Singapura Kerahkan Drone untuk Pantau Penerapan Jarak Sosial.

this formate

Singapura Gunakan Drone Pantau Jarak Sosial (foto: skift)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Teknologi drone ternyata memberi banyak manfaat di era pandemi COVID-19. Meski kehadirannya kerap menjadi momok, terutama bagi dunia penerbangan, wahana terbang tanpa awak berbentuk mirip helikopter ini terbukti lebih memberi berkah ketimbang kutukan bagi industri perjalanan. 

Di Skotlandia, misalnya, drone telah diuji coba untuk menerbangkan peralatan dan sampel medis ke sekitar 90 pulau. 

Hal terkini yang  terjadi di Singapura, negara kepulauan terkecil di Asia Tenggara itu telah memanfaatkan drone untuk memantau penerapan kebijakan jarak sosial. Jadi, waspadalah! Orang-orang di Singapura yang berdiri terlalu dekat antara satu dengan yang lain akan terpantau dari atas oleh drone.

Polisi Singapura telah menguji coba pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh perusahaan asal Israel, Airobotics, untuk membantu mengawasi kebijakan jaga jarak sosial dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Hal itu dikonfirmasi Badan Sains dan Teknologi Singapura, Home Team Science & Technology Agency (HTX), yang mengakui telah menguji coba drone tersebut dengan polisi.

Drone seberat 10 kg ini telah diprogram untuk melacak peristiwa anomali seperti adanya kerumunan warga. Data direkam untuk kemudian dikirim ke polisi. Senior insinyur HTX, Low Hsien Meng, mengatakan drone tersebut dapat menentukan lokasi dan memperbesar area yang mungkin tidak terlihat petugas saat berpatroli di dalam kendaraan.

“Khusus untuk COVID, apa yang kami lakukan adalah membantu mereka mempertahankan operasi normal. Pandemi menciptakan situasi yang mungkin menyulitkan polisi untuk bekerja secara normal,” kata CEO Airobotics, Ran Krauss kepada Reuters. Uji coba pemantauan jarak sosial masih berlangsung.

Airobotics, yang telah mengumpulkan pendanaan 120 juta dolar AS atau setara Rp 1,75 triliun dan perusahaan itu mengatakan telah menginvestasikan sekitar 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1,4 triliun) untuk mengembangkan drone tersebut. Airobotics menyewakan drone itu ke HTX dan juga untuk keperluan bisnis serta industri di Israel dan Amerika Serikat.

Airobotics dan HTX telah memulai tahap berikutnya untuk mengeksplorasi kemampuan lebih lanjut, termasuk menggunakan drone untuk mengirimkan defibrillator jika diperlukan.

Singapura, yang terkenal dengan undang-undang yang ketat dan pengawasan yang luas, awalnya mendapat pujian global karena berhasil menahan penyebaran virus corona sebelum wabah tersebut menyebar di asrama pekerja migran yang membuat jumlah kasus di negara tersebut meningkat tajam.

Krauss mengatakan Airobotics sedang dalam pembicaraan dengan kota-kota lain dunia untuk mengoperasikan drone milik mereka.

Setelah Singapura mengerahkan Drone untuk Pantau Penerapan Jarak Sosial. Akankah ide Ini diikuti berbagai provinsi dan daerah tujuan wisata di Indonesia ?. 

 

Gerakan BISA Merambah Kawasan Curug Cinulang Jawa Barat

this formate

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf ( batik) menyemangati pelaku pariwisata di Curug Cinulang ( Foto: Kemenparekraf )

CICALENGKA, Jabar, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar gerakan bersih, indah, sehat, dan aman (BISA) di destinasi wisata Curug Cinulang, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyambut masa adaptasi kebiasaan baru.

Pada pembukaan gerakan BISA Curug Cinulang pada 7 Agustus 2020, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, R. Kurleni Ukar mengatakan gerakan BISA dirancang Kemenparekraf/Baparekraf sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai Sapta Pesona dengan menumbuhkan rasa gotong royong untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan keamanan di destinasi.

Wisatawan akan memilih destinasi yang bersih, aman dan nyaman di masa adaptasi kebiasaan baru. “Melalui gerakan BISA, kita mendorong perbaikan indikator kesehatan dan kebersihan, serta keamanan dan keselamatan di lingkungan destinasi pariwisata untuk peningkatan peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI),” kata Kurleni.

Selain itu, ia menuturkan program ini juga dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan sosialisasi bagi para pelaku pariwisata di Jawa Barat, terutama di sekitar Curug Cinulang agar mereka selalu menerapkan protokol kesehatan.

“Melalui gerakan ini, kami ingin mempersiapkan destinasi wisata untuk dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru dan mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Direktur Pengendalian Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Hassan Abud, mengungkapkan sampai saat ini Deputi Bidang Kebijakan Strategis telah memberdayakan tenaga kerja bidang parekraf yang terdampak COVID-19 dalam kegiatan semacam padat karya di 35 lokasi di Indonesia melalui Gerakan BISA.

‘Kebersihan dan jaminan kesehatan adalah faktor utama yang menjadi penilaian wisatawan pada masa adaptasi kebiasaan baru. Jadi, ekonomi harus terus berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan sehingga dapat tetap produktif dan aman,” ucap Hassan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, menyampaikan, area-area pariwisata alam akan semakin menarik dan berkesan jika ada tantangan dan perjuangan untuk mencapainya.

“Untuk itu, kita harus bisa menjaga kearifan lokal, menjaga budaya dan mengungkapkan cerita menarik terkait daerah ini. Semoga pandemi ini segera berakhir agar sektor pariwisata dapat pulih seperti sediakala dan kita harus optimistis bisa melalui masa pandemi ini,” ujar Dede.

Adapun kegiatan dalam acara ini adalah pembuatan penampungan sampah sementara di kawasan wisata Curug Cinulang diadakan diskusi antara Kemenparekraf/Baparekraf, jajaran Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung, beserta Komisi X DPR RI yang diwakili Dede Yusuf dengan pelaku pariwisata.

Kemenparekraf/Baparekraf juga menyerahkan bantuan secara simbolis berupa alat kebersihan dan bergotong royong membersihkan lokasi Curug Cinulang bersama masyarakat sekitar.

Acara ini mendapat respons positif dari perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung, Yoharman Samsu. “Terimakasih atas dukungan Kemenparekraf dan Komisi X atas pelaksanaan Gerakan BISA di Curug Cinulang ini, semoga dengan gerakan BISA kita termotivasi untuk selalu menjaga kebersihan tempat ini,” ungkap Yoharman.

 

Aman dengan “Safe Travel”, Tenang Bersama “Cathay Care”

this formate

HONGKONG, bisniswisata.co.id: Pekan ini Cathay Pacific meluncurkan Cathay Care, dengan memperkenalkan beberapa langkah pencegahan yang disempurnakan pada setiap tahapan perjalanan –mulai dari check-in hingga dalam kabin selama perjalanan, sehingga penumpang dapat terbang dengan tenang.

“Di Cathay Pacific, berkomitmen untuk selalu memprioritaskan kesehatan dan keselamatan seluruh penumpang, awak kabin, dan staf kami. Kami mengerti kekhawatiran dan tututan keselamatan bagi semua pihak,” ucap Chris Bowden, Cathay Pacific Country Manager Indonesia.

Pihaknya memperkenalkan beberapa langkah pencegahan yang disempurnakan pada setiap tahapan perjalanan –mulai dari check-in hingga dalam kabin sehingga mereka dapat terbang dengan tenang.

Langkah-langkah yang diterapkan dari proses check-in dan masuk pesawat tanpa kontak. Pernyataan kesehatan pada saat check-in, kewajiban memakai penutup wajah selama penerbangan, dan aturan menginap yang ketat untuk awak kabin.

Cathay Pacific memprioritaskan penumpang di dalam pesawat dengan mewajibkan memakai penutup wajah selama penerbangan, memastikan suhu tubuh semua penumpang telah dicek, juga disinfektasi penutup kursi jika memungkinkan.

Cathay Pacific , mengatur ulang alur layanan dan sanitasi untuk meyakinkan bahwa penumpang terlindungi di udara, dengan sanitasi menyeluruh pada semua permukaan di lingkungan kabin.

Begitu pula dalam menyediakan layanan makan yang dimodifikasi dan dirancang untuk mengurangi kontak dengan awak kabin, serta menutup sementara layanan makanan ringan dan minuman yang sudah disediakan sebelumnya.

Semua pesawat juga dilengkapi dengan penyaring HEPA yang menghilangkan 99.999% kontaminasi udara. Selain itu, seluruh penyaring juga meresirkulasi udara setiap dua menit dengan performa yang setara dengan penyaring yang digunakan di kamar operasi rumah sakit dan ruang bersih di kawasan industri.

Mewajibkan, awak kabin Cathay Pacific mengikuti prosedur keselamatan untuk melindungi kesehatan seluruh penumpang di dalam pesawat dengan mengenakan masker, sarung tangan dan kacamata pelindung yang disediakan untuk semua awak kabin.

Selain itu juga menerapkan aturan menginap yang ketat termasuk tidak ada kontak dengan komunitas lokal dan pengawasan kesehatan.

Safe Travel Campaign

Sementara di rute domestik nusantara, Lion Group memulai kampanye kenyamanan dan keselamatan perjalanan (Safe Travel Campaign) pada penerbangan Kualanamu ke Soekarno-Hatta dengan nomor penerbangan Batik Air ID-6891, Minggu  (9/8).

Kampanye menurut Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie mengusung konsep #SafeTrip #SafeFlight #SafeHealth.  Safe Travel Campaign menjadi bagian tindakan preventif dan antisipasi utama mengenai masa waspada pandemi COVID-19.

Langkah tersebut merupakan rangkaian program rutin dalam menyampaikan berbagai informasi penting terhadap aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, terutama berkaitan dengan sisi kesehatan serta kepentingan manusia (human interest) yang mencakup dari karyawan/ staf dan pengguna jasa penerbangan atau publik.

Semua awak pesawat yang aktif terbang sudah melakukan uji atau tes kesehatan dengan hasil negative .  Pemeriksaan kesehatan awak pesawat tetap dilakukan sebelum penerbangan (pre-flight health check).

Hal ini untuk menentukan kondisi sehat serta laik terbang (airworthy for flight). Semua pesawat sebelum terbang dilaksanakan penyemperotan desinfektan, dalam upaya memastikan sterilisasi dan kebersihan pesawat,

Peningkatan kegiatan kebersihan pesawat udara secara berkala dengan metode Aircraft Exterior and Interior Cleaning (AEIC), meliputi ruang kemudi (flight deck); dapur (galley); kamar kecil (lavatories), termasuk pintu, pegangan pintu, wastafel dan tempat sampah; alas makan dan pegangannya.

AEIC juga mencakup fasilitas hiburan (in-flight entertainment) termasuk remote control; pegangan pembuka rak bagasi kabin (luggage storage bin handle); overhead lighting, ventilasi udara dan call button.

Begitu pula halnya untuk sandaran kursi; penutup tempat duduk (seat covers); sabuk pengaman (seatbelts); sandaran kepala tempat duduk (seat headrests); karpet lantai; jendela dan penutup jendela; fasilitas penumpang lainnya; dan ruang kargo (cargo compartment).

Pesawat jet Airbus dan Boeing yang dioperasikan termasuk kategori generasi modern yang memiliki sistem penyaringan udara kabin yang dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.

Menjaga kebersihan dan sterilisasi juga berlaku untuk peralatan pendukung seperti kendaraan pendorong pesawat (pushback car), bus penghubung (neoplane), tangga masuk pesawat untuk penumpang dan kargo, kendaraan pengangkut barang dan kargo.

Mengoptimalkan pengaturan jarak aman antar penumpang (physical distancing) dalam kabin pesawat pada penerbangan, yang tetap memperhatikan aspek keselamatan penerbangan.

Mengurangi interaksi langsung (contactless) antara sesama awak pesawat, antara sesama teknisi, antara sesama FOO, antara sesama ground staff serta dengan  penumpang, jelas Capt. Achmad Luthfie.

Kedung Ombo, Saksi Bisu Mega Proyek dan Simbol Cinta.

this formate

Keindahan Waduk Kedung Ombo, PLTA dan irigasi untuk 70 ha sawah disekitarnya. ( Foto: Kemenpar)

BOYOLALI, bisniswisata.co.id:  Waduk Kedung Ombo (WKO) menjadi tujuan berikutnya setelah liputan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan atas undangan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf).

Jalan mulus beraspal menuju WKO yang berfungsi sebagai irigasi dan wanawisata ini kami lewati menggunakan kendaraan pribadi. Sebuah waduk yang merupakan bendungan raksasa di Jawa Tengah. Waduk ini memiliki luas 6.576 hektare dan berada di tiga wilayah, yakni Kabupaten Boyolali, Grobogan dan Sragen.

Entah karena hari kerja, WKO yang berada di wilayah Boyolali terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu ini terkesan sepi pengunjung padahal konon sangat potensial di bidang pariwisata. 

Pinggir Waduk Kedung Ombo berkesan kumuh dan aktivitas warga dengan perahu motor dan pemandangan keramba ikan di atas danau waduk.

Saat tiba di pinggiran waduk, mas Abri, wartawan senior yang satu rombongan berjalan lebih dulu, seperti mengenang peristiwa 35 tahun silam saat saya bahkan belum lahir. Pembangunan waduk raksasa yang berkembang jadi obyek wisata ini pada masanya memang cukup heboh.

Generasi milenial seperti saya cuma bisa browsing dan ternyata proyek ini menenggelamkan 37 Desa. Di balik keindahannya sebagai tempat wisata, pembangunan waduk itu di era Presiden Soeharto dan sebanyak 5.268 keluarga pada saat itu kehilangan tempat tinggal. 

Sedikitnya 600 warga merasa ganti rugi yang diterimanya sangat kecil. Mereka pun juga mendapat teror, intimidasi, dan kekerasan fisik akibat perlawanan terhadap proyek pembangunan waduk. Pada akhirnya, warga yang bertahan terpaksa tinggal di tengah-tengah genangan air.

Kasus Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi permukiman oleh warga karena tanahnya akan dijadikan Waduk Kedung Ombo. Pada tahun 1985 pemerintah merencanakan untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektare sawah disekitarnya. 

Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai US$ 156 juta dari Bank Dunia, US$ 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.

Saat kami datang, kawasan pinggir waduk terkesan kumuh dan kotor . Dua nelayan sedang berada di perahu motornya yang berwarna biru dan membuat saya bersemangat membidikkan lensa ke arah mereka. 

Sejauh mata memandang ke arah waduk terlihat jejeran perahu motor dan keramba. Rupanya selain sektor pariwisata, kawasan ini juga berkembang menjadi kawasan agrobisnis.

Di sana para warga mengembangkan usaha perikanan darat dengan metode keramba. Selain itu, di tepi waduk para warga mengembangkan usaha pertanian buah-buahan dan sayur mayur. 

Dari hasil perikanan di sana, para warga membuka bisnis pemancingan dan warung makan yang menjajakan olahan makanan berbahan dasar ikan seperti ikan bakar atau ikan goreng yang mengundang selera para wisatawan.

      Ikon LOVE setinggi 6 meter, lebar 4 meter yang menjadi spot foto

Di kawasan WKO inilah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa menyediakan wahana wisata hutan Kedung Cinta pada 2016 lalu. Ramai dikunjungi saat week-end untuk usai melepas penat setelah beraktifitas di hari kerja.

Hutan wisata Kedung Ombo ada sejak 1994, lokasinya di kawasan hutan petak 89 dan 90 C Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karengan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangwinong, KPH Telawa Jawa Tengah. 

Kawasan seluas 18,7 Ha Kedung Ombo kini hadir dengan simbol baru “hati raksasa” setinggi enam meter, lebar empat meter, berwarna merah menyala dengan latar belakang waduk. Gambar ini sangat menarik bagi penggemar fotografi dan instagramable.

Di taman Kedung Cinta ini sangatlah romantis dimana pengunjung bisa bersantai menyaksikan hamparan air dari ketinggian dengan panorama alam hijau yang menawan, udara sejuk pun akan mengusir rasa penat.

Bersama keluarga atau kekasih silahkan menikmati fasilitas warung makan apung, jetsky, speedboat, bebek air, naik kuda, dan playground atau sekedar naik perahu bersama penumpang lain. 

Tapi perahu ngetem dulu tunggu penumpang penuh baru bisa jalan. Nah cara ini yang mengurangi minat untuk keliling-keliling naik perahu. Selagi sudah di wanawisata, tidak afdol rasanya kalau tidak naik perahu mengelilingi waduk dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Untuk wisata di wilayah Kedung Cinta ini butuh stamina ya karena banyak mengandalkan jalan kaki. Dengan harga tiket masuk Rp 5 ribu pada hari Senin-Jumat atau Rp 7500 pada hari Sabtu/Minggu. 

Pengunjung bisa merasakan kuliner khas warung apung dengan menu ikan bakar maupun goreng. Di area parkir kendaraan, terdapat pedagang ikan khas WKO yang diasap dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk dimasak di rumah, apalagi besok siangnya sudah kembali ke Jakarta. 

Sebelum melangkah pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh karena saat pandemi begini setiap pengeluaran kita untuk masyarakat lokal akan sangat bermanfaat untuk keluarga tukang perahu, pemilik warung, penjual ikan asap dan lainnya.   

Waduk Kedung Ombo dengan ikon bentuk LOVE akhirnya memang jadi saksi bisu mega proyek pemerintah  dan simbol cinta bagi keluarga yang menjadi korban proyek karena menolak pindah maupun bagi kalangan milenial yang tengah merajut cinta, merencanakan masa depannya. Good bye My Love…

 

 

Wisata Edukasi , ‘The Sangiran Early Man Site’

this formate

SANGIRAN, Sragen, bisniswisata.co.id: Museum Manusia Purba Sangiran menjadi salah satu destinasi wisata yang memberikan pengetahuan sekaligus wisata bagi pengunjung. Namun pandemi COVID-19 membuat berbagai destinasi wisata terdampak, salah satunya museum ini yang ditutup sejak 15 Maret 2020 guna mencegah penyebarluasan virus.

Kemenparekraf menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan sebelum dibuka kembali untuk umum. Kemenparekraf memilih situs ini guna membiasakan masyarakat dan pengunjung museum beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman di saat pandemi ini masih terus mengancam kehidupan kita.

Mengapa  situs Sangiran yang dipilih ? Tak aneh karena sejak 1996, Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Sebaran penemuan fosil hominid (manusia purba) tercatat cukup banyak di sini. Di sepanjang Sungai Bengawan Solo berikut anak sungainya, dari daerah Sangiran di Jawa Tengah hingga beberapa daerah di Jawa Timur, boleh dikata bagaikan tambang bagi penemuan fosil.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/ Barekraf) bersama Komisi X DPR/RI menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan. 

Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf/Bapareraf, Harwan Ekon Cahyo Wirasto mengatakan kegiatan ini sebagai upaya menyiapkan destinasi wisata serta para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Program atau Gerakan BISA merupakan kegiatan padat karya yang melibatkan pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, hingga masyarakat yang terdampak COVID-19 dalam menunjang kualitas dan daya saing destinasi pariwisata Indonesia.

Gerakan BISA mengundang pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dibekali peralatan penunjang kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan, untuk kemudian menerapkan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru. 

Memenuhi undangan Kementrian Pariwisata untuk meliput kegiatan BISA, selama dua hari berturut-turut pada 3-4 Agustus 2020 lalu saya menyempatkan diri mengeksplor sebagian situs yang terdiri dari lima klaster ini.

Saking luasnya area Situs Sangiran, area tersebut dibagi menjadi lima klaster. Pertama adalah Klaster Krikilan yang berfungsi sebagai pusat kunjungan atau visitor center. Di tempat ini pengunjung bisa mendapat informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran.

Disusul, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo. Situs ini buka pada Selasa hingga Minggu, dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

Menikmati wisata edukasi di situs manusia purba ini bagi anak milenial seperti saya memang harus berbekal pengetahuan dulu karena seperti pelajaran di tingkat sekolah dasar, di sini kita berhadapan dengan fosil-fosil, jadi browsing dulu sangat dianjurkan.

Soalnya kekayaan arkeologis yang ada di Situs Sangiran tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.

Situs Sangiran beserta semua kandungan arkeologis yang ada di dalamnya merupakan cagar budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan dan daerah Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, Trinil adalah contoh-contoh situs ditemukannya fosil hominid. 

Di antara situs-situs artefak purbakala di Indonesia, nama Sangiran barangkali paling sohor. Hal ini karena di sana bisa ditemukan jejak peninggalan Pleistosen yang paling lengkap dan utuh. Di sini para ahli paleoantropologi bisa dipastikan lebih mudah merangkai sebuah benang merah sejarah manusia purba secara berurutan.

Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.
sejak 1996.

Ahli paleoantropologi di dunia banyak yang melakukan penekituan di sini. Tak heran mereka tak ragu sedikitpun, menyimpulkan Pulau Jawa adalah salah satu tempat tinggal bagi spesies manusia yang paling awal di dunia. Konon, lebih dari satu juta tahun yang lampau, bisa dipastikan di pulau ini pernah hidup manusia purba.

Jadi jika hendak menelusuri jejak manusia purba yang hidup jutaan tahun lampau di nusantara, Situs Sangiran harus masuk dalam daftar kunjungan ke Sragen, yang istilahnya jaraknya cuma selemparan baru dari Solo, kota asal Presiden RI. Jokowi.

Di situs seluas 59,21 km persegi yang berlokasi di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, inilah pemerintah melestarikan dan melindungi jejak manusia purba.

Situs ini dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Meski hanya mengeksplor di satu klaster Krikilan tempat berlangsungnya acara BISA, saya jadi paham Sangiran sebagai lapangan riset ilmu paleoantropologi tampaknya masih jauh dari kata selesai. 

Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian dari lapangan Indonesia kembali menggeliat dan menghasilkan beberapa penemuan yang mencengangkan.

Di antaranya ialah temuan fosil Homo floresiensis di Flores; penemuan fosil kulit kerang di Trinil, Jawa Timur, yang memperlihatkan daya kreativitas Homo erectus; dan paling menarik ialah penemuan lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, sebagai satu jejak seni Homo sapiens tertua di dunia.

Nenek moyang leluhur orang Papua ialah kelompok migran pertama Homo sapiens yang keluar dari Afrika dan tiba di kawasan ini sejak 70 ribu tahun lalu. 

Sebelum kedatangan Homo sapiens ke Papua, kawasan ini telah dihuni oleh manusia purba Denisovan. Jejak ini terlihat pada DNA orang Papua kini, yang memiliki gen Denisovan berkisar 3 – 5 persen.

Riset Eijkman menyimpulkan, pusat keanekaragaman kuno bukan berada di Eropa atau di Asia utara yang beku, melainkan justru terjadi di kepulauan tropis yang hangat di Asia Tenggara

Pada 1920-an, sebuah tengkorak ditemukan di dekat Peking (sekarang Beijing), Tiongkok. Fosil hominid ini populer disebut “Manusia Peking”. Selain memperlihatkan banyak persamaan ciri dengan fosil Manusia Jawa, fosil ini usianya juga lebih tua. 

Tak kecuali juga temuan fosil hominid di Afrika Timur (Kenya, Etiopia, Tanzania), Afrika Utara (Aljazair dan Maroko), dan Afrika Selatan, pun memiliki banyak persamaan ciri dengan Manusia Jawa. 

Pada 1976 sebuah tengkorak Homo erectus lengkap ditemukan di Afrika Timur. Umurnya 1,5 juta tahun, satu juta tahun lebih tua dari yang ditemukan di Jawa dan Peking.

Nah bagaimana ? bangga nggak sama para lekuhur bangsa ini. Oh iya kalau berminat datang, maka seperti museum lainnya, Situs Sangiran tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.

 

 

 

  

 

Usulkan Kebijakan Pajak PMSE, Kemenparekraf Gelar Diskusi Daring Regulasi Ekonomi Digital

this formate

Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ( Foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id;  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar diskusi daring Regulasi Ekonomi Digital mengenai kegiatan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) di masa yang akan datang.

Diskusi ini diharapkan dapat menghimpun masukan dan membantu pemangku kebijakan dalam menetapkan regulasi yang tepat untuk mengatur dan mengelola perpajakan ekonomi digital dalam kegiatan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) tersebut, kata Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Berbicara saat membuka diskusi daring Regulasi Ekonomi Digital dengan tema “Bagaimana Kebijakan Perpajakan Mengantisipasi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik?”,  beberapa waktu lalu, dia mengatakan, diskusi daring untuk saling bertukar fikiran, menyampaikan berbagai macam gagasan dan masukan terkait perpajakan ekonomi digital.

“Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kebijakan pemerintah saat ini dan kebijakan yang mungkin akan diambil oleh pemerintah ke depan dalam mengatur kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik, mengingat perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat,” kata Ari Juliano.

Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain, nilai ekonomi digital di Asia Tenggara, khususnya transaksi e-commerce, pada 2019 mencapai 100 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sebesar 40% berasal dari Indonesia. “Bank Indonesia mencatat, di tahun 2019, jumlah transaksi e-commerce di Indonesia setiap bulannya mencapai Rp13 triliun,” ujar Ari Juliano.

Melihat besarnya nilai transaksi e-commerce tersebut, beberapa negara kemudian mempertimbangkan bahkan sudah menerapkan kebijakan perpajakan yang dapat menjangkau pelaku usaha yang secara fisik tidak berada di negara tersebut, tetapi telah melakukan PMSE (Perdagangan Melalui Sistem Elektronik) di negara tersebut.

“Salah satu isu perpajakan dalam PMSE lintas batas negara saat ini adalah bahwa barang tidak berwujud dan jasa dari luar negeri yang masuk melalui internet di suatu negara tidak dikenakan tarif impor, yang umumnya terdiri dari bea masuk, PPN, dan PPh,” jelas Ari Juliano. Hal ini tentu mengurangi kesempatan negara untuk memperoleh pendapatannya.

Ari Juliano mengatakan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebesar 269,600,000 jiwa dan pengguna internet sebanyak 175,4 juta. Maka bisa dilihat bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang begitu banyak dan pengguna internet aktif yang sangat tinggi.

Hal Ini merupakan aset yang memiliki nilai ekonomi dan seharusnya memberikan kontribusi yang cukup tinggi kepada negara. Banyaknya jumlah pengguna internet di suatu negara umumnya berbanding lurus dengan banyaknya data pengguna platform yang dikelola penyelenggara PMSE.

Data pengguna dari berbagai negara pada kenyataannya merupakan aset yang dikuasai dan dikelola pemilik platform untuk memperoleh manfaat ekonomi dari investor dan pengembangan usahanya, tetapi belum tersentuh dalam perhitungan perpajakan.

“Untuk itu, Pemerintah Indonesia harus berani mengusulkan model perhitungan dan pemungutan PPh berbasis data pengguna tersebut untuk menjadi konsensus internasional demi kebijakan perpajakan yang adil,” kata Ari Juliano.

Apabila secara global telah dicapai konsensus mengenai satu tarif PPh yang akan dipungut satu kali untuk seluruh negara, maka hal itu dapat dikenakan kepada perusahaan pengelola platform PMSE yang tidak ada keberadaan fisiknya, tetapi signifikan keberadaannya secara ekonomi di suatu negara.

Hasil pungutan pajak tersebut nantinya dapat dibagi secara proporsional kepada masing-masing negara sesuai besarnya jumlah data pengguna dari masing-masing negara yang dikelola pemilik platform tersebut. Semakin besar jumlah data pengguna dari suatu negara, maka tentu akan semakin besar juga porsi pungutan pajak yang diterima negara tersebut.

“Usulan perhitungan PPh dengan berbasiskan data pengguna tersebut dapat menghindari pengenaan pajak berlipat-lipat kepada pemilik platform akibat akumulasi pengenaan PPh secara sepihak oleh masing-masing negara,” kara Ari Juliano.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan seluruh dunia sudah melihat bahwa tren ekonomi digital semakin kuat. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pada _physical presence_ dalam konteks perpajakan dan konteks fiskal,” kata Febrio.

Febrio melanjutkan, Pemerintah saat ini masih mempelajari perpajakan ekonomi digital. Namun, mulai 1 Juli 2020, Pemerintah telah mengenakan PPN atas pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dan jasa kena pajak dari luar dan dalam daerah pabean melalui PMSE.

“Selaras dengan PPN, langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mengenakan PPh merupakan hal yang wajar dan telah dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Israel, India, Inggris, Australia, Canada, Meksiko, Brazil, dan Turki,” kata Febrio.

UU Nomor 2/2020 menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengenakan PPh dan PTE atas penghasilan dari ekonomi digital dengan tidak lagi mendasarkan pada physical presence melainkan ketentuan kehadiran ekonomi signifikan. Namun demikian, untuk melaksanakan ketentuan ini masih diperlukan Peraturan Pelaksanaan yang mengatur kriteria SEP, tarif, dan DPP PTE.

Dalam pembahasan OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) saat ini mengerucut pada Unified Approach sebagai langkah pengenaan PPh atas transaksi digital. Dimana basis pemajakan baru berdasarkan adanya penjualan di negara pasar.

Selain itu Unfied Approach mengalokasikan laba dengan mendasarkan pada formula tertentu serta mencakup tidak hanya automated digital business (ADS) tetapi juga consumer facing business (CFB) yang memenuhi kriteria tertentu.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Keuangan, akan terus menyempurnakan konsep aturan pelaksaanaan pengenaan PPh dan PTE atas transaksi digital.

Terus aktif dalam diskusi internasional dalam mencapai dan mendukung adanya konsensus global 2020, serta melakukan analisis mendalam atas potensi pajak ekonomi digital.

“Kita jangan membatasi pikiran kita hanya dengan persoalan pajak, tapi melihat bagaimana Pemerintah Indonesia ingin supaya industri digital Indonesia bisa memiliki keputusan hukum yang jelas Febrio.

Dengan demikian Pemerintah tidak gagap dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat ini dan dapat menciptakan lingkungan ekonomi digital yang kondusif bagi pelaku usaha kreatif digital, baik pelaku usaha yang besar maupun UMKM ,” tambah Febrio.

 

Cerita Menarik di Balik Coklat Panas Kental Khas Filipina, Sikwate

this formate

Cokelat manis yang kental dan lembut itu bernama sikwate (foto: CNN Travel) 

PILIPINA, bisniswisata.co.id: Sebagian masyarakat Pilipina punya kebiasaan menghabiskan sore dengan menikmati segelas besar cokelat panas kental dan lembut, sikwate. Dalam khasanah kuliner Filipina, cokelat memiliki sejarah kaya dan panjang. 

Umumnya, cokelat disajikan sebagai minuman panas atau dikenal sebagai sikwate atau tsokolate de batirol. Teknik maupun ramuannya pun kini berkembang, menawarkan beragam cita rasa yang berkelas.

“Cokelat sudah  lama populer dalam khasanah kuliner kami,” kata Louise Mabulo, pendiri inisiatif pertanian berkelanjutan di Pilipina ‘The Cacao Project’ kepada CNN Travel.

“Tapi bagi orang Filipina, dunia cokelat yang pesat berkembang seolah baru kami masuki sekarang. Ada rasa bangga yang semakin bertumbuh terhadap komoditas ini.”

Sekadar flashback, tanaman cokelat telah menjadi komoditi penting di Filipina sejak era pemerintahan kolonial Spanyol yang berlangsung mulai 1565 hingga 1898.

Biji kakao tiba di Filipina berkat adanya perdagangan Galleon yang menempuh rute Acapulco di Meksiko dan Manila di Filipina. Kapal dagang inilah yang membawa biji kakao melintasi Samudara Pasifik untuk pertama kalinya.

Menurut cerita, orang Spanyol menanam pohon kakao pertama pada 1665, kemudian para biarawan Katolik-lah yang mulai memperkenalkan minuman cokelat panas ke Filipina.

Hampir seabad kemudian, petani lokal Filipina mulai menanam pohon kakao di halaman belakang rumah. Tak butuh waktu lama, tanaman tersebut kemudian cepat menyebar ke seluruh nusantara.

“Kami telah menanam kakao, khususnya bagi penduduk yang tinggal di wilayah saya di Camarines Sur (bagian dari Wilayah Bicol di sebelah tenggara Manila), sejak Spanyol mendarat dan membangun perdagangan Acapulco,” kata Mabulo, yang juga seorang koki profesional.

“Kami memiliki tanah yang sangat subur. Apalagi kelembapan udara di sini sangat tinggi sehingga ideal untuk menanam pohon kakao. Kakao juga tumbuh sangat baik di Batangas, Cebu dan Davao – mereka bahkan punya salah satu produsen coklat terbaik di negeri ini.”

Di beberapa belahan dunia lain, coklat kerap menjadi semacam simbol status – seperti halnya sutra dan rempah-rempah. Tapi, di Filipina, berbeda. Cokelat lebih mewakili sebuah skenario yang lebih demokratis.

Kebun-kebun cokelat pribadi tumbuh pesat di sana. Pemiliknya dapat memanen sendiri biji cokelat  untuk dijadikan tablea, yakni biji yang difermentasi, dikeringkan dan dipanggang untuk kemudian digiling menjadi pasta dan dibentuk menjadi balok-balok. Tablea bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar tradisional.

“Nenek saya punya pohon kakao sendiri di halaman belakang, dan saya tumbuh besar minum cokelat panas buatannya sendiri,” kenang Mabulo.

“Jika Anda bisa mencicipi rasa biji cokelat mentah, itu cara yang bagus untuk memahami mengapa rasa cokelat kami terasa seperti itu dan memahami bagaimana rasa itu tumbuh,” ujarnya..

Dengan begitu, kita juga dapat merasakan sebuah pengalaman – melihat biji mengering karena tertepa sinar matahari, mencium aroma saat memanggang. Sungguh ajaib. tambahnya.

Seperti halnya nenek Mabulo, banyak koki rumahan di Filipina mengembangkan sendiri resep cokelat pusaka, menyajikannya dengan nasi, pastries, atau dalam bentuk minuman cokelat panas.

Meski style-nya beraneka rupa antara satu daerah dengan daerah lain, tapi cara tradisional membuat sikwate, rata-rata serupa. Bahan dasarnya berupa coklat tablea, gula, krim dan susu.

Lalu seluruh bahan direbus dalam panci, dikocok dengan pengocok tradisional yang disebut batirol atau molinillo, maka jadilah minuman cokelat kental, kaya rasa dan berbuih.

Varian lain dibuat dengan cara melelehkan balok cokelat ke dalam air mendidih. Cara ini menghasilkan cita rasa cokelat yang lebih ringan dan berbusa. Bisa diminum saat panas atau dingin.

Coklat Filipina biasanya juga menawarkan rasa kacang, kayu manis, vanila, pala, bahkan selai kacang. Tapi itu bergantung pada lokasi dimana Anda berada, dan pada bulan-bulan apa Anda menyeruputnya. Setiap keluarga umumnya memiliki resep minuman cokelat yang sedikit berbeda.

 “Di daerah saya, kami banyak menanam cabai, jadi kami campuri (cokelat) dengan cabai dan santan,” tambah Mabulo.

 “Salah satu sebab mengapa rasa cokelat panas di tiap daerah sedikit berbeda, karena hal itu dipengaruhi faktor alam dan lingkungan di masing-masing daerah, termasuk jenis tanah, topografi, dan iklim.”

Aromanya pun jadi berbeda-beda. Meski tampak sangat mirip, tapi beberapa cokelat panas memiliki cita rasa yang lebih bersahaja, ada yang lebih terasa cokelatnya, bahkan ada yang lebih beraroma kopi. 

Cokelat panas Filipina dapat dinikmati tanpa camilan atau ditemani pelengkap lain yang lezat, seperti churros (snack manis), pan de sal tradisional (roti garam), kue beras, dan donat goreng.

Saat Natal, kata Mabulo, keluarganya kerap menikmati kue beras ungu yang disebut puto bumbong bersama dengan minuman cokelat panas dan ensaymada (roti keju yang lembut seperti brioche/roti perancis yang lembut).

 

 

Program yang Melibatkan Masyarakat Lokal Harus Terus Ditingkatkan.

this formate

Surfer menikmati gulungan ombak di pelosok, yaitu Krui, Kabupaten Pesisir Barat Lampung. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Indonesia harus terus memasarkan destinasi wisatanya secara holistik sehingga program yang melibatkan masyarakat lokal memang harus digencarkan, kata Efin Soehada, pengamat pariwisata.

Efin yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi – manajemen stratejik, ilmu administrasi, dan linguistik ini mengatakan gencarnya program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) dari Kemenparekraf agar dapat diimplementasikan pada masyarakat dengan baik.

“Pembukaan kembali bagi wisatawan mancanegara ke Indonesia harus ditandai dengan kesiapan semua stakeholder pariwisata karena ibaratnya menerima tamu maka kita harus bisa jadi tuan rumah yang baik,” kata Efin, hari ini.

Bagi kelompok masyarakat terutama di Pulau Jawa yang sudah mengenal Community- Based Tourism (CBT), ada kelompok sadar wisata dan sudah membentuk desa-desa wisata akan lebih mudah mengimplementasikan program BISA.

BISA sendiri merupakan implementasi dari Sapta Pesona. Jadi dalam sektor pariwisata sejak dulu sudah menerapkan Sapta Pesona yang terdiri dari tujuh unsur, yakni Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah- tamah dan Kenangan.

Menurut Efin Soehada, dalam kaitan ini para stakesholder di daerah yang sudah biasa menerima tamu asing harus memahami target pasar atau tamunya secara menyeluruh. Hal  yang utama adalah memahami karakteristik dan kebutuhan dari wisatawan domestik maupun mancanegaranya itu.

Jika paham target sasaran pasarnya yang ingin di jaring dan tamu yang datang terpenuhi kebutuhannya, maka mereka akan menjadi tamu ‘repeater‘. Pengalaman berwisatanya akan diceritakan dari mulut ke mulut pada keluarga dan komunitasnya.

Nah kalau pengalamannya positif kita untung, tapi kalau negatif dan terus menyebar, maka akan merugikan banyak pihak. Oleh karena, itu daya saing dan kualitas pelayanan harus terus ditingkatkan,” ungkapnya.

Efin Soehada

Wanita yang bersuamikan Agusman Effendi dari Lampung ini mencontohkan tempat surfing di Indonesia bukan cuma Bali. Krui di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung punya Pantai Tanjung Setia yang jadi incaran peselancar dunia.

“Pantai Tanjung Setia menawarkan ombak bergulung yang bisa tingginya 6 sampai 7 meter dan panjang sekitar 200 meter. Sejak tahun 1960 an sudah dikenal sebagai tujuan surfing. Waktu awal-awal masyarakat masih sulit menerima turis asing yang berpakaian ‘kurang pas’ saat akan surfing,”

Lambat laut dalam kunjungan yang intensif tahun 2019 lalu misalnya, para stakeholder pariwisata terbukti dapat mendukung keberadaan kawasan para tamu peselancar tersebut.

Demikian pula para pengusaha UMKM dapat menyelaraskan produknya sesuai kebutuhan para wisatawan. Sehingga akhirnya daerah tersebut punya event tahunan seperti Kejuaraan Krui Pro diikuti peselancar dunia.

Menurut Efin bagi stakesholder di daerah, apalagi di tengah pandemi global COVID-19, implementasi program BISA agar di terapkan secara mendasar mulai dari cara menyediakan makanan untuk para tamu harus cermat. Proses kuliner dimulai dari penyediaan bahan baku, cara memasak yang sehat, hingga penyajian.

“Para pengusaha kuliner yang tersebar di sana harus paham tata cara standar proses memasak cara sehat. Misalnya, ayam potong tidak bisa terlalu lama di udara terbuka, karena rawan bakteri sehingga harus cepat dimasak. Sang juru masak juga harus tahu kebersihan termasuk jangan biarkan sehelai rambutpun masuk dalam makanan,”

Hal-hal yang kelihatannya sepele, dari hal menyiapkan kuliner bagi wisman, belum dari akomodasi dan kebersihan lingkungan mulai dari ruang kamar tidur hingga kebersihan kawasan pantainya sendiri tidak bisa diabaikan begitu saja.

Efin mengakui kerja keras untuk menyosialisasikan pengetahuan standar di bidang kepariwisataan masih perlu dilakukan. Pengetahuan tersebut wajib menjadi pengetahuan stakeholders dari mulai kota-kota besar hingga tempat terpencil sekalipun. Program BISA terus menerus ditularkan dan para ahli praktis di bidang kepariwisataan perlu digandeng oleh Kemenparekraf.

“Beruntung bagi para pelaku pariwisata di P. Jawa yang lebih banyak mendapatkan ilmu BISA ataupun Sapta Pesona ketimbang mereka yang berada di daerah-daerah yang jauh dari P. Jawa,” ungkapnya.

Program yang sudah disosialisasikan ke masyarakat harus bisa diterjemahkan dengan detil standar prosedurnya karena hasilnya nanti untuk memperbaiki indikator ‘Health, Hygene dan Safety‘ di lingkungan destinasi pariwisata untuk dapat meningkatkan peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI)

Indonesia peringkatnya masih jauh tertinggal di urutan ke-102 dalam masalah Health and Hygene juga di peringkat ke-80  dalam kategori Safety and Security dari total 140 negara.

“Mari kita taat prosedur sehingga usaha juga bisa berkelanjutan sesuai dengan konsep sustainable tourism yang kembali digaungkan di seluruh dunia”

“Tentu saja agar anak, cucu, cicit, canggah kita masih bisa lihat keindahan alam, bisa lihat lahan sawah, masih bisa lihat ayam karena semua bisa terjaga kelangsungan hidupnya, tutup Efin Soehada.

Taman Pribadi Ratu Inggris di Kastil Windsor Dibuka untuk Umum Setelah 40 Tahun Tertutup

this formate

Taman di Kastil Windsor akan buka tamannya untuk umum (foto: royal family)

WINDSOR, bisniswisata.co.id: Kastil Windsor, salah satu kediaman resmi Ratu Elizabeth dari Inggris, akan membuka East Terrace Garden untuk umum. Ini adalah pertama kalinya taman ini dibuka setelah tertutup selama lebih dari 40 tahun.

Pengunjung kastil, tempat dimana ratu menghabiskan waktu selama beberapa bulan terakhir saat Inggris memberlakukan lockdown, akan dapat menikmati keindahan taman yang dibuat pada 1820-an itu di akhir pekan pada Agustus dan September.

Saat ini terdapat 3.500 semak mawar yang ditanam mengelilingi air mancur yang ada di tengah-tengah taman. Taman ini menjadi kebanggaan tersendiri karena menyimpan begitu banyak sejarah yang penuh warna, karena mengikuti selera raja yang berbeda selama berabad-abad.

Awalnya, semak mawar ini ditanam untuk menyenangkan mata para penghuni apartemen kerajaan yang ada di sepanjang fasad timur kastil.

 “Taman pertama yang dibangun di sini dibuat pada 1824 saat pemerintahan George IV. Tapi sebelum itu, di Abad Pertengahan, taman itu merupakan parit pertahanan,” kata Richard Williams, Kurator Pembelajaran di Kastil Windsor, seperti dilansir Reuters.

“Untuk melindungi tembok kastil, Charles II pada abad ke-17 membuat teras tempat kami berdiri saat ini dan juga meletakkan rumput bowling di halaman karena dia sangat menyukai bowling,” ucap dia

Taman-taman itu kemudian secara besara-besaran direnovasi oleh Ratu Victoria dan Pangeran Albert pada abad ke-19. Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth, bertanggung jawab atas penampakan taman saat ini sejak 1971. Saat Perang Dunia II, taman ini total digali untuk menanam sayuran, kata Williams.

“Kala itu dua plot lahan disisihkan untuk Putri Elizabeth muda dan saudara perempuannya, Putri Margaret. Mereka menanami jagung manis dan tomat, juga kacang-kacangan di sana, menurut saya, semua sebagai bagian dari upaya perang, dan kedua kakak-beradik itu melakukan bagian mereka.”

Kastil Windsor didirikan oleh William the Conqueror pada abad ke-11 dan terletak di sebelah barat London.

 

Wisata Arung Jeram Maseng River Camp 

this formate

Tiap perahu karet ditumpangi 4 – 5 orang wisatawan, plus drive-guide yang duduk mengatur dan mengolah gerak laju perahu. Aba-aba drive-guide wajib dipatuhi tiap peserta. ( Foto-foto: Heryus Saputra)

BOGOR, Bisniswisata.co.id:  Maseng River Camp @ Cisedane Bogor dibuka lagi. “Arung jeram lagi, nyoook…! Dengan menerapkan aturan protokol kesehatan. Bebas macet, cuma 30menit berkereta api dari pusat Kota Bogor,” ucap Lody Korua, pelopor operator wisata arung jeram Indonesia, pendiri dan pengelola Maseng River Camp (MRC), yang menggelar paket andalan: wisata arung jeram.

Seperti tempat atau operator jasa wisata lain di dunia, ragam outdoor activity yang biasa digelar MRC memang sempat ‘libur panjang’ gegara pandemi Covid-19. Larangan untuk tidak melakukan perjalanan atau berwisata berlaku dimana-mana, sampai baru-baru ini World Health Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan sikap menilai ke depan, bahwa larangan perjalanan internasional akan tidak berlaku. 

“Negara-negara di dunia harus berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus Corona di wilayah perbatasan mereka,” begitu antara lain ungkap Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan saat merilis larangan perjalanan tidak berkelanjutan.

Menurut dia, akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang, karena sektor ekonomi harus terbuka, tambahnya.

Virus Covid-19 bisa jadi memang tak akan benar-benar musnah dari peradaban, bahkan mungkin saat vaksin anti virusnya kelak ditemukan. Setuju tidak setuju, kita sebagai manusia harus siap hidup berdampingan dengannya, sebagaimana virus-virus dan penyakit lainnya selama ini. 

Merujuk anjuran itu, ragam daerah tujuan wisata kembali membuka pintu. Para pelaku bisnis wisata kembali menggelar paket-paket wisata unggulannya, dan masyarakat bisa kembali berwisata di era normal baru. 

Demikian halnya Lody Korua, yang awal Agustus ini  kembali membuka gerbang MRC, bagi masyarakat dunia yang ingin menikmati white water rafting atau wisata arung jeram sungai. 

Bebas macet

Olahraga petualangan arung jeram, atau sebagian orang menyebutnya Olahraga Arus Deras (ORAD) sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, sejak klub pendaki gunung dan penempuh rimba WANADRI menggelar Citarum Rally tahun 1975.

Masih di tahun yang sama klub pencinta alam MAPALA-UI melakukan ekspedisi Arung Sungai Barito dari hulunya di kaki Pegunungan Muller – Kalimantan Tengah. 

MRC memang dirancang sebagai one-stop-adventure-area’s

Betapapun penuh risiko, aktivitas arung jeram menarik minat masyarakat luas. Kegiatan “ekstrem” yang sebelumnya merupakan ranah para pecandu adrenalin ini berkembang dan bahkan kini telah sah menjadi domain publik. 

Siapa pun bisa melakukannya. Masyarakat awam cuma perlu menghubungi operator jasa wisata arung jeram dan menentukan jadwal pengarungan. 

Lody Korua, pemilik payung paralayang pertama yang terbang di langit Indonesia, juga merupakan orang Indonesia pertama yang tercatat mendirikan dan mengelola operator jasa wisata arung jeram Indonesia. 

Sejak tahun 1989, ia merintis arung jeram berbayar bagi ekspatriat di Jakarta yang ingin merasakan “asyiknya” mendayung perahu karet di antara tonjolan batu dan arus liar Cimandiri dan Citarik di Sukabumi, Jawa Barat.

Kini operator wisata arung jeram tumbuh dimana-mana. Nyaris tiap sungai di Indonesia tak luput dari aktivitas arung jeram yang diminati tak cuma diminati ekspatriat dan pelancong mancanegara, tapi juga masyarakat Indonesia.

Namun ibarat hewan liar, bahaya berarung jeram tak serta merta bisa dihilangkan. Risiko mengintai tiap saat. Operator dan pemandu  tak boleh lengah sedikit pun, atau nyawa taruhannya. 

Untuk menjawab tantangan ini, sejak awal hobinya ‘main air’ di sungai, Lody selalu menekankan pentingnya save and safety di tiap aktivitas arung jeram yang digelarnya. Bahkan lewat MRC, Lody menawarkan bagaimana kita bisa arung jeram dengan aman dan nyaman.

Masyarakat tidak harus pergi  jauh-jauh buat melakukannya, dengan risiko kendaraan roda empat yang kita tumpangi dihadang kemacetan panjang hingga berjam-jam.

Untuk itu di tahun 2017, bareng sahabatnya (Abeng Wanadri, Yudhi Palaksi, dan Yuyun Mapala UI), Lody membangun MRC di areal seluas 3000 m2 pinggir aliran Cisadane, beberapa puluh langkah dari stasiun kereta api peninggalan Belanda di Kampung Maseng, Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Bogor 0516. 

“Aman, nyaman dan bebas macet,” ucap Lody, anggota kehormatan MAPALA-UI sekaligus pendiri Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).

Dia memang tidak sedang pamer tapi jalan menuju MRC sekarang ini memang mulus dan bebas macet, karena terhubung langsung dengan jaringan jalan tol Jakarta – Bogor – Sukabumi. Pengendara dari arah Bogor silahkan keluar di gerbang tol Cigombong, lanjut sekitar 5menit untuk tiba di MRC di dekat Stasiun Maseng. 

Seperti anjuran Lody, saya memilih naik Commuter-Line (CL) pagi rute Jakarta – Bogor. Tiba di Stasiun Bogor, jalan kaki 5 menit ke arah selatan, ke Stasiun Pledang Bogor. Ambil KA Pangrango pukul 07.55 wib rute Stasiun Pledang Bogor – Sukabumi, melewati Stasiun Batutulis.

Pukul 08:24 wib saya tiba dan turun di Stasiun Maseng, lanjut jalan kaki 5menit ke gerbang MRC. Nyaman,murah dan memang bebas macet. 

Ramah Lingkungan 

Abo, anak didik Lody, kini pemandu tangguh sekaligus atlet dan pelatih arung jeram bersertifikat IRF (International Rafting Federation). Abo yang kini Manager Lapangan MRC, menyambut saya di TKP. Sepagi itu, pukul 08.45 wib, perahu karet dan ragam perlengkapannya sudah disiapkan Abo dkk, berjajar rapi di rerumput bantaran sungai siap diturunkan ke air menemani Anda memacu adrenalin di arus liar sungai

Tapi tak perlu terburu-buru. Silahkan nikmati dulu bekal sarapan yang Anda bawa dari rumah, atau pesan camilan one-dish-meals yang disediakan Lani, istri Abo, yang bersama putri-putri mereka mengelola kafe MRC. 

Ragam kuliner ala kampung siap mengganjal perut Anda. Kue unti, dadar gulung, telor ceplok, omelet jamur, nasi goreng, sayur asem, ikan bakar, mi rebus brokoli, kopi tubruk, bandrek dan lainnya.

MRC memang dirancang sebagai one-stop-adventure-area’s, dimana wisatawan yang bertamu bisa menikmati banyak hal hanya dalam satu kunjungan. Pagi itu usai menikmati kopi tubruk daun sereh plus goreng singkong, saya nikmati suasana alam sekitar. 

Gemericik air, cericit burung mengejar serangga kecil, dan nyanyian gareng pung yang bersahut-sahutan di cabang pohon besar, pertanda hari akan terus cerah. 

Cungkup-cungkup tenda tegak di bagian yang agak lapang dinaungi daun-daun. Ada bangku-bangku dari potongan batang kayu terpasang di antaranya. Juga potongan drum wadah perapian, yang tampak masih menyisakan kepulan asap.

Ini pertanda semalam ada pekemah menggelar api unggun, kelompok keluarga yang (barangkali) barusan saya lihat tengah cross country, melangkah gembira di pematang sawah. 

Tiap perjalanan adalah pengalaman tak tergantikan. Tiap petualangan adalah refleksi atas hidup dan kehidupan. Tiap orang punya gelitik rasa. Juga saya pagi itu, saat menyelinap di laman luas MRC yang ramah lingkungan, dikelola dengan prinsip zero waste zero plastic

Usai beraktivitas jika tamu biasanya disuguhkan air mineral kemasan, maka di sini, pelepas dahaga para tamupun diganti air kelapa muda dengan pipet bambu untuk menyeruputnya.

Meluncur jatuh ke dasar sungai

Arung jeram merupakan aktivitas aktivitas luar ruang yang butuh fisik sehat. Jauh sebelum virus COVID-19 dikenal dan jadi pandemi dunia, faktor kesehatan peserta jadi syarat penting bagi siapapun yang hendak arung jeram bareng Lody. 

Pemandangan sungai yang menantang dari drone

Tim resque dan tim medis (beranggotakan dokter dan tenaga andal bidang kesehatan) selalu dilibatkan dalam setiap trip arung jeram, jauh sebelum Lody membangun MRC

Prosedur kesehatan dan keselamatan diberlakukan tanpa pandang bulu. Tiap peserta mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman dan pas untuk berarung jeram. Mengenakan helm dan rompi apung yang disiapkan operator.

Barang pribadi yang mudah rusak bila basah atau terbentur (kamera atau dompet misalnya), disimpan dalam drybag yang dibawa drive-guide, pemandu sekaligus komandan di tiap perahu.

Tiap perahu karet ditumpangi 4 – 5 orang wisatawan, plus drive-guide yang duduk mendayung di buritan, mengatur dan mengolah gerak laju perahu. Aba-aba drive-guide wajib dipatuhi tiap peserta.

Apa dan bagaimana dasar-dasar berarung jeram? Mengapa peserta (yang sudah bayar) tetap harus mendayung? Apa yang harus dilakukan bila perahu terbalik dan kita terseret arus? Drive-guide menjelaskan sebelum pengarungan.

Pada sesi paling pagi itu, di luar perahu-perahu berisi tim resque dan petugas medis, ada 14 buah perahu berisi tamu MRC yang sama hendak berarung jeram. 

Pengarungan dilakukan beriringan diawali perahu pelopor berisi tim resque dan dokter, yang bertugas membuka jalan, sekaligus sekaligus mengawasi dan menjaga tiap perahu, khususnya saat-saat hendak masuk dan menerobos jeram.

Lody ikut dalam pengarungan itu sebagai pimpinan perjalanan, membawahi semua drive-guide di tiap perahu. Ia mendayung sendiri, menggunakan perahu kayak tunggal dengan menggenggam dayung bilah ganda.

Lincah geraknya. Melaju diantara perahu-perahu kami. Kadang ia berhenti di sebuah ceruk tenang, lalu mendayung lagi, ‘membimbing’ pengarungan. Lody memang satu dari sedikit pekayak andal Indonesia. 

“Boom…!” teriak drive-guide. Itu tanda perahu yang kami tumpangi akan membentur cadas batu sungai, dan berarti semua penumpang harus merundukkan tubuh ke bagian depan dalam perahu.

Sambil berpegang pada tali yang melengkapi perahu, tujuannya agar tubuh kami tak terlempar keluar perahu atau ikut terbentur batu cadas. Pada setiap kejadian, kami harus tetap menjaga dayung yang jadi tanggungjawab kami.

Seru, menegangkan dan amat memacu adrenalin. Terlebih saat harus menerobos jeram curam. Beberapa kali perahu kami tersangkut di celah batu, dan baru lepas setelah diupayakan lepas, hingga bisa kami seperahu sama mendayung lagi. 

Ada juga perahu peserta yang terbalik dan semua penumpang masuk air. Tapi tak perlu panic. Tubuh kami dilengkapi pelampung. Ada cara untuk selalu save & safety.

Wisata arung jeram yang aman dan terukur.. Dari saat start, ada sekitar 120 menit kami berarung jeram.  Menyusuri 12 Km batang tubuh bagian hulu Cisadane yang bermuara di Teluk Naga di pantai utara Tangerang, Banten. 

Menerobos bahkan ‘melompati’ 16 buah jeram dengan tingkat kesulitannya masing-masing. Syukurlah perahu karet saya dan Resti tak sampai terbalik, walau tak ada yang tak basah kuyup. 

Puncaknya adalah ketika perahu kami yang sedang mengapung tenang, dan beberapa di antara kami asyik memandangi seekor biyawak di atas batu, mendadak perahu meluncur jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter ke bagian dasar sungai.

Itulah dam kolam sistem instalasi pengairan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik Pemda Kota Bogor, yang sekaligus merupakan titik finish trip wisata arung jeram pagi itu. 

Lody dan drive-guide serta dan para anggota tim resque/medis menyalami peserta. Semua perahu dikumpulkan, sebagian dikempiskan, dan diangkut ke tepi atas sungai.

Tapi helm, rompi apung dan dayung tetap harus kami bawa, untuk kelak kami serahkan kepada petugas perlengkapan. Beberapa peserta tampak masih asyik main air di sekitar situ. Beberapa menikmati camilan dan air mineral. Sampahnya? Bawa pulang!

Ada minibus dan truk bak terbuka milik warga sekitar yang disewa operator untuk membawa kami, plus segenap perlengkapan (dayung, perahu karet dan lain-lain), balik pulang ke tempat start.

Pukul 11:15 wib kami sudah kembali berada di area MRC untuk bersih-bersih diri, mandi, beberes, ngopi lagi bagi yang ingin ngopi, sebelum balik ngejar kereta untuk pulang ke rumah masing-masing.

Bagi yang hendak balik pulang siang ke arah Bogor, ada baiknya segera bergegas dan jalan ke Stasiun Maseng. Sebab ‘teng’ pukul 11:45 wib, terjadwal bahwa KA Pangrango dari arah Sukabumi akan menepi di Maseng, dan dalam hitungan menit akan kembali melanjutkan perjalanan dan terjadwal tiba di Stasiun Pledang Bogor pada pukul 12:08 wib.

Silahkan kembali jalan kaki 5 menit ke Stasiun Bogor dan pilih sendiri KA Commuter-Line arah Jakarta, yang juga terhubung bila ingin lanjut menuju Bekasi dan Karawang atau ke arah Serpong dan Rangkasbitung, bahkan ke Merak Banten.

Beberapa teman juga biasa memarkir kendaraan pribadi (roda dua atau roda empat) di sekitar Stasiun Pledang, hingga dari situ bisa langsung balik pulang.

Bersama Komar ( kiri), Kepala Desa Citarik, Sukabumi usai menyelesaikan etape terakhir

Berayun di hammock

Saya dan Resti tak ingin cepat pulang ke rumah. Kami masih kangen sama Lody, ingin ngobrol lebih in-depth ihwal ‘jeram-jeram kehidupannya, sembari menikmati nuansa alam terbuka di pekarangan MRC. 

Kebetulan kami hafal, tiap hari ada 3 (tiga) perjalanan KA Pangrango antara Bogor – Sukabumi, dan 3 (tiga) perjalanan kereta api yang sama antara Sukabumi – Bogor, dan semua sama berhenti di Stasiun Maseng 

Sebelum berangkat kemari, kami sudah membeli tiket kereta api, pp., secara on-line di toko swalayan dekat rumah. Kepulangan kami sore ini dengan KA Pangrango dari arah Sukabumi yang dijadwalkan singgah di Stasiun Paseng pada pukul 17: 20 wib, dan tiba kembali di Stasiun Pledang Bogor pada pukul 17:48 Wib. Jadi masih ada waktu sekitar 5 Jam sebelum kami benar-benar balik pulang.

Anak-anak dan para orang tua yang pagi tadi tampak berjalan di pematang sawah, cross country sambil melihat-lihat kehidupan masyarakat sekitar, kini tampak ngumpul di bawah tenda besar tanpa dinding, asyik menggelar outdoor fun games

Rupanya mereka satu keluarga yang datang berkemah sembari menggelar family fun outing, bagian program yang ditawarkan Lody dan sahabat-sahabatnya.

Memang banyak yang bisa dilakukan di MRC. Selain perlengkapan arung jeram misalnya, Lody juga menyiapkan beberapa buah perahu kayak tunggal berbahan fiberglass. 

Beberapa anak muda tampak berlatih menunggangnya. Saya jadi ingat tahun 2012, Lody membuka Sekolah Kayak di Citarik – Sukabumi diikuti 100 orang peserta dari sekujur Nusantara, dan saya tercatat sebagai murid paling tua, hahaha…!

Menikmati suasana sekitar sambil bergayut di hammock yang terikat kuat di antara dua ketinggian dahan pohon besar, bikin mata jadi ngantuk. Lody menawarkan kami untuk bermalam, sembunyi bagai kepompong dalam sleeping bag, di dalam tenda kedap hujan kedap serangga, sambil menikmati busur langit dan nyanyian burung malam. Tapi mohon maaf, kami sungguh rindu rumah.