Asosiasi Kapal Pesiar Janji Kurangi Emisi Karbon 40 Persen pada 2030

this formate

Asosiasi Kapal Pesiar berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon (foto: cruise and ferry)

WASHINGTON D.C., bisniswisata.co.id: Asosiasi Kapal Pesiar Internasional (CLIA) menyatakan komitmennya untuk terus mengurangi emisi karbon. Laporan terkini bertajuk ‘Praktek dan Teknologi Lingkungan Industri Pelayaran Global’ yang disusun Oxford Economics menunjukkan perkembangan ke arah itu.

CLIA yang merupakan wadah bagi perusahaan kapal pesiar di dunia menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi karbon hingga 40% pada 2030 dari emisi yang dikeluarkan pada 2008.

Meski secara global jumlah kapal pesiar hanya kurang dari 1 persen dari total komunitas maritim dunia, laporan ini membuktikan bahwa mereka memainkan peran penting dan utama dalam mengurangi emisi karbon, terutama dari sisi teknologi.

Anggota CLIA sebagian besar telah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengurangi emisi karbon, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan lingkungan yang bersih baik di atas kapal, di tengah lautan saat berlayar, maupun ketika sandar di pelabuhan. 

Hingga saat ini, industri kapal pesiar telah menggelontorkan investasi lebih dari US$ 23,5 miliar untuk membangun kapal-kapal berteknologi terkini yang memungkinkan penggunaan sumber energi yang lebih bersih. Ini membantu mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi. Jumlah investasi ini naik signifikan dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebesar US$1,5 miliar.  

“Meski kami tengah menghadapi dan berupaya mengatasi dampak COVID-19, industri kapal pesiar tetap berkomitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” kata Kelly Craighead, presiden dan CEO CLIA, dalam rilis yang diterima bisniswisata.co.id. 

Dia menambahkan lebih dari US$23 miliar telah diinvestasikan untuk membangun kapal-kapal dengan teknologi baru dengan bahan bakar yang lebih bersih, seperti sistem pempersihan gas buang dan pemanfaatan sumber energi dari gas alam cair.

Dengan begitu, Saya hanya akan dapat membayangkan apa yang akan kita capai bersama dalam sepuluh tahun ke depan dan seterusnya, ujarnya.

Seperti ditulis dalam laporan ini, para anggota CLIA terus berkomitmen tanpa lelah untuk mencapai tujuan ambisius itu. Sejumlah kemajuan penting telah tercapai, termasuk di sejumlah bidang berikut ini: 

  • Bahan bakar gas alam cair – Laporan 2020 menunjukkan 49% kapal-kapal baru sudah menggunakan gas alam cair sebagai bahan bakar untuk pengggerak utama, naik 50% dibandingkan tahun 2018.
  • Sistem Pembersihan Gas Buang – lebih dari 69% kapasitas global telah menggunakan sistem pembersihan gas buang  (EGCS). Ini merupakan upaya untuk memenuhi atau melampau aturan emisi udara. Angka ini naik 25% dibandingkan 2018. Selain itu, 96% kapal baru non-LNG akan dilengkapi EGCS. Itu artinya ada peningkatan kapasitas sebesar 21% dibandingkan tahun 2019.
  • Sistem pengolahan limbah yang canggih – 99% kapal-kapal pesiar baru yang tengah di-order sudah diminta untuk dilengkapi dengan teknologi pengolahan limbah yang canggih. Saat ini 70% kapal-kapal pesiar yang tengah beroperasi sudah menggunakan teknologi ini. Angka ini akan naik menjadi 78,5% saat kapal-kapal baru mulai berlayar.
  •  Kemampuan memasok listrik ke kapal – saat ini kapal-kapal pesiar telah dilengkapi teknologi yang memungkinkan pasokan listrik disuplai dari darat sehingga mesin di kapal dapat dimatikan saat sandar di pelabuhan. Sejumlah kolaborasi telah terbentuk antara pengelola kapal-kapal pesiar dengan otoritas pelabuhan dan pemerintah setempat untuk menyediakan fasilitas ini. Pasokan listrik dari darat ke kapal jelas meningkatkan kualitas udara di area pelabuhan karena secara signifikan mengurangi jumlah polusi udara berbahaya yang timbul dari kapal jika mesin terus menyala.

Kemajuan dan pemanfaatan teknologi pada bidang-bidang menunjukkan kepedulian CLIA untuk senantiasa menjaga kebersihan udara dan laut.

 “Pelaku industri di kapal pesiar bekerja setiap hari untuk  memastikan terselenggaranya bentuk pariwisata yang bertanggung jawab. Mereka bahkan sepakat bahwa  investasi yang terus menerus dan besar di bidang penelitian, sangatlah penting guna mencari alternatif bahan bakar dan sistem propulsi yang bersih,” kata Adam Goldstein, Ketua CLIA Global.

Itu sebabnya, menurut Goldstein, CLIA bersama mitra lain di sektor maritim sepakat untuk mendirikan Badan Penelitian dan Pengembangan senilai US$ 5 miliar. Lembaga ini diharapkan dapat menemukan teknologi dan mengidentifikasi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan memenuhi aturan yang telah ditetapkan IMO, organisasi maritim internasional dibawah PBB.

 

 

 

Hyatt Hotels Corporation Mulai Mempersiapkan Hybrid Event

this formate

Salah satu properti di Indonesia, Hyatt Regency Yogyakarta ( Foto: Agoda.com)

CHICAGO, bisniswisata.co.id: Hybrid event yang menggabungkan pameran dagang, konferensi,  seminar, lokakarya, atau pertemuan tatap muka “langsung” dengan komponen online secara virtual

Dengan semakin populer dan hemat biaya acara virtual, acara hibryd telah menjadi trend  untuk meningkatkan partisipasi dalam acara tradisional dengan biaya yang relatif rendah.  Hal ini juga memungkinkan partisipasi orang-orang yang mungkin tidak dapat hadir secara fisik karena kendala perjalanan atau zona waktu.

Hyatt Hotels Corporation yang propertinya menyebar di mancanegara dan di Indonesia a.l di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali selama ini mengandalkan kegiatan rapat-rapat dan pertemuan serta acara menyumbang 30 % dari pendapatan kamar pada 2019. 

Namun COVID-19 telah menghapus segmen itu untuk saat ini. Perusahaan juga melihat kembalinya pertemuan tatap muka yang lambat. Senior Vice President Hyatt,  Steve Enselein belum lama ini diwawancarai oleh Business Travel News tentang bagaimana perusahaan mempersiapkan kembalinya acara secara langsung, terutama yang hybrid. 

Berikut kutipan dari tanya-jawab soal trend dan  pemesanan fasilitas hotel untuk acara rapat-rapat dan pertemuan MICE lainnya dimana Steve Enselein mengatakan untuk tahun 2020, masih ada pertemuan kecil yang sesuai kebutuhan. 

“Sebagian besar acara yang lebih besar sedang dipesan hingga tahun 2021 pada saat ini. Kabar baiknya adalah bahwa sebagian besar acara yang sudah dipesan hingga Kuartal pertama dan Kuartal kedua tetap stabil dan tidak ingin bergerak pada saat ini,” ungkapnya.

Dari sejumlah propertinya di dunia, dia mengungkapan bahwa untuk lokasi yang memiliki batasan lebih sedikit karena berkaitan dengan ukuran pengumpulan orang maka Florida dan Texas.

” Kami melihat lebih banyak aktivitas di China dibandingkan di banyak tempat lain. Banyak yang didorong oleh batasan lokal pada ukuran pengumpulan orang di saat pandemi hlobal masih berlangsung,” kata Steve Enselein.

Hyatt mengumumkan bahwa pada akhir Juli 2020 sedikitnya 87 persen hotelnya akan buka. Ternyata hingga kini beberapa hotel lagi juga sudah buka hingga kini total sudah 90 persen. 

“Saya tidak mengetahui ada hotel yang tutup sejak krisis yang ada di belakang kami. Jadi kami akan terus membuka hotel-hotel ini karena dampak pandemi mulai mereda lebih lanjut,”

Apa rencana Hyatt agar pertemuan secara tatap muka bisa kembali yang akan menjadi acara hibrida. Apa yang dilakukan Hyatt untuk bekerja dengan profesional conference organizer ( PCO) ssbagai perencana event agar bisa  memenuhi kebutuhan baru mereka?

Menurut Steve, salah satu hal baik tentang pandemi ini adalah memungkinkan pihaknya untuk berhenti sejenak dan meluangkan waktu berbicara dengan para pelanggan dan memahami apa yang mereka butuhkan. 

Dia juga mulai berkomunikasi dengan mitra teknologi yang menyediakan layanan audiovisual    ( A/V) di dalam hotel maupun organisasi lain soal pertemuan hybrid dan virtual untuk jangka waktu yang lama. Untuk porsi hibrid jangka pendek, kebutuhan utamanya adalah bagaimana mendidik tim hotel dan pelanggan tentang apa saja potensi yang ada.

” Intinya bagaimana kami memudahkan mereka untuk melaksanakan acara pertama mereka. Saya rasa tidak ada dari kita yang percaya bahwa ketika hibrida kembali, yang pertama adalah ribuan orang yang berada di berbagai lokasi.

Seperti apa acara tatap muka di masa depan? Enselein  kini lagi fokus untuk mengidentifikasi berbagai jenis pengalaman hibrid yang mungkin dibutuhkan kelompok. Apakah delapan kelompok kecil orang di satu hotel atau menghubungkan beberapa hotel bersama.

” Kami telah melakukan edukasi dengan direktur penjualan, direktur acara, manajer perencanaan acara, dan manajer penjualan untuk mendidik mereka tentang opsi yang berbeda, tetapi kami mengandalkan mitra A / V kami untuk membahas secara spesifik,” 

Pihaknya juga telah bekerja dengan hotel-hotel di banyak kota utama untuk mengumpulkan jaringan hotel yang dapat mengadakan salah satu acara hibrida ini — Paris, Dubai, Hong Kong, London, Singapura. 

Di Amerika, dia bekerja dengan hotel Hyatt Convention Alliance, yang merupakan hotel terbesar di pasar utama dan di banyak resor. Membantu pelanggan dengan pendekatan “toko serba ada”.

Maksudnya untuk mengidentifikasi di mana mereka dapat mengadakan acara ini, dan bekerja sama dengan hotel untuk mengkonsolidasikan upaya mereka untuk mengadakan pertemuan gabungan.

Hyatt bekerja dengan mitra A / V  dan  dalam hubungan dengan PSAV & Encore  telah menjadi kemitraan jangka panjang yang hebat. PSAV adalah raksasa industri yang didirikan pada tahun 1937. Mereka menyediakan AV dan produksi internal di pusat konvensi, tempat, dan hotel seperti Kimpton, Hyatt, dan Marriott, di seluruh negeri.  

Kombinasi Encore dan PSAV sangat penting bagi industri dan semua yang mengandalkan rapat-rapat atau pertemuan lainnya agar dapat melayani pelanggan perencana pertemuan

Industri Kapal Pesiar Menantikan Beroperasi Lagi dengan Lebih Bersih

this formate

Anggota CLIA tak sekedar bertahan hidup tapi juga ingin kembali beroperasi dengan investasi teknologi yang lebih bersih. ( Foto: royalcarribean.com)

WASHINGTON, bisniswisata.co.id : Industri kapal pesiar telah menginvestasikan lebih dari US$ 23 miliar untuk bahan bakar dan teknologi yang lebih bersih.

Ketika industri pelayaran mulai bergerak maju lagi – setidaknya di Eropa untuk saat ini – anggota Cruise Lines International Association(CLIA) tidak hanya ingin bertahan hidup dengan baik di masa depan tetapi juga lingkungan yang lebih baik di sepanjang jalan.  

Laporan Praktik dan Teknologi Lingkungan Industri Pelayaran Global terbaru dari organisasi tersebut secara khusus membahas penurunan emisi, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan pengaturan yang lebih bersih di atas kapal, di laut dan di pantai.

 “Meskipun kami telah bekerja untuk mengatasi dan mengatasi dampak COVID-19, industri pelayaran tetap berkomitmen untuk masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” kata Kelly Craighead, presiden dan CEO CLIA, dalam siaran pers. 

Menurut dia dengan lebih dari US$ 23 miliar diinvestasikan dalam kapal dengan teknologi baru dan bahan bakar yang lebih bersih, seperti sistem pembersihan gas buang (EGCS) dan gas alam cair (LNG).

 “Saya hanya dapat membayangkan apa yang akan kita capai bersama dalam 10 tahun ke depan dan seterusnya.  Laporan ini menegaskan komitmen kami terhadap kelestarian lingkungan, dan saya memuji anggota kami atas kepemimpinan berkelanjutan mereka dan menerapkan standar tertinggi pariwisata yang bertanggung jawab. “

Poin-poin penting adalah  termasuk tujuan untuk mengurangi tingkat emisi karbon sebesar 40% dari angka tahun 2008 pada tahun 2030. Untuk itu, laporan tahunan tahun 2020 menunjukkan bahwa 49% dari kapasitas pembangunan baru akan menggunakan LNG untuk penggerak mesin utama mereka. 

Dilaporkan juga bahwa lebih dari 69% kapasitas global menggunakan EGCS untuk memenuhi atau melampaui persyaratan emisi udara.  Mayoritas (96%) newbuild non-LNG akan menginstal EGCS.

Terlebih lagi, 99% bangunan baru akan memiliki sistem pengolahan air limbah yang canggih.  Sudah, 70% armada CLIA oceangoing dipasok dengan sistem seperti itu.  

Selain itu, 75% dari kapasitas pembangunan baru akan diluncurkan dengan sistem kelistrikan di sisi pantai (terkadang disebut sebagai penyetrikaan dingin) atau akan dipasang untuk dipasang di kemudian hari.

 Demikian pula, 32% dari kapasitas global sudah mampu mematikan mesin dan menyambungkan ke listrik sisi pantai di 14 pelabuhan di seluruh dunia.

 Meskipun pihaknya telah berupaya untuk mengatasi dan mengatasi dampak COVID-19, industri kapal pesiar tetap berkomitmen untuk masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan, tambah Kelly Craighead.

 “Industri pelayaran bekerja setiap hari untuk memajukan upaya pariwisata yang bertanggung jawab dan mengakui bahwa investasi yang berkelanjutan dan lebih besar dalam penelitian sangat penting untuk mengidentifikasi dan memproduksi bahan bakar baru dan sistem propulsi,” kata Adam Goldstein, ketua CLIA Global

Itulah sebabnya mengapa CLIA bersama dengan mitra sektor maritim lainnya telah mengusulkan untuk membentuk dan mendanai Badan Penelitian dan Pengembangan senilai $ 5 miliar yang didedikasikan untuk bekerja secara kolaboratif di seluruh sektor.

Hal ini untuk mengidentifikasi teknologi dan sumber energi yang akan memberikan peluang tambahan untuk mengurangi jejak lingkungan kita dan mempertemukan  tujuan ambisius yang ditetapkan oleh Organisasi Maritim Internasional, kata Adam Goldstein.

 

Global Halal Consumer Trend, Upaya Memahami Industri Halal  dari Segala Sisi Kehidupan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Bank Indonesia dan Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) mendukung  Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)  ke-7 lewat serangkaian webinar internasional.

Kegiatan yang telah digelar sejak kick off pada 7 Agustus 2020 lalu ini puncaknya pada 27-31 Oktober 2020 dan dalam rangkaian acara, ISEF menampilkan Webinar Series on Halal Lifestyle dengan tajuk Global Halal Consumer Trend. Acara webinar ini diselenggarakan pada Rabu (16/9/2020) secara virtual melalui aplikasi zoom dan disiarkan live di youtube.

Dipandu oleh Ledi Mariana, pembawa acara di RCTI dan  sambutan dari Prijono, Head of Developmnt Group Sharia Economic and Finance Bank  Indonesia. Prijono berharap webinar dapat memberikan wawasan pada peserta tentang trend global halal industri.

Menurut dia adanya pandemi COVID -19 menyebabkan berbagai sektor bisnis terhenti. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi digital semakin meningkat, termasuk berbagai produk halal. Acara ini termasuk dalam upaya menyiapkan perkembangan ekonomi Syariah ke depannya yang berkontribusi pada perekonomian negara.

Webinar menghadirkan Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center & Indonesia Tourism Forum, DR Barbara Ruiz Bejarano, dari Halal Academy Spanyol, Alia Khan, Chairwomen Islamic Fashion & Design Council Dubai dan Ali Charisma, Ketua Indonesia Fashion Chamber. Uniknya webinar ini juga dihibur oleh Mia Ismi, penyanyi dan pemain biola. 

Sapta Nirwandar juga menjelaskan halal tourism behaviour, terlebih di masa New Normal. Halal food permintaannya naik, industri wisata terpuruk, tapi kosmetik masih tetap tumbuh meskipun warga diminta untuk beribadah, bekerja dan belajar dari rumah tidak terlalu mementingkan penampilan.

 ” Wisatawan masih takut bepergian oleh karena itu perlu disemangati untuk berwisata lokal, orang Jakarta rekreasi di seputar Jakarta, setelah itu ke provinsi terdekat seperti Jakarta-Bandung lalu gerakkan wisata domestik antar pulau, dari pulau Jawa ke Bali, misalnya,” kata Sapta.

Dia juga mengingatkan bahwa skenario pesimistis, optimistis dan realistis memang harus disiapkan karena selain berdampak di 216 negara terpapar COVID-19 secara serentak, kapan berakhirnya pandemi atau minimal kurvanya bisa datar ?

Namun Sapta menjelaskan sedikitnya ada 15 sinyal positif dari pengembangan industri halal di dunia pasca pandemi nanti atau disebut dengan New Normal. Peluangnya ada alternatif protein, belanja online dan kebiasaan baru masak di rumah, bekerja & belajar dari rumah, tingkat keamanan makanan, menambah regulasi dan lainnya.

Sementara Barbara Ruiz Bejarano,Director the Halal Academy Spanyol,  menjelaskan tentang populasi Muslim di Eropa yang terus bertambah terutama di Inggris, Perancis dan Jerman. Hadirnya komunitas Muslim di negara-negara itu umumnya karena migrasi penduduk dari bekas negara jajahannya di masa kolonial.

” Dalam kaitan pengembangan industri halal perlu ada investasi dan menjadikan Eropa sebagai hub dan produsen halal food misalnya seiring bertambahnya kebutuhan umat ” kata Barbara.

Di Eropa jarang ada Muslim yang jadi produsen halal food level UMKM sekalipun seperti di Indonesia. Pemilik outlet kecil makanan halal banyak. Padahal pandemi global peluangnya besar. Kalau bisa mengembangkan bisnis seperti Gojek dan Grab seperti di Indonesia kebutuhan dan pasar yang disebutnya  quick commerce ini tinggi.

” Hampir sama dengan pelayanan Gojek atau Grab di Indonesia. Tahapan penggunaannya pun melalui search, order, receive, collect items, deliver dan arrive,”

Sedangkan  quick commerce cenderung menawarkan kecepatan. Bahkan semua langkah dari order hingga sampai pada customer dapat dilakukan hanya dalam waktu satu jam maksimal.

Alia Khan, Chairwomen Islamic Fashion & Design Council Dubai menjelaskan gaya busana Islami telah membuktikan bahwa tidak mengandalkan validasi, penerimaan atau penjelasan untuk membenarkan keberadaan & kesuksesannya. 

 “Dengan gaya hidup Islami, kita bisa menjadi nyata, tipe unik yang indah & melestarikan nilai-nilai yang telah terbukti yang ditetapkan sejak awal zaman,”

Menurut dia, hal Itu memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari mencari pandangan persetujuan dari orang lain.  Bukan pula perlombaan mencari  popularitas, hanya menuju kontribusi positif bagi masyarakat.

 Ali Charisma, Ketua Indonesia Fashion Chamber mengingatkan agar para pelaku di dunia fashion segera berorientasi pada sustsinable fashion karena industri fashion menyumbang 10% emisi karbon dunia.

” Industri fashion menggunakan supply air terbesar kedua di dunia jadi pelaku industrinya harus bertanggung jawab karena mengotori laut dengan mikroplasti. Jadi harus lebih sustain dari industri penerbangan dan maritim dalam menekan emisi karbon,” tandasnya.

Menurut dia produsen tekstil yang memenuhi kebutuhan fast fashion dari para designer sudah harus mengikuti trend dunia untuk menjaga alam dan lingkungannya, kata Ali Charisma.

 

RI Usulkan 5 Kerja Sama Perkuat Pariwisata di ASEAN

this formate

Kegiatan The 52nd ASEAN NTOs Meeting and Related Meetings. ( Foto: Kemenparekraf )

JAKARTA, bidniswisata.co.id: Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengusulkan 5 komitmen kerja sama tingkat regional dalam penanggulangan COVID-19 pada sektor pariwisata melalui ajang The 52nd ASEAN NTOs Meeting and Related Meetings yang dilaksanakan pada 15, 21, dan 28 September 2020.

Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf, K. Candra Negara mewakili Sekretaris Kemenparekraf Ni Wayan Giri Adnyani pada kesempatan itu menjelaskan, rangkaian pertemuan ini menunjukkan komitmen negara-negara anggota ASEAN untuk terus mempererat kerja sama kawasan, khususnya dalam penanggulangan dampak COVID-19 di wilayah ASEAN.

“Ada lima poin yang kami usulkan dalam penanggulangan dampak COVID-19. Yang pertama, adalah Indonesia mengusulkan penghapusan ASEAN Single Aviation Market (ASAM) atau pasar tunggal penerbangan,” ujarnya.

Candra Negara menjelaskan, ASAM merupakan open sky agreement yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas domestik dan kawasan ASEAN melalui integrasi jaringan produksi dan liberalisasi pelayanan. Nantinya, maskapai dari negara anggota ASEAN dapat terbang secara bebas di dalam wilayah ASEAN.

Dalam perhelatan yang juga dihadiri oleh kepala NTOs dari negara anggota ASEAN, serta negara rekanan ASEAN yang tergabung dalam ASEAN +3 and ASEAN +1. Candra menjelaskan poin kedua yang diusulkan berkaitan mengenai Kamboja meminta agar posisinya sebagai ketua dapat diperpanjang hingga tahun 2022.

Hal ini akan mempengaruhi posisi Indonesia dalam kepemimpinan ASEAN di 2022. Oleh karena itu, Indonesia akan menyampaikan beberapa _win-win solution_ kepada pihak Kamboja agar keketuaan ASEAN 2022 tetap menjadi milik Indonesia.

“Ketiga, Indonesia mengusulkan agar Progress of Draft Protocol to Amend the MRA-TP (Mutual Recognition Agreement on Tourism Professional) atau pengaturan antara negara-negara ASEAN yang dirancang untuk memfasilitasi pergerakan bebas dan pekerja yang berkualitas dan bersertifikat antara negara anggota ASEAN segera dijalankan. Di pertemuan NTOs sebelumnya, di beberapa negara anggota,” ujarnya.

Keempat, lanjut Candra, terkait tentang pembahasan HCA (Host Country Agreement) pada Regional Secretariat for the Implementation of MRA-TP. HCA ini merupakan komponen penting untuk menetapkan dasar hukum dan standar pendapatan bagi berdirinya Sekretariat Regional.

Kelima, Indonesia mendukung adanya inisiatif Development of ASEAN Framework to Facilitate the Tourist Travel Bubble Schemes. Oleh karena itu, Indonesia terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan COVID-19 sehingga dapat memunculkan rasa percaya dari negara lain ketika membahas kemungkinan kerja sama travel bubble di masa depan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat beberapa hal yang menjadi agenda pembahasan pada rangkaian pertemuan ini, diantaranya seperti Mid-Term Review ASEAN Tourism Strategic Plan (ATSP) 2016-2025, ASEAN Tourism Marketing Strategy (ATMS) 2017-2020, ASEAN Tourism Professional Monitoring Committee (ATPMC). Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki beberapa isu strategis yang menjadi fokus pembahasan pada pertemuan kali ini.

Literasi Halal Industri, Trend Global dan Peluang Bisnisnya

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Indonesia agar meningkatkan literasi mengenai  industri halal karena populasi Muslim memiliki pertumbuhan tercepat sebagai segmen konsumen di pasar global, kata Sapta Nirwandar, Ketua dan pendiri Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC), hari ini.

” Literasi bukan hanya untuk halal tourism tapi justru untuk halal industri karena ada 7 sektor utama di dalamnya. Halal tourism hanya salah satu sektor dari halal industri,” jelasnya 

Dia menjawab pertanyaan pers mengenai perlunya pemerintah meningkatkan literasi halal tourism karena pengelola destinasi super prioritas maupun masyarakat belum sepenuhnya paham bahwa halal tourism adalah extended services, pelayanan tambahan saja.

Dalam ekonomi Islam global ( industri halal) ada makanan halal ( halal food), keuangan Islam (Islamic Finance  ), Muslim friendly travel, fashion, media & rekreasi, Halal pharmaticeutical  dan Halal cosmetics.

” Seperti yang sering saya ulang-ulang jelaskan kalau di pesawat ada penumpang yang oleh agamanya  dilarang makan daging sapi maka perusahaan penerbangan menyediakan makanan vegetarian. Maka itulah yang disebut pelayanan tambahan,” kata Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini ( SBY).

Saat ini di pasar global, jika ada perusahaan yang tidak melek dan membidik halal industri maka mereka dianggap kehilangan peluang besar. Data International Trade Center tahun 2015 maka 25% dari 1,8 miliar populasi Muslim dunia adalah konsumen Muslim dengan total pengeluaran US$1,9 triliun.

” Kita sekarang sudah di tahun 2020, jumlah umat Muslim dunia sudah bertambah dan dari tiga webinar internasional yang diselenggarakan IHLC dan Indonesia Tourism Forum ( ITF ) selama pandemi global COVID-19 saat ini  para pembicara internasional ungkapkan bahwa ada permintaan melonjak untuk halal food” kata Sapta.

Hal ini mengingat halal sudah menjadi universal  bahkan jadi brand apalagi sejak terjadi pandemi global di 216 negara maka semua produk kesehatan menjadi kebutuhan umat manusia mulai dari makanan hingga vitamin dan obat-obatan.

Statistik  menunjukkan nilai pasar Muslim yang ada dan potensial di seluruh dunia pada tahun 2017 akan terus menguat hingga  2023 sehingga pasar Muslim dari US$ 2,11 miliar  berpotensi tumbuh menjadi sekitar US$ 3 miliar pada tahun 2023.

” Saat pandemi ini permintaan halal food, media & recreation serta farmasi justru melonjak, sebaliknya yang terpuruk adalah travel,” tambahnya.

Tidak hanya berfokus pada industri pengolahan pangan, industri global halal sudah mencakup produk farmasi, kosmetik, kesehatan, peralatan mandi bahkan perangkat media. Selain itu juga industri halal  menjangkau sektor jasa seperti logistik, pemasaran, percetakan, pengemasan, branding, pembiayaan dan banyak lagi, jelas Sapta Nirwandar.

” Ini sebuah pasar yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi penduduk Muslim di negara-negara Barat juga meningkat seperti di Inggris, Perancis dan Jerman,”

Negara-negara nonMuslim seperti Australia dan Kanada justru jadi eksportir produk halal ke seluruh dunia, Jepang, Korea dan Taiwan malah menjadi negara-negara yang sukses mengembangkan Muslim Friendly Travel.

” Itu sebabnya Indonesia dengan segala kekayaan alam dan mayoritas penduduknya yang beragama Islam seharusnya mengembangkan halal industri dan perlu literasi di semua lapisan masyarakatnya. Orang lain negara lain mampu melihat peluang pasar halal yang sangat besar. Nah negara kita kapan?

 

Tanpa Turis, Kota Marrakech di Maroko pun ‘Mati’

this formate

Tanpa Turis, Kota Marrakech di Maroko pun ‘Mati’

Selama pandemi COVID-19, kota bersejarah ini pun sepi tanpa turis(foto: Arab news)

MARRAKECH, bisniswisata.co.id: Pesona kota berjulukan Kota Merah ini sudah tersohor di kalangan wisatawan. Marrakech adalah destinasi wisata paling populer di Maroko. Banyak tempat menarik bisa dikunjungi di kota bersejarah itu. 

Lokasinya lumayan jauh dari ibu kota Rabat, sekitar 400 kilometer atau 4 jam perjalanan dengan mobil. Namun hal itu tak menyurutkan minat wisatawan untuk datang. Para turis selalu terkesan bahkan ketagihan untuk kembali datang.

Salah satu tempat yang legendaris adalah Djemaa El-Fna, semacam alun-alun di pusat kota Marrakech. Beragam pertunjukan seni dan budaya biasa digelar di sana:  mulai dari musik, tarian tradisional Maroko, hingga atraksi para pelawak, pendongeng serta pawang binatang dengan diiringi musik khas tradisional Maroko. Tempat ini selalu ramai pengunjung. 

Namun, sejak pemerintah memberlakukan pembatasan yang ketat demi membendung penyebaran virus corona, industri pariwisata di Marrakech pun ikut terimbas. Banyak pelaku usaha di sektor ini menjerit karena terancam bangkrut.

Melansir dari Arab News, situs Warisan Dunia UNESCO abad ke-11 di Maroko ini nyaris kosong. Kota ini menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

“Sebelumnya, Anda harus antri, menunggu giliran untuk mendapatkan meja,” kata Bachir, seorang pelayan kafe yang telah bekerja di alun-alun selama dua dekade. Ia pun menunjuk ke teras kafe yang kosong.

Sementara itu tetangganya, Mohamed Bassir, khawatir akan masa depan industri pariwisata di Marrakech. 

“Ini pertama kalinya saya melihat DJamaa El Fna begitu kosong,” kata penjual jus jeruk yang tengah duduk menunggu pelanggan dari balik kiosnya yang didekorasi dengan ornamen buah plastik. “Itu membuat saya sedih,” kata Bassir.

Pemandangan di alun-alun yang biasanya padat pengunjung itu, kini suasananya begitu menyedihkan. Tak ada lagi pertunjukan seni. Penjual suvenir yang biasanya ramai pun seolah menghilang. Para peramal yang kerap menjajakan jasa, kini tak nampak lagi.

Maroko mengumumkan keadaan darurat kesehatan pada pertengahan Maret lalu. Pemerintah pun segera menutup perbatasan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Negara di Afrika Utara dengan penduduk 35 juta orang ini mencatat lebih dari 1.500 kematian akibat virus corona. Sementara itu, ada lebih dari 86.600 kasus positif yang terkonfirmasi.

Sementara itu, di labirin gang yang tersebar di kitaran alun-alun DJamaa El Fna, tak ada lagi kios yang buka. Di jalan-jalan sempit itu biasanya ramai kios menjual segala sesuatu, mulai dari sandal hingga rempah-rempah. Kini sebagian besar tutup. Hanya sedikit yang buka. Pemiliknya pun memiliki sedikit harapan.

“Sebagian besar pedagang telah menutup toko mereka,” kata Mohamed Challah, penjual jubah kaftan.

“Yang lain buka untuk menghabiskan waktu karena tidak ada yang bisa dilakukan di rumah,” katanya, seraya menambahkan bahwa tokonya tidak lagi menjual apa pun.

Sebelumnya pemerintah memutuskan untuk melonggarkan sejumlah pembatasan. Para pedagang dan operator wisata pun berharap pariwisata domestik dapat mengurangi kerugian mereka. 

Namun kini, datang pengumuman yang mengejutkan tentang pembatasan baru, termasuk penutupan Marrakech dan tujuh kota lainnya. Itu menghancurkan harapan kembali bangkitnya pariwisata.

Bagi Jalil Habti Idrissi, pemilik biro perjalanan yang telah beroperasi selama 45 tahun, usahanya sangat sulit untuk bangkit kembali.

 “Kami pernah mengalami krisis besar di masa lalu, tetapi tidak pernah separah ini,” kata Idrissi sambil menambahkan bisnisnya telah “runtuh”. 

Di media sosial, ramai seruan untuk “menyelamatkan” kota yang hampir seluruh gedung, hotel, rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya didesain dengan warna merah yang sangat indah. Mereka menggunakan tagar “Marrakesh suffocates” yang secara harfiah artinya tercekik atau mati lemas.”

Rin Hindryati

Selama pandemi COVID-19, kota bersejarah ini pun sepi tanpa turis(foto: Arab news)

Kemenparekraf Siapkan Hotel untuk Isolasi Pasien Kasus Konfirmasi Tanpa Gejala

this formate

Menparekraf Whisnutama ( kanan) berkordinasi dengan Ketua Umum Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia ( PHRI); Haryadi Sukamdani       ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan kembali bekerja sama dengan Kemenkes dan industri Hotel untuk menyiapkan akomodasi bagi pasien COVID-19 (tanpa gejala atau gejala ringan) dan juga tenaga kesehatan untuk melakukan isolasi di Hotel,” kata Wishnutama Kusubandio.

“Menyikapi arahan Presiden dan hasil rapat kemarin dengan Ketua KPC PEN Airlangga Hartarto dan Menkes, Kemenparekraf akan kembali bekerja sama dengan Kemenkes dan industri Hotel untuk menyiapkan akomodasi bagi pasien COVID-19 (tanpa gejala atau gejala ringan) dan juga tenaga kesehatan untuk melakukan isolasi di Hotel,” tegasnya.

Berbicara dalam jumpa pers bersama Kepala Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardo di Graha BNPB, Kamis (17/9/2020), Whisnutama mengatakan penyiapan akomodasi bagi pasien Kasus Konfirmasi Tanpa Gejala (gejala ringan) untuk melakukan isolasi seiring dengan upaya pemerintah dalam penanganan penyebaran COVID-19.

Akomodasi tersebut untuk menambah kapasitas di luar Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran sebagai pusat karantina pasien kasus konfirmasi tanpa gejala, agar tidak melakukan isolasi mandiri yang berpotensi guna menghindari penularan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Isolasi di hotel setara bintang tiga ini termasuk fasilitas makan dan minum serta laundry setiap harinya bagi pasien COVID-19 dan juga tenaga kesehatan.

Dalam kerja sama ini Kemenparekraf akan berkoordinasi dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk memberikan daftar rekomendasi hotel yang akan diseleksi tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan disampaikan ke Kementerian Kesehatan untuk kemudian membantu penilaian terkait kelengkapan fasilitas dan kesiapan protokol kesehatan.

Kemenkes nantinya juga bertanggung jawab menyiapkan tenaga kesehatan untuk memantau pelaksanaan protokol kesehatan di setiap hotel termasuk memonitor perkembangan pasien yang sedang menjalankan isolasi.

Hal ini termasuk menyediakan sarana dan prasarana pendukung seperti obat, ambulans, dan lain-lain. Kemenparekraf menyediakan anggaran sebesar Rp 100 miliar untuk  menyiapkan akomodasi setara hotel bintang 3 ini.

“Jumlah fasilitas yang disiapkan Kemenparekraf dapat menampung sekitar 14.000 pasien mulai bulan ini sampai Desember 2020 untuk isolasi selama 14 hari karantina per pasien,” kata Whisnutama.

Syarat bagi hotel yang terpilih adalah hotel tersebut harus dapat melaksanakan protokol kesehatan yang sesuai dengan ketentuan Kemenkes agar tidak menciptakan klaster baru.

“Hotel yang nantinya dijadikan tempat isolasi mandiri untuk sementara waktu tidak diperkenankan untuk menerima tamu umum. Penyediaan akomodasi ini diharapkan bisa berjalan mulai awal pekan depan,” kata Wishnutama.

Program tambahan akomodasi ini akan difokuskan untuk lima daerah terlebih dahulu yakni di Jakarta, Bali, dan akan dilanjutkan di Sumatera Utara, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan.

Sementara ini Hotel yang sudah menyatakan bersedia berpartisipasi adalah; Yello Hotel, Ibis Hotel, Pop! Hotel, Mercure Hotel dan Novotel untuk wilayah Jabodetabek, Ibis Kuta Bali dan Novotel Banjarbaru di Kalimantan Selatan.

“Kemenparekraf juga membuka kesempatan besar untuk hotel-hotel lain bergabung berpartisipasi bersama pemerintah ikut menekan penyebaran COVID-19.

Kerja sama dengan industri hotel sebelumnya juga telah dilakukan Kemenparekraf/Baparekraf dalam menyiapkan akomodasi bagi tenaga kesehatan yang bertugas menangani pasien COVID-19.

“Semoga langkah ini menjadi salah satu upaya yang efektif dari pemerintah untuk menekan bertambahnya penyebaran COVID-19,” kata Wishnutama.

Mengutip Presiden Joko Widodo dalam laporan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu, dia mengatakan akan terus menambah tempat isolasi bagi pasien COVID-19 tanpa gejala ataupun yang bergejala ringan dalam rangka pengendalian COVID-19.

“Pemerintah menyiapkan pusat-pusat karantina untuk pasien dengan gejala ringan agar tidak melakukan isolasi mandiri, ini juga penting, yang berpotensi menularkan kepada keluarga,” kata Presiden Joko Widodo.

Kawisata Raih Penghargaan BUMN Marketeers Award 2020″

this formate

Totok suryono  ( kanan)  Direktur Utama PT Kereta Api Pariwisata & penghargaan kategori perak bersama WIKA beton.

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  PT Kereta Api Pariwisata meraih Penghargaan BUMN Marketeers Award 2020 “The Most Promising Company In Entrepreneur SOEs – Bronze Winner” kategori Anak Perusahaan BUMN yang di gagas oleh MARKPLUS.INC

Penyerahan penghargaan dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom, Rabu (16/9). Hadir mewakili PT Kereta Api Pariwisata,  Direktur Utama Totok suryono dalam acara itu.

BUMN Marketeers Award 2020 ini merupakan penyelenggaraan yang ke-8 dan merupakan hari pertama Jakarta Marketing Week 2020 dimana tahun ini juga merupakan penyelenggaraan tahun ke-8 sejak diresmikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di tahun 2013.

Menteri BUMN Erick Thohir saat membuka acara mengatakan bahwa ia berharap agar BUMN dan Anak BUMN Indonesia dapat memenangkan persaingan di ranah global dengan Inovasi, Kreativitas, dan Entrepreneurship.

Karena pandemi Covid-19, semua proses dilakukan secara online, mulai dari sosialisasi seluruh proses pelaksanaan, pengisian formulir untuk penilaian, hingga penjurian.

Pelaksanaan penjurian BUMN Marketeers Award 2020 yang diikuti BUMN dan Anak BUMN di bagi menjadi 5 Kategori ini melibatkan anggota Jakarta CMO Club, Indonesia Marketing Association dan International Council for Small Business di Indonesia.

Adapun tujuan penganugerahaan ini adalah untuk mengapresiasi BUMN dan Anak BUMN dalam meningkatkan daya saing saat New Normal.

Kanada, Pertimbangkan Opsi Aman dan “re-Open Border”

this formate

MONTREAL, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (The International Air Transport Association/ IATA) mendesak pemerintah Kanada untuk mendukung inisiatif pengujian COVID-19 dari Air Canada dan WestJet, “ kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Cara itu ditempuh agar sebagai membuka kembali Kanada dengan aman untuk perjalanan internasional dan domestik tanpa perlu tindakan karantina menyeluruh. Lalu lintas internasional ke Kanada anjlok sejak tindakan karantina diberlakukan pada Maret 2020.

” Ada alternatif tindakan karantina yang dapat menjaga keamanan warga Kanada sekaligus menghidupkan kembali perekonomian. Pendekatan berlapis-lapis ICAO (Panduan lepas landas) adalah salah satu dari serangkaian tindakan pengamanan. Pekerjaan yang dilakukan Air Canada dan WestJet dalam pengujian menambah dimensi pengamanan perjalanan.

Sangat penting bagi Pemerintah Kanada untuk menindaklanjuti hal ini sebelum kerusakan ekonomi dan sosial menjadi permanen dan konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat akibat pengangguran massal menjadi lebih parah,  tambah Alexandre de Juniac,

Dampak Ekonomi di Kanada:

IATA memperkirakan bahwa pendapatan yang dihasilkan oleh maskapai penerbangan dengan layanan ke dan dari  Kanada bisa turun C $ 22,6 miliar (70%) dibandingkan dengan pendapatan periode sama tahun 2019.

Hal ini membahayakan hampir 410.500 pekerjaan Kanada dan sekitar C $ 39 miliar dari PDB Kanada, yang dihasilkan oleh penerbangan secara langsung dan tidak langsung serta kinerja industri pariwisata terkait penerbangan.

Transportasi udara di Kanada secara langsung dan tidak langsung mendukung sekitar 633.000 pekerjaan. Secara total, 3,2% dari PDB negara didukung oleh sektor transportasi udara dan turis asing yang datang melalui udara.