Belajarlah Membentuk Kebiasaan Baik dan Mendidik Lingkungan Keluarga.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Filsuf Yunani Aristoteles menulis bahwa “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali. Dengan demikian, kecemerlangan bukan tindakan, tetapi kebiasaan,”

Belajarlahlah untuk membentuk kebiasaan baik dan bukan terbentuk oleh kebiasaan.Itulah satu hal yang selalu ditanamkan pada Refiza Pandu (24) dilingkungan keluarganya untuk membentuk kebiasaan baik tentunya.

Ucapan filsuf Yunani yang bersama dengan Socrates dan Plato dianggap menjadi seorang di antara tiga filsuf yang paling berpengaruh di pemikiran Barat itu sederhana saja dan di era pandemi COVID-19 justru sangat sulit bagi kebanyakan orang dalam menerapkannya.

Coba simak kasus konfirmasi virus COVID-19 di Indonesia yang terus bergerak naik dan  telah memberikan kekhawatiran bagi banyak pihak, termasuk oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

Di wilayah DKI Jakarta, kasus Corona harian pecah rekor,  jumlah yang terpapar Sabtu 21 November capai 1579 orang. Tak heran masa PSBB Transisi Jakarta Diperpanjang hingga 6 Desember, diperpanjang selama 14 hari.

Perpanjangan PSBB transisi itu disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui siaran pers PPID DKI Jakarta, Minggu (22/11/2020). Dimulai terhitung Senin, 23 November sampai dengan 6 Desember 2020.

“Seperti diketahui bersama, Pemprov DKI Jakarta dapat menerapkan kebijakan rem darurat atau emergency brake policy apabila terjadi kenaikan kasus secara signifikan atau tingkat penularan yang mengkhawatirkan sehingga membahayakan pelayanan sistem kesehatan,” ujar Anies.

“Berdasarkan data-data epidemiologis selama penerapan PSBB Masa Transisi dua pekan terakhir, kondisi wabah COVID-19 DKI Jakarta masih terkendali dan menuju aman karena itu harus semakin waspada dan semakin disiplin dalam protokol kesehatan,” sambungnya.

Sulitnya bagi kebanyakan orang untuk menerapkan kebiasan baru wajib pakai masker terutama saat beraktivitas di luar rumah banyak dilanggar sehingga membuat keprihatinan yang mendalam bagi Refiza Pandu.

Dia prihatin ditengah pandemi global yang masih terus berlangsung dan menjalani sekian bulan nyaris setahun rutinitasnya hanya dirumah tapi kasus harian Corona di DKI Jakarta dan daerah lainnya malah mencapai rekor.

Padahal orang dewasa bekerja dari rumah dan popuoerlah istilah seperti work from home, begitu juga dengan para mahasiswa dan pelajar sekolah lainnya yang juga harus melakukan kegiatannya secara daring.

“Dari dulu saya memang terbiasa kemana-mana memakai masker bahkan sebelum pandemi, kerap memakai sarung tangan dan bepergian dengan motor maupun kendaraan pribadi,” ungkap Refiza Pandu.

Oleh karena itu ketika wabah datang secara tiba-tiba  mengubah cara hidup seseorang,  Refiza mudah beradaptasi dan menerapkan kebiasaan baru seperti sering mencuci tangan, segera mandi jika kembali ke rumah dan menerapkan protokol kesehatan lainnya meskipun di dalam rumah dilingkungan keluarga sendiri.

Saat ini, ujarnya, masyarakat memang lebih peduli kesehatan, tiap week-end dan ada Car Free Day  ( CFD) banyak yang giat melakukan olahraga, namun tak jarang ditengah aktivitas olahraga dan rekreasi seperti bersepeda, jalan santai, akhirnya diikuti kuliner, lalu lepas masker dan lupa memakainya kembali padahal ditengah kerumunan bahaya virus terus mengintai.

Beruntung bagi Refiza, keluarganya punya kebiasaan berkumpul di rumah sehingga ketika pandemi berlangsung selama delapan bulan terakhir, semua anggota keluarga betah berada dalam rumah mencegah penyebaran virus.

” Kalau keluarga lain merasa suntuk, tidak betah di dalam rumah seolah merasa terkurung, maka selama pandemi perasaan seperti itu tidak ada dalam keluarga kami. Merasa seperti biasa-  biasa saja makanya perubahan di era New Normal tidak begitu signifikan buat saya,” kata Refiza.

Dia juga mengaku selama pandemi bisa dihitung dengan jari berapa kali dia berkumpul dengan teman terutama komunitasnya  Karena terbiasa bersama keluarga tentu saat pandemic ini tetap memilih untuk hangout bareng pacar atau keluarga.

“Saudara-saudara saya pun juga tempat tinggalnya masih disekililing komplek, pergi pun juga bersama keluarga dibandingkan dengan teman atau tetangga, paling hanya bertegur sapa saja selayaknya hidup bertetangga pada umumnya,” jelasnya.

Tapi tentu pandemi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Walaupun dia dan keluarga tidak mengalami perubahan yang siginifikan tapi harus tahu protokol kesehatan dan mematuhinya.

Tidak merasakan perubahan bukan berarti lalai menjaga kebersihan dan mengikuti protokol kebersihan. Banyak orang yang sudah sering bepergian, berkumpul dimana-mana tapi tidak memperhatikan kebersihan dan kepentingan bersama.

Menurut dia, kebiasaan  ini yang salah. Jika memang sayang dengan keluarga maka seharusnya kita sadar kita sedang berada di masa pandemi yang sudah merenggut banyak nyawa. Jadi setelah bepergian sesegera mungkin mandi, membersihkan diri.

“Setidaknya kita tidak boleh cuek dengan pandemi ini, karena menyangkut kepentingan bersama, maka dari itu dengan menjaga diri kita sendiri  kita bisa menjaga orang-orang terdekat kita untuk tidak terinfeksi COVID-19,” tutup Refiza.

Bagaimana Agrowisata Bisa Menguntungkan Masyarakat Pedesaan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri pariwisata telah meningkat sejak tiga dekade terakhir. Pendorong utama tren ini adalah globalisasi, yang membuat perbatasan menjadi lebih keropos dan mengurangi hambatan dalam perjalanan domestik yang memudahkan pergerakan orang. 

Sejalan dengan itu, perjalanan udara, kereta api dan jalan raya juga menjadi lebih terjangkau, bahkan ketika pendapatan yang dapat disisihkan dari orang-orang di negara maju dan berkembang adalah mendorong mereka untuk bepergian sebagai moda rekreasi. 

Faktor-faktor ini telah membantu industri mencatat tingkat pertumbuhan kuat yang telah bertahan meskipun terjadi beberapa krisis ekonomi global dan lokal dalam beberapa periode waktu.

Namun, industri juga menghadapi tantangan akibat kelelahan konsumen. Sebagian besar wisatawan tidak lagi puas dengan jalan-jalan dan menikmati tempat-tempat wisata utama di kota-kota besar.

Hasilnya, jalan baru dan khusus untuk pariwisata telah dieksplorasi dan sebagian besar telah berkembang, yang mengarah pada diversifikasi dalam industri pariwisata.

Pariwisata pedesaan telah muncul sebagai ceruk yang dulu memberikan pengalaman unik bagi para pelancong, dan segmen yang paling dicari dalam ceruk ini adalah agrowisata.

Lebih jauh, agrowisata menguntungkan komunitas lokal dalam berbagai cara, yang menyebabkan negara berkembang mengadopsi agrowisata dengan penuh semangat dan berinvestasi besar-besaran dalam riset pasar agrowisata.

Dilansir dari Travel Daily News, Agrowisata berbeda dengan pariwisata pedesaan karena secara khusus menargetkan aspek pertanian dari tujuan wisata pedesaan, sedangkan pariwisata pedesaan mencakup aspek budaya dan sosial kehidupan pedesaan seperti seni, warisan, musik, dan masakan lokal dari desa atau wilayah tertentu. 

Hasilnya, pasar agrowisata telah mampu tumbuh menjadi pasar yang mandiri dan berkelanjutan yang bertumpu pada kekuatan industri agrowisata. 

Hal ini dimungkinkan karena pendapatan agrowisata dihasilkan secara terpisah meskipun terdapat saling ketergantungan yang kuat antara industri pedesaan dan agrowisata. 

Hal ini telah membantu ekonomi pedesaan dalam berbagai cara, yang menjadi sangat signifikan mengingat variabel-variabel yang menjadi sasaran ekonomi pedesaan; ini termasuk ketergantungan pada pola cuaca, faktor pasar yang mempengaruhi harga hasil pertanian, perubahan pola tanam yang tidak terduga karena perubahan iklim dan pemanasan global, dll.

Manfaat yang paling nyata dari beberapa manfaat agrowisata adalah dalam bentuk pendapatan agrowisata langsung, yang membantu petani tanaman dan hortikultura dengan memberikan tambahan sumber pendapatan. 

Pendapatan ini telah menjadi penting bagi masyarakat pedesaan yang telah berinvestasi dalam agrowisata dalam beberapa tahun terakhir karena telah membantu mereka melakukan perlindungan nilai terhadap pasar hasil pertanian tradisional, di mana mereka sering kali dipaksa untuk menjual produk mereka dengan harga yang ditentukan pasar yang tidak dapat mereka kendalikan. 

Selain itu, perusahaan agrowisata tertentu juga telah mampu muncul sebagai merek khusus yang kini bersaing dengan perusahaan pengolahan makanan yang sudah mapan. Perusahaan semacam itu memiliki keunggulan dalam hal kandungan bahan kimia yang berkurang dan produk mereka ramah lingkungan.

Manfaat Agrowisata

Manfaat agrowisata utama lainnya datang dalam bentuk penciptaan lapangan kerja lokal melalui perusahaan agrowisata dan menciptakan rantai pasokan yang tahan lama dalam masyarakat lokal. 

Pertanian adalah pekerjaan musiman dengan menabur dan memanen menjadi periode padat karya. Akibatnya, sebagian besar orang yang berkecimpung di bidang pertanian juga menjadi buruh migran di kota-kota besar.

Tren ini terutama berlaku untuk negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dalam banyak kasus, pendapatan yang diperoleh melalui status petani sebagai buruh migran telah menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat pedesaan. 

Namun, hal ini juga menyebabkan ketegangan infrastruktur dan sosial di banyak negara berkembang karena menampung semakin banyak pekerja migran menimbulkan banyak masalah. 

Akibatnya, lapangan kerja lokal yang dihasilkan dari agrowisata dapat bermanfaat bagi penduduk lokal serta negara pada umumnya dengan mengurangi pergeseran perkotaan.

Dengan kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir, pekerjaan pedesaan telah menjadi tantangan utama di beberapa negara karena kebutuhan tenaga kerja agraria per areal telah berkurang karena meningkatnya penggabungan mesin. 

Masalah ini akut di negara-negara berkembang yang mengalami pertumbuhan penduduk pedesaan yang konsisten. Solusi logis untuk masalah ini adalah pengembangan keterampilan dan pengalihan tenaga kerja.

Namun, hambatan utama untuk solusi ini adalah kurangnya akses ke pendidikan berkualitas. Keterbatasan ini tidak hanya dalam hal infrastruktur sekolah atau ketersediaan guru, tetapi juga muncul karena terbatasnya keterpaparan yang tersedia bagi anak-anak pedesaan.

Industri agrowisata memiliki potensi untuk meningkatkan skenario ini dalam kedua parameter ini, pertama dengan menyediakan bantuan finansial yang diperlukan untuk membangun infrastruktur pendidikan yang diperlukan dan meningkatkan kemampuan instruktur.

Ke dua dengan memberikan paparan langsung kepada anak-anak terhadap budaya, orang, dan sistem kepercayaan yang berbeda. dan cara hidup. Kemampuan industri agrowisata untuk meningkatkan kohesi sosial di komunitas pedesaan adalah manfaat tersembunyi lainnya. 

Hal ini karena telah dipahami dengan baik bahwa pendapatan agrowisata dapat sangat ditingkatkan ketika berbagai orang di desa atau komunitas bekerja sama dalam industri pariwisata pedesaan secara keseluruhan. 

Kecenderungan untuk menyatukan orang ini dapat membantu menjembatani perpecahan yang sering ditemukan dalam komunitas multi-etnis, multi-agama dan multi-budaya dan mengurangi permusuhan yang melekat. 

Selain itu, pemberdayaan perempuan juga merupakan bidang yang memetik keuntungan dari pariwisata pedesaan dan agrowisata karena perempuan seringkali menjadi garda depan dalam kegiatan pedesaan. 

Secara tradisional, perempuan tidak dapat menggunakan ini untuk keuntungan mereka karena ekonomi pedesaan bergantung pada interaksi masyarakat di luar desa mereka. Namun, dengan pergerakan ekonomi yang datang dari dalam desa, perempuan mendapat keuntungan bekerja dari zona nyamannya.

Kesimpulan: Perlu Perluasan agrowisata segera.

Manfaat agrowisata membuka beberapa pemandangan baru bagi masyarakat pedesaan. Industri agrowisata juga membantu negara-negara berkembang meningkatkan profil ekonomi daerah pedesaan yang secara tradisional bergantung pada pertanian saja dan karenanya bergantung pada elemen-elemen di luar kendali. 

Selain itu, hal ini juga membantu negara-negara ini mengendalikan tonjolan perkotaan yang menodai infrastruktur, selain meningkatkan kualitas pendidikan dan pada akhirnya membantu diversifikasi tenaga kerja. 

Sementara itu, dapat dikatakan hampir pasti bahwa pariwisata sebagai suatu industri akan tumbuh bersama dengan semua sub segmennya. Akibatnya, adopsi agrowisata yang berkembang oleh lebih banyak negara dan komunitas pedesaan tidak dapat dihindari.

 Selain itu, fragmentasi lebih lanjut dari industri agrowisata juga mungkin terjadi; Hal ini telah diamati dalam bentuk tren yang berkembang seperti agrowisata pertanian, di mana wisatawan mengunjungi perkebunan yang menanam anggur, rempah-rempah dan tanaman komersial lainnya, dan agrowisata peternakan, di mana hewan ternak menjadi daya tarik utama.

Bill Gates: 50% Perjalanan Bisnis Bakal Lenyap Usai Pandemi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pendiri Microsoft Bill Gates meramalkan lebih dari 50% perjalanan bisnis akan hilang setelah pandemi. Ia juga memperkirakan waktu kerja di kantor akan berkurang lebih dari 30%.

Menurutnya, pandemi telah mengubah secara fundamental cara orang bepergian dan menjalankan bisnis. Asumsi ini didasari pada fakta bahwa selama pandemi Internet telah menciptakan bermacam kemudahan sehingga memungkinkan manusia untuk tidak lagi bekerja di kantor.

“Prediksi saya adalah bahwa lebih dari 50% perjalanan bisnis dan lebih dari 30% hari kerja di kantor tidak akan terjadi lagi,” kata Gates, seperti dilansir The New York Times.

Ke depan, Gates memperkirakan bahwa akan ada “ambang batas yang sangat tinggi” untuk melakukan perjalanan bisnis. Saat ini saja bekerja dari rumah menjadi sesuatu yang lebih memungkinkan untuk dilakukan.

Beberapa perusahaan mungkin akan mengambil tindakan lebih ekstrim dari yang lain dalam upaya mengurangi jumlah pertemuan tatap muka, katanya. Melakukan perjalanan bisnis menjadi sesuatu yang langka karena ia akan memerlukan ‘standar emas’. Sebagian besar perusahaan akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh rencana itu.

Gates mengatakan dalam podcast terbaru yang bertajuk, “Bill Gates and Rashida Jones Ask Big Questions,” bahwa ia kini memiliki jadwal yang lebih sederhana karena pandemi karena tidak perlu lagi bepergian untuk urusan bisnis.

Prediksi ini juga diamini para ahli industri, yang memperkirakan bahwa kemungkinan akan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk kembali ke tingkat sebelum pandemi.

Sang filantropis dan eksekutif teknologi ini mengatakan sejauh ini dirinya sudah mengadakan lima pertemuan virtual, terutama dengan para eksekutif farmasi.

Hal itu ia sampaikan saat tampil bersama CEO raksasa farmasi Amerika Serikat Pfizer, Albert Bourla, di sebuah konferensi streaming yang biasanya digelar secara fisik di New York. 

Sekadar informasi, Yayasan yang didirikan Bill Gates dan istrinya Melinda Gates, saat ini terus bekerja untuk memberikan vaksin virus corona kepada orang-orang yang paling membutuhkan.

“Kita tetap akan ke kantor, juga melakukan perjalanan bisnis, tetapi secara dramatis hal itu akan menjadi lebih sedikit,” kata Gates.

Pandemi telah menghancurkan permintaan perjalanan udara, terutama untuk perjalanan bisnis yang menguntungkan. Pelancong bisnis sebelum ada virus corona menyumbang setengah dari pendapatan maskapai penerbangan AS sementara dari perjalanan hanya 30%, demikian menurut data dari Airlines for America, grup industri yang mewakili sebagian besar perusahaan penerbangan AS. Namun, para eksekutif Microsoft meramalkan perjalanan bisnis akan pulih.

“Kami yakin bahwa saat kami kembali ke angkasa, rute perjalanan yang telah kami … akan dilanjutkan pada tingkat sebelumnya,” kata Judson Althoff, wakil presiden eksekutif bisnis komersial Microsoft di seluruh dunia, pada bulan Oktober.

 

 

Kapan Pariwisata Pulih? Tunggu Vaksin. Bisa Tahun Depan

this formate

Oleh:   H. Koko Sujatmiko

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kapan pariwisata pulih? Mulai terjawab. Bisa tahun depan setelah semua negara di dunia mendapatkan vaksin COVID-19. Pulihnya pariwisata diprediksi akan beriringan dengan membaiknya perekonomian dunia, setelah semua negara mendapat akses vaksin COVID-19. 

Kemudahan mendapatkan akses vaksin negara-negara  di kawasan Asia Tenggara, di antaranya Indonesia, diharapkan akan mempercepat pulihnya pariwisata di masing-masing negara.

Indonesia merencanakan akan mulai mendistribusian vaksin COVID-19  pada akhir Desember 2020 atau awal 2021. Diharapkan semua negara akan melakukan kebijakan bersama  untuk menangani COVID-19  dalam upaya memulihkan perekonomian.  

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 secara virtual yang diselenggarakan Arab Saudi pada Sabtu dan Minggu (21-22 November 2020) menjelaskan, pentingnya semua negara melakukan kebijakan bersama  untuk menangani COVID-19 .

“Tidak akan ada pemulihan ekonomi di seluruh dunia sampai seluruh negara mendapatkan akses vaksin,” kata Sri Mulyani. 

Pada kesempatan itu ia menekankan pentingnya  peranan dari lembaga-lembaga multilateral untuk memberikan dukungan pendanaan bagi negara-negara berkembang atau negara miskin sehingga seluruhnya mendapatkan vaksin. Karena tanpa vaksin,  pandemi akan terus berlanjut dan menekan perekonomian semua negara.

Tekanan ekonomi akibat dampak pandemi COVID-19 dirasakan oleh Indonesia. Pandemi membuat  ekonomi pariwisata paling parah terpuruk. Ribuan hotel dan restoran tutup. Banyak  maskapai penerbangan dan biro perjalanan berhenti beroperasi.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memperkirakan total kerugian industri pariwisata Indonesia pada April 2020 sudah mencapai Rp 85,7 trilun dan akan terus bertambah hingga akhir tahun ini. 

Kerugian terbesar terjadi pada destinasi Bali yang  setiap bulan mencapai  Rp 9,7 triliun. Hingga akhir tahun 2020 Bali masih akan tertutup untuk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sehingga membuat kerugiannya semakin besar dan dampaknya sangat dirasakan oleh  pariwisata nasional secara keseluruhan. 

 

Garuda Jadi Maskapai Penerbangan dengan Prokes Terbaik Dunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Maskapai nasional Garuda Indonesia dinobatkan sebagai salah satu maskapai penerbangan dunia dengan standar penerapan protokol kesehatan dan keamanan terbaik di masa pandemi.

Dilansir dari kantor berita Antara, penobatan ini diperoleh dari Safety Travel Barometer, lembaga audit independen yang menilai aspek standar penerapan protokol kesehatan dan keamanan maskapai penerbangan global dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

“Pencapaian ini tentunya memiliki arti tersendiri bagi upaya berkelanjutan dan konsistensi kami untuk selalu mengedepankan penerapan protokol kesehatan secara optimal pada seluruh lini operasional penerbangan, guna memastikan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 selama penerbangan berjalan dengan maksima,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra melalui keterangan di Jakarta, Sabtu.

Berdasarkan hasil audit tersebut, Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai penerbangan asal Indonesia yang berhasil masuk dalam jajaran 20 besar dunia bersama dengan beberapa maskapai global lainnya.

Pemeringkatan tersebut didasari oleh penilaian komprehensif atas implementasi standar penerapan protokol kesehatan dan keamanan layanan penerbangan, di mana Garuda Indonesia memperoleh rating 4 dari skala rating tertinggi 5.

Irfan menjelaskan peningkatan standar higienitas dalam layanan penerbangan tentunya menjadi fokus utama pada masa pandemi ini.

Untuk itu, BUMN industri penerbangan tersebut senantiasa berkomitmen untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman kepada penumpang melalui konsistensi penerapan protokol kesehatan serta standar pelayanan yang mendepankan kualitas dan keamanan layanan, termasuk menerapkan prosedur jaga jarak selama penerbangan.

Ada pun Safe Travel Barometer melakukan penilaian terhadap standar kesehatan dan keselamatan yang diinginkan konsumen, termasuk dari aspek kenyamanan penumpang, pelayanan, dan pengalaman penumpang secara keseluruhan kepada lebih dari 200 maskapai penerbangan dunia.

Sejumlah indikator utamanya di antaranya meliputi ketentuan penggunaan masker oleh petugas pelayanan penerbangan, prosedur disinfeksi armada secara rutin, thermal screening hingga ketentuan health declaration form, yang dapat dilihat secara lengkap melalui https: //dashboard.safetravelbarometer.com/airlines.

 

Lee Hsien Loong: ‘Perjalanan Mungkin Hanya Kembali Normal Dalam Dua Tahun’.

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong memperkirakan perjalanan lintas batas tetap dibatasi setidaknya selama dua tahun lagi, meskipun ada kemajuan positif yang dibuat dalam pengembangan vaksin COVID-19.

 Lee mengatakan perlu waktu sebelum vaksin apa pun dapat diluncurkan ke sebagian besar populasi agar dapat berdampak pada memperlambat penyebaran penyakit.  Sampai saat itu, negara-negara harus berhati-hati dan bersiap untuk mencegah munculnya kasus baru secara tiba-tiba.

 “Saya tidak berpikir kita bisa kembali ke masa lalu di mana kita dapat dengan mudah bepergian dalam beberapa jam tanpa visa, kata Lee diilansir  dari The Malaysian Reserve.

“Kita membutuhkan kesepakatan tentang apa yang aman – memiliki koridor perjalanan, jalur hijau dan gelembung perjalanan – dan tahu bagaimana pihak lain melakukan pengujian mereka dan bagaimana kita dapat menyesuaikan aturan ketika keadaan berubah, misalnya,” ungkapnya.

 “Saya kira harus ada cara untuk beberapa jenis jeda sampai situasi kembali stabil.  Ini semua adalah masalah yang perlu didiskusikan, ”kata Lee dalam percakapan dengan CEO Federasi Bisnis Singapura Ho Meng Kit pada acara virtual APEC CEO Dialogues Malaysia 2020, kemarin.

Gelembung perjalanan muncul di seluruh ekonomi Asia-Pasifik, dengan gelembung perjalanan udara antara Singapura dan Hong Kong diperkirakan akan dimulai pada hari Minggu.  

Pengaturan tersebut akan membuat satu penerbangan sehari ke setiap kota dengan 200 penumpang sekali jalan dan kemudian ditingkatkan menjadi dua penerbangan sehari ke setiap kota mulai 7 Desember. Singapura juga ingin memiliki gelembung perjalanan udara dengan Malaysia.

 “Kedua belah pihak harus memiliki kepercayaan satu sama lain dan situasi harus dikontrol dengan ketat di kedua sisi agar ini terjadi.  Jika kasus naik, penduduk lokal akan sangat ingin terbuka dan kita harus mempertimbangkan kenyataan politik ini.

 “Ada beberapa risiko dan kami kemungkinan akan melihat beberapa kasus bermunculan, tetapi kami harus terus melanjutkan dan mengendalikan kasus-kasus itu.  Jika kami bisa melakukan itu, maka kami bisa melangkah lebih jauh, ”tambah Lee.

Pariwisata Butuh Waktu Lama Bangkit.  Ini Prediksinya

this formate

Oleh H. Koko Sujatmiko

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Rencana semula destinasi wisata Bali awal Desember tahun 2020 ini sudah bisa membuka diri untuk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Namun, situasi pandemi COVID-19 yang belum mereda, juga  menunggu  vaksin ke seluruh negara di dunia, membuat rencana itu menjadi urung.  

Dipastikan kerugian pariwisata Bali,  yang rata-rata mencapai Rp 9,7 triliun per bulan, akan semakin membesar. Terpuruknya pariwisata Bali ini menggambarkan keterpurukan  pariwisata secara nasional yang diprediksi akan memakan waktu cukup lama untuk pulih kembali.

Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) memprediksi dampak pandemi COVID-19 membuat perjalanan turis dunia turun hingga 44 persen. Sementara dalam kondisi normal atau sebelum pandemi pertumbuhan pariwisata dunia rata-rata sekitar 3-4 persen per tahun.  

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengisyaratkan,  masyarakat dunia menginginkan pemulihan pariwisata pasca-pandemi dapat berjalan cepat dan berkelanjutan mengingat dampak  COVID-19 membuat  jutaan tenaga kerja  di sektor pariwisata kehilangan mata pencarihan. 

“Koordinasi yang kuat diperlukan untuk mempercepat pencabutan pembatasan perjalanan dengan cara yang aman dan tepat waktu, untuk meningkatkan investasi dalam sistem, mendukung perjalanan yang aman,” kata  Pololikashvili pekan lalu.

Sementara itu  organisasi Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) dalam   kajiannya  lewat World Travel and Tourism Council (WTTC) menyebukan dampak pandemi dapat memangkas 50 juta pekerjaan dalam industri perjalanan dan pariwisata di seluruh dunia. 

 Untuk memulihkan kondisi tersebut membutuhkan waktu hingga 10 bulan setelah wabah selesai. “Pemulihan tergantung berapa lama epidemi berlangsung,” kata Direktur Pelaksana WTTC Virginia Messina.

Lalu, berapa lama prediksi pemulihan pariwisata di Indonesia? Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengharapkan pariwisata Indonesia lebih cepat pulih.

Mengacu pada hasil kajian UNWTO, prediksi pariwisata dunia akan pulih di tahun 2022, dalam kajian lainnya bisa mencapai 7 tahun, pariwisata  Indonesia diharapkan akan lebih cepat   karena sudah melakukan program recovery dan normalisasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan,  jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada September 2020 mengalami penurunan drastis sebesar 88,95 persen dibandingkan periode yang sama pada September 2019 yang lalu.

Sedangkan secara  kumulatif (Januari–September 2020), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 3,56 juta atau turun sebesar 70,57 persen jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 12,10 juta kunjungan.

Data BPS menunjukkan dampak pandemi membuat sektor pariwisata tahun ini kehilangan 8 juta wisman dengan nilai belanja sebesar US$ 8,8 miliar dengan perhitungan rata-rata US$ 1.100 per orang per kunjungan. 

Sementara itu dalam kondisi normal atau sebelum ada pandemi, pertumbuhan wisman pada 5 tahun ratakhir (2015-2019) rata-rata 13,6%. Tahun 2015 jumlah kunjungan wisman sebesar 10,23 juta, kemudian naik menjadi 11,52 juta  pada 2016. Tahun 2017 naik  menjadi 14,04 juta dan 15,81 juta pada 2018. Tahun 2019 jumlah wisman sebesar 16,11 juta. 

Dengan kata lain, untuk menaikkan kunjungan wisman sebesar 5,88 juta (dari semula tahun 2015 sebesar 10, 23 juta menjadi 16,11 juta pada 2019) dibutuhkan waktu 5 tahun.  Kondisi pariwisata dalam masa pandemi saat ini sekitar 4 juta,  untuk menuju angka nomal seperti semula 16 juta, diprediksi membutuhkan waktu lebih lama. 

 

Jogja Fashion Rendezvous Angkat Kekayaan Kain Nusantara

this formate

YOGYAkARTA, bisniswisata.co.id: Jogja City Mall sebagai salah satu lokasi one stop shopping dan juga one stop event  mengadakan pagelaran Jogja Fashion Rendezvous 2020 mempertemukan perancang busana dari berbagai daerah untuk melaksanakan peragaan busana orisinil rancangannya.

Jogja Fashion Rendezvous merupakan event peragaan busana yang sebelumnya diadakan di tahun 2016, 2017 dan 2018 persembahan dari Jogja City Mall dan kali ini Jogja Fashion Rendezvous 2020 mengangkat tema Niwasana Khatulistiwa.

 “Tema ini  menggambarkan kekayaan budaya Indonesia dalam lukisan kain wastra, Keanekaragaman kain di seluruh Indonesia ini akan dituangkan dalam karya-karya terbaik dari designer ternama Indonesia. Bekerja sama dengan salah satu icon fashion Ananta Kanapi selaku choreographer fashion,” Febrianita Candra Rini, Public Relations Jogja City Mall

Karya-karya terbaik dari 24 designer ternama Indonesia  ditampilkan dalam Jogja Fashion Rendezvous 2020 yang terbagi dalam tiga kali show yaitu noon show, afternoon show dan night show diperagakan oleh lebih dari 30 model professional di atas panggung runway sepanjang 25 meter.

Kali ini menghadirkan guest designer  yaitu Windy Chandra,  G.Liem serta Robin Karebet yang menampilkan karya masterpiece nya dan diperagakan oleh guest model Wilda Situngkir. 

Melalui pagelaran fesyen Jogja Fashion Rendezvous 2020: Niwasana Khatulistiwa ini Jogja City Mall memberikan warna baru dalam dunia fashion khususnya di Yogyakarta,tegas Febrianita Candra Rini.

Nama-nama Desainer Parade designer JFR 2020 a.l  Javanic Batik by Anastasia Rita, PUTHIC by Nissa Khoirina, SMK Yasiha Gubug Purwodadi, . A.D.E.N Hijab by Pratiwi Anggraini, SMKN 3 Purwokerto. OLYVIABINTANGI,  SMKN 1 Salatiga, NS by Nurul Shine, Adilla Collection by Nana Pratiwi.

Berikutnya adalah  Ananta Kanapi GG Rinduku Pada Sumba”, Ada Collection by Ada Husein & Nisfu Husein, Shades Of Color” 3. Dekranasda Kabupaten Kebumen by DMC Kebumen supported by PT BPR/BKK Kebumen.

Selain itu penampil lainnya  Sakamade Boutique by Tari Made Swarna Padma,  Phillip “Whiter Shade Of Pale,  Danny Dwa,  OLEANDERBYRIBIE, HNT by Hesti Nugraheni, JOYLEEN by Stefi, MAXIMAL by Atik Prasetya, Sabina Atelier by Ewigek, Griya Ageman by Linda Susanti,  MSA Boutique by Noei.

Mencicipi ‘Chiken Fillet with Mushroom Sauce’ Yang Bikin Nagih di First Corner Coffee & Roastery

this formate

“Makanannya enak banget!” begitu kata seorang teman saat sedang menghasut saya untuk mengunjungi sebuah kafe milik mutual friend kami. Setelah seharian beraktifitas, wajar saja jika rasa lapar mulai menghantui kami dan membuat saya semakin penasaran. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyetujui ajakannya dan beranjak mengikuti arahan.

Bergeser sedikit dari pusat kota BSD yang modern, saya dibawa ke tepian kota Bintaro Jaya Sektor 9 tepatnya di Jl. Kasuari yang dipenuhi pepohonan nan asri. Terlihat sebuah bangunan modern dengan kelap-kelip lampu bohlam menghiasi bagian depan bangunan. “First Corner Coffee & Roastery” namanya.

Saat memasuki kafe, kami disambut dengan kesan yang sejuk dan homey dengan bangunan yang baru saja direnovasi dan berkesan modern yang ‘instagrammable’ banget. Belum saja berjalan beberapa langkah, saya dikejutkan saat melihat beberapa wajah yang tampak familiar. Rupanya, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong rutin bagi sebagian teman kami dari SMA.

Salah satunya adalah Delvintor Alfarizi, yang tidak lain merupakan salah satu pemilik kafe. Ia merekomendasikan menu ‘Chicken Fillet with Mushroom Sauce’ hasil kreasinya sendiri. Saat saya cicipi, terjawab sudah ekspektasi tinggi saya saat membayangkan rasa dari menu ini. Chicken fillet mungkin saja kerap terasa kering dan keras jika tidak dimasak dengan benar, namun tidak dalam kasus ini. Saus jamur yang creamy menyelimuti potongan daging ayam lembut dan dilengkapi dengan roti panggang yang renyah.

Selain kopi dan makanan, kafe ini juga menyediakan berbagai cemilan seperti ‘Cinnamon Berry Pancake’, ‘Butterscotch Biscoff Waffle’, sampai ‘Bitterballen’ yang gurih. Saya memesan kopi Cappuccino sebagai pelepas dahaga yang cocok untuk dinikmati sambil menikmati senja dengan diselangi oleh obrolan hangat nostalgia masa sekolah.

Objek kunjungan wisata Ulun Danu

Ketika “Penghasil Devisa” Terlupakan

this formate

Oleh Paul E Talo

Di zaman Belanda – ketika negeri ini disebut Hindia Belanda –, biro perjalanan wisata (BPW) tidak dikenal. Hal wajar, karena warga negara Belanda tidak memahami bahasa Indonesia. Sebutan BPW alias “biro perjalanan wisata”, baru disempurnakan tahun 1987 oleh seorang tokoh pariwisata Indonesia, Direktur Jenderal Pariwisata dan Menteri Pariwisata Joop Ave.

 

BALI, bisniswisata.co.id: MASA pemerintahan Hindia Belanda, pemerintah merasa perlu menghadirkan perusahaan perjalanan yang disebut reisbureau. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “biro perjalanan” — tercantum di dalam Undang-Undang Pariwisata Nomor 9Tahun 1990 sebagai “Jasa Biro Perjalanan Wisata/BPW”, dan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10Tahun 2009 disebut: Jasa Usaha Perjalanan Wisata.

Untuk memenuhi keinginan tersebut, tahun 1927 Lissone Lindeman — merger dua reisbureau  Belanda yaitu Lisonne dan Lindeman — diminta membuka kantor cabangnya di Batavia. Lisonne Lindeman  bertugas merencanakan dan melaksanakan perjalanan wisata bagi warga Belanda yang sedang bekerja atau menetap di Hindia Belanda.

Di tahun 1928 Lissone Lendeman di Batavia dilikuidasi dan diganti namanya menjadi Nederlandche Indische Touristen yang disingkat menjadi Nitour, Inc. Dalam perjalanan bisnis, Nitour, Inc bekerja sama dengan beberapa tour operator (TO) asing  antara lain Lissone Lindeman di negeri Belanda,Thomas Cook dari Inggris, American Express dari Amerika Serikat untuk mendatangkan wisatawan dari berbagai belahan dunia, berwisata di Hindia Belanda.

Beberapa dari wisatawan itu memilih menetap di Bali. seperti halnya: Hanns Snell, Walter Spies, Le Mayeur, Roever-Bonnet, Antonio Blanco(Piccard; 2006). Salah seorang wisatawan Miguel Covarubias setelah kembali ke negaranya  menulis bukuThe Island of Bali  yang menjadikan Bali popular sebagai destinasi wisata.

Setelah Indonesia merdeka, Nitour, Inc dinasionalisasi dan berkantor di ujung Jalan Majapahit Jakarta sampai hari ini. Nitour, Inc tetap menjalankan fungsinya mendatangkan wisatawan asing dari berbagai negara asal wisatawan, khususnya penanganan kapal pesiar. Perlu diketahui, selama perang dunia ke II dan masa pendudukan Jepang, tidak ada perkembangan pariwisata sama sekali.

Setelah Indonesia merdeka, praktis hanya Nitour, Inc yang dapat melaksanakan kegiatan sebagai travel biro. Di tahun 1947 Pemerintah Indonesia membentuk bagian hotel dan tourisme dalam lingkungan Kementerian Perhubungan. Pada tahun 1958 melalui Musyawarah Nasional Tourism ke II di Tretes kata tourisme diganti menjadi “pariwisata” (Prajogo; 1976). Di era tersebut, pemerintah mulai secara serius merencanakan pengembangan pariwisata di tengah kekurangan dan keterbatasan pemahaman hal kepariwisataan.

Langkah-langkah yang diambil antara lain menjadi anggota PATA (Pacific Area Tourism Association) tahun 1957. Masih menurut Prajogo, kata travel biro diperkenalkan pada waktu itu.

Di tahun 1960-an, muncul beberapa travel biro, misalnya: Pacto, Universal, Tunas Indonesia, Compass Travel, Bali Tour, Vista Travel, Vayatour, Dwi Daya, Anta Express,Satrya Tour & Travel Service, ISTA Tour & Travel, Insebu Travel, Pasopati Travel,Golden Bali Tour, Antarruang, Bali Hai dan lainnya, seiring dengan terbentuknya Direktorat Jenderal Pariwisata di bawah Departemen Perhubungan dengan Direktur Jenderal pertama M. J. Prajogo.

Beberapa perusahaan tersebut  bertahan hidup sampai sampai saat ini, ada pula yang menghilang. Di tahun 1970-an, jumlah travel biro bertambah dimana tahun 1974 PATA melaksanakan kongres di Jakarta dan loka karya di Yogyakarta serta Bali. Diajang tersebut, para pelaku pariwisata Indonesia belajar dan memahami arti pemasaran dengan hadirnya pemilik-pemilik perusahaan perjalanan dari Asia Pacific.

Beberapa perusahaan perjalanan luar negeri yang disebut wholesaler dan tour operator (Mill & Hill; 1977) mulai aktif mengirimkan wisatawan mereka melalui travel biro yang dianggap sanggup menangani wisatawan mereka.

Pertumbuhan usaha jasa travel biro makin berkembang di era tahun 1980, sehingga dilakukan penertiban pembukaan travel biro, dengan sejumlah persyaratan ketat antara lain: harus berbentuk perseroan terbatas, modal setor Rp. 500 juta, di depan kantor harus ditempatkan tulisan “Biro Perjalanan Umum” berwarna biru (pengganti kata travel biro). Izin operasional hanya diberikan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata di Jakarta.

Direktur Jenderal Pariwisata kemudian diganti oleh Ahmad Tirto Sudiro. Di masa kepemimpinannya, diadakan ASEAN Travel Forum (ATF) pertama di Genting Highland-Malaysia tahun 1981. ATF adalah pertemuan pejabat tinggi pariwisata dari seluruh negara-negara ASEAN.

Pararel dengan pertemuan tingkat menteri pariwisata, diselenggarakan pertemuan dagang antara pengusaha travel biro dari negara-negara ASEAN dengan para wholesalers dan tour operator dari seluruh dunia. Di sini adalah ajang saling bertukar informasi tentang keunggulan destinasi wisata, saling menjajagi kecocokan untuk menjadi rekan kerja dan waktu untuk membuat kontrak kerja sama.

Kantor Direktorat Jenderal Pariwisata mengikutsertakan pimpinan travel biro Indonesia dalam kegiatan tersebut. Yang hadir di Genting Highland, Malaysia adalah pimpinan travel biro dari Jakarta, Yogyakarta, Bali, Makasar dan Medan.

Tahun 1982 Dirjen Pariwisata Joop Ave menggantikan Ahmad Tirto Sudiro yang memasuki masa pensiun. Pada saat yang sama berlangsung kegiatan Pata Mart di Bangkok-Thailand, Joop Ave hadir di sana. Di sana, Joop berpidato di depan para delegasi dari Indonesia, isinya antara lain:”Saudara-saudara, saya ditugaskan Presiden untuk memimpin Direktorat Jenderal Pariwisata.Tugas saya bersama saudara adalah untuk mendatangkan devisa bagi negara. Saya menggantungkan harapan kepada saudara-saudara, karena saudara bertemu dan berbicara langsung dengan para wholesalers dan tour operators dari negara-negara asal wisatawan.

Merekalah yang menjual destinasi kita dan produk tour saudara kepada calon turis di negaranya masing-masing. Setelah mereka menerima informasi dari saudara tentang Indonesia, setelah mereka menerima paket wisata dari saudara, mereka akan menyesuaikan dengan keinginan turis-turis di negara mereka.

Mereka menjual, mempromosikan dan mengirim turis kepada saudara untuk menikmati perjalanan wisatanya. Para turis menikmati liburannya, saudara mendapat pembayaran dan keuntungan sedangkan negara mendapatkan devisa.Terima kasih saudara, pahlawan devisa”.

Sejak saat itu Joop Ave selalu mengharapkan atau membawa serta biro perjalanan wisata serta mendampingi mereka walau pun biro perjalanan itu membayar sendiri seluruh biaya perjalanan termasuk menyewa “booth, — kantor sementara selama 3 hari/selama ATF berlangsung — dengan biaya tinggi.

Plus, biaya-biaya lain seperti membuat materi promosi, berupa booklet, leaflet, confidential tariff yang pada masa itu masih dalam bentuk buku sehingga harus membayar kelebihan barang pada perusahaan penerbangan, biaya perjalanan selama beberapa hari dan ada pula perusahaan biro perjalanan wisata melakukan perjalanan lebih panjang dari jadual pertemuan untuk mendapatkan mitra kerja baru.

Dimasa kepemimpinan Dirjen Pariwisata Joop Ave, biro perjalanan wisata juga disebut Inbound Tour Operators (ITO) selalu hadir pada setiap kegiatan travel mart, baik penyelenggaraan dinegara-negara Asia dan negara-negara Pacific serta Asean Travel Mart atau Asean Travel Exchange, acara tahunan negara-negara Asean.

Selain ATF se ASEAN, kegiatan pemasaran produk wisata Indonesia juga dilakukan di ITB Berlin, WTM –London, Jata-Jepang, AFTA –Australia, BIT-Milan, ITIX dan Sea Trade di Amerika, Vacatiebeur di Belanda, BITE di Beijing-China, Matta Fair di Malaysia, Dubai Travel Fair dan sederet kegiatan pasar wisata di negara-negara lain yang berpotensi mengirimkan turis ke Indonesia.

Di dalam negeri pun terdapat kegiatan pasar wisata seperti JTX di Bandung, Borobudur Fair dan lainnya yang menghadirkan tour operator asing sebagai buyer. Joop Ave tidak pernah merasa malu dan bosan mendatangi semua delegasi Indonesia, baik dari inbound tour operator, hotelier dan pemerintah Provinsi atau kabupaten.

Menciptakan Produk Wisata

Di era kepemimpinan Joop Ave sebutan biro perjalanan umum diganti dengan biro perjalanan wisata/BPW. Dan tahun 1987, Direktorat Jenderal Pariwisata dikeluarkan dari Departemen Perhubungan, masuk dalam jajaran Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dibawah komando Ahmad Taher sebagai Menteri Parpostel.

Di tahun yang sama Menteri Parpostel mengeluarkan: SKKM-96/HK.103/MPPT-87 yang membagi 2 (dua) usaha perjalanan wisata: 1) Biro Perjalanan Wisata (BPW)  pasal 1 ad b yang berbunyi:” Biro Perjalananan Wisata adalah badan usaha yang menyelenggarakan usaha perjalanan ke dalam negeri dan atau ke luar negeri. Biro perjalanan wisata adalah terjemahan dari bahasa Inggris: tour operator.

2) Agen Perjalanan Wisata adalah badan usaha yang menjual paket wisata, tiket pesawat, tiket-tiket lainnya, dan voucher hotel. Agen perjalanan wisata adalah terjemahan dari bahasa Inggris (travel agent). Jenis usaha wisata ini tidak membuat paket wisata dan tidak menjalankan perjalanan wisata.

Di undangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan, menetapkan pasal 9, ayat 1 berbunyi: Usaha jasa pariwisata dapat berupa jenis-jenis usaha: a. Jasa biro perjalanan wisata, lalu pasal 11 berbunyi: “Usaha jasa Biro Perjalanan Wisata merupakan usaha penyedia jasa perencanaan dan atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan wisata.”Selanjutnya, Undang-Undang Pariwisata No. 10 Tahun 2009 pasal 13 menyebut usaha perjalanan.

Kata-kata biro perjalanana wisata tidak tercantum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun2009, namun di dalam Pasal 69 berbunyi: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 3427), dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Dengan demikian istilah biro perjalanan wisata tetap dipakai dan kegiatannya tetap sama yaitu merencanakan dan melaksanakan perjalanan wisata.

Dalam hal merencanakan dan melaksanakan/ menyelenggarakan perjalanan wisata ke dalam negeri (inbound) sesuai dengan penjelasan di atas, biro perjalanan wisata atau inbound tour operator kegiatan utamanya adalah menciptakan produk dalam bentuk paket wisata.

Paket wisata dikemas setelah melakukan survei, pengumpulan data, kunjungan langsung ke destinasi-destinasi wisata untuk mendapatkan data-datatentang fasilitaswisata, atraksi wisata dan aksesibilitas.

Menghitung dan menetapkan harga jual, lalu mendistribusikan produk melalui berbagai tempat seperti kantor perwakilan parwisata (VITO), kedutaan besar dan konsulat, wholesalers dan tour operators.

Melaksanakan tindakan promosi yang menurut Marketing mix, Kotler; 1984, adalah dengan menghadiri setiap kegiatan pasar wisata (travel mart) untuk memperbaharui kontrak kerja sama dengan partner lama, mencari dan bekerja sama dengan para wholesalers dan tour operators yang baru serta memperkenalkan produk baru.

BPW melakukan kegiatan promosi dengan biaya mereka sendiri. Melakukan perjalanan sendiri-sendiri, mengunjungi kantor-kantor perusahaan perjalanan di luar negeri dalam upaya memberikan penjelasan langsung produk wisata kepada pihak yang membutuhkan. Dalam hal ini mereka mempraktekan bauran promosi (Promotional mix, Kotler; 1984).

Pemerintah melakukan kegiatan pemasaran destinasi Indonesia, sedangkan biro perjalanan wisata, BPW (inbound tour operators) memasarkan produk usaha mereka agar tetap dapat hidup.

Penghasil Devisa Negara:

Dalam hubungan dengan rekan kerja di negara asal wisatawan, BPW hanya berkerja sama dengan wholesalers dan tour operators. BPW “tidak” pernah bekerja sama dengan travel agent.

Mereka —BPW– dapat bekerja dengan beberapa perusahaan wholesalers dan tour operators dari salah satu negara wisatawan, ada pula bekerja sama dengan perusahaan dari beberapa negara asal wisatawan yang berbeda.

Setelah wholesalers atau tour operators menentukan tanggal kedatangan para wisatawan, ada yang berseri (dengan jadwal kedatangan sepanjang tahun, dengan jumlah peserta yang ditentukan terlebih dahulu) atau kedatangan perorangan yang diminta berdasarkan tailor made, pegawai BPW melakukan pemesanan kamar di hotel.

Pemesanan itu bisa untuk satu kamar atau 15 kamar atau 30 kamar untuk satu kali kedatangan, dapat juga diminta dan dikontrak untuk selama satu tahun. Sebuah BPW dapat memesan 1 atau 2x di sebuah hotel, dapat juga memesan 10x atau 50x, dikalikan dengan jumlah kamar yang dibutuhkan.

Pernyataan ini untuk mengkonfirmasi bahwa pihak hotel menginapkan antara lain wisatawan yang dipercayakan BPW kepada hotel yang diinginkan. Pemilihan hotel dilakukan oleh biro perjalanan wisata atau oleh wholesaler/ tour operator, ada pula ditentukan oleh wisatawan.

Wisatawan yang menginap di sebuah hotel dibagi dalam 4 (empat) jenis bila ditinjau dari segi pemesanan:

1)Wisatawan yang dipesan oleh BPW.

2)Wisatawan yang dipesan oleh wholealers atau tour operators.

3)Wisatawan yang dipesan oleh online travel agent.

4)Wisatawan yang dipesan sendiri oleh wisatawannya sendiri.

Dalam hubungan dengan pembayaran pajak, pihak hotel membayar pajak penjualan dari keempat jenis wisatawan di atas. Hal ini juga terjadi pada restoran, tontonan, obyek wisata dan lainnya. Semua jenis pajak itu berasal dari wisatawan yang sebagian besar didatangkan oleh biro perjalanan wisata/BPW.

Belum ada penelitian yang memberikan perbandingan dari keempat jenis pemesanan di atas, tetapi berdasarkan asumsi berdasar pengalaman, kedatangan wisatawan dan pemesanan  kamar di hotel-hotel, dilakukan oleh biro perjalanan masih lebih dominan.

Atau diera milenial kita kembali kejaman Hindia Belanda, “menghilangkan” fungsi peran BPW sebagai penghasil devisa?

 

Penulis adalah:Praktisi dan Akademisi Pariwisata.