Orchid Forest, Bukan Sekedar Memandang Anggrek

0
799
Wooden Bridge di Orchid Forest Lembang

LEMBANG, bisniswisata.co.id: Pariwisata Lembang kian berkembang. Destinasi wisata baru bermunculan. Wisatawan pun semakin memiliki pilihan jika melancong ke kawasan Bandung Barat ini. Pilihan terbaru Orchid Forest, yang lokasinya di Jalan Tangkuban Perahu kilometer (KM) 8, tepanya desa Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Edu tourism dan destinasi digital di atas lahan seluas 14 hektar berada pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut, sehingga suhu udara di Orchid Forest yang berada di tengah hutan pinus sangat sejuk, sehingga sangat cocok sekali untuk kehidupan flora khususnya anggrek. Sepanjang kaki melangkah pada setiap pohon pinus selalu dihinggapi tanaman anggrek meski belum berbunga.

Obyek wisata ini memang dikemas One Stop Family Adventure. Jadi bukan sekadar mempersembahkan Anggrek namun juga menawarkan panorama asri hutan pinus di lereng Gunung Takuban Perahu, juga berbagai aktivitas seperti Outbound, flying fox, hanging rope, camping ground, nunggang kuda, Wooden Bridge atau menapak jembatan kayu yang malam hari diterangi lampu, panggung hiburan serta rabbit house bermain bersama kelinci.

“Kami ingin tampil beda, agar pengunjung nggak booring. Apalagi era media sosial, kami menyediakan berbagai latar menarik yang sangat Instragamable. Dan pengunjung mayoritas generasi milenial sangat happy dengan suasana seperti ini,” papar Leader Marketing Eksekutif Orchid Forest Bagus Maulana saat menerima kunjungan 50 wartawan Pariwisata dan Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata.

Setelah memasuki pintu masuk Orchid Forest, pengunjung langsung disuguhi rumah kaca berbentuk segi tiga yang diberi nama Orchid House yang terletak di tengah arena Orchid Forest. Didalam ruangan kaca terdapat beberapa kotak segi empat berisi anggrek yang cantik dengan perpaduan warna yang sangat indah. “Ini ruangan khusus untuk anggrek langka yang didapat dari penjuru nusantara,” lontar Bagus.

Berbagai jenis anggrek seperti Paphiodelium javanicum, anggrek endemis Pulau Jawa, langsung menyapa di muka pintu rumah kaca dengan warna kelopak yang berupa campuran cokelat, ungu, dan hijau. Anggrek tersebut harus dirawat khusus dengan suhu ruangan berkisar 21-29 derajat Celcius.

Bahkan, sambung dia, bibitnya selain dari berbagai daerah di Indonesia juga dari Amerika Serikat, Peru, Venezuela, dan negara lainnya.
Saat ini tercatat memiliki lebih dari 100 lebih jenis bunga anggrek yang dibudidayakan. Ada anggrek khas Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Dilanjutkan, konsep berdirinya Orchid Forest karena Indonesia merupakan penghasil tanaman anggrek terbesar kedua setelah Brasil. Selain melihat berbagai jenis spesies anggrek, pengunjung juga diberi pengetahuan, cara merawat anggrek hingga mengenal spesies anggrek. Pasalnya hanya kenal anggrek namun tidak tahu species dan jeninya.

“Jadi kami ingin mengedukasi pengunjung agar ikut membudidayakan, mengetahui cara perawatannya. Mulai dari cara pembibitannya, cara merawatnya hingga anggrek itu tumbuh mekar. Tenyata apa yang kami edukasikan itu banyak yang tertarik sekaligus mencntai anggrek, yang rata-rata kaum hawa,” tandasnya.

Perawat Anggrek di Orchid Forest, Senia menambahkan di Orchid Forest terdapat jenis Anggrek langka, khas, unik dan menarik, seperti Anggrek Paphiopedilum Javanicum endemik khas Jawa. Jenis itu hanya ada di Pulau Jawa dengan bentuknya yang unik berkantung. “Tapi kantongnya berbeda dengan kantong Anggrek umumnya. Warna anggrek ini sangat khas, dan aslinya seperti itu,” ucapnya.

Spesies ini, lanjut dia, terbesar di Pulau Jawa. Untuk perawatannya cuma disiram tidak setiap hari. Paling dua hari sekali. “Kelembabannya cukup tinggi dari anggrek-anggrek lainnya. Dan suhunya maksimal 29 derajat celcius dan minimal 21 derajat celcius,”.

Selain Paphiopedilum Javanicum, ada tanaman Anggrek langka lain yang berasal dari Papua yakni Dracula mix simia. Tumbuhan ini dinilai paling spesial yang terdapat di lokasi edu wisata Orchid Forest. “Warna kembangnya hitam pekat asal Papua. Tapi sayang, saat ini sedang tidak berbunga. Bulan depan baru berkembang lagi,” sambungnya

Marketing Executive Orchid Forest Nexa Paisan menambahkan Orchid Forest belum berusia satu tahun. Namun, antusias masyarakat untuk mengenal lebih dekat keindahan Anggrek cukup besar. Tingkat kunjungan wisatawan tiap harinya bisa mencapai 4.000-5.000 orang. Bahkan, pada akhir pekan atau hari libur besar grafik tingkat kunjungan juga meningkat mencapai 10.000 orang tiap hari, termasuk pelancong mancanegara dari China, Malaysia, Arab, dan Eropa.

Orchid Forest ini dibuka pukul 09.00 hingga 18.00 WIB pada hari kerja. Sedangkan di hari libur dibuka pada pukul 08.00 hingga 19.00 WIB. Sementara, untuk tiket masuknya, pengunjung cukup membayar Rp30 ribu ditambah dengan biaya asuransi senilai Rp5 ribu. Sedangkan harga tiket Rp100.000 untuk turis mancanegara. “Bukan hanya tanaman Anggrek, di lahan seluas 14 hektare ini juga dilengkapi lebih dari 20 spot selfie yang Instagramable,” kata dia.

Spot selfie dijamin memberikan hasil foto yang Instagramable. Di antaranya ada Wooden Bridge berupa jembatan gantung sepanjang 100 meter dengan tinggi 20 meter dari permukaan tanah. Jembatan ini melintas di antara batang-batang pinus, dan yang melintas Wooden Bridge dibatasi hanya 10 orang. Jembatan gantung ini, terhubung dengan wahana flying fox. “Kalau ngeri turun dengan flying fox, tak usah cemas, bisa lewat taman lampu tepat di bawah jembatan,” terang Nexa.

Selain itu, ada Garden of Lights berupa taman kecil dengan jalan setapak berkelok-kelok, yang bunganya menyala kala petang hari. Menjelang malam lampu yang ada di sepanjang taman ini menyala, sehingga menciptakan nuansa romantis bahkan menakjubkan. “Nah, latar hamparan lampu cantik menjadi spot favorit untuk berfoto khusus malam hari,” lontarnya.

Juga ada zipline sepanjang 500 meter yang baru dibuka September 2018. Wahana baru ini menawarkan sensasi seru meluncur dari ketinggian menggunakan tali berkelok-kelok sepanjang 430 meter. “Instruktur kami sediakan dari Wanadri, pencinta alam profesional, bersertifikat, mengerti cara bermainnya dan yang pasti aman. Kami juga ada kapasitas orangnya, maksimal beratnya 60-65 kg. Tiket Rp75.000 untuk sekali meluncur,” lanjutnya.

Wahana lainnya ada sebuah amfiteater. “Panggung kecil di tengah hutan pinus ini khusus untuk live music dan panggung hiburan lainnya. Pengunjung bisa duduk di deretan bangku kayu yang berjajar rapi di depannya,” jelasnya.

Disisi lain, Orchid Forest juga dilengkapi Terrace Paphio, merupakan venue multifungsi dapat dipakai untuk berbagai acara. Bahkan
bagi pasangan yang ingin merayakan pernikahan atau resepsi dengan suasana hutan pinus. “Untuk sewa tempat menikah di sini, harganya Rp25 juta,” sebutnya.

Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Orchid Forest juga ada camping ground di belantara hutan pinus. Tarifnya Rp 900 ribu termasuk tenda, kasur, sleeping bag, dispenser, api unggun, dan kayu bakar. Dan sebelum pintu keluar ada area untuk menunggang kuda. Tersedia dua kuda warna putih dan coklat siap mengajak wisatawan untuk naik kuda.

Meskipun berkontur naik turun, jalan hutan pinus ini, sudah berupa paving block sehingga nyaman untuk anak-anak dan lansia. Pengunjung pun dijamin tak kesasar karena banyak papan penunjuk jalan. Menariknya lagi, bilik-bilik toiletnya tampil tak biasa, didesain unik kekinian sampai dijadikan selfie spot juga oleh sejumlah pengunjung.

Usai keliling melihat aneka bunga angrek dan berselfie ria, pengunjung bisa mampir ke kedai kopi. Ada menu Cireng seporsi Cireng isi 10 Rp 22 ribu, isi 20 Rp 33 ribu, dan Pisang Goreng isi 5 potong Rp 24 ribu dan Kopilatte Rp 35 ribu yang patut dinikmati.

Setelah menikmati Orchid Forest, pengunjung harus kembali melanjutkan perjalanan sepanjang 1 km. Tak perlu khawatir, di Orchid Forest terdapat shuttle yang mengantarkan para pengunjung kembali ke area parkir setelah berwisata secara gratis.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Guntur Sakti, selaku pimpinan rombongan wartawan mengakui keberadaan
Orchid Forest sudah sangat tepat sebagai destinasi digital dan nomadic tourism. “Destinasi digital dan nomadic tourism salah satu jenis wisata yang tengah digalakkan Kemenpar atas arahan Menpar Arief Yahya,” lontar Guntur Sakti

Dilanjutkan, objek wisata alam ini sudah mengusung konsep wisata digital (digital tourism), di mana target terbesarnya adalah kalangan anak muda yang sangat antusias berburu lokasi unik untuk diunggah dan dipamerkan di media sosial.

“Jadi berwisata di Orchid Forest, tidak cuma jalan-jalan namun juga ada unsur edukasi bisa belajar tentang anggrek. Kemudian bisa berfoto yang unik dan menarik lalu dimasukkan ke media sosial baik instagram, twitter, google plus, PAD maupun Facebook sehingga orang lain tertarik untuk datang,” tandasnya.

Tahun 2018, Kementerian Pariwisata mempercepat pembangunan 100 destinasi wisata digital dan 4 destinasi wisata nomadik. Destinasi wisata digital dan wisata nomadic ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi turis asing terlebih pada 2019 ditargetkan meraup 20 juta kunjungan pelancong mancanegara. “Untuk nomadic tourism tahun ini kami prioritaskan ada 4 destinasi yakni Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur,” lanjutnya.

Nomadic Tourism merupakan destinasi wisata glamp camp, home pod, dan caravan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya pelancong asing yang menginginkan pilihan selain menginap di hotel berbintang. Kemenpar membuka pintu lebar investasi bagi para pelaku usaha yang ingin membuat nomadic tourism.

“Kami permudah regulasinya. Saat ini fasilitas glamping mulai dikembangkan di sejumlah destinasi unggulan di Tanah Air seperti Bali, Lombok, Belitung, dan Jabar. Salah satunya di Kabupaten Bandung. Memang untuk nomadic tourism ini banyak dibuat oleh korporasi. Namun pemerintah juga membuat homestay bersama masyarakat,” tutur Guntur

Nomadic toursim ini merupakan sebuah terbosan dalam memenuhi tuntutan pasar atau permintaan wisatawan serta untuk mengatasi keterbatasan tersedianya amenitas sebagai unsur penting dari 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) di daerah tujuan wisata yang mengandalkan unsur budaya, alam, dan buatan manusia.

Menurutnya, nomadic tourism memiliki prospek bisnis yang cerah dan memiliki pasar yang besar di mancanegara. Pasalnya, memiliki value ekonomi tinggi dan treatmentnya juga relatif mudah sehingga menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan bisnis ini terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial

Menurut data jumlah backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta terbagi dalam tiga kelompok besar. Ketiga kelompok besar tersebut yakni flashpacker atau digital nomad sekitar 5 juta orang yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja, glampacker atau milenial nomad sekitar 27 juta orang dengan mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable.

Juga luxpacker atau luxurious nomad sebanyak 7,7 juta orang lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia. “Para luxpacker ini lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam seperti danau, pegunungan, pantai, atau sungai,” tutup Guntur. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.