Libur Panjang Akhir Tahun,  Ini Pilihan Wisata Lebih Aman 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Libur panjang akhir tahun senantiasa dinantikan masyarakat. Momen berharga itu dimanfaatkan untuk berlibur bersama keluarga dan kerabat ke tempat wisata.

Pada masa pandemi,  liburan  panjang akhir tahun masih  dibayangi ancaman lonjakan kasus (kluster) baru Covid-19. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa memilih aktivitas wisata yang aman. 

Berwisata di alam terbuka menjadi salah satu pilihan wisata yang populer di masa pandemi saat ini. Tempat  wisata alam bisa pegunungan, pantai, hutan,  dan cagar alam, danau, maupun sungai yang pada umumnya  adalah zona hijau dari pandemi corona atau Covid-19. Berwisata di alam terbuka  menjadi salah satu cara untuk menghindari kerumunan.

Pilihan lain adalah staycation atau berlibur dekat rumah. Masyarakat perkotaan memanfaatkan staycation antara lain dengan menginap di hotel berbintang dengan menerapkan standar protokol kesehatan (Prokes) yang ketat. 

Pada libur panjang akhir tahun ini  banyak tawaran paket staycation. Pantauan bisniswisata.co.id dari laman online banyak menawarkan  Big Promo berupa voucher staycation /tour/atraksi seharga Rp225.000 untuk pembelian paket minimal Rp 450.000. Pilihan lokasinya tersebar di Jakarta, Bandung Joglosemar, Bali, Kepri, Labuan Bajo, Lombok, Medan, Malang, Manado, Belitung, dan Bromo. 

Tentang libur panjang akhir tahun, juru bicara Satgas COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengingatkan,  pandemi corona atau COVID-19 belum berakhir dan penularan masih terus terjadi. Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan dalam memilih kegiatan saat masa liburan panjang. 

“Dalam aktivitas libur agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan,” kata Wiku Adisasmito.  

Satgas COVID-19  mencatat penyebaran dan penularan virus corona atau Covid-19  pada libur panjang semakin massif. Peningkatan kasus terjadi seusai libur panjang.

Tak heran kekhawatiran muncul, misalnya, pada  akhir Oktober lalu terlihat dalam kenaikan kasus Corona di Indonesia 2-3 pekan terakhir berkisar 3.000-4.000 kasus per hari. Bahkan, pada tanggal 13-14 November 2020, kasus Corona mencapai rekor tertingginya yakni 5.444 dan 5.272 kasus. 

 

Karantina Siap Dipotong Lima Hari di Bawah Skema Uji dan Rilis Baru.

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Karantina wisatawan akan dikurangi setengahnya dari 14 hari menjadi lima hari di bawah skema ‘uji dan rilis’ yang baru. Pelonggaran pembatasan perjalanan ke luar negeri akan membuat pendatang dari negara-negara ‘berisiko tinggi’ diizinkan meninggalkan isolasi diri jika hasil tes mereka negatif untuk Covid-19 pada hari kelima.

Tes perputaran cepat dengan biaya hingga £ 150 diharapkan akan digunakan untuk menghasilkan hasil dalam waktu kurang dari satu jam dan menghindari tekanan ekstra pada NHS.  Biaya diperkirakan turun karena permintaan meningkat.

Perubahan pada peraturan karantina, yang dilaporkan minggu lalu oleh Travel Weekly, diharapkan terjadi pada pertengahan Desember setelah berbulan-bulan melakukan lobi industri perjalanan dan penerbangan.  Pengumuman datang dari sekretaris transportasi Grant Shapps

Menteri juga dilaporkan siap untuk  pengaturan untuk memungkinkan dimulainya kembali kapal pesiar menyusul larangan menyeluruh yang diberlakukan pada bulan Juli.

Gugus Tugas Perjalanan Global pemerintah yang terlambat diharapkan akan memberi sinyal untuk memulai kembali dari akhir Januari asalkan garis membuktikan bahwa mereka memiliki prosedur pengujian dan pengendalian infeksi yang ketat.

Kapal pesiar asing juga dapat dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya jika operator setuju untuk mengambil tanggung jawab untuk memulangkan penumpang dan awak jika mereka terdampar karena wabah virus, menurut Mail pada hari Minggu.

 Satgas juga kemungkinan akan rekomendasikan pengujian pra-keberangkatan hingga 72 jam sebelum kedatangan, yang dapat memungkinkan karantina dapat dihindari.

 Koridor travel di mana penumpang tidak harus dikarantina pada saat kedatangan dari negara berisiko rendah akan terus beroperasi dan ditinjau setiap minggu sesuai dengan perubahan tingkat infeksi.

Sumber Whitehall mengatakan kepada surat kabar: “Kami ingin sekali membuat orang terbang lagi ketika aman untuk melakukannya, dan perdana menteri sangat prihatin tentang dampak yang kami lihat pada perjalanan bisnis. Memotong waktu karantina dari 14 hari menjadi lima hari berpotensi membuat perbedaan besar.”

 Tindakan karantina baru akan menjadi bagian dari ‘Covid Winter Plan’ Boris Johnson yang lebih luas y dengan penguncian nasional Inggris diganti dengan sistem regional tiga tingkat yang lebih ketat.

 Perubahan tersebut diyakini berdasarkan analisis data lebih dari 105.000 penumpang yang menemukan bahwa tes pada hari kelima karantina mendeteksi antara 83% hingga 90% kasus Covid.

 Analisis hasil tes dari penumpang yang tiba di Kanada, Islandia, Prancis, dan Jersey menunjukkan tes pada hari kelima sama efektifnya dalam mendeteksi Covid seperti pada hari ketujuh, di mana tingkatnya antara 84% dan 90%, Telegraph melaporkan.

 

Ketua Asosiasi Fintech Syariah, Lutfi Adhiansyah: Halal Industry itu Bisnis Triliunan Dollar

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sektor produk halal termasuk wisata halal diyakini akan bangkit lebih cepat di era new normal. Hal itu disampaikan Lutfi Adhiansyah, Ketua Klaster Fintech Pendanaan Syariah Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) yang juga CEO PT Ammana Fintek Syariah (Ammana) dalam diskusi virtual AFPI bertajuk “Fintech dan Digitalisasi Ekonomi Syariah untuk Peningkatan Ekonomi Hala di Indonesia, Senin (23/11).

Ammana termasuk pelopor di sektor fintech syariah. Perusahaan ini berdiri pada Juli 2017 namun menurut Lutfi baru beroperasi Maret 2018. “Kenapa? Karena izinnya dari OJK itu keluar 2018.”

“Jadi, seperti yang diungkap State of the Global Islamic Economy Report, peluang yang tercermin di sana mirip-mirip seperti kinerja kita. Seperti, bangkitnya industri makanan halal. Bahkan, peluang halal-tourism sekalipun seperti haji dan umrah masih ada karena investor melihat ini buat long-term growth,” jelas lulusan Islamic University Malaysia ini.

Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan mewawancarai ayah sepasang anak yang beristrikan seorang muslim Thailand, orang Phuket. Berikut petikannya:

Apa strategi untuk meyakinkan orang agar mau bertransaksi lewat fintech syariah? Apakah dengan pendekatan ayat-ayat? 

Kalau di fintech memang kita ada edukasi [tentang] prinsip syariah yang mendasar. Cuma saya selalu bilang ke temen-temen bahwa fintech Syariah itu merupakan kegiatan muamalah atau hubungan antar masyarakat, antar manusia. Nah, bermuamalah itu prinsipnya adalah secara garis besar adalah: semua halal kecuali yang diharamkan. Artinya, kalau semua halal kecuali diharamkan maka yang diharamkan [jumlahnya] lebih sedikit daripada yang dihalalkan.

Karena itu saya selalu bilang ke temen-temen, ‘kalau kita sedang bermuamalah maka bukan relijius yang ditonjolkan.’ Karena, muamalah syariah bukan miliknya Islam sendiri meski lahirnya dari Al-Quran dan hadis.

Kalau kita terlalu mengedepankan [aspek] relijiusnya maka nanti akan ada hambatan. Ternyata hambatan ini tidak dialami oleh negara-negara [dimana masyarakatnya banyak yang] non muslim saat mereka menerapkan halal industry.

Jadi, relijius itu cukup dengan kita menjauhi larangan Allah. Tapi, ketika kita ber-muamalah maka…contohnya saat kita bicara halal tourism atau wisata halal, [sering] banyak yang kepleset. Wisata halal, bayangannya kalau di Indonesia bisa kemana aja?

Lombok, Aceh? 

Salah! Udah langsung jawabannya salah.  Kalo kita bicara wisata halal ukurannya bukan Aceh, bukan Lombok. Karena kalo patokannya Aceh dan Lombok karena [di sana] banyak masyarakat muslimnya, itu salah. 

Jadi, wisata halal itu begini [melihatnya]: nature-nya orang entah muslim atau non-muslim, pakai cadar atau tidak, kalau lagi liburan, sama gak behaviour-nya? Sama dong. Mereka akan menginap di hotel, makan-makan, juga foto-foto. 

Tapi ketika destinasi itu berubah menjadi halal industry maka bahasanya menjadi muslim friendly. Apa itu artinya? Kalau kita misalnya sedang ke Monas, akan gampang cari tempat sholat; saat di Jakarta, akan mudah menemukan tempat makanan halal. Bukan berarti banyak makanan halal loh ya. Tapi setidaknya ada informasi tentang tempat-tempat itu, ada pamflet, ada liflet, ada portal yang memuat informasi yang mudah diakses dan menjelaskan lokasi halal itu.

Artinya, Danau Toba [yang mayoritas penduduknya non Islam] juga bisa menjadi destinasi wisata halal?

Iya. Artinya kita jangan terkecoh dengan perkara relijius doang, tapi kita bicaranya adalah transaksi Muamalah. Untuk bertransaksi secara halal itu kan luas. Seperti wisata halal tadi, ternyata di Jepang itu sudah muslim friendly. Di sana, ketersediaan informasi tentang lokasi masjid atau tempat makanan halal sudah mudah didapat. Itu [artinya] Jepang sudah muslim friendly dan sudah menjadi halal destination. 

Tidak apa-apa ada red district, asal dilabeli ini loh di sini red district, menjual minuman keras, ada makanan B1 atau B2-nya. Karena begini, mau orang itu bercadar atau tidak kalau mereka jalan-jalan ke Jepang kan akan ke Tokyo, ke Kyoto juga. Masak kita halang-halangi. Kan gak mungkin. 

Konsep muamalah ini kan hubungan antara sesama manusia. Artinya bisa antar muslim dan non muslim juga kan ya.

Nabi Muhammad aja bertransaksi dengan [orang] Yahudi. Jadi tidak ada masalah. Kadang-kadang justru banyak pihak yang menyempitkan diri. 

Mungkin kalau saya sih melihatnya, kita nggak bisa menyalahkan 100% [pandangan sempit itu Red.] karena kita mayoritas muslim, jadi sudah langsung terkotak mindset-nya: kalau sesuatu yang berbau halal itu berbau reliji. 

Padahal halal itu diciptakan oleh Allah untuk [semua] atau universal. Ini berbeda dengan ibadah, karena ada kaidahnya. Dia tidak bisa dibuat-buat. Tapi kalau bertransaksi, bermuamalah atau hubungan antar manusia, justru di-luaskan oleh Tuhan.  Tapi kadang-kadang udah diluasin, orang malah nyempitin. 

Orang Jepang atau Korea Selatan, misalnya, mereka berbondong-bondong mau pake label halal, kenapa? Karena mereka tidak melihat ini sebagai sisi relijinya Islam tapi lebih melihat pada sebuah jaminan mutu layanan kemanusiaan. Ada label moral, label etika. 

Contohnya, ketika di pemotongan daging halal, banyak orang Korea yang tertarik mempelajarinya dan mereka surprised. Karena di pemotongan hewan halal, salah satu syaratnya pisaunya itu harus tajam. Kenapa? Supaya saat dipotong, binatang gak kesakitan, langsung mati. Ini kan ada etika kehewanan. Berarti kita menghormati hewannya, biar gak merasa kesakitan. Ada jaminan mutu bahwa industrinya sangat berkeperikehewanan-lah.

Jadi, konsepnya bisa diadopsi secara universal?

Yes. Label Halal food, misalnya. Disitu ada konsep kebersihan, hygiene. Saat memakai label halal ada aturan-aturan yang harus dipenuhi sebagai jaminan mutu. Jadilah mereka berbondong-bondong untuk mengadopsi dan mengambilnya.

 Ada juga yang berpendapat, ‘kan saya udah Islam, gak perlu label-label halal lagi.’ 

Benar, tidak ada yang mengharuskan kita mendapat label Halal. Tapi, di industri modern dimana banyak penyimpangan informasi, banyak oknum nakal, maka label halal itu menjadi penting. Tujuannya untuk mendiferensiasi mana player yang bener-bener serius dan mana yang melihat ini sebagai normal-normal saja.

Kalau saran saya sih, misalnya kita menerapkan wajib label halal itu ke perusahaan-perusahaan yang non-muslim. Karena kalau yang muslim, dia sudah otomatis menerapkan aturan karena itu kan hubungan dia dengan Tuhan. Dia takut kalau mau  berbohong. Kira-kira begitu. 

Mengapa memilih fintech syariah?

Kalau saya ditanya kenapa masuk ke industri syariah padahal market share-nya [di perbankan saja] hanya 5%. Karena saya tidak hanya berpikir Indonesia. Biarin aja perbankan syariah 5%, karena market saya global halal industry. 

Pada akhirnya fintech itu harus melayanin services dari hulu ke hilir. Jadi kita bukan [mengincar] market nya perbankan, tapi kita bicara halal industi. Halal Finance itu cuma bagian kecil dari halal industry. 

Kita bicara kosmetik seperti Wardah, itu bisnis triliunan. Belum lagi dunia fashion. Coba aja lihat hijab market place seperti Hijabers, itu kan fashion juga marketnya triliunan

Apakah Termasuk hotel… ?

Iya. Jadi, kalau kita bicara halal industry itu [bisnis] triliunan dollar industry. Artinya, market share-nya sangat besar. Kalau kita menyempitkan diri di market share perbankan syariah ya jadi bank aja sih. Jangan jadi fintech. 

 

 

 

Masjid di UEA Akan Dibuka Kembali Untuk Salat Jumat Mulai 4 Desember 2020

this formate

ABU DHABI, bisniswisata.co.id:  Masjid di seluruh Uni Emirat Arab ( UEA ) akan dibuka kembali untuk sholat Jumat, mulai dari 4 Desember, 2020. Sementara secara ketat mengikuti tindakan pencegahan COVID-19, diumumkan pada hari Selasa.

Dilansir dari Gulf News, Membuat pengumuman selama briefing media yang diadakan oleh Pemerintah UEA untuk menguraikan perkembangan terbaru sehubungan dengan penanggulangan pandemi virus corona.

Dr Saif Al Dhaheri, Juru Bicara National Emergency Crisis and Disasters Management Authority (NCEMA), mengatakan bahwa masjid akan dibuka kembali untuk jamaah 30 menit sebelum shalat Jumat dan akan tutup 30 menit kemudian.

“Khotbah Jumat bersama dengan doa tidak boleh lebih dari 10 menit; Pekerja dan relawan masjid akan mengatur keluar masuknya jamaah, ”kata Al Dhaheri, seraya menambahkan bahwa semua jamaah harus memakai masker dan membawa sajadah sendiri, yang tidak boleh ditinggalkan di dalam masjid atau dibagikan dengan orang lain.

“Orang-orang juga harus menghindari menyentuh permukaan dan gagang pintu. Mereka harus mematuhi dan mempertahankan rambu-rambu jarak yang jelas untuk menghindari kemungkinan terjadinya keramaian, ”katanya lebih lanjut.

“Para jamaah yang ingin membaca Alquran disarankan untuk melakukannya melalui Alquran pribadi atau ponsel pintar mereka. Mereka juga disarankan mengunduh aplikasi terkait COVID-19 dan mengaktifkannya saat beribadah, ”tegas Al Dhaheri.

“Wudhu harus dilakukan di rumah dan warga lanjut usia, anak-anak dan mereka yang menderita penyakit kronis atau penyakit pernafasan dan mereka yang menderita kekebalan tubuh yang lemah harus melaksanakan shalat di rumah, berdasarkan fatwa dari Dewan Fatwa UEA,” katanya.

Ia menyatakan bahwa tempat wudhu, toilet dan tempat sholat wanita akan tetap ditutup, menambahkan “Kami mengumumkan perubahan waktu sholat 15 menit sebelum azan, dan 10 menit. setelah sholat, kecuali sholat Maghrib, yang akan disebut 5 menit. sebelum azan, ”.

Dia menjelaskan bahwa larangan membagikan makanan dan air akan tetap berlaku, menambahkan bahwa masjid dan gereja di kawasan industri juga akan terus ditutup.

Lebih banyak tes COVID-19 dilakukan

Juga berbicara selama briefing adalah Dr Omar Al Hammadi, Juru Bicara Resmi Pemerintah UEA. Al Hammadi mengungkapkan, total 791.519 tes COVID-19 dilakukan secara nasional mulai 18-24 November, dengan jumlah kasus yang dikonfirmasi meningkat 2 persen mencapai 8.556.

“Angka kematian minggu ini adalah 0,3 persen, terendah sejak dimulainya pandemi dan terendah secara global dibandingkan dengan kawasan Uni Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara dan negara-negara Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Kata Al Hammadi.

“UEA telah mengikuti strategi dan kebijakan serta mempelopori prakarsa penting dalam menjaga kehidupan dan kesehatan manusia. Ini termasuk memperluas tes untuk menjangkau sekitar 16 juta orang.

Pemerintah  mengalokasikan sejumlah besar pusat kesehatan, rumah sakit lapangan dan pusat pengujian kendaraan, dan mendukung stok obat-obatan yang strategis, tuturnya.

“Sektor kesehatan kami telah mengadopsi teknik modern untuk deteksi, investigasi dan pengobatan, termasuk menggunakan tes laser dan mendirikan laboratorium terbesar di dunia di luar China.

Laboratorium ini mendukung pengobatan sel punca dan berpartisipasi dalam uji klinis dari vaksin yang menjanjikan yang telah mencapai tahap terakhir dan membuktikan keefektifannya.

“Ada banyak upaya kemanusiaan dan komunitas yang terkemuka dari para pahlawan garis depan kami yang pantas mendapatkan ucapan terima kasih dan penghargaan, yang merupakan salah satu alasan terpenting bagi keberhasilan UEA dan menjadikannya model bagi negara lain, ”tegasnya.

Berbicara tentang pembukaan kembali masjid, Al Hammadi mengatakan Masjid akan dibuka kembali untuk sholat Jumat mulai dari 4 Desember. Ini adalah langkah luar biasa yang dicapai studi menyeluruh yang dilakukan oleh institusi UEA untuk melanjutkan aktivitas keagamaan di tempat-tempat ibadah, ”.

Dia menjelaskan bahwa Dewan Fatwa UEA mengeluarkan fatwa yang mencakup kewajiban bagi semua kelompok masyarakat untuk sepenuhnya mematuhi instruksi kesehatan dan keselamatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid19. Ini tidak diizinkan untuk melanggar ini dengan cara apa pun.

“Sementara dunia menghadapi peningkatan jumlah kasus, UEA telah menunjukkan kemampuannya untuk secara tepat merencanakan pemulihan dan kemunculan bertahap dari krisis dan kembali ke kehidupan normal sambil tetap mematuhi prosedur dan protokol nasional yang relevan,” tegasnya. .

“Bidang ibadah dan agama telah melakukan sejumlah langkah pencegahan dengan tujuan untuk menekan angka perkara, dengan kewajiban memberikan pemeriksaan berkala bagi para pekerjanya,” lanjutnya.

“Kami juga menghargai komitmen yang ditunjukkan oleh para penyembah selama periode sebelumnya, yang berkontribusi untuk mencapai tahap kembalinya kehidupan normal secara bertahap,” kata Al Hammadi.

Tindakan dan keputusan ini akan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa sehingga pesannya menjangkau semua lapisan masyarakat. Kerja sama setiap orang akan membantu kami membatasi penyebaran virus, dengan menyampaikan pesan ini kepada orang lain dan mengklarifikasi langkah-langkah pencegahan saat pergi ke masjid dan tempat ibadah,  tambah Al Hammadi.

“Pembukaan kembali masjid membutuhkan komitmen dari semua pihak, dan kami menekankan kelanjutan sterilisasi berkala di samping kehadiran relawan untuk memberikan dukungan dan bimbingan bagi mereka yang tidak menganut tindakan preventif. Selain itu, tanggung jawab pribadi akan berkontribusi untuk membatasi penyebaran Covid19 dan memastikan kesehatan dan keselamatan Anda.

Tata cara masjid untuk menerima jamaah termasuk pengurangan kapasitas hingga 30 persen, memperbolehkan salat di halaman luar dan menyiarkan salat melalui pengeras suara, jarak aman yang dijaga dua meter antara jamaah dan pergerakan masuk dan keluar diatur, ”tegas Al Hammadi.

 

Mongolian BBQ, Cita Rasa Indonesia

this formate

BALI, bisniswisata.co.id:  “Basicnya benar,  ditumis. Tetapi skala besar dan bukan dengan gridle (mesin gril ) menggunakan pan gril , bumbu dicampur dengan sauce berbahan dasar gravy dan coriander leave . Selain sayuran yang khas adalah paprica dan onion, “ papar Chef I Komang (Mangku) Junianta, kepada bisniswisata.co.id

Pada malam Mongolian BBQ weekend ini – Jumat dan Sabtu malam (27,28 Nov) – chef lulusan P4B ( Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali dan mengawali training di hotel Rama Baruna, menyiapkan pilihan BBQ berbahan daging ayam, seafood, beef yang diolah dengan teknik Mongolian atau teknik masak Amerika Latin.

“Berteman nasi aromatic. Aslinya Mongolian BBQ berteman kentang direbus,  di saute dengan garlic dan daun coriander . Saya menghormati selera Indonesia, tanpa mengurangi rasa tradisional Mongolian BBQ yaitu khas asem manis pedesnya,” jelas head chef Darmada Ecco Resort ini lebih jauh.

Mengisi program sosial Stars Chef Series on the Road  bertempat di outlet Bakmie MG di bilangan jalan Dewi Sri Seminyak, Kuta, bagi Chef Mangku tak sekadar membangkitkan spirit sesama pelaku industri.

“Bagi saya,  ini pengenalan masakan untuk masyarakat kita  secara pribadi dan membantu sesama,”ujarnya.

Jika selama ini Anda menikmati steak yang dipanggang, tidak ada salahnya mencoba cita rasa  steak yang dagingnya di iris tipis- tipis diolah dengan teknik di pan grill dengan sauce pedas manis, asin. Chef Mangku menawarkan olahan olahan  teknik fussion (campuran /modern texnik ) menggunakan sauce Eropa dan tambahan seafood  tanpa meninggalkan cita rasa tradisionalnya Mongolian BBQ yang bisa diterima lidah Indonesia.

Langkah Maju untuk Menguji Pembukaan Kembali Perbatasan Tanpa Karantina

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyambut baik penerbitan Manual tentang Pengujian dan Tindakan Manajemen Risiko Lintas Batas oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). 

Dokumen ini memberi pemerintah alat penilaian berbasis risiko untuk menggunakan program pengujian yang dapat mengurangi persyaratan karantina.

Dilansir dari IATA.org, ini adalah keluaran penting yang dihasilkan oleh ICAO untuk Coordinating Council of Aerospace Industries Associations          ( CAPSCA) yang menyatukan keahlian negara bagian, otoritas kesehatan masyarakat (Organisasi Kesehatan Dunia / WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa) dan pakar industri (IATA, Airports Council International, International Coordinating Council of Aerospace Industries Associations).

Kemajuan yang menggembirakan ini mengikuti komentar terbaru dari Ketua Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional WHO, Dr. Didier Houssin, yang meramalkan peran pengujian sebagai sarana membuka kembali perjalanan internasional tanpa tindakan karantina. 

Menyusul pertemuan Komite Darurat WHO pada 30 Oktober 2020, ia mengatakan, “yang jelas penggunaan alat tes sekarang seharusnya mendapat tempat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan karantina, misalnya, yang tentunya akan mempermudah hal mengingat segala upaya yang telah dilakukan. dibuat oleh maskapai penerbangan dan bandara. “

Menurut dia momentum sedang dibangun untuk mendukung seruan kami untuk pengujian sistematis untuk membuka kembali perbatasan dengan aman tanpa tindakan karantina. ICAO, bekerja dengan otoritas kesehatan dan industri, telah menghasilkan kerangka kerja tingkat tinggi. 

Otoritas kesehatan mulai mengeksplorasi bagaimana pengujian dapat menggantikan karantina untuk menghentikan penyebaran virus lintas batas. Mendorong hasil dari program uji coba uji coba sekarang seharusnya memberi negara bagian kepercayaan diri untuk bergerak maju dengan cepat, “kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Pengujian — Khasiat dan Performa

Program percontohan untuk pengujian COVID-19 para pelancong mulai memberikan hasil yang menggembirakan yang membuktikan keampuhannya.

Sebuah studi tentang penumpang yang tiba di Toronto menguji penumpang tiga kali: pada saat kedatangan, pada hari ke-7 dan pada hari ke-14. Satu persen penumpang dinyatakan positif selama periode tersebut, dengan 70% terdeteksi dengan tes pertama.

 Dengan kata lain, hasil studi tersebut dapat menunjukkan potensi sekitar 60 dari setiap 20.000 pelancong untuk tidak terdeteksi pada saat kedatangan, yang secara signifikan lebih rendah daripada prevalensi yang mendasari di Kanada.

Program pengujian 

Pra-keberangkatan untuk rute Milan / Linate-Roma / Fiumicino mendeteksi sekitar 0,8% penumpang dengan COVID-19. Karena tingkat kejadian ini jauh lebih tinggi daripada prevalensi COVID-19 yang dilaporkan di Italia pada saat itu, tampaknya pengujian tidak hanya sangat efektif dalam mengidentifikasi pelancong yang terinfeksi, tetapi pengujian sistematis adalah cara terbaik untuk mendeteksi kasus asimtomatik dan untuk memutus rantai transmisi.

Sebuah studi Eropa yang akan segera diterbitkan bahkan lebih optimis. Ini memodelkan skenario untuk mekanisme pengujian yang sangat efektif. 

Dalam skenario prevalensi rendah, terdapat potensi untuk melihat jumlah kasus positif yang tidak terdeteksi sedikitnya 5 per 20.000 pelancong, meningkat menjadi 25 dalam situasi prevalensi tinggi. Tingkat kejadian ini masih jauh lebih rendah daripada prevalensi COVID-19 yang mendasari di Eropa.

IATA memodelkan hasil pengujian untuk mengukur risiko yang akan tetap ada jika pengujian pra-keberangkatan sistematis diterapkan. Dengan asumsi bahwa pengujian mengidentifikasi 75% pelancong dengan benar yang memiliki COVID-19 (efektivitas tes) dari populasi sumber dengan prevalensi 0,8% dari populasi (misalnya, mirip dengan Chili), risikonya adalah 0,06% penumpang akan terkena penyakit dan tidak terdeteksi. Itu berarti 12 kasus positif yang tidak terdeteksi untuk setiap 20.000 penumpang yang tiba.

Semua studi ini mengarah pada pengujian sebagai cara yang efisien untuk membatasi penyebaran COVID-19 melalui perjalanan udara. “Data menunjukkan bahwa pengujian sistematis dapat mengurangi risiko impor COVID-19 melalui perjalanan ke tingkat yang sangat rendah — bukan nol, tetapi sangat rendah. 

Tentu saja dalam banyak kasus, hal itu akan mengurangi risiko ke tingkat yang berarti bahwa penumpang yang datang cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi daripada penduduk lokal dan oleh karena itu tidak menambah prevalensi COVID-19 secara berarti di banyak tempat. 

“Efisiensi akan meningkat. Kemajuan teknologi terjadi setiap hari yang akan meningkatkan kinerja pengujian, ”kata de Juniac.

IATA mendorong kecepatan dan fokus pada manajemen risiko. “Pola pikir kami harus difokuskan pada pengelolaan risiko virus sambil menjaga kesejahteraan populasi secara keseluruhan. 

Itu akan menjadi perubahan dari kebijakan pemerintah saat ini yang sepenuhnya berfokus pada penghapusan risiko sampai vaksin tersedia dan dengan biaya berapa pun bagi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat. Bahkan dengan berita menggembirakan baru-baru ini, masih akan memasuki tahun 2021 sebelum kita dapat mengharapkan vaksinasi skala besar. 

Sementara itu, mengingkari kebebasan mobilitas orang akan merusak pekerjaan dan cara hidup kita yang tidak dapat diperbaiki. Strategi dengan pengujian berbasis risiko menawarkan jalur yang dapat dengan aman memfasilitasi kebangkitan ekonomi yang mendapat manfaat dari imbalan dunia yang terhubung kembali. 

Pemerintah selanjutnya dapat mengurangi risiko dengan berinvestasi dalam pelacakan kontak yang efektif dan program pemantauan kesehatan untuk segera mengisolasi potensi penularan komunitas. 

Dan bahkan mungkin ada manfaat untuk mengendalikan penyakit dengan pengujian skala besar terhadap pelancong yang tidak menunjukkan gejala, kata de Juniac.

Kemajuan signifikan dalam teknologi pengujian akan membantu pemerintah menerapkan pengujian untuk pelancong tanpa mengorbankan ketersediaan pengujian yang terkait langsung dengan sektor perawatan kesehatan, khususnya pengujian polymerase chain reaction (PCR). 

Agar pengujian dapat dimasukkan ke dalam proses perjalanan, pengujian harus cepat, akurat, terukur, mudah digunakan, dan terjangkau. Meskipun IATA tidak merekomendasikan jenis pengujian tertentu, akurasi yang dilaporkan laboratorium untuk uji antigen cepat (RAT) memenuhi kriteria yang disebutkan di atas. Studi Oxford / Public Health England menunjukkan 99,6% spesifisitas bersama dengan sensitivitas yang sangat tinggi untuk RAT.

Kepraktisan

Pengujian didukung oleh para pelancong. Sebuah survei IATA mengungkapkan bahwa 83% orang tidak akan bepergian jika diperlukan karantina. Itu juga menunjukkan bahwa sekitar 88% pelancong akan bersedia diuji jika memungkinkan perjalanan.

Survei yang sama juga ungkapkan bahwa 65% percaya bahwa karantina seharusnya tidak diperlukan jika seseorang dinyatakan negatif COVID-19. “Opini publik mendukung pengujian COVID-19. Mereka melihatnya sebagai pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan karantina yang membunuh perjalanan. Dan mereka merasa nyaman bahwa jika Anda dites dan ditemukan negatif, Anda tidak perlu dikarantina, ”kata de Juniac.

Standar global diperlukan untuk mengubah banyak pilot penguji dan strategi travel bubble (gelembung) menjadi dimulainya kembali penerbangan internasional secara global. 

Untuk mendukung IATA ini berkembang dibutuhkan; 

-Panduan implementasi praktis untuk Manual Pengujian dan Tindakan Manajemen Risiko Lintas Batas

-IATA Travel Pass untuk mengelola sertifikasi uji COVID-19, salah satu dari beberapa solusi yang sedang dikembangkan untuk membantu mengelola sertifikasi pengujian. IATA menyambut baik evolusi pasar yang kompetitif untuk solusi yang harus hemat biaya, global, akurat dan dapat dioperasikan.

Kecepatan

IATA mendesak tindakan cepat oleh pemerintah yang bekerja dengan industri untuk menerapkan pendekatan yang diselaraskan dan sistematis secara global untuk pengujian COVID-19 dalam proses perjalanan.

Perjalanan pada dasarnya tetap terkunci. Setiap hari situasi ini berkepanjangan menempatkan lebih banyak pekerjaan pada risiko dan membuat jalan menuju pemulihan jauh lebih sulit.

Penerapan sistem pengujian sistematis yang diselaraskan secara global untuk perjalanan internasional akan melengkapi langkah-langkah yang telah ditetapkan dengan baik untuk menjaga keselamatan para pelancong. 

Pada bulan Juni, ICAO menerbitkan Take-off: Guidance for Air Travel through the COVID-19 Public Health Crisis yang meminta pemerintah untuk menerapkan pendekatan berlapis-lapis terhadap tindakan sanitasi selama proses perjalanan. 

Memakai masker merupakan kunci utama persyaratan lepas landas dengan konsensus yang kuat di antara studi perjalanan udara dan COVID-19 yang baru-baru ini diterbitkan yang menunjukkan risiko penularan dalam penerbangan yang sangat rendah (Harvard, TRANSCOM).

“Keselamatan adalah inti dari penerbangan. Krisis ini hanya memperkuat komitmen itu. Ada upaya yang menginspirasi dari pemerintah, otoritas kesehatan masyarakat, dan entitas penerbangan untuk memastikan operasi yang aman bahkan selama pandemi ini,”

Pedoman Lepas landas ICAO adalah langkah-langkah praktis untuk memberikan lingkungan kesehatan masyarakat yang aman dari check-in hingga kedatangan. Dan banyaknya kemajuan dalam pengujian, termasuk pedoman ICAO, adalah yang dibutuhkan untuk membuka perbatasan sekaligus meminimalkan risiko impor COVID-19, ”kata de Juniac.

Petualangan Audur Linda, Bule Islandia Yang Jadi Rockstar di Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: “Saya cinta orang Indonesia dan makanannya” begitu kata Audur Linda, seorang pelancong asal Islandia yang sudah sudah tinggal di Indonesia selama setahun belakang.

Wanita yang akrab dipanggil Linda ini mulanya bekerja sebagai seorang mekanik di salah satu perusahaan otomotif di Islandia sebelum memutuskan untuk mengambil cuti selama 4 bulan dan bertamasya bersama seorang teman. 

 

Mereka pertama kali datang ke Indonesia dua tahun yang lalu sekitar tahun 2018 saat ia dan temannya bertamasya keliling Asia dan Oceania mulai dari Dubai, Jepang, Hongkong, Thailand, Malaysia, Bali, Australia, New Zealand sampai Fiji dan Hawaii.

Namun, Linda langsung jatuh cinta pada budaya dan makanan Indonesia saat ia menjejakan kakinya di Bali. “Setelah bertamasya ke 6 negara sekaligus, keluar dari pesawat di Bali terasa luar biasa!” kata Linda.

Bermula di Seminyak, perjalanan mereka di Bali pada awalnya sangat monoton dan menyerap tenaga. Bayangkan saja terjebak hanya bersama satu orang selama itu, mereka mulai merasa homesick.

Linda merindukan pekerjaannya dan teman Linda merindukan kekasihnya yang ditinggal di Islandia. Ditambah lagi, pada saat itu perlakuan orang-orang di Seminyak kepada mereka bukanlah yang terbaik. Banyak laki-laki yang bersikap kurang sopan dan kerap ‘cat-calling’ mereka.

Namun, perjalanan mereka mulai membaik saat mereka berkunjung ke Ubud dan beberapa tempat lainnya. Tinggal di sebuah homestay murah dengan pemandangan nan indah serta bertamasya ke ‘monkey forest’ berhasil memutarbalikkan mood mereka.

Ditambah lagi dengan petualangan-petualangan lainnya seperti berkunjung ke air terjun tersembunyi, menaiki motocross melewati hutan rimba, berkemah di Danau Tamblingan serta Gunung Batur, dan sebagainya.

Foto-foto Linda saat bertamasya di Bali (1).

Setelah Bali, ia melanjutkan perjalanan ke negara-negara di Oceania sebelum kembali ke Islandia dan memutuskan untuk pindah ke perusahaan otomotif yang lebih besar yang merupakan impiannya sejak lama. Sebuah hal yang sulit dilakukan bagi seorang wanita dalam dunia pekerjaan yang didominasi oleh pria. 

Linda bahkan dipaksa untuk bekerja dibalik meja sebelum ia pindah ke perusahaan otomotif yang lebih besar walaupun keinginan terbesar dia pada saat itu adalah bekerja sebagai mekanik.

Maka dapat dibayangkan rasa senangnya saat mendapatkan pekerjaan sebagai mekanik dalam perusahaan besar dengan gaji yang tentunya semakin besar. Ia pun bekerja keras dan berusaha membuktikan keterampilannya selama enam bulan lamanya untuk mengumpulkan uang dan kembali bertamasya ke Bali. 

Linda saat bekerja sebagak mekanik di Islandia.

Rencana awal adalah untuk pergi ke Bali selama 6 bulan dan kembali bekerja di Islandia. Bahkan perusahaan tempat Linda bekerja berjanji untuk mempertahankan posisinya di perusahaan.

Namun, kecintaan Linda terhadap budaya Indonesia bertumbuh semakin besar hingga membuatnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalnya di Bali dan meninggalkan pekerjaan impiannya.

Linda kembali pulang ke Islandia pada Januari 2020 untuk menjual segala harta benda miliknya. Mulai dari mobil, motocross, peralatan mekanik, hingga pakaian untuk memulai kehidupan baru di Bali. Usaha dan pengorbanan besar tersebut berbuah hasil dan ia pun kembali terbang seorang diri ke Bali satu bulan setelahnya.

Foto-foto Linda saat bertamasya di Bali (2).

Temannya berjanji untuk menyusul Linda beberapa saat kemudian. Namun, menyebarnya pandemi COVID-19 membuat negara-negara di dunia menutup perbatasannya masing-masing dan Linda pun terdampar seorang diri di Bali.

Hal ini tidak membuat Linda patah arang, ia tetap berkelana seorang diri di Bali dan bertemu teman-teman baru. Tak hanya itu, Linda ternyata menemukan ‘keluarga’ baru saat dia berkumpul dengan beberapa teman barunya di ‘Lovin Bar & Restaurant’. Sebuah bar yang menyumbangkan keuntungannya untuk membantu anak-anak kurang beruntung di bawah naungan Ginantri Foundation.

Linda bersama teman-temannya dari Lovin Bar & Restaurant.

Di tempat ini juga ia bertemu dengan banyak teman-teman baru dan juga diperkenalkan kepada makanan-makanan khas Indonesia seperti Nasi Goreng, Nasi Padang, Martabak, Sambal, dan lain sebagainya.

Linda juga bertemu dengan Chantika dan Regi, pasangan musisi yang mengizinkan Linda untuk tinggal beberapa saat di tempat tinggal mereka dan mengajarkan Linda soal musik dan cara bermain gitar. 

Linda beraksi diatas panggung bersama The Hydrant, band asal Bali (Foto atas dan bawah), Linda tampil bersama Andre Siksakubur dan Bayu Randu (Foto tengah).

Berkumpul dengan komunitas musisi membuat Linda mulai jatuh hati dengan musik dan berambisi menjadi musisi. Beruntung baginya saat bertemu dengan Dyka dan Bayu Randu, pasangan promotor musik dari musicblast.id. Linda mulai mengikuti mereka bertemu dengan sesama musisi ke acara-acara musik sambil membuat konten video untuk YouTube. 

Pada saat artikel ini di tulis, Linda tinggal bersama Dyka dan Bayu di Jakarta sambil belajar banyak mengenai musik. ia pun berencana untuk meluncurkan sebuah lagu bergenre rockpop yang kemungkinan akan diluncurkan pada akhir tahun 2020.

Whisnutama: Akselerasi, Reaktivasi dan Pemulihan Parekraf Untuk Quality Tourism

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Akselerasi, Reaktivasi dan Pemulihan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi tema bahasan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020 di Bali, 26-27 November 2020.

“Wajah pariwisata di masa depan tidak akan sama lagi. Pandemi COVID-19 telah merubah paradigma masyarakat di berbagai sektor sehingga kesehatan, keamanan, keselamatan menjadi sangat penting dalam memilih tujuan wisata,” kata Menparekraf/ Ketua Baparekraf Whisnutama Kusubandio.

Menurut Whisnutama yang akrab disapa Mas Mentri, setelah pandemi pariwisata Indonesia harus lebih bagus untuk itu kita harus melakukan Restrategi. Sebelum COVID-19, Kemenparekraf sudah shifting dari quantity tourism menjadi quality tourism.

” Untuk quality tourism ini butuh sinergitas dan dukungan dari semua stakesholder contohnya dalam membangun konektivitas yang bisa memudahkan akses dari bandara ke destinasi wisata ” katanya.

Rakornas dilangsungkan untuk konsolidasikan stakeholder, kementerian/lembaga, serta pelaku parekraf dalam mempercepat atau mengakselerasi pemulihan sektor parekraf.

Dia berharap pertemuan yang dihadiri 150 peserta offline dan 500 peserta online ini dapat menjadi wadah koordinasi dan sinkronisasi strategi, program, serta kegiatan seluruh stakeholders.

“Kita juga akan melakukan perjanjian kerja sama dengan sejumlah kementerian/lembaga dalam upaya mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ucapnya.

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani menjelaskan, program reaktivasi dan pemulihan akan dilakukan melalui berbagai langkah.

Pertama, mempersiapkan destinasi wisata, membangun infrastruktur konektivitas yang kompetitif dengan negara-negara lain, serta implementasi dan monitoring penerapan protokol CHSE (clean, health, safety, environmental sustainability) di daerah.

Kedua, menciptakan dan membangun daya tarik wisata, meningkatkan kualitas SDM parekraf, serta meningkatkan kuantitas dan kualitas produk ekonomi kreatif.

Ketiga, mendorong kolaborasi dan dukungan pemerintah daerah serta stakeholders, baik melalui program InDonesia Care (I Do Care), bantuan insentif atau stimulus pariwisata, serta program pengembangan kapasitas.

“Diperlukan sinergi model bisnis dengan kementerian/lembaga serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mencapai reaktivasi dan pemulihan sektor parekraf,” 

Rakornas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020 digelar secara hybrid (online dan offline) dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, dan seluruh peserta yang hadir diwajibkan menjalani rapid test antigen sebelum pelaksanaan acara.

Rakornas ini juga diikuti sejumlah menteri di antaranya Menteri PPN/Kepala Bappenas, Wakil Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan, Menteri Perhubungan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri BUMN, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wakil Gubernur Bali, sejumlah Kepala Daerah, serta perwakilan industri dan asosiasi.

Mandiri Institute: PSBB Jilid II Berdampak pada Turunnya Angka Kunjungan ke Restoran di Jakarta

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mandiri Institute melaporkan, terjadi penurunan kunjungan masyarakat ke restoran di wilayah DKI Jakarta pada periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid II.

Lembaga riset Bank Mandiri ini menyebutkan kunjungan ke restoran pada Oktober 2020 hanya mencapai 44 persen.

“Angka kunjungan ke restoran di Jakarta turun dari 54 persen pada September menjadi 44 persen pada Oktober,” tulis riset yang yang diterima bisniswisata.co.id.

Bukan hanya di Jakarta, sejumlah kota besar lain pun menunjukkan tren serupa. Secara keseluruhan kunjungan ke restoran hanya mencapai 47% dari normal. 

Data ini diperoleh dari hasil pelacakan kunjungan pada 9-17 Oktober dengan metode ‘live tracking’ dan dengan mengumpulkan data dari 7.217 lokasi toko dan 9.362 restoran di 8 kota besar. Sedangkan angka kunjungan ke ritel dan restoran didapatkan melalui “live-visit data” yang terdapat pada Google Maps. 

 “Kunjungan ke restoran sangat sensitive terhadap informasi mengenai penyebaran COVID-19 dan kebijakan PSBB,” demikian menurut riset.

Di Kota Bogor misalnya, ketika Pemkot Bogor memutuskan untuk mengakhiri aturan PSBMK (Pembatasan sosial berskala mikro dan komunitas) pada 14 September, angka kunjungan ke restoran naik sedikit menjadi 51% dari 40%. 

Angka ini lebih baik ketimbang saat Kota Bogor memberlakukan kebijakan PSBB Proporsional (PSBB Transisi) di bulan Juli. Saat itu angka kunjungan ke restoran turun, hanya berkisar antara 20-50 persen.

Hasil riste juga menunjukkan bahwa kunjungan masyarakat ke restoran di kawasan wisata, angkanya lebih tinggi. Pada Oktober 2020, angka kunjungan sudah banyak yang mencapai di atas 80 persen atau lebih. Di pusat Kota Bogor, sudah berkisar antara 50-80%

Ada lima kategori restoran yang dijadikan sebagai data riset, yaitu restoran general (umum), local (makanan lokal), speciality (menu spesial), fast food (makanan siap saji), dan other (jenis restoran lainnya).

Menurut riset, restoran cepat saji ternyata pulih lebih cepat. “Sejak Juli selalu mendominasi angka kunjungan dibandingkan tempat lain.”

“Pada awal September angka kunjungan ke restoran cepat saji mencapai 62 persen” tulis riset Mandiri Institute. Sementara kunjungan ke kategori restoran lain pada periode yang sama (9-13 September 2020) lebih rendah, misalnya general 55 persen, local 53 persen, specialty 53 persen, dan other 52 persen.

Namun, jumlah kunjungan tersebut menurun tajam setelah pemberlakuan PSBB jilid II. Kunjungan ke restoran fast food turun dari 62 persen menjadi 50 persen. Sementara itu, kunjungan ke kategori restoran lain berkisar di angka 45 persen-48 persen.

 

Jelang Natal, Kue Cokelat Sinterklas pun Bermasker

this formate

Kue cokelat Sinterklas bermasker banyak diminati (foto: reuters)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 masih meluas, aturan pembatasan di berbagai negara pun belum dicabut. Perayaan Natal dan Tahun Baru sudah pasti tidak akan semarak tahun-tahun sebelum era pandemi. Namun, selalu ada cara untuk merayakannya.   

Pembuat kue dan cokelat di Hongaria, misalnya, memutuskan untuk memasang masker pada kue cokelat Sinterklas buatannya. Tujuannya sederhana, ia ingin agar kue itu menjadi semacam lelucon ringan dan penyemangat dalam menyambut Natal di tengah pandemi.  

Ide sederhana itu ternyata mendapat respons positif pelanggannya. Terbukti, penjualan kue cokelat sinterklas bermasker meningkat dan itu mendongkrak usahanya. Banyak pesanan datang melalui online. Dirinya bahkan mengaku hampir tidak dapat mengimbangi permintaan. 

“Saya pikir saat [nanti] Santa datang, dia harus memakai masker. Kan dia harus menunjukkan contoh yang baik kepada semua orang,” kata Rimoczi kepada Reuters saat ditemui sedang duduk di bengkelnya di halaman belakang rumah di desa Lajosmizse, sekitar 70 kilometer selatan Budapest.

Untuk memenuhi pesanan, ia harus menyederhanakan desain. Ia harus mengubah desain Sinterklas cokelatnya yang lebih besar, yang awalnya datang tanpa masker.

Topi Sinterklas gula-gulanya yang bercat merah dipasangkan masker yang terbuat dari potongan marzipan putih kecil; pita berlapiskan gula pun ditambahkan.

Saat ini Rimoczi memproduksi sekitar 100 Santa setiap harinya. Dia membuat kudapan menggunakan cokelat Italia bebas gluten.

“Mereka [kue Sinterlklas] sudah dibungkus, tetapi kini kami harus membukanya dan memberi mereka masker karena pelanggan kami sekarang hanya menginginkan Sinterklas bermasker,” ucapnya.

Bisnis Rimoczi – selain kue Sinterklas dia juga membuat camilan cokelat lain dan menjualnya di toko kecil di rumahnya –  merugi sejak pandemi melanda Maret lalu.

Meskipun Sinterklas bermasker memberikan dorongan pada bisnisnya, tetapi Rimoczi tidak berharap itu akan bertahan lama jika vaksin berhasil mengalahkan pandemi. 

“Saya yakin, tahun depan saya hanya akan menjual sebagian kecil saja karena Sinterklas tidak lagi harus memakai topeng,” ujarnya seraya tersenyum.