Demi Budaya Lestari, Cirebon Gartiskan Sekolah Tari

this formate

CIREBON, bisniswisata.co.id: Melestarikan budaya itu, susah-susah gampang. Butuh pengerbonan, butuh kerja keras, butuh semangat, butuh kepedulian tinggi dan bukan sekadar omong doang. Ada cara unik, menarik bahkan bisa diacungi jempol dalam melestarikan budaya ala Cirebon yang juga perlu diapresiasi dan ditiru daerah lainnya. Yakni mengratiskan Sekolah Tari.

Keraton Kasepuhan Cirebon menggandeng PT Pertamina Internasional EP membuka sekolah gratis tari bagi semua kalangan dan usia, terutama yang suka dengan dunia kesenian tari. Langkah ini sebagai upaya pelestarian budaya, mengangkat kembali seni budaya agar tidak luntur juga untuk membentengi generasi dari serangan budaya luar yang kini semakin marak.

Presiden Direktur PIEP Denie S. Tampubolon mengatakan dalam upaya melestarikan budaya khas Cirebon dia bekerja sama dengan Kesultanan Kasepuhan Cirebon dan Yayasan Belantara Budaya Indonesia, menyepakati program edukasi tari kepada masyarakat selama satu tahun.

“Saya berharap program kerja sama ini mampu meningkatkan potensi kemandirian masyarakat dan memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional,” papar Denie dalam keterangan tertulis yang diterima bisniswisata.co.id, Ahad (23/09/2018).

Cirebon, lanjut dia, merupakan kota sejarah yang banyak menyimpan kekayaan budaya Indonesia, terutama seni tari yang memiliki ciri khas tersendiri dan ini harus dilestarikan bersama-sama. Melalui Program ini, diharapkan bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia, khususnya seni tari topeng Cirebon yang sudah melegenda dan diwariskan turun-temurun sejak masa Kesultanan Cirebon dipimpin Sunan Gunung Jati.

“Semoga kegiatan ini mendapat dukungan positif dari pemerintah setempat serta membangun citra positif perusahaan, dan yang lebih penting lagi Tari Topeng Cirebon tetap lestari dan bukan menjadi kenangan semata,” ujarnya

Warga Kota Cirebon, Jawa Barat, menyambut dengan antusias adanya sekolah tari gratis yang digagas oleh PT Pertamina Internasional EP bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan. “Saya mendaftarkan anak agar bisa ikut sekolah tari gratis dan ini juga salah satu bentuk pengenalan dan melestarikan tari khas Cirebon,” kata orang tua murid dari Dian Kristina.

Menurut dia, adanya sekolah tari gratis sangat membantu dia mengenalkan tarian khas Cirebon kepada anaknya dan mengapresiasi apa yang dilakukan Pertamina dan Kasepuhan Cirebon. Diharapkan setelah ditempa ilmu mengenai tari tradisional khas Cirebon, nanti anaknya bisa melestarikan dan juga bisa tampil di acara-acara yang besar. “Mudah-mudahan anak saya bisa nari ke luar negeri,” kata Dian. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Kesadaran Ilahiah Dalam Mengelola Kopi Sugeng Indonesia

this formate

Annisa Sugeng, owner Kopi Sugeng Indonesia

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bertekad menjadi duta petani kopi di Indonesia, Kopi Sugeng Indonesia kini hadir   sebagai brand lokal yang siap menjadi display dan memasarkan kopi asal negeri tercinta yang mampu menguasai pangsa pasar kopi dunia.

Ini bukan mimpi. Dua kedai Kopi Sugeng baik di Mall Artha Gading dan Mall Bassura masing-masing sedikitnya menggunakan 20 kopi terpopuler dari berbagai daerah di Indonesia. Ada kopi Gayo dari Aceh, Kopi Toraja, kopi Enrekang, kopi Java Ijen, Kintamani  Bali dan lainnya“ kata Aji, Co-founder dan CEO KOPI SUGENG INDONESIA dibawah bendera manajemen PT. ANNISA GAHARU INDONESIA.

Hingga akhir tahun 2018 kami harapkan ada 50 kedai di berbagai mall di Indonesia. Pilihan kopinya hanya yang berasal dari Indonesia dan logonya juga bentuk Gunungan,” kata Aji.

Gunungan dalam pewayangan  melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya. Jadi selain dipilih menjadi logo maknanya adalah bisnis yang ingin dibangun juga yang berkelanjutan dan melestarikan alam maupun ekosistem dari usaha ini.

Sebagai pendatang baru, Kopi Sugeng Indonesia  berkomitmen penuh untuk turut berperan aktif melestarikan Kopi asli Indonesia. Sajian variasi menunya  dengan bahan dasar biji kopi yang langsung dipetik & diolah oleh petani kopi dari seluruh pelosok Nusantara.

Di mulai dengan membuka jaringan kedai, pihaknya menempatkan diri sebagai jaringan bisnis kopi cepat saji, dimana konsep take away & fast moving coffee menjadi salah satu service yang diberikan untuk konsumen.

Kopi Sugeng turut berperan aktif melestarikan Kopi asli Indonesia.

“Kedepannya kami juga akan membuka coffee bar seperti milik jaringan global yang berpusat di Seattle, Washington, AS itu sehingga tamu bisa duduk lama dan menikmati menu ringan. Namun hal itu tahap selanjutnya karena kami mulai bisnis  dari bawah dulu dan bagi mereka yang punya filosofi yang sama bisa bergabung dengan sistem kemitraan bagi hasil,”

Menurut Aji, karena proses bisnisnya dengan tahapan dari bawah maka strategi pemasaran dan kemitraannya memang menempatkan kedai kopi di mall karena Kopi Sugeng ingin brand ini dikenal luas melalui pengunjung mall.

Oleh karena itu untuk kedai  pertama pertama di Eatstreet Jakarta Lt.2 Mall Artha Gading Kelapa Gading Jakarta Utara pada tanggal 9 September 2018. Kedai kedua adalah di Mall Bassura City, Lt.2 Jl. Basuki Rahmat Jakarta Timur pada tanggal 16 September 2018 lalu.

Konsep Ilahiah

Menyeruput kopi Indonesia tak lepas dari konsep Ilahiah, meyakini bahwa apapun yang datang dari Tuhan tentu mengandung hikmah kebaikan dan Indonesia menjadi negara yang bertanah subur tempat beragam jenis kopi tumbuh.

Bahkan kopi luwak yang harganya jutaan rupiah dan telah mendunia adalah asli dari Inonesia karena asal mula kopi luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia di masa penjajahan Belanda ratusan tahun yang lalu.

Bagi penikmat kopi maupun orang awam, kesadaran Ilahiah bahwa Allah menciptakan kopi-kopi terbaik di negri ini adalah sebuah berkah. Kesadaran inilah yang akan mengangkat orang  beriman berada kepuncak keyakinan bahwa segala yang ada baik didunia maupun akhirat, baik yang ada dilangit dan dibumi adalah ciptaan Allah.

“Coba perhatikan mengapa kedai kopi menjamur dari tingkat RT/RW hingga kelas global. Intinya karena minum kopi selain sudah menjadi lifestyle, minuman itu sendiri bisa menjadi media apa saja untuk mempererat tali situlahim dengan keluarga, rekan bisnis hingga beragam komunitas dan juga dengan sang pencipa kopi tentunya,”

Lewat kopi pihaknya bisa membuat networking mulai dari tingkat petani, barista, ilmuwan, komunitas, suplier alat hingga kelingkungan blogger dan media nasional maupun internasional untuk membangun citra Kopi Sugeng Indonesia.

Barista sibuk mengolah langsung biji kopi menjadi minuman lezat

Itu sebabnya Kopi Sugeng yang berasal dari Bumi Indonesia perlu ditempatkan di puncak oleh pemilik maupun konsumennya. Jangan heran jika Aji menjelaskan bahwa konsep bisnis  Kopi Sugeng yang menerapkan Coffee Ecosystem, dimana perusahaan tidak hanya bergerak di bisnis jaringan kedai kopi semata, namun berupaya untuk mengembangkan konsep edukasi dengan menyelenggarakan program pelatihan bersertifikasi.

“Mereka yang ingin menjadi barista bisa belajar mengolah kopi, belajar trading dan retail biji kopi.Kami juga menjadi Event Organizer  (EO) untuk industri kopi dan juga menjadi konsultan,”

Keinginan untuk mengenal kopi dan cara pengolahan misalnya, sudah ditularkan pada anak-anak sekolah hingga komunitas Ducati Jakarta yang mengunjungi kebun kopi, melihat proses pembuatan hingga menikmati hasil akhir minuman kopi yang lezat.

Biji-biji kopi yang dibeli langsung dari petani membuat pihaknya juga mampu mengedukasi petani untuk menanam dan mengolah pasca panen sesuai tuntutan pasar.

“Setiap kami buka jaringan kedai kecil ini, display hingga jalannya acara juga langsung kami share dengan para mitra petani sehingga ada kebanggaan dan percaya diri yang kuat dalam diri mereka bahwa kopi Indonesia bisa menjadi Raja di negri sendiri,”

Sugeng Priyono, owner yang namanya dipakai untuk brand usahanya optimistis keberadaan usahanya ini akan mendapat dukungan luas dari masyarakat Indonesia sebagai kopi dengan olahan modern.

Bersama istrinya, Annisa Sugeng, pihaknya yakin konsep edukasi, kemitraan yang diterapkannya membuat usaha ini menjadi langgeng dan menjadi berkah dari banyak pihak yang menjadi mitra maupun konsumen Indonesia.

Variasi minuman kopi populer seperti espresso, cappucino, latte, Affogato dan varian lain dengan semboyan Selera Kopi Nusantara akan membuat kiprah usahanya akan berkibar pula kelak ke mancanegara.




28 Tahun Terbengkelai, GWK Akhirnya Diresmikan Presiden Jokowi

this formate

BADUNG BALI, bisniswisata.co.id: Setelah 28 tahun mangkrak, akhirnya patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Patung GWK setinggi 121 meter di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali merupakan patung ketiga tertinggi di dunia, bahkan menjadi ikon pariwisa Bali dan Indonesia.

“Pada malam hari yang indah ini saya sangat senang, bangga bisa hadir bersama bapak ibu dan saudara-saudara sekalian menyaksikan mahakarya anak bangsa, patung Garuda Wisnu Kencana,” kata Presiden Jokowi yang memakai baju adat Bali berwarna hitam lengkap dengan ikat kepalanya, di Cultural Park GWK, Badung, Sabtu (22/09/2018) malam.

Disebut mahakarya, lanjut kepala negara, karena patung Garuda Wisnu Kencana, salah satu patung tembaga terbesar di dunia. Patung GWK, adalah patung tertinggi ketiga di dunia setelah The Spring Temple Buddha di China dan The Laykyun Sekkya Buddha di Myanmar.

“Patung ini lebih tinggi dari pada patung Liberty di Amerika Serikat. Selesainya mahakarya ini bukan hanya membanggakan rakyat Bali, masyarakat Bali tapi juga membanggakan seluruh masyarakat Indonesia,” ungkapnya seperti dilansir Setkab.go.id

Terwujudnya patung GWK menunjukkan Indonesia mampu menghadirkan karya budaya masa kini. “Ini membuktikan sebagai bangsa besar kita bukan hanya mewarisi karya-karya besar peradaban masa lalu, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan tapi di era kekinian juga bisa berkarya, berkreasi membangun sebuah peradaban, melahirkan mahakarya baru, yang mengaggumkan juga diakui dan dikagumi dunia,”.

Kepala Negara menuturkan era kemajuan teknologi saat ini, pengembangan seni budaya harus dipadukan dengan teknologi. Seperti halnya Patung GWK juga memadukan karya seni budaya bangsa Indonesia, terutama seni budaya Bali dengan kemajuan teknologi, dengan riset, dengan ilmu pengetahuan yang baru.

Saat proses pembuatannya, Patung GWK menjalani serangkaian tes. Windnel test atau tes ketahanan angin di Australia (Windtech) dan Kanada (RDWI), cavity test atau tes rongga secara berkala, dan soil test. Konstruksi patung dibuat material tembaga dan kuningan, ditopang 21.000 batang baja dengan berat total 2.000 ton dan jumlah baut sebanyak 170.000 buah. Periode konstruksi berlangsung mulai Agustus 2013 hingga Juli 2018.

“Dengan perpaduan itu, patung GWK ini mampu bertahan selama kurang lebih 100 tahun dan saya yakin 100 tahun lagi patung GWK akan tetap menjadi karya peradaban yang dibicarakan, yang menjadi kebanggan bangsa dan menjadi warisan kebudayaan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Di balik kemegahan patung ini, Presiden menuturkan ada satu hal yang bisa menjadi inspirasi bagi semua, yakni karya besar dimulai dari keberanian untuk mempunyai gagasan-gagasan besar, mimpi besar, dan lompatan-lompatan besar. Tanpa keberanian sulit lahir karya-karya besar. Ide-ide besar harus diikhtiarkan secara konsisten.

Presiden apresiasi kepada I Nyoman Nuarta atas gagasan besar, keberanian, dan ikhitiarnya selama ini. Juga berterima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras menyelesaikan patung ini. “Tentu gagasan besar ini juga ditopang oleh banyak pihak, dukungan pemerintah dan rakyat Bali, maupun pihak swasta yang ingin mimpi besar para seniman ini terwujud,” ungkapnya sambil mengajak para seniman dan para budayawan agar terus berkreasi mewujudkan karya terbaik yang selanjutnya memperkaya peradaban bangsa Indonesia

Patung tersebut memiliki tinggi 121 meter atau 271 meter dari permukaan laut (dpl) yang dibangun di atas lahan seluas 60 hektare.
Pembuatan patung ini menjalani proses panjang yaitu selama 28 tahun oleh seniman sekaligus desainer Nyoman Nuarta. Proses pembuatan patung tembaga itu menggunakan teknik cor las untuk 754 modul.

Satu modulnya berukuran 4×3 meter dengan berat kurang lebih 1 ton. Pembuatan patung tersebut pernah melibatkan 1.000 pekerja yang terbagi menjadi dua, yakni 400 pekerja di Bandung dan 600 pekerja di Bali.

Peresmian patung GWK mengangkat tema “Merajut Indonesia Esa” dengan menampilkan pertunjukan kesenian tarian daerah yang dibawakan 300 penari. Tampil juga Bumi Gamelan Orchestra pimpinan I Wayan Balawan, maestro gitar dan musik etnik asal Bali. Kemeriahan dan kemegahan acara peresmian makin semarak dengan penampilan Putri Ayu, Duta Cinta, pertunjukan laser dan kembang api serta video mapping yang dikemas dengan tajuk “Kemilau Indonesia” pada malam harinya.

“Saya berharap patung Garuda Wisnu Kencana ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan menjadi salah satu ikon seni kebanggaan bangsa Indonesia yang memberikan dampak positif di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, serta turut memberikan konstribusi dalam meningkatkan sosial-ekonomi masyarakat Bali pada khususnya,” ujar Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma.

GWK Cultural Park dirancang secara komprehensif dan direncanakan akan dilengkapi berbagai fasilitas pariwisata, pusat budaya, taman, balai pertemuan, restoran, hotel dan area parkir yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu. Patung ini, memiliki bentang sayap mencapai lebar 64 meter, ikon landmark termegah di Bali ini berdiri gagah di puncak bukit Ungasan, di dalam kawasan GWK Cultural Park.

Strukturnya dibuat tahan gempa, fisiknya mampu menahan hembusan angin kuat, dan GWK sebagai bangunan tinggi menangkal petir dengan sekaligus berfungsi sebagai sangkar Faraday, dimana semua listrik akan diserap oleh kulit patung yang terbuat dari tembaga dan kuningan.

Berbagai uji teknis dilakukan agar patung GWK dapat berdiri kokoh mulai dari pemeriksaan struktur dan jenis tanah pada lokasi patung dibangun, yang kemudian ditemukan adanya rongga-rongga dalam tanah. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penyuntikan semen ke rongga-rongga tanah tersebut hingga mencapai kedalaman 10 meter.

Pondasi beton pun dibuat dengan ketebalan hingga 2,2 meter untuk dapat menahan beban sebesar 3.000 ton. Mengingat pondasi yang cukup tebal serta suhu di lokasi pengecoran yang terus meningkat yang dapat menyebabkan timbulnya retakan (crack), maka ditambahkan 43.024 balok es untuk menetralkan suhu beton pada saat pengecoran.

Beban patung tidak dibiarkan berada pada platform dari bangunan penyangga. Seluruh beratnya disalurkan melalui konstruksi core atau inti pada beton bertulang di pedestal yang berukuran 30 x 30 meter dengan ketebalan dinding inti atau shear wall mencapai 50 sentimeter.

Inti ini mencapai ketinggian tertentu untuk dipadukan dengan konstruksi baja. Dengan baja yang bersifat lebih lentur maka keseluruhan konstruksi tidak akan bergoyang bila mendapat dorongan angin atau gempa. Kombinasi ini membuat patung menjadi cukup rigid atau kaku, namun dengan sedikit sekali kemungkinan terjadinya fatique logam atau kelelahan akibat struktur yang terlalu sering bergerak.

Rincian detil ikonografi Bali dan bentuknya yang rumit menjadikan GWK sebagai salah satu patung paling kompleks di dunia, terlebih dengan prinsipnya yang terbuka dan dapat diakses khalayak ramai.

Patung GWK tidak hanya menjadi patung yang dikunjungi orang karena nilai simbolnya, melainkan juga dirancang dalam satu kompleks dan ditopang dengan berbagai fasilitas pariwisata-pusat budaya, taman, restoran, serta area parkir luas yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu.

Jumlah modul patung 754 modul, struktur baja 2.000 ton dengan berat kulit patung 900 ton. Jumlah batang baja yang terpakai 21.000 batang yang menghabiskan 170.000 buah baut. Patung dirancang untuk masa bangunan selama 100 tahun dengan kapasitas ketahanan angin 2,5 kPa. Uji teknis wind tunnel dilakukan di Australia dan Kanada. (EP)

Festival Pertengahan Musim Gugur, Dari Tuntunan Jadi Tontonan

this formate

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Hong Kong kembali gelar Festival Pertengahan Musim Gugur. Festival paling terkenal ini, berlangsung 24 September 2018, bertepatan hari ke-15 bulan ke-8 pada Kalender Lunar Tionghoa. Perayaan ini berkembang jadi upacara penyembahan bulan menjelang panen musim gugur, festival ini memperlihatkan tuntunan tradisi Hong Kong berlangsung sejak lama yang kini jadi tontonan menarik bagi wisatawan.

Siaran pers dari Hong Kong Tourism Board, Sabtu (22/09/2018) menyebutkan melalui festival ini, pengunjung dapat menyaksikan kota dengan agenda menarik seperti Century-Old Fire Dragon Dance, yang berputar mengelilingi Tai Hang, lampion menyinari langit malam, dan instalasi “Moon Rabbit Lumiere” karya seniman Australia, Amanda Parer yang menghiasi sepanjang kota untuk pertama kalinya.

Tidak hanya itu, akan ada agenda-agenda menarik bagi pengunjung berdasarkan agenda acara tahunan, berikut informasi festival sepanjang Hong Kong: Selama festival pertengahan musim gugur ini, Hong Kong memiliki dua agenda besar.

Tai Hang Fire Dragon Dance (23 – 25 September 2018), sebagai penghormatan terhadap perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur sejak zaman dulu, para penduduk Tai Hang berkumpul untuk ambil bagian dalam Tarian Naga Api Tai Hang selama tiga hari, yang tercantum dalam Daftar Nasional Warisan Budaya Takbenda Tiongkok pada tahun 2011.

Tradisi ini diperkirakan telah muncul sejak abad ke-19, sewaktu munculnya taifun dan wabah penyakit yang menghancurkan Tai Hang. Dengan mengarak sebuah naga yang terlihat ganas, para penduduk percaya bahwa mereka mampu mengusir roh jahat dan nasib buruk.

Pengalaman pada festival kali ini akan dimeriahkan oleh dentuman drum, gong dan dupa. Sebanyak hampir 300 peserta terlatih membawa naga sepanjang 67 meter yang tertutup dalam hio bercahaya di sepanjang jalan. Kepalanya yang seberat 70 kilogram, terbuat dari lembaran logam, jerami dan rotan dengan dua obor elektrik sebagai mata.

Mid-Autumn Lantern Carnivals 2018 (22 – 25 September 2018), selama Festival Pertengahan Musim Gugur, kota Hong Kong dihiasi dengan tampilan lampion. Para pengunjung dapat mengikuti kegiatan ini melalui Karnaval Pertengahan Musim Gugur, yang berlokasi di Tai Po Waterfront Park, Victoria Park, Tuen Mun Park,dan Hong Kong Cultural Centre Piazza.

Selagi lampion-lampion menghiasi langit malam, para pengunjung dan warga lokal dapat menikmati suasana meriah di karnaval ini dan mempelajari cara pembuatan lampion tradisional. Beragam kegiatan keluarga yang terdiri dari demonstrasi kerajinan rakyat.

Dalam setiap acara Hong Kong, belum lengkap rasanya tanpa hidangan makanan yang memeriahkan festival. Demikian, dalam Mid-Autumn Festival ini akan menyediakan dua makanan khas.

#. Mooncakes

Kue bulan adalah salah satu elemen yang paling populer dalam Festival Pertengahan Musim Gugur Hong Kong, yang tentu ada alasannya. Dipanggang dalam cetakan rumit nan canggih yang melambangkan berkah Tionghoa untuk mendatangkan keuntungan, kue bulan diasosiasikan sebagai keluarga dan pada umumnya diberikan kepada orang yang dikasihi ketika festival berlangsung untuk mendoakan kebahagiaan dan umur yang panjang.

Secara tradisional, kue bulan diisi dengan pasta biji teratai dan dua kuning telur. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Hong Kong telah menerima berbagai iterasi inovatif, seperti cokelat, durian, kumkuat, matcha, puding telur, kacang merah, dan masih banyak lagi.

#. Moon Rabbit Lumiere

Moon Rabbit Lumiere installation (19 September – 17 Oktober 2018), untuk pertama kalinya di Hong Kong, “Kelinci Bulan” hasil karya seniman Australia Amanda Parer yang mengesankan akan singgah di kota ini.

Instalasi seni “Moon Rabbit Lumiere” akan bertempat di Lee Tung Avenue dari Wan Chai dan China Hong Kong City di Tsim Sha Tsui. Kedua tempat ini akan menampilkan 10 “Kelinci Bulan” yang diterangi cahaya, disertai dengan serangkaian acara perayaan, lokakarya, piknik, dan pameran di sepanjang pekan raya yang akan berlangsung selama satu bulan ini.

Melalui festival ini, Hong Kong mengharapkan untuk terus memberikan agenda terbaik dengan berbagai pengalaman menarik yang bisa menjadi referensi bagi rencana liburan pengunjung, termasuk kehadiran wisatawan Indonesia sangat diharapkan. Mengingat, turis asal Indonesia paling gemar festival ini. (redaksibisniswisata@gmail.com).

Komunitas Bersih-bersih Sampah Jangan Hanya Simbolik

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Aksi komunitas bersih-bersih sampah, terutama di kawasan destinasi wisata, hendaknya tidak sekadar menjadi simbol. Lebih dari itu, kegiatan yang merupakan bagian dari World Cleanup Day tersebut, diharapkan bisa menjadi momentum untuk menggugah kesadaran masyarakat (awarenness) maupun komunitas.

“Karena hanya dengan kesadaran, persoalan sampah bisa teratasi. Tak kalah penting, tindak lanjut dari kegiatan bersih-bersih sampah itu sendiri,” kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi di Jakarta, Sabtu (22/09/2018).

Dari sisi komunitas maupun masyarakat, hendaknya semakin sadar bahaya sampah sehingga mereka bisa mengubah perilaku. “Sedangkan dari sisi perusahaan berinovasi agar bisnis yang dijalankan menjadi lebih bersih, terutama untuk meminimalisasi produk-produk berkemasan yang sulit terurai,” jelas Atha.

Meski demikian, Atha tetap memberikan apresiasi kepada semua pihak yang turut berperan serta dalam kegiatan itu. Juga berharap, melalui kegiatan bersih-bersih sampah di kawasan obyek wisata seperti pantai, taman rekresiasi, gunung, goa hingga obyek wisata di bawah laut. “Jadi kita apresiasi kepada semua pihak, termasuk perusahaan dan berbagai komunitas,” lanjutnya.

Menurut Atha seperti dilansir laman MediaIndonesia, aksi bersih-bersih sampah yang dilakukan berbagai elemen akhir pekan lalu merupakan bagian dari aksi global yang dilakukan di seluruh negara di dunia. Kegiatan ini sangat penting, karena realitanya, saat ini wilayah pesisir, sungai, dan perkotaan sudah tercemari sampah, terutama sampah plastik.

Meski banyak pihak melakukan pada tanggal 15 September, Atha berharap bahwa kegiatan ini bisa dilakukan selama satu bulan dan menjadikan bulan September sebagai bulan cleanup.

Akhir pekan lalu, seluruh aktivis, relawan, dan berbagai pihak yang peduli lingkungan melakukan aksi bersih-bersih memungut sampah. Aksi dilakukan terkait World Cleanup Day yang merupakan aksi sosial global dengan tujuan memerangi masalah sampah global. (EP)

ACI Pilih Bandara Solo Jadi Proyek Percontohan Dunia

this formate

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Airport Council International (ACI), Organisasi Bandar Udara Internasional memilih Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, sebagai proyek percontohan untuk pengembangan bandara ramah lingkungan di dunia. Tim ACI telah meninjau Bandara Adi Sumarmo pada akhir Agustus 2018 untuk menjadikan bandara Solo ini sebagai proyek percontohan program Airport Excellence (APEX).

ACI, organisasi terkemuka yang mengatur mengenai bandara di dunia, sebelumnya hanya memiliki standardisasi praktik terbaik melalui APEX untuk bidang keamanan dan keselamatan. Pada 2018, ACI sedang menyusun APEX untuk program lingkungan dan memilih Bandara Adi Sumarmo sebagai proyek percontohan pertama di Asia Pasifik, dan kedua di dunia selain bandara di Ekuador.

“Saat ACI datang ke Solo, kami selayaknya mendapatkan konsultasi. Apa yang belum kami terapkan dan apa yang sudah kami terapkan. Apa juga sudah advance (lebih dulu) kami terapkan. ACI dapat masukan dari pengembangan Bandara Adi Sumarno,” kata Direktur Pelayanan dan Pemasaran PT Angkasa Pura I Devi W Suradji di kantor ACI Asia Pasific, Hong Kong, seperti dilansir laman Antara, Sabtu (22/09/2018).

Saat ini, AP I sedang menunggu hasil lengkap rekomendasi dari ACI untuk pengembangan bandara ramah lingkungan. Evaluasi sudah dijalankan selama tujuh hari. “Kami sedang menunggu rekomendasi dari mereka,” jelas Devi.

Devi menuturkan upaya pengembangan bandara menjadi infrastruktur yang ramah lingkingan sedang menjadi topik utama industri penerbangan dunia. Ia menjelaskan tidak mudah untuk menerapkan bandara yang ramah lingkungan. Salah satu hal paling mendasar adalah karena bahan bakar pesawat yang menggunakan avtur. Bahan bakar ini memiliki kandungan karbon yang tinggi.

Meski demikian, pengembangan bandara menjadi lokasi yang ramah lingkungan harus terus dilakukan. AP I yang mengelola 13 bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia juga berencana untuk mengembangkan prinsip ramah lingkungan dalam pembangunan dan pengembangan bandara.

Di dunia, berbagai otoritas sedang menyusun solusi untuk menangani dampak buruk kegiatan bandara pada lingkungan, seperti emisi karbon yang tinggi, polusi suara hingga sampah dan air. “Bandara yang nampak bersih belum tentu ramah lingkungan, bandara yang nampak hijau juga belum tentu berkelanjutan (suistanable),” ujar Devi.

AP I juga berjanji akan lebih aktif di dalam Komite Lingkungan ACI agar mampu turut menyusun kebijakan mengenai bandara yang ramah lingkungan.

Kepala Bidang Teknik dan Industri ACI Asia Pasifik S.L Wong, dalam pertemuan dengan para jurnalis, menekankan mengenai pentingnya penyelenggaraan bandara yang mampu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

“Untuk menerapkan bandara ramah lingkungan dapat diupayakan dengan pengurangan emisi karbon dengan memanfaatkan energi ramah lingkungan dan terbarukan, dan pengelolaan tumbuhan di sekitar bandara,” ujar Wong. (EP)

Menikmati Liburan Akhir Pekan di Kota Solo

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Sejumlah kegiatan kesenian serta pameran akan digelar di Kota Solo pada akhir pekan ini. Jika anda tengah berada di Surakarta, beberapa agenda berikut bisa mengisi liburan murah meriah dan mengesankan. Tentunya, anda juga bisa menikmati acara itu sembari menjelajahi beragam kuliner tradisional yang menjadi daya tarik Kota Solo. Demikian dilansir laman Tempo, Sabtu (22/9/2018):

1. Pameran Perhubungan

Pameran ini digelar dalam rangka peringatan Hari Perhubungan Nasional 2018 di Balai Kota Surakarta selama tiga hari pada Sabtu-Senin, 22-24 September 2018. Kegiatan ini baru pertama kalinya digelar di kota itu. Acara itu diikuti oleh 25 peserta perwakilan dari instansi pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan, hingga komunitas yang terkait dengan dunia perhubungan. Beberapa perusahaan karoseri juga akan memamerkan produk bus terbarunya. Ketua panitia penyelenggara, Taufiq Muhammad mengatakan panitia menyiagakan dua armada bus doubledecker alias bus tingkat wisata yang dimiliki oleh Pemkot Surakarta. “Masyarakat bisa berkeliling kota dengan gratis,” katanya.

2. Solo Pet Expo 2018

Para wisatawan yang juga penggemar satwa perlu untuk menyaksikan acara yang digelar oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan PErikanan Kota Surakarta ini. Kegiatan itu digelar di pusat belanja Solo Paragon, Ahad, 23 September 2018. “Kami mengajak masyarakat untuk semakin memperhatikan kesejahteraan hewan peliharaan,” kata Kepala Dinas Pertanian Surakarta, Wenny Ekayanti. Perawatan terhadap hewan peliharaan akan diapresiasi melalui serangkaian kontes untuk anjing dan kucing. Dalam pameran itu, pengunjung juga akan disuguhi dengan keindahan beragam jenis ikan guppy. Kontes ikan yang memiliki nama latin Poecilia reticulata itu akan diikuti oleh peserta dari berbagai kota.

3. Sendratari Ramayana Balekambang

Sendratari Ramayana digelar secara rutin sejak 2012 silam. Tarian yang membawakan kisah-kisah dalam cerita Ramayana ini digelar di panggung terbuka Taman Balekambang Solo. Pada bulan ini, penyaji akan membawakan cerita mengenai Kumbakarna Senopati yang akan digelar Jum’at malam 21 September 2018. Kesenian tradisional itu bisa dinikmati secara gratis oleh wisatawan.

4. Wayang Orang Sriwedari

Wayang orang merupakan sebuah pertunjukan yang memadukan berbagai cabang seni, seperti tari, sastra, karawitan hingga olah vokal. Semuanya terangkum dalam sebuah tarian yang membawakan cerita Mahabharata maupun Ramayana. Wayang Orang Sriwedari yang sudah berusia lebih dari seabad itu pentas setiap hari, kecuali Minggu. Pada Sabtu, 22 September 2018, mereka akan membawakan kisah Sembadra-Srikandi Kembar. Wisatawan bisa menyaksikan tontonan klasik itu dengan tiket masuk yang dijual seharga Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. (EP)

Turis Korsel Hilang di Gili Trawangan, Pencarian Dihentikan

this formate

GILI TRAWANGAN, bisniswisata.co.id: Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan menghentikan pencarian terhadap wisatawan asal Korea Selatan (Korsel) bernama Park Ji Su yang hilang saat snorkeling di perairan laut Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Rabu (12/9/2018).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, I Nyoman Sidakarya, mengatakan pencarian telah dilakukan selama 10 hari, namun titik terang tanda-tanda keberadaan korban tidak berhasil ditemukan. “Sesuai hasil koordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Korsel yang berada di Jakarta, kami menghentikan pencarian dan dilanjutkan dengan pemantauan,” katanya, sebagaimana dikutip Antara, Sabtu (22/09/2018).

Upaya pencarian dilakukan dengan menyisir daratan dan perairan laut hingga penyelaman di sekitar lokasi kejadian. Tim SAR gabungan yang terlibat melakukan pencarian berasal dari anggota Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, klub penyelam dan nelayan setempat.

Sidakarya menyatakan, pihaknya sudah memaksimalkan upaya pencarian dengan menambah jumlah personel dan perahu karet serta mengerahkan alat utama, yaitu kapal Rescue Boat 220 Mataram, pada hari ke-8 setelah kejadian.

“Kami juga memperluas area pencarian di sekitar Gili trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Namun, hingga masa perpanjangan dan upaya pencarian berakhir, Park Ji Su tidak berhasil ditemukan,” tandasnya.

Diakui, sebenarnya pencarian maksimal selama tujuh hari sejak laporan kejadian. Namun berdasarkan hasil koordinasi dan permintaan dari Kedutaan Besar Korea Selatan, dan pihak keluarga sehingga diperpanjang sampai tiga hari kedepan.

Memasuki hari ke-8 upaya pencarian, lanjut dia, tim Kantor SAR Mataram mengerahkan alat utama berupa dua unit perahu karet (rubber boat) dan kapal dari TNI Angkatan Laut. Selain itu, berkoordinasi dengan klub-klub penyelam dan nelayan yang berlayar di sekitar perairan Gili Trawangan, untuk membantu upaya pencarian sambil menangkap ikan.

“Kami meminta masyarakat maupun instansi terkait untuk menghubungi kantor Basarnas Mataram di (0370) 633253 atau emergency call 115 jika menerima informasi tentang keberadaan korban,” harapnya.

Park Ji Su (22), dilaporkan hilang tenggelam bersama teman prianya bernama Seo Hyeong Do (18), ketika melakukan snorkeling di perairan Gili Trawangan, pada Rabu (12/9), sekitar pukul 16.00 WITA. Sekitar setengah jam kemudian Seo Hyeong Do, ditemukan tidak bernyawa di pesisir pantai tanpa menggunakan pelampung dan fin. Sementara Park Ji Su hilang. (EP)

Wot Batu, Mahakarya Seni Jadi Destinasi Wisata

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Bandung Jawa Barat tak pernah mati kreasi, inovasi dan selalu ada yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Salah satunya destinasi Wot Batu. Obyek wisata di Jalan Bukit Pakar Timur Bandung ini, merupakan galeri berbentuk taman terbuka berisikan bangunan-bangunan batu. Galeri ini merupakan karya seniman, Sunaryo.

Sunaryo membangun sebuah mahakarya seni dari 135 + 1 batu vulkanik yang sebagian besar berasal dari pegunungan di Bandung dan sekitarnya. Bahkan, bebatuan besar dan kecil bukan hanya dari Indonesia. Beberapa diantaranya juga datang dari India, Italia, dan Arab Saudi. Sebagian batu itu harus menempuh perjalanan yang tidak selalu mulus. Penuh liku-liku.

Dikutip Travelingyuk, setiap bangunan batu memiliki makna dan penempatan setiap bangunan batu dirancang sedemikian rupa sehingga kepingan-kepingan makna tersebut menjadi sebuah cerita. Cerita ini bisa dimuali dari awal memasuki gerbang taman dan terhenti saat mendekati pintu keluar area taman.

Batu Gerbang merupakan batu pertama yang akan menyambut wisatawan di pintu masuk. Di sini terdapat tonjolan yang dihaluskan menyerupai bentuk tangan manusia. Sebelum memasuki taman, wisatawan disarankan menyentuh tonjolan batu tersebut yang menandakan sedang bersalaman dengan pemilik batu. Terdapat kurang lebih 10 bangunan batu di galeri ini, antara lain yang menjadi ikon Wot Batu adalah bangunan bernama Batu Air yang didirikan di atas sebuah kolam.

Letaknya bagian ujung taman dan tepian bukit yang menghadap langsung ke lembah di bawahnya. Refleksi batu pada kolam dirancang seolah tak berujung, melambangkan dunia setelah kehidupan yang tak berbatas dan tak tergapai oleh nalar.

Di sebelah kiri batu air, terdapat tangga yang mengarahkan kita ke ruang bawah tanah tempat didirikannya Batu Ruang. Di ruangan ini kita dapat melihat tayangan audiovisual proses pembentukan bumi. Karya tersebut diproyeksikan di atas permukaan sebuah batu.

Di area taman ini juga terdapat sebuah Mushalla yang dapat digunakan untuk beribadah. Uniknya, dari bangunan ini adalah di lempengan kaca yang menandakan arah kiblat juga terdapat kepingan batu yang berasal dari Gua Hira Mekah serta bagian bawah kepingan batu terukir Surat Al-Fatihaah.

Tepat sebelum pintu keluar, terdapat aula yang dinamakan Bale Batu yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak setelah mengelilingi Wot Batu sambil menikmati segarnya teh tosella. Bale Batu juga menawarkan video pembuatan Wot Batu yang memakan waktu kurang lebih tiga tahun.

Sunaryo yang mendirikan Wot Batu mengatakan, mimpinya semula ingin menghadirkan bebatuan lempeng bumi dari India yang meandungndesak masuk ke Indonesia. Maunya diwakili batu dari Aceh sampai Indonesia Timur. Namun karena terpepet waktu pendirian tempat, ia akhirnya fokus pada batu asal daerah di Jawa Barat.

Wot Batu yang dibangun pada 2015 dan dibuka untuk umum sejak 2016, menjadi monumen dengan aneka batu dan ukurannya. Batu yang menonjol berukuran besar hingga seluas kasur dan ada yang menjulang. Beratnya mencapai ukuran ton.

Sunaryo mengatakan, batuan besar itu ia peroleh dari daerah pegunungan di Cianjur, Sukabumi, dan Padalarang, juga Tasikmalaya di Jawa Barat dekat Gunung Galunggung. Ada pula batu besar dari Jawa Timur dan Bali. Sementara batuan pemberian temannya ada yang berasal dari India serta Italia yang merupakan fosil tanaman. “Itu digantung pada tembok,” katanya.

Sebongkah batu sekepalan tangan berwarna hitam, dipungut Sunaryo dari depan Gua Hira di Arab Saudi ketika ibadah ke Tanah Suci. Batu itu ditempatkan di musala. Proses mendatangkan batuan besar dari berbagai daerah kadang waktunya tidak sesuai pesanan. Penjual batu dari Padalarang juga Jawa Timur misalnya, waktunya molor hingga berminggu-minggu karena proses pengambilan batunya sulit.

Bahkan di tengah jalan, hambatan seperti mogok dan kendaraan rusak terjadi. Sampai di Bandung pun, masih ada kendala teknis untuk menurunkan batu. Kadang beberapa besi penopang patah, hingga terjadi adu mulut antar pekerja soal cara menurunkan batu besar. “Setelah tiga hari baru bisa turun,” kata Sunaryo seperti dikutip laman Tempo.

Cara lain ada yang menggunakan alat berat selain manual, pun pemasangannya. Sekitar 50 orang pekerja terlibat dalam pendirian Wot Batu. Pengunjung bisa menyaksikan upaya proses pembangunannya di rekaman video dokumenter di ruang Bale Batu.

Christine Toelle, Program Associate di Wot Batu mengatakan, area yang direkomendasikan bagi pengunjung adalah karya Batu Merenung yang dikhususkan sebagai tempat kontemplasi. “Juga area Batu Air yang menyajikan pemandangan alam sebagai bahan refleksi,” katanya. (EP)

Tangga Lagu Billboard AS: Anggun Kembali Raih Sukses

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Anggun (44) termasuk salah satu dari sedikit penyanyi Indonesia yang sering meraih prestasi internasional. Yang terbaru, lagu Anggun kembali masuk tangga lagu Billboard di Amerika Serikat (AS).

Juri The Voice Indonesia, Asias Got Talent dan juara World Music Award baru saja merilis lagu terbarunya yang bertajuk The Good Is Back. Lagu ini di remix oleh produser DJ ternama seperti Offer Nissim, khususnya untuk Amerika. Usai single What We Remember, ini merupakan lagu kedua yang diambil dari albumnya “8” yang mendapatkan kehormatan untuk masuk ke jajaran tangga lagu bergengsi Billboard di AS.

Pencapaian ini merupakan posisi chart Billboard ke-6 untuk Anggun, sebuah pencapaian yang memecahkan rekor bagi setiap artis kelahiran Indonesia sepanjang sejarah. “Sejujurnya, saya tidak mengharapkan lagu tersebut dapat masuk ke tangga lagu Billboard di Amerika begitu cepat karena versi AS nya bahkan belum di luncurkan”, ujar Anggun, dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/09/2018).

“Tim promosi AS mengirimi saya pesan bahwa versi remix dari lagu tersebut telah banyak diputar bahkan sebelum secara resmi diluncurkan. Saya sangat bersyukur melihat musik saya mendapatkan eksposur di seluruh dunia,” sambung ibu satu anak Kirana Cipta Montana.

Setelah penampilannya yang sangat memukau di acara pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta, Anggun terus sibuk dengan rekaman The Voice Indonesia dan Asia’s Got Talent season 3 dan mengejar karir Internasionalnya di seluruh Eropa, lontar penyanyi bergenre Pop, rock dan urban world

“Saya tidak melihat siang hari lagi, tetapi saya tidak mengeluh. Ini merupakan kesempatan besar bagi saya mengerjakan apa yang saya sukai dan terhubung dengan publik dan penggemar saya,” tandas Anggun dengan rendah hati. (redaksibisniswisata@gmail.com)