JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2020 turun sebesar 45,50 persen dibandingkan bulan Februari 2020. Dibandingkan pada Maret 2019, jumlah kunjungan wisman pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 64,11 persen.
Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebagai dampak pandemi COVID-19 sesuai perkiraan sebagaimana terjadi juga di negara lain. “Pariwisata merupakan sektor pertama dan paling terdampak atas pandemi COVID-19 ” kata Menparekraf Whisnutama Kusubandio, hari ini.
Itulah sebabnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif fokus melakukan mitigasi dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus mempersiapkan program dan strategi dalam menghadapinya untuk bangkit pascapandemi, tambahnya.
“Secara kumulatif pada Januari hingga Maret 2020, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 2,61 juta kunjungan atau turun 30,62 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 3,76 juta kunjungan,” kata Wishnutama.
Penurunan ini sudah dapat diperkirakan mengingat langkah-langkah pemerintah Indonesia dan juga pemerintah negara penyumbang wisman potensial ke Indonesia yang memutuskan menutup akses keluar-masuk negaranya demi pencegahan penyebaran COVID-19.
“Kemenparekraf sendiri saat ini fokus dalam upaya bersama mencegah penyebaran COVID-19 serta memastikan dan menjalankan langkah mitigasi dampak dari pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,”
Banyak langkah yang telah dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf, baik dengan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait maupun program mandiri Kemenparekraf yang semuanya memfokuskan terhadap pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Program-program yang membantu pekerja dan pengusaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan terus dilakukan, termasuk memberi usulan pada kementerian/lembaga lain dalam menjaga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama.
Untuk itu dia mengajak partisipasi aktif para pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk sama-sama berjuang dan tetap optimis guna membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi. Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga memperkirakan akan terjadi booming pariwisata usai pandemi COVID-19 teratasi.
“Pembangunan pariwisata ke depan, kita akan fokuskan ke hal-hal yang sangat prinsip guna mengantisipasi tren dan paradigma baru pariwisata atau yang dikenal ‘new normal’ yang lebih peduli pada masalah sanitasi dan higienitas, misalnya. Termasuk meningkatkan pendekatan teknologi dan digital dalam layanan wisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya
Ia mengatakan, menurunnya kinerja sektor pariwisata tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Penutupan batas kota atau negara mengakibatkan tidak beroperasinya banyak rute penerbangan sehingga aktivitas pariwisata pun mandek.
Dalam kondisi pandemi ini, Kemenparekraf dalam batas kewenangannya telah berupaya turut serta memutus rantai penyebaran virus dan mengakhiri pandemi ini, salah satunya dengan menyediakan fasilitas transportasi dan akomodasi bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan. Hal itu juga sejalan dengan upaya membantu pekerja sektor parekraf agar tetap terasa geliatnya di tengah perjuangan melawan COVID-19.
“Kami menyadari bahwa ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh satu pihak semata, tetapi kita semua sebagai satu bangsa harus bersatu untuk Bersama Jaga Indonesia,” kata wishnutama
Seorang anak belajar membajak sawah di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. ( Foto- foto : desawisatapentingsari.com)
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Desa wisata Pentingsari, Yogyakarta pada hari-hari biasa menjadi tujuan wisata edukasi mulai dari murid TK hingga mahasiswa, karyawan perusahaan hingga Aparat Sipil Negara ( ASN) dari berbagai provinsi di tanah air untuk melakukan study banding. Di samping kunjungan wisatawan nusantara maupun maupun mancanegara.
Maklum Pentingsari adalah pelopor desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga sebelum pandemi global COVID-19 merajalela ke 217 negara, maka pengelola Pentingsari harus membuat daftar tunggu 3-6 bulan untuk mengikuti kegiatan Live In di desa ini.
Kini setelah nyaris dua bulan kehilangan tamu karena protokol kesehatan masyarakat harus belajar, bekerja dan beribadah di rumah serta kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) PSBB, Pentingsari kembali pada kehidupan desa yang sunyi.
” Terus terang ‘ ruh’ desa wisata ini memang program Live in, jadi begitu virus Corona melanda dunia dan tidak ada lagi rombongan yang datang kami kehilangan celoteh riang anak-anak dan gelak tawa mereka,” kata Doto Yogantoro, Penggagas Desa Wisata Pentingsari.
Doto mengatakan, pada 2008 warga mulai membangun mimpi dengan langkah kecil yaitu mengembangkan Desa Wisata Pentingsari dengan harapan dapat menambah nilai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
Doto Yogantoro, pendiri dan pengelola Desa Wisata Pentingsari
Tahun 2019 lalu Pentingsari melayani sedikitnya 22.000 orang wisatawan dalam dan luar negri dengan perputaran uang sekitar Rp 2,2 milyar dari beragam program pilihan Live in , homestay, camping maupun outbound, tambah Doto Yogantoro.
Alumnus Institut Pertanian Bogor ( IPB) ini menjelaskan dari total 140 KK atau 400 jiwa warga Desa Pentingsari, maka yang terlibat langsung sebagai pengelola desa maupun sebagai pemilik homestay ada 100 orang/60 KK. Sementara yang tidak terlibat langsung sekitar 100 orang juga dari 30 KK. Sisanya adalah kelompok mitra yang menyiapkan atraksi dan kegiatan penunjang lainnya untuk kebutuhan tamu.
Saat terjadi wabah global ini, ungkap Doto, karena desa wisata bukan tumpuan utama untuk pendapatan maka warga merasa lebih sebagai kehilangan bonus penghasilan dari aktivitas wisatanya saja dan kehilangan ruh keceriaan para tamu.
” Untuk ketahanan pangan di desa kami masih punya aktivitas di desa sebagai petani, pegawai dan wirausaha lainnya yang memang dari awal sudah menjadi kegiatan semula. Kami lebih menjaga ketahanan sosial budaya desa, saling membantu dan mencari alternatif ketahanan pangan,” ungkapnya.
Bahkan di desa seperti di ibukota provinsi, warga juga mengumpulkan donasi dari masyarakat yang mampu ke keluarga yang kurang mampu. Mereka dengan sendirinya mengurangi pengeluaran sekunder yang tidak perlu demi menjaga ketahanan pangan para tetangganya, kata Doto yang juga Ketua Forkom Desa Wisata Kabupaten Sleman.
Doto sendiri yang kerap diundang ke berbagai daerah sebagai nara sumber dan pembicara ahli untuk mengembangkan desa wisata di tanah air menyikapi musibah ini sebagai introspeksi ke dalam, bahwa desa wisata mandiripun tetap merupakan bagian dari ekosistem yang saling terkait dan saling membutuhkan
“Pengalaman spiritual saya bahwa hidup ini perlu adanya keseimbangan baik secara ekonomi, sosial dan budaya serta kata “cukup” untuk tidak mengeksploitasi kehidupan. Jadi dalam kondisi seperti saat ini saya tidak merasa terlalu kehilangan rejeki materi yang mungkin belum menjadi hak kita ”
Musibah hanya bersifat sementara dan dia beruntung pernah melakukan banyak perjalanan sehingga masih bisa menghibur dengan saling menyapa kawan kawan dari berbagai daedariyang desa wisatanya juga sementara waktu kehilangan tamu.
Desa wisata harus tetap berjalan namun dengan tidak melupakan jati diri sebagai desa yang lebih kuat sebagai komunitas sosial, budaya dan tidak harus disamakan pengembangannya ditiap daerah tapi sesuai karakternya masing-masing saja.
Banjir penghargaan
Berawal dari dusun miskin di antara desa-desa di lereng Gunung Merapi dengan tingkat ekonomi dan pendapatan yang relatif rendah serta kehidupan warga desa yang masih sederhana. Doto bersyukur Pentingsari terus bergeliat maju sebagai salah satu desa wisata di Yogyakarta.
Berbagai prestasi pun sukses diraih, antara lain Juara II Festival Desa Wisata Kabupaten Sleman Tahun 2018 untuk Kategori Desa Wisata Mandiri. Kemudian Best Practise Tourism Ethics (UNWTO) 2011, ISTA 2017 (Green Bronze Benefit Economi Katagori), dan Green Destination Award Netherland Nomination 2019.
Desa Pentingsari terletak di lereng Gunung Merapi, sekitar 22,5 km dari pusat kota. Mengangkat tema Desa Ramah Lingkungan Kebudayaan dan Pertanian, Pentingsari menawarkan kegiatan wisata pengalaman dalam bentuk pembelajaran dan interaksi.
Khususnya tentang alam, lingkungan, pertanian, perkebunan, kewirausahaan, kehidupan sosial-budaya, dan berbagai seni tradisional, serta kearifan lokal yang masih sangat mengakar di masyarakat.
Kegiatan outbond dan Live In dari segala usia di Desa Wisata Pentingsari
Banyak pelajar mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga mahasiswa juga datang dengan tujuan mengikuti program Live In, merasakan tinggal di desa dan beraktivitas bersama pengelola dan warga setempat selama 1-3 hari atau sesuai kebutuhannya.
Kalangan perguruan tinggi dan perusahaan juga banyak yang mengikuti paket Live In di desa wisata ini mengikuti kegiatan outing atau gathering untuk perusahaan. Banyak perusahaan besar menggunakan kegiatan wisata pedesaaan ini untuk refeshing karyawannya.
Kegiatannya menggabungkan kegiatan tour, fun game (team work, teambuilding, leadhership, comunication, motivation) untuk menumbuhkan jiwa sosial kemasyarakatan dan kental unsur pendidikan bagi karyawan tersebut.
Kondisi lingkungan di desa wisata ini masih sangat alami hembusan udara yang sejuk, rindangnya berbagai jenis tanaman, riuhnya suara ocehan burung di alam bebas, ramahnya penduduk desa bisa dijumpai di sepanjang jalan dusun Pentingsari.
Sementara di sisi yang lain hamparan sawah, berbagai jenis tamanan sayur-sayuran yang sudah dikelola dengan sistem yang baik oleh penduduk memberi warna keindahan tersendiri Desa Wisata Pentingsari.
Tak heran kegiatan outbond di alam terbuka menjadi andalan karena outbond ini suatu bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori.
Peserta menerapkan langsung elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Dimensi alam sebagai objek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya
Tak heran untuk melayani beragam segment wisatawan yang datang terutama untuk program Live In daftar tunggunya bisa 3-6 bulan baru bisa dilayani oleh pengelola desa wisata Pentingsari. Sementara untuk program satu haripun peminat terutama yang datang berombongan juga punya daftar tunggu.
Menuju desa wisata Pentingsari bisa di tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan dari kota Jogja. Dari Jogja ke utara melintasi di Jalan Kaliurang. kemudian setelah sampai perempatan Pakem, belok ke kanan (timur) menuju rumah makan Morolejar. jalan menajak dan terus naik lagi sekitar 2 km di sebelah kiri jalan sudah ada plang petunjuknya desa wisata Pentingsari.
Desa ini tepatnya disebut Dusun Pentingsari berbentuk seperti semenanjung dimana sebelah barat terdapat lembah yang sangat curam yaitu kali Kuning dan sebelah selatan terdapat lembah yang berupa Goa Ledok / Ponteng.
Di sebelah timur Gondoran terdapat lembah yang curam yaitu Kali Pawon dan sebelah utara merupakan dataran yang dapat berhubungan langsung dengan tanah di sekeliling kelurahan Umbulharjo sampai ke pelataran gunung Merapi. Dusun Pentingsari terdiri dari dua dusun yaitu Bonorejo dan Pentingsari.
Keunikan Pentingsari lainnya adalah obyek wisata Pancuran Suci Sendangsari yang dipercaya oleh masyarakat dusun Pentingsari dan sekitarnya sebagai tempat bertemunya Dewi Nawang Wulan dan Joko Tarup yang melegenda.
Air pancuran dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat awet muda dengan minum atau cuci muka dengan air ini. Lokasi obyek ini sangat kental dengan nuansa mistis dan nuansa keindahan lembah sungai kuning.
Obyek lainnya adalah Luweng, merupakan salah satu bukti betapa luasnya perjuangan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah Belanda di Yogyakarta , luweng pada saat itu digunakan sebagai alat masak warga dusun Pentingsari dalam menyediakan konsumsi bagi tentara Pangeran Diponegoro, disamping sebagai tempat persembunyian bila dalam posisi terdesak.
Ada pula Rumah Joglo, rumah adat di DIY dan Jawa Tengah yang berada di poros Desa Wisata Pentingsari. Disamping menampilkan karakteristik keindahan dan budaya di rumah Joglo ini dapat digunakan sebagai tempat pertemuan, diklat, pentas seni dan budaya
Daya tarik lainnya adalah Batu dakon yang konon masih ada kaitanya dengan obyek Luweng. Batu ini dipercaya sebagai tempat mengatur setrategi perang dan meramal nasib pada waktu perjuangan mengusir penjajah Belanda.
Sedangkan Batu Persembahan dipercaya digunakan sebagai tempat persembahan kepada ular besar yang singgah di Ponteng. Dipercaya sebagai anak dari Baru Klinting yang singgah di Gunung Merapi, bentuk persembahan dipercaya seekor kera yang datang dari Gunung Merapi tiap bulan Suro ( bulan jawa)
Nah obyek lainnya adalah Ponteng, tempat pertemuan sungai Kuning dan Sungai Pawon ( tempuran ) di Ujung Selatan Dusun Pentingsari di percaya ada sebuah goa sebagai tempat singgahnya ular besar anak dari baruklinting.
Kondisi alam di Desa Wisata Pentingsari yang diapait oleh Dua Sungai (Sungai Pawon dan Sungai Kuning ) sangat cocok untuk trakking remaja, anak-anak,dewasa dan orang tua dengan melewati jalur susur sungai, melewati hamparan sawah, naik turun tebing dengan terowongan yang sangat unik dan indah, melewati rindangnya berbagai jenis tanaman kehutanan.
Nah, terbayangkan kalau tidak ada lagi wabah Corona mengapa Pentingsari tetap dirindukan oleh berbagai kalangan ?. Yuk stay at home traveling tomorrow, tetap di rumah dulu ya, besok kelar COVID -19 kita siap berwisata lagi ke Desa Wisata Pentingsari.
Jalan Suryakencana yang legendaris di Kota Bogor ( foto-foto: P. Hasudungan Sirait)
BOGOR, bisniswisata.co.id: Baru-baru ini, tentu sebelum Covid-19 mewabah, kami sekeluarga kembali menyusuri Jalan Suryakencana yang legendaris di Kota Bogor. Kawasan pecinan yang sudah ada sejak zaman kolonial ini berlokasi sangat strategis: dekat dengan Tugu Kujang yang merupakan ikon kota Bogor.
Lokasinya juga persis berseberangan dengan gerbang utama Kebun Raya Bogor. Di ujung jalan, yang merupakan jalur satu arah ini, juga berdiri Vihara Dhanagun yang usianya sudah lebih 300 tahun.
Pada 10 Februari 2016, Pemerintah Kota Bogor resmi menyatakan Jalan ini sebagai kawasan “heritage”. Pertimbangannya, menurut Wali Kota Bogor Bima Arya, karena kawasan itu menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, bahasa, dan budaya.
“Jalan Suryakencana merupakan salah satu jalan tertua di Kota Bogor. Ini adalah identitas Kota Bogor, menghargai satu sama lain,” ucap Bima kala itu.
Jalan Suryakencana merupakan pusat perniagaan, setidaknya untuk wilayah Bogor Kota. Di sana ada Pasar Bogor yang menurut sejarahnya merupakan pasar pertama yang ada di kota hujan ini. Pasar ini berdiri pada sekitar 1770 di masa pemerintahan Gubernur Jendral Belanda, Petrus Albertus van Der Parra yang menjabat pada kurun waktu 1761 hingga 1775.
Jalan Suryakencana pada 1900-1910 (foto: Facebook)
Selain itu ada deretan toko lama yang umumnya dikelola warga keturunan Tionghoa. Ceritanya bermula dari sebuah peristiwa pembantaian etnis Tionghoa di Batavia pada 1740. Saat itu banyak dari mereka mengungksi ke kota Bogor. Untuk memudahkan pengawasan, Belanda pun melokalisir mereka di kawasan yang kini bernaman Jalan Suryakencana.
Di sana ada toko perabot rumah tangga langganan kami, Jaya Makmur, kios jam Djakarta, toko sport yang dijagai pasangan Tionghoa tua, mini market Ngestii – tempat kami biasa membeli kopi Liong Arabika khas Bogor – hingga toko roti de Paris yang kue pia-nya cocok di lidah kami.
Setiap kali kami mampir ke toko-toko tersebut, suasana di sana selalu ramai. Bahkan Jaya Makmur yang beroperasi hanya hingga pukul 18.00 sore, kerap sesak. Koleksi mug atau cangkir teh/kopi yang dijajakan di sana, sayang rasanya dilewatkan untuk sekadar dilongok.
Suasana ramai pengunjung di toko-toko itu menjadi bukti masih banyak pelanggan fanatik yang tak hendak ‘pindah ke lain hati’ meski sejumlah pilihan bermunculan, termasuk fasilitas aplikasi belanja online.
Kami rutin menyambangi Jalan Suryakencana meski hanya sekadar olah kaki untuk jalan-jalan sore. Sekadar info, sejak menikah pada 2003 silam, kami memutuskan untuk menetap di kota hujan ini. Rutenya dari ujung jalan hingga ke perempatan Gang Aut – pusat jajanan yang selalu ramai pengunjung – yang berjarak kurang dari 1 kilometer.
Kalau sedang beruntung, kami akan berjumpa para pedangan buku bekas di trotoar jalan. Beberapa kali kami dikejutkan oleh koleksi buku langka yang mereka jajakan dengan harga sangat bersahabat.
Saat lapar dan ingin menyantap mie, kami biasanya mampir ke warung langganan, Mie Tasik namanya. Saking lamanya berlangganan, kami sempat menyaksikan bagaimana warung ini bertransformasi, mulai dari sebuah kedai kecil yang sempit dan panas, hinggga kini mewujud menjadi restoran permanen berlantai dua yang bersih dan nyaman.
Ada juga warung nasi goreng Guang Tjo langganan kami yang menurut anak-anak masakannya paling pas. Selalu menjadi benchmark nasi goreng yang enak. Selain nasi goreng, mereka juga menjajakan menu bubur kacang ijo dan ketan item yang lezat. Kami kerap makan bersama, termasuk saat merayakan momen spesial, seperti ulang tahun.
Kini, jalan Suryakencana telah banyak berubah. Satu yang paling mencolok adalah ketersediaan trotoar yang lebar, bersih, rapi dan manusiawi bagi pejalan kaki. Padahal dulu, kami harus berjuang jika hendak menyusuri jalan ini.
Saat berpapasan dengan pejalan kaki lain, mau tak mau kami harus berhenti menunggu giliran jalan, karena trotoar sempit. Selain untuk pejalan kaki, trotoar juga dipakai pedangan kaki lima yang menjual buah, rujak uleg, gorengan, buku bekas atau barang loak. Mereka mengisi separo badan trotoar.
Selain itu, ada sejumlah gang sempit di sepanjang jalan ini yang gelap, seram dan kumuh. Kini, semua telah berubah, mewujud menjadi lorong cantik dan bersih. Beberapa kali kami melihat gerombolan anak muda menjadikan tempat itu sebagai spot untuk berswafoto.
Jalan juga dipercantik dengan hadirnya sejumlah kursi besi di kiri kanan trotoar. Itu membuat kawasan ini tampak lebih elok dan rapi. Pejalan kaki bisa santai sejenak untuk sekadar duduk menikmati sore di Jalan Suryakenana, atau melepas lelah.
Menjaga kebersihan dan kenyamanan trotoar, terutama bagi pelancong pejalan kaki, menjadi urusan bersama warga setempat. Mereka tak segan saling menegur jika kedapatan ada yang kurang sedap dipandang.
Saat kami sedang berjalan sore itu, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang nampaknya pengurus RT setempat. Dia dengan bersahabat menegur salah satu pemilik toko. “Itu kemarin Pak Wali marah-marah, banyak sampah di sini. Tolong dibersihkan ya Ko,” ujarnya. Sang empunya toko pun menurut.
Kedai Kopi Menjamur
Beberapa tahun silam, saat kerap melakukan wisata kuliner di sepanjang jalan ini, sulit sekali mencari tempat nongkrong.Kala itu memang gak asyik juga sih berlama-maka di Jalan Suryakencana yang chaotic, kumuh dan tak ramah lingkungan karena asap kendaraan. Kebanyakan orang biasanya ke sana hanya mencari sensasi jajan di pinggir jalan atau berbelanja di toko langganan, lalu pulang.
Kedai kopi yang digemari kalangan milenial.
Kini, suasananya sudah jauh berubah. Rumah-rumah warga Tionghoa peninggalan zaman kolonial yang dulu terkesan tertutup dan terbengkalai, kini mulai ditata menjadi kedai-kedai kopi, toko roti, atau kios yang lebih berselera milenial.
Sore itu, setelah membeli sabun, shampo dan kebutuhan lain di toko Ngesti, kami melihat ada toko roti baru berplang, Mr. Yos. Tempatnya bersih dan display rotinya menarik sehingga menggoda kami untuk mlipir mampir.
Terbukti, tidak terlalu mengecewakan karena ternyata pilihan rotinya beragam pun, yang lebih penting, harganya bersahabat. Tempatnya cocok untuk duduk-duduk menikmati sore yang cerah. Selain toko roti, kini pun bermunculan kedai kopi kecil yang dikelola kaum milenial.
Satu kedai kopi yang kami singgahi bernama Fanaticoffee. Kami mampir karena inilah kedai yang terlihat paling ramai pengunjung. Lokasinya di sebelah kanan jalan. Kami memesan caffe latte dan mencobai affogato shoot. Rasanya standar, harganya pun masih reasonable.
Interior cafe juga ditata apik. Ruangan perokok dipisah. Bagi kami yang bukan perokok ada disediakan ruang di sebelah. Pemisahnya dinding dengan ornamen kaca berkusen bulat-bulat. Dari dalam kita masih bisa menikmati pemandangan lalu lalang orang maupun kendaraan di Jalan Suryakencana.
Sayangnya, kehidupan di sepanjang jalan ini redup cepat karena pukul 18.00 sebagian besar toko sudah tutup, kecuali beberapa saja yang buka, seperti Ngesti yang baru tutup pada pukul 20.00. Atau warung-warung kopi dan toko roti yang rata-rata tutup pukul 22.00.
Untunglah ada Hotel 101 yang turut menggeliatkan kehidupan di sana. Berjarak sekitar 100 meter dari gerbang utama Kebun Raya Bogor, hotel ini banyak diminati pelancong. Setelah tadi rehat sejenak di toko roti Mr. Yos, perjalanan kami lanjutkan hingga ke ujung Jalan Suryakencana yang merupakan perempatan ke Gang Aut.
Di sana aktivitas masih marak. Kawasan ini ramai terus terutama karena memang sejumlah pedagang makanan menumpuk di sana. Ada soto bening, sate ayam, bakso, penjual gorengan, hingga toko roti de Paris yang legedaris. Akhirnya, perjalanan kami akhiri dengan menyantap sate ayam Madura di Gang Aut. Enak dan terjangkau, itulah kesan kami.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat tidak pernah menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Jakarta pada 19-20 Oktober 2018. Karenanya tidak pernah mengajukan rekomendasi penerbitan Serfitikat Kompetensi Wartawan ke Dewan Pers sebagai hasil kegiatan.
Demikian disampaikan Direktur UKW PWI Pusat Rajab Ritonga sehubungan beredarnya Sertifikat Kompetensi UKW PWI yang seolah diterbitkan lembaga uji PWI Pusat pada 19 November 2019 dengan ditandatangani Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari dan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo.
“Sertifikat itu dipastikan palsu dan tidak terdaftar di Dewan Pers. Silakan periksa di web Dewan Pers,” katanya, Sabtu (2/5).
Rajab Ritonga memastikan bahwa tanggal penerbitan sertifikat juga janggal karena satu tahun lebih setelah penyelenggaraan UKW. Sejumlah kejanggalan lain juga ditemui pada sertifikat itu sehingga dengan mudah dipastikan kepalsuannya.
“Selain itu, logo PWI pada sertifikat juga palsu, tidak sama dengan logo PWI yang sesungguhnya. Ketua Dewan Pers sejak 21 Mei 2019 sudah dijabat Bapak Muhammad Nuh, bukan lagi Pak Adi Prasetyo,” ujarnya.
Rajab Ritonga menegaskan bahwa perbuatan memalsukan sertifikat UKW PWI merupakan tindak pidana. Dia juga memastikan bahwa Lembaga UKW PWI Pusat tidak pernah menyelenggarakan UKW secara virtual karena materi uji UKW belum memungkinkan diujikan secara online. Hal itu terkait adanya informasi di sebuah daerah telah berlangsung UKW online.
Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan makin bertambah. ( Foto: UNWTO)
MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Sekjen Organisasi Pariwisata Dunia, UNWTO, Zurab Pololikashvili, berpesan agar jangan lagi kita menyia-nyiakan waktu melainkan segera bertindak. Sudah banyak jam kerja terpangkas. Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan pun makin bertambah.
Bagi jutaan orang di seluruh dunia, pariwisata tak sekadar acara liburan maupun bersantai karena ia juga terkait dengan kegiatan konvensi, termasuk pameran dan pertemuan.
Lebih dari itu, sektor ini juga memberi banyak peluang untuk menopang kehidupan; menawarkan kesempatan bagi orang memperoleh upah, martabat sekaligus kesetaraan. Peluang kerja di sektor pariwisata dapat memberdayakan masyarakat; menawarkan kesempatan bagi penduduk untuk mengambil bagian dalam masyarakat. Seringkali, terjadi untuk pertama kalinya.
Risiko yang dihadapi saat ini.
Sekjen UNWTO Zurab Pololikashvili menyampaikan pesannya di Hari Buruh Internasional 1 Mei 2020. ( Foto: UNWTO)
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), seperti halnya Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) yang sama-sama agen PBB, menyatakan kekhawatiran tentang dampak dari pandemi Covid-19. Menurut mereka setidaknya ada 1,6 miliar orang di seluruh dunia terdampak virus mematikan ini. Bukan hanya hilangnya jam kerja, tapi juga kehilangan pekerjaan.
Kelompok masyarakat paling rentan terkena dampaknya adalah mereka yang bekerja di ekonomi informal, termasuk di dunia pariwisata. Selama ini, banyak di antara mereka telah berkontribusi memperkuat industri ini sehingga bertahan untuk jangka waktu yang panjang: berbagi rumah dengan kami, menyediakan layanan bagi pelancong, serta menyambut hangat kedatangan para turis.
Kami berutang kepada mereka. Itulah sebabnya kita perlu mengambil tindakan yang kuat dan tepat waktu demi melindungi industri pariwisata dan memastikan keberlangsungan mata pencaharian.
Setidaknya kini kita melihat ada harapan setelah sejumlah pemerintah bersiap melakukan tindakan. Dalam seminggu terakhir, Sekjen UNWTO mengaku telah menyampaikan pesan kepada para Menteri Pariwisata negara-negara G20, mendesak mereka untuk segera bertindak. Dia juga menyampaikan hal serupa kepada para menteri dari 27 negara Uni Eropa. Kedua blok ini memiliki kesempatan untuk segera membuat agenda.
Organisasi Pariwisat Dunia UNWTO sepakat dengan Komisaris Uni Eropa, Thierry Breton, yang menyerukan agar 25% dari total dana darurat dialokasikan untuk membantu industri pariwisata. Jumlah itu sekaligus mencerminkan dua hal, yakni dampak Covid-19 terhadap pariwisata Eropa dan kemampuan sektor ini memberi perubahan positif.
Sejarah mencatat peran penting industri pariwisata dalam pemulihan ekonomi. Oleh sebab itu Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) merasa terhormat saat diandalkan untuk melakukan hal itu, apalagi tindakannya didukung Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol. Selain sebagai rumah bagi WNWTO, Spanyol juga dianggap sebagai negara tujuan wisata terkemuka di dunia, bahkan dianggap sebagai contoh bagaimana pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan dan bertanggung jawab bagi kemaslahatan orang banyak.
Dukungan tingkat tinggi seperti itu, baik nasional maupun internasional, penting bagi UNWTO untuk segera bergerak maju. Data ILO soal banyaknya jumlah jam kerja yang hilang menunjukkan perlunya segera diambil tindakan. Semakin lama menunda memberi reformasi keuangan dan peraturan yang diperlukan sektor pariwisata, semakin banyak risiko kehilangan mata pencaharian.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) menyelenggarakan kegiatan “Virtual photoshoot” untuk mengajak para netizen atau masyarakat umum lainnya untuk mengikuti kegiatan berfoto dengan penampilan dan gaya terbaik serta keren ala selebgram.
Humas Kawisata M.Ilud Siregar menyampaikan kegiatan Virtual Photoshoot bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan masyarakat selama beraktivitas #dirumahaja pada masa pandemi COVID-19.
“Harapannya masyarakat bisa mengisi waktu luangnya dengan aktivitas yang produktif dan aman di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah,” kata Ilud.
Virtual photoshoot merupakan sesi photoshoot jarak jauh yang dilakukan secara online. Fotografer professional akan memotret peserta kegiatan ini menggunakan kamera profesional sehingga hasil fotonya akan bagus dan maksimal seperti foto-foto para selebgram.
Biaya pendaftaran untuk kegiatan ini adalah Rp 65,000 per sesi foto (harga normal). Sementara untuk 20 pendaftar pertama akan diberikan harga spesial yaitu Rp 45,000 per sesi foto. Biaya tersebut sudah termasuk 12 softcopy foto, 1 softcopy foto yang telah diedit secara profesional dan video photoshoot.
Menariknya, dengan mengikuti kegiatan ini, maka para peserta pun juga sekaligus bisa berdonasi karena dari setiap pembelian tiket akan didonasikan Rp 5,000 kepada para korban terdampak krisis pandemi Covid-19.
Kegiatan akan diadakan pada hari Minggu besok (3/5/2020). Tampilan gaya dan foto terbaik akan mendapatkan gift menarik dari Kawisata serta foto akan ditampilkan di media sosial Kawisata.
Selama masyarakat melakukan aktivitas bekerja, belajar dan ibadah di rumah mengatasi penyebaran pandemi global COVID -19, PT Kawisata sebelumnya menyelenggarakan virtual tour, Lawang Sewu. Semarang yang disambut positif oleh masyarakat.
Barry dan Yanti Corbett bersama hewan peliharaannya yang kerap hang out dan berwisata bersama. ( Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, bisniswisata.co.id; KebijakanPembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna mencegah penyebaran virus COVID-19 membuat polusi udara di Jakarta menurun. Kondisi jalanan ibukota juga menjadi lebih sepi dari sebelum Corona merebak.
Kondisi jalan yang sepi, langit biru cerah dan sangat indah kerap membuat orang tergiur untuk melakukan aktivitas di luar rumah dan merindukan momen car free day di akhir pekan yang biasa dilakukan atau sekedar berjalan-jalan dengan hewan peliharaan.
Namun kebijakan PSBB yang harus dilakukan dan kesadaran penuh untuk mentaati protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus membuat Yanti Corbett, Direktur di DEKA Marketing Research memilih tetap di rumah dan melakukan “jalan-jalan” dengan sejumlah anjing peliharaannya di halaman rumahnydisaja di kawasan Jalan Bangka, Jakarta Selatan.
“Entah kapan berakhirnya pandemi ini padahal bersama suami, Barry Corbett, kami bahkan kerap membawa hewan peliharaan juga berwisata,” kata Yanti tertawa.
Bersama suami dia kerap searching tempat-tempat yang ramah hewan peliharaan sehingga pernah menginap di villa di Anyer, glamping di Sukabumi, jalan-jalan ke pantai di Sukabumi, menginap di villa Bogor, Jawa Barat dan aktivitas lainnya bersama hewan peliharaan yang sudah seperti anggota keluarga
” Sejauh ini liburan bersama binatang peliharaan masih menggunakan kendaraan pribadi. Ada tiga anjing yang lucu nananya Oppy, 10 tahun, jenis campur, dia sebenarnya baik tapi agak penakut. Anjing ke dua namanya Zoey, 9 tahun, jenis Shih Tzu, sangat ramah dan lucu dan yang ketiga namanya Oscar, usia 5 tahun, jenis Beagle, gendut jadi lucu. Semuanya sih manis kalau diajak pergi sebagai travelers,” jelas Yanti Corbett.
Ke tiga hewan peliharaannya ini sebelum mekuasnya wabah pandemi global juga hampir tiap weekend jalan pagi dari rumah ke Kemang Village dan ‘ngeceng’ di area terbuka mall itu lalu ikut hang out di beberapa cafe atau pubs di Kemang juga.
” Dulu kalau kami bawa anjing peliharaan jalan-jalan ke tempat umum biasabya tanggapan masyarakat suka takut, tapi sekarang kalau kami jalan bareng justru anak -abak kecil mendekat dan berusaha akrab dengan Oppy, Zoey dan Oscar,” tambah Yanti.
Membawa hewan peliharaan traveling memang semakin lumrah. Riset Booking.com menunjukkan mengajak hewan peliharaan jadi prioritas lebih dari separuh (55%) pemilik hewan peliharaan global. Mereka menganggap hewan peliharaan tidak kalah penting dari anak sendiri. Jadi tidak heran kalau di tahun 2020 akan semakin banyak yang pergi berlibur dengan membawa hewan peliharaan.
Semakin banyak traveler yang mementingkan kebutuhan hewan peliharaannya sebelum kebutuhan mereka sendiri saat memutuskan destinasi, akomodasi, dan aktivitas yang akan dilakukan.
Sebanyak 42% pemilik hewan peliharaan global setuju bahwa tahun ini mereka akan memilih destinasi liburan berdasarkan kemungkinan mereka membawa peliharaannya, dan 49% rela membayar lebih untuk akomodasi yang ramah hewan peliharaan.
Tren ini juga terlihat dari jumlah properti ramah peliharaan yang terus meningkat di Booking.com. Akomodasi di seluruh dunia akan terus mencari cara yang inovatif untuk menawarkan layanan dan amenitas khusus hewan peliharaan, seperti tempat tidur anjing gratis, spa hewan, layanan kamar dengan menu khusus, bahkan restoran yang dirancang khusus untuk hewan peliharaan.
Hewan-hewan peliharaan yang berlibur ini tampaknya akan mendapat pelayanan bintang lima. Yanti Nisro mengaku dalam perjalanan ke luar negri di Eropa dan Amerika saat di airport internasional dia pernah melihat traveler yang membawa anjingnya naik pesawat.
“Saya juga lihat di video-video anjing menginap di hotel-hotel mewah, tapi kani sendiri belum pernah membawa Oppy, Zoey dan Oscar menginap di hotel-hotel berbintang meski di Jakarta sudah banyak hotel yang ramah dengan binatang peliharaan,” kata Yanti.
Dari tiga hewan peliharaannya itu, anjing nomor satu yang bernama Oppy yang paling bersikap manis saat diajak pergi namun dia tetap belum berani membawanya traveling ke Bali, misalnya, karena harus naik pesawat terbang. Tentunya dia akan sangat mendukung jika di Indonesia boleh bawa anjing ikut dalam penerbangan pesawat.
“Agak complicated sih jika bawa pets ikut liburan, selain tergantung tujuannya kemana dan jika hanya semalam menginap di villa-vila di kawasan Jawa Barat masih bisa. Tapi kalau pergi seminggu bersama ‘ mereka ‘ mengurusnya repot juga,” kata Yanti mengakhiri obrolan sambil tergelak.
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo patiwisata Asean akan lebih cepat pulih ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pariwisata di kawasan regional diyakini akan pulih lebih cepat dengan syarat negara-negara Asean harus perkuat kerja sama dan kolaborasi meski beberapa studi menyatakan sedikitnya butuh waktu lima tahun bagi sektor pariwisata untuk kembali normal dari COVID-19.
“Saya percaya ASEAN bisa lebih baik dari itu, hingga pemulihan tidak sampai lima tahun apalagi Indonesia berkomitmen bersama seluruh negara anggota ASEAN untuk mendorong visi bersama melakukan mitigasi dan pemulihan sektor pariwisata, baik selama maupun usai pandemi COVID-19,” kata Angela Tanoesoedibjo, Wamenparekraf, hari ini.
Dia kembali membahas pertemuan para menteri pariwisata negara-negara ASEAN dalam “Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)” pada Rabu malam (29/4/2020). ” Pertemuan inimemang harus segera ditindaklanjuti sehingga ketika pandemi berakhir negara Asean sudah lebih siap dalam melakukan normalisasi,” tegasnya.
Apalagi Negara-negara anggota ASEAN telah menyepakati tujuh upaya kerja sama di bidang pariwisata sebagai langkah mitigasi terhadap sektor yang dianggap paling terpukul paling dalam akibat pandemi COVID-19.
“Kerja sama yang kuat dibutuhkan dalam upaya menangani bersama dampak COVID-19 dalam sektor pariwisata di kawasan ASEAN. Saatnya kita semua para anggota ASEAN untuk bersama. Dengan bersama kita bisa kuat,” kata Angela yang hadir dipertemuan virtual itu.
Negara-negara anggota ASEAN melaporkan kinerja pariwisata yang menurun sekitar 36 persen pada kuartal pertama 2020, dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 dan 2019.
Tingkat kedatangan wisatawan internasional tercatat menurun sekitar 34 persen, dan tingkat hunian kamar hotel saat ini berada pada titik terendah dan banyak terjadi pembatalan dalam industri tur dan travel.
Negara-negara anggota ASEAN pun kini telah merevisi atau sedang melakukan mengoreksi target mereka dalam jumlah kunjungan wisatawan internasional dan penerimaan dari sektor pariwisata.
Pertemuan tersebut menghasilkan_joint statement_ yang memuat tujuh point hasil kesepakatan bersama seluruh menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama pariwisata, salah satu sektor ekonomi yang paling terpukul dalam pandemi.
Pertama, para menteri sepakat untuk membina koordinasi ASEAN dalam mempercepat pertukaran informasi tentang perjalanan, terutama terkait standar kesehatan dan langkah-langkah lain yang diperlukan negara-negara anggota ASEAN dalam mengendalikan penyebaran wabah COVID-19 melalui peningkatan operasi Tim Komunikasi Krisis Pariwisata ASEAN (ATCCT).
Kedua, mengintensifkan kolaborasi Organisasi Pariwisata Nasional (NTOs) ASEAN dengan sektor-sektor ASEAN lain yang relevan, terutama di bidang kesehatan, informasi, transportasi, dan imigrasi serta dengan mitra eksternal ASEAN, untuk bersama-sama mengimplementasikan langkah-langkah yang komprehensif, transparan dan respons yang cepat dalam mitigasi dan mengurangi dampak COVID-19 serta krisis lain di masa depan.
Ketiga, para menteri juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang lebih erat dalam berbagi informasi dan praktik terbaik di antara negara-negara anggota ASEAN serta dengan mitra dialog ASEAN dalam mendukung sektor pariwisata.
Keempat, kerja sama ini juga mencakup penerapan kebijakan dan langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan antara pengunjung domestik dan internasional ke Asia Tenggara, termasuk pengembangan standar dan pedoman dalam meningkatkan faktor keamanan dan kesehatan guna melindungi para pekerja dan masyarakat di industri perhotelan dan industri lainnya terkait pariwisata.
Kelima, para menteri pariwisata juga sepakat untuk mendukung pengembangan dan implementasi rencana pemulihan krisis pasca COVID-19 serta membangun kemampuan pariwisata ASEAN serta upaya promosi dan pemasaran pariwisata bersama dengan tujuan memajukan ASEAN sebagai _single tourism destination_.
Keenam, para menteri sepakat untuk mempercepat penerapan kebijakan mikro dan makro ekonomi, memberikan dukungan teknis dan stimulus keuangan, pengurangan pajak, peningkatan kapasitas dan kemampuan, terutama keterampilan digital bagi para stakeholder industri perjalanan dan pariwisata.
Ketujuh, mempercepat kerja sama dengan mitra dialog ASEAN, organisasi internasional dan industri yang relevan untuk membangun Asia Tenggara yang tangguh dan siap untuk secara efektif menerapkan dan mengelola pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif setelah krisis.
PERNAH
mendengar tembang tersebut?Dan pernah melihat yang empunya suara? Sayamengingat
tembang itu – walau lupa peciptanya– saat berada di Pulau Dewata. Suatu malam
suara burung menyapa telinga saya, terdengar seperti suara Celepuk Reban, atau Sunda
Scops Owl, salah satu jenis burung hantu yang umum di Bali. Bali sendiri
merupakan salah satu kawasan yang memiliki banyak jenis burung, yang popular tentunya
Jalak Bali.
Saya ingin berbagi tentang burung
hantu, karena Bali memiliki Taman Nasional Bali Barat, yang merupakan kawasan
konservasi terbaik untuk mengamati, memotret, dan meneliti berbagai jenis
burung termasuk burung hantu. Kawasan konservasi ini sudah menjadi salah satu
destinasi utama bagi kegiatan Bird Tour.
Alasan lain, di Bali sudah ada desa ramah burung hantu. Di desa ini, terdapat habitat burung hantu jenis Barn Owl (Tyto alba), dan sering disebut dengan Serak Jawa, yang memiliki wajah seperti hati. Jenis ini memang merupakan jenis paling banyak ditemukan di hampir seluruh negara kecuali di kawasan Antartika. Serak Jawa juga merupakan pemangsa utama tikus, sehingga para petani tidak memerlukan racun tikus, atau obat pembasmi tikus pada sawah dan ladangnya. Cukup dengan memfasilitasi Serak Jawa agar bisa berhabitat di sekitar persawahan petani, dengan cara membangun RuBuHa (Rumah Burung Hantu).
Selain Serak Jawa, dan Celepuk Reban, ada tiga lagi jenis burung hantu di Bali. Yaitu Barred Eagle Owl (Bubo sumatranus), yang biasa disebut dengan burung Hantu Hinggik, Buffy Fish Owl (Ketupa Ketupu), dan Oriental Bay Owl (Phodilus badius), biasa dikenal dengan sebutan Serak Bukit atau Wiwi Wowo. Mereka karnivora (pemakan daging) sejati, bahkan sanggup memangsa sesamanya. Jenis Ketupa Ketupu, selain pemakan daging dia juga makan satwa air seperti ikan, kepiting, kodok, dan lainnya.
Barred Eagle Owl (Bubo sumatranus) @Dyahwara
Burung hantu Hinggik, Ketupa Ketupu, dan Serak Bukit juga hidup di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Burung hantu Hinggik dewasa, berbadan besar, bermata hitam, berbulu hitam keputihan, tetapi saat bayi sampai remaja burung tersebut berbulu putih seperti kapas. Sehingga sulit membedakan Serak Bukit dan Serak Jawa saat masih kecil dan remaja.
Ketika dewasa, ada perbedaan pada warna bulu, yang cenderung cokelat keemasan pada seluruh tubuhnya, dan wajah seperti hati, dan ada bulu yang sedikit mencuat seperti telinga. Ketupa Ketupu juga memiliki badan yang besar, namun tidak sebesar burung hantu Hinggik, dengan bulu berwarna cokelat, bergaris hitam, dan memiliki mata berwarna kuning yang berpendar pada waktu gelap. Celepuk Reban merupakan jenis burung hantu terkecil dari kelima jenis burung hantu di Bali. Celepuk memiliki bulu cokelat dan mengonsumsi serangga sebagai makanan utamanya. Selain fisik, yang membedakan ketiga jenis burung hantu di Bali ini, adalah suaranya. Suara menentukan jenis apa dan berhabitat dimana.
Burung hantu
merupakan satwa yang dapat tinggal di suatu kawasan dalam satu jangka waktu
yang lama dengan catatan apabila makanan nya masih tersedia di kawasan
tersebut. Ketika sumber pangan nya sudah tidak ada, maka burung hantu akan
berpindah ke kawasan lainnya.
The Owl
World of Indonesia, mencatat ada 56 jenis burung hantu di Indonesia, kurang
lebih 20 jenis endemis Indonesia (data tahun 2018). Dan keberadaan burung hantu
ini tersebar di seluruh pulau di kepulauan Nusantara, sampai di pulau-pulau
kecil, seperti Pulau Seram, Pulau Biak, Pulau Wetar, dan lainnya.
Jumlah burung
hantu semakin menurun dikarenakan deforestasi, perburuan, perubahan fungsi
lahan, serta kemungkinan perubahan iklim. Hasil Monitoring burung hantu yang
dilakukan The Owl World of Indonesia di pegunungan Menoreh Jawa Tengah, Juni
2019 lalu, bahwa sekitar empat atau tiga tahun lalu masih banyak terlihat burung
hantu berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk, yaitu jenis Serak Jawa, dan
Celepuk Reban. Namun tahun lalu, hanya terlihat satu ekor Serak Jawa dan
terdengar suara satu ekor Celepuk di kejauhan.
Eksotis
dan prestise
Pulau
Bali sendiri tercatat sebagai salah satu daerah transit perdagangan antar pulau
untuk burung hantu, dari Indonesia Timur untuk perjual belikan di Pulau Jawa
(Hasil Monitoring Perdagangan Burung Hantu di Jawa 2018 – 2019).
Alasan
utama masyarakat memelihara Burung Hantu karena dianggap ‘eksotis’, ‘prestise’,
dan cinta hewan. Untuk alasan terakhir,— rasa cinta hewan — diekspresikan
dengan memelihara hewan dengan ‘layak’ (menganggap tidak melanggar animal welfare), dijinakkan agar bisa
menurut, dan sesekali diajak jalan-jalan atau di display di alam terbuka, atau gathering
dengan pecinta lainnya.
Hasil
monitoring terhadap komunitas pecinta burung hantu di Indonesia, menunjukkan hampir
setiap kota besar di Indonesia terdapat satu komunitas pecinta burung hantu. Kelompok
masyarakat yang memelihara, menjinakkan, dan melatih burung hantu (aviary), serta sesekali melakukan gathering dengan anggotanya.
Dalam
pengamatan saya, gaya hidup memelihara burung hantu cenderung berkurang sejak
tahun 2019, dengan adanya sosialisasi mengenai perlindungan satwa liar, dan
tindakan hukum terhadap penjual, serta pemelihara burung hantu yang diambil
langsung dari alam, sesuai dengan Permelhk No.106 Tahun 2018).
Burung hantu
diburu selain untuk dipelihara, dijual baik di pasar burung, mau pun secara online di beberapa tempat, juga diburu
untuk dibunuh karena mengganggu hewan ternak masyarakat seperti ayam, atau
bebek. Seperti yang terjadi di salah satu kawasan di Jawa Barat, penduduk
memburu, dan membunuh burung hantu setelah diketahui memangsa anak ayam, atau
bebek di peternakan mereka (Hasil Survey Persepsi Masyarakat terhadap Burung
Hantu 2018).
Kasus konflik burung hantu dengan manusia yang terjadi di Jawa Barat itu, kemungkinan besar terjadi dikarenakan makanan burung hantu sudah langka di sekitarnya. Mereka mendekat ke sekitar pemukiman yang memiliki ketersediaan makanan. Karenanya, upaya perlindungan, dan pelestarian burung hantu dilakukan, agar jumlah burung hantu tidak menurun, sehingga menyebabkan populasi tikus tidak terkendali, yang dapat merugikan tanaman pangan kita. Menjaga ekosistem alam dengan tidak memelihara burung hantu, perlu mendapat apresiasi. Paling tidak kita masih bisa bersenandung “kuukuk kuukuk, kuukuk, kukuk kukuk”. (Diyah Wara Restiyati – Koordinator The Owl World of Indonesia).
Pantai biru di Maldives yang sempurna (foto: absolutely London)
MALADEWA, bisniswisata.co.id: Sekitar 500 pelancong masih terjebak di Maldives atau dalam bahasa Indonesia, Maladewa – negera kepulauan di Samudera Hindia yang terkenal dengan resor mewahnya. Menteri Pariwisata Ali Waheed kepada CNN mengatakan 100 orang di antaranya bahkan terpaksa tinggal di bandara karena sudah tak sanggup lagi membayar biaya penginapan di resor.
Mereka terjebak sejak sebulan lalu saat kasus pertama virus Corona ditemukan di Republik Maladewa, negara kecil dengan rangkaian 26 atol seluas 90 km2 itu. Dua kasus virus corona pertama dikonfirmasi pada 8 Maret. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 12 Maret, Menteri Kesehatan setempat mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat.
“Kami percaya mereka ini seperti halnya penduduk lokal, sama-sama membawa negara ke keadaan sekarang,” ujar Waheed.
Data terakhir yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan ada 468 kasus Corona di pulau yang mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 1965 itu. Dari jumlah tersebut, 17 pasien dinyatakan pulih, sementara seorang meninggal dunia.
Popularitas Maldives sebagai lokasi tujuan untuk berlibur terus menanjak belakangan ini. Meski dianggap mahal, negara kepulauan yang berada di barat daya India ini selalu masuk dalam daftar wajib kunjungan para pelancong dari berbagai belahan dunia.
Pantai biru yang sempurna serta ketersediaan resor-resor mewahnya makin melambungkan nama negara yang berada di urutan 10 sebagai negara terkecil di dunia itu. Jumlah penduduknya (menurut sensus 2006) hanya 100.000 lebih sedikit. Tercatat ada 1.192 pulau di sana dengan rata-rata dihuni 200-an orang.
New York Times(NYT) awal April lalu melaporkan kisah sepasang pengantin baru yang terjebak dan terpaksa menghabiskan bulan madu tanpa tahu kapan berakhir.
“Tak ada lagi tempat untuk pergi. Pasangan itu bak penguasa yang baik, sekaligus merupakan tawanan di pulau itu. Hari-hari panjang mereka lewati dengan bermalas-malasan: tidur, snorkeling, bersantai di pinggir kolam, dan terus menerus berulang,” tulis NYT.
“Semua orang mengatakan mereka ingin terjebak di pulau tropis, sampai Anda betul-betul merasakannya,” kata Olivia De Freitas, salah seorang pasangan itu seperti dilansir NYT. “Itu hanya terdengar bagus jika Anda tahu bisa meninggalkannya kapan saja.”