Bayar via Virtual, Sebuah Keniscayaan

this formate

Pembayaran via virtual semakin populer (foto: travel leader corporate)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di ara pandemi COVID-19, pembayaran via virtual menjadi sebuah keniscayaan. Hampir seluruh aktivitas kini mulai bergeser dari konvensional (offline) menjadi digital. Hampir semua tempat wisata, hotel, maupun usaha terkait industri perjalanan mewajibkan bayar via virtual account.

Itulah yang menjadi topik bahasan utama dalam webinar bertajuk “Buyer Discussion: Virtual Payments for the Future of Travel” yang menampilkan tiga pembicara yang merupakan wakil dari perusahaan travel dan penerbit kartu kredit berbasis di Eropa. 

Semua pembicara sepakat bahwa pembayaran secara virtual dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. Membayar secara virtual saat hendak memesan hotel terbukti nyaman, demikian menurut Ryan Pierce, manajer senior divisi perjalanan Salesforce, seperti dilansir gbta.org.

Sejumlah masalah yang kerap muncul ketika membayar secara konvensional, seperti kesulitan otorisasi kartu kredit, pengiriman copy kartu lewat fax yang sering gagal, penyalahgunaan kartu oleh orang lain, atau kerepotan mengajukan reimbursement menjadi cerita masa lalu.

Pierce bahkan menambahkan batar via virtual account dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja yang biasa melakukan penyocokan pemilik kartu dengan tagihan hotel mereka.    

Sementara itu menurut Clive Cornelius dari Visa Business Solutions untuk wilayah Eropa, sistem keamanan dan perlindungan privasi bagi para pengguna kartu virtual telah ditingkatkan dan terjaga baik.

Kartu virtual akan otomatis menerbitkan nomor kartu baru yang berbeda untuk setiap pemesanan baru dengan batas kredit tertentu pada sejumlah merchant yang disetujui. Dengan demikian, peluang untuk terjadi penyalahgunaan kartu menjadi lebih kecil. 

Para panelis mengakui awalnya mereka menghadapi kesulitan terutama saat baru memperkenalkan metode pembayaran virtual. Sesuatu yang biasa terjadi saat kita hendak memulai proses baru.

Salah satu tantangannya, menurut Sally Ferrell dari McDermott International, adalah membuat karyawan di hotel-hotel terbiasa dan memahami proses transaski menggunakan kartu virtual. 

Apalagi petugas front-desk secara berkala berganti orang. Jadi kuncinya, menurut pengalamannya adalah, secara rutin terus berbicara kepada bukan hanya staf di front-desk tetapi juga marketing manager dan petinggi lain di hotel untuk memastikan semua familiar dengan sistem pembayaran secara virtual.

Cornellius menambahkan Visa Business Solution Europe menyediakan satu lembar khusus bagi setiap wisatawan untuk memudahkannya menyampaikan keluhan atau masalah saat di hotel; satu halaman ini menjadi referensi yang bagus.

Meski semua panelis umumnya menyoroti pembayaran via virtual saat memesan hotel, mereka ternyata sudah mulai melihat peluang memanfaatkan teknologi ini untuk transaksi di sektor lain seperti transportasi dan kuliner.

Cornelius mengatakan Visa sebagai salah satu penerbit kartu kredit berencana untuk sepenuhnya meninggalkan metode lama dan mulai memperkenalkan virtual cards yang dapat digunakan para pelancong bukan hanya untuk membayar hotel, tetapi juga membeli makanan, membayar taksi, dan berbagai pengeluaran lain saat bepergian.

Seluruh panelis sepakat bahwa tidak ada solusi yang sederhana, tapi mereka mengapresiasi perkembangan pemanfaatan kartu virtual yang terbukti meningkatkan efisiensi di perusahaan. Menurut mereka inilah saat yang tepat untuk memperbaiki sistem karena pembayaran virtual menjadi sebuah keniscayaan.

 

 

Traveling: Diperintahkan Allah dan Ambil Hikmahnya

this formate

Mengambang di Laut Mati. Tak bisa tenggelam        ( Foto-foto: Nur Hidayat)

Oleh Nur Hidayat

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Tanpa adanya perintah Allah SWT bagi hamba-Nya untuk melakukan traveling dan tanpa adanya ulama yang gemar melakukan perjalanan (jauh), niscaya ilmu pengetahuan dan agama Islam tidak akan berkembang seperti sekarang. Benarkah.??

“Banyak ayat dalam al Qur’an yang menginspirasi pendahulu kita melakukan perjalanan jauh,” ujar ustadz Ahmad Sahal Hasan. Contohnya adalah ayat 15 surat al Mulk: “Dia lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Para sahabat dan tabi’in gemar melakukan perjalanan untuk berdakwah, menyebarkan agama Islam. Imam Bukhari kerap kali melakukan perjalanan yang sangat jauh, dengan sarana transportasi amat terbatas di zaman itu, “hanya” untuk memverifikasi satu hadis. Bayangkan, berapa sering dan berapa jauh jarak yang ditempuh serta banyaknya orang-orang yang ditemui penulis kitab Sahih Bukhari yang berisi ribuan hadis itu.

Ibnu Batutah, petualang muslim yang lahir di Tangier, Maroko, pada 1304, bepergian sangat jauh. Dia bertualang dari Mekah ke banyak negara selama 30 tahun dan telah menyinggahi 44 negara. Sejarawan George Sarton menyebut Ibnu Batutah sebagai “pelopor penjelajah terbesar di dunia pada abad 14, sejauh 75.000 mil, melebihi jarak yang ditempuh Marcopolo.”

Melalui perintah Allah SWT, kita diminta untuk mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari aktivitas traveling atau safari itu. Apa saja hikmahnya.? Antara lain:

1. Merenungkan hakikat kehidupan
Dengan melihat bekas-bekas suatu peradaban yang hancur, misalnya, kita paham bahwa kehidupan itu tidak kekal, mudah dihancurkan oleh Yang Maha Kuasa. Mereka dibinasakan karena berbuat dosa, fasik dan mendustakan-Nya. Membangkang.

2. Tafakkur melalui alam
Dengan melihat pemandangan alam yang indah, misalnya, kita diharapkan dapat merenungkan ciptaan Allah SWT, bersyukur dan menjadikan itu semua sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan kita akan betapa maha besarnya kekuasaan Allah.

3. Mensyukuri nikmat sehat
Tanpa tubuh sehat, traveling tidak dapat kita nikmati dan malah bisa menimbulkan masalah baru. Di situ kita makin mampu mensyukuri nikmat sehat dan memahami betapa tidak ternilainya badan sehat itu, lalu memanfaatkannya untuk berbuat kebaikan.

Sejenak berpose bergantian dengan istri di samping patung unik di Bratislava, Slowakia..

4. Makin meyakini kebenaran al Qur’an
Allah SWT menciptakan manusia dengan perbedaan suku, ras, adat istiadat agar mereka saling berkenalan dan menjalin silaturrahmi, tidak bermusuhan, seperti disebut dalam kitab suci. Dengan bertemu mereka yang berbeda-beda itu, kita makin meyakini kebenaran ayat-ayat al Qur’an.

5. Menambah teman dan networking
Setidak-tidaknya, bila kita traveling bersama dalam satu grup, teman kita bertambah banyak. Dari berbagai kota, suku, profesi dan hobi. Itu akan memperluas networking kita, yang pada suatu saat nanti pasti bermanfaat.

6. Menambah pengalaman, wawasan
Mengambang di Laut Mati, misalnya, atau ikut merasakan Hari Nyepi di Bali, pasti menambah pengalaman, memperluas wawasan. Kita tidak seperti katak dalam tempurung. Pikiran kita makin terbuka. Makin mudah menerima dan menghargai perbedaan.

Tuntunan Islam tidak menghendaki kita bersafari untuk melakukan hal-hal terlarang. Misalnya, ikut tur ke Macau atau Las Vegas sambil berjudi, minum minuman keras dan pesta kuliner dengan makanan haram. “Katakanlah: Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS an Naml: 69)

Mari kita ambil hikmah dari acara traveling tersebut. Tidak sekedar untuk senang-senang, selfie, mengoleksi suvenir dan foto-video, lalu meng-upload nya ke Instagram, Facebook dan Youtube. Jangan lupa bahwa doa-doa dari mereka yang bersafari termasuk doa yang diijabah oleh Allah SWT.

Sayangnya, di masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa pergi ke mana-mana untuk memperkecil penularan virus mematikan Itu. Lebih aman stay at home. Lagi pula, lebih dari 60 negara melarang warga Indonesia masuk ke negara itu. Mungkin baru 2 tahun lagi kita bisa traveling ke mana pun, setelah tertunda sekian lama..

Kata sufi terkemuka Jalaluddin Rumi, “Traveling mengembalikan kekuatan dan cinta dalam hidup.” Sastrawan terkenal Ernest Hemingway bilang, “Memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang bagus; tapi pada akhirnya, yang penting adalah perjalanannya.

Penulis adalah: Senior Journalist, pengamat dan penikmat pariwisata mancanegara.

CFO Marriott: Pesanan Kamar dari Pelanggan korporare Naik Dua Kali Lipat.

this formate

Hotel JW Marriot, Jakarta, salah satu jaringan hotel Marriot Internasional di Indonesia. ( Foto: Agoda.com)

BETHESDA, Maryland,AS, bisniswisata.co.id: Marriot International mengatakan saat ini mereka menjual dua kali lebih banyak kamar ke pelanggan korporate. Mereka juga menerima pesanan dua kali lipat dibandingkan pada April dan Mei. 

Hal itu diungkapkan  Senior Vice President sekaligus CFO Leeny Oberg pada acara J.P. Morgan Gaming, Lodging, Restaurant & Leisure Management Access Forum 2020 seperti dilansir oleh  Business Travel News ( BTN).

“Itu jelas contoh di mana lebih nyaman dalam berwisata. Ini jelas masih lebih tinggi pada drive-to [pasar] daripada saat terbang, tetapi permintaan terus meningkat.” ujarnya.

Selain itu, pandemi Covid-19 mungkin tidak memiliki efek substansial pada negosiasi hotel perusahaan 2021 seperti yang diharapkan, tambahnya.

“Jelas, akan ada kantong di mana permintaan sangat rendah sehingga akan menghasilkan tarif khusus perusahaan yang berbeda tahun depan. Tapi saya akan mengatakan secara umum bahwa apa yang Anda lihat di ujung atas adalah bahwa harga telah bertahan relatif lebih baik daripada yang Anda perkirakan mengingat penurunan yang luar biasa dalam [pendapatan per kamar yang tersedia].,” kata Oberg. 

Menurut dia, dalam banyak hal, Anda akan melihat bahwa negosiasi tarif mencerminkan ‘stabil seiring berjalannya’, tetapi juga kenyataan bahwa jika hotel memiliki tingkat hunian yang sangat rendah, pelanggan korporat akan mendapatkan keuntungan dari itu.

Negosiasi sekarang lebih berpusat pada volume kamar malam daripada tarif kamar, kata Oberg. Lebih lanjut, dia mengatakan klien korporat telah menginformasikan bahwa pelancong mereka berada pada tingkat kenyamanan yang berbeda dengan adanya pandemi global

“Mereka memiliki sejumlah klien [internal] di mana mereka belum kembali ke kantor dan benar-benar tidak ingin orang datang melihat mereka,” kata Oberg. 

Dia menilai ada orang lain yang sebenarnya mulai lebih sering berada di kantor. Saat berbicara dengan kolega di sekitar Marriott, Oberg mulai mendengar tentang beberapa perjalanan bisnis di mana mereka menginginkan orang-orang kita ada di sana. “Jadi, menurut saya itu baik bergerak dengan mantap ke arah yang benar. Ini baru saja dimulai dari titik yang sangat rendah. “

Ketika ditanya tentang bisnis grup, Oberg menjelaskan bahwa bisnis grup Marriott terdiri dari sekitar 40 persen asosiasi, 40 persen perusahaan, dan 20 persen acara sosial, seperti pernikahan. 

Banyak asosiasi mengadakan konferensi tahunan sebagai penghasil pendapatan kritis, dan karena itu menunggu selama mungkin sebelum mereka membatalkan acara tersebut. Marriott telah melihat beberapa pembatalan seperti itu untuk paruh pertama 2021, tetapi tidak untuk paruh kedua tahun ini atau setelahnya, katanya.

Permintaan kelompok perusahaan, di sisi lain, akan lebih bergantung pada keadaan ekonomi, katanya, dan pihaknya membutuhkan  kekuatan ekonomi untuk tetap cukup sehat bagi perusahaan Amerika untuk terus menghasilkan banyak permintaan event.

Meski begitu, menurutnya ada permintaan korporasi yang terpendam tetapi itu akan dipengaruhi oleh kondisi keuangan beberapa perusahaan.

“Tapi pada dasarnya, dalam hal kenyataan bahwa permintaan grup masih ada, kami merasa sangat baik, kata Oberg.” Saya pikir sebenarnya ada kemungkinan permintaan perusahaan tambahan dari pekerjaan jarak jauh dan fakta mereka ingin mengumpulkan orang-orang mereka, yang sekarang bekerja lebih jauh, jadi kami merasa sangat nyaman. “

Sementara itu, kondisi jaringan hotel di  China terus pulih, dengan tingkat okupansi Agustus sebesar 65 persen. Selain itu, di kawasan Asia / Pasifik naik 30 persen dalam penandatanganan kamar dibandingkan dengan tahun lalu dimana dalam kondisi saat ini prestasi itu disebutnya “sangat luar biasa.”

 

UNWTO Soroti Potensi Wisata Domestik Untuk Dorong Pemulihan Ekonomi

this formate

Wisatawan domestik di Taman Nasional Komodo. UNWTO sarankan gerakan wisatawan domestik untuk menulihkan perekonomian di tengah pandemi global saat ini. ( Foto Kemenparekraf)

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Karena pembatasan perjalanan mulai berkurang secara global, tujuan di seluruh dunia berfokus pada pertumbuhan pariwisata domestik, dengan banyak penawaran insentif untuk mendorong orang menjelajahi negara mereka sendiri.

Menurut Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), dengan pariwisata domestik bergerak  kembali lebih cepat daripada perjalanan internasional, ini merupakan peluang bagi negara maju dan berkembang untuk pulih dari dampak sosial dan ekonomi pandemi COVID-19 dalam rilisnya.

Menyadari pentingnya pariwisata domestik, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa telah merilis yang ketiga dari Catatan Singkat Pariwisata dan COVID-19, -Memahami Pariwisata Domestik dan Memanfaatkan Peluangnya. 

Data UNWTO menunjukkan bahwa pada tahun 2018, sekitar 9 miliar perjalanan pariwisata domestik dilakukan. dibuat di seluruh dunia,  enam kali lipat jumlah kedatangan turis internasional (1,4 miliar pada 2018). 

Publikasi tersebut mengidentifikasi cara-cara di mana destinasi di seluruh dunia mengambil langkah proaktif untuk menumbuhkan pariwisata domestik, dari menawarkan bonus liburan bagi pekerja hingga memberikan voucher dan insentif lainnya kepada orang-orang yang bepergian di negara mereka sendiri.

Dorong pemulihan

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan UNWTO mengharapkan pariwisata domestik kembali lebih cepat mengingat besarnya pariwisata domestik, hal ini akan membantu banyak destinasi pulih dari dampak ekonomi pandemi.

Sementara pada saat yang sama melindungi pekerjaan, melindungi mata pencaharian, dan memungkinkan pengembalian manfaat sosial yang ditawarkan pariwisata, kata Zurab Pololikashvili

Catatan pengarahan juga menunjukkan bahwa, di sebagian besar destinasi, pariwisata domestik menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi daripada pariwisata internasional. Di negara-negara OECD, pariwisata domestik menyumbang 75% dari total pengeluaran pariwisata.

 Sedangkan di Uni Eropa, pengeluaran pariwisata domestik 1,8 kali lebih tinggi daripada pengeluaran pariwisata inbound. Secara global, pasar pariwisata domestik terbesar dalam hal pengeluaran adalah Amerika Serikat dengan hampir US $ 1 triliun, Jerman dengan US $ 249 miliar, Jepang US $ 201 miliar, Inggris dengan US $ 154 miliar dan Meksiko dengan US $ 139 miliar. .

Inisiatif untuk mendongkrak pariwisata domestik

Mengingat nilai pariwisata domestik dan tren saat ini, semakin banyak negara yang mengambil langkah untuk menumbuhkan pasar mereka. Catatan singkat baru ini memberikan studi kasus tentang inisiatif yang dirancang untuk merangsang permintaan domestik. 

Hal Ini termasuk inisiatif yang berfokus pada pemasaran dan promosi serta insentif keuangan. Contoh negara yang mengambil langkah-langkah yang ditargetkan untuk meningkatkan jumlah turis domestik meliputi:

  1. Di Italia, inisiatif Bonus Vacanze menawarkan keluarga dengan pendapatan hingga EUR 40.000 kontribusi hingga EUR 500 untuk dibelanjakan di akomodasi pariwisata domestik.
  2. Malaysia mengalokasikan voucher diskon perjalanan senilai US $ 113 juta serta keringanan pajak pribadi hingga US $ 227 untuk pengeluaran terkait pariwisata domestik.
  3. Kosta Rika memindahkan semua hari libur tahun 2020 dan 2021 ke hari Senin agar warga Kosta Rika menikmati akhir pekan yang panjang untuk bepergian ke dalam negeri dan untuk memperpanjang masa tinggal mereka.
  4. Prancis meluncurkan kampanye 

# CetÉtéJeVisiteLaFrance (‘Musim Panas Ini, Saya Mengunjungi Prancis’) yang menyoroti keragaman tujuan di seluruh negeri.

  1. Argentina mengumumkan pembuatan Observatorium untuk Pariwisata Domestik agar memberikan profil yang lebih baik tentang wisatawan Argentina.
  2. Thailand akan mensubsidi 5 juta malam akomodasi hotel dengan 40% dari tarif kamar normal hingga lima malam.

PATA: Kesehatan dan kebersihan  Jadi Daya Saing Destinasi  

this formate

Kesehatan dan kebersihan suatu destinasi jadi acuan bagi wisatawan untuk datang. ( Foto : Kemenparekraf)

ASIA PACIFIC, bisniswisata.co.id :  Wisatawan memberikan pertimbangan lebih saat memilih destinasi pariwisata dan terdapat sentimen positif mengenai destinasi pariwisata di kawasan Asia Pasifik.

Berdasarkan laporan baru dari Pacific Asia Travel Association (PATA), nilai Kesehatan dan Kebersihan pasca pandemi COVID-19 menjadi acuan terhadap tingkat kompetitif destinasi pariwisata di Asia Pasifik.

Artinya sebagian besar penduduk di kawasan tersebut siap menyambut pengunjung lagi di era COVID-19, dengan waktu yang ditentukan selama para pelancong tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Dilansir  dari moodiedavittreport.com, laporan tersebut memuat kontribusi dari salah satu pendiri Global Health Security Index, John Hopkins Center For Health Security, TCI Research, Tripadvisor, dan World Economic Forum.

Kepala Staf PATA Trevor Weltman mengatakan: “Meskipun masih banyak yang tidak diketahui tentang masa depan perjalanan pasca COVID-19, laporan tepat waktu ini menyoroti tren yang muncul tentang kesehatan dan kebersihan dalam perjalanan dan pariwisata terkait perilaku pemesanan wisatawan dan sentimen penduduk.

“Wawasan semacam itu dapat membantu manajer dan pemasar destinasi menjadi yang terdepan untuk memikirkan kembali, membangun kembali, dan mengubah posisi fokus destinasi mereka pada kesehatan dan kebersihan, mulai sekarang.”

Laporan tersebut merekomendasikan agar manajer destinasi dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya di seluruh kawasan Asia Pasifik menjalin kemitraan erat dengan pejabat kesehatan masyarakat, bisnis rantai pasokan pariwisata, dan komunitas lokal untuk pembaruan terkoordinasi dari kepercayaan wisatawan terhadap kesehatan dan keselamatan destinasi mereka.

Dikatakan bahwa destinasi yang memenuhi ekspektasi ini melalui investasi dalam langkah-langkah kebersihan dan keselamatan dan dengan jelas mengkomunikasikan perubahan ini kepada wisatawan dan penduduk akan berada dalam posisi yang baik di era perjalanan pasca COVID-19.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa pada akhirnya koordinasi antara kementerian kesehatan, pertanian, pariwisata, dan perdagangan, dan komunikasi hasil dari tindakan kebijakan ini kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk wisatawan, akan sangat penting untuk memulihkan kepercayaan dalam industri pariwisata.

Metode analisis yang digunakan dalam laporan ini termasuk mendengarkan sosial, analisis sentimen, dan survei.

 

Tarian Minangkabau Meriahkan Lund Kulturnatten 2020  

this formate

LUND, Swedia, bisniswisata.co.id: Organisasi Swedia-Indonesia Bagus (disingkat Bagus) ikut meramaikan acara Lund Kulturnatten 2020 (Lund Culture Night 2020) di Teater Stenkrossen, Lund, Swedia Selatan.  Kota Lund berjarak hanya 45 menit dari Copenhagen, Denmark

“Untuk Lund Kulturnatten yang pertama kali dilaksanakan secara virtual ini, Bagus menampilkan tari-tarian Minangkabau. ” kata Nina Mussolini-Hansson, Public Relations &  Circle leader Bagus, hari ini.

Ini untuk kedua kalinya Bagus yang merupakan organisasi nirlaba dan berkedudukan di kota Malmö ikut meramaikan Kulturnatten. Pada 2018 Bagus menampilkan tari-tarian dari Betawi, yakni Nandak Ganjen dan ondel-ondel.

“Bayangkan dengan ribuan pulau yang dimiliki Indonesia, rasanya kami tidak akan kehabisan tari-tarian untuk ditampilkan, ” ujar Hans Hansson, ketua Bagus tergelak.

Bagus didirikan sejak tiga tahun lalu, yang tujuannya untuk meningkatkan relasi dan pemahaman antar Swedia-Indonesia. Meski relatif masih baru ( 3 tahun),  Bagus terbilang cukup aktif menampilkan kebudayaan Indonesia dalam event  besar yang diselenggarakan berbagai Pemda di Swedia Selatan.

Selain itu, Bagus juga ikut meramaikan acara kesenian di KBRI Swedia dan organisasi diaspora Indonesia lainnya.

Salah satu tujuan Bagus adalah melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak diaspora Indonesia. Oleh karena itu, Bagus menampilkan Tari Tempurung yang dibawakan oleh anak-anak berusia enam sampai sebelas tahun. 

Mempromosikan pariwisata Indonesia di kota Lund, Swedia dengan tarian Minangkabau. ( Foto: Nina Hansons)
Mempromosikan pariwisata Indonesia di kota Lund, Swedia dengan tarian Minangkabau. ( Foto: Nina Hansons)

Penari M. Rashya Alfarezell Sofyan (9 tahun) yang baru 5 bulan mengikuti orang tuanya ke Swedia mengatakan: ”It was great menari dengan Bagus.  Saya senang karena tidak ada penonton, jadi saya tidak nervous.” 

Selain anak-anak Indonesia asli yang sedang mengikuti orang tuanya bekerja di Swedia,  para penari  anak-anak  yang lain datang dari keluarga campuran. 

Tarian kedua adalah tari piring yang dibawakan oleh ibu-ibu  dan mahasiswi Indonesia dan juga ibu-ibu asing. ” Saya senang ikut menari di Lund Kulturnatten karena bisa ikut menampilkan budaya Indonesia ke Swedia”, ujar Karenina Shevayarra Firdaus, seorang mahasiswi pengurus PPI Swedia.

Acara Lund Kulturnatten diikuti oleh berbagai organisasi di Swedia. Biasanya dilaksanakan setiap tahun di hari sabtu ketiga bulan september, dari jam 12 siang hingga jam 12 malam.  

Acara ini bukan hanya menampilkan seni tari dan musik, tapi juga teater, pembuatan keramik, science show, workshop dan lain-lain. Dalam situasi normal, rangkaian acara biasanya dilaksanakan di berbagai tempat di pusat kota Lund .

Merupakan kota pelajar, Lund  memiliki universitas tertua kedua di Swedia setelah Universitas Uppsala. Lund juga dikenal sebagai pusat berbagai perusahaan multinasional asal Swedia.

Kota kecil  yang berpenduduk  hampir 92 ribu jiwa ini  memiliki sejarah lebih dari 1000 tahun.  Kathedral tua yang berdiri kokoh sejak abad ke-12 menjadi ikon kota ini. 

Sejumlah nama-nama besar dan tokoh agama dunia pernah mengunjungi Lund. Sebut saja Paus Franciskus pada 2016 hingga Dalai Lama pada April 2011. 

Tak aneh, dengan universitas yang berusia ratusan tahun, Lund menjadi magnet bagi mahasiswa-mahasiswa asing, termasuk mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia.  

 

 

 

 

Bagaimana Pria dan Wanita Memandang Keamanan Perjalanan Setelah Pandemi

this formate

 STEVENS POINT, Wisconsin, bisniswisata.co.idPerusahaan asuransi Berkshire Hathaway Travel Protection (BHTP) telah mengumumkan temuan terbaru dari survei riset State of Travel Insurance di AS yang dilakukan selama beberapa bulan untuk mengukur ekspektasi masa depan pembelian asuransi perjalanan, serta kebiasaan wisatawan  dan persepsi.  

Dilansir dari Travel Daily News, dengan empat survei yang dilakukan sejauh musim panas ini, hasilnya menunjukkan perbedaan besar antara bagaimana pria dan wanita memandang risiko bepergian – terkait pandemi dan sebaliknya.

Perbedaan mencolok dalam perilaku perjalanan yang terkait langsung dengan pandemi menunjukkan bahwa wanita lebih cenderung mengambil tindakan pencegahan yang direkomendasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) atau CDC saat mereka bepergian dibandingkan pria.  

Sementara hampir 60% wanita mengatakan mereka akan mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan lebih sering, serta memakai masker atau alat pelindung lainnya, hanya 39% pria mengatakan mereka akan melakukan hal yang sama.

Secara keseluruhan, survei menemukan pria dua kali lebih mungkin dibandingkan wanita (48% pria vs. 20% wanita) untuk mengatakan mereka suka mengambil risiko saat bepergian.  

Namun yang menarik, pria lebih mungkin daripada wanita untuk mengatakan bahwa mereka akan membiarkan laporan berita tentang wabah penyakit dan kekerasan di tujuan yang mereka pilih memengaruhi rencana mereka untuk pergi ke sana.

Wanita dilaporkan membeli asuransi perjalanan yang jauh lebih sedikit daripada pria pada tahun 2020 dan mengatakan bahwa mereka akan kurang aktif dibandingkan pria di pasar asuransi perjalanan 2021. 

Saat melihat responden yang mengatakan bahwa mereka membeli asuransi perjalanan pada tahun 2020, 38% wanita mengatakan bahwa mereka melakukan pembelian karena takut akan wabah penyakit, dibandingkan dengan hanya 24% pria.  

Alasan utama wanita membeli asuransi perjalanan adalah untuk menutupi keterlambatan dan pembatalan penerbangan, sedangkan alasan utama pria adalah karena asuransi perjalanan menghemat waktu dan uang.

Riset Status Asuransi Perjalanan BHTP telah dilakukan setiap tahun sejak 2015 menggunakan panel nasional independen yang mensurvei konsumen tentang ekspektasi masa depan dalam asuransi perjalanan dan kebiasaan perjalanan.  

Tahun 2020 ini, penelitian dilakukan secara bertahap selama beberapa bulan untuk melacak bagaimana pandemi COVID-19 mengubah sikap wisatawan dari waktu ke waktu.  

Survei tersebut memberikan wawasan tidak hanya tentang tren pembelian asuransi perjalanan, tetapi juga perilaku perjalanan di antara pandemi COVID-19 dan ekspektasi perjalanan 2021.

 

Kemenparekraf: Hari Pariwisata Sedunia Momentum Perkuat Protokol Kesehatan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:   Hari Pariwisata Sedunia pada 27 September 2020 menjadi momentum untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) di tengah upaya bersama untuk bangkit dari pandemi COVID-19.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/ Baparekraf Kreatif, Nia Niscaya dalam acara “Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” yang digelar secara daring, Sabtu (19/9/2020), mengatakan Hari Pariwisata Sedunia tahun ini mengusung “Tourism and Rural Development“.

Tema tersebut dikatakannya sejalan dengan protokol kesehatan berbasis CHSE yang turut mengedepankan keberlanjutan lingkungan.Tema Hari Pariwisata Internasional tahun ini lebih ke alam, pedesaan, pariwisata dan masyarakat lokal.

“Kalau kita hubungkan dengan program protokol kesehatan CHSE, rupanya program kita sudah sejalan dengan tema Hari Pariwisata Dunia. Kita diingatkan bahwa pariwisata harus tetap dijaga lingkungannya agar tetap lestari,” kata Nia Niscaya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Vice President Commercial Performance PT. Angkasa Pura II, Wisnu Raharjo serta Direktur pemasaran dan pelayanan PT. Angkasa Pura I, Devy Suradji.

Nia mengatakan, jangan sampai protokol kesehatan dijalankan tetapi lingkungan tidak terjaga. Untuk itu ia mengajak seluruh pihak menjadikan Hari Pariwisata Dunia sebagai momentum untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE di berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Termasuk di transportasi udara sebagai salah satu penunjang pergerakan wisatawan dan juga sektor ekonomi kreatif,” kata Nia Niscaya.

Menanggapi hal tersebut, Vice President Commercial Performance PT. Angkasa Pura II, Wisnu Raharjo, mengungkapkan pihaknya telah menggulirkan kampanye “Safe Travel Campaign”. Kampanye ini menggaungkan pentingnya penerapan protokol kesehatan bagi penyedia jasa transportasi, terutama maskapai penerbangan dan konsumen.

“Kampanye ini bertujuan mengembalikan kepercayaan pengguna transportasi udara, terutama untuk meyakinkan jaminan keamanan, kesehatan, dan kebersihan transportasi udara bagi wisatawan,” kata Wisnu.

Ia menuturkan, ada tiga poin utama dari “Safe Travel Campaign”, yaitu kesiapan staf operasional, memastikan pengalaman bepergian yang aman bagi konsumen, dan membangun kepercayaan konsumen.

“Jadi pada poin pertama kita memastikan seluruh staf operasional di bandara menyesuaikan pola kerja dengan protokol kesehatan, mengenakan alat pelindung diri seperti masker, pengecekan suhu tubuh secara berkala serta pemantauan kesehatan staf secara berkala.

Pada poin kedua, kita memastikan pengalaman bepergian yang aman bagi konsumen dengan menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang protokol kesehatan seperti ketersediaan fasilitas cuci tangan dan menjaga kebersihan fasilitas bandara. Kemudian, kita membangun kepercayaan konsumen untuk bepergian dengan pesawat terbang dengan menginformasikan penerapan protokol kesehatan di bandara dan mengedepankan layanan berbasis digital,” jelas Wahyu.

Salah satu bentuk implementasi kampanye ini dapat dilihat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Beberapa di antaranya adalah touchless parking machine_touchless elevator_, dan pemasangan sinar UV-C di tempat pengambilan bagasi dan _hand rail_ eskalator Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

“Sinar UV-C ini berfungsi untuk mematikan bakteri dan virus yang menempel pada benda-benda yang sering disentuh banyak orang. Sementara untuk parking machine bisa diakses menggunakan sensor gerakan tangan dan elevator diakses menggunakan injakan kaki,” jelasnya.

Berkat penerapan Safe Travel Campaign yang mengaplikasikan protokol kesehatan berbasis CHSE di Bandara Soekarno Hatta, Safe Travel Barometer menempatkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di urutan ke-34 dari 217 bandara di dunia sebagai salah satu bandara yang aman dari penyebaran virus COVID-19.

“Ini adalah bukti bahwa konsumen dapat bepergian dengan aman pesawat terbang dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” katanya.

Sementara itu, Direktur pemasaran dan pelayanan PT. Angkasa Pura I, Devy Suradji, menambahkan pihaknya juga mensosialisasikan kepada para penyedia transportasi darat yang ada di bandara untuk menerapkan protokol kesehatan yang sama seperti pada fasilitas di dalam bandara.

“Kita juga meminta agar penyedia transportasi darat menerapkan customer service virtual, jadi petugas customer service ditempatkan di dalam sebuah ruangan yang dilengkapi dengan komputer lengkap dengan kamera yang terhubung perangkat berupa monitor yang ada di meja customer service sehingga konsumen dan petugas bisa tetap berinteraksi tanpa harus ada kontak fisik,” kata Devy.

Devy mengungkapkan pihaknya juga memperhatikan unsur kelestarian lingkungan di sekitar bandara yang dikelola Angkasa Pura I. “Beberapa bandara yang kita kelola itu berada di dekat destinasi wisata jadi kita harus menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya,” ucap Devy.

Hal ini disambut baik oleh Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu. Selain memperhatikan kelestarian lingkungan pedesaan dan penerapan protokol kesehatan di sektor penerbangan yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Vinsensius mengatakan perlu ada upaya pelestarian budaya yang ada di pedesaan sebagai salah satu potensi wisata.

“Kita juga harus mengangkat nilai kearifan lokal di area pedesaan untuk dikembangkan sehingga rural area itu bisa maju dan berkembang, sehingga kita bisa menikmati outcome pariwisata untuk kesejahteraan bersama,” kata Vinsensius.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Muchlis, dan Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, Lalu Mohammad Faozal yang menceritakan geliat sektor pariwisata di daerahnya untuk bangkit di era adaptasi kebiasaan baru pascapandemi COVID-19.

Muchlis menuturkan saat ini di wilayah Danau Toba dan sekitarnya tengah berjalan proses pembentukan desa wisata. Selain itu, pihaknya juga selalu mengkampanyekan penerapan protokol kesehatan di destinasi-destinasi wisata yang ada di Sumatera Utara.

“Kami sedang memprioritaskan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE di destinasi-destinasi wisata dan mengembangkan potensi desa wisata di sekitar kawasan Danau Toba. Sehingga nanti setelah pandemi ini selesai pengunjung bisa menikmati potensi-potensi wisata yang ada di desa wisata,” ujar Muchlis.

Sementara, Lalu Mohammad Faozal menjelaskan ada empat area destinasi wisata di Lombok yang siap untuk melakukan standarisasi protokol kesehatan berbasis CHSE, yaitu Gili, Rinjani, Mandalika, dan Kota Mataram.

“Empat area ini kami fokuskan untuk sertifikasi CHSE. Karena, CHSE ini merupakan acuan untuk kita dan harus diterapkan di seluruh destinasi wisata di Indonesia,” ucap Faozal.

Sembilan Penghargaan ASQ Awards dari ACI

this formate

MONTREAL, bisniswisata.co.id: Sembilan penghargaan prestisius  Airport Service Quality Awards (ASQ Awards) dari Airports Council International (ACI) — berbasis di Montreal, Kanada– diserah terimakan kepada  PT Angkasa Pura I (Persero), mewakili tiga bandara yang dikelola.

Penerima penghargaan adalah manajemen  bandara SAMS Sepinggan Balikpapan  pada kategori bandara dengan trafik penumpang 5-15 juta pernumpang per tahun, sebagai  Best Airport by Size in Asia Pacific, Best Environment & Ambience by Size, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali   pada kategori bandara dengan trafik 15-25 penumpang per tahun, sebagai Best Airport by Size in Asia Pacific, Best Customer Service, Best Infrastructure & Facilitation.

Dan bandara Sultan Hasanuddin Makassar meraih 2 penghargaan pada kategori bandara dengan trafik 5-15 juta penumpang per tahun, sebagai Best Airport by Size dan Best Infrastructure & Facilitation.

“Penghargaan yang merupakan apresiasi dan pengakuan dunia internasional atas terus meningkatnya kinerja pelayanan di 3 bandara yang kami kelola ini,” jelas  Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi.

Penghargaan ini, lanjut Faik Fahmi, merupakan buah kerja keras insan Angkasa Pura I dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengguna jasa bandara.  Ketiga bandara ini merupakan bandara yang “langganan” mendapat penghargaan pada ajang ASQ Awards.

 Pada ajang ASQ Awards 2018, yang penganugerahan penghargaannya dilakukan pada 2019 lalu, bandara SAMS Sepinggan Balikpapan juga meraih 4 penghargaan yang sama pada kategori yang sama. Pada ASQ 2017, bandara SAMS Sepinggan Balikpapan juga meraih penghargaan 2nd place Best Airport by Size: 5-15 million passenger per year.

Begitu juga bandara I Gusti Ngurah Rai Bali yang sudah sejak 2015 meraih penghargaan ASQ Awards di mana pada 2015 dan 2017 Bandara Bali meraih Peringkat Ketiga Bandara Terbaik Dunia pada kategori bandara dengan 15-25 juta penumpang per tahun. Terakhir, pada ajang ASQ Awards 2017, bandara Bali menyabet 3 penghargaan sekaligus yaitu Best Airport by Size and Region: Asia Pacific, 15-25 million passenger per year, 1st place tie Best Airport by Size: 15-25 million passenger per year, dan 2nd place tie Best Airport in Asia-Pacific (over 2 million passengers per year.

Sedangkan bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebelumnya pada 2017 pernah meraih penghargaan ASQ Awards sebagai The Most Imoroved Airport in Asia Pacific 2016.

ASQ merupakan satu-satunya program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara yang dilakukan oleh ACI. Pada ASQ Awards tahun ini terdapat 140 penghargaan yang dianugerahkan kepada 84 bandara, di mana jumlah ini merupakan jumlah pemenang terbanyak selama penyelenggaraan ASQ Awards.

Tingkatkan Level of Services & Customer Experience

Berbagai upaya terus dilakukan oleh Angkasa Pura I untuk mewujudkan layanan berstandar internasional kepada seluruh penumpang pesawat udara di Tanah Air. Sejak Agustus 2019 lalu sebanyak 10 bandara Angkasa Pura I telah memperoleh akreditasi Airport Customer Experience Accreditation Program dari ACI sebagai komitmen peningkatan level of services dan customer experience.

Adapun kesepuluh bandara Angkasa Pura I yang berhasil memperoleh akreditasi yaitu:

1. Bandara I Gusti Ngurah Rai – Bali

2. Bandara Juanda – Surabaya

3. Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar

4. Bandara SAMS Sepinggan – Balikpapan

5. Bandara Jenderal Ahmad Yani – Semarang

6. Bandara Sam Ratulangi – Manado

7. Bandara El Tari – Kupang

8. Bandara Pattimura – Ambon

9. Bandara Adi Soemarmo – Solo

10. Bandara Internasional Lombok – Praya

Tahun ini, Angkasa Pura I telah mengoperasikan Bandara Sentani Jayapura. Bandara tersebut akan didorong untuk menjadi peserta ASQ pertama dari Papua. Kelak, kesiapan Angkasa Pura I dalam ajang penghargaan tersebut akan semakin siap dengan selesainya pengembangan perluasan terminal dan penambahan fasilitas beberapa bandara seperti Terminal 1 Bandara Juanda Surabaya, Bandara El Tari Kupang, Bandara Lombok Praya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sam Ratulangi Manado, dan Bandara Pattimura Ambon.

Survei Mengatakan Klien Kapal Pesiar Akan Pulih pada 2021

this formate

Liburan di hotel atau naik kapal pesiar jadi pilihan wisatawan tahun 2021. ( Foto:  2020 stock.adobe.com/EdNurg)

WASHINGTON, bisniswisata.co.id: Mayoritas wisatawan tidak berencana untuk bepergian hingga tahun 2021, tetapi berharap untuk menginap di hotel dan naik kapal pesiar.

Sebuah survei baru dari perusahaan asuransi perjalanan dan bantuan Allianz Partners menunjukkan berita positif untuk pasar kapal pesiar pada tahun 2021, dan klien agen perjalanan adalah kuncinya.

Survei tersebut mengambil sampel lebih dari 1.000 tanggapan dari pelanggan yang membeli produk asuransi perjalanan A.S. melalui penasihat perjalanan dan mitra distribusi ritel lainnya.

“Perjalanan akan terus berkembang sebagai tanggapan atas terungkapnya peristiwa global,” kata Joe Mason, kepala pemasaran di Allianz Partners seperti dilansir dari TravelAge West

Dia mengklaim menemukan bahwa pelanggan lebih terbuka untuk melakukan perjalanan ke tujuan luar negeri sekali lagi. Satu area  di mana Joe  berharap untuk melihat peningkatan minat di tahun depan adalah pada perjalanan kapal pesiar internasional.

Secara keseluruhan, 60% pelanggan ritel Allianz mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan perjalanan hingga tahun 2021, tetapi berencana untuk melakukan perjalanan internasional lagi tahun depan.

Dari mereka yang menjawab pertanyaan  “ketika Anda melakukan perjalanan berikutnya, di mana Anda akan menginap ?,” maka setengah dari mereka mengatakan mereka akan melakukannya di hotel atau resor .

Namun  20% mengatakan mereka akan melakukannya di atas kapal pesiar – jauh di atas kategori teman / keluarga yang tersisa (  13%), rumah sewa (8%), rumah liburan pribadi (4%), lain-lain (3%) dan RV / tenda / kabin (2%).

Perjalanan kapal pesiar mungkin ditangguhkan untuk orang Amerika saat ini, tetapi dapat dilanjutkan segera setelah November 2020 setelah cuti  sementara layanan anggota Cruise Lines International Association akibat pandemi global.  Merek global seperti MSC Cruises sudah kembali berlayar dengan sukses di Mediterania.

Perusahaan asuransi Allianz saat ini menawarkan perlindungan untuk pembatalan perjalanan, gangguan perjalanan dan perawatan medis darurat bagi mereka yang sakit COVID-19.  Perusahaan juga telah memperpanjang pengembalian uang premi asuransi perjalanan untuk sementara waktu kepada klien yang pemasok perjalanannya telah membatalkan kapal pesiar mereka karena virus Corona.

Pelanggan dapat menggunakan polis mereka dalam waktu 770 hari sejak tanggal pembelian untuk menerapkannya pada perjalanan baru atau yang dijadwalkan ulang.