Wulenpari, Dimana Irama Kehidupan Melambat  

0
18

Penulis ( kedua kiri) berfoto di depan pinru masuk Wulenpari. ( Foto- foto; Yudarwita Maharajo)

Oleh: Yudarwita Maharajo

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id : World Health Organization (WH) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan sikap menilai ke depan, larangan perjalanan internasional akan tidak berlaku.

Negara-negara di dunialah yang harusnya berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona di wilayah perbatasan mereka.

Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan larangan perjalanan tidak berkelanjutan. Akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang karena sektor ekonomi harus terbuka. Orang harus bekerja dan perdagangan harus dilanjutkan.

Sementara itu di tempat lain Menteri Pariwisata Indonesia berpendapat, bagi komunitas warga senior, desa wisata bisa menjadi tujuan wisata karena berkumpul bersama komunitas, mempelajari aktivitas budidaya tanaman dan menikmati alam pedesaan membuat tingkat kebahagian meningkat, termasuk imun tubuh.

Sekitar 70.000 an desa di Indonesia bisa menjadi tempat belajar orang kota seperti lomba tangkap ikan, sepak bola lumpur, tangkap bebek, outbound, dan trekking. Dampak ekonomi bergandanya akan luar biasa. 

Apalagi di tengah pandemi global COVID-19, meski desa wisata kini sepi pengunjung Live In, namun banyak individu, komunitas bahkan perusahaan yang tetap mengagendakan untuk datang ke desa-desa wisata di tanah air.

Merujuk kepada anjuran-anjuran di atas, Wulenpari mungkin salah satu desa wisata yang patut ditampilkan. Berlokasi di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, Jawa Tengah, Wulenpari baru dibuka pada Juli 2018.

Berjarak 25 KM dari jantung Kota Yogyakarta, lokasi Wulenpari sangat mudah ditemukan. Pengunjung hanya perlu mengambil jalan utama Jogja-Wonosari hingga sampai di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sejam berkendara dari pusat kota Yogya, pengunjung akan mendapati gerbang bertuliskan “Jelok”.

Belok kiri melewati gerbang ini, orang akan menyusuri sebuah jalan sempit beraspal. Nanti akan sampai di persimpangan segitiga, tengok ke kiri kita sudah bisa melihat plang nama Jelok dan Wulenpari.Ya, kedua desa wisata ini.berdampingan satu sama lain, hanya dipisahkan oleh sungai Oyo.

Menyusuri jalan setapak, berjumpa pintu gerbang, ruang menerima tamu atau layaknya ‘lobby hotel’ dan rumah desa alias kamar-kanar tamu ala Ndeso.

 

Berperahu menyusuri sungai Oyo, salah satu aktivutas yang bisa dinikmati, disambut langsung Aminudin Aziz, pemilik Wulenpari yang menyediakan ruang kesenian terbuka dan makan siang dengan menu rumahan warga desa.

Berbeda dengan destinasi wisata umumnya di Gunung Kidul yang berupa wisata pantai, Wulenpari tidak berlokasi di pantai, namun terletak di tepi Sungai Oyo.

Melewati jembatan gantung kita disambut oleh jalan setapak berbatu melewati lahan yang masih alami. Bau pepohonan membuat orang langsung merasa masuk ke alam pedesaan. 

Dikanan, di antara alang-alang tampaki pemandangan Sungai Oyo yang tenang, sementara di kiri berbaris pepohonan serta tanaman yang hijau segar.Kejutan pertama menyambut kami: seekor “luwing” atau “titinggi” menjalar di rumputan, besaaar sekali.

Kami belum pernah melihat kaki seribu sebesar itu, panjangnya sekitar 20 cm!.Hanya seratusan meter berjalan pengunjung sampai di kawasan Wulenpari. Adalah sebuah pondok bekas kandang sapi yang pertama menyambut.

Beberapa orang tampak sedang makan siang disana saat kami tiba. Terbuka, dengan tiang-tiang jati yang dibiarkan alami sungguh menyenangkan bersantap sambil memandang sungai.

Ya, di Wulenpari kita bisa datang untuk wisata kuliner saja dan bisa juga untuk menginap. Saat ini ada 5 kamar dan 2 rumah untuk akomodasi selain dapur dengan area tempat duduk terbuka tempat prasmanan disuguhkan, pendopo besar yang dapat
memuat banyak orang, gazebo dan beberapa tempat lagi yang lebih kecil.

Semua terbuat dari rumah bekas tua dan kayu-kayu tua, berupa bangunan tradisional Jawa
mirip limasan mini dan gladak yang berdiri sendiri. Berjarak satu sama lain, diantaranya terdapat tanaman perdu dan hamparan rumput hijau yang asri terawat.

Dapur menyediakan berbagai masakan lokal seperti sayur lombok hijau, orek tempe
dan krecek, telur dadar, tiwul, singkong goreng dan banyak lagi. Sayuran diperoleh dari petani setempat dan diolah tanpa penyedap rasa, hanya mengandalkan bumbu-bumbu dapur segar.

Aminudin Aziz, salah satu penggagas Wulenpari, mengatakan bahwa semua bahan makanan di resto harus dibeli dari petani sekitar, kecuali bahan-bahan yang tidak tumbuh atau diproduksi oleh warga disitu.

Ada sekitar 70 petani yang dibina oleh Wulenpari untuk menanam tanaman organik. Ini tentunya adalah salah satu bentuk Wulenpari untuk mendukung kesejahteraan petani setempat. Hasil panen sebagian diserap oleh Wulenpari.

Setiap 35 hari sekali ada pasaran disana, tempat
petani menjual sayur mayur segar dan berinteraksi dengan pengunjung. Aziz sebelumnya ikut merintis dan mengelola Desa Wisata Jelok namun seiring
perkembangannya Jelok kemudian diserahkan kepada warga desa.

Suatu ketika terjadi badai dan banjir besar di Sungai Oyo yang memporak-porandakan bantaran
sungai. Warga desa pun bergotong-royong memperbaiki dan menanam pepohonan.

Setelah bantaran sungai rapih kembali timbul ide dari warga desa untuk membuat tempat beristirahat sekaligus berwisata mengingat letaknya di tepi sungai yang memiliki
potensi.

Akhir 2017 Wulenpari mulai dibangun. “Kami memulai dari nol, bahkan minus… tetapi saya suka sekali tempat ini” kata Aziz. Tentu passion ini jugamerupakan alasan kuat berdirinya Wulenpari, yang artinya untaian padi dalam bahasa
Jawa.

Aziz berencana menambah beberapa pondok lagi di lahan seluas 1 hektar ini dan mengembangkan wisata sungai. Hal istimewa di Wulenpari adalah adanya “amphiteather” mini di tengah kawasan, yang dapat menampung sekitar 50 orang. Setiap bulan purnama diadakan pertunjukan seni “Purnama di Wulanpari”.

Siapa saja boleh tampil disini. Para pengisi acara tidak perlu membayar sewa tempat dan Wulenpari juga tidak menyediakan honor. Tari Bedaya
klasik karya Sinuhun Ngarso Dalem IX pernah dipentaskan disini.

Mahasiswa-mahasiswa Institut Seni Tari Yogyakarta juga pernah tampil beramai-ramai.
Selain tarian dari Yogyakarta, Kalimantan, Papua, Aceh dan Jawa Timur yang ditampilkan para mahasiswa dari daerah asal tarian tersebut, ada juga musikalisasi puisi.

Semua penampilan tersebut adalah hasil olah kreatifitas mahasiswa dalam merespons lingkungan. “Purnama merupakan siklus kehidupan yang penting. Saat yang tepat untuk
menghayati dan mensyukuri nikmat Tuhan. Spirit nasionalisme, kemerdekaan dan persatuan bisa kita resapi bersama disini,” ujar Aziz.

Aziz berharap, program Purnama di Wulensari bisa menjadi gerakan berkesenian, gerakan sosial untuk mengembalikan ruh berkesenian, dimana para seniman dapat melakukan kegiatannya, bukan berkegiatan hanya saat ada permintaan.

Suatu harapan yang tidak berlebihan. Program budaya ini membuat pantas mengatakan
bahwa Wulenpari berada selangkah di depan dibandingkan restoran dan penginapan
serupa lainnya yang ada. Nature and culture.

Tidak jauh dari amphitheater ada jalan menurun menuju Sungai Oyo. Beberapa perahu kayu tertambat disitu. Ya, pengunjung dapat menyewa perahu untuk menyusuri sungai tenang yang membelah perbukitan karst dan melalui Desa Beji ini. 

Bukan cuma berperahu, ada rombongan yang memilih berkemah di tepi sungai. Pengunjung lain memanfaatkan bantaran sungai untuk sekedar duduk-duduk ngopi sambil berdiskusi santai.

Asyik! Ada berbagai kegiatan lain yang bisa dilakukan disini seperti outbound,trekking, melihat pembuatan topeng kayu, gathering, belajar bertanam organik, outing perusahaan dan lain lagi.

Saat kami berkunjung ada rombongan anak-anak SD dan guru-guru yang sedang melakukan kegiatan keagamaan disana.Wulenpari cocok untuk keluarga, untuk solo traveller, maupun warga senior. Namun, bagi yang live-in harus siap-siap karena walaupun bergaya resort, Wulenpari berkonsep“ndeso”. 

Kalau Anda mengharapkan kamar resort dengan fasilitas luxurious, bukan ini tempatnya. Kamar-kamar di tepi sungai ini hanya berupa pondok-pondok kayu rustic yang seluruhnya terbuat dari kayu lawas termasuk lantainya. Ada yang berkapasitas 2,4 dan 10 orang.

Anda harus sedikit adventurous kalau mau tinggal disini karena tidak ada fasilitas standar hotel di dalam kamar. Kasur pun sekedar digelarkan di lantai dan ada celah serta lubang di antara papan-papan dinding dan lantai kayunya!.

Namun, kamar mandinya, baik yang tradisional maupun yang modern, cukup bersih.Nah, Anda siap untuk menepi sejenak dan merasakan denyut kehidupan yang

melambat, pelaaan, menghirup udara bersih pedesaan serta menikmati lauk pauk khas Gunung Kidul yang sehat dan segar?  Nah sudah siap melambatkan aktivitas diri Anda ? Datanglah ke Wulenpari! Menapaki jalan setapak menuju pulang seakan masih terngiang pembacaan puisi oleh salah satu penampil:

  • Aku adalah harum sucinya tanah
  • dan genderang nyalanya api
  • Aku adalah nyawanya semua insani
  • Dan semangat tapabratanya para pertapa”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.