Wisata Arung Jeram Maseng River Camp 

this formate

Tiap perahu karet ditumpangi 4 – 5 orang wisatawan, plus drive-guide yang duduk mengatur dan mengolah gerak laju perahu. Aba-aba drive-guide wajib dipatuhi tiap peserta. ( Foto-foto: Heryus Saputra)

BOGOR, Bisniswisata.co.id:  Maseng River Camp @ Cisedane Bogor dibuka lagi. “Arung jeram lagi, nyoook…! Dengan menerapkan aturan protokol kesehatan. Bebas macet, cuma 30menit berkereta api dari pusat Kota Bogor,” ucap Lody Korua, pelopor operator wisata arung jeram Indonesia, pendiri dan pengelola Maseng River Camp (MRC), yang menggelar paket andalan: wisata arung jeram.

Seperti tempat atau operator jasa wisata lain di dunia, ragam outdoor activity yang biasa digelar MRC memang sempat ‘libur panjang’ gegara pandemi Covid-19. Larangan untuk tidak melakukan perjalanan atau berwisata berlaku dimana-mana, sampai baru-baru ini World Health Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan sikap menilai ke depan, bahwa larangan perjalanan internasional akan tidak berlaku. 

“Negara-negara di dunia harus berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona di wilayah perbatasan mereka,” begitu antara lain ungkap Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan saat merilis larangan perjalanan tidak berkelanjutan.

Menurut dia, akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang, karena sektor ekonomi harus terbuka, tambahnya.

Virus Covid-19 bisa jadi memang tak akan benar-benar musnah dari peradaban, bahkan mungkin saat vaksin anti virusnya kelak ditemukan. Setuju tidak setuju, kita sebagai manusia harus siap hidup berdampingan dengannya, sebagaimana virus-virus dan penyakit lainnya selama ini. 

Merujuk anjuran itu, ragam daerah tujuan wisata kembali membuka pintu. Para pelaku bisnis wisata kembali menggelar paket-paket wisata unggulannya, dan masyarakat bisa kembali berwisata di era normal baru. 

Demikian halnya Lody Korua, yang awal Agustus ini  kembali membuka gerbang MRC, bagi masyarakat dunia yang ingin menikmati white water rafting atau wisata arung jeram sungai. 

Bebas macet

Olahraga petualangan arung jeram, atau sebagian orang menyebutnya Olahraga Arus Deras (ORAD) sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, sejak klub pendaki gunung dan penempuh rimba WANADRI menggelar Citarum Rally tahun 1975.

Masih di tahun yang sama klub pencinta alam MAPALA-UI melakukan ekspedisi Arung Sungai Barito dari hulunya di kaki Pegunungan Muller – Kalimantan Tengah. 

MRC memang dirancang sebagai one-stop-adventure-area’s

Betapapun penuh risiko, aktivitas arung jeram menarik minat masyarakat luas. Kegiatan “ekstrem” yang sebelumnya merupakan ranah para pecandu adrenalin ini berkembang dan bahkan kini telah sah menjadi domain publik. 

Siapa pun bisa melakukannya. Masyarakat awam cuma perlu menghubungi operator jasa wisata arung jeram dan menentukan jadwal pengarungan. 

Lody Korua, pemilik payung paralayang pertama yang terbang di langit Indonesia, juga merupakan orang Indonesia pertama yang tercatat mendirikan dan mengelola operator jasa wisata arung jeram Indonesia. 

Sejak tahun 1989, ia merintis arung jeram berbayar bagi ekspatriat di Jakarta yang ingin merasakan “asyiknya” mendayung perahu karet di antara tonjolan batu dan arus liar Cimandiri dan Citarik di Sukabumi, Jawa Barat.

Kini operator wisata arung jeram tumbuh dimana-mana. Nyaris tiap sungai di Indonesia tak luput dari aktivitas arung jeram yang diminati tak cuma diminati ekspatriat dan pelancong mancanegara, tapi juga masyarakat Indonesia.

Namun ibarat hewan liar, bahaya berarung jeram tak serta merta bisa dihilangkan. Risiko mengintai tiap saat. Operator dan pemandu  tak boleh lengah sedikit pun, atau nyawa taruhannya. 

Untuk menjawab tantangan ini, sejak awal hobinya ‘main air’ di sungai, Lody selalu menekankan pentingnya save and safety di tiap aktivitas arung jeram yang digelarnya. Bahkan lewat MRC, Lody menawarkan bagaimana kita bisa arung jeram dengan aman dan nyaman.

Masyarakat tidak harus pergi  jauh-jauh buat melakukannya, dengan risiko kendaraan roda empat yang kita tumpangi dihadang kemacetan panjang hingga berjam-jam.

Untuk itu di tahun 2017, bareng sahabatnya (Abeng Wanadri, Yudhi Palaksi, dan Yuyun Mapala UI), Lody membangun MRC di areal seluas 3000 m2 pinggir aliran Cisadane, beberapa puluh langkah dari stasiun kereta api peninggalan Belanda di Kampung Maseng, Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Bogor 0516. 

“Aman, nyaman dan bebas macet,” ucap Lody, anggota kehormatan MAPALA-UI sekaligus pendiri Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).

Dia memang tidak sedang pamer tapi jalan menuju MRC sekarang ini memang mulus dan bebas macet, karena terhubung langsung dengan jaringan jalan tol Jakarta – Bogor – Sukabumi. Pengendara dari arah Bogor silahkan keluar di gerbang tol Cigombong, lanjut sekitar 5menit untuk tiba di MRC di dekat Stasiun Maseng. 

Seperti anjuran Lody, saya memilih naik Commuter-Line (CL) pagi rute Jakarta – Bogor. Tiba di Stasiun Bogor, jalan kaki 5 menit ke arah selatan, ke Stasiun Pledang Bogor. Ambil KA Pangrango pukul 07.55 wib rute Stasiun Pledang Bogor – Sukabumi, melewati Stasiun Batutulis.

Pukul 08:24 wib saya tiba dan turun di Stasiun Maseng, lanjut jalan kaki 5menit ke gerbang MRC. Nyaman,murah dan memang bebas macet. 

Ramah Lingkungan 

Abo, anak didik Lody, kini pemandu tangguh sekaligus atlet dan pelatih arung jeram bersertifikat IRF (International Rafting Federation). Abo yang kini Manager Lapangan MRC, menyambut saya di TKP. Sepagi itu, pukul 08.45 wib, perahu karet dan ragam perlengkapannya sudah disiapkan Abo dkk, berjajar rapi di rerumput bantaran sungai siap diturunkan ke air menemani Anda memacu adrenalin di arus liar sungai

Tapi tak perlu terburu-buru. Silahkan nikmati dulu bekal sarapan yang Anda bawa dari rumah, atau pesan camilan one-dish-meals yang disediakan Lani, istri Abo, yang bersama putri-putri mereka mengelola kafe MRC. 

Ragam kuliner ala kampung siap mengganjal perut Anda. Kue unti, dadar gulung, telor ceplok, omelet jamur, nasi goreng, sayur asem, ikan bakar, mi rebus brokoli, kopi tubruk, bandrek dan lainnya.

MRC memang dirancang sebagai one-stop-adventure-area’s, dimana wisatawan yang bertamu bisa menikmati banyak hal hanya dalam satu kunjungan. Pagi itu usai menikmati kopi tubruk daun sereh plus goreng singkong, saya nikmati suasana alam sekitar. 

Gemericik air, cericit burung mengejar serangga kecil, dan nyanyian gareng pung yang bersahut-sahutan di cabang pohon besar, pertanda hari akan terus cerah. 

Cungkup-cungkup tenda tegak di bagian yang agak lapang dinaungi daun-daun. Ada bangku-bangku dari potongan batang kayu terpasang di antaranya. Juga potongan drum wadah perapian, yang tampak masih menyisakan kepulan asap.

Ini pertanda semalam ada pekemah menggelar api unggun, kelompok keluarga yang (barangkali) barusan saya lihat tengah cross country, melangkah gembira di pematang sawah. 

Tiap perjalanan adalah pengalaman tak tergantikan. Tiap petualangan adalah refleksi atas hidup dan kehidupan. Tiap orang punya gelitik rasa. Juga saya pagi itu, saat menyelinap di laman luas MRC yang ramah lingkungan, dikelola dengan prinsip zero waste zero plastic

Usai beraktivitas jika tamu biasanya disuguhkan air mineral kemasan, maka di sini, pelepas dahaga para tamupun diganti air kelapa muda dengan pipet bambu untuk menyeruputnya.

Meluncur jatuh ke dasar sungai

Arung jeram merupakan aktivitas aktivitas luar ruang yang butuh fisik sehat. Jauh sebelum virus COVID-19 dikenal dan jadi pandemi dunia, faktor kesehatan peserta jadi syarat penting bagi siapapun yang hendak arung jeram bareng Lody. 

Pemandangan sungai yang menantang dari drone

Tim resque dan tim medis (beranggotakan dokter dan tenaga andal bidang kesehatan) selalu dilibatkan dalam setiap trip arung jeram, jauh sebelum Lody membangun MRC

Prosedur kesehatan dan keselamatan diberlakukan tanpa pandang bulu. Tiap peserta mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman dan pas untuk berarung jeram. Mengenakan helm dan rompi apung yang disiapkan operator.

Barang pribadi yang mudah rusak bila basah atau terbentur (kamera atau dompet misalnya), disimpan dalam drybag yang dibawa drive-guide, pemandu sekaligus komandan di tiap perahu.

Tiap perahu karet ditumpangi 4 – 5 orang wisatawan, plus drive-guide yang duduk mendayung di buritan, mengatur dan mengolah gerak laju perahu. Aba-aba drive-guide wajib dipatuhi tiap peserta.

Apa dan bagaimana dasar-dasar berarung jeram? Mengapa peserta (yang sudah bayar) tetap harus mendayung? Apa yang harus dilakukan bila perahu terbalik dan kita terseret arus? Drive-guide menjelaskan sebelum pengarungan.

Pada sesi paling pagi itu, di luar perahu-perahu berisi tim resque dan petugas medis, ada 14 buah perahu berisi tamu MRC yang sama hendak berarung jeram. 

Pengarungan dilakukan beriringan diawali perahu pelopor berisi tim resque dan dokter, yang bertugas membuka jalan, sekaligus sekaligus mengawasi dan menjaga tiap perahu, khususnya saat-saat hendak masuk dan menerobos jeram.

Lody ikut dalam pengarungan itu sebagai pimpinan perjalanan, membawahi semua drive-guide di tiap perahu. Ia mendayung sendiri, menggunakan perahu kayak tunggal dengan menggenggam dayung bilah ganda.

Lincah geraknya. Melaju diantara perahu-perahu kami. Kadang ia berhenti di sebuah ceruk tenang, lalu mendayung lagi, ‘membimbing’ pengarungan. Lody memang satu dari sedikit pekayak andal Indonesia. 

“Boom…!” teriak drive-guide. Itu tanda perahu yang kami tumpangi akan membentur cadas batu sungai, dan berarti semua penumpang harus merundukkan tubuh ke bagian depan dalam perahu.

Sambil berpegang pada tali yang melengkapi perahu, tujuannya agar tubuh kami tak terlempar keluar perahu atau ikut terbentur batu cadas. Pada setiap kejadian, kami harus tetap menjaga dayung yang jadi tanggungjawab kami.

Seru, menegangkan dan amat memacu adrenalin. Terlebih saat harus menerobos jeram curam. Beberapa kali perahu kami tersangkut di celah batu, dan baru lepas setelah diupayakan lepas, hingga bisa kami seperahu sama mendayung lagi. 

Ada juga perahu peserta yang terbalik dan semua penumpang masuk air. Tapi tak perlu panic. Tubuh kami dilengkapi pelampung. Ada cara untuk selalu save & safety.

Wisata arung jeram yang aman dan terukur.. Dari saat start, ada sekitar 120 menit kami berarung jeram.  Menyusuri 12 Km batang tubuh bagian hulu Cisadane yang bermuara di Teluk Naga di pantai utara Tangerang, Banten. 

Menerobos bahkan ‘melompati’ 16 buah jeram dengan tingkat kesulitannya masing-masing. Syukurlah perahu karet saya dan Resti tak sampai terbalik, walau tak ada yang tak basah kuyup. 

Puncaknya adalah ketika perahu kami yang sedang mengapung tenang, dan beberapa di antara kami asyik memandangi seekor biyawak di atas batu, mendadak perahu meluncur jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter ke bagian dasar sungai.

Itulah dam kolam sistem instalasi pengairan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik Pemda Kota Bogor, yang sekaligus merupakan titik finish trip wisata arung jeram pagi itu. 

Lody dan drive-guide serta dan para anggota tim resque/medis menyalami peserta. Semua perahu dikumpulkan, sebagian dikempiskan, dan diangkut ke tepi atas sungai.

Tapi helm, rompi apung dan dayung tetap harus kami bawa, untuk kelak kami serahkan kepada petugas perlengkapan. Beberapa peserta tampak masih asyik main air di sekitar situ. Beberapa menikmati camilan dan air mineral. Sampahnya? Bawa pulang!

Ada minibus dan truk bak terbuka milik warga sekitar yang disewa operator untuk membawa kami, plus segenap perlengkapan (dayung, perahu karet dan lain-lain), balik pulang ke tempat start.

Pukul 11:15 wib kami sudah kembali berada di area MRC untuk bersih-bersih diri, mandi, beberes, ngopi lagi bagi yang ingin ngopi, sebelum balik ngejar kereta untuk pulang ke rumah masing-masing.

Bagi yang hendak balik pulang siang ke arah Bogor, ada baiknya segera bergegas dan jalan ke Stasiun Maseng. Sebab ‘teng’ pukul 11:45 wib, terjadwal bahwa KA Pangrango dari arah Sukabumi akan menepi di Maseng, dan dalam hitungan menit akan kembali melanjutkan perjalanan dan terjadwal tiba di Stasiun Pledang Bogor pada pukul 12:08 wib.

Silahkan kembali jalan kaki 5 menit ke Stasiun Bogor dan pilih sendiri KA Commuter-Line arah Jakarta, yang juga terhubung bila ingin lanjut menuju Bekasi dan Karawang atau ke arah Serpong dan Rangkasbitung, bahkan ke Merak Banten.

Beberapa teman juga biasa memarkir kendaraan pribadi (roda dua atau roda empat) di sekitar Stasiun Pledang, hingga dari situ bisa langsung balik pulang.

Bersama Komar ( kiri), Kepala Desa Citarik, Sukabumi usai menyelesaikan etape terakhir

Berayun di hammock

Saya dan Resti tak ingin cepat pulang ke rumah. Kami masih kangen sama Lody, ingin ngobrol lebih in-depth ihwal ‘jeram-jeram kehidupannya, sembari menikmati nuansa alam terbuka di pekarangan MRC. 

Kebetulan kami hafal, tiap hari ada 3 (tiga) perjalanan KA Pangrango antara Bogor – Sukabumi, dan 3 (tiga) perjalanan kereta api yang sama antara Sukabumi – Bogor, dan semua sama berhenti di Stasiun Maseng 

Sebelum berangkat kemari, kami sudah membeli tiket kereta api, pp., secara on-line di toko swalayan dekat rumah. Kepulangan kami sore ini dengan KA Pangrango dari arah Sukabumi yang dijadwalkan singgah di Stasiun Paseng pada pukul 17: 20 wib, dan tiba kembali di Stasiun Pledang Bogor pada pukul 17:48 Wib. Jadi masih ada waktu sekitar 5 Jam sebelum kami benar-benar balik pulang.

Anak-anak dan para orang tua yang pagi tadi tampak berjalan di pematang sawah, cross country sambil melihat-lihat kehidupan masyarakat sekitar, kini tampak ngumpul di bawah tenda besar tanpa dinding, asyik menggelar outdoor fun games

Rupanya mereka satu keluarga yang datang berkemah sembari menggelar family fun outing, bagian program yang ditawarkan Lody dan sahabat-sahabatnya.

Memang banyak yang bisa dilakukan di MRC. Selain perlengkapan arung jeram misalnya, Lody juga menyiapkan beberapa buah perahu kayak tunggal berbahan fiberglass. 

Beberapa anak muda tampak berlatih menunggangnya. Saya jadi ingat tahun 2012, Lody membuka Sekolah Kayak di Citarik – Sukabumi diikuti 100 orang peserta dari sekujur Nusantara, dan saya tercatat sebagai murid paling tua, hahaha…!

Menikmati suasana sekitar sambil bergayut di hammock yang terikat kuat di antara dua ketinggian dahan pohon besar, bikin mata jadi ngantuk. Lody menawarkan kami untuk bermalam, sembunyi bagai kepompong dalam sleeping bag, di dalam tenda kedap hujan kedap serangga, sambil menikmati busur langit dan nyanyian burung malam. Tapi mohon maaf, kami sungguh rindu rumah.

 

Yuk Pahami Kebutuhan Tambahan Bagi Wisatawan Muslim  

this formate

Wisatawan Muslim tumbuh pesat dan butuhkan semua layanan sesuai dengan ajaran Islam seperti arah kiblat, makanan halal, minuman bebas alkohol dan mushala. ( Foto: holidayme.com)

LONDON, bisniswisata.co.id:  GMTI Mastercard dan Crecentrating memproyeksikan pada 2020 jumlah wisatawan muslim dunia mencapai 158 juta dengan total pembelanjaan sebesar US$220 miliar atau setara Rp 3,08 triliun.

Pertumbuhan tersebut diharapkan terus meningkat menjadi US$300 miliar atau setara Rp 4,2 triliun pada 2026. Meski prediksi akan berubah seiring terjadinya pandemi global COVID-19, namun pasar yang berkembang cepat ini membuat pemasar destinasi perlu memahami perilaku perjalanan Muslim.

Hal ini untuk memenuhi kebutuhannya terutama dalam industri pariwisata halal dan pentingnya mendapatkan terminologi yang tepat dalam bidang pariwisata ramah Muslim atau Halal. 

Dilansir dari intechopen.com, kebutuhan turis Muslim diidentifikasi saat bepergian ke luar negeri adalah hotel ramah Muslim, makanan halal, aplikasi mobile ramah Muslim, bandara ramah Muslim, liburan halal, situs web pariwisata halal, fasilitas dan layanan kesehatan halal, pelayaran halal, dan pakaian renang halal.

Pengetahuan tentang perilaku wisata muslim dalam konteks pariwisata halal sangat relevan dengan pelaku industri, pemasar, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan sarana dan prasarana pariwisata halal, paket wisata halal, dan kegiatan wisata halal. 

Hal Ini juga akan membantu mereka merancang pesan khusus untuk komunikasi pemasaran guna menarik wisatawan Muslim.  Meskipun ukuran populasi Muslim masa lalu atau masa depan di dunia tidak mengungkapkan seberapa religius anggotanya, tapi pelanggan Muslim adalah salah satu segmen pasar yang paling cepat berkembang.

Kebutuhannya  tidak dapat diabaikan oleh pemasar destinasi dan operator pariwisata. Saat ini minat terhadap pariwisata Halal semakin meningkat dari perspektif industri dan penelitian akademis.  

Banyak yang menekankan fakta bahwa setiap strategi untuk mengembangkan atau memasarkan produk dan layanan pariwisata halal harus berpedoman pada ajaran dan prinsip Islam dalam semua aspeknya.

Ada beberapa istilah yang mendefinisikan konsep pariwisata halal dan memberikan pedoman yang disarankan untuk membantu memperjelas masalah tersebut.  Berdasarkan landasan ada perbedaan makna istilah ‘Halal’, ‘Islami’ dan ‘ramah Muslim’ dalam konteks pariwisata. 

Apakah Halal atau Islami?

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh akademisi dan praktisi adalah untuk mengidentifikasi terminologi yang tepat serta klarifikasi konsep yang tepat.  Saat ini istilah yang paling umum digunakan adalah ‘wisata halal’ dan ‘pariwisata islami. 

Pertama-tama, harus dipahami bahwa ‘Islam’ adalah nama agama, yang nabi pertamanya adalah Adam dan yang nabi terakhirnya adalah Muhammad.  Salah satu arti dari istilah Islam adalah ‘keadaan damai yang dicapai melalui penyerahan diri kepada Tuhan’.

Arti lain dari istilah Islam adalah ‘penyerahan’.  Oleh karena itu, istilah ‘Muslim’ berarti orang yang berserah diri kepada Tuhan dan digunakan untuk penganut agama Islam.

Dalam perspektif Islam, Halal mengacu pada praktik atau aktivitas pariwisata yang ‘diperbolehkan’ menurut ajaran Islam (Syariah).  Oleh karena itu, menggunakan istilah ‘Sesuai Syariah’ atau ‘Halal’ memberikan arti yang sama.

Penggunaan istilah ‘Islami’ dan ‘Halal’ seolah-olah memiliki arti yang sama, padahal tidak tepat.  Akan lebih baik menggunakan ‘Halal’ sebagai nama merek dan bukan ‘Islami’ untuk produk dan layanan terkait dalam industri pariwisata.

Intinya di sini, untuk memahami perilaku wisatawan muslim, pemasar perlu memahami sisi demand: kebutuhan wisatawan muslim dalam konteks wisata halal.

Sementara istilah ‘ramah Muslim’  atau Muslim friendly’ dalam industri pariwisata menunjukkan upaya untuk membuat pengalaman wisata menyenangkan bagi umat Islam yang taat.  

Perusahaan yang ramah Muslim dapat menyediakan produk dan layanan Halal dan non-Halal tetapi tidak di tempat atau bagian yang sama. Dengan kata lain, destinasi ramah Muslim menawarkan banyak layanan ‘Halal’.

Layanannya seperti makanan dan minuman halal dan kolam renang yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan menyediakan tempat yang nyaman bagi umat Islam untuk melaksanakan sholat harian mereka.  

Kebutuhan wisatawan muslim

Besarnya pergerakan wisatawan Muslim membuat destinasi non-Muslim seperti Jepang, Filipina dan Brazil menawarkan solusi / pilihan ramah Muslim untuk skenario yang dipandang bermasalah oleh wisatawan Muslim.

Misalnya, Kamar Dagang di Jepang dan Asosiasi Agen Perjalanan Filipina menyelenggarakan seminar untuk melatih industri pariwisata dan pemilik restoran untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.  

Selain itu, ruang sholat dialokasikan di bandara utama, dan restoran menawarkan makanan halal di Jepang.  Panduan ramah Muslim juga diterbitkan untuk memberikan informasi tentang makanan halal dan tempat-tempat sholat.

Departemen Pariwisata di Filipina meluncurkan pada tahun 2014 apa yang disebut paket ‘Eid Play Love’ untuk menarik pelancong Muslim dari Arab Saudi dan UEA selama Idul Fitri dan Idul Adha di negara itu. Tujuan paket adalah untuk mempromosikan Filipina sebagai “tujuan yang ramah Muslim dan keluarga” .

Contoh lain, Federasi Asosiasi Muslim Brasil (FAMBRAS) mencetak 65.000 salinan ‘Panduan Kipas Muslim’ terdiri dari 28 halaman dimana mereka merinci waktu sholat, lokasi masjid di kota-kota tuan rumah, layanan darurat, dan detail venue untuk penggemar Muslim selama Piala Dunia 2014.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, untuk memahami perilaku wisatawan muslim, pemasar destinasi perlu memahami sisi demand, kebutuhan wisatawan muslim dalam konteks wisata halal.  

Kebutuhan berikut adalah atribut ramah Muslim yang diperuntukkan bagi wisatawan Muslim saat bepergian ke luar negeri.  Atribut ramah Muslim yang diterapkan di beberapa destinasi bisa menjadi tolok ukur destinasi lain yang menargetkan turis Muslim atau memasarkan destinasi tersebut sebagai ‘destinasi ramah Muslim’.

Ramah  Muslim

Dalam beberapa tahun terakhir, telah diamati bahwa jumlah hotel yang sesuai Syariah tumbuh di beberapa tujuan Muslim dan non-Muslim.  Misalnya, Al Meroz Hotel adalah hotel Halal sepenuhnya yang berlokasi di Thailand. 

Beberapa tujuan mempromosikan hotel-hotel ini dan mengklaim sebagai ‘sesuai Syariah’ sebagai ‘hotel yang ramah Muslim. Hotel ramah Muslim memberikan tamu Muslim semua layanan yang sesuai dengan ajaran Islam seperti arah kiblat, makanan halal, minuman bebas alkohol dan mushala.

Jepang adalah salah satu negara non-Muslim yang mengambil inisiatif untuk melatih staf perhotelan dengan meluncurkan Proyek Ramah Muslim. 

Tujuan dari proyek ini adalah untuk menawarkan pelatihan bagi karyawan industri perhotelan di Jepang untuk meningkatkan pemahaman akan kebutuhan dan perhatian wisatawan Muslim yang mengunjungi Jepang. 

Makanan halal juga akan disediakan bagi umat Islam di Tokyo Olympic Games 2020 yang tahun ini gagal dilaksanakan. Praktik terbaik lainnya dalam wisata halal adalah kota Kyoto yang terletak di bagian tengah pulau Honshu, Jepang. 

Panduan perjalanan di situs web kota Kyoto disediakan untuk Muslim dalam empat bahasa: Arab, Inggris, Turki, dan Melayu.  Situs web menyediakan daftar hotel ramah Muslim.  

Hotel dan penginapan ini menyediakan kompas kiblat, peta Masjid Kyoto dan sajadah untuk pengunjung Muslim, dan menyajikan makanan halal.

Aerostar Hotel di Moskow ramah Muslim karena salah satu dapur hotel bersertifikat Halal.  Hotel ini menyediakan Quran, sajadah dan arah kiblat di kamar mereka.  Shampo dan sabun yang disediakan di kamar bersertifikat Halal.  Tersedia dua ruang sholat: satu untuk pria dan satu untuk wanita. 

Hotel Fairmont Makati dan Raffles Makati di Filipina menjadi ramah Muslim dengan menyediakan  Alquran, mushala dan saluran TV berbahasa Arab.

Ketersediaan hotel ramah Muslim dianggap sebagai salah satu atribut terpenting yang menarik wisatawan Muslim dan mendorong mereka untuk mengunjungi destinasi tersebut.  

Makanan halal

Ketersediaan makanan dan minuman halal sangat penting untuk destinasi yang menargetkan wisatawan Muslim.  Sekarang umum bagi wisatawan Muslim untuk meminta makanan dan minuman halal ketika mereka mengunjungi tujuan non-Muslim.

Menurut laporan Euromonitor International penjualan makanan halal meningkat di Eropa, terutama di gerai layanan makanan konsumen karena kedatangan turis Muslim yang berkunjung ke Eropa.  

Oleh karena itu, investasi di pasar makanan halal diharapkan dapat berkembang di destinasi non-Muslim karena pertumbuhan pariwisata halal.  

Selain itu, restoran cepat saji dan layanan lengkap Timur Tengah yang menyajikan makanan Halal bagi wisatawan Muslim sangat lazim di Prancis, Jerman, dan Inggris, dan beberapa pelanggan mereka termasuk non-Muslim.

Beberapa jaringan restoran melayani kebutuhan turis Muslim dengan menyajikan hidangan yang disiapkan di dapur bersertifikat Halal dan menggunakan ayam Halal. 

 Di Inggris, misalnya, gerai KFC dan restoran Nando menyajikan ayam bersertifikat halal.  Chicken Cottage, Dixy Fried Chicken, Pizza Express dan Perfect Fried Chicken menggunakan ayam Halal.  

Resto cepat saji lainnya seperti Subway menggunakan daging halal dalam sandwich yang dijual. Selain itu, Ryokan, hostel tradisional Jepang, juga menyajikan makanan halal.  

Ketersediaan makanan Halal di tempat tujuan memungkinkan wisatawan Muslim untuk merasakan kuliner yang terkenal sesuai dengan kepercayaan dan akan memotivasi mereka untuk mengunjungi destinasi tersebut.

Aplikasi mobile ramah Muslim

Salah satu praktik terkini dalam industri pariwisata halal adalah menyediakan aplikasi smartphone yang menjadikan liburan menyenangkan dan ramah Muslim. 

Thailand adalah salah satu negara non-Muslim yang berinisiatif meluncurkan aplikasi ramah Muslim untuk membantu lebih jauh meningkatkan industri pariwisata di Thailand. 

Aplikasi Ini membantu pengunjung untuk menemukan hotel dan pusat perbelanjaan dengan mushala dan restoran yang menyediakan ketersediaan makanan halal. 

Aplikasi lainnya seperti ‘HalalTrip’ dan ‘Muslim Pro’ membantu wisatawan Muslim untuk menemukan produk dan layanan perhotelan yang ramah halal, seperti hotel, panduan tujuan, paket liburan, panduan bandara dan restoran Halal.

Diharapkan negara non-Muslim yang menyasar para pelancong Muslim akan mengembangkan aplikasinya sendiri untuk menjadikan negara tersebut ramah Muslim.

 Bandara ramah Muslim

Bandara ramah Muslim menjadi salah satu praktik terbaik untuk memuaskan wisatawan Muslim.  Dilaporkan bahwa jumlah pengunjung dari negara-negara Muslim Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir meningkat di Osaka. 

Itu sebabnya Bandara Internasional Kansai (KIX) berinisiatif untuk extended services dengan memuaskan umat Islam.  Bandara mengalokasikan beberapa mushala untuk digunakan para pelancong dan pengunjung. 

Ruang sholat dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.  Tersedia ruang cuci untuk berwudhu.  Ruang pembayaran dibuka selama 24 jam sehari untuk wisatawan Muslim dengan persewaan alat shalat dan tampilan arah kiblat. 

Sejumlah restoran menyiapkan makanan halal yang dipromosikan sebagai ‘menu bebas babi dan bebas alkohol’, dan restorannya ‘bersertifikat Halal’.  Selain itu, Bandara Narita dan Bandara Internasional Haneda di Tokyo juga membuka mushola.

Memanfaatkan ketersediaan bandara ramah Muslim sebagai alat promosi untuk menarik wisatawan Muslim adalah pilihan terbaik untuk meningkatkan turis Muslim yang masuk dan membuat destinasi ramah Muslim.

 

Agoda Dukung Wisata Domestik Jepang dan Thailand

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Platform perjalanan digital Agoda akan bergabung dengan kampanye ‘Go-To’ dari Badan Pariwisata Jepang, memastikan para pelancong yang melakukan pemesanan domestik di Agoda dapat memanfaatkan subsidi perjalanan “Go-To”.

Wisatawan Jepang dapat menghemat hingga 35% atau 14.000 yen per orang per malam untuk pemesanan akomodasi di hotel yang memenuhi syarat.

 Ini adalah kemitraan pemerintah terbaru untuk Agoda karena berupaya untuk meningkatkan pemesanan perjalanan domestik menyusul larangan perjalanan yang melumpuhkan perjalanan regional di Asia yang berdampak pada aliran pendapatan Online Travel Agent ( OTA).

 Di Thailand, Agoda telah terlibat dengan kampanye bersama, yang mendukung skema diskon untuk wisatawan Thailand.  Agoda menawarkan lebih dari 40.000 properti di Jepang dan 290.000 properti di Thailand.

Agoda juga telah berinvestasi dalam peluncuran internasional kampanye GoLocal, yang telah mendaftar ribuan mitra hotel dan akomodasi sejak diluncurkan pada pertengahan Juni 2020.

Sekali lagi, program ini dirancang untuk merangsang pasar pariwisata domestik di seluruh Asia Pasifik dengan mendorong orang-orang untuk menjelajahi lebih banyak tentang negara mereka sendiri.  Wisatawan mendapat insentif dari penghematan hingga 25%, sementara mitra hotel didukung oleh kampanye pemasaran multi-saluran.

“Asia perlahan-lahan keluar dari lockdown dan membuka perjalanan domestik.  Sangat bagus bahwa pemerintah telah mencurahkan upaya untuk meremajakan industri pariwisata,”kata John Brown, Kepala eksekutif Agoda.

Pemerintah memahami nilai pariwisata bagi ekonomi. Agoda sangat senang bekerja sama dengan Badan Pariwisata Jepang seperti yang dilakukan dengan Otoritas Pariwisata Thailand, tambah John Brown.

Agoda sejak 18 Juni lalu telah meluncurkan kampanye terintegrasi terbesarnya, “GoLocal”, yang bertujuan untuk merangsang pariwisata domestik di seluruh pasar Asia Pasifik dan global, dan telah mendaftarkan ribuan mitra hotel dalam fase pra-peluncuran.

Penyedia akomodasi yang ikut serta dalam inisiatif GoLocal Agoda siap memanfaatkan pendekatan multi-salurannya untuk membantu mitra menjangkau dan mengonversi wisatawan yang mencari penawaran wisata domestik yang menarik.

Dalam inisiatif domestik terbesarnya, Agoda telah mengembangkan kampanye penjualan dan pemasaran yang terintegrasi penuh untuk mendukung program GoLocal, berinvestasi dalam kampanye media sosial yang terkoordinasi.

Begitu juga melakukan aktivasi merek digital dan konten video, dan kegiatan hubungan masyarakat yang ditargetkan, serta pemasaran pelanggan yang dipesan lebih dahulu dan halaman arahan khusus

 

 

Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020) Bagian : 2

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

AJIP ROSIDI DALAM LINGKARAN ‘SENIMAN SENEN’  YANG SEMULA DIREMEHKAN 

(Penggal ke-2)

Tak sekali saja Ilen Surianegara, Ramadhan Kartahadimadja, dan Ajip Rosidi  menjambangi Gubernur DKI Mayjen KKO Ali Sadikin. Untuk mengkonkritkan rencana menerbitkan majalah kebudayaan yang bakal tehadir sekali sebulan,  beberapa kali mereka bermuka-muka. 

Suatu waktu mereka menghadap lagi dengan membawa serta kertas yang digulung. Yang tertera di sana? Bagan yang dibuat oleh pelukis Oesman Effendi sebagai terjemahan dari kehendak hati sesama seniman yang bermukim di Ibukota.  

Di awal perbincangan itu Bang Ali menanya ke mana gerangan perginya para seniman yang dulu suka nongkrong di Pasar Senen. Ketiga tamunya lantas bercerita. Ajip Rosidi memang bagian dari kalangan yang bersebutan ‘Seniman Senen’. Ramadhan KH juga dekat dengan mereka.

Sekembali ke Tanah Air seusai bekerja di Sticusa (Belanda) dan belajar bahasa Spanyol di negeri matador pada 1952-1953,  penerjemah karya Federico Garcia Lorca,  Romacero Gitano menjadi Romansa Kaum Gitana (Pustaka Jaya—1973), kerap bertandang ke sana. 

Macam gelandangan

Di sebuah pojokan Pasar Senen—tepatnya di antara ujung barat Jl. Kramat Bunder dan belakang bioskop Grand—terdapat warung makan-minum yang jauh dari permanen. Juga sebuah toko buku loak. Di penghujung 1930-an, ke sanalah sejumlah anak muda terdidik yang merupakan anasir jaringan gerakan bawah tanah acap merapat. Membeli atau menggadaikan bahan  bacaan, tujuannya. 

Tapi lama-lama ikut nongkrong juga mereka. Abdul Kapau Gani dan Chaerul Saleh, di antaranya. Kelak AK Gani menjadi dokter dan Wakil Perdana Menteri di kabinet Amir Sjarifuddin Harahap.   Sedangkan Chaerul Saleh  menjadi Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan kita  yang pertama. 

Di masa Jepang (1942-1945) tempat di belakang bioskop Grand itu menjadi pangkalan angkatan muda yang jiwanya sedang dirasuk seni. Magnit yang menarik mereka ke sana tiada lain dari anak Medan berdarah Minang yang menjadi idola, penyair  Chairil Anwar. Keponanakan Sutan Sjahrir ini memang lekat ke  kaum pergerakan. 

Chairil Anwar yang bersama dua Minang lainnya, Asrul Sani dan Rivai Apin, mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka pada 1946,  sungguh seorang pembaharu.  Tak hanya merevolusi sastra  kita (terutama puisi)  dengan pengungkapan yang sangat baru menggunakan bahasa Indonesia yang ternyata bisa dahsyat daya ungkapnya.

Dia p eletak dasar gaya hidup  (trend setter)  pula. Sebagai si binatang jalang tulen yang dari kumpulannya terbuang, di masa itu (dan sampai sekarang sebenarnya)  ia pengilham bagi angkatan muda Indonesia yang sedang dirasuk seni atau tertarik dengan alam kreatif. Gara-gara dia juga akhirnya seketika kebohemianan menjadi semacam isyarat keotentikan kesenimanan seseorang. Tak hanya di lingkungan Pasar Senen demikian, tapi di mana-mana.

Tampaknya terpengaruh oleh  Chairil Anwar yang kala itu sudah almarhum (ia lahir pada 26 Juli 1922 dan berpulang pada 28 April 1949), ke Pasar Senen-lah mengalir anak muda asal Sumatra tak lama setelah penyerahan kedaulatan (dari Belanda ke Indonesia)  tahun 1949.

 Anak Minang dan Batak yang berhadiran  mulai tahun 1950—setelah  ibukota Republik yang sebelumnya di Yogyakarta kembali ke Jakarta—ada yang berdarah seni tapi ada pula yang menyaru sebagai seniman. 

Di Pasar Senen ada dari mereka yang kemudian beririsan dengan komunitas lain termasuk para bajingan (Buaya Senen) dan tukang catut alias calo.  Penguasa di sana kala itu adalah Cobra, organisasi yang bergerak di bidang pengamanan. 

Pimpinannya Imam Syafei (Bang Pi’ie), mantan pejuang revolusi kemerdekaaan yang buta huruf dan kelak (Februari-Maret 1966) menjadi Menteri Keamanan  di masa Presiden Soekarno. 

Memang strategis Pasar Senen. Dari sana ke Gedung Kesenian di Pasar Baru yang merupakan ajang utama pementasan sandiwara (teater),  kaum belia itu bisa jalan kaki; pun ke studio film yang baru segelintir. 

Kalau mau ke mana-mana tersedia puspa angkutan, termasuk trem. Jadi selain efek Chairil Anwar, kestrategisan pasar yang bersebelahan dengan Kwitang dan Kramat Raya itu juga memengaruhi.   

Salah satu unsur kesamaan kaum muda yang sedang mencari jati diri itu adalah keurakan gaya hidup. Kejalangan yang digarisbawahi  Chairil Anwar sangat mereka pentingkan. Prinsip yang jamak di antara mereka? Agar bisa menghasilkan karya gemilang maka kebebasan berekspresi menjadi syarat mutlak. 

Manusia bebas itu tak terikat apa-apa kecuali oleh seni. Pikiran komersil  merupakan penghianatan terhadap idealisme. Cari makan dengan bekerja di luar lapangan seni adalah cerminan jiwa lemah.

Sebagai insan merdekalah angkatan muda itu berhimpun di warung-warung di dekat bioskop Grand saban malam. Hingga subuh mereka bisa berdiskusi seru meski cuma bertemankan rokok lusuh, kopi kecil, dan ketela atau putu yang dibayar kawan yang kebetulan ber-uang. 

Gagasan-gagasan besar yang mereka percakapkan meski perut terus bergolak akibat kantong kempes. Terobsesi  menjadi aktor (sandiwara  atau film) atau penulis skenario, atau pengarang, atau pelukis hebat, mereka. 

Kebohemianannya  sungguh nyata. Sebagian mereka berpenampilan serupa  kaum gelandangan. Tak saja karena pakaian kumal, tubuh  dekil, dan rambut-jenggot  panjang tak terurus tapi juga wajah pucat dan bola mata seperti hendak copot karena diri yang kelewat sering begadang. 

Omongannya serba besar tapi hasilnya nol. Dalam bertindak di lapangan kesenian  mereka bisa sangat spekualatif atau kelewat nekad. Akibat segala keganjilan itu sebutan ‘Seniman Senen’ pun dilekatkan orang ke diri mereka. Maknanya tentu miring. Perendahan! 

Adapun komunitas  yang berkegiatan di kitaran bioskop Grand, mereka  menyebut diri  ‘Anak Senen’. Nanti, seiring perjalanan waktu unsurnya meluas melampaui lingkaran Minang-Batak. Meski dua etnik itu masih tetap dominan. 

Lagak-laku ‘Seniman Senen’ memang sangat  seru. Dua eksponen pentingnya, Syahmardan (SM Ardan)  dan Misbach Yusa Biran, menggambarkannya lewat tulisan yang menarik.   

Khusus tentang lelaku mereka, terutama yang  gadungan,  Misbach Yusa Biran  menulis cerita bersambung di  majalah Aneka edisi 1957-1959. Di tahun tahun 1971 karya ini ini dibukukan penerbit  Pustaka Jaya yang dipimpin temannya, Ajip Rosidi. Berjudul Keajaiban di Pasar Senen, kisah karikatural ini jenaka dan sangat memikat. 

Cerita berjudul Nanggap Seniman, umpamanya. Tokoh Biran dan Donggo diundang datang ke sebuah  acara para mahasiswa anak gedongan. Sebagai tontonan yang eksotik yang bisa dipermainkan,  mereka dimaksud. Ternyata yang terjadi  justru skak balik. Donggo yang semula serba salah tingkah akibat berada di habitat yang sangat berkelimpahan dan diperolok-olok pula,  seketika  kembali menjadi aktor panggung.  

Dengan gaya teatrikalnya ia mencela   pemuda-pemudi manja yang senang dansa-dansi dan berbahasa Belanda tersebut karena masih saja menjadi parasit bagi orangtua mereka.     

Biran tentu saja adalah Misbach Yusa Biran. Sedangkan Donggo adalah Abdul Dja’far Donggo, anak Sumbawa,  Bima. Kelak ia menikah dengan sesama sastrawan, Poppy Hutagalung. Dua anak mereka adalah kawan lamaku sebagai sesama wartawan: Lewa Pardomuan dan Reko Alum.

Dalam karya Misbach Yusa Biran yang lain, Kenangan-kenangan Orang Bandel (Komunitas Bambu—2008, kata pengantarnya oleh Ajip Rosidi), potret suasana Seniman Senen dalam keseharian di tahun 1950-an kembali hadir.  Bentuknya lebih realis tapi tetap saja memikat. 

Seperti saling melengkapi, SM Ardan pun berkisah tentang zaman Seniman Senen di kata pengantar Keajaiban di Pasar Senen [Kepustakaan Populer Gramedia —2008] serta di kitab yang ditulisnya, Jejak Seorang Aktor—Sukarno M. Noor [Aksara Karunia—2004].  Penulis buku Terang Bulan Terang di Kali  (1955) ini juga seorang pencerita yang piawai. 

Ajip Rosidi pun pernah mengisahkan tentang ‘Seniman Senen’  di beberapa tulisannya. Namun gambarannya serba selintas saja. Termasuk waktu dia berkisah ihwal kawan lamanya yang kemudian menjadi sastrawan eksil, Sobron Aidit. 

Aku sendiri baru di awal 1990-an mengetahui keberadaan komunitas Seniman Senen. Dari seorang senior kami di koran Bisnis Indonesia aku beroleh informasi. Zahlul Pasha namanya, ia wartawan angkatan lama yang banyak meliput seni-budaya. 

Orang Minang yang selalu berpenampilan necis tersebut beberapa kali mengisahkan ke aku ‘kegilaan’ teman-temanya yang menjadi bagian dari  ‘Seniman Senen’. Harmoko dan Zulharmans Said, terlebih. Di tahun 1990-an itu Harmoko yang tadinya karikaturis  sudah menjadi Menteri Penerangan dan Zulharmans (Bang Zul) Pemimpin Redaksi harian Neraca setelah tidak lagi menjadi Ketua PWI Pusat. 

“Kalau mengingat  kelakuannya sewaktu di Senen, nggak terbayangkan kalau Pak Harmoko itu kemudian menjadi menteri,” itu antara lain ucapan Pak Zahlul yang masih kuingat sampai sekarang. Perokok berantai itu berujar sembari tergelak. 

Berkibar

Di antara anak-anak Sumatra yang merapat ke Pasar Senen di awal tahun 1950-an itu terdapat dua sosok yang sedang giat mendalami seni peran (sandiwara dan film): Sukarno M. Noor dan Masito Sitorus.  Sukarno M. Noor (ayah Rano Karno) lahir di Jatinegara dan berayahkan Muhammad Noer, seorang jurnalis Minang asal Solok, Sumatra Barat. 

Masih berumur 2 tahun Soekarno M. Noor saat menjadi yatim;  adiknya, Ismed M. Noor, masih bayi. Sebagai siswa SD. Ia lantas dibawa ibunya ke Bonjol. Di sana mereka bertiga bermukim sebelum pindah kemudian ke Tebing Tinggi.  Muhammad Noer pernah merantau ke kota yang terletak di antara Pematang Siantar dan Medan ini. 

Saat bersekolah di SMP Sukarno M. Noor diboyong pamannya ke Pematang Siantar. Ismed turut serta. Perkawanan mereka dengan Masito Sitorus bermula di sana. 

Setamat dari SMP di Siantar, pada 1950 Sukarno M. Noor kembali ke Jakarta. Sambil mencari penghidupan dan  dan memelajari seni peran secara informal, di Pasar Senen-lah ia sering berlabuh bila malam sudah menjelang.  

Teman bercengkrama-berdiskusinya di sana, seperti dikisahkan  SM Ardan,  terutama sesama penggelut dunia peran. Selain Masito Sitorus dan Ismed M. Noor, ada Wahyu Sihombing, Matnoor Tindaon, Muni Cader, Tiar Malang, Jeffri Sah, Mardali Syarief, Sjamsul Fuad, Chaidir Rachman, Mas, M. Amien, Wisjnu Moraudhy, Usbanda, Zulharmans Said, dan Wahid Chan. 

Aktor yang namanya sudah mulai mencuat, Wahid Chan, yang menjadi kepala suku (sebutannya ‘camat’) mereka. Sebelum tahun 1955 umumnya mereka masin nobody. Sukarno M. Noor sendiri baru di tahun 1954 mendapatkan peran utama di sebuah film. 

Mereka inilah,  ditambah dengan beberapa orang yang sepantaran termasuk AD Donggo dan yang menyaru sebagai seniman,  makhluk malam yang selalu gentayangan  di belakang bioskop Grand. Tapi makhluk siangnya juga ada. Mereka siswa Taman Madya (SMA), Taman Siswa. Setelah tamat  pun mereka masih mangkal di sana. 

SM Ardan, Misbach Yusa Biran, Sjuman Djaja, Soekanto SA, Sobron Aidit, dan junior yang dua kelas di bawah mereka, Ajip Rosidi, anak sekolahan itu. Nanti, di tahun 1956,  Ajip Rosidi, SM Ardan, dan Sobron Aidit  menerbitkan karya bersama, sebuah buku kumpulan puisi berjudul  Ketemu di Jalan.

Kenyataannya, penghidupan di Jakarta di masa itu maha berat.  Dunia kesenian-kebudayaan baru saja mulai menggeliat setelah vakum sejak Jepang menjajah Indonesia. Kalaupun ada kegiatan kreatif di zaman Jepang, itu sebatas melayani kepentingan penguasa yang merasa sebagai saudara tua  orang Asia  itu saja.

Setelah Dai Nippon hengkang, Belanda datang lagi untuk meneruskan kolonialisme. Di masa agresi militer itu penghidupan rakyat kembali tak menentu. Para insan kreatif umumnya kembali kapiran. 

Sebelum tahun 1950, perusahaan film di negeri kita hanya milik asing (kulit putih) dan Tionghoa saja. Mereka, seperti kata Gayus Siagian dalam kitab Sejarah Film Indonesia—Masa Kelahiran dan Pertumbuhan  (FFTV-IKJ—2010), berproduksi sekadar cari uang saja dengan mengeksploitasi selera rendah masyarakat. Mereka memperlakukan kaum pribumi yang menjadi anak buahnya, termasuk aktor, tak lebih dari pekerja bengkel berpenghasilan cekak.  

Kelahiran Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini, dipimpin Usmar Ismail) pada 30 Maret 1950 serta Perseroan Artis Indonesia (Persari, dikomandani Djamaluddin Malik) pada 23 April 1951 merupakan awal pembaikan keadaan. Selain produksi lebih banyak, mutu film buatan dalam negeri pun meningkat. 

Kegairahan anak muda, teruatama Seniman Senen,  untuk menjadi aktor meninggi dengan sendirinya. Terlebih lagi setelah kursus akting yang diadakan Perfini mulai tahun 1955 untuk kalangan sendiri kemudian dikembangkan menjadi Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang terbuka untuk umum. Usmar Ismail dan Asrul Sani yang menjadi penggagasnya. Kakak-beradik Sukarno M. Noor dan Ismed Noor mahasiswa awalnya. 

Sebagai aktor sandiwara, pemain film, dan penulis naskahlah para Seniman Senen awalnya mencuat. Menjadi sutradara belakangan saja yakni sesudah nama komunitas itu kian harum. Wahyu Sihombing,  Misbach Yusa Biran, Sjuman Djaja, dan Tiar Malang di antaranya. Wim Umboh yang merapat kemudian, perlu juga disebut. 

Seiring kecemerlangan nama sejumlah pegiatnya, perlahan tempat di belakang bioskop Grand pun menjadi kantong kebudayaan yang sering dijambangi orang luar termasuk yang sudah bernama besar. Para senior seperti HB Jassin, Djamaluddin Malik, dan Soerjosoemanto rajin melongoknya. 

Pengarang seperti Rijono Pratikno, DS Moeljanto, dan Ramadhan KH pun menjadi bagian dari komunitas ini. Sejumlah seniman terkemuka daerah merasa wajib singgah ke belakang bioskop Grand manakala berkesempatan ke Jakarta. 

WS Rendra (Surakarta), NH Dini (Semarang), Luftie Rachman (Surabaya), serta Bokor Hutasuhut dan Partahi H. Sirait (Medan), termasuk. Bokor adalah ayahanda Budi Hutasuhut, sastrawan-wartawan yang kini bermukim di Padang Sidimpuan, Sumatra Utara. Kalau datang, para pemuncak daerah itu biasanya akan dipandu Ajip Rosidi dan kawan-kawannya. 

Seniman Senen yang tadinya diremehkan orang luar, terutama kaangan mapan, ternyata kemudian sangat diperhitungkan oleh siapa pun? Lantas, seperti pertanyaan Gubernur Ali Sadikin, di  mana mereka kemudian berhimpun? (Bersambung) 

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

 

Menikmati  Keelokan Ben Youssef Madrasa, Terbesar Se-Afrika  Utara Pada zamannya

this formate

Penulis berpose di lantai atas madrasah yang pernah menjadi sekolah terbesar di seantero Afrika Utara. ( Foto-foto : Yudarwita Maharajo) 

MARAKESH, Maroko, bisniswisata.co.id : Pagi di bulan Juni itu udara cerah di Marakesh, Maroko.  Kami sedang melewati Djma El Fna, Kota Tua yang terkenal, menuju madrasah yang pernah menjadi sekolah terbesar di seantero Afrika Utara. 

Madrasah yang sejak 1960 tidak lagi dimanfaatkan ini terletak di tepi pasar (shouk) yang memenuhi Djma El Fna.  Ada ribuan kios dan toko disini.  Berjalan di antara toko-toko tersebut saja sudah merupakan keasyikan tersendiri.  

Dari acar buah zaitun sampai sepatu kulit berukir, berbagai jenis suvenir dan kerajinan perak sampai lemari kayu tersedia disini.  Ada banyak shouk di Djma El Fna, satu lorong terhubung dengan lorong shouk lainnya.

Pasar sangat vibrant, penuh warna, dan turis temtunya.  Setiap lorongnya merupakan ajang berbelanja yang menawan dan eksotis.  Lorong-lorong dimana toko berbaris dinaungi dahan-dahan kayu kecil yang membuatnya teduh temaram tetapi masih disinari cahaya.

Madrasa Ibn Yusuf yang pertama kali dibangun di abad ke-14

Mudah saja menemukan madrasa, setiap penjaga toko yang kami tanyai dengan mudah menunjukkan arah.  Keluar dari salah satu shouk yang sibuk, kami langsung berhadapan dengan pintu gerbangnya.  Pengunjung harus membayar 50 dirham, sekitar 75.000 rupiah, untuk masuk menikmati situs bersejarah ini.

Memulai kunjungan, kami melangkahkan kaki meninggalkan loket karcis, menapaki lorong panjang berlantai ubin berwarna-warni cerah, bermotif mirip wajik yang serupa dengan keramik pada dinding-dindingnya.  

Lorong mengantar kami ke sebuah pintu gerbang besar dengan lengkungan di atasnya, dihiasi stucco dan ukir-ukiran cantik dari plaster.  Melangkahi pintu gerbang penuh dekorasi indah tersebut kami disambut oleh halaman terbuka besar berisi kolam berubin mozaik penuh warna. Sayang, saat itu kolam sedang dibersihkan sehingga tidak ada airnya sama sekali.  Bangunan madrasah dibangun mengelilingi halaman (courtyard) ini.

Juga dikenal sebagai Bin Yusuf atau Ibn Yusuf Madrasa, madrasah yang pertama kali dibangun di abad ke-14 ini adalah institusi pendidikan Islami terbesar dan terpenting di  Maroko dan Afrika Utara, pada zaman kejayaannya. 

Dinamakan demikian karena berdampingan dengan Masjid Ben Youssef yang didirikan oleh  Sultan Ali ibn Yusuf dari dinasti Almoravid, dinasti kerajaan bangsa Berber Muslim (berkuasa 1106-1142).  Bangunan madrasah yang berdiri saat ini dibangun ulang di tahun 1565 atas perintah Sultan Sidi Abdallah al-Ghalib dari dinasti  Sa’di.

Berbeda jauh dengan keriuhan di shouk-shouk, suasana di dalam madrasa sangat sepi dan tenang, dikelilingi tembok, terisolasi dari dunia di luarnya.  Tidak terbayang bagaimana bangunan dengan 130 kamar ini dulu dipenuhi oleh 800-900 pelajar pada masanya.  

Kamar-kamar sempit di lantai bawah sangat terlindungi, begitupun ruang-ruang kelasnya yang berukuran kecil.  Koridor juga dibuat sempit  dengan void kecil di setiap jarak tertentu.  Layout ini mungkin dibuat sedemikian rupa agar penghuninya tekun dan fokus belajar, jauh dari godaan dunia luar.

Suasana di lantai atas lebih melegakan karena ada cukup banyak jendela dan bukaan dari kayu cedar yang mengarah ke courtyard.  Kamar-kamar di atas ini juga tidak luas, ada anak-anak tangga sederhana dalam setiap kamar yang menuju langit-langit.  

Apakah di atas langit-langit itu ada ruang berupa loft tempat orang tidur?  Atau itu hanya ruang sempit untuk menyimpan buku-buku dan barang pribadi? Courtyard pastilah memainkan peran penting karena sekelilingnya didekorasi dengan indah. 

Pada tembok terdapat banyak ukiran dan kaligrafi.  Ukiran di atas lengkung pintu bisa berlapis-lapis, detail dan dikerjakan dengan presisi tinggi. Ubin lantai dan dinding sebagian besar berwarna-warni riang, bermotif bunga dan masih terawat baik.  

Interior madrasa dengan susunan keramikyang indah

Pintu, jendela, railing pada void, bingkai ventilasi terbuat dari kayu cedar yang juga diukir indah.  Semuanya menyatu dalam harmoni yang selaras dengan tiang-tiang, lengkung dan ceruk disana-sini.  

Serombongan pelajar asing tampak sedang duduk di salah satu selasar dekat courtyard, mendengarkan penjelasan gurunya.  Mungkin selasar ini dulunya berfungsi sebagai ruang belajar juga.  

Kiranya seperti inilah dulu pemandangan para pelajar madrasa dari berbagai usia bergantian duduk di selasar yang sama, berabad-abad yang lalu, di saat matahari tidak terlalu terik dan angin tidak bertiup terlalu dingin… Duduk mempelajari tauhid, atau cara membaca Al Qur’an dengan benar atau menafsirkan hukum-hukum Islam dari satu surat ke surat yang lain.

Mungkin juga sekedar menyimak sang ustadz melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an ;                 Dan sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”

Madrasa ditutup saat ini karena renovasi dan rencananya akan dibuka kembali di pertengahan 2020, namun tampaknya orang masih harus menunggu lebih lama lagi akibat dampak pandemi yang masih berlangsung.  

Sebenarnya ingin sekali mengunjungi juga Universitas Al Qarawayyin, universitas tertua di dunia yang didirikan pada tahun 856 oleh ilmuwan Fatima Al Fihri. Ya, universitas pertama di dunia didirikan oleh seorang muslimah di Maroko! 

Sayang, universitas yang masih aktif sampai sekarang ini terletak di kota lain – di Fez, kota terbesar kedua di Maroko, beberapa jam berkendara dari Marakesh.  Oh well, mungkin lain waktu, insya Allah.

Langit terang saat kami melangkah keluar untuk melanjutkan perjalanan, lorong-lorong sunyi, tak terdengar suara riuh-rendah perniagaan di luar tembok.  Waktu seakan berhenti di Ben Youssef Madrasa.  

Pelaku Parekraf Agar Miliki Sertifikat Kompetensi

this formate

Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Tetty DS Ariyanto ( Foto : Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memiliki sertifikat kompetensi terutama di saat memasuki masa adaptasi kebiasaan baru.

Kepala Subdirektorat Edukasi II Direktorat Pengembangan SDM Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jemmy Alexander, dalam webinar OKUPASI (Obrolan Khusus Kompetensi dan Sertifikasi) “Menuju Sertifikasi dalam Adaptasi Kebiasaan Baru”, Kamis (06/08/2020),

Pada kegiatan virtual meeting ini dia menjelaskan bahwa pelaku usaha kreatif penting sekali memiliki sertifikat untuk meningkatkan kredibilitas dan nilai jual keahlian di masa adaptasi kebiasaan baru.

“Pelaku ekonomi kreatif berhak memperoleh dukungan untuk meningkatkan kompetensi SDM ekonomi kreatif agar bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul, kompeten, berdaya saing, dan berjiwa wirausaha,” kata Jemmy Alexander.

Pandemi COVID-19 yang terjadi memang dinilainya berdampak signifikan terhadap pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

Berbagai terobosan pun dilakukan pemerintah agar pelaku kreatif tetap memiliki peluang untuk bersaing dalam industri kreatif, di antaranya dengan memiliki nilai jual lebih pada keahlian sehingga dapat meningkatkan kredibilitas pelaku kreatif.

Untuk mendukung langkah tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong masyarakat untuk memiliki sertifikat kompetensi dalam adaptasi tatanan baru ini.

Para nara sumber dan peserta virtual Menuju Sertifikasi dalam Adaptasi Kebiasaan Baru”, Kamis. ( Foto : Kemenparekraf).

Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Tetty DS Ariyanto, memaparkan, sertifikasi kompetensi merupakan produk hukum yang menjadi legitimasi atau bukti pengakuan terhadap capaian kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas berwenang, yang sesuai dengan standar kompetensi.

“BNSP di sini menyelenggarakan fungsi pelaksanaan dan pengembangan sistem sertifikasi kompetensi kerja, sertifikasi pendidikan dan pelatihan vokasi, hingga pelaksanaan dan pengembangan sistem data dan informasi sertifikasi kompetensi kerja yang terintegrasi,” ujar Tetty.

Tetty mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan sertifikasi kompetensi. Hal tersebut bertujuan untuk melahirkan produk yang berkualitas dan berdaya saing.

Master Asesor BNSP, Edy Panggabean, menambahkan bahwa untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing diperlukan tenaga atau pekerja yang memiliki kemampuan atau sertifikasi kompetensi yang terukur atau terstandarisasi.

“Sertifikasi kompetensi adalah bukti pengakuan negara terhadap profesi. Ini yang belum sampai ke masyarakat. Maka dari itu masyarakat harus paham dengan sertifikasi ini,” tambah Edy.

Dewan Pengarah LSP KFTI (Kreator Film dan Televisi), Gunawan Pangguru, mencontohkan pelaku usaha kreatif di bidang perfilman pun wajib mempekerjakan insan perfilman yang bersertifikat agar bisa menghasilkan konten yang berkualitas.

“Oleh karena itu, pelaku usaha kreatif memerlukan peningkatan kompetensi yang sesuai standar agar mereka mampu melahirkan produk film yang semakin berkualitas,” kata Gunawan.

 

Momentum Transformasi Sektor Pariwisata dan Penerbangan

this formate

Presiden Jokowi saat ratas soal aviasi dan pariwisata, Kamis( Foto: Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr.).

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Badan Pusat Statistik telah merilis angka pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi akibat pandemi Covid-19. Penurunan ekonomi juga dirasakan mayoritas negara-negara yang tengah berupaya memulihkan diri dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi.

Presiden Joko Widodo, saat memimpin rapat terbatas untuk membahas penggabungan BUMN di sektor aviasi dan pariwisata pada Kamis, 6 Agustus 2020, di Istana Merdeka, Jakarta, melihat bahwa sektor yang sangat terdampak dari penurunan ekonomi di Indonesia antara lain sektor pariwisata dan penerbangan.

“Angka yang saya peroleh di triwulan yang kedua tahun 2020, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia mencapai 482 ribu dan ini turun 81 persen untuk quarter-to-quarter dan turun 87 persen untuk year-on-year Artinya memang terkontraksi sangat dalam,” ujarnya.

Namun, penurunan yang dirasakan tersebut justru menjadi momentum tersendiri untuk melakukan konsolidasi dan transformasi untuk dua sektor tersebut.

Transformasi dilakukan misalnya dengan penataan yang lebih baik untuk rute penerbangan, penentuan hub maupun super hub hingga kemungkinan penggabungan BUMN penerbangan dan pariwisata untuk mengukuhkan fondasi ekonomi di sektor tersebut.

Untuk itu, hal pertama yang diminta Presiden untuk dikaji kembali ialah mengenai penghubung maskapai penerbangan (airline hub) yang dinilai sangat banyak dan tidak merata.

Untuk diketahui, saat ini terdapat kurang lebih 30 bandara internasional di Indonesia. Namun, dari sekian banyak lalu lintas penerbangan di Indonesia, sebanyak kurang lebih 90 persennya hanya terpusat di empat bandara saja, yakni Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, Juanda, dan Kualanamu.

“Apakah diperlukan sebanyak ini? Negara-negara lain saya kira enggak melakukan ini,” kata Presiden.

Kemudian, Presiden meminta agar jajarannya cermat dalam melihat potensi bandara-bandara yang memang cocok dijadikan sebagai hub internasional yang disertai pembagian fungsi sesuai dengan letak geografis dan karakteristik wilayah sekitarnya.

Kepala Negara mencatat setidaknya terdapat delapan bandara internasional yang berpotensi menjadi hub dan super hub yakni Ngurah Rai, Soekarno-Hatta, Kualanamu, Yogyakarta, Balikpapan, Hasanuddin, Sam Ratulangi, dan Juanda.

Selain itu, bersamaan dengan transformasi sektor penerbangan, Presiden Joko Widodo juga menekankan agar pengelolaan ekosistem pariwisata dan pendukungnya dilakukan dengan manajemen yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memunculkan sebuah lompatan besar di sektor penerbangan dan pariwisata.

“Mulai dari manajemen airline manajemen bandaranya, manajemen layanan penerbangannya yang tersambung dengan manajemen destinasi, manajemen hotel dan perjalanan, dan bahkan sampai pada manajemen dari produk-produk lokal dan industri kreatif yang kita miliki,” tandasnya.

 

Masyarakat Agar Sambut HUT ke-75 Kemerdekaan RI dengan Semangat Kreativitas

this formate

Jumpa pers Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema Indonesia Maju.   ( Foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Pemerintah mengajak seluruh masyarakat Indonesia memaknai HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat kreativitas dan suka cita tanpa melupakan makna kemerdekaan dan patriotisme untuk sama-sama optimistis bangkit dari pandemi COVID-19.

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani dalam jumpa pers Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia. “Kita tidak bisa menghindari kondisi seperti sekarang ini akibat pandemi COVID-19, jadi kita harus bisa beradaptasi dengan situasi ini dan tetap kreatif,” kata Giri Adnyani, Kamis (6/8/2020)

Menurut Giri, walaupun saat ini Indonesia berada dalam situasi keterbatasan akibat pandemi COVID-19, namun tidak mengurangi makna peringatan HUT ke-75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2020.

“Kita tidak bisa menghindari kondisi seperti sekarang ini akibat pandemi COVID-19, jadi kita harus bisa beradaptasi dengan situasi ini dan tetap kreatif,” kata Giri Adnyani.

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Sekretaris Jenderal Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti, dan Sekretaris Menteri BUMN Susyanto.

Giri mengatakan, Kemenparekraf menyiapkan lomba merayakan kemerdekaan dengan mengangkat tema “Cinta Indonesia”. Dalam lomba ini masyarakat diajak untuk menuangkan kreativitasnya dengan membuat video berdurasi 3 menit yang mencerminkan “Kerja Bersama Kita Bangkit”.

Konsep video merayakan/memeriahkan HUT ke-75 Tahun Kemerdekaan RI ini diisi dengan upaya mempercantik lingkungan dan tetap menjaga protokol kesehatan. Serta menunjukkan rasa cinta Indonesia dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya dengan berdiri tegap sikap sempurna, saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya secara serentak pada 17 Agustus pukul 10.17 WIB.

“Pendaftaran telah dibuka dan peserta dapat memulai mengirimkan karyanya pada 17 Agustus malam, karena sikap sempurna dan penghormatan bendera harus diambil tepat pada tanggal 17 Agustus 2020 pukul 10.17 WIB,” kata Ni Wayan Giri Adnyani.

Kemenparekraf/Baparekraf menyiapkan hadiah total sebesar Rp 1 miliar serta satu trophy, Piala Presiden. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat di website hutri75.kemenparekraf.go.id.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama menjelaskan, jauh hari sebelum pandemi, pemerintah telah menyiapkan acara peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI yang lebih besar dari biasanya. Namun situasi saat ini tidak bisa ditolak sehingga acara disesuaikan dengan lebih banyak menggelar event secara daring yang dibarengi dengan gelaran kreatif.

“Tema kemerdekaan tahun ini adalah ‘Indonesia Maju‘. Jadi kita berharap di 75 tahun kemerdekaan ini, Indonesia menjadi negara maju dari segi ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Dan itu tergambar dari peringatan ini,” kata Setya Utama.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menjelaskan, rangkaian peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI akan tetap dilaksanakan mulai dari pidato kenegaraan, pelantikan anggota Paskibra nasional, hingga penaikan dan penurunan bendera Merah Putih dari Istana Merdeka.

Begitu juga peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan, namun dalam format yang sedikit berbeda dengan pembatasan jumlah orang. Kesemuanya dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat dan akan disiarkan secara daring agar dapat disaksikan seluruh masyarakat Indonesia di dalam dan luar negeri.

Termasuk detik-detik proklamasi dimana masyarakat diajak untuk mengambil sikap sempurna pada pukul 10.17 WIB pada 17 Agustus 2020 dan melakukan penghormatan bendera.

“Pemerintah provinsi, kabupaten/kota dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk membunyikan sirine sebagai tanda memasuki waktu tersebut. Sehingga masyarakat diharapkan bersama-sama dapat mengikuti momen tersebut,” kata Heru Budi.

Sebelum dan sesudah penaikan dan bendera nantinya juga akan diisi dengan berbagai acara hiburan untuk memberikan kemeriahan.

“Juga akan ada acara khusus yang disiarkan langsung dari Istana Merdeka yang dapat dinantikan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Heru.

 

Sinergi UNWTO, ONCE Foundation & ENAT Buat Panduan Untuk Melayani Turis Penyandang Disabilitas

this formate

Tanda arah bagi penyandang disabilitas ( Foto: unsplash.com/ Yomex Owo)

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) menyerukan pengelola destinasi untuk mengenali kebutuhan para pelancong dengan disabilitas atau persyaratan akses khusus ketika mereka membuka diri lagi bagi pengunjung. 

Dalam kemitraan dengan ONCE Foundation of Spain dan Jaringan Eropa untuk Pariwisata yang Dapat Diakses (ENAT), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan pedoman baru untuk memastikan aksesibilitas dan inklusivitas ketika mulai berjalannya kembali pariwisata yang bertanggung jawab.

Menurut data terbaru dari UNWTO, 40% dari tujuan wisata global kini telah mengurangi pembatasan perjalanan merespons perkembangan dan kondisi COVID-19.  Sekarang, dengan kembalinya bisnis pariwisata, UNWTO telah bergabung dengan berbagai organisasi maupun organisasi penyandang cacat dari masyarakat untuk merancang serangkaian rekomendasi dasar agar tujuan mempertahankan etos “Pariwisata yang Dapat Diakses untuk Semua” dalam realitas baru saat ini.

 Aksesibilitas berarti peluang

Pedoman ini, dibuat bersama ONCE Foundation dan ENAT yang menunjukkan bahwa langkah-langkah sederhana dan bijaksana dapat membuat perbedaan nyata bagi para pelancong – dan sebagai gantinya, memungkinkan destinasi untuk menyambut demografis yang luas dan beragam ini saat mereka ingin pulih dari COVID-19.

Panduan “Membuka Kembali Wisata untuk Wisatawan Dengan Disabilitas” juga mencatat peluang yang tersedia untuk destinasi mengambil langkah-langkah untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik penyandang cacat. 

Soalnya mereka memiliki persyaratan akses khusus termasuk untuk  warga senior (manula). Hal  Ini sangat relevan sekarang karena pariwisata telah menjadi salah satu yang paling terpukul dari semua sektor ekonomi utamHalmau bisnis besar atau kecil semua terkena dampak COVID-19

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Banyak kemajuan telah dibuat dalam membuat pariwisata lebih mudah diakses oleh semua.  Ketika kita memandu memulai kembali pariwisata yang bertanggung jawab, kita harus memastikan bahwa kemajuan ini tidak dibatalkan,” ujarnya. 

Sebaliknya, itu harus ditingkatkan karena akan menguntungkan semua orang.  Pedoman ini, diproduksi dalam kolaborasi dengan ONCE Foundation dan ENAT menunjukkan bahwa langkah-langkah sederhana dan bijaksana dapat membuat perbedaan nyata bagi para pelancong .

Sebagai gantinya, memungkinkan destinasi untuk menyambut demografis yang luas dan beragam yang saat ini ingin pulih dari COVID-19. 

Wakil Presiden ONCE, Alberto Durán, menggaris bawahi pihaknya berusaha keras untuk membantu semua orang menikmati perjalanan dan pariwisata ( travel & tourism) .

“kami memanfaatkan perubahan akibat pandemi global ini untuk menyadarkan semua pemangku kepentingan akan perlunya melibatkan penyandang disabilitas dan keluarga mereka dalam pariwisata, tanpa meninggalkan siapa pun di belakang,”  kata Alberto Duran.

Klien-klien ini dapat membantu bisnis tetap bertahan dalam masa-masa yang penuh tantangan ini, mewakili peluang bagi semua.

Presiden ENAT, Anna Grazia Laura menyatakan: “Panduan praktis ini untuk membatasi penyebaran COVID-19, dengan memperhatikan aksesibilitas dan inklusi dalam pariwisata. Dapat berkontribusi pada upaya global untuk meyakinkan semua pengunjung, memberi manfaat bagi wisatawan, bisnis, dan tujuan yang sama,” tegasnya.

 Pedoman untuk seluruh sektor

Panduan ini adalah serangkaian rekomendasi dasar yang ditujukan pada berbagai pemangku kepentingan yang bekerja di seluruh rantai nilai pariwisata. 

Ditujukan agar semua membantu pemangku kepentingan, termasuk penyedia akomodasi, bar, restoran, dan kantor pariwisata, menyesuaikan diri dengan tuntutan kesehatan dan sanitasi baru tanpa mengurangi aksesibilitas.  Rekomendasi tersebut mencakup empat bidang berbeda:

Rekomendasi lengkapnya, “Membuka Kembali Pariwisata untuk Wisatawan Penyandang Cacat ; Cara Menyediakan Keselamatan Tanpa Membebankan Rintangan yang Tidak Perlu” dapat diunduh di situs resmi www.unwto.org.

Perencanaan Perjalanan dan Protokol: Termasuk langkah-langkah untuk menjamin perjalanan yang mulus untuk membuat informasi yang relevan juga tersedia dan dapat diakses oleh semua pihak.

Transportasi: Termasuk pentingnya meningkatkan karyawan, menyesuaikan protokol untuk penumpang penyandang cacat / persyaratan akses di bandara dan stasiun, serta penyediaan dan pemeliharaan peralatan mobilitas yang higienis.

Akomodasi, Bar dan Restoran: Berfokus pada aksesibilitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan klien, menjamin jarak sosial, dan meningkatkan prosedur kebersihan di semua perusahaan yang terkait dengan pariwisata

Kegiatan Turis: Termasuk rekomendasi untuk membantu destinasi dan atraksi menyesuaikan protokol yang ada dengan mempertimbangkan masalah aksesibilitas yang terkait dengan antrian, tindakan kesehatan dan keselamatan, dan kapasitas tempat 

 

Gaya Hidup Digital Nomad Makin Relevan Saat Pandemi COVID-19

this formate

Bermuda menyimpan pantai indah nan menawan (foto: coastal living)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kehidupan sebagai digital nomad kerap membuat iri banyak orang. Bagaimana tidak, mereka yang menjalani hidup seperti itu seolah mendapat privilege untuk bisa memilih lokasi tempat bekerja senyaman yang mereka kehendaki.

Digital nomad adalah gaya hidup yang dilakoni seseorang yang bekerja dari lokasi yang dipilihnya sendiri. Istilah ini mulai populer sekitar 2014. Kala itu banyak orang yang berprofesi sebagai desainer, pengembang, wirausahawan, dan penulis lepas memilih pergi  ke negara-negara di Asia Tenggara atau Eropa Timur sebagai tempat kerja. Alasannya, di sana biaya hidup lebih murah dan relatif sepi. Yang terpenting buat mereka, ada fasilitias Wi-Fi.

Pandemi COVID-19 seolah mengakselerasi kehidupan digital nomad. Untuk mencegah penyebaran virus Corona, orang dianjurkan bekerja dari rumah. Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook bahkan memperpanjang kebijakan pemberlakukan kerja dari rumah atau Work From Home bagi karyawannya hingga akhir tahun.

Jika sebelumnya bekerja jarak jauh seolah hanya impian banyak orang, kini di era pandemi COVID-19, hal itu menjadi lumrah. Makin banyak orang memandang bekerja itu tidak harus dari kantor. Sebagian bahkan mulai melihat bukan pula hanya dari rumah, melainkan bisa di tempat lain yang jauh dari lokasi tinggal. Mungkin di lokasi-lokasi yang menjadi tujuan wisata.

Banyak tempat wisata kini mulai melihat tren ini sebagai peluang. Bepergian kini bukan perkara sederhana. Para pelancong yang datang ke tempat wisata harus menjalani serangkaian prosedur yang cukup memusingkan, misalnya harus tes COVID saat berangkat maupun pulang, atau mejalani karantina selama beberapa hari. 

Nah, rasanya sayang jika para turis ini hanya menghabiskan waktu beberapa hari saja di tempat wisata. Mengapa tidak menawarkan mereka untuk tinggal selama sebulan misalnya. Toh, konsep bekerja dengan aturan kehadiran fisik kini sudah tidak relevan lagi.

Dengan teknologi Internet dan video conference, pekerjaan bisa diselesaikan secara jarak jauh. Begitulah pertimbangan beberapa pengelola tempat wisata. 

Pulau Bermuda, misalnya. Mereka mulai menawarkan sejumlah kemudahan bagi turis yang tertarik untuk tinggal lebih lama di Pulau yang terkenal sebagai tujuan wisata pantai. Ribuan turis manca negara datang ke sana setiap tahun.

Pulau yang terletak sekitar 1.000 Km dari lepas pantai Amerika Serikat ini mulai kembali membuka diri bagi pelancong asing pada 1 Juli, dengan tetap memberlakukan prosedur kesehatan yang ketat. Setiap pelancong yang tiba di sana wajib melakukan tes. 

Pejabat Otoritas Pariwisata Bermuda, Glenn Jones, mengatakan mereka mencatat peningkatan jumlah orang yang datang yang bukan untuk sekadar berlibur akhir pekan, tetapi untuk tinggal berminggu-minggu, bahkan bulan. Sebagian bahkan mengatakan tidak yakin apakah akan kembali ke negaranya. Ini sebuah keadaan yang perlu diantisipasi.

Untuk merespons tren ini, penguasa lokal memperkenalkan kebijakan The Work from Bermuda Certificate Program, demikian seperti dilansir Skift. Jadi ini semacam izin tinggal yang berlaku hingga setahun. 

Secara teknis, ini bukanlah visa, melainkan bentuk adaptasi baru. Aturannya sendiri merujuk pada ketentuan izin tinggal yang sudah ada di Departemen Imigrasi. Aplikasi online diluncurkan pada 1 Agustus dengan biaya US$ 263 per orang. Untuk mendapatkan sertifikat ini, pelancong juga  harus memiliki asuransi kesehatan atau menyatakan mampu membayar biaya kesehatan selama di Bermuda. Jika disetujui, wisatawan dapat datang dan pergi dari negara tersebut sesuka mereka.

Jadi, silakan pertimbangkan untuk datang ke Bermuda dan menjalani kehidupan digital nomad. Bermuda sendiri memiliki pantai yang memesona dengan keindahan terumbu karang. Iklimnya subtropis sehingga menawarkan cuaca sejuk sepanjang tahun dengan langit biru yang cerah. Banyak pula hotel dengan spa mewah dan masakan kelas dunia.

Kepulauan milik Inggris sejak 1611 ini berpenduduk sekitar 70.000 orang. Penguasanya adalah ratu Inggris dan mata uangnya, dolar Bermuda yang memuat gambar Ratu Elizabeth II. Bermuda ditemukan pada 1503 oleh navigator Spanyol Juan de Bermudez. Namanya lalu diabadikan untuk rentetan pulau-pulau kecil itu.