Sega Nyangku, Kuliner Legendaris Khas Lereng Gunung Slamet

this formate

BANYUMAS, bisniswisata.co.id: Masyarakat di sekitar di lereng Gunung Slamet akrab dengan dua tetumbuhan ini, Nyangku dan Pakis. Dari kedua tetumbuhan khas hutan ini, warga mengambil manfaatnya. Daun nyangku lebar memanjang, tipis dan berserat kuat. Cocok untuk pembungkus, terutama makanan. Pakis, pucuk daunnya yang muda dan masih bergelung, dimasak sebagai sayuran bercitarasa khas.

Perpaduan dua tetumbuhan ini menciptakan kuliner yang melegenda, sega (nasi) nyangku. Nasi dengan lauk sederhana bercita rasa istimewa. Aroma nasi gurih ditambah lauk dan sayur berpadu dengan aroma khas daun nyangku yang legit.

Di masa lalu, daun nyangku mudah ditemui di acara-cara besar, baik di tingkat kampung maupun hajat keluarga. Namun, kini posisinya tergeser kertas minyak dan plastik. Petani-petani pun kerap nyangu atau nimbel, istilah untuk bekal nasi, saat pergi ke ladang atau hutan. Dengan bungkus istimewa nyangku, lauk sederhana pun akan terasa lebih lezat.

Pengelola Sekolah Kader Desa Brilian, Muhammad Adib menerangkan, bagi warga sekitar Gunung Slamet, sega nyangku tak hanya sekadar kuliner. Sega nyangku erat kaitannya dengan tradisi dan budaya warga sekitar Gunung Slamet yang perlu dilestarikan.

Nyangku sebagai pembungkus amat ramah lingkungan. Lantaran berasal dari tetumbuhan, daun nyangku akan mudah terurai saat sudah tak terpakai dan kembali ke alam sebagai kompos atau pupuk.

Dia menjelaskan, untuk melestarikan tradisi masyarakat yang kini nyaris punah ini, LMDH Argowilis dan sekolah kader brilian kembali menyediakan sega nyangku di wana wisata pramuka di Desa Sokawera Kabupaten Banyumas. “Sega nyangku akan memuaskan kerinduan kita pada makanan masa lalu,” papar Adib, seperti dilansir laman Liputan6, Senin (24/09/2018).

Adib menerangkan, Wana Pramuka adalah kawasan hutan Perhutanan Sosial di lereng selatan Gunung Slamet didedikasikan sebagai tempat wisata alam yang menarik, menyenangkan dan bertujuan menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya hutan. Salah satunya, dengan penanaman pohon.

Sega nyangku juga bisa didapatkan di Sekolah Kader Brilian, Karanglewas. Masyarakat bisa memesan untuk dinikmati di rumah atau sebuah acara. Semangat menghidupkan kekayaan tradisi masyarakat di lereng Gunung Slamet, juga dilakukan Pramuka Kwarcab Banyumas. Workshop kehumasan yang digelar oleh Bidang Humas dan Abdimas Kwarcab Banyumas menyajikan Sega Pangku sebagai hidangan utama.

Wakil Ketua Bidang Humas dan Abdimas Agus Nur Hadie mengatakan sengaja menyajikan sega nyangku untuk mempopulerkan kuliner khas yang pernah menjadi tradisi. Pasalnya, kini kuliner masyarakat pedesaan ini mulai ditinggalkan. “Sega nyangku biasanya terdiri nasi putih dengan sayur daun pakis atau kulit melinjo, sambal dan teri atau ikan asin, bisa juga pesan sesuai dengan selera,” urainya.

Upaya mempopulerkan kembali sega nyangku perlu didudukung. Ia pun mengapresiasi Pokdarwis yang terdiri orang-orang yang kreatif, inovatif, dan berani untuk menginisiasi masyarakat lainnya untuk kembali mempopulerkan makanan khas ini. “Kami ikut mendukung kreasi mereka dengan cara memesan sega nyangku. Selain untuk menjaga tradisi yang pasti nyangku ramah lingkungan,” ujarnya.

Betapa sega nyangku sudah di ambang punah terekam dari sejumlah peserta workshop yang baru pertama kali melihat dan merasakan sega nyangku. Salah satunya, Khalimatul Aliyan dari Saka Bakti Husada yang mengaku baru pertama kali melihat sega nyangku. “Bentuk kemasannya unik, membuat penasaran. Walaupun menu hampir sama tetapi sensasinya luar biasa,” ucap Aliyan.

Anggoro Wicaksono dari SMK Bina Taruna Purwokerto dan Endang Ngudi Haryati dari SDN 1 Saudagaran juga mengaku belum pernah melihat sega nyangku. Keduanya menilai sega nyangku unik dan antik. “Semoga sega nyangku sebagai salah satu makanan khas Banyumas akan kembali di kenal,” kata Endang. (EP)

Filipina Gencarkan Promosi Wisata Sejarah Kota Tua

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Lebih dari 300 tahun bangsa Spanyol menancapkan pengaruhnya di Filipina. Pada 1571, merasa khawatir terhadap ancaman invasi Cina dan Jepang, mereka membangun benteng batu sepanjang 4,5 kilometer di Manila.

Seperti dilansir laman Tempo.co, Ahad (23/09/2018), benteng itu berbentuk pentagonal. Di sekelilingnya dibuat parit. Total lahan yang dibentengi sekitar 64 hektare. Di dalam benteng itu, terdapat gereja, istana, sekolah, gedung pemerintah, dan rumah penduduk.

Karena berada di dalam benteng, wilayah itu pun disebut Intramuros, yang berarti di antara dinding-dinding. Sekarang, area itu dikenal sebagai kawasan kota tua Manila, yang menjadi daya tarik wisata sejarah. Meski tak lagi utuh akibat peperangan dan lain-lain, kota yang pertama kali diperintah oleh Raja Soliman itu masih memiliki sisa-sisa bangunan kuno.

Selain Benteng bersejarah, kota tua Manila dilengkapi Gereja San Agustin. Ini merupakan gereja tertua di Filipina karena didirikan pada 1571. Wisatawan disambut lonceng besar di pintu masuk. Di lorong, juga ada lukisan Nabi Isa memenuhi dinding.

Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah karena ada ruang-ruang lain yang digunakan untuk menyimpan abu jenazah dan benda-benda lawas yang bernilai sejarah tinggi. Gereja bergaya art deco ini menjadi situs warisan dunia versi UNESCO pada 1994. Di seberangnya, berderet bangunan kuno.

Salah satunya, rumah Manila di masa silam. Plaza San Luis Complex namanya. Merupakan kompleks komersial, dilengkapi dengan sembilan rumah yang dirancang berdasarkan arsitektur Filipina-Hispanik. Kafe, restoran, dan toko suvenir berderet menggoda turis. Casa Manila, berupa museum yang memamerkan rumah-rumah Manila di akhir abad 21.

Di deretan Plaza San Luis Complex masih terdapat beberapa bangunan lain. Menara Manila Cathedral pun terlihat di sana, meski tak sempat saya singgahi bagian dalamnya. Katedral dengan arsitektur neo-romanesque itu dibangun pada 1571. Terlihat menarik dari luar.

Juga ada Fort Santiago. Lokasinya di seberang Manila Cathedral. Di pintu masuk, ada kereta kuda. Gerbong kereta kuda itu memiliki desain yang berbeda-beda, sehingga menjadi tontonan menarik. Di Manila, kereta kuda ini disebut kasela.

Bila tidak ingin berjalan kaki, wisatawan bisa mengendarai kasela menuju benteng yang berada di ujung Luneta Park, sekaligus mengunjungi situs bersejarah lainnya di Intramuros. Saya memilih berjalan untuk mengelilingi Fort Santiago yang dulu menjadi pusat pemerintahan penguasa Spanyol.

Tembok abu-abu yang dibangun pada 1571 itu, masih berdiri gagah menyambut para turis yang penasaran dengan peninggalan Raja Soliman—penguasa muslim terakhir sebelum Manila jatuh ke tangan Spanyol.

Selain itu, ada jejak Dr Jose Rizal. Pahlawan Filipina itu sempat dipenjara di benteng ini, sebelum dieksekusi pada 1896. Jepang pun sempat mengambil alih benteng ini dan meninggalkan warisan berupa penjara bawah tanah yang dibangun pada masa Perang Dunia Kedua. Salah satu bagian akhir benteng ini tepat berada di mulut Sungai Pasig. Parit-parit yang mengelilingi benteng pun masih dipertahankan.

Kini Manila benar-benar serius menggarapan wisata sejarah Kota Tua karena paling banyak diminati wisatawan asing. Daya tarik alam satu kompleks membuat wisman semakin berlama-lama menikmati obyek wisata sejarah, yang sangat luar biasa ini. (EP)

Komunitas 22 Ibu Kenalkan Teknik Batik Klungsu Di Fukuoka

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komunitas 22 Ibu tak pernah lelah memperkenalkan teknik batik lilin dingin menggunakan bubuk klungsu (biji asam Jawa), sehingga kera[ disebut batik klungsi. Niken Apriani, seorang guru SMPN 3 Cimahi, yang pertama kali memperkenalkan teknik ini. Ternyata mendapat sambutan luar biasa, termasuk Komunitas 22 Ibu yang menggunakan teknik itu di berbagai forum nasional maupun internastional.

Saat kunjungan ke Jepang, pada 4 hingga 12 September 2018, Komunitas 22 Ibu kembali memperkenalkan teknik batik dingin ini ke masyarakat Fukuoka, Jepang. Lokalatih metode batik dingin ini ternyata mampu menyedot perhatian pengunjung Fukuoka Art Exhibition.

“Semula, jadwalnya hanya satu kali sesi workshop, akhirnya workshop dilaksanakan tiga kali,” ujar Nurul Primayanti, anggota Komunitas 22 Ibu juga dosen Desain Produk Podomoro University Jakarta.

Komunitas 22 Ibu dibentuk setelah mereka mengadakan pameran pada 21 April 2013 dan 22 Desember 2013. Ada 60 anggota, terdiri dari dosen, guru, desainer, pengusaha, dan seniman yang bergabung di dalamnya. Mereka berasal dari lintas institusi dan lintas generasi. Dari termuda berusia 23 tahun hingga tertua berusia 70 tahun.

Nurul, salah satu dari empat anggota Komunitas 22 Ibu yang berangkat ke Jepang. Selain Nurul ada Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Gilang Cempaka dari Universitas Paramadina Jakarta, dan Rina Mariana dari SMPN 1 Ngampah Kabupaten Bandung dan Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Mereka diundang Galeri Tiempo Ibero Americano di Fukuoka.

“Antusiasme peserta lokalatih tak terbendung oleh hujan sekalipun. Mereka tetap datang ke lokalatih kendati hari sedang hujan. Kehadiran Indonesia dianggap paling serius dari tampilan baju daerah yang dikenakan,” ujar Nurul seperti dilansir Republika.co.id, Ahad (23/09/2018).

Di pameran itu, selain seniman Indonesia, ikut pula berpameran seniman dari Spanyol, Portugal, Hawai. Delegasi Indonesia yang diwakili Komunitas 22 Ibu, kata Nurul, mendapat lima sertifikat kegiatan yang diikuti. Yaitu lokalatih lukis Jepang menggunakan batu, lokalatih bokusho, pelatih metode batik dingin, peserta pameran, dan peserta dalam presentasi terapi seni untuk kanker.

Indonesia juga berbangga karena buku portofolio yang disusun dijadikan standar oleh Elida Maria Matsumoto untuk kegiatan selanjutnya. Dalam kesempatan di Fukuoka itu, Komunitas 22 Ibu menyerahkan suvenir dua sarung tenun untuk dua peserta terbaik lokalatih batik dingin dan suvenir untuk Elida berupa batik motif megamendung, sarung tenun, buku potrtofolio, dan gantungan kunci.

Dalam paparan lokalatih batik dingin, Nurul menjelaskan cara membuat adonan bubuk klungsu dan cara mengunakan adonan itu untuk melukis di atas kain. Nurul melengkapi dirinya dengan kostum batik dan kebaya. Sehingga semakin menarik minat peserta dari Jepang.

Adonan bubuk klungsu yang sudah menjadi pasta itu dipakai sebagai pengganti malam panas yang ditaruh di canting. Pasta dari klungsu yang tak perlu dipanaskan itu dipakai sebagai penghalang, seperti halnya malam panas dalam proses membatik secara tradisional. “Material lilin dingin ini berupa adonan dari bubuk biji asam jawa ditambah sedikit mentega atau margarine,” ujar Ariesa Pandanwangi.

Ariesa menjelaskan, proses pembuatan adonan yang disebut gutha tamarin itu dengan cara menumbuk daging biji asam jawa. Bubuk itu setelah diberi mentega atau margarine, kemudian dituangi air panas, lantas diaduk hingga merata. Baru kemudian diberi air dingin diaduk lagi hingga kalis.

Setelah didiamkan semalam, adonan biji asam jawa ini siap untuk digunakan sebagai perintang warna sekaligus pengganti malam panas dalam proses pembatikan. Untuk menuangkan adonan di kain, digunakan contong plastik yang ujungnya dibuat lubang kecil.

Karena fungsinya sebagai perintang, maka penuangan gutha dari contong plastik ke kain tidak boleh terputus. Untuk mengeringkannya, bisa diangin-anginkan. (EP)

Kini, 75 Persen Pendapatan Industri Musik dari Streaming

this formate

CALIFORNIA, bisniswisata.co.id: Berkembangnya teknologi digital membuat banyak hal berubah, salah satunya adalah bagaimana cara orang menikmati musik. Semula, orang mendengarkan lagu-lagu kesukaan dengan membeli kaset, CD, dan produk hasil rekaman lainnya. Kini, pecinta musik lebih senang menikmati musik dari perangkat smartphone atau laptop mereka.

Lewat streaming di smartphone, orang tetap bisa mendengarkan musik di manapun dan kapanpun, termasuk saat berada di transportasi umum. Masifnya pejumlah penikmat musik lewat jalur streaming membuat hasil pendapatan industri musik kini didominasi oleh streaming.

Berdasarkan laporan yang diumumkan oleh The Recording Industry Association of America, penjualan musik lewat jalur streaming kini jauh melebihi penjualan CD fisik dan digital download.

laporan The Verge, Ahad (23/9/2018), jalur streaming termasuk di antaranya adalah langganan berbayar ke layanan seperti Spotify hingga menonton streaming video. Sekadar diketahui, pendapatan industri musik dari streaming kini mencapai 75 persen dari total industri musik. Secara angka, streaming menyumbang pendapatan sekitar US$ 3,4 miliar (setara Rp 50,3 triliun) pada industri musik.

Juga pendapatan terbesar selanjutnya disumbang dari digital download dengan rata-rata pendapatan 12 persen (US$ 2,7 miliar), diikuti dengan CD fisik dengan pendapatan sekitar 10 persen (US$ 1,7 miliar), dan lain-lain 3 persen (US$ 1 miliar).

Tingkat adopsi pengguna baru untuk streaming musik kini mencapai 1 juta pelanggan baru per bulannya. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang mendengarkan musik. Namun, tingkat pertumbuhan tersebut jauh lebih besar ketimbang kategori bisnis rekaman musik lainnya.

Pendapatan industri musik dari digital download dan pembelian CD dan kaset menurun masing-masing 27 persen dan 41 persen. Kedua metode menikmati musik ini terus menurun seiring dengan maraknya tren berbagi musik secara online. “Hadirnya streaming musik membuka banyak peluang baru, tetapi juga memiliki tantangan,” kata The Recording Industry Association of America.

“Menurut Nielsen, lebih dari 70 ribu album berbeda dirilis pada pertengahan tahun. Penikmat musik mendapat banyak pilihan, dan musik bersaing untuk mendapat perhatian pengguna dibandingkan hiburan lain di smartphone,” tutupnya. (EP)

Paralayang, Langkah Garut Dongkrak Kunjungan Wisatawan

this formate

GARUT, bisniswisata.co.id: Pariwisata Garut Jawa Barat terus melakukan inovasi. Inovasi terbaru manawarkan Paralayang. Wisata adrenalin ini diharapkan mendongkrak kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) agar berwisata ke Garut.

Berada di ketinggian 1.450 meter (mdpl), keberadaan Bukit Parama Satwika (BPS), di kaki Gunung Putri, Desa Mekarjaya Garut, memang cukup indah. Berbekal angin kencang, panorama alam yang indah dengan hamparan sawah dan pemukiman berada di bawahnya, dijamin bisa memberikan sensasi dan kesenangan tersendiri bagi pecinta olahraga ekstrem paralayang.

“Ini salah satu bukit penerbangan paling tinggi buat Paralayang. Garut patut bersyukur dengan kontur alam yang dikuasai pegunungan, selain miliki tingkat kesuburan tanah juga jadi modal berharga untuk pengembangan kawasan wisata alam terkini, khususnya paralayang,” ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna.

Awalnya, lanjut Budi seperti dilansir laman Liputan6, Ahad (23/09/2018) masyarakat Garut belum paham (dengan rencana wisata baru). Namun setelah booming dan ramai, baru mereka terbuka,” ujar dia mengenang awal mula merintis sekaligus mengenalkan olahraga itu kepada masyarakat. Untuk menikmati panorama alam di Bukit Parama, butuh perjuangan ekstra.

Sebuah ikhtiar yang sepadan dengan kepuasan yang akan dinikmati di atas salah bukti kebanggaan masyarakat Garut itu. Jalan berdebu dan berkelok, hamparan area pertanian warga, rimbunan pohon pinus plus area peternakan sapi perah milik PT Raflesia, yang berada persis di bawahnya, bakal menemani mengantarkan perjalanan anda.

Juga ratusan anak tangga menjelang di puncak bukit, seolah menjadi tantangan tambahan yang akan anda nikmati, yang pasti cucuran keringat pasti bakal membasahi pakaian anda. Namun, semua lelah seakan sirna saat pertama kali menginjakan kaki di puncak bukit. Sebuah plang besar bertuliskan Bukit Parama Satwika terpampang megah.

Tak heran, hembusan angin segar nan sejuk khas pegunungan langsung menghabiskan penderitaan perjalanan anda. Bahkan 10 menit berlalu, Liputan6.com menyaksikan sendiri sensasi itu. Anda yang baru pertama kali naik, dijamin bakal mendapatkan hal serupa. Panorama alam pegunungan yang sejuk dan asri, sambil menyaksikan pemandangan pusat kota Garut di atas gunung.

Sejak pertama kali dipopulerkan Kapolres Garut dan jajarannya enam bulan lalu, tren bukit Parama Satwika terus naik. Beberapa acara yang diinisiasi lembaga keamanan negara itu, kerap digelar di sana. Bahkan satu prasasti dengan tanda tangan Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maroto, tertanam gagah di sana.

Tak ayal, animo masyarakat untuk menyaksikan olahraga ekstrem paralayang terus bertambah setiap bulannya. “Saya sering dengar ada wisata paralayang, makanya ke sini ingin melihat langsung,” ujar Obar Sobarna (42), pengunjung asal Samarang.

Ia yang berangkat bersama dua rekan lainnya, sengaja memilih gowes alias menggunakan sepeda dunhil atau tipe sepeda yang biasa menjelajahi trek terjal seperti gunung. “Rutenya sangat menantang, naik turun dan berdebu, tapi terbayang saat berada di puncak,” puji dia dengan lega.

Menurutnya, olahraga udara paralayang itu perlu sosialisasi yang cukup luas. Selain terbilang baru bagi masyarakat ‘dodol’ Garut, juga fasilitas rute sepeda menuju puncak Bukit Parama belum tersedia. “Mungkin bisa menjadi masukan juga,” pinta dia sambil tersenyum.

Hal yang sama disampaikan Ade Hatta (45), asal Bungbulang, wilayah Garut selatan. Sejak munculnya olahraga Paralayang di Garut, ia yang naik bersama enam anggota keluarganya, mengaku penasaran merasakan sensasi berada di atas ketinggian. “Saya bukan mau naik paralayang, tapi ingin tahu Garut dari ketinggian Gunung Putri saja sambil wisata,” kata dia.

Panorama Bukit Parama, ujar dia, memberikan kebanggaan tersendiri termasuk anggota keluarga yang ia bawa, selain butuh perjuangan esktra untuk mencapainya, juga mendapatkan pengalaman berada di atas ketinggian 1.400 mdl. “Anginnya cukup kencang, tapi secara keseluruhan cukup sejuk,” kata dia.

Namun, ada hal yang perlu dibenahi yakni belum lengkapnya prasarana ibadah dan toilet dengan persediaan air yang cukup. “Tinggal bangun mushola dan warung buat jajan, pengunjung bakal ramai,” ungkap dia.

Dengan segudang keunggulannya itu, Budi berharap rintisan kawasan wisata baru yang ia bangun, bisa menjadi jalan pembuka bagi pemda Garut, untuk mengembangkan kawasan itu menjadi destinasi baru wisata alam di Garut. “Sayang jika hanya berjalan sampai sini, tinggal bangun infrastruktur pendukung, pengunjung bakal datang sendiri,” kata dia.

Saat ini, informasi wisata paralayang di Jawa Barat, masih didominasi kawasna wisata Paralayang Puncak, Kabupaten Bogor. Lokasinya yang strategis di jalur utama kawasan Puncak, membuat pengunjung lebih nyaman di sana.

Namun meskipun demikian, Ia tidak patah arang. Dengan berbagai keunggulan yang ada. Destinasi wisata alam paralayang bukit Parama Satwika Gunung Putri ini bakal berkembang. “Awal tahun depan kita akan menggelar even nasional di sini,” ujarnya.

Sehingga kawasan wisata yang tengah dikembangkan Polres Garut saat ini, bisa menjadi aternatif destinasi wisata menarik berikutnya. “Saya dengar harga tanah sekitar sini mulai naik, membuktikan kawasan ini mulai dilirik,” ujar Budi bangga.

Budi mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Mulai akses jalan yang masih tanah berdebu, kemudian penunjang lainnya yang dilakukan secara mandiri masyarakat sekitar.

Bahkan pembukaan jalan baru yang diiniasi Polres Garut pun, masih sebatas jalan tanah berdebu, belum tersentuh pembangunan sama sekali. “Mungkin saat ini lebih tepat jika menggunakan kendaraan off road,” kata dia.

Bagi anda yang menyenangi olahraga dengan ketinggian di alam terbuka. Tidak ada salahnya memasukan nama bukit indah yang satu ini, untuk merasakan sensasi menjajal nyali anda menggunakan parasut paralayang. (EP)

24-30 September 2018, Balinale International Film Festival

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali Internasional Film Festival 2018 kembali hadir. Kehadiran tahun 2018 ini lebih atraktif, lebih bagus dan lebih spektakuler karena akan menayangkan lebih dari 100 film pendek, feature film, dan film dokumenter dari 30 negara dan memberi fokus kepada sejarah industri perfilman Indonesia.

Balinale dibuka dengan film Indonesia “Sultan Agung”, yang disutradarai Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Mooryati Soedibyo. Dan penutupnya film “Shoplifters” yang disutradarai Hirozaku Kore-eda dari Jepang dan menjadi film peraih Palme dOr dalam Cannes Film Festival 2018.

Sebagai pre-event untuk Balinale, BalinaleX Industry Forum kembali digelar dan diselenggarakan di Ayodya Resort Bali, Nusa Dua, Bali pada Minggu (23/9/2018). Adapun Balinale bakal digelar pada 24-30 September 2018.

BalinaleX Industry Forum pertama kali diadakan pada 2017 dengan tujuan mempertemukan tiga pemangku keputusan utama dalam bidang perfilman, yakni pemerintah, industri kreatif, dan komersil. Acara ini memungkinkan pakar industri untuk berbagi wawasan dan berdiskusi mengenai tantangan dan peluang komersil dalam industri film, baik lokal maupun internasional.

Tahun 2018, BalinaleX kembali dengan kumpulan pakar industri perfilman seperti Hanung Bramantyo dengan karyanya mengenai pahlawan Indonesia Sultan Agung dan Shalahuddin Siregar dengan filmnya “Lima”, yang menyoroti nilai-nilai dasar Pancasila. Ada juga aktris Indonesia Cinta Laura yang akan menyediakan perspektifnya mengenai menyeberang ke arena film internasional.

Untuk menjelaskan aspek bisnis dari industri, beberapa produser diundang seperti Ody Mulia Hidayat dan Chand Parwes Servia dari Indonesia serta produser Taiwan dan Direktur Taipei Film Festival Jeane Huang. Hadir pula produser Broadway Jhett Tolentino yang telah memenangkan penghargaan Tony Award untuk karyanya.

BalinaleX juga akan menghadirkan CEO dari Global Film Solutions dan mantan kepala Film New Zealand Julian Grimmond untuk memaparkan peran Indonesia sebagai lokasi film yang menarik dan layak untuk produksi internasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Ahmad Yani dari Lembaga Sensor Film, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Maman Wijaya diundang untuk membahas regulasi lingkungan di Indonesia saat ini. Bahkan, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asean Lim Jock Hoi juga akan berdiskusi mengenai dampak film dalam level regional.

Menjadi Indonesia bersama Balinale International Film Festival di tahun ke-12 adalah momentum #KotaBadungSapaDunia. Ada 40-an delegasi dari 30 negara Amerika, Eropa dan Asia hadir dari tgl 22-30 September.

Kota Badung Bali sarat nilai historikal bersamaan World Premiere Sultan Agung The Movie bersama dengan film pahlawan lainnya seperti NYAI – Ahmad Dahlan, WAGE-Wr.Supratman dan KH.Agus Salim di Film Moonrise Over Egypt.

Ke-4 film kepahlawanan tersebut bersama 10-an lagi film Indonesia bergenre lainnya bersanding dengan 80-an film mancanegara dalam sebuah festival. Balinale 2018 memang Fokus Tokoh Kepahlawanan Indonesia, dimana akan dilakukan screening sejumlah judul film bertema Sejarah atau Kepahlawanan produksi tahun 2017-2018.

Balinale melihat pentingnya generasi Milenia Indonesia mengenal sejarah bangsa dan pahlawan Nasional-nya. Dan pertama kali penonton Festival tahun ini di ajak untuk lebih mengenal sejumlah tokoh Pahlawan Indonesia dan mengapresiasi karya Film yang selain edukatif juga menghibur. Program ini sekaligus sebagai dukungan program Edukasi Melalui Film, dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI.

Di tahun ini juga, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI mempercayakan Balinale untuk menyelenggarakan acara pendahuluan mengenai Our Ocean Conference, OOC 2018, pada tanggal 29 dan 30 Oktober di Nusa Dua, Bali, sebagai salah satu rangkaian acara Film Festival. Konferensi Kelautan Dunia ini akan dihadiri lebih dari 60 Kepala Negara.

Film Boundless Love, hasil kerjasama Produser dari Tiongkok kerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif atau BEKRAF adalah salah satu dari beberapa film yang akan ditayangkan sebagai World Premier di Balinale. Film ini kolaborasi pemeran Utama Film dari Tiongkok dengan Pemeran Wanita dari Indonesia. Dijadwalkan , selain produser dan sutradara, para pemeran utamanya akan hadir untuk Meet & Greet di LippoMall, Kuta, Bali. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Demi Budaya Lestari, Cirebon Gartiskan Sekolah Tari

this formate

CIREBON, bisniswisata.co.id: Melestarikan budaya itu, susah-susah gampang. Butuh pengerbonan, butuh kerja keras, butuh semangat, butuh kepedulian tinggi dan bukan sekadar omong doang. Ada cara unik, menarik bahkan bisa diacungi jempol dalam melestarikan budaya ala Cirebon yang juga perlu diapresiasi dan ditiru daerah lainnya. Yakni mengratiskan Sekolah Tari.

Keraton Kasepuhan Cirebon menggandeng PT Pertamina Internasional EP membuka sekolah gratis tari bagi semua kalangan dan usia, terutama yang suka dengan dunia kesenian tari. Langkah ini sebagai upaya pelestarian budaya, mengangkat kembali seni budaya agar tidak luntur juga untuk membentengi generasi dari serangan budaya luar yang kini semakin marak.

Presiden Direktur PIEP Denie S. Tampubolon mengatakan dalam upaya melestarikan budaya khas Cirebon dia bekerja sama dengan Kesultanan Kasepuhan Cirebon dan Yayasan Belantara Budaya Indonesia, menyepakati program edukasi tari kepada masyarakat selama satu tahun.

“Saya berharap program kerja sama ini mampu meningkatkan potensi kemandirian masyarakat dan memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional,” papar Denie dalam keterangan tertulis yang diterima bisniswisata.co.id, Ahad (23/09/2018).

Cirebon, lanjut dia, merupakan kota sejarah yang banyak menyimpan kekayaan budaya Indonesia, terutama seni tari yang memiliki ciri khas tersendiri dan ini harus dilestarikan bersama-sama. Melalui Program ini, diharapkan bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia, khususnya seni tari topeng Cirebon yang sudah melegenda dan diwariskan turun-temurun sejak masa Kesultanan Cirebon dipimpin Sunan Gunung Jati.

“Semoga kegiatan ini mendapat dukungan positif dari pemerintah setempat serta membangun citra positif perusahaan, dan yang lebih penting lagi Tari Topeng Cirebon tetap lestari dan bukan menjadi kenangan semata,” ujarnya

Warga Kota Cirebon, Jawa Barat, menyambut dengan antusias adanya sekolah tari gratis yang digagas oleh PT Pertamina Internasional EP bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan. “Saya mendaftarkan anak agar bisa ikut sekolah tari gratis dan ini juga salah satu bentuk pengenalan dan melestarikan tari khas Cirebon,” kata orang tua murid dari Dian Kristina.

Menurut dia, adanya sekolah tari gratis sangat membantu dia mengenalkan tarian khas Cirebon kepada anaknya dan mengapresiasi apa yang dilakukan Pertamina dan Kasepuhan Cirebon. Diharapkan setelah ditempa ilmu mengenai tari tradisional khas Cirebon, nanti anaknya bisa melestarikan dan juga bisa tampil di acara-acara yang besar. “Mudah-mudahan anak saya bisa nari ke luar negeri,” kata Dian. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Kesadaran Ilahiah Dalam Mengelola Kopi Sugeng Indonesia

this formate

Annisa Sugeng, owner Kopi Sugeng Indonesia

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bertekad menjadi duta petani kopi di Indonesia, Kopi Sugeng Indonesia kini hadir   sebagai brand lokal yang siap menjadi display dan memasarkan kopi asal negeri tercinta yang mampu menguasai pangsa pasar kopi dunia.

Ini bukan mimpi. Dua kedai Kopi Sugeng baik di Mall Artha Gading dan Mall Bassura masing-masing sedikitnya menggunakan 20 kopi terpopuler dari berbagai daerah di Indonesia. Ada kopi Gayo dari Aceh, Kopi Toraja, kopi Enrekang, kopi Java Ijen, Kintamani  Bali dan lainnya“ kata Aji, Co-founder dan CEO KOPI SUGENG INDONESIA dibawah bendera manajemen PT. ANNISA GAHARU INDONESIA.

Hingga akhir tahun 2018 kami harapkan ada 50 kedai di berbagai mall di Indonesia. Pilihan kopinya hanya yang berasal dari Indonesia dan logonya juga bentuk Gunungan,” kata Aji.

Gunungan dalam pewayangan  melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya. Jadi selain dipilih menjadi logo maknanya adalah bisnis yang ingin dibangun juga yang berkelanjutan dan melestarikan alam maupun ekosistem dari usaha ini.

Sebagai pendatang baru, Kopi Sugeng Indonesia  berkomitmen penuh untuk turut berperan aktif melestarikan Kopi asli Indonesia. Sajian variasi menunya  dengan bahan dasar biji kopi yang langsung dipetik & diolah oleh petani kopi dari seluruh pelosok Nusantara.

Di mulai dengan membuka jaringan kedai, pihaknya menempatkan diri sebagai jaringan bisnis kopi cepat saji, dimana konsep take away & fast moving coffee menjadi salah satu service yang diberikan untuk konsumen.

Kopi Sugeng turut berperan aktif melestarikan Kopi asli Indonesia.

“Kedepannya kami juga akan membuka coffee bar seperti milik jaringan global yang berpusat di Seattle, Washington, AS itu sehingga tamu bisa duduk lama dan menikmati menu ringan. Namun hal itu tahap selanjutnya karena kami mulai bisnis  dari bawah dulu dan bagi mereka yang punya filosofi yang sama bisa bergabung dengan sistem kemitraan bagi hasil,”

Menurut Aji, karena proses bisnisnya dengan tahapan dari bawah maka strategi pemasaran dan kemitraannya memang menempatkan kedai kopi di mall karena Kopi Sugeng ingin brand ini dikenal luas melalui pengunjung mall.

Oleh karena itu untuk kedai  pertama pertama di Eatstreet Jakarta Lt.2 Mall Artha Gading Kelapa Gading Jakarta Utara pada tanggal 9 September 2018. Kedai kedua adalah di Mall Bassura City, Lt.2 Jl. Basuki Rahmat Jakarta Timur pada tanggal 16 September 2018 lalu.

Konsep Ilahiah

Menyeruput kopi Indonesia tak lepas dari konsep Ilahiah, meyakini bahwa apapun yang datang dari Tuhan tentu mengandung hikmah kebaikan dan Indonesia menjadi negara yang bertanah subur tempat beragam jenis kopi tumbuh.

Bahkan kopi luwak yang harganya jutaan rupiah dan telah mendunia adalah asli dari Inonesia karena asal mula kopi luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia di masa penjajahan Belanda ratusan tahun yang lalu.

Bagi penikmat kopi maupun orang awam, kesadaran Ilahiah bahwa Allah menciptakan kopi-kopi terbaik di negri ini adalah sebuah berkah. Kesadaran inilah yang akan mengangkat orang  beriman berada kepuncak keyakinan bahwa segala yang ada baik didunia maupun akhirat, baik yang ada dilangit dan dibumi adalah ciptaan Allah.

“Coba perhatikan mengapa kedai kopi menjamur dari tingkat RT/RW hingga kelas global. Intinya karena minum kopi selain sudah menjadi lifestyle, minuman itu sendiri bisa menjadi media apa saja untuk mempererat tali situlahim dengan keluarga, rekan bisnis hingga beragam komunitas dan juga dengan sang pencipa kopi tentunya,”

Lewat kopi pihaknya bisa membuat networking mulai dari tingkat petani, barista, ilmuwan, komunitas, suplier alat hingga kelingkungan blogger dan media nasional maupun internasional untuk membangun citra Kopi Sugeng Indonesia.

Barista sibuk mengolah langsung biji kopi menjadi minuman lezat

Itu sebabnya Kopi Sugeng yang berasal dari Bumi Indonesia perlu ditempatkan di puncak oleh pemilik maupun konsumennya. Jangan heran jika Aji menjelaskan bahwa konsep bisnis  Kopi Sugeng yang menerapkan Coffee Ecosystem, dimana perusahaan tidak hanya bergerak di bisnis jaringan kedai kopi semata, namun berupaya untuk mengembangkan konsep edukasi dengan menyelenggarakan program pelatihan bersertifikasi.

“Mereka yang ingin menjadi barista bisa belajar mengolah kopi, belajar trading dan retail biji kopi.Kami juga menjadi Event Organizer  (EO) untuk industri kopi dan juga menjadi konsultan,”

Keinginan untuk mengenal kopi dan cara pengolahan misalnya, sudah ditularkan pada anak-anak sekolah hingga komunitas Ducati Jakarta yang mengunjungi kebun kopi, melihat proses pembuatan hingga menikmati hasil akhir minuman kopi yang lezat.

Biji-biji kopi yang dibeli langsung dari petani membuat pihaknya juga mampu mengedukasi petani untuk menanam dan mengolah pasca panen sesuai tuntutan pasar.

“Setiap kami buka jaringan kedai kecil ini, display hingga jalannya acara juga langsung kami share dengan para mitra petani sehingga ada kebanggaan dan percaya diri yang kuat dalam diri mereka bahwa kopi Indonesia bisa menjadi Raja di negri sendiri,”

Sugeng Priyono, owner yang namanya dipakai untuk brand usahanya optimistis keberadaan usahanya ini akan mendapat dukungan luas dari masyarakat Indonesia sebagai kopi dengan olahan modern.

Bersama istrinya, Annisa Sugeng, pihaknya yakin konsep edukasi, kemitraan yang diterapkannya membuat usaha ini menjadi langgeng dan menjadi berkah dari banyak pihak yang menjadi mitra maupun konsumen Indonesia.

Variasi minuman kopi populer seperti espresso, cappucino, latte, Affogato dan varian lain dengan semboyan Selera Kopi Nusantara akan membuat kiprah usahanya akan berkibar pula kelak ke mancanegara.




28 Tahun Terbengkelai, GWK Akhirnya Diresmikan Presiden Jokowi

this formate

BADUNG BALI, bisniswisata.co.id: Setelah 28 tahun mangkrak, akhirnya patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Patung GWK setinggi 121 meter di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali merupakan patung ketiga tertinggi di dunia, bahkan menjadi ikon pariwisa Bali dan Indonesia.

“Pada malam hari yang indah ini saya sangat senang, bangga bisa hadir bersama bapak ibu dan saudara-saudara sekalian menyaksikan mahakarya anak bangsa, patung Garuda Wisnu Kencana,” kata Presiden Jokowi yang memakai baju adat Bali berwarna hitam lengkap dengan ikat kepalanya, di Cultural Park GWK, Badung, Sabtu (22/09/2018) malam.

Disebut mahakarya, lanjut kepala negara, karena patung Garuda Wisnu Kencana, salah satu patung tembaga terbesar di dunia. Patung GWK, adalah patung tertinggi ketiga di dunia setelah The Spring Temple Buddha di China dan The Laykyun Sekkya Buddha di Myanmar.

“Patung ini lebih tinggi dari pada patung Liberty di Amerika Serikat. Selesainya mahakarya ini bukan hanya membanggakan rakyat Bali, masyarakat Bali tapi juga membanggakan seluruh masyarakat Indonesia,” ungkapnya seperti dilansir Setkab.go.id

Terwujudnya patung GWK menunjukkan Indonesia mampu menghadirkan karya budaya masa kini. “Ini membuktikan sebagai bangsa besar kita bukan hanya mewarisi karya-karya besar peradaban masa lalu, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan tapi di era kekinian juga bisa berkarya, berkreasi membangun sebuah peradaban, melahirkan mahakarya baru, yang mengaggumkan juga diakui dan dikagumi dunia,”.

Kepala Negara menuturkan era kemajuan teknologi saat ini, pengembangan seni budaya harus dipadukan dengan teknologi. Seperti halnya Patung GWK juga memadukan karya seni budaya bangsa Indonesia, terutama seni budaya Bali dengan kemajuan teknologi, dengan riset, dengan ilmu pengetahuan yang baru.

Saat proses pembuatannya, Patung GWK menjalani serangkaian tes. Windnel test atau tes ketahanan angin di Australia (Windtech) dan Kanada (RDWI), cavity test atau tes rongga secara berkala, dan soil test. Konstruksi patung dibuat material tembaga dan kuningan, ditopang 21.000 batang baja dengan berat total 2.000 ton dan jumlah baut sebanyak 170.000 buah. Periode konstruksi berlangsung mulai Agustus 2013 hingga Juli 2018.

“Dengan perpaduan itu, patung GWK ini mampu bertahan selama kurang lebih 100 tahun dan saya yakin 100 tahun lagi patung GWK akan tetap menjadi karya peradaban yang dibicarakan, yang menjadi kebanggan bangsa dan menjadi warisan kebudayaan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Di balik kemegahan patung ini, Presiden menuturkan ada satu hal yang bisa menjadi inspirasi bagi semua, yakni karya besar dimulai dari keberanian untuk mempunyai gagasan-gagasan besar, mimpi besar, dan lompatan-lompatan besar. Tanpa keberanian sulit lahir karya-karya besar. Ide-ide besar harus diikhtiarkan secara konsisten.

Presiden apresiasi kepada I Nyoman Nuarta atas gagasan besar, keberanian, dan ikhitiarnya selama ini. Juga berterima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras menyelesaikan patung ini. “Tentu gagasan besar ini juga ditopang oleh banyak pihak, dukungan pemerintah dan rakyat Bali, maupun pihak swasta yang ingin mimpi besar para seniman ini terwujud,” ungkapnya sambil mengajak para seniman dan para budayawan agar terus berkreasi mewujudkan karya terbaik yang selanjutnya memperkaya peradaban bangsa Indonesia

Patung tersebut memiliki tinggi 121 meter atau 271 meter dari permukaan laut (dpl) yang dibangun di atas lahan seluas 60 hektare.
Pembuatan patung ini menjalani proses panjang yaitu selama 28 tahun oleh seniman sekaligus desainer Nyoman Nuarta. Proses pembuatan patung tembaga itu menggunakan teknik cor las untuk 754 modul.

Satu modulnya berukuran 4×3 meter dengan berat kurang lebih 1 ton. Pembuatan patung tersebut pernah melibatkan 1.000 pekerja yang terbagi menjadi dua, yakni 400 pekerja di Bandung dan 600 pekerja di Bali.

Peresmian patung GWK mengangkat tema “Merajut Indonesia Esa” dengan menampilkan pertunjukan kesenian tarian daerah yang dibawakan 300 penari. Tampil juga Bumi Gamelan Orchestra pimpinan I Wayan Balawan, maestro gitar dan musik etnik asal Bali. Kemeriahan dan kemegahan acara peresmian makin semarak dengan penampilan Putri Ayu, Duta Cinta, pertunjukan laser dan kembang api serta video mapping yang dikemas dengan tajuk “Kemilau Indonesia” pada malam harinya.

“Saya berharap patung Garuda Wisnu Kencana ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan menjadi salah satu ikon seni kebanggaan bangsa Indonesia yang memberikan dampak positif di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, serta turut memberikan konstribusi dalam meningkatkan sosial-ekonomi masyarakat Bali pada khususnya,” ujar Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma.

GWK Cultural Park dirancang secara komprehensif dan direncanakan akan dilengkapi berbagai fasilitas pariwisata, pusat budaya, taman, balai pertemuan, restoran, hotel dan area parkir yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu. Patung ini, memiliki bentang sayap mencapai lebar 64 meter, ikon landmark termegah di Bali ini berdiri gagah di puncak bukit Ungasan, di dalam kawasan GWK Cultural Park.

Strukturnya dibuat tahan gempa, fisiknya mampu menahan hembusan angin kuat, dan GWK sebagai bangunan tinggi menangkal petir dengan sekaligus berfungsi sebagai sangkar Faraday, dimana semua listrik akan diserap oleh kulit patung yang terbuat dari tembaga dan kuningan.

Berbagai uji teknis dilakukan agar patung GWK dapat berdiri kokoh mulai dari pemeriksaan struktur dan jenis tanah pada lokasi patung dibangun, yang kemudian ditemukan adanya rongga-rongga dalam tanah. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penyuntikan semen ke rongga-rongga tanah tersebut hingga mencapai kedalaman 10 meter.

Pondasi beton pun dibuat dengan ketebalan hingga 2,2 meter untuk dapat menahan beban sebesar 3.000 ton. Mengingat pondasi yang cukup tebal serta suhu di lokasi pengecoran yang terus meningkat yang dapat menyebabkan timbulnya retakan (crack), maka ditambahkan 43.024 balok es untuk menetralkan suhu beton pada saat pengecoran.

Beban patung tidak dibiarkan berada pada platform dari bangunan penyangga. Seluruh beratnya disalurkan melalui konstruksi core atau inti pada beton bertulang di pedestal yang berukuran 30 x 30 meter dengan ketebalan dinding inti atau shear wall mencapai 50 sentimeter.

Inti ini mencapai ketinggian tertentu untuk dipadukan dengan konstruksi baja. Dengan baja yang bersifat lebih lentur maka keseluruhan konstruksi tidak akan bergoyang bila mendapat dorongan angin atau gempa. Kombinasi ini membuat patung menjadi cukup rigid atau kaku, namun dengan sedikit sekali kemungkinan terjadinya fatique logam atau kelelahan akibat struktur yang terlalu sering bergerak.

Rincian detil ikonografi Bali dan bentuknya yang rumit menjadikan GWK sebagai salah satu patung paling kompleks di dunia, terlebih dengan prinsipnya yang terbuka dan dapat diakses khalayak ramai.

Patung GWK tidak hanya menjadi patung yang dikunjungi orang karena nilai simbolnya, melainkan juga dirancang dalam satu kompleks dan ditopang dengan berbagai fasilitas pariwisata-pusat budaya, taman, restoran, serta area parkir luas yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu.

Jumlah modul patung 754 modul, struktur baja 2.000 ton dengan berat kulit patung 900 ton. Jumlah batang baja yang terpakai 21.000 batang yang menghabiskan 170.000 buah baut. Patung dirancang untuk masa bangunan selama 100 tahun dengan kapasitas ketahanan angin 2,5 kPa. Uji teknis wind tunnel dilakukan di Australia dan Kanada. (EP)

Festival Pertengahan Musim Gugur, Dari Tuntunan Jadi Tontonan

this formate

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Hong Kong kembali gelar Festival Pertengahan Musim Gugur. Festival paling terkenal ini, berlangsung 24 September 2018, bertepatan hari ke-15 bulan ke-8 pada Kalender Lunar Tionghoa. Perayaan ini berkembang jadi upacara penyembahan bulan menjelang panen musim gugur, festival ini memperlihatkan tuntunan tradisi Hong Kong berlangsung sejak lama yang kini jadi tontonan menarik bagi wisatawan.

Siaran pers dari Hong Kong Tourism Board, Sabtu (22/09/2018) menyebutkan melalui festival ini, pengunjung dapat menyaksikan kota dengan agenda menarik seperti Century-Old Fire Dragon Dance, yang berputar mengelilingi Tai Hang, lampion menyinari langit malam, dan instalasi “Moon Rabbit Lumiere” karya seniman Australia, Amanda Parer yang menghiasi sepanjang kota untuk pertama kalinya.

Tidak hanya itu, akan ada agenda-agenda menarik bagi pengunjung berdasarkan agenda acara tahunan, berikut informasi festival sepanjang Hong Kong: Selama festival pertengahan musim gugur ini, Hong Kong memiliki dua agenda besar.

Tai Hang Fire Dragon Dance (23 – 25 September 2018), sebagai penghormatan terhadap perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur sejak zaman dulu, para penduduk Tai Hang berkumpul untuk ambil bagian dalam Tarian Naga Api Tai Hang selama tiga hari, yang tercantum dalam Daftar Nasional Warisan Budaya Takbenda Tiongkok pada tahun 2011.

Tradisi ini diperkirakan telah muncul sejak abad ke-19, sewaktu munculnya taifun dan wabah penyakit yang menghancurkan Tai Hang. Dengan mengarak sebuah naga yang terlihat ganas, para penduduk percaya bahwa mereka mampu mengusir roh jahat dan nasib buruk.

Pengalaman pada festival kali ini akan dimeriahkan oleh dentuman drum, gong dan dupa. Sebanyak hampir 300 peserta terlatih membawa naga sepanjang 67 meter yang tertutup dalam hio bercahaya di sepanjang jalan. Kepalanya yang seberat 70 kilogram, terbuat dari lembaran logam, jerami dan rotan dengan dua obor elektrik sebagai mata.

Mid-Autumn Lantern Carnivals 2018 (22 – 25 September 2018), selama Festival Pertengahan Musim Gugur, kota Hong Kong dihiasi dengan tampilan lampion. Para pengunjung dapat mengikuti kegiatan ini melalui Karnaval Pertengahan Musim Gugur, yang berlokasi di Tai Po Waterfront Park, Victoria Park, Tuen Mun Park,dan Hong Kong Cultural Centre Piazza.

Selagi lampion-lampion menghiasi langit malam, para pengunjung dan warga lokal dapat menikmati suasana meriah di karnaval ini dan mempelajari cara pembuatan lampion tradisional. Beragam kegiatan keluarga yang terdiri dari demonstrasi kerajinan rakyat.

Dalam setiap acara Hong Kong, belum lengkap rasanya tanpa hidangan makanan yang memeriahkan festival. Demikian, dalam Mid-Autumn Festival ini akan menyediakan dua makanan khas.

#. Mooncakes

Kue bulan adalah salah satu elemen yang paling populer dalam Festival Pertengahan Musim Gugur Hong Kong, yang tentu ada alasannya. Dipanggang dalam cetakan rumit nan canggih yang melambangkan berkah Tionghoa untuk mendatangkan keuntungan, kue bulan diasosiasikan sebagai keluarga dan pada umumnya diberikan kepada orang yang dikasihi ketika festival berlangsung untuk mendoakan kebahagiaan dan umur yang panjang.

Secara tradisional, kue bulan diisi dengan pasta biji teratai dan dua kuning telur. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Hong Kong telah menerima berbagai iterasi inovatif, seperti cokelat, durian, kumkuat, matcha, puding telur, kacang merah, dan masih banyak lagi.

#. Moon Rabbit Lumiere

Moon Rabbit Lumiere installation (19 September – 17 Oktober 2018), untuk pertama kalinya di Hong Kong, “Kelinci Bulan” hasil karya seniman Australia Amanda Parer yang mengesankan akan singgah di kota ini.

Instalasi seni “Moon Rabbit Lumiere” akan bertempat di Lee Tung Avenue dari Wan Chai dan China Hong Kong City di Tsim Sha Tsui. Kedua tempat ini akan menampilkan 10 “Kelinci Bulan” yang diterangi cahaya, disertai dengan serangkaian acara perayaan, lokakarya, piknik, dan pameran di sepanjang pekan raya yang akan berlangsung selama satu bulan ini.

Melalui festival ini, Hong Kong mengharapkan untuk terus memberikan agenda terbaik dengan berbagai pengalaman menarik yang bisa menjadi referensi bagi rencana liburan pengunjung, termasuk kehadiran wisatawan Indonesia sangat diharapkan. Mengingat, turis asal Indonesia paling gemar festival ini. (redaksibisniswisata@gmail.com).