Industri Perlu Sertifikasi kesehatan DMO Untuk Bangun Kembali Kepercayaan konsumen.

this formate

Wakatobi, salah satu DMO di Indonesia yang menjadi tujuan wisata selam dunia. ( Foto: Google/nusatour.co.id).

NEW YORK, bisniswisata.co.id:  Lebih dari 900 eksekutif operator tur dan pemilik agen perjalanan dari pasar sumber pariwisata utama berpartisipasi dalam survei global oleh Travel Consul, aliansi pemasaran perjalanan internasional. 

Tujuan dari survei ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dampak pandemi COVID-19 terhadap industri pariwisata, kebutuhan saat ini dan pandangan tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan.  

Berikut adalah beberapa highlights dari hasil survei yang berlangsung dari 11-25 Mei 2020. Mengutip laporan dari Travel Daily News, bagaimana destinasi dapat mendukung mitra travel agent dalam pemulihan pasca pandemi global COVID-19.

Ha ini mengingat Destination Management Organization (DMO) menjadi salah satu program pengelolaan pengembangan destinasi pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan tata kelola dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah dan sektoral.

Ketika ditanya bagaimana DMO dapat membantu tour operator dan travel agen  dalam pemulihan, jawaban nomor satu jelas mereka perlu diperkenalkan dengan sertifikat kesehatan dan keselamatan yang dimiliki DMO untuk memastikan bahwa destinasi aman untuk mengirim pelanggan mereka.

Dua dari 3 peserta meminta bantuan pihak DMO, tiga jawaban teratas berikutnya adalah kampanye pemasaran, menyajikan data yang berguna dan tepat waktu, dan pembaruan industri dan media.

Klien masih menunggu untuk memutuskan kemana perjalanan selanjutnya dan lebih dari 40% klien yang memesan ulang atau menunjukkan minat bepergian mengatakan bahwa mereka berencana untuk pergi ke tujuan tempat mereka semula memesan. 

Meskipun persentase terbesar klien  atau si calon wisatawan itu sebesar 46% terhenti, menunggu untuk melihat bagaimana situasi pandemi berkembang sebelum membuat keputusan. Namun diantara responden di AS atau 51% mengatakan klien mereka mencari ke tujuan mereka awalnya memesan, sementara 38% mengatakan klien mereka sedang menunggu untuk memutuskan mau berwisata kemana setelah masa pemuliha ini.

Upaya pemasaran untuk pemulihan difokuskan pada media sosial. Dalam hal kegiatan pemasaran selama pemulihan, media sosial jelas merupakan pemenang dengan 2 dari setiap 3 responden mengklaim bahwa pemasaran sosial adalah konsep utama mereka.

Angka itu bahkan lebih tinggi di antara responden AS,  dengan 75% mengatakan mereka akan fokus pada media sosial.  Kampanye digital dan kampanye bersama masing-masing berada di urutan kedua dan ketiga.

Implikasi bisnis COVID-19

Secara keseluruhan, mitra agen mengatakan prediksi ke depan ada penurunan 73% dalam volume bisnis pada kwartal ketiga 2020 dan penurunan 60% pada kwartal ke empat 2020. Dua pertiga responden mengantisipasi dapat mempertahankan bisnis mereka selama enam bulan tanpa dukungan keuangan pemerintah. 

Responden AS. merasa kurang aman secara finansial daripada rata-rata global.  Satu dari 3 (33%) mengatakan mereka hanya bisa mempertahankan bisnis mereka tanpa bantuan pemerintah selama satu hingga tiga bulan, dan 28% mengatakan empat hingga enam bulan.

Sekitar 41% responden global melaporkan merancang produk baru dan menyesuaikan model bisnis sebagai langkah utama yang diadopsi selama pandemi.  Peningkatan layanan pelanggan dan program pelatihan berada di peringkat kedua.

Metode komunikasi top digunakan dengan klien. Email mengarah sebagai bentuk komunikasi yang disukai untuk operator tur dan pemilik agensi yang berinteraksi dengan klien selama masa darurat  COVID-19.

Menariknya, penggunaan telepon secara tradisional adalah saluran kedua yang paling banyak digunakan.  Meskipun mendapatkan popularitas, video konferensi dan obrolan langsung ( chat) mendominasi sekitar 17% metode komunikasi.

Asosiasi pariwisata berfungsi sebagai sumber data primer dan tiga sumber data teratas yang digunakan untuk informasi selama krisis COVID-19, operator tur dan asosiasi agen perjalanan jelas memimpin paket (rata-rata global 69%).  Ini diikuti oleh kantor-kantor pariwisata tujuan, media perdagangan, pemerintah nasional mereka sendiri dan teman-teman industri.

Bagaimana COVID-19 mengubah aturan di tahun 2020 dan seterusnya ?.Ketika ditanya bagaimana peran mitra agen akankah berubah di masa depan untuk beradaptasi dengan keadaan baru ini, 70% responden percaya bahwa memodifikasi kebijakan pembatalan atau syarat dan ketentuan akan menjadi salah satu tugas utama mereka. 

Respons kuat tambahan adalah perluas saluran komunikasi pelanggan, diversifikasi atau ubah penawaran produk dan tujuan Anda serta ciptakan kemitraan baru dengan pembeli dan pemasok baru.

Loyalitas ke destinasi tujuan ( DMO), hotel dan resor sedang dipertimbangkan kembali. Hampir 50% responden mengatakan bahwa mereka sangat mungkin mempertimbangkan hotel dan resor yang belum pernah mereka bermitra sebelumnya.  Selain itu, 37% lainnya mengatakan bahwa agaknya mereka akan mempertimbangkan opsi lain.  Responden A.S. menjawab serupa dengan rekan global mereka.

 

 

Presiden Jokowi Apresiasi Kesiapan Banyuwangi Jalani Protokol Kesehatan di Sektor Parekraf  

this formate

Kemenparekraf Whisnutama saat mendampingi Presiden Joko Widodo pada kunjungan ke Banyuwangi, kemarin ( Dokumentasi Biro Pers Istana)

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id:  Presiden Joko Widodo menilai Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang paling serius membenahi sektor pariwisata di tengah pandemi agar nantinya dapat kembali bergerak dan memastikan keamanan serta keselamatan para pengunjungnya.

“Saya melihat di lapangan Banyuwangi adalah daerah yang paling siap menyiapkan prakondisi menuju normal baru,” kata Presiden.

Presiden melihat langsung persiapan penerapan normal baru di sejumlah tempat di Banyuwangi. Dengan mengenakan pelindung wajah dan menerapkan jaga jarak, Presiden dan rombongan meninjau Resort/Villa Pantai So Long dan Hotel Dialoog

Di tempat tersebut Presiden juga mendengarkan paparan dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengenai persiapan prakondisi di sektor pariwisata. 

Presiden mendukung penuh apa yang dilakukan pemerintah kabupaten Banyuwangi dalam menggerakkan sektor pariwisata, terutama dengan memberi ruang dan melibatkan peran aktif masyarakat.

Misalnya, hotel-hotel bertaraf serupa bintang tiga ke bawah seperti rumah singgah atau homestay merupakan ceruk pasar warga setempat sehingga perizinannya hanya diperuntukkan bagi rakyat kecil.

“Kita mendukung penuh apa yang dilakukan pak Bupati dan Gubernur dalam menyiapkan prakondisi menuju tatanan normal baru sehingga nantinya saat timing yang tepat dibuka kembali, masyarakat terutama sektor pariwisatanya betul-betul sudah siap,” tandas Presiden Jokowi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menyiapkan protokol kenormalan baru di sektor parekraf dengan melibatkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat. 

Berbicara saat mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja ke Banyuwangi, kemarin, Whisnutama mengatakan, protokol kesehatan menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami seluruh pemangku kepentingan karena pandemi COVID-19 membawa perubahan dalam pariwisata dunia, dimana isu tentang kesehatan, higienitas, keamanan, dan kenyamanan menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam bepergian. 

Ia pun menilai Kabupaten Banyuwangi telah siap untuk menjalankan kenormalan baru di sektor parekraf. “Kemenparekraf akan ikut memastikan semua langkah atau proses dalam persiapan penerapan protokol kesehatan di Kabupaten Banyuwangi dapat berjalan dengan baik,” kata Wishnutama. 

Para penari menyambut kedatangan Presiden Jokowi dan rombongan dengan menggunakan masker. ( Foto dok. Biro Pers Istana)

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah membuat timeline tahapan pemulihan untuk sektor pariwisata daerah yang dibagi dalam tiga tahapan. Yakni emergency, recovery hingga penerapan New Normal. 

Saat ini Banyuwangi telah memasuki fase pemulihan yang diisi dengan edukasi dan sosialisasi tentang protokol yang akan berlaku di masa New Normal kepada para stakeholder pariwisata daerah. 

Diantaranya melakukan sertifikasi dan uji kompetensi protokol kesehatan bagi para pemandu wisata. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga akan memanfaatkan teknologi dalam era normal baru dimana wisatawan nantinya harus melakukan pemesanan tiket secara online. Fase sosialisasi dan edukasi normal baru ini berlangsung dari Juni hingga Agustus 2020. 

“Banyuwangi bisa menjadi contoh daerah lain dalam kesiapan menjalankan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pesan Presiden harus betul-betul disiapkan sebuah standar yang menjadi kultur kebiasaan baru dan terus disosialisasikan secara masif dan diikuti dengan uji coba serta pengawasan agar betul-betul standar protokol kesehatan dapat dijalankan di lapangan,” kata Wishnutama. 

Dalam kunjungannya di Banyuwangi, Presiden Joko Widodo turut didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

 

Melanggar, Warga Suriah Diinapkan di Rumah Detensi Imigrasi

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Barakeh Wissam berkewarganegaraan Suriah pemegang Izin Tinggal Terbatas (ITAS) Investor dengan nomor register 2C12EB0367-T yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar berlaku sejak 12 Desember 2019 sampai dengan 11 November 2021. Dia menjabat sebagai Direktur dari House of Om (PT. Aum House Bali). Per 24 Juni diinapkan di Rumah Detensi Imigrasi Denpasar, menunggu kesempatan deportasi.

Warga negara Suriah tersebut dikenakan tindakan administratif keimigrasian berupa pendeportasian (pengusiran) sebagaimana tersebut pada Pasal 75 Ayat 1 dan ayat 2 huruf f Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, jelas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, Jamaruli Manihuruk dalam surel yang diterima bisniswisata.co.id.

Menurut Jamaruli Manihuruk, Barakeh Wissam tidak mematuhi (melanggar) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 09 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19) dan Instruksi Gubernur Bali Nomor 8551 Tahun 2020 Tentang Penguatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Bali, mengenai pembatasan kegiatan yang melibatkan paling banyak 25 (dua puluh lima) orang.

Berdasarkan hal tersebut,  yang bersangkutan dikenakan Tindakan Administratif Keimigrasian sebagaimana Pasal 75 Ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian yang berbunyi  “Pejabat Imigrasi berwenang melakukan tindakan administratif keimigrasian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan”. Berupa pendeportasian (pengusiran) sesuai pasal 75 ayat 2 huruf f yang berbunyi “Deportasi dari Wilayah Indonesia”.

Dikeluhkan Masyarakat Bali

@ NiLuh Djelantik

 

Aktivitas warga negara Suriah di Ubud yang berakhir dengan pendeportasian ini bermula dari viralnya keluhan masyarakat Bali di media sosial. Salah satunya dapat dilihat pada laman istagram public figure NiLuh Djelantik atau pada laman FB Ubud Community.

Kronologisnya, pada 18 Juni 2020 Jam 17.00 s.d 19.00 Wita, di House of Om diselenggarakan kegiatan yoga massal dengan jumlah peserta diperkirakan lebih dari 60 orang. Kegiatan tersebut menimbulkan keresahan warga di tengah larangan-larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah pada masa pandemi COVID-19.

Hasil pemeriksaan petugas dari Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar, diperoleh keterangan bahwa kegiatan tersebut tidak mendapat persetujuan resmi dari desa adat setempat (hanya pemberitahuan secara lisan). Pelaksanaan kegiatan tersebut diduga menyalahi aturan protokol kesehatan COVID-19 (tidak adanya social distancing, tidak menggunakan masker, dan pembatasan jumlah peserta sesuai ketetapan pemerintah).

Pelaksanaan kegiatan tersebut dilaksanakan di tengah masa pandemi COVID-19 dapat membahayakan kesehatan masayarakat. Penanggung jawab kegiatan tidak berusaha membubarkan atau membatalkan acara t setelah mengetahui bahwa jumlah peserta, melebihi ketentuan pemerintah.

Menurut KakanwilkumHAM Bali, Gugus Tugas COVID-19 Bali secara tegas menetapkan bahwa protokol kesehatan “harga mati” dan setiap orang wajib taat. Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, harus ekstra hati-hati membuka sektor pariwisata. Dalam konteks new normal (tatanan kehidupan era baru) sektor pariwisata dan pendidikan menjadi sektor terakhir yang akan dibuka, dengan mempertimbangkan data dan fakta lapangan (kasus positif).

“Tindakan tegas perlu dilakukan, agar tidak menjadi bumerang bagi masyarakat, di satu sisi dilakukan pendisiplinan kepada warga Bali untuk menaati protokol kesehatan, maka sudah sewajarnya aktivitas yoga massal ini pun ditindak tegas, atas nama penegakan protokol kesehatan,” tegas Jamaruli Manihuruk

Platform Digital Jadi Cara Efekif Pamerkan Karya Musik di Era Pandemi

this formate

AKARTA, bisniswisata.co.id:  Pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19. Berbagai langkah dan strategi pemulihan di sektor parekraf untuk menyambut kenormalan baru pun dipersiapkan salah satunya menggunakan platform digital.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Josua Simanjuntak menjelaskan, pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada hampir semua profesi dan pekerja di bidang kreatif.

Berbicara pada acara Webinar Pemanfaatan Platform Digital Sebagai Sarana Showcase Musik Tanah Air bersama narasumber yang juga praktisi di industri musik Wendi Putranto, Rabu, Josua mengakui salah satu subsektor kreatif yang terdampak adalah para pekerja seni yang kehilangan pekerjaan, termasuk para musisi di dalamnya.

“Kegiatan hari ini diharapkan bisa menjadi penyemangat bagi pekerja di industri musik untuk terus berkarya secara kreatif di tengah masa transisi menuju tatanan kenormalan baru. Para musisi bisa menyesuaikan diri melalui pemanfaatan platform digital untuk membuka potensi pasar baru di ranah global karena digital berarti sudah tanpa batas. Maka bersiap-siaplah para pemusik untuk berkarya yang terbaik,” katanya.

Kemenparekraf, kata Josua,  tengah menyiapkan program “Portamento” bagi musisi, yang merupakan platform berbentuk aplikasi sebagai media pemasaran karya musik yang akan terhubung langsung dengan pembeli. Melalui teknologi ini, musisi dapat mengunggah karya musik dengan data sebagai administrasi hak cipta yang akan terhubung dengan platform penyedia musik online seperti Spotify, YouTube, Joox, dan lainnya.

“Kami juga berharap, dengan protokol kesehatan yang sudah diresmikan oleh Kementerian Kesehatan, industri ekraf akan dapat segera kembali beraktivitas, terutama bagi para musisi untuk dapat kembali berkolaborasi dan tampil di depan publik sambil terus memanfaatkan digital sebagai sarana untuk menunjukkan karya-karya terbaik sehingga bisa diapresiasi oleh masyarakat luas” katanya.

Secara berkala, Kemenparekraf/Baparekraf juga telah mengadakan sharing session seputar musik dan konser musik virtual yang melibatkan musisi-musisi berbakat di tanah air. Beberapa di antaranya adalah “Ngamen Online” hasil kerja sama dengan Institut Musik Jalanan (IMJ), Festival Musik dan Amal “Good Vibrations”, “Spirit of Online Performance” yang berkolaborasi dengan pelaku seni dan kreatif di Danau Toba, hingga “Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia” yang disiarkan secara serentak di beberapa stasiun TV nasional.

Acara-acara tersebut bertujuan untuk menjaga solidaritas dengan rekan-rekan musisi dan berbagi ilmu yang bermanfaat di masa pandemi COVID-19 kepada masyarakat. Platform digital kemudian dipilih sebagai panggung alternatif bagi penggiat musik mengingat mobilitas dan kegiatan offline harus berhenti seiring dengan kebijakan protokol physical distancing, bekerja dari rumah dan belajar dari rumah,” kata Josua.

Platform digital hadir untuk memberikan kemudahan bagi semua kalangan. Media sosial seperti YouTube, Facebook, Twitter, dan Instagram, juga platform virtual conferencing seperti Zoom, Google Hangout, dan Microsoft Teams bisa mendekatkan pemusik kepada penggemar secara mudah, real time, dan mengakomodasi kebutuhan live secara interaktif.

Musisi juga dapat memanfaatkan fitur polling untuk mengetahui umpan balik yang dibutuhkan mengenai karya mereka. Selain itu, ada pula pilihan aplikasi video konferensi yang mendukung interaksi dua arah dan menawarkan opsi pengaturan konten atau kurasi penonton.

Kemenparekraf/Baparekraf mencatat setidaknya ada 44.295 pekerja seni dan pekerja kreatif terkena dampak pandemi COVID-19 dan telah diajukan ke Kementerian Sosial untuk menerima bantuan sosial dari pemerintah. Secara mandiri, Kemenparekraf juga akan terus melanjutkan program pendampingan dan pelatihan daring kepada SDM parekraf agar mendapat kompetensi yang dibutuhkan untuk kembali bekerja seusai pandemi.

Pada kesempatan yang sama, Wendi Putranto juga menjelaskan perspektifnya dari dua sisi, yaitu sebagai Co-founder ruang kreasi dan tempat pertunjukan live music M Bloc dan seorang manajer band.

Menurut Wendi, selama periode COVID-19, terdapat tren menarik mengenai konten digital musik, di antanya merebaknya fenomena wawancara live di Instagram, konten kolaborasi virtual jamming antar musisi, dan tren konser virtual.

Di samping itu, pemanfaatan platform digital juga banyak digunakan oleh musisi untuk melakukan aksi solidaritas. Sebagai contoh kegiatan penggalangan dana yang digagas oleh M Bloc dan Kitabisa.com bertajuk Dana Solidaritas Kreatif C-19 #KreatifDiSaatSulit. Acara ini terdiri dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan selama Maret dan April 2020 seperti virtual talkshow dan konser livestreaming, dan berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 65.093.368.

Penyaluran dana bantuan diberikan kepada pekerja kreatif harian (kru band, fotografer panggung, musisi jalanan, seniman pantomim, pekerja kreatif disabilitas, dan komunitas kereatif lainnya) serta tenaga medis.

“Dalam situasi pandemi seperti sekarang masa depan akan semakin terasa menantang. Namun, kita harus tetap semangat meraih peluang baru, beradaptasi, dan melakukan eksperimen acara yang disesuaikan dengan protokol yang telah ditetapkan. Dalam dunia showbiz, pertunjukan harus terus berjalan,” ujar Wendi.

Selain itu, Wendi juga yakin bahwa masa-masa pandemi seperti saat ini tidak seharusnya menurunkan semangat musisi baru dalam berkarya. “Musisi baru harus pintar memanfaatkan platform-platform digital untuk mendistribusikan lagu. Namun, yang tidak kalah penting, musisi pendatang baru harus memiliki lagu yang berkarakter dan membuat perencanaan promosi yang berkelanjutan di media massa,” tambah Wendi.

Josua berharap industri musik dapat bersinergi untuk menguatkan ekosistem. “Dengan digitalisasi yang menjadi bagian dari kita terutama di era COVID-19, tugas kita semua sebagai pelaku industri musik, komunitas, media, dan pemilik bisnis adalah untuk menciptakan karya-karya musik kelas dunia yang bisa dikonsumsi masyarakat dunia juga. From Indonesia to the world,” tutup Josua.

 

Dampak COVID-19 Bagi Traveler Gen Z

this formate

Gen Z lebih suka jalan-jalan ketimbang membeli barang (foto: booking.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 berdampak pada hampir semua orang, tidak terkecuali Generasi (Gen) Z. Salah satu yang menarik untuk ditelisik adalah bagaimana wabah Corona memengaruhi hobi melancong generasi yang memiliki karakter bebas, independen, dan gemar bepergian itu.

Selama ini, mereka yang lahir dalam rentang waktu 1995-2010 itu, menganggap tavelling lebih penting daripada menabung untuk membeli kebutuhan lain seperti, rumah misalnya. Sebuah survei menunjukkan hampir tujuh dari sepuluh Gen Z telah merencanakan perjalanan. 

Kegemarannya bepergian dan berpetualang menjadikan Gen Z sebagai agen promotor yang efektif. Mereka ini akrab dengan media sosial bahkan barangkali tidak bisa hidup tanpa dunia digital dan Internet.

Mereka akan mengunggah tempat-tempat wisata yang dikunjungi ke sejumlah platform termasuk Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, maupun fitur Instagram Stories di Instagram. Kementerian Pariwisata bahkan telah memanfaatkan mereka dengan membentuk GENPI (Generasi Pesona Indonesia), komunitas anak-anak muda pecinta pariwisata dan aktif di medsos.

Kini, saat pandemi Covid-19 masih belum mereda, mereka ‘terperangkap’ di rumah. Keadaan telah mengubur rencana perjalanan yang telah dirancang jauh.

Bukan hanya itu, mereka yang baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja pun mulai khawatir. Ketersediaan lapangan pekerjaan yang minim akibat rusaknya tatanan ekonomi, menghantui mereka.

Situs berita traveling Skift baru-baru ini melakukan studi dampak Covid-19 terhadap Gen Z. Mayoritas kelompok Gen Z, seperti halnya yang lain, prihatin dengan virus Corona yang penyebarannya bergerak secara eksponesial.

Tetapi yang menarik, hal itu seolah tak memengaruhi kebiasaan melancong mereka. Data menunjukkan, justru ada tren meningkat. Ini mencerminkan bahwa kebiasaan bepergian Gen Z tak banyak terpengaruh Corona.

Catatan menarik lainnya adalah bagaimana para pelancong ini memandang pentingnya perjalanan. Memang benar, dampak COVID-19 terhadap perekonomian dunia begitu dahsyat. Hal itu memaksa orang-orang untuk lebih berhemat dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Sebelum Corona, sebagian penduduk dari Gen Z menganggap travelling sebagai sebuah kebutuhan yang lebih penting dari misalnya membeli rumah.

Pandangan itu masih berlaku, meski mereka menyatakan akan lebih ketat membelanjakan uang. Studi ini menunjukkan Gen Z masih akan meningkatkan biaya perjalanan tahun depan meski ada penyesuaian pengeluaran. 

Tren ini menjadi pekerjaan rumah bagi para biro perjalanan untuk menemukan cara unik bagaimana memenuhi kebutuhan melancong para Gen Z sehingga perjalanan menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi mereka.

 

 

Kisah Heroik Dibalik Selamatnya Naskah Asli Curios George

this formate

Hans dan Margret (foto: times of Israel)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagian anak-anak Indonesia pasti mengenal tokoh George, sang monyet usil yang ada di serial kartun ‘Curious George’. Stasiun televisi ANTV pernah rutin menayangkannya pada 2016 silam. Animasi ini menampilkan tokoh monyet bernama George yang dibawa dari rumahnya di Afrika oleh “Pria Bertopi Kuning” untuk tinggal dengannya di kota. 

Setiap pagi pukul 06.00, anak-anak Indonesia dapat menyaksikan film animasi yang diadaptasi dari buku karya pasangan suami-istri Yahudi berkebangsaan Jerman, Hans Augusto Rey dan Margret Rey.

Buku ini pertama kali terbit di New York, Amerika Serikat, tepatnya usia Perang Dunia ke-2. Dan langsung meledak. Kini, Curious George sudah dicetak sebanyak 75 juta ekseplar dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa. Bukan hanya itu, Curios George bahkan punya tv show sendiri di Amerika, dan kisahnya sudah tiga kali diangkat menjadi film layar lebar. 

Namun, siapa yang mengira jika kesuksesan yang diraih ‘George’ saat ini, nyaris pupus. Seandainya Hans dan Margret tak cukup kreatif mencari cara melarikan diri dari Paris saat pasukan Nazi merangsek ke sana, tentu nasib ‘George’ tak secemerlang sekarang. 

Jauh sebelum buku Curios George menjadi mendunia, ada satu kisah yang kelak menentukan nasibnya. Kisah ini bermula dari sebuah apartemen di Rio de Janeiro, Brazil yang dihuni pasangan pengantin baru Hans & Margret.

Mereka tinggal bersama hewan peliharaan, yakni dua ekor monyet yang kerap membuat masalah. Saat pasangan berkebangsaan Jerman ini berbulan madu ke Paris, mereka rupanya langsung jatuh cinta pada kota yang dikenal sebagai kota fashion dan paling romantis itu.

Keduanya kemudian memutuskan untuk menetap di sana. Selama 4 tahun tinggal di sana, pasangan ini produktif menulis dan membuat ilustrasi buku untuk anak-anak. Salah satu karakter yang dikembangkannya terinspirasi dari hewan peliharaan mereka di Brazil, monyet Vivre.  

Curious George sudah dicetak sebanyak 75 juta ekseplar dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa

Saat pasangan ini masih menetap di Paris, Perang Dunia II pun meletus. Pada 1940 Pasukan Nazi berhasil merangsek masuk ke Perancis. Hans dan Margret yang keturunan Yahudi sangat khawatir atas keselamatan jiwa mereka.

Rencanan pun disusun untuk secepatnya meninggalkan Paris. Mereka sudah memutuskan untuk berlayar ke New York melalui pelabuhan kapal laut di kota Lisbon, Portugal.

Sayang, saat PD II tak ada kereta yang beroperasi. Di tengah keputusasaan itulah keduanya menemukan sebuah toko sepeda yang ditinggalkan pemiliknya dan nyaris kosong. Dengan perlengkapan seadanya, Hans pun berimprovisasi merakit sepeda dengan membeli sejumlah spare parts tambahan.

Berhasil, keduanya pun kemudian lekas berkemas membawa barang secukupnya agar muat ditaruh dalam keranjang sepeda, termasuk naskah asli yang kelak menjadi Curious George

Bersepeda bersama Hans dan Margret, ‘George’ memulai petualangan selama 4 hari penuh untuk tiba di stasiun kereta terdekat. Dari sana mereka kemudian melanjut ke pelabuhan kapal laut di Lisbon, Portugal dan bertolak ke New York.

Baru di New York lah mereka menerbitkan buku dengan menciptakan nama George, Curious George agar lebih terdengar ke-Amerika-an. Di sanalah Curious Geroge mengawali debutnya hingga kemudian mendunia. Di sana pula pasangan Hans dan Margret menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang dan bahagia.

 

Selamat Hari Bacang, Hari Festival Duan Wu dan Happy Dragon Boat Festival

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hari ini di WA grup komunitas Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC) yang berisikan para founding father pariwisata Indonesia yang berjuang sejak tahun 1950 an beredar ucapan Selamat Hari Bacang. Ternyata Hari Bacang berkaitan dengan Festival Duan Wu dan Dragon Boat Festival.

Ibu Tuti Sunario, mantan eksekutif Badan Promosi Pariwisata Indonesia lalu memposting gambar kue bacang berbentuk segi 4 dengan tiap segi mengandung makna 1.Suami istri saling mencintai jangan bertengkar, 2.sekeluarga damai sejahtera sehat selalu, 3. semua rejeki tidak ada yang ketinggalan, 4. Usaha sukses karir meningkat.

Broer Kusuma, pengusaha dan penulis yang telah berkelana di 176 negara dan pemerhati warisan dunia menimpali dengan kenikmatan makan bacang  diikuti ucapan selamat hari Bacang dari Arifin Pasaribu, mantan Public Relation (PR) Manager pertama Hotel Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pada tanggal 5 Agustus 1962.

Ucapan Selamat Festival Duan Wu dalam Mandarin (Pinyin dan artinya) – Bulan 5 tanggal 5 menurut penanggalan Imlek merupakan hari raya Duan Wu Jie yaitu salah satu dari 8 Hari Raya Tradisional Tonghoa yang masih dirayakan sampai saat ini.

Bakcang atau bacang dikutip dari Wikipedia.org  adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata ‘bakcang’ sendiri berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia.

Bakcang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. 

Bakcang kemudian menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu yang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging jadi Arti bakcang adalah berisi daging. Tetapi pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. 

Bakcang yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang. Terbuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri, dan jahe sebagai isi.

Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap, dan sedikit minyak nabati.

Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daun bambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk limas segitiga.

Festival Duan Wu

Kegiatan penting yang sering dilakukan dalam merayakan Festival Duan Wu adalah Perlombaan Perahu Naga (Dragon Boat) dan memakan makanan khusus Festival Duan Wu yaitu Bakcang (Zong Zi).

Selain kegiatan penting diatas, mengirimkan ucapan selamat kepada orang tua, sanak keluarga, rekan kerja maupun teman-teman juga merupakan hal yang sering dilakukan, baik melalui SMS, E-mail maupun WA 

Berikut ini merupakan beberapa kata-kata ucapan selamat Festival Duan Wu dikutip dari Dinaviriya.com;

Sebutir beras menandakan sebuah harapan, sebuah doa. Saya bungkus dan kirimkan semua harapan serta doa saya kepadamu dalam Festival Duan Wu ini, semoga setiap hari dapat kamu lewati dengan penuh warna-warni, karir lancar seperti Perahu Naga yang selalu bersaing untuk menang.”

“Festival Duan Wu telah tiba, Saya kirimkan doa saya ini, semoga karir-mu seperti Perahu Naga yang maju dengan cepat, Keluarga seperti  bakcang yang selalu hangat, kepribadian seperti daun bakcang yang begitu elegan,  Kebahagian seperti beras ketan yang melekat kuat.”

 “Lapis demi lapis daun Bakcang, membungkus kasih sayang yang tak terpisahkan, benang demi benang mengikat kerinduanku kepadamu; butir demi butir beras serta keharuman aromanya mengirimkan doaku yang paling dalam kepadamu, selamat hari raya Festival Duan Wu,”

“Festival Duan Wu telah tiba, SMS saya juga tiba, mengirimkan doaku kepadamu; semoga kedamaian selalu bersenyum padamu, kebahagian juga telah tiba di hadapanmu, semoga kesenangan selalu memelukmu, kesulitan selalu menjauhimu, kesehatan selalu bersamamu; dalam festival Duan Wu ini, semoga semua yang terbaik barada dipihakmu.”

“Tuhan memberikanku sebuah Bakcang, didalamnya terdapat kebahagian, kekayaan dan keberuntungan, saya ingin mengirimkannya kepadamu, semoga karirmu lancar, kehidupanmu bahagia selalu, percintaanmu manis selalu, setelah memakannya, semoga bahagia selalu menyertaimu.”

 

 

 

 

Menghadapi nilai-nilai dan karakter kita saat kita sendiri  

this formate

Menikmati Work from Home ( WfH) dari ruangan rumah yang kecil-kecil di Tokyo. ( Foto: GETTY IMAGE).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah berbulan-bulan bekerja, belajar, beraktivitas di dalam rumah, Yoko Ishikura, profesor emeritus Universitas Hitotsubash, Jepang  dan merupakan konsultan independen di bidang strategi global, daya saing dan bakat global menulis untuk The Japantimes mengenai bagaimana memahami karakter diri kita sendiri.

Tulisan panjangnya ini bisa membantu semua individu di dunia termasuk di Indonesia untuk menikmati Work from Home ( WfH) dan aktivitas lainnya di rumah saja hasil pengamatan April lalu yang terjadi setelah warga Jepang mengalami awal-awal semi lockdown.

Lebih dari tiga bulan setelah kami mengetahui pecahnya coronavirus baru di Wuhan, Cina, pemerintah Jepang akhirnya mengumumkan keadaan darurat terkait infeksi domestik COVID-19.  Sementara pemerintah mengatakan tindakan itu bukan suatu penguncian seperti yang dilakukan di negara lain.

Tapi tujuannya untuk mengendalikan virus, dan bukan  hukuman bagi orang-orang yang tidak tinggal di rumah (kecuali untuk tugas-tugas penting). Kebijakan ini diharapkan membuat  mayoritas orang akan mengikuti  sesuai permintaan pemerintahnya.

Kesempatan seperti apa yang diberikan oleh situasi “semi-lockdown ini?  Berikut ini adalah pendapat saya berdasarkan pengamatan tentang bagaimana individu, bukan masyarakat pada umumnya, mengikuti permintaan untuk tinggal di rumah selama dua akhir pekan sebelum deklarasi keadaan darurat.

Kita diberi kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kita sendiri, membuat pilihan maupun keputusan serta mengambil tindakan.  Sangat ironis bahwa kita memiliki kebebasan ini di bawah lingkungan yang sangat ketat dari pandemi COVID-19.

Pada pertengahan Maret, rasio karyawan reguler perusahaan penuh waktu yang terlibat dalam pekerjaan jarak jauh / telework ada 13 %, menurut sebuah survei oleh Persol Research Institute.  Pada 5 April, penurunan hanya  13 % dalam tren mobilitas untuk tempat-tempat kerja yang dicatat oleh Laporan Mobilitas Komunitas Google. 

Tetapi jumlah pekerja kantor yang akan melakukan pekerjaan jarak jauh dari rumah cenderung meningkat setelah keadaan darurat telah diumumkan.

Pertemuan online meningkat dengan sangat cepat, dan pekerja perusahaan diharuskan untuk mempersiapkan pertemuan tersebut dan berpartisipasi dari rumah.  Beberapa orang mungkin diminta untuk membuat laporan harian tentang kegiatan mereka.

Namun, ketika orang-orang bekerja di rumah, mereka tidak secara langsung “diawasi” oleh bos dan rekan mereka seperti ketika mereka berada di kantor. Sisa hari itu tergantung pada kebijaksanaan dan pilihan mereka sendiri.  

Mereka “diberdayakan” untuk memutuskan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka alih-alih pergi ke kantor dengan kereta yang ramai pada waktu tertentu setiap hari dan bekerja sepanjang hari dengan orang lain.

Ketika sekolah ditutup, keluarga menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah dan lebih banyak keputusan untuk menyulap kegiatan yang perlu dibuat – beberapa dari mereka hampir semua melakukannya untuk pertama kalinya.

Kebebasan yang baru diperoleh ini untuk membuat pilihan akan datang dengan kesempatan untuk menghadapi kenyataan tentang diri kita sendiri.  Orang tua dengan anak-anak kecil dapat membuat pilihan  tentang cara membagi pekerjaan rumah seperti membersihkan, memasak, dan tugas-tugas lain dengan pasangan mereka.

Memutuskan berapa banyak waktu dan bagaimana menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, yang sekolahnya ditutup.  Ini bukan keputusan yang mudah karena rumah yang khas dan kecil- kecil di Tokyo.  Perkelahian dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga dapat meningkat jika orang tua menjadi stres oleh situasi ini.

Terlepas dari kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang berhubungan dengan keluarga, orang dihadapkan dengan pertanyaan tentang bagaimana menghabiskan waktu yang telah dibebaskan dengan tidak bepergian.

Jenis kegiatan apa yang kami minati?  Apakah kita hanya duduk dan menonton TV?  Apakah kita membaca buku yang kita beli tetapi belum sempat membaca?.

Menurut sebuah survei tentang bagaimana orang menghabiskan waktu pada pertengahan Maret, waktu yang dihabiskan untuk menonton TV paling tinggi 44 %, diikuti dengan olahraga / membaca 17 persen.

Apakah kita mengikuti kursus online untuk mempelajari keterampilan baru seperti pemrograman atau belajar bahasa asing?  Apakah kita mengikuti seminar / workshop yang ditawarkan online?  

Apakah kita mencoba mempelajari lebih lanjut tentang cara menggunakan perangkat dan aplikasi TI sehingga kita dapat memperluas dunia kita di luar ruang fisik?  

Apakah kita memulai kegiatan baru seperti menggambar, memainkan alat musik, yoga dan olahraga lainnya dengan bantuan video YouTube yang memberikan petunjuk langkah demi langkah?

Atau apakah kita terus menonton berita “menyedihkan” tentang COVID-19 dan khawatir tentang pandemi dan ekonomi?

Apa yang kita lakukan jika kita penggemar olahraga yang selalu menonton acara langsung seperti sepak bola, sepak bola, bisbol, atau tenis? 

Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, “Apa hal lain yang bisa saya lakukan untuk menjaga diri saya terhibur dan tidak depresi?

Ketika seruan untuk menjauhkan kerumunan sosial dan semi-lockdown berlanjut selama beberapa minggu, pertanyaan-pertanyaan mungkin berubah menjadi “Apakah kita cukup disiplin untuk melanjutkan kegiatan untuk menjaga semangat dan motivasi kita?  “

Secara fisik dibatasi dengan hilangnya pengalaman “nyata” dan “kontak tatap muka” memaksa kita untuk memikirkan hubungan apa dan orang-orang yang kita hargai.  

Apakah kita mencoba berkomunikasi dengan teman-teman yang sudah kehilangan kontak, atau memanggil saudara lansia?  Setiap tindakan ini membutuhkan kehendak kita sendiri untuk bertindak.

Meskipun kita menghadapi banyak batasan, kita mungkin menemukan apa yang benar-benar kita sukai, bagaimana kita berperilaku dalam kondisi serius – disiplin atau tidak tahu siapa orang dan hubungan yang kita hargai.

Bahkan mungkin tidak tahu tujuan hidup kita.  Ketika Anda menghadapi bahaya kehilangan orang yang Anda cintai dan bahkan diri Anda sendiri karena pandemi, prioritas Anda dalam hidup dan tujuan menjadi jelas.

Masing-masing dari kita diberi kebebasan dan kemungkinan yang hampir tak terbatas untuk memutuskan kegiatan kita sendiri.  Ini adalah kesempatan langka bagi banyak orang Jepang – yang cenderung mengikuti norma – untuk mengendalikan hidup mereka.

Bahkan untuk sebagian hari dan hanya untuk sementara waktu. Masa Ini adalah kesempatan yang bagus untuk menemukan kenyataan dari kemampuan, motivasi, minat, dan kecenderungan kita sendiri.

Kita mungkin melihat betapa sempit atau lebarnya dunia kita.Kita mungkin menemukan bahwa kegiatan kita sendiri terbatas pada orang-orang yang kita kenal melalui pekerjaan, dan bukan di luar.  Kita mungkin menemukan bahwa kita tidak memiliki jaringan orang yang beragam di luar pekerjaan.

Kita mungkin menemukan bahwa kita tidak mandiri seperti yang kita duga, karena kita menghindar dari belajar sesuatu yang baru ketika ditinggalkan sendirian.

Di sisi lain, kita dapat melihat diri kita sendiri dengan minat yang baru ditemukan dalam kegiatan budaya seperti musik dan seni, karena kita sering  streaming langsung konser, pertunjukan seni dan kunjungan online ke museum-museum terkenal di seluruh dunia.

Kita mungkin menemukan kekuatan baru di dalam diri kita, jika kita mempertahankan semangat tinggi dan menghibur orang lain selama masa sulit “tinggal di rumah” ini.

Beberapa fakta tentang diri kita mungkin tidak begitu positif dan membesarkan hati, tetapi dengan penemuan baru kita dapat mulai melakukan sesuatu tentang hal itu.  

Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) atau apapun namanya  keadaan darurat yang dinyatakan oleh pemerintah telah memberi landasan peluncuran untuk mulai mengubah diri Mari kita gunakan kesempatan ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang diri kita sendiri dan bergerak maju.

 

 

Pilih Prioritas Kesehatan atau Ekonomi ? Yuk Simak 2 Negara Pasca Lockdown

this formate

Suasana kota Paris yang dijuluki kota cafe, dimana budaya ‘nogkrong’ di cafe digemari warganya maupun turis asing. ( Foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Relaksasi atau pelonggaran aturan lockdown yang sebelumnya diberlakukan guna menekan laju penyebaran virus corona sudah dilakukan oleh beberapa negara sehingga warga setempat bisa kembali beraktivitas normal

Meski umumnya merasa lega, sebagian besar masyarakat menyikapinya dengan berhati-hati. Di Jepang misalnya, meski warga dihimbau untuk gerakkan wisata domestik namun tempat wisata masih sepi.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka, warga Jepang memang sudah menggunakan pembersih tangan, memakai masker dan menjaga kebersihan jadi ketika terjadi pandemi global kebiasaan mereka itulah yang justru  menjadi protokol kesehatan di seluruh dunia.

Sebaliknya di Paris pasca lockdown, kota yang dipenuhi oleh cafe-cafe sudah kembali dipenuhi warganya dan nampaknya sulit mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Mengutip The Mainichi, tempat  wisata regional di Jepang masih sepi dan sebagian besar pengunjung belum kembali.  Di Iwate, satu-satunya prefektur tanpa kasus coronavirus yang dilaporkan, kuil Budha Chuson-ji, situs Warisan Dunia UNESCO juga tetap kosong.

“Saya harap setidaknya beberapa pengunjung datang sekarang apalagi pembatasan akses antar-prefektur telah dicabut,” kata Naoko Sato, 57, seorang karyawan toko suvenir yang dekat dengan kuil.

Saori Kishino, 42, seorang karyawan toko suvenir di dekat kuil Toshogu yang terkenal di Nikko, Prefektur Tochigi, mengatakan orang hanya membeli satu kotak permen sebagai suvenir untuk  diri sendiri.

 “Kalau terlalu ramai di dalam toko juga akan menjadi masalah sehingga sulit bagi industri jasa untuk hidup berdampingan dengan langkah-langkah coronavirus,” katanya.

Jepang  mencoba untuk mencapai keseimbangan antara memperluas kegiatan ekonomi dan mengadopsi tindakan pencegahan yang lebih kuat. Sementara para ahli kesehatan telah memperingatkan negara itu dapat melihat gelombang infeksi kedua jika orang membiarkan penjagaan dirinya turun.

Jumlah orang sekarang diizinkan di acara-acara seperti konser telah dinaikkan menjadi 1.000, dari 100 untuk venue indoor dan dari 200 untuk area  outdoor.

Namun, tempat-tempat di dalam ruangan hanya diperbolehkan mengisi setengah dari kapasitasnya, sementara di luar ruangan diminta memastikan jarak yang cukup.

Di Osaka, pusat hiburan Yoshimoto Kogyo Co. kembali menampilkan pertunjukan komedi di depan penonton langsung di teater Namba Grand Kagetsu di kota Jepang barat untuk pertama kalinya dalam tiga setengah bulan.

“Pada akhirnya, saya telah kembali ke tahap ini. Kami akan melakukan yang terbaik dan berhati-hati karena tidak ada artinya jika orang terinfeksi setelah pembukaan kembali,” Katsura Bunshi VI, seorang master cerita komedi tradisional Jepang rakugo.

Olahraga profesional telah diizinkan untuk dilanjutkan – tanpa penonton – dengan musim Baseball Nippon Professional tahun ini, sementara permintaan penutupan bisnis untuk perusahaan seperti klub malam juga telah dicabut.

 Beberapa penggemar baseball terlihat mengambil foto di luar Tokyo Dome, stadion 999Yomiuri Giants.  “Saya di sini untuk melihat seperti apa stadion pada hari pembukaan,” kata Yumi Shimizu, seorang karyawan perusahaan.

 “Saya merasa sedih bahwa pertandingan akan diadakan tanpa penonton. Saya harap kami akan dapat menontonnya sesegera mungkin,” kata pemain 30 tahun dari Sumida Ward, Tokyo.

Aktivitas di Paris

Sementara di Paris, artis Anggun C Sasmi melalui unggahannya di Instagram tidak memilih nongkrong di cafe yang padat. Dia mengaku kangen dengan kuliner khas Indonesia. Makanya untuk makan malam pertama pasca lockdown dia  dan putrinya Kirana memilih singgah di restoran Indonesia.

“Yuk naik becak dan makan rendang,” ujarnya. Dalam potret unggahannya tampak Anggun dan Kirana begitu semringah akhirnya bisa jalan-jalan dan berpose di atas becak seperti yang ada di Indonesia

Mengutip sortiraparis.com, kebiasaan nongkrong di cafe baik turis asing maupun warga Perancis di Paris bahkan setelah masa pelonggaran ini mengundang keprihatinan banyak pihak.

Memang virus tersebut dikatakan berada di bawah kendali tapi perang melawan epidemi coronavirus belum berakhir.  Dan meskipun COVID-19 tampaknya melambat di Eropa, hipotesis gelombang kedua masih dipertimbangkan oleh komunitas ilmiah.

Haruskah kita mengharapkan gelombang coronavirus kedua di Perancis?  Menurut Komite Ilmiah COVID-19 di negara itu, sangat mungkin untuk mengembalikan kejatuhan ini.  Hipotesa dan pengamatan sejauh ini menghubungkan perkiraan pusat Eropa untuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang menandakan gelombang kedua di Eropa juga.

Bulan Mei lalu, Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Eropa (ECDC) memberi sinyal Eropa harus bersiap untuk gelombang kedua.  Kepala ECDC Andrea Ammon mengatakan itu bukan tentang apakah hal itu akan terjadi

” Tetapi kapan dan seberapa besar itu bisa terjadi.  Perspektif kebangkitan virus bahkan menjadi topik utama untuk menyusun rencana penahanan darurat cegah penyebaran virus lagi oleh pemerintah Prancis,” ujatnya.

Warga dunia tentunya tidak ingin ada gelombang kedua penyebaran virus. Banyak sudah petunjuk bagi semua individu maupun pemimpin dunia tentang apa yang harus dipertahankan setelah pandemi ini berlalu.

Pemberlakuan lockdown di banyak kota dan negara di dunia berdampak positif ke lingkungan. Polusi udara berkurang, langit lebih bersih, cerah, dan lebih biru. Selain itu, udara pun semakin segar. Nah pilih mana ? tergesa-gesa restart atau masih bisa menikmati bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Pilih kesehatan atau kepentingan ekonomi ?.

 

Menyikapi Rencana Pemerintah Restart Pariwisata Mulai Juli 2020

this formate

Garuda Whisnu Kencana, Bali, salah satu obyek wisata yang siap menerima kunjungan wisata, Juli. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Upaya pemerintah untuk restart kegiatan pariwisata dan membuka sejumlah destinasi wisata mulai Juli 2020 telah dibahas dalam Rapat Kordinasi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Jika pemerintah semangat bagaimana dengan kalangan industri pariwisatanya,  apakah Juli waktu yang tepat untuk memulai kembali kegiatan pariwisata ?.

Menurut Anton Thedy, pendiri TX Travel dengan 255 cabang di Indonesia,  industri pariwisata siap saja dukung pemerintah untuk menggerakkan wisata domestik dan perekonomian daerah. Justru yang belum siap mungkin dari peserta tournya karena proses untuk naik pesawat tidak seperti dulu lagi.

Dia menyambut baik jika Banyuwangi, Labuan bajo, Raja Ampat dan obyek wisata alam lainnya sudah siap menyambut wisatawan domestik Juli mendatang dengan protokol kesehatan yang ketat.

” Sekarang ini kan ada rasa cemas dan ketakutan naik pesawat karena proses nya di bandara. Oleh karena itu  harus di sosialisasikan dulu, apakah cukup pakai rapid test saja dan semua orang bisa jalan jalan atau kategori terbatas yang bisa terbang,” kata Anton, hari ini.

Sepertinya terlalu cepat buka di awal Juli karena keinginan hati memang mau jalan jalan tapi secara mental masih takut terpapar COVID-19 karena cara penanganan yang masih belum maksimal, tambah Anton

Menurut dia untuk menggerakkan wisata domestik harus ada promosi yang menarik dan harus dilakukan mulai Agustus supaya roda pariwisata bisa bergerak lagi, harga tiket terjangkau, paket hotel menarik, dipancing dengan program murah meriah akan menarik minat jalan jalan lagi.

Syachrul Firdaus, Direktur Eksekutif, Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) mengatakan rencana pemerintah untuk menggerakkan wisata domestik harus diikuti langkah nyata.

ASTINDO memfasilitasi anggota dengan  suatu Platform yg disebut New ASTINDO  Hub (NAH) agar para anggota dapat saling menjual paket wisata di setiap daerah, yang bisa di booking secara Online

Jadi kami dorong anggota yang usahanya di Belitung jual paket ke Bali, Menado dan daerah lainnya. Begitu juga yang di Bali, jual paket wisata dari daerah lainnya untuk menggerakkan wisara domestik,” kata Firdaus.

Menurut dia, selama pandemi belum terbukti stimulus dan rileksasi yang dijanjikan oleh pemerintah untuk dunia usaha termasuk travel agent yang akan dikucurkan untuk membantu dunia usaha tetap survive.

” Dari Rapat Kordinasi para Menko pada 26 Maret dan dipertegas di Rakor yang dipimpin Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 1 April 2020 ada dana Rp 405 triliun yang mau dikucurkan tapi  sampai sekarang bulan Juni belum jelas,” 

Asosiasi yang dipimpinnya adalah pendukung utama sektor pariwisata, penghasil terbesar devisa negara yang seharusnya mendapat perhatian khusus. Banyak biro perjalanan wisata ( travel agent)  yang merumahkan karyawan bahkan di PHK tanpa pesangon karena perusahaan tidak lagi miliki modal.

 “Jika memang pariwisata penting tiru saja Thailand yang memberikan subsidi bagi warganya untuk berwisata ke daerah dengan beli voucher melalui travel agent dan tujuannya untuk menggerakkan perekonomian daerah,” kata Firdaus.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memang telah membahas soal persiapan pembukaan pariwisata pada beberapa kawasan konservasi wisata di Indonesia yang siap dibuka bulan Juli 2020.

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) secara resmi telah mengesahkan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) yang disusun bersama para pemangku kepentingan dan kementerian terkait.

Protokol kesehatan sektor parekraf disahkan melalui KMK Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

“Pemerintah dorong pergerakan domestik dan meluncurkan empat program untuk wisatawan domestik, yaitu Activation, Staycation, Roadtrip, dan Epic Sale,” ujar Memko Marvest Luhut  saat rapat kordinasi di kantornya belum lama ini.

Kemungkinan beberapa destinasi  pariwisata akan dibuka pada bulan Juli a.l yang akan siap dibuka mulai dari Labuan Bajo hingga Bali. “Kemudian Pulau Komodo, Labuan Bajo, itu juga oleh Gubernur dilaporkan siap. Bali juga sudah siap. around Juli semua lah,” ungkap Luhut.

Dari hasil Rapat Kordinasi, kata Luhut, ada yang spesial yaitu kawasan konservasi di Banyuwangi, tepatnya di Pantai Plengkung atau yang populer disebut G-Land. Luhut menyebut kawasan ini akan dijadikan tuan rumah untuk kejuaraan surfing dunia.

Menurutnya kejuaraan surfing ini akan ditonton banyak orang, bahkan penontonnya disebut Luhut lebih besar daripada gelaran MotoGP. Kemungkinan gelaran bergensi selancar ombak ini bakal dilaksanakan tahun depan.

“Banyuwangi siap, tapi kita lihat perkembangan pandemi global COVID-19 juga nanti. Yang jelas Banyuwangi ini sudah disiapkan untuk World Surfing League. Harusnya November, itu penonton nomer 3 terbesar di dunia, lebih besar dari MotoGP. MotoGP itu nomer 9,” papar Luhut.