Sustainable Tourism: Hormati Masyarakat Lokal,Wisatawan, Warisan Budaya & Lingkungan.

this formate

Wisman berkunjung ke Hagia Sophia, salah satu warisan budaya Turki sebelum terjadi pandami global. ( Foto: Yudarwita Maharajo)

JAKARTA : Awal Juli 2020 lalu banyak negara yang sudah mulai mencabut lockdown, membuat kelonggaran perbatasan negara dan melakukan travel bubble, pembukaan terbatas suatu negara bagi beberapa negara lain yang masing-masing memiliki kasus virus Corona yang rendah atau terkontrol.

Para pemimpin organisasi dunia seperti Badan Pariwisata Dunia, Sekjen UNWTO, Zurab Pololikashvili mengingatkan bahwa restart pariwisata dasarnya adalah kembali mengembangkan sustainable tourism.

Pariwisata berkelanjutan ( sustainable tourism) yang ramah lingkungan, menjaga keseimbangan alam dan menjadi destinasi wisata yang aman untuk hidup ditengah era COVID-19 adalah pilihan mutlak apalagi pandemi global ini telah menjadikan kepercayaan adalah mata uang baru.

” Kami dan pariwisata secara ideal diposisikan sebagai kendaraan untuk menyalurkan kepercayaan,” kata Zurab Pololikashvili yang diungkapkan dalam berbagai kesempatan.

Masih di bulan Juli, Sapta Nirwandar, Ketua Halal lifestyle Indonesia mengatakan bahwa wabah dunia ini telah menurunkan hidayah pada umat manusia dan menjaga kesehatannya sehingga baik Muslim dan Non Muslim yang paham bahwa makanan halal meningkatkan iman dan imun tubuh menyebabkan permintaan produk halal food meningkat di seluruh dunia.

” Halal Tourism itu extended service, pelayanan tambahan yang di Indonesia ditolak mati-matian di beberapa daerah wisata.  Kalau di pesawat ada yang tidak makan daging kan diberikan vegetarian food, jangan paksa makan daging sapi kalau agamanya melarang, kata Sapta  Nirwandar.

Dia optimistis seiring dengan waktu maka masyarakat Indonesia, maupun warga dunia paham halal itu makanan sehat bukan mau menjerumuskan mereka memeluk agama Islam.

Hilda Ansariah Sabri

Sustainable tourism yang digaungkan oleh organisasi dunia ternyata adalah terkait dan sejalan dengan tujuan Islam. Tujuan pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam Islam  adalah berkontribusi untuk kesejahteraan dan keseimbangan manusia yang harmonis antara manusia dan alam.

Hal itu di ungkapkan Barkathunnisha Abu Bakar, Founder, Elevated Consultancy & Training Director, World Women Tourism Associate, Murdoch University (Singapore) seperti dikutip dari Mastercard-CrescentRating Halal Travel Frontier 2020.

Menurut dia, tujuan pengembangan pariwisata berkelanjutan UNWTO bagi dunia Islam terkait dan sejalan, mulai dari konsumsi yang bertanggung jawab dan menghindari limbah, mempromosikan perdamaian dan keadilan termasuk berkontribusi pada kesejahteraan umat dan harmoni antara manusia dan alam.

“Untuk meningkatkan pariwisata, suatu negara harus dapat menyambut orang-orang dari semua lapisan masyarakat,” tegasnya.

Oleh karena itu sangat penting bagi penyedia pariwisata untuk mengadopsi sebuah pendekatan yang sadar secara ekologis dan sosial ke bisnis untuk menarik bagi wisatawan umum dan juga wisatawan Muslim.

Muslim Traveler bukan lagi ceruk pasar tapi menjadi mayoritas sehingga identitas merek, perilaku, dan strategi komunikasi harus diselaraskan dengan nilai berkelanjutan untuk mendapatkan kredibilitas di benak segmen perjalanan Muslim,” kata Barkathunnisha Abu Bakar.

Di Indonesia sendiri salah satu pakar sustainable tourism yang pernah menduduki jabatan penting di UNWTO adalah mantan Menteri Pariwisata I Gede Ardika, penganut agama Hindu yang sangat menjunjung tinggi Tri Hita Karana.

Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajarannya menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. 

Ketiga hubungan Tri Hita Karana itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan ke Tuhan, tambah I Gede Ardika dalam berbagai kesempatan.

Dari sini prinsip sustainable untuk pariwisata harus meliputi tiga faktor yaitu memberi manfaat ekonomi, melestarikan lingkungan alam, dan melestarikan budaya, tambahnya

Malah menurut I Gede Ardika, konsep sustainable dari PBB tersebut tidak cukup bagi Indonesia. Tidak hanya bicara seputar ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, tapi lebih dari itu. 

“Bagaimana sustainable tourism ini memunculkan perasaan bahagia dan menciptakan pengalaman, mampu menciptakan hubungan antar manusia, menghasilkan mutual understanding,” kata I Gede Ardika.

Saling menghormati, saling memahami ( mutual understanding) seharusnya juga berlaku dalam menyikapi keputusan menjadikan Hagia Sophia menjadi masjid yang mutlak adalah kedaulatan Turki.

Pada 10 Juli 2020 lalu, Dewan Negara (The Council of State), yang merupakan pengadilan administratif tertinggi Turki, telah mengetuk palu pengembalian fungsi Hagia Sophia dari museum kembali menjadi masjid. 

Dilansir dari Republika, dengan keputusan itu, maka keputusan Presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk, yang pada 1934 telah mengubah status Hagia Sophia dari masjid menjadi museum, dinyatakan tak lagi berlaku.

Dunia Barat umumnya mengecam keputusan tersebut. Perubahan status itu dianggap telah dan akan menyinggung perasaan umat Kristiani dunia, khususnya golongan Kristen Ortodoks. 

Ketika pertama kali dibangun oleh Kaisar Bizantium, Justinian I, pada tahun 532 hingga 537, Hagia Sophia semula dimaksudkan sebagai gereja katedral. Oleh Sultan Mehmed II dari Kekhalifahan Usmani pada 1453, fungsi bangunan itu kemudian diubah menjadi masjid

Sultan Mehmed II, yang oleh bangsa Turki dijuluki sebagai “Al Fatih”, alias “Sang Penakluk”, bukan hanya mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, namun juga mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Sultan Mehmed II adalah “Sang Penakluk” termuda dalam sejarah dunia yaitu berusia 21 tahun.

Hagia Sophia adalah salah satu tujuan wisata utama di Turki baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada 1985, ketika masih berfungsi sebagai museum, Hagia Sophia masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Pada 16 Juli 2020 lalu, Direktorat Urusan Agama Turki menandatangani protokol kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengelola Hagia Sophia setelah dikonversi menjadi masjid.

Di bawah protokol itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan mengawasi proyek restorasi dan konservasi, sementara Direktorat Urusan Agama akan mengawasi kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

Pariwisata berkelanjutan ( sustainable tourism ) didefinisikan UNESCO sebagai kegiatan pariwisata yang menghormati masyarakat lokal, para wisatawan, warisan budaya serta lingkungan.

Bangunan megah Hagia Sophia adalah warisan berbagai peradaban yang akan dibuka untuk wisatawan domestik dan mancanegara secara gratis. Bukankah upaya ini juga bagian dari sustainable tourism

 

Pesona G-land yang Tersembunyi di Ujung Selatan Banyuwangi

this formate

G-Land surga tersembunyi bagi para peselancar dunia. ( Foto: Kemebparekraf) 

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id:  Ketika G-Land justru masih terdengar asing bagi sebagian besar wisatawan nusantara, berbeda halnya dengan wisatawan mancanegara. G-Land atau yang biasa disebut Pantai Plengkung adalah salah satu destinasi favorit turis asing saat berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim).

Pantai yang terletak di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo itu dianggap sebagai salah satu surga yang tersembunyi bagi para peselancar dunia. Maka selancar pun menjadi daya tarik utama bagi pantai itu,

Selain itu, G-Land pun menyuguhkan keindahan alam yang kaya dengan hamparan laut biru yang luas dan ombak yang memanjang, tinggi, dan besar. Hal itulah yang membuat para peselancar manapun tertangang ingin menaklukannya.

Panjang ombak pantainya bisa mencapai 2 kilometer dengan ketinggian ombak hingga 8 meter. Gelombang pasang di G-Land seringkali dapat membentuk tabung air yang hampir sempurna. Tak heran, jika ombak di G-Land disebut sebagai ombak terbaik kedua setelah Hawaii, Amerika Serikat.

Menariknya, G-Land menyajikan berbagai pilihan tipe ombak bagi peselancar manapun yang datang. Mulai dari peselancar pemula hingga peselancar yang sudah memiliki keahlian tingkat tinggi.

Ombak G-Land memiliki tiga tingkatan antara lain Many Track Waves, Speedis Waves, dan Kong Waves. Untuk  Many Track Waves sering digunakan oleh peselancar pemula dengan ketinggian ombak 3 – 4 meter.

Lalu, Speedis Waves yang  ketinggian ombak mencapai 5 – 6 meter untuk peselancar tingkat sedang. Sementara Kong Waves, biasanya digunakan untuk peselancar tingkat professional, memiliki ketinggian ombak mencapai 6 – 8 meter.

Harmonisasi Warna

Selain menjadi tempat favorit bagi para peselancar, Pantai G-Land Banyuwangi memiliki harmonisasi warna yang indah dan mempesona. Terdapat pasir pantai putih yang halus, hamparan laut biru yang luas, bebatuan karang dengan konfigurasi unik, serta pepohonan hijau. Perpaduan itu menjadikan G-Land pemandangan alam yang eksotis.

Pengunjung yang tidak bisa berselancar juga bisa melakukan berbagai aktivitas di laut seperti diving dan snorkeling. Kegiatan menarik lainnya yang bisa dilakukan oleh pengunjung ialah tracking menggunakan sepeda.

Pilihan lainnya berjalan kaki menyusuri pantai sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Bahkan pengunjung juga bisa mengelilingi Taman Nasional Alas Purwo yang dikelilingi pepohonan yang menjulang tinggi.

G-Land juga memiliki banyak tempat foto yang bisa dijadikan sebagai objek foto menarik. Selain itu pengunjung bisa melihat satwa liar yang ada di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Mulai dari kera hingga rusa. Hewan-hewan ini berkeliaran secara bebas.

Bagi pengunjung yang ingin menginap di G-Land, terdapat beberapa pilihan penginapan yang bisa disewa sesuai dengan fasilitas yang ditawarkan, diantaranya Bobby Surf Camp, Joyo’s Surf Camp, dan G-Land Jack’s Surf Camp.

Untuk menuju Pantai G-Land pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Jarak tempuh kurang lebih 50 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Tapi durasi perjalanan menuju G-Land memakan waktu sekitar 2,5 jam.

Selama perjalanan pengunjung disuguhkan dengan pemandangan alam yang menawan. Langit biru yang begitu cerah, sinar mentari yang menghangatkan, hamparan sawah hijau, serta gunung yang menjulang tinggi membuat siapapun yang melihat merasakan kesegarannya alam yang murni.

Memasuki Kawasan Taman Nasional Alas Purwo, pengunjung menyusuri hutan dengan pohon-pohon tinggi yang masih sangat asri, disambut kawanan kera juga berkeliaran di jalanan dan pepohonan, selain itu ada juga rusa yang berada di sekitar pantai. Meski tidak langsung kabur, namun kera dan rusa tetap menjaga jarak dengan manusia.

Salah satu warga asli Banyuwangi yang berada di Taman Nasional Alas Purwo, Wawan mengatakan ombak G-Land sangat digemari peselancar. “Peselancar mancanegara mayoritas berasal dari Australia, Amerika, Inggris, dan Eropa,” ujar Wawan.

Menurut Wawan kegiatan surfing paling ramai pada Maret hingga Oktober setiap tahunnya. “Kalau tidak ada pandemi COVID-19, kejuaraan selancar dunia atau yang biasa disebut World Surfing League  ( WSL) Championship Tour akan diselenggarakan di G-Land pada Juni lalu. Karena event ini memang yang paling ditunggu-tunggu oleh atlet surfing dunia,” kata Wawan.

Mengingat hal tersebut, Banyuwangi merupakan salah satu kota yang sukses dalam mengembangkan dan mengemas berbagai event di bidang pariwisata. Namun, sejak pandemi COVID-19 membuat berbagai macam event seperti WSL Championship Tour harus ditunda sampai situasi COVID-19 mereda.

Untuk memulihkan destinasi wisata di Banyuwangi, Pemerintah Kota Banyuwangi telah melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai protokol kesehatan yang berlaku di era adaptasi kebiasaan baru kepada seluruh para pelaku usaha pariwisata serta masyarakat.

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, mengatakan masyarakat Banyuwangi sebagian besar telah sadar untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari penggunaan teknologi serta sertifikasi protokol kesehatan di berbagai bidang usaha telah dilakukan.

“Kami telah membuat aplikasi panduan kesehatan serta sertifikasi kebersihan dan kesehatan dari dinas kesehatan meliputi hotel, homestay, café, restoran, dan warung makan,” kata Azwar.

Untuk mendukung kembalinya destinasi wisata di Banyuwangi, Kemenparekraf memfasilitasi penyediaan fasilitas kamar kecil di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan Kawasan Agrowisata di Tamansuruh.

Selain itu, alat penunjang kebersihan dan keamanan seperti, penyediaan tempat cuci tangan, tempat sampah, toilet portable, masker, face shield, sarung tangan, baju APD, alat semprot, tenda, life ring buoy, tandu lipat, signage (papan himbauan), dan kacamata goggle.

“Kesehatan masyarakat dan produktivitas perekonomian harus dijalankan dengan seimbang. Mengingat perubahan pola wisatawan membuat setiap destinasi wisata harus mengedepankan protokol kesehatan,” ujar Azwar.

 

Mastercard Pimpin Industri Pembayaran Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan

this formate

Wisatawan internasional menggunakan kartu pembayaran plastik untuk berbagai transaksi perjalanannya. ( Foto: Finansialku.com)

SINGAPURA, bisniswisata.co: Lebih dari tiga perempat orang mengatakan mereka “sangat peduli” tentang lingkungan dan merasa perusahaan harus melakukan lebih banyak untuk mengatasi dampaknya terhadap planet ini.

Ketika konsumen mencari cara untuk membantu mengatasi perubahan iklim melalui tindakan positif mereka sendiri, banyak yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai.  

Untuk mengatasi kekhawatiran yang berkembang ini, Mastercard telah bekerja dengan para pemain industri global untuk mengembangkan program kartu berkelanjutan untuk semua penerbit kartu secara global.  

Direktori baru bahan berkelanjutan dan vendor untuk produk kartu bertujuan untuk membuat pilihan berkelanjutan pilihan yang disukai untuk semua lembaga keuangan di seluruh dunia dan mendorong inovasi yang ditingkatkan.

Dilansir dari Mastercard newsroom, hari ini, penawaran kartu berkelanjutan Mastercard tersedia bagi konsumen di lebih dari selusin negara di seluruh dunia dan lebih dari 60 lembaga keuangan telah mengeluarkan kartu dengan bahan yang disetujui yang terbuat dari plastik daur ulang, yang bersumber daya, bebas klorin, mudah terurai, dan plastik laut.

Lembaga-lembaga ini termasuk DBS Bank (Taiwan) dan Crédit Agricole, serta Santander, yang akan segera mengeluarkan kartu.Dengan sumber daya ini, bank dapat mempelajari lebih lanjut tentang alternatif ini, terhubung ke produsen kartu dan pada akhirnya menambah inisiatif keberlanjutan mereka sendiri dengan perubahan sistemik pada rantai pasokan mereka.

Inisiatif ini merupakan tonggak baru dalam upaya multi-tahun yang akan mengarah pada peluncuran skema sertifikasi global Mastercard untuk kartu berkelanjutan yang disetujui.  

Ini dibangun di atas Greener Payments Partnership (GPP) yang dibentuk oleh Mastercard dan produsen kartu Gemalto, Giesecke + Devrient dan IDEMIA pada tahun 2018 untuk membangun praktik terbaik lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik PVC pertama kali dalam pembuatan kartu. 

Enam miliar kartu pembayaran diproduksi setiap tahun, biasanya dari PVC.  Kartu-kartu ini diganti rata-rata setiap tiga hingga empat tahun, dengan kartu yang dibuang ke tempat pembuangan sampah di seluruh dunia.

Tujuannya  sederhana, Mastercard ingin membantu bank menawarkan lebih banyak kartu ramah lingkungan kepada konsumen, dan kami mengambil langkah nyata untuk mewujudkan perubahan itu. 

“Dengan cara ini, semua orang mendapat manfaat – lebih baik bagi lingkungan, lebih baik untuk bisnis dan memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berkembang, “kata Ajay Bhalla, presiden Cyber ​​& Intelligence, Mastercard.

Pihaknya senang melihat upaya mendapatkan daya tarik di begitu banyak bagian dunia dan berharap lebih banyak organisasi akan bergabung.  “Karena kami secara kolektif menggunakan kekuatan kami untuk kebaikan untuk mengatasi tantangan lingkungan yang mendesak ini, ungkap Anjay Balla.

Perusahaannya  senang dapat bermitra dalam prakarsa lingkungan yang penting ini dengan DBS Eco Card baru, kartu kredit pertama di Asia yang terbuat dari asam polylactic – bahan polimer terbarukan dan biodegradable yang tidak memancarkan gas beracun selama pembakaran.

“Dengan DBS dan Mastercard yang berfokus pada keberlanjutan, kartu ini menggarisbawahi komitmen kami untuk melindungi lingkungan sebagai jalan ke depan bagi semua orang, ”kata LIM Him  Chuan, Manajer Umum DBS Bank (Taiwan).

Mastercard terus berinvestasi dalam teknologi dan sumber daya baru untuk membawa pembelajaran dan wawasan baru ke pasar global dalam mendukung pilihan berkelanjutan di semua jalur pembayaran. 

Global DigiSec Lab Mastercard di Inggris, yang bekerja untuk memaksimalkan inovasi produk dan investasi keamanan, telah berinvestasi dalam teknologi yang menganalisis susunan material kartu untuk menilai klaim lingkungan atas nama industri, sehingga pelanggan dapat yakin bahwa kartu Mastercard apa pun yang mereka miliki  dikeluarkan dari bahan yang berkelanjutan telah dievaluasi dan diverifikasi secara independen.  

Selain itu, Lab berinvestasi dalam penelitian akademik terkemuka terkait dengan cara ramah lingkungan untuk mendaur ulang kartu plastik yang ada.

 “Kami tahu pelanggan kami mencari produk yang lebih berkelanjutan dan mencari cara untuk melakukan perubahan positif di dunia,” kata Marco Briata, Kepala Digital & Pembayaran – Crédit Agricole Italia.

Pendekatan ini memungkinkannya untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen tetapi juga menawarkan produk yang sejalan dengan nilai-nilai keberlanjutan perusahaan, tambahnya. 

 

6 Taktik Mengapa Hotel di Swedia Tetap Buka Selama COVID-19  

this formate

Hotel di Swedia punya strategi memikat wisatawan lokal ( Foto: situs Hotel Kungsträdgården)

STOCKHOLM, bisniswisata.co.id: Di tengah krisis yang melanda industri perhotelan ketika negara-negara di seluruh dunia menerapkan larangan bepergian dan mobilitas, Swedia belum memerintahkan penutupan.  

Berlawanan tajam dengan negara-negara Eropa dan sekitarnya, Swedia hanya memberlakukan pembatasan yang relatif lunak, yang berarti sebagian besar hotel dan restoran tetap buka di tengah situasi COVID-19.

Di The Hotels Network, terungkap  banyak hotel di Swedia memahami pentingnya berfokus pada pasar domestik, mengamankan pemesanan langsung, dan mempertahankan Alternative Dispute Resolution (ADR).

Dengan kata lain, hotel beroperasi di dalam industri yang telah dibelokkan dengan serangkaian tantangan dan dinamika yang sama sekali baru;  tapi setidaknya hotel  tetap buka.

Jadi sekarang pertanyaannya adalah: apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman hotel di Swedia ketika pembatasan mulai meningkat secara bertahap di pasar lain?

Sebelum kita menyelami taktik para pelaku bisnis perhotelan di Swedia yang telah bekerja untuk bertahan selama masa-masa ini, mari kita lihat lanskap perhotelan di Swedia dan bagaimana perbedaannya dengan beberapa pasar Eropa.

Memiliki batasan yang tidak sebatas negara-negara Eropa lainnya, dampaknya terhadap industri perhotelan Swedia telah diatasi sampai batas tertentu. 

Melihat perubahan mobilitas dari awal tahun hingga akhir kuartal pertama, Swedia telah melihat perbedaan paling sedikit dengan hanya penurunan -24% berbeda dengan Spanyol dan Italia yang telah menderita penurunan mobilitas -94%  

Tren pemesanan langsung menggunakan dataset The Hotels Network kita dapat melihat bahwa pada bulan Maret hotel-hotel yang berlokasi di Swedia tidak mengalami penurunan dramatis mendadak dalam pemesanan lalu lintas mesin dan pemesanan langsung yang terlihat di spanyol. 

Meskipun ada penurunan yang jelas, kurva lebih bertahap dengan volume pemesanan didukung terutama oleh pengunjung domestik, kemungkinan besar karena mobilitas mereka yang lebih tinggi.  

Tingkat konversi di Swedia juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal April, membantu meningkatkan sedikit volume pemesanan kanar-kamar hotel.

Sebuah studi baru-baru ini oleh Benchmark Alliance yang melihat dampak krisis COVID-19 menunjukkan bahwa ADR di kota-kota seperti Stockholm tetap relatif stabil, menunjukkan bahwa hotel telah menyadari bahwa memangkas suku bunga mereka tidak akan menguntungkan di  jangka panjang.  

Banyak hotel di Swedia mengambil pendekatan yang lebih proaktif untuk membentuk rencana strategis mereka selama krisis.

Dalam lingkungan yang penuh tantangan saat ini, banyak hotel di Swedia telah beralih ke saluran pemesanan langsung mereka dan strategi komunikasi, berusaha untuk meningkatkan konversi online dengan para tamu, dan menempatkan diri mereka pada posisi yang menguntungkan untuk pemulihan.  

Berikut adalah enam strategi yang digunakan hotel-hotel Swedia sekarang yang dapat membantu menginspirasi rencana pemasaran serangan Anda ketika mobilitas mulai pulih di pasar Anda.

1. Memberikan ketenangan pikiran.                             Di dunia di mana sentimen perjalanan cukup sensitif, langkah pertama untuk menangkap pemesanan online harus meyakinkan pengunjung, dan melakukannya bermuara pada dua kata: komunikasi dan fleksibilitas.  

Anda mungkin pernah mendengar dan mengatakannya ratusan kali dalam beberapa minggu terakhir, tetapi ada alasan bagus mengapa perusahaan dan pakar terus menekankan pesan penting ini.  

Memastikan pengunjung daring Anda tahu bahwa Anda telah menerapkan kebijakan pemesanan tanpa khawatir dapat menginspirasi kepercayaan dan meningkatkan kemungkinan mereka bergerak maju dengan pemesanan.  

Ligula Hotel dengan cepat mengambil tindakan dengan menarik perhatian pengguna yang tiba di situs web mereka menggunakan Layer untuk menampilkan pesan seperti itu, menjamin pelanggan melakukan pemesanan yang aman berkat kebijakan pembatalan dan pemesanan ulang yang fleksibel.

2.Mempromosikan penginapan untuk menarik wisatawan lokal.                                                 Dengan perjalanan internasional yang masuk sangat terbatas tetapi mobilitas lokal relatif tinggi, hotel-hotel di Swedia memanfaatkan kesempatan untuk mempromosikan gagasan memiliki penginapan.

Hotel mewah kontemporer dan modern di pusat Stockholm, Hotel At Six oleh Nordic Hotels & Resorts, menyoroti pengalaman memikat yang dapat mereka tawarkan kepada penduduk setempat.  Membuat paket untuk tamu agar merasa dimanjakan, hotel ini menawarkan penginapan yang sempurna bagi mereka yang membutuhkan istirahat dari semua yang terjadi di rumah.

Menggunakan opsi penargetan dalam The Hotels Network tool, pesan Layer pada beranda hanya ditampilkan kepada pengunjung di Stockholm, memungkinkan hotel untuk menampilkan pesan pribadi untuk menarik pasar lokal mereka.

3.Mendorong para tamu untuk menginap lebih lama.                                                                      Karena peluang untuk melakukan perjalanan, terutama perjalanan internasional berkurang secara signifikan, mungkin sulit bagi hotel untuk meyakinkan pengunjung yang pindah akomodasi.

Ketika hotel dihadapkan dengan tingkat permintaan yang jauh lebih kecil, hotel mencari cara untuk meningkatkan nilai rata-rata setiap pemesanan yang mereka terima.  Taktik yang efektif untuk mendorong masa inap yang lebih lama adalah dengan menawarkan manfaat kepada tamu yang sudah memesan untuk memesan malam ekstra dengan Anda.  

Dengan pertimbangan ini, Hotel Kungsträdgården meluncurkan serangkaian Smart Notes dalam mesin pemesanan mereka yang menargetkan pengunjung yang memesan selama 2 malam.  

Pesan-pesan tersebut menyoroti manfaat dari tinggal satu atau dua malam ekstra secara eksklusif untuk para pengunjung, memberi mereka motif untuk memperpanjang pemesanan mereka.

Dengan menggunakan pesan yang ditargetkan, hotel-hotel di Swedia menjangkau tamu yang sudah cenderung berkonversi untuk meningkatkan nilai pemesanan mereka.

4.Mendorong pendapatan langsung melalui voucher hadiah.                                          Menyediakan voucher hotel bagi pengunjung adalah cara cerdas untuk menghasilkan pendapatan langsung sementara permintaan saat ini tetap rendah. 

Menggunakan alat Voucher Hotel kami, Hotel Kungsträdgården meluncurkan Layer dengan fitur voucher terintegrasi, mendorong para tamu untuk membeli voucher hadiah hari ini.  

Bertujuan untuk menarik calon tamu yang berpikir untuk bepergian setelah pembatasan telah dilonggarkan, mempromosikan voucher hotel Anda (terutama dengan harga diskon) akan memungkinkan Anda untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil memberikan insentif kepada pengunjung untuk tetap bersama Anda di masa depan.  

Bagi mereka yang belum dapat menawarkan voucher di situs web hotel mereka, The Hotels Network baru-baru ini merilis alat Voucher Hotel baru, yang memungkinkan pelaku bisnis perhotelan untuk dengan mudah membuat dan memamerkan opsi voucher mereka.

5.Memanfaatkan teknologi untuk membuat keputusan penetapan harga yang cerdas Menawarkan beberapa diskon atau promosi untuk merangsang permintaan potensial tentu saja sesuatu yang dapat Anda bangun ke dalam rencana tindakan Anda.  

Namun, menawarkan penjualan terselubung kepada semua pengunjung Anda mungkin bukan langkah yang paling cerdas.  Di Swedia, tampaknya para pelaku bisnis perhotelan telah memahami pentingnya menjaga strategi diskon mereka di bawah kendali untuk mempertahankan ADR yang tinggi.

Salah satu taktiknya adalah memanfaatkan teknologi AI, seperti produk pembelajaran mesin Jaringan Hotel Oraculo, sehingga Anda dapat mengelompokkan lalu lintas situs web hotel Anda secara real time.

Hal ini berdasarkan niat pembelian, mulai dari pengguna yang memiliki niat rendah (mereka yang tidak mungkin mengkonversi) menjadi tinggi  Pengguna -intent (mereka yang paling mungkin untuk mengkonversi).  

Teknologi ini memungkinkan Anda untuk mempersonalisasi pengalaman situs web secara otomatis untuk setiap pengunjung dengan pesan dan penawaran terkuat dan paling relevan. 

Hal Ini berarti bahwa Anda dapat memutuskan untuk hanya menampilkan penawaran kepada pengguna yang benar-benar membutuhkan insentif tambahan untuk melakukan pemesanan, menghasilkan penghematan dalam biaya promosi.  

Sebaliknya, alih-alih menawarkan diskon kepada pengguna berniat tinggi yang cenderung melakukan pemesanan, Anda dapat mengkomunikasikan pesan yang menarik seperti mempromosikan kategori kamar yang lebih tinggi atau tinggal lebih lama untuk meningkatkan nilai pemesanan rata-rata.

6.Membangun komunitas pengikut yang kuat. Selain memanfaatkan permintaan perjalanan apa pun yang ada untuk mendapatkan pemesanan langsung, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memikirkan bagaimana Anda dapat membangun kumpulan pelanggan setia yang kuat untuk masa depan.

Tidak mengherankan, di Swedia, tingkat konversi pemesanan situs web hotel telah terpukul beberapa minggu terakhir ini, meskipun sedikit lebih rendah daripada di pasar lain.  

Dengan meningkatnya ketidakpastian di benak pengunjung, banyak yang tidak siap untuk mengkonfirmasi reservasi hari ini, tetapi hotel menemukan cara lain untuk menghasilkan keterlibatan dengan pengunjung situs web mereka.  

Contoh di atas menunjukkan bagaimana Hotel C Stockholm memanfaatkan fitur berlangganan The Hotel Network untuk meluncurkan Layer terintegrasi  menangkap email dan menumbuhkan basis pelanggan buletin mereka.  

Dengan situasi saat ini, masuk akal untuk mengumpulkan pelanggan yang ikut serta agar pengunjung dapat diperbarui melalui email tentang perkembangan di hotel Anda atau penawaran eksklusif. 

Dengan terus memelihara pelanggan  dengan cara ini, Anda diharapkan dapat mengubah lebih banyak pengunjung situs web menjadi pendukung brand yang loyal.

Banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman hotel Swedia pada saat properti terbuka meski pembatasan perjalanan masih berlaku. Sadar akan gambaran yang lebih besar, mereka telah membentuk rencana strategis mereka dengan tujuan spesifik dalam pikiran. 

Terlepas dari penurunan saat ini dalam perjalanan dan permintaan internasional, hotel-hotel ini telah menyesuaikan taktik pemasaran mereka untuk membantu mereka menghadapi badai.

Tidak pernah terlalu dini untuk mulai merencanakan langkah Anda selanjutnya.  Tidak masalah jika properti Anda ditutup atau masih terbuka untuk bisnis.

Situs web Anda selalu ada sebagai jendela terpenting untuk berkomunikasi dengan tamu dan calon tamu, dengan kontennya yang berpotensi perlu diperbarui setiap hari. 

Sekarang adalah waktu untuk memastikan Anda siap untuk mengaktifkan kampanye pemasaran yang dibuat dengan hati-hati, begitu Anda memiliki konfirmasi kapan pintu hotel Anda akan dibuka kembali 

 

 

 

Yuk Persiapkan Normal Baru Dalam Bidang Pemasaran

this formate

Pasca COVID-19 dunia pemasaran dan cara beriklan juga berubah. ( Foto: unsplash.com/Joshua Earle).

JAKARTA. bisniswisata.co.id: Beberapa bulan terakhir telah sangat menantang bagi semua orang saat menghadapi pandemi COVID-19.  Pada hari ini, Pemerintah India telah berkomitmen untuk perang ganda, yaitu, menyelamatkan nyawa dan membawa ekonomi kembali ke jalurnya. 

Karena bisnis adalah bagian integral dari ekonomi, sekarang sangat penting bagi pemasar untuk menilai kembali tanggung jawab kita untuk menjangkau konsumen dengan mengingat normal baru.  

Di kutip dari newsroom.mastercard.com, Manasi Narasimhan, Wakil Presiden, Pemasaran dan Komunikasi, Asia Selatan, Mastercard mengungkapkan pentingnya bahasa daerah yang membuat komunikasi ini jauh lebih personal dan berdampak.

“Sebagai seorang pemasar, saya percaya bahwa pemasaran akan melalui perubahan besar, bukan evolusi tetapi mutasi (perubahan cepat, tahan lama pada DNA),” tulisnya. Di bawah ini adalah beberapa efek dari mutasi ini: –

Dari pesan ‘beli-sekarang’ hingga empati 

Konsumen tidak pernah memiliki kesabaran berfikir atas gencarnya ajakan ‘beli sekarang’ dari pemasar.  Namun, keadaan akibat COVID-19 telah menjadikan pemasar untuk menjadi sensitif dalam menjangkau  konsumen mereka dan yakin akan selalu ada waktu untuk menjual.

Saat ini, waktunya adalah untuk melayani dunia yang membutuhkan kita.  Dan jika kita tidak dapat melayani, setidaknya janganlah kita menjadi oportunistik dan mendorong produk yang dirancang khusus di sekitar COVID-19.

Bahasa daerah dalam komunikasi juga harus dipertimbangkan. Pasalnya saat lockdown, orang India memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu di media sosial tidak seperti sebelumnya.  Baik itu pelajaran kebugaran dan kecantikan, resep favorit mereka, kiat mengelola pekerjaan dari rumah, atau tetap mengikuti berita dan pandangan terbaru.

Pokoknya media sosial telah menjadi media yang disukai. Ini berarti bahwa sebagian besar pengguna yang tidak berbahasa Inggris juga dapat mengekspresikan diri mereka di dunia digital melalui konten bahasa daerah. 

Sesuai laporan KPMG-Google, pengguna internet berbahasa India diperkirakan akan menyumbang hampir 75% dari basis pengguna internet India pada tahun 2021. 

Laporan ini juga menyatakan bahwa mayoritas dari 200 juta pengguna berikutnya akan datang dari kota-kota tingkat 2+ yang lebih memilih untuk  mengkonsumsi konten dalam bahasa daerah. Hal ini adalah kesempatan penting bagi pemasar yang bertujuan untuk memperluas jangkauan konsumen mereka ke Pan-India.  

Sebagai contoh, Mastercard memiliki tujuan untuk melengkapi 10 juta pedagang dengan infrastruktur penerimaan pembayaran digital pada 2020-21.  Langkah penting menuju tujuan ini adalah memperkuat pendidikan keuangan dan inklusi di negara India.

Kami juga memperkuat kesadaran tentang keselamatan, keamanan, dan kemudahan pembayaran digital di kota tingkat 2 dan 3.  Bahasa daerah membuat komunikasi ini jauh lebih personal dan berdampak.

Gambaran tawaran di dunia iklan agar sesuai dengan dunia nyata adalah perdebatan abadi,  apakah masyarakat menginspirasi iklan atau iklan menginspirasi masyarakat.  

Saya percaya ini adalah jalan dua arah.  Ketika lingkungan kita berubah di dunia Post COVID-19 nanti, penting untuk mengubah cara kita menggambarkan dunia dalam iklan kita. Misalnya, akankah karakter dalam iklan mematuhi jarak sosial?. 

Apakah para model iklannya akan memakai masker ?  Akankah kita menunjukkan tempat ramai?  Ini adalah beberapa pertanyaan rumit yang perlu dijawab pemasar dalam beberapa hari mendatang. 

Jika kami memproyeksikan dunia iklan yang benar-benar berbeda dari dunia nyata, iklan tidak akan pernah beresonansi dengan konsumen.

Jangan lewatkan keamanan merek – Dengan volume data yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tanggung jawab terkait, pemasar harus meyakinkan orang aras sebuah  merek, alih-alih jadi penjaga merek. 

Pada saat yang sama, mereka perlu mewaspadai beberapa risiko termasuk keamanan dunia maya, privasi data, reaksi konsumen, gangguan sosial budaya dan sebagainya. Risiko-risiko ini selanjutnya akan tumbuh di dunia pasca  COViD-19  Karena itu, waktunya lebih siap dan proaktif.

 

 

Wulenpari, Dimana Irama Kehidupan Melambat  

this formate

Penulis ( kedua kiri) berfoto di depan pinru masuk Wulenpari. ( Foto- foto; Yudarwita Maharajo)

Oleh: Yudarwita Maharajo

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id : World Health Organization (WH) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan sikap menilai ke depan, larangan perjalanan internasional akan tidak berlaku.

Negara-negara di dunialah yang harusnya berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona di wilayah perbatasan mereka.

Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan larangan perjalanan tidak berkelanjutan. Akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang karena sektor ekonomi harus terbuka. Orang harus bekerja dan perdagangan harus dilanjutkan.

Sementara itu di tempat lain Menteri Pariwisata Indonesia berpendapat, bagi komunitas warga senior, desa wisata bisa menjadi tujuan wisata karena berkumpul bersama komunitas, mempelajari aktivitas budidaya tanaman dan menikmati alam pedesaan membuat tingkat kebahagian meningkat, termasuk imun tubuh.

Sekitar 70.000 an desa di Indonesia bisa menjadi tempat belajar orang kota seperti lomba tangkap ikan, sepak bola lumpur, tangkap bebek, outbound, dan trekking. Dampak ekonomi bergandanya akan luar biasa. 

Apalagi di tengah pandemi global COVID-19, meski desa wisata kini sepi pengunjung Live In, namun banyak individu, komunitas bahkan perusahaan yang tetap mengagendakan untuk datang ke desa-desa wisata di tanah air.

Merujuk kepada anjuran-anjuran di atas, Wulenpari mungkin salah satu desa wisata yang patut ditampilkan. Berlokasi di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, Jawa Tengah, Wulenpari baru dibuka pada Juli 2018.

Berjarak 25 KM dari jantung Kota Yogyakarta, lokasi Wulenpari sangat mudah ditemukan. Pengunjung hanya perlu mengambil jalan utama Jogja-Wonosari hingga sampai di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sejam berkendara dari pusat kota Yogya, pengunjung akan mendapati gerbang bertuliskan “Jelok”.

Belok kiri melewati gerbang ini, orang akan menyusuri sebuah jalan sempit beraspal. Nanti akan sampai di persimpangan segitiga, tengok ke kiri kita sudah bisa melihat plang nama Jelok dan Wulenpari.Ya, kedua desa wisata ini.berdampingan satu sama lain, hanya dipisahkan oleh sungai Oyo.

Menyusuri jalan setapak, berjumpa pintu gerbang, ruang menerima tamu atau layaknya ‘lobby hotel’ dan rumah desa alias kamar-kanar tamu ala Ndeso.

 

Berperahu menyusuri sungai Oyo, salah satu aktivutas yang bisa dinikmati, disambut langsung Aminudin Aziz, pemilik Wulenpari yang menyediakan ruang kesenian terbuka dan makan siang dengan menu rumahan warga desa.

Berbeda dengan destinasi wisata umumnya di Gunung Kidul yang berupa wisata pantai, Wulenpari tidak berlokasi di pantai, namun terletak di tepi Sungai Oyo.

Melewati jembatan gantung kita disambut oleh jalan setapak berbatu melewati lahan yang masih alami. Bau pepohonan membuat orang langsung merasa masuk ke alam pedesaan. 

Dikanan, di antara alang-alang tampaki pemandangan Sungai Oyo yang tenang, sementara di kiri berbaris pepohonan serta tanaman yang hijau segar.Kejutan pertama menyambut kami: seekor “luwing” atau “titinggi” menjalar di rumputan, besaaar sekali.

Kami belum pernah melihat kaki seribu sebesar itu, panjangnya sekitar 20 cm!.Hanya seratusan meter berjalan pengunjung sampai di kawasan Wulenpari. Adalah sebuah pondok bekas kandang sapi yang pertama menyambut.

Beberapa orang tampak sedang makan siang disana saat kami tiba. Terbuka, dengan tiang-tiang jati yang dibiarkan alami sungguh menyenangkan bersantap sambil memandang sungai.

Ya, di Wulenpari kita bisa datang untuk wisata kuliner saja dan bisa juga untuk menginap. Saat ini ada 5 kamar dan 2 rumah untuk akomodasi selain dapur dengan area tempat duduk terbuka tempat prasmanan disuguhkan, pendopo besar yang dapat
memuat banyak orang, gazebo dan beberapa tempat lagi yang lebih kecil.

Semua terbuat dari rumah bekas tua dan kayu-kayu tua, berupa bangunan tradisional Jawa
mirip limasan mini dan gladak yang berdiri sendiri. Berjarak satu sama lain, diantaranya terdapat tanaman perdu dan hamparan rumput hijau yang asri terawat.

Dapur menyediakan berbagai masakan lokal seperti sayur lombok hijau, orek tempe
dan krecek, telur dadar, tiwul, singkong goreng dan banyak lagi. Sayuran diperoleh dari petani setempat dan diolah tanpa penyedap rasa, hanya mengandalkan bumbu-bumbu dapur segar.

Aminudin Aziz, salah satu penggagas Wulenpari, mengatakan bahwa semua bahan makanan di resto harus dibeli dari petani sekitar, kecuali bahan-bahan yang tidak tumbuh atau diproduksi oleh warga disitu.

Ada sekitar 70 petani yang dibina oleh Wulenpari untuk menanam tanaman organik. Ini tentunya adalah salah satu bentuk Wulenpari untuk mendukung kesejahteraan petani setempat. Hasil panen sebagian diserap oleh Wulenpari.

Setiap 35 hari sekali ada pasaran disana, tempat
petani menjual sayur mayur segar dan berinteraksi dengan pengunjung. Aziz sebelumnya ikut merintis dan mengelola Desa Wisata Jelok namun seiring
perkembangannya Jelok kemudian diserahkan kepada warga desa.

Suatu ketika terjadi badai dan banjir besar di Sungai Oyo yang memporak-porandakan bantaran
sungai. Warga desa pun bergotong-royong memperbaiki dan menanam pepohonan.

Setelah bantaran sungai rapih kembali timbul ide dari warga desa untuk membuat tempat beristirahat sekaligus berwisata mengingat letaknya di tepi sungai yang memiliki
potensi.

Akhir 2017 Wulenpari mulai dibangun. “Kami memulai dari nol, bahkan minus… tetapi saya suka sekali tempat ini” kata Aziz. Tentu passion ini jugamerupakan alasan kuat berdirinya Wulenpari, yang artinya untaian padi dalam bahasa
Jawa.

Aziz berencana menambah beberapa pondok lagi di lahan seluas 1 hektar ini dan mengembangkan wisata sungai. Hal istimewa di Wulenpari adalah adanya “amphiteather” mini di tengah kawasan, yang dapat menampung sekitar 50 orang. Setiap bulan purnama diadakan pertunjukan seni “Purnama di Wulanpari”.

Siapa saja boleh tampil disini. Para pengisi acara tidak perlu membayar sewa tempat dan Wulenpari juga tidak menyediakan honor. Tari Bedaya
klasik karya Sinuhun Ngarso Dalem IX pernah dipentaskan disini.

Mahasiswa-mahasiswa Institut Seni Tari Yogyakarta juga pernah tampil beramai-ramai.
Selain tarian dari Yogyakarta, Kalimantan, Papua, Aceh dan Jawa Timur yang ditampilkan para mahasiswa dari daerah asal tarian tersebut, ada juga musikalisasi puisi.

Semua penampilan tersebut adalah hasil olah kreatifitas mahasiswa dalam merespons lingkungan. “Purnama merupakan siklus kehidupan yang penting. Saat yang tepat untuk
menghayati dan mensyukuri nikmat Tuhan. Spirit nasionalisme, kemerdekaan dan persatuan bisa kita resapi bersama disini,” ujar Aziz.

Aziz berharap, program Purnama di Wulensari bisa menjadi gerakan berkesenian, gerakan sosial untuk mengembalikan ruh berkesenian, dimana para seniman dapat melakukan kegiatannya, bukan berkegiatan hanya saat ada permintaan.

Suatu harapan yang tidak berlebihan. Program budaya ini membuat pantas mengatakan
bahwa Wulenpari berada selangkah di depan dibandingkan restoran dan penginapan
serupa lainnya yang ada. Nature and culture.

Tidak jauh dari amphitheater ada jalan menurun menuju Sungai Oyo. Beberapa perahu kayu tertambat disitu. Ya, pengunjung dapat menyewa perahu untuk menyusuri sungai tenang yang membelah perbukitan karst dan melalui Desa Beji ini. 

Bukan cuma berperahu, ada rombongan yang memilih berkemah di tepi sungai. Pengunjung lain memanfaatkan bantaran sungai untuk sekedar duduk-duduk ngopi sambil berdiskusi santai.

Asyik! Ada berbagai kegiatan lain yang bisa dilakukan disini seperti outbound,trekking, melihat pembuatan topeng kayu, gathering, belajar bertanam organik, outing perusahaan dan lain lagi.

Saat kami berkunjung ada rombongan anak-anak SD dan guru-guru yang sedang melakukan kegiatan keagamaan disana.Wulenpari cocok untuk keluarga, untuk solo traveller, maupun warga senior. Namun, bagi yang live-in harus siap-siap karena walaupun bergaya resort, Wulenpari berkonsep“ndeso”. 

Kalau Anda mengharapkan kamar resort dengan fasilitas luxurious, bukan ini tempatnya. Kamar-kamar di tepi sungai ini hanya berupa pondok-pondok kayu rustic yang seluruhnya terbuat dari kayu lawas termasuk lantainya. Ada yang berkapasitas 2,4 dan 10 orang.

Anda harus sedikit adventurous kalau mau tinggal disini karena tidak ada fasilitas standar hotel di dalam kamar. Kasur pun sekedar digelarkan di lantai dan ada celah serta lubang di antara papan-papan dinding dan lantai kayunya!.

Namun, kamar mandinya, baik yang tradisional maupun yang modern, cukup bersih.Nah, Anda siap untuk menepi sejenak dan merasakan denyut kehidupan yang

melambat, pelaaan, menghirup udara bersih pedesaan serta menikmati lauk pauk khas Gunung Kidul yang sehat dan segar?  Nah sudah siap melambatkan aktivitas diri Anda ? Datanglah ke Wulenpari! Menapaki jalan setapak menuju pulang seakan masih terngiang pembacaan puisi oleh salah satu penampil:

  • Aku adalah harum sucinya tanah
  • dan genderang nyalanya api
  • Aku adalah nyawanya semua insani
  • Dan semangat tapabratanya para pertapa”

Bali Jadi Destinasi Wisata Terbaik Dunia Pilihan Wisatawan

this formate

DENPASAR, bidniswisata.co.id: Bali meraih posisi empat besar destinasi wisata terbaik dunia dari 25 destinasi terbaik menurut TripAdvisor. Situs travel planning and booking itu menobatkan Pulau Dewata diposisi keempat di bawah, London (Inggris), Paris (Perancis), Crete (Yunani) dalam penghargaan Travellers Choice untuk kategori Destinasi Terbaik Dunia.

Keindahan Bali dalam situs www.tripadvisor.com diibaratkan sebagai kartu pos yang hidup bahkan bagai sepotong surga di Indonesia

Bali menawarkan wisata pantai dengan pasir putih yang bersih, wisata selam termasuk bisa melihat bangkai kapal perang dunia II, wisata budaya, hingga wisata spa dan yoga di Ubud.

Merespon hal tersebut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyambut baik ditetapkannya Bali sebagai salah satu destinasi terbaik dunia versi tripadvisor.

Wishnutama berharap penetapan itu semakin memotivasi Indonesia untuk bisa menumbuhkan Bali-Bali baru. Bahkan mendorong upaya untuk meningkatkan pariwisata Bali agar semakin ramah dan berkelanjutan.Terlebih selama ini Bali sudah dikenal di dunia sebagai destinasi alam dan budaya yang banyak difavoritkan wisman.

Di era pandemi COVID 19 ini, kata Wishnutama, dunia pariwisata Bali telah dibuka secara bertahap mulai dari 9 Juli 2020 untuk lokal, 31 Juli 2020 untuk wisatawan nusantara, dan rencananya September 2020 akan dibuka bagi wisatawan mancanegara.

“Diharapkan setelah di buka, penerapan protokol kesehatan dapat tetap dijalankan dengan disiplin. Jangan sampai setelah dibuka timbul gelombang kedua COVID-19 hal itu yang harus dihindarkan, lantaran pariwisata itu adalah bisnis kepercayaan,” ujarnya.

Travelers’ Choice Best of the Best 2020 Award Winners ini terdiri dari sejumlah kategori yaitu hotels, popular destinations, trending destination, emerging destination, pantai, atraksi, restoran, penerbangan dan kategori pengalaman (experience).

Di urutan 5 hingga 14 dalam kategori ini adalah, Roma (Itali), Phuket (Thailand), Sicily, Italy, Sa Calobra, Majorca, Spanyol, Istanbul, Turki, Goa, India, Dubai, UAE, Republik Dominika, Bangkok, Thailand.

Posisi 15 – 25 adalah Hanoi, Vietnam, Praha, Cekoslovakia, Hoi An, Vietnam, La spiaggia, Rhodes, Kuba, Siem Reap, Kambodia, Marrakech, Morocco, Lisbon, Portugal, Tokyo, Kinkakuji , Kyoto, Jepang, Liberty, New York City.

Sementara kategori Destinasi Trending, versi Tripadvisor  Lombok, Nusa Tenggara Barat di posisi ke enam. Sementara nomor satu hingga no: 5 adalah Kochi (Cochin), India, Luzon, Philippines, Porto, Portugal dan Porto Seguro, Brazil.

 

 

 

UNWTO: 40% Tujuan Wisata Global Mulai Dibuka Kembali

this formate

Sektor pariwisata mulai menggeliat (foto: UNWTO)

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) melaporkan 40% tempat wisata di seluruh dunia mulai melonggarkan aturan pembatasan. Meski demikian, dari 87 tempat wisata yang mulai buka, baru 4 yang betul-betul melonggarkan seluruh aturan pembatasan; sisanya masih menerapkan buka sebagian perbatasan.

Data ini menunjukkan bahwa restart pariwisata yang bertanggung jawab tengah berlangsung di seluruh dunia. Terbukti dengan makin banyaknya tempat tujuan wisata, termasuk di Indonesia, yang mulai buka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan khusus pariwisata yang diterbitkan pemerintah setempat. 

Menurut analisa terkini UNWTO, seperti dilansir dari traveldailynews 40% dari seluruh destinasi wisata di dunia mulai melonggarkan pembatasan yang sebelumnya diberlakukan ketat sebagai respons terhadap COVID-19.

Dimulainya kembali bisnis pariwisata

Badan khusus PBB untuk pariwisata ini telah memantau respons industri terhadap pandemi Corona sejak awal krisis yang mendera seluruh dunia. Catatan terakhir yang keluar pada 19 Juli lalu menunjukkan sudah 22% tempat tujuan wisata di dunia yang mulai melonggarkan aturan pembatasan perjalanan atau naik dari sebelumnya hanya 3% pada 15 Mei. 

Hal ini menunjukkan ada tren adaptasi yang meskipun lambat namun terjadi secara berkelanjutan. Sektor pariwisata mulai kembali bergeliat dengan tetap memperhatikan konsep pariwisata yang bertanggung jawab.

Data ini sekaligus menunjukkan pariwsata global telah mampu membangun kepercayaan sehingga orang mulai merasa aman dan nyaman kembali berwisata. Itulah kuncinya, demikian menurut UNWTO: “Sambil kita terus bekerja sama mengadaptasi diri dengan realitas baru yang kita hadapi saat ini.” 

UNWTO berpendapat restart pariwisata yang bertanggung jawab sangat mungkin untuk dijalankan. “Restart pariwisata dapat dilakukan secara bertanggung jawab. Caranya, dengan tetap memperhatikan kesehatan masyarakat sambil menjalankan bisnis dan menyediakan mata pencaharian,” kata Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili. 

Saat pmbatasan perjalanan mulai dilonggarkan, menurut Zurab Pololikashvili, kerjasama internasional menjadi sangat penting. “Dengan cara ini, pariwisata global dapat kembali memperoleh kepercayaan dari orang-orang. Itulah fondasi penting dan perlunya kita bekerja bersama beradaptasi dengan realitas baru.”

Menurut laporan UNWTO tempat-tempat wisata yang menjadi tulang punggung perekonomian cenderung segera melonggarkan aturan pembatasan. Data menunjukkan dari 87 tempat tujuan wisata yang baru-baru ini mengurangi pembatasan, 20 di antaranya merupakan negara-negara berkembang kepulauan kecil (SIDS/Small Island Developing States). 

Di sana, pilar ekonomi bergantung pada sektor pariwisata termasuk dalam tingkat penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan.

Data juga menunjukkan sekitar separuh atau 41 tempat tujuan wisata tersebut berada di Eropa. Ini sekaligus menegaskan peran utama Eropa untuk mendorong dimulainya kembali pariwisata yang bertanggung jawab.

Meski demikian, masih banyak tempat tujuan wisata yang nampaknya akan lockdown untuk jangka waktu lama. Dari 115 tujuan wisata yang masih ditutup untuk pelancong internasional, sebagian besar atau 88 tempat sudah menutup perbatasan selama lebih dari 12 minggu.

Sekadar catatan, dampak ekonomi akibat pembatasan perjalanan ini pun luar biasa besar. Minggu ini, UNWTO merilis data yang memuat laporan tentang dampak pandemi pada pariwisata, baik dari sisi jumlah turis yang datang maupun pendapatan yang hilang.

Hingga akhir Mei saja, pandemi COVID-19 telah menyebabkan hilangnya pendapatan sampai US$ 320 miliar , setara dengan tiga kali lipat kerugian akibat krisis ekonomi global pada 2009 silam. 

 

 

Kereta Priority Argo Parahyangan Kembali Beroperasi

this formate

Rangkaian gerbang Kereta Argo Parahiyangan melayani Jakarta-Bandung dan sebaliknya.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) kembali mengoperasikan Kereta Priority Argo Parahyangan yang selama ini tidak berjalan akibat mewabahnya virus Corona (Covid-19).

Kereta Priority Argo Parahyangan akan mulai beroperasi per tanggal 2 Agustus 2020 dengan menerapkan protokol Adaptasi Kebiasaan Baru. Para Penumpang diharuskan untuk tetap mematuhi persyaratan sesuai yang diatur oleh Gugus Tugas Covid-19, yakni harus dalam kondisi sehat, tidak sedang menderita flu, baik batuk, maupun deman dengan suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celcius.

Totok Suryono, Direktur Utama PT Kereta Api Pariwisata menjelaskan bahwa dengan beroperasinya kembali Kereta Priority Argo Parahyangan pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru diharapkan bisa memenuhi kerinduan para pelanggan setia Kereta Priority yang ingin melakukan perjalanan dengan Kereta Priority. 

“Kami siap menyambut para pelanggan setia kami dengan tetap memberikan pelayanan yang terbaik, serta aman dan nyaman pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru dan juga melakukan beberapa penyesuaian pelayanan di atas kereta sesuai dengan protokol yang dianjurkan oleh pemerintah”, ujar Totok Suryono.   

Bagi setiap penumpang KA yang ingin melakukan perjalanan wajib menggunakan masker selama berada di area stasiun maupun di atas KA dan memakai Face Shield yang akan disediakan oleh petugas Kereta Priority Argo Parahyangan saat akan naik ke atas KA.

Penumpang agar mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak saat berada di stasiun dan diatas KA serta mencuci tangan. Para penumpang dihimbau untuk menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket sebagai pelindung diri, mengurangi kegiatan berbicara saat berada di dalam KA untuk menghindari penyebaran virus melalui droplet.

Adapun jadwal perjalanan Kereta Priority Argo Parahyangan sebagai berikut:

Bandung- Gambir :

  1. KA 47A Berangkat  Bandung Pukul : 18.20 Wib, Tiba di Gambir Pukul : 21.15 Wib dengan tangal perjalanan: 2,9,17,23 dan 30 Agustus 2020.
  2. KA 37A Berangkat Bandung Pukul : 05.25 Wib, Tiba di Gambir Pukul : 08.20 Wib dengan tanggal perjalanan : 3-31 Agustus 2020

Gambir – Bandung 

  1. KA 46A Berangkat Gambir Pukul : 18.10 Wib, Tiba di Bandung Pukul : 21.05 Wib dengan tangal perjalanan : 3,7,14,21,28 Agustus 2020.
  2. KA 48A Berangkat Gambir Pukul: 18.48 Wib, Tiba di Bandung Pukul : 21.43 Wib dengan tanggal perjalanan : 3-31 Agustus 2020.

Untuk Pemesanan tiket dan cek ketersediaan tempat duduk di setiap perjalanannya bisa melalui aplikasi KAI Access. Ilud Siregar, Humas PT KA Pariwisata mengajak para pelanggan setia Kereta Priority yang memiliki rencana bepergian ke Bandung di akhir pekan ini, sudah bisa memesan tiketnya melalui aplikasi KAI Access dengan harga tiket Rp 300.000,- per penumpang.

Selain itu, pelanggan setia juga tidak perlu khawatir sulit mencari layanan Rapid Test karena saat ini KAI bekerjasama dengan Rajawali Nusindo, grup usaha Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menyediakan layanan Rapid Test Covid-19 seharga Rp.85.000,- yang tersedia di Stasiun Gambir, Stasiun Bandung dan beberapa stasiun lainnya.

 

 

 

 

Kalungan Bunga Bagi Penumpang Domestik, Pertanda Pariwisata Dibuka

this formate

BALI, bisniswisata.co.id –Bertempat di terminal kedatangan domestik, sebanyak 89 orang penumpang penerbangan rute Jakarta- Bali yang mendarat pukul 10.18 menit, mendapat sambutan khusus dari Wakil Gubernur Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, dan sejumlah pejabat penting lainnya.

Sambutan dengan pengalungan bunga, serangkaian proses tahapan ke dua pembukaan kepariwisataan Bali masa Pendemi COVID-19. Seperti diketahui, pembukaan tahap pertama 9 Juli 2020, bagi masyarakat Bali berwisata antar daerah se Bali.

Tahap ke dua 31 Juli, Bali dibuka bagi pengunjung dari luar Bali dengan sejumlah persyaratan. Antara lain bebas COVID-19 dengan menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction), minimum hasil non-reactive rapid test dari instansi yang berwenang.

Bagi pengunjung Bali untuk berwisata, masa berlaku Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test untuk berkunjung ke Bali adalah paling lama 14 (empat belas) hari sejak Surat Keterangan tersebut dikeluarkan.

Wisatawan yang telah menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test yang masih berlaku, tidak lagi diwajibkan melakukan uji swab atau rapid test, kecuali mengalami gejala klinis COVID-19.

Wisatawan yang tidak dapat menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR atau rapid test di Bali.

Wisatawan yang hasilnya reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR di Bali. Selama menunggu hasil uji swab, wisatawan menjalani proses karantina di tempat yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Wisatawan yang positif COVID-19 berdasarkan hasil uji swab akan dirawat di fasilitas kesehatan yang ada di Bali. Biaya uji swab, rapid test, karantinaatau fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab wisatawan.

Sebelum keberangkatan ke Bali, setiap wisatawan berkewajiban mengisi aplikasi LOVEBALI yang dapat diakses pada laman https://lovebali.baliprov.go.id.

Menurut Co. General Manager Commercial PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rahmat Adil Indrawan dalam periode 26 s.d 30 Juli bandara Ngurah Rai telah melayani 17.757 penumpang rute domestik menggunakan 278 penerbangan.

Jumlahnya naik 17% dibandingkan pekan sebelumnya (19-23 Juli 2020), sebanyak 15.153 penumpang dengan 256 penerbangan. Hingga tanggal 30 Juli, bandara Ngurah Rai melayani 73.875 penumpang, dengan rata-rata harian 2.463 penumpang.