Lokakarya Daring ATL : Tradisi Lisan untuk Pemajuan Kebudayaan 

this formate

            Wayang Machine karya Krisna Murti

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah   desa   wisata   dilahirkan   Kemenparekraf, kini lahir desa   pemajuan kebudayaan dari Kemendikbud. Di desa-desa pemajuan kebudayaan itulah tradisi lisan akan dikembangkan,” ujar Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid.

Menurut dia, adanya desa pemajuan kebudayaan ini berkaitan dengan terbitnya Undang-Undang Pemajuan   Kebudayaan sejak 2017 yaitu serangkaian upaya yang bertujuan meningkatkan ketahanan budaya   dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia.

Karena undang-undang tersebut,  Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru berjanji akan  melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan karya tradisi lisan melalui media baru dengan tetap menjaga pakem sesuai akar tradisi. 

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. ( foto: Pikiran Rakyat)

“Kami akan memanfaatkan multimedia audiovisual – seperti  televisi, video, podcast,” ujar Ahmad Mahendra dalam Lokakarya Daring Asosiasi Tradisi Lisan Seri 3, Kamis (30/7). 

Direktorat Perfilman, Musik, dan Media baru Kemendikbud mendapat   tugas mengembangkan, memanfaatkan dan  memublikasikan   karya tradisi lisan melalui kreasi baru, tetapi tetap berbasis pada tradisi. 

Contoh yang disebut  adalah  Wayang  Sunar  (karya   Cok Sawitri  dan  GusPhank dari Bali). Berupa wayang boneka dari anyaman bambu yang digerakkan manusia, didukung sunar (cahaya) untuk mempertegas gerak boneka. Ada pula Wayang Machine karya Krisna Murti (Bandung),yang memadukan wayang dan teknologi, simbol klasik dan modern.   

Krisna Murti, perupa dari Bandung bekerja sama dengan Arya Sanjaya sebagai penulis skrip. Kedua  jenis  wayang modern itu tetap menggarap   Mahabarata dan Ramayana, tetapi dengan penampilan milenial agar dapat diterima kalangan muda. 

Program Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru tersebut sejalan dengan yang disampaikan sejarawan Mukhlis PaEni dalam Lokakarya Daring ATL Seri 1 (16/7) lalu. 

Dalam lokakarya yang berlangsung  lima seri hingga 13 Agustus 2020 tersebut, Pembina Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) tersebut mengatakan, tradisi lisan mau tidak mau harus berubah mengikuti perkembangan zaman.

“Cara bertutur dalam transformasi tradisi lisan mau tak mau harus berubah dan menggunakan teknologi media bertutur yang baru. Jangkauannya tidak lagi sebatas lingkup   komunitas pendu-kungnya, tapi  melintas benua di panggung global,” ujar Mukhlis PaEni. 

Teknologi visual dapat menjadi instrumen nafas buatan bagi berbagai atraksi ekspresi lisan dan teknologi animasi komputer dengan  mengguna –kan kaidah-kaidah sinematografi yang tepat.  

“Kita bisa memasuki sebuah era baru   bagi penuturan tradisi lisan,” katanya.Dia mencontohkan film animasi Malaysia Upin dan Ipin. Dalam salah   satu judulnya, film untuk anak-anak   itu menceritakan tentang keris dalam   budaya   Melayu   melalui   dongeng   Melayu “Serangan Ikan Todak”.  

Desa Pemajuan Kebudayaan

Nah, bagaimana dengan desa pemajuan kebudayaan? Ternyata sudah lebih dari 300 kabupaten kota yang disiapkan menjadi desa pemajuan kebudayaan.“Sekarang baru 30 desa pemajuan kebudayaan   dilakukan pendampingan karena kondisi Pandemi Covid-19,” ujar Sri Hartini, Setditjenbud.

Namun, untuk 2021, Kemendikbud sudah menyediakan anggaran untuk beberapa desa di 377 kabupaten kota seluruh Indonesia. Menurut catatan penulis, Oktober tahun lalu, dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2019,  Kemendikbud menyelenggarakan Konferensi & Pameran Perencanaan Desa Pemajuan Kebudayaan. 

Konferensi yang berlangsung dua hari itu, hadirkan  delapan desa sebagai perwakilan. Di antaranya Desa Alue Le Mirah (Kabupaten Aceh Utara),   Desa Salawu (Kab.Tasikmalaya,   Jawa Barat), dan Desa Poto (Kabupaten Sumbawa, NTT). Sebagai nara sumber adalah Desa Panggungharjo (Kabupaten Bantul, DIY).

Di desa-desa itu, per Januari tahun   depan, Kemendikbud menempatkan pegiat-pegiat budaya yang telah lulus seleksi. Pegiat budaya tersebut akan bekerjasama dengan para pegiat desa, komunitas budaya, serta tokoh budaya yang ada didesa setempat. 

Kalau kegiatan ini sukses, berarti   objek pariwisata Indonesia tentu bertambah. Kegiatan desa pemajuan kebudayaan ini mengingatkan pada kegiatan desa wisata program Kemenparekraf bertujuan memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi wisatawan yang berkunjung. 

Di desa wisata, para pegiat mendekatkan kegiatan-kegiatan   pedesaan seperti membajak sawah,  menanam padi, memandikan kerbau, juga menanam pohon kopi sampai dengan menyajikan kopi – kepada wisatawan. 

Namun, juga terdapat kegiatan seni   budaya, seperti belajar menari,  membatik, membuat anyaman, belajar gamelan, dan membuat kerajinan yang biasa dilakukan warga desa sehari-hari. Lalu apakah kegiatan desa pemajuan kebudayaan yang  diselenggarakan Kemendikbud tidak   tumpang tindih dengan desa wisata dari Kemenparekraf?

“Justru bagus kalau semua kementerian saling sinergi. Tidak hanya Kemendikbud dengan Kemenparekraf, tetapi juga dengan kementerian lain. Agar hasilnya terasa di tengah masyarakat,” ujar Restu Gunawan, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, yang bertugas mengampu desa pemajuan kebudayaan.

Tradisi Lisan

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL),   penyelenggara lokakarya tersebut,   sebuah yayasan bergiat melindungi warisan budaya, khususnya tradisi lisan.Organisasi yang berdiri sejak 1993 ini berusaha mengembalikan fungsi tradisi lisan di tengah masyarakat.

“Tradisi lisan tentu salah satu objek paling penting dalam pemajuan kebudayaan,” ujar Hilmar Farid. 

Kemendikbud berpegang pada Konvensi UNESCO 2003, warisan budaya tak benda yang termasuk   tradisi lisan, antara lain bahasa,   cerita rakyat, mantera, nyanyian  rakyat, dan seni  teater  rakyat. “Proses pewarisannya dilakukan menggunakan lisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya,” jelas Ahmad Mahendra, Direktur  Perfilman, Musik, dan Media Baru.

Sementara Hilmar menambahkan tradisi lisan tidak hanya masih  relevan pada masa sekarang, tetapi   juga  pada masa depan. “Kita punya   tanggung jawab terhadap warisan budaya yang merupakan nilai-nilai dari leluhur,” tegasnya.

Menurut Sri Haryani, Kemendikbud sudah mencatat 4.521 tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) akan melanjutkan dengan pembuatan  indeks tradisi lisan.

“Kami sedang menyiapkan MOU karena tradisi lisan mampu   menjadi penjaga moral masyarakat pendukungnya “ujar Ketua Umum ATL Pudentia.

Semua tradisi mengajarkan kebaikan, mampu menjadi penengah bahkan solusi masalah. Kalau ada yang mengajarkan keburukan, pasti ada   yang salah. Itulah mengapa ATL   merasa   bertanggung   jawab   untuk melestarikan, yang di dalamnya ada upaya pengembangan, tutup Pudentia.    

 

Bali Deklarasikan Diri Siap Sambut Wisatawan

this formate

Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) oleh Menparekraf.

NUSA DUA, Bali, bisniswisata.co.id:  Sektor pariwisata di Provinsi Bali mendeklarasilan diri siap menyambut wisatawan nusantara (wisnus) untuk kembali menikmati keindahan alam, budaya, dan seni pertunjukan di Pulau Dewata mulai 31 Juli 2020 dalam suasana adaptasi kebiasaan baru.

Hal tersebut dilakukan setelah Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh stakeholder pariwisata Bali menggelar kegiatan Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Peninsula Nusa Dua, Bali, Kamis (30/7/2020).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam sambutannya mengatakan, sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu bidang yang sangat diperhatikan pemerintah. Lantaran dianggap bisa membuka lapangan pekerjaan yang banyak dan menjadi menyumbang devisa yang besar bagi negara.

“Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang nyata bagi seluruh sektor, terutama bagi sektor pariwisata. Sekarang perekonomian sudah mulai dipulihkan,”kata Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan.

Hal ini  menjadi bersejarah karena akan membuka kembali sektor pariwisata Bali. Dengan mempertimbangkan berapa jumlah orang yang positif, berapa banyak zona hijau. Bukan asal membuka, tambahnya.

Dia juga menekankan kepada semua stakeholder pariwisata di Bali, setelah dibuka kembali nantinya sektor pariwisata membutuhkan kerja sama dan kedisiplinan untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Bali hampir semua sudah zona hijau, dan tidak ada zona merah. Kerja sama antara kita penting. Kita harus membangun team kerja untuk itu, protokol kesehatan tidak bisa ditawar,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengapresiasi masyarakat dan Pemerintah Provinsi Bali karena tetap optimistis dan berpikir positif untuk tetap membangun pariwisatanya ke depan.

“Kini, Bali telah siap mengimplementasikan protokol kesehatan pada tatanan era baru. Karena itu, saya sangat berbahagia karena pariwisata Bali siap menyambut wisatawan nusantara kembali. Kami juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia dalam penerapan digitalisasi di kawasan destinasi wisata berbasis Quick Respone Indonesia Standard ( QRIS),” ujarnya.

Menparekraf Wishnutama mengatakan, Kemenparekraf/Baparekraf memberikan pendampingan mulai dari persiapan hingga pembukaan kembali destinasi wisata di Bali. Untuk menguatkan program Sapta Pesona dan Revitalisasi Amenitasnya. Serta memberikan berbagai fasilitas diantaranya alat pendukung kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

“Untuk itu mari bersama-sama menjalankan penerapan protokol CHSE dengan sebaik mungkin untuk menciptakan rasa aman bagi wisatawan dan yakin dengan destinasi wisata kita,” katanya.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, kesiapan Bali untuk membuka sektor pariwisata dilakukan secara bertahap pada 9 Juli 2020 untuk wisatawan lokal Bali dan pada 31 Juli 2020 untuk wisatawan nusantara dan rencananya pada Septermber 2020 akan di buka untuk wisatawan mancanegara.

“Oleh karena itu, kami memberanikan diri menjalankan ini selektif secara bertahap, ini harapan kita, jangan sampai kita buka besok muncul kasus baru yang mencoreng citra pariwisata Bali. Butuh dukungan semua pemangku dan pelaku pariwisata,” katanya.

Ia berharap hotel-hotel dan pelaku usaha dapat menjalankan aktivitasnya kembali. “Harapannya pada kuartal ketiga tahun ini sektor parwisata di sini sudah membaik. Aktivitas perekonomian bisa didukung penuh khususnya untuk mengairahkan pariwisata dan infrastruktur Bali,” pungkasnya.

Saat Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis QRIS hadir pula Gubernur Bali I Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana,.

Hadir pula Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara, Kapolda Bali Irjen. Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho.

Taman Jati Larangan, Obyek Wisata Terbaru di Bantul

this formate

Taman Jati Larangan: tempat wisata kuliner dan riligi (foto: Kabupaten Bantul)

BANTUL, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu bahkan mengingatkan akan adanya gelombang kedua virus Corona. Di tengah keadaan seperti itu, rekreasi outdoor menjadi pilihan bijak untuk sekadar jalan-jalan melepas penat. 

Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ada tempat wisata yang baru dibuka yang patut ditengok, namanya Taman Wisata Jati Larangan. Taman ini berada di tengah hutan yang menawarkan suasana layaknya sebuah desa terpencil dan berhawa sejuk.

“Taman Jati Larangan ini awalnya merupakan lahan milik warga setempat, terdapat 6 sertifikat resmi milik warga yang disumbangkan untuk membangun suatu kawasan dengan harapan mampu menjadi pusat sektor perekonomian di Dusun Iroyudan,” kata Kepala Dusun Iroyudan, Muhammad Hisyam (45), seperti dikutip dari website resmi Pemerintah Kabupaten Bantul.

Untuk menjangkau taman, pengunjung akan masuk melalui pintu gerbang yang memiliki ornamen berupa dua patung yang dihiasi akar-akar saling menyatu. Wisatawan kemudian akan menemukan jalur setapak dari bebatuan putih yang di kiri kanannya diapit semak belukar dan pepohonan rindang yang masih asri. Tak begitu jauh, pengunjung akan tiba di sebuah taman.

Lokasi taman kebetulan juga berdampingan dengan makam Mbah Wiroyudho, tokoh setempat yang dikenal sebagai teman seperjuangan Pangeran Diponegoro dan seorang punggawa dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dusun Iroyudan sendiri diambil dari namanya. Muhammad Hisyam berharap taman wisata ini juga akan menjadi tempat wisata religi.

Sementara itu di area taman terhampar berbagai jenis bunga dan semak-semak, serta pohon-pohon kecil yang membentuk beberapa taman kecil. Pihak pengelola juga menyediakan beberapa tempat duduk unik yang bisa disinggahi dua sampai tiga orang. 

Lingkungan sekitar taman telah ditata sedemikian rupa sehingga menarik untuk dijadikan sebagai latar belakang foto. Selain itu, wisatawan bisa juga menjelajahi jalur menanjak di tengah hutan. Jangan lupa siapkan lotioan anti nyamuk agar tubuh tidak gatal digigit nyamuk.

Taman Jati Larangan ini sebenarnya telah resmi dibuka pada 15 Maret 2020. Namun baru sehari buka, pemerintah mengumumkan ada kasus COVID-19 di Bantul, maka taman pun ditutup. Taman kembali dibuka pada bulan ini setelah keluar maklumat New Normal.

Selain sebagai tempat rekreasi alam, Taman Jati Larangan juga menyediakan kedai makan atau angkringan berupa bangunan rumah tradisional khas Jawa dari kayu.

Ada pilihan tempat makan, outdoor bagi yang memilih makan di luar and indoor. Pengelola juga menyediakan bangku di halaman dan di dalam restoran, atau tikar untuk mereka yang memilih makan sambil lesehan. 

Ada makanan tradisional yang merupakan khas desa ini, yakni tembak dan peso. Tembak adalah tempe dan rambak, sedangkan peso merupakan tempe dan so. So adalah daun melinjo yang masih muda dan diolah menjadi campuran makanan atau sayur so.

Menurut keterangan,  Taman Jati Larangan kelak akan menjadi pusat segala kegiatan, bukan hanya pusat perekonomian. Tamannya sendiri dibangun dengan biaya murni dari dana swadaya masyarakat. Dana yang sudah dikeluarkan mencapai kurang lebih 150 juta rupiah dan itu merupakan pinjaman dari warga yang berkecukupan. 

 

 

Training Virtual ESQ ‘Hari Arafah’ Memaknai Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Konteksnya dengan COVID-19

this formate

Ary Ginanjar Agustian, Pendiri ESQ Leadership Center dan Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji.    ( BPKH), Anggito Abimanyu ( kanan)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ribuan peserta  training online Hari Arafah menyaksikan Memorandum of Understanding ( MoU) antara ESQ Leadership, penyelenggara training ini dengan Badan Pengelola Keuangan Haji ( BPKH) berkaitan dengan perencanaan keuangan haji dan gerakan Haji Muda.

Peserta bukan hanya dari Indonesia tetapi juga negara tetangga Singapura, Malaysia dan berbagai negara di Eropa seperti Belanda, Jerman,Swedia, Spanyol bahkan dari Arab Saudi, Turki, Hongkong dan dari belahan bumi lainnya.

” Ayo Haji Muda” adalah gerakan mengajak kalangan muda generasi gen Z untuk mempersiapkan diri melaksanakan ibadah haji sejak usia muda disaat kesehatan tubuh masih prima apalagi kini antrian untuk berangkat berhaji kini semakin lama.

Penandatanganan dilakukan oleh Ary Ginanjar Agustian sebagai pendiri ESQ LC dan Anggito Abimanyu yang menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji ( BPKH), sebelum acara training dimulai, Kamis 30 Juli 2020.

BPKH pada kesempatan yang sama juga memberikan bantuan APD,   ventilator dan monitor, alat-alat kesehatan yang dibutuhkan pasien COVID-19 dengan dukungan Baznas ke sejumlah Rumah Sakit dan secara simbolik diwakili RS Islam Cempaka Putih, Jakarta.

Ada juga sumbangan sapi qurban untuk Mesjid Al-Hikmah, Islamic Center, Sawah Besar serta tali kasih bagi 1000 ustad pembimbing haji yang tahun ini gagal berangkat karena pandemi global itu.

Kegiatan yang berlangsung dari studio ESQ di lantai 23 gedung Menara 165, di Jl. Tb Simatupang ini menurut Ary Ginanjar dilakukan tepat disaat para jemaah haji sebelum terjadi pandemi global COVID-19 berkumpul di Padang Arafah.

Ibadah haji itu adalah Arafah dimana umat Islam berkumpul dan bermunajat kepada Allah. Arafah itu sendiri artinya mengetahui, memahami dan mengerti makna dari peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim.

” Ketika melaksanakan rangkaian ibadah mulai dari melaksanakan haji seharusnya seorang jemaah paham hikmah dari besarnya keikhlasan Nabi Ismail ketika ayahnya mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih leher anaknya sendiri sebagai ujian kecintaan dari Allah SWT,” kata Ary Ginanjar.

Rangkaian kegiatan Ibadah Haji ( Foto: ESQ LC)

Oleh Allah SWT keikhlasan Ismail, sang anak  dan keteguhan hati kedua orangtuanya  yaitu Siti Hajar dan Nabi Ibrahim untuk menjalani perintah agama akhirnya yang menyentuh pedang tajam adalah hewan kurban, bukan Ismail.

Banyak umat yang telah melaksanakan ibadah dan bergelar haji tidak paham mengapa Allah kumpulkan umatnya Nabi Muhammad SAW yang hidup pada 1400 tahun lalu hingga sekarang berkumpul di Arafah untuk  memahami peristiwa yang terjadi di jaman Nabi Ibrahim 5000 tahun yang lalu.

Oleh karena itulah training online dengan ribuan peserta menggunakan media sosial mulai dari Zoom, Facebook, Instagram hingga YouToube ini diselenggarakan untuk memaknai peristiwa pengorbanan dasyat tersebut sehingga seseorang paham untuk apa dia hidup, siapa diri, dimana dan mau kemana, tambah Ary Ginanjar.

Training juga untuk mengobati kekecewaan, kesedihan mereka yang tahun ini tertunda berangkat akibat COVID-19, menghibur mereka yang masih dalam antrian daftar tunggu, sudah mampu tapi tidak sempat berhaji, mereka yang belum daftar meski punya uang untuk menunaikan ibadah ini hingga bagi mereka yang sama sekali tidak pernah berfikir untuk berhaji meskipun seorang Muslim yang mampu secara finansial.

Pandemi global COVID-19 adalah ibarat pedang Nabi Ibrahim yang sedang menyentuh virus tak terlihat bernama Coronavirus. Seluruh dunia banyak yang kehilangan anggota keluarga termasuk garda terdepan tenaga medis. Penyakit yang menjadi ujian umat manusia itupun mengingatkan semua orang pada sang penciptaNya.

Musisi Dwiki Dharmawan dan Anggito Abimanyu pada kesempatan itu juga mempersembahkan lagu Hadiahkan Nirwanamu yang ditulis Anggito saat melihat kesibukan RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur menerima pasien positif COVID. 

Sebuah lagu ciptaan Anggito, peraih Doktor (Ph.D) dari University of Pennsylvania Philadelphia Amerika Serikat di aransemen oleh musisi kaliber internasional dan dinyanyikan oleh grup Snada, penyanyi religi yang istiqomah di jalurnya hingga menghasilkan karya yang indah dan sangat menyentuh.

Tak heran diakhir training, para peserta bergantian mengucapkan terima kasih lewat chat dan Ary Ginanjar menutupnya dengan ucapan  “Atas nama ummat manusia kami mohon ampun kepada Mu Robbi,” Semoga Allah ampuni kita semua, 

Allah tanamkan cinta Ibrahim, Ketulusan Ismail, Kesabaran Siti Hajar. Kami mencitaimu Ya Allah SWT, melebihi dari segalanya. Selama ini kami sibuk pada kecintaan Dunia.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah.

 

Whisnutama: Banyuwangi Perlu Daya Tarik Wisata Baru Berbasis CHSE

this formate

Menparekraf Whisnutama  diapit Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dan Bupari Banyuwangi saat Rakor ( Foto: Kemenparekraf).

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan penciptaan daya tarik wisata baru dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) kini jadi prioritas.

Berbicara pada Rakor Penyelesaian Isu Pengembangan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi” Rabu (29/7/2020), dia mengatakan membangun infrastruktur, membuat konsep promosi, dan membangun sumber daya saja tidak cukup tapi huga  menciptakan daya tarik wisata yang baru bagi pariwisata berbasis CHSE.

Dia mengajak pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif terus menjalankan protokol kesehatan dengan ketat sebagai bagian dari upaya pemulihan destinasi wisata di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif Banyuwangi harus menjalankan protokol kesehatan dengan tanggung jawab sehingga mampu membangun kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan,” kata Wishnutama.

Dia juga menyampaikan adanya perubahan tren baru pariwisata sesudah pandemi COVID-19 yang akan bermuara pada quality tourism atau perjalanan pariwisata yang lebih berkualitas. Untuk itu setiap daerah atau destinasi wisata harus betul-betul menerapkan protokol kesehatan, terutama destinasi yang nantinya banyak dikunjungi wisatawan.

“Kesehatan masyarakat dan produktivitas perekonomian harus dijalankan dengan seimbang. Mengingat perubahan pola wisatawan membuat setiap destinasi wisata mesti mengedepankan protokol kesehatan,” ujar Wishnutama.

Untuk mendukung kembalinya destinasi wisata di Banyuwangi, Kemenparekraf akan memfasilitasi penyediaan fasilitas kamar kecil di Alas Purwo dan kawasan Agrowisata di Tamansuruh dengan alat penunjang kebersihan dan keamanan..

Antara lain peralatan seperti, penyediaan tempat cuci tangan, tempat sampah, toilet portable, masker, face shield, sarung tangan, baju APD, alat semprot, tenda, life ring buoy, tandu lipat, signage (papan himbauan), dan kacamata goggle.

Wishnutama menambahkan, Kemenparekraf juga terus membantu mengangkat destinasi wisata di Banyuwangi dalam berbagai bentuk program, misalnya dalam Festival Parekraf online melalui kegiatan Talk Show dengan Kepala Dinas Pariwisata yang salah satunya mengundang Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu, juga akan melakukan Fam Trip ke destinasi di Banyuwangi menggunakan jasa penyeberangan ASDP, Pelibatan Komunitas, kegiatan flash sale serta B2C Epic sale yang dilakukan dengan mitra e-commerce.

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, mengatakan dengan bantuan yang diberikan oleh Kemenparekraf, pemulihan pariwisata dan ekonomi di Banyuwangi bisa segera pulih kembali hingga dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Azwar menambahkan masyarakat Banyuwangi sebagian besar telah sadar untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari penggunaan teknologi serta sertifikasi protokol kesehatan di berbagai bidang usaha.

“Kami telah membuat aplikasi panduan kesehatan serta sertifikasi kebersihan dan kesehatan dari dinas kesehatan meliputi hotel, homestay, café, restoran, dan warung makan,” kata Azwar.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan yang juga hadir  mengatakan di masa adaptasi kebiasaan baru ini, diharapkan vaksin COVID-19 bisa segera berhasil diproduksi dalam waktu dekat sehingga sektor pariwisata kembali bangkit dan Luhut berharap kondisi pariwisata akan lebih baik dari sebelumnya.

 

Seni Berkomunikasi Melalui Krisis Coronavirus  

this formate

CONCORDE, AS, bisniswisata.co.id: Rasanya epidemi Coronavirus yang mengglobal itu jauh dari saya,  sampai minggu lalu muncul kasus ketika ada berita tentang seseorang yang terinfeksi di daerah New Hampshire. 

Rumor mulai menyebar, diikuti oleh pertanyaan: Bagaimana kita bisa mengetahui lebih banyak informasi?  Haruskah kita mengirim anak-anak ke sekolah?, demikian tulis Paul A. Argenti di kolom leardership Harvard Business Review.

Keesokan harinya, kami menemukan dalam berita lokal dan nasional bahwa orang yang terinfeksi, seorang warga di rumah sakit lokal kami, mulanya telah menghadiri pesta dengan siswa dari Sekolah Tuck, tempat saya mengajar. Kasus itu langsung  membawa krisis tepat ke pintu kantor saya.  

Kelas dan acara dibatalkan dan semua perjalanan internasional ditangguhkan untuk universitas.  Pikiran berpacu.  Haruskah saya masuk kerja?  Apakah boleh membeli makan siang di sini?  Apakah kita siap untuk karantina di rumah?  Berapa lama ini akan berlangsung?

Dalam situasi yang bergerak cepat dan tidak menentu, banyak pemimpin menghadapi pertanyaan yang mungkin tidak bisa mereka jawab.  Sebagai seseorang yang mempelajari komunikasi krisis, saya secara teratur memberi tahu siswa dan klien saya bahwa Anda perlu berkomunikasi lebih awal dan sering dengan orang terdekat Anda atau audiens selama krisis.  

Bahkan jika Anda masih berusaha memahami sejauh mana masalah itu, jujur ​​dan terbuka untuk mempertahan -kan kredibilitas.  Dekati situasi dengan empati.  Tempatkan diri Anda pada posisi orang terdekat Anda termasuk relasi, klien untuk memahami kecemasan mereka. 

Kadang-kadang Anda akan melakukannya dengan benar, namun juga bisa sering salah. Tetapi masih lebih baik untuk setransparan mungkin.

Langkah 1: Buat Tim Komunikasi yang Terpusat

Komunikasi yang terdesentralisasi dapat dimengerti dan bahkan diinginkan dalam organisasi yang besar dan kompleks.  Tetapi dalam situasi darurat atau bergerak cepat, Anda memerlukan tim penanggulangan krisis.  

Dalam hal kasus Coronavirus, kita melihat ini terjadi di semua tingkatan: Presiden Trump menunjuk Wakil Presiden Pence untuk memimpin upaya nasional.  Dartmouth, dan banyak universitas lain, telah menciptakan gugus tugas.

Distrik sekolah tempat saya bekerja minggu ini menciptakan tim yang terdiri dari kepala bagian, serta semua kepala sekolah.  Intel memiliki tim kepemimpinan pandemi tersendiri sebagai bagian dari perencanaan kesinambungan dari bisnisnya.

Idealnya tim-tim ini harus kecil, lima hingga tujuh orang saja.  Anda perlu menyertakan anggota tim kepemimpinan, seseorang dari komunikasi perusahaan, eksekutif SDM, dan pakar di bidang yang menjadi perhatian. Tim ini harus bertemu secara teratur untuk memantau situasi dengan cermat karena terus berkembang.

Jadilah sumber utama informasi tentang krisis. Berikan pembaruan rutin ke orang terdekat atau konstituen utama.  Jelaskan apa yang Anda ketahui, apa yang tidak Anda ketahui, dan siapa sumber informasi Anda setransparan mungkin. Bersikap singkat.  Pesan panjang yang ditulis oleh para profesional kesehatan atau pengacara tidak akan dibaca atau mudah dimengerti.

 Langkah 2: Berkomunikasi dengan Karyawan

Karyawan adalah konstituensi dan fungsi terpenting Anda sebagai pemimpin untuk komunitas.  Jika mereka tidak diberitahu dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi, komunikasi di luar organisasi akan lebih sulit.  Perusahaan perlu memperjelas situasi bagi karyawan, menenangkan pikiran semua orang, dan memberikan harapan untuk masa depan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa para pemimpin, khususnya, memiliki peran khusus mengurangi kecemasan karyawan.  Dalam penelitian saya tentang komunikasi krisis setelah peristiwa 9/11, banyak karyawan menggambarkan betapa pentingnya mendengar suara pemimpin, baik secara langsung atau melalui email, pesan telepon, atau media sosial.  

Ketika krisis coronavirus menghantam Tuck School, tim kepemimpinan program MBA berkumpul di lokasi sentral untuk mengurangi kecemasan semua orang dan memberikan pembaruan secara teratur.

Untuk berkomunikasi dengan karyawan, organisasi harus: Posting informasi secara teratur di lokasi yang sangat terlihat.  Ini bisa berupa lokasi fisik atau email virtual, intranet perusahaan, atau saluran Slack atau Facebook. Jelaskan bagaimana keputusan dibuat tentang masalah seperti perjalanan, bekerja dari rumah dan lainnya.

Berkomunikasi tidak kurang dari setiap hari. Cobalah untuk memberikan informasi yang tepat waktu daripada menunggu sampai Anda tahu semua jawabannya.

 Langkah 3: Berkomunikasi secara teratur dengan Pelanggan

 Pelanggan memerlukan pendekatan yang berbeda dari karyawan karena perusahaan tidak memiliki akses atau frekuensi yang sama dengan daerah pemilihan ini.  Anda harus:

 Fokus pada apa yang penting bagi pelanggan.  Misalnya, Target mengirimkan catatan dari CEO kepada pelanggan, yang menjelaskan prosedur pembersihan yang ditingkatkan dan penambahan staf untuk pengambilan pesanan dan peningkatan layanan.

 Berikan bantuan bila memungkinkan.  JetBlue menjadi maskapai pertama yang mengabaikan perubahan dan membatalkan biaya untuk masalah terkait virus corona.  Langkah ini berakibat  jauh dan meyakinkan pelanggan saat ini untuk membawa yang baru.  CVS Caremark bekerja untuk mengesampingkan batas isi ulang awal pada obat pemeliharaan resep 30 hari.  Perusahaan asuransi, sebaliknya, tidak menganggap coronavirus sebagai alasan yang sah untuk membatalkan penerbangan.

Fokus pada empati daripada mencoba menciptakan peluang penjualan.  Perusahaan harus memikirkan kembali strategi periklanan dan promosi agar lebih sejalan dengan zeitgeist saat ini.

Tentu saja, situasinya menjadi sangat berbeda ketika organisasi Anda berada di pusat krisis.  Banyak yang menunjuk pada cara Johnson & Johnson menangani krisis Tylenol sebagai standar emas.  Selama musim gugur 1982, tujuh orang meninggal setelah mengonsumsi Extra Strength Tylenol, yang merupakan obat penghilang rasa sakit terlaris di pasar. 

Kapsul telah disuntikkan dengan sianida oleh seseorang yang belum pernah diidentifikasi.  Perusahaan menarik lebih dari 30 juta botol Tylenol, dan menciptakan kemasan bukti tamper baru.

Johnson & Johnson juga menetapkan seperangkat praktik terbaik untuk berkomunikasi dalam suatu krisis, termasuk berbicara lebih awal, sering, dan langsung dengan konsumennya.  Ini termasuk  mengeluarkan peringatan nasional, memberitahu orang-orang untuk berhenti mengonsumsi produk Tylenol. 

Perusahaan itu juga menetapkan nomor bebas pulsa bagi konsumen untuk menelepon dengan pertanyaan atau masalah.  selain Itu mengadakan konferensi pers reguler dari kantor pusat perusahaan.  Kepemimpinan Johnson & Johnson, terutama ketua James Burke, mengambil langkah luar biasa untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan melakukannya dengan benar. 

Banyak yang menghargai transparansi dan sikap tenangnya dengan menghentikan pertumbuhan krisis, memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan kembali 95% pangsa pasar dalam beberapa bulan, dan pada akhirnya meningkatkan reputasi perusahaan.

Langkah 4: Yakinkan Pemegang Saham

 Epidemi telah menciptakan gejolak hebat di pasar keuangan dalam dua minggu terakhir dan mengubah apa yang merupakan pasar yang luar biasa menjadi potensi resesi.  Dengan musim pendapatan yang hampir tiba, perusahaan publik memiliki tanggung jawab khusus untuk mengkomunikasikan dampak virus pada operasi mereka. 

Skadden telah menerbitkan pertimbangan terkait dengan pengungkapan SEC, dan Joanne Wong, direktur pelaksana senior di FTI Consulting di Hong Kong menawarkan saran yang masuk akal ini untuk menangani hubungan investor:

Bersikap transparan dalam mengomunikasikan tantangan jangka pendek.Gunakan krisis sebagai kesempatan untuk memperkuat fundamental jangka panjang korporasi serta komunikasikan apa yang Anda lakukan tentang masalah tersebut

 Selain itu, Anda harus perhatikan panduan perjalanan dan kembangkan rencana komunikasi di sekitar pertemuan tahunan Anda, termasuk menyiapkan webcast untuk pemegang saham.

Langkah 5: Bersikap Proaktif dengan Komunitas

 Apa yang terjadi dalam organisasi di sekitar coronavirus memengaruhi semua orang di komunitas di sekitar mereka.  Setidaknya organisasi harus melakukan yang terbaik untuk memastikan tindakan mereka tidak berdampak negatif terhadap anggota komunitas.

Tetapi Anda juga dapat berpikir tentang krisis sebagai waktu untuk meningkatkan hubungan dengan komunitas lokal tempat Anda beroperasi dengan menyediakan sumber daya seperti membersihkan persediaan atau makanan untuk mereka yang berada di karantina.

Memberikan informasi kepada media lokal untuk membantu menenangkan komunitas dan juga meningkatkan kredibilitas organisasi Anda. Memberikan transparansi tentang apa yang terjadi di dalam perusahaan alih-alih malah diam.

Anda juga dapat berbagi cara di mana Anda membantu komunitas lokal, nasional, atau global Anda dalam krisis.  Misalnya, seperti ditulis Lauren A. Smith, co-CEO perusahaan konsultan FSG, Anda dapat menggunakan lengan filantropis Anda untuk membantu. 

Cargill, misalnya, yang memiliki lebih dari 50 lokasi bisnis dan lebih dari 10.000 karyawan di Cina, mengumumkan sumbangan 2 juta Yuan kepada Palang Merah Cina dan mengirim ratusan ribu masker wajah ke daerah-daerah yang terkena dampak.

Ketika berhadapan dengan ketidakpastian, para pemimpin perlu melihat komunikasi dari sudut pandang audiens Anda dan memiliki empati terhadap mereka daripada takut melakukan hal yang salah.

Ini mengharuskan perusahaan untuk berkomunikasi ketika mereka tidak memiliki semua informasi, untuk mengungkapkan sebanyak mungkin tentang informasi sensitif, dan untuk waspada memperbaiki kesalahan tanpa khawatir tentang akibatnya.  

“Seperti yang dikatakan oleh juara tenis Billie Jean King: “Champions terus bermain sampai mereka melakukannya dengan benar.”

BACA JUGA: https://bisniswisata.co.id/tuti-sunario-aktifkan-crisis-center-kemenparekraf-di-era-covid-19/

 

 

‘RI Sebaiknya Ikuti Guideline UNWTO Untuk Crisis Centre COVID-19 Khusus Pariwisata’

this formate

Wisatawan mancanegara di Pulau Dewata diharapkan kembali datang pasca COVID- 19 ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) selalu membantu negara-negara anggotanya dengan panduan dan pelatihan Risk and Crisis Management in the Tourism Sector. Oleh karena di saat terjadi pandemi global COVID, Kemenparekraf sebaiknya menghidupkan kembali Crisis Center, kata Sapta Nirwandar, hari ini

Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden SBY yang kini Ketua Indonesia Tourism Forum ( ITF) ini mengatakan dari pengalaman kasus Bom Bali I & II, Tsunami Aceh, meletusnya Gn. Agung, Bali 2017- 2019, Crisis Center atau Media Center khusus mengenai pariwisata tetap dibutuhkan.

Kementrian Pariwisata mengaktifkan Crisis Center bahkan menyewa public relations asing untuk memudahkan komunikasi dengan industri pariwisata internasional maupun wholle seller yang biasa mendatangkan wisman ke Indonesia.

” Saat terjadi  Bom Bali I & II, kami aktif menginformasikan situasi terakhir pada dunia internasional terutama mitra-mitra industri pariwisata mancanegara bahkan termasuk meliput kegiatan-kegiatan positif di Pulau Dewata itu sehingga paska bencana wisman kembali datang ke Bali,” kata Sapta Nirwandar.

Meski pandemi global COVID-19 sudah berjalan lima bulan, belum terlambat mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf karena Gugus Tugas COVID-19 yang dibentuk pemerintah memberikan Informasi terbaru seputar penanganan COVID-19 di Indonesia oleh Pemerintah.

” Crisis Center Kemenparekraf tetap dibutuhkan untuk memberikan informasi pariwisata RI yang terdampak pandemi kepada masyarakat maupun industri pariwisata nasional maupun internasional,” tambahnya.

Untuk data kasus COVID-19 di Indonesia informasi dari satu pintu ditangani oleh GugusTugas tapi untuk sektor pariwisata maka perlu ditangani langsung oleh Kemenparekraf dengan transparansi tinggi sehingga bisa cepat mengembalikan kepercayaan dunia.

Guideline UNWTO

Sapta mengingatkan guideline UNWTO sudah tersedia sehingga tinggal mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan. Baik buku, laporan hingga ke pelatihannya tersedia karena dengan menangani Crisis Centre terbukti sektor pariwisata cepat memulihkan perekonomian negara anggita dan seluruh dunia dari dampak bencana.

Selama pandemi global, Indonesia Tourism Forum yang dipimpinnya sudah lima kali mengadakan webinar dengan tokoh-tokoh pariwisata dunia dan tujuannya untuk memberikan situasi terkini terutama pariwisata Indonesia.

“Sejauh ini, dalam webinar Indonesia Tourism Forum ( ITF) menghadirkan Reem El Shafaki, Senior Associate, DinarStandard, AS, Ekaterina Kamalova, Program Director of Tatarstan Investment Development Agency, Sandra Cavao*, Chief of Tourism Market Intelligence and Competitiveness, UN-WTO

Hadir juga Gloria Guevara Manzo,* President and CEO of the World Travel and Tourism Council (WTTC), Irshad Cader, CEO of Clobothink Consultant, Australasia & Middle East, Sumaira Isaacs,  CEO of Global Tourism Forum, Ken Wong*, Vice President Sales & Distribution, Accor Hotels Greater China.

Di lain waktu ada Dr. Sasithara Pichai, Rector at College of Tourism and Hospitality, Rangsit University, Thailand dan Nahla Mesbah (Senior Consultant DinarStandard), Murat Gokyokus,CEO Siempre Tour & Travel, Turki, Jean-Claude Balanos,Vice President Leisure Sales Accor Hotels, France.

” Siapa-siapa saja mereka bisa di browsing kan. Oh iya, mantan Sekjen UNWTO yang pernah datang je Indonesia, Thaleb Rifai juga pernah jadi nara sumber Indonesia Tourism Forum ( ITF), jelas Sapta.

Diapora Indonesia, Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media         ( kiri) dan Sapta Nirwandar, Kerua Indonesia Tourism Forum bersama pasangan masing-masing.

Suara Diaspora

Suara fiaspora di Indonesia mengenai perlu atau tidak ya mengaktifkan Crisis Center Kemenparekraf juga perlu didengarkan seperti ungkapan Fajar, Humas KBRI di Stockholm, Swedia.

“Menurut saya bagus kalau Kemenparekraf membentuk Crisis Center.  Alalagi yang saya tangkap,  fokusnya pada destinasi wisata dan juga informasi kepada Travel Agent/Tour Operator internasional. ” ujarnya mewakili opini pribadi.

Kedubes RI di Swedia ini di bawah kepemimpinan Dubes Bagas Hapsoro yang baru saja kembali je tanah air secara rutin menggelar potensi destinasi wisata RI dengan para travel agent asing di Swedia maupun Latvia.

“Hal ini baik mengingat perkembangan saat ini dengan adanya Permenkumham 11/ 2020, sehingga WNA belum bisa memasuki wilayah Indonesia. Kalau ada Crisis Center atau Media Centre atau semacam contact point maka mereka dapat follow up terus,”

Menurut dia fungsinya  yang dapat menjelaskan secara gamblang mengenai pembukaan Indonesia bagi wisatawan asing. Jadi informasi ini  sangat bagus ketika nanti jalur internasional dibuka kembali ke  Indonesia.

“Bagi  saya yang terpenting saat ini adalah memastikan tugas pokok dan fungsi Crisis Center tersebut agar tidak tumpang tindih dengan tugas Gugus Tugas Covid,” kata Fajar.

Hal senada diungkapkan Indah Nuritasari, CEO Indonesian Lantern Media, media komunitas Indonesia di Amerika Serikat sekaligus mantan senior journalist beberapa media terkemuka di Indonesia.

” Komentarku ya, dengan jumlah penderita dan korban Covid19 yang meningkat terus, bahkan sekarang terbesar di Asia Tenggara, berita yang muncul di luar negri tentang hal ini cukup “mengerikan”,” ungkapnya.

Pemerintah Indonesia perlu memiliki  juru bicara yang mumpuni soal ini, sehingga Media massa, termasuk media asing, bisa menjelaskan langkah-langkah pemerintah soal ini seperti yang disarankan seniornya Tuti Sunario, mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI)

BACA JUGA: https://bisniswisata.co.id/tuti-sunario-aktifkan-crisis-center-kemenparekraf-di-era-covid-19/

“Kami yang di luar negeri sampai sekarang bingung memahami apa yang terjadi di tanah air. Seharusnya saya mudik tanggal 18 Juli lalu, tetapi penerbangan dibatalkan oleh airlinesnya. Saya sendiri masih belum tahu kapan akan pulang, Agustus Atau September karena kondisi di tanah air kok kurang kondusif. ” kata Indah Nuritasari

Pemerintah perlu jubir yang baik, kalau perlu menggunakan jasa humas internasional yang piawai menangani krisis supaya nama Indonesia kembali baik di mata internasional.

Indah kini bekerja di Philadelphia selama 19 tahun terakhir dan putrinya kini duduk di bangku Universitas. Setiap hari, melalui indonesianlantern.com pihaknya yang tetap berstatus WNI ini mempromosikan Indonesia di segala aspek ke penjuru dunia.

Begitu pula melalui akun media sosialnya dia selalu mempromosikan Indonesia termasuk gerakan Selasa Berkebaya yang dilakukannya bersama staf untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui jebaya dan batik.

Nah seperti saran para senior pariwisata RI dan diaspora journalist senior, RI sebaiknya ikuti guideline UNWTO untuk aktifkan kembali Crisis Centre khusus menangani pariwisata terdampar COVID-19. 

 

UMKM Kreatif Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Perluas Pasar

this formate

Kemenparekraf/ Bekraf  dorong pelaku UMKM  memaksimalkan teknologi untuk dapat memperluas pasar. ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar bagi pelaku industri ekonomi kreatif terutama UMKM, namun di sisi lain memberikan kesempatan yang besar untuk berakselerasi dan memperluas pasar dengan memanfaatkan teknologi.

Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Ricky Pesik dalam dialog interaktif “Bangga Buatan Indonesia” di Studio Jak-TV, Selasa (28/7/2020) malam, mengatakan pelaku UMKM harus dapat mengubah paradigma berpikir dengan memaksimalkan teknologi untuk dapat memperluas pasar.

“Akibat pandemi, pariwisata terhenti bahkan paling drop sekarang. Tapi kalau di sektor ekonomi kreatif beberapa subsektor justru dapat momentum termasuk UMKM di sektor ekonomi kreatif. Yakni dengan memanfaatkan teknologi untuk mereka berakselerasi dan memperluas pasar,” kata Ricky Pesik.

Ricky mengatakan keterbatasan pergerakan orang akibat pandemi COVID-19 membuat peluang ekonomi digital, transaksi yang dilakukan secara daring jadi terbuka luas. Apalagi Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan ditunjang dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya untuk dikembangkan sebagai inovasi dalam menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif.

“Pasar kita luas dan patut kita syukuri karena sistem distribusi, sistem logistik kita tidak terganggu akibat pandemi sehingga transaksi online dan pengiriman barang tidak terganggu,” ungkapnya.

Dari segi makro-ekonomi, ekonomi digital ini akan jadi strategi nasional bahkan banyak negara untuk meningkatkan perputaran ekonomi lokal. Indonesia sebagai bangsa yang besar kenapa tidak memanfaatkan momentum ini,” tambahnya. Turut hadir dalam dialog tersebut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo.

Pemerintah berusaha untuk membuat ekosistem ekonomi digital dengan memberikan berbagai insentif kepada pelaku UMKM sehingga mereka dapat lebih kompetitif di pasar.

Pemerintah juga telah menggulirkan kampanye nasional gerakan “Belanja Buatan Indonesia” yang salah satu tujuannya adalah mendorong pelaku UMKM agar bertransformasi dari pasar offline ke online dengan memanfaatkan teknologi.

Kemenparekraf menjadi kementerian pertama yang memulai kampanye nasional Bangga Buatan Indonesia lewat program “Beli Kreatif Lokal”. Saat ini dilanjutkan Kemenkominfo lewat program “Kita Bela Kita Beli”.

“Sementara masyarakat juga perlu mengubah paradigma bahwa kita harus memberikan keistimewaan terhadap produk lokal,” kata Ricky Pesik.

Hal senada dikatakan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo. Baik sisi supply and demand dalam produk ekonomi kreatif dari para pelaku UMKM harus dapat diseimbangkan.

Para pelaku UMKM harus dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pasar dan meningkatkan kapasitas diri yang disesuaikan dengan perkembangan pasar itu sendiri. Sementara masyarakat juga harus mengubah paradigma berpikir untuk senantiasa mendukung produk lokal.

“Pemerintah akan terus memberikan pendampingan untuk perubahan ini agar pelaku UMKM bisa merebut pasar tidak hanya nasional tapi juga global,” kata Widodo.

Tercatat saat ini sudah bergabung lebih dari 1 juta pelaku UMKM di program “Bangga Buatan Indonesia”. Diharapkan jumlah pelaku UMKM yang bergabung meningkat hingga 2 juta di akhir tahun.

 

 

Aturan Anyar, Berliburan ke Bali

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Per 31 Juli 2020, destinasi wisata di Bali dibuka bagi kunjungan wisatawan nusantara, berdasarkan SE Gubernur Bali. Namun, ada beberapa objek, khususnya objek wisata ke desa tradisional yang masih menunggu keputusan dari Desa Adat. Seperti di Desa Wisata Penglipuran contohnya.

“Menunggu hasil sangkepan (rapat) Prajuru adat. Menjaga keselamatan masyarakat,” ungkap Budiarta salah seorang pengelola wisata desa Penglipuran.

Desa Penglipuran telah menyiapkan fasilitas, sarana, prasarana kebutuhan protokoler kesehatan dalam berwisata ke desa Penglipuran. Ujicoba segera dilakukan baik bagi masyarakat dan SDM pengelola desa wisata. Pasalnya, aktivitas wisata ke desa sangat intens bersentuhan dengan keseharian masyarakat.

Prajuru desa adat sangat berharap wisatawan yang masuk ke Penglipuran juga mematuhi protokol tatanan baru berwisata,” ujarnya lebih lanjut.

Biaya Sendiri

Adapun ketentuan mengenai persyaratan bagi wisatawan nusantara berdasarkan Surat Edaran Nomor 15243 Tahun 2020 Tentang Persyaratan Wisatawan Nusantara Berkunjung ke Bali adalah bebas COVID-19 dengan menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction), minimum hasil non-reactive rapid test dari instansi yang berwenang. Masa berlaku Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test untuk berkunjung ke Bali adalah paling lama 14 (empat belas) hari sejak Surat Keterangan tersebut dikeluarkan.

Wisatawan yang telah menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test yang masih berlaku, tidak lagi diwajibkan melakukan uji swab atau rapid test, kecuali mengalami gejala klinis COVID-19.

Wisatawan yang tidak dapat menunjukkan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR atau rapid test di Bali.

Wisatawan yang hasilnya reactive rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR di Bali. Selama menunggu hasil uji swab, wisatawan menjalani proses karantina di tempat yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Wisatawan yang positif COVID-19 berdasarkan hasil uji swab akan dirawat di fasilitas kesehatan yang ada di Bali. Biaya uji swab, rapid test, karantina atau fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab wisatawan.

Sebelum keberangkatan ke Bali, setiap wisatawan berkewajiban mengisi aplikasi LOVEBALI yang dapat diakses pada laman https://lovebali.baliprov.go.id. Pelaku usaha akomodasi pariwisata di Bali wajib memastikan setiap wisatawan sudah mengisi aplikasi LOVEBALI.

Selama melaksanakan aktivitas wisata di Bali, wisatawan berkewajiban melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Bali Era Baru sesuai ketentuan Pemerintah Provinsi Bali, yaitu menggunakan masker/pelindung wajah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer, memenuhi ketentuan menjaga jarak minimal 1 (satu) meter pada saat berinteraksi dan duduk, melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan pada saat bersin dan batuk. Menghindari penggunaan tangan secara langsung menyentuh area wajah,seperti: mata, hidung dan mulut, menjalani pengukuran suhu tubuh. Membersihkan barang pribadi, seperti handphone, kacamata, tas, masker, dan barang lainnya, dengan cairan disinfektan sesuai kebutuhan. Bersedia diperiksa oleh petugas kesehatandalam rangka pencegahan penyebaran COVlD-19; dan menghindari kontak fisik saat menyampaikan salam.

Selama berada di Bali, wisatawan dihimbau mengaktifkan Global Positioning System (GPS) pada smartphone demi upaya pelindungan dan pengamanan bagi wisatawan. Wisatawan dapat menyampaikan keluhan atau masalah selama berada di Bali melalui aplikasi LOVEBALI.

Wajib hukumnya bagi wisatawan mematuhi ketentuan dalam Surat Edaran tersebut. Bagi wisatawan yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

PT KA Pariwisata Membuka Kembali Museum Kereta Api Ambarawa

this formate

 Museum Kereta Api Ambarawa ( Foto: PT KA Pariwisata)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) membuka kembali  tempat wisata Museum KA Ambarawa  yang selama ini ditutup akibat mewabahnya virus Corona (COVID-19). Museum Kereta Api Ambarawa kembali dibuka bagi para wisatawan dengan menerapkan protokol adaptasi kebiasaan baru. 

Totok Suryono, Direktur Utama PT KA Pariwisata menyampaikan Museum Kereta Api Ambarawa resmi beroperasi dan dibuka kembali hari Selasa (28/07). Sebelum kegiatan pembukaan kembali tempat wisata Museum Kereta Api Ambarawa beberapa persiapan telah dilakukan.

Persiapan seperti penyediaan fasilitas untuk higenitas para pengunjung dengan menyediakan 8 tempat cuci tangan baru/wastafel yang ditempatkan di area pintu masuk sebanyak 5 wastafel, di taman 1 wastafel, di pintu keluar 1 wastafel dan Gedung UMKM 1 wastafel. 

Telah disediakan juga hand sanitizer, thermogun untuk mengukur suhu para wisatawan, menjaga jarak, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah. 

Selain itu, area masuk ke Museum KA Ambarawa saat ini telah menggunakan sistem Electronic gate/e-gate dengan scan barcode/QR code yang tertera pada tiket masuk saat pengunjung mau masuk ke museum. Dengan penerapan sistem e-gate ini, maka proses alur masuk pengunjung ke museum  menjadi lebih praktis, aman juga nyaman. 

Selain itu, PT KA Pariwisata bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang juga telah melakukan sosialisasi protokol kesehatan masa adaptasi kebiasaan baru kepada para petugas di Museum Kereta Api Ambarawa. 

“Kami membuka kembali dengan  memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung dengan melakukan protokol kesehatan, ” katanya.

Tentu saja juga melakukan pembatasan jumlah pengunjung, menerapkan social dan physical distancing, menyediakan fasilitas cuci tangan dengan sabun, hand sanitizer serta kewajiban memakai masker,” jelas Totok Suryono.

Di masa new normal ini, jam operasional Museum Ambarawa juga sudah disesuaikan mengikuti protokol adaptasi kebiasaan baru, yaitu pukul 09:00 – 15:00 WIB dimana sebelumnya beroperasi pukul 08.00 WIB-17.00 WIB

Pembatasan jumlah  pengunjung yang masuk sebanyak 50%. Sementara, untuk Kereta Wisata Reguler maupun sewa juga akan dibatasi jumlah penumpangnya dengan kapasitas hanya 50% dari kapasitas normalnya, dari semula 40 orang per kereta menjadi 20 orang per kereta. 

Untuk kereta ada tiga  rangkaian kereta kayu yang disiapkan dengan kapasitas maksimal 116 orang, sehingga dengan adanya pembatasan 50% berarti saat ini bisa melayani kurang lebih 58 pengunjung.

Akan tetapi, pengoperasian Kereta Wisata Museum KA Ambarawa reguler saat ini belum dijalankan. Untuk sementara waktu, kereta dijalankan jika ada permintaan sewa saja.  

Ilud Siregar, Humas PT KA Pariwisata menambahkan saat ini untuk pembelian tiket  masuk Museum Kereta Api Ambarawa sudah bisa secara cashless Gopay, Ovo dan Link Aja. Pada saat Museum KA Ambarawa ditutup beberapa waktu lalu, PT KA Pariwisata telah melakukan inovasi kegiatan yaitu menghadirkan Virtual Tour Indonesian Railway Museum

Kegiatan ini  guna mengajak masyarakat yang rindu kegiatan traveling serta  suasana  Kereta Api dan tempat wisata Museum Kereta Api Ambarawa untuk berwisata secara virtual dan aman sesuaianjuran pemerintah,” tutup Ilud Siregar.