Menyusuri Sungai Amazon ala Jawa Timur 

this formate

Sungai Maron, Kab Pacitan,  Jawa Timur  yang menawan (foto: lensanasrul)

PACITAN, bisniswisata.co.id: Lewat akun instagramnya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meng-upload foto keindahan Sungai Maron di Kabupaten Pacitan. Tentu ini sebelum ada pandemi COVID-19.

“Amazon? Bukan. Ini adalah Sungai Maron di Kapubatan Pacitan, Jawa Timur. Sungai kecil yang bermuara di Pantai Ngiroboyo ini menawarkan sensasi seperti Sungai Amazon. Saat menyusurinya, saya yakin kalian akan terbius dengan panorama alamnya yang eksotik. Penasaran? Masukkan Sungai Maron dalam daftar destinasi wisata yang harus kamu kunjungi dalam waktu dekat,” tulisnya.

Gubernur Khofifah benar. Sudah banyak video dan artikel mengulas keindangan alam Sungai Maron yang membentang sepanjang 4,5 km. Mereka yang pernah menyusuri Sungai Maron mengaku ada sensasi seolah mereka tengah mamasuki hutan hujan Amazon di Brasil yang terkenal itu.

Ulasan di sebuah media nasional bahkan menyebut menyusuri Sungai Maron bukan hanya serasa berada di pedalaman Amazon, tetapi juga di sekitar Phuket, Thailand. Bukit-bukit karang yang ada saat perahu hendak sampai di pantai, membangun suasana seolah-olah pengunjung tengah berada di sekitar Phuket.

Mencapai objek wisata Sungai Maron tidaklah sulit. Lokasi sungai berada di Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Jarak dari alun-alun Kota Pacitan sekitar 40 kilometer atau kurang lebih sejam melalui jalur darat.

Pacitan adalah kota kecil di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Apabila anda datang dari kota Solo jaraknya sekitar 100 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar tiga jam.

Pengunjung dapat menyewa perahu untuk menyusuri sungai yang kiri-kanan-nya tumbuh pohon kelapa dan beragam pepohonan besar lainnya. Air sungai yang berwarna hijau akibat refleksi tumbuhan di sepanjang sungai menciptakan suasana teduh dan menakjubkan. Silakan Anda bukitkan sendiri dengan berkunjung ke Pacitan, Jawa Timur.

Baparekraf Digital Entrepreneurship Targetkan 300 UMKM Peserta  

this formate

JAKARTA,bisniswisata.co.id:   Perkembangan teknologi informasi dan internet dari tahun ke tahun telah membuat pergeseran gaya hidup masyarakat Indonesia dalam menjalankan roda perekonomian. 

Dampak yang paling terasa adalah pengguna media sosial dan platform e-commerce berkembang pesat. Perusahan-perusahaan e-commerce baik dari dalam maupun luar negeri turut meramaikan persaingan di pasar Indonesia, baik dengan sistem Business-to-Business (B2B), Business-to-Consumer (B2C) dan Consumer to Consumer (C2C).

Perkembangan bisnis e-commerce sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Menurut perusahaan konsultasi McKinsey, dalam tiga tahun mendatang Indonesia akan memiliki 44 juta pembeli online atau melalui e-commerce dengan nilai sekitar US$55-65 miliar.  Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia. 

Dengan adanya perusahaan-perusahaan e-Commerce atau marketplace online tersebut sangat membawa perubahan besar bagi pelaku UMKM dalam menjual produk dan menembus pasar internasional.

Pandemi COVID-19 yang datang melanda sejak awal tahun 2020 turut mempengaruhi kondisi UMKM di Indonesia. Turunnya pendapatan, PHK bahkan gulung tikar, menjadi resiko yang dihadapi oleh para pelaku UMKM. 

Saat ini para pelaku UMKM dituntut melakukan suatu terobosan dalam sistem kerja atau model bisnis agar bertahan dan memperoleh kesempatan untuk bangkit.

Muhammad Neil El Himam ( kiri), Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf bersama nara sumber lainnya ( Foto: Baparekraf)

Berkaca pada kondisi perekonomian yang terdampak COVID-19 serta meningkatkan kesadaran pelaku UMKM lokal terhadap pentingnya informasi dan komunikasi maka, Pemerintah melalui Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) memberikan perhatian khusus dengan mengadakan Baparekraf Digital Entrepreneurship (BDE 2.0) pada Juli hingga September 2020, melalui program Inkubasi online.

Lewat program tersebut, diharapkan para pelaku UMKM dapat bangkit dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang telah melakukan penjualan melalui platform digital lebih dulu sehingga transformasi ekonomi digital di Indonesia bisa maksimal dan pendapatan pelaku UMKM meningkat. 

Baparekraf Digital Entrepreneurship (BDE 2.0) diadakan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para pelaku UMKM di sektor ekonomi kreatif serta menciptakan ekosistem yang berkualitas bagi para pelaku UMKM khususnya di subsektor fesyen, kuliner dan kriya. 

Kegiatan meliputi online mentoring, online coaching, serta penyediaan platform e-commerce khusus untuk para pelaku UMKM Indonesia dimana para penyedia barang / jasa dari ketiga subsektor tersebut dapat langsung memasarkan nya kepada para online reseller.

Saat ini online reseller sudah menjadi model bisnis yang sangat umum untuk dilakukan. Pengembangan reseller akan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang berjiwa entrepreneur, kreatif dan mandiri.

“Diadakannya inkubasi online ini utamanya bisa meningkatkan kemampuan para pelaku UMKM dalam melakukan penjualan sehingga penjualan tidak hanya di Indonesia namun bisa di ekspor ke luar negeri,” jelas Muhammad Neil El Himam, Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf

Sebelumnya Kegiatan BDE, tahap 1 atau BDE 1.0 membuat  2300 pelaku UMKM telah ber ”migrasi” dari berjualan secara konvensional ke jualan secara online di marketplace nasional telah dilakukan sejak 2017 di beberapa kota di Indonesia. Baparekraf  perlu untuk meningkatkan kelas para pelaku UMKM serta memperkuat fundamental bisnis melalui BDE 2.0

Sasaran dalam Baparekraf Digital Entrepreneurship adalah 300 peserta yang terbagi atas 100 peserta per bulan dari periode Juli hingga September 2020 dan akan dipilih 10 peserta terbaik setiap bulan.

Mereka akan melakukan presentasi final guna menunjukkan kemajuan usaha mereka dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam program-program pengembangan lain yang diadakan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Untuk mengikuti program ini, calon peserta bisa melalukan pendaftaran melalui http://www.bde.kemenparekraf.go.id/daftar,Instagram: @bde.baparekraf

 

TIPS Bagaimana Hotel Sambut Tamu dengan Senyum Meski Ada Masker di Wajah

this formate

Tetap senyum menyambut tamu hotel lewat foto  dan nametag.

FLORIDA, AS, bisniswisata.co.id:  Sebagai bagian dari upaya industri hotel dan penginapan untuk membantu para tamu merasa aman tentang bepergian selama masa pandemi COVID-19 saat ini, hampir semua membutuhkan staf hotel untuk mengenakan masker.

Namun, satu sisi negatifnya tentu saja adalah fakta bahwa para kartawan hotel  tidak lagi dapat berbagi senyum hangat dan ramah ketika mereka menyambut tamu di pintu depan, melewati mereka di lorong dan koridor atau ketika melayani mereka di gerai makan dan tempat rekreasi dilingkungan hotel.

Solusi yang ditawarkan Doug Kennedy adalah Presiden Kennedy Training Network Inc yang berbasis di Florida cukup simple bagaimana tetap memakai  masker, tapi mereka juga tidak perlu merasa tidak enak karena tidak ada yang melihat senyum lagi.

“Akhir-akhir ini, para trainer Kennedy Training Network ( KTN ) banyak  mengadakan sesi pelatihan webcam Sertifikasi “Jantung Keramahtamahan” kami,” ujarnya seperti dikutip Hospitality Net.

Banyak peserta yang berpartisipasi menyatakan bahwa sementara mereka menyadari pentingnya memakai masker tapi  mereka juga merasa tidak enak karena tidak ada yang melihat senyum mereka lagi saat tamu datang check-in/out di hotel atau di area outdoor hotel saat mereka melakukan staycation.

Tentu saja, senyum yang hangat dan ramah diungkapkan dengan wajah penuh dan bukan hanya mulut dan area dagu, dan ucapan sambutan yang diucapkan dengan otentik juga membantu mengomunikasikan semangat keramahan.

Namun, di KTN pihaknya ingin berbagi satu tips pelatihan yang sangat sederhana yang tampaknya berjalan baik untuk pelatihan perhotelan dan klien sertifikasi perusahaannya , kata Doug Kennedy dengan semangat berbagi.

“Pertama, ambil foto anggota staf Anda berseragam sambil melepas masker mereka sebentar dan memancarkan senyum tulus dan ramah. Tidak harus menjadi pemotretan profesional, karena gambar “organik” mungkin tampak lebih otentik daripada gambar pemotretan profesional.  Pilih saja latar belakang warna solid seperti dinding atau gorden,” ungkapnya.

Selanjutnya, pangkas foto untuk memperbesar sebagian besar di wajah seperti yang akan dilakukan untuk foto headshot atau paspor. Kemudian cetak gambar-gambar ini pada printer berwarna untuk penggunaan segera dan tinggal cetak Saya merekomendasikan ukuran 4 x 6 yang dapat dipangkas dengan gunting, atau selembar gambar ukuran dompet, tambahnya.

Dari sana, Anda cukup menempelkan gambar untuk menggantung dari bagian bawah sebagian besar tag nama atau melampirkan seragam staf Anda dengan pita atau peniti. Untuk penampilan yang tampak lebih canggih, pesan tempat  lencana nama yang dapat digantung dari klip lanyard atau bulldog.

Doug Kennedy adalah Presiden Kennedy Training Network, Inc adalah penyedia jasa terkemuka untuk penjualan hotel, layanan tamu, pemesanan, dan program pelatihan meja depan dan layanan belanja per telepon untuk industri penginapan dan perhotelan.  

Berpengalaman melayani perhotelan, asosiasi dan industri launnya selama dua dekade, Doug sejak 1996 juga mengeluarkan artikel pelatihan bulanan Doug telah diterbitkan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu otoritas industri perhotelan yang paling banyak dibaca.  

ARIESANTHI Keluarkan Koleksi Sambut Era New Normal

this formate

Busana karya designer Tyas Santhi Fatmasari ( Arie) terispirasi dari APD.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Berangkat dari keprihatinan akan kondisi pandemi global yang serba tidak menentu hingga membuat aktivitas manusia seolah sempat terhenti akibat angka kematian korban yang melonjak tinggi, designer Tyas Santhi Fatmasari terinspirasi dengan pakaian yang dikenakan para tenaga medis di garis depan.

Lewat  koleksi rancang busananya, Tyas mengeluarkan koleksi  berjudul “ITS SIMPLY, ITS STYLE, ITS NEW NORMAL”. Garis design koleksi kali ini pun mengambil inspirasi dari busana APD (Alat Pelindung Diri) yang digunakan oleh tenaga medis, khususnya busana berbentuk coat atau jubah panjang.

Lewat  sentuhan yang  lebih fashionable, berwarna dominan putih transparan beraksen patchwork batik dengan garis cutting yang tegas Tyas seolah ekspresikan simbol keinginan pemberlakuan aturan yang jelas & tegas pada kondisi New Normal.

” Kita harus mengikuti protokol kesehatan dalam berbagai aspeknya baik secara individual maupun kolektif dengan harapan kondisi pandemic ini dapat segera teratasi dan semua kembali pulih,” ungkap pemilik brand ARIESANTHI ini.

Terlahir dengan nama lengkap Tyas Santhi Fatmasari, M.B.A., designer muda kelahiran Yogyakarta, 02 November 1984, ini akrab dipanggil Arie/Santhi ini benar-benar prihatin dengan dampak ekonomi dari COVID-19.

Perekonomian secara global merosot tajam, teknologi nirkabel & virtual mengambil porsi terbesar dari semua aktivitas komunikasi manusia, serta keinginan untuk memproteksi diri dari bahaya yang timbul akibat virus hingga pembatasan-pembatasan yang diberlakukan oleh banyak sektor kehidupan hingga berimbas pula pada industri fashion. 

“Manusia akhirnya dipaksa untuk mengubah pola pikir & cara hidupnya untuk menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Koleksi yang aku keluarkan ini lebih memilih sesuatu yang simple, realistis, reliable daripada yang impulsive dan tidak logis,” katanya tergelak.

Intinya dunia fashion juga mengikuti kenormalan baru dan dia berharap karyanya juga bisa diterima masyarakat untuk tetap modis disaat pandemi terus berlangsung secara serentak di 216 negara di dunia.

Akrab disapa Arie atau Santhi, sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada berbagai busana, khususnya busana adat nusantara berikut elemen-elemen yang terkait di dalamnya. 

Hal itu memperkuat keinginannya menjadi seorang fashion designer, meskipun harus melewati lika-liku pendidikan yang cukup panjang. Setelah memperoleh gelar kesarjanaan S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, 

Jogjakarta tahun 2007 dan dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S2 Magister Manajemen bidang Human Resources & Organization, thn.2009 di perguruan tinggi yang sama.

Bekal pendidikan tinggi ternyata tak membuatnya patah semangat untuk terus menambah wawasannya tentang fashion dari berbagai hal. Ketertarikan itu pulalah yang membuatnya semakin jauh menggeluti dunia fashion yang juga membawanya terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada berbagai kegiatan.

Dari salah satu kegiatannya sebagai freelance designer akhirnya sebagai bentuk keseriusannya, pada Desember 2008, ia resmi menjadi designer & owner brand miliknya sendiri yaitu “ARIESANTHI_design”.Arie lalu meraih juara harapan I Fashion Design Competition Jogja Fashion Week 2010 dan masuk Top 15 Designer Nominatee for International Fashion Crowd Challenge October 2015 at 1stDay.

Dia memiliki pengalaman mengikuti berbagai event fashion baik didalam maupun luar Jogja, antara lain Jogja Fashion Week 2011 – 2015, Jogja Fashion Festival 2013-2015, & Jogja Fashion Rendezvous 2017 dan jadi desainer tamu acara Melina “Clamber Step of Fashion 2018” di Solo, Jateng. 

Arie juga suka mendukung kostum  untuk perwakilan Indonesia di ajang Internasional, antara lain : Miss Eco Tourism International 2016, Miss Intercontinental 2016 for Indonesia, & Puteri Indonesia 2017 perwakilan Kep.Bangka-Belitung.

Aktif  sebagai nara sumber di berbagai acara, menjadi salah satu staf pengajar di LPK PAPMI DIY jurusan Fashion Design sejak 2014 -2016 dan belum lama ini meraih predikat kategori“The Best Networking” untuk event Inspiring Women Competition 2019 di Yogjakarta.

Sambil tetap mengusung style exotic alluring, gaya individual yang terangkum dari berbagai elemen bahan etnik, Arie berharap koleksi terbarunya menyambut era New Normal bisa diminati penggemar fashion.

 

Pekerja Pariwisata Didorong Ciptakan Ide dan Peluang Baru di Era Normal Baru

this formate

Karyawan hotel terdampak COVID-19 kini bisa mengikuti pelatihan dengan  pendaftaran melalui ajar.id/registration ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Pekerja pariwisata didorong ciptakan ide dan peluang baru di era Normal Baru dan belajar langsung secara online dari para pakar dan profesional, kata Wisnu Bawa Tarunajaya, hari ini.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya dalam suaran pers mengatakan pihaknya  mengajak pelaku pariwisata untuk menghasilkan ide-ide dalam menyongsong peluang dan tantangan baru di era normal baru pariwisata dan ekonomi kreatif. 

“Kami menggelar kegiatan Masterclass: The Inspiring Series, kelas inspirasi online yang menghadirkan topik berisi kisah inspiratif para pakar profesional bidang pariwisata yang telah berhasil di bidangnya,” ungkapnya 

Wisnu berharap kegiatan ini dapat memotivasi dan menginspirasi tenaga kerja pariwisata yang terkena dampak COVID-19 untuk bangkit sekaligus menciptakan ide-ide baru tenaga kerja atau SDM pariwisata Indonesia. 

“Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Tenaga kerja pariwisata pun dituntut untuk dapat bangkit sekaligus beradaptasi dengan baik dalam masa normal baru,” tsmbahnya 

Lewat kegiatan ini diharapkan mereka dapat mendapatkan motivasi dan inspirasi baru untuk karier dan masa depan di era normal baru, kata Wisnu Bawa Tarunajaya. 

Rangkaian kegiatan “Master Class The Inspiring Series” online program akan berlangsung pada 6 Juli hingga 7 Agustus 2020. Dalam kegiatan ini akan menghadirkan tiga kisah inspirasi.

Kisah tersebut yakni “GPS your career dari Housekeeper menjadi Managing Director” dan “Dari Security menjadi bos roti ala bintang lima”. Selain itu juga kisah inspirasi tentang “Dari pegawai menjadi pengusaha kuliner online Ayam Laos”. 

Master Class The Inspiring Series” online program dotong pekerja pariwisata menjadi pengusaha

Program ini sendiri ditujukan bagi pelaku pariwisata khususnya tenaga kerja bidang pariwisata (level karyawan) terdampak COVID-19 yang saat ini tengah dirumahkan/PHK. Diutamakan berdomisili di lima destinasi pariwisata super prioritas dan destinasi pariwisata lainnya di Indonesia. 

Untuk mengikuti kegiatan ini, para pekerja pariwisata dapat melakukan pendaftaran melalui ajar.id/registration. Nantinya akan dilakukan seleksi bagi para calon peserta untuk dapat mengikuti kegiatan yang digelar secara gratis.

“Tentunya para pekerja pariwisata adalah yang memiliki komitmen dan motivasi tinggi untuk mengikuti pelatihan,” kata Wisnu. 

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, mengatakan era normal baru memberikan tantangan yang tidak mudah dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 

“Pandemi COVID-19 memberikan perubahan perilaku yang besar wisatawan dalam beraktivitas. Hal ini tentu harus diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan pekerja pariwisata yang meningkat,” kata Frans Teguh.. 

Dia ingin agar program ini mampu memberikan dukungan bagi tenaga kerja pariwisata dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan para pekerja pariwisata. 

“Selain juga menjadi motivasi dan inspirasi untuk menciptakan ide baru di masa pandemi atau era normal baru,” tambah  Frans Teguh. 

 

Masyarakat Memang Merindukan Traveling Kembali 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masyarakat memang merindukan traveling kembali. Kesimpulan itu dilaporkan situs Pegipegi.com untuk mengetahui apa saja perbedaan perilaku traveling saat New Normal. Pegipegi melakukan riset kepada lebih dari 900 responden yang tersebar di seluruh Indonesia pada 8 – 12 Juni 2020.

Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, sebagian besar dari masyarakat menunda banyak agenda demi memutus rantai virus Corona. 

Belakangan masyarakat sering mendengar gagasan New Normal atau situasi normal baru yang akan dilakukan oleh pemerintah. Bagi pecinta traveling, tentu keadaan seperti ini menjadikannya sangat rindu untuk bertualang kembali.

Pada era normal baru ini, tentunya akan ada perbedaan bagaimana kita memilih, mempersiapkan, hingga melakukan traveling. 

Hasil riset

Berdasarkan riset yang dilakukan, sebanyak 67% orang Indonesia tertarik untuk bepergian di era new normal, sementara 33% sisanya belum merencanakan bepergian. Setelah situasi new normal diberlakukan, sebanyak 73% orang berencana untuk bepergian dalam kurun waktu 2 bulan ke depan. 

Kebanyakan dari responden memilih keperluan keluarga (33%), disusul dengan traveling sebagai sarana refreshing (26%). Alasan lain yang disebutkan sebagai tujuan traveling adalah untuk urusan bisnis dan pendidikan. 

Bagi mereka yang berencana traveling, sebanyak masing-masing 31% ingin bepergian bersama pasangan dan solo traveling, bersama keluarga besar (28%), dan bersama teman (9%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat memang merindukan traveling kembali.

Dalam riset tersebut, diketahui juga bahwa sebanyak 47% orang Indonesia menjadikan harga atau biaya sebagai faktor terpenting untuk mendukung rencana bepergian di era  New Normal. 

Disusul dengan faktor kebersihan (29%) dan kemudahan untuk reschedule dan refund (18%). Beberapa responden juga menyebutkan bahwa keamanan dan protokol terkait COVID-19 di area publik juga menjadi faktor penting bagi mereka. 

Artinya, masyarakat saat ini sangat peduli dengan protokol kesehatan yang harus diperhatikan pada saat bepergian pada situasi New Normal, karena situasi ini bukan berarti mengendurkan proteksi diri terhadap kemungkinan terpapar atau memaparkan virus COVID-19.

Bagi mereka yang berencana untuk traveling, 91% responden menjadikan destinasi domestik menjadi pilihan utama. Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta menjadi 3 kota besar yang paling diminati, meski banyak dari responden yang memilih kota lainnya sebagai tujuan seperti Surabaya, Bali, Semarang, Padang, Palembang, hingga Sabang. 

Sedangkan sedikitnya 9% lainnya memilih untuk traveling ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan beberapa negara lainnya seperti Arab Saudi, Australia, Korea, dan Belanda. Angka ini menunjukan bahwa masyarakat memilih destinasi yang relatif lebih dekat dan mudah dijangkau pada situasi New Normal. 

Hasil riset juga menunjukan bahwa wisata alam dan kuliner menjadi tujuan yang paling banyak diminati. Sedangkan moda transportasi yang paling banyak dipilih adalah pesawat (53%), disusul kendaraan pribadi (27%), kereta api (16%), dan bus (4%). Sedangkan untuk pilihan akomodasi, 49% memilih akomodasi dengan rentang budget sekitar Rp250.000 – Rp500.000/malam.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keinginan yang tinggi untuk bepergian kembali terutama menikmati destinasi domestik Indonesia.  

Serlina Wijaya, selaku Chief Marketing Officer Pegipegi mengatakan, “Kami memahami masyarakat sejauh ini telah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap di rumah dan menunda bepergian demi keamanan dan kesehatan bersama”. 

Pada masa transisi ini Pegipegi melihat keinginan untuk bepergian mulai meningkat. Maka dari itu, pihaknya memberikan penawaran berupa diskon untuk menikmati destinasi domestik dengan diskon staycation hingga 20%.

” Kami juga menghimbau kepada seluruh pelanggan untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah ketika bepergian.”

 

 

 

UNWTO: Negara-negara Kepulauan Butuh Dukungan Cepat  

this formate

Pantai Mount Irvine Beach, Tobaco, Trinidad yang sepi turis ( Foto: Alina Doodnath/ unsplash.com)

MADRID, bisniswisata.co.id: Organisasi Badan Pariwisata Dunia ( UNWTO) menyerukan perlunya dukungan yang kuat pada Negara-Negara Berkembang Kepulauan Kecil akibat terpuruknya sektor pariwisata secara tiba-tiba akibat pandemi global COVID-19.

Negara-negara berkembang  kepulauan kecil  atau Small Island Developing States ( SIDS) yang bergantung perekonomiannya dari sektor pariwisata itu telah menghancurkan ekonomi mereka.

Karena pariwisata adalah pilar sosio-ekonomi yang kuat dari banyak SIDS, tak heran dampak COVID-19 menempatkan jutaan pekerjaan dan bisnis berisiko sehingga kaum perempuan dan pekerja informal yang paling rentan terkena dampaknya.

Dalam seri Catatan Pengantar tentang Pariwisata dan COVID-19 yang kedua, UNWTO menyoroti dampak parah pandemi terhadap mata pencaharian di destinasi-destinasi ini. 

Menurut data terbaru dari badan khusus PBB, pariwisata menyumbang lebih dari 30% dari total ekspor di sebagian besar dari 38 SIDS.  Di beberapa negara, proporsi ini setinggi 90%, membuat mereka rentan terhadap penurunan jumlah wisatawan.

Guncangan besar semacam itu menyebabkan hilangnya pekerjaan secara besar-besaran dan penurunan tajam dalam devisa dan pendapatan pajak, yang membatasi kapasitas belanja publik dan kemampuan untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung mata pencaharian melalui krisis.

Turis Internasional turun 47% dalam empat bulan pertama ke negara kepulauan kecil itu. Kedatangan wisatawan internasional telah turun secara dramatis, dan destinasi yang bergantung pada pariwisata untuk pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi  paling terpukul.

Pada 2019, SIDS menyambut sekitar 44 juta kedatangan wisatawan internasional dan sektor ini memperoleh US$ 55 miliar dalam pendapatan ekspor.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Pandemi COVID-19 telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perlu langkah-langkah untuk mengurangi dampak dan merangsang pemulihan pariwisata sekarang lebih penting daripada sebelumnya. “

PBB memperkirakan bahwa ekonomi SIDS dapat menyusut sebesar 4,7% pada tahun 2020 dibandingkan dengan 3% untuk ekonomi dunia.

UNWTO Briefing Note juga menyoroti risiko yang ditimbulkan bagi mereka yang bekerja informal dengan penurunan kedatangan wisatawan yang tiba-tiba anjlok drastis di SIDS.  

Sebagai sebuah sektor, pariwisata adalah perusahaan global terkemuka dan, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), lebih dari separuh dari semua pekerja di sektor akomodasi dan layanan makanan di sebagian besar data pelaporan SIDS adalah perempuan.

Dalam banyak hal, proporsi ini bahkan lebih tinggi, termasuk di Haiti dan Trinidad dan Tobago (70% +). Pada saat yang sama, pekerja dalam perekonomian informal berisiko jatuh ke dalam kemiskinan karena dampak COVID-19 dirasakan di SIDS dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya di seluruh dunia.

Saat ini United Nations Department of Economic and Social Affairs mendaftarkan 52 negara-negara berkembang kepulauan kecil. Mereka dibagi menjadi tiga wilayah geografis: Karibia; Pasifik; dan Afrika, Samudra Hindia, Mediterania, dan Laut China Selatan (AIMS).

Masing-masing wilayah ini memiliki badan kerjasama regional: Caribbean Community, Pacific Islands Forum, dan Indian Ocean Commission. Selain itu, mayoritas negara-negara SIDS adalah anggota Aliansi Negara Kepulauan Kecil (Alliance of Small Island States), yang melakukan tugas lobi dan negosiasi bagi SIDS di dalam sistem PBB.

 

BAGBNB Ganti Nama &  Beradaptasi dengan Prosedur Keselamatan Perjalanan yang Baru

this formate

NEW YORK, bisniswisata.co.id: BAGBNB, jaringan penyimpanan bagasi terkemuka yang melayani tujuan populer di seluruh dunia, mengumumkan perubahan nama menjadi Radical Storage yang semuanya baru.

Mengutip Travel Daily News mengungkapkan bahwa  jaringan penyimpanan bagasi  ini menjadikan pelancong sumber daya yang aman, terjamin, dan nyaman saat mereka menjelajahi kota-kota di seluruh dunia dalam era kenormalan baru. 

Aplikasi RadicalStorage.com dan Radical yang baru memungkinkan wisatawan untuk menemukan lokasi penyimpanan bagasi berbasis bisnis di ribuan kota, memesan di muka pengiriman barang bawaan mereka, dan check in dan out tanpa hambatan saat mengantar atau mengambil barang bawaan mereka.  

Semua melalui prosedur tanpa kontak yang baru, para pelancong dapat dengan aman turun dan mengambil barang-barang mereka dengan memindai kode QR khusus pengguna mereka dari perangkat mobile sehingga memberi mereka lebih banyak waktu luang untuk menjelajahi kota yang mereka kunjungi.

“Karena COVID-19, lanskap perjalanan telah berubah dan kami ingin memastikan bahwa para pelancong memiliki cara yang aman dan nyaman untuk menikmati perjalanan mereka sepenuhnya,” kata Alessandro Seina, CEO dan Co-Founder of Radical.

“Platform inovatif kami yang baru memungkinkan wisatawan untuk menyimpan tas mereka selama yang mereka inginkan sambil menikmati waktu mereka di kota, tanpa tekanan karena harus melakukan kontak fisik apa pun dengan tuan rumah penyimpanan Radikal mereka.  Ini adalah sesuatu yang penting secara eksponensial karena kita semua beradaptasi dengan prosedur keselamatan perjalanan baru di seluruh dunia. “

Platform Radical memiliki lebih dari 3.500 “Angels,” yang merupakan “host” perusahaan, di seluruh dunia untuk penyimpanan bagasi yang nyaman.  Tuan rumah ini adalah mitra pra-penyaringan termasuk hotel, restoran dan bistro, toko ritel, toko penyewaan sepeda, dan banyak lagi.  

Tersedia di lebih dari 70 negara dan 350 kota besar di seluruh dunia, Radical Storage menawarkan pengalaman perjalanan yang disederhanakan bagi pelancong untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan di kota, tanpa harus khawatir dengan barang bawaan mereka. 

Biaya penyimpanan adalah standar terlepas dari ukuran atau berat tas, dengan masing-masing tas berharga setara dengan $ 6 di kota-kota AS, atau 5 euro di kota-kota Eropa.

Setelah mengumpulkan $ 2,7 Juta dalam pendanaan Seri A pada awal 2020 untuk mendukung rebrand-nya, perusahaan ingin menjadi titik rujukan untuk check-in dan memeriksa pengalaman di kota-kota di seluruh dunia, mengembangkan produk baru untuk mendukung pelancong ketika mereka  tiba maupun  meninggalkan tempat tujuan mereka.

 

Ada Ceruk Pasar Digital Nomad & Bali jadi Rumah ke Dua

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Ceruk pasar digital nomad  (pekerja daring) masuk Bali seirama dengan berkembangnya jasa digitalisasi perekonomian dunia. Namun belum mendapat perhatian khusus dari pihak- pihak terkait.

Yang dipahami adalah meningkatnya pangsa pasar wisatawan belia dengan lama tinggal panjang, meningkatnya angka repeater guest yang dalam setahun bolak- balik Bali dua, tiga kali, meningkatnya permintaan kos- kosan, penyewaan villa- villa milik warga negara asing dengan fasilitas tertentu.

Berkembangnya coffee shop ber fasilitas wifi berkecepatan tinggi, penyewaan kendaraan baik roda dua mau pun roda empat jangka panjang dan outlet kurir kebutuhan mamin, jasa cuci pakaian, mau pun jasa cleaning service kamar kos merebak.

Berkembangnya bisnis co-working space baik yang dimiliki warga negara asing mau pun warga Indonesia serta merebaknya tawaran live-in dalam kawasan pemukiman dengan fasilitas lengkap dari pusat belanja, pusat kebugaran sampai tempat kerja santai.

“Trend digital nomad masuk Bali sudah lebih dari sepuluh tahun lalu ya, masyarakat Bali dan pejabat terkait yang kurang jeli melihat hal ini. Prilaku pasar khusus, mulai diperhatikan setelah cyber crime meningkat”, ungkap salah seorang pekerja digital asal Perancis yang telah bertahun- tahun bekerja dari Bali.

Berbekal visa kunjungan wisata, perancang busana asal Perancis tersebut menyewa kamar tahunan di wilayah Umalas dan bekerja dari kamarnya. Jika bosan, dia memilih menyewa meja di co working space, atau duduk di café, di restorant di wilayah Kuta, Seminyak, sembari tetap bekerja.

“Bali itu sudah rumah ke dua kami, kalangan digital nomad. Tidak hanya dari kalangan belia, yang sudah berkeluarga pun, tidak sedikit memindahkan kantornya ke rumah sewa di Bali. Atau sudah memiliki rumah, villa sendiri di Bali. Lihat saja, pada saat darurat COVID- 19, berapa ribu warga asing yang memilih tetap tinggal di Bali dan memanfaatkan fasilitas kelonggaran keimigrasian pemerintah Indonesia,” paparnya lebih lanjut.

Diprediksi ada 200.000  pekerja digital nomads, yang menetap dan bekerja di Bali pada Juni 2019. Belum terlambat, jika pelaku usaha wisata dan pemerintah menggarap peluang bisnis ceruk pasar digital nomad. Dengan menyiapkan ekosistem yang aman baik bagi pasar mau pun Bali sebagai destinasi.  Pasalnya, pasar potensial tersebut tidak hanya membawa peluang juga membawa dampak yang wajib diantiasipasi.

Dari riset IDC dalam dua tahun kedepan setidaknya terjadi peningkatan 50 % pekerja digital masuk pasar kerja dunia. Peluang terbuka bagi Bali sebagai destinasi wisata sekaligus destinasi bekerja produktif. Ungkap  Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ) dalam Webinar Road Map to Bali Next Normal : Imagine Working from Bali, Why Not?

Webinar diselenggarakan Bali Tourism Board, bekerjasama dengan BaliCEB, Bank Indonesia menghadirkan pembicara Paulus Herry MA ( MD AVB ASIA ), Allen Jordan (CEO Goshen Group), Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ), Kelvin Tan, PHD MBA  ( Co Founder  Eyemail Technology ).

Pengantar diberikan Wakil Gubernur Bali yang juga Ketua BPD PHRI Bali, Ketua GIPI dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali. Gambaran pasar digital nomad dari beberapa negara diberikan oleh Dubes RI untuk PRC dan Mongolia, Djauhari Oratmangun dan  Pratito Soeharyo dutabesar Indonesia untuk Laos. Menghadirkan pekerja seni film Jeremy Thomas dari London.

Para digital nomad menurut Christina mengutamakan mental wellness mengutamakan keseimbangan bekerja dengan kehidupan sosialnya. “Estonia, negara yang bisa dijadikan contoh mengelola pasar digital nomad,”jelasnya.

Pilihan Pertama

Di negeri orang, sewa rumah dikawasan yang disenangi, status tetap bekerja. Teknologi mempermudah semua urusan pekerjaan sepanjang ada jaringan internet yang handal. @RI

Dalam kekinian dunia, bekerja secara daring sangat memungkinkan, tegas  Jeremy Thomas dari London, Inggris dan pada saat yang sama mengerjakan satu proyek film di Indonesia. Tim kerja tersebar di beberapa wilayah untuk pengambilan gambar dan kelengkapan produksi lainnya.

“Pandemi ini memang sebuah isu global, namun ide Work from Bali merupakan ide yang brilian,” ungkapnya.

Untuk dapat memanfaatkan kecepatan teknologi, peluang pasar dan posisi strategis Bali, perlu dibentuk ekosistem digital dan leader yang mampu mendrive peluang tersebut menjadi nyata, ungkap Kelvin Tan menambahkan.

Sementara pegiat dunia digital Paulus Herry Ariyanto memaparkan data dan pemikiran untuk mengelaborasi potensi ide Work from Bali. Mengutip hasil survey Future of Works  bahwa 78 %  orang memilih jadwal waktu bekerja yang fleksibel serta telecommuting (komunikasi jarak jauh) ; 82 % orang mengharapkan keseimbangan dalam hal bekerja dan kehidupan.

Sedangkan hasil dari riset Gallup menyatakan 54 % orang berani meninggalkan pekerjaannya jika mereka mendapat pekerjaan baru yang dapat memberikan fleksibilitas dalam ruang dan waktu.

“ Perkembangan digital membawa perubahan peradaban dunia, termasuk sikap seseorang atas sebuah pekerjaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa survey Nomad List untuk Travel Destination, Bali merupakan tujuan nomor satu bagi kalangan digital nomad . Alasan utama cuaca yang bagus, biaya hidup lebih murah dari kota-kota lainnya, pantai-pantai yang indah,  kaya akan sejarah dan jati diri budaya, serta aman untuk tinggal.

Para pekerja daring (digital nomad) memiliki kekuatan belanja tidak kecil yaitu USD 1300 / orang. Dan ini , menjadi kontribusi untuk ekonomi Bali. “Lebih baik jika setiap kabupaten memiliki area khusus ekosistem digital nomad.  Jangan tinggalkan banjar, karena desa / banjar harus mendapatkan efek sebesar- besarnya dengan kehadiran digital nomad di wilayahnya.  Dan level berikutnya tidak hanya menjadi tempat digital nomad namun juga mampu menumbuhkan digital worker,” jelas Paulus Herry mengingatkan.

Hal tersebut sangat sejalan dengan visi besar pemerintah provinsi Bali melalui RAPERDA RPIP (Rencana Pembangunan Industri bali 2020-2040) dalam tiga pilar utamanya yaitu pilar pariwisata, pilar agrikultur berbasis teknologi dan Industri 4.0. Semoga.***

Kursi Pesawat di Masa Mendatang, Bisa Jadi Akan Seperti Ini

this formate

Kursi double-decker di pesawat (Foto: Zephyr Aerospace )

SAN FRANCISCO, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 terbukti telah mendorong banyak kreativitas. Yang terkini adalah kursi model double-decker dalam pesawat. Zephyr Aerospace, sebuah perusahaan yang berbasis di San Francisco, menawarkan solusi agar penumpang dalam pesawat tetap dapat menjaga jarak sosial. 

Menurut mereka, kursi bertingkat bisa menjadi bahan pertimbanan untuk perjalanan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Apalagi, maskapai penerbangan kini terikat dengan persyaratan jarak sosial jika ingin kembali beroperasi.

Sebuah design yang menata ulang kabin pesawat dengan kursi double-decker sedang ramai dipercakapkan sebagai solusi menciptakan rasa aman dan nyaman bagi penumpang yang hendak bepergian tanpa khawatir terinfeksi Covid-19. 

Perancangnya, Jeffrey O’Neill, yakin kreasinya mampu menciptakan ruang-ruang isolasi yang aman dan nyaman bagi penumpang. Kelak, cara ini menjadi hal baru yang harus diadaptasi.

“Kami percaya, pelancong tipe baru akan membutuhkan privasi. Mereka juga mau membayar lebih untuk sebuah kenyamanan dan bisa tidur selama dalam perjalanan,” kata O’Neill, pendiri dan CEO Zephyr Aerospace, kepada CNN Travel .

Zephyr Aerospace menyebutnya ‘Kursi Zephyr’ yang dirancang untuk semua orang. Kursi ini memungkinkan penumpang memilih bagaimana mereka terbang, apakah berbaring benar-benar datar, duduk, atau duduk tegak dengan kaki terentang penuh.

Bukan hanya itu, ‘Kursi Zephyr’ juga bisa ditumpuk alias bertingkat dua dengan memanfaatkan ruang penyimpanan bagasi. Jadi, konsep double-decker Zephyr itu memakai ruang yang ada antara kursi standar dan bagasi kabin. Mereka menyadari space dalam pesawat itu mahal. Maskapai biasanya tidak mau mengorbankan ruang.

Gagasannya memang masih sangat awal, meski O’Neill mengaku telah mempresentasikan idenya ke empat maskapai besar, termasuk Delta. Langkah selanjutnya adalah memastikan produknya dapat lulus uji keamanan yang membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun.