Air Niugini Mendarat di Laut, Penumpang Selamat

this formate

CHUUK, bisniswisata.co.id: Air Niugini, maskapai nasional Papua Nugini mengalami musibah. Pesawatnya jatuh ke laut saat akan mendarat di Bandara Chuuk di Weno, Mikronesia, Jumat (28/9/2018). Beruntung, seluruh penumpang dan awak yang mencapai 47 orang berhasil diselamatkan, tak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini.

“Pesawat dari Papua Nugini, seharusnya mendarat di bandara namun pesawat langsung turun dan mendarat 150 meter sebelum bandara dan turun di laut,” kata Jimmy Emilio, manajer umum Bandara Chuuk, melalui telepon.

“Kami tidak benar-benar tahu apa yang terjadi…orang-orang diselamatkan dengan perahu, 36 penumpang dan 11 awak semuanya diselamatkan, hanya pesawat yang tenggelam sekarang,” katanya.

Dia mengatakan penyebab kecelakaan itu tidak jelas. “Seseorang harus memeriksanya dan beri tahu kami. Sejauh ini, kita tidak tahu mengapa pesawat jatuh,” katanya kepada Pacific Daily News, Sabtu (28/09/2018).

Menurut Emilio, pesawat tipe Boeing 737 itu menghantam laguna yang mengelilingi pulau kecil sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Para penumpang dan awak dibawa ke rumah sakit, tetapi tidak ada luka serius yang dilaporkan.

“Saya pikir kami mendarat keras sampai saya melihat ke atas dan melihat lubang di sisi pesawat dan air masuk,” kata Bill Jaynes, seorang penumpang pesawat dalam sebuah video yang diposting Pacific Daily News.

“Saya pikir, ya, ini tidak seperti yang seharusnya terjadi. Air sedalam pinggang di kabin sebelum regu penyelamat tiba,” katanya lagi.

Video juga dipublikasikan secara online oleh Radio New Zealand. Gambar-gambar yang diunggah di Twitter menunjukkan setengah dari badan pesawat tenggelam dan dikelilingi oleh perahu kecil.

Pihak maskapai Air Niugini mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka membuat semua upaya untuk menyelamatkan penumpang dan awak pesawat.

Komisi Investigasi Kecelakaan Papua Nugini mengatakan para penyelidik akan terbang ke tempat kejadian sesegera mungkin untuk mengumpulkan bukti apa yang terjadi sebenarnya. (EP)

Riset: Mayoritas Traveler Tak Bisa Kehilangan Internet

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kaspersky Lab melakukan riset soal ketergantungan Internet selama traveling. Hasilnya sangat menarik. Mayoritas traveler tak bisa kehilangan Internet. Hasil penelitian menyebutkan terdapat 63 persen orang di seluruh dunia menggunakan smartphone-nya untuk mengambil gambar. Ada 55 persen untuk mencari jalan dari lokasi A ke B dan saat membutuhkan bantuan ada 51 persen.

Ya, mereka sangat bergantung pada perangkat miliknya, bahkan 39 persen dari responden tidak dapat membayangkan bepergian ke mana pun tanpa gawai yang dimiliki. Bayangkan ketika berada di luar negeri, tersesat, dan tidak ada satupun yang dapat dihubungi untuk diminta bantuan.

“Bayangkan kalau smartphone kita rusak, baterai habis, internet kacau. Pasti akan mimpi buruk,” tulis tim Kaspersky, perusahaan keamanan siber global, dalam keterangan tertulis, Jumat (28/09/2018).

Penelitian Kaspersky Lab menunjukkan traveler sangat tergantung kepada koneksi Internet saat bepergian. Artinya, ketika perangkat mengalami kegagalan sistem atau kehilangan koneksi, mereka dengan cepat menjadi orang-orang yang kebingungan dan tanpa arah. Fenomena ini terjadi pada satu dari enam orang saat melakukan perjalanan.

Imbasnya pun akan buruk. Mulai dari tidak dapat menemukan tempat untuk menginap, kehilangan informasi mengenai perubahan jadwal penerbangan, hingga keracunan akibat tidak dapat mencari informasi secara online mengenai tempat makan.

Bahkan, salah satu responden anonim mengungkapkan bahwa ia terjebak di gurun saat telepon pintarnya tidak berfungsi. Situasi menakutkan ini mungkin dapat diatasi jika responden memiliki koneksi. Tanpa bisa menggunakan telepon pintarnya, responden berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Terjebak di gurun memang contoh yang ekstrem, tapi tidak mendapatkan koneksi sama sekali merupakan kekhawatiran bagi banyak orang. Terdapat 84 persen responden setuju bahwa mereka akan merasa tertekan jika tersesat di lokasi yang tidak diketahui. Dan ada 39 persen responden mengkhawatirkan suatu saat kondisi tersebut terjadi pada mereka.

“Insiden tersesat di gurun pasir dan lainnya sesungguhnya dapat dihindari apabila kita lebih menjaga perangkat yang terkoneksi dengan baik. Bergantung dengan koneksi Internet sebenarnya tidak selalu menjadi hal buruk,” ujar Vice President Product Marketing Kaspersky Lab, Dmitry Aleshin.

Dengan adanya koneksi Internet, saat bepergian dia dapat menemukan jalan menuju lokasi, serta untuk mencari tempat makan dan tempat menginap. Karena ketergantungan inilah, maka sebaiknya jangan membahayakan diri sendiri karena kehilangan konektivitas saat keluar atau saat berada di tempat asing. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Kebakaran Hutan Tak Ganggu Penerbangan

this formate

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini semakin merebak, seiring musim kemarau berkepanjangan di Kalimantan Selatan (Kalsel). Beruntung Karhutla tak mengganggu kawasan Bandara Udara Syamsudin Noor Banjarmasin. Meski demikian bandara ini tetap menjadi prioritas terhadap dampak asap demi menjaga kelancaran lalu lintas udara.

“Hingga Kamis siang (27/9/2018), dilaporkan tidak ada penundaan penerbangan di wilayah ini,” papar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) KLHK, Raffles B. Panjaitan, dalam keterangan resminya, Jumat (28/09/2018).

Dilanjutkan, patroli di lokasi-lokasi yang berpotensi menimbulkan asap apabila terbakar juga diintensifkan. Sejumlah titik diantaranya di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru, Kecamatan Gambut, Kecamatan Cintapuri dan Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar serta Kecamatan Bati-bati Kabupaten Barito Kuala diantisipasi.

Saat ini, lanjut dia, penanganan karhutla di wilayah Kalsel dilakukan setiap hari, baik melalui darat maupun udara oleh tim gabungan (MA, TNI, Polri, BNPB, dan lainnya). Pemadaman udara juga disiagakan untuk mengantisipasi kejadian kebakaran di kawasan yang memiliki vegetasi mineral non gambut.

Seperti kejadian di Tahura Sultan Adam yang kerap terbakar dua minggu terakhir. “Saat ini kami siagakan 6 unit Heli di Kalsel, lima unit untuk water bombing dan satu unit untuk patroli,” ujar Raffles.

Patroli terpadu karhutla juga terus menghimbau masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan. Hal ini bertujuan untuk menekan angka karhutla terutama di wilayah yang rawan terjadi karhutla.

“Hal ini terus kami lakukan supaya tidak ada yang membakar lahan dan hutan lagi, bila tetap melakukan, siapapun pelakunya akan kami proses sesuai aturan yang berlaku,” tegas Raffles. (EP)

Laura Basuki Lirik Bisnis Kuliner

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sukses berkarier di dunia entertaiment sebagai pemain film dan model, Laura Basuki kini menjajal tantangan baru. Kali ini Aktris yang hobi travelling terjun ke dunia bisnis dengan merintis bisnis kuliner. Apa alasan Laura memilih bisnis kuliner?

Pemain film Susi Susanti-Love All ini bercerita, keinginan untuk menggeluti dunia bisnis sudah ada dalam benaknya sejak lama. Namun
Aktris yang mengawali debut di dunia film melalui Gara-gara Bola (Tahun 2008) ingin kuliner sehat. Mengingat dirinya juga menjalani gaya sehat, sampai akhirnya ia membuka restoran yang menyajikan hidangan sehat.

“Sebelumnya pengin sih punya bisnis dan kebetulan aku ngajakin teman-teman aku ini untuk buka restoran yang menunya aku juga suka,” kata artis kelahiran Berlin Jerman, 9 Januari 1988

Mengenai bisnis, Laura banyak belajar dari sang suami, Leo Sandjaja yang sudah lama berkecimpung. Ia kerap berkonsultasi mengenai bisnis sebelum akhirnya memantapkan diri membuka usaha resto. “Aku awal-awal banyak nanya sama suami seperti apa suka duka punya restoran. Dia kasih banyak masukan buat aku,” ujar ibu satu anak Owen Sandjaja.

Mengawali bisnis pertamanya, ibu satu anak ini mengaku masih keteteran. Namun demikian ia menikmati proses itu. “Ini pertama kalinya buat aku. Buat aku ini sesuatu yang bikin happy,” demikian Laura Basuki. (EP)

Shenzhen Airlines Beroperasi di Terminal 3 Bandara Soetta

this formate

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Shenzhen Airlines, maskapai asal China kini resmi beroperasi di Terminal 3, counter check-in counter check-in B24-26 Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). Shenzhen Airlines akan mendaratkan penerbangan perdananya dari Shenzhen pada Jumat (28/9/2018) sekitar pukul 01.00 WIB. Maskapai dengan pesawat jenis narrow body disambut dengan water salute.

Executive General Manager Soekarno-Hatta International Airport, M Suriawan Wakan mengatakan, langkah maskapai Tiongkok seakan menandai pertumbuhan konektivitas yang secara terus menerus meningkat dan semakin bersaing sebagai bandara di dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia.

“Peningkatan pertumbuhan terjadi karena secara terus menerus PT Angkasa Pura II melakukan pembangunan infrastruktur dalam rangka peningkatan kapasitas penumpang dan pesawat. Diantaranya pembangunan east cross taxiway, runway 3, revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2, serta pembangunan Terminal 4,” papar Wakan.

Seperti diketahui, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinobatkan sebagai bandara dengan koneksi rasio penerbangan terjadwal paling banyak. Terkoneksi kedua di Asia Pasifik dan terkoneksi ke-10 dunia, mengalahkan bandara besar seperti Incheon Korea, KLIA Malaysia dan Bandara Hongkong berdasarkan laporan Megahubs International Index 2018-The World’s Most Internationally Connected Airports yang dikeluarkan lembaga air travel intelligence asal Inggris, OAG.

Pada 2017, arus penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 63 juta penumpang yang menempatkannya sebagai bandara tersibuk ke-17 dunia. Dengan estimasi penumpang tahun 2018 yang akan mencapai 68 juta penumpang.

Berbagai investasi terus dilakukan PT Angkasa Pura II, termasuk adanya fasilitas kereta layang (Skytrain) yang terkoneksi dengan kereta bandara. Ditambah adanya perangkat-perangkat informasi dan komunikasi pelayanan yang supermodern, seperti e-parking, crowd management system, free wifi, self check-in (on progress), digital banner, e-kiosk wayfinding, body scanner, autogate imigrasi, trolley management system serta e-survey toilet.

Hal itu tentu telah mampu menarik perhatian pebisnis. “Para pelaku bisnis penerbangan tentu mengamati peningkatan pelayanan kami selama ini. Secara terus menerus kami mengoptimalkan pelayanan,” sambung Wakan. (EP)

Pagelaran Wayang Golek Perkuat Eksistensi Kampung Terban Sebagai Kampung Budaya

this formate

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Dinas Kebudayaan Kota Jogja dan  Paguyuban Dalang Muda Jogjakarta di bawah Pepadi menggelar wayang golek di gedung LPKN kelurahan Terban untuk menghidupkan Kampung Terban sebagai kampung budaya, semalam.

Menghadirkan dalang Ki Gondo Suharno, sebelum acara di mulai pentas pagelaran wayang golek juga tampilkan dua dalang cilik Jogja untuk pelertarian warisan budaya pada generasi muda

Pentas pembukaan wayang golek menak oleh dalang cilik yaitu Ragil Jalu Pangestu dengan judul Maktal Manungkul, dilanjutkan oleh  Ki Ratnanto Adi Putro Wicaksono,dan Kii Gondo Suharno dengan judul Ampak-ampak Pringgodani,

Ampak-ampak pringgodani menceritakan kisah sang Gathotkaca, ketika jiwa kesatria muda dituntut untuk membuktikan pengabdian,maka dia harus berjuang dan berkorban.

Gathotkaca harus mengembalikan kepemimpinan dan kepercayaan di singgasana Pringgodani. Namun cobaan harus teratasi,  kabut tebal menghadang harus disibakan untuk kejayaan Pringgodani. Walaupun pengorbanan harus di lakukan demi tersingkapnya kabut Prenggodani hingga tercapai ketentraman.

Acara yang dihadiri dan di buka  oleh Walikota Jogjakarta, Haryadi Suyuti, dan ada tamu dari manca negara di samping dihadiri oleh pak camat pak lurah,pak dukuh dan warga kampung Terban dan penonton dari luar kota.

Mereka sangat antusias menonton pertunjukan pagelaran wayang golek, karena pentas wayang golek sendiri sangat jarang di pentaskan di Jogjakarta,bahkan hampir langka pementasannya,

Harapan diadakan pentas pertunjukan wayang supaya regenerasi bangsa tetep mencintai budaya warisan leluhur yang luar biasa. “Jangan sampai warisan budaya leluhur yang luar biasa di klaim lagi oleh nengara lain,” kata Haryadi yang hadir bersama tamunya dari Belanda.

“ Di dalam pagelaran wayang petuah-petuahnya sangat luar biasa sekali mengajarkan budi pekerti yang luhur mencintai bangsa dan tanah air, dan selalu menjaga persatuan dan perdamaian. Ingatlah bagwa bangsa yang besar adalah yang mencintai budaya warisan.

Laporan: Satrio Purnomo

PWI Road to Campus Ingatkan Generasi Milenial Bijak Gunakan Medsos

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: PWI Road to Campus menjadi pembuka rangkaian acara Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2018, diawali dengan seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS) membidik calon generasi penerus dari kalangan kampus.

Sekjen PWI, Hendry Ch Bangun berharap PWI Road to campus bisa memberikan wawasan kepada mahasiswa dan mendapatkan pengalaman berharga.

“Sesuai dengan tema ‘Yang muda yang berkarya, menjadi generasi milineal kreatif optimistis, Kongres PWI di Solo ini adalah kilas balik karena disinilah PWI berdiri,” Ujar Hendry saat sampaikan kata sambutan.

Acara dibuka oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS)  Dr. Sofyan Anif M.Si yang mengaku juga mantan jurnalis di bangku kuliah dan menyambut baik kegiatan PWI Road to Campus apalagi Indonesia menghadapi tahun politik.

“ Tema kongres PWI menunjukkan bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya. Tapi dalam kondisi politik saat ini maka saya harus tambahkan bahwa bangsa yang besar tergantung dari jurnalisnya yang profesional, tambahnya.

Wartawan memiliki fungsi dan peran strategis dalam pembangunan suatu negara, apalagi ditengah alam demokrasi yang mulai carut marut. Oleh karena itu jurnalis profesional tulisannya mampu mengedukasi masyarakat dengan karakter kebangsaan yang kuat.

“Yang jelas seminar nasional ini akan memotivasi para jurnalis muda untuk profesional bukan  masuk kepusaran kepentingan kelompok,” ujar Rektor Dr. Sofyan Anif M.Si.

Rektor UMS, Dr Sofyan Anif M si saat membuka acara seminar PWI Road to Campus

Seminar nasional di UMS ini dihadiri mahasiswa berbagai jurusan,  para akademisi dan delegasi jurnalis dari seluruh daerah Indonesia pun turut hadir dalam seminar.

Ada empat narasumber yang dihadirkan dalam acara ini, diantaranya adalah Meidyatama Suryodiningrat selaku Direktur Utama LKBN Antara, Agus Sudibyo yang menjabat sebagai direktur Media Watch Indonesia, Agung Yudha dari Twitter Indonesia, dan Fikar R Mohammad yang merupakan CEO Cekricek.com.

Agung Yudha, Kepala Kebijakan Publik Twitter Indonesia,membahas tema “Your tweet is your CV,”. Dia mengungkapkan bahwa 65% pengguna Twitter menggunakan jejaring sosial itu sejak bangun tidur untuk update dengan topik-topik yang mendunia.

“Soalnya pada saat seleksi di dunia kerja maka media sosial akan dipantau oleh HRD atau pun petugas rekruitmen pegawai yang nantinya menentukan lolos atau tidaknya para pelamar.

Isi media sosial adalah cerminan jati diri masing-masing pengguna dan semua  orang bisa membacanya banyak hal, mulai masalah kantor sampai urusan pribadi, mulai  yang sangat sepele sampai yang berat.

Oleh karena itu bagi pengguna media sosial, Agung Yudha menekankan pentingnya untuk selalu mengecek kebenaran dari setiap berita yang hendak diposting. Dia juga mengingatkan bagi para kaum milenial untuk selalu berhati-hati dalam bertutur kata di dunia maya.

Nara sumber lainnya,  Fikar R Mohammad, CEO Cek & Ricek.com yang memiliki 7 perusahaan lainnya mengatakan jangan bangun dari tidur karena ingin pencitraan dan update status di media sosial.

“Bangunlah ketika Anda merasa bermanfaat untuk orang lain dan mampu berbuat kebaikan karena uang bukan segalanya. Hidup bahagia dan  bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga barulah bisa menjadi ukuran orang di sebut sukses,” ungkap Fikar, alumni ITB yang baru berusia 27 tahun.

Fikar R.Mohammad, CEO Cek & Ricek.com

Dia juga menegaskan pentingnya keterampilan berbicara di khalayak umum. Agar semua ide kita bisa tersampaikan dengan sempurna pada orang lain dan tidak terjadi miss informasi.

Fikar memberikan contoh kasus tentang masih banyaknya orang yang tidak paham global warming, padahal ada banyak ilmuwan yang mengerti secara mendalam kasus ini.

Tapi sayangnya mereka tidak punya keterampilan berbicara di depan umum, yang menyebabkan masih banyak orang yang tidak paham global warming.

Direktur Utama LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat menginginkan agar banyak generasi muda tertarik pada dunia jurnalisme. Namun para pemain media sosial seperti blogger dan wartawan tidak asal mengutip informasi di internet karena banyak informasi yang tidak akurat.

“Verifikasi, verifikasi, dan verifikasi fakta dan data adalah tugas utama wartawan. Bukan mengutip informasi sana-sini yang belum jelas kebenarannya,”  kata Meidyatama.

Jadi, ujarnya, yang terpenting adalah setiap wartawan perlu melakukan verifikasi berkali-kali agar apa yang disampaikan tetap terjaga validitasnya, tidak menjadi berita hoax.

Nara sumber yang terakhir, Agus Sudibyo, Direktur Media Watch Indonesia menjelaskan bahwa kini masyarakat Indonesia sudah terikat dengan ponsel atau smartphone.

“Sekarang, masyarakat Indonesia bisa dikatakan sebagai homo digitalis, manusia yang menjalani hidupnya serba digital. Jumlah smartphone di Indonesia sekitar 310 juta, lebih besar dari jumlah penduduknya” kata Agus.

Ketergantungan yang kuat pada smartphone, internet dan media sosial ini membuat pakar komunikasi di AS menyatakan masyarakat dunia telah menjadi budak dari tekhnologi.

“Repotnya lagi banyak yang tidak menyadari bahwa dia sudah mejadi budak tekhnologi bukan menguasai tekhnologi. Maka pilihannya ada pada kita sendiri karena dalam standar kesehatan maka paling lama membuka media sosial selama 3 jam 45 menit saja,” tegas Agus.

 

Sarasehan PWI Fokus Kedepankan Sisi Kebangsaan di Dunia Pers

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Sarasehan Nasional bertajuk Pers Kebangsaan dan Pembangunan di Era Digital” di Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah, menyoroti pentingnya mengedepankan sisi kebangsaan di dunia pers.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia ( GAPKI) misalnya merasakan rawannya bisnis kelapa sawit di Indonedia dari serangan beragam isu negatif yang dilakukan oleh pers asing.

Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI mengatakan, pihaknya menyampaikan terima kasih kepada jajaran pers di seluruh Indonesia karena dukungan positif selama ini akan memperkokoh posisi Indonesia sebagai produsen dan eksporter minyak sawit terbesar di dunia.

“Pemberitaan pers Indonesia tentang isu-isu sawit sudah sangat positif dan obyektif,” kata Joko Supriyono saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Nasional “Pers Kebangsaan dan Pembangunan pada Era Digital” di Monumen Pers Nasional di Solo, hari ini.

Joko mengatakan, tahun 2017, ekspor sawit menyumbang devisa USD 22,9 miliar atau lebih dari Rp 300 triliun. Ada 17 juta masyarakat Indonesia yang hidup dari sektor kelapa sawit, baik sebagai pekerja maupun petani sawit.

Sebagai industri strategis sudah semestinya pers mendukung keberadaan sektor kelapa sawit. Apalagi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan defisit neraca perdagangan, ekspor sawit bisa menjadi penyelemat ekonomi nasional.

“Ini menyangkut nasionalisme sebagai bangsa, bukan sekadar kepentingan pengusaha atau industri, “ ungkap Joko yang menjadi nara sumber bersama Dirut TVRI Helmy Yahya dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Pada sarasehan menyambut Kongres XXIV PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tersebut, Joko membandingkan pemberitaan media nasional dengan media-media Barat yang notabene adalah produsen minyak nabati pesaing sawit.

“Kami yakin pemberitaan media asing yang mendiskreditkan sawit tidak berdiri sendiri. Tapi bagian dari kepentingan negara maju untuk mengalahkan sawit dalam persaingan minyak nabati global. Ini masalah ekonomi yang berbingkai dengan kepentingan politik bisnis masing-masing negara,” kata Joko.

GAPKI yang mewakili perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan terus memperkuat kerja sama dengan lembaga-lembaga pers di Indonesia. Sehingga persepsi positif sawit semakin menyebar luas di kalangan masyarakat, termasuk para netizen.

Menurut dia,  dukungan kalangan pers kepada sektor persawitan nasional bakal makin konstruktif ketika dunia pers nasional memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang masalah ini.

Memupuk rasa kebangsaan juga menjadi strategi Helmy Yahya untuk mengembalikan kejayaan TVRI sebagai stasiun televisi pertama milik bangsa yang sempat hilang di era digitalisasi.

Beragam upaya dilakukan mulai dari mengganti seragam hingga menampilkan film-film hits tahun 1970 an seperti Little House on The Prairy, Oshin dan  Keluarga Cemara.

Tampil blak-blakan, Helmi bercerita bagaimana susahnya mengembalikan TVRI dengan segala keterbatasan, terutama pembiayaan.

“Anggaran kami sebagai BUMN hanya Rp. 800 milyar atau kalau kita bandingkan dengan stasiun TV yang besar, jumlah itu dana satu atau dua minggu TV lain yang setara setahun TVRI,” ujar Helmi.

Helmy Yahya ( kanan) siaran langsung usai Sarasehan di kongres PWI ke 24 di Solo. ( foto: HSS)

Di era milenial ini para presenter juga seharusnya dari kalanga muda. Namun faktanya sumber daya manusia yang dikatakannya sudah berumur dan mendekati usia pensiun mencapai 51% dari pegawai dan PNS di TVRI sudah berusia di atas 50 tahun atau sudah sebentar lagi pensiun, ungkapnya.

Meski begitu, sambung Helmi, keterbatasan tidak menyurutkan semangat TVRI untuk kembali berjaya dan untuk menggaet generasi milenial, pihaknya terus melakukan pengemasan ulang untuk promosi kepada masyarakat.

“Untuk mengembalikan kejayaan TVRI kami pakai tagar #KamiKembali dan kami terus lakukan re-branding dengan mengajak generasi milenial,”

Dahulu kala TVRI berada di jajaran paling atas dan sekarang di posisi paling bawah sehingga pihaknya  berusaha merebut kembali kejayaan di masa lalu itu, kata Helmy yang pernah dikenal sebagai “raja kuis” di berbagai televisi swasta.

“Langkah awal membangun rasa percaya diri di internal a.l mengganti seragam kami menjadi warna hitam. Dan dalam waktu singkat akan berganti logo. Kami berusaha bangkit, karena TVRI satu-satunya televisi yang memiliki jangkauan terluas secara nasional. Rating iklan kami pun sudah mulai diperhitungkan,” ujar Helmy.

TVRI pantas ditonton berbagai kalangan usia, karena programnya terdiri atas 40 persen berita (news) dan masing-masing 30 persen pendidikan dan 30 persen infotainment. “Kami pun bebas berita hoax, jadi berita dan program kami pantas ditonton kalangan berbagai usia termasuk kanak-kanak, tegasnya.

Selain Helmy, dalam seminar sehari itu, hadir juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berbicara panjang lebar tentang hubungan media dan kalangan pemerintah.

Ganjar yang menyatakan bahwa istrinya juga mantan wartawan menghilangkan tradisi amplop bagi wartawan dengan membuat lomba-lomba menulis dengan beragam hadiah sesuai dengan kebutuhan wartawan.

Ganjar mengingatkan untuk mensikapi realitas kehidupan saat ini dan kemudian dihubungkan dalam dunia pers, sebenarnya perlu nilai yang dipegang yakni National Interest yakni Pancasila yang harus menjadi acuan semua anak bangsa.

Pihaknya menggambarkan, ketika bicara konflik antar warga yang mengandung sensitifitas keyakinan, ingat Indonesia memiliki asas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila.

Kemudian apabila ada kelompok ataupun daerah yang sedang berduka seperti Gempa Palu maka Indonesia memiliki asas kemanusiaan yang Adil dan beradab dan menjadi dasar untuk tolong-menolong.

National interest itu yang perlu diimplementasikan dalam dinamika  pers. Apakah mau bangsa ini dipecah belah, antar kelompok mau ditabrakan? Jangan mau,” kata Ganjar Pranowo.

Itulah sebabnya media nasional harus defend pemberitaan negatif tersebut dengan pemberitaan positif yang dari pers nasional dengan menghasilkan berita yang sesuai data, fakta, positif  membanggakan dan memberikan harapan optimisme bagi bangsa.


Desa Wisata Kulon Progo Masuk Ranah Digital

this formate

KULON PROGO, bisniswisata.co.id: Organisasi biro perjalanan wisata atau Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta mendampingi Desa Wisata Nglinggo Barat, Kulon Progo, dalam melakukan digitalisasi potensi wisata di sana.

Pendampingan Desa Wisata Nglinggo Barat itu dilakukan lewat program ASITA Jogja Tourism Festival. “Desa Wisata Nglinggo ini contoh satu desa wisata yang siap dengan alam dan berbagai atraksinya sehingga tinggal dipoles untuk layanan digitalisasinya,” ujar Ketua ASITA DIY Sudiyanto.

Selama ini, Desa Wisata Nglinggo terkenal dengan keindahan alamnya. Di sana terdapat kebun teh dan kopi, hutan pinus, wisata trekking, dan paket off-road. Selain itu, wisatawan bisa belajar membuat gula aren, memetik teh dan kopi, hingga ikut latihan menari kesenian Lengger Tapeng bersama sanggar masyarakat.

Dari potensi itu, kata Sudiyanto seperti dilansir laman Tempo, Kamis (27/09/2018), ASITA DIY menggandeng Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan operator seluler Smartfren menggarap program digitalisasi Desa Nglinggo di tiga bidang.

Pertama, melakukan pemasangan spot Wi-Fi di sejumlah titik di kawasan desa untuk menyediakan layanan jaringan Internet nirkabel. Kedua, pemasangan informasi QR Code di spot Desa Wisata Nglinggo Barat. Fasilitas ini memungkinkan pengunjung, yang butuh informasi tentang desa wisata, bisa langsung melakukan screening QR Code yang dipasang di beberapa titik desa lewat aplikasi di gawainya.

Ketiga, membuat platform marketplace berbasis website di www.jogjatourismfestival.com. Platform ini bertujuan agar semua stakeholder pariwisata bisa mengisi, mempromosikan, dan menjual produknya di laman itu.

Sudiyanto menuturkan program ASITA Jogja Tourism Festival mulai diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Pariwisata Sedunia atau World Tourism Day, yang jatuh pada Kamis, 27 September 2018.

“Desa Nglinggo sebagai starting poin untuk selanjutnya program ini diperluas ke desa wisata lain DIY. Tujuannya, sektor pariwisatanya kian tergarap dan memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya,” ucap Sudiyanto. (EP)

Tarian Mentawai Terinspirasi dari Alam

this formate

MENTAWAI, bisniswisata.co.id: Malam semakin larut ketika seorang pembawa acara meminta Sanggar Uma Jaraik Sikerei mengambil tempat di atas panggung guna menampilkan kesenian tradisional khas Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Diantara beberapa penari, ada sikerei atau dukun tradisional masyarakat adat Mentawai mulai mengambil tempat yang kemudian diiringi oleh tiga orang pemusik.

Pemusik duduk berbaris di belakang penari. Masing-masing memegang gajeuma, gendang khas Mentawai gunakan kulit ular atau biawak sebagai sumber bunyi. Sikerei bertindak sebagai penari, tampil dengan mengenakan pakaian adat dengan berbagai kelengkapan, perlahan mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik dihasilkan dari gajeuma, sesekali menghentakkan kaki ke lantai kayu sehingga jadi instrumen tambahan.

Dentuman irama gendang khas musik primitif dengan ritme berulang dan datar, yang biasa digunakan untuk keperluan ritual tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang menyaksikan. Tarian tradisional bagi masyarakat Mentawai dikenal dengan Turuk Laggai itu, sesekali diiringi dengan nyanyian dalam bahasa setempat yang dilantunkan penari.

Selain hentakan kaki seirama, sesekali mereka mengembangkan lengan menyerupai burung. Di ujung jari mereka, tepatnya di antara telunjuk dan jari manis terselip sehelai daun yang tumbuh di Mentawai.

Selain di sela-sela jari, dedaunan juga dipasangkan pada beberapa bagian lain di tubuh, seperti pada lengan, dan di bagian belakang tubuh, dedaunan tersebut disematkan pada cawat atau kabit yang merupakan pakaian tradisional masyarakat Mentawai.

Sebagai sikerei, hampir seluruh tubuh para penari tersebut dihiasi tato tradisional, di bagian kepala, mereka mengenakan luat, ikat kepala yang terbuat dari manik-manik, serta jara-jara yang dipasangkan di belakang kepala serupa rambut tambahan.

Pada bagian leher terdapat tuddak yang menyerupai kalung, kalung itu pun tidak dapat dikenakan oleh sembarang orang, hanya sikerei lah yang diperkenankan mengenakannya.

Selain mengenakan cawat atau kabit, pada bagian pinggang penari juga dikenakan sabok, serupa kain penutup dari pinggang hingga lutut dengan motif garis-garis yang memadukan warna merah, putih dan hitam. Sementara pada bagian lengan atas terdapat lekkau yang juga berguna untuk menyelipkan dedaunan.

Pada penampilan turuk, jumlah peserta tidak dibatasi, akan tetapi biasanya tidak dilakukan oleh terlalu banyak orang, karena jika terlalu ramai, maka irama hentakan kaki di lantai akan terlalu ramai sehingga berpengaruh pada estetika bunyi.

“Siapa pun boleh menampilkan turuk, akan tetapi sikerei adalah orang yang diwajibkan menguasainya, sebab turuk juga dipergunakan dalam ritual pengobatan,” tutur pelatih seni di Sanggar Uma Jaraik Sikerei, Mateus Sakukuret seperti dilansir laman Liputan6.com, Kamis (27/09/2018).

Belajar dari alam pada pertunjukan turuk yang ditampilkan oleh tiga orang sikerei asal Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan tersebut, terdapat dua macam turuk yang ditampilkan, yaitu Turuk Uliyat Manyang dan Tutuk Uliyat Bilou.

Pada dasarnya, turuk memiliki arti tarian, uliyat dapat diartikan menyerupai dan manyang berarti camar, dengan demikian Turuk Uliyat Manyang dapat diartikan sebagai tarian yang menyerupai burung camar. Begitu juga dengan Turuk Uliyat Bilou, yaitu tarian yang menyerupai bilou. Bilou sendiri merupakan primata yang menjadi endemik Kepulauan Mentawai.

Terinspirasi dan belajar dari alam sejak dahulu kala, turuk yang ditarikan oleh Sikerei Ailekkok Satoleuru, Sikerei Pangarita Tasiritoitet dan Sikerei Aikub Sakalio itu mencerminkan betapa erat hubungan antara manusia dengan alam di sekitarnya.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Mentawai hidup dan menggantungkan kehidupan mereka dari hutan, sehingga interaksi antara manusia dan hutan menjadi begitu intens dam ikut mempengaruhi kebudayaan masyarakat. “Biasanya masyarakat Mentawai itu beraktifitas di hutan dan bertemu dengan berbagai macam tumbuhan dan binatang, sehingga hal itu menjadi inspirasi dalam menciptakan tarian,” ujar Mateus.

Pada gerakan Turuk Uliyat Manyang, beberapa gerakan yang terlihat menyerupai burung adalah ketika para penari mengibaskan tangan, serupa seekor burung yang mengepakkan sayap ketika terbang. Gerakan lain juga diperlihatkan bagaimana seekor burung yang sedang bercengkrama ketika mencari makanan. Begitu juga dengan gerakan pada Turuk Uliyat Bilou. (EP)