Dampak COVID-19 Bagi Traveler Gen Z

this formate

Gen Z lebih suka jalan-jalan ketimbang membeli barang (foto: booking.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 berdampak pada hampir semua orang, tidak terkecuali Generasi (Gen) Z. Salah satu yang menarik untuk ditelisik adalah bagaimana wabah Corona memengaruhi hobi melancong generasi yang memiliki karakter bebas, independen, dan gemar bepergian itu.

Selama ini, mereka yang lahir dalam rentang waktu 1995-2010 itu, menganggap tavelling lebih penting daripada menabung untuk membeli kebutuhan lain seperti, rumah misalnya. Sebuah survei menunjukkan hampir tujuh dari sepuluh Gen Z telah merencanakan perjalanan. 

Kegemarannya bepergian dan berpetualang menjadikan Gen Z sebagai agen promotor yang efektif. Mereka ini akrab dengan media sosial bahkan barangkali tidak bisa hidup tanpa dunia digital dan Internet.

Mereka akan mengunggah tempat-tempat wisata yang dikunjungi ke sejumlah platform termasuk Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, maupun fitur Instagram Stories di Instagram. Kementerian Pariwisata bahkan telah memanfaatkan mereka dengan membentuk GENPI (Generasi Pesona Indonesia), komunitas anak-anak muda pecinta pariwisata dan aktif di medsos.

Kini, saat pandemi Covid-19 masih belum mereda, mereka ‘terperangkap’ di rumah. Keadaan telah mengubur rencana perjalanan yang telah dirancang jauh.

Bukan hanya itu, mereka yang baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja pun mulai khawatir. Ketersediaan lapangan pekerjaan yang minim akibat rusaknya tatanan ekonomi, menghantui mereka.

Situs berita traveling Skift baru-baru ini melakukan studi dampak Covid-19 terhadap Gen Z. Mayoritas kelompok Gen Z, seperti halnya yang lain, prihatin dengan virus Corona yang penyebarannya bergerak secara eksponesial.

Tetapi yang menarik, hal itu seolah tak memengaruhi kebiasaan melancong mereka. Data menunjukkan, justru ada tren meningkat. Ini mencerminkan bahwa kebiasaan bepergian Gen Z tak banyak terpengaruh Corona.

Catatan menarik lainnya adalah bagaimana para pelancong ini memandang pentingnya perjalanan. Memang benar, dampak COVID-19 terhadap perekonomian dunia begitu dahsyat. Hal itu memaksa orang-orang untuk lebih berhemat dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Sebelum Corona, sebagian penduduk dari Gen Z menganggap travelling sebagai sebuah kebutuhan yang lebih penting dari misalnya membeli rumah.

Pandangan itu masih berlaku, meski mereka menyatakan akan lebih ketat membelanjakan uang. Studi ini menunjukkan Gen Z masih akan meningkatkan biaya perjalanan tahun depan meski ada penyesuaian pengeluaran. 

Tren ini menjadi pekerjaan rumah bagi para biro perjalanan untuk menemukan cara unik bagaimana memenuhi kebutuhan melancong para Gen Z sehingga perjalanan menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi mereka.

 

 

Kisah Heroik Dibalik Selamatnya Naskah Asli Curios George

this formate

Hans dan Margret (foto: times of Israel)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagian anak-anak Indonesia pasti mengenal tokoh George, sang monyet usil yang ada di serial kartun ‘Curious George’. Stasiun televisi ANTV pernah rutin menayangkannya pada 2016 silam. Animasi ini menampilkan tokoh monyet bernama George yang dibawa dari rumahnya di Afrika oleh “Pria Bertopi Kuning” untuk tinggal dengannya di kota. 

Setiap pagi pukul 06.00, anak-anak Indonesia dapat menyaksikan film animasi yang diadaptasi dari buku karya pasangan suami-istri Yahudi berkebangsaan Jerman, Hans Augusto Rey dan Margret Rey.

Buku ini pertama kali terbit di New York, Amerika Serikat, tepatnya usia Perang Dunia ke-2. Dan langsung meledak. Kini, Curious George sudah dicetak sebanyak 75 juta ekseplar dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa. Bukan hanya itu, Curios George bahkan punya tv show sendiri di Amerika, dan kisahnya sudah tiga kali diangkat menjadi film layar lebar. 

Namun, siapa yang mengira jika kesuksesan yang diraih ‘George’ saat ini, nyaris pupus. Seandainya Hans dan Margret tak cukup kreatif mencari cara melarikan diri dari Paris saat pasukan Nazi merangsek ke sana, tentu nasib ‘George’ tak secemerlang sekarang. 

Jauh sebelum buku Curios George menjadi mendunia, ada satu kisah yang kelak menentukan nasibnya. Kisah ini bermula dari sebuah apartemen di Rio de Janeiro, Brazil yang dihuni pasangan pengantin baru Hans & Margret.

Mereka tinggal bersama hewan peliharaan, yakni dua ekor monyet yang kerap membuat masalah. Saat pasangan berkebangsaan Jerman ini berbulan madu ke Paris, mereka rupanya langsung jatuh cinta pada kota yang dikenal sebagai kota fashion dan paling romantis itu.

Keduanya kemudian memutuskan untuk menetap di sana. Selama 4 tahun tinggal di sana, pasangan ini produktif menulis dan membuat ilustrasi buku untuk anak-anak. Salah satu karakter yang dikembangkannya terinspirasi dari hewan peliharaan mereka di Brazil, monyet Vivre.  

Curious George sudah dicetak sebanyak 75 juta ekseplar dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa

Saat pasangan ini masih menetap di Paris, Perang Dunia II pun meletus. Pada 1940 Pasukan Nazi berhasil merangsek masuk ke Perancis. Hans dan Margret yang keturunan Yahudi sangat khawatir atas keselamatan jiwa mereka.

Rencanan pun disusun untuk secepatnya meninggalkan Paris. Mereka sudah memutuskan untuk berlayar ke New York melalui pelabuhan kapal laut di kota Lisbon, Portugal.

Sayang, saat PD II tak ada kereta yang beroperasi. Di tengah keputusasaan itulah keduanya menemukan sebuah toko sepeda yang ditinggalkan pemiliknya dan nyaris kosong. Dengan perlengkapan seadanya, Hans pun berimprovisasi merakit sepeda dengan membeli sejumlah spare parts tambahan.

Berhasil, keduanya pun kemudian lekas berkemas membawa barang secukupnya agar muat ditaruh dalam keranjang sepeda, termasuk naskah asli yang kelak menjadi Curious George

Bersepeda bersama Hans dan Margret, ‘George’ memulai petualangan selama 4 hari penuh untuk tiba di stasiun kereta terdekat. Dari sana mereka kemudian melanjut ke pelabuhan kapal laut di Lisbon, Portugal dan bertolak ke New York.

Baru di New York lah mereka menerbitkan buku dengan menciptakan nama George, Curious George agar lebih terdengar ke-Amerika-an. Di sanalah Curious Geroge mengawali debutnya hingga kemudian mendunia. Di sana pula pasangan Hans dan Margret menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang dan bahagia.

 

Selamat Hari Bacang, Hari Festival Duan Wu dan Happy Dragon Boat Festival

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hari ini di WA grup komunitas Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC) yang berisikan para founding father pariwisata Indonesia yang berjuang sejak tahun 1950 an beredar ucapan Selamat Hari Bacang. Ternyata Hari Bacang berkaitan dengan Festival Duan Wu dan Dragon Boat Festival.

Ibu Tuti Sunario, mantan eksekutif Badan Promosi Pariwisata Indonesia lalu memposting gambar kue bacang berbentuk segi 4 dengan tiap segi mengandung makna 1.Suami istri saling mencintai jangan bertengkar, 2.sekeluarga damai sejahtera sehat selalu, 3. semua rejeki tidak ada yang ketinggalan, 4. Usaha sukses karir meningkat.

Broer Kusuma, pengusaha dan penulis yang telah berkelana di 176 negara dan pemerhati warisan dunia menimpali dengan kenikmatan makan bacang  diikuti ucapan selamat hari Bacang dari Arifin Pasaribu, mantan Public Relation (PR) Manager pertama Hotel Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pada tanggal 5 Agustus 1962.

Ucapan Selamat Festival Duan Wu dalam Mandarin (Pinyin dan artinya) – Bulan 5 tanggal 5 menurut penanggalan Imlek merupakan hari raya Duan Wu Jie yaitu salah satu dari 8 Hari Raya Tradisional Tonghoa yang masih dirayakan sampai saat ini.

Bakcang atau bacang dikutip dari Wikipedia.org  adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata ‘bakcang’ sendiri berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia.

Bakcang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. 

Bakcang kemudian menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu yang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging jadi Arti bakcang adalah berisi daging. Tetapi pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. 

Bakcang yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang. Terbuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri, dan jahe sebagai isi.

Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap, dan sedikit minyak nabati.

Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daun bambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk limas segitiga.

Festival Duan Wu

Kegiatan penting yang sering dilakukan dalam merayakan Festival Duan Wu adalah Perlombaan Perahu Naga (Dragon Boat) dan memakan makanan khusus Festival Duan Wu yaitu Bakcang (Zong Zi).

Selain kegiatan penting diatas, mengirimkan ucapan selamat kepada orang tua, sanak keluarga, rekan kerja maupun teman-teman juga merupakan hal yang sering dilakukan, baik melalui SMS, E-mail maupun WA 

Berikut ini merupakan beberapa kata-kata ucapan selamat Festival Duan Wu dikutip dari Dinaviriya.com;

Sebutir beras menandakan sebuah harapan, sebuah doa. Saya bungkus dan kirimkan semua harapan serta doa saya kepadamu dalam Festival Duan Wu ini, semoga setiap hari dapat kamu lewati dengan penuh warna-warni, karir lancar seperti Perahu Naga yang selalu bersaing untuk menang.”

“Festival Duan Wu telah tiba, Saya kirimkan doa saya ini, semoga karir-mu seperti Perahu Naga yang maju dengan cepat, Keluarga seperti  bakcang yang selalu hangat, kepribadian seperti daun bakcang yang begitu elegan,  Kebahagian seperti beras ketan yang melekat kuat.”

 “Lapis demi lapis daun Bakcang, membungkus kasih sayang yang tak terpisahkan, benang demi benang mengikat kerinduanku kepadamu; butir demi butir beras serta keharuman aromanya mengirimkan doaku yang paling dalam kepadamu, selamat hari raya Festival Duan Wu,”

“Festival Duan Wu telah tiba, SMS saya juga tiba, mengirimkan doaku kepadamu; semoga kedamaian selalu bersenyum padamu, kebahagian juga telah tiba di hadapanmu, semoga kesenangan selalu memelukmu, kesulitan selalu menjauhimu, kesehatan selalu bersamamu; dalam festival Duan Wu ini, semoga semua yang terbaik barada dipihakmu.”

“Tuhan memberikanku sebuah Bakcang, didalamnya terdapat kebahagian, kekayaan dan keberuntungan, saya ingin mengirimkannya kepadamu, semoga karirmu lancar, kehidupanmu bahagia selalu, percintaanmu manis selalu, setelah memakannya, semoga bahagia selalu menyertaimu.”

 

 

 

 

Menghadapi nilai-nilai dan karakter kita saat kita sendiri  

this formate

Menikmati Work from Home ( WfH) dari ruangan rumah yang kecil-kecil di Tokyo. ( Foto: GETTY IMAGE).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah berbulan-bulan bekerja, belajar, beraktivitas di dalam rumah, Yoko Ishikura, profesor emeritus Universitas Hitotsubash, Jepang  dan merupakan konsultan independen di bidang strategi global, daya saing dan bakat global menulis untuk The Japantimes mengenai bagaimana memahami karakter diri kita sendiri.

Tulisan panjangnya ini bisa membantu semua individu di dunia termasuk di Indonesia untuk menikmati Work from Home ( WfH) dan aktivitas lainnya di rumah saja hasil pengamatan April lalu yang terjadi setelah warga Jepang mengalami awal-awal semi lockdown.

Lebih dari tiga bulan setelah kami mengetahui pecahnya coronavirus baru di Wuhan, Cina, pemerintah Jepang akhirnya mengumumkan keadaan darurat terkait infeksi domestik COVID-19.  Sementara pemerintah mengatakan tindakan itu bukan suatu penguncian seperti yang dilakukan di negara lain.

Tapi tujuannya untuk mengendalikan virus, dan bukan  hukuman bagi orang-orang yang tidak tinggal di rumah (kecuali untuk tugas-tugas penting). Kebijakan ini diharapkan membuat  mayoritas orang akan mengikuti  sesuai permintaan pemerintahnya.

Kesempatan seperti apa yang diberikan oleh situasi “semi-lockdown ini?  Berikut ini adalah pendapat saya berdasarkan pengamatan tentang bagaimana individu, bukan masyarakat pada umumnya, mengikuti permintaan untuk tinggal di rumah selama dua akhir pekan sebelum deklarasi keadaan darurat.

Kita diberi kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kita sendiri, membuat pilihan maupun keputusan serta mengambil tindakan.  Sangat ironis bahwa kita memiliki kebebasan ini di bawah lingkungan yang sangat ketat dari pandemi COVID-19.

Pada pertengahan Maret, rasio karyawan reguler perusahaan penuh waktu yang terlibat dalam pekerjaan jarak jauh / telework ada 13 %, menurut sebuah survei oleh Persol Research Institute.  Pada 5 April, penurunan hanya  13 % dalam tren mobilitas untuk tempat-tempat kerja yang dicatat oleh Laporan Mobilitas Komunitas Google. 

Tetapi jumlah pekerja kantor yang akan melakukan pekerjaan jarak jauh dari rumah cenderung meningkat setelah keadaan darurat telah diumumkan.

Pertemuan online meningkat dengan sangat cepat, dan pekerja perusahaan diharuskan untuk mempersiapkan pertemuan tersebut dan berpartisipasi dari rumah.  Beberapa orang mungkin diminta untuk membuat laporan harian tentang kegiatan mereka.

Namun, ketika orang-orang bekerja di rumah, mereka tidak secara langsung “diawasi” oleh bos dan rekan mereka seperti ketika mereka berada di kantor. Sisa hari itu tergantung pada kebijaksanaan dan pilihan mereka sendiri.  

Mereka “diberdayakan” untuk memutuskan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka alih-alih pergi ke kantor dengan kereta yang ramai pada waktu tertentu setiap hari dan bekerja sepanjang hari dengan orang lain.

Ketika sekolah ditutup, keluarga menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah dan lebih banyak keputusan untuk menyulap kegiatan yang perlu dibuat – beberapa dari mereka hampir semua melakukannya untuk pertama kalinya.

Kebebasan yang baru diperoleh ini untuk membuat pilihan akan datang dengan kesempatan untuk menghadapi kenyataan tentang diri kita sendiri.  Orang tua dengan anak-anak kecil dapat membuat pilihan  tentang cara membagi pekerjaan rumah seperti membersihkan, memasak, dan tugas-tugas lain dengan pasangan mereka.

Memutuskan berapa banyak waktu dan bagaimana menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, yang sekolahnya ditutup.  Ini bukan keputusan yang mudah karena rumah yang khas dan kecil- kecil di Tokyo.  Perkelahian dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga dapat meningkat jika orang tua menjadi stres oleh situasi ini.

Terlepas dari kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang berhubungan dengan keluarga, orang dihadapkan dengan pertanyaan tentang bagaimana menghabiskan waktu yang telah dibebaskan dengan tidak bepergian.

Jenis kegiatan apa yang kami minati?  Apakah kita hanya duduk dan menonton TV?  Apakah kita membaca buku yang kita beli tetapi belum sempat membaca?.

Menurut sebuah survei tentang bagaimana orang menghabiskan waktu pada pertengahan Maret, waktu yang dihabiskan untuk menonton TV paling tinggi 44 %, diikuti dengan olahraga / membaca 17 persen.

Apakah kita mengikuti kursus online untuk mempelajari keterampilan baru seperti pemrograman atau belajar bahasa asing?  Apakah kita mengikuti seminar / workshop yang ditawarkan online?  

Apakah kita mencoba mempelajari lebih lanjut tentang cara menggunakan perangkat dan aplikasi TI sehingga kita dapat memperluas dunia kita di luar ruang fisik?  

Apakah kita memulai kegiatan baru seperti menggambar, memainkan alat musik, yoga dan olahraga lainnya dengan bantuan video YouTube yang memberikan petunjuk langkah demi langkah?

Atau apakah kita terus menonton berita “menyedihkan” tentang COVID-19 dan khawatir tentang pandemi dan ekonomi?

Apa yang kita lakukan jika kita penggemar olahraga yang selalu menonton acara langsung seperti sepak bola, sepak bola, bisbol, atau tenis? 

Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, “Apa hal lain yang bisa saya lakukan untuk menjaga diri saya terhibur dan tidak depresi?

Ketika seruan untuk menjauhkan kerumunan sosial dan semi-lockdown berlanjut selama beberapa minggu, pertanyaan-pertanyaan mungkin berubah menjadi “Apakah kita cukup disiplin untuk melanjutkan kegiatan untuk menjaga semangat dan motivasi kita?  “

Secara fisik dibatasi dengan hilangnya pengalaman “nyata” dan “kontak tatap muka” memaksa kita untuk memikirkan hubungan apa dan orang-orang yang kita hargai.  

Apakah kita mencoba berkomunikasi dengan teman-teman yang sudah kehilangan kontak, atau memanggil saudara lansia?  Setiap tindakan ini membutuhkan kehendak kita sendiri untuk bertindak.

Meskipun kita menghadapi banyak batasan, kita mungkin menemukan apa yang benar-benar kita sukai, bagaimana kita berperilaku dalam kondisi serius – disiplin atau tidak tahu siapa orang dan hubungan yang kita hargai.

Bahkan mungkin tidak tahu tujuan hidup kita.  Ketika Anda menghadapi bahaya kehilangan orang yang Anda cintai dan bahkan diri Anda sendiri karena pandemi, prioritas Anda dalam hidup dan tujuan menjadi jelas.

Masing-masing dari kita diberi kebebasan dan kemungkinan yang hampir tak terbatas untuk memutuskan kegiatan kita sendiri.  Ini adalah kesempatan langka bagi banyak orang Jepang – yang cenderung mengikuti norma – untuk mengendalikan hidup mereka.

Bahkan untuk sebagian hari dan hanya untuk sementara waktu. Masa Ini adalah kesempatan yang bagus untuk menemukan kenyataan dari kemampuan, motivasi, minat, dan kecenderungan kita sendiri.

Kita mungkin melihat betapa sempit atau lebarnya dunia kita.Kita mungkin menemukan bahwa kegiatan kita sendiri terbatas pada orang-orang yang kita kenal melalui pekerjaan, dan bukan di luar.  Kita mungkin menemukan bahwa kita tidak memiliki jaringan orang yang beragam di luar pekerjaan.

Kita mungkin menemukan bahwa kita tidak mandiri seperti yang kita duga, karena kita menghindar dari belajar sesuatu yang baru ketika ditinggalkan sendirian.

Di sisi lain, kita dapat melihat diri kita sendiri dengan minat yang baru ditemukan dalam kegiatan budaya seperti musik dan seni, karena kita sering  streaming langsung konser, pertunjukan seni dan kunjungan online ke museum-museum terkenal di seluruh dunia.

Kita mungkin menemukan kekuatan baru di dalam diri kita, jika kita mempertahankan semangat tinggi dan menghibur orang lain selama masa sulit “tinggal di rumah” ini.

Beberapa fakta tentang diri kita mungkin tidak begitu positif dan membesarkan hati, tetapi dengan penemuan baru kita dapat mulai melakukan sesuatu tentang hal itu.  

Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) atau apapun namanya  keadaan darurat yang dinyatakan oleh pemerintah telah memberi landasan peluncuran untuk mulai mengubah diri Mari kita gunakan kesempatan ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang diri kita sendiri dan bergerak maju.

 

 

Pilih Prioritas Kesehatan atau Ekonomi ? Yuk Simak 2 Negara Pasca Lockdown

this formate

Suasana kota Paris yang dijuluki kota cafe, dimana budaya ‘nogkrong’ di cafe digemari warganya maupun turis asing. ( Foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Relaksasi atau pelonggaran aturan lockdown yang sebelumnya diberlakukan guna menekan laju penyebaran virus corona sudah dilakukan oleh beberapa negara sehingga warga setempat bisa kembali beraktivitas normal

Meski umumnya merasa lega, sebagian besar masyarakat menyikapinya dengan berhati-hati. Di Jepang misalnya, meski warga dihimbau untuk gerakkan wisata domestik namun tempat wisata masih sepi.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka, warga Jepang memang sudah menggunakan pembersih tangan, memakai masker dan menjaga kebersihan jadi ketika terjadi pandemi global kebiasaan mereka itulah yang justru  menjadi protokol kesehatan di seluruh dunia.

Sebaliknya di Paris pasca lockdown, kota yang dipenuhi oleh cafe-cafe sudah kembali dipenuhi warganya dan nampaknya sulit mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Mengutip The Mainichi, tempat  wisata regional di Jepang masih sepi dan sebagian besar pengunjung belum kembali.  Di Iwate, satu-satunya prefektur tanpa kasus coronavirus yang dilaporkan, kuil Budha Chuson-ji, situs Warisan Dunia UNESCO juga tetap kosong.

“Saya harap setidaknya beberapa pengunjung datang sekarang apalagi pembatasan akses antar-prefektur telah dicabut,” kata Naoko Sato, 57, seorang karyawan toko suvenir yang dekat dengan kuil.

Saori Kishino, 42, seorang karyawan toko suvenir di dekat kuil Toshogu yang terkenal di Nikko, Prefektur Tochigi, mengatakan orang hanya membeli satu kotak permen sebagai suvenir untuk  diri sendiri.

 “Kalau terlalu ramai di dalam toko juga akan menjadi masalah sehingga sulit bagi industri jasa untuk hidup berdampingan dengan langkah-langkah coronavirus,” katanya.

Jepang  mencoba untuk mencapai keseimbangan antara memperluas kegiatan ekonomi dan mengadopsi tindakan pencegahan yang lebih kuat. Sementara para ahli kesehatan telah memperingatkan negara itu dapat melihat gelombang infeksi kedua jika orang membiarkan penjagaan dirinya turun.

Jumlah orang sekarang diizinkan di acara-acara seperti konser telah dinaikkan menjadi 1.000, dari 100 untuk venue indoor dan dari 200 untuk area  outdoor.

Namun, tempat-tempat di dalam ruangan hanya diperbolehkan mengisi setengah dari kapasitasnya, sementara di luar ruangan diminta memastikan jarak yang cukup.

Di Osaka, pusat hiburan Yoshimoto Kogyo Co. kembali menampilkan pertunjukan komedi di depan penonton langsung di teater Namba Grand Kagetsu di kota Jepang barat untuk pertama kalinya dalam tiga setengah bulan.

“Pada akhirnya, saya telah kembali ke tahap ini. Kami akan melakukan yang terbaik dan berhati-hati karena tidak ada artinya jika orang terinfeksi setelah pembukaan kembali,” Katsura Bunshi VI, seorang master cerita komedi tradisional Jepang rakugo.

Olahraga profesional telah diizinkan untuk dilanjutkan – tanpa penonton – dengan musim Baseball Nippon Professional tahun ini, sementara permintaan penutupan bisnis untuk perusahaan seperti klub malam juga telah dicabut.

 Beberapa penggemar baseball terlihat mengambil foto di luar Tokyo Dome, stadion 999Yomiuri Giants.  “Saya di sini untuk melihat seperti apa stadion pada hari pembukaan,” kata Yumi Shimizu, seorang karyawan perusahaan.

 “Saya merasa sedih bahwa pertandingan akan diadakan tanpa penonton. Saya harap kami akan dapat menontonnya sesegera mungkin,” kata pemain 30 tahun dari Sumida Ward, Tokyo.

Aktivitas di Paris

Sementara di Paris, artis Anggun C Sasmi melalui unggahannya di Instagram tidak memilih nongkrong di cafe yang padat. Dia mengaku kangen dengan kuliner khas Indonesia. Makanya untuk makan malam pertama pasca lockdown dia  dan putrinya Kirana memilih singgah di restoran Indonesia.

“Yuk naik becak dan makan rendang,” ujarnya. Dalam potret unggahannya tampak Anggun dan Kirana begitu semringah akhirnya bisa jalan-jalan dan berpose di atas becak seperti yang ada di Indonesia

Mengutip sortiraparis.com, kebiasaan nongkrong di cafe baik turis asing maupun warga Perancis di Paris bahkan setelah masa pelonggaran ini mengundang keprihatinan banyak pihak.

Memang virus tersebut dikatakan berada di bawah kendali tapi perang melawan epidemi coronavirus belum berakhir.  Dan meskipun COVID-19 tampaknya melambat di Eropa, hipotesis gelombang kedua masih dipertimbangkan oleh komunitas ilmiah.

Haruskah kita mengharapkan gelombang coronavirus kedua di Perancis?  Menurut Komite Ilmiah COVID-19 di negara itu, sangat mungkin untuk mengembalikan kejatuhan ini.  Hipotesa dan pengamatan sejauh ini menghubungkan perkiraan pusat Eropa untuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang menandakan gelombang kedua di Eropa juga.

Bulan Mei lalu, Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Eropa (ECDC) memberi sinyal Eropa harus bersiap untuk gelombang kedua.  Kepala ECDC Andrea Ammon mengatakan itu bukan tentang apakah hal itu akan terjadi

” Tetapi kapan dan seberapa besar itu bisa terjadi.  Perspektif kebangkitan virus bahkan menjadi topik utama untuk menyusun rencana penahanan darurat cegah penyebaran virus lagi oleh pemerintah Prancis,” ujatnya.

Warga dunia tentunya tidak ingin ada gelombang kedua penyebaran virus. Banyak sudah petunjuk bagi semua individu maupun pemimpin dunia tentang apa yang harus dipertahankan setelah pandemi ini berlalu.

Pemberlakuan lockdown di banyak kota dan negara di dunia berdampak positif ke lingkungan. Polusi udara berkurang, langit lebih bersih, cerah, dan lebih biru. Selain itu, udara pun semakin segar. Nah pilih mana ? tergesa-gesa restart atau masih bisa menikmati bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Pilih kesehatan atau kepentingan ekonomi ?.

 

Menyikapi Rencana Pemerintah Restart Pariwisata Mulai Juli 2020

this formate

Garuda Whisnu Kencana, Bali, salah satu obyek wisata yang siap menerima kunjungan wisata, Juli. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Upaya pemerintah untuk restart kegiatan pariwisata dan membuka sejumlah destinasi wisata mulai Juli 2020 telah dibahas dalam Rapat Kordinasi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Jika pemerintah semangat bagaimana dengan kalangan industri pariwisatanya,  apakah Juli waktu yang tepat untuk memulai kembali kegiatan pariwisata ?.

Menurut Anton Thedy, pendiri TX Travel dengan 255 cabang di Indonesia,  industri pariwisata siap saja dukung pemerintah untuk menggerakkan wisata domestik dan perekonomian daerah. Justru yang belum siap mungkin dari peserta tournya karena proses untuk naik pesawat tidak seperti dulu lagi.

Dia menyambut baik jika Banyuwangi, Labuan bajo, Raja Ampat dan obyek wisata alam lainnya sudah siap menyambut wisatawan domestik Juli mendatang dengan protokol kesehatan yang ketat.

” Sekarang ini kan ada rasa cemas dan ketakutan naik pesawat karena proses nya di bandara. Oleh karena itu  harus di sosialisasikan dulu, apakah cukup pakai rapid test saja dan semua orang bisa jalan jalan atau kategori terbatas yang bisa terbang,” kata Anton, hari ini.

Sepertinya terlalu cepat buka di awal Juli karena keinginan hati memang mau jalan jalan tapi secara mental masih takut terpapar COVID-19 karena cara penanganan yang masih belum maksimal, tambah Anton

Menurut dia untuk menggerakkan wisata domestik harus ada promosi yang menarik dan harus dilakukan mulai Agustus supaya roda pariwisata bisa bergerak lagi, harga tiket terjangkau, paket hotel menarik, dipancing dengan program murah meriah akan menarik minat jalan jalan lagi.

Syachrul Firdaus, Direktur Eksekutif, Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) mengatakan rencana pemerintah untuk menggerakkan wisata domestik harus diikuti langkah nyata.

ASTINDO memfasilitasi anggota dengan  suatu Platform yg disebut New ASTINDO  Hub (NAH) agar para anggota dapat saling menjual paket wisata di setiap daerah, yang bisa di booking secara Online

Jadi kami dorong anggota yang usahanya di Belitung jual paket ke Bali, Menado dan daerah lainnya. Begitu juga yang di Bali, jual paket wisata dari daerah lainnya untuk menggerakkan wisara domestik,” kata Firdaus.

Menurut dia, selama pandemi belum terbukti stimulus dan rileksasi yang dijanjikan oleh pemerintah untuk dunia usaha termasuk travel agent yang akan dikucurkan untuk membantu dunia usaha tetap survive.

” Dari Rapat Kordinasi para Menko pada 26 Maret dan dipertegas di Rakor yang dipimpin Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 1 April 2020 ada dana Rp 405 triliun yang mau dikucurkan tapi  sampai sekarang bulan Juni belum jelas,” 

Asosiasi yang dipimpinnya adalah pendukung utama sektor pariwisata, penghasil terbesar devisa negara yang seharusnya mendapat perhatian khusus. Banyak biro perjalanan wisata ( travel agent)  yang merumahkan karyawan bahkan di PHK tanpa pesangon karena perusahaan tidak lagi miliki modal.

 “Jika memang pariwisata penting tiru saja Thailand yang memberikan subsidi bagi warganya untuk berwisata ke daerah dengan beli voucher melalui travel agent dan tujuannya untuk menggerakkan perekonomian daerah,” kata Firdaus.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memang telah membahas soal persiapan pembukaan pariwisata pada beberapa kawasan konservasi wisata di Indonesia yang siap dibuka bulan Juli 2020.

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) secara resmi telah mengesahkan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) yang disusun bersama para pemangku kepentingan dan kementerian terkait.

Protokol kesehatan sektor parekraf disahkan melalui KMK Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

“Pemerintah dorong pergerakan domestik dan meluncurkan empat program untuk wisatawan domestik, yaitu Activation, Staycation, Roadtrip, dan Epic Sale,” ujar Memko Marvest Luhut  saat rapat kordinasi di kantornya belum lama ini.

Kemungkinan beberapa destinasi  pariwisata akan dibuka pada bulan Juli a.l yang akan siap dibuka mulai dari Labuan Bajo hingga Bali. “Kemudian Pulau Komodo, Labuan Bajo, itu juga oleh Gubernur dilaporkan siap. Bali juga sudah siap. around Juli semua lah,” ungkap Luhut.

Dari hasil Rapat Kordinasi, kata Luhut, ada yang spesial yaitu kawasan konservasi di Banyuwangi, tepatnya di Pantai Plengkung atau yang populer disebut G-Land. Luhut menyebut kawasan ini akan dijadikan tuan rumah untuk kejuaraan surfing dunia.

Menurutnya kejuaraan surfing ini akan ditonton banyak orang, bahkan penontonnya disebut Luhut lebih besar daripada gelaran MotoGP. Kemungkinan gelaran bergensi selancar ombak ini bakal dilaksanakan tahun depan.

“Banyuwangi siap, tapi kita lihat perkembangan pandemi global COVID-19 juga nanti. Yang jelas Banyuwangi ini sudah disiapkan untuk World Surfing League. Harusnya November, itu penonton nomer 3 terbesar di dunia, lebih besar dari MotoGP. MotoGP itu nomer 9,” papar Luhut.

 

Bertemu Ketua DPD RI, PWI Usulkan Sinergi Penguatan Peran DPD RI

this formate

Ketua Umum PWI, Atal S. Depari ( kiri) berdiskusi dengan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, ( Foto: Humas PWI/ Mercy)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  – DPD RI menerima audiensi dari Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Ruang Ketua DPD RI, kemarin. Dalam pertemuan tersebut, PWI menilai DPD RI sebagai sebuah lembaga parlemen yang layak disuarakan ke masyarakat. DPD RI saat ini dinilai sebagai corong aspirasi masyarakat yang terus berjuang untuk kepentingan daerah.

“Kami berharap ada sinergi dan kerja sama antara DPD RI dengan PWI. Dengan jaringan media di bawah PWI, program-program DPD RI dapat dipublikasikan secara serentak. Dengan misi DPD RI yang mencakup seluruh daerah di Indonesia, kerja sama PWI dengan DPD RI akan sangat strategis,” ucap Ketua Umum PWI, Atal S. Depari.

DPD RI merupakan lembaga yang telah terbukti dalam menyuarakan aspirasi-aspirasi daerah ke pusat. Menurut Atal, banyak kinerja positif DPD RI yang harus diinformasikan kepada masyarakat secara luas. Bisa dari program kelembagaan ataupun program dari setiap Senator, Anggota DPD RI.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyambut baik wacana sinergi antara DPD RI dengan PWI. Menurutnya selama kepemimpinannya, DPD RI harus mampu menjadi lembaga yang dapat membawa aspirasi daerah ke pusat, sehingga kepentingan-kepentingan daerah dapat terwujud melalui DPD RI.

“Saya menyambut baik dengan rencana kerja sama ini. DPD RI sejak saya pimpin, saya punya prinsip, kita jangan bawa masalah pusat ke daerah. Saya minta setiap anggota DPD RI bawa masalah daerah ke pusat, untuk kita carikan jalan keluarnya. Ada beberapa aspirasi dan isu di daerah telah berhasil kami temukan jalan keluarnya bersama eksekutif,” ucap LaNyalla.

Senada, Wakil Ketua DPD RI, Sultan B. Najamudin, berpendapat DPD RI masih memiliki kewenangan yang terbatas dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Posisi DPD RI di dalam sistem bikameral masih belum kuat. Namun, posisi DPD RI saat ini semakin menguat, dimana dulunya hanya sekedar menyampaikan usulan Rancangan Undang-Undang (RUU).

Saat ini DPD RI sudah mulai dilibatkan dalam pembahasan RUU. DPD RI juga memiliki fungsi pengawasan yang menjadi kekuatan dalam kinerja DPD RI sebagai wakil daerah, oleh karena itu, DPD RI membutuhkan sinergitas untuk penguatan DPD RI sebagai lembaga perwakilan daerah. 

“Meski secara kelembagaan belum sekuat DPR, tapi harapan daerah untuk penyaluran aspirasinya yang formal jalurnya ya ke DPD RI. Pengaduan dari manapun kita selalu terima, tidak melihat dia dari mana,” kata Sultan B. Najamudin.

Menurut dia DPD RI- PWI Pusat  membutuhkan sinergitas untuk penguatan melalui pembangunan opini publik. ” Kita perlu mengkomunikasikan kinerja DPD. Banyak kerja-kerja DPD dalam 6 bulan ini yang konkrit yang harus dikomunikasikan,” kata Sultan.

Dalam pertemuan ini Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari turut didampingi Sekjen PWI Pusat Mirza Zulhadi,Wakil Ketua Bidang Kerja sama Antar Lembaga Abdul Aziz, Zulkifli Gani Ottoh, Ketua Bidang Organisasi,Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Nurjaman Mochtar,Wakil Sekjen Marthen Selamet Susanto, Dar Edy Yoga Wakil Bendahara Umum dan Humas Mercys Charles Loho.

 

Brand Fashion Geulis Siap Dukung Aktivitas di Era New Normal

this formate

Dari kiri ke kanan desain Oliva Top,  Daily Shirt, Atalie Combine ( Foto: geulis.id) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Gaung New Normal ( kenormalan baru) dan restart pariwisata belakangan ini makin kencang diberitakan media nasional maupun media sosial. Setelah bekerja, belajar dan beribadah dari rumah saja akibat pandami global COVID-19 maka kini banyak negara mulai melonggarkan aktivitasnya.

Begitu pula di Indonesia terutama Jakarta sebagai ibukota negri mulai dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dianggap mampu mempercepat penanggulangan sekaligus mencegah penyebaran corona di Indonesia.

PSBB di Jakarta dibulan Juni ini menjadi masa transisi sebelum akhirnya benar-benar dicabut. Kabar gembira lainnya sejumlah obyek wisata seperti Dufan, Ancol dan Kebun Binatang Ragunan juga sudah buka dengan jumlah pengunjung terbatas.

Sudah siap untuk berwisata ? siap dong membantu pemerintah menggerakkan sektor pariwisata  yang paling pertama terdampak pandemi Corona. Oleh karena itu, pemerintah pun ingin sektor pariwisata yang bakal bangkit pertama kali di masa New Normal ini. 

Berbagai langkah pun dijalankan untuk mendorong sektor ini keluar dari keterpurukan. Saat ini, pemerintah meluncurkan empat program untuk wisatawan domestik, yaitu Activation, Staycation, Roadtrip, dan Epic Sale.

Maksudnya activation, mulai ada pergerakan wisata deh yang dekat-dekat rumah juga bisa. Mau staycation, cari suasana baru menyewa rumah tempat liburan atau villa, stay di hotel bak liburan juga banyak pilihannya.

Week-end bisa mulai dengan roadtrip gunakan mobil sendiri atau kereta, bus untuk liburan,  cukup jarak pendek dulu. Terakhir Epic Sale silahkan browsing cari tempat-tempat epic dengan penawaran diskon gede-gede.

Sudah siapkan baju-bajunya ? brand fashion Geulis ternyata sudah menyediakan baju-baju yang sesuai untuk kegiatan restart memasuki kenormalan baru. Brand lokal ini paham benar  6 dari 10 wanita sering berucap tak punya baju yang cocok untuk dikenakan saat hendak mau berpergian ke suatu tempat atau acara.

Sejak 2018, Geulis hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi solusi kala keadaan di atas menghampiri. Komitmennya adalah menciptakan dan membuat produk dengan desain terkini, kualitas produk yang baik dan harga yang terjangkau.

Dewi Utami, Marketing Communication PT. Geulis Busana Kreasindo sebagai produsen produk fashion dan aksesori Geulis mengatakan selain harga terjangkau dan bisa diperoleh di sejumlah toko  online yang ada, sedikitnya ada enam produk terbaru yang bisa dipakai untuk menyambut  semangat hidup di era baru sebagai berikut; 

Dari kiri ke kanan, Tisha Tunik, Calie Knitting Top dan Erima Jeans ( Foto: geulis.id)
  1. Oliva Top

Model atasan berlengan panjang ini sangat fleksibel untuk dipadupadankan dengan rok maupun celana. Cocok banget untuk kulit sawo matang yang ingin tampil casual. Warna yang netral juga mempermudah mix and match dengan aneka warna hijab kamu.

  1. Daily Shirt

Buat  yang suka memakai kemeja, daily shirt adalah pilihan tepat untuk memberikan kesan lebih formal namun tetap modis. Dengan bahan kain yang sejuk dan anti kusut, daily shirt sangat nyaman dipakai untuk aktivitasmu yang padat.

  1. Atalie Combine

Tampil effortless dengan kemeja warna netral yang memiliki kesan dua layer ini. Atalia Combine cocok untuk digunakan ke kantor maupun acara hangout sepulang kantor.

  1. Tisha Tunik

Tunik memang sahabat terbaik bagi perempuan, karena cocok untuk segala bentuk tubuh. Tisha Tunik menjadi atasan terfavorit karena pilihan warna kalem yang sangat pas untuk kulit sawo matang. Selain itu, Tisha Tunik ini juga wudhu-friendly, lho

  1. Calie Knitting Top

Calie Knitting Top akan membuat penampilanmu yang casual jadi semakin keren. Padukan dengan boyfriend jeans untuk tampil lebih modis. Bahan yang lembut dari Calie Knitting ini sangat nyaman untuk dipakai sehari-hari, dan pastinya, wudhu Friendly juga

  1. Erima Jeans

Ingin tampil casual?  Wujudkan penampilan trendi yang timeless dengan Erima Jeans. Terbuat dari bahan denim yang tidak kaku menjadikan atasan best-seller ini sangat adem sehingga tetap nyaman dipakai meski saat cuaca sedang gerah.

Nah banyak pilihankan ? kehadiran produk-produk ini semoga juga bisa menunjang aktivitas kaum wanita mendukung empat program pemerintah untuk wisatawan domestik Activation, Staycation, Roadtrip, dan Epic Sale. Ayo jadi wisatawan domestik yang keren penampilannya dan peduli pada negri tercinta. 

“Tunggu apalagi ? yuk dukung brand lokal dan simak beragam produknya di website geulis.id karena begitu banyak pilihan,” kata Dewi Utami bersemangat.

Sri Sultan : Menata Normal-Baru, Menuju Peradaban Baru DIY

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id : Menata Normal-Baru” dengan “Norma-Baru”, itulah arah mendasar untuk “Menuju Peradaban Baru DIY”. Bagaimana bayangan bentuknya? Seperti yang saya sampaikan, mau tidak mau kita harus mendarat darurat di sebuah pulau yang tidak kita kenal sama sekali –sebuah terra incognita
.
Di masa pengenalan ini, pertama-tama kita harus mengatasi trauma sosial. Kita memerlukan socio-cultural healing, terlebih dulu. Bangun dari keterpurukan yang menghantam tiba-tiba, juga memerlukan refleksi kehidupan masa lalu, sebagai ancangan perbaikan ke depan.

Back to nature, dengan mengutamakan sesuatu yang memang dibutuhkan, bukan memanjakan kelimpahan yang diinginkan, sebuah ilusi kehidupan dulu yang hiper-realita
.
Penerapan Kebijakan Normal-Baru, bukan hanya membuka kembali aktivitas-aktivitas kehidupan dengan standar dan protokol tertentu. Lebih dari itu. Juga menyatukan kehendak membangun hidup bersama di tengah keragaman perbedaan.

Utamanya, harus didasari oleh mutual trust untuk memperoleh mutual-benefits. Diikuti kesadaran dan kesediaan saling-belajar, memahami, menghargai dan berbagi, sebagai pengikat partisipasi, solidaritas dan kolaborasi dalam mewujudkan harmoni kehidupan bersama. Untuk itu, kita semua harus siap mengubah mindset dalam mengelola kehidupan bersama.

LALU, bagaimana penerapannya dalam pembentukan peradaban baru DIY? Sejatinya tidak mudah untuk menjawabnya, apalagi mewujudkannya. Memerlukan pandangan reflektif guna memperkuat fondasi pemahaman penyelenggaraan keistimewan DIY ke depan, berlandaskan Nilai-Nilai Filosofi, Core-Beliefs, dan Nilai-Nilai Budaya, Core-Values, yang mengatur hubungan vertikal dan horisontal
.
Nilai-nilainya itu dibagi dalam tiga tataran, yaitu (1) Nilai dasar yang bersifat abstrak dan tetap; (2) Nilai instrumental yang bersifat kontekstual dengan tuntutan zaman; dan (3) Nilai praksis yang terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, cara rakyat mewujud-nyatakan nilai-nilai itu
.
Sesungguhnya, pada nilai praksislah ditentukan tegak, atau rapuhnya nilai dasar dan nilai instrumental itu. Implikasinya, nilai-nilai yang abstrak-umum-universal itu perlu ditransformasikan menjadi rumusan yang riil-spesifik-kolektif, bahkan bersifat individual.

Artinya, nilai-nilai itu menjadi sifat-sifat dari subyek kelompok dan individu, sehingga menjiwai perilaku dalam lingkungan praksisnya di bidang ketugasan, profesi, dan kehidupan pribadi
.
Itulah substansi yang paling esensial dan aktual yang harus diwujudkan sebagai fondasi awal sekaligus langkah strategis “Menuju Peradaban Baru DIY”, yang juga harus dipahami oleh setiap Insan Peradaban Yogyakarta. Akhirnya, jangan lagi dikembalikan pada perdebatan makna nilai-nilai ideal yang di Era Baru ini tidak mengakar. Semoga demikianlah adanya!

Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.
.
Slasa Kliwon, 23 Juni 2020
HAMENGKU BUWONO X

 

Warga Brazil Berduyun-duyun ke Pantai Meski Kasus Covid-19 Belum Melandai

this formate

 

Pantai di Rio de Janeiro penuh warga yang berenang dan berjemur tanpa masker (Foto: CNN)

RIO DE JANEIRO, bisniswisata.co.id: Ahkhir pekan lalu Brazil melaporkan ada lebih dari satu juta kasus positif Covid-19 dengan kematian menyentuh 50.000 orang. Ia menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat dengan kasus virus corona tertinggi di dunia. WHO bahkan menyebut angka itu kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. 

Meski kasus Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda melandai, warga Brazil sudah berduyun-duyun ke pantai selama akhir pekan lalu. Mereka bahkan banyak yang tak mengenakan masker apalagi menjaga jarak sosial. Kementerian Kesehatan Brazil mengatakan Senin (22/6) ada 21.432 kasus baru infeksi viurs corona dalam 24 jam terakhir dan 654 kematian baru. 

Nampaknya negara yang mendapat julukan samba ini kewalahan menghadapi pandemi Covid-19. Kasus orang yang positif terinfeksi Corona terus meningkat. Itu juga yang mendorong seorang pejabat kesehatan lokal menyatakan akan mengundurkan diri. Padahal dirinya baru memangku jabatan selama sebulan.

“Hanya satu yang ingin saya sampaikan: saya sudah mencoba,” kata sekretaris kesehatan negara bagian, Fernando Ferry, melalui video yang disiarkan stasiun televisi Brazil, Globo, seperti dilansir Reuters.

WHO menilai akan ada lonjakan kasus baru hingga lebih dari 54.000 dalam waktu 24 jam, atau lebih tinggi dari yang dilaporkan. Masalahnya jumlah tes Corona di sana masih rendah.

Begitupun, sejumlah aturan pembatasan mulai dilonggarkan di seluruh Brazil. Toko-toko eceran dibuka kembali pada Rabu 10 Juni di Sao Paulo, kota terbesar di Brasil, setelah ditutup selama dua bulan karena pandemi Corona COVID-19.

Wali Kota Sao Paolo Bruno Covas mengizinkan dimulainya perdagangan antara pukul 11.00 sampai pukul 15.00. Toko-toko dalam mal sudah diperbolehkan buka sejak Kamis, 11 Juni 2020.