Wisata Kopi Perlu ditingkatkan Dalam Diplomasi Kopi

this formate

Oleh: Bagas Hapsoro

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meski pandemi belum segera berakhir, namun langkah-langkah menyambut kebangkitan ekonomi kedepan lewat eco-tourism harus dipersiapkan.

Pandangan ini disampaikan sebagai salah satu rekomendasi Anak Agung Mia Intentilia, S.IP, MA. Anak Agung Mia atau akrab dipanggil Gung Mia setelah memberikan analisa mengenai ”Diplomasi Kopi pada Era Jokowi”.

Kajian Gung Mia ini disampaikan di depan para diplomat Kemlu dalam webinar terbatas pada hari Jum’at. 4 Desember 2020. Sebelumnya telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, bulan Pebruari 2020 oleh Universitas Pendidikan Nasional yang terakreditasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional.

”Dalam kabinet Jokowi 2014-2019 diplomasi budaya dan ekonomi menjadi salah satu prioritas politik luar negeri (Polugri) Indonesia”, kata Mia.

Selanjutnya Mia menjelaskan bahwa pada Kabinet Kerja (2019-2024) sekarang ini nuansa diplomasi kopi terlihat lebih jelas lagi. Salah satu rekomendasi Mia adalah pentingnya peningkatan Wisata kopi experience & education. Contohnya adalah wisata teh di Jepang & wisata wine di Perancis.

Saya tertarik untuk memberikan komentar bahkan mendorong agar diteruskan. Bahkan jika perlu ditindaklanjuti. Saya akan berbicara kopi dulu, kemudian agro-wisatanya.

Perkembangan zaman membuat kopi tak lagi hanya sebatas minuman tetapi telah menjelma menjadi gaya hidup. Ajakan untuk ngopi berarti undangan untuk nongkrong santai sambil berbincang-bincang bersama rekan sejawat. Dalam hal ini, bukan saja kenikmatan aroma dan rasa kopi yang penting, tetapi juga kebersamaan yang tercipta.

Meski permintaan kopi dari hotel, restoran, cafe bahkan penerbangan berkurang, saat pandemi COVID-19 ini tidak mengurangi orang untuk minum kopi di rumah atau kos-kosan. Justru semakin banyak orang memesan biji kopi dan menggilingnya dari rumah.

Sekarang mengenai wisata kopi. Kita lihat kesiapan negara-negara pengekspor kopi lainnya mengenai eco-tourism khususnya Brazil, Kolombia, dan Viet Nam.

Brazil.

Saya pernah ke kota Manaus, Brazil. Bagi penggila petualangan menantang khususnya hutan, kota Manaus yang letaknya berada di tengah hutan Amazon adalah tempat yang tepat. Kota ini tadinya terkenal dengan hasil industri karetnya yang berkembang pesat pada awal abad ke-20. Namun seiring dengan promosi kopi, Manaus termasuk maju dalam perkopian.

Para pelancong dipersilakan untuk memilih, mau melihat pohon kopi atau malahan ingin ”berkebun”. Ini ada keunikannya apalagi diteruskan minum kopi.

Ada satu tradisi minum kopi ala Brazil yang cukup terkenal yakni cafezinho. Cafezinho sendiri memiliki arti minum kopi sedikit, diseruput pelan-pelan. Kopi yang dinikmati sejenis espresso namun dengan proses penyeduhan dan penyajian yang berbeda. Cafezinhoadalah gaya menikmati kopi dengan air seduhan gula yang mendidih. Biasanya minum kopi ditemani camilan kecil berupa kue atau snack.

Kolombia.

Pemerintah Kolombia sangat jeli untuk memanfaatkan keunggulan kopinya. Logo Juan Valdez yang sederhana merepresentasikan kopi Kolombia yang termashur.

Di sebagian besar hotel di Kolombia pasti tersedia wisata kopi. Pengunjung memiliki kesempatan unik untuk menghabiskan waktu bersama petani, pemilik kopi, mengendarai jip, dan ketemu dengan penduduk setempat. Ini memungkinkan pelancong mereka untuk benar-benar menemukan pentingnya kopi bagi seluruh budaya dan cara hidup daerah tersebut.

Kolombia memiliki Taman Nasional Kopi (Parque Nacional del Cafe). Ini adalah tempat yang direkomendasikan dan layak untuk dikunjungi. Dengan museum kopi, pameran interaktif yang didedikasikan untuk sejarah kopi, dan banyak rollercoaster dan wahana lainnya pelancong akan mengerti sejarah kopi Kolombia.

Kembali ke cerita logo Juan Valdez. Dia bukanlah nama dan tokoh nyata, dia adalah figur duta kopi Kolombia yang diciptakan sebagai strategi pemasaran produk unggulan Kolombia tersebut. Juan Valdez digambarkan sebagai seorang petani yang bertugas menyeleksi kualitas, aroma, tekstur, dan kelembutan rasa kopi Kolombia untuk dibawa ke pasar internasional.

Vietnam.

Vietnam telah dikenal sebagai negara pengekspor kopi. Secara global, negara berpenduduk sekitar 92 juta orang ini, sudah dikenal sebagai pengekspor kopi dunia terbesar kedua, setelah Brazil. Vietnam lebih menyarankan untuk mengunjungi kafe.

Di setiap hotel dan penginapan selalu ditemukan brosur tentang campuran kopi Vietnam yang berbeda dan cicipi beberapa biji paling enak di kota. Pergi dari kafe ke kafe sebagai bagian dari tur untuk mempelajari tentang berbagai minuman yang tersedia dan untuk mempelajari bagaimana tepatnya orang Vietnam suka mengambil kopi mereka.

Pelancong atau pecinta kopi akan ditawari diberitahu tentang sejarah kopi di Vietnam sebagai bagian dari tur.

Bagaimana dengan di Indonesia ?

Dubes Swedia di Indonesia tahun 2015-2019 Johanna Brismar Skoog sangat terkesan dengan kawah Ijen dan Toraja. Beliau penggemar berat kopi Indonesia. Salah satu tempat yang sangat berkesan sekaligus dapat diciptakan sensasi kopi adalah Kopi Arabika Java Ijen Raung.

Saya pernah diceritakan lebih detail bahwa kopi Ijen mengalami pencucian dalam proses dan tumbuh berada di timur Kawah Ijen, dalam ketinggian 1.400 meter.

Saya yakin pandangan beliau banyak benarnya. Bagaimana wilayah penghasil kopi lainnya. Sebagai contoh kita lihat Aceh, Bali dan Toraja.

Para diplomat peserta webinar mendengarkan paparan Gung Mia mengenai Diplomasi Kopi Pada Era Presiden Jokowi

1. Aceh, Takengon

Takengon menawarkan banyak tempat wisata diantaranya Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Gayo. Objek wisata kopi dengan ketinggian 1.100 meter ini menyuguhkan pemandangan alam yang memesona dengan hawa yang sejuk.

Sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, kita bisa menyeruput segelas kopi Gayo, hasil perkebunan milik warga yang diolah secara tradisional. Petani kopi di Takengon memang bukan hanya menanam kopi, tetapi juga mengolahnya supaya bisa langsung dinikmati. Inilah magnet yang menarik wisatawan dan penggemar kopi untuk berkunjung.

Perkebunan Kopi di Gayo telah ada sejak 1908, utamanya di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kedua daerah yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut tersebut merupakan perkebunan kopi Arabika terluas di Indonesia.

2. Bali

Pulau Dewata ini ternyata memiliki destinasi wisata kopi yang menarik. Bukan hanya pesona alam dan keindahan budayanya yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali, tetapi rasa kopinya.

Menurut sejarah, perkebunan kopi di Bali dimulai oleh para petani dari Lombok pada awal abad ke-20. Daerah yang dianggap ideal karena kesuburan tanah dan iklimnya yang sesuai adalah Kintamani. Awalnya, kopi yang ditanam adalah kopi robusta karena tahan lama dan mengandung kafein tinggi. Namun, jenis itu kini diganti dengan kopi arabika karena harganya lebih tinggi dan rasanya tidak terlalu asam.

Saya yakin pelancong perlu diberikan kesempatan untuk melihat cara pengolahan kopi paska panen yang khas. Kopi Bali diproses dengan cara tradisional, yaitu dengan proses basah. Artinya, kulit dan daging kopi dibuang sebelum bijinya mengering. Biasanya, buah kopi dikeringkan dahulu untuk kemudian diproses. Ini yang menyebabkan kopi Bali memiliki warna yang lebih terang daripada jenis kopi lainnya

3. Toraja

Saya kadang-kadang merasa malu. Beberapa teman saya dari Lebanon, Swedia dan Denmark mengenal kopi Toraja lebih baik daripada saya? Bukan hanya masyarakat lokal, kenikmatan rasa kopi Toraja juga sudah diakui oleh masyarakat internasional. Dengan merk dagang Toraja Arabica Coffee, kopi ini dapat dengan mudah ditemukan pada kedai kopi papan atas di Denmark, Swedia, Finlandia, dan sebagainya.

Ketenaran kopi Toraja dapat kita nikmati jika berkunjung ke perkebunan kopi Sulotco yang terletak di Bittuang, tepatnya di Bolokan, Kabupaten Tana Toraja. Tak hanya sedapnya aroma kopi, tetapi kita dapat berwisata kopi dengan menjelajah perkebunan kopi seluas 800 ha. Perkebunan ini asalnya adalah milik seorang Warga Negara Belanda bernama H.J. Stock van Dykk.

Beberapa catatan kedepan

Sebagai penghasil kopi terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan dalam hal pariwisata. Kopi bisa menjadi salah satu daya tarik wisata yang bisa dikembangkan di Indonesia.

Saya percaya bahwa banyak sekali perkebunan kopi di Indonesia yang menawarkan daya tarik wisata bagi wisatawan.

Ada pameo mengatakan bahwa ”kalau suatu negara ingin hidup damai, maka harus dipersiapkan angkatan perangnya”. Tujuannya bukan untuk perang. Namun untuk menjaga agar bisa tenteram dan aman.

Demikian juga dengan masa pandemi Covid-19 ini. Adanya work from home (WFH) bukan berarti liburan panjang. Kreativitas bisa dilakukan dari rumah. Wisata kuliner dan kopi saat ini sudah bisa dipersiapkan. Dengan demikian saat turis manca negara datang, maka negara itu sudah siap.

Pandemi virus corona yang tengah terjadi di Indonesia, bahkan dunia bukan menjadi halangan untuk mengembangkan daya tarik wisata ini. Justru, pelaku wisata harus bisa memanfaatkan kopi saat sekarang, maupun kala pandemi telah berakhir.

Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menjaga kualitas agar standar kopi kita bisa standar terus kualitasnya. Ada beberapa keuntungan kalau kita lakukan wisata kopi.

1. Para importir senang ketemu langsung petani (direct trade)
2. Pelacakan (traceability)
3. Technology (block chain).

Dengan teknologi, maka kopi yang kita jual di Cafe akan diberikan QR Code. Dan dari QR ini akan bisa dilacak (tracking) asal-usul kopi, tanggal panen, tanggal pemrosesan, siapa petaninya, eksportir dari perusahaan mana, importir dan cafe penjualannya. Itu adalah solusi pandemi dimana setiap orang saat ini dalam situasi new normal menginginkan traceability.

Sebenarnya, meski secara kuantitas besar namun kopi Vietnam belum mampu bersaing secara kualitas di pasar global. Reputasinya kalah jika dibandingkan dengan negara pengekspor kopi lainnya seperti Indonesia. Sebut saja Kopi Gayo dari Aceh. Kopi berjenis Arabika ini dianggap lebih berkelas.

Menurut beberapa pakar, masalahnya ada pada kualitas biji kopi. Di Vietnam, mayoritas perkebunan atau sekitar 97% merupakan tanaman kopi berjenis Robusta. Sedangkan di dataran tinggi Gayo, kopi yang ditanam adalah jenis Arabika.

Saya pernah mengikuti Webinar Menteri Ristek Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro pada tanggal 5 September 2020. Beliau mengatakan bahwa salah satu program bantuan teknologi tepat guna yang dimotori oleh LIPI dilakukan di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Program itu berhasil melahirkan produk kopi yang dinamakan Aroma Kopi Sumba, yang berhasil menyabet gelar juara kopi nasional di tahun 2017 dan 2018 lalu.

Saya berharap, agar perguruan tinggi seperti Universitas Jember dan perguruan tinggi lainnya ikut berperan dengan membentuk konsorsium multi-disiplin dalam meneliti kopi yang melibatkan banyak pakar dari berbagai disiplin keilmuan, agar pengembangan kopi Indonesia semakin maju.

Saat pandemi selesai, janganlah kita mengatakan masih belum siap dan perlu waktu untuk mengadakan penyesuaian lagi. Percayalah negara lain bisa menyalip kita dalam ekspor kopi kalau masih menganut cara pandang demikian.

Seperti yang direkomendasikan Mia menyangkut ”experience and education” untuk para pecinta kopi dari manca negara. ”Kita bisa meniru wisata teh di Jepang dan wisata anggur di Perancis,” kata Mia.

Semoga saja wisata kopi ini semakin berkembang, dan kopi Indonesia mampu melebarkan sayap ke manca negara.

Penulis adalah:  Mantan dubes Swedia dan Latvia, Kementerian Luar Negeri. Email: bagas.hapsoro11@gmail.com

Sharaan, Hotel Bawah Tanah di Tengah Gurun Rujukan Traveler Muslim

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kerajaan Arab Saudi mulai serius menggarap sektor pariwisata sejak 2017. Tidak tanggung-tanggung, mereka berambisi untuk menjadikan sektor ini sebagai andalan dalam penyumbang pemasukan kas negara. 

Mereka menargetkan pada 2030 pariwisata akan menyumbang 10 persen dari pertumbuhan ekonomi. Pengerjaan proyek bernilai miliaran dollar Amerika Serikat (AS) pun terus dikebut.

Salah satunya adalah resor mewah bernama Sharaan yang berlokasi di dalam Cagar Alam Sharaan di Gurun Al-Ula. 

Hotel yang akan dibangun di bawah tanah ini berlokasi tak jauh dari Gurun Al-Ula yang merupakan situs warisan dunia UNESCO. Di sana masih ditemukan sisa-sisa Kota Nabataean. Orang-orang Nabataean menempati Gurun Arab antara abad kedua dan keempat SM. Di sini juga terdapat kota-kota seperti Petra di Yordania.

Pembangunan resor mewah ini merupakan upaya epik Saudi mengubah imej dari negara yang mengandalkan ekonomi dari minyak menjadi salah satu negara tujuan wisata utama di kawasan Timur Tengah. 

Sharaan nantinya akan berisi 40 kamar dan tiga vila resor yang berada di tebing sehingga setiap suite memiliki balkon yang menghadap ke lanskap sekitarnya.

Untuk urusan aristektur bangunan, Saudi mempercayakan kepada aristek kenamaan Perancis, Jean Nouvel.

“Al-Ula adalah museum. Jadi setiap lereng, hamparan pasir dan bebatuan merupakan situs geologi dan arkeologi yang mendapat pertimbangan,” jelas Nouvel.

Desain hotel yang berhasil diperoleh CNN menunjukkan halaman eksterior terlihat ramping dan luas, kontras dengan interior yang kaya dan intim. Sang arsitek mengaku mendapat inspirasi dari Hegra, kota kuno yang melingkupi lokasi hotel.

Kota kuno yang merupakan situs UNESCO ini sejatinya merupakan kota selatan utama Kerajaan Nabatean. Di sana ada lebih dari 100 makam yang masih terawat dengan baik.

Bangunan yang luas tersebut terbuat dari susunan batu pasir yang mengelilingi kawasan perkotaan yang memiliki dinding yang kokoh.

Nouvel, sang arsitek yang juga bermimpi membangun Louvre Abu Dhabi, mengatakan desainnya bertujuan untuk melestarikan lanskap kuno.

“Setiap wadi [bahasa Arab yang artinya lembah] dan lereng curam, setiap hamparan pasir dan bebatuan, setiap situs geologi dan arkeologi layak mendapat pertimbangan terbesar,” katanya dalam sebuah pernyataan seperti dilansir CNN Travel

Al-Ula adalah rumah bagi pegunungan batu pasir dan situs warisan yang menakjubkan, termasuk Hegra, yang dibangun kaum Nabataean – yang juga terkenal membangun kota kuno Petra di Yordania.

Sharaan rencananya akan dibuka untuk umum pada 2023. Di sana akan ada 40 kamar suite dan tiga vila resor. Pembangunannya sendiri diawasi ketat oleh Nouvel, bersama dengan Royal Commission for Al-Ula yang berdiri pada 2017. Komisi ini sengaja dibentuk untuk membantu mengembangkan dan mempromosikan wilayah tersebut.

Desain hotel ini mengikuti cara orang-orang Nabotean yang banyak mengandalkan cahaya dan bayangan dalam arsitektur. Itulah bentuk penghormatan sang arsitek kepada mereka.

Sebagian besar resor akan berada di dalam batu. Dalam gambar desain bangunan hotel terlihat bahwa cahaya matahari pada siang hari akan menjadi bagian integral.

Lift kaca bening akan disediakan untuk menurunkan para tamu masuk ke dalam permukaan batu dimana kamar-kamar berada. Cahaya matahari akan langsung masuk melalui teras terbuka ke kamar-kamar tersebut.

Arsiteknya menjamin bahwa keberadaan resor spektakuler ini dimaksudkan untuk melengkapi, bukan mengurangi, lanskap di sekitarnya. Nouvel juga mengatakan pihaknya bekomitmen untuk mengelola Sharaan secara berkelanjutan

Tujuh Tempat Indah Tersembunyi di Asia Tenggara

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dunia dipenuhi dengan tempat-tempat indah baik yang alami maupun buatan. Keajaiban ini mewakili budaya dan sejarah yang hilang dalam waktu. Daftar Tujuh Keajaiban Dunia terus berubah dari waktu ke waktu. Selain keajaiban global, ada juga landmark yang luar biasa di dekat kita. 

Dilansir dari Seasia.co berdasarkan selera pribadi, di bawah ini adalah daftar tujuh permata tersembunyi di Asia Tenggara.

  1. Teluk Ha Long, Pulau Cat Ba, Vietnam

Karst batu kapur bukanlah kejadian langka di bumi tetapi skala yang luar biasa dari pilar-pilar karst batu kapur di Teluk Ha Long tidak ada duanya. Di sepanjang Teluk Tonkin, batu-batu ini menumbuhkan kurang lebih 1.600 lonjakan bumi dari perairan.

Batu-batu itu menciptakan gedung pencakar langit pulau dan pulau kecil di luar batas makhluk hidup kecuali burung laut asli yang menjadikannya rumah. 

UNESCO menandai seluruh situs Ha Long Bay pada tahun 1994. Bertahun-tahun kemudian, tempat itu tidak mengalami perubahan yang signifikan, tetapi erosi lambat yang membuat gua-gua yang disamarkan membentuk lengkungan yang fenomenal ke dalam bebatuan. 

Berbaring di atas kapal tua, memandangi stalaktit dan stalagmit yang megah, serta berkayak melewati desa terapung dan peternakan tiram dinilai sebagai cara terbaik untuk menikmati Ha Long Bay.

  1. Luang Prabang, Laos

Dikelilingi oleh pegunungan yang subur, kota Luang Prabang terletak di lembah di pertemuan sungai Nam Khan dan Mekong. Luang Prabang pernah menjadi ibu kota Laos sebelum akhir abad ke-19 ketika monarki sudah ketinggalan zaman dan dipaksa untuk menerima perlindungan dari Prancis.

Pakta tersebut meninggalkan reruntuhan arsitektur kolonial di antara kuil-kuil beratap emas dan merah. Reruntuhan ini menghadirkan getaran fin-de-siècle.

Penggabungan budaya terlihat di mana-mana, mulai dari perpaduan kopi segar dan aroma kamboja di udara pagi hingga penampilan biksu dengan jubah berwarna kunyit yang berkeliaran di fasad bergaya Eropa yang pudar.

Tempat bersejarah ini menawarkan berbagai aktivitas menarik seperti pergi ke pasar pagi yang ramai, naik ke Tad Se untuk melihat air terjun dan kolamnya, mengapung di sepanjang sungai menuju Gua Buddha Pak Ou, dan menatap matahari terbenam di atas stupa emas di Bukit Suci Phou Si.

  1. Taman Nasional Gunung Mulu, Kalimantan, Malaysia

Gunung Mulu adalah taman nasional yang sangat heterogen di Asia Tenggara dengan hutan hujan tua, gua-gua yang dalam, dan karst bernada tinggi.

UNESCO mendaftarkan taman tersebut pada tahun 2000 dengan menggarisbawahi lanskap dan satwa liar yang luar biasa yang tersebar dari Gunung Mulu (2.376 m) hingga Gunung Api (1.170 m). Diperlukan sekitar tiga orang untuk mendaki kedua gunung yang menjulang tinggi dari permukaan tanah ini.               

Taman Nasional Gunung Mulu, Kalimantan, Malaysia ( Foto: Seasia.co)

4.Sukhothai dan Kota Bersejarah Terkait, Thailand.

Sukhothai adalah ibu kota Kerajaan Siam yang asli. Sekitar 750 tahun yang lalu ketika Siam memulai Zaman Keemasan Thailand saat Buddhisme Theravada mencapai negeri itu. 

Kerajaan tersebut bertahan hanya selama beberapa abad sebelum dikalahkan oleh Kerajaan Ayutthaya dan diklaim oleh hutan.

Saat ini, atraksi tersebut berasal dari Taman Bersejarah Sukhothai, Wat Mahathat — kuil terbesar di Sukhothai yang masih hidup, dan kuil Wat Sra Si yang dihuni oleh para biksu hingga saat ini. 

Di luar kota bertembok, ada juga Kamphaeng Phet — bekas pos terdepan militer dan Si Satchanalai — pusat pembuatan keramik kerajaan kuno.

  1. Kota Kuno Pyu, Myanmar

Kembali pada tahun 1996, Myanmar mendaftarkan delapan situs untuk prasasti UNESCO yang kemudian mencuat selama sekitar dua dekade. Pro dan kontra menghantui reputasi tempat-tempat ini. 

Kondisi masyarakat yang berbeda saat ini telah mengubah wajah Myanmar. UNESCO sedang bekerja untuk melestarikan situs bersejarah di negara tersebut.

Kota Pyu Kuno adalah salah satu bagian pertama Myanmar yang meraih gelar Warisan Dunia. Halin, Beikthano, dan Sri Ksetra adalah tiga kota bertembok sebagai peninggalan Kerajaan Pyu Kuno yang berjaya selama lebih dari seribu tahun antara 200 SM dan 900 M. 

Menelusuri kembali ke 2 SM, Kerajaan Kuno Pyu menjalin hubungan dengan (Hindi) yang kemudian memulai penyebaran agama Buddha di wilayah tersebut. 

Reruntuhan kota-kota kuno menyediakan artefak Buddha paling awal yang masih ada di Asia Tenggara. Oleh karena itu, landmark religi ini terus dikunjungi oleh peziarah Buddha.

  1. Kuil Preah Vihear, Kamboja

Temple of Preah Vihear adalah sebuah kuil kuno yang terletak di tepi tebing tinggi di Pegunungan Dangrek. Itu didirikan sekitar abad ke-11 untuk memuji Siwa. 

Candi Itu dibangun untuk menandai kemenangan Khmer atas invasi Chams. Sejak awal, candi mengalami konflik di tulangnya. Itu menjadi pusat pertikaian sengit antara Kamboja dan Thailand meletus konflik pada 2008 ketika UNESCO menyatakannya sebagai situs Warisan Dunia. 

Ketegangan semakin memuncak sekitar tahun 2011 karena warga setempat melontarkan tembakan. Ketegangan telah mereda karena Kantor Luar Negeri Inggris mencabut larangan perjalanannya pada tahun 2018.

  1. Taman Nasional Komodo, Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan komodo? Kadal hidup terbesar di dunia dengan paha rendah, kulit bersisik, dan air liur berbisa cukup ganas untuk menakuti kita. 

Komodo merupakan makhluk yang reputasinya sudah sampai ke telinga semua orang di dunia. Dari semua tempat di dunia, makhluk itu hanya mendiami Indonesia, tepatnya di lima pulau di Kepulauan Nusa Tenggara dimana dua di antaranya — Pulau Komodo dan Pulau Rinca — tercatat sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Daya tarik utama Taman Nasional Komodo adalah (tentunya) binatang Komodo yang tersebar di seluruh pulau. Mulai dari pelabuhan Pulau Komodo, Long Liah hingga Lembah Poreng, para pengunjung dapat melihat komodo di sana-sini sepanjang lima setengah kilometer pendakian. 

Selain itu, Taman Nasional memberikan pilihan untuk bermalam menghabiskan waktu untuk mendaki ke Gunung Ara dengan kakatua dan megapoda mondar-mandir di sepanjang jalan.

Big Data Dapat Tingkatkan Manajenen Pendapatan Industri Travel & Hotel

this formate

Big Data Dapat Tingkatkan Manajenen Pendapatan Industri Travel & Hotel

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dalam lingkungan bisnis saat ini, aset paling berharga bagi sebuah organisasi telah menjadi data tentang pelanggan dan calon pelanggan mereka dan kemampuan untuk menggali, memahami dan membuat pendapatan dan proyeksi pelanggan berdasarkan itu. 

Dilansir dari Tourism-review, Selain data yang dikumpulkan organisasi perjalanan atau perhotelan tentang pelanggan itu sendiri, mereka dapat melampirkan informasi tambahan dari organisasi lain yang dikumpulkan dari media sosial, situs ulasan online, mesin pencari, platform ritel, dan ponsel cerdas. 

Organisasi teratas dalam industri perjalanan dan perhotelan dapat membedakan diri mereka sendiri, mengelola dan memproyeksikan pendapatan, dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pelanggan lebih cepat daripada pesaing yang menggunakan analitik data besar. Memanfaatkan harta karun data sangat membantu dalam hal manajemen pendapatan travel.

Manajemen Pendapatan Travel Dengan Big Data

Terutama dalam industri travel dan perhotelan yang bergejolak dan bergerak cepat saat ini, Anda harus memastikan untuk menawarkan produk yang tepat, apakah itu tiket pesawat atau kamar hotel, kepada pelanggan yang tepat pada waktu yang tepat sangat penting untuk memaksimalkan pendapatan. 

Dunia pemesanan online saat ini untuk travel dan perhotelan telah menciptakan lingkungan dengan harga yang sangat fluktuatif dan dinamis.

Sebagian besar wisatawan, orang yang pergi ke restoran, museum, atau bisnis terkait perhotelan lainnya membuat keputusan tentang rencana mereka di saat-saat terakhir, sehingga sangat sulit untuk menggunakan data historis untuk membuat keputusan. 

Akibatnya, manajer pendapatan menggunakan data besar, algoritme yang rumit, dan kecerdasan buatan untuk membuat keputusan terkait pendapatan. Menggunakan data pemesanan atau pembelian aktual untuk mendorong keputusan telah menggantikan data yang lebih real-time seperti pola pencarian internet.

Big Data dan Perubahan Lingkungan 

Menggunakan data yang tersedia dari mesin telusur, Online Travel Agent       ( OTA), sistem reservasi situs web Anda sendiri, dan sejumlah sumber data lainnya memungkinkan Anda melihat tujuan yang dicari wisatawan, hotel yang mereka evaluasi, atau opsi rekreasi teratas. 

Selain apa yang mereka cari, mengetahui tanggal dan lama menginap membantu memaksimalkan pengelolaan pendapatan travel dengan data besar. Menggunakan data besar yang terutama berasal dari bagian atas sumber saluran penjualan secara real-time memungkinkan manajer pendapatan untuk mengidentifikasi apa yang paling sering ditelusuri kemudian mengembangkan strategi pendapatan dalam hal harga dan pengalaman pelanggan.

Pandemi COVID-19 telah memaksa banyak orang di industri travel dan perhotelan untuk melakukan pengurangan staf, sehingga keputusan dibuat dengan lebih sedikit karyawan dan sumber daya di tengah pergeseran prioritas.

Aspek positif dari dinamika ini adalah bahwa tim pendapatan, operasi, pemasaran, dan penjualan dipaksa untuk bekerja sama lebih erat. Ini, selain memaksimalkan pendapatan perjalanan dengan data besar, telah menciptakan model yang berfokus pada memaksimalkan pendapatan dengan menggunakan tim yang ramping dan terintegrasi erat.

Ini memungkinkan manajer pendapatan untuk mengakses setiap tuas yang tersedia, termasuk data, operasi, penjualan, dan pemasaran, untuk memaksimalkan pendapatan dalam lingkungan yang sangat menantang.

Pendekatan Total Revenue Management

Keuntungan lain menggunakan data besar untuk memaksimalkan pendapatan adalah memungkinkan pendekatan manajemen pendapatan total. Banyak di industri travel dan perhotelan masih mengambil pendekatan sempit untuk pendapatan. 

Misalnya, sebuah hotel mungkin fokus pada pendapatan yang dihasilkan dengan memesan kamar, dan yang terpenting, itu hanya mewakili sebagian dari gambaran pendapatan total.

Dengan mengambil pendekatan manajemen pendapatan total, mereka akan melihat pendapatan kamar, makanan & minuman, dan sumber pendapatan lainnya seperti pengalaman hiburan atau rekreasi yang mungkin juga ditawarkan di properti.

Evolusi Manajemen Pendapatan

Seiring kemajuan teknologi dan data besar selama bertahun-tahun, manajer pendapatan telah beradaptasi dan mempelajari nilai dari sejumlah besar data dan analitik di ujung jari mereka.

Mereka memahami bahwa sedikit variasi dalam harga dapat mempengaruhi permintaan secara signifikan dan, pada gilirannya, dapat menguntungkan. Konsumen menjadi lebih cerdas dengan data yang sangat banyak di ujung jari mereka juga. 

Meskipun harga selalu penting bagi konsumen, ada pergeseran yang memberikan bobot signifikan pada keseluruhan pengalaman yang mereka beli. 

Menggunakan data besar memungkinkan mereka yang berada di industri perjalanan dan perhotelan untuk memaksimalkan pendapatan sambil memberikan pengalaman pelanggan terbaik di kelasnya.

 

Munas Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) IV Bahas 4 Langkah Pemulihan

this formate

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (Parekraf) di daerah untuk melakukan inventarisasi produk unggulan yang kemudian ditransformasi menjadi produk yang layak ditawarkan kepada wisatawan pasca Pandemi COVID-19.

“Pandemi COVID-19 ini hendaknya dijadikan momentum introspeksi serta menggali potensi daerah akan produk unggulan yang nantinya dapat ditawarkan kepada wisatawan,” kata Direktur Pengembangan SDM Pariwisata, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya saat membuka Musyawarah Nasional Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) IV.

Munas bertajuk Bersama ASPPI Kita Tingkatkan SDM Pariwisata yang Profesional dan Bertanggung Jawab, dihadiri pengurus DPD ASPPI seluruh Indonesia.

Wisnu mengapresiasi munas ini yang dimanifestasikan sebagai tekad pelaku pariwisata untuk menggairahkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pandemi Covid-19.

Ia berharap sinergi dan kolaborasi antara Kemenparekraf dan pelaku pariwisata akan menemukan solusi terbaik pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berujung pada pemulihan ekonomi nasional.

“Kolaborasi ini penting, karena saat ini pariwisata tidak hanya bersaing secara nasional tetapi bersaing secara global,” paparnya.

Wisnu berharap para pelaku pariwisata mengambil peluang memasuki era new normal, mengingat Indonesia memiliki produk budaya dan pariwisata serta ekonomi kreatif yang tidak kalah hebat dengan negara lain.

Oleh karena itu, anggota ASPPI hendaknya menyiapkan produk pariwisata dan ekonomi kreatif dari daerah masing-masing menghadapi era new normal.

Ia mencontohkan Bali yang pada awalnya mempunyai produk unggulan bidang pertanian yang belakangan sebagai sumber pendukung utama sektor pariwisata.

Wisnu mengatakan, produk unggulan tersebut kemudian ditransformasikan sebagai produk pariwisata yang menarik untuk dikembangkan dalam rangka mendatangkan wisatawan.

Wisnu juga mendorong pelaku pariwisata untuk terus mengamalkan empat langkah dalam mentransformasikan suatu produk unggulan.

“Pertama to see, yaitu apapun produk unggulan yang akan ditransformasikan untuk wistawan harus memiliki daya tarik bagi orang atau wisatawan yang melihatnya.

Langkah berikutnya adalah to do, yaitu bagaimana mengajak wisatawan untuk melakukan sesuatu yang mereka lihat terutama terhadap suatu produk unggulan di suatu daerah.

Kemudian to learn, yaitu pelaku pariwisata harus belajar banyak dalam mengelola produk pariwisata atau produk unggulan suatu daerah. Penting untuk belajar dengan daerah lain yang sudah lebih maju dalam pengelolaan sektor pariwisatanya.

“Ini bagian dari upaya kita mendorong quality tourism yaitu bagaimana ketika wisatawan berkunjung akan mendapat experience atau pengalaman mengesankan,” papar Wisnu.

Terakhir adalah to buy, yaitu setelah wisatawan melihat suatu produk wisata unggulan, mereka melakukan sesuatu dan belajar kemudian membeli produk yang dihasilkan. “Disinilah pariwisata dan ekonomi kreatif harus memberi manfaat secara ekonomi kepada masyarakat,” pesan Wisnu.

Sebelumnya, Ketua Umum ASPPI Djohari Somad mengajak semua anggota untuk mempersiapkan diri menghadapi New Normal bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Ia mengatakan, pandemi Covid-19 menjadikan momentum untuk memperbaiki dan meninjau ulang dan mempersiapkan diri apa yang harus dilakukan setelah pandemi Covid-19 ini. Saat ini, kata Djohari, seluruh anggota ASPPI mempersiapkan diri dimana pada saatnya nanti sudah siap dengan sumber daya manusia pariwisata, diantaranya melalui pelatihan-pelatihan.

“sharing antar pelaku pariwisata bagaimana cara membuat question yang baik, cara berbahasa yang baik dan marketing digital yang baik. “Ketika new normal nantinya anggota sudah siap secara kompetensi,” papar Djohari.

Pada saat pandemi COVID-19, ungkap Djohari, ASPPI sudah menyiapkan dan menginstruksikan kepada seluruh anggota untuk melihat apa yang menjadi daya tarik di daerahnya masing-masing, yang kemudian dibuat dalam suatu platform digital yang pada saatnya ditampilkan dan dipasarkan.

“Tiga bulan memasuki masa pandemi COVID-19, kita tidak melakukan apa-apa, hanya diisi dengan membuat product marketing,” paparnya.

Panduan Mendaki The Green Corridor Singapura: Yang Dapat Dilihat & Makanan Halal di Sekitar

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Sungguh luar biasa bahwa bahkan di kota yang ramai seperti Singapura, Anda dapat menemukan banyak tempat hiking yang menakjubkan. 

Musim liburan akhir tahun semakin dekat dan karena sebagian besar dari kita tidak dapat bepergian, sekarang saatnya menambahkan tempat hiking lain ke daftar Anda.

Kami baru-baru ini menjelajahi Green Corridor Singapura dan itu adalah pengalaman yang luar biasa karena jalurnya memiliki perpaduan yang luar biasa antara alam, tempat yang layak untuk IG, dan sejarah. 

Selama pendakian, kami juga tetap terhidrasi dengan Ice Mountain karena ini adalah alternatif yang lebih sehat untuk minuman manis dan memiliki Health Choice Symbol (HCS) dari Health Promotion Board. Tertarik untuk mengungkap jalur pendakian ini? Inilah semua yang perlu Anda ketahui tentang Green Corridor di Singapura!

Green Corridor

Dilansir dari havehalalwilltravel.com, Green Corridor Singapura (juga dikenal sebagai The Rail Corridor yang dulunya adalah bagian dari jalur kereta KTM Malaysia yang menghubungkan Singapura dan Malaysia. 

Meskipun KA telah berhenti beroperasi sejak 2011, sebagian dari jalur sepanjang 24 km telah diubah menjadi jalur alam. Jalan setapak dimulai dari Kranji ke Bukit Panjang, Bukit Timah, Belanda, Tanglin dan akhirnya berakhir di Alexandra.

Sementara Green Corridor baru akan selesai seluruhnya pada tahun 2025, Anda masih dapat menjelajahi koridor tersebut melalui campuran jalur tanah, trotoar yang telah ditentukan, dan sisa-sisa jalur kereta api.

Jangan lupa untuk membawa sebotol air minum Ice Mountain untuk kebutuhan hidrasi sehat harian Anda saat mendaki! Temukan dengan nyaman di 7-Eleven di dekat Anda.

Ada beberapa bagian di mana Anda harus keluar jalur dan berjalan di sepanjang jalan utama karena pekerjaan renovasi. Namun tetap patut dikunjungi untuk melepaskan semangat petualang Anda! 

Anda dapat merujuk ke situs NParks untuk informasi lebih lanjut tentang penutupan dan pengalihan rute.

Karena Green Corridor adalah rute yang panjang, kami menyarankan untuk membaginya secara bertahap terutama jika Anda baru mengenal lintas alam atau Anda ingin melakukan pendakian santai.

 Anda dapat membagi pendakian menjadi dua bagian:

– Rail Corridor Selatan: Stasiun Kereta Old Bukit Timah ke Jalan Kilang Barat di Alexandra

– Rail Corridor Utara: Stasiun Kereta Old Bukit Timah ke Kranji

Tetapi jika Anda siap menghadapi tantangan, lanjutkan dan taklukkan seluruh Green Corridor dalam satu hari! Anda membutuhkan waktu sekitar 4-6 jam untuk menyelesaikan seluruh rute tanpa berhenti.

Yang seru untuk dilihat di sepanjang Green Corridor:

1. Stasiun Kereta Old Bukit Timah

Kunjungan Anda ke Green Corridor tidak akan lengkap tanpa mampir ke Stasiun Kereta Old Bukit Timah. Melangkah ke sini akan membawa Anda ke masa lalu karena stasiun ini dibangun pada tahun 1903. 

Ini adalah satu-satunya stasiun kereta pinggiran kota yang tersisa di Singapura yang menyerupai stasiun kereta api kota kecil tradisional yang ditemukan di Inggris dan Eropa. 

Dapatkah Anda percaya bahwa kereta api benar-benar beroperasi di sini dari awal abad ke-20 hingga tahun 2011? Di sini, Anda dapat mengambil foto dengan trek atau berpose di papan nama stasiun kereta ikonik

Memulai pendakian Anda di Stasiun Kereta Bukit Timah. Pastikan untuk menghidrasi diri Anda dengan sebotol Ice Mountain agar Anda merasa segar selama mendaki.Temukan secara eksklusif di 7-Eleven terdekat.

  1. Jembatan Rangka

Selain Stasiun Kereta Bukit Timah Tua, dua jembatan rangka juga telah dilestarikan sebagai situs heritage. Jembatan bersejarah ini adalah pemandangan langka di Singapura dan Anda dapat menemukannya di sepanjang Bukit Timah Road (dekat stasiun kereta api) dan dekat The Rail Mall. 

Kabar baiknya, Jembatan di dekat Stasiun Kereta Bukit Timah baru saja dibuka kembali setelah pekerjaan restorasi tetapi yang di dekat Rail Mall masih ditutup.

  1. Penanda Jarak

Salah satu fitur yang harus Anda perhatikan saat mendaki adalah penanda jarak yang akan mengingatkan Anda pada rel kereta api. Dulu, mereka menandakan seberapa jauh perjalanan kereta api dari titik awal seluruh jalur kereta api, yaitu Stasiun Kereta Api Tanjong Pagar.

  1. Hutan Clementi
Melewati hutan Clementi.( Foto-foto:havehalalwilltravel.com)

Tepat di selatan Stasiun Kereta Bukit Timah di sekitar Holland Estate, jalur Green Corridor akan melewati Hutan Clementi. 

Hutan yang belum tersentuh ini dikatakan sebagai habitat satwa liar terbesar kedua setelah Cagar Alam Bukit Timah dan juga kaya akan keanekaragaman hayati. Bentangan Green Corridor ini jelas merupakan perjalanan yang menyegarkan!

Saat Anda mengagumi dan menghargai tanaman hijau subur di Hutan Clementi, ingatlah bahwa penting untuk melestarikan ruang alam kita agar kita dapat terus menikmati lebih banyak lagi.

Saat membeli minuman untuk perjalanan Anda, belilah di Ice Mountain dalam kemasan kertas baru yang berkelanjutan dan dapat didaur ulang karena menggunakan kertas karton bersertifikasi FSC ™️ yang bersumber dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab dan sumber terkontrol lainnya. Ia bahkan memiliki topi berbasis bio yang terbuat dari tebu.

  1. Wessex Estate

Salah satu permata tersembunyi di sepanjang Green Corridor tidak lain adalah Wessex Estate. Kembali ke masa lalu dan jelajahi rumah-rumah kolonial hitam-putih yang tersebar di sekitar area tersebut.

Perkebunan yang menawan sangat cocok untuk kesempatan berfoto! Rumah-rumah di sini dibangun pada tahun 1940-an untuk perwira dan tentara Inggris yang tidak ditugaskan ketika Singapura masih di bawah kekuasaan kolonial. Saat ini, mereka adalah campuran dari properti hunian, studio seni, dan ruang acara.

  1. Masjid Hang Jebat

Dibangun pada tahun 1950-an, Masjid Hang Jebat adalah salah satu dari sedikit masjid kampung yang tersisa di Singapura saat ini. Masjid ini terletak tepat di samping tempat rel kereta api tua dulu berdiri. 

Dulunya sering dikunjungi oleh tentara Resimen Melayu, sekarang Anda bisa singgah di masjid untuk sholat saat dalam pendakian!

Kiat penting untuk mendaki Koridor Hijau

Bawalah banyak air. Demi kenyamanan Anda, belilah air minum Ice Mountain. Dengan ukurannya yang ringkas, nyaman untuk dibawa kemana-mana dan terdapat tutupnya sehingga Anda dapat dengan mudah membawanya di dalam tas saat mendaki.

 Dapatkan dengan nyaman di 7-Eleven di dekat Anda.Kenakan tabir surya dan kenakan topi terutama untuk hari-hari yang panas dan lembab. Jangan lupa obat nyamuk Anda karena ada bagian di mana Anda harus berjalan di jalan tanah dan melewati hutan.

Bawalah beberapa makanan ringan agar Anda dapat mengisi bahan bakar dan mengisi kembali energi Anda di sepanjang jalan. Kenakan sepatu yang nyaman – ini sangat penting terutama saat Anda melakukan pendakian jarak jauh.

Pilihan makanan halal di sepanjang Green Corridor

Karena Green Corridor yang panjang, ada beberapa tempat makan halal yang bisa Anda temukan, terutama di kawasan Bukit Timah, Tanglin Halt dan Alexandra. Saat Anda mendaki, istirahatlah di salah satu restoran halal berikut:

  • Daerah Bukit Timah
  • Springleaf Prata Place
  • Status halal: bersertifikat halal
  • Makanan: India
  • Jam buka: Setiap hari; 08.00-12.00
  • Alamat: 396 Upper Bukit Timah Rd, Singapura 678048 (The Rail Mall)
  • Al-Azhar Restaurant
  • Status halal: Milik Muslim
  • Masakan: India / Melayu / Barat / Thailand
  • Jam buka: Buka setiap hari; 12.00-11.30
  • Alamat: 11 Cheong Chin Nam Rd, Singapura 599736
  • Time For Thai
  • Status halal: bersertifikat halal
  • Makanan: Thailand
  • Jam buka: Buka setiap hari; 11.00-15.00
  • Alamat: 15 Cheong Chin Nam Rd, Singapura 599739
  • Tenderfresh Classic
  • Status halal: bersertifikat halal
  • Masakan: Barat / Daerah
  • Jam buka: Sun-Thu; 11.30-11.30, Jum-Sab; 11.30-12.45 pagi
  • Alamat: 9 Cheong Chin Nam Rd, Singapura 599734
  • Area Tanglin Halt / Alexandra
  • Edmond Chicken Rice
  • Status Halal: Tersertifikasi halal
  • Makanan: Cina (Nasi Ayam)
  • Jam buka: Setiap hari; 10.00-18.00
  • Alamat: 48A Tanglin Halt Rd, # 01-028, Singapura 148813
  • Ashes Burnnit
  • Status Halal: Milik Muslim
  • Masakan: Barat (Burger)
  • Jam buka: Setiap hari; 11.30 – 8.30 malam
  • Alamat: 120 Bukit Merah Lane 1, # 01-61, Singapura 150120 (Alexandra Village Food Centre)

Wardah Indonesia: Konsep Kosmetik Halal Tidak Begitu Saja Dipahami Oleh Konsumen

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia mungkin merupakan negara mayoritas Muslim, tetapi konsep kosmetik halal dan perawatan kulit belum begitu dipahami oleh konsumen.

Dilansir dari salaamgateway.com, ketika merek Wardah memulai debutnya pada tahun 1995, pendirinya,  Nurhayati Subakat mengatakan hal itu tidak mudah karena tidak banyak pelanggan Indonesia yang mengenal produk halal saat itu.

Dia terpaksa pergi dari pintu ke pintu dan memanfaatkan multilevel marketing untuk memasarkan produk Wardahnya.

Usahanya membuahkan hasil dan pada tahun 2004 Nurhayati membuka toko pertamanya. Lima tahun kemudian dia meluncurkan kembali Wardah setelah melakukan peningkatan kualitas dan pengemasan yang substansial.

“Pada awalnya, kami hampir tidak dapat menemukan pemasok bahan baku halal,” kata Sari Chairunnisa, Direktur Pnelitian dan Pengembangan PT Paragon Technology and Innovation, produsen Wardah kepada Salaam Gateway.

“Mereka tidak memahaminya dan kami harus duduk dan menjelaskan kepada mereka pentingnya bahan-bahan halal bagi perusahaan atau industri seperti kami,” kata Sari, anak bungsu Nurhayati. Dia menjalankan delapan laboratorium R&D untuk semua produk perusahaan yang berbeda.

Salah satu faktor yang diatribusikan perusahaan terhadap kesuksesan Wardah adalah bahwa Wardah merupakan satu-satunya produk kosmetik dan perawatan kulit bersertifikat halal di pasaran pada saat kesadaran akan “gaya hidup berhijab” di Indonesia sedang meningkat.

Nurhayati telah menyerahkan jalannya bisnis keluarga yang kini berkembang pesat kepada ketiga anaknya. Yang tertua, Harman Subakat, adalah CEO Paragon Group, adik laki-lakinya Salman adalah CEO Paragon Technology and Innovation dan yang termuda, Sari Chairunnisa, yang juga seorang dokter kulit, memimpin fasilitas Pusat Riset dan Inovasi Teknologi dan Inovasi Paragon yang ada di pabrik seluas 20 hektar yang berlokasi di Tangerang di Banten.

Fasilitas produksi perusahaan memproduksi lebih dari 135 juta unit riasan, perawatan wajah, dan produk rambut bersertifikat halal setiap tahunnya. Ini hanya menggunakan bahan-bahan yang ada dalam daftar halal dari LPPOM-MUI, baik itu ekstrak, mineral atau bahan baku lainnya.

“Kami menghindari pengujian pada hewan. Dan ada dua tahap pengujian formula / bahan baku untuk setiap produk kosmetik: keamanan dan efek, ”jelas Sari.

“Tahap pertama, kami menguji formula keamanan kulit, termasuk pengujian iritasi (single pass test), alergi (repeat pass test) dan untuk pemakaian wajah kami juga menguji efeknya di bawah pengawasan dokter kulit untuk memastikan formula atau bahan mentahnya. bahannya aman, ”tambahnya.

Tahap selanjutnya menguji efek bahan. Misalnya, untuk koleksi wajah Wardah “White Secret”, laboratorium mengujinya terlebih dahulu dengan mengukur kadar melanin, lalu memeriksa gambar sebelum dan sesudah.

“Untuk produk kosmetik, proses pengujiannya lebih singkat, sekitar dua minggu saja. Namun untuk produk perawatan kulit membutuhkan waktu yang lebih lama, sekitar satu hingga tiga bulan. Kami juga memiliki panel untuk mengontrol keseluruhan proses pengujian, ”kata Sari, seraya menambahkan bahwa tim tersebut terdiri dari tiga dokter kulit dan presiden direktur perusahaan.

Setelah sukses di dalam negeri, usaha pertama PT Paragon Technology and Innovation di luar negeri terjadi pada tahun 2012 ketika mulai menjual produk Wardah di Malaysia melalui distributor lokal kecil.

Pada 2017, ia memperluas distribusinya di Malaysia melalui jaringan ritel Watsons dan Guardian. Sejak itu, ekspor perusahaan ke Malaysia terus meningkat setiap tahun, dari Rp 15,4 miliar (US$ 1,1 juta) pada 2017 menjadi Rp 31,8 miliar pada 2018.

Tahun ini, penjualan ke Malaysia mencapai Rp 122,6 miliar hingga Oktober, tumbuh sebesar 33% per tahun. Perusahaan sejauh ini telah mengekspor 115 kontainer produk dari 2017 hingga Oktober tahun ini.

Ekspansi ada di pikirannya, baik dalam hal ekspor maupun produk. Baru-baru ini meluncurkan merek perawatan kulit pria bersertifikat halal pertama yang disebut Kahf dan dengan portofolio yang jauh lebih besar, perusahaan ini sekarang mengincar pasar di Asia Tenggara termasuk Thailand, Singapura dan Filipina.

IATA Travel Pass Key untuk Membuka Kembali Perbatasan dengan Aman

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah mengumumkan bahwa mereka sedang dalam tahap pengembangan akhir dari IATA Travel Pass, sebuah tiket kesehatan digital yang akan mendukung pembukaan kembali perbatasan yang aman.

 Pemerintah mulai menggunakan pengujian sebagai cara untuk membatasi risiko impor Covid-19 ketika membuka kembali perbatasan mereka untuk pelancong tanpa tindakan karantina.  

IATA Travel Pass akan mengelola dan memverifikasi aliran aman dari pengujian yang diperlukan atau informasi vaksin antara pemerintah, maskapai penerbangan, laboratorium dan pelancong, kata sebuah pernyataan.

Pilot proyek  IATA Travel Pass lintas batas pertama dijadwalkan akhir tahun ini dan peluncurannya dijadwalkan pada kuartal pertama 2021.

IATA menyerukan pengujian COVID-19 yang sistematis untuk semua pelancong internasional dan infrastruktur aliran informasi yang diperlukan untuk memungkinkan hal ini maka dibutuhkan yang dapat mendukung

  • Pemerintah dengan sarana untuk memverifikasi keaslian tes dan identitas mereka yang memberikan sertifikat tes;
  • Maskapai dengan kemampuan untuk memberikan informasi yang akurat kepada penumpangnya tentang persyaratan tes dan memverifikasi bahwa penumpang memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan;
  • Laboratorium dengan sarana untuk menerbitkan sertifikat digital kepada penumpang yang akan diakui oleh pemerintah, dan;
  • Wisatawan dengan informasi yang akurat tentang persyaratan tes, di mana mereka dapat diuji atau divaksinasi, dan sarana untuk menyampaikan informasi tes secara aman kepada maskapai penerbangan dan otoritas perbatasan.

 “Hari ini perbatasan terkunci ganda.  Pengujian adalah kunci pertama untuk memungkinkan perjalanan internasional tanpa tindakan karantina.  Kunci kedua adalah infrastruktur informasi global yang diperlukan untuk mengelola, membagikan, dan memverifikasi data pengujian secara aman yang cocok dengan identitas wisatawan sesuai dengan persyaratan kontrol perbatasan.

“Itulah tugas IATA Travel Pass.  Kami menghadirkan ini ke pasar dalam beberapa bulan mendatang untuk juga memenuhi kebutuhan berbagai gelembung perjalanan dan koridor kesehatan masyarakat yang mulai beroperasi, ” kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA

IATA Travel Pass menggabungkan empat modul open source dan interoperable yang dapat digabungkan untuk solusi ujung ke ujung:

  • Pendaftaran persyaratan kesehatan global – memungkinkan penumpang menemukan informasi akurat tentang perjalanan, pengujian, dan akhirnya persyaratan vaksin untuk perjalanan mereka;
  • Pendaftaran global pusat pengujian / vaksinasi – memungkinkan penumpang untuk menemukan pusat pengujian dan laboratorium di lokasi keberangkatan mereka yang memenuhi standar untuk pengujian dan persyaratan vaksinasi di tempat tujuan mereka;
  • Aplikasi Lab – memungkinkan laboratorium dan pusat pengujian resmi untuk membagikan sertifikat pengujian dan vaksinasi dengan aman kepada penumpang;
  • Aplikasi Perjalanan Tanpa Kontak – memungkinkan penumpang untuk (1) membuat ‘paspor digital’, (2) menerima sertifikat tes dan vaksinasi dan memverifikasi bahwa mereka cukup untuk rencana perjalanan mereka, dan (3) berbagi sertifikat pengujian atau vaksinasi dengan maskapai penerbangan dan pihak berwenang untuk  memfasilitasi perjalanan. 

Aplikasi ini juga dapat digunakan oleh wisatawan untuk mengelola dokumentasi perjalanan secara digital dan lancar sepanjang perjalanan mereka, meningkatkan pengalaman perjalanan.

IATA dan International Airlines Group (IAG) telah bekerja sama dalam pengembangan solusi ini dan akan melakukan uji coba untuk menunjukkan bahwa platform yang dikombinasikan dengan pengujian COVID-19 ini dapat membuka kembali perjalanan internasional dan menggantikan karantina, katanya.

Industri penerbangan menuntut solusi yang hemat biaya, global, dan modular untuk memulai kembali perjalanan dengan aman.  IATA Travel Pass didasarkan pada standar industri dan pengalaman IATA yang telah terbukti dalam mengelola arus informasi seputar persyaratan perjalanan yang kompleks

  • Timatic IATA digunakan oleh sebagian besar maskapai penerbangan untuk mengelola kepatuhan terhadap peraturan paspor dan visa dan akan menjadi dasar untuk pendaftaran global dan verifikasi persyaratan kesehatan.
  • Inisiatif One ID IATA didukung oleh resolusi pada Rapat Umum Tahunan ke-75 pada tahun 2019 untuk memfasilitasi proses perjalanan secara aman dengan satu token identitas.  Ini adalah dasar untuk Aplikasi Perjalanan Tanpa Kontak IATA untuk verifikasi identitas yang juga akan mengelola sertifikat tes dan vaksinasi.

 “Prioritas utama kami adalah membuat orang bepergian lagi dengan aman.  Dalam jangka pendek, itu berarti memberi kepercayaan kepada pemerintah bahwa pengujian COVID-19 yang sistematis dapat berfungsi sebagai pengganti persyaratan karantina.  Dan itu nantinya akan berkembang menjadi program vaksin,” tambah Alexandre de Juniac.

IATA Travel Pass adalah solusi untuk keduanya. Pihaknya telah membangunnya menggunakan pendekatan modular berdasarkan standar open source untuk memfasilitasi interoperabilitas.  Ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan penyedia lain atau sebagai solusi ujung ke ujung yang berdiri sendiri. 

Hal yang paling penting adalah ia responsif terhadap kebutuhan industri sekaligus memungkinkan pasar yang kompetitif, “kata Nick Careen, Wakil Presiden Senior IATA, Bandara, Penumpang, Kargo, dan Keamanan.

Destination Capital meluncurkan Green Hotel Fund

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id :  Destination Capital (DC) mengumumkan peluncuran Descap I yang akan menjadi green hotel fund pertama di dunia. Dana tersebut akan membuat hotel menerapkan sistem dan prosedur keberlanjutan EDGE.

Program ini untuk mendukung kelestarian lingkungan jangka panjang dan kelayakan finansial dari investasi tersebut. EDGE adalah platform online, standar green building, sistem sertifikasi yang diterapkan  lebih dari 170 negara.

Dilansir dari Travel Daily News Asia, tujuan Descap I adalah untuk meningkatkan modal dan pembiayaan  hotel bintang empat di destinasi wisata utama di Thailand. 

Setiap hotel akan menerapkan standar bangunan EDGE dan memperoleh sertifikasi green building  Edge. Beberapa hotel akan diganti namanya untuk meningkatkan posisi dan nilai guna menghasilkan pengembalian investor lebih lanjut. 

Descap I akan memanfaatkan pengalaman yang diperoleh Grup Destinasi dengan rekam jejak 24 tahun di Thailand dalam membeli, mengelola, dan menjual hotel, terutama selama masa sulit.

“Penerapan program sertifikasi EDGE dari Destination Capital akan memberi Descap I peluang untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dengan membedakan produk kami dan meningkatkan emisi karbon hotel,” kata James A. Kaplan, CEO Destination Capital.

DC melihat peluang untuk memperbaiki hotel dengan mengakomodasi teknologi dan sistem green EDGE terutama selama penurunan ekonomi akibat  COVID- 19 saat ini. 

Hal ini dipandang sangat menarik bagi tamu hotel pasca-COVID 19 karena preferensi mereka terhadap hotel yang sering mengadopsi program keberlanjutan dan menawarkan pengalaman tamu yang lebih baik di lingkungan yang aman dan higienis.

“Satu hal yang kami pelajari selama COVID 19 adalah bahwa lingkungan dan alam pulih dengan cepat dari praktik pengelolaan sumber daya yang buruk. Partisipasi kami di EDGE akan mendorong industri perhotelan untuk mengadopsi praktik terbaik.

“Sistem pengelolaan yang lebih baik dari sumber daya kami yang langka, meningkatkan kesadaran yang lebih luas tentang pemanasan global dan membendung gelombang degradasi lingkungan.” kata James A. Kaplan

Dia menambahkan akan menerapkan elemen operasional untuk mengurangi konsumsi air, mengurangi emisi limbah, mengurangi penggunaan listrik, dan dengan kemampuan terbaik kami untuk menghilangkan penggunaan plastik.

DC berkomitmen untuk berinvestasi dalam standar EDGE dengan keyakinan bahwa itu bukan hanya bisnis masuk akal yang baik dengan periode pengembalian modal yang lebih pendek dan penghematan jangka panjang yang signifikan dalam biaya operasional hotel,.

Tetapi juga mengakui investor yang berkontribusi pada praktik hijau dan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Inovasi dari International Finance Corporation (IFC), anggota grup Bank Dunia, EDGE membantu pengembang properti untuk membangun dan memberi merek hijau dengan cara yang cepat, mudah, dan terjangkau.

 “Descap I akan menjadi pengelola dana hotel pertama secara global yang mengadopsi EDGE,” kata Prashant Kapoor, Kepala Spesialis Bangunan Hijau IFC. 

Kesuksesan sertifikasi EDGE hingga saat ini tumbuh dengan ambisi kolektifnya untuk mengarusutamakan bangunan hijau dan membantu memerangi perubahan iklim.

 

Studi Baru: Belanja Perjalanan Muslim 2020 Anjlok

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 telah menghantam sektor pariwisata, tak terkecuali sektor wisata ramah muslim. Laporan Ekonomi Islam Global terkini yang diterima bisniswisata.co.id menunjukkan belanja perjalanan muslim tahun ini diperkirakan turun tajam menjadi US$58 miliar dari  US$194 miliar pada 2019 yang naik 2,7% dari tahun sebelumnya.

Pemulihan akan membutuhkan waktu. Studi ini memperkirakan keadaan akan kembali membaik ke level setidaknya sama dengan tahun lalu, pada 2023. 

Sejumlah faktor turut menyumbang suramnya kinerja tahun ini, antara lain dibatalkannya sejumlah acara global seperti Olimpiade Tokyo.

Olimpiade Musim Panas atau Olimpiade Tokyo 2020 sedianya akan dilangsungkan pada 24 Juli hingga 9 Agustus 2020 lalu.Sekitar 50 negara muslim diperkirakan akan berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut.

Selain itu, akan ada ratusan atlet muslim dari negara lainnya yang juga turut menyemarakkan pesta olahraga terbesar itu.

Jepang sendiri telah menunjukkan antusiasme tinggi untuk menyambut ribuan atlet dan wisatawan Muslim dari berbagai negara yang menurut prediksi MasterCard-Crescent Rating ada satu juta wisatawan yang akan datang ke Jepang saat Olimpiade.

Selain pembatalan event global, pandemi COVID-19 juga telah memaksa Kerajaan Arab Saudi untuk sementara menutup diri bagi kedatangan jemaah haji dan umrah di 2020.

Sekadar gambaran, pada 2019, ada 18 juta jemaah haji berkunjungke Saudi. Mereka membelanjakan sekitar 28 miliar dollar Amerika Serikat. 

Meski demikian, pandemi juga memberi kesempatan para investor di sektor perjalanan untuk terus memutakhirkan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Tujuannya, selain untuk menguatkan pengalaman nasabah juga memperbaiki data. 

Baru-baru ini agen perjalanan online berbasis di London HalalTravels yang berdiri di 2019 dan HalalBooking.com mengembangkan teknologi pemetaan data lewat kemitraan dengan Expedia.

Travel agent online terbukti mampu bertahan di tengah pandemi. Traveloka dari Indonesia, misalnya, menghimpun US$250 juta pada Juli 2020, sementara perusahaan perjalanan Pigijo juga dari Indonesia meraup 861.000 dolar AS saat IPO. 

Meski suram, sektor pariwisata diharapkan juga akan mempu beradaptasi pada keadaan ‘new normal’ setidaknya dalam satu atau dua tahun ke depan. Apalagi pada awal 2020 telah dikeluarkan Standard Pelayanan Wisata Halal oleh Standards and Metrology Institute for Islamic Countries’ (SMIIC). Standard ini menyediakan panduan untuk mengelola fasilitas dan pelayanan wisata halal.

Indonesia, menurut studi ini dinilai memiliki potensi untuk meraup cuan dari pariwisata ramah muslim yang diyakini akan lebih baik tahun depan meski pandemi COVID-19 masih menghantui. Pemerintah juga terus memperkokoh ekosistem eknomi Islami.

Saat ini Indonesia menduduki peringkat keempat dalam hal penguatan ekosistem. Malaysia masih memimpin dalam daftar peringkat Indikator Ekonomi Islami Global (GIEI), diikuti Arab Saudi lalu Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia. 

Potensi ekonomi halal dinilai luar biasa. Warga muslim dunia yang jumlahnya mencapai 1,9 miliar membelanjakan US$2,02 triliun di 2019 untuk sektor-sektor makanan, produk farmasi, kosmetika, fashion, perjalanan dan media/rekreasi. 

Konsumsi makanan halal masih mendominasi transaksi yang nilainya mencapai US$1,17 triliun. Pengeluaran di sektor fashion menduduki peringkat berikutnya dengan catatan transaksi sebesar US$277 miliar diikuti media dan rekreasi (US$222 miliar), perjalanan ramah muslim                 ( US$194 miliar) dan kosmetik serta produk farmasi masing-masing US$66 milar dan  US$94 miliar. Jumlah pengeluaran ini tumbuh 3.2 persen (year on year) sejak 2018. 

Namun pandemi diramalkan akan menyebabkan 8 persen penurunan dalam pengeluaran warga Muslim global di 2020. Seluruh sektor-sektor tersebut, kecuali perjalanan, diperkirakan akan kembali ke tingkat pengeluaran pra-pandemi di akhir 2021. 

Sedangkan proyeksi pengeluaran warga Muslim diperkirakan akan mencapai US$ 2.3 triliun di 2024 pada Tingkat Pertumbuhan Kumulatif Tahunan (CAGR) 3.1%.