Gaya Hidup Digital Nomad Makin Relevan Saat Pandemi COVID-19

0
13

Bermuda menyimpan pantai indah nan menawan (foto: coastal living)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kehidupan sebagai digital nomad kerap membuat iri banyak orang. Bagaimana tidak, mereka yang menjalani hidup seperti itu seolah mendapat privilege untuk bisa memilih lokasi tempat bekerja senyaman yang mereka kehendaki.

Digital nomad adalah gaya hidup yang dilakoni seseorang yang bekerja dari lokasi yang dipilihnya sendiri. Istilah ini mulai populer sekitar 2014. Kala itu banyak orang yang berprofesi sebagai desainer, pengembang, wirausahawan, dan penulis lepas memilih pergi  ke negara-negara di Asia Tenggara atau Eropa Timur sebagai tempat kerja. Alasannya, di sana biaya hidup lebih murah dan relatif sepi. Yang terpenting buat mereka, ada fasilitias Wi-Fi.

Pandemi COVID-19 seolah mengakselerasi kehidupan digital nomad. Untuk mencegah penyebaran virus Corona, orang dianjurkan bekerja dari rumah. Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook bahkan memperpanjang kebijakan pemberlakukan kerja dari rumah atau Work From Home bagi karyawannya hingga akhir tahun.

Jika sebelumnya bekerja jarak jauh seolah hanya impian banyak orang, kini di era pandemi COVID-19, hal itu menjadi lumrah. Makin banyak orang memandang bekerja itu tidak harus dari kantor. Sebagian bahkan mulai melihat bukan pula hanya dari rumah, melainkan bisa di tempat lain yang jauh dari lokasi tinggal. Mungkin di lokasi-lokasi yang menjadi tujuan wisata.

Banyak tempat wisata kini mulai melihat tren ini sebagai peluang. Bepergian kini bukan perkara sederhana. Para pelancong yang datang ke tempat wisata harus menjalani serangkaian prosedur yang cukup memusingkan, misalnya harus tes COVID saat berangkat maupun pulang, atau mejalani karantina selama beberapa hari. 

Nah, rasanya sayang jika para turis ini hanya menghabiskan waktu beberapa hari saja di tempat wisata. Mengapa tidak menawarkan mereka untuk tinggal selama sebulan misalnya. Toh, konsep bekerja dengan aturan kehadiran fisik kini sudah tidak relevan lagi.

Dengan teknologi Internet dan video conference, pekerjaan bisa diselesaikan secara jarak jauh. Begitulah pertimbangan beberapa pengelola tempat wisata. 

Pulau Bermuda, misalnya. Mereka mulai menawarkan sejumlah kemudahan bagi turis yang tertarik untuk tinggal lebih lama di Pulau yang terkenal sebagai tujuan wisata pantai. Ribuan turis manca negara datang ke sana setiap tahun.

Pulau yang terletak sekitar 1.000 Km dari lepas pantai Amerika Serikat ini mulai kembali membuka diri bagi pelancong asing pada 1 Juli, dengan tetap memberlakukan prosedur kesehatan yang ketat. Setiap pelancong yang tiba di sana wajib melakukan tes. 

Pejabat Otoritas Pariwisata Bermuda, Glenn Jones, mengatakan mereka mencatat peningkatan jumlah orang yang datang yang bukan untuk sekadar berlibur akhir pekan, tetapi untuk tinggal berminggu-minggu, bahkan bulan. Sebagian bahkan mengatakan tidak yakin apakah akan kembali ke negaranya. Ini sebuah keadaan yang perlu diantisipasi.

Untuk merespons tren ini, penguasa lokal memperkenalkan kebijakan The Work from Bermuda Certificate Program, demikian seperti dilansir Skift. Jadi ini semacam izin tinggal yang berlaku hingga setahun. 

Secara teknis, ini bukanlah visa, melainkan bentuk adaptasi baru. Aturannya sendiri merujuk pada ketentuan izin tinggal yang sudah ada di Departemen Imigrasi. Aplikasi online diluncurkan pada 1 Agustus dengan biaya US$ 263 per orang. Untuk mendapatkan sertifikat ini, pelancong juga  harus memiliki asuransi kesehatan atau menyatakan mampu membayar biaya kesehatan selama di Bermuda. Jika disetujui, wisatawan dapat datang dan pergi dari negara tersebut sesuka mereka.

Jadi, silakan pertimbangkan untuk datang ke Bermuda dan menjalani kehidupan digital nomad. Bermuda sendiri memiliki pantai yang memesona dengan keindahan terumbu karang. Iklimnya subtropis sehingga menawarkan cuaca sejuk sepanjang tahun dengan langit biru yang cerah. Banyak pula hotel dengan spa mewah dan masakan kelas dunia.

Kepulauan milik Inggris sejak 1611 ini berpenduduk sekitar 70.000 orang. Penguasanya adalah ratu Inggris dan mata uangnya, dolar Bermuda yang memuat gambar Ratu Elizabeth II. Bermuda ditemukan pada 1503 oleh navigator Spanyol Juan de Bermudez. Namanya lalu diabadikan untuk rentetan pulau-pulau kecil itu.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.