Wisata Edukasi , ‘The Sangiran Early Man Site’

0
25

SANGIRAN, Sragen, bisniswisata.co.id: Museum Manusia Purba Sangiran menjadi salah satu destinasi wisata yang memberikan pengetahuan sekaligus wisata bagi pengunjung. Namun pandemi COVID-19 membuat berbagai destinasi wisata terdampak, salah satunya museum ini yang ditutup sejak 15 Maret 2020 guna mencegah penyebarluasan virus.

Kemenparekraf menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan sebelum dibuka kembali untuk umum. Kemenparekraf memilih situs ini guna membiasakan masyarakat dan pengunjung museum beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman di saat pandemi ini masih terus mengancam kehidupan kita.

Mengapa  situs Sangiran yang dipilih ? Tak aneh karena sejak 1996, Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Sebaran penemuan fosil hominid (manusia purba) tercatat cukup banyak di sini. Di sepanjang Sungai Bengawan Solo berikut anak sungainya, dari daerah Sangiran di Jawa Tengah hingga beberapa daerah di Jawa Timur, boleh dikata bagaikan tambang bagi penemuan fosil.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/ Barekraf) bersama Komisi X DPR/RI menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan. 

Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf/Bapareraf, Harwan Ekon Cahyo Wirasto mengatakan kegiatan ini sebagai upaya menyiapkan destinasi wisata serta para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Program atau Gerakan BISA merupakan kegiatan padat karya yang melibatkan pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, hingga masyarakat yang terdampak COVID-19 dalam menunjang kualitas dan daya saing destinasi pariwisata Indonesia.

Gerakan BISA mengundang pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dibekali peralatan penunjang kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan, untuk kemudian menerapkan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru. 

Memenuhi undangan Kementrian Pariwisata untuk meliput kegiatan BISA, selama dua hari berturut-turut pada 3-4 Agustus 2020 lalu saya menyempatkan diri mengeksplor sebagian situs yang terdiri dari lima klaster ini.

Saking luasnya area Situs Sangiran, area tersebut dibagi menjadi lima klaster. Pertama adalah Klaster Krikilan yang berfungsi sebagai pusat kunjungan atau visitor center. Di tempat ini pengunjung bisa mendapat informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran.

Disusul, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo. Situs ini buka pada Selasa hingga Minggu, dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

Menikmati wisata edukasi di situs manusia purba ini bagi anak milenial seperti saya memang harus berbekal pengetahuan dulu karena seperti pelajaran di tingkat sekolah dasar, di sini kita berhadapan dengan fosil-fosil, jadi browsing dulu sangat dianjurkan.

Soalnya kekayaan arkeologis yang ada di Situs Sangiran tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.

Situs Sangiran beserta semua kandungan arkeologis yang ada di dalamnya merupakan cagar budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan dan daerah Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, Trinil adalah contoh-contoh situs ditemukannya fosil hominid. 

Di antara situs-situs artefak purbakala di Indonesia, nama Sangiran barangkali paling sohor. Hal ini karena di sana bisa ditemukan jejak peninggalan Pleistosen yang paling lengkap dan utuh. Di sini para ahli paleoantropologi bisa dipastikan lebih mudah merangkai sebuah benang merah sejarah manusia purba secara berurutan.

Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.
sejak 1996.

Ahli paleoantropologi di dunia banyak yang melakukan penekituan di sini. Tak heran mereka tak ragu sedikitpun, menyimpulkan Pulau Jawa adalah salah satu tempat tinggal bagi spesies manusia yang paling awal di dunia. Konon, lebih dari satu juta tahun yang lampau, bisa dipastikan di pulau ini pernah hidup manusia purba.

Jadi jika hendak menelusuri jejak manusia purba yang hidup jutaan tahun lampau di nusantara, Situs Sangiran harus masuk dalam daftar kunjungan ke Sragen, yang istilahnya jaraknya cuma selemparan baru dari Solo, kota asal Presiden RI. Jokowi.

Di situs seluas 59,21 km persegi yang berlokasi di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, inilah pemerintah melestarikan dan melindungi jejak manusia purba.

Situs ini dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Meski hanya mengeksplor di satu klaster Krikilan tempat berlangsungnya acara BISA, saya jadi paham Sangiran sebagai lapangan riset ilmu paleoantropologi tampaknya masih jauh dari kata selesai. 

Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian dari lapangan Indonesia kembali menggeliat dan menghasilkan beberapa penemuan yang mencengangkan.

Di antaranya ialah temuan fosil Homo floresiensis di Flores; penemuan fosil kulit kerang di Trinil, Jawa Timur, yang memperlihatkan daya kreativitas Homo erectus; dan paling menarik ialah penemuan lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, sebagai satu jejak seni Homo sapiens tertua di dunia.

Nenek moyang leluhur orang Papua ialah kelompok migran pertama Homo sapiens yang keluar dari Afrika dan tiba di kawasan ini sejak 70 ribu tahun lalu. 

Sebelum kedatangan Homo sapiens ke Papua, kawasan ini telah dihuni oleh manusia purba Denisovan. Jejak ini terlihat pada DNA orang Papua kini, yang memiliki gen Denisovan berkisar 3 – 5 persen.

Riset Eijkman menyimpulkan, pusat keanekaragaman kuno bukan berada di Eropa atau di Asia utara yang beku, melainkan justru terjadi di kepulauan tropis yang hangat di Asia Tenggara

Pada 1920-an, sebuah tengkorak ditemukan di dekat Peking (sekarang Beijing), Tiongkok. Fosil hominid ini populer disebut “Manusia Peking”. Selain memperlihatkan banyak persamaan ciri dengan fosil Manusia Jawa, fosil ini usianya juga lebih tua. 

Tak kecuali juga temuan fosil hominid di Afrika Timur (Kenya, Etiopia, Tanzania), Afrika Utara (Aljazair dan Maroko), dan Afrika Selatan, pun memiliki banyak persamaan ciri dengan Manusia Jawa. 

Pada 1976 sebuah tengkorak Homo erectus lengkap ditemukan di Afrika Timur. Umurnya 1,5 juta tahun, satu juta tahun lebih tua dari yang ditemukan di Jawa dan Peking.

Nah bagaimana ? bangga nggak sama para lekuhur bangsa ini. Oh iya kalau berminat datang, maka seperti museum lainnya, Situs Sangiran tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.

 

 

 

  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.