Teratai Salju, Buah Kolaborasi Seniman Jepang-Indonesia

0
288
Pameran seni Teratai Salju (Foto: Kompas.com)

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Tiga perupa Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi bersama seniman Indonesia Trie Utami akan berkolaborasi dalam pameran seni bertajuk Teratai Salju. Pameran berlangsung di Mandala Bidadari, Ubud, Gianyar, yang mulai dibuka Sabtu (4/8/2018) malam.

Pameran Teratai Salju menjadikan kesadaran seorang seniman akan posisinya secara sosial maupun spiritual dan mempraktikkannya sebagai gerakan kebudayaan. Sekaligus mempererat hubungan kebudayaan antara Jepang – Indonesia.

Ketiga perupa asal Jepang akan memamerkan karya di Mandala Bidadari 4-25 Agustus 2018. Seniman Kazunobu Yanagi menampilkan instalasi lukisan, sedangkan Yasu Suzuka dan Minako Hiromi memamerkan karya seni rupa. Dalam pembukaan pameran ini Trie Utami merespons karya rupa tersebut dengan musik dan pertunjukan seni.

Pemilik Mandala Bidadari Hiromi Wada mengatakan perhelatan ini digelar untuk ikut merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia. “Melalui kegiatan ini saya berharap memberikan dharma kebaikan, keteduhan, kedamaian dan untuk keakraban dua bangsa, Jepang-Indonesia, yang telah lama memiliki hubungan emosional maupun budaya dan spiritual,” lontar Hiromi di Denpasar Jumat (4/8/2018) malam.

Selain kolabirasi keempat seniman, seperti dilansir laman Bisnis, Sabtu (04/08/2018) dalam prosesi pembukaan juga menghadirkan sejumlah pendeta Buddha dan Hindu yang akan memanjatkan mantra dan doa agar segala energi baik yang membawa kedamaian di muka bumi ini datang.

Hiromi Wada yang juga penggagas pameran ini mengatakan Teratai Salju diharapkan mampu menghadirkan semangat Asia seperti terkandung dalam makna filosofi Teratai Salju yang berkaitan dengan pembersihan jiwa. Teratai Salju diyakini tumbuh dan mekar di air suci atau air surgawi.

Melalui karya seniman Jepang dalam pameran ini diharapkan pula membuka berbagai kemungkinan landasan kajian yang bukan sekadar wacana kesenian. “Lebih dari itu barangkali peristiwa kesenian ini menjadi semacam respons dari tingkat kesadaran yang tinggi dalam dialog budaya anatara Jepang dan Indonesia,” kata Hiromi Wada.

Karya-karya seniman Jepang yang meletakkan mandala sebagai pusat perhatian, seperti meditasi sangat mengemuka dalam lingkaran dengan simbol-simbol yang melekat. Hadirnya citra Borobudur dan stupa Buddha dalam pameran ini menjadi identitas bahwa dari peradaban sejarah yang menunjukkan akar kedekatan konsep “mandala” dalam Hindu dan Buddha baik di Indonesia dan Jepang.

Kazunobu Yanagi pada pembukaan pameran membuat performing art yang mengupas hubungan manusia dalam perjalanan kehidupan melalui simbol-simbol dalam bentuk lingkaran, bidang yang kesemuanya diinstall di atas tanah. (NDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here