali restoran dan kafe disebabkan oleh Jarak minimumnya adalah 70 cm hingga 1,7 meter. Setiap meja juga hanya boleh diisi maksimum enam orang.

“Kami harus disinfeksi semuanya sepanjang waktu. Kami harus mempekerjakan seseorang untuk membersihkan, serta mengawasi pelanggan. Namun kami tidak bisa melakukannya,” kata seorang pemilik kafe bernama Vangelis Daskalopoulos, seperti  dikutip AFP kemarin.

Daskalopoulos mengatakan bahwa mereka tidak tahu bagaimana akan mengelola hal tersebut. Dia khawatir akan virus corona, namun dia harus menjaga agar bisnisnya tetap berjalan. Terlepas dari rasa waswas beberapa orang seperti Daskalopoulos, para pelanggan senang akan kesempatan untuk bersosialisasi lagi di kafe.

Seorang pelanggan bernama Giorgos Karavatsanis menuturkan bahwa dia senang sudah terlepas dari isolasi selama beberapa bulan terakhir. “Saya senang bisa berhubungan kembali dengan teman-teman. Kafe di Yunani memiliki dimensi sosial. Mereka adalah jantung dari distrik,” tutur Karavatsanis.

Meski sudah boleh beroperasi sejak Senin, 25 Mei 2020, tidak semua tempat makan dibuka. Tiga dari sepuluh kafe diperkirakan tetap tutup karena takut akan pertumbuhan bisnis yang lambat.

“Kami sangat gelisah untuk melihat bagaimana  bisnis akan kembali berjalan. Tidak ada yang bisa memprediksi seberapa percaya dirinya para pelanggan untuk kembali ke kafe dan restoran,” tutur Nikos Nifoudis dari Thessaloniki Catering Initiative.

Meski begitu, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan bahwa kesulitan sudah di belakang mereka. “Dari 1.300 kedatangan ke Yunani dari luar negeri beberapa hari terakhir ini, tidak ada kasus virus corona yang terdeteksi,” tutur Mitsotakis kepada stasiun televisi Star.

Namun, dia mengaku bahwa dia khawatir akan dampak krisis terhadap kelas menengah Yunani. Dia memperkirakan bahwa tahun ini resesi akan terjadi antara 5 – 10 persen.

Awalnya, seluruh tempat makan dijadwalkan untuk buka pada 1 Juni 2020. Semakin menurunnya penyebaran virus corona memungkinkan tanggal pembukaan dipercepat.

Sejauh ini, Yunani mencatat kurang dari 180 kematian karena virus corona. Sejak 4 Mei 2020, mereka telah secara progresif membuka bisnis yang berkaitan dengan pariwisata.

Hal itu dilakukan setelah diberlakukannya lockdown pada Maret 2020 guna mencegah kontraksi ekonomi yang bisa mencapai 13 persen dari output tahun ini.

Pada 14 Maret 2020, tepatnya dua hari setelah Yunani mencatat kematian pertama akibat virus corona, restoran-restoran ditutup. Mereka hanya diperbolehkan melayani take-out dan pesan antar.

 

Meski Bisnis Pariwisata Terhenti Sumba Tetap Menyapa Dunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sumba adalah destinasi yang masih perawan & jauh dari keramaian turis. Dalam dua tahun terakhir akomodasi hotel-hotel dengan kualitas yang lebih baik bertambah terus.  Di saat akses dan amenities meningkat, datanglah pandemi global.

Kedatangan Virus COVID-19 di seluruh dunia juga berdampak pada pariwisata Sumba dengan ditutupnya obyek wisata maupun ditundanya Festival Pariwisata yang berlangsung periode Maret-Mei 2020.

Namun industri pariwisata setempat tidak menyerah begitu saja. Melalui forum Kamisan  dengan tema Sumba Menyapa Dunia, Norbeto,  pendiri www.exploresumba.com, mengungkapkan kesiapannya menerapkan New Normal saat pariwisara bangkit kembali.

Acara yang digelar secara daring ini cukup mendapatkan perhatian dari para perwakilan VisitIndonesia Tourism Office ( VITO) di mancanegara serta pelaku wisata lainnya. Kegiatan yang berlangsung dua jam pada Kamis lalu ( 28 Mei 2020) memberikan gambaran keindahan alam dan hospitality.

Setelah COVID-19, banyak orang akan mencari tempat-tempat yang tidak ramai dikunjungi seperti halnya Sumba. Apalagi ada Sumba Hospitality School yang  mempersiapkan Sumba tourism. Tidak hanya sebagai tempat diklat tapi juga menawarkan akomodasi yang bisa dimanfaatkan pengunjung.

Pemerintah daerah juga senang dengan keberadaan Nihiwatu resort yang menjadi hotel terbaik dunia selama  dua tahun berturut-turut. Keberadaan resor ini telah membuat pembangunan infrastruktur meningkat di sana seperti perbaikan jalan sehingga aksesibilitas darat yang lebih baik. Akomodasi di Sumba terbilang lengkap. Mulai dari Rp 200 ribu/malam hingga harga US$ 1000/ malam di Nihiwatu.

Explore Sumba sebagai salah satu tour operator di Sumba adalah usaha tour operator bebas plastik. Untuk supply air minum tamu menggunakan gelas atau botol air alumunium yang bisa dibawa oleh tamu-tamu sebagai suvenir. Jadi tamu-tamu cukup mengisi ulang. 

” Mulaii sekarang kami juga sudah menyiapkan handsanitizer atau sabun antiseptik dengan air mengalir, handuk dingin yang sudah di disinfeksi. Sebagai tour operator kami  sudah merancang protokol baru dalam pengoperasian tour,” kata Norbeto Rodrigue Sanchez dari Explore Sumba.

Pihaknya tengah mempelajari referensi-referensi dari berbagai tour operator yang telah membuat protokol mengantisipasi kenormalan baru ( New Normal) di industri perjalanan. Selain itu juga mengikuti terus aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Protokol kesehatan sesuai rambu-rambu dari Workd Health Organization ( WHO) sudah kami sosialisasikan ke staf, mitra hotel, restoran dan lainnya” tambahnya.

Durasi perjalanan ke Sumba minimal 2 malam. Durasi tersingkat ini bisa dilakukan dengan tinggal di salah satu sisi pulau saja. Di bagian barat suasananya lebih tradisional dan budayanya otentik. Di bagian timur banyak air terjun & tenun ikat. Waktu terbaiknya selama bulan April-November pada saat kemarau.

“Pola perjalanan singkat 3 hari 2 malam bisa dilakukan dengan in-out dari satu bandara. Pola perjalanan panjang bisa dilakukan dengan in-out di 2 bandara berbeda. Pola paling ideal adalah masuk dari Sumba Timur & keluar atau mengakhiri perjalanan di Sumba barat ” paparnya.

Di Sumba Barat sudah banyak hotel di tepi pantai. Perjalanan udara dari Bali baik ke bandara di Sumba barat & Sumba Timur wakrunya selama satu jam. Selain itu untuk perjalanan lompat pulau di NTT bisa dilakukan dari Ende di Pulau Flores, dari Kupang di Pulau Timor dengan durasi penerbangan yg tidak lama.

“Sampai saat ini, wisatawan dari Belanda & Perancis merupakan pasar utama pariwisata Sumba. Selain itu wisatawan dari Spanyol & Italia,” kata Norbeto.

Sumba merupakan salah satu pilihan terbaik, jadi ini juga menjadi salah satu poin yang akan membuat pulau ini lebih mudah untuk dipromosikan & dijual. Banyak orang yang tidak tahu Sumba memiliki apapun yang dicari oleh wisatawan,mulai dari pantai landai berpasir putih, ombak-ombak untuk surfing, trekking, air terjun dan budaya. 

Pulau ini betul-betul surga bagi mereka yang mencari ketenangan. Ada banyak desa-desa adat yang bisa dikunjungi di Sumba. Mengunjungi desa adat bukan sekadar untuk memotret selfie untuk media sosial , tapi juga tentang mengenal dan berinteraksi dengan warga asli Pulau Sumba.