Apa yang diinginkan pelancong rekreasi APAC di musim liburan ini

this formate

*Apa yang diinginkan pelancong rekreasi APAC di musim liburan ini*

SINGAPURA, bisniswisata.co.id:  – Selama beberapa tahun terakhir, Manajer SDMe Amanda Loh menghabiskan waktu seminggu antara Natal dan Tahun Baru untuk menjelajahi pulau bersama teman-temannya di Yunani.

Tahun ini, dengan langkah-langkah pengawasan perbatasan yang ketat dan karantina wajib selama 14 hari, Amanda mengatakan liburan luar negerinya yang biasa dilakukan dia batalkan.

“Dengan ketidakpastian dan batasan seputar COVID-19, perjalanan ke luar negeri tampaknya tidak memungkinkan. Kami tidak ingin melepaskan liburan kami, jadi kami tinggal di China dan melakukan perjalanan darat di dekat rumah. ”

Amanda tidak sendirian dalam hal liburan kesayangan di luar negeri selama musim perayaan. Di seluruh Asia Pasifik, para pelancong semakin merangkul perjalanan outbound untuk merayakan Tahun Baru.

Di Singapura, data pemesanan Expedia antara 15 Desember 2019 dan 14 Januari 2020 mengungkapkan bahwa permintaan penerbangan untuk kota-kota asing seperti London, Barcelona, ​​Paris, dan Los Angeles telah meningkat 60% tahun-ke-tahun.

Meskipun Tahun Baru Imlek adalah hari libur terbesar di Tiongkok, dengan 6,31 juta orang bepergian ke luar negeri pada tahun 2019, periode perayaan Desember-Januari juga semakin populer di kalangan wisatawan Tiongkok. Pada 2019, ForwardKeys melaporkan pertumbuhan 19,5% dalam pemesanan penerbangan ke Eropa untuk periode akhir tahun.

Dengan negara-negara di Asia Pasifik masih dalam  jadwal penguncian dan pembatasan perjalanan internasional, periode perayaan diatur untuk terlihat sedikit berbeda tahun ini.

Namun, menurut data dari Amadeus, mayoritas wisatawan Asia Pasific tetap teguh dalam komitmennya untuk melanjutkan perjalanan liburan pada akhir tahun. Pertanyaan yang tersisa di musim liburan ini adalah kapan, di mana dan bagaimana mereka bisa melakukannya dengan baik.

Dalam laporan Tujuan X: Ke Mana Selanjutnya dari 1050 pengguna CheckMyTrip di seluruh Asia Pasifik, 27% wisatawan menyatakan keinginan kuat untuk segera bepergian ketika pembatasan perjalanan dicabut.

Rinciannya 37% merencanakan perjalanan berikutnya satu hingga tiga bulan setelah mereka angkat. Meskipun ada preferensi kuat untuk pergi lebih jauh dari rumah, 70% wisatawan APAC siap untuk bepergian di dalam negeri. Faktanya, rata-rata waktu yang dihabiskan untuk liburan tidak akan berubah, dengan separuh wisatawan mencari durasi perjalanan selama 14 hari atau lebih.

Berhubungan kembali dengan keluarga dan teman adalah alasan utama 55% merencanakan perjalanan liburan berikutnya dalam beberapa bulan mendatang. Pada saat yang sama, wisatawan juga mencari sensasi petualangan untuk memuaskan nafsu berpetualang  yang terpendam.

Sedikitnya 34% memilih untuk menjelajahi tujuan asing untuk ‘pengalaman perjalanan baru’ dan 32% ingin ‘terhubung kembali dengan alam bebas’.

Ramona Bohwongprasert, Wakil Presiden Senior, Ritel di Saluran Perjalanan, Asia Pasifik, Amadeus mengatakan: “Data tersebut memberi tahu kami bahwa permintaan perjalanan ada di sana.

Di seluruh Asia Pasifik, para pelancong bersemangat dan siap untuk berlibur di pantainya sendiri pada musim perayaan ini, untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan teman atau menjelajahi tujuan baru yang menawarkan pengalaman liburan di luar ruangan.

Namun, perilaku mereka telah berubah, dengan pelancong tidak bersedia berkomitmen untuk rencana liburan terlalu jauh sebelumnya dan faktor COVID-19 seperti kebersihan di tempat dan langkah-langkah pengujian sekarang menjadi pertimbangan ketika wisatawan mengevaluasi pilihan akomodasi dan transit.

Penjual dan operator perjalanan perlu mencari tahu cara baru untuk memberikan pengalaman yang dicari turis domestik pada musim liburan yang akan datang.

Pengalaman perjalanan yang disesuaikan lebih unggul daripada pilihan perjalanan rekreasi yang dikemas sebelumnya, dengan 70% wisatawan APAC lebih memilih untuk mengatur liburan mereka sendiri dan / atau dengan bantuan agen perjalanan.

Paket tour grup dan berpemandu telah menurun popularitasnya secara dramatis, dengan hanya 8% wisatawan yang mempertimbangkan paket liburan pesiar lebih dari 50 orang.

Spontanitas perjalanan juga merupakan masa lalu, dengan wisatawan menghabiskan lebih banyak waktu untuk meneliti sebelum memesan liburan berikutnya.

‘Harga disesuaikan dengan kebutuhan saya’ dan ‘tingkat keparahan krisis kesehatan COVID-19 di tempat tujuan’ adalah faktor yang paling berpengaruh untuk keputusan pembelian. Lebih dari dua pertiga pelancong percaya bahwa pengetahuan awal tentang tindakan pencegahan COVID-19 ‘sangat penting’.

Gaurav Bhatnagar, Direktur di Travel Boutique Online mengatakan, “Untuk membantu wisatawan menemukan kembali kota, dan wilayah mereka, serta mendukung pengalaman pariwisata lokal, agen perjalanan harus kreatif tentang ‘apa yang akan dijual’.

Pasar perjalanan domestik akan sangat kompetitif di musim liburan ini, jadi penawaran harus menarik dan dipersonalisasi. Agen perjalanan perlu menata ulang cara mereka menjual dan mengemas pengalaman perjalanan domestik dengan menambahkan fleksibilitas dan mengidentifikasi segmen baru yang kurang dieksplorasi. ”

Meyakinkan pelancong bahwa bepergian melalui maskapai penerbangan akan menjadi prioritas bagi penjual perjalanan, dengan wisatawan APAC lebih cenderung mengatakan bahwa mereka ‘kurang nyaman dengan terbang tetapi akan terus melakukannya’.

Fitur baru seperti kios tanpa sentuh yang menggunakan kode QR dan boarding pass seluler, dikombinasikan dengan kebijakan baru seperti kepatuhan masker dan melepas kursi tengah, dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri.

“Musim liburan ini, para pelancong akan waspada terhadap risikonya dan harus yakin sepenuhnya bahwa terbang aman bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka,” kata Rajeev Kumar, CEO & Managing Director, di Mystifly

Teknologi sebagai pendorong akan memainkan peran penting dalam mendorong permintaan – dengan memikirkan kembali produk dan layanan mereka agar menjadi mulus, efisien, dan tanpa sentuhan, maskapai penerbangan dapat menciptakan pengalaman yang memperkuat kepercayaan dan nilai. ”

Asuransi sekarang menjadi bagian integral dari pembelian perjalanan, dengan 47% wisatawan APAC cenderung membeli asuransi perjalanan untuk setiap perjalanan, yang sebelumnya hanya merupakan renungan. Faktor penting lainnya untuk perjalanan traveler pada musim liburan ini adalah travel agent. Seperlima wisatawan APAC berharap dapat mengandalkan agen perjalanan untuk perjalanan domestik mereka berikutnya, untuk mendapatkan rekomendasi, pemecahan masalah, dan dukungan.

GMJ Thampy, Chairman dan Managing Director, Riya Travel & Tours, mengatakan: “Pelonggaran pembatasan lockdown akan mengarah pada pemulihan bertahap dalam perjalanan liburan di seluruh India.

Dengan India masih tertutup untuk pariwisata internasional, perjalanan selama musim Desember-Januari akan didorong oleh pasar domestik yang kuat. Kami memperkirakan akan melihat perubahan tren wisatawan tahun ini, dengan preferensi untuk perjalanan yang lebih pendek untuk bertemu anggota keluarga, bepergian dengan kendaraan mereka sendiri dan tujuan dengan tindakan COVID-19 seperti pengujian wajib.

“Menyoroti langkah-langkah kebersihan dan keamanan baru akan membantu memastikan kami dapat menyambut kembali wisatawan dengan lebih hati-hati dan aman. ”

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Amadeus dengan eksekutif biro perjalanan di seluruh Asia Pasifik termasuk Australia, India, dan Filipina, 38% percaya bahwa cara mereka menjual perjalanan akan berubah tahun ini.

Agen perjalanan ingin menjadi ‘lebih kreatif’ dalam strategi penjualan mereka, untuk membentuk dan menyesuaikan penawaran perjalanan dengan persona wisatawan tertentu, serta menyoroti fleksibilitas tambahan dan perlindungan asuransi.

Kit Sananwathananont, Direktur Pelaksana G.M. Tour & Travel berkata, “Wisatawan akan menuntut tingkat personalisasi, jaminan, dan empati yang lebih tinggi di musim liburan ini. Agen perjalanan yang menggabungkan teknologi dengan ‘sentuhan manusia’ dapat memberikan layanan pelanggan yang sangat baik yang akan berdampak positif pada kepercayaan dan kesetiaan wisatawan, dan pada akhirnya membantu mendorong industri perjalanan untuk tahun 2021.

 

Kemenparekraf Tingkatkan Kompetensi Pelaku Parekraf dalam Menyusun Narasi Publik

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: – Semenjak pandemi COVID-19, penyusunan narasi menjadi satu hal yang sangat penting, bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk bisa memberikan informasi kepada publik terkait program dan kebijakan yang telah dibuat.

Dalam membuat narasi publik diperlukan kemampuan dalam merangkai kalimat secara sederhana, namun bisa dipahami dan dimengerti oleh seluruh masyarakat. Untuk itu, Kemenparekraf/Baparekraf menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pembuatan Narasi Publik, di Hotel Padma, Bandung, Senin lalu.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di lingkungan internal Kemenparekraf dan stakeholders terkait dalam memproduksi narasi publik yang berkualitas, agar informasi mengenai kebijakan atau program-program pemerintah yang ingin disampaikan, dapat diterima oleh masyarakat dengan baik.

Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Agustini Rahayu, dalam sambutannya, mengatakan penyusunan narasi kebijakan publik merupakan bagian terpenting dari awal pekerjaan fungsi kehumasan Biro Komunikasi Kemenparekraf.

“Karena di Biro Komunikasi Kemenparekraf, membuat narasi publik sudah menjadi pekerjaan harian dan sudah seperti automatic pilot, maka ke depan dibutuhkan peningkatan kompetensi untuk mempertajam kemampuan dalam menulis narasi,” kata Agustini.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, pembicara dari Tempo Institute Susandijani secara daring, serta CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan Nova, Staf Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, dan Perwakilan dari Sekolah Pariwisata dan Badan Otorita Pariwisata secara luring.

Selain itu, Agustini juga mengatakan perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen dan strategi komunikasi menghadapi krisis di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melalui narasi publik yang baik dan informatif.

“Saya harap, melalui kegiatan ini, para produsen narası publik yang bekerja di internal Kemenparekraf serta perwakilan dari sekolah pariwisata dan badan otorita pariwisata bisa mendapatkan insight dan pengetahuan baru dalam menyampaikan informasi dengan sederhana. Karena orang yang cerdas dalam berkomunikasi adalah orang dapat menerjemahkan kalimat yang sulit ke dalam bahasa yang sederhana dan bisa dipahami oleh seluruh kalangan,” kata Agustini.

Pembicara dari Tempo Institute, Susandijani mengatakan hal yang paling penting dalam pembuatan narasi publik atau siaran pers adalah penyusunan lead yang menarik. Sebab hal ini bisa menjadi alat pemancing bagi audience untuk membaca tulisan.

“Begitu juga dalam menentukkan judul. Judul sendiri maksimal terdiri dari tujuh hingga sembilan kata, karena judul harus mampu menggaet perhatian dan memenuhi keinginan audience,” kata Susan.

Susan juga menuturkan bahwa perlu atau tidaknya pembuatan narasi, tergantung dari nilai beritanya, memiliki impact yang besar atau tidak, kebaruan, keunikkan, tokoh atau pejabat publiknya, human interest, atau sedang menjadi perbincangan publik.

“Hal tersebut perlu diperhatikan agar siaran pers yang akan kita sampaikan memiliki daya tarik bagi para pembaca,” kata Susan.

Sementara itu, CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication, Firsan Nova membahas narasi dari sudut pandang krisis. Firsan mengatakan narasi yang baik sangat diperlukan dalam mengelola isu maupun menghadapi krisis.

Dia menjelaskan terdapat tiga hal yang perlu di perhatikan dalam menghadapi krisis, yaitu citra, stakeholders, dan potensi penyebaran isu melalui media massa.

“Citra perlu dijaga pada saat menghadapi krisis, hal ini untuk mencegah krisis tersebut berdampak pada reputasi instansi maupun pejabat publik. Sedangkan dalam hal stakeholders, instansi perlu melakukan stakeholders mapping, hal ini bertujuan untuk menentukan strategi apa yang akan digunakan untuk setiap stakeholdernya,” jelas Firsan.

Terkait penyebaran isu melalui media massa, instansi atau lembaga terkait perlu memberikan klarifikasi atau pernyataan resmi sesegera mungkin melalui media sebagai langkah preventif bagi menyebarnya isu secara tidak terkendali.

“Karena semakin lama instansi mengeluarkan pernyataan resmi, maka semakin besar kemungkinan media maupun publik membuat asumsi secara sepihak, serta jangan sampai isu yang terdapat di media lokal menyebar hingga ke media nasional,” kata Firsan.

Oleh karena itu, penting untuk menyusun narasi publik dengan sebaik mungkin. Karena, sebuah narasi memiliki ruh atau nyawa, ketika narasi diucapkan, maka tidak mungkin bisa ditarik kembali.

“Mungkin kita bisa meminta maaf, tapi tidak bisa menghapus dari ingatan audience. Untuk itu, sebagai penulis harus berhati-hati dalam menyampaikan informasi terkait program atau kebijakan pemerintah,” kata Firsan.

 

Wawan Rusiawan : Tren Wisata Domestik dan Wisata Alam Akan Populer pada 2021

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memprediksikan tren wisata domestik dan wisata alam akan populer pada 2021.

Hal tersebut dikatakan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf, Wawan Rusiawan, dalam webinar bertajuk ‘Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2021′, Selasa (24/11/2020).

Wawan menjelaskan pada 2021 masyarakat masih akan cenderung memilih destinasi wisata domestik dibandingkan wisata luar negeri. Tak hanya itu, masyarakat pun akan cenderung memilih wisata alam untuk tujuan destinasi wisatanya.

“Tren wisata di masa COVID-19 yang dapat dikatakan masih berlangsung pada 2021, yang pertama adalah masyarakat masih memilih tujuan wisata domestik. Kemudian juga kita lihat wisata alam menjadi populer,” ujar Wawan Rusiawan.

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan Kemenparekraf akan memberikan fokus dominan untuk membenahi destinasi wisata domestik khususnya wisata alam. Ini yang akan menjadi primadona di tahun 2021 hingga pascapandemi COVID-19.

“Kemenparekraf tentu harus memberikan fokus yang lebih dominan yang bisa membenahi destinasi-destinasi wisata alam, yang akan menjadi primadona pascapandemi COVID-19. Kita ke depan harus mencari cara-cara baru bagaimana pariwisata di Indonesia bisa lebih menarik dan berkembang,” jelas Wawan.

Di masa pandemi prioritas wisatawan pun bergeser pada prioritas protokol kesehatan CHSE (_Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability_) menjadi faktor penting dalam proses pengambilan keputusan memilih destinasi yang bakal dikunjungi wisatawan.

“Protokol kesehatan berbasis CHSE ini menjadi sebuah hal yang penting bagi pemerintah maupun masyarakat. Dan wisatawan akan selektif bagaimana memilih destinasi yang aman untuk mereka kunjungi,” ujar Wawan.

Head of Strategic Partnership Traveloka Accommodation, Louis Alfonso, mengatakan pada masa pandemi COVID-19, wisatawan cenderung lebih mementingkan destinasi wisata dengan standar protokol kesehatan dibandingkan promo yang disediakan oleh para pelaku usaha parekraf.

“Masyarakat sangat mementingkan kebersihan dan kesehatan untuk berwisata di masa pandemi COVID-19, diskon nomor dua,” ujar Louis.

Lebih lanjut Louis mengatakan terlihat dalam riwayat pencarian di Traveloka, sudah terlihat adanya peningkatan animo masyarakat untuk berlibur pada akhir tahun hingga awal 2021.

“Pada Februari 2021 juga diproyeksikan terlihat ada peningkatan, dengan data seperti ini terlihat ada sinyal positif yang kita harapkan nanti bisa ada berita baik juga seiring vaksin yang sudah diproduksi secara massal, sehingga bisa membantu lebih lanjut mendorong kinerja pariwisata di Indonesia,” ujar Louis.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf, Agustini Rahayu, mengatakan Kemenparekraf telah bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan sertifikasi dan verifikasi para pelaku parekraf untuk mengimplementasikan protokol kesehatan berbasis CHSE.

“Protokol kesehatan ini perlu diterapkan bersinergi dengan aktivitas di semua sektor kehidupan terutama di pariwisata dan ekonomi kreatif, jadi semua harus paralel berjalan, kuncinya harus ada komitmen bersama untuk menjaga protokol kesehatan secara disiplin,” ujar Agustini.

 

Pemerintah Secepatnya Beri Vaksinasi Covid-19 Bagi Masyarakat

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah secepatnya akan memberikan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat, dengan prioritas usia 18-59 tahun, dengan dukungan integrasi satu data vaksin.

Untuk wilayah mana yang lebih dulu menjadi prioritas vaksinasi Virus Corona ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Tohir mengatakan tunggu dua hari lagi.

“Pemerintah akan memutuskan wilayah yang menjadi prioritas vaksinasi virus corona dua hari mendatang,” ujarnya dalam Webinar bertema Persiapan Infrastruktur Data Vaksinasi Covid-19, Selasa (24/11/2020), yang diadakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN).

Erick yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana KPC-PEN, menjelaskan bahwa untuk menentukan hal tersebut perlu didiskusikan bersama dengan pemerintah daerah.

Dia menambahkan vaksinasi Covid-19 akan menggunakan sistem satu data. Dalam sistem tersebut pemerintah akan dibantu oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), dan PT Bio Farma.

Erick mengatakan akan ada dua jenis vaksinasi. Yaitu vaksinasi bantuan pemerintah. Vaksinasi ini antara lain untuk tenaga kesehatan, dan masyarakat penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan. Selain itu ada vaksin mandiri untuk masyarakat yang mampu membayar sendiri.

Dia ingin perjalanan vaksinasi ini terbuka untuk semua, transparan, dan juga menerima berbagai masukan. Sejak awal pemerintah terus melakukan sosialisasi dan berdiskusi dengan para pakar.

Saat vaksin itu datang dan ada proses dari Badan POM dan Kementerian Kesehatan untuk vaksinasi, diharapkan semua berjalan dengan baik.

 

Nusa milik Bali

This is Bali, Always Happy!

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Mari kita simak lirik lagu dengan judul This Is Bali Always Happy yang di luncurkan bulan November ini. Mempergunakan kata-kata dalam bahasa Inggris yang cukup sederhana dan tidak membuat kita repot membuka kamus untuk memahaminya. Bagi saya lagu ini mirip lagu dolanan. Iramanya riang dan ada bagian syair, dinyanyikan berulang-ulang membuat hati senang, ikut berdendang dan bergoyang.

 This is Bali Always Happy

All we are here

Come look and see

Pun lagu ini dibuat dengan misi yang sangat rendah hati dan bijak. Benny Sugiharto si penulis lirik yang juga Vokalis dan Gitaris grup Band Crazy Horse Bali mengatakan “Bahagia adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat Bali kepada Sang Pencipta dan Alam Semesta.’ Kemudian imbuhnya “Tunjukkan ke luar, bahwa dengan kebahagiaan, masyarakat Bali bisa dan siap melewati masa pandemi COVID-19, dengan mengambil sisi positif dari setiap pencobaan. Kita kan punya modal kultur sosial warisan leluhur yang ekslusif yaitu kita selalu tersenyum, saling sapa, hidup berdampingan dan punya rasa terima kasih. Tidak usah merasa paling terpuruk, karena pemikiran seperti itu tidak menyelesaikan masalah.” Lanjut Benny untuk melengkapi pemikirannya “Jadi intinya dengan pandemi kali ini, kita diberi kesempatan untuk menata kembali kehidupan kita yang berdampingan dengan alam. Pengertiannya, kita memberikan kebahagiaan untuk alam dan alam akan memberikan kebahagiaan untuk kita yang setimpal.”

Ternyata, makna lagu ceria penuh semangat This is Bali, Always Happy ini tidak sesederhana syair lagunya. Benny Sugiharto tumbuh bersama grup Band Crazy Horse Bali sejak 1987 sebagai Vokalis dan Gitaris. Ya, Grup Band ini memiliki kontrak kerja untuk tampil di Troppozone selama 16 tahun kemudian Peanut Club selama 24 tahun. Keduanya di area Legian yang di 2020 saat ini sedang senyap. Diistirahatkan dengan paksa oleh COVID-19.

Sehubungan dengan lagu This is Bali, Always Happy, saya hendak mengajak sidang pembaca masuk menelisik industri pariwisata Bali.

Apakah sidang pembaca yang sudah pernah ke Bali ada rencana untuk kemBALI ke BALI pada penutupan tahun 2020?

Bagi yang belum pernah ke Bali, ini saatnya Anda untuk segera berwisata ke Bali. Harga sewa kamar di seluruh pulau sedang menawarkan harga terendah sepanjang masa. Kondisi luar ruang juga masih dalam kondisi bersih setelah semua manusia harus mengikuti aturan di rumah saja selama delapan (8) bulan terakhir.

Saya sangat memahami pemikiran Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Faqih yang dipublikasikan di CNNIndonesia.com, Selasa (17/11) sehubungan dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru pada 24 Desember-31 Desember.

Katanya “Iya sebaiknya ditunda, liburan dan cuti bersama memicu mobilitas penduduk lebih besar. Mobilitas tinggi dan berkerumun sangat berisiko terhadap tingginya potensi penularan COVID-19, dan berpotensi melanggar protokol kesehatan 3M,”

Tetapi menurut pemikiran saya, apabila masyarakat Bali dan pelancong menyadari resiko hidup berdampingan dengan COVID-19, tentunya semua dapat saling menjaga untuk tetap sehat dan selamat sebelum, selama dan sesudah libur panjang.

Segala lapisan masyarakat telah teredukasi dan tinggal menjalankannya secara disiplin dan patuh dalam menjalankan “protokol kesehatan” (Prokes) memakai masker-menjaga jarak-mencuci tangan (3M) termasuk tindakan preventif lainnya.

Bali is waiting for you, don’t worry be happy!

Sejumlah hotel dan sarana pendukung pariwisata lainnya telah melakukan uji CHSE, verifikasi dan sertifikasi untuk memberikan layanan yang maksimal.

What about you? #wonderfulindonesia

Mari saya kutip syair lengkap lagu ciptaan Benny Sugiharto

This is Bali, Alway Happy

This is Bali, fun and happy, Come look and see, Let;s go crazy

This is Bali, wet hot sunny, Beer and lazy, So this is Bali

 Welcome to Bali, Enjoy Local tasty, Welcome to Bali, for you and family

Welcome to Bali, Where sun always shinny, Welcome to Bali

Don’t worry be happy?

This is Bali Always Happy, All we are here, Come look and see

Terima kasih perlu saya sampaikan untuk karya besar Grup Band Crazy Horse Bali dengan Vocal and Guitar – Benny; Bass – Gus Joni; Keyboard – Bardy; Drum – Gus Abi; Melody Guitar – Dewa Wijana.

 Penulis adalah Praktisi Pariwisata

 RUU Minol Kembali Dibahas Ini Pasal Pro Pariwisata

this formate

Oleh H. Koko Sujatmiko

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah cukup lama terhenti, Rancangan Undang-Undang (RUU) Minuman Beralkohol (Minol) kembali dibahas DPR.  RUU inisiatif DPR yang telah masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2020 tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.  

“RUU ini nanti akan memperjelas siapa yang boleh memproduksi, membeli, dan mengkonsumsi. Siapa yang boleh memproduksi dengan kadar alkohol tertentu dan siapa yang boleh membeli serta mengkonsumsinya,” kata M. Syafi’i dalam Rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI terkait harmonisasi RUU Minol, di Jakarta, baru-baru ini.  

Larangan minuman berakohol ini, sebagaimana dalam draft RUU Minol,  perlu dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta melindungi masyarakat dari dampak negatif minuman beralkohol sehingga terjaga kualitas kesehatan, ketentraman, ketertiban dan ketentraman di masyarakat. 

Perlindungan terhadap dampak negatif Minol tersebut juga ditujukan pula bagi wisatawan asing yang berwisata di Indonesia, karena tidak sedikit wisatawan juga menjadi korban akibat Minol ilegal atau minuman keras racikan, dan sempat menjadi sorotan dunia.  

Ketua Hubungan Antar Lembaga Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bambang Britono menilai bahwa RUU Minol akan berdampak negatif bagi industri pariwisata.

“Apabila itu disahkan kami khawatir wajah Indonesia di mata dunia akan berubah, kita tentu harus ramah terhadap wisatawan. Ini akan bawa citra kurang positif,” ujar Bambang Britono dikutip dari Antara, belum lama ini. 

Menurut dia, jika RUU itu disahkan maka industri pariwisata nasional akan semakin terpuruk. “Saat ini usaha pariwisata sedang terpuruk akibat pandemi, harusnya kita membutuhkan citra yang positif di mata dunia,” ucapnya.

Draf RUU Minol yang diperoleh bisniswisata.co.id  dari laman resmi  DPR-RI  ditemukan sejumlah pasal yang pro terhadap pariwisata. Misalnya, dalam Pasal 7 dan Pasal 8.  “Pasal 8 (1) Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7 tidak berlaku untuk kepentingan terbatas. (2) Kepentingan terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kepentingan adat; b. ritual keagamaan; c. wisatawan; d. farmasi; dan e. tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kepentingan terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Aturan Minol sudah lama menjadi isu nasional, khususnya di kalangan pelaku industri pariwisata. Di era tahun 1980-an, ketika pariwisata mengalami  booming, isu pendistribusian Minol sempat mengemuka. Banyak aturan (Perda dan  Peraturan Menteri) saling tumpang tindih dalam mengatur peredaran Minol.

Ketika itu sejumlah importir Minol yang ditunjuk pemerintah dinilai “memonopoli” dan “pilih kasih” dalam mendistribusikan Minol  ke hotel-hotel (tempat wisata) di Tanah Air sehingga banyak pengelola hotel yang mengeluhkan kelangkaan Minol,  yang dampaknya cukup besar terhadap  pelayanan dan “persaingan” hotel.   

RUU Minol  yang diajukan DPR sejak tahun 2012 ini bila menjadi UU akan menjadi acuan daerah dalam  mengatur peredaran Minol di tempat-tempat wisata. Seperti diketahui, penjualan Minol –yang masuk dalam bagian F&B hotel —cukup besar dalam memberikan kontribusi terhadap Pendapatan  Asli Daerah (PAD) maupun Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Keuangan (Kemenkeu). 

Menurut data  Kemenkeu realisasi penerimaan cukai dari Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) pada Januari-September 2020 mencapai Rp 3,61 triliun. Penerimaan cukai MMEA ini mengalami purunan 23,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat terdampak pandemi COVID-19 di mana banyak hotel, restoran dan  cafe yang tutup. 

Aeronology Luncurkan Platform Layanan Lengkap Independen Pertama di Dunia untuk Konsultan Perjalanan Seluler

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ada berita menarik untuk agen perjalanan di seluruh dunia dengan peluncuran Aeronology Mobile belum lama ini, sebuah  aplikasi Agen Perjalanan pertama di dunia yang menjanjikan untuk membantu konsultan perjalanan pulih dengan kotak alat pemesanan perjalanan online, seluler, dan layanan lengkap yang canggih dan mulus.

“Ini akan mengubah industri penasihat perjalanan,” kata Russell Carstensen, CEO perusahaan teknologi perjalanan Australia yang sedang naik daun, Aeronology. 

Seorang konsultan sekarang dapat menyimpan semua komisi dalam aplikasi toko serba ada yang terjangkau dan membayar pengguna yang memungkinkan Anda untuk menghasilkan lebih banyak dan menghemat waktu.”

Dilansir dari Travel Daily News Asia, Aeronology Mobile dapat digunakan secara global dan travel advisor dapat beroperasi di mana pun mereka memiliki akses ke internet.

Teknologi ini adalah hasil dari 20 tahun pemahaman tentang kebutuhan dan persyaratan untuk menjadi konsultan yang menguntungkan dan efektif, jelas Carstensen, yang mendesak penasihat atau konsultan perjalanan yang tertarik untuk menjadi bagian dari peluncuran pada awal 2021.

“Aplikasi ini bukanlah penemuan dalam semalam; itu telah bertahun-tahun dibuat dan merupakan salah satu yang menawarkan harapan untuk saat ini membutuhkan di dunia ketidakpastian. Kami telah membangun layanan teknologi perjalanan yang tidak memerlukan lisensi, mengatur biaya atau biaya dasar, ”katanya.

“Anda membayar sesuai penggunaan. Itu mudah. Kami bahkan dapat memberi penasihat perjalanan layanan GDS pilihan mereka untuk Sabre, Travelport atau TravelSky, atau menggunakan kontrak GDS Anda sendiri. Anda menagih dan menagih biaya Anda di Point of Sale. ”

Aeronology Mobile adalah alat yang sempurna untuk penasihat perjalanan independen, atau agen yang menjadi anggota konsorsium (Korporat & Hiburan), konsultan mereka, atau individu yang ingin beroperasi sebagai pedagang tunggal.

Ini melayani agen IATA dan non-IATA, menciptakan ‘biaya penjualan terendah di pasar’ dengan tidak memiliki overhead atau sakit kepala dari biaya yang berkelanjutan seperti sewa, biaya lisensi, kantor tengah dan biaya komunikasi yang tidak fleksibel.

Penyiapan aplikasinya gratis dan Aeronology Mobile menyediakan layanan ‘hidung ke ekor’ yang dibutuhkan setiap bisnis perjalanan di lingkungan ini, terutama bergerak maju dalam lingkungan perjalanan normal-COVID secara global.

“Agen / penasihat perjalanan memiliki semua data mereka dan kami menyediakan basis data profil wisatawan, semua belanja, ditambah layanan pemesanan dan transaksi untuk produk perjalanan apa pun di platform pemesanan berbasis web. Ini termasuk layanan kantor tengah yang akan dimuat ke semua sistem akuntansi utama, termasuk MYOB, Xero, dan QuickBooks, ”kata Carstensen.

“Agen perjalanan tidak akan pernah lagi membayar biaya lisensi tengah kantor bulanan lagi. Dalam lingkungan perjalanan saat ini, pakar perjalanan harus fleksibel, mudah beradaptasi, dan mobile serta memiliki kemampuan untuk mengoperasikan tablet, laptop, atau bahkan ponsel mereka,” 

“Semua data dengan aman dan terjamin dimiliki oleh agen perjalanan dan konsultan.”

Layanan dan hasil utama dengan menggunakan aplikasi Seluler Aeronology meliputi:

– Meningkatkan produktivitas & nilai total transaksi rata-rata dari S1.5 juta menjadi $ 5 juta (misalnya waktu transaksi rata-rata untuk menyelesaikan pemesanan berkurang secara dramatis).

– Situs web Agen Perjalanan Khusus.

– Pengaturan gratis dan sederhana, tidak ada kontrak dengan Aeronologi.

– Mark up / margin Anda ditentukan oleh Anda (tanpa mengungkapkan biaya nett) tetapi Anda memiliki kemampuan untuk berbagi pengalaman berbelanja, memesan, dan membeli dengan pelanggan Anda secara online menggunakan Zoom (atau teknologi berbagi layar serupa).

– Gunakan merek Anda sendiri. Atur dengan teman, atau operasikan di luar hub agen perjalanan.

– Tidak ada lisensi bulanan Mid Office.

– Transaksi untuk diumpankan langsung ke sistem akuntansi misalnya MYOB, Xero dan QuickBooks.

– Pilih pemasok Anda dan kami memasukkan pemasok tersebut ke dalam Perangkat Lunak Manajemen Konten Seluler Aeronologi (CMS)

– Database Profil Wisatawan Anda sendiri. Anda memiliki aset pelanggan Anda.

– Sabre, Travelport & TravelSky: Konten Air, Air Auxiliary & Special Service Requests (SSR’s). (Transisi dari Amadeus tersedia)

– Beroperasi 24/7, secara global. Bekerja dari mana saja dengan akses internet.

– Biaya transaksi nominal yang dapat dibebankan kepada pelanggan di Point Of Sale.

– Penerbangan: Buat profil pelanggan, belanja penerbangan, pesan, dan terbitkan tiket (Penerbitan Ulang / Validasi Ulang / Batalkan / Kembalikan semua mungkin juga).

– Terhubung ke semua backend Mesin Pemesanan Online, termasuk alat pemesanan perusahaan.

– Bahkan perkembangan yang lebih menarik diluncurkan dalam waktu dekat

Qantas Wajibkan Vaksinasi COVID-19 Untuk Penerbangan Internasional

this formate

SYDNEY, bisniswisata.co.id: Alan Joyce, Chief Executive Officer Qantas Airways telah mengumumkan bahwa maskapai nasional Australia itu berencana mewajibkan vaksinasi COVID-19 untuk semua pelancong internasional yang naik ke penerbangan mereka.

Dilansir dari Aviation Travel, dalam wawancara dengan program berita televisi Australia, Alan Joyce mengatakan bahwa suntikan virus korona mungkin tidak diperlukan untuk penerbangan domestik, tetapi itu akan menjadi “keharusan” untuk penerbangan internasional yang memasuki dan meninggalkan Australia.

CEO  Qantas itu memperkirakan bahwa kebijakan serupa akan diterapkan di seluruh dunia, dan vaksinasi wajib kemungkinan akan menjadi kenyataan baru bagi pelancong internasional di seluruh dunia.

CEO tersebut mengatakan Qantas telah mulai menentukan apakah perlu memberlakukan karantina dua minggu pada pelancong yang tiba di Australia. Dia menambahkan bahwa maskapai tersebut sudah menguji air limbah di pesawatnya untuk Covid-19 sebagai tindakan pencegahan ekstra.

Joyce sebelumnya telah memperingatkan perjalanan udara tidak akan kembali ke tingkat sebelum pandemi sampai vaksin virus Corona tersedia secara luas.

Pada bulan Oktober, dia memperingatkan bahwa Qantas hanya akan melanjutkan penerbangan ke Inggris dan Amerika Serikat setelah mencapai sasaran pasar, “mengingat prevalensi virus di kedua negara”.

Gagasan untuk membuat “paspor” COVID-19  memungkinkan individu yang divaksinasi atau mungkin kebal untuk bepergian dengan bebas telah mewacana sejak hampir dimulainya krisis kesehatan.

Berbicara di KTT G20 pekan lalu, Presiden China Xi Jinping mengusulkan untuk memperkenalkan kode QR kesehatan yang diakui secara global dan itu akan membantu memulihkan perdagangan dan perjalanan internasional yang terkena virus Corona.

 

 

China Kembali Jadi No : 1 Sumber Wisatawan Internasional

this formate

HAMBURG, bisniswisata.co.id: Survey kembali menunjukkan China akan merebut kembali posisi teratasnya sebagai pasar sumber utama untuk pariwisata internasional, ungkap COTRI ANALYTICS.

Dilansir dari Travel Daily News, penelitian kuantitatif dari COTRI China Outbound Tourism Research Institute menyimpulkan November 2020 melihat dimulainya kembali pariwisata internasional

Wisatawan dari China Daratan diharapkan jumlahnya lebih dari satu juta orang mulai melakukan penyeberangan perbatasan, dengan Daerah Administratif Khusus Makau sebagai tujuan utama.

Namun, sejumlah negara lain di Asia kembali menyambut kedatangan wisatawan Tiongkok, termasuk Thailand, Laos, Jepang, Singapura, dan lainnya. Warga negara China di wilayah Schengen di Eropa juga dapat melakukan perjalanan antar negara Eropa.

 Prof.Dr.Wolfgang Georg Arlt, CEO COTRI mengatakan bahwa China jelas yang tertinggi dalam kelompok pertumbuhan yang kerdil dalam perkembangan saat ini.  Pada November 2019, lebih dari sepuluh juta orang Tiongkok bepergian ke luar negeri dan pasar sumber lainnya juga mengirimkan jutaan untuk perjalanan bisnis dan rekreasi internasional.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa ‘cahaya di ujung terowongan’ pribahasa yang sering dikutip terlihat sangat mirip dengan lentera Tiongkok. 

Sepanjang tahun 2020 ini  COTRI ANALYTICS mengharapkan 18 juta perjalanan internasional Tiongkok, yang sebagian besar terjadi pada bulan Januari, mewakili sekitar 10% dari jumlah untuk tahun 2019.

Untuk tahun 2021 diperkirakan sekitar 100 juta perjalanan internasional warga Tiongkok. Prof.Dr. Arlt mengatakan ada jutaan orang Tiongkok yang dengan penuh semangat menunggu untuk bepergian ke luar negeri lagi. 

Pandemi  COVID-19 hampir dikalahkan di Asia Timur dan vaksin diharapkan tersedia dalam beberapa minggu. “Kita akan melihat gelombang pelancong keluar Tiongkok yang memulai Tahun Baru Imlek bepergian ke Asia dan setelah Paskah ke Eropa,”

 Rezim visa dan koneksi udara perlu waktu untuk kembali ke jalurnya, itulah sebabnya kami hanya memperkirakan sekitar 100 juta perjalanan pada tahun 2021. Namun, pada tahun 2022, kami sangat mungkin melihat rekor baru jumlah perjalanan keluar negri.

China akan pulih lebih cepat daripada pasar sumber lainnya dan wisatawan China akan mencari destinasi baru yang tidak terlalu ramai dan ramah menawarkan produk berkualitas dan disesuaikan dengan permintaan spesifik mereka.

Permintaan  akan berbeda pada masa pasca-virus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.  Tujuan dan penyedia layanan sebaiknya mulai sekarang untuk mempersiapkan tamu ‘baru’  wisatawan China ini, tambah Prof.Dr.Wolfgang Georg Arlt.

Antisipasi Ramalan Bill Gates, Industri MICE Lakukan Ini

this formate

Oleh H. Koko Sujatmiko

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ramalan Bill Gates,  pendiri Microsoft, yang mempredisi bahwa pasca-pandemi COVID-19 membuat  lebih dari 50 persen  perjalanan bisnis akan hilang, cukup merisaukan para pelaku industri konvensi, insentif, dan pameran atau MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). 

Mengantisipasi prediksi ini, pelaku industri MICE perlu melakukan antisipasi dengan meningkatkan kualitas produk yang pro pada protokol kesehatan serta ramah lingkungan. Selain itu memahami perubahan perilaku wisatawan terhadap preferensi  akomodasi, transportasi, dan aktivitas wisata yang dilakukan para travelling bisnis. 

Bill Gates memprediksi, pandemi COVID-19 mengubah secara fundamental cara orang bepergian dan menjalankan bisnis. “Prediksi saya lebih dari 50% perjalanan bisnis dan lebih dari 30% hari kerja di kantor tidak akan terjadi lagi,” kata Gates, seperti dilansir The New York Times.

Ia mengutarakan asumsinya itu didasari pada fakta bahwa selama pandemi internet telah menciptakan bermacam kemudahan sehingga memungkinkan manusia untuk tidak lagi bekerja di kantor. Bekerja dari rumah menjadi sesuatu yang lebih memungkinkan untuk dilakukan.

Selain itu banyak perusahaan mungkin akan mengambil tindakan lebih ekstrim mengurangi jumlah pertemuan tatap muka sehingga perjalanan bisnis menjadi sesuatu yang langka dan akan mempertimbangkan dengan matang perjalanan bisnis. 

Lalu, apa yang dilakukan  para pelaku industri konvensi, insentif, dan pameran atau MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Para pelaku bisnis tetap percaya dan optimis bahwa para travelling bisnis tetap melakukan kegiatan meeting, incentive, convention, dan exhibition. 

Bila pada masa pandemi kegiatan itu banyak dilakukan secara virtual atau hybrid, pasca-pandemi nanti akan beralih dengan bertemu langsung serta melakukan perjalanan . 

Namun demikian, para pelaku bisnis MICE harus menyesuikan produk mereka sebagaimana trend para travelling bisnis pasca-pandemi  yang mengutamakan unsur clean, healty, safety, and environment

Hal ini sebagaimana diisyaratkan Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) bahwa pasca-pandemi terjadi perubahan perilaku wisatawan terhadap preferensi kebutuhan dalam berwisata. 

Untuk kebutuhan akomodasi, misalnya,  preferensi lebih mengutamakan aspek higienitas, sedangkan  kebutuhan transportasi lebih memilih  penerbangan langsung atau maksimum 1 kali transit. 

Begitu pula  aktivitas berwisata lebih memilih pada aktivitas outdoor dengan pilihan udara sejuk, self-driving, dan private tour

Banyak negara, termasuk Indonesia,mengandalkan sektor pariwisata khususnya dari kegiatan (industri) MICE. Produk jasa ini  dijadikan sebagai produk unggulan dalam mengembangkan pariwisata  karena selain mendatangkan turis berkualitas, —mempunyai perhatian tinggi terhadap  clean, healty, safety, and environment —juga mempunyai pengeluaran yang tinggi.

Tercatat rata-rata pengeluaran turis MICE atau Average Spending per Arrival (Aspa) sebesar US$2.000 per hari dengan lama tinggal rata-rata 5 hari.

Sebelum pandemi, kegiatan MICE di Indonesia relatif tinggi di antaranya berskala nasional, regional, dan internasional dengan memberikan kontribusi  sebesar US$ 7,8 miliar terhadap PDB nasional.

Namun, kegiatan MICE tersebut menurun tajam akibat terkena dampak pandemi CONVID-19 yang membuat hampir semua kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition dibatalkan atau hanya sebagian sebagian kecil dilakukan dengan virtual  dan hybrid