Kisah Tikus Karung dan Islam

this formate

Oleh : Anton Permana.

Seorang Profesor asal Perancis sedang melakukan penelitian arkeologi tentang Piramida tua di Mesir. Dalam perjalanan dirinya dari lokasi Piramida menuju Kairo, Profesor ini sengaja naik kereta api agar bisa relaks dan menikmati alam Mesir yang begitu eksotil dan sakral akan peninggalan peradaban tertua di dunia ini.

Anton Permana

Diatas kereta api, Profesor kebetulan satu tempat duduk bersama seorang pria tua yang kebetulan membawa satu buntal karung. Awalnya Profesor tak begitu peduli dengan pria tersebut. Namun, ada yang ganjal dilihat ilmuwan ini dari tingkah laku pria ini selama dalam perjalanan. Yaitu setiap lima atau sepuluh menit, pria ini menendang-nendang buntalan karungnya itu sambil menggoyang-goyang karung tersebut berulang kali.

Namanya ilmuwan yang haus akan ilmu pengetahuan. Akhirnya Profesor yang penasaran ini bertanya kepada pria tersebut.

Profesor : “Kalau saya boleh bertanya, benda apa yang anda bawa didalam karung itu ?”

Pria tua : “Ohh itu adalah kumpulan tikus yang ada di ladang gandum saya”.

Profesor : (Dengan mimik semakin heran dan penasaran). “Untuk kegunaan apa tikus itu jauh-jauh anda bawa dan untuk siapa?”

Pria tua : “Tikus ini ada yang order buat laboratorium pemerintah untuk sebuah penelitian. Saya mau mengantarkannya langsung. Dan ini sudah biasa saya lakukan dalam beberapa tahun ini “.

Profesor : (Sambil manggut-manggut). “Lalu kenapa anda selalu menendang tikus itu dan menggoyang-goyang karungnya setiap saat ?”.

Pria tua : “Kalau itu adalah tradisi kami sejak dulu di ladang. Saya menendang dan menggoyang-goyang tikus itu agar tikus itu selalu sibuk dan ribut antar sesama dia di dalam karung. Karena, kalau mereka tenang-tenang saja tanpa diganggu, maka tikus itu bisa menggigit dan mengoyak karung ini dengan gigi dan kukunya yang tajam.

Makanya saya goyang dan tendang terus karung ini supaya tikus-tikus ini lupa kalau mereka sebenarnya punya senjata, punya kekuatan untuk melepaskan diri dari karung ini”. (Jawab pria tua itu santai).

Profesor : “Ohh begitu ternyata. (Jawab Profesor ini baru paham dan mengerti).

Apa yang bisa kita ambil pesan dan informasi dari cerita di atas ? Begitulah kira-kira yang terjadi terhadap ummat Islam hari ini khususnya di Indonesia.

Hampir setiap saat kita disibukkan oleh prilaku dan berita-berita yang memancing emosi kita sebagai muslim. Belum lama, kita dihebohkan dengan wanita yang bawa anjing kedalam masjid. Ributlah semuanya sampai lapor ke kantor polisi. Tapi akhirnya wanita itu dilepas karena stress sesuai keterangan polisi.

Sesudahnya statemen statemen para menteri yang nyeleneh seakan melecehkan ummat Islam. Yang mengkaitkan cadar, celana cingkrang dengan radikalisme. Adalagi tuduhan provinsi radikal, belum usai muncul ungkapan ajaran Nabi haram diterapkan.

Baru-baru ini adalagi insiden nasi anjing yang dibagikan kelompok minoritas kepada komunitas muslim di Jakarta. Belum usai, datang lagi pembagian sembako berisikan sampah. Habis ini entah apalagi yang terjadi dimana ujung semua itu adalah penghinaan, pelecehan, kesewenang-wenangan terhadap Islam di negeri ini.

Berkaca dari cerita pembuka yang sudah disampaikan di awal tulisan. Barulah kita paham dan mengerti, ternyata apa yang terjadi terhadap ummat Islam Indonesia hari ini bukanlah natural atau kejadian bisa-biasa saja.

Ada semacam upaya sistematis agar kita ummat Islam ini dibuat sibuk, marah, ribut, dan tidak tenang antara satu sama yang lainnya. Emosi kita diaduk-aduk, antara geram dan sakit hati. Jumlah kita yang mayoritas di negeri ini seolah tak dianggap apa-apa bak buih di lautan.

Dengan membaca kisah di awal tulisan itulah, baru kita paham bahwa semua itu adalah “by design”. Segala bentuk tindakan provokasi yang sengaja mengobok-ngobok peribadatan dan simbol Islam semuanya itu ada yang menciptakan, ada yang menggerakkan, dan ada yang mengkoordinir.

Tujuannya apa ? Agar kita semua ummat Islam lengah, sibuk, dan ribut antar sesama. Energi kita habis hanya untuk masalah yang memang sengaja mereka ciptakan. Hingga kita lupa, bahwa ada agenda lebih besar yang seharusnya bisa kita lakukan.

Seharusnya banyak hal yang bisa ummat Islam lakukan untuk negeri ini. Skenario provokasi itulah yang membuat kita semua lupa, bahwa ummat Islam Indonesia sebenarnya punya segalanya. Punya kekuatan, punya peluang, potensi, dan kendali yang luar biasa terhadap negeri ini.

Indonesia ini lahir karena ummat Islam. Suka atau tidak suka. Indonesia ini masih damai dan tentram hari ini karena penduduknya mayoritas Islam. Ada Islam yang menyatukan hati rakyatnya. Indonesia ini bisa bersatu sampai hari ini karena mayoritas penduduknya Islam.

Jika saja secara serempak ummat Islam ini berhenti berbelanja, maka langsung lumpuhlah ekonomi nasional. Kwik Kian Gie juga pernah memberi ide, 5.000 trilyun tabungan seluruh rakyat Indonesia di semua Bank yang ada di Indonesia, seandainya ditarik saja 10 persen (rush money), bisa membuat kolaps bank-bank Indonesia. Mogok saja seluruh Ummat Islam tidak bayar pajak, tidak bayar PLN dan tagihan air, bisa lumpuh BUMN negara. Kompak bersatu ummat Islam dalam setiap pemilu dan Pilkada, ummat Islamlah penentu politik hari ini. Buktinya dana haji pun akhirnya penyelamat bagi keuangan negara, walau entah kemana distribusinya saat ini.

Namun sayang, ummat Islam Indonesia sangat mudah dipancing, diprovokasi, diadu-domba, dipecah belah, bahkan dibuat untuk saling cakar dan menjatuhkan antar sesama.

Padahal segala kekuatan, ada pada ummat Islam. Namun pikiran dan fokus agenda kita dijauhkan dari itu semua. Bayangan akan sebuah kebangkitan pun mereka kubur melalui tayangan-tayangan, informasi, sejarah-sejarang telah mereka manipulasi. Kalau adapun kelompok yang bergerak dan berjuang, itupun hanya dari kelompok yang sedikit dan marginal.

Ormas besar Islam banyak telah mereka susupi dan pecah belah. Hingga yang terjadi saling gontok-gontokkan satu sama lain. Tokoh ulama yang berpengaruh sudah mereka jinakkan, yang melawan dikriminalisasi dan diisolasi. Aktifis, ilmuwan yang kritis mereka sumpal mulutnya dengan uang dan diam. Kalau ada yang keras, dibunuh karakternya atau di intimidasi.

Lembaga, simbol, dan aktifitas ibadah Islam di stigmakan secara negatif dan menakutkan. Melalui propaganda media, fitnah, dan operasi-operasi inteligent khusus agar tercipta kondisi ummat Islam sendiri takut dan gerah dengan ajaran agamanya sendiri. Ada rasa was-was tak jelas. Alias berhalusinasi paranoid.

Kondisi inilah yang dinikmati mereka berpuluh puluh tahun di Indonesia. Mental ummat yang kuat dan perkasa ini, dibuatnya seolah inferior. Seolah kecil tak berdaya. Padahal ketika kejadian 212 bergema, mereka semua terkencing-kencing ketakutan. Itu ummat Islam baru turun berapa persennya. Coba bayangkan kalau turun seperti itu serentak seluruh Indonesia ?? Tak akan berkutik semuanya. Artinya, yang berhasil mereka jajah itu adalah mental dan pikiran unmat Islam Indonesia.

Kelemahan ummat Islam selanjutnya adalah mudah dipancing dan disibukkan dengan hal-hal yang sepele. Para tokoh dan pejabatnya punya penyakit ‘wahn’. Yaitu cinta dunia dan takut mati. Sehingga mudah disusupi dan tak sedikit yang mau berkhianat hanya karena godaan harta dan jabatan, atau tersangkut ancaman ketakutan aib personal.

Sampai kapan ini akan terjadi ? Semua tergantung ummat Islam. Mau bangkit berdiri ? Atau menikmati kondisi hari ini yang semakin parah. Menari di atas rentak gendang orang lain.

Saatnya ummat Islam Indonesia menyatukan persepsinya, menyamakan pikirannya, dan baru bergerak satu komando tanpa ada pengaruh dari segala bentuk intervensi dan kepentingan pribadi.

Bentuknya nyatanya adalah ; sesuai dengan pesan Imam Syafii. Islam akan bangkit dan berjaya kalau sudah tercipta 4 hal yaitu : Orang kaya beramal dengan hartanya. Orang berilmu (ulama) berjuang dengan fatwa dan pengetahuannya. Orang pemberani dengan jihadnya. Serta kaum dhu’afa dengan doanya. Kalau empat hal ini bisa terlaksana, insyaAllah Islam akan bangkit dan bisa kembali menjadi pemimpin dunia. Wallahu’alam.

Batam, 06 Mei 2020

Catatan untuk mengenang fotografer Wahjoe Hendrodjanoe (3 Februari 1958-4 Mei 2020)

this formate

Almarhum Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe diapit dua putri tercinta Santri dan Cietta. ( foto dok Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe wafat, Senin 4 Mei 2020. Sontak para mantan karyawan angkatan awal koran ekonomi pertama di negri ini yang diluncurkan pada 14 Desember 1985 terkejut dan merasa kehilangan.

Empat WAG Grup yang ada langsung penuh dengan ucapan bela sungkawa dan cerita kenangan semasa almarhum hidup mulai dari awal kami berkantor di Jl Kramat V, Jakarta, sebuah rumah yang menjadi kantor pertama harian Bisnis Indonesia. 

Selain almarhum memang sosok yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang, media pertama di luar koran umum ini juga sejak kelahirannya memiliki rasa persaudaraan yang kental di bawah bimbingan guru sekaligus Pemimpin Redaksi kami alm.Amir Daud.

Kenangan saya sendiri sebagai alumni dan karyawan dengan kartu pegawai bernomor urut lima terhadap almarhum juga manis. Saat itu wartawan wanita yang berstatus menikah dan punya keluarga baru saya sendiri, selebihnya selain Pemimpin Redaksi dan para Redaktur umumnya semua masih single alias belum ada yang berumah tangga.

Suatu malam saat tugas piket setelah kami memiliki gedung kantor sendiri yaitu Wisma Bisnis Indonesia di Slipi yang kini namanya menjadi Wisma Slipi, saya mencari Dayun, sapaan akrab alm Wahjoe Hendrodjanoe di ruangannya. Saya merengek minta diantar sebentar ke rumah guru ‘ spiritual ‘ namanya pak Kustoro di kawasan Manggarai, Jakarta.

“Sst temen kita sekantor yang lagi sakit di Bogor katanya sudah parah banget, yuk minta didoain sekalian cari tahu soalnya katanya sudah nggak mempan pengobatan secara medis” kata saya.

Dayun tertawa dan menuruti permintaan saya karena tahu saya benar-benar peduli dan ingin teman yang sakit itu cepet sembuh. Mengenai orang yang ingin saya kunjungi dia cuma mengingatkan dalam agama Islam ke ‘dukun’ kategori musrik.

Ucapannya singkat, padat dan jelas tidak menggurui. Tapi setelah bertemu pak Kustoro yang kini juga sudah almarhum, saya jadi tahu kalau teman sekantor itu lebih ke sakit psikis karena mencintai suami orang yang tak mungkin menceraikan istri untuk menikahinya.

Dayun minta saya hanya khusuk berdoa pada Allah dan doakan yang terbaik untuk teman kami itu. “Eloe da, sampai segitunya malem-malem dijabanin ngebelain temen padahal yang lagi sakit di rumah sakit di Bogor itu juga nggak minta bahkan nggak tahu eloe begitu peduli pada dia,”

Begitulah Dayun dalam kesehariannya, lebih banyak diam tapi banyak tersenyum dan mahfum dengan sepak terjang teman-temannya sendiri. Dia senang melayani dan tidak pernah hitung-hitungan mobil pribadinya sudah seperti mobil operasional kantor saja. Selamat jalan Dayun, kami semua juga pasti menyusul…..

Dibawah ini dua tulisan lainnya dari rekan-rekan Redaksi, teman seperjuangan dalam membangun perusahaan induk yang kini memiliki banyak usaha itu dan kini dikelola anak-anak milenial.

Dayun Bersama putri pertamanya Santri

Saya mengenalnya pada 1 Agustus 1985

oleh Lahyanto Nadie

Wahyoe Hendrodjanoe bin Molejono Hendrodjanoe.  Dia adalah karyawan paling kaya saat itu. Paling tidak dilihat dari mobilnya. Di antara 40  karyawan baru, hanya dia yang bawa mobil ke kantor yang sederhana .

Mungkin ada yang lebih kaya dari dia, tapi nggak bawa mobil ke kantor. Nyang naik motor saja jarang.  Kami—wartawan, fotografer, dan karyawan di bagian perusahaan—kebanyakan naik kendaraan umum ke Kramat V No.8, kantor Bisnis Indonesia. 

Hari pertama masuk kantor itu, Wahyoe tampak paling rapi. Penampilannya keren banget. Kemejanya bagus, sepatu branded, dan jeans merek Levis. Oh, satu lagi. Wangi. Saya kemudian memanggilnya Dayun, entah siapa yang memulai.

Ketika para 20 wartawan mengikuti training dasar-dasar jurnalistik yang diampu oleh Pak AD–kita semua tahu itu panggilan Pak Amir Daud—Dayun, di bawah bimbingan redaktur foto Pak Syahrir Wahab cermat berdiskusi bersama dua fotografer lain: Bambang Hasri Irawan dan Mukhtar Zakaria.

Pak AD memperkenalkan kami satu demi satu. Giliran Dayun, intonasi Pak AD berbeda. Lebih tinggi. Naik dari tone 6 ke 7. “Kita punya fotografer hebat. Dia sekolah di Jerman,” kata Pak Amir Daud (AD) sambil mengangkat tangan, gerakan yang khas buat wartawan legendaris itu, seraya menunjuk Dayun.

Saya langsung akrab dengan orang kaya itu. Diantarkannya saya dengan mobilnya ke rumah sepulang dari kantor. Dayun memarkir VW Combi parkir di bawah pohon bambu. Kini telah menjadi jalan Lenteng Agung Barat. Selera makan kami sama. Namun minumnya beda. Jika selepas makan saya minum teh hangat, Dayun memilih dingin. Bahkan esnya ditambah.

Pada bulan September 1985, setelah selesai training tentang jurnalistik modern yang diampu oleh Pak Amir Daud, kami keliling kota Jakarta. Wahyoe Hendrodjanoe menyetir VW Combi kebanggannya. Belasan wartawan disesakkan dalam mobil itu. Rame sekali. Beberapa wartawan dari daerah tampak masih bego, bengong melihat Bundaran HI, gedung Bank Indonesia dan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng.

Pemimpin rombongan, Ery Soedewo yang masuk langsung jadi redaktur, memperkenalkan para wartawan baru kepada pejabat BI dan Depkeu. Dayun memotret. Cekrek! Sayang, saya tak punya dokumentasinya.

Ketika saya  naik kelas dari korektor menjadi reporter, kami suka liputan bareng. “Yang buat caption loe aje ye,” kerap dia berkata begitu. Apa lagi jika kami membuat foto esai, niscaya ia memilihkan foto terbaik dan saya yang membuat captionnya, tentu agak lebih panjang.

Di luar kantor, kami akrab. Bahkan liburan keluarga saya ke Bali difasilitasinya. Kami tinggal di rumahnya di kawasan Doble Six, Kuta. Dia hafal nama istri dan anak-anak saya.

Pada Januari 1992, kami pindah kantor dari Kramat V ke Wisma Bisnis Indonesia di Slipi, Jakarta Barat. Sepuluh tahun bareng di lantai 6. Banyak suka dan suka di sini.

Pada 6 April 2002, saya dipromosikan menjadi direktur PT Aksara Grafika  Pratama, percetakan Bisnis Indonesia dengan investasi Rp40 miliar sehingga harus berkantor di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Dayun  sering datang ke percetakan. “Enakan di sini, gue nggak betah di sono [Slipi],” katanya.

Maklum. Meskipun hidup lebih sejahtera ketimbang saat berkantor di Kramat, karyawan dan manajemen sering ribut. Dayun kemudian memang dipindahkan ke Pulogadung, selanjutnya dipromosikan sebagai direktur di PT Solo Grafika Utama sehingga ia harus hijrah ke Solo. 

Ke Jakarta aku kan kembali…. Begitu syair lagu Koes Plus. Begitu pun perjalanan Dayun. Kembali ke Jakarta,  Wahjoe Hendrodjanoe kemudian jadi Direktur AGP hingga pensiun pada 5 Februari 2013. Saya jarang bertemu setelah ia pensiun. Kecuali saat reunian dan memenuhi undangan pernikahan anak-anaknya. Oh ya, buah cinta Dayun dan Latifah Sanad, tiga orang anak: Santri, Cietta, dan Gentha. 

Saat si sulung Santri menikah, kami angkatan Kramat reunian di Taman Mini Indonesia Indah. Anak keduanya, Cietta menikah pada 18 Oktober 2017. Melalui WAG kita menjalin silaturahmi. “Ada gue keles,” itulah komentar terakhir almarhum  tentang tulisan saya berjudul “Kisah 20 Wartawan Baru.”

“Pasti Yun. Loe ada terus dalam jiwa kita semua di sini. “. Tak terasa ketika menuliskan ini saya meneteskan air mata. Alfaatihah

Keguyuban yang kental dan kekhasan foto Bisnis Indonesia.

Oleh: P. Hasudungan Sirait

Suasana kekeluargaan kental sebab para seniornya sebagian besar tak feodal. Kesibukan yang membayang saban petang-menjelang di hari kerja, tak sampai melunturkan silaturahmi. Di bawah bayang-bayang ‘deadline’ pun awak suratkabar bernama ‘Bisnis Indonesia’ ini masih menyempatkan diri setidaknya baku sapa. Tak soal apakah itu orang redaksi atau bukan. 

Bila saat untuk mengakhiri jam kerja sudah mendekat, keguyubannya bakal lebih terasa. Mereka yang rumahnya di penjuru yang sama di peta kitaran DKI, umpamanya, akan saling berkoordinasi. Rombongan Pak Asmat—dia orang Betawi yang bekerja di bagian pra-cetak dan lagak-lakunya bisa mengingatkan kita pada kejenakaan Haji Bokir—salah satunya.

Tujuannya? Pulang ‘bareng’ dengan ‘nebeng’ pada sejawat yang punya mobil. Kala itu, di paruh pertama 1990-an, masih sangat sedikit karyawan PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG) ini yang memiliki kendaraan pribadi roda 4. 

Jika bulan Ramadhan tiba seperti saat ini, acara berbuka bersama di kantor pasti berlangsung tiap hari. Tak soal agamanya apa, tiap karyawan beroleh jatah serupa. Wujudnya? Masakan dari tukang katering. Agar tak monoton, terkadang nasi padang dibeli dari warung kecil di sebelah, milik Uni (begitu panggilan kami untuk perempuan separuh baya yang ramah dan murah senyum).

Karyawan suratkabar yang terbit sejak 14 Desember 1985 dan sahamnya dimilik trio konglomerat terkemuka— Anthony Salim, Ciputra, dan Sukamdani Sahid Gitosardjono—belum banyak di masa itu. Orang redaksi di Jakarta ditambah bagian pra-cetak paling 60-an orang.

 Kantornya berupa rumah tua memanjang satu lantai. Paviliun yang di depan dipakai oleh bagian bisnis sedangkan bangunan utama di sebelahnya oleh orang redaksi. Kru yang sedikit dan tempat kerjanya yang berupa rumah saja tentulah menjadi unsur perekat yang menghasilkan keguyuban. 

Tentu peluang satu sama lain untuk berpapasan besar, terutama di lorong yang memisahkan bangunan utama dengan perpustakaan kecil di sisi kiri. Di sanalah kami para reporter bekerja bergantian dengan menggunakan mesin ketik besar (Olivetti dan Olympia) manual. 

Adapun para petinggi, redaktur ke atas, mereka berkapling di ruang dalam yang tak berpenyekat. Mesin ketik serupa tersedia di meja mereka masing-masing. Tapi, siapa pun di antara mereka yang ingin menyiapkan sendiri kopi-teh atau mi instan di dapur belakang mesti melewati lorong tak beratap yang menjadi ruang kerja kami para reporter dan ‘stringer’ [wartawan yang tak berstatus karyawan tetap alias organik]. 

Faktor perekat yang tak kalah penting adalah pembawaan karyawan (redaksi dan non-redaksi) yang umumnya tak macam-macam. Mas Wahjoe Hendrodjanoe, termasuk. Alhasil, kami ber-12 yang merupakan angkatan reporter terbaru di sana kala itu, tak sulit menyesuaikan diri di hari pertama bergabungpun. 

‘Bisnis Indonesia’ di paruh pertama 1990-an seperti miniatur Indonesia kalau dilihat dari segi etnisitas. Selain Jawa, suku yang cukup dominan di sana adalah Minang. Seperti kata Bang Haji Rhoma Irama dalam satu lagunya, di sana ada Sunda, Betawi, Ambon, Flores, Batak, Dayak, Manado, Arab, Tionghoa, Toraja, Bugis,…. 

Saat aku bergabung di awal 1990-an, di daftar susunan redaksinya sudah tidak ada lagi nama Amir Daud, Syahrir Wahab, dan Abdullah Alamudi yang merupakan angkatan pendiri. Pun Utari, Andy Noya dan Adrianus Pao. Dua yang terakhir ini sudah pindah ke koran milik Surya Paloh: ‘Prioritas’ yang kemudian menjadi ‘Media Indonesia’. 

Di masa kami, Pemimpin Redaksi (Pemred) ‘Bisnis Indonesia’ bukan lagi Pak Amir Daud, wartawan senior yang pernah bekerja di majalah ‘Time’ dan yang berperan besar dalam merancang kebijakan redaksi majalah ‘Tempo’ [selain perwajahannya mirip betul, tempo tidak lain dari ‘time’, kalau diinggriskan]. 

Kedudukan orang Minang yang saklak menjalankan standar jurnalisme, secara ‘de jure’ telah digantikan oleh Pak Sukamdani. Tapi ’de facto’, di ‘Bisnis Indonesia’ wakil Pemred-lah yang menjalankan tugas sehari-hari bos grup Sahid yang memang tak pernah menjadi wartawan. Mereka dibantu oleh redaktur pelaksana dan redaktur yang umumnya tangguh. 

Kantor kami waktu itu—sebelum pindah ke Wisma Slipi sekarang—di Jl. Kramat V. Letaknya dekat saja dari tempat penyiksaan seram bersebutan Kremlin. Sejak tahun 1965 musuh penguasa Orde Baru dipermak Pelaksana Khusus Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Laksus Kopkammtib) di sana. Salah satunya adalah aktifis Islam Tony Ardie yang tersangkut kasus Tanjung Priok (4 Oktober 1984). Tanpa sempat bertegur sapa, beberapa kali aku bertemu dengan dia saat kami sama-sama makan di warung Uni. Ia selalu tampak bersantap bersama orang Kremlin. 

Reuni awak Redaksi dan Perusahaan beberapa tahun lalu di Pulau Dua Restoran, Senayan.

Fotografer lulusan Jerman

Saat aku masih menjadi wartawannya, ‘Bisnis Indonesia’ memiliki skuad fotografer yang terbilang tangguh. Kelik Taryono, Tavip Mahone, Bambang Hasri Irawan, dan Elly Sundari, unsurnya. Belakangan hari setelah kantor kami pindah ke Wisma Bisnis Indonesia, Slipi (kini namanya menjadi Wisma Slipi), Endang Muchtar merapat. Komandan mereka (redaktur) sampai jauh hari kemudian , tetap Mas Wahjoe Hendrodjanoe. Mereka memiliki ruang gelap dan tenaga periset sendiri. 

Para juru foto ini terlatih, sigap, dan rajin. Jadi, tak kalah dibanding wartawan tulis yang sehari-hari bermitra dengan mereka di lapangan. Elly Sundari, termasuk. Ia banyak mengabadikan dunia hiburan dan fesyen karena fokusnya lebih ke ‘Bisnis Indonesia Minggu’ (‘BIM’). Lulusan IKIP Bandung yang modis ini kemudian tewas saat pesawat Silk Air jatuh dan raib di Sungai Musi, Palembang, pada Jumat, 19 Desember 1997. Senior yang akrab denganku, sedang bertolak dari Bandara Soekarno Hatta ke Singapura di hari naas itu. 

Sebagai pecinta fotografi, sejak awal aku jarang menyukai foto yang disuguhkan ‘Bisnis Indonesia’. Pasalnya, menurutku, serba formal sehingga mengorbankan estetika. Orang yang sedang bersalaman, terutama saat penandatangan nota kesepakatan (MoU), yang ditampilkan sebagai foto utama halaman 1. Di halaman lain ya, foto peresmian, peluncuran produk ini-itu, atau seminar. 

Tak habis pikir aku melihatnya sebab aku tahu persis bahwa para juru potret kami itu piawai secara teknik dan paham estetika. Lagi pula redaktur mereka, Mas Wahjoe Hendrodjanoe, fotografer piawai yang dulu bersekolah di Jerman. Pria jangkung yang selintas terkesan ‘dingin’ padahal pembawaannya sesungguhnya sebaliknya, sangat dihormati anak buahnya. 

Di luar pun ia diperhitungkan para koleganya. Soal yang satu ini kuketahui kemudian setelah tak sekantor lagi dengan dia. Berkali-kali Kelik dan Tavip kugugat dan kugoda karena jepretannya melulu orang yang lagi salam-salaman. Jawaban kedua kawan baikku tersebut? 

“Kan ‘style’ koran kita begitu… Untuk HL [headline] halaman satu harus bos-bos yang lagi salaman,” ucap Kelik, di suatu waktu.“Kalau lain, nggak akan dimuat.” Foto untuk halaman lain pun, lanjut dia, khusus untuk karya ‘Bisnis Indonesia’ sudah ada pakemnya. “Aku bukannya nggak bisa bikin foto yang artistik,” kata Tavip yang pembawaannya selalu lucu, ke aku di satu kesempatan. 

‘Anak nakal’ kami yang pernah menjadi kelasi (anak kapal) dan kala itu dekat dengan cucu Pak Harto, Ari Sigit, lantas memerlihatkan foto-foto para model hasil jepretannya. Kuat memang, dari segi apa pun. Pula sangat berani! Tak heran kalau kami para lelaki rajin bertanya begitu melihat dia pulang dari lapangan: “Punya foto yang ‘asyik’ lagi, nggak?” 

Kelak, di suatu pagi menjelang siang aku pernah melihat Tavip mengarahkan seorang model dalam pemotretan dadakan. Ia begitu berwibawa dan trampil menyuruh perempuan muda yang nantinya akan menjadi bintang sinetron termashyur, berpose ini-itu. Ajaibnya, sang model manut saja laksana kerbau dicucuk hidung. Pemotretan berlangsung di tempat terbuka di tepi pantai Pulau Peucang yang berbatasan dengan cagar alam Ujung Kulon, Jawa Barat. 

Saat itu Tavip, Arief Rahman, dan aku sedang meliput acara memancing dengan gaya ‘trolling’ [menggunakan umpan artifisial yang diseret kapal]. Pesertanya anak-anak penggede negeri kita. Sebelum akhirnya tiba di Pulau Peucang, rombongan kami yang berangkat sore dari Pantai Marina, Ancol, dinyatakan hilang dan dicari berjam-jam oleh tim SAR. 

Sempat terombang-ambing di lautan ganas semalaman, kapal kami kemudian terdampar di Lampung, esok subuhnya. Aku sendiri baru siuman setelah di Lampung. Mabuk-laut parah membuatku tak sadarkan diri cukup lama. Dari Lampung, pagi itu juga kami bertiga sesama awak ‘Bisnis Indonesia’ melanjutkan perjalanan dengan kapal ‘Matahari’ (milik pengusaha Tomy Winata) lainnya. 

Dengan Kelik pun aku pernah berduet berhari-hari yakni saat meliput Pesta Danau Toba, di Parapat. Selama di lapangan, termasuk di Brastagi, Tanah Karo, kuamati ia bekerja. Kepekaan artistiknya tinggi. Hasil jepretan dia kala itu yang memang mencuat ‘human interest’-nya kemudian muncul di kalender ‘Bisnis Indonesia’ 1995 bersama karya Wahjoe Hendrodjanoe , Bambang Harsri Iriawan, dan SS Lystiowati (yang terakhir ini juru foto majalan ‘Indonesia Business Weekly’). 

Lantas, mengapa foto-foto di koran kami serba verbal padahal kemampuan estetik penjepetnya tak kurang? Setelah lama tak habis pikir, aku kemudian menemukan jawabannya. 

Wejangan Pak Ci

Di satu Sabtu—tim ‘Bisnis Minggu Minggu’ saja yang masuk di hari itu—foto utama koran kami sangat lain dari sebelumnya. Sisi manusiawinya kuat betul sehingga sanggup membuktikan kebenaran pameo lama: satu foto bisa lebih dari 1.000 kata. 

Obyeknya? Bangunan jangkung-besar yang menyembul di belakang perkampungan miskin di pinggir laut. Lupa aku siapa pengabadinya. Yang pasti, kalau bukan Wahjoe Hendrodjanoe ya, Bambang Harsri Iriawan yang juga berpembawaan kalam.

Sangat girang aku melihatnya. Besoknya kuberi pujian ke kawan-kawan dari bagian foto, termasuk ke redaktur mereka: Wahjoe Hendrodjanoe.  ”Begitu ‘dong’…kan siip! Koran kita jauh lebih keren,” ucapku dengan tulus. Saat itu kami sudah berkantor di Slipi. 

Besok sorenya terjadi kegegeran kecil di kantor. Pasalnya? Terbetik kabar dari sekretariat redaksi bahwa Pak Ciputra (Pak Ci) galau akibat potret yang lain dari yang lain itu dan besok dia akan datang ke kantor untuk bicara di depan orang redaksi tentang fotografi yang baik. 

Setahuku, sebelumnya sama sekali tidak ada cerita bahwa pesaham kami—apakah Pak Anthony Salim atau Pak Ci atau Pak Kamdani—sewot karena suguhan awak redaksi; apalagi sampai intervensi langsung. Apa gerangan yang akan dikatakan Pak Ci? 

Pengusana properti yang merupakan salah satu pendiri PT Pembangunan Jaya itu memang muncul pada Senin siang; hal yang sangat jarang terjadi. Tapi tak tampak kekeruhan di wajah dia saat bermuka-muka dengan hadirin. Senyumnya tetap mengembang dan tangannya sigap membalas jabat tangan. 

Segenap orang redaksi menyimak dengan saksama selama Pak Ci bicara. Sang arsitek lulusan ITB mengatakan dengan tuturan yang santun bahwa kontradiksi seperti yang mencuat dari foto ‘headline’ edisi Sabtu itu sebaiknya tidak dimunculkan lagi sebab tak sesuai dengan misi yang diemban ‘Bisnis Indonesia’. Motto harian ini adalah “Dari swasta untuk swasta, demi pembangunan.” Gaya foto selama ini, ia menegaskan, sudah pas sehingga tak perlu diubah lagi. 

Tak lupa ia mengingatkan bahwa proyek yang tampak dalam potret tersebut —pembangunan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) yang sedang ditangani Ciputra Group—bertujuan mensejahterakan orang banyak termasuk rakyat yang bermukim di kitaran sana; toh, ‘trickle-down effect’ [efek menetes ke bawah] pasti terjadi.

Kendati disampaikan dengan lembut dan santun, wejangan Pak Ci itu sangat efektif. Meminjam istilah pelawak Tukul Arwana, yang terjadi setelah itu adalah: Mas Wahjoe dan anak buahnya dari bagian foto “kembali ke laptop”. Artinya, foto-foto ‘Bisnis Indonesia’ menjadi severbal semula. Gambar ketimpangan kelas, nihil. Begitu seterusnya hingga puluhan tahun kemudian. 

Berduka

Kemarin (Senin, 4 Mei 2020) Mas Wahjoe Hendrodjanoe—sosok yang sejak ‘Bisnis Indonesia’ berdiri tahun 1985 hingga puluhan tahun kemudian menjadi orang foto terpenting di sana—berpulang. Hari itu juga ia dimakamkan di Bogor. Aku merasa sangat kehilangan. Begitupun, atas nama jarak sosial di masa Corona, tak ikut aku melayat meski berada di kota yang sama. Jam sejarah seperti diputar mundur. 

Sejak mendengar berita keberpulangannya kemarin pagi hingga tadi anganku terbang ke alam kebersamaan kami sejak dari zaman Kramat V hingga Slipi. ‘Bisnis Indonesia’ yang asyik karena orang-orangnya hangat dan bersahabat, terpaksa kutinggalkan di awal 1996. Penguasa Orde Baru melarang kami bekerja di redaksi begitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kami deklarasikan pada 8 Agustus 1994.

 Aku dibuang ke Litbang tanpa pekerjaan yang jelas. Di sana aku harus berpotongan dan berperilaku sebagaiman lazimnya pegawai. Sungguh siksaan yang maha berat bagi diriku yang terbiasa bebas. Setelah beberapa bulan berselang aku akhirnya mengundurkan diri karena sadar diri ini hanya akan menjadi duri dalam daging saja kalau masih di sana. 

Sejak itu bertahun-tahun aku putus kontak total dengan kawan-kawan di sana. Beberapa tahun setelah Pak Harto tumbang barulah aku menginjakkan kaki kembali di Wisma Bisnis Indonesia, Slipi. Tepatnya: di saat kawan seangkatanku yang insinyur dari UGM, Ahmad Djauhar [Ljh] sudah menjadi Pemred mereka. 

Bukan sebagai wartawan mereka lagi aku saat kembali ke sana melainkan evaluator kinerja awak redaksi (selama 1 bulan) serta pengajar yang melatih-membimbing jurnalis mereka selama beberapa gelombang. 

Setelah mereka pindah ke kantor sekarang (di sebelah perkuburan Karet), itu masih berlanjut hingga beberapa angkatan lagi. Tapi, tatkala aku kembali ke sana untuk kali pertama, sebagian besar orang-orang dari zaman Kramat V sudah keluar lewat program pensiun dini. 

Dengan Mas Wahjoe Hendrodjanoe sendiri lama sekali aku tak bersua. Setelah pengunduran diriku di tahun 1996, baru pada 8 Agustus 2015-lah aku melihatnya kembali yakni di reuni ‘Bisnis Indonesia’ di Restoran Pulau Dua, Senayan. 

Ternyata itu pula pertemuan terakhirku dengan dia. Sedih, ya…Tapi begitulah hidup. Selamat jalan Mas Wahjoe yang baik. Beristirahatlah dalam damai. 

Drupada, Bogor, 5 Mei 2020. 

 

Whisnutama: Mari Bersama Jaga Ketahanan Industri Pariwisata

this formate

Mobil listrik Grab diparkir untuk fasilitasi transportasi tenaga medis. Kemenparekraf Gandeng Grab Siapkan Transportasi untuk Tenaga Medis RS Rujukan COVID-19. ( Foto: Memenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjaga ketahanan industri pariwisata dengan menggandeng Grab Indonesia dalam menyediakan sarana transportasi bagi tenaga kesehatan Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Mintohardjo.

Menparekraf Wishnutama menekankan kerja sama ini adalah salah satu upaya menjaga ketahanan industri pariwisata termasuk para pengemudi, dimana Grab Indonesia selama ini memiliki peran dalam menyediakan alternatif transportasi bagi wisatawan.

Pihak Grab Indonesia akan menyediakan layanan armada roda 4 khusus untuk tenaga medis yang bepergian antara RSAL Mintohardjo dan Hotel Le Meridien.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari berbagai stakeholder pariwisata yang semakin hari semakin besar, tidak hanya bersama-sama berupaya mencegah penyebaran COVID-19 tapi juga ketahanan industri,” kata Wishnutama Kusubandio saat meninjau kesiapan armada yang disiapkan Grab Indonesia di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dalam kerja sama ini Wishnutama mengatakan penerapan Standard Operational Procedure (SOP) yang dapat menjamin kebersihan dan keselamatan penumpang juga mitra pengemudi harus dijalani. Wishnutama pun menilai pihak Grab Indonesia telah menyiapkan SOP itu dengan baik.

“Kami yakin kolaborasi ini dapat memberikan rasa aman bagi mobilitas petugas medis maupun masyarakat yang membutuhkan di masa pandemi ini serta ke depannya mendukung industri pariwisata Indonesia untuk bangkit kembali,” katanya.

President of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata mengatakan, dalam menyediakan layanan transportasi yang aman dan nyaman, khususnya dalam masa pandemi dan perluasan PSBB di berbagai daerah di Indonesia, Grab mendedikasikan armada roda 4 khusus yang akan melayani para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia.

Armada khusus ini dilengkapi partisi plastik di dalam mobil yang melindungi pengemudi dan penumpang dan dilakukan disinfeksi secara berkala.

Selain itu mitra pengemudi juga telah diberi pelatihan SOP khusus terkait pencegahan penyebaran COVID-19 serta dilengkapi dengan APD seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizers.

“Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia untuk membantu mobilitas para tenaga medis dalam beristirahat setelah bertugas menangani pasien COVID-19. Kami juga siap untuk bisa mendukung industri pariwisata bangkit,” kata Ridzki Kramadibrata.

Kemenparekraf Tambah Akomodasi Hotel Untuk Tenaga Kesehatan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Seiring semakin bertambahnya permintaan fasilitas akomodasi bagi tenaga kesehatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan akomodasi tambahan bagi 154 tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr. Mintoharjo, Jakarta dengan menempati 77 kamar di Hotel Le Meridien,  Jakarta.

“Kerja sama dengan pelaku industri pariwisata ini merupakan salah satu misi kemanusiaan. Di samping mendukung industri hotel tetap hidup. Sebab semua pihak harus bersatu bahu-membahu dalam menghadapi pandemi ini,” ujar Wishnutama Kusubandio saat meninjau kesiapan Hotel Le Meridien, hari ini.

Sebelumya, Kemenparekraf telah memfasilitasi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan untuk mendapatkan akses transportasi dan akomodasi bekerja sama dengan puluhan hotel. Mulai dari Accor Group, Swissbel Hotel, Reddoorz, Grand Sahid, dan terakhir dengan Hotel Le Meridien ini. Sedangkan untuk penyedia jasa transportasi, Kemenparekraf telah bekerja sama dengan Panorama Destination, White Horse, Antavaya, dan Grab.

Dalam upaya memberdayakan kalangan industri pariwisata, Wishnutama mengatakan, tidak hanya fasilitas dan kebutuhan pendukung bagi para tenaga kesehatan selama menginap seperti binatu untuk pakaian, makanan tapi juga menambah  layanan transportasi dengan Grab setiap harinya bagi para tenaga kesehatan dari RSAL Dr. Mintoharjo.

“Kami terus memfasilitasi permintaan dari RS untuk menyediakan akomodasi bagi tenaga kesehatan. Langkah ini sama artinya dengan upaya nyata bagi penerapan program-program yang sifatnya jaring pengaman untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Wishnutama.

Saat meninjau kesiapan dan standar operational procedure (SOP) kesehatan yang diterapkan pihak Hotel Le Meridien mulai dari proses check in, kebersihan kamar, pelayanan makanan dan lainnya, dia menjelaskan, melalui program ini tidak hanya tenaga kesehatan yang terfasilitasi, tapi sekaligus membantu pekerja, pengusaha hotel, dan pelaku usaha transportasi.

Para pekerja langsung seperti Divisi Front Office terdiri dari door boy, bell boy, Customer Service,  Housekeeping yaitu room boy, cleaning service, laundry,  Food and Beverage (F&B), Product (chef, assistant chef, bakery), F&B Service (waiters, room service), dan Back Office seperti accounting, administration menjadi semangat melatani dengan masuknya tamu-tamu hotel dari kalangan tenaga medis ini.

Sedangkan, pekerja yang tidak langsung seperti supplier sayuran, supplier ingredient (bumbu), daging, supplier antiseptik, supplier chemical perawatan hotel, dan sebagainya juga bisa terus bekerja seperti biasanya untuk menghidupi keluarganya.

“Kerja sama ini juga sebagai bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni bisnis hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya dengan program tersebut. Namun semua dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol dan SOP kesehatan yang ketat,” ujarnya.

General Manager Le Meridien Jakarta, Vikas Malik mengatakan, kerja sama ini jadi kesempatan baik bagi pihaknya tidak hanya dalam kelangsungan bisnis tapi juga membantu dalam penanganan COVID-19 dengan menyiapkan akomodasi bagi tenaga kesehatan.

“Kita mendapat kesempatan untuk mensupport dengan menjadi lokasi menginap tenaga kesehatan di hotel kami. Dalam praktiknya kami tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan dan kami memastikan semua akan berjalan baik,” kata Vikas Malik.

 

 

Hindari Perceraian Selama Lockdown, Orang Jepang Pilih Menyepi ke Hotel

this formate

 

Orang Jepang memilih hotel untuk menyelamatkan perkawinan (foto: CNN)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Cerita bermula saat Keisuke Arai, pegawai operator pariwisata yang berbasis di Tokyo, Jepang, mulai sering bertengkar dengan pasangannya selama masa lockdown. Seperti nasib penduduk di belahan  dunia lain, pandemi Covid-19 memaksa Arai untuk bekerja dari rumah.

Itu artinya dia menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasangan hidupnya  di rumah. Ini pengalaman baru buatnya dan ternyata tidak mudah untuk menyesuaikan diri hidup bersama pasangan selama 24 jam 7 hari, di bawah satu atap.

Dia pun bertanya-tanya apakah pengalaman serupa juga dialami pasangan lain. Tak menunggu waktu lama, jawaban atas pertanyaan itu muncul. Pada 3 April lalu hashtag#coronadivorce menjadi trending topik di media sosial. Banyak orang ngomel tentang pasangan mereka dan mengeluhkan hidup bersama terus-menerus. 

Dengan tingginya ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, banyak pasangan akan semakin stres. Arai melihat peluang bisnis sekaligus kesempatan untuk menyelamatkan hubungan para pasangan yang tengah terancam.

Komentar pasangan yang berseliweran di media sosial mencetuskan ide. Perusahaan tempat Arai bekerja, Kasoku, melihat peluang bagaimana menawarkan solusi sembari menghasilkan uang. Kasoku kemudian mengiklankan ratusan kamar hotel yang selama ini kosong kepada pasangan yang sedang stres; tentu dengan harga terjangkau.

Begini cara kerjanya: perusahaan menawarkan 500 kamar yang dilengkapi dengan perabot, di hotel maupun penginapan lain di seluruh Jepang. Para tamu dapat menginap sehari saja atau hingga enam bulan. Tarif sewa per unit sekitar US$ 37 per hari; sebulan US$ 844.

Sejauh ini sudah ada 140 orang yang menanyakan penawaran tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan berusia 30 sampai 40-an yang tengah mencari tempat yang tenang untuk bekerja jarak jauh. Ada juga pelanggan yang mencari kamar untuk sekadar menjauh dari pasangan mereka. Sudah 37 orang memutuskan untuk menyewa kamar.

“Kami ingin mencegah orang untuk bercerai,” kata Arai seperti dilansir CNN. “Tujuan di balik ide penyewaan kamar ini adalah agar pasangan yang sudah menikah mempunyai banyak waktu dan ruang untuk memikirkan kembali kondisi hubungan mereka.”

Saat Jepang tengah berjuang mengatasi wabah virus Corona, ada harga yang harus dibayar yaitu banyak kegiatan bisnis terhenti. Sektor pariwisata termasuk yang paling keras terdampak, karena para pelancong memilih menjauhi tempat-tempat wisata. Per 4 Mei, jumlah kasus Corona di Jepang tercatat 14.877 orang dan 487 orang  di antaranya meninggal dunia.

Selama 10 tahun terakhir, Jepang terus berupaya menciptakan iklim kerja yang lebih sehat bagi para karyawan. Di era 70 dan 80-an banyak pekerja kantoran lebih lama menghabiskan waktu di tempat kerja ketimbang di rumah. Saat itu mereka dituntut bekerja keras demi menyokong ledakan ekonomi Jepang. Kini, para karyawan pria lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.

Meski demikian masih ditemukan beberapa suami menghabiskan waktu berjam-jam di kantor. Tapi itu bukan karena bos mereka memaksa melakukannya; mereka begitu karena ingin menghindari berlama-lama di rumah. Demikian menurut Jeff Kingston, seorang ahli Jepang di Universitas Temple, Tokyo.

“Saya pikir (beberapa pria Jepang) kadang-kadang ingin lari dari kenyataan – mereka ingin terbebas dari pekerjaan rumah tangga, atau mereka tak ingin anak remajanya melihat mereka sebagai alien,” kata Kingston.

 

 

Desa Wisata Familiar Dengan New Normal Berkat Sapta Pesona

this formate

Gunung Api Purba di Desa Wisata Nglanggeran, Patuk, Yogya memiliki spot foto yang indah. ( Foto: FB Sugeng Handoko Purba)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pembangunan pariwisata ke depan, akan fokus ke hal-hal yang sangat prinsip guna mengantisipasi tren dan paradigma baru pariwisata atau dikenal dengan istilah New Normal yang lebih peduli pada masalah sanitasi dan higienitas.

“Paradigma New Normal yang disampailan Menparekraf Whisnutama menjadi gagasan yang positif, untuk peningkatan destinasi maupun SDM pelaku pariwisata di Indonesia. Bagi desa wisata paradigma itu sudah lama kami terapkan yaitu 7 unsur Sapta Pesona, kata Sugeng Handoko, Pelopor Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata  Nglanggaran di Gunung Kidul, Yogyakarta, hari ini.

Menurut dia, hal yang perlu dipertajam adalah indikator dan panduan detailnya. Akan lebih mantab lagi jika ada semacam standard operation procedure  (SOP) yang disiapkan. Contohnya saat wisatawan datang prosedurnya seperti apa? Perlukah cek kesehatan/suhu tubuh, penggunaan masker? jaga jarak?.

Berwisata pasca COVID-19 akan membawa kebiasaan saat pandemi berlangsung seperti sering cuci tangan, tetap jaga jarak atau pembatasan jumlah orang menghindari adanya kerumunan. Oleh karena itu tentu akan ada perubahan perilaku wisatawan maupun pengelola destinasi wisata.

Bagi pengelola desa wisata di tanah air, umumnya sudah mengenal  logo Sapta Pesona yang dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur Kemanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan.

Sejak tahun 1990 an tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari 7 unsur tersebut.

Sugeng Handoko, pengelola desa wisata Nglanggeran, Yogyakarta.

Untuk mensosialisasikan New Normal yang peduli higienitas bahkan desa wisata yang telah menerapkan Sapta Pesona juga  harus ditingkatkan lagi dan selalu dikampanyekan agar semakin banyak masyarakat yang mengamalkan budaya aman, tertib, bersih, sejuk, indah,  ramah dan kenangan,” kata Sugeng.

Pro-aktif reresik desa

Ketika wabah virus COVID-19 membuat masyarakat harus tinggal di rumah, berkantor, belajar dan beribadah di rumah serta adanya pembatasan lain hingga obyek wisata yang dikelolanya harus ditutup, Sugeng mengatakan masyarakat menjadi prihatin dan menjadi pukulan berat.

Namun para pengelola dan pengurus desa wisata langsung pro-aktif reresik (bersihkan) desa, melakukan  perbaikan fasilitas, bergotong royong membersihkan obyek wisata unggulan Nglanggeran dan memasang banyak wastafel agar masyarakat desa sering cuci tangan.

“Kami harus tetap berfikir positif dan berupaya mengambil hikmah dari wabah  ini. Diantaranya lebih memperhatikan pola hidup sehat dan menyadari perlu ada jeda (istirahat) bagi alam semesta”

Ekowisata Gunung Api Purba dan aktivitas Desa Wisata Nglanggeran yang menjadi satu kesatuan selama ini sibuk melayani kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negri. Desa wisata ini terkenal dengan wisata gunung, embung, dan air terjun.

Gunung api purba adalah sebutan yang biasa diberikan pada fosil gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi atau telah mati. Sedangkan embung (tampungan air) Kebun Buah Nglanggeran di Desa Wisata Nglanggeran memiliki luas 0,34 Ha yang digunakan sebagai pengairan kebun buah durian dan kelengkeng. Jenis durian yang ditanam adalah jenis durian Montong. Di embung inilah.

Waduk mini yang berada di ketinggian 495 mdpl ini juga menjadi primadona para pemburu senja  untuk menikmati keindahan matahari terbenam (Sunset ) yang ditawarkan. Penduduk setempat juga membuka pintu rumah bagi wisatawan yang ingin menginap dan merasakan hidup layaknya penduduk desa lewat program Live In.

” Tahun 2019 kami melayani 103.107 orang wisatawan dengan omzet Rp 3,2 Milyar dari dominasi paket-paket Live In,  kunjungan study banding, outbond dan menginap di homestay. Sedikitnya ada 80 homestay di Desa Wisata Nglanggeran,” kata Sugeng.

Pengelola dan masyarakat Nglanggeran tidak putus dengan doa agar semuanya bisa pulih kembali dan bersiap untuk melayani kunjungan wisatawan yang pastinya akan membludak setelah kondisi normal karena jenuh terus berada di rumah, ujarnya.

Biasa menerima tamu bahkan rombongan harus antri untuk Live In tetapi sekarang situasinya berubah total tidak ada pengunjung. Namun semua itu disyukuri saja.

“Masyarakat kami tetap beraktivitas menekuni pertanian dan berkebun karena saat ini musim panen padi dan garap sawah,” kata Sugeng Handoko.

Fokus soal kebersihan

Menyinggung masalah kebersihan, salah satu unsur utama dalam Sapta Pesona, Sugeng mengatakan bahwa awal-awal pendirian Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) sebagai pengelola Desa Wisata Nglanggeran dan Ekowisata Gunung Api Purba  memang menjadi tantangan terberat untuk mendisiplinkannya di tengah masyarakat.

” Awal-awal pendirian Pokdarwis pada 2007 kami sadar terkait kebersihan butuh proses panjang. Setelah itu kami melakukan edukasi kepada wisatawan dan semua orang yang datang bahkan pihak terkaut termasuk instansi pemerintah yang juga kadang ada yang masih belum semuanya sadar untuk  turut menjaga kebersihan,” jelasnya.

Repotnya lagi masih ada yang beranggapan karena sudah membayar uang kebersihan kemudian bebas boleh sembarangan membuang sampah.” Nah Alhamdulillah saat ini unsur “Bersih” di Sapta Pesona Nglanggeran tidak terlalu menjadi tantangan terberat. karena sudah ada sistem yang kami siapkan,”.

Pihaknya memiliki sistem sapu gunung oleh team setiap dua kali dalam seminggu yang juga bisa menjadi kebiasaan baru. Piket menjaga kebersihan toilet setiap hari, mengedukasi wisatawan dan mensosialisasikan membawa sampah turun dari gunung.

Bahkan pada rombongan yang datang Live In sebelum tiba di Nglanggeran sudah diedukasi dan disampaikan aturan main di kawasan ekowisata Gunung Purba yang  masuk jadi salah satu Geosite Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, sehingga harus turut dijaga semua pihak.

Sugeng mengatakan dalam mengedukasi masyarakat untuk menerapkan Sapta Pesona maka harus dimulai dari diri sendiri dan mencontohkan keteladanan pada masyarakat. Jadi sebagai pimpinan, ujarnya, memberikan contoh pribadi dalam menerapkan Sapta Pesona jauh lebih efektif dari pada hanya memasang papan berisi unsur  sapta pesona di berbagai sudut obyek wisata.

Ke depan, pengelola harus membuat program kegiatan yang  disusun dan dilakukan secara bersama sama. Begitu juga membuat papan-papan himbauan yang menggerakkan masyarakat dan wisatawan mengimplementasikan Sapta Pesona maupun dengan pelatihan pelatihan dan seminar.

“Saya sangat yakin Allah SWT sutradara paling hebat, jadi pasti akan ada hikmah dibalik bencana global ini. Kita harus selalu tawakal, sabar dan berusaha,”

Sugeng yang biasanya punya jam terbang cukup tinggi untuk berbagi ilmu pengelolaan desa wisata di Indonesia mengaku awalnya cukup berat harus berdiam diri di rumah guna mencegah penyebaran virus.

” Awalnya juga sangat berat, tapi saya mencoba “noto ati” dan segera beradaptasi. Alhamdulillah sampai sekarang bisa menjalankan aktivitas dirumah dengan nyaman,” ungkapnya.

Hikmahnya ada banyak waktu di rumah, Sugeng bisa bikin komposter skala rumah tangga krn Tempat Pengelolaan Sampah ( TPS) desa tutup sementara juga. Ada banyak waktu dengan, membuat dia bikin konten promosi desa lebih leluasa dan belajar aneka aplikasi online untuk meeting bahkan promosi Desa Wisata.

Meski Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, banyak  memperoleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik di Indonesia dan menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017 dan penghargaan lainnya, rupanya tidak membuat Sugeng dan tim pengelola  yang melibatkan 154 orang cepat berpuas diri.

Omzet tahun lalu yang mencapai Rp 3,2 milyar telah meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain pekerjaan tetapnya sebagai petani, wirausaha dan pegawai pemerintah. Bonus penghasilan dari sektor pariwisata mencapai UMR 2020 di Kabupaten Gunungkidul sebesar Rp 1.705.000.

“Pariwisata memang sektor yang paling berdampak atas wabah COVID-19 tetapi kami yakini juga akan menjadi yang tercepat mendorong pemulihan ekonomi bangsa sehingga kita harus siap dengan New Normal dan terus meningkatkan pelayanan. Salam dari desa,” pesannya.

 

Tips dan Manfaat Timun Suri Si Buah Ramadhan  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id :  Timun Suri, sebagaimana tradisinya dari masa ke masa, ia tetap memenuhi janji hadir di pasar-pasar khususnya di sekitaran Jakarta, begitu masyarakat muslim mengumandangkan kalimat “Marhaban yaa Ramadhan”. 

Nggak peduli musim ujan, kek! Musim panas, kek…! Pokoknya kalo bulan Sya’ban udah mau abis dan datang bulan Puasa, pasti deh itu buah nongol di pasar, digotong bergerobak-gerobak dari lahan petani di belah udik, Itu mangkanya orang menyebutnya Buah Ramadhan,” kata Emak (ibunya Ibu) saya, dulu. 

Buah yang Emak maksud, yang selalu nongol dari belah udik (kawasan Bogor) tiap kali datang bulan Puasa atau Ramadhan, tak lain dan tak bukan adalah buah timun suri yang biasa diolah menjadi hidangan dingin (dicampur es batu dan sirop) sebagai teman takjil (bersegera) berbuka puasa saat terdengar “Duuur…!” bedug Magrib. 

Lebih dekat dengan Melon

 Ketimun, mentimun atau timun suri, di beberapa tempat juga disebut sebagai Timun Betik ataupun Barteh. Ia termasuk suku labu-labuan (Cucurbitaceae) yang bentuk buahnya mirip Ketimun (Cucurmis sativus L.), dengan ukuran lebih besar (mirip labu) dan daging buahnya yang masak mengandung empelur (suri). Karenanya orang Betawi tempo doeloe lantas menyebutnya ketimun atau timun suri.

Walau bentuknya memanjang serupa ketimun, namun sesungguhnya timun suri bukanlah mentimun. Secara morfologi dan sitologi ia tidak sama dengan ketimun. Bentuk daun dan ukuran biji ketimun suri lebih mendekati Blewah atau Melon (Cucurmis melo), dan banyak lagi data ilmiah yang mengkatagorikannya lebih sebagai melon ketimbang ketimun.

Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati. Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (berkelamin ganda). 

Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga hermafrodit apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya jumlah buah biasa dibatasi agar menghasilkan ukuran buah yang baik.

Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari mesokarp (bagian kulit) berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam.

Ragam manfaat

Sebagaimana keluarga labu-labuan, buah Ketimun Suri dapat dimakan dalam keadaan segar. Karena itu, buahnya biasa dipanen sebelum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Daging buahnya yang memiliki kandungan air cukup banyak hingga berfungsi menyejukkan

Lebih dari sekadar buah segar, Ketimun Suri punya ragam manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Daging buahnya memiliki sifat diuretik, efek pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi; vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan silika; membuat Buah Ramadhan ini menjadi bagian penting dalam perawatan kulit. 

Masker wajah yang mengandung sari ketimun sejak lama digunakan untuk mengencangkan kulit. Asam askorbat dan asam caffeic yang hadir di dalamnya juga dapat menurunkan tingkat retensi air, yang pada gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata. 

Potongan buahnya juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah, dan dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Intinya, banyak manfaat ketimun suri bagi kesehatan, sebagaimana termaktub dalam berkas “tanaman bermanfaat obat” yang tersimpan di Perpustakaan Herbarium Bogoriensis di Kota Bogor.

Manfaatnya yakni  meningkatkan daya tahan tubuh. menangkal radikal bebas, menjaga kesehatan mata, menjaga tekanan darah, menjaga kesehatan sendi, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, detoksifikasi, menjaga kesehatan kuli, meningkatkan kesehatan pencernaan, sumber energi, menjaga kesehatan ginjal, dan pelapas dahaga. Ketimun Suri juga mengandung kalium cukup tinggi hingga sangat bermanfaat untuk menjaga kesegaran tubuh.

Sengaja dekat Ramadhan

Mengapa buah-buah ketimun suri hadir di seputar Jakarta di tiap menjelang bulan Ramadhan? Jawabnya sederhana, yakni: “Ada pasar ada barang”. Artinya, Jakarta dan sekitarnya di sepanjang bulan Ramadhan, merupakan sebuah pasar besar bagi buah timun suri ini.

Soalnya banyak orang (muslim) berpuasa yang antara lain butuh minuman penyegar saat bertakjil atau bersegera berbuka puasa saat terdengar beduk Magrib, dan daging buah ketimun suri cocok untuk jadi komponen minuman penyegar saat berbuka puasa.

Tapi kok, bisa-bisanya itu buah muncul di saat menjelang bukan Ramadhan? Jawabnya juga sederhana, yakni karena habitus kerimun suri merupakan tanaman semusim, tapi bukan tanaman musiman yang baru ada bila datang musimnya. Habitus ketimun suri dapat ditanam kapan saja, dan waktu panennya pun bisa diprediksi, yakni sekitar 40 hari setelah benih disemai menjadi bibit. 

Jadi, sekitaran 40 hari menjelang bulan Ramadhan, “Lahan udah kita siapin, lahan sewaan atau punya keluarga sendiri. Dipacul gembur bergalur-galur. Benih beli di toko pertanian, disemai jadi bibit, lalu ditanam dan dijaga, disiangi tiap waktu. Jelang Ramadhan buah dipanen, angkut ke kota atau bikin lapak di pinggir jalan sini, bunggu mobil pembeli mampir,” ucap Sa’alih, petani di kawasan Salabenda, Raya Parung – Bogor, Jawa Barat

Teknik memilih

Bila untuk jenis ketimun lainnya kita dianjurkan untuk memilih jangan yang terlalu tua, agar enak dilalap atau tak terlalu keras saat disayur, khusus untuk ketimun suri (sebagaimana jenis melon atau semangka) kita justru diminta untuk memilih yang tua. Teknisnya?

Jangan tertipu dengan warna kulit ketimun suri. Ada yang putih, ada yang kuning, ada pula yang berwarna hijau dengan gurat-gurat kuning seperti semangka. Ketiganya sama saja, tergantung varian jenis bibit yang ditanam sehingga warna kulit tak bisa dijadikan patokan.

Ada ketimun suri berwarna putih, tapi sudah matang. Demikian juga sebaliknya yang kuning atau yang berkulit hijau bercak kuning. Jadi warna kulit tak bisa dijadikan patokan tingkat kematangan. 

Tingkat kematangan buah Ketimun Suri ditandai dengan usia panennya. Makin tua ia akan jadi semakin matang dan bagus untuk diolah menjadi bahan campuran Es Sirop, misalnya.  Sebentuk tanda bahwa ketimun suri sudah tua, adanya retakan di bagian kulitnya. Kulit buah yang retak jadi penanda timun suri sudah matang di pohon.

Ketimun suri yang sudah matang juga akan mengeluarkan aroma manis wangi yang khas. Saat membeli, jangan segan untuk coba menghirup aromanya. Biasanya aroma yang terlalu berlebihan atau menyengat, jadi pertanda proses pematangannya tidak alami atau dikarbit. 

Ketimun suri yang matang pohon, harumnya lebih segar. Perhatikan juga bentuk dan teksturnya. Tepuk permukaannya secara perlahan, Tekstur yang lembut menandakan buah sudah matang dan siap diolah jadi jadi minuman segar saat berbuka puasa.

 

Pariwisata Indonesia Bersiap Jalani New Normal

this formate

Kawasan KEK Mandalika ( Foto: Kompas)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Keputusan pemerintah menerapkan kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ternyata efektif membendung penyebaran virus corona. DKI Jakarta, misalnya, sebagai provinsi paling parah terdampak Covid-19 melaporkan ada tren penurunan jumlah kasus posisitf dalam tiga hari terakhir.

 Jadi, kuncinya ada pada pembatasan kontak sosial yang ketat. Jangan-jangan inilah yang disebut sebagai new normal yang akan berlanjut meski pandemi berangsur mereda. Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal, termasuk pola hidup manusia di bumi. 

Selama vaksin virus Corona belum ditemukan, penduduk dunia akan cenderung beradaptasi dengan keadaan ‘normal baru’ yang berbeda dengan kondisi sebelum Covid-19.  Yang paling menonjol dari sejumlah adaptasi itu adalah interaksi tanpa kontak. 

khawatir tertular, banyak orang kini membatasi bersentuhan langsung ke sesama maupun terhadap objek. Pertemuan secara fisik yang melibatkan banyak orang kini tak zaman lagi. Warga lebih banyak ngendon di rumah.  Membayar barang dan jasa pun lebih banyak dilakukan secara online.

Dunia pariwisata termasuk salah satu sektor yang mau tak mau harus beradaptasi dengan keadaan ‘normal baru’. Industri yang banyak mengandalkan mobilitas manusia itu, kini menghadapi realitas baru. Keadaan normal baru itu mencakup standar dan protokol yang wajib diterapkan pelaku industri pariwisata jika memutuskan mulai beraktivitas, seperti social distancing di bandara, pengenaan masker di atas pesawat, check-in secara digital, pembayaran tanpa kontak, dan penerapan standar kebersihan yang ketat.

Menparekraf Wishnutama mengatakan hal -hal dasar yang perlu diperhatikan pelaku pelaku bisnis saat normal baru sektor pariwisata diterapkan adalah soal higienitas, kebersihan, dan keselamatan pelancong. 

“Jadi anggaran-anggaran ke depan akan kita fokuskan pada masalah dasar. Misalkan toilet bersih, itu suatu hal yang harus ada di semua destinasi wisata,” ujar Wishnutama.

Masalah ketersediaan toilet bersih di tempat-tempat wisata juga menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Dalam sebuah rapat terbatas, Presiden bahkan memerintahkan agar fasilitas toilet umum di objek wisata dibuat sekelas hotel bintang empat. 

Seperti apakah itu? Menurut klasifikasi yang dibuat Organisasi Pariwisata Dunia atau UNWTO, sejumlah fasilitas harus ada di toilet yang sesuai dengan standar hotel bintang empat dan lima. Berikut rinciannya: Kloset yang dilengkapi washlet atau shower, urinoir di toilet pria, wastafel, keran pada wastafel menerapkan teknologi tanpa sentuh atau free hand.

Ada cermin, karpet kamar mandi, pencahayaan yang memadai, tempat sampah umum dan tempat sampah khusus pembalut di toilet perempuan, tempat sampah dengan teknologi tanpa sentuh atau free hand

Persyaratan lainnya ada sabun, tisu/handuk, colokan listrik, luas kamar mandi yang memadai, semprotan pengharum ruangan, keterangan yang jelas untuk toilet laki-laki atau perempuan, sirkulasi udara lancar, bersih, harum, kering. Jangan lupa perlu toilet khusus anak, toilet khusus difabel, dan ada petugas penjaga toilet.

Meski berderet syarat yang harus dipenuhi, bukan berarti mustahil untuk diwujudkan. Toilet seperti ini mudah ditemukan di obyek wisata Pantai Kuta, yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika,Nusa Tenggara Barat.

Wapres KH. Ma’ruf Amin dan rombongan, saat berkunjung pada akhir Februari lalu sampai tak dapat menyembunyikan kekagumannya ketika diajak meninjau toilet tersebut. 

Wapres mengatakan bahwa toilet itu sesuai syariah dan kemanusiaan pengunjung. Sehingga, wisatawan muslimah dapat berganti pakaian dengan aman dan nyaman di kamar tersebut.

 

 

Pengelola Destinasi Agar Tata Ulang Tempat Wisata Selama Masa Darurat COVID-19

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ditutupnya destinasi wisata terkait pandemi COVID-19 harus menjadi momentum bagi para pengelola destinasi di tanah air untuk dapat mengevaluasi dan menata ulang tempat wisatanya sehingga menghadirkan kesan yang lebih baik untuk wisatawan termasuk mulai menerapkan pariwisata berkelanjutan.

Terlebih akan hadirnya kondisi “new normal” atau tren baru dalam berwisata pascapandemi, dimana wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, kenyamanan, sustainable and responsible tourism, authentic digital ecosystem dan lainnya.

“Hal-hal seperti ini akan menjadi platform kita ke depan, bagaimana pariwisata berkelanjutan jadi sebuah konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Teguh, dalam “Ngabuburit Pariwisata Nasional” dengan tema ‘Peran Sentral Sustainable Tourism pada Paradigma Baru Pariwisata Pasca COVID-19’ pada Senin (4/5/2020).

Turut hadir dalam acara tersebut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, anggota Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) M. Baiquni, Ketua Umum DPP GIPI Didien Djunaedy, serta Waketum GIPI yang juga anggota ISTC David Makes.

Frans menjelaskan, dalam penerapan pariwisata berkelanjutan sudah terdapat pedoman-pedoman yang dikeluarkan oleh Global Sustainable Tourism Council. Indonesia juga secara aktif berkoordinasi dengan UNWTO hingga terbentuknya Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC).

Bahkan pemerintah juga telah menyusun pedoman dalam penerapan pariwisata berkelanjutan yakni melalui Permenpar Nomor 14 tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.

Kemenparekraf pun telah memiliki  framework serta action plan hingga sertifikasi yang bekerja sama dengan universitas. Dimana usaha tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sustainable tourism destination di berbagai daerah tanah air.

“Hasilnya, sudah banyak sebenarnya penggiat pariwisata, pelaku desa wisata, serta komunitas yang telah berhasil menerapkan pariwisata berkelanjutan sehingga dapat memberikan nilai tambah dalam perkembangan ekonomi maupun pengembangan secara umum,” kata Frans Teguh. Hanya saja, untuk menerapkannya lebih luas lagi dibutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

“Kerja pariwisata berkelanjutan bukan hanya kerja sektoral, tapi harus menyeluruh baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan lainnya atau yang biasa kita sebut pentahelix. Berbagai disiplin ilmu harus bekerja bersama-sama dan memperbaiki pendekatan-pendekatan kita untuk tidak hanya meningkatkan daya saing tapi juga daya keberlanjutan dari kegiatan kepariwisataan,” ujarnya.

Untuk itu Frans menegaskan bahwa saat ini jadi momentum yang baik untuk menyiapkan destinasi pariwisata kita ke depan. “Saat ini momentum untuk untuk membenahi, reopening atau rebound untuk menyiapkan strategi. Yang kami tawarkan dari pemerintah adalah menerapkan dan mengaplikasikan pola kerja pariwisata berkelanjutan dengan parameter dan indikatornya secara komprehensif,” kata Frans.

Hal senada dikatakan oleh David Makes. Menurutnya pariwisata berkelanjutan akan menjadi peluang yang sangat besar ke depan, terutama pasca pandemi, karena selain menjadi kebutuhan wisatawan dari sisi investasi juga tidak terlalu besar.

Ia memberi contoh sungai-sungai di Venesia, Italia, yang biasanya dasar aliran sungai tidak pernah terlihat, namun kini menjadi sangat bening dan banyak ikan bahkan lumba-lumba yang masuk ke dalam area Venesia. Inilah yang harus dikapitalisasi ke depan.

“Tanpa harus melakukan reinvestment secara besar-besaran tapi mengkapitalisasi yang sudah ada di sekitar destinasi namun dengan sedikit sentuhan berkelanjutan maka bisa melahirkan pariwisata baru baik sebagai destinasi maupun sebagai sebuah produk pariwisata. Namun dibutuhkan pemimpin untuk dapat melahirkan yang kita sebut ‘new normal’ pariwisata,” kata dia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga sependapat bahwa arah kebijakan pembangunan berkelanjutan menjadi peluang besar dalam menyambut pariwisata pascapandemi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah siap dan memiliki program recovery pariwisata yang salah satunya dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan.

“Tinggal bagaimana konsistensi daerah membuat regulasi. Misalnya kami membuat Perdes bagaimana sawah tidak boleh dibangun, kemudian di sekitar bandara juga tidak boleh dibangun dan seterusnya,” kata Azwar Anas.

Warga Senior Nanti Pilih Wisata Domestik Ke Desa Wisata Saja

this formate

Kushariadi, 73 tahun, gemar melakukan budidaya Anggrek  ( foto: dok. pribadi)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jika situasi sudah normal dan dunia terbebas dari wabah virus Corona, masyarakat Indonesia tetap ingin berwisata. Kemana tujuan wisatanya kala melakukan wisata domestik ?. Ternyata mereka yang berusia 55 tahun ke atas atau disebut warga senior memilih desa wisata sebagai tujuan wisatanya.

Hasi survey cepat yang diselenggarakan oleh MarkPlus sebelum menyelenggarakan Webinar MarkPlus Industry Roundtable Tourism and Hospitality Perspective, April lalu, yang diikuti 620 peserta menunjukkan 38% responden usia 55 tahun  setelah pandemi global berakhir pilih wisata ke desa dan tinggal di homestay desa wisata.

Kushariadi, 73 tahun, misalnya memilih ingin ke desa wisata dan tinggal di homestay setempat karena hobinya bercocok tanam dan melakukan budidaya tanaman anggrek dan desa wisata tempat yang cocok untuk melakukan aktivitasnya.

Oleh karena itu pihaknya berharap bisa ke Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta misalnya, yang memiliki tempat pelatihan budidaya tanaman bahan jamu untuk di budidayakan di halaman rumah. Dia juga senang melihat video-video budidaya ketahanan pangan yang cocok untuk situasi hidup di tengah pandemi Corona ( COVID-19).

“Ke desa wisata pergi sama istri atau sama komunitas juga asyik. Saya punya komunitas namanya Pemangku singkatan dari Penggemar Angkutan Umum jadi jika kami kumpul-kumpul di obyek wisata datangnya pakai kendaraan umum saja,” kata Kushariadi, kakek tiga cucu ini.

Tinggal di homestay yang ada di desa wisata, menikmati alam pedesaan bersama teman komunitas bisa tinggal  sampai 7 hari lamanya karena kegiatannya saling bertukar pikiran, minum wedang kopi, teh tubruk ditemani makanan kecil khas pedesaan yang menyehatkan  dan banyak yang serba rebus sambil latihan budidaya tanaman.

Kebetulan komunitas alumni SMAN 6 Jakarta angkatan tahun 1966 ini pernah kursus pertamanan sehingga mahir melakukan budidaya buah dan bunga. Di rumahnya di kawasan Sektor 4 Bintaro Jaya banyak ditanami pohon anggrek dan tanaman hias lainnya.

“Kalau tanaman hias agak sulit berkembang apalagi dijadikan bisnis. Tapi kalau pohon mpon-mpon seperti kunyit, jahe, temulawak untuk bahan jamu justru bisa jadi produk unggulan desa wisata. Kita bisa belajar mulai dari cara tanam serta olahannya karena saat pandemi dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Kushariadi yang kini berusia 73 tahun.

Menyinggung soal balai latihan pertamanan, di Lembang, Jawa Barat, Kushariadi mengatakan ada kursus gratis termasuk pemondokannya di Cikole. Namun untuk usia 70 tahun ke atas harus ada surat sehat dari dokter. Kushariadi menilai bagi warga senior yang suka tanaman, keberadaan balai latihan perlu diperbanyak.

“Kegiatan teori 30 % dan praktek  70%, saya sangat berminat untuk ikut namun karena ada wabah program itu ditangguhkan dulu sampai keadaan aman. Pelatihan ini akan sangat baik bahkan untuk pemasukan uang disaat usia pensiun,” ungkapnya.

Pemerintah harusnya memperbanyak tempat pelatihan budidaya tanaman ini karena dari 5000 pendaftar yang bisa difasilitasi hanya 100 orang. Konon, ujarnya, ada juga budidaya ikan, unggas ternak sapi  & kambing serta bimbingan rohani.

Bagi warga senior, jika pelatihan-pelatihan dilakukan di desa-desa wisata yang ada juga akan sangat bernuansa pemberdayaan yang kuat. Memberdayakan petani desa sebagai trainer, memberdayakan warga senior juga menggerakkan ekonomi desa.

Soal penyandang dana bisa pemerintah dari berbagai instansi, berbagai perusahaan melalui program CSR dan juga perbankan terutama bank BTPN yang mengelola dana pensiun maupun Yayasan Dana Pensiun  dari berbagai perusahaan di tanah air.

Evy Indahwaty sast berwisata ke mancanegara.

Desa dongkrak popularitas negara

Evy Indahwaty, CEO Radana Finance juga termasuk yang merindukan untuk bisa berwisata pasca pandemi global ini. Selain aktif bekerja, wanita kelahiran Jember, Jawa Timur ini menjadikan wisata salah satu cara untuk  refreshing bersama keluarga.

Saat melakukan perjalanan dinas di dalam dan luar negri, dia juga enjoy dan menikmati tempat-tempat wisata yang ada ternasuk ke desa wisata. Oleh karena itu saat di luar negri seperti ke Belanda dia sangat menikmati alam pedesaannya  seperti di Volendam. Desa nelayan inilah yang justru mendongkrak popularitas negara Belanda.

“Sekitar 30 menit dari Amsterdam di tepi danau IJsselmeer, ada desa kecil namanya Volendam. Desa nelayan ini terkenal dengan pelabuhannya yang indah, pasar ikan dan pakaian traditional Belanda. Desa ini terkenal sekali sampai-sampai ada anggapan belum sah ke Belanda kalau tidak berfoto mengenakan kostum ala nelayan itu,” kata Evy membuka percakapan.

Di Indonesia, desa wisata yang tersebar di berbagai provinsi, terutama kabupaten kota punya potensi untuk menjadi desa wisata dimana turis yang datang bisa mengenakan kostum setempat, kuliner maupun membawa souvenir khas daerah itu.

Belajar dari popularitas desa,Volendam yang sangat terkenal itu maka potensi desa wisata di tanah air juga sangat besar untuk dikembangkan ditiap daerah  sesuai karakternya masing-masing sehingga tidak melupakan jati diri sebagai desa yang lebih kuat , sebagai komunitas sosial dan budayanya.

Wanita yang setiap tahun dibanjiri berbagai macam penghargaan atas prestasi kerja maupun perusahaan yang dipimpinnya ini mengaku suka mengunjungi desa wisata di Tanah Air terutama di P. Jawa disamping Bali. Untuk di luar negri dia juga suka dengan desa-desa wisata di Eropa dan terutama Jepang yang melestarikan budayanya dengan baik.

Evy yang kerap berwisata ke negara-negara Asia, Eropa Barat, Eropa Timur hingga Amerika bukan hanya menikmati keindahan alam tapi juga banyak menyerap cara-cara desa wisata menerima tamu, menjamu tamu dengan wisata kuliner secara tradisional serta menyediakan souvenir khasnya.

” Biasanya saya pergi bersama keluarga dan jika bersama komunitas untuk reuni, kangen-kangenan sambil berwisata,” kata Evy bersemangat.

Kelar COVID-19, dia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lebih siap dengan infrastruktur ke obyek wisata dan terintegrasi dengan baik sehingga obyek wisata mudah dicapainya.

” Jangan lupa untuk fokus pada SDM setempat jadi saat turis datang ke obyek wisata termasuk kunjungan ke desa wisata maka pihak pengelola sudah ada standard operational procedure ( SOP) menerima tamunya bagaimana karena ke depan faktor kebersihan paling utama,”

B. Kusuma dan istri, berkelana ke 178 negara

Bruriadi Kusuma yang akrab disapa Broer, kelahiran Jakarta tahun 1935 yang kini sudah berusia 85 tahun setuju sekali untuk menggalakkan wisata domestik pasca pandemi virus Corona dan untuk traveler seusianya memang desa wisata menjadi tujuan menarik.

“Karena sudah sepuh saya mau ke desa wisata di Jawa Barat,  Bali dan Sumatra Barat saja. Pokoknya yang aksesnya mudah terjangkau karena faktor usia nih. Waktu masih muda blusukan ke pedalaman Kalimantan Timur, Barat dan pelosok negri lainnya juga saya datangi,” katanya tergelak.

Broer dan istri dikenal sebagai seorang pengelana karena sudah mendatangi 176 negara merdeka ditambah puluhan daerah teritori dan koloni di seluruh dunia. Selain memang hobi traveling, pria yang juga pendiri PT Pakubumi Semesta ini selama 25 tahun terakhir banyak membukukan laporan perjalanannya ini.

” Kami berpengalaman tinggal di homestay desa wisata di Islandia, sebuah negara Nordik yang terletak di sebelah barat laut Eropa dan sebelah utara Samudera Atlantik. Kami juga pernah tinggal di homestay di Afrika Selatan dan di Jepang, ” katanya

Pengalaman tinggal di homestay benar-benar pengalaman yang mengesankan karena tamu menyatu dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, belajar budaya mereka secara langsung dan mencicipi makanan tradisionalnya.

Selama berkelana di luar negri, B. Kusuma banyak ditemani istrinya, sedangkan untuk berwisata bersama komunitasnya seperti Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC)  dan komunitas Dharma Wulan yang didirikan bersama rekan-rekannya dia selalu berpartisipasi aktif pula.

Komunitas Wulan adalah singkatan dari Warga Lanjut Usia sehingga Dharma Wulan adalah komunitas yang memperjuangkan warga usia lanjut Indonesia agar lebih mandiri, terhormat dan bermakna.

Menurut Broer Kusuma, desa wisata di Indonesia sebaiknya dikembangkan supaya bersih terutama memiliki sanitasi yang baik. Keberadaan desa wisata selain untuk mempertahankan tradisi, budaya dan gaya hidup warga setempat juga untuk menikmati pemandangan yang asri sehingga sudah sepantasnya desa wisata menjadi tujuan wisata semua umur bukan hanya warga senior.

” Desa wisata justru menjadi kekuatan daya saing pariwisata Indonesia karena kekayaan negara kepulauan dengan beragam suku bangsa menjadi keunikan tersendiri yang menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara,” katanya menutup pembicaraan.