Sinergi UNWTO, ONCE Foundation & ENAT Buat Panduan Untuk Melayani Turis Penyandang Disabilitas

this formate

Tanda arah bagi penyandang disabilitas ( Foto: unsplash.com/ Yomex Owo)

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) menyerukan pengelola destinasi untuk mengenali kebutuhan para pelancong dengan disabilitas atau persyaratan akses khusus ketika mereka membuka diri lagi bagi pengunjung. 

Dalam kemitraan dengan ONCE Foundation of Spain dan Jaringan Eropa untuk Pariwisata yang Dapat Diakses (ENAT), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan pedoman baru untuk memastikan aksesibilitas dan inklusivitas ketika mulai berjalannya kembali pariwisata yang bertanggung jawab.

Menurut data terbaru dari UNWTO, 40% dari tujuan wisata global kini telah mengurangi pembatasan perjalanan merespons perkembangan dan kondisi COVID-19.  Sekarang, dengan kembalinya bisnis pariwisata, UNWTO telah bergabung dengan berbagai organisasi maupun organisasi penyandang cacat dari masyarakat untuk merancang serangkaian rekomendasi dasar agar tujuan mempertahankan etos “Pariwisata yang Dapat Diakses untuk Semua” dalam realitas baru saat ini.

 Aksesibilitas berarti peluang

Pedoman ini, dibuat bersama ONCE Foundation dan ENAT yang menunjukkan bahwa langkah-langkah sederhana dan bijaksana dapat membuat perbedaan nyata bagi para pelancong – dan sebagai gantinya, memungkinkan destinasi untuk menyambut demografis yang luas dan beragam ini saat mereka ingin pulih dari COVID-19.

Panduan “Membuka Kembali Wisata untuk Wisatawan Dengan Disabilitas” juga mencatat peluang yang tersedia untuk destinasi mengambil langkah-langkah untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik penyandang cacat. 

Soalnya mereka memiliki persyaratan akses khusus termasuk untuk  warga senior (manula). Hal  Ini sangat relevan sekarang karena pariwisata telah menjadi salah satu yang paling terpukul dari semua sektor ekonomi utamHalmau bisnis besar atau kecil semua terkena dampak COVID-19

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Banyak kemajuan telah dibuat dalam membuat pariwisata lebih mudah diakses oleh semua.  Ketika kita memandu memulai kembali pariwisata yang bertanggung jawab, kita harus memastikan bahwa kemajuan ini tidak dibatalkan,” ujarnya. 

Sebaliknya, itu harus ditingkatkan karena akan menguntungkan semua orang.  Pedoman ini, diproduksi dalam kolaborasi dengan ONCE Foundation dan ENAT menunjukkan bahwa langkah-langkah sederhana dan bijaksana dapat membuat perbedaan nyata bagi para pelancong .

Sebagai gantinya, memungkinkan destinasi untuk menyambut demografis yang luas dan beragam yang saat ini ingin pulih dari COVID-19. 

Wakil Presiden ONCE, Alberto Durán, menggaris bawahi pihaknya berusaha keras untuk membantu semua orang menikmati perjalanan dan pariwisata ( travel & tourism) .

“kami memanfaatkan perubahan akibat pandemi global ini untuk menyadarkan semua pemangku kepentingan akan perlunya melibatkan penyandang disabilitas dan keluarga mereka dalam pariwisata, tanpa meninggalkan siapa pun di belakang,”  kata Alberto Duran.

Klien-klien ini dapat membantu bisnis tetap bertahan dalam masa-masa yang penuh tantangan ini, mewakili peluang bagi semua.

Presiden ENAT, Anna Grazia Laura menyatakan: “Panduan praktis ini untuk membatasi penyebaran COVID-19, dengan memperhatikan aksesibilitas dan inklusi dalam pariwisata. Dapat berkontribusi pada upaya global untuk meyakinkan semua pengunjung, memberi manfaat bagi wisatawan, bisnis, dan tujuan yang sama,” tegasnya.

 Pedoman untuk seluruh sektor

Panduan ini adalah serangkaian rekomendasi dasar yang ditujukan pada berbagai pemangku kepentingan yang bekerja di seluruh rantai nilai pariwisata. 

Ditujukan agar semua membantu pemangku kepentingan, termasuk penyedia akomodasi, bar, restoran, dan kantor pariwisata, menyesuaikan diri dengan tuntutan kesehatan dan sanitasi baru tanpa mengurangi aksesibilitas.  Rekomendasi tersebut mencakup empat bidang berbeda:

Rekomendasi lengkapnya, “Membuka Kembali Pariwisata untuk Wisatawan Penyandang Cacat ; Cara Menyediakan Keselamatan Tanpa Membebankan Rintangan yang Tidak Perlu” dapat diunduh di situs resmi www.unwto.org.

Perencanaan Perjalanan dan Protokol: Termasuk langkah-langkah untuk menjamin perjalanan yang mulus untuk membuat informasi yang relevan juga tersedia dan dapat diakses oleh semua pihak.

Transportasi: Termasuk pentingnya meningkatkan karyawan, menyesuaikan protokol untuk penumpang penyandang cacat / persyaratan akses di bandara dan stasiun, serta penyediaan dan pemeliharaan peralatan mobilitas yang higienis.

Akomodasi, Bar dan Restoran: Berfokus pada aksesibilitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan klien, menjamin jarak sosial, dan meningkatkan prosedur kebersihan di semua perusahaan yang terkait dengan pariwisata

Kegiatan Turis: Termasuk rekomendasi untuk membantu destinasi dan atraksi menyesuaikan protokol yang ada dengan mempertimbangkan masalah aksesibilitas yang terkait dengan antrian, tindakan kesehatan dan keselamatan, dan kapasitas tempat 

 

Gaya Hidup Digital Nomad Makin Relevan Saat Pandemi COVID-19

this formate

Bermuda menyimpan pantai indah nan menawan (foto: coastal living)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kehidupan sebagai digital nomad kerap membuat iri banyak orang. Bagaimana tidak, mereka yang menjalani hidup seperti itu seolah mendapat privilege untuk bisa memilih lokasi tempat bekerja senyaman yang mereka kehendaki.

Digital nomad adalah gaya hidup yang dilakoni seseorang yang bekerja dari lokasi yang dipilihnya sendiri. Istilah ini mulai populer sekitar 2014. Kala itu banyak orang yang berprofesi sebagai desainer, pengembang, wirausahawan, dan penulis lepas memilih pergi  ke negara-negara di Asia Tenggara atau Eropa Timur sebagai tempat kerja. Alasannya, di sana biaya hidup lebih murah dan relatif sepi. Yang terpenting buat mereka, ada fasilitias Wi-Fi.

Pandemi COVID-19 seolah mengakselerasi kehidupan digital nomad. Untuk mencegah penyebaran virus Corona, orang dianjurkan bekerja dari rumah. Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook bahkan memperpanjang kebijakan pemberlakukan kerja dari rumah atau Work From Home bagi karyawannya hingga akhir tahun.

Jika sebelumnya bekerja jarak jauh seolah hanya impian banyak orang, kini di era pandemi COVID-19, hal itu menjadi lumrah. Makin banyak orang memandang bekerja itu tidak harus dari kantor. Sebagian bahkan mulai melihat bukan pula hanya dari rumah, melainkan bisa di tempat lain yang jauh dari lokasi tinggal. Mungkin di lokasi-lokasi yang menjadi tujuan wisata.

Banyak tempat wisata kini mulai melihat tren ini sebagai peluang. Bepergian kini bukan perkara sederhana. Para pelancong yang datang ke tempat wisata harus menjalani serangkaian prosedur yang cukup memusingkan, misalnya harus tes COVID saat berangkat maupun pulang, atau mejalani karantina selama beberapa hari. 

Nah, rasanya sayang jika para turis ini hanya menghabiskan waktu beberapa hari saja di tempat wisata. Mengapa tidak menawarkan mereka untuk tinggal selama sebulan misalnya. Toh, konsep bekerja dengan aturan kehadiran fisik kini sudah tidak relevan lagi.

Dengan teknologi Internet dan video conference, pekerjaan bisa diselesaikan secara jarak jauh. Begitulah pertimbangan beberapa pengelola tempat wisata. 

Pulau Bermuda, misalnya. Mereka mulai menawarkan sejumlah kemudahan bagi turis yang tertarik untuk tinggal lebih lama di Pulau yang terkenal sebagai tujuan wisata pantai. Ribuan turis manca negara datang ke sana setiap tahun.

Pulau yang terletak sekitar 1.000 Km dari lepas pantai Amerika Serikat ini mulai kembali membuka diri bagi pelancong asing pada 1 Juli, dengan tetap memberlakukan prosedur kesehatan yang ketat. Setiap pelancong yang tiba di sana wajib melakukan tes. 

Pejabat Otoritas Pariwisata Bermuda, Glenn Jones, mengatakan mereka mencatat peningkatan jumlah orang yang datang yang bukan untuk sekadar berlibur akhir pekan, tetapi untuk tinggal berminggu-minggu, bahkan bulan. Sebagian bahkan mengatakan tidak yakin apakah akan kembali ke negaranya. Ini sebuah keadaan yang perlu diantisipasi.

Untuk merespons tren ini, penguasa lokal memperkenalkan kebijakan The Work from Bermuda Certificate Program, demikian seperti dilansir Skift. Jadi ini semacam izin tinggal yang berlaku hingga setahun. 

Secara teknis, ini bukanlah visa, melainkan bentuk adaptasi baru. Aturannya sendiri merujuk pada ketentuan izin tinggal yang sudah ada di Departemen Imigrasi. Aplikasi online diluncurkan pada 1 Agustus dengan biaya US$ 263 per orang. Untuk mendapatkan sertifikat ini, pelancong juga  harus memiliki asuransi kesehatan atau menyatakan mampu membayar biaya kesehatan selama di Bermuda. Jika disetujui, wisatawan dapat datang dan pergi dari negara tersebut sesuka mereka.

Jadi, silakan pertimbangkan untuk datang ke Bermuda dan menjalani kehidupan digital nomad. Bermuda sendiri memiliki pantai yang memesona dengan keindahan terumbu karang. Iklimnya subtropis sehingga menawarkan cuaca sejuk sepanjang tahun dengan langit biru yang cerah. Banyak pula hotel dengan spa mewah dan masakan kelas dunia.

Kepulauan milik Inggris sejak 1611 ini berpenduduk sekitar 70.000 orang. Penguasanya adalah ratu Inggris dan mata uangnya, dolar Bermuda yang memuat gambar Ratu Elizabeth II. Bermuda ditemukan pada 1503 oleh navigator Spanyol Juan de Bermudez. Namanya lalu diabadikan untuk rentetan pulau-pulau kecil itu.

 

 

Mengenang AJIP ROSIDI  (31 Januari 1938-29 Juli 2020)

this formate

Oleh: P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

BUDAJA DJAJA’, BUAH MANIS PERTAMA KERJASAMA KAUM SENIMAN  DENGAN BANG ALI

(Penggal ke-1)

Jakarta paruh pertama 1968. 

Hari itu mereka bertiga menemui Gubernur DKI, Ali Sadikin. Ilen Surianegara yang punya ide. Temannya yang lebih muda 2 tahun (Ramadhan Kartahadimadja) dan 13 tahun (Ajip Rosidi) ikut saja. 

Sesama orang Sunda yang bermuka-muka. Tentu saja mereka berempat langsung guyub. Apalagi sang tuan ramah  berpembawaan santun, hangat,  dan blak-blakan meski tegas. Satu  hal lagi, Ilen yang merupakan atase pers dan kebudayaan di KBRI Paris pada 1954-1959 sudah mengenal dia karena istri mereka berkarib. Adapun Ramadhan KH dan Ajip Rosidi, baru kali itulah mereka berinteraksi dengan mayor jenderal KKO yang dilantik Presiden Soekarno pada 28 April 1966 sebagai kepala daerah Jakarta. 

Ilen  dan kedua kawannya mengutarakan maksud. Mereka memulai dengan menggambarkan keadaan kebudayaan di negeri kita, terutama di Jakarta,  yang di masa itu begitu menyedihkan. 

Pemikir, budayawan, dan seniman sedang lesu darah. Kalaupun ada  yang masih terus bekreasi, tiada majalah budaya yang menampung  karya mereka. Akibatnya, komunikasi antar-sesama terputus. 

Ketiga tamu itu tentu saja tidak sedang melebih-lebihkan keadaan. Memang sudah berkebalikan situasi sejak  Presiden Soekarno ditumbangkan.  Kegairahan kaum pemikir, budayawan, dan seniman yang sungguh membuncah dan diwarnai dengan hiruk-pikuk tak berkesudahan  selama belasan tahun, saat itu sudah tinggal cerita. 

Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang sangat progresif sekaligus provokatif  telah mendinamiskan betul kebudayaan di negeri kita begitu ia dideklarasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1950. Seni rupa, musik, teater,  sastra, dan cabang lain dihidupkannya dengah menekankan secara khusus segi kerakyatan agar sesuai dengan paham anutannya: realisme sosialis.  Tak hanya dalam karya material ia bernas tapi juga dalam pemikiran. Yang terakhir ini bertebar dalam macam-macam terbitan termasuk di  buku-buku dan lembaran khusus suratkabar berhaluan kiri. 

Mendapat angin dari penguasa, LEKRA yang bersemboyan  ‘politik adalah panglima kesenian-kebudayaan-kesusasteraan’ akhirnya sangat hegemonik. Perlawanan  dari kubu sebelah pun muncul, terutama dari Lembaga Seniman Budayawan  Muslimin Indonesia (LESBUMI, organisasi kebudayaan Nadhatul Ulama;  Usmar Ismail dan Asrul Sani pernah menjadi ketuanya) serta kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu). 

Pertarungan antar-kubu ini tentu merupakan dialektika kalau dlihat dari jurusan proses kreatif. Potensi terbaik dari masing-masing pihak mengemuka dengan sendirinya di alam persaingan yang keras.  Kebudayaan Indonesia-lah yang diuntungkan   karena pengayaan serta-merta berlangsung sekian lama.  

Ternyata pendulum kemudian mengayun ke titik jauh di sebelah. PKI dipersalahkan penguasa Orde Baru sebagai otak dan pelaku  peristiwa  Gerakan 30 September 1965. Apa pun yang terkait dengan partai politik yang dipimpin Dipa Nusantara Aidit  menjadi terlarang untuk seterusnya. LEKRA termasuk. Kalau tak dibantai, pegiatnya dijebloskan ke dalam tahanan. Dengan sendirinya dunia kebudayaan kita menjadi sangat sepi sesudahnya. 

Tak hanya di tahun 1968 itu;  hingga jauh hari kemudian pun Gubernur Ali Sadikin kerap mengatakan dirinya awam soal lukisan, sastra, musik, dan seni yang lain. Begitupun, sebaik mendengar  tuturan Ilen, Ramadhan, dan Ajip dia  langsung bisa membayangkan apa jadinya jika kebudayaan sampai lesu darah di Jakarta dan kota lain di Indonesia.

Sebagai orang yang sudah beberapa kali melancong ke luar negeri, mantan Menteri Perhubungan Laut ini mengetahui betul bahwa kota-kota maju di seluruh dunia senantiasa mementingkan betul hasil otak manusia yang bisa mengayakan rohani siapa saja. 

Tatkala ketiga tamunya mengatakan berniat menghadirkan majalah kebudayaan, ia menyambut dengan penuh gairah. Pemda DKI, ujar dia,  akan membantu dari segi pendanaan  tanpa pernah ikut campur dalam urusan keredaksian. Dana APBD yang kemudian ia gunakan (Ramadhan KH dalam B’ang Ali—Demi Jakarta 1966-1977’, Pustaka Sinar Harapan, 1992 serta Ajip Rosidi dalam ‘Mengenang Hidup Orang Lain—Sejumlah Obituari’, KPG 2010) 

Ketiga tamu itu kemudian pulang dengan hati lapang dan girang. Sangat wajar, tentunya. 

‘BUDAJA DJAJA’

Tak sekali itu saja Ilen (nantinya menjadi mertua kakak-adik Slamet Rahardjo dan Erros Djarot) , Ramadhan, dan Ajip menjambangi Ali Sadikin. Untuk mengkonkritkan penerbitan majalah kebudayaan yang diidamkan serta rencana lain yang bermunculan, masih beberapa kali lagi mereka bermuka-muka. 

Terbitan itu akhirnya mewujud pada  2 Juni 1968. ‘Budaja Djaja’  namanya. Di nomor perdananya ada sambutan dari Bang Ali. Ia antara lain mengatakan:  

“…Keberanian melontarkan pendapat yang berbeda dengan yang umum, haruslah dipupuk. Bangsa kita, terutama budayawan-budayawannya hendaknya jangan menjadi  bebek ataupun beo. Mereka harus belajar aktif, kritis, berani dan bebas. 

Kritik-kritik, pendapat-pendapat, kebenaran-kebenaran harus dikemukakan secara teratur. Kebebasan harus disalurkan secara kreatif. Dan wadah yang paling ideal untuk itu adalah majalah. Majalah kebudayaan yang khusus, yang memberikan keleluasaan kepada budayawan untuk berbudaya.” [bahasanya telah kumutakhirkan]

Terbit bulanan, di daftar redaksinya tertera nama Ilen Surianegara sebagai Penanggungjawab. Ajip Rosidi dan Harijadi S Hartowardojo sebagai Editor.  Ramadhan KH sebenarnya redaktur juga tapi namanya tak dimaktubkan sebagai editor  sebab ia masih merupakan wartawan di kantor berita ‘Antara’. Ia disebut sebagai pembantu di media yang diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta ini.

Seperti halnya Moh. Amir Sutaarga, Arief  Budiman, Asrul Sani, Gajus Siagian, Goenawan Mohammad, Mochtar Kusumaatmadja, Nono Anwar Makarim, Oesman Effendi, Taufiq Ismail, Toto Sudarto Bachtiar, Trisno Sumardjo, Zulharman S, Wing Kardjo, dan Ajatrohaedi [ia adik kandung Ajip Rosidi]. 

Mereka yang menjadi awak redaksi ini umumnya rajin menyumbangkan karya di ‘Budaja Djaja’,  termasuk Nono Anwar Makarim yang kelak menjadi doktor hukum lulusan Universitas Harvard serta ayahanda  Rayya Makarim dan Nadiem Makarim (Menteri Kebudayaan sekarang). Pada 7 edisi pertama yang kukoleksi, umpamanya, ia konsisten menyuguhkan ulasan politik yang tajam. 

‘Budaja Djaja’  bertahan hingga tahun 1979.  Selain majalah, terbitan mereka ada dalam bentuk buku sastra. Kumpulan puisi penyair terkemuka  Subagio Sastrowardojo dan  Asrul Sani termasuk, di samping terjemahan karya asing. 

Buah manis perdana kelompok seniman-budayawan Ibukota dengan Gubernur DKI Mayjen KKO Ali Sadikin, itulah ‘Budaja Djaja’. Buah manis lainnya masih akan banyak dan bahkan jauh  lebih hebat  lagi. (Bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

Cok Ace, Bali Siap Sambut Wisatawan Mancanegara

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengatakan Bali siap menerima kunjungan wisatawan mancanegar 11 September mendatang. Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru di sektor pariwisata mengatur secara rinci pengelolaan wisata dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata sedang melakukan verifikasi pada usaha akomodasi, daerah tujuan wisata, transportasi, restoran, dan industri ikutan lainnya yang telah memenuhi standar. Saya berharap Bali akan siap seratus persen sebelum dibukanya kembali pariwisata secara penuh awal Bulan September nanti,” tegasnya

Penegasan tersebut  sampaikan dalam rapat Sistem Keamanan Hotel bersama rombongan dari POLRI yang dipimpin langsung oleh Brigjen Pol Drs. Hari Prasodjo, M.H, Direktur Pamovit Baharkam Mabes Polri, di ruang rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (5/8).

Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen penuh untuk melakukan berbagai upaya baik untuk mencegah penyebaran kasus positif COVID-19 mau pun untuk meningkatkan rasio kesembuhan.

“Upaya pencegahan yang kita lakukan selama ini menunjukkan hasil yang membaik.  Data statistik tim satgas COVID-19 Provinsi Bali per tanggal 3 Agustus 2020 tingkat kesembuhan dari pasien positif COVID-19 di Provinsi Bali adalah 85,7%,” jelasnya.

Meski jumlah kasus positif di Bali masih bertambah, jumlah pasien sembuh terus meningkat. Kinerja ini didukung oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat lokal.

 “Bali juga didukung oleh tenaga medis yang mumpuni dan fasilitas kesehatan yang memadai. Pemerintah menunjuk 14 RS rujukan di selruh Bali dan 8 lab yang mampu untuk melakukan tes PCR/swab,” tegasnya.

Kerugian

Bali mengalami kerugian hingga Rp 9, 7 Triliun tiap bulannya sejak pandemik berlangsung. Sebagai daerah tujuan wisata utama, perekonomian Bali pun terkena dampaknya. Data BI menunjukkan pertumbuhan ekonomi Bali minus 1, 14 persen.

”Bahkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali menurun drastis hingga 99, 99 persen untuk Bulan Juni 2020,” tambahnya.

Untuk itu, Wagub yang juga menjabat Ketua BPD PHRI Bali dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Bali, meyakini inilah saatnya bagi Bali untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya membangun kembali perekonomian Bali, terutama pada sektor pariwisata sebagai leading sector di Bali.

“Bali sebagai destinasi wisata dunia yang utama, dan banyak sekali orang di luar sana yang rindu untuk merasakan kembali keindahan alam dan budaya Bali. Peluang ini dapat kita raih selama kita bisa memastikan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bali mendapatkan perasaan aman dari resiko penyebaran virus COVID-19,” tandasnya.

Empat Wilayah

Sementara itu Brigjen Pol Hari Prasodjo menyatakan bahwa Kepolisian RI hadir dan mendukung penuh semua langkah pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 ini.

“Di Polri energi juga sudah banyak diarahkan untuk penanganan pandemi ini, serta membantu bapak,ibu untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan,” jelasnya.

Hingga saat ini, ia mengaku banyak personel Polisi yang juga terpapar virus ini. Akan tetapi, ia menegaskan ini adalah bentuk tanggung jawab instansnya kepada bangsa dan masyarakat Indonesia.

“Untuk saat ini, fokus kita memang kepada kesehatan warga terlebih dahulu, namun kita juga tidak menutup mata untuk terus menata perekonomian. Ibaratnya kita ingin semua warga sehat namun juga tidak ingin masyarakat yang lain tidak makan,” jelasnya.

Mengenai tugas pokok dan fungsinya, Brigjen Pol Hari Prasodjo menyatakan, menyambut baik rencana pemerintah untuk membuka pariwisata bagi wisatawan mancanegara pada tanggal 11 September mendatang.

“Ada empat wilayah yang akan dibuka yaitu Bali, Bintan, Belitung dan Banyuwangi. Saya sudah berkunjung dan mengecek kesiapan protokol kesehatan dan saya yakin persiapan di empat wilayah itu sudah optimal,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi langkah-langkah Pemprov Bali dalam menangani pandemi COVID-19 selama ini. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari tingkat kesembuhan yang tinggi serta tingkat kematian yang cukup rendah.

 “Hal ini tentu saja karena upaya bersama antara semua komponen, baik pemerintah maupun masyarakat juga. Kerja sama ini harus terus dijaga,” tandasnya.

Dilema Negara-negara di Kepulauan Karibia Membuka Diri untuk Turis

this formate

Kepulauan Karibia bersiap menerima turis asing (Foto: Robb report

KUBA, bisniswisata.co.id: Bagi negara-negara di Kepulauan Karibia, virus Corona membuahkan dilema besar. Wajar, karena kebanyakan ekonomi negara di kepulauan yang terkenal dengan wisata tropis yang menawan itu, amat bergantung pada sektor pariwisata. 

Beberapa pulau memutuskan untuk menutup diri demi melindungi warganya dari wabah COVID-19. Tetapi itu berarti ada sejumlah kegiatan ekonomi utama yang terdampak serius. Sementara itu, beberapa pulau lain memilih tetap membuka diri bagi pelancong dengan bersiap menanggung risiko meski kemampuan merawat korban COVID-19 jauh dari memadai.   

Secara geografis, letak negara-negara di Kepulauan Karibia memang saling berjauhan. Itu boleh jadi menguntungkan karena dapat mencegah penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan. Oleh sebab itu beberapa negara memutuskan untuk tetap membuka diri. Apalagi ekonomi sebagian besar negara di Karibia sangat bergantung pada uang yang dibawa para turis yang liburan.

Kuba yang merupakan pulau terbesar di Kepulauan Karibia adalah contoh terbaik untuk menggambarkan bagaimana ia mewakili potret negara-negara di kawasan itu.

Negara yang terkenal sebagai penghasil cerutu kelas wahid di dunia ini telah menutup seluruh kegiatan komersial terkait pariwisata sejak akhir Maret lalu. Kebijakan ini diterapkan setelah mereka menemukan kasus pertama virus Corona yang dibawa wisatawan asal Italia. 

Kini, setelah empat bulan berlalu, pemerintah setempat melaporkan telah berhasil melandaikan kasus baru, meski masih berjuang melawan virus yang sejauh ini telah menginfeksi 2.555 orang dan menewaskan 87.

Sejak negara yang terletak di Karibia utara itu menutup diri bagi turis asing, sejumlah tempat-tempat tujuan wisata favorit seperti Old Havana, terlihat seperti kota mati, demikian seperti dilaporkan CNN Travel.

Nelson Rodríguez Tamayo, pemilik restoran populer El Café, mengaku tempatnya kini kosong melompong. Padahal sebelum ada COVID-19, El Café selalu ramai dan kebanyakan ( 80%) pelanggannya adalah pelancong asing.

“Keadaan ini benar-benar bencana, kami terpuruk. Kami jatuh .Saya merasa seperti baru memulai bisnis dan itu sangat sulit. Saya tidak tahu ke mana saya akan pergi.” kata Nelson Rodríguez Tamayo

Rodriguez menambahkan ia telah merumahkan beberapa stafnya. Kini ia sedang bekerja menciptakan hidangan yang lebih cocok bagi orang-orang Kuba sambil menunggu beberapa minggu ke depan atau mungkin beberapa bulan saat Kuba kembali membuka diri bagi turis asing.

Rodriguez tidak sendiri. Banyak pelaku bisnis wisata termasuk mereka yang menyewakan akomodasi lewat aplikasi Airbnb, penyewaan mobil klasik, atau pemilik restoran mengeluhkan hal yang sama. 

Pemerintah Kuba sendiri yang merupakan pemilik hotel-hotel besar di sana mengumumkan penurunan pendapatan yang drastis. Mereka bahkan berjanji akan membuat perubahan terhadap model ekonomi terpusat untuk mengurangi beban ekonomi. 

Pemerintah baru-baru ini memutuskan untuk kembali membuka hotel yang lokasinya cukup terisolasi di lepas pantai. Mereka bahkan berani menjamin keamanan bagi turis asing yang berminat datang ke sana. Meski demikian, hingga kini belum ada turis yang datang.

“Empat bulan telah berlalu tanpa kedatangan turis. Itu berarti hilangnya pendapatan berkelanjutan,” kata Menteri Ekonomi Kuba Alejandro Gil Fernández seperti disampaikannya lewat televisi nasional.

Pada kesempatan itu, pejabat pemerintah sekaligus mengumumkan akan menggunakan mata uang dolar AS untuk transaksi di toko makanan yang segera diizinkan buka kembali.

Keputusan itu diambil karena mata uang negara tersebut seolah tak ada nilainya terutama sejak ekonomi terdampak pandemi COVID-19 dan diberlakukannya sanksi ekonomi oleh Pemerintahan Donald Trump. Padahal dollar AS adalah mata uang yang selama ini dibenci negara sosialis yang masih tersisa itu.

Wabah virus Corona telah memukul ekonomi sejumlah negara di Kepulauan Karibia terutama di sektor pariwisata. Frank Comito, CEO dan Direktur Jenderal Asosiasi Hotel dan Pariwisata Karibia, mengatakan hanya dalam tiga minggu di bulan Maret, tingkat hunian di hotel-hotel anggotanya turun menjadi hanya 10% dari normalnya rata-ata 76%.

“Angka itu tentu bervariasi, tetapi penting untuk diketahui bahwa rendahnya tingkat hunian hotel terjadi hampir di seluruh wilayah yurisdiksi di Karibia,” kata Comito kepada CNN

“Kami melihat ada beberapa daerah yang kurang terdampak, tetapi terlalu dini untuk mengatakan kami telah betul-betul keluar dari krisis.”

Comito mengatakan asosiasinya kini tengah bekerja sama dengan sejumlah hotel, memberi pelatihan keselamatan dan menerapkan sistem pelaporan kasus virus corona yang mungkin ditemukan di area mereka. Sementara saat ini mereka masih menunggu kapan pariwisata akan kembali pulih.

 

IATA: Industri Penerbangan Segera Lumpuh, Pemerintah Harus Bertindak.

this formate

MONTREAL,bisniswisata.co.d: Jumpa pers Alexandre de Juniac, CEO dan Direktur Jendral International Air Transport Association ( IATA) menyimpulkan industri penerbangan baru bisa pulih 2024 dan butuh bantuan pemerintah masing-masing jelang kelumpuhan beroperasi.

Perusahaan penerbangan di Indonesia seperti Air Asia, Garuda Indonesia, Lion Group sejak pertengahan Juni 2020 lalu mulai melayani jalur-jalur domestik namun permintaan perjalanan masih rendah. 

Bagaimana dengan permintaan perjalanan dibelahan dunia lainnya ?  “Situasinya suram,” kata Alexandre de Juniac,dalam rilis di situs resminya. Ada lebih banyak penerbangan di bulan Juni, tetapi permintaan masih turun 86,5% dibandingkan level  tahun 2019.

Perusahaan bisa beroperasi lagi mungkin bisa dibilang ini perbaikan atau kemajuan, tetapi anggota IATA masih dalam krisis yang sangat mendalam.  Dan sepertinya tidak akan berakhir dalam waktu dekat, tambahnya.

Perbaikan telah terjadi di pasar domestik yang dipimpin oleh China, yang turun 35,5% pada level 2019.  Penerbangan domestik AS masih 80% di bawah posisi setahun yang lalu.  Dan permintaan internasional masih turun di atas 95%.

Hal ini memberikan kesimpulan untuk dunia penerbangan pemulihan akan memakan waktu satu tahun lebih lama dari yang kami perkirakan sebelumnya:

“Kami sekarang berpikir itu akan menjadi 2024 sebelum revenue passenger kilometer (RPK) kembali ke level 2019.  Dan ini bisa lebih jauh jika kita memiliki kemunduran dalam menangani virus Corona atau menemukan vaksinnya,” kata Alexandre de Juniac

Pihaknya kini mengandalkan  lebih banyak penerbangan pendek dalam fase pemulihan, jumlah penumpang dapat kembali ke level 2019 lebih awal dari RPK — pada tahun 2023. Padahal iru juga setahun lebih lambat dari yang diprediksi sebelumnya.

“Mengingat prospek lalu lintas udara yang memburuk ini, saya ingin mengomentari dua area sebelum kami membuka pertanyaan: Apa yang harus dilakukan tentang pembatasan perjalanan? dan  Apa implikasi dari pemulihan yang lebih lama?,” tuturnya.

Pembatasan perjalanan adalah masalah yang paling mendesak.  Tantangan kami adalah belajar hidup dengan virus ini.  Tetapi sebagian besar dunia tetap ditutup dengan pembatasan pergerakan yang parah.  

Menjaga perjalanan dan pariwisata, yang merupakan 10% dari ekonomi global, pada saat terkunci ( lockdown) tidak memenuhi syarat sebagai kemajuan menuju pembelajaran untuk hidup dengan virus.

Pendekatan perbaikan mulai berhenti di Inggris, misalnya yang kembali untuk mengangkat dan menerapkan pembatasan perjalanan yang juga tidak memenuhi syarat.

Orang-orang perlu melihat perjalanan, mau bekerja bersama sehingga mereka dapat dengan aman melanjutkan kehidupan yang lebih normal.  Bagi puluhan juta orang itu berarti melanjutkan pekerjaan di sektor travel & tourism (perjalanan dan pariwisata).  Dan untuk jumlah ratusan juta orang lebih itu berarti kemampuan bepergian.

“Bukan hanya kami yang di industri yang mengatakan ini.  Kemarin WHO mengatakan bahwa pembatasan perjalanan tidak akan berkelanjutan.  Saya sangat setuju,” tegasnya. 

Semua orang perlu melanjutkan hidup dan panduan ICAO sebagai Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization dalam memulai kembali penerbangan dengan aman dirancang untuk mengelola risiko yang berhubungan dengan orang dan kaitannya dengan perekonomian selama COVID-19.

Berbagai lapisan sudah ada panduannya, mencakup sebelum melakukan perjalanan dan tindakan untuk menghindari penularan dalam penerbangan juga sudah ada panduannya.

“Jika pemerintah dapat menerapkan penelusuran kontak yang komprehensif, kami akan dapat mengisolasi dan menguji untuk menghentikan penyebaran komunitas dari siapa pun baik pelancong atau orang lain,”

Prioritas utama langsung dalam memerangi pembatasan perjalanan adalah menerapkan pedoman ICAO dan menetapkan pelacakan kontak.

Semakin jelas bahwa pengujian COVID-19 perlu berperan dalam memfasilitasi perjalanan.  Dia tidak menyarankan bahwa pengujian harus menjadi persyaratan utama untuk pembukaan kembali.

Tetapi sudah ada tes yang cukup akurat untuk digunakan untuk memfasilitasi pelonggaran pembatasan perjalanan jika diambil 24-28 jam sebelum pelancong menuju ke bandara.

Saat pengujian kesehatan menjadi lebih cepat dan ini dapat terjadi lebih dekat dengan waktu penerbangan dan di sekitar bandara, kata Alexandre de Juniac.

Poin kedua yang perlu disampaikannya adalah perlunya tindakan bantuan yang berkelanjutan.  Pemulihan yang lambat akan menempatkan lebih banyak maskapai penerbangan dalam bahaya keuangan.  

“Seperti yang telah kami katakan berkali-kali dalam jumpa pers, langkah-langkah bantuan pemerintah sangat penting yaitu bantuan keuangan langsung pada maskapai penerbangannya,” ungkapnya.

Hal ini mengingat beban hutang yang membengkak yang menjadi resiko yang telah diambil industri dan ini harus diatasi dengan cara yang tidak merusak neraca lebih lanjut.

Bagian lainnya adalah bantuan pengaturan.  Di sini masalah yang paling mendesak adalah pengurangan dari 80-20 aturan use-it-or-loss-it untuk alokasi slot.  

Situasi ini sangat fluktuatif sehingga hampir tidak mungkin untuk memprediksi secara akurat bagaimana permintaan akan berkembang selama beberapa bulan ke depan. 

“Menambahkan beban ekstra merencanakan jadwal hari ini untuk mengamankan slot yang mungkin diperlukan maskapai pada 2021 atau 2022 tidak masuk akal,” katanya.

IATA segera meminta pengabaian penuh aturan 80-20 untuk jadwal musim dingin di utara.  Pemerintah telah memahami kebutuhan ini untuk jadwal musim panas saat ini dan tampaknya menyetujui kebutuhan untuk musim berikutnya.

Namun untuk merencanakan dan membangun optimisme maka niat  saja tidak cukup. Itulah sebabnya IATA meminta pemerintah untuk segera memastikan untuk mencegah maskapai memasuki kondisi lumpuh beroperasi.

 

CEO Hyatt: Industri Perhotelan di China Dapat Pulih Tanpa Menunggu Vaksin

this formate

Grad Hyatt di Taipe (foto: skift)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri perhotelan bisa pulih meski vaksin virus Corona belum ditemukan. Bagaimana mungkin? Selama beberapa bulan terakhir para analis dan eksekutif hotel gencar menyampaikan keluhan bahwa industri ini tidak akan pulih sebelum vaksin ditemukan dan terdistribusi di seluruh dunia. 

Pernyataan optimis itu disampaikan CEO Hyatt Mark Hoplamazian. Ia merujuk pada keadaan yang terjadi di negeri tirai bambu China dimana mereka berhasil mengendalikan penyebaran virus Corona, meski vaksin belum ditemukan. 

Upaya berbulan-bulan Pemerintah China yang keras menerapkan aturan pembatasan interaksi sosial telah membuahkan hasil. Kini, China disebut sebagai negara paling sukses mengatasi pandemi COVID-19. 

Dalam jaringan Hyatt Group, cabang mereka di China mampu pulih bahkan menunjukkan kinerja terbaik. Mereka bahkan sudah berani menyelenggarakan business gathering yang dihadiri seluruh perwakilan kelompok propertinya di China daratan dan sekitarnya.

“China menjadi contoh paling bagus untuk menunjukkan bahwa pemulihan bisnis travel dapat dimungkinkan tanpa perlu menunggu ketersediaan vaksin. Tentu dengan syarat ada tindakan yang tepat dan terkoordinasi untuk mengatasinya,” kata Hoplamazian seperti dilansir skift.

Tingkat hunian cabang Hyatt di China dan sekitarnya yang mencakup Hong Kong, Makau, dan Taiwan rata-rata sudah mencapai 55% selama Juli. Sedangkan di kawasan China Daratan, angkanya lebih tinggi, yakni 64%. Angka ini jelas rebound yang sangat tinggi dibanding awal Februari yang hanya mencapai 7%

Meski tingkat hunian hotel di China bagian utara masih rendah karena baru saja mengalami gelombang kedua virus Corona, tapi di bagian lain yakni di China Timur, Selatan, dan Barat tingkat hunian telah kembali berada di tingkat yang sama dengan angka di 2019, kata Hoplamazian.

“Anda tidak bisa mencapai tingkat hunian pada level itu tanpa memiliki mid-week business,” ia menambahkan.

Sementara itu CEO Marriott, Arne Sorenson, juga memuji bagaimana penguasa China merespons pandemi COVID-19 dengan kebijakan yang terpusat dan kuat di awal musim panas ini.

Kembali ke Amerika Serikat (AS), para analis masih mengingatkan bahwa pemulihan binis perhotelan di sana masih membutuhkan waktu lama karena sebagian besar acara seperti konvensi atau pertemuan bisnis masih ditangguhkan, menunggu hingga kelak ditemukannya vaksin. 

Tetapi tidak demikian dengan kelompok usaha hotel Hyatt di China yang mulai menjadi tuan rumah peluncuran produk brand ternama seperti BMW, Volvo, dan Gucci.

 “Kami terdorong oleh keadaan ini,” kata Hoplamazian. Aktivitas yang terlihat sementara ini, terutama kembalinya orang-orang menginap di hotel untuk leisure juga hasil kerja keras tim kami yang luar biasa.”

Seperti halnya perusahaan perhotelan lain, Hyatt juga mengalami kerugian luar biasa sejak pandemi virus Corona. Pada kuartal kedua tahun ini, mereka melaporkan kerugian US$ 236 juta akibat dari anjloknya pendapatan hingga 376% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan per kamar turun hampir 90%.

Tetapi khusus di China daratan dan sekitarnya, bisnis terlihat lebih cepat menggeliat. Tindakan keras pemerintah memerangi penyebaran virus di awal tahun ini memberi kontribusi penting bagi pemulihan cepat tanpa vaksin. 

Hoplamazian mengakui sejumlah negara di belahan bumi lain sperti Amerika Serikat masih terus berjuang mengendalikan virus yang bergerak secara eksponensial ini.

Keaadaan ini tentu telah menghambat pemulihan Hyatt secara keseluruhan karena China dan sekitarnya hanya menyumbang 10% dari seluruh pendapatan waralaba dan 5% dari total pendapatan. 

“Pemulihan di AS, terutama yang berkaitan dengan perjalanan bisnis akan terus menghadapi tantangan. Tetapi kami yakin permintaan terpendam untuk travelling akan mengarah pada pemulihan berarti begitu kasus Covid-19 sudah bisa dikendalikan dan vaksin tersedia luas.” kata Hoplamazian.

Berdiri sejak tahun 1957, kelompok usaha Hyatt terus berkembang. Saat ini mereka memiliki 13 brand hotel dengan 600 properti yang tersebar di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.

Hotel-hotel yang berada di bawah naungan Hyatt memiliki fokusnya tersendiri yang disesuaikan menurut tipe-tipe traveller yang berbeda, seperti luxury, wellness, premium, lifestyle, modern essential, hingga residence.

Keluarga Pritzker yang menjadi pemilik jaringan hotel di dunia ini membeli Hyatt House yang pertama,  sebuah motel dekat Bandar Udara Internasional Los Angeles.

Hotel ini dibeli oleh pengusaha Jay Pritzker seharga  US$ 2,2 juta atau Rp32 miliar dari pengusaha Robert von Dehn dan Jack Dyer Crouch. Pada1980, brand Grand Hyatt dan Park Hyatt diperkenalkan dan pada 1999 Jay Pritzker meninggal dunia.

 

 

Acara Masak Bersama Master secara Online (Masamo) Akan Dorong Kreativitas Pengusaha Kuliner

this formate

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Acara Masak Bersama Master secara Online atau “Masamo” menjadi program  Kemenparekraf untuk memfasilitasi pengembangan usaha kreatif di bidang kuliner guna memulihkan perekonomian dan pendapatan pengusaha kuliner yang terdampak pandemi.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Josua Puji Mulia Simanjuntak, Selasa (4/8/2020), mengatakan acara Masamo juga diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin berkreasi dan mendapatkan ilmu atau pengetahuan baru dalam memasak agar bisa menciptakan produk kuliner yang inovatif.

Josua berharap melalui acara ini dapat membangkitkan kembali semangat para usaha kreatif kuliner dan membuka lapangan kerja baru bagi pekerja ekonomi kreatif yang terkena PHK akibat pandemi COVID-19.

Acara Masamo batch 3 akan dilaksanakan untuk wilayah Bali dan dipandu oleh Chef Norman Ismail. Hal yang berbeda dari Masamo batch 3 ini adalah dilaksanakan secara offline dan online melalui aplikasi Zoom Meeting.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk ikut serta dalam acara ini dapat melakukan pendaftaran diri terlebih dahulu secara gratis, dengan mengisi formulir pendaftaran melalui link https://tinyurl.com/pendaftaranmasamobali. Pendaftaran dibuka sampai 12 Agustus 2020, pukul 23.59 WIB.

Nantinya para pendaftar yang masuk akan diseleksi dulu oleh panitia. Peserta yang terpilih untuk mengikuti kegiatan Masamo akan diberikan modal berupa bahan baku yang disesuaikan dengan menu masak yang digunakan oleh chef.

“Peserta juga akan mendapatkan paket data internet selama kegiatan berlangsung. Jadi, para peserta benar-benar kami provide mulai dari bahan baku sampai dengan paket data internetnya,” kata Josua.

 

Du-WoW, Pameran Seni Pendorong Semangat Di Kala COVID-19

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: KRT Endro Suseno atau dikenal dengan nama Indro Klimpling menginisiasi pameran seni rupa bertajuk “Du-Wow” di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan no 7, Alun-alun utara Yogyakarta. Pameran ini dapat dikunjungi 2-25 Agustus 2020.

” Ini pameran terbesar di era COVID -19, menunjukkan seniman tetap berkarya dalam kondisi apapun dan tidak putus asa meskipun para seniman seperti juga masyarakat lainnya sejak Maret 2920 tidak ada kegiatan dan perputaran ekonomi yang layak,” kata Indro Kimpling.

Indro Kimpling , Direktur Eksekutif Jogja Gallery

Pameran ini dapat dikunjungi dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti wajib menggunakan masker dan mencuci tangan. Sebelum memasuki gallery petugas akan memeriksa suhu tubuh pengunjung. Usia pengunjung dibatasi minimal 15 tahun.

Du-WoW diharapkan mampu memberikan suasana baru, dalam situasi dan kondisi saat ini. Kedua kelompok seni ini tumbuh dan berkembang di kawasan yang sama dan sama-sama menjalani hidup dan tantangan baru dengan persentuhan tehnologi digital dan tantangan konsumerisme.

” Pameran juga bisa dilihat lewat media sosial yang menggabungkan karya seni dari dua kelompok seni rupa Yogyakarta, Tenggara dan Liquid Colour,” tambahnya.

Pembukaan sejak Sabtu, 1 Agustus 2020 oleh Yoyok Rubiantono, Praktisi Digital Marketing melibatkan sedikitnya 12 seniman a.l  Agus ‘Baqul’ Purnomo, Muji Harjo, Choerodin Roadyn, Saftari, Dadi Setyadi, Sigit Raharjo, Endro Banyu, Sumbul Pranov, Heri Purwanto, Suryadi Suyamtina Luddy Astaghis dan Yaksa Agus.

” Kegiatan ini merupakan pameran yang ke 195 di Jogja Galery dan diharapkan bisa menggairahkan semangat pelaku seni di Indonesia karena ini pameran terbesar diadakan selama masa pandemik ” tegas KRMT Endro Suseno yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jogja Gallery.

Daru Artono, dari Jogja Gallery, dalam katalog pameran, mengatakan, pameran ini turut menandai Jogja bergerak kembali rengam beragam kegiatan seni rupa untuk menyambut Era New Normal. 

Pertemuan karya seni antara kelompok Tenggara dan Liquid Colour ini merupakan persentuhan perspektif tentang kecenderungan pendekatan visual, interaksi dengan nilai-nilai tradisi.

Karya mereka juga menyikapi reaksi atas isu sosial, serta bagaimana kedua kelompok ini dalam mewacanakan gagasan. Pameran ini diharapkan memberikan suasana baru dalam situasi dan kondisi saat ini. 

Luddy Astaghis, salah satu perupa, memajang dua karyanya yang masing-masing berjudul “Kita Ikuti Alurnya” dan “Sangkar Biru” yang merespon situasi pandemi Covid-19 yang hingga kini masih bergulir.

Pada karya “Kita Ikuti Alurnya”, ia menuangkan banyak hal, seperti ketidakpercayaan, sikap nrimo, doa, dan harapan. Dalam karya tersebut antara lain ada visual yang ia ambil dari interaksinya dengan pedagang sayur di pasar tradisional sehari-hari.

Interaksi di mana banyak percakapan tentang Covid-19. Selain gambar, ada kata-kata dalam karya tersebut, seperti Semoga Sehat dan Jangan Khawatir. “Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alurnya. Lawan kita itu nggak kelihatan, kita ikuti saja alurnya,” 

Sementara pada karya “Sangkar Biru”, terdapat patung-patung dari kertas yang ada dalam sebuah tabung dari mika karena kenyataannya kini kita hidup layaknya di dalam sangkar yang terkurung.

Indro Kimpling berpesan, sebelum berkunjung, pengunjung dipersilakan untuk melakukan registrasi, bisa secara daring maupun langsung di Jogja Gallery. Info lebih lanjut dapat dilihat di akun instagram @jogja_gallery.

 

Mutia Hatta: dari Kebiasaan Menjadi Kebudayaan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Pandemi COVID-19 menuntut masyarakat untuk menciptakan kebiasaan baru ditengah kehidupan. Kebiasaan baru ini tercipta agar kita terhindar dari virus COVID-19 dan tetap dapat beraktivitas sehari-hari dengan normal.

“Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, yang kemudian menjadi dibiasakan,” jelas Meutia Hatta selaku Tim Pakar Sosial Budaya Satuan Tugas COVID-19 pada dialog pagi via ruang digital, Selasa (4/8).

 “Kebiasaan itu berawal dari kegiatan yang memiliki manfaat bagi orang-orang yang melakukannya, kemudian kegiatan ini dilakukan secara berkala menjadi kebiasaan. Namun untuk menjadi kebudayaan, dia memerlukan waktu yang tidak singkat”, tambah Meutia.

Contoh dari kebiasaan yang sudah menjadi budaya adalah cuci kaki sebelum masuk ke rumah. Awalnya kebiasaan ini dipraktekan di rumah panggung, di Lampung, Sulawesi atau Palembang.

Di atas rumah diberikan sebuah gentong berisi air untuk kita mencuci kaki sebelum masuk rumah. Manfaat dari kebiasaan ini adalah kita masuk ke rumah dengan keadaan kaki yang sudah bersih. Lama-kelamaan kebiasaan ini akhirnya menjadi budaya.

Meutia juga memberikan contoh lain dari kebiasaan yang lama-lama menjadi kebudayaan. “Makanan sayur tadinya bukan budaya dari orang Minang. Namun karena tahu manfaatnya, akhirnya sayur bagian dari kebudayaan orang Minang,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya kertekaitan antara kebiasaan dengan budaya pada masa pandemi saat ini.

“Di pandemi ini kita ada kewajiban untuk menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, harus cuci tangan. Ini suatu kebiasaan yang ada manfaatnya, karena tanpa itu ada bahaya Corona. Ini yang diusahakan menjadi kebudayaan,” tegas Meutia.

Terkait protokol kesehatan yang ingin dijadikan sebagai kebudayaan baru, Meutia berpendapat bahwa ini memerlukan waktu.

“Kita ingin secepatnya bisa diterima, begitu ya. Tapi memang butuh waktu. Kita harus mampu menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini adalah hal yang penting, ditunjukkan dengan data,” jelas Meutia.

Ia juga menambahkan bahwa orang Indonesia itu memiliki sifat yang tidak mudah takut akan pantangan, terutama dalam hal risiko kesehatan. Jadi ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat.

Meutia juga menyampaikan bahwa sedang melaksanakan sebuah penelitian yang mempelajari tentang sikap masyarakat Indonesia mengenai kepatuhan.

Mengenai bagaimana agar kebiasaan ini dapat lebih cepat menjadi kebudayaan, Meutia berpendapat bahwa hukuman bukanlah jalan pintas agar suatu kebiasaan dapat menjadi kebudayaan.

“Hukuman itu kadang-kadang tidak mempan ya, tapi selain hukuman, yang penting itu mereka (masyarakat) memahami,” jelas Meutia.

Ia berpendapat bahwa masyarakat harus mampu memahami bahwa mereka tidak saja mampu menularkan, tetapi juga berisiko untuk tertular. Meutia kembali berpesan kepada masyarakat untuk tetap menghindari kerumuman. Ia juga berharap agar kebiasaan ini cepat berubah menjadi kebudayaan. ***