Good Vibrations, Festival Musik Sekaligus Penggalangan Dana Bagi Pekerja Terdampak COVID-19

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Good Vibrations”, festival yang menggabungkan unsur pertunjukan musik dan gerakan penggalangan dana kembali digelar 12 – 14 Juni 2020 (Jumat – Minggu) melalui kanal Youtube Hype Festival dan Twitch Official Channel (twitch.tv). 

” Setelah sukses di gelar pada Jumat-Minggu pada  5 – 7 Juni 2020 akhir pekan lalu, acara yang didukung oleh Kemenkraf/ Bekraf ini akan hadir dikanal Youtube dan media sosial yang sama,” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaran Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani  dalam siaran persnya hari ini.

Deretan penampil yang hadir diantaranya DJ internasional seperti Andrew Rayel, Avao, Blinders, Christina Novelli, Firebeatz, Futuristic Polar Bears, Jerome Isma-Ae, Khomha, Myom, dan Sam Feldt. 

Sementara deretan DJ Lokal Heroes adalah Apsara, Dipha Barus, Hogi (Future10), House Cartel, Indra7, Irene Agustine, Kana & Mayo (Tripo 3000), LTN, Patricia Schuldtz, Pixiee, P.Joana, Redy, Six Pratama, Stan, W.W dan Yasmin.

Menurut Rizki Handayani, melalui festival musik dan amal ini, penonton akan disuguhkan penampilan yang seru dari para DJ ternama yang terlibat. Selain itu para penonton juga diajak untuk berdonasi bersama untuk penggalangan dana melalui akun resmi kitabisa.com/bcmbergerak. 

Seluruh donasi yang terkumpul akan dipergunakan untuk membantu para pekerja yang terdampak COVID-19 seperti para pekerja industri kreatif, pekerja seni, pekerja industri pariwisata, pekerja perhotelan, pekerja restoran, pekerja paruh waktu dan pekerja informal lainnya yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari maupun kebutuhan kesehatan yang krusial.

“Pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada hampir semua profesi/pekerja. Acara ini menjadi salah satu gerakan positif dari masyarakat di tengah situasi sulit pandemi yang membuat aktivitas masyarakat terbatas,” tambahnya.

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi suguhan hiburan, tapi juga upaya bersama membantu penanganan dampak dari COVID-19 yang begitu besar,” kata Rizki Handayani. 

Informasi mengenai jadwal acara atau _set times_ dapat dilihat melalui laman resmi akun Instagram @hypefestivalid dan situs resmi www.letsgethype.asia

 

Kopi Luwak, Mitos atau Nyata…

this formate

Luwak sejenis musang pemakan biji kopi (foto: time)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Suatu hari seorang teman di Amerika tiba-tiba mengirim email. Dengan sangat antusias ia bertanya,’benarkah ada kopi di Indonesia yang dibuat dari biji kotoran musang?’

Adik laki-lakinya saat itu sedang merintis bisnis warung kopi dan es krim di Kanada. Sudah lama katanya ia mendengar mitos kopi jenis ini. Ya, Kopi Luwak itu namanya.

Ketika mendapat email itu saya belum bertemu Pak Lastowo, seorang ADM di perkebunan kopi milik pemerintah yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kepada teman tersebut saya katakan, itu hanya mitos walaupun label ‘Kopi Luwak’ sudah dipakai oleh produsen kopi lokal di Semarang, Jawa Tengah.

Kemudian saya berkesempatan mengunjungi perkebunan kopi di Banyuwangi pada pertengahan 2002 silam saat masih bekerja di koran The Asian Wall Street Journal. Dari Pak Lastowo saya ketahui bahwa kopi luwak bukan mitos tapi nyata adanya. 

‘Kopi yang berasal dari kotoran luwak adalah kualitas yang terbaik karena luwak hanya makan biji kopi yang betul-betul matang. Ketika biji-biji ini keluar sebagai kotoran luwak ia masih dalam keadaan tertutup dan kering. Jadi tetap aman untuk dikonsumsi,’ katanya meyakinkan. 

Ia pun menambahkan kopi Luwak ini hanya dihidangkan kepada tamu tertentu misalnya bos perkebunan di sini. Alasannya sederhana saja: jumlahnya amat terbatas dan rasanya sungguh nikmat.

Terbatas karena jumlah luwak mulai berkurang. Ketika itu kami sampaikan kalau kopi luwak di Amerika dijual dengan harga yang sangat tinggi. Kompas baru-baru ini menyebut harga kopi luwak per 500 gram bisa mencapai Rp 9,5 juta rupiah.

Agustus 2008 saya agak kaget ketika seorang narasumber lama (pernah kami wawancarai saat masih reporter di koran The Asian Wall Street Journal) menelepon untuk memberitahu bahwa mereka sedang panen kopi luwak.

Bapak yang wajahnya pun saya sudah tak ingat lagi ini pejabat perkebunan kopi milik negara (PTPN) di Banyuwangi di Jawa Timur, tetapi bukan Pak Lastowo tadi. 

“Apakah Ibu masih tertarik meliput panen kopi luwak?” katanya. Saya jelaskan bahwa saat ini saya tak lagi bekerja. Dia mafhum, buktinya masih terus saja bercerita.

Setelah telepon itu ingatan saya seketika kembali ke tahun 2002 silam waktu kami berkunjung ke perkebunan itu. Kala itu mereka sedang tidak panen sehingga kami pun gagal mencicipi kopi langka tersebut. Sayang sekali…Kalau tidak sedang panen sulit sekali melihat seperti apa dan bagaimana proses pembuatan kopi luwak. 

Untuk sekadar membayar rasa penasaran, kami bahkan gagal menemukan seekor luwak pun di sana. Walaupun memang melihat juga ceceran kotoran luwak berbiji kopi di tanah. Kata pekerja di sana, luwak atau musang senang meninggalkan ‘kotorannya’ di tempat yang relatif bersih dan terbuka. 

Karena tak bisa menyaksikan sendiri proses terciptanya kopi luwak saat itu kami pun bergumam, ’Ah…berarti kopi luwak hanya mitos.’ Kami kembali ke Jakarta tanpa bukti. Alhasil artikel yang kami buat dianggap tak layak muat oleh editor.

Kopi luwak langka betul sehingga harganya mahal. Seorang teman di Amerika bilang harga per kilonya di sana jauh lebih mahal dibanding harga emas. Jadi mungkin kopi termahal di dunia.

Di Amerika Serikat  pembeli utamanya, menurut dia, kebanyakan orang Jepang dan Amerika. Di toko khusus yang menjual ‘kopi langka’ saja mereka bisa memperolehnya.

Sudah begitu lama saya tak mendengar ada kopi luwak yang dipanen. Tak heran kalau telepon pejabat perkebunan tadi kontan mengagetkan saya. Pertanyaan bagaimana mereka bisa panen kopi luwak saya lontarkan ke dia. 

Jawabnya? Ternyata mereka telah menternakkan luwak sampai ratusan ekor. Aha…! Mengapa baru sekarang itu dilakukan? Toh dulu kami sudah pertanyakan mengapa perkebunan itu tidak menernakkan saja luwak agar bisa menghasilkan kopi luwak kualitas terbaik dalam jumlah besar. 

Waktu itu jawaban mereka: itu tak dilakukan karena khawatir kawanan luwak akan berkembang biak tak terkendali sehingga sulit mengurusnya jika tidak sedang panen kopi. Biaya pemeliharaan luwak tak akan sebanding dengan hasil panenannya, tambahnya.

Biji kopi luwak

Karena luwak tak ditangkarkan, waktu itu mereka sulit memprediksi jumlah kopi luwak yang dapat diproduksi setiap musim panen kopi tiba. 

“Kopi ini menjadi langka karena produksinya benar-benar bergantung pada jumlah luwak yang memakan kopi saat panen. Luwak ini hidup liar. Datang hanya saat panen.

Jadi sulit memperkirakan produksi per tahun. Tapi rata-rata kami dapat memproduksi 200 kilogram kopi luwak dari total area perkebunan sekitar 764 hektar,’ kata pejabat tersebut ketika kami wawancarai pada 2002 silam.

Ketakpastian itu yang membuat mereka tak berpikir menjual kopi luwak secara komersil. “Kami suguhkan hanya untuk tamu-tamu khusus, terutama para pejabat perkebunan. Sisanya, sedikit, kami jual ke produsen kopi swasta di Jawa untuk digunakan sebagai essense kopi yang akan mereka produksi.”

Tapi kini karena nilai jual kopi luwak yang tinggi, banyak produsen kopi yang mulai menangkarkan luwak untuk ‘dikerahkan’ saat panen kopi. Sebagian orang percaya kopi luwak  yang berasal dari luwak yang ditangkarkan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi luwak dari luwak liar.

 ‘Rasanya berbeda dan itu sebabnya harga kopi luwak dari luwak liar lebih mahal,’ kata seorang petani kopi di Lampung.

Kopi luwak ini sempat membuat penasaran kawan Amerika saya tadi. Ia ingin tahu seluruh proses sampai kopi luwak terwujud. Ini mencakup bagaimana kopi mulai ditanam sampai buahnya dipetik,.

Lalu bagaimana luwak mengkonsumsinya, seperti apa habitat hewan ini di sana, cara perkebunan dan penduduk lokal mendapatkan biji-biji kopi dari luwak, proses produksi biji kopi ‘spesial’ itu, hingga proses akhir yaitu packaging dan delivery

Semakin banyak informasi yang ia dapat di internet tentang kopi yang satu ini kian penasaran dia. Sayang harga jual yang tinggi membuat ia sulit menjual kopi luwak di Amerika.

Kata kawan saya yang keturunan Taiwan ini, masyarakat di sana ternyata belum merasa perlu membayar kopi yang berasal dari kotoran hewan dengan harga tinggi, maka ia pun urung melanjutkan rencana bisnisnya.

Luwak-luwak hanya memakan kopi yang matangnya betul-betul pas, kata seorang kepala kebun saat menemani kami mencari-cari kotoran luwak berbiji kopi, waktu itu. Memang yang saya saksikan di kotoran luwak saat itu adalah biji kopi yang sudah matang betul (berwarna amat merah).

Kopi luwak, menurut mitos yang berkembang di Indonesia, dapat meningkatkan vitalitas. Rasanya sendiri, kata orang yang pernah menyeruput, unik. Artinya, tak dapat ditemukan pada kopi jenis mana pun. Tak mengherankan tentunya. Toh ia dari biji kopi yang telah dicerna di perut luwak.

Anda ingin mencoba rasanya? Silakan saja. Agar tak menunda-nunda, sebaiknya tak perlu dengan banyak pertimbangan seperti para penikmat kopi di Amerika. Mereka sampai sekarang, misalnya, masih saja memperdebatkan apakah cukup higenis mengkonsumsi kopi yang notabene berasal dari (biji kopi) kotoran binatang.

Program Pameran Dari Rumah Diharapkan Bawa Dampak  Snow Ball Effect Bagi Perupa

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program pameran dari rumah yang diikuti seniman dan perupa dari berbagai daerah diharapkan membawa snow ball effect dan memberikan  dampak positif lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif subsektor seni rupa.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Josua Simanjuntak dalam webinar dengan tema Bincang Kreatif Seni Rupa Indonesia Pameran Dari Rumah, Jumat (6/6/2020) mengatakan, program ini diharapkan tidak berhenti pada stimulus pembuatan karya saja. 

” Kami harapkan jadi stimulus dan bisa dikelola lagi lebih jauh, sehingga menciptakan snow ball effect yang bisa dirasakan lebih banyak lagi bagi pelaku kreatif khususnya subsektor seni rupa,” ujar Josua.

Menurut dia, dari karya tersebut nantinya bisa dimonetisasi, sehingga bisa membantu ekosistem seni rupa lainnya. Pihaknya terus memikirkan bagaimana karya ini bisa membantu ekosistem para pekerja di subsektor seni rupa. Hal inilah sebenarnya yang menjadi tujuan utama dari kegiatan pameran dari rumah.

Pameran dari rumah merupakan stimulus yang diberikan Kemenparekraf/Baparekraf kepada perupa atau pelaku ekonomi kreatif di subsektor seni rupa agar tetap aktif membuat karya dari rumah di masa pandemi COVID-19.

“Stimulus ini berupa tantangan bagi para perupa untuk tetap menghasilkan karya dari rumah. Sebanyak 150 karya dari seniman yang telah terpilih dan dikurasi nantinya akan diberikan uang tunai. Hasil karya mereka juga akan ditampilkan melalu media sosial dan dicantumkan harga dan perupa yang membuatnya, sehingga nantinya dapat diapresiasi oleh masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Pegiat Ekonomi yang juga salah satu kurator Pameran Dari Rumah,  Irawan Karseno menjelaskan antusias para perupa untuk ikut program pameran dari rumah sangat besar.

Tercatat ada 500 karya lebih dari perupa yang masuk. Karya-karya tersebut nantinya terpilih 150 yang akan mendapatkan stimulus dari pemerintah. Hasil karya dari para perupa tersebut diharapkan bisa menyajikan semacam galeri secara daring.

Galeri ini bisa memberikan informasi, sejarah, hingga harga dari karya-karya perupa. Sehingga nantinya bisa dilihat secara lebih luas lagi oleh masyarakat. Bahkan mungkin bisa diapresiasi dan menjadi koleksi bagi para kolektor seni rupa.

“Kami berharap ke depan pemerintah bisa membuat platfom Galeri Indonesia berbasis online. Seni rupa tidak hanya produk, seni rupa memiliki saudara kembar yang namanya ilmu pengetahuan seperti sejarah-sejarah dan informasi lainnya. Sehingga menjadi pengantar bagi pengunjung yang ingin melihat karya-karya perupa, ujarnya.

Dalam meresponse konsep galeri daring,  Josua juga menambahkan “Salah satu yang menjadi tantangan adalah menciptakan experience yang serupa bagi para potensial kolektor saat datang ke galeri daring ini. Ujungnya upaya ini harus dapat menghasilkan transaksi yang berkontribusi kepada ekonomi nasional.

 

Mau Kemana Lagi Bisnis OYO Setelah Ini ?

this formate

CEO OYO Ritesh Agarwal ( Foto:Skift.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Startup jaringan hotel budget India, OYO yang bernilai Rp 137 triliun, menjadi salah satu yang terdampak virus COVID-19. Untuk keluar dari krisis, hotel ini membuat berbagai model bisnis dan perubahan strategi di pasar seperti India, Amerika Serikat, dan China.

Pendiri dan CEO OYO Ritesh Agarwal membahas perubahan ini dengan  restrukturisasi yang menyakitkan dan pandangannya terhadap bisnis perusahaan di tiga pasar penting ini selama diskusi Jumat dengan pendiri dan CEO Skift, Rafat Ali.

Agarwal mengatakan di beberapa pasar ini jaringan budget hotelnya ada yang sudah bisa bermitra baik dengan para pemilik hotel, namun tidak dalam hal pengalaman pelanggan. Di lain pasar, pelanggan mendapat pengalaman yang baik tetapi di sisi lain kerjasama dengan mitra malah gagal.

Sementara di lokasi lain, pihaknya bisa memuaskan mitra OYO maupun pelanggan sehingga perusahaan bisa melakukan pelayanan lebih baik untuk kedua belah pihak  .

Di India, beberapa mitra marah karena perbedaan hasil akunting sehingga  OYO telah memperpanjang periode konsultasi dan melatih para manajer pengembangan bisnis untuk berbicara langsung dengan pemilik, bukan dengan akuntan OYO.

Di Amerika Serikat dan China, OYO telah membuat penyesuaian terhadap kebijakan sebelumnya yang secara agresif menawarkan jaminan pendapatan minimum karena kepentingan pemilik aset dan penyesuain OYO kadang-kadang “tidak sepenuhnya selaras,” kata Agarwal.

 Di China, di mana hunian sekarang mendekati 45 persen kecuali dimasa pandemi CIVID-19 yang hancur di bagian tenggara, pihaknya  memfokuskan kembali pada 400-450 kota dari strateginya semula sebelum wabah.

Perusahaan telah melalui beberapa restrukturisasi, termasuk merumahkan sekitar sepertiga dari staf di AS pada Januari dan ribuan karyawan secara global pada awal April. Agarwal mengatakan bahwa perusahaan harus mengakui bahwa pada tahun 2019 telah menambah terlalu banyak karyawan, dan menyadari bahwa untuk mendidik mereka tentang budaya dan nilai-nilai OYO membutuhkan waktu.

Tentang cuti massal bulan April lalu, dia berkata: “Tidak ada pilihan yang baik.  Itu adalah salah satu pilihan yang salah. ” tegasnya

Jaringan hotel OYO di Indonesia akhir tahun lalu menyatakan akan ekspansi ke 100 kota di Indonesia. Resmi masuk tahun 2018, Country Head OYO Indonesia, Rishabh Gupta dalam jumpa pers Juli 2019 menyebut dalam setahun OYO sudah berada di 80 titik kota dengan lebih dari 720 jaringan hotel dan 20.000 kamar.

 

Tatanan Kehidupan Baru ala Jogya

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kondisi penularan COVID– 19 di DIY cenderung landai, namun Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak ingin menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal) dengan tergesa-gesa. Seluruh komponen terutama pelaku bisnis dan pariwisata harus memiliki persiapan yang matang untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan terburuk pada penerapan sistem new normal.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, S.H., M.Ed. mengungkapkan, untuk memasuki tatanan new normal, seluruh asosiasi serius menyusun draft protokol, SOP dan CHS (Cleans, Health and Security). Saat ini tidak hanya masalah kesehatan saja yang di persiapkan, namun juga kebersihan dan keamanan. Dalam minggu ini, target susunan SOP terhadap pengelolaan bisnis dan wisata akan selesai digarap untuk kemudian disimulasikan. Setelah itu akan dilakukan evaluasi, baik oleh wisatawan, pengelola mau pun masyarakat luas agar sistem bisa dilakukan dengan baik.

“Sekarang kita serius mempersiapkan segala sesuatunya, dan nanti kalau memang sudah matang semuanya dan sudah ada rekomendasi dari Gugus Tugas COVID – 19, maka kita akan memulai new normal aktivitas pariwisata dan bisnis dengan sangat siap,” tutup Singgih.

SOP Omah Kecebong

Protokol Omah Kecebong, dimasa transisi, pengunjung mendapat sovenir masker OmKeCe

Merespon keputusan pemerintah, stake holder pariwisata Jogyakarta pun bergerak cepat di objek wisata resto dan outbound Omah Kecebong Holticultura, Mlati, Cebongan contohnya. Protokol COVID-19 diberlakukan sejak reservasi, masuk area, di restoran, di area beraktivitas dikawasan Omah Kecebong dan protokol khusus dalam atraksi berkeliling kampung naik limousine gerobak sapi, begitu juga untuk atraksi Jemparingan (memanah).

“Bajingan (kusir gerobak) kita pakai faceshield, penumpang hanya empat orang,” ungkap penggagas rumah budaya  Omah Kecebong, Hasan Setyo Prayogo.

Omah Kecebong menyesuaikan protap COVID-19 baik dari UNWTO, WHO mau pun Satgas COVID- 19 Indonesia dengan nilai- nilai tradisi masyarakat Jawa.

“Pariwisata itu kan respek kearifan local,” ungkap Hasan sembari menjelaskan uji coba protap ala Omah Kecebong dilaksanakan selama masa transisi. Ketika memasuki tatanan kehidupan baru, Omah Kecebong sudah siap menjalaninya.

Pesonna Jogya

Jejaring hotel Pesonna Hotel Yogyakarta,– Pesonna Hotel Tugu dan Pesonna Hotel Malioboro– juga sudah mulai menerapkan standard operational procedure (SOP) dan protokol kesehatan yang baru.

“Kami mengantisipasi dengan beberapa langkah pencegahan penyebaran virus, serta regulasi untuk menyambut kembali tamu agar dapat menginap di hotel kami dengan nyaman dan aman. Apalagi Yogyakarta menjadi salah satu kota percontohan new normal dengan mulai dibukanya beberapa tempat wisata pada awal Juni,” ujar Cluster General Manager Pesonna Hotel Yogyakarta Tommy Agung Kartika.

Menyiapkan kamar di Pesonna Hotel Tugu

Beberapa regulasi yang diterapkan oleh kedua hotel adalah dengan penggunakan masker wajah, face shield dan sarung tangan oleh karyawan, penyemprotan cairan disenfektan serta pembersihan sudut hotel dan permukaan secara regular dan adanya kewajiban tamu untuk selalu mencuci tangan dan menjaga jarak aman.

Penyemprotan disenfektan juga dilakukan pada saat tamu check-out dari kamar, sehingga ketika tamu lain datang, kamar dalam keadaan steril. Pengecekan suhu dengan menggunakan thermometer gun juga dilakukan pada saat tamu memasuki area hotel.

Regulasi juga diperuntukan untuk menjaga kesehatan dan higienitas karyawan, dengan selalu mencek suhu karyawan pada saat memasuki area hotel, mencuci bersih baju karyawan, penetapan standar kebersihan untuk perlengkapan karyawan, serta pengukuran kadar oksigen dalam darah untuk para karyawan menggunakan alat oximeter. Selain itu diterapkan juga strategi sales dan marketing yang lebih mengutamakan teknologi digital dan telemarketing sehingga mengurangi kontak dengan orang lain.

Penerapan new normal diharapkan akan mampu memberikan perubahan pada pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik dari sebelum pandemi. Namun, para pelaku bisnis juga harus bisa memperhitungkan dengan matang untuk membuka kembali usahanya.

 “Kita harus hati-hati sekali. Harus cermat. Perlu pemahaman yang serius, agar ketika new normal diberlakukan, jangan sampai ada periode kedua COVID– 19,” tegas Sri Sultan, dalam pertemuan dengan Asosiasi Bisnis DIY untuk mempersiapkan new normal, di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. ***

Kepariwisataan Berkelanjutan Setelah Era Pandemi

this formate

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia, dengan 17.504 pulau, secara de facto terdiri dari 34 provinsi. Di dalamnya ada 416 kabupaten dan 98 kota atau 7.024 daerah setingkat kecamatan dengan 81.626 daerah setingkat desa. Populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018. Mari kita tunggu pengumumam hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan secara online — hasilnya akan diumumkan sebelum tahun 2020 berakhir—.

Berita hari ini (terbitan 6 Juni) yang saya baca, dari 34 provinsi, terekam 15 provinsi di Indonesia tidak terjadi penambahan kasus positif COVID-19 (data per 5 Juni 2020). Berarti, hampir 50% provinsi di Indonesia sudah tidak ada penambahan kasus positif baru. Kabar baik.

Bagaimana dengan kepariwisataan setelah era pandemi?  Kalau di kumpulkan sudah ada ratusan prediksi perilaku dan bisnis yang akan berkembang berkenormalan baru dengan pemikiran life after COVID-19

Di dalam bukunya berjudul “Kepariwisataan Berkelanjutan Rintis Jalan Lewat Komunitas”, tertuang pemikiran pak I Gede Ardika, Menteri Pariwisata 2000 – 2004.

Pak Ardika mengulas bagaimana pembangunan pariwisata di Indonesia yang bertumpu pada konsep, prinsip-prinsip, serta cita-cita dan tujuan sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional.

Mulai ulasan makna dan hakikat kepariwisataan, falsafah kepariwisataan yang berakar pada kearifan lokal. Serta contoh konkrit dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Yogyakarta dan Bali. Sebagai ilustrasi, Pak Ardika mencontohkan sejumlah desa wisata yang berhasil menerapkan nilai-nilai dasar dalam upaya mensejahterakan kehidupan mereka di antaranya; Desa Wisata Pentingsari di kaki Gunung Merapi Daerah lstimewa Yogyakarta dan Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pak Ardika melalui buku ini juga menyampaikan bahwa nilai-nilai dasar yang dijadikan sebagai acuan (di antaranya dalam UU Kepariwisataan No.10 Tahun 2009 yang telah memasukan Kode Etik Kepariwisataan Dunia) dalam kepariwisataan nasional itu bukan ilusi kosong semata. Prinsip-prinsip ini telah diterapkan dalam mengembangkan kepariwisataan pedesaan berbasis masyarakat di Indonesia.

Alternatif jawaban dalam mewujudkan cita-cita itu adalah kepariwisataan berbasis komunitas, yaitu masyarakat sebagai pelaku.

Insight kepariwisataan adalah alat pembangunan yang strategis dan inklusif. Kepariwisataan menyentuh beragam aspek sekaligus menciptakan ekosistem  yang membutuhkan keterlibatan seluruh kelompok masyarakat. Cita-cita dan tantangan kepariwisataan di Indonesia adalah mewujudkan kepariwisataan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Lalu apa panduan dan peran UNWTO dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia yang erat kaitannya dengan Prosedur Tetap (Protap) COVID-19 standar WHO untuk pelayanan kesehatan?

Sampai disini, pembahasan akan menjadi sangat serius dan saya serahkan ke tenaga ahlinya saja. Saya hendak alih fokus, membawa sidang pembaca ke prediksi masa depan yang membawa kita ke tatanan baru dalam bersosialisasi.

Berdasarkan dari begitu banyaknya informasi tertulis yang saya baca, melihat gambar juga menonton video, banyak tata cara ditawarkan, kemudian membawa saya kilasbalik ke masa lalu. Saya generasi yang mengalami jamannya Indonesia susah tahun 70 – 80an. Tahun 2020 ini kok saya rasakan ada kemiripan. Mungkin ada diantara sidang pembaca yang satu generasi dengan saya dan bisa menambahkan informasi.

Di Sekolah Dasar waktu itu, saya mendapatkan pembagian sumbangan jatah susu bubuk dalam kantong plastik bening yang tidak ada mereknya. Katanya –waktu itu– yang dibagikan adalah susu kedelai. Juga pengganti nasi di rumah namanya bulgur. Saya sudah lupa seperti apa rasa bulgur itu.

Maka dengan banyaknya wacana aturan baru dalam bersosialisi yang sedang dibuatkan payung hukum, maka saya mikirnya, ini circle of life. Pengulangan masa lalu sesuai jamannya.

The time is always right to do what is right. Masanya senantiasa tepat untuk melakukan hal-hal yang benar. Di masa tahun 70 – 80 an itu, mobil dan kendaraan umum tidak ber-AC. Kita menikmati sirkulasi udara natural. Apa bedanya dengan rekomendasi saat ini yang mengajari kita untuk mendapatkan sirkulasi udara sehat dengan membuka pintu dan jendela di waktu-waktu yang memungkinkan. Juga mengepel lantai dengan desinfektan.

Tentang Kuliner

Di jaman saya, restoran juga jarak antar meja nya cukup jauh. Di celah tempat duduknya bisa papasan dua orang dengan berjalan tegak, tidak pakai memiringkan atau mencondongkan tubuh. Bahkan ada restoran yang mememasang sekat antar meja, menjaga privasi.

Dan apa rekomendasi dari protap COVID-19 sekarang?

Ya, mengatur meja restoran berjarak 1.5 – 2 meter.  Sehingga kapasitas tempat duduk berkurang sekitar 50% dibandingkan pengaturan sebelum pandemi COVID-19 mewabah.

Kemudian dari edaran Tas Siaga COVID-nya BNBP, saya jadi ingat, kalau beli makanan dari gerobak pinggir jalan di sepanjang jalan Senopati Jakarta. Makannya di dalam mobil masing-masing dan bisa dipastikan setiap pembeli menyiapkan alat makan sendiri.

Di masa kini, kita yang sudah kena globalisasi, gerobak makanan kita sebut Food Truck. Karena yang pedagang di trotoar kaki lima sekarang menggunakan bagasi mobilnya untuk menata makanan jualannya.

Satu lagi, bahan makanan yang dianjurkan adalah organik dan sebisanya menghindari makanan cepat saji.

Ya, di masa lalu, — belum jamannya berbagai macam obat-obat kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan. Pertumbuhan dan kesuburan alami dengan menggunakan pupuk kandang.

Bioskop

Yang menarik adalah bioskop. Yang punya mobil akan ke Drive-In Cinema dan yang lainnya akan ke gedung bioskop luar-ruang misbar singkatan dari gerimis bubar di masa kecil saya. Sekarang disebut nobar kependekan dari nonton bareng. Ini dunia hiburan yang akan trendi di banyak kota besar.

Pelesir

Yang saya bayangkan, pangsa pasar pertama melakukan perjalanan pasca COVID adalah keluarga-keluarga kecil. Dengan mobil-mobil yang cukup untuk ber-enam. Mobil pariwisata adalah mobil terbuka dan jenis-jenis mobil ber-AC yang muat untuk enam penumpang dengan sekat antara sopir dan penumpang. Seperti limousine service dan taxi di beberapa negara Eropa.

Di jaman saya tahun 70 – 80an, bahagianya naik colt diesel itu tanpa AC pulang-pergi Malang – Surabaya atau piknik bersama keluarga ke tempat-tempat lain berjarak tempuh sekitar empat jam.

Kemudian traveling menjadi hal yang mewah dan mahal. Ngurus surat ini itu dan ngisi form ini itu termasuk harus suntik vaksin sesuai aturan destinasi yang dituju. Apa bedanya dengan wacana dan peraturan yang sedang disusun saat ini?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan cara kerja dan pemikiran marketing industri perhotelan dan pariwisata saat ini dan beberapa bulan ke depan menghadapi COVID-19 under control dan program recovery-nya?

Faktanya pangsa pasar tidak mendukung secara global. Penawaran yang sedang beredar adalah Cost Price Long Staying, dan gencar dengan Pay Now Stay Later.

Semua strategi ini tentunya telah diperhitungkan dengan matang oleh menejemen perusahaan masing-masing. Mode bertahan hidup. Ini semacam aksi yang sama dimana-mana, see of similarity.

Akhirnya, bagaimana rencana masa depan kepariwisataan termasuk aksi jangka pendek dan panjangnya?

Bukan lagi inovasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam persiapan meluncurkan kembali perjalanan dan pariwisata berkelanjutan dunia. Melainkan membuka akses lintas batas seperti sebelumnya dan melonggarkan segala peraturan rumit yang disiapkan oleh masing-masing pemerintahan di seluruh dunia. Dengan prioritas jaminan kesehatan untuk semua tingkat kemampuan ekonomi wisatawan di semua destinasi tetap di urutan nomer satu dan terjangkau.

Bali, 06 Juni 2020

Jeffrey Wibisono V.

Di New York, Dia Mengenalkan Masakan Indonesia

this formate

Dewi dan restoran mini untuk dua orang di tokonya yang buka tiap Selasa. ( Foto Greatbigstory)

QUEENS, bisniswisata.co.id: Namanya Dewi Tjahjadi. Dia asli orang Indonesia, tinggal di kota termahal di dunia, New York, Amerika Serikat. Sudah 10 tahun ini dia membuka toko kelontong yang khusus menjual produk made-in Indonesia. 

Di  warungnya yang sempit itu sejumlah produk kemasan dijual, termasuk Indomie, Mie Sedap, santan kemasan Kara, kerupuk udang dari Cirebon, saus sambal dan tomat merek perusahaan terkenal dari Indonesia, kecap, hingga camilan Taro.

Lokasi toko Dewi cukup strategis, yakni di kawasan Queens yang mashyur sebagai ‘home sweet home’-nya para pendatang. Makanan dari berbagai belahan dunia manapun dapat ditemukan di sana.

Ada  masakan dari Meksiko, Tibet, Korea, Kolombia, Bangladesh, bahkan Yunani. Pilihan sajiannya pun beragam, mulai dari restoran, food trucks, atau seperti  tempat Dewi yang hanya buka di Hari Selasa.

Dia menyebutnya “Warung Selasa.” Khusus di hari itu, Dewi akan memanjakan pelanggan dengan memasak masakan tanah air, seperti rendang atau gudeg seperti dikutip dari greatbigstory

Di dapurnya yang sempit yang hanya muat untuk dua orang, Dewi menyiapkan segala sesuatunya sendiri, mulai dari meracik bumbu, mengolahnya, hingga menyajikan ke para pelanggan yang antusias ingin mencicipi masakannya. 

“Saya bukan profesional chef. Bisa memasak hanya belajar dari ibu saya,” kata Dewi kepada Great Big Story. Ide membuka ‘Warung Selasa’ bermula dari kerinduannya bertemu sesama orang Indonesia di Amerika.

 

Jadi, jangan Anda bayangkan warung milik Dewi bak restoran atau setidaknya rumah makan sederhana dengan sejumlah kursi bagi para pelanggan.

Tidak demikian. Faktanya, Dewi hanya menyisihkan sedikit saja ruang di dalam tokonya yang sempit untuk sebuah meja dan dua kursi. Di sanalah para pelanggan dapat memesan sekaligus menyantap masakan Dewi.

Saat pelanggan datang, chef sekaligus pemilik restoran akan ‘bersembuny’ di dapur yang ia sebut Love Kitchen (karena sempit dan hanya muat untuk berdua). Sambil menyiapkan kudapan, Dewi akan terus bercakap dengan pelanggan yang menunggu masakan tersaji. Itulah saat menyenangkan bagi Dewi karena dia bisa berbagi cerita dengan tamunya. 

Kebanyakan pelanggan yang pernah makan ke Warung Selasa akan berujar, ‘minggu depan, saya harus kembali lagi,’ ucap Dewi sumringah menirukan kata-kata para pelanggannya.

Menurut Dewi, sebelum dia membuka toko ini, tidak ada satu tempat yang menjual produk atau makanan Indonesia. “Jadi saya membayangkan kalau ada warung yang menjual masakan Indonesia, maka orang-orang Indonesia yang ada di sini akan datang, dan kami bisa bercakap dalam bahasa Indonesia.”

 

Para Pendaki dan  Penggemar Wisata Hutan Lebih Paham New Normal  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hutan menutupi 31% dari permukaan tanah di muka bumi ini dan wisata hutan telah mengisi ceruk sebagai salah satu segmen pariwisata yang tumbuh paling cepat di seluruh dunia.

Setelah pandemi global menjangkit 216 negara, berwisata ke hutan agaknya bisa menjadi pilihan untuk tetap bisa berwisata dan menerapkan protokol kesehatan yang ada, disamping wisata hutan melalui aktivitas Taman Nasional di banyak negara telah menjadi sarana untuk mempromosikan manajemen kehutanan dan mendukung masyarakat lokal.

Bepergian di sekitar area hutan membantu wisatawan mengamati dan berinteraksi dengan kehidupan tanaman dan hewan setempat di habitat alami mereka. Manfaat lain jika berwisata di hutan yaitu bisa memahami bagaimana memperlakukan alam dengan semestinya, Pengalaman berinteraksi dengan alam ini biasa dilakukan para pendaki gunung yang ingin mengeksplor kawasan hutan hingga ke puncak gunung.

Pengalaman yang dinikmati setiap orang mungkin berbeda tapi kerap sulit dilukiskan dengan kata-kata hingga akhirnya menjadi kunjungan rutin di berbagai tempat yang tak terhitung jumlahnya.  Bahkan mereka yang acuh tak acuh terhadap kehidupan hutan dan alam akan mendapatkan esensi dari berwisata ke hutan sambil mendaki gunung.

Di era New Normal , para pendaki sejati yang mencintai alam dan keluar masuk hutan lebih dulu menggalakkan wisata hutan yang memberikan nilai lebih berupa kesehatan dan peningkatan spiritual kepada Allah sang khalik.

Ada atau tidak ada pandemi global bagi Rahmi Hidayati, Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang juga pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya sudah lama mengenalkan wisata alam pada masyarakat.

Sudah hampir lima tahun terakhir Rahmi mendaki gunung dengan kebaya dan kain lilit. Keluar masuk hutan, mendaki Gunung Rinjani, Gn Semeru, Gn Gede, Gn.Ceremai, Gn Prau, Gn Merbabu. Semua itu  merupakan deretan gunung yang pernah didakinya dengan memakai kebaya.

Saat mendaki gunung, Rahmi bakal membawa peralatan lengkap di dalam tas ransel serta memakai sepatu gunung demi keselamatan. Tatapan bingung sering dijumpainya dari pendaki lain 

Mereka seolah tak percaya ketika melihat sosok ibu dua anak–, yang tertua sudah menjadi dokter—berkebaya dengan kain lilit, mendaki hingga puncak gunung dengan ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. 

Bersama PBI sejak 2014 gebrakannya telah membuat wanita Indonesia setiap hari Selasa kini mengenakan kebaya sebagai baju nasional dan sejak 2019 lalu dia juga sudah memulai program “Kebaya Goes To The World”.

Kiprahnya ini di dukung Departemen Luar Negri sehingga bisa memperkenalkan kebaya sebagai busana asli perempuan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Rahmi dengan komunitasnya melakukan serangkaian perjalanan, misalnya Desember 2019 lalu ke Bangkok, Thailand.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tahun lalu,  Rahmi juga mendaki Puncak Tugu, salah satu puncak dari Pegunungan Kendeng, di Pekalongan dengan ketinggian 2.117 Mdpl.

” Saya mendaki gunung pertama kali tahun 1987, waktu itu naik Gunung Gede lewat jalur Cibodas. Umur 19 tahun.  Waktu mendaki pertama kali rasanya berat karena memang lagi nggak enak badan. Terpaksa tidur di antara pos 3-4 karena muntah2 akibat masuk angin. Besoknya pendakian dilanjut dan sampai ke puncak,” kenangnya.

Perasaannya pertama kali naik gunung tentunya senang sekali dan langsung mendapat pelajaran berharga, meski dalam kondisi kurang fit jika memiliki keyakinan dan semangat yang kuat maka rasa teler juga hilang dengan sendirinya. 

“Intinya sih jangan mudah patah semangat apalagi belum mencoba. Pendakian selanjutnya dilakukan ketika bergabung dengan Mapala UI tahun 1988,”

Setiap mendaki gunung dan melewati kawasan hutan dari sisi spiritual, sungguh terasa banget betapa Allah maha besar. Gunung bahkan langit yang luar biasa luasnya, bumi dengan matahari serta planet di sekitarnya, cuma seperti butiran pasir di antara semesta ciptaanNya. Jadi sesungguhnya umat manusia itu kecil sekali, tidak  ada apa-apanya, ungkapnya.

“Sebagai manusia ciptaanNya, tak usahlah kita merasa “besar” dan sombong. Langit yang rasanya seperti bisa disentuh jari ketika berada di puncak gunung, ternyata jaraknya sampai jutaan tahun cahaya,”

Pengalaman naik gunung dari sisi kesehatan banyak manfaatnya karena   membuat badan luar biasa sehat. Sebagai penderita asma parah karena sering banget sesak napas sampai berbunyi ngik ngik, Rahmi bisa merasakan perubahan setelah rajin mendaki gunung.

“Ketika rajin naik gunung, nggak berasa asma nya hilang sama sekali, bahkan sampai sekarang pun nggak pernah kambuh lagi. Tentu aku tetap jaga kesehatan dengan cara menjauh dari asap rokok dan debu rumah,” kata Rahmi Hidayati.

Di usia yang sudah lolita ( lolos lima puluh tahunan) naik gunung juga melatih otot-otot tubuh untuk tetap bekerja dengan baik. Alhamdulillah sampai saat ini berat badannya juga tidak pernah berlebihan. Mungkin karena lemak-lemak tubuh habis terbakar saat mendaki, menapaki tanah sebagai undangan dari gunung.

Para pendaki sebenarnya menaklukkan diri sendiri dan saat melewati hutan dengan segala makhluk yang bersarang di dahan pohon akan jadi penyemangat dengan oksigen tak terbatas yang mereka keluarkan dari tiap helai daun. 

“Dalam perjalanan menuju puncak pula akan kita temui bahwa Allah memang ada dimana-mana, …. Ah, susah deh cerita soal ini kalau tidak mengalami sendiri hehehe,” ujarnya dilanjutkan tawa berderai.

Hutan di Indonesia ini ada yang berstatus Taman Nasional, ada juga Hutan Sosial. Kalau Taman Nasional, contohnya gunung-gunung  yang sering didaki atau danau-danau indah yang banyak diantaranya dijadikan obyek wisata. 

Perhutanan Sosial bisa digarap oleh masyarakat atas ijin Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ini artinya hutan tidak hanya dijaga oleh pemerintah, tapi juga oleh masyarakat termasuk para pengunjung yang datang untuk menikmati keindahannya maupun masyarakat sekitar yang memanfaatkan keberadaan lahan hutan tersebut. 

Membuang sampah pada tempatnya menjadi kunci utama menjaga dan merawat hutan selama mendaki gunung atau mengunjungi obyek wisata alam tersebut. 

” Jadi harus ada kesadaran soal menjaga kelestarian alam melalui pengelolaan sampah yang baik. Akan lebih baik kalau sampahnya dibawa turun kembali, apalagi sampah plastik ” kata Rahmi Hidayati mengakhiri obrolannya.

Dekat Alam Lekat Tuhan

                             Adji Kurniawan ( foto: dok. pribadi)

Menjelajah hutan dan naik gunung juga aktivitas yang disukai wartawan senior Adji Kurniawan dari Travelplusindonesia.  Mulai kenal hutan dari SD sejak masuk Pramuka, sekitar umur 9 tahun saat mulai camping.  

“Lebih intens lagi saat duduk dibangku  SMA karena masuk organisasi pecinta alam di sekolah dan di kampung juga bikin kelompok pecinta alam ‘Tropis’. Jadi sering jelajah hutan & naik turun gunung,” ungkap Adji. 

Saat di bangku kuliah, Adji menjadi lebih sering masuk kawasan hutan sejumlah taman nasional bahkan  bikin kelompok jurnalis pecinta alam ‘Phinisi’ dilanjutkan setelah masuk dunia kerja, bikin komunitas pecinta alam & traveler ‘Kembara Tropis’ sampai sekarang walau sejumlah anggota kini sudah di usia sebagai warga senior alias sudah tua.

“Berwisata ke hutan dan melakukan pendakian rasanya bikin damai, sejenak bebas dari rutinitas dan menambah wawasan dari masalah sosiologi, geografi dan budaya,” jelasnya.

Selain itu hobby ini juga  menambah pertemanan, dan paling asyik bisa tahu langsung keindahan alam dan karekater bermacam gunung di Indonesia karena ada gunung yang super aktif, sedang, relatif tenang & dan ada gunung mati seperti gunung api purba Nglanggeran di Yogyakarta.

Ketinggian gunung juga bervariasi karena ada gunung berketinggian dibawah 1000 meter di atas permukaan laut atau MDPL, 2000 dan 3000- an. Ada gunung populer dan tidak populer,  ada gunung berstatus Taman Nasional bahkan ada gunung yang dianggap keramat dan ada gunung yang instagramable karena  punya pemandangan menawan.

Dua manfaat secara spiritual dan kesehatan sangat terasa. Secara spritual Adji merasa lebih dekat dengan sang Maha Pencipta alam . Itu sebabnya sejak dulu ada motto pecinta alam : Dekat Alam Lekat Tuhan artinya kedekatan dengan alam harus lebih melekatkan diri dengan penciptanya dalam artian harus menjadi hambaNya yang taat.

“Rutinitas ibadah sholat kalau dilakukan saat pendakian, di hutan, lereng dan puncak  gunung terasa lebih nikmat, sekalipun kondisi fisik lelah, ngantuk dan dingin. Paling asyik lagi kalau sholat wajibnya di gunung dilakukan  berjamaah bisa berdua atau bertiga dengan  teman sependakian karena terasa lebih berkesan.

“Karena itu sejak kuliah saya tanamkan pendaki gunung bernilai plus artinya bisa pendakian gunung yang bernilai sosial, pendidikan, ramah lingkungan, dan lainnya, jadi bukan pendakian gunung biasa sekadar naik sampai puncak, foto-foto lalu turun. Ada aktivitas sosial juga yang kita lakujan,” ungkapnya.

Secara kesehatan, jelas sangat mendukung. Dulu sebelum pendakian terlebih gunung yang terbilang tinggi dan sulit seperti Ceremai, Semeru, Rinjani, sebelum mendaki saya biasakan latihan fisik suku minimal seminggu 2 kali dengan jogging di Senayan (terutama di trek bukit hutan kotanya).

Secara kesehatan dengan sering mendaki gunung berarti sering menghirup udara segar, bersih, bebas polusi, kaya oksigen karena melewati hutan, sungai, air terjun, telaga. Fisik dan mental pun lebih terlatih dan teruji.

“Saat berada di hutan, mencium aroma pepohonan dan tanah itu enak banget. Kadang kalau kelamaan di hutan jadi terhipnotis, malah jadi malas untuk mendaki ke puncak gunung ” ungkap Adji.

Tapi untungnya, sejak dulu saat  mendaki gunung Adhi targetnya harus sampai puncak dan itu sebelum matahari terbit supaya bisa lihat pesona sunrise lalu sholat subuh di puncak. Entah kenapa jika tidak sampai melihat sunrise, dia merasa gagal mendaki gunung itu.  Meski dalam dunia pendakian, sejatinya tidak ada istilah ‘menaklukan’ gunung, yang ada menaklukan diri sendiri (ego,  fisik/mental).

Menurut Adji, penetapan hutan dan gunung sebagai kawasan konservasi entah itu Cagar Alam, Taman Wisata adalah cara terbaik menjaga hutan ya ng dilakukan pemerintah. Tinggal bagaimana menerapkannya di lapangan.

“Masalahnya hutan kita amat luas,  jumlah Taman Nasional (TN) hingga 2019 ada 54 TN, sementara SDM/penjaga hutannya terbatas. Belum lagi banyak faktor penyebab kerusakan hutan oleh perambah hutan, faktor alam seperti kebakaran,” 

Pemerintah harus lebih siap dan tegas lagi dalam menjaga keberadaan hutan dari pihak-pihak yang rakus & tak bertanggung jawab. Sedangkan komunitas, LSM, kelompok pecinta alam harus bahu membahu mengatasi kerusakan hutan.

“Kita harus rajin menyuarakan informasi untuk ramah lingkungan dan wisata sambil merawat hutan saat melakukan berbagai aktivitas wisata alam, petualangan, pendakian gunung,” kata Adji.

Ke depan banyak pihak optimistis wisata hutan makin digemari masyarakat. Namun hutan wisata terutama hutan pinus yang kini  banyak dikunjungi  wisatawan juga harus dijaga daya dukung dan peruntukan fasilitas umumnya sehingga tidak menjadi merusak lingkungan, tutupnya. 

 

 

 

Sapta Nirwandar: Video New Normal Pariwisata  Banyuwangi Dorong Kebangkitan Pariwisata Nasional

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kabupaten Banyuwangi telah siap menerapkan New Normal atau kenormalan baru dalam dunia pariwisata yang patut diikuti jejaknya oleh pimpinan daerah lainnya,” kata Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, hari ini.

” Saya baru saja menerima video  New Normal Majestic Banyuwangi Tourism dari pak Bupatinya Abdullah Azwar Anas. Kalau 10% dari 514 pimpinan kabupaten di Indonesia memahami pariwisata dan selalu selangkah lebih maju seperti beliau, pariwisata Indonesia mudah bangkit dan melesat,” ujar Sapta.

Menurut dia di video tersebut jelas sekali menunjukkan tahapan-tahapan protokol kesehatan yang telah diterapkan kabuputen di Jawa Timur itu. Mulai dari kondisi perawatan kebersihan di bandara Banyuwangi, proses kedatangan, cek suhu, wajib mengenakan masker, pelayanan mobil jemputan dilengkapi dengan hand sanitizer, touchless dan jaga jarak saat check in di hotel.

” Juga ditunjukkan kegiatan staycation menikmati fasilitas hotel tetap dengan jaga jarak, pelayanan di restoran-restoran, nonton pertunjukkan hingga ke obyek-obyek wisatanya,” tambah Sapta.

Video singkat yang informatif dengan obyek wisata andalan Banyuwangi mulai dari Kawah Ijen, Banyuwangi Geopark, Teluk Hijau, Alas Purwo, Pulau Merah, Hutan Djawatan, beragam kuliner halal yang lezat hingga pertunjukkan di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi.

Ikon baru pariwisata yang cukup instagenik di Banyuwangi ini dipenuhi dengan ratusan patung penari Gandrung yang siap menyambut tamu ketika berkunjung ke sini dengan pemandangan indah lahan persawahan terasering di lereng Gunung Ijen.

Menurut Sapta, leadership dan kreativitas telah membawa Banyuwangi sebagai destinasi wisata utama yang siap di era New Normal bahkan mengungguli  destinasi super prioritas yang ada.

” Bupatinya mengutamakan 3 A, akses, amenities dan atraksi sehingga sejak diangkat beliau mampu membuat perubahan besar bagi daerahnya memanfaatkan tekhnologi dan semua terintegrasi ” kata Sapta.

Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini masih ingat betul bagaimana Azwat Anas datang ke event-event yang digelarnya seperti Tour de Singkarak, Sumbar yntyk belajar dan menerapkan di daerahnya menjadi Tour de Ijen.

” Beliau juga rajin membenahi atraksi yaitu destinasi wisatanya seperti Kawah Ijen, Geopark, G-land untuk para Surfer hingga kreativitas membuat event sepanjang tahun,” kata Sapta.

Alhasil Banyuwangi yang jaman dulu punya citra jadi daerah santet kini jadi kota internet karena masyarakatnya melek pelayanan IT dan kini menjadi kota kabupaten yang diminati investor hotel-hotel bintang lima karena perkembangan pariwisatanya.

Banyuwangi sangat terbuka untuk wisatawan dari mana saja baik lokal maupun internasional bahkan ketika wisman Timur Tengah berdatangan langsung dibuat paket wisata khusus kuliner spesial dengan menu kambing, nasi kebuli dan menu khas dari negara-negara di kawasan itu.

” Bagi mereka yang mau studi banding juga dilayani dengan sangat baik karena pengeluaran dan kebutuhan wisatawan yang datang studi banding seperti halnya yang datang untuk leisure bahkan spending bisa lebih besar,” 

Sapta Nirwandar berharap bupati yang banjir penghargaan internasional termasuk dari Badan Pariwisata Dunia ( UNWT0) ini segera menyebarkan video versi bahasa Inggris dan membimbing daerah lainnya untuk menerapkan program program Cleanliness, Health and Safety ( CHS) sesuai protokol kesehatan dan standar WHO.

Senada dengan Sapta Nirwandar, Anton Thedy, founder TX Travel dengan 255 cabang mengatakan leadership dan kreativitas Bupati Banyuwangi memang membuat wisatawan dan mereka yang suka jalan-jalan merasa aman apalagi dengan kebersihan yang menjadi prioritas.

” Banyuwangi memang kreatif dan siap menyambut wisnus, jelas New Normal harus membuat kita yang suka jalan jalan merasa aman dan kebersihan jadi prioritas. Hanya destinasi yang siap yang akan jadi pilihan untuk dikunjungi,” kata Anton.

Menurut dia, program Wisata Domestik ( WisDom) akan menjadi andalan Travel TX di sisa tahun 2020 ini karena sekaligus misinya adalah mendukung roda ekonomi domestik yang memiliki multiplier effect yang luas.

” Dukungan juga di harapkan dari pemerintah pusat maupun daerah. Mungkin  inilah waktunya membuat tahun kunjungan WisDom ( Wisata Domestik). Intinya dari kita buat kita untuk menjadikan Indonesia kuat dan berjaya setelah pandemi COVID-19 berakhir,” kata Anton.

 

Kemenparekraf Persiapkan Tatanan Normal Baru Sektor Pariwisata dan Ekraf di NTB

this formate

Stakesholder wisata di Lombok, NTB. siapkan Kenormalan baru  ( foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bersama stakeholder pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) mempersiapkan protokol kesehatan dan SOP menyambut kenormalan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf).

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani saat webinar dengan tema “New Normal For The Hospitality Industry” menjelaskan, pandemi COVID-19 telah membuat perilaku manusia yang baru dimana masyarakat jauh lebih peduli terhadap faktor-faktor kebersihan, kesehatan, dan keamanan termasuk untuk destinasi pariwisata.

“Nantinya, semua industri akan lebih mengedepankan protokol kesehatan, akan diletakan menjadi protokol paling pertama baru diikuti protokol lainnya karena kita menghadapi krisis yang berbasis virus, yang tidak bisa dilihat kasat mata. Namun kita tidak boleh terus menerus terpuruk dan harus bangkit meneruskan pembangunan dengan menyusun strategi, dan menerapkan SOP protokol kesehatan dalam keseharian di institusi masing-masing,” katanya.

Webinar turut dihadiri Dirut Poltekpar Lombok Hamsu Hanafi, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal, CEO Azana Hotel dan Resort Dicky Sumarsono, Chairman IHGMA NTB Ernada Agung Dewobroto, dan Head of Business Hotel Management at Bina Nusantara University Arif Zulkarnain berlangsung kemarin.

Giri menjelaskan, Kemenparekraf terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait dalam menyiapkan protokol kesehatan dan verifikasi implementasi Standar Operasional Prosedur Clean, Health, and Safety (SOP CHS) dengan baik dan benar sesuai standarisasi yang ditetapkan.

“Gerakan CHS ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai COVID-19 sehingga destinasi akan siap menerima kunjungan wisatawan, yang pada tahap awal pasti akan didominasi oleh wisatawan domestik,” kata Ni Wayan Giri Adnyani.

Dirut Poltekpar Lombok Hamsu Hanafi menjelaskan, tren tatanan baru kenormalan baru dianggap sangat penting dalam menghadapi sektor pariwisata ke depan. Poltekpar sebagai lembaga pendidikan vokasi bidang pariwisata ingin berkontribusi secara luas bagi masyarakat dan khususnya industri hospitality.

“Dalam webinar kali ini, kami hadirkan birokrasi, praktisi, dan akademisi, ketiga komponen ini akan memberikan solusi dan menyikapi dampak dari pandemi COVID-19 sebagai langkah dan upaya menyambut normal baru khususnya di Lombok,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal mengatakan pihaknya ingin segera kembali menghidupkan “mesin” pariwisata yang vakum akibat pandemi COVID-19.

Ia mengatakan ketika sektor pariwisata NTB dibuka kembali akan ada lima destinasi pilot project yang dibuka secara bertahap, mulai dari kawasan Gili (Air, Meno, Trawangan), Taman Nasional Gunung Rinjani, Islamic Center, Kawasan Mandalika, dan destinasi di Pulau Sumbawa yaitu Pulau Moyo.

“Kawasan tiga Gili menjadi pilot project  saat sektor pariwisata di buka lantaran di sana lebih bisa di organize bagaimana implementasi protokol kesehatan dan penerapan physical distancing Lalu pintu masuk ke kawasan tersebut sudah ditetapkan dari pelabuhan Bangsal,” katanya.

Faozal juga menjelaskan Taman Nasional Gunung Rinjani bisa dibuka kembali setelah kawasan Gili, namun perlu koordinasi dengan pihak pengelola terkait daya tampung dan penerapan physical distancing di salah satu dari tujuh gunung tertinggi di Indonesia itu.

Kemudian terdapat kawasan Islamic Center yang pengelolaannya di bawah koordinasi Dispar NTB. Selanjutnya secara bertahap Kawasan Mandalika dengan terus berkoordinasi bersama ITDC sebagai pengelola kawasan ekonomi khusus seluas 1.200 hektar itu. Di sisi lain destinasi di Pulau Sumbawa yaitu Pulau Moyo.

“Yang paling penting, ketika membuka normal baru, maka pemerintah harus menyiapkan perangkatnya, baik itu kesiapan destinasi ataupun industri lainnya,” ujarnya.