Swadharma Ning Pertiwi Tandai Rampungnya Patung GWK

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Setelah 28 tahun perjalanan pengerjaan pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), penuh liku-liku. Kini Patung artistik di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali hasil mahakarya maestro Nyoman Nuarta, rampung. Selesainya Patung tertinggi kedua di dunia ditandai dengan pergelaran seni bertajuk “Swadharma Ning Pertiwi”, Sabtu (4/8/2018) malam.

Perhelatan ini, sebagai wujud rasa syukur dan persembahan dari seorang seniman kepada ibu pertiwi, setelah mengalami perjalanan panjang 4 kali ganti presiden, akhirnya patung monumental selesai di jaman Presiden Jokowi. Patung GWK hanya menjadi landmark kawasan yang disebut sebagai cultural park ini.

Seniman Nyoman Nuarta mengatakan GWK akan menjadi bukti bahwa kita berdaulat di bidang kebudayaan dan diharapkan menjadi kiblat kebudayaan dunia. “Saya berharap World Cultgure Forum yang telah dua kali digelar di Bali bisa berkantor pusat di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park,” lontar Nyoman Nuarta seperti dilansir laman Bisnis, Ahad (05/08/2018).

Rencananya, sambung dia, Patung GWK diresmikan Presiden Joko Widodo yang bakal menjadi kado HUT Ke-73 Kemerdekaan RI. Juga menyemarakkan pesta olahraga Asian Games 2018, yang dimulai pada 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018.

Dilanjutkan, pemasangan modul rampung hanya tinggal pernak-perniknya serta pembuatan museum di dalam patung. Dengan selesainya pemasangan modul patung GWK, bisa menjadi pengingat bagi bangsa ini akan budaya. “Kita memiliki budaya yang sangat luar biasa. Tapi kenapa dari kita sebagian berpaling kebudaya orang. Kita harus kembali dan bangga kepada budaya kita sendiri. Sebagai suatu bangsa yang punya harga diri,” ucapnya.

Diakui perjuangan selama 28 tahun membangun GWK tidak mudah. Banyak hambatan dan tantangan. Namun terus diperjuangkan bersama rekan-rekannya, sebagai janji untuk membangun GWK. “Ada uang atau tidak dan terus kita kerjakan dengan kesabaran. Kita buktikan kepada bangsa bahwa kita jangan jadi bangsa minder atau menjadi bangsa pengekor. Bangun budaya kita, karena budaya adalah hal yang sangat penting. Kita membangun ini bukan mencari untung tapi membangun dan kebanggaan harga diri dari janji saya,” ujarnya.

Janji Nyoman Nuarta sudah dibuktikan dan terpenuhi. “Tugas kita sebagai bangsa harus punya harga diri. Banggalah dengan budaya sendiri, karena budaya itu hak setiap kelompok manusia yang mengapresiasi alamnya secara positif, kreatif dan dinamis itu yang namanya budaya,” tegasnya.

Dengan rampunya patung GWK, diharapkan bisa menjadi ikon baru bagi pariwisata di Bali. “Dampaknya tentu dalam dunia pariwisata itu besar. Hal ini, sama dengan membangun bendungan pariwisata. Jadi kita bangun untuk budaya dan pariwisata,” jelasnya.

Kawasan ini akan menjadi lokasi gala diner Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank pada bulan Oktober yang diikuti belasan ribu delegasi dari 189 negara. Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim bersama Menko Perekonomian Luhut Binsar Panjaitan awal Juli lalu telah meninjau lokasi ini dan menyampaikan kekagumannya.

GWK digagas pada 1989 diproyeksikan menjadi landmark pariwisata dan ikon baru Pulau Bali. Pada 1990 ide itu dilanjutkan dengan pengembangan konsep bersama Dirjen Pariwisata Joop Ave (alm), Gubernur Bali Ida Bagus Oka (alm), dan Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana (alm).

Lokasi yang digunakan adalah perbukitan kapur di Ungasan, yang selama ini tidak produktif. Lahan ini merupakan bekas lokasi penambangan kapur liar yang sudah ditinggalkan dalam keadaan yang kurang baik dan tidak ada tanaman yang mampu hidup dikarenakan oleh minimnya top soil.

Setelah mendapat restu Presiden Soeharto (1993) dilakukan sosialisasi di depan anggota dan pimpinan DPRD Bali, tokoh masyarakat, diliput oleh media, serta masyarakat di sekitar lokasi GWK. Awalanya menuai pro dan kontra, tetapi ground breaking pedestal GWK dilakukan pada 1997. Sebelumnya, Nuarta mengolah kawasan tersebut dengan memotong bukit sehingga menjadi landmark seperti sekarang.

Pembangunan selanjutnya mengalami pasang surut. Puncaknya ketika pemerintah menghentikan pendanaan yang telah disepakati. Padahal, Nuarta pernah rela mewakafkan 82% kepemilikan di GWK kepada pemerintah, tetapi tak ada Presiden SBY ketika itu. Lantas, Gubernur Bali Made Mangku Pastika berinisiatif agar pemprov mengambil alih, ternyata tidak mendapat persetujuan anggota DPRD Bali.

Nuarta akhirnya melepas saham tersebut kepada PT Alam Sutra Realty Tbk. Kini ia hanya sebagai seniman yang berkewajiban menyelesaikan GWK seperti 28 tahun sebelumnya di bawah naungan PT Siluet Nyoman Nuarta.

Patung GWK secara utuh memiliki 24 segmen yang terdiri dari 754 modul kulit patung berukuran sekitar 3 x 4 meter dengan berat berkisar 800 kg hingga 1 ton bermaterikan tembaga dan kuningan dengan rangka baja. Berat total struktur patung mencapai 3.000 ton. Permukaan kulit patung ini jika dibentangkan seluas 2,5 hektare.

Proses pembuatan modul dilakukan di Studio Nyoman Nuarta di Bandung dan dibawa ke Bali bersama 200 pekerja yang akan merakit dan memasang patung ini.

GWK dan penyangganya kelak memiliki tinggi 121 meter dari permukaan tanah atau 271 meter di atas permukaan laut. Ini akan menjadi patung tembaga dengan teknik cor las terbesar di dunia. Teknik cor las ini menandai pertama kalinya patung sebesar GWK dikontruksi dengan pengelasan modul demi modul.

Nuarta menemukan teknik rekayasa yang menggabungkan seni, kecerdasan buatan, dan teknologi untuk menjamin perbesaran patung sesuai model yang dirancang. Teknik pembesaran patung Nuarta ini menggunakan rumus: jika sebuah bentuk bebas (anorganis) diiris horizontal dan vertikal dengan jarak tetap, kemudian garis-garis luar (outline) diperbesar berdasarkan skala, kemudian disusun kembali sesuai koordinat yang tetap, maka akan terbentuk pembesaran menyeluruh sesuai skala yang dikehendaki.

Proses pembesaran skala patung yang dilakukan dengan teknik las cor Nuarta ini telah dipatenkan pada 1980-an dan pertama kali diterapkan untuk patung Jalesveva Jayamahe setinggi 60 meter di Surabaya. “Dengan teknik ini seberapapun besarnya patung bisa kita buat,” kata Nuarta.

Untuk meyakinkan kekuatan struktur patung ini, Nuarta melakukan sejumlah tes di antaranya uji gempa hingga 8 skala Richter dan uji angin di Toronto, Kanada. Kata dia patung akan hancur jika dihantam angin dengan kekuatan 250 km/jam. Berdasarkan catatan BMKG Bali kecepatan angin tertinggi di Bukit Ungasan hanya 70 km/jam. Selain itu juga dilakukan tes hujan dan petir serta memperhitungkan faktor kelelahan logam.

Nuarta sangat berhati-hati untuk pengerjaan patung, termasuk pelaksana proyek ini harus memiliki ISO. Selain berkaitan dengan kualitas, juga memudahkan ketika pemilik mengasuransikan properti ini.

“Langkah-langkah ini merupakan tanggung jawab moral dan profesional, karena nama saya melekat di sana sebagai Nyoman GWK, saya mengerjakannya sejak berambut gondrong hingga botak ha-ha-ha,” kata seniman yang juga kerap disapa Nyoman GWK ini. (NDY)

Survey: 10 Destinasi Wisata Terbanyak Tag di Instagram

this formate

BOSTON, bisniswisata.co.id: Pengelola lokasi-lokasi wisata di seluruh dunia berlomba-lomba menarik pengunjung ke daerahnya. Kalangan milenial yang kerap berbagi gambar di media sosial menjadi sasaran pasar para pengelola wisata tersebut.

Survei Boston Consultng Group menunjukkan generasi muda saat ini memprioritaskan untuk memperkaya diri dan pengalaman, dibandingkan mengumpulkan materi. Tren tersebut diprediksi akan terus berlanjut. Survei tersebut menemukan bahwa 70% dari milenial berminat untuk menyusuri negara-negara di setiap benua.

World Economic Forum mengungkapkan baru-baru ini sebuah survei menyebut lebih dari 40% masyarakat dengan usia di bawah 33 tahun mempertimbangkan lokasi wisata yang dinilai bagus untuk diunggah di Instagram dalam menentukan tujuan wisata mereka berikutnya.

Setiap harinya ada 800 juta pengguna aktif yang mengunggah 95 juta gambar dan video di Instagram. Mayoritas pengguna sosial media ini, sekitar 55%, berusia antara 18 sampai 29 tahun. Kondisi ini mendorong pengelola wisata memutar otak untuk mengakomodasi kehausan milenial mengisi foto-foto di akun Instagram mereka.

Contohnya, sebuah kota kecil di Selandia Baru yaitu Wanaka pada 2015 mengundang social media influencers untuk mengunggah pengalaman mereka mengunjung kota tersebut di Instagram. Hasilnya, kota tersebut menjadi lokasi dengan pertumbuhan kunjungan turis paling tinggi di Selandia Baru, yaitu 14%.

TravelBird, Ahad (05/08/2018) menyusun daftar lokasi-lokasi wisata yang paling banyak mendapat location tag di Instagram dalam setahun terakhir. Berikut 10 di antaranya :

01. Disneyland (California AS) dengan jumlah Tag 14,62 juta
02. Menara Eiffel (Paris Prancis) dengan jumlah Tag 7,25 juta
03. Walt Disney World (Florida AS) dengan jumlah Tag 5,46 juta
04. South Beach (Florida AS) dengan jumlah Tag 4,69 juta
05. Tembok Berlin (Berlin Jerman) dengan jumlah Tag 4,59 juta

06. Las Vegas Strip (Nevada AS) dengan jumlah Tag 3,65 juta
07, Big Ben (London Inggris) dengan jumlah Tag 2,56 juta
08. Time Square (New York AS) dengan jumlah Tag 2,56 juta
09. Notre Dame (Paris Prancis) dengan jumlah Tag 2,52 juta
10. Oktoberfest (Bavaria Jerman) dengan jumlah Tag 2,26 juta
(NDY)

5 – 11 Agustus 2018, Festival Jerami Sebiduk Sehaluan

this formate

OGAN KOMERING ULU (OKU), bisniswisata.co.id: Jerami atau limbah batang padi yang tidak dimanfaatkan lagi biasanya dibakar. Namun di Kabupaten OKU Timur Sumatera Selatan (Sumsel) jerami jadi karya seni sangat menakjubkan. Jerami yang semula tidak bernilai, kini menjadi bernilai seni dan bermanfaat.

Bahkan dijadikan event atraksi wisata baru dengan tema Festival Jerami Seburuk Sehaluan. Festival digelar di Bendungan Perjaya Martapura, OKU Timur, pada 5 hingga 11 Agustus 2018.

Festival ini sebagai bentuk dukungan pemerintah OKU Timur terhadap Pesta Olahraga Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang yang dimulai pada 18 Agustus 2018. Juga untuk menarik kunjungan wisatawan karena festival jerami ini merupakan atraksi wisata yang unik, menarik dan artistik yang digelar oleh Pemerintah kabupaten berjuluk Bumi Sebiduk Sehaluan.

Sekaligus merupakan perwujudan kolaborasi kreatif memajukan pariwisata sekaligus meningkatkan produksi pertanian demi terciptanya kedaulatan pangan. Dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dari kunjungan wisatawan.

Lebih dari 250 patung jerami beraneka ukuran, bentuk, model dan kreasi mewarnai festival ini. Jumlah patung jerami diprediksi terus bertambah bahkan diklaim terbanyak sepanjang sejarah seni rupa Indonesia, khususnya festival karya patung dari jerami.

Banyaknya festival patung jerami ini juga sebagai ajang pembuktian, bahwa Kabupaten OKU Timur sebagai daerah penghasil beras hingga jutaan ton gabah kering giling.

Panitia semulu menggandeng pelaku seni pembuat patung. Ternyata sambutan masyarakat sangat tinggi, dibuktikan banyaknya patung karya masyarakat yang ikut memeriahkan festival. Dn keterlibatan masyarakat dalam festival ini wujud penghargaan bagi petani sehingga jerami bisa dimanfaatkan dalam karya seni.

Memang, tingkat pembuatan patung jerami terbilang sulit karena harus disusun satu per satu sehingga menuntut ketelitian dan kejelian agar menghasilkan karya patung jerami bernilai seni tinggi. Masyarakat pun secara tidak sadar sudah menjadi seniman dan pematung. Dampaknya pun sangat positif bagi OKU Timur.

Terlebih, daerah ini merupakan kabupaten penghasil padi, yang sudah barang tentu mudah mendapatkan jerami untuk bahan baku patung jerami. Ke depan tinggal lagi bagaimana menciptakan patung-patung jerami ukuran kecil untuk cenderamata khas OKU Timur.

Dalam Festival tersebut berbagai kegiatan juga akan digelar mulai dari lomba trail angkut jerami, festival seni budaya, parade musik, pentas 1.000 penari, rembuk tani dan sejumlah kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pertanian. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Orchid Forest, Bukan Sekedar Memandang Anggrek

this formate

LEMBANG, bisniswisata.co.id: Pariwisata Lembang kian berkembang. Destinasi wisata baru bermunculan. Wisatawan pun semakin memiliki pilihan jika melancong ke kawasan Bandung Barat ini. Pilihan terbaru Orchid Forest, yang lokasinya di Jalan Tangkuban Perahu kilometer (KM) 8, tepanya desa Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Edu tourism dan destinasi digital di atas lahan seluas 14 hektar berada pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut, sehingga suhu udara di Orchid Forest yang berada di tengah hutan pinus sangat sejuk, sehingga sangat cocok sekali untuk kehidupan flora khususnya anggrek. Sepanjang kaki melangkah pada setiap pohon pinus selalu dihinggapi tanaman anggrek meski belum berbunga.

Obyek wisata ini memang dikemas One Stop Family Adventure. Jadi bukan sekadar mempersembahkan Anggrek namun juga menawarkan panorama asri hutan pinus di lereng Gunung Takuban Perahu, juga berbagai aktivitas seperti Outbound, flying fox, hanging rope, camping ground, nunggang kuda, Wooden Bridge atau menapak jembatan kayu yang malam hari diterangi lampu, panggung hiburan serta rabbit house bermain bersama kelinci.

“Kami ingin tampil beda, agar pengunjung nggak booring. Apalagi era media sosial, kami menyediakan berbagai latar menarik yang sangat Instragamable. Dan pengunjung mayoritas generasi milenial sangat happy dengan suasana seperti ini,” papar Leader Marketing Eksekutif Orchid Forest Bagus Maulana saat menerima kunjungan 50 wartawan Pariwisata dan Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata.

Setelah memasuki pintu masuk Orchid Forest, pengunjung langsung disuguhi rumah kaca berbentuk segi tiga yang diberi nama Orchid House yang terletak di tengah arena Orchid Forest. Didalam ruangan kaca terdapat beberapa kotak segi empat berisi anggrek yang cantik dengan perpaduan warna yang sangat indah. “Ini ruangan khusus untuk anggrek langka yang didapat dari penjuru nusantara,” lontar Bagus.

Berbagai jenis anggrek seperti Paphiodelium javanicum, anggrek endemis Pulau Jawa, langsung menyapa di muka pintu rumah kaca dengan warna kelopak yang berupa campuran cokelat, ungu, dan hijau. Anggrek tersebut harus dirawat khusus dengan suhu ruangan berkisar 21-29 derajat Celcius.

Bahkan, sambung dia, bibitnya selain dari berbagai daerah di Indonesia juga dari Amerika Serikat, Peru, Venezuela, dan negara lainnya.
Saat ini tercatat memiliki lebih dari 100 lebih jenis bunga anggrek yang dibudidayakan. Ada anggrek khas Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Dilanjutkan, konsep berdirinya Orchid Forest karena Indonesia merupakan penghasil tanaman anggrek terbesar kedua setelah Brasil. Selain melihat berbagai jenis spesies anggrek, pengunjung juga diberi pengetahuan, cara merawat anggrek hingga mengenal spesies anggrek. Pasalnya hanya kenal anggrek namun tidak tahu species dan jeninya.

“Jadi kami ingin mengedukasi pengunjung agar ikut membudidayakan, mengetahui cara perawatannya. Mulai dari cara pembibitannya, cara merawatnya hingga anggrek itu tumbuh mekar. Tenyata apa yang kami edukasikan itu banyak yang tertarik sekaligus mencntai anggrek, yang rata-rata kaum hawa,” tandasnya.

Perawat Anggrek di Orchid Forest, Senia menambahkan di Orchid Forest terdapat jenis Anggrek langka, khas, unik dan menarik, seperti Anggrek Paphiopedilum Javanicum endemik khas Jawa. Jenis itu hanya ada di Pulau Jawa dengan bentuknya yang unik berkantung. “Tapi kantongnya berbeda dengan kantong Anggrek umumnya. Warna anggrek ini sangat khas, dan aslinya seperti itu,” ucapnya.

Spesies ini, lanjut dia, terbesar di Pulau Jawa. Untuk perawatannya cuma disiram tidak setiap hari. Paling dua hari sekali. “Kelembabannya cukup tinggi dari anggrek-anggrek lainnya. Dan suhunya maksimal 29 derajat celcius dan minimal 21 derajat celcius,”.

Selain Paphiopedilum Javanicum, ada tanaman Anggrek langka lain yang berasal dari Papua yakni Dracula mix simia. Tumbuhan ini dinilai paling spesial yang terdapat di lokasi edu wisata Orchid Forest. “Warna kembangnya hitam pekat asal Papua. Tapi sayang, saat ini sedang tidak berbunga. Bulan depan baru berkembang lagi,” sambungnya

Marketing Executive Orchid Forest Nexa Paisan menambahkan Orchid Forest belum berusia satu tahun. Namun, antusias masyarakat untuk mengenal lebih dekat keindahan Anggrek cukup besar. Tingkat kunjungan wisatawan tiap harinya bisa mencapai 4.000-5.000 orang. Bahkan, pada akhir pekan atau hari libur besar grafik tingkat kunjungan juga meningkat mencapai 10.000 orang tiap hari, termasuk pelancong mancanegara dari China, Malaysia, Arab, dan Eropa.

Orchid Forest ini dibuka pukul 09.00 hingga 18.00 WIB pada hari kerja. Sedangkan di hari libur dibuka pada pukul 08.00 hingga 19.00 WIB. Sementara, untuk tiket masuknya, pengunjung cukup membayar Rp30 ribu ditambah dengan biaya asuransi senilai Rp5 ribu. Sedangkan harga tiket Rp100.000 untuk turis mancanegara. “Bukan hanya tanaman Anggrek, di lahan seluas 14 hektare ini juga dilengkapi lebih dari 20 spot selfie yang Instagramable,” kata dia.

Spot selfie dijamin memberikan hasil foto yang Instagramable. Di antaranya ada Wooden Bridge berupa jembatan gantung sepanjang 100 meter dengan tinggi 20 meter dari permukaan tanah. Jembatan ini melintas di antara batang-batang pinus, dan yang melintas Wooden Bridge dibatasi hanya 10 orang. Jembatan gantung ini, terhubung dengan wahana flying fox. “Kalau ngeri turun dengan flying fox, tak usah cemas, bisa lewat taman lampu tepat di bawah jembatan,” terang Nexa.

Selain itu, ada Garden of Lights berupa taman kecil dengan jalan setapak berkelok-kelok, yang bunganya menyala kala petang hari. Menjelang malam lampu yang ada di sepanjang taman ini menyala, sehingga menciptakan nuansa romantis bahkan menakjubkan. “Nah, latar hamparan lampu cantik menjadi spot favorit untuk berfoto khusus malam hari,” lontarnya.

Juga ada zipline sepanjang 500 meter yang baru dibuka September 2018. Wahana baru ini menawarkan sensasi seru meluncur dari ketinggian menggunakan tali berkelok-kelok sepanjang 430 meter. “Instruktur kami sediakan dari Wanadri, pencinta alam profesional, bersertifikat, mengerti cara bermainnya dan yang pasti aman. Kami juga ada kapasitas orangnya, maksimal beratnya 60-65 kg. Tiket Rp75.000 untuk sekali meluncur,” lanjutnya.

Wahana lainnya ada sebuah amfiteater. “Panggung kecil di tengah hutan pinus ini khusus untuk live music dan panggung hiburan lainnya. Pengunjung bisa duduk di deretan bangku kayu yang berjajar rapi di depannya,” jelasnya.

Disisi lain, Orchid Forest juga dilengkapi Terrace Paphio, merupakan venue multifungsi dapat dipakai untuk berbagai acara. Bahkan
bagi pasangan yang ingin merayakan pernikahan atau resepsi dengan suasana hutan pinus. “Untuk sewa tempat menikah di sini, harganya Rp25 juta,” sebutnya.

Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Orchid Forest juga ada camping ground di belantara hutan pinus. Tarifnya Rp 900 ribu termasuk tenda, kasur, sleeping bag, dispenser, api unggun, dan kayu bakar. Dan sebelum pintu keluar ada area untuk menunggang kuda. Tersedia dua kuda warna putih dan coklat siap mengajak wisatawan untuk naik kuda.

Meskipun berkontur naik turun, jalan hutan pinus ini, sudah berupa paving block sehingga nyaman untuk anak-anak dan lansia. Pengunjung pun dijamin tak kesasar karena banyak papan penunjuk jalan. Menariknya lagi, bilik-bilik toiletnya tampil tak biasa, didesain unik kekinian sampai dijadikan selfie spot juga oleh sejumlah pengunjung.

Usai keliling melihat aneka bunga angrek dan berselfie ria, pengunjung bisa mampir ke kedai kopi. Ada menu Cireng seporsi Cireng isi 10 Rp 22 ribu, isi 20 Rp 33 ribu, dan Pisang Goreng isi 5 potong Rp 24 ribu dan Kopilatte Rp 35 ribu yang patut dinikmati.

Setelah menikmati Orchid Forest, pengunjung harus kembali melanjutkan perjalanan sepanjang 1 km. Tak perlu khawatir, di Orchid Forest terdapat shuttle yang mengantarkan para pengunjung kembali ke area parkir setelah berwisata secara gratis.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Guntur Sakti, selaku pimpinan rombongan wartawan mengakui keberadaan
Orchid Forest sudah sangat tepat sebagai destinasi digital dan nomadic tourism. “Destinasi digital dan nomadic tourism salah satu jenis wisata yang tengah digalakkan Kemenpar atas arahan Menpar Arief Yahya,” lontar Guntur Sakti

Dilanjutkan, objek wisata alam ini sudah mengusung konsep wisata digital (digital tourism), di mana target terbesarnya adalah kalangan anak muda yang sangat antusias berburu lokasi unik untuk diunggah dan dipamerkan di media sosial.

“Jadi berwisata di Orchid Forest, tidak cuma jalan-jalan namun juga ada unsur edukasi bisa belajar tentang anggrek. Kemudian bisa berfoto yang unik dan menarik lalu dimasukkan ke media sosial baik instagram, twitter, google plus, PAD maupun Facebook sehingga orang lain tertarik untuk datang,” tandasnya.

Tahun 2018, Kementerian Pariwisata mempercepat pembangunan 100 destinasi wisata digital dan 4 destinasi wisata nomadik. Destinasi wisata digital dan wisata nomadic ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi turis asing terlebih pada 2019 ditargetkan meraup 20 juta kunjungan pelancong mancanegara. “Untuk nomadic tourism tahun ini kami prioritaskan ada 4 destinasi yakni Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur,” lanjutnya.

Nomadic Tourism merupakan destinasi wisata glamp camp, home pod, dan caravan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya pelancong asing yang menginginkan pilihan selain menginap di hotel berbintang. Kemenpar membuka pintu lebar investasi bagi para pelaku usaha yang ingin membuat nomadic tourism.

“Kami permudah regulasinya. Saat ini fasilitas glamping mulai dikembangkan di sejumlah destinasi unggulan di Tanah Air seperti Bali, Lombok, Belitung, dan Jabar. Salah satunya di Kabupaten Bandung. Memang untuk nomadic tourism ini banyak dibuat oleh korporasi. Namun pemerintah juga membuat homestay bersama masyarakat,” tutur Guntur

Nomadic toursim ini merupakan sebuah terbosan dalam memenuhi tuntutan pasar atau permintaan wisatawan serta untuk mengatasi keterbatasan tersedianya amenitas sebagai unsur penting dari 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) di daerah tujuan wisata yang mengandalkan unsur budaya, alam, dan buatan manusia.

Menurutnya, nomadic tourism memiliki prospek bisnis yang cerah dan memiliki pasar yang besar di mancanegara. Pasalnya, memiliki value ekonomi tinggi dan treatmentnya juga relatif mudah sehingga menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan bisnis ini terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial

Menurut data jumlah backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta terbagi dalam tiga kelompok besar. Ketiga kelompok besar tersebut yakni flashpacker atau digital nomad sekitar 5 juta orang yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja, glampacker atau milenial nomad sekitar 27 juta orang dengan mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable.

Juga luxpacker atau luxurious nomad sebanyak 7,7 juta orang lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia. “Para luxpacker ini lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam seperti danau, pegunungan, pantai, atau sungai,” tutup Guntur. (endy)

Terungkap Hal-hal Menjengkelkan Saat Berwisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Agoda, agen perjalanan wisata online (OTA) mengeluarkan hasil survei global terkait Kebiasaan Menjengkelkan Ketika Berwisata pada liburan panas. Survei ini dilakukan dengan meminta pendapat para wisatawan terkait kebiasaan paling menjengkelkan yang mereka temui saat menikmati liburan wisata.

Berdasarkan survei Wisatawan yang berisik (57%) menempati posisi teratas paling menjengkelkan, disusul wisatawan terus bermain dengan ponselnya (47%), dan wisatawan yang tidak sensitif terhadap perbedaan budaya (46%) merupakan kebiasaan buruk wisatawan yang paling menjengkelkan berdasarkan survei Agoda tentang “Kebiasaan Menjengkelkan Ketika Berwisata” melengkapi 5 daftar itu, rombongan tur wisatawan dan pecinta selfie masing-masing mendapat 36% dan 21%.

Selain itu, Wisatawan China paling bisa menerima keberadaan tukang selfie. Hanya 12% responden dari China yang terganggu oleh mereka, dibandingkan responden dari Australia (31%) yang paling tidak dapat menerima dan menganggap para tukang selfie itu menyebalkan.

Bagi wisatawan Singapura (63%), Filipina (61%) dan Malaysia (60%), ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya lokal, dianggap dua kali lipat lebih menyebalkan dibandingkan wisatawan China (21%) dan Thailand (27%). Sekitar separuh dari wisatawan Inggris (54%) dan dua-perlima dari wisatawan Amerika (41%) tidak dapat menerima kebiasaan buruk tersebut.

Selain itu, hampir separuh (47%) responden global mengeluhkan wisatawan yang menghabiskan banyak waktu pada ponselnya. Wisatawan asal Vietnam (59%) menganggap bahwa orang yang terus bermain dengan ponsel itu menjengkelkan. Namun sebaliknya, wisatawan asal Thailand (35%) paling bisa menerima kebiasaan menggunakan ponsel secara terus-menerus ketika berwisata.

Secara mengejutkan, wisatawan tunggal menghabiskan waktu hampir dua jam sehari pada ponselnya saat berwisata sendiri (117 menit), atau 15% lebih lama dibandingkan saat berwisata dengan teman-teman (100 menit) dan 26% lebih lama saat berwisata dengan keluarga (86 menit). Wisatawan Amerika merupakan pengecualian dari tren ini. Mereka rata-rata menghabiskan sedikit waktu pada ponselnya, baik ketika berwisata sendiri (62 menit), dengan keluarga (66 menit) atau teman-teman (86 menit).

Orang Inggris merupakan wisatawan yang paling kompak saat berwisata. Mereka membatasi waktu untuk bermain ponsel menjadi sekitar satu jam (63 menit) sehari, dibandingkan wisatawan asal Thailand yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari (125 menit) untuk bermain ponsel saat berwisata dengan teman-teman atau keluarganya.

Untuk mengajak para wisatawan memperhatikan dan menikmati destinasi baru tanpa fokus pada layar ponselnya, Agoda meluncurkan kampanye “Selfie Fail” yang menampilkan listicle dan video montage lucu berisi kekonyolan akibat kecanduan ponsel. Dengan format video yang kocak, komedian Australia Ozzyman menceritakan cuplikan video dari para wisatawan yang mengalami kecelakaan dan situasi konyol akibat terlalu fokus pada ponselnya.

Fakta-fakta “Kebiasaan Menjengkelkan Ketika Berwisata” berdasarkan negara:

#. Indonesia

Bagi wisatawan Indonesia, kecanduan ponsel (47%), ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (47%) dan wisatawan yang berisik (43%) merupakan kebiasaan paling menjengkelkan. Anak muda paling tidak bisa menerima ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya, dengan setengah dari seluruh wisatawan usia 18 hingga 24 tahun menganggapnya sebagai hal menjengkelkan.

Namun penerimaan semakin besar seiring bertambahnya usia, dengan usia 55 tahun atau lebih (32%) merupakan kelompok yang paling dapat menerimanya. Wisatawan Indonesia berusia 55 tahun ke atas menganggap kecanduan ponsel dan selfie tidak begitu menjengkelkan dibandingkan kelompok usia lainnya.

#. Malaysia
Bagi wisatawan Malaysia, ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (60%), wisatawan yang berisik (56%) dan kecanduan ponsel (51%), merupakan kebiasaan paling menjengkelkan. Wisatawan Malaysia usia 55 tahun ke atas paling tidak bisa menerima wisatawan yang berisik, mencapai 74% dibandingkan hasil survei rata-rata (56%). Wisatawan usia 18 hingga 24 tahun menghabiskan sebagian besar waktunya bermain ponsel setiap hari (243 menit) dibandingkan responden lainnya (218 menit).

#. Filipina
Bagi wisatawan Filipina, ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (61%), wisatawan yang berisik (59%) dan kecanduan ponsel (52%), merupakan hal-hal paling menjengkelkan. Wisatawan usia 55 tahun dan ke atas paling merasa terganggu oleh wisatawan yang berisik (83%) dibandingkan jumlah rata-rata survei (59%). Ketika berwisata dengan keluarga, wisatawan usia 18 hingga 24 tahun (23%) paling sering menggunakan ponselnya, sekitar empat jam atau lebih dalam sehari. Wisatawan usia 55 tahun dan ke atas tidak cenderung fokus pada ponselnya (3%).

#. Singapura
Bagi wisatawan Singapura, wisatawan yang berisik (68%), ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (63%) dan tur rombongan besar (49%) merupakan hal-hal yang paling menjengkelkan. Tingkat penerimaan wisatawan Singapura terhadap rombongan tur besar meningkat seiring bertambahnya usia. Kelompok usia 18 hingga 24 tahun (53%) paling merasa terganggu dengan hal tersebut, namun kelompok usia 55 tahun ke atas tidak terlalu terganggu (36%).

Wisatawan Singapura menghabiskan lebih dari satu jam setengah (101 menit) sehari pada ponselnya ketika berwisata dengan keluarga, dan hampir dua jam sehari ketika berwisata dengan teman-teman (114 menit) atau sendiri (110 menit).

#. Thailand
Bagi wisatawan Thailand, wisatawan yang berisik (58%), rombongan tur besar (41%) dan kecanduan ponsel (31%) merupakan hal-hal paling menjengkelkan. Tingkat penerimaan terhadap rombongan tur besar menurun, seiring bertambahnya usia bagi wisatawan Thailand. Kelompok usia 18 hingga 24 tahun (35%) tidak terlalu terganggu dengan hal tersebut, namun kelompok usia 55 tahun ke atas sangat terganggu (50%). Wisatawan Thailand menghabiskan lebih dari dua jam sehari pada ponselnya ketika berwisata dengan keluarga (124 menit) dan teman-teman (126 menit).

#. Vietnam
Bagi wisatawan Vietnam, kecanduan ponsel (59%), wisatawan yang berisik (52%) dan ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (45%) merupakan hal-hal paling menjengkelkan. Tingkat penerimaan terhadap selfie meningkat seiring bertambahnya usia. Sebanyak 20% dari kelompok usia 18 hingga 24 tahun menganggap tukang selfie itu paling menjengkelkan dibandingkan 7% dari kelompok usia 55 tahun ke atas. Wisatawan Vietnam menghabiskan lebih banyak waktu pada ponselnya ketika berwisata sendiri (147 menit) dan dengan keluarga (68 menit) atau teman-teman (86 menit).

#. China

Bagi wisatawan China, wisatawan yang berisik (68%), kecanduan ponsel (47%) dan rombongan tur besar (33%) merupakan hal-hal yang paling menjengkelkan. Wisatawan China lebih tidak terlalu fokus pada ponselnya saat berwisata dengan keluarga. Hanya ada 10% yang mengaku menghabiskan waktu empat jam atau lebih pada ponselnya ketika berwisata dengan keluarga dan 30% ketika berwisata sendiri.

#. Australia

Bagi wisatawan Australia, wisatawan yang berisik (56%), ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (54%) dan penggunaan ponsel berlebihan (52%) adalah kebiasaan paling menjengkelkan. Dibandingkan perempuan (25%), laki-laki (37%) lebih jengkel terhadap tukang selfie. Wisatawan Australia menghabiskan sekitar satu jam sehari pada ponselnya ketika berwisata dengan keluarga (68 menit) dan teman-teman (80 menit). Mereka menghabiskan sekitar satu jam setengah (90 menit) ketika berwisata sendirian.

#. Inggris

Bagi wisatawan Inggris, wisatawan yang berisik (56%), ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (54%) dan kecanduan ponsel (45%) merupakan hal-hal paling menjengkelkan. Tingkat penerimaan terhadap wisatawan yang berisik menurun, seiring bertambahnya usia. Sebanyak 68% dari kelompok usia 55 tahun ke atas menganggap wisatawan yang berisik itu paling menjengkelkan dibandingkan 47% dari kelompok usia 18 hingga 24 tahun. Wisatawan Inggris menghabiskan satu jam sehari pada ponselnya ketika berwisata dengan keluarga dan teman-teman (sekitar 60 menit) dan naik hingga hampir satu jam setengah (85 menit ketika berwisata sendiri.

#. Amerika Serikat

Bagi wisatawan Amerika, wisatawan yang berisik (53%), kecanduan ponsel (48%) dan ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya (41%) merupakan hal-hal paling menjengkelkan. Laki-laki (60%) lebih dapat menerima wisatawan yang berisik dibandingkan perempuan (46%). (redaksibisniswisata@gmail.com)

Peremajaan Armada, Lion Air Datangkan Boeing 737-800NG

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Lion Air menerima pesawat terbaru jenis Boeing 737-800 Next Generation (NG). Kedatangan B738 sebagai bagian strategis Lion Air dalam peremajaan armada sejalan peningkatan kualitas layanan perjalanan udara, yang tetap mengutamakan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan.

Pesawat diterbangkan langsung dari pabrikan Boeing dan transit di Bandara Honolulu, dilanjutkan Bandara IPohnpei, Mikronesia serta Bandara Kuala Lumpur, “Lion Air yang menggunakan penerbangan JT002 mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sangat mulus,” kata Corporate Communication Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulis diterima Bisniswisata.co.id, Sabtu (04/08/2018).

Dijelaskan Boeing 737-800NG dengan registrasi PK-LPT adalah armada seri 800 ke-78, yang diterima Lion Airgroup dan melengkapi armada Lion Air ke-36 untuk tipe yang sama. “Pesawat memiliki konfigurasi atau tata letak kursi 3-3 lorong tunggal (single aisle) berkapasitas 189 penumpang, semuanya kelas ekonomi,” lontarnya.

Hingga kini, Lion Air sudah mengoperasikan 118 pesawat, terdiri satu Boeing 747-400 (12 kursi kelas bisnis dan 492 kelas ekonomi), 70 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 35 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi), sembilan Boeing 737 MAX 8 (180 kelas ekonomi) dan tiga Airbus A330-300 (440 kelas ekonomi).

Kehadiran Boeing 737-800NG merupakan kesungguhan Lion Air menjawab tingginya permintaan pasar penerbangan dan wisata sejalan tren baru di dunia traveling sejak beberapa tahun belakangan atau mulai sekitar 2015, ungkapnya.

Lion Air, lanjut Danang, melihat sebagian besar “plesiran” dipelopori kalangan muda, generasi millennial. “Pesawat ini sangat cocok memenuhi kebutuhan “jalan-jalan” dalam mewujudkan mimpi para pelancong menuju berbagai destinasi popular Indonesia dan mancanegara,”.

Ditambahkan, Lion Air Group senantiasa berupaya mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan asing dan nusantara yang ditandai dengan menambahkan armada baru guna mempersingkat waktu serta mempermudah akses antardestinasi. Pesawat PK-LPT akan memperkuat rute yang saat ini sudah dilayani serta rencana penambahan frekuensi terbang atau pembukaan jaringan baru.

Lion Air hingga kini telah melayani ke lebih dari 45 pilihan kota tujuan domestik serta internasional (Singapura, Malaysia, Tiongkok dan Saudi Arabia) dengan frekuensi terbang mencapai 670 setiap hari.

“Kami optimis, pengoperasian pesawat baru dengan dibekali fitur modern akan terus menambah pengalaman tersendiri bagi komunitas kawula muda “hobi wisata, aktif bercerita dan berbagi foto menarik” untuk terus mengunggah minat jalan-jalan menggunakan jalur udara ke beragam destinasi unggulan,” paparnya.

Dalam menawarkan kenyamanan selama penerbangan, Boeing 737-800NG yang dioperasikan Lion Air telah dilengkapi interior kabin Boeing Sky Interior. Teknologi ini memberikan keuntungan bagi penumpang karena akan disambut nuansa kabin lebih fresh, hangat dan menyenangkan.

Juga Sistem pencahayaan tampil lebih kekinian, bisa menyuguhkan pilihan warna berbeda yang disesuaikan suasana, antara lain soft blue untuk menampilkan efek segar saat boarding, warna senja (sunset) mengakomodir mood santai, tenang serta lembut, sambungnya.

Pesawat Lion Air juga didukung penataan lampu Light-Emitting Diode (LED) interior kabin dan lampu baca. Desain tersebut menimbulkan kesan lebih lapang, futuristik dan dinamis. Fitur unggulan juga terletak pada speaker yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas suara saat safety demo atau pengumuman dari kru.

“Bagi pelanggan yang duduk di kursi dekat jendela (window) akan semakin menikmati pemandangan luar secara leluasa. Bentuk dinding kabin bagian samping (sidewalls) lebih luas dengan tampilan jendela tampak lebih besar,” tambahnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Kampung Legenda Tema Kuliner Hotel Santika Pandegiling

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: Menyemarakkan hari Kemerdekaan Indonesia ke-73, Hotel Santika Pandegiling Surabaya menawarkan Buffet Lunch dan Dinner di restoran Kemangi bertema Kampung Legenda, yang mempersembahkan beragam menu dari berbagai daerah di Nusantara.

Executive Chef Ervin Triana siap menyajikan masakan tradisional Indonesia yang bervariasi dari Sabang hingga Merauke dan berganti setiap hari. Disediakan dalam buftet mulai dari salad, 5 main course, beberapa dessert, beraneka kue, puding dan es jus buah musiman.

“Untuk lebih mempopulerkan kuliner Nusantara, kami menyajikan bermacam menu domestik dengan penyajian menarik. Tamu bisa memilih beragam hidangan yang bakal menggugah selera selama Agustus. Ini merupakan bentuk kecintaan kami kepada kuliner Indonesia,” lontar Chef Ervin dalam rilisnya, hari ini.

Menurut dia hidangan yang disajikan di event Kampung Legenda bersifat tematik. Senin temanya Jawa Timur, Selasa Jawa Tengah, Rabu Sumatra, Kamis Bali, sedangkan Jumat Jawa barat. Salah satu menu istimewa yang disajikan adalah Kuah Pindong Soka yang bisa dipesan ala carte.

Menu ini dipadu papeda berbahan sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Papeda dibuat berwarna merah putih seperti bendera Indonesia. Warna merah berasal dari buah naga.

Dijelaskan, bahan kepiting soka, karena tak kalah enak dengan kepiting biasa. Kepiting soka bisa diolah dengan beragam cara seperti dibakar, dimasak pedas ataupun asam manis. Dagingnya lembut, gurih dan enak. Jika ingin menyantapnya, juga tak perlu repot mengupas cangkangnya yang keras.

“Kepiting soka merupakan jenis kepiting yang hidup di kawasan bakau yang lebih kecil dibandingkan kepiting biasa. Kepiting ini dibudidayakan di Kalimantan. Pada musim tertentu, kepiting ini terlepas cangkangnya sehingga jadi lunak.

Kuahnya menggunakan bahan buah nanas. Menurut Chef Ervin, ia menggunakan nanas karena jarang digunakan pada masakan Indonesia, kecuali mungkin pada nasgor nanas.

Sedangkan bumbunya adalah bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, kemiri, jahe, lengkuas, serai, daun jeruk, daun salam, saus tomat dan saus sambal. Bumbu pelengkapnya lada, garam, gula dan merica.

Cara mengolahnya, bagi semua bahan menjadi dua bagian, yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, lengkuas, jahe setengahnya di haluskan dan sebagian lagi dirajang, diiris kasar. Kemudian bahan ditumis. Yang ditumis lebih dulu adalah bahan yang dihaluskan.

Setelah aroma keluar, bahan yang diiris kasar tersebut dimasukkan kemudian ditambahkan saus tomat, saus sambal, lada, garam, gula dan merica. Selanjutnya masukkan nanas, tuangkan air dan cicipi rasanya apakah sudah pas.

Untuk mengolah kepiting soka, kepiting soka direbus dulu sekitar 20 menit untuk menghilangkan bau amis. Tambahkan jahe, bawang putih dan bawang prei. Buang rebusan air kepiting soka dan siap diolah.

Cara mengolah kepiting soka, tumis bawang bombay dan bawang prei sampai harum, masukkan kepiting, lada, garam, merica. Kucurkan perasan air jeruk nipis/lemon pada kepiting.

Jika sudah terlihat matang, atur dipiring dan campur dengan kuah pindang nanas. Menu siap dihidangkan. “Kuah Pindang Soka cocok dan enak disantap dengan papeda dan kuah nanas. Rasanya komplit. Segar, asam, manis dan pedas,”.

Untuk minumannya, ada Jus Kemerdekaan yang segar menggiurkan racikan Maryono, F&B Coordinator. Warnanya merah putih seperti bendera Indonesia. Merah terbuat dari stroberi dan semangka, sedangkan putih terbuat dari leci dan susu kental manis (SKM).

Cara meraciknya mudah. Leci dan SKM di- blend dengan es batu lalu dituangkan ke dalam gelas yang membentuk lapisan putih. Kemudian stroberi dan semangka di-blend dan dituangkan di atas lapisan putih tadi, sehingga tercipta paduan warna merah dan putih. Lalu hiasi gelas dengan garnish irisan semangka..

Indahnya Panorama Gili Lawa Sebelum Dilalap Si Jago Merah

this formate

LABUAN BAJO, bisniswisata.co.id: Gili Lawa, pulau cantik yang ada di gugusan Kepulauan Komodo, NTT tepatnya di sebelah utara Pulau Komodo ini tentu bukanlah tempat yang asing lagi buat para pecinta traveling, baik warga Indonesia, maupun wisatawan asing. Rasanya belum lengkap kalau tak memasukkan Gili Lawa ke dalam daftar tempat impian yang harus dikunjungi sebelum waktu hidup di dunia ini habis.

Beberapa spot menarik yang Instagramable bisa ditemukan di Gili Lawa, salah satunya adalah dua pulau yang ditengahnya terdapat panorama peraiaran, seperti selat yang diapit oleh dua buah pulau yang cantik. Ya, view tersebut tentunya menjadi salah satu latar belakang foto yang paling populer bagi para wisatawan.

Sayang hal menyedihkan baru saja terjadi, lahan seluas 10 hektar di Gili Lawa terbakar. Pulau Gili Lawa di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, terbakar pada Rabu (1/8/2018) dini hari. Pihak kepolisian sendiri kini masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kebakaran.

“Informasi dari Kapolres Manggarai Barat saat ini masih melakukan penyelidikan penyebab kebakaran,” kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Jules Abraham Abast saat dilansir laman Liputan6. Sabtu (4/8/2018). “Polres Manggarai Barat masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi yang mengetahui peristiwa kebakaran padang savana di Gili Lawa tersebut,” ujar Jules.

Di dunia maya kini memang tengah ramai pembahasan soal penyebab kebakaran Gili Lawa. Ada kabar yang mengatakan kalau kebakaran besar tersebut disebabkan oleh rokok, namun ada pula kabar yang menyebutkan kalau kebakaran tersebut ditimbulkan oleh beberapa orang yang tengah melakukan foto prewedding.

Seorang pemilik akun Instagram @asokaremadja membagikan tulisan Thomas DA yang menjelaskan bagaimana kebakaran di Gili Lawa bisa terjadi. Dari postingan tersebut diketahui bahwa Gili Lawa terbakar karena ada beberapa orang yang sedang melakukan foto prewedding.

“Kami grup yang paling terakhir di Gililawa dan sempat melihat grup lain tengah melakukan sebuah pemotretan, sepertinya untuk sebuah pernikahan adat China. Mereka mencoba menyalakan tiga hingga empat kali api di puncak, aku pikir itu untuk mendapatkan hasil foto yang bagus. Tapi kemudian api membesar dan mereka malah meninggalkan puncak lalu melanjutkan mengambil foto lain. kami melaporkan kepada pihak taman nasional dan penduduk sekitar yang menunggu rombongan itu turun,” tulis Thomas DA yang dibagikan oleh akun @asokaremadja.

Kebakaran yang melanda Gili Lawa tentu membuat sedih banyak orang. Tak heran jika kini banyak netizen yang mengutuk orang-orang yang diduga menyebabkan kebakaran tersebut. Untuk mengenang kembali keindahan Gili Lawa, di bawah ini adalah foto-foto keindahan Gili Lawa sebelum kebakaran yang diunggah oleh netizen ke Instagram.

Tak bisa dipungkiri, Gili Lawa selama ini dikenal sebagai salah satu spot favorit bagi turis yang melakukan pelayaran atau sailing di Taman Nasional Komodo. Pulau tersebut tenar karena memiliki lanskap lengkap, mulai laut sampai darat, seperti halnya Pulau Padar dan pulau-pulau kenamaan lainnya di perairan barat Flores.

Pemandu wisata senior Labuan Bajo, Hunisar Farulian Morrys alias Bangjo mengatakan Gili Lawa memiliki empat pesona dengan empat daya tarik unggulan. “Pulau yang bisa ditempuh 3,5 jam dari Pelabuhan Labuan Bajo ini bisa dinikmati oleh wisatawan penyuka snorkeling atau trekking. Pemandangannya semua bagus,” katanya seperti dilansir laman Tempo, Sabtu (04/08/2018).

Berikut ini empat pesona Gili Lawa tersebut.

#. Pertemuan dua tanjung

Bila Pulau Padar, yang masih berada di kawasan Taman Nasional Komodo, memiliki lansekap pertemuan empat teluk, kawaan Gili Lawa menawarkan pemandangan dengan pertemuan dua tanjung. Tanjung itu adalah bagian dari Gili Lawa dan Pulau Sangiang. Dari atas bukit, wisatawan bisa menyaksikan pulau itu memiliki sisi lengkung yang hampir presisi. “Kalau dilihat dri puncak, cantik sekali. Ini adalah spot foto favorit,” kata Bangjo.

#. Snorkeling

Gili Lawa juga menjadi salah satu spot favorit untuk snorkeling. Di perairan dangkal, wisatawan bisa menyaksikan terumbu karang dan anemon serta ikan yang hidup dengan ragam rona warna-warni. “Tidak harus ke laut dalam untuk menyaksikan keindahannya,” Bangjo menuturkan.

#. Trekking

Gili Lawa juga memiliki jalur trekking cukup panjang, meski tak setinggi Pulau Padar. “Namun lebih menantang karena kemiringannya hampir 45 derajat,” kata Bangjo. Menurut Bangjo, jalur trekking Labuan Bajo diminati oleh wisatawan berjiwa petualang.

#. Titik Matahari Tenggelam

Pulau ini juga tercatat menjadi titik terbaik menyaksikan matahari tenggelam. Dari atas bukit, pemandangan 360 derajat dapat dinikmati. Matahari saat sore akan turun pelan di balik Pulau Sangiang yang menghadap langsung ke Gili Lawa. (NDY)

Teratai Salju, Buah Kolaborasi Seniman Jepang-Indonesia

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Tiga perupa Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi bersama seniman Indonesia Trie Utami akan berkolaborasi dalam pameran seni bertajuk Teratai Salju. Pameran berlangsung di Mandala Bidadari, Ubud, Gianyar, yang mulai dibuka Sabtu (4/8/2018) malam.

Pameran Teratai Salju menjadikan kesadaran seorang seniman akan posisinya secara sosial maupun spiritual dan mempraktikkannya sebagai gerakan kebudayaan. Sekaligus mempererat hubungan kebudayaan antara Jepang – Indonesia.

Ketiga perupa asal Jepang akan memamerkan karya di Mandala Bidadari 4-25 Agustus 2018. Seniman Kazunobu Yanagi menampilkan instalasi lukisan, sedangkan Yasu Suzuka dan Minako Hiromi memamerkan karya seni rupa. Dalam pembukaan pameran ini Trie Utami merespons karya rupa tersebut dengan musik dan pertunjukan seni.

Pemilik Mandala Bidadari Hiromi Wada mengatakan perhelatan ini digelar untuk ikut merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia. “Melalui kegiatan ini saya berharap memberikan dharma kebaikan, keteduhan, kedamaian dan untuk keakraban dua bangsa, Jepang-Indonesia, yang telah lama memiliki hubungan emosional maupun budaya dan spiritual,” lontar Hiromi di Denpasar Jumat (4/8/2018) malam.

Selain kolabirasi keempat seniman, seperti dilansir laman Bisnis, Sabtu (04/08/2018) dalam prosesi pembukaan juga menghadirkan sejumlah pendeta Buddha dan Hindu yang akan memanjatkan mantra dan doa agar segala energi baik yang membawa kedamaian di muka bumi ini datang.

Hiromi Wada yang juga penggagas pameran ini mengatakan Teratai Salju diharapkan mampu menghadirkan semangat Asia seperti terkandung dalam makna filosofi Teratai Salju yang berkaitan dengan pembersihan jiwa. Teratai Salju diyakini tumbuh dan mekar di air suci atau air surgawi.

Melalui karya seniman Jepang dalam pameran ini diharapkan pula membuka berbagai kemungkinan landasan kajian yang bukan sekadar wacana kesenian. “Lebih dari itu barangkali peristiwa kesenian ini menjadi semacam respons dari tingkat kesadaran yang tinggi dalam dialog budaya anatara Jepang dan Indonesia,” kata Hiromi Wada.

Karya-karya seniman Jepang yang meletakkan mandala sebagai pusat perhatian, seperti meditasi sangat mengemuka dalam lingkaran dengan simbol-simbol yang melekat. Hadirnya citra Borobudur dan stupa Buddha dalam pameran ini menjadi identitas bahwa dari peradaban sejarah yang menunjukkan akar kedekatan konsep “mandala” dalam Hindu dan Buddha baik di Indonesia dan Jepang.

Kazunobu Yanagi pada pembukaan pameran membuat performing art yang mengupas hubungan manusia dalam perjalanan kehidupan melalui simbol-simbol dalam bentuk lingkaran, bidang yang kesemuanya diinstall di atas tanah. (NDI)

Tanpa Visa Haji, Izin Biro Perjalanan Umrah Terancam Dicabut

this formate

MEKKAH, bisniswisata.co.id: Kementerian Agama (Kemenag) bakal mengambil langkah tegas mencabut izin operasional Perusahaan Penyelenggara Ibadah Umrah (PPIU) atau biro perjalanan umrah apabila terlibat dalam kasus 116 WNI tanpa visa haji yang digerebek dan diamankan pihak keamanan Saudi di Misfalah, Mekkah, Arab Saudi, Sabtu (27/7) lalu.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali menjelaskan, Kemenag akan berkoordinasi lintas sektoral untuk mengungkap kasus tersebut. “Jika terbukti ada WNI yang menggunakan visa umrah dan melebihi izin tinggal (overstay), kami lacak masalah itu karena merupakan kesalahan PPIU atau jamaah,” tandas Nizar Ali di Kantor Daker Mekkah di kawasan Syisyah, Mekkah, Arab Saudi.

“Kalau kesalahan PPIU akan kita cabut izin operasionalnya,” sambung Nizar didampingi Kabiro Humas Data dan Informasi Mastuki. Pihaknya akan meminta data-data dari Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah guna mengungkap sejauhmana keterlibatan PPIU. “Jika memang ada unsur kesengajaan dari PPIU, tidak ada cara lain, kita cabut izinnya,” tegasnya lagi.

Menurut Nizar, bisa jadi realitanya PPIU memberangkatkan 100 orang dan yang pulang hanya 90 orang. “Dari sana kita bisa melacak laporannya melalui Sipatuh (Sistem Informasi Pelayanan Terpadu Umrah dan Haji Khusus),” paparnya seperti dilansir laman Sindonews, Sabtu (04/08/2018).

Terlepas dari itu, Nizar mengingatkan agar jangan sampai ibadah yang memiliki tujuan baik, malah dilakukan dengan cara yang tidak baik. “Jika dilakukan dengan tidak baik, tentu hasilnya juga tidak baik,” tegasnya.

Konsul Jenderal RI Jeddah Hery Saripudin mengaku belum bisa menyebutkan siapa pihak bertanggungjawab terhadap 116 WNI yang digerebeg polisi Arab Saudi tersebut. Hal itu ditindaklanjuti tim yang ada di Tanah Air. “Ini terus terang saja, mengenai siapa yang menggerakkan ini, jadi ada tindak lanjutnya di Tanah Air. Kami, insyaallah kami dibahas di Tanah Air,” tuturnya. (SIC))