Dalam Sejarah, Fashion Muslim Kontemporer di Museum

this formate

SAN FRANSISCO, bisniswisata.co.id: Pameran busana Muslim kontemporer yang digelar di Museum de Young merupakan pameran besar pertama, yang digelar untuk mengeksplore sifat kompleks dan ragam dari busana Muslim di seluruh dunia. Pameran ini diselenggarakan Museum Seni Rupa San Fransisco yang meneliti bagaimana wanita Muslim menjadi penentu gaya di dalam dan luar komunitas mereka serta menarik perhatian bagi kehidupan sehari-hari.

“Ada orang-orang yang percaya tidak ada fashion sama sekali di antara wanita Muslim. Tapi yang ada sebaliknya, dengan nuansa modern, semangat, dan luar biasa fashion itu muncul utamanya di negara dengan mayoritas Muslim,” ujar mantan direktur dan CEO Museum Seni Rupa Fransisco Max Hollein dikutip di Art Daily, Senin (24/9/2018).

Fashion Muslim kontemporer ini adalah eksplorasi yang seharusnya sudah lama dilakukan dan sangat dibutuhkan dari topik multifaset yang belum banyak di-explore oleh museum lainnya. Pameran ini juga menonjol dalam sejarah panjang pameran mode Museum Seni Rupa San Fransisco dan akan menjelaskan lebih banyak tentang pemahaman, kesalahpahaman, politik, sosial, dan budaya yang lebih besar.

Dengan menyoroti tempat, pakaian, dan gaya dari seluruh dunia, pameran ini fokus pada pakaian yang merespons interpretasi individu dan kolektif terhadap kesopanan. Pameran ini juga mempertimbangkan bagaimana wanita Muslim mendefinisikan diri mereka dan didefinisikan oleh pakaian yang mereka pakai.

Islam sendiri adalah agama multikultural, pakaiannya tidak hanya dibentuk oleh tradisi agama, tapi juga kebiasaan lokal dan tren global. Pameran Busana Muslim Kontemporer ini melihat bagian-bagian dunia di mana para perancang menciptakan pakaian dan konsumennya mengenakan pakaian yang sangat modis dengan fokus pada masyarakat Timur Tengah, Asia Tenggara, dan diaspora di Eropa dan Amerika Serikat.

“Mode yang terbaik adalah ketika keduanya bisa beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan mencerminkan arus bawah sosial dan politiknya. Saat ini adalah momen transformatif di mana kita sekarang menemukan mode sederhana,” ucap kurator Jill D’Alessandro.

Sekitar 80 ensemble diambil dari para desainer yang mapan dan bermunculan dari segi fashion, streetwear, dan couture kelas atas. Pameran ini juga mencakup 40 foto yang mengaktualisasikan pakaian dalam sebuah tampilan.

Galeri-galeri pameran dirancang oleh Hariri & Hariri Architectute. Mereka mengeksplorasi interaksi antara yang terlihat dan yang tidak. Ide untuk pakaian yang tertutup, tetapi kontemporer dan modis.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada peningkatan kesadaran konsumen Muslim sebagai segmen penting dari industri mode global. Dengan lebih dari 1,8 miliar orang Muslim tersebar di seluruh dunia, kompleksitas topik ini dinilai sangat luas dan bernuansa. Namun, di belahan bumi bagian Barat, Muslim sering dinilai monokromatik.

Pameran di Museum de Young ini akan tutup pada 6 Januari 2019. Setelah itu dilanjutkan di Museum Frankfurt Angewandte Kunst juga memperagakan busana muslim kontemporer. (EP)

Serang Wisatawan, Australia Suntik Mati Empat Hiu

this formate

QUEENSLAND, bisniswisata.co.id: Australia terpaksa menyuntik mati empat hiu setelah insiden serangan terhadap dua turis di Great Barrier Reef, wilayah Whitsundays. Salah seorang korban, turis perempuan alami cedera serius di kakinya setelah diserang hiu di Whitsundays (Queensland). Perempuan berusia 46 tahun tengah berenang dari sebuah kapal sewaan di Cid Harbour di Pulau Whitsunday, pada Rabu (19/9) petang.

“(Hiu-hiu itu) sudah disuntik mati dengan baik dan akan dibawa ke laut untuk tindakan akhir,” ujar juru bicara Kementerian Perikanan Australia kepada AFP, Senin (24/9).

Dilanjutkan, pihaknya menggunakan perangkap untuk menangkap tiga hiu sepanjang badan 3,7 meter, 2 meter, dan 3 meter. “Hiu dengan ukuran besar seperti ini sangat berpotensi berbahaya bagi manusia, tapi belum jelas apakah mereka yang bertanggung jawab atas insiden yang menimpa kedua perenang,” ucap jubir.

Menurutnya, saat ini masih ada hiu dengan jumlah signifikan di sekitar Great Barrier Reef dan warga disarankan tidak berenang. Sementara itu, kedua korban serangan hiu itu kini masih dirawat di rumah sakit setelah diselamatkan dari dua insiden terpisah.

Serangan hiu di wilayah Whitsundays di Great Barrier Reef sangat jarang terjadi. Berdasarkan laporan ABC, insiden terakhir terjadi pada delapan tahun lalu. Peristiwa ini pun memicu perdebatan cara untuk mengurangi risiko pertemuan antara hiu dan peningkatan jumlah turis ke kawasan tersebut.

Banyak pegiat konservasi dan ilmuwan kelautan keberatan dengan keputusan pemerintah untuk membunuh hiu dan menyebut perangkap yang digunakan untuk menangkap makhluk tersebut tidak aman.

Selama ini, New South Wales sudah mencoba sejumlah pendekatan tak berbahaya, seperti penggunaan pesawat nirawak untuk melacak pergerakan hiu. Mereka juga mencoba “perangkap pintar” untuk mengingatkan otoritas ketika ada hiu mendekat.

Cid Harbour adalah kawasan yang populer dikunjungi oleh kapal-kapal charteran yang terletak sekitar 100 kilometer utara MacKay di wilayah utara negara bagian Queensland. Turis perempuan yang digigit hiur itu sedang berlibur dari Tasmania, dan menaiki kapal sewaan bernama Queensland Yacht Charters ketika insiden terjadi. (EP)

Bertambah, Hotel Tersertifikasi Halal di Makassar

this formate

MAKASSAR, bisniswisata.co.id: Deretan hotel di Makassar, Sulawesi Selatan yang mengantongi sertifikasi halal terkhusus pada aspek kitchen atau dapur, grafiknya terus bertambah secara signfikan. Hal ini sejalan dengan finalisasi tahapan proses sertifikasi dapur halal atau halal kitchen terhadap empat hotel kelolaan Phinisi Hospitality, jaringan hotel lokal yang berbasis di Makassar.

“Hotel di bawah Phinisi Hospitality, mudah-mudahan sertifikasi halal kitchen-nya sudah kelar pertengahan bulan depan, tengah berproses saat ini,” ujar CEO Phinisi Hospitality Anggiat Sinaga, di Makassar.

Seperti dilansir laman Bisnis, Senin (24/09/2018), dia menguraikan implementasi dari konsep dapur halal juga dimaksudkan agar hotel kelolaan senantiasa mengikuti perkembangan industri pariwisata yang saat ini mulai mengoptimalkan ceruk pasar dari segmen halal tourism.

Secara komprehensif, penerapannya dimulai dari pemasok bahan makanan, pengolahan, peralatan dapur, hingga penyajian yang dilakukan dengan mengacu pada kaidah halal.

Sebagai informasi, Phinisi memiliki empat hotel kelolaan yang berklasifikasi bintang tiga plus hingga bintang lima di Makassar. Hotel tersebut adalah Dalton Hotel dan Almadera Hotel untuk klasifikasi bintang tiga plus, Claro Makassar berklasifikasi bintang empat plus, serta The Rinra yang merupakan portofolio perusahaan dengan klasifikasi bintang lima.

Jika hotel kelolaan Phinisi itu secara resmi mengantongi sertifikat halal kitchen maka total hotel yang mengadopsi konsep tersebut di Makassar menjadi tujuh hotel.

Sebelumnya, ada dua hotel di Makassar lebih dulu berkualifikasi dapur halal, yakni Aston Makassar serta Hotel Pesonna. “Insyaallah bila semakin banyak lagi hotel tersertifikasi halal, lebih baik lagi bagi pariwisata Makassar. Lombok saja hanya restoran tersertifikasi sedangkan hotelnya belum. Nah, Makassar malah hotelnya duluan tersertifikasi,” ujar GM Aston Makassar Joko Budi. (EP)

Pramuwisata Bodong di Bali Utara Resahkan Wisman

this formate

BULELENG BALI, bisniswisata.co.id: Penyedia jasa pariwisata di Bali Utara belakangan resah. Keresahan bersumber keberadaan oknum pramuwisata bodong, yang beroperasi dengan melakukan aksi penipuan sekaligus melakukan pencemaran nama baik pramuwisata resmi. Korban penipuan wisatawan mancanegara (wisman) bukan hanya sekali terjadi, namun sudah berulangkali. Sayangnya, belum ada tindakan terhadap pramuwisata ilegal.

Patrick, salah satunya menjadi korban penipuan. Wisatawan asal Jerman ditipu pramuwisata bodong bersama rekan-rekannya saat ingin berlibur di Lovina, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng. Modusnya, guide bodong memberikan layanan jasa kepada wisatawan. Hanya saja layanan yang dijanjikan tidak bisa dibuktikan.

“Kami ditawari oknum guide yang akan memberikan layanan jasa wisata. Tetapi harus membayar dulu. Setelah itu malah ingkar janji, tak sesuai dengan harapan yang dijanjikan,” beber Patrick dengan nada kecewa.

Kejadian inipun langsung disampaikan ke penggiat pariwisata, Nyoman Kusumadia alias Klaus dan khawatir korban pramuwisata bodong makin banyak dan taku melaporkan ke pihak berwajib. Disisi lain keberadaan pramuwisata ilegal ini dapat merusak citra pariwisata di Buleleng, khususnya Lovina.

Terlebih perkembangan medsos yang semakin marak dan cepat menyebar, sehingga pengalaman pahit yang dialami wisatawan asing kemudian di share di medsos dan dengan cepat menyebar ke penjuru dunia. “Kami khawatir dengan imbas adanya guide bodong ini. Bisa saja para turis enggan datang ke Lovina,” ujar Klaus prihatin.

Keluhan serupa juga disampaikan pemilik usaha Dive Center, Dewa Made Japa. Pihaknya mengaku kerap menerima keluhan dari wisatawan mancanegara terkait keberadaan pramuwisata bodong. Modusnya, pelaku kepada wisatawan mengatasnamakan dari sebuah perusahaan jasa wisata lewat nota palsu.

Korban diberikan layanan antar jemput untuk berkunjung ke beberapa objek wisata. Tetapi harus membayar terlebih dahulu kepada pelaku. Sayangnya, justru setelah melakukan pembayaran, guide bodong ini justru tak kunjung datang menjemput wisatawan seperti yang dijanjikan.

“Mereka sampai membuat harga yang tinggi hampir 3 kali lipat yang tidak diketahui oleh bersangkutan. Setelah perjanjian dengan nota palsu kemudian tamu itu beberapa harinya tidak dilayani, bahkan tidak dijemput. Kerugian tidak kecil bisa sampai jutaan rupiah,” ujar Dewa Japa seperti dilansir laman Liputan6.com, Senin (24/09/2018).

Terkait hal ini, pihaknya pun meminta agar aparat keamanan juga ikut turun tangan dalam menyelesaikan persoalan ini. Sebab bila tak ditangani, dikhawatirkan akan merusak citra jasa wisata yang memang benar-benar menjalankan usahanya secara jujur.

“Kami meminta agar sediakan call center bagi wisman. Saat ada kasus ada yang menerima minimal ada yang bertanggungjawab. Kami juga jangan terlalu ekstrim untuk menawarkan jasa, ya minimal jangan sampai mereka tidak nyaman saat berkunjung kesini,” sambungnya. (EP)

Sega Nyangku, Kuliner Legendaris Khas Lereng Gunung Slamet

this formate

BANYUMAS, bisniswisata.co.id: Masyarakat di sekitar di lereng Gunung Slamet akrab dengan dua tetumbuhan ini, Nyangku dan Pakis. Dari kedua tetumbuhan khas hutan ini, warga mengambil manfaatnya. Daun nyangku lebar memanjang, tipis dan berserat kuat. Cocok untuk pembungkus, terutama makanan. Pakis, pucuk daunnya yang muda dan masih bergelung, dimasak sebagai sayuran bercitarasa khas.

Perpaduan dua tetumbuhan ini menciptakan kuliner yang melegenda, sega (nasi) nyangku. Nasi dengan lauk sederhana bercita rasa istimewa. Aroma nasi gurih ditambah lauk dan sayur berpadu dengan aroma khas daun nyangku yang legit.

Di masa lalu, daun nyangku mudah ditemui di acara-cara besar, baik di tingkat kampung maupun hajat keluarga. Namun, kini posisinya tergeser kertas minyak dan plastik. Petani-petani pun kerap nyangu atau nimbel, istilah untuk bekal nasi, saat pergi ke ladang atau hutan. Dengan bungkus istimewa nyangku, lauk sederhana pun akan terasa lebih lezat.

Pengelola Sekolah Kader Desa Brilian, Muhammad Adib menerangkan, bagi warga sekitar Gunung Slamet, sega nyangku tak hanya sekadar kuliner. Sega nyangku erat kaitannya dengan tradisi dan budaya warga sekitar Gunung Slamet yang perlu dilestarikan.

Nyangku sebagai pembungkus amat ramah lingkungan. Lantaran berasal dari tetumbuhan, daun nyangku akan mudah terurai saat sudah tak terpakai dan kembali ke alam sebagai kompos atau pupuk.

Dia menjelaskan, untuk melestarikan tradisi masyarakat yang kini nyaris punah ini, LMDH Argowilis dan sekolah kader brilian kembali menyediakan sega nyangku di wana wisata pramuka di Desa Sokawera Kabupaten Banyumas. “Sega nyangku akan memuaskan kerinduan kita pada makanan masa lalu,” papar Adib, seperti dilansir laman Liputan6, Senin (24/09/2018).

Adib menerangkan, Wana Pramuka adalah kawasan hutan Perhutanan Sosial di lereng selatan Gunung Slamet didedikasikan sebagai tempat wisata alam yang menarik, menyenangkan dan bertujuan menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya hutan. Salah satunya, dengan penanaman pohon.

Sega nyangku juga bisa didapatkan di Sekolah Kader Brilian, Karanglewas. Masyarakat bisa memesan untuk dinikmati di rumah atau sebuah acara. Semangat menghidupkan kekayaan tradisi masyarakat di lereng Gunung Slamet, juga dilakukan Pramuka Kwarcab Banyumas. Workshop kehumasan yang digelar oleh Bidang Humas dan Abdimas Kwarcab Banyumas menyajikan Sega Pangku sebagai hidangan utama.

Wakil Ketua Bidang Humas dan Abdimas Agus Nur Hadie mengatakan sengaja menyajikan sega nyangku untuk mempopulerkan kuliner khas yang pernah menjadi tradisi. Pasalnya, kini kuliner masyarakat pedesaan ini mulai ditinggalkan. “Sega nyangku biasanya terdiri nasi putih dengan sayur daun pakis atau kulit melinjo, sambal dan teri atau ikan asin, bisa juga pesan sesuai dengan selera,” urainya.

Upaya mempopulerkan kembali sega nyangku perlu didudukung. Ia pun mengapresiasi Pokdarwis yang terdiri orang-orang yang kreatif, inovatif, dan berani untuk menginisiasi masyarakat lainnya untuk kembali mempopulerkan makanan khas ini. “Kami ikut mendukung kreasi mereka dengan cara memesan sega nyangku. Selain untuk menjaga tradisi yang pasti nyangku ramah lingkungan,” ujarnya.

Betapa sega nyangku sudah di ambang punah terekam dari sejumlah peserta workshop yang baru pertama kali melihat dan merasakan sega nyangku. Salah satunya, Khalimatul Aliyan dari Saka Bakti Husada yang mengaku baru pertama kali melihat sega nyangku. “Bentuk kemasannya unik, membuat penasaran. Walaupun menu hampir sama tetapi sensasinya luar biasa,” ucap Aliyan.

Anggoro Wicaksono dari SMK Bina Taruna Purwokerto dan Endang Ngudi Haryati dari SDN 1 Saudagaran juga mengaku belum pernah melihat sega nyangku. Keduanya menilai sega nyangku unik dan antik. “Semoga sega nyangku sebagai salah satu makanan khas Banyumas akan kembali di kenal,” kata Endang. (EP)

Filipina Gencarkan Promosi Wisata Sejarah Kota Tua

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Lebih dari 300 tahun bangsa Spanyol menancapkan pengaruhnya di Filipina. Pada 1571, merasa khawatir terhadap ancaman invasi Cina dan Jepang, mereka membangun benteng batu sepanjang 4,5 kilometer di Manila.

Seperti dilansir laman Tempo.co, Ahad (23/09/2018), benteng itu berbentuk pentagonal. Di sekelilingnya dibuat parit. Total lahan yang dibentengi sekitar 64 hektare. Di dalam benteng itu, terdapat gereja, istana, sekolah, gedung pemerintah, dan rumah penduduk.

Karena berada di dalam benteng, wilayah itu pun disebut Intramuros, yang berarti di antara dinding-dinding. Sekarang, area itu dikenal sebagai kawasan kota tua Manila, yang menjadi daya tarik wisata sejarah. Meski tak lagi utuh akibat peperangan dan lain-lain, kota yang pertama kali diperintah oleh Raja Soliman itu masih memiliki sisa-sisa bangunan kuno.

Selain Benteng bersejarah, kota tua Manila dilengkapi Gereja San Agustin. Ini merupakan gereja tertua di Filipina karena didirikan pada 1571. Wisatawan disambut lonceng besar di pintu masuk. Di lorong, juga ada lukisan Nabi Isa memenuhi dinding.

Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah karena ada ruang-ruang lain yang digunakan untuk menyimpan abu jenazah dan benda-benda lawas yang bernilai sejarah tinggi. Gereja bergaya art deco ini menjadi situs warisan dunia versi UNESCO pada 1994. Di seberangnya, berderet bangunan kuno.

Salah satunya, rumah Manila di masa silam. Plaza San Luis Complex namanya. Merupakan kompleks komersial, dilengkapi dengan sembilan rumah yang dirancang berdasarkan arsitektur Filipina-Hispanik. Kafe, restoran, dan toko suvenir berderet menggoda turis. Casa Manila, berupa museum yang memamerkan rumah-rumah Manila di akhir abad 21.

Di deretan Plaza San Luis Complex masih terdapat beberapa bangunan lain. Menara Manila Cathedral pun terlihat di sana, meski tak sempat saya singgahi bagian dalamnya. Katedral dengan arsitektur neo-romanesque itu dibangun pada 1571. Terlihat menarik dari luar.

Juga ada Fort Santiago. Lokasinya di seberang Manila Cathedral. Di pintu masuk, ada kereta kuda. Gerbong kereta kuda itu memiliki desain yang berbeda-beda, sehingga menjadi tontonan menarik. Di Manila, kereta kuda ini disebut kasela.

Bila tidak ingin berjalan kaki, wisatawan bisa mengendarai kasela menuju benteng yang berada di ujung Luneta Park, sekaligus mengunjungi situs bersejarah lainnya di Intramuros. Saya memilih berjalan untuk mengelilingi Fort Santiago yang dulu menjadi pusat pemerintahan penguasa Spanyol.

Tembok abu-abu yang dibangun pada 1571 itu, masih berdiri gagah menyambut para turis yang penasaran dengan peninggalan Raja Soliman—penguasa muslim terakhir sebelum Manila jatuh ke tangan Spanyol.

Selain itu, ada jejak Dr Jose Rizal. Pahlawan Filipina itu sempat dipenjara di benteng ini, sebelum dieksekusi pada 1896. Jepang pun sempat mengambil alih benteng ini dan meninggalkan warisan berupa penjara bawah tanah yang dibangun pada masa Perang Dunia Kedua. Salah satu bagian akhir benteng ini tepat berada di mulut Sungai Pasig. Parit-parit yang mengelilingi benteng pun masih dipertahankan.

Kini Manila benar-benar serius menggarapan wisata sejarah Kota Tua karena paling banyak diminati wisatawan asing. Daya tarik alam satu kompleks membuat wisman semakin berlama-lama menikmati obyek wisata sejarah, yang sangat luar biasa ini. (EP)

Komunitas 22 Ibu Kenalkan Teknik Batik Klungsu Di Fukuoka

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komunitas 22 Ibu tak pernah lelah memperkenalkan teknik batik lilin dingin menggunakan bubuk klungsu (biji asam Jawa), sehingga kera[ disebut batik klungsi. Niken Apriani, seorang guru SMPN 3 Cimahi, yang pertama kali memperkenalkan teknik ini. Ternyata mendapat sambutan luar biasa, termasuk Komunitas 22 Ibu yang menggunakan teknik itu di berbagai forum nasional maupun internastional.

Saat kunjungan ke Jepang, pada 4 hingga 12 September 2018, Komunitas 22 Ibu kembali memperkenalkan teknik batik dingin ini ke masyarakat Fukuoka, Jepang. Lokalatih metode batik dingin ini ternyata mampu menyedot perhatian pengunjung Fukuoka Art Exhibition.

“Semula, jadwalnya hanya satu kali sesi workshop, akhirnya workshop dilaksanakan tiga kali,” ujar Nurul Primayanti, anggota Komunitas 22 Ibu juga dosen Desain Produk Podomoro University Jakarta.

Komunitas 22 Ibu dibentuk setelah mereka mengadakan pameran pada 21 April 2013 dan 22 Desember 2013. Ada 60 anggota, terdiri dari dosen, guru, desainer, pengusaha, dan seniman yang bergabung di dalamnya. Mereka berasal dari lintas institusi dan lintas generasi. Dari termuda berusia 23 tahun hingga tertua berusia 70 tahun.

Nurul, salah satu dari empat anggota Komunitas 22 Ibu yang berangkat ke Jepang. Selain Nurul ada Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Gilang Cempaka dari Universitas Paramadina Jakarta, dan Rina Mariana dari SMPN 1 Ngampah Kabupaten Bandung dan Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Mereka diundang Galeri Tiempo Ibero Americano di Fukuoka.

“Antusiasme peserta lokalatih tak terbendung oleh hujan sekalipun. Mereka tetap datang ke lokalatih kendati hari sedang hujan. Kehadiran Indonesia dianggap paling serius dari tampilan baju daerah yang dikenakan,” ujar Nurul seperti dilansir Republika.co.id, Ahad (23/09/2018).

Di pameran itu, selain seniman Indonesia, ikut pula berpameran seniman dari Spanyol, Portugal, Hawai. Delegasi Indonesia yang diwakili Komunitas 22 Ibu, kata Nurul, mendapat lima sertifikat kegiatan yang diikuti. Yaitu lokalatih lukis Jepang menggunakan batu, lokalatih bokusho, pelatih metode batik dingin, peserta pameran, dan peserta dalam presentasi terapi seni untuk kanker.

Indonesia juga berbangga karena buku portofolio yang disusun dijadikan standar oleh Elida Maria Matsumoto untuk kegiatan selanjutnya. Dalam kesempatan di Fukuoka itu, Komunitas 22 Ibu menyerahkan suvenir dua sarung tenun untuk dua peserta terbaik lokalatih batik dingin dan suvenir untuk Elida berupa batik motif megamendung, sarung tenun, buku potrtofolio, dan gantungan kunci.

Dalam paparan lokalatih batik dingin, Nurul menjelaskan cara membuat adonan bubuk klungsu dan cara mengunakan adonan itu untuk melukis di atas kain. Nurul melengkapi dirinya dengan kostum batik dan kebaya. Sehingga semakin menarik minat peserta dari Jepang.

Adonan bubuk klungsu yang sudah menjadi pasta itu dipakai sebagai pengganti malam panas yang ditaruh di canting. Pasta dari klungsu yang tak perlu dipanaskan itu dipakai sebagai penghalang, seperti halnya malam panas dalam proses membatik secara tradisional. “Material lilin dingin ini berupa adonan dari bubuk biji asam jawa ditambah sedikit mentega atau margarine,” ujar Ariesa Pandanwangi.

Ariesa menjelaskan, proses pembuatan adonan yang disebut gutha tamarin itu dengan cara menumbuk daging biji asam jawa. Bubuk itu setelah diberi mentega atau margarine, kemudian dituangi air panas, lantas diaduk hingga merata. Baru kemudian diberi air dingin diaduk lagi hingga kalis.

Setelah didiamkan semalam, adonan biji asam jawa ini siap untuk digunakan sebagai perintang warna sekaligus pengganti malam panas dalam proses pembatikan. Untuk menuangkan adonan di kain, digunakan contong plastik yang ujungnya dibuat lubang kecil.

Karena fungsinya sebagai perintang, maka penuangan gutha dari contong plastik ke kain tidak boleh terputus. Untuk mengeringkannya, bisa diangin-anginkan. (EP)

Kini, 75 Persen Pendapatan Industri Musik dari Streaming

this formate

CALIFORNIA, bisniswisata.co.id: Berkembangnya teknologi digital membuat banyak hal berubah, salah satunya adalah bagaimana cara orang menikmati musik. Semula, orang mendengarkan lagu-lagu kesukaan dengan membeli kaset, CD, dan produk hasil rekaman lainnya. Kini, pecinta musik lebih senang menikmati musik dari perangkat smartphone atau laptop mereka.

Lewat streaming di smartphone, orang tetap bisa mendengarkan musik di manapun dan kapanpun, termasuk saat berada di transportasi umum. Masifnya pejumlah penikmat musik lewat jalur streaming membuat hasil pendapatan industri musik kini didominasi oleh streaming.

Berdasarkan laporan yang diumumkan oleh The Recording Industry Association of America, penjualan musik lewat jalur streaming kini jauh melebihi penjualan CD fisik dan digital download.

laporan The Verge, Ahad (23/9/2018), jalur streaming termasuk di antaranya adalah langganan berbayar ke layanan seperti Spotify hingga menonton streaming video. Sekadar diketahui, pendapatan industri musik dari streaming kini mencapai 75 persen dari total industri musik. Secara angka, streaming menyumbang pendapatan sekitar US$ 3,4 miliar (setara Rp 50,3 triliun) pada industri musik.

Juga pendapatan terbesar selanjutnya disumbang dari digital download dengan rata-rata pendapatan 12 persen (US$ 2,7 miliar), diikuti dengan CD fisik dengan pendapatan sekitar 10 persen (US$ 1,7 miliar), dan lain-lain 3 persen (US$ 1 miliar).

Tingkat adopsi pengguna baru untuk streaming musik kini mencapai 1 juta pelanggan baru per bulannya. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang mendengarkan musik. Namun, tingkat pertumbuhan tersebut jauh lebih besar ketimbang kategori bisnis rekaman musik lainnya.

Pendapatan industri musik dari digital download dan pembelian CD dan kaset menurun masing-masing 27 persen dan 41 persen. Kedua metode menikmati musik ini terus menurun seiring dengan maraknya tren berbagi musik secara online. “Hadirnya streaming musik membuka banyak peluang baru, tetapi juga memiliki tantangan,” kata The Recording Industry Association of America.

“Menurut Nielsen, lebih dari 70 ribu album berbeda dirilis pada pertengahan tahun. Penikmat musik mendapat banyak pilihan, dan musik bersaing untuk mendapat perhatian pengguna dibandingkan hiburan lain di smartphone,” tutupnya. (EP)

Paralayang, Langkah Garut Dongkrak Kunjungan Wisatawan

this formate

GARUT, bisniswisata.co.id: Pariwisata Garut Jawa Barat terus melakukan inovasi. Inovasi terbaru manawarkan Paralayang. Wisata adrenalin ini diharapkan mendongkrak kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) agar berwisata ke Garut.

Berada di ketinggian 1.450 meter (mdpl), keberadaan Bukit Parama Satwika (BPS), di kaki Gunung Putri, Desa Mekarjaya Garut, memang cukup indah. Berbekal angin kencang, panorama alam yang indah dengan hamparan sawah dan pemukiman berada di bawahnya, dijamin bisa memberikan sensasi dan kesenangan tersendiri bagi pecinta olahraga ekstrem paralayang.

“Ini salah satu bukit penerbangan paling tinggi buat Paralayang. Garut patut bersyukur dengan kontur alam yang dikuasai pegunungan, selain miliki tingkat kesuburan tanah juga jadi modal berharga untuk pengembangan kawasan wisata alam terkini, khususnya paralayang,” ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna.

Awalnya, lanjut Budi seperti dilansir laman Liputan6, Ahad (23/09/2018) masyarakat Garut belum paham (dengan rencana wisata baru). Namun setelah booming dan ramai, baru mereka terbuka,” ujar dia mengenang awal mula merintis sekaligus mengenalkan olahraga itu kepada masyarakat. Untuk menikmati panorama alam di Bukit Parama, butuh perjuangan ekstra.

Sebuah ikhtiar yang sepadan dengan kepuasan yang akan dinikmati di atas salah bukti kebanggaan masyarakat Garut itu. Jalan berdebu dan berkelok, hamparan area pertanian warga, rimbunan pohon pinus plus area peternakan sapi perah milik PT Raflesia, yang berada persis di bawahnya, bakal menemani mengantarkan perjalanan anda.

Juga ratusan anak tangga menjelang di puncak bukit, seolah menjadi tantangan tambahan yang akan anda nikmati, yang pasti cucuran keringat pasti bakal membasahi pakaian anda. Namun, semua lelah seakan sirna saat pertama kali menginjakan kaki di puncak bukit. Sebuah plang besar bertuliskan Bukit Parama Satwika terpampang megah.

Tak heran, hembusan angin segar nan sejuk khas pegunungan langsung menghabiskan penderitaan perjalanan anda. Bahkan 10 menit berlalu, Liputan6.com menyaksikan sendiri sensasi itu. Anda yang baru pertama kali naik, dijamin bakal mendapatkan hal serupa. Panorama alam pegunungan yang sejuk dan asri, sambil menyaksikan pemandangan pusat kota Garut di atas gunung.

Sejak pertama kali dipopulerkan Kapolres Garut dan jajarannya enam bulan lalu, tren bukit Parama Satwika terus naik. Beberapa acara yang diinisiasi lembaga keamanan negara itu, kerap digelar di sana. Bahkan satu prasasti dengan tanda tangan Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maroto, tertanam gagah di sana.

Tak ayal, animo masyarakat untuk menyaksikan olahraga ekstrem paralayang terus bertambah setiap bulannya. “Saya sering dengar ada wisata paralayang, makanya ke sini ingin melihat langsung,” ujar Obar Sobarna (42), pengunjung asal Samarang.

Ia yang berangkat bersama dua rekan lainnya, sengaja memilih gowes alias menggunakan sepeda dunhil atau tipe sepeda yang biasa menjelajahi trek terjal seperti gunung. “Rutenya sangat menantang, naik turun dan berdebu, tapi terbayang saat berada di puncak,” puji dia dengan lega.

Menurutnya, olahraga udara paralayang itu perlu sosialisasi yang cukup luas. Selain terbilang baru bagi masyarakat ‘dodol’ Garut, juga fasilitas rute sepeda menuju puncak Bukit Parama belum tersedia. “Mungkin bisa menjadi masukan juga,” pinta dia sambil tersenyum.

Hal yang sama disampaikan Ade Hatta (45), asal Bungbulang, wilayah Garut selatan. Sejak munculnya olahraga Paralayang di Garut, ia yang naik bersama enam anggota keluarganya, mengaku penasaran merasakan sensasi berada di atas ketinggian. “Saya bukan mau naik paralayang, tapi ingin tahu Garut dari ketinggian Gunung Putri saja sambil wisata,” kata dia.

Panorama Bukit Parama, ujar dia, memberikan kebanggaan tersendiri termasuk anggota keluarga yang ia bawa, selain butuh perjuangan esktra untuk mencapainya, juga mendapatkan pengalaman berada di atas ketinggian 1.400 mdl. “Anginnya cukup kencang, tapi secara keseluruhan cukup sejuk,” kata dia.

Namun, ada hal yang perlu dibenahi yakni belum lengkapnya prasarana ibadah dan toilet dengan persediaan air yang cukup. “Tinggal bangun mushola dan warung buat jajan, pengunjung bakal ramai,” ungkap dia.

Dengan segudang keunggulannya itu, Budi berharap rintisan kawasan wisata baru yang ia bangun, bisa menjadi jalan pembuka bagi pemda Garut, untuk mengembangkan kawasan itu menjadi destinasi baru wisata alam di Garut. “Sayang jika hanya berjalan sampai sini, tinggal bangun infrastruktur pendukung, pengunjung bakal datang sendiri,” kata dia.

Saat ini, informasi wisata paralayang di Jawa Barat, masih didominasi kawasna wisata Paralayang Puncak, Kabupaten Bogor. Lokasinya yang strategis di jalur utama kawasan Puncak, membuat pengunjung lebih nyaman di sana.

Namun meskipun demikian, Ia tidak patah arang. Dengan berbagai keunggulan yang ada. Destinasi wisata alam paralayang bukit Parama Satwika Gunung Putri ini bakal berkembang. “Awal tahun depan kita akan menggelar even nasional di sini,” ujarnya.

Sehingga kawasan wisata yang tengah dikembangkan Polres Garut saat ini, bisa menjadi aternatif destinasi wisata menarik berikutnya. “Saya dengar harga tanah sekitar sini mulai naik, membuktikan kawasan ini mulai dilirik,” ujar Budi bangga.

Budi mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Mulai akses jalan yang masih tanah berdebu, kemudian penunjang lainnya yang dilakukan secara mandiri masyarakat sekitar.

Bahkan pembukaan jalan baru yang diiniasi Polres Garut pun, masih sebatas jalan tanah berdebu, belum tersentuh pembangunan sama sekali. “Mungkin saat ini lebih tepat jika menggunakan kendaraan off road,” kata dia.

Bagi anda yang menyenangi olahraga dengan ketinggian di alam terbuka. Tidak ada salahnya memasukan nama bukit indah yang satu ini, untuk merasakan sensasi menjajal nyali anda menggunakan parasut paralayang. (EP)

24-30 September 2018, Balinale International Film Festival

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali Internasional Film Festival 2018 kembali hadir. Kehadiran tahun 2018 ini lebih atraktif, lebih bagus dan lebih spektakuler karena akan menayangkan lebih dari 100 film pendek, feature film, dan film dokumenter dari 30 negara dan memberi fokus kepada sejarah industri perfilman Indonesia.

Balinale dibuka dengan film Indonesia “Sultan Agung”, yang disutradarai Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Mooryati Soedibyo. Dan penutupnya film “Shoplifters” yang disutradarai Hirozaku Kore-eda dari Jepang dan menjadi film peraih Palme dOr dalam Cannes Film Festival 2018.

Sebagai pre-event untuk Balinale, BalinaleX Industry Forum kembali digelar dan diselenggarakan di Ayodya Resort Bali, Nusa Dua, Bali pada Minggu (23/9/2018). Adapun Balinale bakal digelar pada 24-30 September 2018.

BalinaleX Industry Forum pertama kali diadakan pada 2017 dengan tujuan mempertemukan tiga pemangku keputusan utama dalam bidang perfilman, yakni pemerintah, industri kreatif, dan komersil. Acara ini memungkinkan pakar industri untuk berbagi wawasan dan berdiskusi mengenai tantangan dan peluang komersil dalam industri film, baik lokal maupun internasional.

Tahun 2018, BalinaleX kembali dengan kumpulan pakar industri perfilman seperti Hanung Bramantyo dengan karyanya mengenai pahlawan Indonesia Sultan Agung dan Shalahuddin Siregar dengan filmnya “Lima”, yang menyoroti nilai-nilai dasar Pancasila. Ada juga aktris Indonesia Cinta Laura yang akan menyediakan perspektifnya mengenai menyeberang ke arena film internasional.

Untuk menjelaskan aspek bisnis dari industri, beberapa produser diundang seperti Ody Mulia Hidayat dan Chand Parwes Servia dari Indonesia serta produser Taiwan dan Direktur Taipei Film Festival Jeane Huang. Hadir pula produser Broadway Jhett Tolentino yang telah memenangkan penghargaan Tony Award untuk karyanya.

BalinaleX juga akan menghadirkan CEO dari Global Film Solutions dan mantan kepala Film New Zealand Julian Grimmond untuk memaparkan peran Indonesia sebagai lokasi film yang menarik dan layak untuk produksi internasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Ahmad Yani dari Lembaga Sensor Film, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Maman Wijaya diundang untuk membahas regulasi lingkungan di Indonesia saat ini. Bahkan, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asean Lim Jock Hoi juga akan berdiskusi mengenai dampak film dalam level regional.

Menjadi Indonesia bersama Balinale International Film Festival di tahun ke-12 adalah momentum #KotaBadungSapaDunia. Ada 40-an delegasi dari 30 negara Amerika, Eropa dan Asia hadir dari tgl 22-30 September.

Kota Badung Bali sarat nilai historikal bersamaan World Premiere Sultan Agung The Movie bersama dengan film pahlawan lainnya seperti NYAI – Ahmad Dahlan, WAGE-Wr.Supratman dan KH.Agus Salim di Film Moonrise Over Egypt.

Ke-4 film kepahlawanan tersebut bersama 10-an lagi film Indonesia bergenre lainnya bersanding dengan 80-an film mancanegara dalam sebuah festival. Balinale 2018 memang Fokus Tokoh Kepahlawanan Indonesia, dimana akan dilakukan screening sejumlah judul film bertema Sejarah atau Kepahlawanan produksi tahun 2017-2018.

Balinale melihat pentingnya generasi Milenia Indonesia mengenal sejarah bangsa dan pahlawan Nasional-nya. Dan pertama kali penonton Festival tahun ini di ajak untuk lebih mengenal sejumlah tokoh Pahlawan Indonesia dan mengapresiasi karya Film yang selain edukatif juga menghibur. Program ini sekaligus sebagai dukungan program Edukasi Melalui Film, dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI.

Di tahun ini juga, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI mempercayakan Balinale untuk menyelenggarakan acara pendahuluan mengenai Our Ocean Conference, OOC 2018, pada tanggal 29 dan 30 Oktober di Nusa Dua, Bali, sebagai salah satu rangkaian acara Film Festival. Konferensi Kelautan Dunia ini akan dihadiri lebih dari 60 Kepala Negara.

Film Boundless Love, hasil kerjasama Produser dari Tiongkok kerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif atau BEKRAF adalah salah satu dari beberapa film yang akan ditayangkan sebagai World Premier di Balinale. Film ini kolaborasi pemeran Utama Film dari Tiongkok dengan Pemeran Wanita dari Indonesia. Dijadwalkan , selain produser dan sutradara, para pemeran utamanya akan hadir untuk Meet & Greet di LippoMall, Kuta, Bali. (redaksi@bisniswisata.co.id)