ART & CULTURE DESTINASI INTERNATIONAL LAPORAN PERJALANAN LIFESTYLE

Pengalaman Menikmati “Time Tunnel “ di Bern, Swiss

BERN, Swiss,bisniswisata.co.id: Masuk ke terowongan waktu atau time tunnel, itulah yang pagi itu kami lakukan setiba di Bern, pusat pemerintahan Swiss, sebuah kota tua yang mempesona dan merupakan permata tersembunyi dari situs Warisan Dunia UNESCO.

Mengapa naik kereta dari Jenewa tempat kami menginap dan berwisata ke Bern?. Tahu nggak ? ibu kota Swiss bukan Zurich ataupun Jenewa, melainkan Bern sebuah kota yang tenang, romantis, dan sarat sejarah? dan saat pertama kali menjejakkan kaki di Altstadt (kota tua Bern) ini atmosfirnya langsung merasa seolah dibawa kembali ke abad pertengahan.

Bangunan-bangunan dengan atap merah, jalan berbatu yang berliku, jembatan-jembatan tua yang melintasi Sungai Aare—semua begitu autentik dan terpelihara.

Dari arsitektur abad pertengahannya hingga budayanya yang semarak dengan bendera-bendera yang berkiba, Kota Tua Bern menawarkan perpaduan unik antara masa lalu dan masa kini. Lorong waktu itu kami lakukan dengan menjelajahi kisah-kisah menawan dan landmark yang menjadikan Kota Tua Bern sebagai destinasi yang tak terlupakan.

kota tua Bern dari abald pertengahan 

Secara harfiah “terowongan waktu” adalah konsep fiksi ilmiah yang merujuk pada sebuah lorong atau portal hipotesis yang memungkinkan seseorang untuk melakukan perjalanan melintasi waktu (ke masa lampau atau masa depan).

Sudah terbayang mendapatkan pengalaman menarik hari ini apalagi tiba di stasiun supir dari Kedubes RI di Bern sudah menjemput mengenakan stelan jas hitam menjemput tiga emak-emak yang mau mewawancarai pak Dubes Muliaman D. Hadad yang masih bertugas di Bern bulan Juni 2019 sebelum dunia dihebohkan oleh pandemi global COVID-19.

Pria yang kini menjadi Wakil Ketua Dewan Pengawas Indonesia Danantara Indonesia kini bertugas di sana sejak Feb 2025 hingga sekarang. Professor ekonomi dan bisnis yang kerap dipercaya sebagai Majelis Wali Amanat berbagai universitas itulah yang kami temui siang itu.

Sebelum mobil meluncur ke gedung Kedutaan RI, permintaan jurnalis senior dengan dua asisten Hilma Sabri dan Dewi Stalini ini diawali dengan eksplore kota Bern dulu. Memasuki lorong waktu ini adalah istilah sangat populer sebagai judul sebuah serial televisi fiksi ilmiah klasik Amerika Serikat tahun 1960-an berjudul “The Time Tunnel”.

Maklum yang datang Gen baby boomer seumuran dengan film seri terowongan waktu soal fasilitas penelitian super rahasia milik pemerintah AS berupa lorong elips yang digunakan untuk mengirim ilmuwan menjelajahi berbagai era sejarah.

Cuma beberapa menit dari stasiun, kami sudah tiba di pusat kota dan merasakan pesona kota tua Bern, tempat di mana sejarah dan pesona berpadu sempurna.

Kalau ingin menyaksikan pemandangan terbaik kota Bern, pak supir menawarkan datang ke Rosengarten atau Taman Mawar. Terletak di atas bukit yang menghadap langsung ke pusat kota, taman ini dipenuhi ratusan jenis bunga mawar yang mekar di musim semi dan musim panas.
.
Dari sinilah kita bisa melihat hamparan atap merah kota tua, aliran Sungai Aare yang berkelok-kelok, serta megahnya bangunan parlemen Swiss dari kejauhan. Tempat ini cocok untuk bersantai, mengambil foto, atau sekadar menikmati sejuknya udara Swiss sambil merenung.

Wah, tidak ada waktu untuk merenung, jadilah kami jalan sendiri karena memakai guide dan ikut tour jakan kaki ( walking tour) biayanya US$64,10. Sementara pak Dubes sudah sabar menunggu emak-emak ini jalan-jalan dulu agar punya gambaran soal kota tua Bern.

Keajaiban Jam Zytglogge

Di jantung kota pusat bersejarah Bern berdiri jam Zytglogge yang ikonik, simbol ketelitian dan seni Swiss. Maklum negara Swiss dikenal di seluruh dunia sebagai pusat industri jam tangan mewah dan berkualitas tinggi, dengan akar sejarah yang bermula sejak abad ke-16 di Jenewa.

Reputasi ini dibangun atas dasar ketelitian para pengrajin, inovasi mekanikal, dan standar regulasi “Swiss Made” yang sangat ketat. Ini label bergengsi yang diatur secara ketat oleh Federasi Industri Jam Tangan Swiss.

Kata om Google, agar memenuhi syarat, setidaknya 60% dari biaya produksi harus berbasis di Swiss, dan pergerakan mesin (movement) harus dikembangkan serta dirakit di sana

 

 

 

 

 

 

 

 

Keajaiban abad pertengahan ini, yang dikenal sebagai Menara Jam Bern, telah menunjukkan waktu sejak awal abad ke-13. Saat berjalan-jalan di jalanan berbatu, Selain jalannya artistik kita juga terpana akan dial astronomi yang rumit dan patung-patung menawan yang beegerak setiap jamnya. Tour Zytglogge menawarkan sekilas pandang yang menarik ke dalam mekanisme internalnya, mengungkap rahasia yang telah berdetak selama berabad-abad.

Salah satu ikon kota Bern adalah Zytglogge ini dimana menara jam yang dibangun pada abad ke-13 lebih dari sekadar penunjuk waktu, Zytglogge adalah pertunjukan kecil setiap jamnya. Saat jarum jam berdentang, patung-patung mekanis akan bergerak dan menarik perhatian wisatawan.

Menara ini dulunya merupakan gerbang masuk ke kota, dan kini menjadi saksi bisu perjalanan waktu Bern dari zaman pertahanan kota menjadi destinasi wisata dunia. Kita bisa ikut tour naik ke atas menara dan melihat mekanisme jam dari dalam serta menikmati panorama kota tua dari ketinggian.

Nah kami yang sudah berdiri di depan Jam Zytglogge, bergabung dengan turis mancanegara yang ingin berfoto dengan jam dari abad pertengahan itu asyik memperhatikan detil dari jam besalr itu

Jelaslah jam ini lebih dari sekadar penunjuk waktu; ia adalah pendongeng yang etiap jam, parade figur mekanik memikat para penonton dengan tarian mereka yang unik, menceritakan kisah-kisah dari sejarah Bern yang kaya.

Ayam jantan berkokok, badut membunyikan loncengnya, dan Chronos memutar jam pasirnya, semuanya disinkronkan dalam harmoni yang sempurna. Ini adalah tontonan yang mempesona baik muda maupun tua.

Saat menyelami lebih dalam jam Zytglogge ini, kita akan menemukan bagaimana permata arsitektur ini telah berevolusi dari waktu ke waktu. Awalnya dibangun sebagai menara penjaga, ia telah melayani berbagai peran sepanjang keberadaannya, termasuk sebagai penjara dan bahkan monumen sipil. Saat ini, ia berdiri sebagai bukti ketahanan dan inovasi Bern.

Jam Zytglogge bukan sekedar membuat kita penasaran tapi memang dia jadi saksi bisu sampai manusia hidup dijaman modern ini. Daya tariknya yang tak lekang oleh waktu terus menarik pengunjung dari seluruh dunia, masing-masing ingin menyaksikan keajaibannya secara langsung. Turis Indonesia ini jadi kelompok kecil yang wisatawan berkulit hitam dan putih.

Kami hanya saling pandang sambil mengembangkan senyum dan lain kali jika Anda berada di kota tua Bern, biarkan jam Zytglogge memandu kita dalam perjalanan menembus waktu—perjalanan yang penuh dengan keajaiban dan penemuan.

Museum Sejarah Bern dan Museum Einsten

Museum Sejarah Bern adalah salah satu museum sejarah budaya terpenting di Swiss. Koleksi arkeologi, sejarah, dan etnografi mencakup sekitar 500.000 objek yang berasal dari Zaman Batu hingga saat ini dan mewakili budaya dari seluruh dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Museum Sejarah Bern dan Museum Einsten

Hydria dari Graechwil, permadani Burgundia, diptych dari Königsfelden, dan serangkaian objek etnografi serta koin dan medali semuanya terkenal secara internasional.

Selain itu, sorotan lain dari pameran permanen termasuk patung-patung Bern yang spektakuler, dua singgasana walikota Bern, dan banyak lagi. Di depan gedung anak-anak sekolah dasar bersama gurunya asyik berfoto ria bahkan bertengger dengan santai di atas patung sambil cekikikan. Duh kelakuan anak-anak sama saja ya, menyelip diantara sela-sela patung saja sudah bahagia.

Museum sejarah budaya Swiss dengan benda-benda arkeologi & etnografi dari zaman Batu dan seterusnya dipamerkan. Museum yang luar biasa menampilkan sejarah Eropa yang kaya. Disarankan untuk meminta headphone audio gratis dan terhubung ke wifi lokal. Lokasi museum Einstein di lantai 2 ya.

Satu hal yang banyak di skip oleh mata ini adalah tempat yang bagus bagi mereka yang tertarik dengan sejarah tapi tak banyak waktu seperti kami. Memang seharusnya bisa luangkan beberapa jam untuk menjelajahi hingga lima lantai. Informasi yang komprehensif.

Kami tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya; oleh karena itu sediakanlah banyak waktu apalagi dengan harga tiket yang mahal ukuran turis Indonesia sebesar 18 Swiss Franc setara Rp 450.000/ orang.

Museum sejarah budaya Swiss dengan benda-benda arkeologi & etnografi dari Zaman Batu hingga di zaman sekarang memang museum yang luar biasa dan membuat pengunjungnya tak bosan menikmati benda benda mati itu.

Museum sejarah Bern dan Museum Einstein yang terintegrasi menawarkan uraian tentang kehidupan dan karya fisikawan itu dan menempatkannya dengan cara yang menarik dalam konteks sejarah dunia. Pameran secara teratur dipamerkan di aula pameran yang berukuran luas.

Ternyata gedung ini juga bisa untuk menggelar event. Kalau mencari tempat untuk acara meriah, minuman beralkohol ramah, atau pertemuan produktif maka tuan rumahnya bisa di Museum Bernisches Historisches.

Dalam latar sejarah Bern dan dunia yang menginspirasi, pengelola menawarkan berbagai kamar untuk disewa. Pengelola rekomendasikan kombinasi dengan pengalaman budaya yang menarik misalnya bisa pilih tempat di ruang Bern quick & flirty, Multaka serta Einstein Museum untuk event-event yang ingin kita gelar.

Kontan inget Museum Fatahillah di kota Tua Jakarta. Kalau Gubernur atau pihak otoritas mengizinkan penggunakan ruang dalam dan halaman luas untuk acara festival atau kegiatan lainnya pasti berkesan mewah dan jadi pengalaman tak terlupakan.

Ada baiknya pengelola museum Kota Tua Jakarta juga memetakan ruang-ruangan mana yang bisa dipakai untuk event. Barangkali Wakil Gubernurnya Rano Karno bisa membuat Festival berkaitan dengan dunia film yang ditekuninya. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan bagi museum yang disebut Jakarta History Museum ketimbang nama Museum Fatahillah yang dimilikinya.

Dituntun Harta karun Sejarah dan Inovasi

Museum Sejarah kota Bern tempat yang bagus bagi mereka yang tertarik dengan sejarah. Membutuhkan lebih dari 3 jam untuk menjelajahinya. Saya lebih fokus untuk menemukan keajaiban Museum Einstein Bern yang terintegrasi di dalamnya.

Museum Einstein di Bern adalah harta karun bagi siapa pun yang tertarik dengan kehidupan dan warisan Albert Einstein. Saat melangkah masuk, kita akan disambut oleh koleksi pameran Museum Einstein yang kaya dan melukiskan gambaran yang jelas tentang kontribusi terobosan beliau terhadap sains.

Dari tahun-tahun awalnya hingga teori-teori revolusionernya, setiap pameran menawarkan perspektif unik tentang perjalanan Einstein. Di antara daya tarik utamanya adalah artefak Einstein, yang mencakup barang-barang pribadi yang memberikan gambaran intim tentang kehidupan sehari-harinya.

Benda-benda ini menawarkan koneksi nyata dengan sosok di balik teori-teori tersebut, memungkinkan pengunjung untuk melihat lebih dari sekadar citra publiknya. Museum ini juga menyimpan berbagai macam makalah Einstein yang mengesankan, yang menunjukkan proses berpikir dan evolusi intelektualnya dari waktu ke waktu.

Pameran-pameran tersebut dikurasi dengan cermat untuk melibatkan baik para cendekiawan berpengalaman maupun pendatang baru yang ingin tahu.

Tampilan interaktif menghidupkan teori-teori Einstein, membuat konsep-konsep kompleks menjadi mudah diakses dan menarik bagi semua usia. Baik pengunjung yang mengagumi manuskrip asli hingga yang betah menjelajahi presentasi multimedia, ada sesuatu di sini untuk memicu imajinasi.

Saat menjelajahi museum, saya jadi paham bagaimana karya Einstein terus mempengaruhi sains dan teknologi modern. Museum Einstein di Bern tidak hanya merayakan pencapaiannya tetapi juga menginspirasi generasi mendatang untuk mengejar jalan penemuan mereka sendiri.

Ini adalah tempat di mana sejarah bertemu inovasi, menawarkan pengalaman tak terlupakan bagi siapa pun yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang tokoh ikonik dalam sains ini.

Melalui pameran dan kisah-kisah menarik yang menanti di museum yang luar biasa ini kita seolah masuk ke lorong waktu dan saat menjelajah, kita akan menemukan Einstein Haus Bern di dekatnya, tempat Albert Einstein pernah tinggal dan bekerja. Selami dunia keajaiban ilmiah dan wawasan sejarah ini, dan biarkan rasa ingin tahu menuntun jalan.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)