Wulenpari, Dimana Irama Kehidupan Melambat  

this formate

Penulis ( kedua kiri) berfoto di depan pinru masuk Wulenpari. ( Foto- foto; Yudarwita Maharajo)

Oleh: Yudarwita Maharajo

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id : World Health Organization (WH) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan sikap menilai ke depan, larangan perjalanan internasional akan tidak berlaku.

Negara-negara di dunialah yang harusnya berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona di wilayah perbatasan mereka.

Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan larangan perjalanan tidak berkelanjutan. Akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang karena sektor ekonomi harus terbuka. Orang harus bekerja dan perdagangan harus dilanjutkan.

Sementara itu di tempat lain Menteri Pariwisata Indonesia berpendapat, bagi komunitas warga senior, desa wisata bisa menjadi tujuan wisata karena berkumpul bersama komunitas, mempelajari aktivitas budidaya tanaman dan menikmati alam pedesaan membuat tingkat kebahagian meningkat, termasuk imun tubuh.

Sekitar 70.000 an desa di Indonesia bisa menjadi tempat belajar orang kota seperti lomba tangkap ikan, sepak bola lumpur, tangkap bebek, outbound, dan trekking. Dampak ekonomi bergandanya akan luar biasa. 

Apalagi di tengah pandemi global COVID-19, meski desa wisata kini sepi pengunjung Live In, namun banyak individu, komunitas bahkan perusahaan yang tetap mengagendakan untuk datang ke desa-desa wisata di tanah air.

Merujuk kepada anjuran-anjuran di atas, Wulenpari mungkin salah satu desa wisata yang patut ditampilkan. Berlokasi di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, Jawa Tengah, Wulenpari baru dibuka pada Juli 2018.

Berjarak 25 KM dari jantung Kota Yogyakarta, lokasi Wulenpari sangat mudah ditemukan. Pengunjung hanya perlu mengambil jalan utama Jogja-Wonosari hingga sampai di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sejam berkendara dari pusat kota Yogya, pengunjung akan mendapati gerbang bertuliskan “Jelok”.

Belok kiri melewati gerbang ini, orang akan menyusuri sebuah jalan sempit beraspal. Nanti akan sampai di persimpangan segitiga, tengok ke kiri kita sudah bisa melihat plang nama Jelok dan Wulenpari.Ya, kedua desa wisata ini.berdampingan satu sama lain, hanya dipisahkan oleh sungai Oyo.

Menyusuri jalan setapak, berjumpa pintu gerbang, ruang menerima tamu atau layaknya ‘lobby hotel’ dan rumah desa alias kamar-kanar tamu ala Ndeso.

 

Berperahu menyusuri sungai Oyo, salah satu aktivutas yang bisa dinikmati, disambut langsung Aminudin Aziz, pemilik Wulenpari yang menyediakan ruang kesenian terbuka dan makan siang dengan menu rumahan warga desa.

Berbeda dengan destinasi wisata umumnya di Gunung Kidul yang berupa wisata pantai, Wulenpari tidak berlokasi di pantai, namun terletak di tepi Sungai Oyo.

Melewati jembatan gantung kita disambut oleh jalan setapak berbatu melewati lahan yang masih alami. Bau pepohonan membuat orang langsung merasa masuk ke alam pedesaan. 

Dikanan, di antara alang-alang tampaki pemandangan Sungai Oyo yang tenang, sementara di kiri berbaris pepohonan serta tanaman yang hijau segar.Kejutan pertama menyambut kami: seekor “luwing” atau “titinggi” menjalar di rumputan, besaaar sekali.

Kami belum pernah melihat kaki seribu sebesar itu, panjangnya sekitar 20 cm!.Hanya seratusan meter berjalan pengunjung sampai di kawasan Wulenpari. Adalah sebuah pondok bekas kandang sapi yang pertama menyambut.

Beberapa orang tampak sedang makan siang disana saat kami tiba. Terbuka, dengan tiang-tiang jati yang dibiarkan alami sungguh menyenangkan bersantap sambil memandang sungai.

Ya, di Wulenpari kita bisa datang untuk wisata kuliner saja dan bisa juga untuk menginap. Saat ini ada 5 kamar dan 2 rumah untuk akomodasi selain dapur dengan area tempat duduk terbuka tempat prasmanan disuguhkan, pendopo besar yang dapat
memuat banyak orang, gazebo dan beberapa tempat lagi yang lebih kecil.

Semua terbuat dari rumah bekas tua dan kayu-kayu tua, berupa bangunan tradisional Jawa
mirip limasan mini dan gladak yang berdiri sendiri. Berjarak satu sama lain, diantaranya terdapat tanaman perdu dan hamparan rumput hijau yang asri terawat.

Dapur menyediakan berbagai masakan lokal seperti sayur lombok hijau, orek tempe
dan krecek, telur dadar, tiwul, singkong goreng dan banyak lagi. Sayuran diperoleh dari petani setempat dan diolah tanpa penyedap rasa, hanya mengandalkan bumbu-bumbu dapur segar.

Aminudin Aziz, salah satu penggagas Wulenpari, mengatakan bahwa semua bahan makanan di resto harus dibeli dari petani sekitar, kecuali bahan-bahan yang tidak tumbuh atau diproduksi oleh warga disitu.

Ada sekitar 70 petani yang dibina oleh Wulenpari untuk menanam tanaman organik. Ini tentunya adalah salah satu bentuk Wulenpari untuk mendukung kesejahteraan petani setempat. Hasil panen sebagian diserap oleh Wulenpari.

Setiap 35 hari sekali ada pasaran disana, tempat
petani menjual sayur mayur segar dan berinteraksi dengan pengunjung. Aziz sebelumnya ikut merintis dan mengelola Desa Wisata Jelok namun seiring
perkembangannya Jelok kemudian diserahkan kepada warga desa.

Suatu ketika terjadi badai dan banjir besar di Sungai Oyo yang memporak-porandakan bantaran
sungai. Warga desa pun bergotong-royong memperbaiki dan menanam pepohonan.

Setelah bantaran sungai rapih kembali timbul ide dari warga desa untuk membuat tempat beristirahat sekaligus berwisata mengingat letaknya di tepi sungai yang memiliki
potensi.

Akhir 2017 Wulenpari mulai dibangun. “Kami memulai dari nol, bahkan minus… tetapi saya suka sekali tempat ini” kata Aziz. Tentu passion ini jugamerupakan alasan kuat berdirinya Wulenpari, yang artinya untaian padi dalam bahasa
Jawa.

Aziz berencana menambah beberapa pondok lagi di lahan seluas 1 hektar ini dan mengembangkan wisata sungai. Hal istimewa di Wulenpari adalah adanya “amphiteather” mini di tengah kawasan, yang dapat menampung sekitar 50 orang. Setiap bulan purnama diadakan pertunjukan seni “Purnama di Wulanpari”.

Siapa saja boleh tampil disini. Para pengisi acara tidak perlu membayar sewa tempat dan Wulenpari juga tidak menyediakan honor. Tari Bedaya
klasik karya Sinuhun Ngarso Dalem IX pernah dipentaskan disini.

Mahasiswa-mahasiswa Institut Seni Tari Yogyakarta juga pernah tampil beramai-ramai.
Selain tarian dari Yogyakarta, Kalimantan, Papua, Aceh dan Jawa Timur yang ditampilkan para mahasiswa dari daerah asal tarian tersebut, ada juga musikalisasi puisi.

Semua penampilan tersebut adalah hasil olah kreatifitas mahasiswa dalam merespons lingkungan. “Purnama merupakan siklus kehidupan yang penting. Saat yang tepat untuk
menghayati dan mensyukuri nikmat Tuhan. Spirit nasionalisme, kemerdekaan dan persatuan bisa kita resapi bersama disini,” ujar Aziz.

Aziz berharap, program Purnama di Wulensari bisa menjadi gerakan berkesenian, gerakan sosial untuk mengembalikan ruh berkesenian, dimana para seniman dapat melakukan kegiatannya, bukan berkegiatan hanya saat ada permintaan.

Suatu harapan yang tidak berlebihan. Program budaya ini membuat pantas mengatakan
bahwa Wulenpari berada selangkah di depan dibandingkan restoran dan penginapan
serupa lainnya yang ada. Nature and culture.

Tidak jauh dari amphitheater ada jalan menurun menuju Sungai Oyo. Beberapa perahu kayu tertambat disitu. Ya, pengunjung dapat menyewa perahu untuk menyusuri sungai tenang yang membelah perbukitan karst dan melalui Desa Beji ini. 

Bukan cuma berperahu, ada rombongan yang memilih berkemah di tepi sungai. Pengunjung lain memanfaatkan bantaran sungai untuk sekedar duduk-duduk ngopi sambil berdiskusi santai.

Asyik! Ada berbagai kegiatan lain yang bisa dilakukan disini seperti outbound,trekking, melihat pembuatan topeng kayu, gathering, belajar bertanam organik, outing perusahaan dan lain lagi.

Saat kami berkunjung ada rombongan anak-anak SD dan guru-guru yang sedang melakukan kegiatan keagamaan disana.Wulenpari cocok untuk keluarga, untuk solo traveller, maupun warga senior. Namun, bagi yang live-in harus siap-siap karena walaupun bergaya resort, Wulenpari berkonsep“ndeso”. 

Kalau Anda mengharapkan kamar resort dengan fasilitas luxurious, bukan ini tempatnya. Kamar-kamar di tepi sungai ini hanya berupa pondok-pondok kayu rustic yang seluruhnya terbuat dari kayu lawas termasuk lantainya. Ada yang berkapasitas 2,4 dan 10 orang.

Anda harus sedikit adventurous kalau mau tinggal disini karena tidak ada fasilitas standar hotel di dalam kamar. Kasur pun sekedar digelarkan di lantai dan ada celah serta lubang di antara papan-papan dinding dan lantai kayunya!.

Namun, kamar mandinya, baik yang tradisional maupun yang modern, cukup bersih.Nah, Anda siap untuk menepi sejenak dan merasakan denyut kehidupan yang

melambat, pelaaan, menghirup udara bersih pedesaan serta menikmati lauk pauk khas Gunung Kidul yang sehat dan segar?  Nah sudah siap melambatkan aktivitas diri Anda ? Datanglah ke Wulenpari! Menapaki jalan setapak menuju pulang seakan masih terngiang pembacaan puisi oleh salah satu penampil:

  • Aku adalah harum sucinya tanah
  • dan genderang nyalanya api
  • Aku adalah nyawanya semua insani
  • Dan semangat tapabratanya para pertapa”

Bali Jadi Destinasi Wisata Terbaik Dunia Pilihan Wisatawan

this formate

DENPASAR, bidniswisata.co.id: Bali meraih posisi empat besar destinasi wisata terbaik dunia dari 25 destinasi terbaik menurut TripAdvisor. Situs travel planning and booking itu menobatkan Pulau Dewata diposisi keempat di bawah, London (Inggris), Paris (Perancis), Crete (Yunani) dalam penghargaan Travellers Choice untuk kategori Destinasi Terbaik Dunia.

Keindahan Bali dalam situs www.tripadvisor.com diibaratkan sebagai kartu pos yang hidup bahkan bagai sepotong surga di Indonesia

Bali menawarkan wisata pantai dengan pasir putih yang bersih, wisata selam termasuk bisa melihat bangkai kapal perang dunia II, wisata budaya, hingga wisata spa dan yoga di Ubud.

Merespon hal tersebut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyambut baik ditetapkannya Bali sebagai salah satu destinasi terbaik dunia versi tripadvisor.

Wishnutama berharap penetapan itu semakin memotivasi Indonesia untuk bisa menumbuhkan Bali-Bali baru. Bahkan mendorong upaya untuk meningkatkan pariwisata Bali agar semakin ramah dan berkelanjutan.Terlebih selama ini Bali sudah dikenal di dunia sebagai destinasi alam dan budaya yang banyak difavoritkan wisman.

Di era pandemi COVID 19 ini, kata Wishnutama, dunia pariwisata Bali telah dibuka secara bertahap mulai dari 9 Juli 2020 untuk lokal, 31 Juli 2020 untuk wisatawan nusantara, dan rencananya September 2020 akan dibuka bagi wisatawan mancanegara.

“Diharapkan setelah di buka, penerapan protokol kesehatan dapat tetap dijalankan dengan disiplin. Jangan sampai setelah dibuka timbul gelombang kedua COVID-19 hal itu yang harus dihindarkan, lantaran pariwisata itu adalah bisnis kepercayaan,” ujarnya.

Travelers’ Choice Best of the Best 2020 Award Winners ini terdiri dari sejumlah kategori yaitu hotels, popular destinations, trending destination, emerging destination, pantai, atraksi, restoran, penerbangan dan kategori pengalaman (experience).

Di urutan 5 hingga 14 dalam kategori ini adalah, Roma (Itali), Phuket (Thailand), Sicily, Italy, Sa Calobra, Majorca, Spanyol, Istanbul, Turki, Goa, India, Dubai, UAE, Republik Dominika, Bangkok, Thailand.

Posisi 15 – 25 adalah Hanoi, Vietnam, Praha, Cekoslovakia, Hoi An, Vietnam, La spiaggia, Rhodes, Kuba, Siem Reap, Kambodia, Marrakech, Morocco, Lisbon, Portugal, Tokyo, Kinkakuji , Kyoto, Jepang, Liberty, New York City.

Sementara kategori Destinasi Trending, versi Tripadvisor  Lombok, Nusa Tenggara Barat di posisi ke enam. Sementara nomor satu hingga no: 5 adalah Kochi (Cochin), India, Luzon, Philippines, Porto, Portugal dan Porto Seguro, Brazil.

 

 

 

UNWTO: 40% Tujuan Wisata Global Mulai Dibuka Kembali

this formate

Sektor pariwisata mulai menggeliat (foto: UNWTO)

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) melaporkan 40% tempat wisata di seluruh dunia mulai melonggarkan aturan pembatasan. Meski demikian, dari 87 tempat wisata yang mulai buka, baru 4 yang betul-betul melonggarkan seluruh aturan pembatasan; sisanya masih menerapkan buka sebagian perbatasan.

Data ini menunjukkan bahwa restart pariwisata yang bertanggung jawab tengah berlangsung di seluruh dunia. Terbukti dengan makin banyaknya tempat tujuan wisata, termasuk di Indonesia, yang mulai buka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan khusus pariwisata yang diterbitkan pemerintah setempat. 

Menurut analisa terkini UNWTO, seperti dilansir dari traveldailynews 40% dari seluruh destinasi wisata di dunia mulai melonggarkan pembatasan yang sebelumnya diberlakukan ketat sebagai respons terhadap COVID-19.

Dimulainya kembali bisnis pariwisata

Badan khusus PBB untuk pariwisata ini telah memantau respons industri terhadap pandemi Corona sejak awal krisis yang mendera seluruh dunia. Catatan terakhir yang keluar pada 19 Juli lalu menunjukkan sudah 22% tempat tujuan wisata di dunia yang mulai melonggarkan aturan pembatasan perjalanan atau naik dari sebelumnya hanya 3% pada 15 Mei. 

Hal ini menunjukkan ada tren adaptasi yang meskipun lambat namun terjadi secara berkelanjutan. Sektor pariwisata mulai kembali bergeliat dengan tetap memperhatikan konsep pariwisata yang bertanggung jawab.

Data ini sekaligus menunjukkan pariwsata global telah mampu membangun kepercayaan sehingga orang mulai merasa aman dan nyaman kembali berwisata. Itulah kuncinya, demikian menurut UNWTO: “Sambil kita terus bekerja sama mengadaptasi diri dengan realitas baru yang kita hadapi saat ini.” 

UNWTO berpendapat restart pariwisata yang bertanggung jawab sangat mungkin untuk dijalankan. “Restart pariwisata dapat dilakukan secara bertanggung jawab. Caranya, dengan tetap memperhatikan kesehatan masyarakat sambil menjalankan bisnis dan menyediakan mata pencaharian,” kata Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili. 

Saat pmbatasan perjalanan mulai dilonggarkan, menurut Zurab Pololikashvili, kerjasama internasional menjadi sangat penting. “Dengan cara ini, pariwisata global dapat kembali memperoleh kepercayaan dari orang-orang. Itulah fondasi penting dan perlunya kita bekerja bersama beradaptasi dengan realitas baru.”

Menurut laporan UNWTO tempat-tempat wisata yang menjadi tulang punggung perekonomian cenderung segera melonggarkan aturan pembatasan. Data menunjukkan dari 87 tempat tujuan wisata yang baru-baru ini mengurangi pembatasan, 20 di antaranya merupakan negara-negara berkembang kepulauan kecil (SIDS/Small Island Developing States). 

Di sana, pilar ekonomi bergantung pada sektor pariwisata termasuk dalam tingkat penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan.

Data juga menunjukkan sekitar separuh atau 41 tempat tujuan wisata tersebut berada di Eropa. Ini sekaligus menegaskan peran utama Eropa untuk mendorong dimulainya kembali pariwisata yang bertanggung jawab.

Meski demikian, masih banyak tempat tujuan wisata yang nampaknya akan lockdown untuk jangka waktu lama. Dari 115 tujuan wisata yang masih ditutup untuk pelancong internasional, sebagian besar atau 88 tempat sudah menutup perbatasan selama lebih dari 12 minggu.

Sekadar catatan, dampak ekonomi akibat pembatasan perjalanan ini pun luar biasa besar. Minggu ini, UNWTO merilis data yang memuat laporan tentang dampak pandemi pada pariwisata, baik dari sisi jumlah turis yang datang maupun pendapatan yang hilang.

Hingga akhir Mei saja, pandemi COVID-19 telah menyebabkan hilangnya pendapatan sampai US$ 320 miliar , setara dengan tiga kali lipat kerugian akibat krisis ekonomi global pada 2009 silam. 

 

 

Kereta Priority Argo Parahyangan Kembali Beroperasi

this formate

Rangkaian gerbang Kereta Argo Parahiyangan melayani Jakarta-Bandung dan sebaliknya.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) kembali mengoperasikan Kereta Priority Argo Parahyangan yang selama ini tidak berjalan akibat mewabahnya virus Corona (Covid-19).

Kereta Priority Argo Parahyangan akan mulai beroperasi per tanggal 2 Agustus 2020 dengan menerapkan protokol Adaptasi Kebiasaan Baru. Para Penumpang diharuskan untuk tetap mematuhi persyaratan sesuai yang diatur oleh Gugus Tugas Covid-19, yakni harus dalam kondisi sehat, tidak sedang menderita flu, baik batuk, maupun deman dengan suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celcius.

Totok Suryono, Direktur Utama PT Kereta Api Pariwisata menjelaskan bahwa dengan beroperasinya kembali Kereta Priority Argo Parahyangan pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru diharapkan bisa memenuhi kerinduan para pelanggan setia Kereta Priority yang ingin melakukan perjalanan dengan Kereta Priority. 

“Kami siap menyambut para pelanggan setia kami dengan tetap memberikan pelayanan yang terbaik, serta aman dan nyaman pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru dan juga melakukan beberapa penyesuaian pelayanan di atas kereta sesuai dengan protokol yang dianjurkan oleh pemerintah”, ujar Totok Suryono.   

Bagi setiap penumpang KA yang ingin melakukan perjalanan wajib menggunakan masker selama berada di area stasiun maupun di atas KA dan memakai Face Shield yang akan disediakan oleh petugas Kereta Priority Argo Parahyangan saat akan naik ke atas KA.

Penumpang agar mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak saat berada di stasiun dan diatas KA serta mencuci tangan. Para penumpang dihimbau untuk menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket sebagai pelindung diri, mengurangi kegiatan berbicara saat berada di dalam KA untuk menghindari penyebaran virus melalui droplet.

Adapun jadwal perjalanan Kereta Priority Argo Parahyangan sebagai berikut:

Bandung- Gambir :

  1. KA 47A Berangkat  Bandung Pukul : 18.20 Wib, Tiba di Gambir Pukul : 21.15 Wib dengan tangal perjalanan: 2,9,17,23 dan 30 Agustus 2020.
  2. KA 37A Berangkat Bandung Pukul : 05.25 Wib, Tiba di Gambir Pukul : 08.20 Wib dengan tanggal perjalanan : 3-31 Agustus 2020

Gambir – Bandung 

  1. KA 46A Berangkat Gambir Pukul : 18.10 Wib, Tiba di Bandung Pukul : 21.05 Wib dengan tangal perjalanan : 3,7,14,21,28 Agustus 2020.
  2. KA 48A Berangkat Gambir Pukul: 18.48 Wib, Tiba di Bandung Pukul : 21.43 Wib dengan tanggal perjalanan : 3-31 Agustus 2020.

Untuk Pemesanan tiket dan cek ketersediaan tempat duduk di setiap perjalanannya bisa melalui aplikasi KAI Access. Ilud Siregar, Humas PT KA Pariwisata mengajak para pelanggan setia Kereta Priority yang memiliki rencana bepergian ke Bandung di akhir pekan ini, sudah bisa memesan tiketnya melalui aplikasi KAI Access dengan harga tiket Rp 300.000,- per penumpang.

Selain itu, pelanggan setia juga tidak perlu khawatir sulit mencari layanan Rapid Test karena saat ini KAI bekerjasama dengan Rajawali Nusindo, grup usaha Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menyediakan layanan Rapid Test Covid-19 seharga Rp.85.000,- yang tersedia di Stasiun Gambir, Stasiun Bandung dan beberapa stasiun lainnya.

 

 

 

 

Kalungan Bunga Bagi Penumpang Domestik, Pertanda Pariwisata Dibuka

this formate

BALI, bisniswisata.co.id –Bertempat di terminal kedatangan domestik, sebanyak 89 orang penumpang penerbangan rute Jakarta- Bali yang mendarat pukul 10.18 menit, mendapat sambutan khusus dari Wakil Gubernur Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, dan sejumlah pejabat penting lainnya.

Sambutan dengan pengalungan bunga, serangkaian proses tahapan ke dua pembukaan kepariwisataan Bali masa Pendemi COVID-19. Seperti diketahui, pembukaan tahap pertama 9 Juli 2020, bagi masyarakat Bali berwisata antar daerah se Bali.

Tahap ke dua 31 Juli, Bali dibuka bagi pengunjung dari luar Bali dengan sejumlah persyaratan. Antara lain bebas COVID-19 dengan menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction), minimum hasil non-reactive rapid test dari instansi yang berwenang.

Bagi pengunjung Bali untuk berwisata, masa berlaku Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test untuk berkunjung ke Bali adalah paling lama 14 (empat belas) hari sejak Surat Keterangan tersebut dikeluarkan.

Wisatawan yang telah menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test yang masih berlaku, tidak lagi diwajibkan melakukan uji swab atau rapid test, kecuali mengalami gejala klinis COVID-19.

Wisatawan yang tidak dapat menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR atau rapid test di Bali.

Wisatawan yang hasilnya reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR di Bali. Selama menunggu hasil uji swab, wisatawan menjalani proses karantina di tempat yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Wisatawan yang positif COVID-19 berdasarkan hasil uji swab akan dirawat di fasilitas kesehatan yang ada di Bali. Biaya uji swab, rapid test, karantinaatau fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab wisatawan.

Sebelum keberangkatan ke Bali, setiap wisatawan berkewajiban mengisi aplikasi LOVEBALI yang dapat diakses pada laman https://lovebali.baliprov.go.id.

Menurut Co. General Manager Commercial PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rahmat Adil Indrawan dalam periode 26 s.d 30 Juli bandara Ngurah Rai telah melayani 17.757 penumpang rute domestik menggunakan 278 penerbangan.

Jumlahnya naik 17% dibandingkan pekan sebelumnya (19-23 Juli 2020), sebanyak 15.153 penumpang dengan 256 penerbangan. Hingga tanggal 30 Juli, bandara Ngurah Rai melayani 73.875 penumpang, dengan rata-rata harian 2.463 penumpang.

Lokakarya Daring ATL : Tradisi Lisan untuk Pemajuan Kebudayaan 

this formate

            Wayang Machine karya Krisna Murti

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah   desa   wisata   dilahirkan   Kemenparekraf, kini lahir desa   pemajuan kebudayaan dari Kemendikbud. Di desa-desa pemajuan kebudayaan itulah tradisi lisan akan dikembangkan,” ujar Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid.

Menurut dia, adanya desa pemajuan kebudayaan ini berkaitan dengan terbitnya Undang-Undang Pemajuan   Kebudayaan sejak 2017 yaitu serangkaian upaya yang bertujuan meningkatkan ketahanan budaya   dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia.

Karena undang-undang tersebut,  Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru berjanji akan  melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan karya tradisi lisan melalui media baru dengan tetap menjaga pakem sesuai akar tradisi. 

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. ( foto: Pikiran Rakyat)

“Kami akan memanfaatkan multimedia audiovisual – seperti  televisi, video, podcast,” ujar Ahmad Mahendra dalam Lokakarya Daring Asosiasi Tradisi Lisan Seri 3, Kamis (30/7). 

Direktorat Perfilman, Musik, dan Media baru Kemendikbud mendapat   tugas mengembangkan, memanfaatkan dan  memublikasikan   karya tradisi lisan melalui kreasi baru, tetapi tetap berbasis pada tradisi. 

Contoh yang disebut  adalah  Wayang  Sunar  (karya   Cok Sawitri  dan  GusPhank dari Bali). Berupa wayang boneka dari anyaman bambu yang digerakkan manusia, didukung sunar (cahaya) untuk mempertegas gerak boneka. Ada pula Wayang Machine karya Krisna Murti (Bandung),yang memadukan wayang dan teknologi, simbol klasik dan modern.   

Krisna Murti, perupa dari Bandung bekerja sama dengan Arya Sanjaya sebagai penulis skrip. Kedua  jenis  wayang modern itu tetap menggarap   Mahabarata dan Ramayana, tetapi dengan penampilan milenial agar dapat diterima kalangan muda. 

Program Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru tersebut sejalan dengan yang disampaikan sejarawan Mukhlis PaEni dalam Lokakarya Daring ATL Seri 1 (16/7) lalu. 

Dalam lokakarya yang berlangsung  lima seri hingga 13 Agustus 2020 tersebut, Pembina Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) tersebut mengatakan, tradisi lisan mau tidak mau harus berubah mengikuti perkembangan zaman.

“Cara bertutur dalam transformasi tradisi lisan mau tak mau harus berubah dan menggunakan teknologi media bertutur yang baru. Jangkauannya tidak lagi sebatas lingkup   komunitas pendu-kungnya, tapi  melintas benua di panggung global,” ujar Mukhlis PaEni. 

Teknologi visual dapat menjadi instrumen nafas buatan bagi berbagai atraksi ekspresi lisan dan teknologi animasi komputer dengan  mengguna –kan kaidah-kaidah sinematografi yang tepat.  

“Kita bisa memasuki sebuah era baru   bagi penuturan tradisi lisan,” katanya.Dia mencontohkan film animasi Malaysia Upin dan Ipin. Dalam salah   satu judulnya, film untuk anak-anak   itu menceritakan tentang keris dalam   budaya   Melayu   melalui   dongeng   Melayu “Serangan Ikan Todak”.  

Desa Pemajuan Kebudayaan

Nah, bagaimana dengan desa pemajuan kebudayaan? Ternyata sudah lebih dari 300 kabupaten kota yang disiapkan menjadi desa pemajuan kebudayaan.“Sekarang baru 30 desa pemajuan kebudayaan   dilakukan pendampingan karena kondisi Pandemi Covid-19,” ujar Sri Hartini, Setditjenbud.

Namun, untuk 2021, Kemendikbud sudah menyediakan anggaran untuk beberapa desa di 377 kabupaten kota seluruh Indonesia. Menurut catatan penulis, Oktober tahun lalu, dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2019,  Kemendikbud menyelenggarakan Konferensi & Pameran Perencanaan Desa Pemajuan Kebudayaan. 

Konferensi yang berlangsung dua hari itu, hadirkan  delapan desa sebagai perwakilan. Di antaranya Desa Alue Le Mirah (Kabupaten Aceh Utara),   Desa Salawu (Kab.Tasikmalaya,   Jawa Barat), dan Desa Poto (Kabupaten Sumbawa, NTT). Sebagai nara sumber adalah Desa Panggungharjo (Kabupaten Bantul, DIY).

Di desa-desa itu, per Januari tahun   depan, Kemendikbud menempatkan pegiat-pegiat budaya yang telah lulus seleksi. Pegiat budaya tersebut akan bekerjasama dengan para pegiat desa, komunitas budaya, serta tokoh budaya yang ada didesa setempat. 

Kalau kegiatan ini sukses, berarti   objek pariwisata Indonesia tentu bertambah. Kegiatan desa pemajuan kebudayaan ini mengingatkan pada kegiatan desa wisata program Kemenparekraf bertujuan memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi wisatawan yang berkunjung. 

Di desa wisata, para pegiat mendekatkan kegiatan-kegiatan   pedesaan seperti membajak sawah,  menanam padi, memandikan kerbau, juga menanam pohon kopi sampai dengan menyajikan kopi – kepada wisatawan. 

Namun, juga terdapat kegiatan seni   budaya, seperti belajar menari,  membatik, membuat anyaman, belajar gamelan, dan membuat kerajinan yang biasa dilakukan warga desa sehari-hari. Lalu apakah kegiatan desa pemajuan kebudayaan yang  diselenggarakan Kemendikbud tidak   tumpang tindih dengan desa wisata dari Kemenparekraf?

“Justru bagus kalau semua kementerian saling sinergi. Tidak hanya Kemendikbud dengan Kemenparekraf, tetapi juga dengan kementerian lain. Agar hasilnya terasa di tengah masyarakat,” ujar Restu Gunawan, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, yang bertugas mengampu desa pemajuan kebudayaan.

Tradisi Lisan

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL),   penyelenggara lokakarya tersebut,   sebuah yayasan bergiat melindungi warisan budaya, khususnya tradisi lisan.Organisasi yang berdiri sejak 1993 ini berusaha mengembalikan fungsi tradisi lisan di tengah masyarakat.

“Tradisi lisan tentu salah satu objek paling penting dalam pemajuan kebudayaan,” ujar Hilmar Farid. 

Kemendikbud berpegang pada Konvensi UNESCO 2003, warisan budaya tak benda yang termasuk   tradisi lisan, antara lain bahasa,   cerita rakyat, mantera, nyanyian  rakyat, dan seni  teater  rakyat. “Proses pewarisannya dilakukan menggunakan lisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya,” jelas Ahmad Mahendra, Direktur  Perfilman, Musik, dan Media Baru.

Sementara Hilmar menambahkan tradisi lisan tidak hanya masih  relevan pada masa sekarang, tetapi   juga  pada masa depan. “Kita punya   tanggung jawab terhadap warisan budaya yang merupakan nilai-nilai dari leluhur,” tegasnya.

Menurut Sri Haryani, Kemendikbud sudah mencatat 4.521 tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) akan melanjutkan dengan pembuatan  indeks tradisi lisan.

“Kami sedang menyiapkan MOU karena tradisi lisan mampu   menjadi penjaga moral masyarakat pendukungnya “ujar Ketua Umum ATL Pudentia.

Semua tradisi mengajarkan kebaikan, mampu menjadi penengah bahkan solusi masalah. Kalau ada yang mengajarkan keburukan, pasti ada   yang salah. Itulah mengapa ATL   merasa   bertanggung   jawab   untuk melestarikan, yang di dalamnya ada upaya pengembangan, tutup Pudentia.    

 

Bali Deklarasikan Diri Siap Sambut Wisatawan

this formate

Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) oleh Menparekraf.

NUSA DUA, Bali, bisniswisata.co.id:  Sektor pariwisata di Provinsi Bali mendeklarasilan diri siap menyambut wisatawan nusantara (wisnus) untuk kembali menikmati keindahan alam, budaya, dan seni pertunjukan di Pulau Dewata mulai 31 Juli 2020 dalam suasana adaptasi kebiasaan baru.

Hal tersebut dilakukan setelah Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh stakeholder pariwisata Bali menggelar kegiatan Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Peninsula Nusa Dua, Bali, Kamis (30/7/2020).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam sambutannya mengatakan, sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu bidang yang sangat diperhatikan pemerintah. Lantaran dianggap bisa membuka lapangan pekerjaan yang banyak dan menjadi menyumbang devisa yang besar bagi negara.

“Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang nyata bagi seluruh sektor, terutama bagi sektor pariwisata. Sekarang perekonomian sudah mulai dipulihkan,”kata Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan.

Hal ini  menjadi bersejarah karena akan membuka kembali sektor pariwisata Bali. Dengan mempertimbangkan berapa jumlah orang yang positif, berapa banyak zona hijau. Bukan asal membuka, tambahnya.

Dia juga menekankan kepada semua stakeholder pariwisata di Bali, setelah dibuka kembali nantinya sektor pariwisata membutuhkan kerja sama dan kedisiplinan untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Bali hampir semua sudah zona hijau, dan tidak ada zona merah. Kerja sama antara kita penting. Kita harus membangun team kerja untuk itu, protokol kesehatan tidak bisa ditawar,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengapresiasi masyarakat dan Pemerintah Provinsi Bali karena tetap optimistis dan berpikir positif untuk tetap membangun pariwisatanya ke depan.

“Kini, Bali telah siap mengimplementasikan protokol kesehatan pada tatanan era baru. Karena itu, saya sangat berbahagia karena pariwisata Bali siap menyambut wisatawan nusantara kembali. Kami juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia dalam penerapan digitalisasi di kawasan destinasi wisata berbasis Quick Respone Indonesia Standard ( QRIS),” ujarnya.

Menparekraf Wishnutama mengatakan, Kemenparekraf/Baparekraf memberikan pendampingan mulai dari persiapan hingga pembukaan kembali destinasi wisata di Bali. Untuk menguatkan program Sapta Pesona dan Revitalisasi Amenitasnya. Serta memberikan berbagai fasilitas diantaranya alat pendukung kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

“Untuk itu mari bersama-sama menjalankan penerapan protokol CHSE dengan sebaik mungkin untuk menciptakan rasa aman bagi wisatawan dan yakin dengan destinasi wisata kita,” katanya.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, kesiapan Bali untuk membuka sektor pariwisata dilakukan secara bertahap pada 9 Juli 2020 untuk wisatawan lokal Bali dan pada 31 Juli 2020 untuk wisatawan nusantara dan rencananya pada Septermber 2020 akan di buka untuk wisatawan mancanegara.

“Oleh karena itu, kami memberanikan diri menjalankan ini selektif secara bertahap, ini harapan kita, jangan sampai kita buka besok muncul kasus baru yang mencoreng citra pariwisata Bali. Butuh dukungan semua pemangku dan pelaku pariwisata,” katanya.

Ia berharap hotel-hotel dan pelaku usaha dapat menjalankan aktivitasnya kembali. “Harapannya pada kuartal ketiga tahun ini sektor parwisata di sini sudah membaik. Aktivitas perekonomian bisa didukung penuh khususnya untuk mengairahkan pariwisata dan infrastruktur Bali,” pungkasnya.

Saat Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis QRIS hadir pula Gubernur Bali I Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana,.

Hadir pula Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara, Kapolda Bali Irjen. Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho.

Taman Jati Larangan, Obyek Wisata Terbaru di Bantul

this formate

Taman Jati Larangan: tempat wisata kuliner dan riligi (foto: Kabupaten Bantul)

BANTUL, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu bahkan mengingatkan akan adanya gelombang kedua virus Corona. Di tengah keadaan seperti itu, rekreasi outdoor menjadi pilihan bijak untuk sekadar jalan-jalan melepas penat. 

Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ada tempat wisata yang baru dibuka yang patut ditengok, namanya Taman Wisata Jati Larangan. Taman ini berada di tengah hutan yang menawarkan suasana layaknya sebuah desa terpencil dan berhawa sejuk.

“Taman Jati Larangan ini awalnya merupakan lahan milik warga setempat, terdapat 6 sertifikat resmi milik warga yang disumbangkan untuk membangun suatu kawasan dengan harapan mampu menjadi pusat sektor perekonomian di Dusun Iroyudan,” kata Kepala Dusun Iroyudan, Muhammad Hisyam (45), seperti dikutip dari website resmi Pemerintah Kabupaten Bantul.

Untuk menjangkau taman, pengunjung akan masuk melalui pintu gerbang yang memiliki ornamen berupa dua patung yang dihiasi akar-akar saling menyatu. Wisatawan kemudian akan menemukan jalur setapak dari bebatuan putih yang di kiri kanannya diapit semak belukar dan pepohonan rindang yang masih asri. Tak begitu jauh, pengunjung akan tiba di sebuah taman.

Lokasi taman kebetulan juga berdampingan dengan makam Mbah Wiroyudho, tokoh setempat yang dikenal sebagai teman seperjuangan Pangeran Diponegoro dan seorang punggawa dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dusun Iroyudan sendiri diambil dari namanya. Muhammad Hisyam berharap taman wisata ini juga akan menjadi tempat wisata religi.

Sementara itu di area taman terhampar berbagai jenis bunga dan semak-semak, serta pohon-pohon kecil yang membentuk beberapa taman kecil. Pihak pengelola juga menyediakan beberapa tempat duduk unik yang bisa disinggahi dua sampai tiga orang. 

Lingkungan sekitar taman telah ditata sedemikian rupa sehingga menarik untuk dijadikan sebagai latar belakang foto. Selain itu, wisatawan bisa juga menjelajahi jalur menanjak di tengah hutan. Jangan lupa siapkan lotioan anti nyamuk agar tubuh tidak gatal digigit nyamuk.

Taman Jati Larangan ini sebenarnya telah resmi dibuka pada 15 Maret 2020. Namun baru sehari buka, pemerintah mengumumkan ada kasus COVID-19 di Bantul, maka taman pun ditutup. Taman kembali dibuka pada bulan ini setelah keluar maklumat New Normal.

Selain sebagai tempat rekreasi alam, Taman Jati Larangan juga menyediakan kedai makan atau angkringan berupa bangunan rumah tradisional khas Jawa dari kayu.

Ada pilihan tempat makan, outdoor bagi yang memilih makan di luar and indoor. Pengelola juga menyediakan bangku di halaman dan di dalam restoran, atau tikar untuk mereka yang memilih makan sambil lesehan. 

Ada makanan tradisional yang merupakan khas desa ini, yakni tembak dan peso. Tembak adalah tempe dan rambak, sedangkan peso merupakan tempe dan so. So adalah daun melinjo yang masih muda dan diolah menjadi campuran makanan atau sayur so.

Menurut keterangan,  Taman Jati Larangan kelak akan menjadi pusat segala kegiatan, bukan hanya pusat perekonomian. Tamannya sendiri dibangun dengan biaya murni dari dana swadaya masyarakat. Dana yang sudah dikeluarkan mencapai kurang lebih 150 juta rupiah dan itu merupakan pinjaman dari warga yang berkecukupan. 

 

 

Training Virtual ESQ ‘Hari Arafah’ Memaknai Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Konteksnya dengan COVID-19

this formate

Ary Ginanjar Agustian, Pendiri ESQ Leadership Center dan Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji.    ( BPKH), Anggito Abimanyu ( kanan)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ribuan peserta  training online Hari Arafah menyaksikan Memorandum of Understanding ( MoU) antara ESQ Leadership, penyelenggara training ini dengan Badan Pengelola Keuangan Haji ( BPKH) berkaitan dengan perencanaan keuangan haji dan gerakan Haji Muda.

Peserta bukan hanya dari Indonesia tetapi juga negara tetangga Singapura, Malaysia dan berbagai negara di Eropa seperti Belanda, Jerman,Swedia, Spanyol bahkan dari Arab Saudi, Turki, Hongkong dan dari belahan bumi lainnya.

” Ayo Haji Muda” adalah gerakan mengajak kalangan muda generasi gen Z untuk mempersiapkan diri melaksanakan ibadah haji sejak usia muda disaat kesehatan tubuh masih prima apalagi kini antrian untuk berangkat berhaji kini semakin lama.

Penandatanganan dilakukan oleh Ary Ginanjar Agustian sebagai pendiri ESQ LC dan Anggito Abimanyu yang menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji ( BPKH), sebelum acara training dimulai, Kamis 30 Juli 2020.

BPKH pada kesempatan yang sama juga memberikan bantuan APD,   ventilator dan monitor, alat-alat kesehatan yang dibutuhkan pasien COVID-19 dengan dukungan Baznas ke sejumlah Rumah Sakit dan secara simbolik diwakili RS Islam Cempaka Putih, Jakarta.

Ada juga sumbangan sapi qurban untuk Mesjid Al-Hikmah, Islamic Center, Sawah Besar serta tali kasih bagi 1000 ustad pembimbing haji yang tahun ini gagal berangkat karena pandemi global itu.

Kegiatan yang berlangsung dari studio ESQ di lantai 23 gedung Menara 165, di Jl. Tb Simatupang ini menurut Ary Ginanjar dilakukan tepat disaat para jemaah haji sebelum terjadi pandemi global COVID-19 berkumpul di Padang Arafah.

Ibadah haji itu adalah Arafah dimana umat Islam berkumpul dan bermunajat kepada Allah. Arafah itu sendiri artinya mengetahui, memahami dan mengerti makna dari peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim.

” Ketika melaksanakan rangkaian ibadah mulai dari melaksanakan haji seharusnya seorang jemaah paham hikmah dari besarnya keikhlasan Nabi Ismail ketika ayahnya mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih leher anaknya sendiri sebagai ujian kecintaan dari Allah SWT,” kata Ary Ginanjar.

Rangkaian kegiatan Ibadah Haji ( Foto: ESQ LC)

Oleh Allah SWT keikhlasan Ismail, sang anak  dan keteguhan hati kedua orangtuanya  yaitu Siti Hajar dan Nabi Ibrahim untuk menjalani perintah agama akhirnya yang menyentuh pedang tajam adalah hewan kurban, bukan Ismail.

Banyak umat yang telah melaksanakan ibadah dan bergelar haji tidak paham mengapa Allah kumpulkan umatnya Nabi Muhammad SAW yang hidup pada 1400 tahun lalu hingga sekarang berkumpul di Arafah untuk  memahami peristiwa yang terjadi di jaman Nabi Ibrahim 5000 tahun yang lalu.

Oleh karena itulah training online dengan ribuan peserta menggunakan media sosial mulai dari Zoom, Facebook, Instagram hingga YouToube ini diselenggarakan untuk memaknai peristiwa pengorbanan dasyat tersebut sehingga seseorang paham untuk apa dia hidup, siapa diri, dimana dan mau kemana, tambah Ary Ginanjar.

Training juga untuk mengobati kekecewaan, kesedihan mereka yang tahun ini tertunda berangkat akibat COVID-19, menghibur mereka yang masih dalam antrian daftar tunggu, sudah mampu tapi tidak sempat berhaji, mereka yang belum daftar meski punya uang untuk menunaikan ibadah ini hingga bagi mereka yang sama sekali tidak pernah berfikir untuk berhaji meskipun seorang Muslim yang mampu secara finansial.

Pandemi global COVID-19 adalah ibarat pedang Nabi Ibrahim yang sedang menyentuh virus tak terlihat bernama Coronavirus. Seluruh dunia banyak yang kehilangan anggota keluarga termasuk garda terdepan tenaga medis. Penyakit yang menjadi ujian umat manusia itupun mengingatkan semua orang pada sang penciptaNya.

Musisi Dwiki Dharmawan dan Anggito Abimanyu pada kesempatan itu juga mempersembahkan lagu Hadiahkan Nirwanamu yang ditulis Anggito saat melihat kesibukan RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur menerima pasien positif COVID. 

Sebuah lagu ciptaan Anggito, peraih Doktor (Ph.D) dari University of Pennsylvania Philadelphia Amerika Serikat di aransemen oleh musisi kaliber internasional dan dinyanyikan oleh grup Snada, penyanyi religi yang istiqomah di jalurnya hingga menghasilkan karya yang indah dan sangat menyentuh.

Tak heran diakhir training, para peserta bergantian mengucapkan terima kasih lewat chat dan Ary Ginanjar menutupnya dengan ucapan  “Atas nama ummat manusia kami mohon ampun kepada Mu Robbi,” Semoga Allah ampuni kita semua, 

Allah tanamkan cinta Ibrahim, Ketulusan Ismail, Kesabaran Siti Hajar. Kami mencitaimu Ya Allah SWT, melebihi dari segalanya. Selama ini kami sibuk pada kecintaan Dunia.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah.

 

Whisnutama: Banyuwangi Perlu Daya Tarik Wisata Baru Berbasis CHSE

this formate

Menparekraf Whisnutama  diapit Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dan Bupari Banyuwangi saat Rakor ( Foto: Kemenparekraf).

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan penciptaan daya tarik wisata baru dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) kini jadi prioritas.

Berbicara pada Rakor Penyelesaian Isu Pengembangan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi” Rabu (29/7/2020), dia mengatakan membangun infrastruktur, membuat konsep promosi, dan membangun sumber daya saja tidak cukup tapi huga  menciptakan daya tarik wisata yang baru bagi pariwisata berbasis CHSE.

Dia mengajak pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif terus menjalankan protokol kesehatan dengan ketat sebagai bagian dari upaya pemulihan destinasi wisata di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif Banyuwangi harus menjalankan protokol kesehatan dengan tanggung jawab sehingga mampu membangun kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan,” kata Wishnutama.

Dia juga menyampaikan adanya perubahan tren baru pariwisata sesudah pandemi COVID-19 yang akan bermuara pada quality tourism atau perjalanan pariwisata yang lebih berkualitas. Untuk itu setiap daerah atau destinasi wisata harus betul-betul menerapkan protokol kesehatan, terutama destinasi yang nantinya banyak dikunjungi wisatawan.

“Kesehatan masyarakat dan produktivitas perekonomian harus dijalankan dengan seimbang. Mengingat perubahan pola wisatawan membuat setiap destinasi wisata mesti mengedepankan protokol kesehatan,” ujar Wishnutama.

Untuk mendukung kembalinya destinasi wisata di Banyuwangi, Kemenparekraf akan memfasilitasi penyediaan fasilitas kamar kecil di Alas Purwo dan kawasan Agrowisata di Tamansuruh dengan alat penunjang kebersihan dan keamanan..

Antara lain peralatan seperti, penyediaan tempat cuci tangan, tempat sampah, toilet portable, masker, face shield, sarung tangan, baju APD, alat semprot, tenda, life ring buoy, tandu lipat, signage (papan himbauan), dan kacamata goggle.

Wishnutama menambahkan, Kemenparekraf juga terus membantu mengangkat destinasi wisata di Banyuwangi dalam berbagai bentuk program, misalnya dalam Festival Parekraf online melalui kegiatan Talk Show dengan Kepala Dinas Pariwisata yang salah satunya mengundang Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu, juga akan melakukan Fam Trip ke destinasi di Banyuwangi menggunakan jasa penyeberangan ASDP, Pelibatan Komunitas, kegiatan flash sale serta B2C Epic sale yang dilakukan dengan mitra e-commerce.

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, mengatakan dengan bantuan yang diberikan oleh Kemenparekraf, pemulihan pariwisata dan ekonomi di Banyuwangi bisa segera pulih kembali hingga dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Azwar menambahkan masyarakat Banyuwangi sebagian besar telah sadar untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari penggunaan teknologi serta sertifikasi protokol kesehatan di berbagai bidang usaha.

“Kami telah membuat aplikasi panduan kesehatan serta sertifikasi kebersihan dan kesehatan dari dinas kesehatan meliputi hotel, homestay, café, restoran, dan warung makan,” kata Azwar.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan yang juga hadir  mengatakan di masa adaptasi kebiasaan baru ini, diharapkan vaksin COVID-19 bisa segera berhasil diproduksi dalam waktu dekat sehingga sektor pariwisata kembali bangkit dan Luhut berharap kondisi pariwisata akan lebih baik dari sebelumnya.