‘RI Sebaiknya Ikuti Guideline UNWTO Untuk Crisis Centre COVID-19 Khusus Pariwisata’

0
40

Wisatawan mancanegara di Pulau Dewata diharapkan kembali datang pasca COVID- 19 ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) selalu membantu negara-negara anggotanya dengan panduan dan pelatihan Risk and Crisis Management in the Tourism Sector. Oleh karena di saat terjadi pandemi global COVID, Kemenparekraf sebaiknya menghidupkan kembali Crisis Center, kata Sapta Nirwandar, hari ini

Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden SBY yang kini Ketua Indonesia Tourism Forum ( ITF) ini mengatakan dari pengalaman kasus Bom Bali I & II, Tsunami Aceh, meletusnya Gn. Agung, Bali 2017- 2019, Crisis Center atau Media Center khusus mengenai pariwisata tetap dibutuhkan.

Kementrian Pariwisata mengaktifkan Crisis Center bahkan menyewa public relations asing untuk memudahkan komunikasi dengan industri pariwisata internasional maupun wholle seller yang biasa mendatangkan wisman ke Indonesia.

” Saat terjadi  Bom Bali I & II, kami aktif menginformasikan situasi terakhir pada dunia internasional terutama mitra-mitra industri pariwisata mancanegara bahkan termasuk meliput kegiatan-kegiatan positif di Pulau Dewata itu sehingga paska bencana wisman kembali datang ke Bali,” kata Sapta Nirwandar.

Meski pandemi global COVID-19 sudah berjalan lima bulan, belum terlambat mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf karena Gugus Tugas COVID-19 yang dibentuk pemerintah memberikan Informasi terbaru seputar penanganan COVID-19 di Indonesia oleh Pemerintah.

” Crisis Center Kemenparekraf tetap dibutuhkan untuk memberikan informasi pariwisata RI yang terdampak pandemi kepada masyarakat maupun industri pariwisata nasional maupun internasional,” tambahnya.

Untuk data kasus COVID-19 di Indonesia informasi dari satu pintu ditangani oleh GugusTugas tapi untuk sektor pariwisata maka perlu ditangani langsung oleh Kemenparekraf dengan transparansi tinggi sehingga bisa cepat mengembalikan kepercayaan dunia.

Guideline UNWTO

Sapta mengingatkan guideline UNWTO sudah tersedia sehingga tinggal mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan. Baik buku, laporan hingga ke pelatihannya tersedia karena dengan menangani Crisis Centre terbukti sektor pariwisata cepat memulihkan perekonomian negara anggita dan seluruh dunia dari dampak bencana.

Selama pandemi global, Indonesia Tourism Forum yang dipimpinnya sudah lima kali mengadakan webinar dengan tokoh-tokoh pariwisata dunia dan tujuannya untuk memberikan situasi terkini terutama pariwisata Indonesia.

“Sejauh ini, dalam webinar Indonesia Tourism Forum ( ITF) menghadirkan Reem El Shafaki, Senior Associate, DinarStandard, AS, Ekaterina Kamalova, Program Director of Tatarstan Investment Development Agency, Sandra Cavao*, Chief of Tourism Market Intelligence and Competitiveness, UN-WTO

Hadir juga Gloria Guevara Manzo,* President and CEO of the World Travel and Tourism Council (WTTC), Irshad Cader, CEO of Clobothink Consultant, Australasia & Middle East, Sumaira Isaacs,  CEO of Global Tourism Forum, Ken Wong*, Vice President Sales & Distribution, Accor Hotels Greater China.

Di lain waktu ada Dr. Sasithara Pichai, Rector at College of Tourism and Hospitality, Rangsit University, Thailand dan Nahla Mesbah (Senior Consultant DinarStandard), Murat Gokyokus,CEO Siempre Tour & Travel, Turki, Jean-Claude Balanos,Vice President Leisure Sales Accor Hotels, France.

” Siapa-siapa saja mereka bisa di browsing kan. Oh iya, mantan Sekjen UNWTO yang pernah datang je Indonesia, Thaleb Rifai juga pernah jadi nara sumber Indonesia Tourism Forum ( ITF), jelas Sapta.

Diapora Indonesia, Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media         ( kiri) dan Sapta Nirwandar, Kerua Indonesia Tourism Forum bersama pasangan masing-masing.

Suara Diaspora

Suara fiaspora di Indonesia mengenai perlu atau tidak ya mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf juga perlu didengarkan seperti ungkapan Fajar, Humas KBRI di Stockholm, Swedia.

“Menurut saya bagus kalau Kemenparekraf membentuk Crisis Center.  Alalagi yang saya tangkap,  fokusnya pada destinasi wisata dan juga informasi kepada Travel Agent/Tour Operator internasional. ” ujarnya mewakili opini pribadi.

Kedubes RI di Swedia ini di bawah kepemimpinan Dubes Bagas Hapsoro yang baru saja kembali je tanah air secara rutin menggelar potensi destinasi wisata RI dengan para travel agent asing di Swedia maupun Latvia.

“Hal ini baik mengingat perkembangan saat ini dengan adanya Permenkumham 11/ 2020, sehingga WNA belum bisa memasuki wilayah Indonesia. Kalau ada Crisis Center atau Media Centre atau semacam contact point maka mereka dapat follow up terus,”

Menurut dia fungsinya  yang dapat menjelaskan secara gamblang mengenai pembukaan Indonesia bagi wisatawan asing. Jadi informasi ini  sangat bagus ketika nanti jalur internasional dibuka kembali ke  Indonesia.

“Bagi  saya yang terpenting saat ini adalah memastikan tugas pokok dan fungsi Crisis Center tersebut agar tidak tumpang tindih dengan tugas Gugus Tugas Covid,” kata Fajar.

Hal senada diungkapkan Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media, media komunitas Indonesia di Amerika Serikat sekaligus mantan senior journalist beberapa media terkemuka di Indonesia.

” Komentarku ya, dengan jumlah penderita dan korban Covid19 yang meningkat terus, bahkan sekarang terbesar di Asia Tenggara, berita yang muncul di luar negri tentang hal ini cukup “mengerikan”,” ungkapnya.

Pemerintah Indonesia perlu memiliki  juru bicara yang mumpuni soal ini, sehingga Media massa, termasuk media asing, bisa menjelaskan langkah-langkah pemerintah soal ini seperti yang disarankan seniornya Tuti Sunario, mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI)

BACA JUGA: https://bisniswisata.co.id/tuti-sunario-aktifkan-crisis-center-kemenparekraf-di-era-covid-19/

“Kami yang di luar negeri sampai sekarang bingung memahami apa yang terjadi di tanah air. Seharusnya saya mudik tanggal 18 Juli lalu, tetapi penerbangan dibatalkan oleh airlinesnya. Saya sendiri masih belum tahu kapan akan pulang, Agustus Atau September karena kondisi di tanah air kok kurang kondusif. ” kata Indah Nuritasari

Pemerintah perlu jubir yang baik, kalau perlu menggunakan jasa humas internasional yang piawai menangani krisis supaya nama Indonesia kembali baik di mata internasional.

Indah kini bekerja di Philadelphia selama 19 tahun terakhir dan putrinya kini duduk di bangku Universitas. Setiap hari, melalui indonesianlantern.com pihaknya yang tetap berstatus WNI ini mempromosikan Indonesia di segala aspek ke penjuru dunia.

Begitu pula melalui akun media sosialnya dia selalu mempromosikan Indonesia termasuk gerakan Selasa Berkebaya yang dilakukannya bersama staf untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui jebaya dan batik.

Nah seperti saran para senior pariwisata RI dan diaspora journalist senior, RI sebaiknya ikuti guideline UNWTO untuk aktifkan kembali Crisis Centre khusus menangani pariwisata terdampar COVID-19. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.