Seni Berkomunikasi Melalui Krisis Coronavirus  

this formate

CONCORDE, AS, bisniswisata.co.id: Rasanya epidemi Coronavirus yang mengglobal itu jauh dari saya,  sampai minggu lalu muncul kasus ketika ada berita tentang seseorang yang terinfeksi di daerah New Hampshire. 

Rumor mulai menyebar, diikuti oleh pertanyaan: Bagaimana kita bisa mengetahui lebih banyak informasi?  Haruskah kita mengirim anak-anak ke sekolah?, demikian tulis Paul A. Argenti di kolom leardership Harvard Business Review.

Keesokan harinya, kami menemukan dalam berita lokal dan nasional bahwa orang yang terinfeksi, seorang warga di rumah sakit lokal kami, mulanya telah menghadiri pesta dengan siswa dari Sekolah Tuck, tempat saya mengajar. Kasus itu langsung  membawa krisis tepat ke pintu kantor saya.  

Kelas dan acara dibatalkan dan semua perjalanan internasional ditangguhkan untuk universitas.  Pikiran berpacu.  Haruskah saya masuk kerja?  Apakah boleh membeli makan siang di sini?  Apakah kita siap untuk karantina di rumah?  Berapa lama ini akan berlangsung?

Dalam situasi yang bergerak cepat dan tidak menentu, banyak pemimpin menghadapi pertanyaan yang mungkin tidak bisa mereka jawab.  Sebagai seseorang yang mempelajari komunikasi krisis, saya secara teratur memberi tahu siswa dan klien saya bahwa Anda perlu berkomunikasi lebih awal dan sering dengan orang terdekat Anda atau audiens selama krisis.  

Bahkan jika Anda masih berusaha memahami sejauh mana masalah itu, jujur ​​dan terbuka untuk mempertahan -kan kredibilitas.  Dekati situasi dengan empati.  Tempatkan diri Anda pada posisi orang terdekat Anda termasuk relasi, klien untuk memahami kecemasan mereka. 

Kadang-kadang Anda akan melakukannya dengan benar, namun juga bisa sering salah. Tetapi masih lebih baik untuk setransparan mungkin.

Langkah 1: Buat Tim Komunikasi yang Terpusat

Komunikasi yang terdesentralisasi dapat dimengerti dan bahkan diinginkan dalam organisasi yang besar dan kompleks.  Tetapi dalam situasi darurat atau bergerak cepat, Anda memerlukan tim penanggulangan krisis.  

Dalam hal kasus Coronavirus, kita melihat ini terjadi di semua tingkatan: Presiden Trump menunjuk Wakil Presiden Pence untuk memimpin upaya nasional.  Dartmouth, dan banyak universitas lain, telah menciptakan gugus tugas.

Distrik sekolah tempat saya bekerja minggu ini menciptakan tim yang terdiri dari kepala bagian, serta semua kepala sekolah.  Intel memiliki tim kepemimpinan pandemi tersendiri sebagai bagian dari perencanaan kesinambungan dari bisnisnya.

Idealnya tim-tim ini harus kecil, lima hingga tujuh orang saja.  Anda perlu menyertakan anggota tim kepemimpinan, seseorang dari komunikasi perusahaan, eksekutif SDM, dan pakar di bidang yang menjadi perhatian. Tim ini harus bertemu secara teratur untuk memantau situasi dengan cermat karena terus berkembang.

Jadilah sumber utama informasi tentang krisis. Berikan pembaruan rutin ke orang terdekat atau konstituen utama.  Jelaskan apa yang Anda ketahui, apa yang tidak Anda ketahui, dan siapa sumber informasi Anda setransparan mungkin. Bersikap singkat.  Pesan panjang yang ditulis oleh para profesional kesehatan atau pengacara tidak akan dibaca atau mudah dimengerti.

 Langkah 2: Berkomunikasi dengan Karyawan

Karyawan adalah konstituensi dan fungsi terpenting Anda sebagai pemimpin untuk komunitas.  Jika mereka tidak diberitahu dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi, komunikasi di luar organisasi akan lebih sulit.  Perusahaan perlu memperjelas situasi bagi karyawan, menenangkan pikiran semua orang, dan memberikan harapan untuk masa depan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa para pemimpin, khususnya, memiliki peran khusus mengurangi kecemasan karyawan.  Dalam penelitian saya tentang komunikasi krisis setelah peristiwa 9/11, banyak karyawan menggambarkan betapa pentingnya mendengar suara pemimpin, baik secara langsung atau melalui email, pesan telepon, atau media sosial.  

Ketika krisis coronavirus menghantam Tuck School, tim kepemimpinan program MBA berkumpul di lokasi sentral untuk mengurangi kecemasan semua orang dan memberikan pembaruan secara teratur.

Untuk berkomunikasi dengan karyawan, organisasi harus: Posting informasi secara teratur di lokasi yang sangat terlihat.  Ini bisa berupa lokasi fisik atau email virtual, intranet perusahaan, atau saluran Slack atau Facebook. Jelaskan bagaimana keputusan dibuat tentang masalah seperti perjalanan, bekerja dari rumah dan lainnya.

Berkomunikasi tidak kurang dari setiap hari. Cobalah untuk memberikan informasi yang tepat waktu daripada menunggu sampai Anda tahu semua jawabannya.

 Langkah 3: Berkomunikasi secara teratur dengan Pelanggan

 Pelanggan memerlukan pendekatan yang berbeda dari karyawan karena perusahaan tidak memiliki akses atau frekuensi yang sama dengan daerah pemilihan ini.  Anda harus:

 Fokus pada apa yang penting bagi pelanggan.  Misalnya, Target mengirimkan catatan dari CEO kepada pelanggan, yang menjelaskan prosedur pembersihan yang ditingkatkan dan penambahan staf untuk pengambilan pesanan dan peningkatan layanan.

 Berikan bantuan bila memungkinkan.  JetBlue menjadi maskapai pertama yang mengabaikan perubahan dan membatalkan biaya untuk masalah terkait virus corona.  Langkah ini berakibat  jauh dan meyakinkan pelanggan saat ini untuk membawa yang baru.  CVS Caremark bekerja untuk mengesampingkan batas isi ulang awal pada obat pemeliharaan resep 30 hari.  Perusahaan asuransi, sebaliknya, tidak menganggap coronavirus sebagai alasan yang sah untuk membatalkan penerbangan.

Fokus pada empati daripada mencoba menciptakan peluang penjualan.  Perusahaan harus memikirkan kembali strategi periklanan dan promosi agar lebih sejalan dengan zeitgeist saat ini.

Tentu saja, situasinya menjadi sangat berbeda ketika organisasi Anda berada di pusat krisis.  Banyak yang menunjuk pada cara Johnson & Johnson menangani krisis Tylenol sebagai standar emas.  Selama musim gugur 1982, tujuh orang meninggal setelah mengonsumsi Extra Strength Tylenol, yang merupakan obat penghilang rasa sakit terlaris di pasar. 

Kapsul telah disuntikkan dengan sianida oleh seseorang yang belum pernah diidentifikasi.  Perusahaan menarik lebih dari 30 juta botol Tylenol, dan menciptakan kemasan bukti tamper baru.

Johnson & Johnson juga menetapkan seperangkat praktik terbaik untuk berkomunikasi dalam suatu krisis, termasuk berbicara lebih awal, sering, dan langsung dengan konsumennya.  Ini termasuk  mengeluarkan peringatan nasional, memberitahu orang-orang untuk berhenti mengonsumsi produk Tylenol. 

Perusahaan itu juga menetapkan nomor bebas pulsa bagi konsumen untuk menelepon dengan pertanyaan atau masalah.  selain Itu mengadakan konferensi pers reguler dari kantor pusat perusahaan.  Kepemimpinan Johnson & Johnson, terutama ketua James Burke, mengambil langkah luar biasa untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan melakukannya dengan benar. 

Banyak yang menghargai transparansi dan sikap tenangnya dengan menghentikan pertumbuhan krisis, memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan kembali 95% pangsa pasar dalam beberapa bulan, dan pada akhirnya meningkatkan reputasi perusahaan.

Langkah 4: Yakinkan Pemegang Saham

 Epidemi telah menciptakan gejolak hebat di pasar keuangan dalam dua minggu terakhir dan mengubah apa yang merupakan pasar yang luar biasa menjadi potensi resesi.  Dengan musim pendapatan yang hampir tiba, perusahaan publik memiliki tanggung jawab khusus untuk mengkomunikasikan dampak virus pada operasi mereka. 

Skadden telah menerbitkan pertimbangan terkait dengan pengungkapan SEC, dan Joanne Wong, direktur pelaksana senior di FTI Consulting di Hong Kong menawarkan saran yang masuk akal ini untuk menangani hubungan investor:

Bersikap transparan dalam mengomunikasikan tantangan jangka pendek.Gunakan krisis sebagai kesempatan untuk memperkuat fundamental jangka panjang korporasi serta komunikasikan apa yang Anda lakukan tentang masalah tersebut

 Selain itu, Anda harus perhatikan panduan perjalanan dan kembangkan rencana komunikasi di sekitar pertemuan tahunan Anda, termasuk menyiapkan webcast untuk pemegang saham.

Langkah 5: Bersikap Proaktif dengan Komunitas

 Apa yang terjadi dalam organisasi di sekitar coronavirus memengaruhi semua orang di komunitas di sekitar mereka.  Setidaknya organisasi harus melakukan yang terbaik untuk memastikan tindakan mereka tidak berdampak negatif terhadap anggota komunitas.

Tetapi Anda juga dapat berpikir tentang krisis sebagai waktu untuk meningkatkan hubungan dengan komunitas lokal tempat Anda beroperasi dengan menyediakan sumber daya seperti membersihkan persediaan atau makanan untuk mereka yang berada di karantina.

Memberikan informasi kepada media lokal untuk membantu menenangkan komunitas dan juga meningkatkan kredibilitas organisasi Anda. Memberikan transparansi tentang apa yang terjadi di dalam perusahaan alih-alih malah diam.

Anda juga dapat berbagi cara di mana Anda membantu komunitas lokal, nasional, atau global Anda dalam krisis.  Misalnya, seperti ditulis Lauren A. Smith, co-CEO perusahaan konsultan FSG, Anda dapat menggunakan lengan filantropis Anda untuk membantu. 

Cargill, misalnya, yang memiliki lebih dari 50 lokasi bisnis dan lebih dari 10.000 karyawan di Cina, mengumumkan sumbangan 2 juta Yuan kepada Palang Merah Cina dan mengirim ratusan ribu masker wajah ke daerah-daerah yang terkena dampak.

Ketika berhadapan dengan ketidakpastian, para pemimpin perlu melihat komunikasi dari sudut pandang audiens Anda dan memiliki empati terhadap mereka daripada takut melakukan hal yang salah.

Ini mengharuskan perusahaan untuk berkomunikasi ketika mereka tidak memiliki semua informasi, untuk mengungkapkan sebanyak mungkin tentang informasi sensitif, dan untuk waspada memperbaiki kesalahan tanpa khawatir tentang akibatnya.  

“Seperti yang dikatakan oleh juara tenis Billie Jean King: “Champions terus bermain sampai mereka melakukannya dengan benar.”

BACA JUGA: https://bisniswisata.co.id/tuti-sunario-aktifkan-crisis-center-kemenparekraf-di-era-covid-19/

 

 

‘RI Sebaiknya Ikuti Guideline UNWTO Untuk Crisis Centre COVID-19 Khusus Pariwisata’

this formate

Wisatawan mancanegara di Pulau Dewata diharapkan kembali datang pasca COVID- 19 ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) selalu membantu negara-negara anggotanya dengan panduan dan pelatihan Risk and Crisis Management in the Tourism Sector. Oleh karena di saat terjadi pandemi global COVID, Kemenparekraf sebaiknya menghidupkan kembali Crisis Center, kata Sapta Nirwandar, hari ini

Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden SBY yang kini Ketua Indonesia Tourism Forum ( ITF) ini mengatakan dari pengalaman kasus Bom Bali I & II, Tsunami Aceh, meletusnya Gn. Agung, Bali 2017- 2019, Crisis Center atau Media Center khusus mengenai pariwisata tetap dibutuhkan.

Kementrian Pariwisata mengaktifkan Crisis Center bahkan menyewa public relations asing untuk memudahkan komunikasi dengan industri pariwisata internasional maupun wholle seller yang biasa mendatangkan wisman ke Indonesia.

” Saat terjadi  Bom Bali I & II, kami aktif menginformasikan situasi terakhir pada dunia internasional terutama mitra-mitra industri pariwisata mancanegara bahkan termasuk meliput kegiatan-kegiatan positif di Pulau Dewata itu sehingga paska bencana wisman kembali datang ke Bali,” kata Sapta Nirwandar.

Meski pandemi global COVID-19 sudah berjalan lima bulan, belum terlambat mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf karena Gugus Tugas COVID-19 yang dibentuk pemerintah memberikan Informasi terbaru seputar penanganan COVID-19 di Indonesia oleh Pemerintah.

” Crisis Center Kemenparekraf tetap dibutuhkan untuk memberikan informasi pariwisata RI yang terdampak pandemi kepada masyarakat maupun industri pariwisata nasional maupun internasional,” tambahnya.

Untuk data kasus COVID-19 di Indonesia informasi dari satu pintu ditangani oleh GugusTugas tapi untuk sektor pariwisata maka perlu ditangani langsung oleh Kemenparekraf dengan transparansi tinggi sehingga bisa cepat mengembalikan kepercayaan dunia.

Guideline UNWTO

Sapta mengingatkan guideline UNWTO sudah tersedia sehingga tinggal mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan. Baik buku, laporan hingga ke pelatihannya tersedia karena dengan menangani Crisis Centre terbukti sektor pariwisata cepat memulihkan perekonomian negara anggita dan seluruh dunia dari dampak bencana.

Selama pandemi global, Indonesia Tourism Forum yang dipimpinnya sudah lima kali mengadakan webinar dengan tokoh-tokoh pariwisata dunia dan tujuannya untuk memberikan situasi terkini terutama pariwisata Indonesia.

“Sejauh ini, dalam webinar Indonesia Tourism Forum ( ITF) menghadirkan Reem El Shafaki, Senior Associate, DinarStandard, AS, Ekaterina Kamalova, Program Director of Tatarstan Investment Development Agency, Sandra Cavao*, Chief of Tourism Market Intelligence and Competitiveness, UN-WTO

Hadir juga Gloria Guevara Manzo,* President and CEO of the World Travel and Tourism Council (WTTC), Irshad Cader, CEO of Clobothink Consultant, Australasia & Middle East, Sumaira Isaacs,  CEO of Global Tourism Forum, Ken Wong*, Vice President Sales & Distribution, Accor Hotels Greater China.

Di lain waktu ada Dr. Sasithara Pichai, Rector at College of Tourism and Hospitality, Rangsit University, Thailand dan Nahla Mesbah (Senior Consultant DinarStandard), Murat Gokyokus,CEO Siempre Tour & Travel, Turki, Jean-Claude Balanos,Vice President Leisure Sales Accor Hotels, France.

” Siapa-siapa saja mereka bisa di browsing kan. Oh iya, mantan Sekjen UNWTO yang pernah datang je Indonesia, Thaleb Rifai juga pernah jadi nara sumber Indonesia Tourism Forum ( ITF), jelas Sapta.

Diapora Indonesia, Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media         ( kiri) dan Sapta Nirwandar, Kerua Indonesia Tourism Forum bersama pasangan masing-masing.

Suara Diaspora

Suara fiaspora di Indonesia mengenai perlu atau tidak ya mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf juga perlu didengarkan seperti ungkapan Fajar, Humas KBRI di Stockholm, Swedia.

“Menurut saya bagus kalau Kemenparekraf membentuk Crisis Center.  Alalagi yang saya tangkap,  fokusnya pada destinasi wisata dan juga informasi kepada Travel Agent/Tour Operator internasional. ” ujarnya mewakili opini pribadi.

Kedubes RI di Swedia ini di bawah kepemimpinan Dubes Bagas Hapsoro yang baru saja kembali je tanah air secara rutin menggelar potensi destinasi wisata RI dengan para travel agent asing di Swedia maupun Latvia.

“Hal ini baik mengingat perkembangan saat ini dengan adanya Permenkumham 11/ 2020, sehingga WNA belum bisa memasuki wilayah Indonesia. Kalau ada Crisis Center atau Media Centre atau semacam contact point maka mereka dapat follow up terus,”

Menurut dia fungsinya  yang dapat menjelaskan secara gamblang mengenai pembukaan Indonesia bagi wisatawan asing. Jadi informasi ini  sangat bagus ketika nanti jalur internasional dibuka kembali ke  Indonesia.

“Bagi  saya yang terpenting saat ini adalah memastikan tugas pokok dan fungsi Crisis Center tersebut agar tidak tumpang tindih dengan tugas Gugus Tugas Covid,” kata Fajar.

Hal senada diungkapkan Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media, media komunitas Indonesia di Amerika Serikat sekaligus mantan senior journalist beberapa media terkemuka di Indonesia.

” Komentarku ya, dengan jumlah penderita dan korban Covid19 yang meningkat terus, bahkan sekarang terbesar di Asia Tenggara, berita yang muncul di luar negri tentang hal ini cukup “mengerikan”,” ungkapnya.

Pemerintah Indonesia perlu memiliki  juru bicara yang mumpuni soal ini, sehingga Media massa, termasuk media asing, bisa menjelaskan langkah-langkah pemerintah soal ini seperti yang disarankan seniornya Tuti Sunario, mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI)

BACA JUGA: https://bisniswisata.co.id/tuti-sunario-aktifkan-crisis-center-kemenparekraf-di-era-covid-19/

“Kami yang di luar negeri sampai sekarang bingung memahami apa yang terjadi di tanah air. Seharusnya saya mudik tanggal 18 Juli lalu, tetapi penerbangan dibatalkan oleh airlinesnya. Saya sendiri masih belum tahu kapan akan pulang, Agustus Atau September karena kondisi di tanah air kok kurang kondusif. ” kata Indah Nuritasari

Pemerintah perlu jubir yang baik, kalau perlu menggunakan jasa humas internasional yang piawai menangani krisis supaya nama Indonesia kembali baik di mata internasional.

Indah kini bekerja di Philadelphia selama 19 tahun terakhir dan putrinya kini duduk di bangku Universitas. Setiap hari, melalui indonesianlantern.com pihaknya yang tetap berstatus WNI ini mempromosikan Indonesia di segala aspek ke penjuru dunia.

Begitu pula melalui akun media sosialnya dia selalu mempromosikan Indonesia termasuk gerakan Selasa Berkebaya yang dilakukannya bersama staf untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui jebaya dan batik.

Nah seperti saran para senior pariwisata RI dan diaspora journalist senior, RI sebaiknya ikuti guideline UNWTO untuk aktifkan kembali Crisis Centre khusus menangani pariwisata terdampar COVID-19. 

 

UMKM Kreatif Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Perluas Pasar

this formate

Kemenparekraf/ Bekraf  dorong pelaku UMKM  memaksimalkan teknologi untuk dapat memperluas pasar. ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar bagi pelaku industri ekonomi kreatif terutama UMKM, namun di sisi lain memberikan kesempatan yang besar untuk berakselerasi dan memperluas pasar dengan memanfaatkan teknologi.

Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Ricky Pesik dalam dialog interaktif “Bangga Buatan Indonesia” di Studio Jak-TV, Selasa (28/7/2020) malam, mengatakan pelaku UMKM harus dapat mengubah paradigma berpikir dengan memaksimalkan teknologi untuk dapat memperluas pasar.

“Akibat pandemi, pariwisata terhenti bahkan paling drop sekarang. Tapi kalau di sektor ekonomi kreatif beberapa subsektor justru dapat momentum termasuk UMKM di sektor ekonomi kreatif. Yakni dengan memanfaatkan teknologi untuk mereka berakselerasi dan memperluas pasar,” kata Ricky Pesik.

Ricky mengatakan keterbatasan pergerakan orang akibat pandemi COVID-19 membuat peluang ekonomi digital, transaksi yang dilakukan secara daring jadi terbuka luas. Apalagi Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan ditunjang dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya untuk dikembangkan sebagai inovasi dalam menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif.

“Pasar kita luas dan patut kita syukuri karena sistem distribusi, sistem logistik kita tidak terganggu akibat pandemi sehingga transaksi online dan pengiriman barang tidak terganggu,” ungkapnya.

Dari segi makro-ekonomi, ekonomi digital ini akan jadi strategi nasional bahkan banyak negara untuk meningkatkan perputaran ekonomi lokal. Indonesia sebagai bangsa yang besar kenapa tidak memanfaatkan momentum ini,” tambahnya. Turut hadir dalam dialog tersebut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo.

Pemerintah berusaha untuk membuat ekosistem ekonomi digital dengan memberikan berbagai insentif kepada pelaku UMKM sehingga mereka dapat lebih kompetitif di pasar.

Pemerintah juga telah menggulirkan kampanye nasional gerakan “Belanja Buatan Indonesia” yang salah satu tujuannya adalah mendorong pelaku UMKM agar bertransformasi dari pasar offline ke online dengan memanfaatkan teknologi.

Kemenparekraf menjadi kementerian pertama yang memulai kampanye nasional Bangga Buatan Indonesia lewat program “Beli Kreatif Lokal”. Saat ini dilanjutkan Kemenkominfo lewat program “Kita Bela Kita Beli”.

“Sementara masyarakat juga perlu mengubah paradigma bahwa kita harus memberikan keistimewaan terhadap produk lokal,” kata Ricky Pesik.

Hal senada dikatakan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo. Baik sisi supply and demand dalam produk ekonomi kreatif dari para pelaku UMKM harus dapat diseimbangkan.

Para pelaku UMKM harus dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pasar dan meningkatkan kapasitas diri yang disesuaikan dengan perkembangan pasar itu sendiri. Sementara masyarakat juga harus mengubah paradigma berpikir untuk senantiasa mendukung produk lokal.

“Pemerintah akan terus memberikan pendampingan untuk perubahan ini agar pelaku UMKM bisa merebut pasar tidak hanya nasional tapi juga global,” kata Widodo.

Tercatat saat ini sudah bergabung lebih dari 1 juta pelaku UMKM di program “Bangga Buatan Indonesia”. Diharapkan jumlah pelaku UMKM yang bergabung meningkat hingga 2 juta di akhir tahun.

 

 

Aturan Anyar, Berliburan ke Bali

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Per 31 Juli 2020, destinasi wisata di Bali dibuka bagi kunjungan wisatawan nusantara, berdasarkan SE Gubernur Bali. Namun, ada beberapa objek, khususnya objek wisata ke desa tradisional yang masih menunggu keputusan dari Desa Adat. Seperti di Desa Wisata Penglipuran contohnya.

“Menunggu hasil sangkepan (rapat) Prajuru adat. Menjaga keselamatan masyarakat,” ungkap Budiarta salah seorang pengelola wisata desa Penglipuran.

Desa Penglipuran telah menyiapkan fasilitas, sarana, prasarana kebutuhan protokoler kesehatan dalam berwisata ke desa Penglipuran. Ujicoba segera dilakukan baik bagi masyarakat dan SDM pengelola desa wisata. Pasalnya, aktivitas wisata ke desa sangat intens bersentuhan dengan keseharian masyarakat.

Prajuru desa adat sangat berharap wisatawan yang masuk ke Penglipuran juga mematuhi protokol tatanan baru berwisata,” ujarnya lebih lanjut.

Biaya Sendiri

Adapun ketentuan mengenai persyaratan bagi wisatawan nusantara berdasarkan Surat Edaran Nomor 15243 Tahun 2020 Tentang Persyaratan Wisatawan Nusantara Berkunjung ke Bali adalah bebas COVID-19 dengan menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction), minimum hasil non-reactive rapid test dari instansi yang berwenang. Masa berlaku Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test untuk berkunjung ke Bali adalah paling lama 14 (empat belas) hari sejak Surat Keterangan tersebut dikeluarkan.

Wisatawan yang telah menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test yang masih berlaku, tidak lagi diwajibkan melakukan uji swab atau rapid test, kecuali mengalami gejala klinis COVID-19.

Wisatawan yang tidak dapat menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR atau rapid test di Bali.

Wisatawan yang hasilnya reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR di Bali. Selama menunggu hasil uji swab, wisatawan menjalani proses karantina di tempat yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Wisatawan yang positif COVID-19 berdasarkan hasil uji swab akan dirawat di fasilitas kesehatan yang ada di Bali. Biaya uji swab, rapid test, karantina atau fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab wisatawan.

Sebelum keberangkatan ke Bali, setiap wisatawan berkewajiban mengisi aplikasi LOVEBALI yang dapat diakses pada laman https://lovebali.baliprov.go.id. Pelaku usaha akomodasi pariwisata di Bali wajib memastikan setiap wisatawan sudah mengisi aplikasi LOVEBALI.

Selama melaksanakan aktivitas wisata di Bali, wisatawan berkewajiban melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Bali Era Baru sesuai ketentuan Pemerintah Provinsi Bali, yaitu menggunakan masker/pelindung wajah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer, memenuhi ketentuan menjaga jarak minimal 1 (satu) meter pada saat berinteraksi dan duduk, melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan pada saat bersin dan batuk. Menghindari penggunaan tangan secara langsung menyentuh area wajah,seperti: mata, hidung dan mulut, menjalani pengukuran suhu tubuh. Membersihkan barang pribadi, seperti handphone, kacamata, tas, masker, dan barang lainnya, dengan cairan disinfektan sesuai kebutuhan. Bersedia diperiksa oleh petugas kesehatandalam rangka pencegahan penyebaran COVlD-19; dan menghindari kontak fisik saat menyampaikan salam.

Selama berada di Bali, wisatawan dihimbau mengaktifkan Global Positioning System (GPS) pada smartphone demi upaya pelindungan dan pengamanan bagi wisatawan. Wisatawan dapat menyampaikan keluhan atau masalah selama berada di Bali melalui aplikasi LOVEBALI.

Wajib hukumnya bagi wisatawan mematuhi ketentuan dalam Surat Edaran tersebut. Bagi wisatawan yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

PT KA Pariwisata Membuka Kembali Museum Kereta Api Ambarawa

this formate

 Museum Kereta Api Ambarawa ( Foto: PT KA Pariwisata)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) membuka kembali  tempat wisata Museum KA Ambarawa  yang selama ini ditutup akibat mewabahnya virus Corona (COVID-19). Museum Kereta Api Ambarawa kembali dibuka bagi para wisatawan dengan menerapkan protokol adaptasi kebiasaan baru. 

Totok Suryono, Direktur Utama PT KA Pariwisata menyampaikan Museum Kereta Api Ambarawa resmi beroperasi dan dibuka kembali hari Selasa (28/07). Sebelum kegiatan pembukaan kembali tempat wisata Museum Kereta Api Ambarawa beberapa persiapan telah dilakukan.

Persiapan seperti penyediaan fasilitas untuk higenitas para pengunjung dengan menyediakan 8 tempat cuci tangan baru/wastafel yang ditempatkan di area pintu masuk sebanyak 5 wastafel, di taman 1 wastafel, di pintu keluar 1 wastafel dan Gedung UMKM 1 wastafel. 

Telah disediakan juga hand sanitizer, thermogun untuk mengukur suhu para wisatawan, menjaga jarak, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah. 

Selain itu, area masuk ke Museum KA Ambarawa saat ini telah menggunakan sistem Electronic gate/e-gate dengan scan barcode/QR code yang tertera pada tiket masuk saat pengunjung mau masuk ke museum. Dengan penerapan sistem e-gate ini, maka proses alur masuk pengunjung ke museum  menjadi lebih praktis, aman juga nyaman. 

Selain itu, PT KA Pariwisata bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang juga telah melakukan sosialisasi protokol kesehatan masa adaptasi kebiasaan baru kepada para petugas di Museum Kereta Api Ambarawa. 

“Kami membuka kembali dengan  memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung dengan melakukan protokol kesehatan, ” katanya.

Tentu saja juga melakukan pembatasan jumlah pengunjung, menerapkan social dan physical distancing, menyediakan fasilitas cuci tangan dengan sabun, hand sanitizer serta kewajiban memakai masker,” jelas Totok Suryono.

Di masa new normal ini, jam operasional Museum Ambarawa juga sudah disesuaikan mengikuti protokol adaptasi kebiasaan baru, yaitu pukul 09:00 – 15:00 WIB dimana sebelumnya beroperasi pukul 08.00 WIB-17.00 WIB

Pembatasan jumlah  pengunjung yang masuk sebanyak 50%. Sementara, untuk Kereta Wisata Reguler maupun sewa juga akan dibatasi jumlah penumpangnya dengan kapasitas hanya 50% dari kapasitas normalnya, dari semula 40 orang per kereta menjadi 20 orang per kereta. 

Untuk kereta ada tiga  rangkaian kereta kayu yang disiapkan dengan kapasitas maksimal 116 orang, sehingga dengan adanya pembatasan 50% berarti saat ini bisa melayani kurang lebih 58 pengunjung.

Akan tetapi, pengoperasian Kereta Wisata Museum KA Ambarawa reguler saat ini belum dijalankan. Untuk sementara waktu, kereta dijalankan jika ada permintaan sewa saja.  

Ilud Siregar, Humas PT KA Pariwisata menambahkan saat ini untuk pembelian tiket  masuk Museum Kereta Api Ambarawa sudah bisa secara cashless Gopay, Ovo dan Link Aja. Pada saat Museum KA Ambarawa ditutup beberapa waktu lalu, PT KA Pariwisata telah melakukan inovasi kegiatan yaitu menghadirkan Virtual Tour Indonesian Railway Museum

Kegiatan ini  guna mengajak masyarakat yang rindu kegiatan traveling serta  suasana  Kereta Api dan tempat wisata Museum Kereta Api Ambarawa untuk berwisata secara virtual dan aman sesuaianjuran pemerintah,” tutup Ilud Siregar.

 

Berkemah Mulai Jadi Tren di Masa Pandemi Corona. Inilah Tips Agar Tetap Aman

this formate

Camping cara berlibur yang sehat dann aman di tengah ancaman virus COVID-19. (Foto:Unsplash.com/Dominik Jirovský

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bosan di rumah? Cobalah rekreasi dengan berkemah. Saat pandemi COVID-19, camping merupakan salah satu alternatif kegiatan outdoor yang relatif lebih aman dibanding bentuk wisata lain.

Meski demikian, berkemah bukan tanpa risiko. Tetapi tak perlu khawatr, jika Anda mengikuti beberapa tips keselamatan, maka Anda akan dapat menikmati liburan untuk membersihkan jiwa tanpa perlu ragu.

Situs berita Mlive baru-baru ini mewawancarai empat ahli kesehatan masyarakat di Michigan. Mereka diminta membuat penilaian terhadap 36 aktivitas dengan tingkat risiko masing-masing. Hasilnya, berkemah mendapat nilai 3 dari urutan skala tingkat risiko 1 hingga 10 (tingkat risiko tertinggi).

Angka itu setara dengan bermain golf atau memperoleh bahan makanan di toko dengan mengikuti standar protokol keselamatan. CNN Travel berbicara dengan salah satu dari empat pakar itu, yakni Dr. Matthew Sims, direktur penelitian penyakit menular di Beaumont Health di Michigan.

Wawancara berfokus pada faktor apa yang membuat berkemah memiliki risiko rendah dan panduan apa yang perlu diperhatikan untuk membuatnya lebih aman. 

Sims yang sudah berkemah sejak masih sarjana dan semasa sekolah kedokteran mengatakan satu hal yang menguntungkan saat camping adalah kebanyakan waktu Anda dihabiskan di luar ruangan.

Dia membandingkannya dengan pergi ke bar dimana biasanya ada di ruang tertutup, sempit, dan ramai orang. Itulah tempat paling berisiko terjadinya penyebaran virus seperti COVID-19. Bar mendapat nilai 9 pada skala risiko yang dibuat empat pakar tadi.

“Area tertutup cenderung dipenuhi virus yang bergerak pada satu tempat dan sepanjang waktu.” Sementara di luar ruangan, virus dapat pergi  dengan lebih mudah, kata Sims.

“Katakan saja jika ada seseorang yang batuk. Virusnya akan tetap di sana karena tidak ada ruang luar untuk virusnya pergi.”

Tidak pergi ramai-ramai. Itulah nasehat utamanya dan satu hal yang perlu selalu diingat ketika bepergian di  era pandemi adalah tidak melakukannya dalam grup besar. Perjalanan solo atau jalan-jalan dengan orang-orang yang tinggal serumah adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu diperhatikan jika Anda pergi camping:

  • Jangan pernah pergi camping tanpa perencanaan. Buatlah reservasi dan belilah perbekalan seperti kayu bakar, es, dan sebagainya secara online sebelum tiba di lokasi perkemahan.
  • Lengkapi diri dengan keperluan untuk bersih-bersih seperti sabun, disinfektan untuk mensterilkan area atau permukaan yang memiliki potensi adanya virus corona, hand sanitizer, handuk kertas, dan tisu toilet. Sebgai catatan, area camping adalah tempat dimana tidak dianjurkan untuk hemat keperluan tersebut.
  • Jaga jarak sosial: pastikan tempat kemah Anda – termasuk tempat tidur, api unggun, dan area makan – berjarak cukup jauh dengan kelompok lain yang juga sedang berkemah di sana.
  • Hormati aturan: ikuti semua aturan perkemahan dan instruksi demi keselamatan Anda dan orang lain. Aturan itu teramsuk misalnya mengenakan masker di tempat umum, tertib mengikuti aturan jarak sosial, dan tinggalkan kursi dan meja piknik di tempat semula.
  • Hindari olah raga yang ada kontak fisik: misalnya, basket di lapangan terbuka; jadi hormati aturan jika ada pengumuman bahwa fasilitas itu sementara dilarang digunakan.
  • Lintasan jalan: jika ada tanda ditutup, berarti ada alasannya. Jadi jangan dilanggar.
  • Berperahu: jangan naik ke perahu lain dan bergerombol di danau.
  • Toilet: Jika Anda membawa mobil karavan atau RV (recreational vehicle) yang dilengkapi toilit, gunakanlah fasilitas itu. Sebisanya tidak menggunakan toilet umum. Semakin sedikit orang memanfaatkan fasilitas, berarti semakin baik.

 

 

 

Di Era COVID-19 Musisi Agar Terus Berkarya Lewat Konser Virtual

this formate

Komposer kawakan Indonesia, Addie M.S ( kanan) saat bincang-bincang dengan Rizki Handayani.           ( Foto: Kemenparekraf )

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajak dan mendorong para musisi untuk terus berkarya dan menampilkan karyanya melalui konser virtual di masa pandemi COVID-19.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, bisniswisata.co mengatakan konser virtual bisa menjadi solusi terbaik dan dapat membantu para musisi berkarya di tengah pandemi COVID-19.

“Kemenparekraf akan terus mendorong dan mendukung event musik dan lainnya, baik itu secara virtual maupun offline,” kata Rizki, hari ini.

Rizki mengatakan, musisi harus tetap produktif dan tidak boleh berhenti berkarya agar aktivitas ekonomi kreatif di tanah air terus bergerak. Dia mencontohkan acara “Our First Live+Virtual Silent Music Concert: The Future of Indonesia Creative Events” yang digelar pada Minggu (26/7/2020) bisa menjadi platform konser virtual yang banyak dikembangkan ke depan.

Acara tersebut menurut dia, layak untuk diapresiasi pelaksanaannya karena konsepnya yang berupa konser virtual dan menampilkan musisi kreatif di antaranya Nadin Amizah dan RL KLAV itu.

“Saya menilai acara ini keren karena saya melihat berbagai misi di dalamnya, ada penonton online dan offline, ketika biasanya kita nonton di tv tapi sekarang kita bisa nonton pertunjukan musik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Menurut Rizki, Indonesia punya segudang potensi di bidang industri kreatif yang sebagian besar digerakkan oleh generasi muda. Oleh karena itu, ia berpesan agar generasi muda selalu mengasah kreativitasnya untuk menciptakan karya dan produk yang menarik.

“Yang penting jangan berhenti berkarya. Memang di Indonesia ini kita punya DNA kreatif dan kita punya banyak generasi muda potensial. Terus berkarya, jangan menyerah, dengan kreativitas kita lawan COVID-19,” tambahnya

Sementara itu, Komposer kawakan Indonesia, Addie M.S., mengatakan pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia merupakan suatu tantangan tersendiri bagi seluruh anak muda, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Namun, Addie meminta agar generasi muda tidak menyerah pada keadaan.

“Setiap zaman punya tantangan masing-masing. Anak-anak muda sebelum (generasi) saya melawan penjajah, tantangan generasi muda sekarang adalah bagaimana melihat peluang di masa pandemi. Intinya adaptasi dan resilience ucap Addie.

 

Resor Pantai di Thailand Telah Dibuka. Seperti Apa Layanan di Era New Normal?

this formate

Resor Pantai Thailand telah dibuka untuk turis domesik (foto: CNN)

THAILAND, bisniswisata.co.id: Bagi pelancong dari negara-negara subtropis di belahan Bumi utara, berkunjung ke resor pantai tropis seperti di Thailand, ibarat mimpi yang jauh. Sejak pandemi COVID-19 mewabah, hampir seluruh negara memberlakukan pembatasan yang ketat.

Kebanyakan negara-negara ini masih belum hendak membuka pintu bagi kedatangan pelancong internasional. Penerbangan pun belum tahu kapan akan mulai menjangkau ke sana.
Sektor pariwisata Thailand, yang menurut data Bank Dunia menyumbang hampir 15% dari PDB, termasuk yang sangat terdampak.

Untuk sementara, industri yang sedang sakit ini sangat bergantung pada kehadiran wisatawan domestik. Sejak pemerintah mengumumkan belum ada kasus baru pasien yang terinfeksi virus Corona, pelancong merasa aman bepergian.

Keadaan itu sudah berlangsung selama lebih dari 50 hari. Inilah yang memberi rasa aman bagi wisatawan untuk segera bersiap melancong.
Selama ini, Koh Samui dan Phuket merupakan destinasi wisata yang populer di kalangan turis mancanegara.

Keadaannya kini cukup memprihatinkan karena berkurangnya secara drastis pengunjung dari luar negeri.Tetapi sejumlah resor yang lokasinya dapat dijangkau dengan berkendaraan dari ibu kota Bangkok. mulai kebanjiran pengunjung.

Mereka mendapat kelimpahan dari turis lokal yang amat berhasrat melakukan perjalanan setelah selama berminggu-miggu ‘terkunci.’ Salah satunya adalah pantai resor Hua Hin. Berjarak hanya 2,5 jam berkendaraan dari Bangkok.

Hua Hin merupakan resor pantai pertama di Thailand. Beroperasi sejak 1900 an, resor ini pernah sangat populer sebagai tempat peristirahakan bagi keluarga kerajaan dan kalangan kelas atas Thailand.

Kini, beragam tawaran akomodiasi mulai dari sekelas wisma hingga properti mewah bintang lima mudah ditemukan di sana. Hotel-hotel brand internasional juga membuka cabangnya di sana.
Berikut pengalaman CNN Travel yang berkunjung ke tiga hotel kelas atas di Hua Hin, yang ternyata tingkat huniannya sangat tinggi.

Sejumlah adaptasi dilakukan pihak hotel demi memenuhi harapan para tamu. Berikut paparannya:
Checking in: Sebelum tamu memasuki lobi untuk check-in, mereka wajib mengisi formulir berisi pertanyaan tentang kontak dan tes suhu tubuh. Untuk mengisi formulir, pihak hotel menyediakan pena sekali pakai yang setelah digunakan akan ditempatkan pada wadah khusus untuk kemudian disterilisasi.

Setelah mengisi formulir, tamu diarahkan menuju lobi ke meja check-in. Di sana sudah terpasang layar plexiglass transparan besar yang memisahkan staf penerima tamu dengan pengunjung.

Di dalam kamar: Saat di dalam kamar, Anda mungkin tak menyadari perubahan yang terjadi, tetapi yang pasti pihak pengelola hotel telah ‘menggusur’ beberapa ornamen dan dekorasi untuk mengurangi ‘titik sentuh,’ kata staf.

Di setiap meja terpasang lampu disinfektan UVC ozon yang telah dinyalakan sebelum tamu masuk kamar. Remot TV dibungkus plastik agar mudah dibersihkan. Untuk tamu juga disediakan seperangkat masker dan hand sanitizer.

Di kolam renang: Selama kunjungan kami, terlihat ada anggota keluarga bersenang-senang di kolam renang utama, sementara tamu lain meriung di bar kolam renang menikmati happy-hour. Kursi-kursi di pinggir kolam berlimbah, jadi bisa menjaga jarak sosial. Layanan makan/minum pun tersedia seperti biasa.

Satu-satunya perubahan yang mencolok adalah fasilias handuk. Di sana tak terlihat lagi staf yang membagikan handuk. Handuk-handuk ini telah tersedia di kamar masing-masing. Para tamu wajib membawanya saat hendak berenang. Cara ini diharapkan dapat mengurangi kontak saat pemberian handuk dan mencucinya.

Pemakaian masker: para staf terlihat mengenakan masker sepanjang hari. Bagi tamu, aturan ini opsional saja kecuali saat memasuki area makan masker wajib dikenakan di sana. Makan di luar kamar: ya, sarapan prasmanan dan makan malam masih tersedia, tetapi sebagian besar tamu tidak mengambil makanan sendiri.

Makanan tersedia di belakang meja berpenghalang kaca; para staf bermasker siap bertugas menyajikan panganan. Para tamu diwajibkan memakai masker saat mengambil makanan, tetapi boleh dibuka ketika sudah tiba di tempat duduk.

Perubahan mencolok di area ini adalah tidak adanya serbet kain. Semua diganti dengan kertas. Sekali lagi ini bertujuan untuk mengurangi kontak layanan dan pencucian.

Jika Anda masih takut makan bersama di ruangan dengan banyak orang? Pihak hotel menawarkan opsi yang mereka sebut “dining by design”. Pihak hotel akan menggelar tempat khusus di tepi laut yang indah untuk tempat makan malam Anda dan keluarga atau kerabat.

Langkah-langkah keamanan: Saat ditanya perubahan terbesar apa yang dilakukan pihak hotel ketika memutuskan untuk kembali buka pada Juni, seorang general manager, Ure, mengatakan: “kami menyebutnya “Stay With Peace of Mind/ Menginap dengan (suasana) ketenangan pikiran”.

“Program ini dibangun atas dasar kesehatan dan keselamatan yang telah ada, lalu diperkuat dengan meningkatkan sanitasi dan kebersihan,” katanya. “Di Hua Hin kami tetap ingin menawarkan keramahan tradisional Thailand dan layanan yang menawan, tetapi tetap memperhatikan keamanan lingkungan.

 

WHO: Ke Depan Larangan Perjalanan Tidak Berlaku, Ekonomi Harus Jalan

this formate

Jumpa pers daring WHO di Jenewa.( Foro: WHO) 

JENEWA, bisniswisata.co.id: World Health Organization ( WHO) menilai ke depan, larangan perjalanan internasional tidak berlaku. Negara-negara di dunialah yang harusnya berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona baru di wilayah perbatasan mereka.

Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan larangan perjalanan tidak berkelanjutan. Akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang karena sektor ekonomi harus terbuka, orang harus bekerja dan perdagangan harus dilanjutkan

“Gelombang infeksi kedua telah mendorong negara-negara untuk memberlakukan kembali beberapa pembatasan perjalanan dalam beberapa hari terakhir. Padahal hanya dengan kepatuhan ketat hal itu bisa diatasi,kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia itu.

Kepatuhan ketat itu seperti disiplin menggunakan masker hingga menghindari keramaian maka dunia akan berhasil mengalahkan pandemi COVID-19,  tambahnya pada briefing  virtual dengan kalangan pers, kemarin.

 “Di mana langkah-langkah ini diikuti, maka kasus COVID-19 turun. Di mana tidak patuh sebaliknya kasus akan naik,” katanya sambil memuji Kanada, China, Jerman dan Korea Selatan karena mampu mengendalikan wabah.

 “Yang jelas adalah tekanan pada virus mendorong angka-angka ke bawah. Lepaskan tekanan itu dan kasusnya naik kembali.” timpal Mike Ryan lagi.

Tedros juga mengatakan bahwa komite darurat badan kesehatan PBB akan bersidang untuk memeriksa kembali deklarasi bahwa wabah tersebut merupakan “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”.

Deklarasi yang disebut Public Health Emergency of International Concern ( PHEIC) menandai tingkat waspada tertinggi di bawah aturan kesehatan internasional yang harus dievaluasi ulang setiap enam bulan.

” Kamis besok menandai enam bulan sejak WHO menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional,” kata Tedros.

Sebelum COVID-19, WHO hanya membuat deklarasi seperti itu lima kali sejak Peraturan Kesehatan Internasionalnya berubah pada 2007, untuk flu babi, polio, Zika dan dua kali untuk wabah Ebola di Afrika.

Ada sedikit keraguan bahwa komite darurat akan mempertimbangkan bahwa pandemi masih merupakan darurat kesehatan masyarakat global, tetapi berpotensi dapat mengubah beberapa rekomendasinya tentang bagaimana WHO dan dunia harus merespons karena situasi telah berubah secara dramatis sejak deklarasi dibuat.

 “Ketika saya menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 30 Januari 2020, ada kurang dari 100 kasus di luar China, dan tidak ada kematian,” kata Tedros.

Tetapi sejak itu, jumlah kasus telah melonjak melewati 16 juta, dengan hampir 650.000 kematian di seluruh dunia. “COVID-19 telah mengubah dunia kita. Ia telah menyatukan orang, komunitas, dan bangsa, dan membuat mereka terpisah,” kata Tedros.

WHO telah menghadapi kritik dari negara-negara tertentu untuk tanggapan pernyataan dan tuduhan-tuduhan terlalu lambat mengambil tindakan, tapi tuduhan itu  dibantah keras oleh organisasi itu.

 “Selama enam bulan terakhir, WHO telah bekerja tanpa lelah untuk mendukung negara-negara  mempersiapkan dan menanggapi virus ini. Saya sangat bangga dengan organisasi kami, WHO, dan orang-orangnya yang luar biasa dan upaya mereka.” kata Tedros.

Dia sendiri selama berbulan-bulan menghadapi serangan tanpa henti dari Presiden AS Donald Trump, yang menuduh WHO sebagai “boneka China”. Awal bulan ini Trump memanfaatkan ancamannya untuk mulai menarik diri yang sebelumnya AS merupakan donor terbesar WHO.

 

Liburan Perdana di Masa New Normal dan Sempat Dikejar Monyet Cipanas  

this formate

Oleh: Yudarwita Maharajo

CIPANAS, Puncak, bisniswisata.co.id: Kemana kita akan pergi setelah pandemi ini berlalu?  Apakah atraksi itu sudah buka?  Apakah akomodasi langganan kita sudah boleh menerima tamu?  Apakah kita sudah bisa bepergian antar kota? Kira-kira seperti itu pertanyaan banyak orang yang sudah tidak sabar ingin keluar rumah, ingin bepergian lagi. 

Mungkin short getaway kami pertengahan Juli lalu bisa memberikan ide-ide bepergian yang simple dan singkat, sebagai awal. Berangkat sekitar jam 9 pagi dari Jakarta kami tidak mengalami kesulitan di jalan, tidak ada pemeriksaan dan nyaris tak mengalami kemacetan lalu lintas.

Oh ya, tujuan kami adalah sebuah resort & convention di Cipanas, dari Jakarta tidak terlalu jauh dari belokan ke Kebun Raya Cibodas. Sebelum jam makan siang si roda empat sudah tiba dan kami masih sempat beristirahat sejanak di hotel.    

Bungalow kami terletak di lantai dua, dilengkapi dengan ruang keluarga yang cukup luas dan sebuah pantry mini – cukup bagi kami, 3 orang dewasa, 2 anak-anak dan seorang bayi.  Udara sejuk tetapi belum termasuk dingin.  Usai sholat zuhur kami meluncur mencari tempat makan siang. 

Beberapa pilihan muncul,  restoran sate,  ayam goreng cepat saji lokal atau restoran Sunda.  Pilihan jatuh kepada restoran Sate dan Sop Hanjawar yang terletak di tepi Jalan Raya Hanjawar.  Warung berukuran kecil, tidak ada tempat parkir khusus maupun ruang ber-AC dan di bagian luarnya tampak karyawan restoran sibuk membakar sate.

Ternyata warung mempunyai tempat duduk yang lebih besar, di belakang warung kecil tersebut.  Tersedia banyak tempat duduk walaupun jarak antara satu dan lain meja sangat berdekatan.  Kami memesan sate, sop dan tongseng.  Restoran yang sudah punya nama ini ternyata tidak mengecewakan sama sekali kelezatannya masakannya.

Satenya enak, potongan dagingnya besar-besar dan empuk.  Sop kambingnya juga enak dan porsinya lumayan besar.  Tongseng terasa agak manis, enak dan porsinya juga memadai.  Selain menu daging kambing ada juga kok menu-menu lain yang non-kambing…Kami menghabiskan sekitar Rp. 60.000 per orang, sudah termasuk es jeruk.  

Kembali ke hotel dengan rasa puas, kami sempat meng-explore resort yang terletak di lembah sempit, dikelilingi hutan bambu yang tinggi dan cukup rapat.  Sedih juga melihat restauran besar milik hotel yang lampunya digelapkan karena tidak ada tamu yang masuk, padahal mereka sudah buka menerima tamu.  

Camping ground juga tampak sepi, tetapi beberapa karyawan tetap bekerja, merapikan tunas-tunas bunga matahari.Malam hari kami “pesta barbeque” di taman hotel.  Bahan makanan kami bawa sendiri dan semuanya sudah setengah matang sehingga kami sebenarnya tinggal membolak-balik makanan sebentar supaya terasa bakarannya.  Panggangan sate kecil, tusuk sate, arang, kipas siap tetapi bagaimana menyelakan arangnya?.

Kami tidak ada yang membawa korek api maupun minyak tanah.  Aha, rupanya saat mengisi bensin tadi sebelum makan siang, anak lanang sudah siap membawa botol kosong dari hotel untuk membeli bensin sedikit untuk membakar arang…  Malam barbeque pun berjalan lancar di keremangan taman.

          Monyet yang berkeriaran di sekutar villa

Esok paginya, usai sarapan yang diantar ke kamar, anak-anak kecil dan yang dewasa pergi berenang ke kolam renang hotel.  Saya pun beranjak untuk leyeh-leyeh di kamar tidur.  Tanpa sadar, pintu bungalow dibiarkan terbuka.  Entah berapa lama, antara tidur dan tidak, saya mendengar suara-suara aneh dari ruang tamu. 

Semakin lama semakin seru, lalu seperti ada suara benda-benda berjatuhan. Setengah mengantuk, saya membuka pintu kamar… Astaga, ada 2 ekor monyet sedang berpesta pora di ruang keluarga! 

Menyantap sisa-sisa sarapan bahkan membukai kotak-kotak bekal makanan.   “Hush, hush” kata  saya coba mengusir namun kedua monyet sama sekali tidak menggubris. Mereka terus melompat kesana-kemari membukai kotak-kotak perbekalan. Apa akal?  Saya melihat ke sekeliling kamar, hanya ada beberapa buku yang bisa dijadikan senjata.  Saya ambil 1 dan lempar ke arah monyet-monyet itu sambil berteriak-teriak. 

Apa yang terjadi?  Alih-alih takut, monyet yang besar menyeringai, menunjukkan giginya dan berlari ke arah saya!  Monyet ini ukuran badannya lebih besar dari anak umur 1 tahun!  Cepat saya balik badan kembali ke kamar, membanting pintu sekaligus mengunci diri di sana.

Akhirnya saya pun menelepon anak yang sedang di kolam renang untuk meminta pihak hotel mengusir duo kelabu itu dan membereskan kekacauan di ruang tamu gelas-gelas pecah dan jatuh di lantai, begitupun roti tawar milik si bayi dan kue-kue, diganyang habis, tinggal sisa-sisanya  berserakan dimana-mana.

Insiden ini tidak merubah rencana kami untuk mengunjungi Kebun Raya Cibodas.  Kebun Raya hanya berjarak 4 km dari hotel.  Berhenti sebentar di sebuah restoran dekat Kebun Raya, kami membeli makan siang. 

Nasi tutug oncom dengan ayam goreng potongan besar, tahu dan tempe, ikan asin, sambal dan lalapan segar ditukar dengan Rp. 20.000 saja per paket. Restoran Rafi, begitu namanya, menyediakan menu-menu lain yang cukup bervariasi.

Kebun Raya Cibodas sangat hijau, sepi dan bersih terawat.  Kontur tanahnya yang berbukit-bukit ditumbuhi rumput yang hijau subur sungguh menyenangkan dipandang, pohon-pohon yang tinggi membuat kami merasa seakan seluruh bukit dan taman raya ini adalah hutan milik pribadi.

Tampak sudah ada pengunjung di Jalan Air, dekat Taman Sakura, air terjun mini atau tepatnya jeram-jeram dan sungai kecil mengalir bersih, sungguh menggoda hati untuk ikut bermain di kecipak air.  Namun kami memilih untuk “parkir” di depan wisma tamu untuk alasan nostalgik.

Dua  buah guesthouse besar bergaya kabin itu sudah lama berada di Cibodas dan bisa disewakan kepada umum.  Namun di pertengahan bulan Juli itu guesthouse belum dibuka kembali.  Karpet piknik pun digelar, bekal makanan di buka dan kami piknik sambil makan siang di kebun raya yang berada di kaki gunung Pangrango ini. 

Rumah kaca yang berisi anggrek, kaktus dan ribuan tanaman lain, hanya seratusan meter dari guesthouse, sayang saat itu rumah konservasi ini masih tutup.  Ada spot-spot lain yang menarik seperti kolam besar dengan air mancur, Taman Rhododendron yang berisi tanaman dari berbagai negara.  

Nicole’s Kitchen di Jl. Raya Cipanas.Lokasinya tak jauh dari RS Cimacan

Bersihnya udara, banyaknya tanaman dan pepohonan, siluet biru gunung di kejauhan, sungguh memanjakan seluruh indera, peralihan yang signifikan dari kehidupan sehari-hari di kota besar yang padat dan sibuk.

Berbeda dengan Kebun Raya Bogor yang terletak di tengah kota, lokasi Cibodas yang juga berdekatan dengan Gunung Halimun, berada di ketinggian sekitar 1.300-1.425 mdpl, jauh dari hiruk pikuk dan polusi kendaraan bermotor serta aktifitas manusia. 

Hal ni membuat suhu udara di kawasan ini berkisar antara 17-27 derajat Celcius saja.  Sejuk dan menenangkan. Kebun Raya Cibodas buka setiap hari dari jam 8 hingga jam 16 dengan harga karcis Rp. 16.500 per orang. Sebelum masuk, petugas mengecek temperatur tubuh setiap peserta.

Jelang sholat ashar kami meninggalkan Kebun Raya Cibodas, menuju satu destinasi lagi sebelum melanjutkan perjalanan pulang Nicole’s Kitchen di Jl. Raya Cipanas.Lokasinya tak jauh dari RS Cimacan dan belokan menuju KR Cibodas.  Terletak persis di tepi jalan Raya Cipanas, satu halaman dengan sebuah factory outlet besar. 

Tiba di lantai 3 kami disambut dengan suasana serba putih dan hijau dari dedaunan imitasi hampir di seluruh ruangan.  Walaupun tidak natural tetapi berhasil menciptakan suasana dengan kecantikan yang berbeda.  

Sebagian lantai tiga merupakan ruang terbuka dengan rumput sintetis dimana diletakkan meja kursi biasa dan kursi-kursi bulat beratap dari rotan sintetis.  Di bagian lain, terdapat juga beberapa dipan putih berkasur dimana orang bisa makan disana sambil santai merebahkan diri, memandang ke kejauhan.

Kami memilih duduk di ruang kaca yang memiliki sofa setengah lingkaran dan didekorasi cantik pada langit-langitnya, lagi-lagi terbuat dari dedaunan dan bunga artificial.  Berada di atas sini, bila kita tidak melihat ke bawah, tidak terasa bahwa kita berada di tepi jalanan yang padat lalulintasnya.  

Soalnya yang terlihat adalah ujung pepohonan dan siluet perbukitan di seputar Cipanas.Kami memesan beberapa jenis pizza yang dibakar dengan tungku kayu.  Semua enak dan memberikan sensasi rasa yang berbeda dengan pizza-pizza lain yang sering kita nikmati. Untuk minuman ada berbagai pilihan jus segar, teh dengan flavor dan banyak lagi.  

Namun, yang paling menarik hati adalah ini:  menu bawang bombay mekar.  Ini sebenarnya sama dengan onion ring yang lazim kita temui tetapi di Nicole’s bawangnya dimasak dengan dibiarkan utuh, tidak diiris-iris dan kita makan dengan mencabut satu per satu lapisan bawangnya dimakan masih panas dan yummy

Beberapa bagian dari resto ini masih tutup namun resto tetap menawarkan produk-produk coklatnya dan kursus membuat coklat.  Tempat yang cantik untuk makan-makan cantik bersama teman dan keluarga, tempat yang cantik untuk foto-foto cantik alias instagramable pula. Perut kenyang, hati senang meski ada insiden duo monyet  Cipanas. waktunya pulang.  Yeay, liburan singkat yang sukses….