Minim Kontak, Keharusan di Era Adaptasi Kehidupan Baru

this formate

Teknologi contacless menjadi penting di era pandemi (foto: skift)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 melahirkan kebiasaan baru. Saat kelak orang kembali bepergian, mereka dipastikan akan mempertahankan perilaku hidup bersih, termasuk mengurangi sentuhan baik ke sesama maupun benda-benda di sekitar. Adaptasi perilaku baru ini mulai direspons sejumlah perusahaan penyedia jasa teknologi.

Mereka bahkan berharap para pelaku bisnis di industri perjalanan dan pariwisata segera membeli perangkat digital yang memungkinkan terjadinya sentuhan seminimal mungkin.  Industri perjalanan, misalnya, sangat berkepentingan karena mereka ingin para pelancong yang kini cenderung rewel soal kebersihan dan kesehatan ini perlu diyakinkan. Sayangnya, saat ini banyak perusahaan yang terpukul akibat pandemi Covid-19 sehingga sulit untuk berinvestasi dalam proyek teknologi. 

Skift.com melakukan studi lebih jauh tentang bagaimana hotel, bandara, perusahaan penerbangan, dan para manajer perjalanan perusahaan mengadopsi keadaan dengan memanfaatkan teknologi yang memungkinkan contactless terjadi. 

“Jangka pendek, teknologi contactless memberi jaminan pada pelanggan. Selain itu, ia juga memberi solusi bagaimana mengurangi biaya,” kata Katherine Grass, CEO perusahaan teknologi perjalanan Optii dan mitra usaha di Thayer Ventures.

Dia menambahkan jika sebuah hotel kembali buka dengan tingkat hunian rendah, maka upaya membangun pengalaman contactless dapat mengurangi biaya.Teknologi dapat menggantikan upah tenaga kerja.

Data dari perusahaan konsultan McKinsey menunjukkan konsumen akan dengan sendirinya merangkul inovasi teknologi tanpa kontak. Sebagian bahkan sudah memiliki preferensi untuk memilih merek yang menunjukkan upaya disinfeksi paling jelas.

“Ini merupakan tipe baru pelancong yang sangat sadar kesehatan,” kata Menteri Pariwisata Jamaika Edmund Bartlett.

Sejumlah pekerja hotel juga menginginkan perlu upaya mengurangi seringnya mereka menyentuh permukaan yang sama yang kerap disentuh baik oleh rekan sekerja maupun para tamu.

Beberapa perusahaan bisa mencoba teknologi biometrik, seperti pengenalan wajah, atau mengganti sistem lama dengan mengenalkan teknologi sensor pada barang-barang yang sering disentuh. Atau menghapus prosedur dimana seorang pekerja harus menyentuh puluhan kartu kredit sepanjang hari yang sibuk.

Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat di situsnya menyebut bahwa penularan virus kemungkinan besar dapat terjadi jika seseorang menghirup langsung virus dari orang yang terinfeksi saat mereka bersin, batuk, berbicara, atau bernyanyi. 

Teori yang menyebut bahwa permukaan dapat menjadi media penularan, tidak terlalu populer. Itu sebabnya penerapan teknologi contactless lebih dirancang untuk mengurangi interaksi langsung orang per orang, seperti antara resepsionis hotel dengan para tamu. Sistem ini sekaligus dapat meningkatkan efisiensi.

Hotel L’hotel Island South di Hong Kong telah mengganti staf dengan robot untuk menyajikan makanan dan minuman bagi para tamu yang menjalani karantina. Para tamu hanya perlu menyentuh keypad robot untuk dapat menerima makanan.

Airlines dan Bandara

Bandara dan maskapai penerbangan terus berupaya menciptakan keadaan aman bagi para traveller. Pekerja call center yang dirumahkan belum akan kembali bekerja hingga pandemi mereda.

Pembuat perangkat lunak Automation Anywhere berhasil menciptakan software berbasis robot yang memungkikan informasi tiket para pelanggan diekstrak, membuka sistem perusahaan penerbangan, dan menerbitkan voucher untuk rencana perjalanan berikut. Proses tanpa kontak ini memotong waktu dan dana.

Banyak penyedia teknologi menawarkan solusi yang relevan. Salah satunya, Amadeus. Mereka membuat teknologi yang memungkinan wisatawan melakukan pembayaran di bandara tanpa kontak seperti biaya bagasi check-in menit terakhir. Lufthansa merupakan salah satu maskapai yang telah meluncurkan Amadeus Airport Pay.

Sementra itu OTG, pengelola 300 restoran dan toko di 10 bandara telah memasang perangkat otomatisasi Just Walk Out untuk mengurangi interaksi langsung.

Seluruh proses menjalani kehidupan norma baru, termasuk meminimalisir kontak, harus kita lakoni. Pasti tidak mudah. Tetapi penting bagi masyarakat untuk beradaptasi demi menjaga kesehatan.

 

 

 

Tarik Ulur PSBB dan Wisdom

this formate

Rencana pemerintah untuk mengizinkan kembali beroperasinya mal dan tempat pariwisata di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang belum menurun saat  ini dinilai sangat riskan.

Namun di satu sisi tuntutan agar tidak ada lagi perpanjangan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta yang akan berakhir hari ini 4 Juni 2020 juga menimbulkan pro-kontra.

Hilda Ansariah Sabri

Pembukaan mal dan tempat pariwisata akan memicu kerumunan orang dan bertentangan dengan prinsip aturan PSBB. Selain itu, kerumunan juga berisiko mengabaikan unsur physical distancing yang tertuang dalam protokol kesehatan.

Apalagi, masyarakat sampai saat ini belum kooperatif dalam mengikuti aturan pemerintah untuk melaksanakan protokol kesehatan dalam berbagai aktivitas selama pandemi berlangsung.

Hal ini berkaca pada insiden di Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor, Jawa Barat, hari Minggu, 31 Mei lalu yang dipenuhi pengunjung mendirikan tenda dan menjadi viral karena di tengah pemberlakuan PSBB.

Berkumpul di alam terbuka bak negri di atas awan membuat para pengunjung bukit itu melupakan segala bentuk aturan untuk melindungi diri mereka sendiri akibat penyebaran masif virus COVID-19 yang sudah menjangkit 216 negara di dunia. 

Gagalnya aturan larangan mudik yang tidak dipatuhi sehingga ditengarai 1,6 juta orang berhasil mudik pada Lebaran lalu juga berdampak pada daerah yang menjadi tujuan mudik. Insiden lainnya, masyarakat juga belum lupa pada penumpukan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang terjadi pada 14 Mei 2020 lalu.

Saat itu beredar viral foto antrian calon penumpang pesawat yang sama sekali tidak menerapkan physical distancing. Padahal bandara bagian dari tempat keramaian orang. kerumunan selain mengabaikan protokol kesehatan bisa memperparah pandemi ini.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta akan berakhir hari ini 4 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum memutuskan apa PSBB akan diperpanjang atau ini menjadi yang terakhir.

Hingga saat ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menetapkan kebijakan terbaru terkait PSBB. Dijadwalkan hari ini pengumuman akan dilakukan langsung oleh Anies.

PSBB pertama kali dijalankan pada 10 April sampai 24 April 2020 lalu. Anies kemudian memperpanjang PSBB dari 24 April sampai 7 Mei dan diperpanjang lagi hingga 22 Mei. Terakhir, Anies memperpanjang PSBB hingga 4 Juni.

Kebijakan Anies memperpanjang PSBB tersebut tak terlepas dari angka reproduksi Corona yang masih tinggi. Oleh karena itu jika belakangan ini gaung kenormalan baru ( New Normal ) sudah semakin gencar, maka harus hati-hati karena faktanya kasus COVID-19 belum menurun., 

Masalah pro-kontra PSBB menjadi topik yang hangat dikalangan masyarakat maupun dalam seminar/ diskusi daring ( webinar) selama kebijakan bekerja, belajar dan beribadah di rumah diterapkan oleh banyak negara termasuk di Indonesia.

PSBB membuat perekonomian anjlok, , larangan dan penutupan perbatasan di banyak negara membuat industri travel & tourism secara global mati suri. Boleh dibilang banyak yang berharap bulan Juni ini bisa terjadi pelonggaran di berbagai bidang.

Berandai-andai memang sah-sah saja, itulah yang dilakukan Anton Thedy, Founder TX Travel dan wholeseller travel pertama di Indonesia ketika pekan lalu menjadikan Sjachrul Firdaus, Direktur Eksekutif ASTINDO sebagai nara sumbernya dalam bincang ke 224 Live Insta Story di instagram @resellertravel.

Tanpa perlu menunggu keputusan Gubernur DKI Anies Bawesdan soal PSBB akan diperpanjang hari ini, penilaian pribadi kedua tokoh pariwisata ini mengacu pada perilaku masyarakat yang sampai saat ini belum kooperatif dalam mengikuti aturan pemerintah.

” PSBB kalau menurut saya pribadi tidak perlu di perpanjang soalnya masyarakatnya unik. Pengawasan ketat di lapangan mungkin lebih ampuh,” kata Sjachrul Firdaus.

Sedangkan Anton menilai tingkat resiko kematian manusia dan ekonomi kini lebih rentan di bidang ekonomi karena dunia usaha sudah tidak tahu lagi cara bertahan hingga 6 bulan ke depan.

” Banyak teman meyakini bulan Juni ini usahanya sudah bisa mulai beroperasi lagi. Tapi pertanyaannya apakah konsumennya ada ? ,” 

Sjachrul mengatakan masyarakat Indonesia itu unik dan keluar dari segala macam teori. Bahkan dengan bangsa serumpun yaitu negara tetangga seperti Brunei, Singapura, Malaysia tetap saja ada keunikannya sendiri terutama dalam hal nekad.

“Biar pendidikannya tinggi yang diikuti adalah maunya sendiri saja. Kasus 14 Mei 2020 di bandara saya tidak kaget karena hasil survei yang kami buat memang menunjukkan karakter itu,” kata Sjachrul.

Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia ( ASTINDO) belum lama ini membuat survei dengan melibatkan para pelanggan dari perusahaan travel anggotanya di 21 provinsi melibatkan 264 responden.

Pertanyaan:  Apabila pandemik dinyatakan selesai, apakah Anda langsung melakukan perjalanan ? jawabannya : 14,6 % langsung pergi, 48% menunggu 1-2 bulan, 26 persen baru memutuskan setelah 6 bln dan 12% berani melakukan perjalan setelah setahun.

Nah kasus 14 Mei 2020 dan perkiraan ada 1,6 juta orang yang lolos mudik Lebaran 24 Mei lalu itu golongan yang langsung pergi ( 14,6%),” ungkap Sjachrul Firdaus.

Pertanyaan lain seperti jika pergi berwisata tujuannya kemana ? maka jawabannya 58 % domestik dan 42% Asean. Sedangkan soal tujuan perjalanan setelah pandemi berakhir maka jawabannya 76% untuk berlibur, 11% perjalanan dinas sisanya lain-lain.

Setelah aktivitas dilakukan di rumah saja sedikitnya selama tiga bulan terakhir, berwisata yang telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia memang jadi keinginan teratas. Uniknya, tambah Sjachrul, golongan kelasnya baik miskin,  menengah maupun atas dari masyarakat sudah punya rutinitas berwisata.

” Jadi meski taraf hidupnya heterogen tapi ada segmen-segmen untuk berbagai tipe jenis dan paket wisata yang menjadi pilihan masyarakat sehingga jangan khawatir di Indonesia peluang mengembangkan industri wisata selalu ada,”.

Selain ada sifat nekad, masyarakat Indonesia juga latah. Ibarat  fashion jika ada mode yang trend langsung mengikuti dan boom. Itu sebabnya begitu PSBB berakhir dan ada kelonggaran Sjachrul yakin wisata jadi trend lagi.

Apalagi jika penerbangan kembali normal dan aktivitas bekerja, belajar dan beribadah jadi longgar maka bisa-bisa  48% responden yang baru mau melakukan perjalanan 1- 2 bulan setelah pandemi berakhir justru langsung pergi staycation atau sudah jadi turis domestik mengikuti kelompok 14,6% di dorong sikap latah,” tambahnya.

Anton juga berandai-andai jika sebelum kenaikan harga tiket ada lebih dari 80 jutaan pengguna pesawat terbang di Indonesia maka untuk menggerakkan wisata domestik ( Wisdom) pemerintah RI patut mencontoh kebijakan Jepang.

Pemerintah Jepang alokasikan dana triliunan untuk mensubsidi 50% biaya perjalanan turis ke Jepang setelah  Juli ini. Namun belakangan diralat bahwa subsidi ditujukan untuk warga Jepang agar melakukan wisata domestik bukan pelancong asing.

” Kalau industri travel & tourism di Indonesia kompak bikin satu juta paket wisata domestik di dukung pemerintah maka roda perekonomian akan bergerak,” kata Anton.

Memang riset menunjukkan wisata domestik akan menjadi andalan dengan melihat daerah tujuan wisata yang siap menerapkan kenormalan baru ( New Normal). Namun pemicu untuk menggerakan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara atau wisatawan domestik seperti tahun lalu memang harus dipelopori pemerintah.

Pemerintah dan swasta harus kompak dan yakin bahwa sektor pariwisata bisa jadi andalan membangkitkan  perekonomian bangsa dengan multiplier effect yang luas.

Kalau selama ini di lingkungan dunia usaha urusan kompak masih jauh panggang dari api alias sulit untuk kompak,  apa setelah menghadapi musuh bersama bernama COVID-19 masih sulit ?. Wallahu A’lam Bishawab,  Allah lebih tahu  atau  Allah Yang Maha Mengetahui.

 

QRIS, Digitalisasi “Cemumuah” bagi Kepariwisataan “New Normal”

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Digitalisasi transaksi yang bersifat contactless menjadi keharusan dan salah satu unsur penting dalam mendukung industri pariwisata di tatanan kehidupan baru. Implementasi digitalisasi transaksi tidak hanya terbatas pada industri pariwisata — obyek wisata, hotel dan restaurant– juga industri pendukungnya, seperti transportasi, pusat perbelanjaan hingga rumah sakit. 

Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran, merespon pergeseran kebutuhan industri niaga sebagai salah satu dampak pandemi COVID-19. Bank Indonesia senantiasa berupaya, menjadikan sistem pembayaran yang efisien, efektif, mengacu pada prinsip utama kebijakan sistem pembayaran yaitu cepat, mudah, murah, aman dan handal serta bertitik tolak pada aspek higienitas dalam bertransaksi.

Untuk itu, Bank Indonesia menawarkan system QRIS dalam transaksi non tunai berbasis digital, selain cepat, mudah, murah, aman dan handal (cemumuah). Diharapkan mampu mendukung kesiapan pariwisata di era tatanan kehidupan baru (new normal) yang mengacu pada protokol cleanliness, healthy, dan safety. Demikian dipaparkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali, Trisno Nugroho pagi ini dalam webinar bertajuk What Can Bali’s Tourism Do with Digital Payment in the New Normal Era?

“Sejak tahun 2019, BI mengeluarkan standarisasi QR Code atau QR Code Indonesian Standard (QRIS), standar instrument pembayaran berbasis digital dan bersifat contactless,” tegas Trisno.

Tercatat, sampai akhir Mei 2020, telah disetujui sebanyak 36 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang dapat melaksanakan transaksi QRIS. Pengguna QRIS per Mei 2020 telah mencapai 89,950 merchant atau meningkat sebesar 253% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2019 yang tercatat sebanyak 25.483 merchant. Peningkatan ini diatas rata-rata peningkatan nasional sebesar 99%.

Baca juga: COVID- 19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

Selama pendemi COVID-19, — 6 Maret hingga 29 Mei –, penambahan merchant QRIS di Bali sebanyak 24.002 merchant atau 26,7% dari total merchant yang ada. Peluang penggunaan  QRIS makin terbuka dengan bertumbuhnya industri kecil sebagai jawaban atas kondisi ekonomi dalam masa darurat pandemi COVID-19.

Direkomendasi IINTOA

Penggunaa QRIS dalam transaksi jasa kepariwisataan mendapat tanggapan positif anggota Indonesia Inbound Tour Operator Association (IINTOA).  Menurut anggota IINTOA, Ng Bastian mau pun Barbara Purwa QRIS layak direkomendasikan digunakan disetiap DTW, objek kunjungan, selain memudahkan bagi BPW, sekaligus mendukung pelaksanaan protokol kesehatan pengendali COVID-19.

 “Saat daya tarik wisata sudah dibuka, seharusnya sudah tidak ada lagi karcis. Semuanya sudah cashless dan paperless. Siapkah semua DTW dengan itu? Sudah saatnya ASITA mau pun IINTOA, mendorong pemerintah daerah untuk segera merealisasi penggunaan QRIS disemua lini jasa pariwisata, ” ungkap Ng Bastian

Baca juga: Stay at Home Economy”, Kekinian ataukah Model Bisnis Masa Depan?

Dengan system QRIS ini, BPW cukup membekali guide dengan kartu (pilihan masing- masing perusahaan), untuk reporting, pihak perusahaan hanya perlu melihat history payment yang dilakukan. Tinggal disesuaikan saja dengan pasar, seperti RRT kan pakainya Alipay, pasar Asia lebih mengenal Jenius, imbuh Barbara Purwa.

Sektor pariwisata, memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Bali. Pada tahun 2019, total devisa dari pariwisata Bali mencapai USD 9,346 juta atau setara dengan 53,65% PDRB Bali dan 55,26% devisa kepariwisataan nasional. Di tahun 2020, dengan diberlakukannya pembatasan aktivitas sosial melalui penutupan bandara dan pelabuhan, berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor pariwisata. Pariwisata Bali menurun 42,26% (yoy) pada periode Januari – April 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Selama pandemi COVID-19 realisasi penarikan tunai masyarakat di wilayah Provinsi Bali mengalami penurunan sebesar Rp 1,392 miyar atau hanya 46,7% dari  jumlah yang diproyeksikan sebesar Rp2,981 milyar. Sebaliknya, pada bulan Maret 2020 transaksi non tunai yang bersifat contactless (mobile banking, internet banking, e-money server based & QRIS) meningkat hingga 2,2 juta transaksi (20,83%/ mtm) dibandingkan bulan Februari 2020. Dari sisi nominal meningkat dari Rp17,84 triliun menjadi Rp18,92 triliun atau meningkat sebesar 6,03% (mtm). Data ini menjadi bukti, terjadi pergeseran pola bertransaksi di masyarakat dari tunai menjadi secara non tunai.

Webinar ini menampilkan nara sumber Prof. Dr. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Wakil Gubernur Provinsi Bali sekaligus Ketua PHRI Bali, Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur Bank Indonesia-Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, I Ketut Alam Wangsawijaya (Executive Vice President of BCA), dan Vincent Iswara, CEO Dana. ***

Repatriasi Warga Ukrania, Layanan Bandara Ngurah Rai Turun 93,33 Persen

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Lebih dari 170 orang warga Ukrania masih berada di Bali dan menunggu kemungkinan mendatangkan pesawat repatriasi. Bulan Mei, pemerintah Ukrania sudah menyelenggarakan penerbangan khusus dengan mengangkut sebanyak 174 warga Ukraina, 3 warga Rusia, 2 warga Moldova dan 1 warga  Kazakhtan. Pesawat repatriasi Ukraine International Airlines, pada 19 Mei meninggalkan bandara Ngurah Rai dengan 180 orang penumpang 18 orang crew, jelas kandidat Konsul Kehormatan Ukrania di Bali, Nyoman Astama.

Sampai saat ini otorita jasa angkutan udara di Indonesia belum membuka layanan penerbangan regular internasional. Keputusan pembatasan jasa angkutan udara diberlakukan sejak ditetapkannya Indonesia sebagai kawasan pandemik COVID-19.

@BPS Bali

Sementara BPS Bali mencatat jumlah penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada bulan April 2020 turun sedalam 93,33 persen, dari 1.769 penerbangan pada bulan Maret 2020 menjadi 118 penerbangan pada bulan April 2020. Dari sepuluh negara tujuan utama penerbangan internasional, hampir seluruhnya tercatat menurun, penurunan terdalam Australia (96,21 persen).

Turunnya jumlah penerbangan internasional diikuti oleh turunnya jumlah penumpang penerbangan internasional sedalam 97,48 persen (m-t-m), yaitu dari 275.427 orang di bulan Maret 2020, menjadi 6.939 orang di bulan April 2020. Dari 10 tujuan utama penumpang penerbangan internasional, seluruhnya mengalami penurunan, dengan penurunan terdalam tercatat pada arus kunjungan Australia (99,56 persen).  Begitu juga dengan jumlah  bagasi dan barang penerbangan internasional yang juga menurun sedalam -91,05 persen (m-t-m), yaitu dari 7,52 juta ton di bulan Maret 2020 menjadi 673 ribu ton di bulan April 2020.

Jika dibandingkan dengan bulan April 2019 (y-o-y), jumlah penerbangan internasional di bulan April 2020 juga tercatat turun 96,00 persen, dengan penurunan terdalam tercatat pada tujuan Tiongkok (99,11 persen).

Sementara jumlah penerbangan domestik di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 830 penerbangan, turun 70,86 persen dibandingkan bulan Maret 2020 (m-t-m) sebanyak 2.848 penerbangan. Dari sepuluh daerah tujuan utama penerbangan domestik, sembilan daerah tujuan menurun dengan penurunan terdalam tercatat pada tujuan Jkt/Soekarno-Hatta sedalam 77,40 persen.

TPK Hanya 3,22 Persen

Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) langsung ke Bali pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 327 kunjungan. Jumlah tersebut turun 99,79 persen dibandingkan dengan catatan bulan Maret 2020 (m to m) sebesar 156.877 kunjungan. Bila dibandingkan dengan bulan April 2019 (y on y) jumlah kedatangan turun 99,93 persen, pada April 2019, sebanyak 477.069 penumpang.

Wisatawan yang berkunjung ke Bali dominan datang melalui bandara, sebanyak 273 penumpang (83,49 persen). Melalui pelabuhan laut pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 54 penumpang (16,51 persen).

Kedatangan bulan April 2020 (273 penumpang) sebanyak 16,21 persen berkebangsaan Indonesia, Filipina (16,21 persen), Tiongkok (12,23 persen), India (10,40 persen), dan Rusia (8,56 persen).

@BPS Bali

Penurunan kedatangan wisatawan ke Bali mempengaruhi tingkat hunian hotel (TPK), pada bulan April 2020 TPK hotel berbintang di Bali secara umum menunjukkan penurunan dibandingkan bulan Maret 2020. Angka TPK hotel berbintang tercatat sebesar 3,22 persen, turun sedalam 22,19 poin dibandingkan TPK pada bulan Maret 2020 (m to m) yang mencapai 25,41 persen. Jika dibandingkan bulan April 2019 (y on y) yang mencapai 60,33 persen, tingkat penghunian kamar di bulan April 2020, tercatat turun sedalam 57,11 poin.

@BPS Bali

Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Bali bulan April 2020 selama 2,49 hari, turun 0,31 poin dibandingkan Maret 2020 (m to m) selama 2,80 hari. Jika dibandingkan dengan bulan April 2019 (y on y) yang tercatat selama 2,77 hari, rata-rata lama menginap April 2020 turun sedalam 0,28 poin. ***

Ketika Halusinasi Tak Mampu Menghalau Rindu Berwisata di Bukit Alas Bandawasa

this formate

Kondisi Bukit Alas Bandawasa di saat normal  untuk menikmati munculnya matahari pagi ( atas) dan kondisi saat viral ( Foto: Google)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Beredar foto di Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor, Jawa Barat, yang dipenuhi pengunjung ramai-ramai  mendirikan tenda dan menjadi viral karena di tengah pemberlakuan PSBB.

PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dibuat untuk mencegah penyebaran virus ke berbagai daerah dan jaga jarak ( social distancing) adalah salah satu aturannya.

Seluruh dunia tengah terjangkit dengan pandemi global virus Corona yang mematikan sehingga kegiatan kemah massal yang terjadi di kawasan Bukit Alas Bandawasa pada akhir Mei 2020 itu memang ” melukai” sebagian masyarakat lainnya yang patuh pada aturan pemerintah.

Chalimatus, misalnya, paramedis sebuah RS di Bekasi mengatakan sudah melihat berita viral Minggu 31 Mei itu dan sangat menyayangkan generasi milenial malah kurang memahami peraturan PSBB.

” Paramedis di garis depan mirislah lihatnya karena kami ini yang menghadapi pasien langsung. Tiga bulan lalu saat kita mulai bekerja, belajar dan beribadah dari rumah harapannya semua bisa cepat berakhir. Tapi karena banyak yang tidak patuh akhirnya jumlah korban tiap hari terus meningkat,” ujar wanita yang disapa Atus ini.

Cerita tenaga perawat yang diusir seketika  dari tempat kost sepulang bertugas karena pemilik rumah takut tertular COVID-19 hanya satu dari sekian perlakuan masyarakat pada paramedis yang tidak pernah dilupakannya.

Beruntung saat ini paramedis tidak perlu pulang kerumah karena bisa ditampung oleh Kemenparekraf di hotel-hotel sehingga juga bisa mengamankan keluarganya sendiri. Jangan ditanya rasa rindu dan kebutuhan lainnya untuk berkumpul dengan keluarga.

“Tidak patuh aturan malah berpotensi menjadi pembawa virus sungguh resiko besar, semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang ketika itu berada di area ” tambah Atus.

Hasan Prayogo, pengusaha pariwisata di Yogyakarta termasuk yang sangat sedih melihat warga masyarakat yang tidak mau taat dengan aturan yang justru untuk melindungi diri mereka sendiri.

Pemilik Omah Kecebong ini menyatakan sikap masyarakat yang terus berkeliaran akan membuat kondisi pandemi menjadi lebih lama dan  sulit untuk bangkit segera. ” Kita semua tahu, semakin lama pandemi berlangsung, kehidupan ekonomi, sosial dan lainnya akan semakin terpuruk,” ungkapnya.

Menurut dia, tindakan tegas untuk kebaikan dan masa depan lebih baik memang harus diterapkan karena tidak semua anak bangsa memiliki pendidikan dan pandangan yang sama.

” Pandemi global ini semua  adalah dari Allah. Corona juga diciptakan oleh Allah SWT untuk kita hidup lebih baik dan menjadi bijak sehingga menjadi ladang amal kita. Mau berkorban  membantu sesama untuk segera selesai wabah ini adalah yang utama,” ujarnya.

Heryus Saputro Samhudi, pemerhati masalah-masalah sosial-budaya, pariwisata dan lingkungan hidup mengungkapkan kekecewaannya atas peristiwa Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor,

“Saat ini ramai dibahas New Normal atau kenormalan baru tapi  bukan berarti bebas berkeliaran. Bukan bebas keluar rumah tanpa jaga jarak, jaga kesehatan dan tanpa perduli kebersihan ” ujarnya. 

Menurut Heryus, negara-negara Eropa dengan adanya New Normal maka warganya taat  dan menjaga nyawa mereka sendiri. Kita bisa menyaksikan bagaimana Thailand, negara tetangga yang selalu dipenuhi wisatawan mancanegara tidak mau buru-buru buka pintu untuk turis asing, kata Heryus.

” Kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat Thailand membuat video pembelajaran  hidup di era New Normal. Ini upaya sesama warga untuk mencegah penyebaran virus bersama tanpa harus menunggu inisiatip pemerintah,”

Seharusnya warga Indonesia bisa belajar dari pemberitaan dan tayangan di seluruh dunia yang  terjadi dan bagaimana Korea Selatan yang sudah melakukan pelonggaran akhirnya kembali lockdown, karena adanya kasus-kasus baru.

Dia memahami setelah tiga bulan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, tidak bisa pulang kampung berlebaran dan silaturahmi dengan keluarga membuat kerinduan banyak orang untuk keluar rumah guna berwisata.

Namun disaat pandemi masih mengganas seharusnya mampu menahan diri dengan cukup memposting pengalaman wisata tanpa harus melakukan secara langsung. Data COVID per 3 Juni 2020 untuk Global sudah 216 negara, terkonfirmasi sebanyak 6.242.974 orang, meninggal dunia 378.485. Di Indonesia, positif 28.233 orang, sembuh 8.406, meninggal 1.698.

Heryus yang gemar menjelajah ini mengatakan bahwa Bukit Alas Bandawasa selain obyek yang belum berizin juga lokasinya andtidak jauh dari Ibukota Jakarta. Tidak lebih dari 3 jam sudah bisa sampai lokasi yang sejak Januari 2020 menjadi perbincangan karena mirip negri diatas awan, Banten yang juga sempat viral.

Umummya wisatawan yang datang kebanyakan untuk menikmati pesona hamparan awan dari atas gunung. Seakan sedang berada di atas awan sehingga menjadi magnet untuk datang langsung ke lokasi. 

Dari atas bukit ini pengunjung dapat menyaksikan indahnya kota Bogor dalam sekali pandang. Kawasan bukit yang dikelola langsung oleh para pemuda setempat ini fasilitas yang tersedia sudah lumayan seperti toilet, kantin, parkir, area camping, mushola hingga berbagai spot foto lainnya.

Nah area camping salah satu fasilitas yang viral hingga akhirnya ditutup aparat setempat memang terbuka dan menjadi tempat yang perfecto alias sempurna untuk menyaksikan keindahan matahari terbit di pagi hari.

Selain menikmati matahari terbit, saat malam hari melihat gemerlapnya kota Bogor memang membuat malam menjadi romantis, apalagi sambil ditemani secangkir kopi hangat. Tempat yang cocok bagi mereka yang butuh inspirasi untuk berbagai proyek di kepala.

” Memang tempat ideal dan betah berlama-lama, namun kita atasi dulu bersama pandemi global ini. Ingat slogan dunia juga dirumah saja,  #Travel Tomorrow,” tegasnya.

Jadi tak usah malu untuk halu, bahasa gaul terkini yang sering disebut anak muda dan  berasal dari kata halusinasi. Artinya menghayal atau berhayal. Halu berwisata kemana saja sah-sah saja kok, tapi tunggu pandemi global hilang dulu ya dan jangan jadi pembawa virus ya..

Siasat Pengusaha Restoran di Jepang Bertahan Saat Wabah Corona

this formate

Food truck pizza Bakka di Jepang (foto: Nikkei Asian Review)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Ide kreatif kerap muncul saat kita menghadapai kesulitan. Demikianlah yang terjadi di Jepang. Sejak pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown nasional, banyak kafe dan restoran tutup.

Para pengelolanya kemudian mencari peruntungan dengan berpaling ke bisnis food truck. Hasilnya, cukup menjanjikan. Sebagian bahkan bertekad untuk melanjutkan usaha ini meski pandemi Covid-19 telah berakhir.

Di sebuah jalan perumahan yang sepi di Tokyo, aroma lezat menyeruak dari sebuah food truck khusus pizza, Bakka. Kudapan khas Italia ini diolah mendadak, dimasak dalam oven batu bata yang diletakkan persis di belakang truck.

Menu utamanya : margherita pizza dan four-cheese pizza yang dibandrol masing-masing 1,050 yen (sekita Rp 140.000) dan 1,000 yen (Rp 130.000). Food Truck Bakka dikelola Restoran Bakka M’unica yang sejak April lalu tutup. Penjualan turun hingga 50%. Ini dampak dari kebijakan Pemerintah Jepang yang memberlakukan lockdown nasional.

Namun, justru di tengah kesulitan itulah, Bakka Food Truck mewujud. Di tengah wabah pandemi, pemiliknya, Yutaka Hazama, 35, menawarkan layanan baru berupa reservasi bagi pelanggan yang berminat mengundang Bakka membuka restoran food truck di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Mendengar (permintaan) pelanggan, sungguh menggembirakan,” kata Yutaka. Saya ingin terus melanjutkan ini, meski (wabah) virus corona berakhir.”

Seorang perempuan beserta tiga anaknya datang memesan.”Sejak kita semua terkurung, aku ingin kita semua dapat menikmati makan bersama di rumah,” katanya sambil tersenyum, seperti dilansir Nikkei Asian Review.

Sementara itu di dekat Yokohama, 18 pengusaha restoran yang ada di distrik Chinatown, mulai membuka layanan drive-thru bersama. Pelanggan dapat memesan makanan terlebih dahulu lalu mengambilnya di lahan parkir terdekat tanpa harus keluar dari mobil.

Di antara pengusaha itu ada Takeshi Tsuruako, pemilik Restoran Kitcho Kanton. Dia mengeluh penjualan turun 90% sejak wabah corona.

“Saya sudah bekerja di jalan ini selama lebih dari 40 tahun, dan kini segalanya nampak lebih buruk, bahkan dibandingan saat Lehman shock,” keluh pria berusia 74 tahun, yang merujuk pada kebangrkutan Lehman Brothers yang memicu krisis ekonomi global pada 2008.

Layanan drive-thru ini menguntungkan Tsuruako karena Kitcho Kanton berlokasi dekat dengan parkiran. Hal itu memungkinan pihaknya mengantar makanan sesegera mungkin setelah selesai dimasak, imbuhnya.

“Saya datang untuk mendukung bisnis lokal,” kata seorang pelanggan yang mampir ke kedai drive-thru itu. “Saya pasti akan datang lagi.”

 

Giliran Para Pegiat Event Peroleh Pelatihan Untuk Tingkatkan Keahlian

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Para pegiat event  di berbagai daerah mendapatkan pelatihan daring atau Webinar bagi Event Management di 11 daerah untuk meningkatkan kemampuan dan skill pekerja yang terdampak COVID-19.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani saat pembukaan Webinar Event Management, menjelaskan saat ini banyak event yang ditunda bahkan dibatalkan sehingga berpengaruh terhadap kegiatan para pegiat event di seluruh Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, Kemenparekraf berkolaborasi dengan penyelenggara event untuk menghasilkan suatu kegiatan yang potensial menarik minat wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus).

“Pada 2020 untuk pertama kalinya kami berinisasi bersama Ivendo dan Backstagers sebagai Asosiasi serta Komunitas Events di Indonesia menyelenggarakan pelatihan secara online atau webinar dengan lingkup nasional di 11 daerah dan diikuti 1800 peserta,” kata Rizki Handayani, hari ini.

Rizki menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang event dan juga untuk saling sharing pengalaman dari para praktisi event.

“Kami yakin teman-teman semua di lapangan mempunyai hal-hal menarik untuk dikomunikasikan. Sehingga bisa menguatkan satu sama lain, dengan harapan agar pandemi ini segera berlalu dan kita semua dapat segera berkarya dan berkreasi lagi di lapangan,” katanya.

Dia berharap kegiatan event di Indonesia dapat bergairah kembali untuk meningkatkan sektor pariwisata. “Saya harap teman-teman tetap bersemangat dan jangan lupa tetap mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker, dan satu lagi kita harus jaga Indonesia dan bangga buatan Indonesia,” katanya.

Kegiatan Webinar Event Management ini akan resmi dibuka pada 3-5 Juni di Jakarta, kemudian berlanjut ke Jawa Barat 15-17 Juni, Kepri 24-26 Juni, Bali 8-10 Juli, Sumatera Utara 24-9 Juli, Jawa Tengah 28-30 Juli, Jawa Timur 5-7 Agustus, Yogyakarta 12-14 Agustus, Nusa Tenggara Barat 24-26 Agustus, Sulawesi Selatan 26-28 Agustus, dan Sumatera Barat 2-4 September 2020.

Potensi Kerugian Industri MICE Hampir Rp7 Triliun, Kemenparekraf Usul Beralih ke Online

this formate

Persiapan sebuah ruang seminar di hotel. Akibat COVID-19 banyak kegiatan MICE tertunda ( foto: www.eventorganizer.co.id)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bisnis meeting, incentive travel, conference, exhibition (MICE) termasuk dalam sektor yang sangat terdampak pandemi virus korona. Banyak penyelenggaraan acara di berbagai negara terpaksa ditunda bahkan dibatalkan karena COVID-19. 

Kemenparekraf mengutip Indonesia Event Industry Council (Ivendo) mencatat, potensi kerugian sektor MICE akibat pandemi Covid-19 berkisar Rp2,69 triliun – Rp 6,94 triliun. Pasalnya, sekitar 96,43 persen acara di 17 provinsi harus ditunda, dan 84,20 persen lainnya dibatalkan. Dampak selain rupiah ialah keberadaan lebih dari 90.000 pekerja industri kreatif yang ikut terimbas. 

Dengan adanya pandemi ini, pelaku usaha di industri MICE harus memikirkan cara untuk bisa tetap bertahan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama sempat mengusulkan agar MICE dilakukan secara online. 

“MICE online tetap ada keuntungan tetapi online ini tidak bisa terus menerus karena pemain MICE kita banyak yang offline. Kami optimistis online tetap harus ada namun jangan menggantikan offline,” tutur Direktur MICE Kemenparekraf Iyung Maruroh di dalam Seri Virtual Katadata Forum bertajuk Masa Depan Industri MICE Pascapandemi COVID-19, hari ini

Semua jenis aktivitas MICE terdampak pandemi virus korona secara seimbang. Pelaku industri bergerak cepat demi menahan imbas lebih buruk terutama dalam hal arrangment management event, serta menggencarkan anjuran penundaan dibandingkan dengan pembatalan. Berdasarkan data International Congress and Convention Association (ICCA) World Member Update per 27 Februari 2020 tercatat sedikitnya 12 acara ditunda di Indonesia, serta dua dibatalkan.  

Dibutuhkan strategi pemulihan sektor MICE pasca merugi akibat pandemi COVID-19. Selain menyusun protokol pelaksanaan kegiatan MICE selepas pandemi dan menyusun strategi nasional pengembangan MICE, perlu dilakukan site inspection guna melihat kesiapan destinasi MICE. 

Yang tak kalah utama ialah upaya untuk menggeliatkan kembali pasar domestik agar kembali mulai melaksanakan kegiatan MICE di destinasi yang sudah siap. Hal ini bertujuan agar perputaran ekonomi berangsur pulih. 

“Termasuk di dalamnya kita dorong meeting-meeting pemerintah dan korporasi agar lebih banyak di dalam negeri. Kami juga roadshow untuk meyakinkan asosiasi, industri dan penyelenggara kegiatan MICE mengenai kesiapan Indonesia menjadi destinasi MICE yang aman dan nyaman,” ujar Iyung. 

Keberadaan MICE memiliki beberapa nilai tambah terhadap perekonomian. Tidak hanya berkontribusi kepada pengembangan infrastruktur publik, MICE juga membentuk citra positif bagi industri pariwisata Tanah Air.

Mengacu data Global Business Travel Association (GBTA) 2014, posisi MICE sangat kompetitif karena minimal 50 persen dari transaksi wisata dunia sebesar US$ 1,18 triliun adalah perjalanan bisnis. Spending positif juga dimiliki wisatawan berbasis MICE. Berdasarkan International Congress & Convention Association (ICCA) pada 2018, wisatawan MICE memiliki kemampuan spending 2.000 USD per orang per hari. Angka tersebut merupakan 7 kali lipat dari kemampuan spending wisatawan biasa. Selain itu, wisatawan MICE ini memiliki rata-rata menginap lima malam.

“Dan pariwisata termasuk sektor MICE itu memang paling nomor satu terkena imbas pandemi Covid-19, kalau yang lain tidak sebesar pariwisata,” ujar Wita Jacob selaku Chairman, Indonesia General Manager Hotel Association, Jakarta Chapter.

Berdasarkan data ICCA, pada 2018, posisi Indonesia di kancah global berdasarkan jumlah meeting berada di peringkat 36 dengan jumlah meeting 122, setahun kemudian peringkat turun ke posisi 41 dengan jumlah meeting 95. Ranking pada tahun lalu sama dengan peringkat ke-10 di dalam cakupan Asia Pasific.

Saat ini, setidaknya ada tujuh daerah tujuan utama wisatawan mancanegara dengan tujuan perjalanan bisnis, yaitu Bali, Bandung, Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Jumlah kunjungan by air market terbanyak menuju DKI Jakarta (57,8 persen), sisanya tersebar di enam daerah lain. 

Adapun, Direktur Riset Katadata Insight Center Mulya Amri menjelaskan bahwa pada 2017, industri event di Indonesia berdampak kepada US$ 7,8 miliar total GDP dan menciptakan sekitar 278.000 lapangan pekerjaan. Sayangnya, pandemi Covid-19 berdampak terhadap 90 persen pembatalan atau penundaan acara sampai akhir 2020. 

“Jika dari survei panel ahli UNTWO, perjalanan domestik akan lebih banyak pulih dari awal Juli sedangkan perjalanan internasional mulai kuartal akhir tahun ini hingga awal 2021,” kata Mulya. 

Besarnya dampak bisnis MICE terhadap akselerasi perkembangan infrastruktur, misalnya tampak dari renovasi Bandara I Gusti Ngurah Rai. Pada 2018, Bandara Ngurah Rai menjadi infrastruktur pendukung utama Konferensi IMF yang yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian mencapai Rp5,5 triliun. Pertemuan ini juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia sebesar 0,01 persen. 

“Pemerintah mengharapkan seluruh pemangku kepentingan bahu-membahu menghadapi masa sulit ini, sehingga saat pandemi berakhir, sektor parekraf salah satunya bisnis MICE mampu bangkit lebih baik,” ucap Iyung Masruroh menutup penjelasannya dalam Katadata Forum.

 PWI Pusat Dorong Dewan Pers Proses Secara Hukum Pembuat Sertifikat UKW Palsu.  

this formate

Ketum PWI, Atal Depari ( ke tiga dari kiri) bersama pengurus dorong Dewan Pers pidanakan pemalsu sertifikat UKW. ( Foto: Humas PWI/ Mercy)

JAKARTA, bisniswisata.ci.id: – PWI Pusat mendorong Dewan Pers agar segera memproses secara hukum serta memidanakan pelaku pemalsuan sertifikat UKW beberapa waktu lalu yang mencatut nama Ketua Umum dan Sekjen PWI Pusat, serta mantan Ketua Dewan Pers, Stenly Adi Prasetyo.

Perbuatan pemalsuan sertifikat UKW ini merupakan tindak pidana. Hal ini tidak boleh didiamkan. “Dewan Pers sebagai lembaga yang sah secara hukum mengeluarkan sertifikat UKW bagi wartawan diharapkan memproses secara hukum perbuatan ini,” kata  Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari.

Berbicara didampingi Sekjen Mirza Zulhadi, usai rapat pleno Pengurus PWI Pusat, di Kantor PWI Pusat,  Gedung Dewan Pers, Atal menambahkan bahwa dalam sertifikat palsu itu yang bertanda tangan Ketua Dewan Pers adalah Adi Prasetyo, padahal sejak 21 Mei 2019 Ketua Dewan Persnya sudah dijabat Prof. M. Nuh. “Kami juga tidak pernah menandatangani sertifikat yang dimaksud,” tambah Atal S Depari.

Atal juga menjelaskan, hingga saat ini, baik PWI Pusat dan PWI Daerah, belum dan tidak pernah menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan secara virtual. Pasalnya, materi uji UKW ini belum memungkinkan untuk dilakukan secara virtual atau online.

“Jadi kami himbau juga kepada seluruh wartawan serta lembaga-lembaga mitra PWI, baik pusat dan daerah, jika mendapatkan adanya Informasi terkait Uji Kompetensi Wartawan secara virtual, yang mengatasnamakan PWI, sebaiknya dikonfirmasi dulu ke Pengurus PWI Pusat atau PWI Daerah. Atau bisa juga di konfirmasi kepada lembaga penguji lainnya,” terang Atal.

Sementara itu Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers Agung Dharmajaya mengaku mendukung langkah PWI yang disebut dalam kasus sertifikat UKW Palsu.

Pihaknya juga sudah mempelajari sertifikat UKW palsu tersebut, bahkan  sudah mengklarifikasi ke mantan Ketua Dewan Pers Adi Prasetyo dan Pak Adi tidak pernah menanda tangani sertifikat UKW palsu tersebut.

“Dewan Pers juga sudah megeluarkan Surat Edaran yang ditandatangani oleh Ketua Dewan Pers M.Nuh, dengan nomor 02/SE-DP/V/2020, tentang Uji Kompetensi Wartawan Online itu adalah kegiatan ilegal. Hingga saat ini belum ada payung hukum tentang UKW Online,” tegas Agung. 

Dewan Pers juga menegaskan sesuai kesepakatan DP dengan konstituennya yang telah ditetapkan dalam peraturan Dewan Pers nomor 01/Peraturan-DP/X/2018 tentang standar kompetensi wartawan bahwa UKW dilakukan secara langsung tatap muka dengan penguji dan wartawan sebagai peserta uji.

 

Kemenparekraf Tetapkan Enam Bidang Usaha Prioritas untuk Uji Coba Protokol Tatanan Hidup Baru  

this formate

Kunjungan wisman ke Desa Penglipuran, Bali sebelum COVID-19. Protokol baru tengah disiapkan  untuk pengunjung. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyusun draf protokol umum maupun khusus /tambahan dalam tatanan hidup baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, R Kurleni Ukar, Deputi Bidang Kebijakan Strategis, hari ini.

Kemenparekraf menetapkan enam bidang usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yang diusulkan untuk mendapat prioritas dalam penerapan protokol tatanan hidup baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Protokol ini merupakan pedoman pelaksanaan standar kebersihan, kesehatan, dan keselamatan untuk pelaku usaha, pekerja, dan juga tamu atau pengunjung. 

“Jika protokol telah ditetapkan maka dibutuhkan beberapa tahapan sebelum usaha dapat dibuka, seperti simulasi, sosialisasi, dan uji coba penerapan protokol,” kata Kurleni Ukar. 

Keenam bidang usaha pariwisata dan ekonomi kreatif tersebut adalah penyediaan akomodasi, jasa makanan dan minuman, daya tarik wisata, dan jasa perjalanan wisata. Juga termasuk usaha fasilitas seni dan produksi film, televisi, video, dan iklan. 

Usulan tersebut telah disampaikan dalam rapat koordinasi yang dipimpin pihak Kemenko Marves menindaklanjuti Rapat Terbatas Presiden pada 28 Mei 2020 yang membahas isu pariwisata terutama penerapan protokol keselamatan, keamanan, dan kesehatan di destinasi wisata. 

“Tapi protokol ini masih bersifat draf umum sehingga diharapkan untuk asosiasi dan kementerian terkait dapat memberikan masukan yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik masing-masng bidang usaha ” tambahnya.

Begitu juga untuk penerapan protokol yang akan menunggu penentuan payung hukum. Pihaknya akan mempersiapkan panduan praktis, baik dalam bentuk buku panduan, motion grafis, infografis, dan video tutorial yang bisa diakses di kanal resmi Kemenparekraf.

“Karena bidang/jenis usaha dan subsektor Parekraf itu sangat luas dan beririsan dengan Kementerian dan Lembaga lainnya, kami juga akan melakukan sinkronisasi dengan semua stakeholder terkait agar tidak terjadi tumpang tindih regulasi yang mengatur,” katanya.

Selain itu, kesiapan daerah dan dukungan dari para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan faktor penentu dalam tatanan hidup baru ini. “Pelaksanaan tahapan-tahapan ini harus diawasi dengan ketat dan disiplin serta mempertimbangkan kesiapan dan peran Pemerintah Daerah dalam pengawasan dan evaluasi,” kata dia. 

Sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam Ratas Tatanan Hidup Baru di Sektor Pariwisata yang Produktif dan Aman COVID-19 mengatakan bahwa pandemi COVID-19 akan membuka perubahan tentang tren pariwisata di dunia, dimana isu kesehatan, higienitas, serta safety dan security akan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan yang ingin melancong. 

“Kita harus siapkan strategi khusus dalam promosi pariwisata kita di era tatanan hidup baru ini,” kata dia.