Acara Masak Bersama Master secara Online (Masamo) Akan Dorong Kreativitas Pengusaha Kuliner

this formate

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Acara Masak Bersama Master secara Online atau “Masamo” menjadi program  Kemenparekraf untuk memfasilitasi pengembangan usaha kreatif di bidang kuliner guna memulihkan perekonomian dan pendapatan pengusaha kuliner yang terdampak pandemi.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Josua Puji Mulia Simanjuntak, Selasa (4/8/2020), mengatakan acara Masamo juga diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin berkreasi dan mendapatkan ilmu atau pengetahuan baru dalam memasak agar bisa menciptakan produk kuliner yang inovatif.

Josua berharap melalui acara ini dapat membangkitkan kembali semangat para usaha kreatif kuliner dan membuka lapangan kerja baru bagi pekerja ekonomi kreatif yang terkena PHK akibat pandemi COVID-19.

Acara Masamo batch 3 akan dilaksanakan untuk wilayah Bali dan dipandu oleh Chef Norman Ismail. Hal yang berbeda dari Masamo batch 3 ini adalah dilaksanakan secara offline dan online melalui aplikasi Zoom Meeting.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk ikut serta dalam acara ini dapat melakukan pendaftaran diri terlebih dahulu secara gratis, dengan mengisi formulir pendaftaran melalui link https://tinyurl.com/pendaftaranmasamobali. Pendaftaran dibuka sampai 12 Agustus 2020, pukul 23.59 WIB.

Nantinya para pendaftar yang masuk akan diseleksi dulu oleh panitia. Peserta yang terpilih untuk mengikuti kegiatan Masamo akan diberikan modal berupa bahan baku yang disesuaikan dengan menu masak yang digunakan oleh chef.

“Peserta juga akan mendapatkan paket data internet selama kegiatan berlangsung. Jadi, para peserta benar-benar kami provide mulai dari bahan baku sampai dengan paket data internetnya,” kata Josua.

 

Du-WoW, Pameran Seni Pendorong Semangat Di Kala COVID-19

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: KRT Endro Suseno atau dikenal dengan nama Indro Klimpling menginisiasi pameran seni rupa bertajuk “Du-Wow” di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan no 7, Alun-alun utara Yogyakarta. Pameran ini dapat dikunjungi 2-25 Agustus 2020.

” Ini pameran terbesar di era COVID -19, menunjukkan seniman tetap berkarya dalam kondisi apapun dan tidak putus asa meskipun para seniman seperti juga masyarakat lainnya sejak Maret 2920 tidak ada kegiatan dan perputaran ekonomi yang layak,” kata Indro Kimpling.

Indro Kimpling , Direktur Eksekutif Jogja Gallery

Pameran ini dapat dikunjungi dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti wajib menggunakan masker dan mencuci tangan. Sebelum memasuki gallery petugas akan memeriksa suhu tubuh pengunjung. Usia pengunjung dibatasi minimal 15 tahun.

Du-WoW diharapkan mampu memberikan suasana baru, dalam situasi dan kondisi saat ini. Kedua kelompok seni ini tumbuh dan berkembang di kawasan yang sama dan sama-sama menjalani hidup dan tantangan baru dengan persentuhan tehnologi digital dan tantangan konsumerisme.

” Pameran juga bisa dilihat lewat media sosial yang menggabungkan karya seni dari dua kelompok seni rupa Yogyakarta, Tenggara dan Liquid Colour,” tambahnya.

Pembukaan sejak Sabtu, 1 Agustus 2020 oleh Yoyok Rubiantono, Praktisi Digital Marketing melibatkan sedikitnya 12 seniman a.l  Agus ‘Baqul’ Purnomo, Muji Harjo, Choerodin Roadyn, Saftari, Dadi Setyadi, Sigit Raharjo, Endro Banyu, Sumbul Pranov, Heri Purwanto, Suryadi Suyamtina Luddy Astaghis dan Yaksa Agus.

” Kegiatan ini merupakan pameran yang ke 195 di Jogja Galery dan diharapkan bisa menggairahkan semangat pelaku seni di Indonesia karena ini pameran terbesar diadakan selama masa pandemik ” tegas KRMT Endro Suseno yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jogja Gallery.

Daru Artono, dari Jogja Gallery, dalam katalog pameran, mengatakan, pameran ini turut menandai Jogja bergerak kembali rengam beragam kegiatan seni rupa untuk menyambut Era New Normal. 

Pertemuan karya seni antara kelompok Tenggara dan Liquid Colour ini merupakan persentuhan perspektif tentang kecenderungan pendekatan visual, interaksi dengan nilai-nilai tradisi.

Karya mereka juga menyikapi reaksi atas isu sosial, serta bagaimana kedua kelompok ini dalam mewacanakan gagasan. Pameran ini diharapkan memberikan suasana baru dalam situasi dan kondisi saat ini. 

Luddy Astaghis, salah satu perupa, memajang dua karyanya yang masing-masing berjudul “Kita Ikuti Alurnya” dan “Sangkar Biru” yang merespon situasi pandemi Covid-19 yang hingga kini masih bergulir.

Pada karya “Kita Ikuti Alurnya”, ia menuangkan banyak hal, seperti ketidakpercayaan, sikap nrimo, doa, dan harapan. Dalam karya tersebut antara lain ada visual yang ia ambil dari interaksinya dengan pedagang sayur di pasar tradisional sehari-hari.

Interaksi di mana banyak percakapan tentang Covid-19. Selain gambar, ada kata-kata dalam karya tersebut, seperti Semoga Sehat dan Jangan Khawatir. “Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alurnya. Lawan kita itu nggak kelihatan, kita ikuti saja alurnya,” 

Sementara pada karya “Sangkar Biru”, terdapat patung-patung dari kertas yang ada dalam sebuah tabung dari mika karena kenyataannya kini kita hidup layaknya di dalam sangkar yang terkurung.

Indro Kimpling berpesan, sebelum berkunjung, pengunjung dipersilakan untuk melakukan registrasi, bisa secara daring maupun langsung di Jogja Gallery. Info lebih lanjut dapat dilihat di akun instagram @jogja_gallery.

 

Mutia Hatta: dari Kebiasaan Menjadi Kebudayaan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Pandemi COVID-19 menuntut masyarakat untuk menciptakan kebiasaan baru ditengah kehidupan. Kebiasaan baru ini tercipta agar kita terhindar dari virus COVID-19 dan tetap dapat beraktivitas sehari-hari dengan normal.

“Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, yang kemudian menjadi dibiasakan,” jelas Meutia Hatta selaku Tim Pakar Sosial Budaya Satuan Tugas COVID-19 pada dialog pagi via ruang digital, Selasa (4/8).

 “Kebiasaan itu berawal dari kegiatan yang memiliki manfaat bagi orang-orang yang melakukannya, kemudian kegiatan ini dilakukan secara berkala menjadi kebiasaan. Namun untuk menjadi kebudayaan, dia memerlukan waktu yang tidak singkat”, tambah Meutia.

Contoh dari kebiasaan yang sudah menjadi budaya adalah cuci kaki sebelum masuk ke rumah. Awalnya kebiasaan ini dipraktekan di rumah panggung, di Lampung, Sulawesi atau Palembang.

Di atas rumah diberikan sebuah gentong berisi air untuk kita mencuci kaki sebelum masuk rumah. Manfaat dari kebiasaan ini adalah kita masuk ke rumah dengan keadaan kaki yang sudah bersih. Lama-kelamaan kebiasaan ini akhirnya menjadi budaya.

Meutia juga memberikan contoh lain dari kebiasaan yang lama-lama menjadi kebudayaan. “Makanan sayur tadinya bukan budaya dari orang Minang. Namun karena tahu manfaatnya, akhirnya sayur bagian dari kebudayaan orang Minang,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya kertekaitan antara kebiasaan dengan budaya pada masa pandemi saat ini.

“Di pandemi ini kita ada kewajiban untuk menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, harus cuci tangan. Ini suatu kebiasaan yang ada manfaatnya, karena tanpa itu ada bahaya Corona. Ini yang diusahakan menjadi kebudayaan,” tegas Meutia.

Terkait protokol kesehatan yang ingin dijadikan sebagai kebudayaan baru, Meutia berpendapat bahwa ini memerlukan waktu.

“Kita ingin secepatnya bisa diterima, begitu ya. Tapi memang butuh waktu. Kita harus mampu menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini adalah hal yang penting, ditunjukkan dengan data,” jelas Meutia.

Ia juga menambahkan bahwa orang Indonesia itu memiliki sifat yang tidak mudah takut akan pantangan, terutama dalam hal risiko kesehatan. Jadi ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat.

Meutia juga menyampaikan bahwa sedang melaksanakan sebuah penelitian yang mempelajari tentang sikap masyarakat Indonesia mengenai kepatuhan.

Mengenai bagaimana agar kebiasaan ini dapat lebih cepat menjadi kebudayaan, Meutia berpendapat bahwa hukuman bukanlah jalan pintas agar suatu kebiasaan dapat menjadi kebudayaan.

“Hukuman itu kadang-kadang tidak mempan ya, tapi selain hukuman, yang penting itu mereka (masyarakat) memahami,” jelas Meutia.

Ia berpendapat bahwa masyarakat harus mampu memahami bahwa mereka tidak saja mampu menularkan, tetapi juga berisiko untuk tertular. Meutia kembali berpesan kepada masyarakat untuk tetap menghindari kerumuman. Ia juga berharap agar kebiasaan ini cepat berubah menjadi kebudayaan. ***

Program BISA akan Dorong Peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) .

this formate

Tempat cuci tangan portabel bantuan program BISA Kemenparekraf/ Bekraf ( Foto: Kemenparekraf)

SANGIRAN,bisniwisata.co.id: Kemenparekraf kembali melanjutkan program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) yang sebelumnya telah berlangung di beberapa daerah di Indone sia. Museum Manusia Purba di wilayah Sangiran, Sragen   Jawa Tengah kali ini menjadi giliran setelah sebelumnya Program BISA juga diselenggarakan di Tegal.

Berikut wawancara dengan Drs. Harwan Ekon Cahyo Wirasto, M.T, Direktur Manajemen Strategis, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif ;

Harwan Ekon Cahyo Wirasto, Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf/Baparekraf. ( Foto: Arum Suci Sekarwangi)

Mohon dijelaskan apa tujuan BISA di masa pandemi global ini ?

BISA sendiri merupakan implementasi dari Sapta Pesona. Jadi dalam sektor pariwisata kami sejak dulu sudah menerapkan Sapta Pesona yang terdiri dari tujuh unsur, yakni Aman, Tertib, Indah, Ramah- tamah dan Kenangan. 

Kita ketahui di era COVID-19, pariwisata menjadi sektor yang pertama terpuruk, penerbangan internasional tutup, semua industri juga tutup dan jutaan pekerjaan juga terancam hilang sementara atau selamanya.

Kegiatan padat karya yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Kebijakan Strategis  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif ini  bertujuan sebagai upaya mitigasi dari dampak COVID-19 dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan kali ini kami melihatkan 100 orang pelaku pariwisara terdampak pandemi global ini.

Higienitas memang menjadi perhatian warga dunia, apakah Program  BISA menjadi solusi ?

Menurut Badan Pariwisata Dunia, UNWTO pasca Covid-19 perilaku wisatawan itu berubah, jika sebelumnya dalam merencanakan perjalanan wisatawan hanya melihat dari bagus dan indahnya suatu tempat wisata, namun sekarang berbeda. 

Mereka akan datang ke tempat yang sudah menerapkan protokol kebersihan, mana tempat yang fasilitas kesehatannya sudah maju dan sudah dapat mengakomodir untuk kebutuhan kesehatan dari wisatawan. Itulah yang utama saat ini.

Daerah atau destinasi wisata yag tidak mempersiapkankan hal tersebut, jangan berharap akan dikunjungi wisatawan. Kita juga terus mendorong wisatawan nusantara untuk menjadi penggerak ekonomi, agar pariwisata hidup kembali. 

Untuk mempersiapkan hal itu kita harus sudah mulai melakukan langkah-langkah, salah satunya dengan gerakah Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA). Dalam program ini  Kemenparekraf dengan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan lainnya berharap dapat membantu para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dan masyarakat yang terdampak ekonominya akibat COVID-19 untuk menunjang kualitas dan daya saing destinasi pariwisata Indonesia.

Program ini juga harus disosialisasikan pada wisatawan mancanegara, sejauh mana optimisme bapak pada keberhasilannya ?

Dengan adanya program BISA diharapkan para pelaku pariwisata dapat beradaptasi dengan kondisi tatanan kehidupan yang baru pasca COVID-19, sehingga nantinya tempat wisata tersebut dapat segera dibuka kembali.

Disamping itu program bisa juga bertujuan untuk untuk memperbaiki indikator Health and Hygene dan Safety di lingkungan destinasi pariwisata untuk dapat meningkatkan peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) .

Indonesia yang peringkatnya masih jauh tertinggal di urutan ke-102 dalam masalah Health and Hygene juga di peringkat ke-80  dalam kategori Safety and Security dari total 140 negara.

Dari program ini diharapkan untuk membudayakan kita agar selalu menjaga kebersihan. Harapannya jika ini digerakkan secara nasional, dan kemudian orang melihat, oh ternyata indonesia sudah besar besaran menggerakkan program kebersihan, dan dapat menarik minat orang indonesia untuk kembali berwisata. 

Membudayakan BISA seperti halnya dulu dengan Sapta Pesona tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana pengawasannya ?

Peran serta masyarakatlah yang kami harapkan karena program ini manfaatnya untuk kebaikan bersama. Untuk mencegah pelanggaran protokol kesehatan yang ada, nantinya akan dibuat semacam sertifikasi untuk usaha -usaha pariwisata yang sudah menerapkan protokol. Sehingga dapat menjadi patokan untuk wisatawan yang akan berwisata. Hingga akhir 2020 ada total 66 lokasi wisata yang akan diadakan kegiatan BISA yang terdiri dari 61 reguler dan 5 kemitraan. 

Bagaimana upaya lainnya untuk memulihkan kepercayaan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ?

Disamping program BISA yang digalakkan oleh kemenparekraf, pemerintah juga sudah menganggarkan dalam APBN di Kementerian Perhubungan bukan di Kemenparekraf.

Nantinya  maskapai-maskapai penerbangan yang ada dapat menjual tiket dengan harga yang lebih murah, sehingga bisa mendorong minat masyarakat pula untuk bepergian dan berwisata kembali. Kemenparekraf juga menghimbau kepada para pengelola tempat wisata untuk memberikan potogan-potongan harga.

 

Menyeruput Kopi di Alam Terbuka Cinnamon Cofffee Shop Hotel Alana Solo

this formate

Bartender meracik minuman di udara terbuka dihiasi lampu-lampu hias ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi).

SOLO, Jateng, bisniswisata.co.id: Hotel selalu dituntut untuk melakukan inovasi baik dalam segi food maupun beverage yang sesuai dengan permintaan pasar. Maupun dalam strategi menjaring tamu apalagi di masa pandemi COVID-19.

Adalah Cinnamon Coffee Shop yang ikut melakukan penyesuaian. Jika di masa normal letaknya di dalam lobby The Alana Hotel & Convention Center, Colomadu, maka untuk menarik pengunjung yang datang, kini pihak hotel menyulap sebagian lahan parkir hotelnya menjadi tempat hangout yang asik untuk menikmati sajian dari gerai kopinya ini.

Bersama rombongan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) maka ke Cinnamon Coffee Shop inilah yang kami lakukan setelah siangnya ‘kerja bakti’, bersama-sama melaksanakan program BISA (bersih, Indah, Sehat, Aman) di Museum Manusia Purba di wilayah Sangiran, Sragen.

Jarak dari Solo (Surakarta) ke Sragen adalah sekitar 30,4 km dan hangout masih di lingkungan hotel tempat menginap memang pilihan tepat setelah seharian berkutat dengan kerjaan. Kami memang menginap di hotel ini di Solo jadi istilahnya hangout selemparan batu.

Kehadiran Cinnamon Coffee shop beratap bintang-bintang malam malah membuat kami betah duduk berlama-lama. Menyeruput kopi dan panganan kecil tidak perlu di dalam kamar selama taat pada penggunaan masker dan jaga jarak.

Agaknya menyiasati sepinya pengunjung yang datang membuat pihak The Alana Hotel Solo pun mengubah konsep gerai kopi ini menjadi ruang outdoor dengan memanfaatkan lahan parkir yang persis berada di bagian depan hotel. 

Beragsm kopi nusantara, makanan ringan dan berat serta cerutu tersedia di Cinnamon Coffee Shop.

Meski baru berjalan selama dua minggu, namun strategi ini dirasa efektif. Banyak pengunjung yang mampir ke tempat ini untuk sekedar menikmati udara malam Kota Solo baik  para tamu yang memang juga bermalam di hotel ini maupun yang hanya sekedar mampir untuk mencoba tempat ini.

Mereka yang masih enggan berada di ruang terbuka seperti cafe dan restaurant bisa langsung mengarahkan mobilnya untuk menikmati beragam menu di Cinnamon bersama keluarga. Buat kaum pria penyuka cerutu juga bisa menikmatinya juga di sini. Cerutu lokal bernama Maumere, dari tembakau pilihan Nusa Tenggara Timur pastinya.

Banyak jenis kopi nusantara yang ditawarkan di tempat ini seperti Kopi Robusta Temanggung, Robusta Kopen Malang, Gayo Wine, Arabica Mandailing, sampai ke menu yang paling sering dipesan oleh pengunjung termasuk saya yaitu Kopi Amukme Gold Papua.

Harga yang dibanderol pun cukup ramah dikantong, berkisar dari 25.000 hingga 35.000 rupiah saja. Ada pula beberapa kudapan yang dapat kita nikmati  mulai dari pisang goreng hingga pizza.

Berbicara tentang makanan pastinya tidak akan ada habisnya karena semua orang suka camilan enak. Hal tersebut juga memacu orang-orang yang bekerja di bidang kuliner untuk selalu mencoba membuat variasi dan inovasi taste/cita rasa untuk mencapai kepuasan konsumen.

Sebagai salah satu hotel untuk kegiatan konvensi, hotel ini memiliki tingkat hunian tinggi dengan menyandang predikat terbaik di Kota Solo, sehingga ketika wabah global darang dan industri perhotelan tengah melakukan restart maka gerai kopi dengan ruang kopi ini jadi pilihan tepat.

Berlokasi nyaman di jalan tersibuk di Solo, The Alana Hotel & Convention Center – Solo adalah lokasi yang ideal untuk menghadiri atau menyelenggarakan semua jenis acara.  Fasilitasnya meliputi ballroom dan lima ruang pertemuan fleksibel yang dapat menampung 90 hingga Fasilitasnya.

 Ada 247 kamar dan suite yang ditata apik menawarkan tamu tidur nyenyakydan besok paginya bangun dengan pilihan berolahraga di pusat kebugaran, kolam renang luar ruangan, kolam renang dalam ruangan, spa, dan pijat di hotel ini adalah tempat-tempat ideal untuk bersantai setelah hari yang sibuk. 

Lokasinya sekitar 15 menit ke Bandara Adi Sumarmo.  Keraton Mangkunegaran hanya berjarak 15 menit juga untuk belajar tentang sejarah Jawa Tengah dan warisan, seperti Gamelan dan 15 menit ke Kampung Batik Laweyan di mana kita dapat menemukan toko-toko Batik di sepanjang jalan Laweyan.

Alhamdulilah buat saya dan mbak Anggi dari Humas Kemenparekraf, yang penting di tempat terbukapun ada  WiFi untuk membantu tetap terhubung dengan keluarga dan tugas-tugas yang harus diselesaikan.

 

 

Chandra Setiawan Kusuma, Reseller Travel yang Jadi Pengusaha Properti

this formate

Chandra Setiawan Kusuma, dari reseller travel merambah bisnis properti. ( Foto: Dok. Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Generasi Gen Z adalah generasi digital dimana hampir 90 persen anggotanya mendapatkan inspirasi perencanaan perjalanan dari jejaring sosial online. Tujuh puluh persen dari mereka open mind, terbuka.

Apalagi untuk urusan pilihan destinasi wisata dimana inspirasi ketika merencanakan perjalanan  menggunakan perangkat seluler untuk meneliti dan memesan perjalanan mereka dan berbagi foto dari perjalanan mereka.

“Anda hanya hidup sekali” begitulah cara mereka berekspresi dalam foto-foto Instagrammable yang mereka buat terutama di alam terbuka karena mereka peduli dengan sustainable tourism, pariwisata yang berkelanjutan. 

Malah kini kegiatan berwisata ke tempat-tempat yang bukan jalur turis dan berbagi kegiatan maupun pengetahuan dengan komunitas lokal yang dikunjungi cenderung menjadi cara terbaik untuk menjangkau wisatawan Gen Z.

Adalah Chandra Setiawan Kusuma, generasi Gen Z yang suka travelling lalu memutuskan untuk  menjadi reseller paket tour travel secara online sehingga di usianya yang ke 22 tahun sudah memiliki travel sendiri.

Chandra Setiawan Kusuma kini menjadi founder Avenir Travel yang mengawali bisnis dari ketertarikannya pada tour dan traveling. Ia berpikir untuk menawarkan paket tour travel untuk keluarga, maupun korporat.

Banyaknya kenalan dan network yang dimiliki akhirnya di usia yang masih remaja 18 tahun, ia memberanikan diri untuk menjadi reseller paket tour travel dengan mengambil keuntungan 10 sampai 15% dari harga satu group.

Diakuinya, berbagai cara dilakukan untuk menawarkan paket tour travel. Berawal dari broadcast melalui sebuah komunitas tour & travel regional Indonesia yang ada di social media, Chandra berhasil mengumpulkan kurang lebih 50 pax per-minggunya saat itu. Namun dirinya juga ikut merasakan pasang dan surutnya customer.

Selain mempromosikan secara direct message dan broadcast, ia juga mempromosikannya sendiri melalui online ads atau media promosi online yang banyak ditampilkan di beragam media social. Kerja kerasnya tersebut, sekarang Chandra terbilang  sukses menjalani bisnisnya.

Setelah cukup sukses dengan bisnis travelnya,  ia pun mencoba ekspansi bisnis lain salah satunya adalah bisnis di sektor properti. “Ternyata di bisnis properti ini tidak semulus yang saya bayangkan. Banyak lika-liku yang harus dihadapi,” ujarnya.

Bimmer Jakarta dan Priorite Garage, bisnis lainnya dari hobby otomotif

Cobaan datang mulai dari customer yang tak kunjung datang, rekan kerja yang mulai tidak sehat, sampai lilitan hutang yang digunakan untuk biaya yang dialokasikan untuk pembuatan properti, ungkap Chandra.

Namun rintangan tersebut tidak dijadikan alasan untuk mundur, Chandra terus mencoba menyelesaikan masalahnya satu demi persatu dengan cara menjaminkan mobil kesayangannya kepada bank.

Karena hasil jaminan uang dari mobilnya tersebut tidak cukup untuk menutup lilitan hutangnya, ia kemudian mendapatkan ide untuk mendongkrak bisnis propertinya dengan cara meminta bantuan agency property freelance maupun company.

Alhasil 50% dari total unit di bisnis propertinya terjual habis. Proyek properti tersebut adalah The Hermosa Garden dibawah naungan Pranadipa Development yang berada di Sawangan, Depok.

Selain ketertarikan di dunia traveling, pemilik Instagram @chandstwn ini memiliki hobby di bidang otomotif, lebih cenderung ke mobil Eropa khususnya BMW.

Dari hobby-nya tersebut, lagi-lagi Chandra berhasil menangkap peluang bisnis di bidang otomotif. Bimmer Jakarta dan Priorite Garage adalah bisnisnya di bidang otomotif jual beli velg BMW seperti, BBS, Volk Rays, original BMW Rims, Voxen, dan berbagai macam brand lainnya. Selain menjual velg, Bimmer Garage juga menjual parts original BMW.

Di usianya yang sekarang ini, dia sudah dapat menghasilkan omset kurang lebih sebesar 500 juta setiap bulannya. Hasil jerih payahnya itu, sebagian ia gunakan untuk membeli rumah kecil untuk masa depan bersama calon istri. Nah siapa menyusul ?. Ayo Gen Z berlomba-lomba berbuat kebaikan….

Tingkatkan Kualitas Pariwisata, Pemerintah Bangun Infrastruktur Dua Pelabuhan di Bali

this formate

Dua pelabuhan penyebrangan di P. Nusa Penida dan P. Nusa Ceningan, Bali mulai dibangun oleh Kemenhub untuk dukung infrastruktur pariwisata Bali. ( Foto: Kemenparekraf).

DENPASAR, bisniswisata.co.id:  Pemerintah membangun infrastruktur berupa dua pelabuhan di Bali sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pariwisata di wilayah itu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster, Senin (3/8/2020), meletakkan batu pertama pembangunan pelabuhan penyeberangan yaitu Pelabuhan Sampalan di Pulau Nusa Penida serta Pelabuhan Bias Munjul di Pulau Nusa Ceningan, Kabupaten Klungkung Provinsi Bali.

Pembangunan kedua pelabuhan tersebut untuk mendukung pariwisata di Bali yang termasuk ke dalam Pelabuhan Segitiga Emas (Sanur, Nusa Penida dan Nusa Ceningan/Lembongan) dan terhubung dengan Pelabuhan Sanur yang terletak di Denpasar.

“Insya Allah kedua pelabuhan ini bisa selesai dalam waktu sembilan bulan atau pertengahan tahun 2021,” kata Menhub Budi Karya.

Budi Karya menjelaskan, pihaknya telah menggelar rapat secara intensif dengan Pemprov Bali untuk membicarakan dukungan transportasi terhadap pariwisata di Bali seperti konsep super hub tourism, maritim, dan penelitian tentang rencana akses darat menuju Bali Utara.

“Presiden Joko Widodo berpesan agar Bali bisa menjadi super hub tourism tidak hanya bagi Indonesia tetapi sampai Asia Tenggara bahkan Australia,” kata Menhub.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, pemerintah terus meningkatkan pembangunan infrastruktur untuk mendukung sektor pariwisata yang saat ini sedang dikebut pengembangannya.

“Ke depan perubahan tren baru pariwisata sesudah pandemi COVID-19 akan bermuara pada ‘quality tourism’ atau perjalanan pariwisata yang lebih berkualitas. Dengan pengembangan infrastruktur di Bali sudah tentu akan meningkatkan kualitas pariwisata di sana,” ujarnya.

Wishnutama juga menjelaskan, salah satu strategi wisata yang baik yakni tidak hanya membangun infrastruktur, membuat konsep promosi, dan membangun sumber daya, melainkan menciptakan daya tarik wisata baru bagi pariwisata Indonesia dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability).

“Bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif Bali harus menjalankan protokol kesehatan dengan tanggung jawab sehingga mampu membangun kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan,” kata Wishnutama.

Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster menyebut dengan dibangunnya kedua pelabuhan akan memudahkan aksesibilitas menuju kawasan segitiga emas.

Dengan demikian dapat mendorong peningkatan jumlah wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Selain itu, keberadaan pelabuhan juga dapat mendukung aktivitas keagamaan masyarakat Bali.

“Ketika akan ada upacara agama rutin dimana masyarakat se-Bali itu melakukan persembahyangan yang datang dari berbagai kabupaten di Bali. Karena tidak ada pelabuhan, mereka kesusahan untuk naik ke kapal karena harus angkat-angkat kainnya sambil mengusung sesajennya dari berbagai wilayah,” tutur Wayan Koster.

Rencananya, Pelabuhan Sampalan akan dibangun dua lantai dengan luas area kolam 9.000 meter persegi, kapasitas sandar 10 speedboat, dengan estimasi biaya pembangunan Rp86,7 miliar.

Sedangkan Pelabuhan Bias Munjul akan dibangun menjadi dermaga bagi speed boat dan kapal Ro-ro, dengan estimasi biaya pembangunan sebesar Rp 109,6 miliar.

Jika konsep Pelabuhan Segitiga Emas ini sudah terealisasi, diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan lalu lintas di Pulau Nusa Penida serta Nusa Ceningan serta berdampak pada ekonomi warga setempat.

 

Museum di Jepang Koleksi Benda dan Catatan Terkait COVID-19

this formate

Museum di Jepang rekam sejarah COVID-19 (foto: kyodo news)

HOKKAIDO, bisniswisata.co.id: Ingatan manusia umumnya pendek. Peristiwa mewabahnya virus Corona bisa lewat begitu saja jika tak ada yang menyimpan rekam jejaknya.

Untunglah sejumlah museum yang tersebar di Jepang mulai berinisiatif mengumpulkan benda-benda dan catatan tertulis terkait pandemi COVID-19, termasuk: masker wajah, selebaran dari pemerintah, pamflet, pengumuman pembatalan acara, dan sebagainya. 

Pengumpulan benda-benda terkait virus Corona ini bertujuan agar manusia kelak dapat melacak kembali gambaran kehidupan sehari-hari saat menghadapi pandemi virus yang bergerak secara eksponensial ini.

Museum akan menjadi tempat bagi generasi mendatang untuk menengok kembali seperti apa keadaan dunia saat COVID-19 mewabah.

Belajar dari keselahan, pengelola museum menyadari mereka ternyata hampir tidak punya catatan tentang epidemi flu Spanyol yang terjadi sekitar 100 tahun lalu dan merenggut nyawa 20 hingga 50 juta orang di seluruh dunia.

Penduduk di Kota Urahoro, Hokkaido, Jepang, pun menyambut baik inisiatif tersebut. Mereka merespons positif dan dengan sukarela memenuhi permintaan pengelola museum untuk menyerahkan benda-benda terkait COVID-19 untuk dijadikan koleksi museum.

Saat ini setidaknya sudah ada 200 item terkumpul, termasuk selebaran berisi pengumuman pembatalan festival, kupon untuk mendapat makanan, dan masker wajah yang didistribusikan pemerintah pusat.

“Kehidupan kita sehari-hari akan menjadi bagian dari sejarah. Kami ingin mengumpulkan sebanyak mungkin benda-benda itu, sebelum dibuang,” kata Makoto Mochida, 47, kurator di museum kota.

“Ketika kita melihat kembali era kini pada masa depan, benda-benda itu akan membantu kita memahami apa yang terjadi secara objektif,” katanya, seperti dilansir Kyodo News.

Sementara itu museum di Kota Suita, Jepang Barat, bahkan telah memajang gaun medis dan pelindung wajah yang selama ini digunakan untuk menghadapi pandemi virus Corona.

Foto-foto yang menggambarkan suasana, seperti antrian panjang orang di sebuah toko obat untuk membeli masker wajah pun sudah di-display.

 “Kami ingin merekam apa pun yang terjadi (selama pandemi) dan menawarkan jalan keluar bagi generasi mendatang. Mereka kelak dapat belajar tentang era saat ini,” kata Kenji Saotome, kurator, 46, di Museum Kota Suita.

Perpustakaan Diet Nasional di Tokyo bahkan telah mengarsip seluruh data dari kantor pemerintahan secara online terkait virus. 

Sedangkan Museum Teater Peringatan Tsubouchi di Universitas Waseda, Tokyo telah meminta grup-grup teater dan drama untuk menyumbangkan selebaran dan naskah drama yang batal pentas karena pandemi.

Sekadar info, museum ini adalah museum universitas yang didedikasikan untuk sejarah drama, dengan fasilitas yang digunakan untuk pertunjukan budaya dari seluruh dunia.

Akihiro Morihara, pejabat senior berusia 54 tahun di Museum Prefektur Yamanashi yang juga mengumpulkan bahan-bahan terkait pandemi COVID-19 mengatakan,”seandainya ada catatan tentang flu Spanyol pada tingkat akar rumput, akan ada banyak petunjuk tentang bagaimana cara mengatasi infeksi yang terjadi saat ini.”

“Bencana dan epidemi telah berulang kali terjadi, tetapi orang-orang segera melupakannya. Kami ingin menciptakan peluang untuk melihat kembali era saat ini lewat pameran,” katanya.

 

 

Gerakan BISA Awali Museum Sangiran Sragen Masuki Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

this formate

Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf -Bapareraf, Harwan Ekon Cahyo Wirasto bersama undangan membuka program BISA. ( Foto: Arum Suci Sekarwangi)

SRAGEN, Jateng, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Komisi X DPR/RI menggelar GerakaBersih, Indah, Sehat dan Aman.  ( BISA ) di Museum Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada 3 hingga 4 Agustus 2020, kata Harwan Ekon Cahyo Wirasto, Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf/Bapareraf, hari ini.

Kegiatan ini sebagai upaya menyiapkan destinasi wisata serta para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di sekitar lokasi untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman COVID-19, ungkapnya.

Sekitar 100 pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dibekali peralatan penunjang kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan, untuk kemudian menerapkan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru.

Gerakan BISA merupakan kegiatan padat karya yang melibatkan pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, hingga masyarakat yang terdampak COVID-19 dalam menunjang kualitas dan daya saing destinasi pariwisata Indonesia.

Kegiatan yang diselenggarakan di Museum Sangiran ini diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing pariwisata, khususnya pada indikator Health and Hygiene serta Safety and Security di lingkungan Museum Sangiran, Kabupaten Sragen.

“Gerakan BISA bertujuan untuk mendorong pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman COVID-19,”ujar Harwan.

Selain itu mendukung destinasi pariwisata untuk mengantisipasi tatanan kehidupan baru pascapandemi COVID-19 sesuai prinsip higiene dan sanitasi yang baik. Harwan mengharapkan  Gerakan BISA, dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi pariwisata Sangiran, Kabupaten Sragen.

Destinasi wisata ini merupakan salah satu kawasan prasejarah terkemuka di dunia dan telah diakui UNESCO sebagai “situs kunci” yang dapat memberikan gambaran tentang proses evolusi manusia, budaya, dan lingkungan selama dua juta tahun tanpa terputus.

“Saya ucapkan selamat dan sukses kepada semua yang terlibat dan berpartisipasi pada Kegiatan Gerakan BISA dan dapat memberikan manfaat dan dampak dalam peningkatan kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan di destinasi pariwisata Sangiran, Kabupaten Sragen dalam mendukung peningkatan jumlah kunjungan wisatawan,” ujarnya

Gerakan BISA merupakan kegiatan padat karya libatkan 100 pelaku pariwisara di Sangiran, Sragen. ( Foto: Kemenparekraf)

Sebagai panduan standar operasional prosedur, Kemenparekraf/Baparekraf juga telah mengeluarkan buku panduan penerapan protokol kesehatan untuk berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Buku panduan tersebut merupakan turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Wakil Ketua Komisi X DPR-RI Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan apresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan ini sebagai wujud sinergitas dan kepedulian pemerintah bersama-sama wakil rakyatnya dalam mendorong kesiapan destinasi.

“Para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dapat kembali produktif dengan segera menerima kunjungan wisatawan, namun tetap aman COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Agustina.

Sekain Wakil Ketua Komisi X DPR-RI Agustina Wilujeng Pramestuti, hadir pula  Tenaga Ahli Menteri Bidang Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf Arief Budiman, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Ketua DPRD Kabupaten Sragen Suparno.

Hadir pula Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Untung Wibowo Sukowati, Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Sragen I Yusep Wahyudi serta Kepala BPSMP Sangiran, Sukronedi.

Sustainable Tourism: Hormati Masyarakat Lokal,Wisatawan, Warisan Budaya & Lingkungan.

this formate

Wisman berkunjung ke Hagia Sophia, salah satu warisan budaya Turki sebelum terjadi pandami global. ( Foto: Yudarwita Maharajo)

JAKARTA : Awal Juli 2020 lalu banyak negara yang sudah mulai mencabut lockdown, membuat kelonggaran perbatasan negara dan melakukan travel bubble, pembukaan terbatas suatu negara bagi beberapa negara lain yang masing-masing memiliki kasus virus Corona yang rendah atau terkontrol.

Para pemimpin organisasi dunia seperti Badan Pariwisata Dunia, Sekjen UNWTO, Zurab Pololikashvili mengingatkan bahwa restart pariwisata dasarnya adalah kembali mengembangkan sustainable tourism.

Pariwisata berkelanjutan ( sustainable tourism) yang ramah lingkungan, menjaga keseimbangan alam dan menjadi destinasi wisata yang aman untuk hidup ditengah era COVID-19 adalah pilihan mutlak apalagi pandemi global ini telah menjadikan kepercayaan adalah mata uang baru.

” Kami dan pariwisata secara ideal diposisikan sebagai kendaraan untuk menyalurkan kepercayaan,” kata Zurab Pololikashvili yang diungkapkan dalam berbagai kesempatan.

Masih di bulan Juli, Sapta Nirwandar, Ketua Halal lifestyle Indonesia mengatakan bahwa wabah dunia ini telah menurunkan hidayah pada umat manusia dan menjaga kesehatannya sehingga baik Muslim dan Non Muslim yang paham bahwa makanan halal meningkatkan iman dan imun tubuh menyebabkan permintaan produk halal food meningkat di seluruh dunia.

” Halal Tourism itu extended service, pelayanan tambahan yang di Indonesia ditolak mati-matian di beberapa daerah wisata.  Kalau di pesawat ada yang tidak makan daging kan diberikan vegetarian food, jangan paksa makan daging sapi kalau agamanya melarang, kata Sapta  Nirwandar.

Dia optimistis seiring dengan waktu maka masyarakat Indonesia, maupun warga dunia paham halal itu makanan sehat bukan mau menjerumuskan mereka memeluk agama Islam.

Hilda Ansariah Sabri

Sustainable tourism yang digaungkan oleh organisasi dunia ternyata adalah terkait dan sejalan dengan tujuan Islam. Tujuan pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam Islam  adalah berkontribusi untuk kesejahteraan dan keseimbangan manusia yang harmonis antara manusia dan alam.

Hal itu di ungkapkan Barkathunnisha Abu Bakar, Founder, Elevated Consultancy & Training Director, World Women Tourism Associate, Murdoch University (Singapore) seperti dikutip dari Mastercard-CrescentRating Halal Travel Frontier 2020.

Menurut dia, tujuan pengembangan pariwisata berkelanjutan UNWTO bagi dunia Islam terkait dan sejalan, mulai dari konsumsi yang bertanggung jawab dan menghindari limbah, mempromosikan perdamaian dan keadilan termasuk berkontribusi pada kesejahteraan umat dan harmoni antara manusia dan alam.

“Untuk meningkatkan pariwisata, suatu negara harus dapat menyambut orang-orang dari semua lapisan masyarakat,” tegasnya.

Oleh karena itu sangat penting bagi penyedia pariwisata untuk mengadopsi sebuah pendekatan yang sadar secara ekologis dan sosial ke bisnis untuk menarik bagi wisatawan umum dan juga wisatawan Muslim.

Muslim Traveler bukan lagi ceruk pasar tapi menjadi mayoritas sehingga identitas merek, perilaku, dan strategi komunikasi harus diselaraskan dengan nilai berkelanjutan untuk mendapatkan kredibilitas di benak segmen perjalanan Muslim,” kata Barkathunnisha Abu Bakar.

Di Indonesia sendiri salah satu pakar sustainable tourism yang pernah menduduki jabatan penting di UNWTO adalah mantan Menteri Pariwisata I Gede Ardika, penganut agama Hindu yang sangat menjunjung tinggi Tri Hita Karana.

Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajarannya menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. 

Ketiga hubungan Tri Hita Karana itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan ke Tuhan, tambah I Gede Ardika dalam berbagai kesempatan.

Dari sini prinsip sustainable untuk pariwisata harus meliputi tiga faktor yaitu memberi manfaat ekonomi, melestarikan lingkungan alam, dan melestarikan budaya, tambahnya

Malah menurut I Gede Ardika, konsep sustainable dari PBB tersebut tidak cukup bagi Indonesia. Tidak hanya bicara seputar ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, tapi lebih dari itu. 

“Bagaimana sustainable tourism ini memunculkan perasaan bahagia dan menciptakan pengalaman, mampu menciptakan hubungan antar manusia, menghasilkan mutual understanding,” kata I Gede Ardika.

Saling menghormati, saling memahami ( mutual understanding) seharusnya juga berlaku dalam menyikapi keputusan menjadikan Hagia Sophia menjadi masjid yang mutlak adalah kedaulatan Turki.

Pada 10 Juli 2020 lalu, Dewan Negara (The Council of State), yang merupakan pengadilan administratif tertinggi Turki, telah mengetuk palu pengembalian fungsi Hagia Sophia dari museum kembali menjadi masjid. 

Dilansir dari Republika, dengan keputusan itu, maka keputusan Presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk, yang pada 1934 telah mengubah status Hagia Sophia dari masjid menjadi museum, dinyatakan tak lagi berlaku.

Dunia Barat umumnya mengecam keputusan tersebut. Perubahan status itu dianggap telah dan akan menyinggung perasaan umat Kristiani dunia, khususnya golongan Kristen Ortodoks. 

Ketika pertama kali dibangun oleh Kaisar Bizantium, Justinian I, pada tahun 532 hingga 537, Hagia Sophia semula dimaksudkan sebagai gereja katedral. Oleh Sultan Mehmed II dari Kekhalifahan Usmani pada 1453, fungsi bangunan itu kemudian diubah menjadi masjid

Sultan Mehmed II, yang oleh bangsa Turki dijuluki sebagai “Al Fatih”, alias “Sang Penakluk”, bukan hanya mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, namun juga mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Sultan Mehmed II adalah “Sang Penakluk” termuda dalam sejarah dunia yaitu berusia 21 tahun.

Hagia Sophia adalah salah satu tujuan wisata utama di Turki baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada 1985, ketika masih berfungsi sebagai museum, Hagia Sophia masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Pada 16 Juli 2020 lalu, Direktorat Urusan Agama Turki menandatangani protokol kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengelola Hagia Sophia setelah dikonversi menjadi masjid.

Di bawah protokol itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan mengawasi proyek restorasi dan konservasi, sementara Direktorat Urusan Agama akan mengawasi kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

Pariwisata berkelanjutan ( sustainable tourism ) didefinisikan UNESCO sebagai kegiatan pariwisata yang menghormati masyarakat lokal, para wisatawan, warisan budaya serta lingkungan.

Bangunan megah Hagia Sophia adalah warisan berbagai peradaban yang akan dibuka untuk wisatawan domestik dan mancanegara secara gratis. Bukankah upaya ini juga bagian dari sustainable tourism