Akhiri Masa Tugas di Swedia dan Latvia, Dubes Bagas Hapsoro Berpamitan

this formate

Dubes Bagas Hapsoro mahir bermain organ sekaligus melakukan diplomasi musik merekatkan hubungan antar warga WNI dan antar negara. ( Foto: Kedubes RI Swedia.) 

STOCKHOLM. Swedia, bisniswisata.co.id: Duta Besar RI di Swedia dan Latvia, Bagas Hapsoro, dan istri, Ning Hapsoro berpamitan dengan WNI di kedua negara itu setelah bertugas selama 4 tahun 4 bulan.

Kegiatan perpisahan  dilakukan secara online dikarenakan mengikuti aturan Pemerintah Swedia yang masih melakukan pembatasan perkumpulan maksimal 50 orang.

Pada kesempatan tersebut, Dubes Bagas menyatakan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh WNI di Swedia dan Latvia atas kerja sama dan saling koordinasi yang baik dengan KBRI Stockholm. 

“Khususnya juga untuk kerja sama dan kepedulian masyarakat satu sama lain dalam masa pandemi COVID-19. Ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk bersatu sebagai sebuah keluarga besar menghadapi pandemi ini,” ujar Bagas Hapsoro.

Kegiatan diisi dengan pemutaran video kesan pesan dan penampilan dari berbagai pihak. Diantaranya adalah dari Honorary Consul of the Republic of Indonesia in Latvia, Mr. Valdis Tilgalis; SIS (Swedish Indonesian Society); PRII (Persekutuan Reform Injili Indonesia).

Berpartisipasi pula BBVS (Banjar Buana Vasa Swedia); Pengajian Al-Ikhlas; Indonesiska Föreningen i Göteborg; KKIS (Komunitas Katolik Indonesia Swedia); Indonesiska Kulturföreningen i Göteborg; dan sejumlah masyarakat Indonesia lainnya di Swedia dan Latvia.

Terdapat juga penampilan dari Saung Angklung Udjo yang memainkan lagu Dancing Queen dan Kopi Dangdut; penampilan gamelan oleh Tim Gamelan Gongbron dan Tim Gamelan Parakanca Duta.

Selain itu terdapat banyak lagi penampilan nyanyi dan tari. Masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia sangat antusias dengan begitu banyaknya video penampilan yang dikirimkan.

Duta Besar Bagas Hapsoro telah mengakhiri masa dinas pengabdiannya di Kementerian Luar Negeri selama 36 tahun dan sebagai Duta Besar RI di Swedia dan Latvia yang bertempat di Stockholm, Swedia selama 4 tahun 4 bulan.

Jumlah wisatawan asal Swedia ke Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Yang awalnya pada tahun 2015 hanya sebanyak 37.555 orang, pada periode Januari-Desember 2019 telah meningkat menjadi 56.380 orang.

Selain itu, pada tahun 2017, Raja Swedia, King Carl XVI Gustaf, melakukan Kunjungan Kenegaraan ke Indonesia. King Carl bahkan juga menyempatkan diri ke Bandung dan bertemu dengan Gubernur Ridwan Kamil beserta jajarannya.

Begitu banyak pencapaian beliau, terkhusus dalam masa kedinasannya di Swedia, khususnya dalam memperkuat hubungan bilateral dalam sektor politik, ekonomi, dan people to people contact

Selama 3 tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2017-2019, Kegiatan “Kampung Indonesia” dilaksanakan di Stockholm, Swedia. “Kampung Indonesia” menjadi ajang promosi seni, budaya, pariwisata, bahkan perekonomian Indonesia ke Swedia. 

Pada perhelatan terakhir “Kampung Indonesia” di Bulan Juli 2019, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berkenan membuka secara langsung, dan untuk menjajaki lebih jauh berbagai peluang kerja sama dengan Swedia. 

 

Sosok Bripka Suranto, Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan dan Produk Penunjang Pariwisata  

this formate

Bripka Suranto saat mendampingi warga untuk ketahanan pangan dan dorong  produksi dodol salak

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: kata fastabiqul khairat yang artinya berlomba-lombalah untuk berbuat kebajikan yang sesuai dengan tuntunan agama, sesuai dengan perintah allah tampak dalam aktivitasnya sehari-harinya.

Itulah Sosok Bripka Suranto, Bhabinkamtibmas Polres Kulon Progo yang sukses mendampingi warga wujudkan ketahanan pangan sejak wabah pandemi CKVID-19 menerpa Indonesia bahkan  seluruh dunia.

Banyak warga yang gelisah karena khawatir kebutuhan primer terutama makan tak dapat terpenuhi. Nah, untuk mengurangi kegelisahan tersebut, Bripka Suranto seorang anggota Bhabinkamtibmas Polsek Girimulyo Polres Kulon Progo, Yogyakarta ini berinisiatif mendampingi warga untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Sebagai anggota Polri, sosok yang bersahaja ini merasa terpanggil dan bertanggung jawab atas penghidupan warga ditengah pandemi. Apalagi, masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan Menoreh tersebut tentu semakin kesulitan mendapatkan pemasukan lantaran hanya mengandalkan dari kebun dan ternak..

“Agar warga punya aktivitas produktif dan bernilai ekonomi. Saya mengajak warga untuk mengolah salak menjadi dodol salak. Sehingga, dodol tersebut dapat dipasarkan ke kota-kota dan dapat disimpan bertahan lama sampai nanti obyek wisata dibuka, memasuki  New Normal,” kata Bripka Suranto.

Produk dodol salak dan minuman instan untuk oleh-oleh wisatawan

Dodol salak buatan warga bukit Menoreh pun mendapat sambutan positif masyarakat. “Dodol salak dikemas dengan baik dan dipasarkan ke Kota Jogja,” terang Suranto.

Selain dodol salak, Suranto juga mendampingi warga membuat makanan ringan berupa keripik pegagan. Biasanya, rumput pegagan ini hanya digunakan sebagai pakan ternak. Ditangan Suranto dan warga bukit menoreh, olahan keripik pegangan terasa lezat dan renyah.

“Ada juga warga yang membuat obat herbal dari bahan jahe, kunyit dan rempah-rempah. Minuman herbal ini sangat cocok untuk menjaga stamina tubuh agar tidak mudah sakit dan capek. Tentunya bisa meningkatkan imunitas dan Insya Allah bisa menangkal dari paparan virus Corona itu” ungkap Suranto.

Menurut dia, dalam kondisi apapun masyarakat harus tetep semangat dalam menjalankan aktivitas dan kreatif sehingga dalam masa sulitpun tetap mampu berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Sesuai arahan dari atasannya, Kapolres Kulonprogo, AKBP Tartono agar masa tatanan kehidupan baru harus disiapkan dengan baik, maka dia banyak mendampingi warga untuk melakukan pendisiplinan terhadap protokol kesehatan, mencegah penyebaran Virus Corona di wilayah Kulonprogo

“Kami minta anggota masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan seperti pakai masker, cuci tangan pakai sabun di air mengalir, jaga jarak dan lainnya,” jelasnya.

Tak heran buah dari kepedulian Bripka Suranto, dalam apel gelar pasukan untuk mempersiapkan personel dalam menghadapi masa tatanan kehidupan baru sekaligus kesiapan Hari Bhayangkara ke-74 tahun 2020, dia termasuk yang mendapat penghargaan dari Kapolres Kulonprogo.

Bripka Suranto Bhabinkamtibmas Desa Girimulyo dan rekan-rekannya seperti Bripda Arif Mutohar Bamin Subbaghumas Bagops dan Bripda Yusuf Kurniawan Bamin Subbaghumas Bagops yang telah membuat video Kulonprogo Peduli Polres Kulonprogo Berbagi dalam aksi solidaritas di tengah pandemi Covid-19.

Sosok Bripka Suranto, selain sukses meampingi warga wujudkan ketahanan pangan juga kegiatan usaha kecil pembuatan dodol salak yang mendukung pariwisata Kulonprogo sebagai oleh’oleh yang khas.

 

 

 

UMKM Perlu Pahami Cara Business Hack Secara Cepat  

this formate

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Usaha Mikro Kecil Menengah ( UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, sedang diuji di masa pandemi COVID-19 ini. Bagaimana tidak, Kontribusi UKM/UMKM terhadap PDB mencapai 60 persen dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun UKM/UMKM menjadi sektor yang paling terpuruk selama pandemi Covid19.

” Untuk itu kami terpanggil untuk memberikan solusi bisnis bagi para UMKM/IKM Indonesia melalui Webinar Series dengan tema ‘Business Hack’, yang bekerjasama dengan STP IPB dan IPB,” kata Frans Budi Pranata, CFO & CIO PT. UCOACH Djivasrana Grahasada, hati ini.

Menurut dia dengan melakukan transformasi kedalam digitalisasi bisnis maka para pelaku uMKM dapat beradaptasi dan menjadi entrepreneur yang berhasil di era New Society 5.0 ini. 

Webinar seri ini juga di disain untuk mendukung program pemerintah untuk meningkatkan entrepreneurship terutama dikalangan para pengusaha pemula (Startup). Menteri Koperasi dan UKM RI, Drs. Teten Masduki  memberikan Keynote pada webinar sebelumnya mengatakan lebih dari 60 juta UMKM di Indonesia, namun Jiwa Kewirausahaannya masih lemah.

Teten Masduki menyambut baik upaya PT. UCOACH Djivasrana Grahasada pada pelaku UMKM dan sepakat untuk bekerjasama dan berkoordinasi melalui, Deputi SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Bapak Arif Rahman Hakim.

” Intinya masih banyak yang  belum mau naik kelas. Ini yang menjadi perhatian bagi pemerintah maupun pihaknya dalam menyediakan wadah Business HACK ini,” kata Frans.

Para nara sumber serial webinar PT. UCOACH Djivasrana Grahasada hingga Desember 2020

Mengapa Business Hack

Dari hasil pengamatannya setelah beberapa kali mengadakan webinar dan berdiskusi dengan para pelaku bisnis, mayoritas pengusaha mengingini solusi praktis dan cepat. Oleh karena itu, tema ‘Business Hack’ dapat memberikan solusi dan tips bisnis dari para praktisi terbaik di bidangnya.

Diharapkan para pelaku usaha ini dapat keluar dari permasalahan danbahkan berhasil menjadi entrepreneur di era New Normal ini. Program Business Hack memfasilitasi para pengusaha SME, UKM/UMKM agar dapat meretas (hacking) bisnisnya untuk maju secara cepat.

“Program ini bukan sekedar webinar, melainkan punya aksi plus  yang akan membantu pengusaha bisa maju. Setelah mengikuti serial webinar, ternyata para peserta memerlukan hacking bisnis secara cepat bisa  mendapatkan pendampingan melalui aplikasi Ucoach.

Pendampingan dalam melaksanakan hacking bisnisnya, melalui fitur reminder, agar seluruh tugas hacking bisnis yang telah dibuat terlaksana sesuai waktunya.

Pada webinar sebelumnya Menteri Riset dan Teknologi Indonesia / Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Indonesia, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. mengungkapkan tentang pembiayaan yang belum dapat tersalurkan dengan baik, ditambah lagi masih banyaknya perantara, membuat pentingnya, UMKM dapat menggunakan teknologi dan digitalisasi untuk solusinya.

Hal yang  juga tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang masih kurang di negeri ini. Dan penguatan ekosistem ekononi digital, salah satunya Aplikasi. Pendekatan mikro tapi dengan bahasan perusahaan besar, juga inovasi berbasis klasterisasi.

Dengan Moderator Pak Andy F. Noya, pihaknya juga menghadirkan nara sumber seperti Sir Harry Darsono Ph.D,  Andrew Tani dan Yongky Susilo, untuk memberikan wawasan, motivasi dan perkembangan data dipasar.

Tiap Jumat berikutnya sampai 11 Desember 2020, pihaknya akan terus mendatangkan berbagai narasumber yang ahli di bidangnya masing-masing, baik dari dalam negeri serta mancanegara, seperti  Andrew Matthew, pengarang buku BEING HAPPY yang telah laris 8 juta eksemplar, Arthur Carmazzi, TOP 10 Leadership and Culture Professional, dengan “HOW to Earn USD 1 Million Thru Online”.

Masih banyak lagi pembicara hebat lainnya seperti : Eloy Zalukhu, Yuswohady Siwo, Susan Hartawan, Wempy Dyocta Koto, Fetty Kwartati, Arto Subiantoro, Mia Fawzia, Prof Roy Sembel, Donni Hadiwaluyo, Edo Lavika, Teguh Harapan, Elvi Angelina, Suherman Widjaja, Juanda Rovelim, Margetty Herwin, Mario Agustian Lasut, Zamar Rimba, Ayu Purwarianti, Anthony Gunawan, Antonio Dio Martin, Hendra Suwardi, Ruby Herman, Michael Yo, Vicktor Aritonang, Sudimin Mina.

“Tentunya semua ini akan menjadikan UMKM Indonesia cepat bangkit dan menyerap semua informasi untuk menjadikan mereka cepat naik kelas,” kata Frans Budi Pranata.

Mengembalikan Kepercayaan Wisatawan Jadi Kunci Sukses Pemulihan Sektor Pariwisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air harus dapat berkolaborasi dan saling mendukung dalam upaya meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata di tanah air pascapandemi COVID-19.

Sebab, mengembalikan kepercayaan wisatawan dianggap sebagai kunci sukses dalam upaya pemulihan sektor pariwisata di tanah air.

“Indonesia mengalami lack of trust of destination dari wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik, sehingga kita harus berupaya bersama meningkatkan kepercayaan terhadap wisatawan,” kata Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Sabtu.

Nia Niscaya saat berbicara dalam bincang bisnis daring ASITA bertajuk “Sinergi ASITA dan Pemerintah Menyikapi Kebijakan New Normal Pariwisata Indonesia” mengatakan, penurunan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi akibat COVID-19 sebenarnya terjadi di seluruh negara di dunia.

Di Indonesia, seiring dengan penanganan COVID-19 oleh pemerintah, sentimen dari sejumlah negara terhadap pasar Indonesia sudah mengalami pertumbuhan positif dari yang sebelumnya berada di zona merah atau di bawah 0 persen.

“Meski pada periode 9 hingga 16 Juni 2020 berdasarkan Sprinklr Analytic (social listening tools) sentimen sejumlah negara mulai terjadi peningkatan, tapi ini jangan lantas membuat kita cukup puas. Secara umum persepsi mereka masih sekitar 50 %” kata Nia Niscaya.

Dalam diskusi tersebut turut menghadirkan Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Kosmas Harefa, Duta Besar LBPP RI untuk Singapura Ngurah Swajaya, serta Duta Besar LBPP Indonesia untuk Laos Pratito Soeharyo.

Untuk dapat meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan dan pariwisata nasional pada umumnya, Kemenparekraf/Baparekraf kata Nia telah menyusun protokol Cleanliness, Health and Safety (CHS) antara lain dalam bentuk video edukasi dan handbook yang ditujukan kepada para pelaku usaha parekraf.

Selain itu juga  melakukan simulasi dan uji coba penerapan protokol sekaligus mendokumentasikan sebagai bahan untuk soft campaign dan tutorial. Juga sosialiasi/pelatihan serta publikasi kepada para pelaku dan masyarakat domestik serta internasional melalui berbagai channel.

“Inilah pokok persoalan kalau bicara wisatawan. Kesuksesan Indonesia dalam penanganan COVID-19 ini bisa menjadi salah satu penilaian dalam pembentukan nation branding. Karena itu perlu sinergi dari ASITA juga perwakilan di negara-negara pasar untuk bagaimana meningkatkan kepercayaan wisatawan,” kata Nia.

Berkaca dari negara-negara lain yang telah mampu pulih dari COVID-19, pasar dalam negeri akan berjalan lebih dahulu. Strategi ini juga akan dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf dengan kampanye #DiIndonesiaAja dengan segmentasi pasar keluarga, pasangan, wisatawan perorangan (FIT), dan pemerintah.

Begitu juga untuk pasar wisatawan mancanegara, dengan menyiapkan strategi kampanye #DreamNowTravelTomorrow sebagai branding protokol CHS. Yakni menyampaikan pesan kepada wisman terkait protokol kesehatan dan inspiring content dan tetap menjaga komunikasi dengan partner di originasi dan destinasi untuk tetap hadir dan memberikan inspirasi di pasar.

“Intinya kita harus bisa hadir di pasar dengan menampilkan konten-konten yang memberi inspirasi pada wisatawan,” kata Nia Niscaya.

Duta Besar LBPP RI untuk Singapura Ngurah Swajaya sepakat dan siap mendukung strategi yang disiapkan Kemenparekraf/Baparekraf karena pariwisata erat kaitannya dengan kepercayaan.

Ngurah mengatakan pihaknya akan mendukung dengan turut membuat konten-konten terkait penanganan COVID-19 di Indonesia dan disiarkan melalui seluruh media yang dimiliki.

“Pasar domestik di Indonesia berpotensi luar biasa namun hal itu tentu tidak cukup dan perlu ditopang dengan wisatawan mancanegara. Sehingga citra akan pariwisata di Indonesia terus berada di benak wisatawan,” kata Ngurah.

Sementara Duta Besar LBPP Indonesia untuk Laos, Pratito Soeharyo mengatakan pihaknya juga akan mendorong para diaspora Indonesia, terutama yang berada di Laos untuk mempromosikan kebijakan pariwisata Indonesia.

Pratito mengatakan pihaknya juga telah memiliki berbagai program untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di Laos. Salah satunya mendorong pembukaan penerbangan langsung dari Luang Prabang ke Bali.

“Kita juga telah memiliki rencana program untuk famtrip Key Opinion Leaders dan jurnalis dari Laos,” kata Pratito.

Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kosmas Harefa mengatakan pihaknya memiliki 13 program dalam mendukung sektor pariwisata di masa normal baru atau pascapandemi COVID-19.

Diantaranya melakukan sinkronisasi anggaran belanja terkait pariwisata yang tersebar di berbagai kementerian/lembaga juga mendorong anggaran belanja perjalanan dinas dalam negeri (termasuk kegiatan MICE) seluruh K/L agar dialokasikan ke daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. “Jumlah ini tidak sedikit, ini bisa jadi kekuatan perekonomian di destinasi kita,” kata Kosmas.

 

Dhea Siregar, Rapper Asal Medan Yang Sukses Berkat Media Sosial

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dhea Siregar adalah seorang gadis asal Medan yang berhasil meraih kesuksesan sebagai rapper muda. Awal Juli akan  merilis video klip terbarunya yang bertajuk “Bukan Salahku”.

Banyak disukai karena karya-karyanya yang inspiratif, Dhea mulai mendapatkan popularitas berkat media sosial. Berani merantau ke ibukota di usia delapan belas tahun, kemampuannya mengekspresikan diri ke dalam lirik lagu, mengeksplor diri dan gemar mengikuti perkembangan tren, membuat gadis yang akrab disapa Dhea ini mudah beradaptasi dan mampu belajar dengan memanfaatkan pergaulan di sekitarnya.

Sebelum aktif menjadi rapper, Dhea memang memiliki ketertarikan di industri kreatif sejak lama dan aktif mengikuti berbagai macam komunitas dance serta rajin menghadiri acara musik sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Mendapatkan inspirasi saat seniornya tampil di atas panggung, Dhea mulai termotivasi untuk mengeksplorasi potensinya, baik dalam bermusik maupun menari. “Saat aku lihat seniorku, Bang Leste tampil, aku merasa itu keren dan aku juga mau jadi seperti itu,” ungkapnya.

Dia sharing pengalaman pada  Bang Leste dan teman-teman  yang lain dan banyak belajar dan mendapatkan energi positif dari mereka. Selagi mengasah kemampuannya, Dhea yang berani tampil ini mulai menyalurkan hobi dan kemampuannya melalui media sosial yaitu Likee, platform pembuatan video pendek.

Temannya lalu mengajak Dhea untuk membuat akun di aplikasi tersebut. Dhea tidak menyangka bahwa keisengannya saat itu bisa menunjang karirnya, membuatnya menjadi influencer yang banyak mengubah hidupnya.

“Aku emang punya ketertarikan yang besar sama berbagai macam jenis kesenian dan membuat karyaku sendiri, seperti bercerita melalui lirik rap dan dance untuk bersenang-senang dan menyalurkan hobi,” ujarnya.

Biasa  membagikan penampilan di media sosial, apalagi setelah pakai Likee. Dia yang sebelumnya memang biasa buat dan mikirin konsep lagu dan dance, jadi semakin terbiasa untuk bikin kreasi video, jelasnya.

Dhea mulai aktif sebagai rapper dan merilis lagu pertamanya berjudul “Sorry” pada bulan Mei 2019. Tidak hanya merintis karir bermusiknya, Dhea juga mulai menjalankan hobinya yaitu secara rutin membuat dan mengunggah video di Likee.

Dia tidak memiliki fokus lain kecuali bagaimana fokus untuk selalu menghasilkan video berkualitas dengan membuat agenda harian. Dengan konsistensi yang selalu dijaga, Dhea sering mendapatkan posisi Top Global di Likee, menunjukkan peringkat akun Dhea di tingkat internasional. 

Hal tersebut memengaruhi peningkatan followersnya sehingga dia mendapatkan penghasilan, dan banyak brand yang menawarkan kerja sama dengan Dhea. 

“Aku punya target untuk post konten setiap hari. Dengan target itu, akhirnya aku coba segala jenis konten yang bisa aku buat. Mulai dari video slow motion, dance, transisi, terus kepikiran drama, pokoknya macem-macem. Aku nikmatin banget prosesnya dan ternyata nggak nyangka konten-konten aku mendapatkan respon positif dari orang-orang,” ungkapnya.

Dengan penawaran kerja yang semakin banyak dan mempertimbangkan kesempatan yang lebih besar, Dhea memutuskan untuk merantau ke Jakarta seorang diri. “Bulan Desember kemarin, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta karena banyak teman-teman yang memiliki impian yang sama, dan kami akhirnya saat ini berjuang bersama di Jakarta,” tambahnya.

Saat ini, Dhea sudah bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dengan uang yang ia hasilkan sendiri. Memiliki gaya yang boyish, Dhea selalu berkeinginan untuk memiliki motor gede atau moge. 

Profesi sang ayah sebagai kontraktor dengan penghasilan yang cukup fluktuatif, terkadang membuat keluarga Dhea rela untuk berulang kali menjual motornya di saat mendesak. Setelah sukses, Dhea sudah bisa memiliki moge yang selalu ia idamkan.

 

Platform Digital dan Konten Kreatif Diharapkan Tarik Kepercayaan Wisatawan.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/ Baparekraf) berharap pemanfaatan platform digital dan konten kreatif bisa menjadi sarana edukasi yang efektif untuk menarik kepercayaan wisatawan agar kembali berwisata di Indonesia.

Deputi Bidang Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nia Niscaya, saat Webinar Workshop Konten Kreatif Travel Vlogger bersama travel vlogger Ariev Rahman dan Sutiknyo, Jumat (26/6/2020) menjelaskan di tengah pandemi COVID-19 saat ini, Indonesia sedang mengalami lack of trust destination dari wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

Gaining trust dan confidence adalah kunci dalam percepatan pemulihan sektor pariwisata namun hal ini tidak mudah, butuh upaya yang luar biasa dan kerja sama dari kita semua,” kata Nia Niscaya.

Berdasarkan data dari social listening tools Sprinklr Analytic, selama periode 9-16 Juni 2020, ada peningkatan signifikan persepsi negara lain terhadap Indonesia terkait pandemi COVID-19 dari bulan-bulan sebelumnya yang minus dibawah angka nol, minggu ini mulai positif , variatif dan ada yang di atas 50 persen.

“Melalui webinar ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk membuat konten kreatif vlogging, khususnya dalam mempromosikan keindahan dan keunikan pariwisata tanah air. Wisatawan nusantara diharapkan dapat menjadi pionir yang mempopulerkan normal baru pariwisata Indonesia berdasarkan protokol Cleanliness, Health, and Safety CHS yang tengah kami persiapkan,” ujarnya.

Walau memprioritaskan wisatawan nusantara terlebih dahulu dalam waktu dekat, Untuk komunikasi ke negara pasar, Kemenparekraf juga telah melakukan kampanye #DreamNow #TravelTomorrow. Hal itu lantaran penduduk dunia sangat sensitif saat ini, maka promosi luar negeri juga akan lebih menyuarakan tentang #DreamNow sambil terus menginspirasi untuk #TravelTomorrow.

Dalam customer Journey, dreaming adalah salah satu awal untuk mempersiapkan saat kondisi sudah memungkinkan  melakukan perjalanan. Jadi ini upaya menginspirasi konsumen untuk tetap memilih Indonesia yang perlu terus dilakukan melalui promosi digital.

Ketika kondisi COVID-19 mulai mereda dan kondusif, masyarakat diharapkan tetap saling mengingatkan untuk menegakkan protokol kesehatan. Belajar dari negara lain yang berhasil menangani  dengan baik,  maka yang bangkit terlebih dahulu adalah wisatawan domestiknya.

Begitu pula dengan Indonesia, jika kondisi sudah kondusif, wisatawan domestik akan menjadi harapan, sehingga Kemenparekraf membuat kampanye aktivasi #DiIndonesiaAja yang mengajak wisatawan domestik untuk berwisata di dalam negeri dengan tetap menegakkan protokol CHS. Untuk membangun kepercayaan terhadap destinasi Indonesia, penerapan protokol CHS tengah dipersiapkan.

Protokol didukung dengan acuan penerapan protokol kesehatan yang telah dikeluarkan Kementerian Kesehatan dan diturunkan kedalam panduan protokol kesehatan sektor Parekraf, yang antara lain dalam bentuk digital handbook dan pembuatan konten kreatif bekerja sama dengan hotel, rumah makan dan sektor Ekraf lainnya yang akan segera diluncurkan.

“Kami juga menggunakan media sosial secara intensif untuk membagikan konten-konten edukasi seperti video animasi untuk mengingatkan kebiasaan baru yang harus dipraktikkan di era normal baru seperti pemakaian masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Keindahan wisata alam Indonesia juga kami kemas sebagai konten kreatif yang mengundang inspirasi wisatawan, harapannya dapat mengundang minat wisatawan untuk kembali menjelajahi keindahan alam dan kekayaan budaya nusantara,” ujar Nia.

Pada kesempatan yang sama, hadir juga Sutiknyo, seorang travel vlogger yang banyak menciptakan konten video travelling melalui situs blog lostpacker.com. Ia berbagi pengalaman dan tipsnya kepada audiens mengenai produksi vlog ketika travelling.

Deputy Bidang Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya. ( Foto: Kemenparekraf)

Sutiknyo menjelaskan bahwa suatu kreasi travel vlogging dapat dimulai dengan tiga hal utama yaitu banyak membaca, banyak mendengar, dan banyak melihat. Selain itu, untuk mendapatkan inspirasi dan mengasah pengalaman, Sutiknyo juga mendukung para kreator untuk bergabung dengan circle kreator konten kreatif dan mengikuti kompetisi untuk mengukur kemampuan diri.

Menghadapi situasi pandemi ini, Sutiknyo juga mendukung msyarakat untuk senantiasa menaati protokol kesehatan ketika hendak melakukan perjalanan dan membuat konten kreasi. “Protokol kesehatan dapat menjadi tantangan bagi semua, namun kita harus melihat bagaimana sebaiknya kita dapat membantu mempromosikan protokol kesehatan dalam konten kreasi vlog kita.

Menurut dia saat Ini adalah waktu yang tepat bagi warga Indonesia untuk mengenali negara kita seperti apa, pastinya dengan tetap menaati protokol kesehatan yang ada.

Konten kreator Ariev Rahman, yang konsisten menyebarkan konten edukasi travelling melalui channel youtube maupun situs blog Backpackstory.me, menekankan pentingnya melakukan persiapan perjalanan, berkolaborasi dengan talenta lokal sebagai guide, maupun proses pengambilan dan editing gambar sebagai kunci keberhasilan membuat konten.

“Kolaborasi dengan warga lokal bisa menambah kekuatan konten untuk mempopulerkan suatu destinasi pariwisata. Dengan demikian kita bisa menyajikan narasi yang lebih berbobot dan bernilai lebih di dalam materi video kita,” ujar Ariev.

Saat ini Ariev sedang menjalankan proyek bernama “Datang Senang Pulang Kenyang”, sebagai upaya untuk menghasilkan sebuah ensiklopedia untuk melestarikan kuliner nusantara dan juga mendukung upaya promosi pariwisata Indonesia.

Ariev menilai Indonesia memiliki potensi keberagaman kuliner tertinggi di dunia, karena telah dipengaruhi juga oleh ragam budaya lain mulai dari budaya China, Arab, India, Belanda, dan lainnya.

Selain itu, ia juga melihat mulai banyak ragam kuliner yang mulai punah karena tidak lagi diminati oleh para generasi penerus. Melalui situsnya, ia berharap untuk bisa mempopulerkan kembali kekayaan kuliner Indonesia yang tersembunyi dan mulai dilupakan tersebut. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mempertahankan keberlanjutan kuliner Indonesia,” ujar Ariev.

Merespon hal itu, Nia Niscaya mengapresiasi kreativitas para vlogger dalam melestarikan pariwisata dan budaya Indonesia dengan cara yang unik, dan kembali mengingatkan para vlogger maupun audiens yang bercita-cita menjadi vlogger untuk selalu menerapkan tiga mantra protokol kesehatan.

Maksudnya yakni memakai masker, sering mencuci tangan, dan menjaga jarak. Saat sedang membuat vlog, Nia mendorong vlogger untuk membuat konten kreatif yang se-native mungkin untuk memperlihatkan keindahan Indonesia.

 

Tambahan “Guide” Plus-plus dan Perbanyak Uji Coba

this formate

MAGELANG, bisniswisata.co.id: Menyiapkan fasilitas sesuai protokol kesehatan dan simulasi layanan tidak cukup. Uji coba lapangan dan nampaknya perlu tambahan “guide” dengan kompetensi “plus- plus”.

Selain memiliki kemampuan dasar guiding, dia harus memiliki kemampuan sebagai pelaku praktis dan pengawas pelaksanaan protocol COVID-19. Tak cukup menyiapkan SDM berkompetensi, destinasi, pengelola objek wisata juga harus siap manajemen krisisnya.

” Sektor pendukung kesehatan sudah tersedia dengan layak, siap tidak. Guide tidak hanya mendampingi wisatawannya saja, juga mengawasi pelaksanaan jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. Ya guide, ya satpam ya cleaning service, siap? ” Gubernur Jateng Ganjar Pranowo balik  bertanya  dalam webinar yang diselenggarakan PATA Indonesia Chapter bertajuk Tourism Forum Road to PATA Indonesia Adventure Travel Mart (PIATM) 2020-2021.

Webinar diikuti antara lain Bupati Magelang, Zaenal Arifin, Bappeda Jepara mewakili Bupati Jepara, Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur,  Agus Rochiyardi, Ketua BPPD Jawa Tengah,  Sugeng Sugiantoro dan Claudia Ingkiriwang komisaris platform Pigijo.com, selain pejabat dari Kementerian Parekraft dan Kementerian Bidang Kemaritiman dan Investasi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi.

Kehati- hatian perlu disikapi dengan baik dan benar sebelum membuka destinasi wisata dalam situasi pandemi. Pasalnya kepariwisataan itu, intinya kepercayaan dan kemanusiaan, kekeliruan berdampak fatal. “Oleh karenanya, saya tidak mau grasa- grusu,” papar Ganjar.

Berbicara wisata petualangan, Jawa Tengah gudang dengan beargam alternatif, menurut Ganjar. Kuncinya, kesiapan SDM khususnya guide. Pergeseran pasar membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat selaku guide, pendamping wisatawan sekaligus mengawasi kepatuhan penikmat wisata di wilayah Jateng. Dan perlu lebih banyak uji coba, tegasnya lebih lanjut.

Ujicoba Borobudur

Terkait kesiapan Jawa Tengah membuka objek wisata dalam masa pandemic COVID-19, manajemen pengelola Taman Wisata Candi melaksanakan  uji coba pembukaan operasional kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, selama dua minggu mulai  Kamis (25/6/2020).

Pembukaan ini dilakukan setelah melalui tiga tahap simulasi protokol kesehatan bebas COVID-19 yang telah dilaksanakan pada tanggal 10, 16 dan 18 Juni 2020 sehingga mendapat ijin untuk melaksanakan uji coba dimaksud dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Provinsi Jawa Tengah, ungkap Agus Rochiyardi, Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur.

Sebagai destinasi super prioritas pengelola telah menerapkan standar protokol kesehatan dan menyatakan kesanggupan untuk memenuhi tujuh prinsip protokol kesehatan yang telah ditentukan sebagai syarat dalam pemberian ijin uji coba, papar  Zaenal Arifin, Bupati Magelang.

Di Taman Wisata Candi (TWC)  lakukan pembatasan pengunjung hanya 10 sampai 15 persen atau maksimal 1500 orang per hari yang pelaksanaannya dimonitoring tim dari Pemerintah Derah. Untuk mengurai antrian pengunjung di loket, pembelian tiket secara langsung dibatasi sebesar 70 persen dan sisanya 30 persen dapat dilakukan melalui reservasi online.  Jam operasional TWC Borobudur selama masa uji coba dimulai dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

Dalam penerapan visitor management, PT TWC bekerjasama dengan Balai Konservasi Borobudur untuk pengaturan kunjungan di Zona 1 Candi Borobudur.

Dengan dilakukan uji coba pembukaan operasional ini, PT TWC berharap dapat memberikan dampak pada lingkungan serta menjadi barometer untuk bangkitnya industri pariwisata Indonesia di tengah pandemi COVID-19. 

Menikmati Ngopi Dalam Bus Sambil Keliling Kota Solo

this formate

Ngopi sambil keliling Kota Solo (foto: detik)

SOLO, bisniswisata.co.id: Banyak cara untuk memikat wisatawan agar mau datang ke satu tempat. Selain keindahan alam dan pertunjukan budaya, ide kreatif pun bisa menjadi alternatif. Seperti yang dilakukan sebuah perusahaan transportasi pariwisata Mata Trans di Kota Solo. Mereka meluncurkan wisata baru “Transbuck Bus Cafe” pada 16 Juni lalu. Konsepnya, sesuai namanya, menyulap bus menjadi kafe berjalan. 

Interior bus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menampung 28 orang. Ada tujuh meja tersedia di dalam bus sehingga jarak sosial tetap terjaga dan penumpang tetap merasa nyaman. Di era pandemi Covid-19 ini, protokol kesehatan wajib dilakukan.   

Pengelola kafe dalam bus juga menerapkan protokol kesehatan sesuai Standar Operasional Prosedur (Sop) yang berlaku, termasuk pengukuran suhu tubuh dan pemakaian hand sanitizer bagi wisatawan sebelum masuk bus. Armada bus juga rutin disemprot cairan disinfektan. Para barista serta juru masak pun memakai masker, face shield, dan sarung tangan.

Para pecinta kopi bisa naik bus ini untuk ngopi sekaligus menikmati keindahan Kota Solo. Perusahaan mematok ongkos Rp 50.000 per orang. Dengan harga itu, Anda akan mendapatkan minuman dan makanan ringan sekaligus jalan-jalan keliling Kota Solo selama sekitar 60 menit. 

Rute keliling wisata Solo dimulai dari Garasi Mata Trans Solo Jalan Adi Sucipto 89 Solo menuju Fly Over Manahan-Jalan Slamet Riyadi-Keraton Surakarta-Pasar Kliwer-Baron-Gendengan- Fly Over Manahan kembali ke garasi Mata Trans.

Sementara itu, jadwal keberangkatan wisata kafe dalam bus ini dibagi menjadi 4. Di antaranya pukul 16.45 WIB, 18.30 WIB, 19.45, dan 21.00 WIB.

 

 

Menara Eiffel Buka Kembali Setelah Penutupan 104 Hari  

this formate

PARIS, bisniswisata.co.id:  Menara Eiffel, satu dari obyek wisata yang paling disukai wisatawan Indonesia maupun mancanegara sudah buka kembali setelah penutupan terlama pada masa damai selama 104 hari sejak Perang Dunia II.

Jumlah turis Indonesia adalah yang terbanyak mendatangi Menara Eiffel itu dari kawasan Asia Tenggara ( data 2017). Tidak heran Foto selfie mereka di menara setinggi 300-an meter itu banyak terpasang pada akun media sosial.

Saat dibuka kembali, Kamis, landmark kota Paris ini pengunjung leluasa mengambil foto selfie dari lantai pertama dan kedua Menara Eiffel. Pembukaan kembali ini menandai tonggak penting lain dalam pemulihan Prancis dari lockdown akibat virus corona. Turis yang mengalir kembali ke Paris senang menemukan landmark terbuka ketika beberapa obyek lain di ibukota Prancis tetap ditutup. 

Museum istana Louvre, misalnya, satu dari obyek wisata favorit wisatawan Indonesia saat di Paris baru akan  dibuka kembali pada 6 Juli 2020. Itupun dengan membatasi kunjungan maksimal 4.500 orang per hari. Jumlahnya jauh dari rata-rata 20.000 orang per hari di musim panas yang sibuk sebelum ada pandemi global COVID-19.

Mengutip Concord Monitor, lift yang biasanya membawa pengunjung naik Menara Eiffel besi setinggi 1.063 kaki tetap tertutup, jadi untuk saat ini orang harus mengambil tangga.

Dari tiga dek menara, hanya dua dek pertama yang dibuka kembali.  Mereka yang menaiki tangga 674 pada Kamis dihadiahi dengan pemandangan yang jauh dan angin sepoi-sepoi dalam cuaca musim panas yang terik.  Masker wajib untuk semua pengunjung yang berusia 11 tahun ke atas.

“Ini sangat istimewa karena hanya orang-orang Paris yang banyak datang. Kami telah melihat banyak orang Paris menikmati kota mereka, menikmati taman mereka tanpa semua turis, “kata Annelies Bouwhuis, seorang pengunjung berusia 43 tahun dari Belanda.

Wisatawan lokal lainnya, Sabine Peaufils yang berusia 57 tahun merasa senang bisa berwisata ke Eiffel. “Saya memesan slot pertama 25 Juni 2020 karena setelah itu cuaca  akan sangat panas,” kata Sabine Peaufils, 

Menara kehilangan penghasilan US$30 juta dari lockdown  yang dimulai pada bulan Maret, ungkap Direktur Pengelola Eiffel, Patrick Branco Ruivo. Prancis dan negara-negara Eropa lainnya yang mengandalkan sektor pariwisata mulai membujuk kembali pengunjung, dengan hasil beragam.

Soalnya penerbangan internasional belum sepenuhnya dibuka karena pandemik virus corona, maka pengelola Menara Eiffel memproyeksi turis yang akan datang memang masih dari dalam negeri. 

Patrick Branco Ruivo, Direktur Pengelola Menara Eiffel, mengatakan pihaknya menyarankan kepada para turis tidak lengah, selalu disiplin untuk  tetap menjaga jarak fisik atau social distancing.

Sejarah bangunan

Mengutip Brittanica, diungkapkan bahwa sejarah pembangunan menara dimulai pada 12 Juni 1886, Gustave Eiffel memenangkan sayembara untuk membangun monumen tersebut. Pemerintah kota Paris menganggap rencana pembangunan  Eiffel punya karakter tersendiri dan benar-benar menunjukkan keunggulan dari material baja.

Wisatawan Indonesia berpose dengan latar belakang ikon Menara Eiffel sebelum pandemi global terjadi. ( Foto: HAS)

Bangunan tersebut dinilai akan jadi simbol modernisme Perancis dan bukti bahwa negara tersebut konsisten bereksplorasi dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. 

Mereka yakin menara tersebut akan sangat menarik perhatian dan memotivasi orang untuk datang ke Paris, terutama saat pekan raya berlangsung. Dan yang tak kalah penting, pemerintah Perancis yakin menara itu akan membuat negara mereka terlihat lebih unggul dibanding AS atau Inggris. 

Saat itu ketika wawancara dengan salah satu media Inggris, Gustave Eiffel berkata pembangunan menara di Paris adalah perpaduan meteorologi, aerodinamika, telegrafi, dan strategi militer. 

Meski sama-sama antusias dengan proyek ini, ternyata pemerintah Paris tidak serta merta bergerak cepat untuk membangun menara. Pemerintah awalnya menyatakan seluruh biaya pembangunan menara akan mereka tanggung. 

Tapi ketika Gustave Eiffel mengatakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun menara adalah 5 juta franc, pemerintah hanya menyanggupi 1,5 juta franc. Itupun dananya tidak diberikan sesuai waktu yang ditetapkan sehingga proses dimulainya pembangunan menara menjadi molor. 

Eiffel terpaksa mencari dana sendiri untuk menutupi kekurangan dana pembangunan. Salah satu siasatnya adalah merancang menara untuk berdiri dalam kurun waktu 20 tahun sehingga tidak diperlukan material yang lebih banyak atau biaya perawatan yang besar. 

Siasat lainnya adalah menetapkan biaya masuk kawasan dan mendirikan restoran di dalam menara. Tapi rencana-rencana tersebut pun tidak langsung disetujui pemerintah. Saat itu pemerintah bahkan belum menetapkan lokasi menara, apakah di Champ de Mars (akhirnya lokasi ini yang dipilih) atau Seine Valley. 

Perdebatan para politikus soal penting atau tidaknya menara turut menghambat proses pembangunannya. Ada yang menganggap rancangan menara tidak artistik, jelek, tidak akan menarik wisatawan, absurd, dan sangat aneh. 

Perdebatan itu akhirnya berakhir pada 22 November 1886 dengan kesepakatan bahwa menara Eiffel akan dibangun sesuai rancangan awal. Kini obyek tujuan favorit wisatawan Indonesia sudah dibuka kembali.

 

Pengusaha Prancis Akan Tingkatkan  Partnership Dengan Pengusaha RI  

this formate

MARSEILLE, Perancis, bisniswisata.co.id: Upaya promosi potensi perekonomian Indonesia termasuk dibidang pariwisata tetap berlangsung di tengah kondisi pandemi COVID-19.

Kali ini, KJRI Marseille kembali menyelenggarakan seri webinar bidang ekonomi, investasi, dan perdagangan bertajuk “Should you keep doing business with Indonesia?” yang diikuti oleh 47 pengusaha dan pimpinan dari berbagai bidang usaha.

Webinar  mengundang narasumber  Aditia Prasta (Direktur Indonesia Investment Promotion Centre – IIPC London), Dicky Kartiko yono (Chief Representative Bank Indonesia London), dan Eka Moncarré, Kepala Visit Indonesia Tourism Office Country Manager Paris. 

Dalam rilisnya, KJRI yang menyelenggarakan kegiatan, Rabu, juga menghadirkan pimpinan berbagai perusahaan yang memiliki hubungan strategis dengan Indonesia seperti Philippe Massé , Presiden Asosiasi PRODAROM, Olivier Toussenel (General Manager Landaur International Seafood, dan Stéphane Objois, Managing Director Objois Company.

Dalam periode 5 tahun antara 2015 – hingga kwartal pertama 2020 ini, Prancis menduduki peringkat kedua di Eropa dalam jumlah proyek investasi ke Indonesia  yaitu sebanyak 2777 proyek, di bawah Inggris dan menduduki peringkat kelima di Eropa dari segi nilai investasi senilai US$ 711 juta , di bawah Belanda, Inggris, Swiss, dan Jerman. 

Sektor utama investasi Prancis ke Indonesia ada di industri pariwisata seperti hotel dan restoran dan industri logam, mesin, serta produk elektronik. Indonesia tetap membuka peluang invetasi seluasnya dalam 44 proyek infrastruktur melalui skema public private partnership (PPP), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sektor manufaktur produksi mobil listrik, infrastruktur pariwisata, energi terbarukan, dan ekonomi digital.

Khusus sektor pariwisata, pertumbuhan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercatat mencapai 12.58% di tahun 2018. Angka ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan di kawasan ASEAN (7.4%) dan global (5.6%). 

Meningkatnya minat turis asing ke Indonesia menjadikan Indonesia sangat menarik sebagai target investasi pariwisata. Menurut Eka Moncarré, beberapa potensi pengembangan investasi sektor pariwisata di Indonesia diantaranya mencakup responsible tourism, sustainable tourism, community tourism, ecotourism, dan participative tourism.

Seluruh sektor tersebut berpeluang menempatkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang mengedepankan experience-based tourism, kemanusiaan, dan peka terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Webinar menarik kesimpulan bahwa meskipun di tengah pandemi COVID-19 yang menerpa perekonomian global, kondisi perekonomian di Indonesia tetap kondusif dan memiliki potensi besar sebagai destinasi investasi.

Eka Moncarre menambahkan bahwa Webinar berhasil mempertemukan pelaku usaha, partner dan calon partner yang sepakat untuk terus berbisnis.  “Asosiasi Aromatic menawarkan pendidikan dan latihan bagi pemuda Indonesia dalam pengolahan dan produksi essential oil,” kata Eka.

Sedangkan perusahaan Seafood Launderer ingin berpartner budi daya bandeng organik di Sumatera. Pengusaha dan importir kerajinan dan batik ingin berpartner dan membantu labeling produk Indonesia