Shenzhen Airlines Beroperasi di Terminal 3 Bandara Soetta

this formate

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Shenzhen Airlines, maskapai asal China kini resmi beroperasi di Terminal 3, counter check-in counter check-in B24-26 Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). Shenzhen Airlines akan mendaratkan penerbangan perdananya dari Shenzhen pada Jumat (28/9/2018) sekitar pukul 01.00 WIB. Maskapai dengan pesawat jenis narrow body disambut dengan water salute.

Executive General Manager Soekarno-Hatta International Airport, M Suriawan Wakan mengatakan, langkah maskapai Tiongkok seakan menandai pertumbuhan konektivitas yang secara terus menerus meningkat dan semakin bersaing sebagai bandara di dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia.

“Peningkatan pertumbuhan terjadi karena secara terus menerus PT Angkasa Pura II melakukan pembangunan infrastruktur dalam rangka peningkatan kapasitas penumpang dan pesawat. Diantaranya pembangunan east cross taxiway, runway 3, revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2, serta pembangunan Terminal 4,” papar Wakan.

Seperti diketahui, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinobatkan sebagai bandara dengan koneksi rasio penerbangan terjadwal paling banyak. Terkoneksi kedua di Asia Pasifik dan terkoneksi ke-10 dunia, mengalahkan bandara besar seperti Incheon Korea, KLIA Malaysia dan Bandara Hongkong berdasarkan laporan Megahubs International Index 2018-The World’s Most Internationally Connected Airports yang dikeluarkan lembaga air travel intelligence asal Inggris, OAG.

Pada 2017, arus penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 63 juta penumpang yang menempatkannya sebagai bandara tersibuk ke-17 dunia. Dengan estimasi penumpang tahun 2018 yang akan mencapai 68 juta penumpang.

Berbagai investasi terus dilakukan PT Angkasa Pura II, termasuk adanya fasilitas kereta layang (Skytrain) yang terkoneksi dengan kereta bandara. Ditambah adanya perangkat-perangkat informasi dan komunikasi pelayanan yang supermodern, seperti e-parking, crowd management system, free wifi, self check-in (on progress), digital banner, e-kiosk wayfinding, body scanner, autogate imigrasi, trolley management system serta e-survey toilet.

Hal itu tentu telah mampu menarik perhatian pebisnis. “Para pelaku bisnis penerbangan tentu mengamati peningkatan pelayanan kami selama ini. Secara terus menerus kami mengoptimalkan pelayanan,” sambung Wakan. (EP)

Pagelaran Wayang Golek Perkuat Eksistensi Kampung Terban Sebagai Kampung Budaya

this formate

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Dinas Kebudayaan Kota Jogja dan  Paguyuban Dalang Muda Jogjakarta di bawah Pepadi menggelar wayang golek di gedung LPKN kelurahan Terban untuk menghidupkan Kampung Terban sebagai kampung budaya, semalam.

Menghadirkan dalang Ki Gondo Suharno, sebelum acara di mulai pentas pagelaran wayang golek juga tampilkan dua dalang cilik Jogja untuk pelertarian warisan budaya pada generasi muda

Pentas pembukaan wayang golek menak oleh dalang cilik yaitu Ragil Jalu Pangestu dengan judul Maktal Manungkul, dilanjutkan oleh  Ki Ratnanto Adi Putro Wicaksono,dan Kii Gondo Suharno dengan judul Ampak-ampak Pringgodani,

Ampak-ampak pringgodani menceritakan kisah sang Gathotkaca, ketika jiwa kesatria muda dituntut untuk membuktikan pengabdian,maka dia harus berjuang dan berkorban.

Gathotkaca harus mengembalikan kepemimpinan dan kepercayaan di singgasana Pringgodani. Namun cobaan harus teratasi,  kabut tebal menghadang harus disibakan untuk kejayaan Pringgodani. Walaupun pengorbanan harus di lakukan demi tersingkapnya kabut Prenggodani hingga tercapai ketentraman.

Acara yang dihadiri dan di buka  oleh Walikota Jogjakarta, Haryadi Suyuti, dan ada tamu dari manca negara di samping dihadiri oleh pak camat pak lurah,pak dukuh dan warga kampung Terban dan penonton dari luar kota.

Mereka sangat antusias menonton pertunjukan pagelaran wayang golek, karena pentas wayang golek sendiri sangat jarang di pentaskan di Jogjakarta,bahkan hampir langka pementasannya,

Harapan diadakan pentas pertunjukan wayang supaya regenerasi bangsa tetep mencintai budaya warisan leluhur yang luar biasa. “Jangan sampai warisan budaya leluhur yang luar biasa di klaim lagi oleh nengara lain,” kata Haryadi yang hadir bersama tamunya dari Belanda.

“ Di dalam pagelaran wayang petuah-petuahnya sangat luar biasa sekali mengajarkan budi pekerti yang luhur mencintai bangsa dan tanah air, dan selalu menjaga persatuan dan perdamaian. Ingatlah bagwa bangsa yang besar adalah yang mencintai budaya warisan.

Laporan: Satrio Purnomo

PWI Road to Campus Ingatkan Generasi Milenial Bijak Gunakan Medsos

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: PWI Road to Campus menjadi pembuka rangkaian acara Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2018, diawali dengan seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS) membidik calon generasi penerus dari kalangan kampus.

Sekjen PWI, Hendry Ch Bangun berharap PWI Road to campus bisa memberikan wawasan kepada mahasiswa dan mendapatkan pengalaman berharga.

“Sesuai dengan tema ‘Yang muda yang berkarya, menjadi generasi milineal kreatif optimistis, Kongres PWI di Solo ini adalah kilas balik karena disinilah PWI berdiri,” Ujar Hendry saat sampaikan kata sambutan.

Acara dibuka oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS)  Dr. Sofyan Anif M.Si yang mengaku juga mantan jurnalis di bangku kuliah dan menyambut baik kegiatan PWI Road to Campus apalagi Indonesia menghadapi tahun politik.

“ Tema kongres PWI menunjukkan bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya. Tapi dalam kondisi politik saat ini maka saya harus tambahkan bahwa bangsa yang besar tergantung dari jurnalisnya yang profesional, tambahnya.

Wartawan memiliki fungsi dan peran strategis dalam pembangunan suatu negara, apalagi ditengah alam demokrasi yang mulai carut marut. Oleh karena itu jurnalis profesional tulisannya mampu mengedukasi masyarakat dengan karakter kebangsaan yang kuat.

“Yang jelas seminar nasional ini akan memotivasi para jurnalis muda untuk profesional bukan  masuk kepusaran kepentingan kelompok,” ujar Rektor Dr. Sofyan Anif M.Si.

Rektor UMS, Dr Sofyan Anif M si saat membuka acara seminar PWI Road to Campus

Seminar nasional di UMS ini dihadiri mahasiswa berbagai jurusan,  para akademisi dan delegasi jurnalis dari seluruh daerah Indonesia pun turut hadir dalam seminar.

Ada empat narasumber yang dihadirkan dalam acara ini, diantaranya adalah Meidyatama Suryodiningrat selaku Direktur Utama LKBN Antara, Agus Sudibyo yang menjabat sebagai direktur Media Watch Indonesia, Agung Yudha dari Twitter Indonesia, dan Fikar R Mohammad yang merupakan CEO Cekricek.com.

Agung Yudha, Kepala Kebijakan Publik Twitter Indonesia,membahas tema “Your tweet is your CV,”. Dia mengungkapkan bahwa 65% pengguna Twitter menggunakan jejaring sosial itu sejak bangun tidur untuk update dengan topik-topik yang mendunia.

“Soalnya pada saat seleksi di dunia kerja maka media sosial akan dipantau oleh HRD atau pun petugas rekruitmen pegawai yang nantinya menentukan lolos atau tidaknya para pelamar.

Isi media sosial adalah cerminan jati diri masing-masing pengguna dan semua  orang bisa membacanya banyak hal, mulai masalah kantor sampai urusan pribadi, mulai  yang sangat sepele sampai yang berat.

Oleh karena itu bagi pengguna media sosial, Agung Yudha menekankan pentingnya untuk selalu mengecek kebenaran dari setiap berita yang hendak diposting. Dia juga mengingatkan bagi para kaum milenial untuk selalu berhati-hati dalam bertutur kata di dunia maya.

Nara sumber lainnya,  Fikar R Mohammad, CEO Cek & Ricek.com yang memiliki 7 perusahaan lainnya mengatakan jangan bangun dari tidur karena ingin pencitraan dan update status di media sosial.

“Bangunlah ketika Anda merasa bermanfaat untuk orang lain dan mampu berbuat kebaikan karena uang bukan segalanya. Hidup bahagia dan  bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga barulah bisa menjadi ukuran orang di sebut sukses,” ungkap Fikar, alumni ITB yang baru berusia 27 tahun.

Fikar R.Mohammad, CEO Cek & Ricek.com

Dia juga menegaskan pentingnya keterampilan berbicara di khalayak umum. Agar semua ide kita bisa tersampaikan dengan sempurna pada orang lain dan tidak terjadi miss informasi.

Fikar memberikan contoh kasus tentang masih banyaknya orang yang tidak paham global warming, padahal ada banyak ilmuwan yang mengerti secara mendalam kasus ini.

Tapi sayangnya mereka tidak punya keterampilan berbicara di depan umum, yang menyebabkan masih banyak orang yang tidak paham global warming.

Direktur Utama LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat menginginkan agar banyak generasi muda tertarik pada dunia jurnalisme. Namun para pemain media sosial seperti blogger dan wartawan tidak asal mengutip informasi di internet karena banyak informasi yang tidak akurat.

“Verifikasi, verifikasi, dan verifikasi fakta dan data adalah tugas utama wartawan. Bukan mengutip informasi sana-sini yang belum jelas kebenarannya,”  kata Meidyatama.

Jadi, ujarnya, yang terpenting adalah setiap wartawan perlu melakukan verifikasi berkali-kali agar apa yang disampaikan tetap terjaga validitasnya, tidak menjadi berita hoax.

Nara sumber yang terakhir, Agus Sudibyo, Direktur Media Watch Indonesia menjelaskan bahwa kini masyarakat Indonesia sudah terikat dengan ponsel atau smartphone.

“Sekarang, masyarakat Indonesia bisa dikatakan sebagai homo digitalis, manusia yang menjalani hidupnya serba digital. Jumlah smartphone di Indonesia sekitar 310 juta, lebih besar dari jumlah penduduknya” kata Agus.

Ketergantungan yang kuat pada smartphone, internet dan media sosial ini membuat pakar komunikasi di AS menyatakan masyarakat dunia telah menjadi budak dari tekhnologi.

“Repotnya lagi banyak yang tidak menyadari bahwa dia sudah mejadi budak tekhnologi bukan menguasai tekhnologi. Maka pilihannya ada pada kita sendiri karena dalam standar kesehatan maka paling lama membuka media sosial selama 3 jam 45 menit saja,” tegas Agus.

 

Sarasehan PWI Fokus Kedepankan Sisi Kebangsaan di Dunia Pers

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Sarasehan Nasional bertajuk Pers Kebangsaan dan Pembangunan di Era Digital” di Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah, menyoroti pentingnya mengedepankan sisi kebangsaan di dunia pers.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia ( GAPKI) misalnya merasakan rawannya bisnis kelapa sawit di Indonedia dari serangan beragam isu negatif yang dilakukan oleh pers asing.

Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI mengatakan, pihaknya menyampaikan terima kasih kepada jajaran pers di seluruh Indonesia karena dukungan positif selama ini akan memperkokoh posisi Indonesia sebagai produsen dan eksporter minyak sawit terbesar di dunia.

“Pemberitaan pers Indonesia tentang isu-isu sawit sudah sangat positif dan obyektif,” kata Joko Supriyono saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Nasional “Pers Kebangsaan dan Pembangunan pada Era Digital” di Monumen Pers Nasional di Solo, hari ini.

Joko mengatakan, tahun 2017, ekspor sawit menyumbang devisa USD 22,9 miliar atau lebih dari Rp 300 triliun. Ada 17 juta masyarakat Indonesia yang hidup dari sektor kelapa sawit, baik sebagai pekerja maupun petani sawit.

Sebagai industri strategis sudah semestinya pers mendukung keberadaan sektor kelapa sawit. Apalagi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan defisit neraca perdagangan, ekspor sawit bisa menjadi penyelemat ekonomi nasional.

“Ini menyangkut nasionalisme sebagai bangsa, bukan sekadar kepentingan pengusaha atau industri, “ ungkap Joko yang menjadi nara sumber bersama Dirut TVRI Helmy Yahya dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Pada sarasehan menyambut Kongres XXIV PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tersebut, Joko membandingkan pemberitaan media nasional dengan media-media Barat yang notabene adalah produsen minyak nabati pesaing sawit.

“Kami yakin pemberitaan media asing yang mendiskreditkan sawit tidak berdiri sendiri. Tapi bagian dari kepentingan negara maju untuk mengalahkan sawit dalam persaingan minyak nabati global. Ini masalah ekonomi yang berbingkai dengan kepentingan politik bisnis masing-masing negara,” kata Joko.

GAPKI yang mewakili perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan terus memperkuat kerja sama dengan lembaga-lembaga pers di Indonesia. Sehingga persepsi positif sawit semakin menyebar luas di kalangan masyarakat, termasuk para netizen.

Menurut dia,  dukungan kalangan pers kepada sektor persawitan nasional bakal makin konstruktif ketika dunia pers nasional memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang masalah ini.

Memupuk rasa kebangsaan juga menjadi strategi Helmy Yahya untuk mengembalikan kejayaan TVRI sebagai stasiun televisi pertama milik bangsa yang sempat hilang di era digitalisasi.

Beragam upaya dilakukan mulai dari mengganti seragam hingga menampilkan film-film hits tahun 1970 an seperti Little House on The Prairy, Oshin dan  Keluarga Cemara.

Tampil blak-blakan, Helmi bercerita bagaimana susahnya mengembalikan TVRI dengan segala keterbatasan, terutama pembiayaan.

“Anggaran kami sebagai BUMN hanya Rp. 800 milyar atau kalau kita bandingkan dengan stasiun TV yang besar, jumlah itu dana satu atau dua minggu TV lain yang setara setahun TVRI,” ujar Helmi.

Helmy Yahya ( kanan) siaran langsung usai Sarasehan di kongres PWI ke 24 di Solo. ( foto: HSS)

Di era milenial ini para presenter juga seharusnya dari kalanga muda. Namun faktanya sumber daya manusia yang dikatakannya sudah berumur dan mendekati usia pensiun mencapai 51% dari pegawai dan PNS di TVRI sudah berusia di atas 50 tahun atau sudah sebentar lagi pensiun, ungkapnya.

Meski begitu, sambung Helmi, keterbatasan tidak menyurutkan semangat TVRI untuk kembali berjaya dan untuk menggaet generasi milenial, pihaknya terus melakukan pengemasan ulang untuk promosi kepada masyarakat.

“Untuk mengembalikan kejayaan TVRI kami pakai tagar #KamiKembali dan kami terus lakukan re-branding dengan mengajak generasi milenial,”

Dahulu kala TVRI berada di jajaran paling atas dan sekarang di posisi paling bawah sehingga pihaknya  berusaha merebut kembali kejayaan di masa lalu itu, kata Helmy yang pernah dikenal sebagai “raja kuis” di berbagai televisi swasta.

“Langkah awal membangun rasa percaya diri di internal a.l mengganti seragam kami menjadi warna hitam. Dan dalam waktu singkat akan berganti logo. Kami berusaha bangkit, karena TVRI satu-satunya televisi yang memiliki jangkauan terluas secara nasional. Rating iklan kami pun sudah mulai diperhitungkan,” ujar Helmy.

TVRI pantas ditonton berbagai kalangan usia, karena programnya terdiri atas 40 persen berita (news) dan masing-masing 30 persen pendidikan dan 30 persen infotainment. “Kami pun bebas berita hoax, jadi berita dan program kami pantas ditonton kalangan berbagai usia termasuk kanak-kanak, tegasnya.

Selain Helmy, dalam seminar sehari itu, hadir juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berbicara panjang lebar tentang hubungan media dan kalangan pemerintah.

Ganjar yang menyatakan bahwa istrinya juga mantan wartawan menghilangkan tradisi amplop bagi wartawan dengan membuat lomba-lomba menulis dengan beragam hadiah sesuai dengan kebutuhan wartawan.

Ganjar mengingatkan untuk mensikapi realitas kehidupan saat ini dan kemudian dihubungkan dalam dunia pers, sebenarnya perlu nilai yang dipegang yakni National Interest yakni Pancasila yang harus menjadi acuan semua anak bangsa.

Pihaknya menggambarkan, ketika bicara konflik antar warga yang mengandung sensitifitas keyakinan, ingat Indonesia memiliki asas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila.

Kemudian apabila ada kelompok ataupun daerah yang sedang berduka seperti Gempa Palu maka Indonesia memiliki asas kemanusiaan yang Adil dan beradab dan menjadi dasar untuk tolong-menolong.

National interest itu yang perlu diimplementasikan dalam dinamika  pers. Apakah mau bangsa ini dipecah belah, antar kelompok mau ditabrakan? Jangan mau,” kata Ganjar Pranowo.

Itulah sebabnya media nasional harus defend pemberitaan negatif tersebut dengan pemberitaan positif yang dari pers nasional dengan menghasilkan berita yang sesuai data, fakta, positif  membanggakan dan memberikan harapan optimisme bagi bangsa.


Desa Wisata Kulon Progo Masuk Ranah Digital

this formate

KULON PROGO, bisniswisata.co.id: Organisasi biro perjalanan wisata atau Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta mendampingi Desa Wisata Nglinggo Barat, Kulon Progo, dalam melakukan digitalisasi potensi wisata di sana.

Pendampingan Desa Wisata Nglinggo Barat itu dilakukan lewat program ASITA Jogja Tourism Festival. “Desa Wisata Nglinggo ini contoh satu desa wisata yang siap dengan alam dan berbagai atraksinya sehingga tinggal dipoles untuk layanan digitalisasinya,” ujar Ketua ASITA DIY Sudiyanto.

Selama ini, Desa Wisata Nglinggo terkenal dengan keindahan alamnya. Di sana terdapat kebun teh dan kopi, hutan pinus, wisata trekking, dan paket off-road. Selain itu, wisatawan bisa belajar membuat gula aren, memetik teh dan kopi, hingga ikut latihan menari kesenian Lengger Tapeng bersama sanggar masyarakat.

Dari potensi itu, kata Sudiyanto seperti dilansir laman Tempo, Kamis (27/09/2018), ASITA DIY menggandeng Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan operator seluler Smartfren menggarap program digitalisasi Desa Nglinggo di tiga bidang.

Pertama, melakukan pemasangan spot Wi-Fi di sejumlah titik di kawasan desa untuk menyediakan layanan jaringan Internet nirkabel. Kedua, pemasangan informasi QR Code di spot Desa Wisata Nglinggo Barat. Fasilitas ini memungkinkan pengunjung, yang butuh informasi tentang desa wisata, bisa langsung melakukan screening QR Code yang dipasang di beberapa titik desa lewat aplikasi di gawainya.

Ketiga, membuat platform marketplace berbasis website di www.jogjatourismfestival.com. Platform ini bertujuan agar semua stakeholder pariwisata bisa mengisi, mempromosikan, dan menjual produknya di laman itu.

Sudiyanto menuturkan program ASITA Jogja Tourism Festival mulai diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Pariwisata Sedunia atau World Tourism Day, yang jatuh pada Kamis, 27 September 2018.

“Desa Nglinggo sebagai starting poin untuk selanjutnya program ini diperluas ke desa wisata lain DIY. Tujuannya, sektor pariwisatanya kian tergarap dan memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya,” ucap Sudiyanto. (EP)

Tarian Mentawai Terinspirasi dari Alam

this formate

MENTAWAI, bisniswisata.co.id: Malam semakin larut ketika seorang pembawa acara meminta Sanggar Uma Jaraik Sikerei mengambil tempat di atas panggung guna menampilkan kesenian tradisional khas Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Diantara beberapa penari, ada sikerei atau dukun tradisional masyarakat adat Mentawai mulai mengambil tempat yang kemudian diiringi oleh tiga orang pemusik.

Pemusik duduk berbaris di belakang penari. Masing-masing memegang gajeuma, gendang khas Mentawai gunakan kulit ular atau biawak sebagai sumber bunyi. Sikerei bertindak sebagai penari, tampil dengan mengenakan pakaian adat dengan berbagai kelengkapan, perlahan mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik dihasilkan dari gajeuma, sesekali menghentakkan kaki ke lantai kayu sehingga jadi instrumen tambahan.

Dentuman irama gendang khas musik primitif dengan ritme berulang dan datar, yang biasa digunakan untuk keperluan ritual tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang menyaksikan. Tarian tradisional bagi masyarakat Mentawai dikenal dengan Turuk Laggai itu, sesekali diiringi dengan nyanyian dalam bahasa setempat yang dilantunkan penari.

Selain hentakan kaki seirama, sesekali mereka mengembangkan lengan menyerupai burung. Di ujung jari mereka, tepatnya di antara telunjuk dan jari manis terselip sehelai daun yang tumbuh di Mentawai.

Selain di sela-sela jari, dedaunan juga dipasangkan pada beberapa bagian lain di tubuh, seperti pada lengan, dan di bagian belakang tubuh, dedaunan tersebut disematkan pada cawat atau kabit yang merupakan pakaian tradisional masyarakat Mentawai.

Sebagai sikerei, hampir seluruh tubuh para penari tersebut dihiasi tato tradisional, di bagian kepala, mereka mengenakan luat, ikat kepala yang terbuat dari manik-manik, serta jara-jara yang dipasangkan di belakang kepala serupa rambut tambahan.

Pada bagian leher terdapat tuddak yang menyerupai kalung, kalung itu pun tidak dapat dikenakan oleh sembarang orang, hanya sikerei lah yang diperkenankan mengenakannya.

Selain mengenakan cawat atau kabit, pada bagian pinggang penari juga dikenakan sabok, serupa kain penutup dari pinggang hingga lutut dengan motif garis-garis yang memadukan warna merah, putih dan hitam. Sementara pada bagian lengan atas terdapat lekkau yang juga berguna untuk menyelipkan dedaunan.

Pada penampilan turuk, jumlah peserta tidak dibatasi, akan tetapi biasanya tidak dilakukan oleh terlalu banyak orang, karena jika terlalu ramai, maka irama hentakan kaki di lantai akan terlalu ramai sehingga berpengaruh pada estetika bunyi.

“Siapa pun boleh menampilkan turuk, akan tetapi sikerei adalah orang yang diwajibkan menguasainya, sebab turuk juga dipergunakan dalam ritual pengobatan,” tutur pelatih seni di Sanggar Uma Jaraik Sikerei, Mateus Sakukuret seperti dilansir laman Liputan6.com, Kamis (27/09/2018).

Belajar dari alam pada pertunjukan turuk yang ditampilkan oleh tiga orang sikerei asal Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan tersebut, terdapat dua macam turuk yang ditampilkan, yaitu Turuk Uliyat Manyang dan Tutuk Uliyat Bilou.

Pada dasarnya, turuk memiliki arti tarian, uliyat dapat diartikan menyerupai dan manyang berarti camar, dengan demikian Turuk Uliyat Manyang dapat diartikan sebagai tarian yang menyerupai burung camar. Begitu juga dengan Turuk Uliyat Bilou, yaitu tarian yang menyerupai bilou. Bilou sendiri merupakan primata yang menjadi endemik Kepulauan Mentawai.

Terinspirasi dan belajar dari alam sejak dahulu kala, turuk yang ditarikan oleh Sikerei Ailekkok Satoleuru, Sikerei Pangarita Tasiritoitet dan Sikerei Aikub Sakalio itu mencerminkan betapa erat hubungan antara manusia dengan alam di sekitarnya.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Mentawai hidup dan menggantungkan kehidupan mereka dari hutan, sehingga interaksi antara manusia dan hutan menjadi begitu intens dam ikut mempengaruhi kebudayaan masyarakat. “Biasanya masyarakat Mentawai itu beraktifitas di hutan dan bertemu dengan berbagai macam tumbuhan dan binatang, sehingga hal itu menjadi inspirasi dalam menciptakan tarian,” ujar Mateus.

Pada gerakan Turuk Uliyat Manyang, beberapa gerakan yang terlihat menyerupai burung adalah ketika para penari mengibaskan tangan, serupa seekor burung yang mengepakkan sayap ketika terbang. Gerakan lain juga diperlihatkan bagaimana seekor burung yang sedang bercengkrama ketika mencari makanan. Begitu juga dengan gerakan pada Turuk Uliyat Bilou. (EP)

Wisata Nagari Api-Api Raih Rp320 Juta dari Kemendes-PDT

this formate

PAINAN, bisniswisata.co.id: Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes-PDT) mengalokasikan anggaran Rp 320 juta untuk pengembangan objek wisata Nagari Api-Api, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat (Sumbar) pada 2018. Di Nagari Api-Api terdapat objek wisata Pantai Batu Puti Indah.

“Di lokasi ini juga terdapat pantai berpasir putih yang landai serta dipercantik dengan pemandangan pulau karang yang kira-kira hanya berjarak sekitar 30 meter dari bibir pantai,” kata Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, seperti dilansir laman Antara, Kamis (27/09/2018).

Dilanjutkan, alokasi anggaran dari pemerintah pusat ini untuk membangun jalan lingkar. Hal ini untuk memperlancar akses masuk wisatawan ke lokasi serta pembangunan toilet umum. Khusus jalan lingkar dianggarkan Rp 190 juta. Sementara untuk pembangunan toilet umum Rp 130 juta. Pembangunannya sudah berlangsung sejak Agustus 2018.

Wali Nagari Api-Api, Aziyul Nafri, menyebutkan sesuai informasi yang diterima dari kontraktor, proyek tersebut diperkirakan selesai pada Oktober 2018. “Mudah-mudahan dengan selesainya pembangunan sarana dan prasarana objek wisata Pantai Batu Puti Indah semakin banyak dikunjungi wisatawan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan setelah semuanya terlaksana sesuai rencana pengelolaan objek wisata Pantai Batu Puti akan diserahkan ke Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) setempat. Objek wisata Pantai Batu Puti secara resmi dibuka oleh Bupati Hendrajoni pada Ahad (5/6/2016).

Sejak saat itu objek wisata tersebut ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun nasional. Terutama pada libur akhir pekan dan libur nasional. Di objek wisata Pantai Batu Puti Indah selain bisa menikmati keindahan pantai berpasir putih yang landai, wisatawan juga bisa menikmati sejuknya udara di bawah pohon cemara laut.

Wisatawan juga bisa langsung ke pulau karang Batu Puti dengan menyewa perahu milik nelayan setempat, selain indah wisatawan juga bisa leluasa memancing ikan di lokasi.

Tercatat ada beberapa objek wisata menarik di Kabupaten Pesisir Selatan, Painan antara lain:

#. Bukit Langkisau

Bukit ini menawarkan pemandangan eksotis juga biasa dipakai untuk menguji adrenalin dengan kegiatan paralayang. Pengunjung bisa memilih titik pendaratannya seperti di Pantai Salido atau pendaratan langsung di Kota Painan. Sensasi terbang dengan menggunakan parasut dari aktivitas paralayang di Bukit Langkisau menjadi trend sendiri bagi pecinta paralayang. Dengan menaiki beberapa anak tangga langsung mengarahkan pengunjung tiba di puncak, dan disuguhkan pemandangan di dominasi laut lepas dan beberapa pulau yang berbaris sebagai pelengkap.

#. Puncak Mandeh

Presiden Joko Widodo sempat terpukau ketika pertama kali mendatangi Puncak Mandeh. Memang memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan ada yang meng-klaim jika Mandeh adalah saudara kembar-nya Raja Ampat yang terpisah. Perjalanan menuju ke Puncak Mandeh cenderung berkelok – kelok, itu sebabnya beberapa pengendara sengaja memacu kendaraan mereka dengan kecepatan lamban ketika menuju kesini. Jalan yang curam dengan jurang yang menjadi lautan, serta badan jalan yang juga tidak terlalu lebar menjadi alasan selanjutnya mengapa pengendara yang lalu – lalang tak berani memacu laju kendaraan dengan kencang.

#. Bukit Bendera

Dulu bukit ini tempat meninjau penjajah yang hendak masuk ke wilayah Bayang. Menurut cerita warga sekitar, jika ada kawanan penjajah yang terlihat, bendera yang ada di sini akan perlahan diturunkan. Dari situlah diambil nama Bukit Bendera Bayang ini diambil.
Bukit Bendera Bayang merupakan tempat berbentuk seperti taman wisata alam yang unik, karena di sini kamu bisa bersantai di atas pohon yang tinggi, atau berpose atas bukit dan melihat hamparan hijau yang terpampang luas di depan mata. Jadi tak melulu soal taman yang ada benderanya.

#. Pulau Cubadak

Nama Pulau ini sempat meroket, jauh sebelum Pasumpahan terkenal bahkan. Pulau Cubadak terletak di tengah Samudera Hindia, yang mana gerbang masuk pulau ini adalah Pantai Carocok. Dengan konsep resort, diharapkan mereka yang ingin bermalam di pulau ini bisa beristirahat dengan nyaman. Ada banyak aktifitas selain snorkeling, juga bisa diving, bahkan juga kita bisa kayak. Sangat seru bukan, mendayung diatas laut sambil menikmati ketenangan wilayah sekitar Pulau Cubadak. Atau apabila kamu yang ingin menikmati sunset dari ketinggian, tak ada salahnya trekking menuju ke puncak bukit ini.

#. Air Terjun Bayang Sani

Ke Pesisir Selatan tak melulu berbicara wisata laut saja, cobalah kamu berkunjung ke Air Terjun Bayang Sani. Letak air terjun tidak jauh dari Jembatan Akar Bayang. Air terjun di Desa Koto Baru ini cukup ramai dikunjungi wisatawan apabila hari libur. Air terjun ini juga memiliki lima tingkatan, namun meskipun begitu, hingga saat ini hanya bisa dinaiki para wisatawan hingga tingkatan ketiga saja dan itu pun tidak begitu ramai.

#. Wisata Pantai

Selain Pantai Carocok, juga ada wisata Pantai Batu Kalang di Nagari Ampang Pulai, Kec. XI Tarusan yang sekilas mirip seperti gugusan batu yang terdapat di provinsi Bangka Belitung. Juga ada Pantai Salido di Kecamatan IV Jurai. Pantai Muaro Bayang, dan Pantai Sungai Nyalo.

#. Benteng Portugis

Berlokasi di pulau Cingkuak, Benteng Portugis ini bisa di capai dengan menggunakan perahu motor sekitar 15 menit dari pantai carocok.

#. Pulau Pamutusan

Pulau Pamutusan (Pulau Pemutusan) terletak di Nagari Sungai Pinang Kecamatan koto XI tarusan, Pesisir Selatan. Akses menuju lokasi menaiki perahu motor dengan jarak tempuh sekitar 1 jam kurang. Di Pulau Pamutusan ini anda dapat melakukakn aktifitas berenang, memancing serta snorkling dan tersedia juga gazebo dan penginapan bagi anda yang ingin menginap disini.

#. Jembatan Akar Bayang

Jembatan akar bayang ini berlokasi 24 Km dari kota Painan, berada di kampung Pulut-Pulut Kecamatan Bayang Utara. Jembatan ini juga terbilang unik karena proses terjadinya jembatan akibat dari bertemunya dua akar pohon secara alami. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Ghea Jadi Bintang Tamu Utama Sofia Fashion Week 2018

this formate

SOFIA, BULGARIA, bisniswisata.co.id: Designer Indonesia, Ghea Panggabean menjadi bintang tamu utama dalam malam khusus untuk designer asing di Sofia Fashion Week (SFW) Autumn / Winter 2018. Acara fashion terbesar di Bulgaria yang berlangsung dari tanggal 17-21 September 2018 di kota Sofia menampilkan berbagai designer dari Bulgaria dan internasional.

Karya – karya rancangan Ghea yang ditampilkan bertema Keajaiban Indonesia : dengan inspirasi kebudayan Jawa. Koleksi yang diperagakan di SFW adalah motif wayang dan batik di berbagai busana ready to wear yang ekslusif dan elegan, aksen khusus ditonjolkan dengan sulaman dan teknik blockprint emas, serta beludru dengan hiasan khusus.

Ghea juga menampilkan koleksi yang terispirasi dari Pulau Sumba dengan menerjemahkan Sumba Ikat Tribal Motif ke dunia modern. Karya-karya Ghea mendapat sambutan yang sangat hangat dari para penonton yang sangat mengapresiasi keunikan dan keindahan koleksi yang ditampilkan.

“Karena bagi publik setempat merupakan kesempatan yang sangat langka untuk dapat melihat koleksi designer dari belahan dunia timur ke Bulgaria,” papar desainer senior Ghea dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Kamis (27/09/2018).

Dilanjutkan, merupakan hal yang tidak mudah untuk menciptakan pasar di Komunitas Mode Eropa karena perbedaan musim dan perbedaan preferensi warna serta gaya. “Ini merupakan tantangan yang selalu membakar semangat untuk menerjemahkan tradisi keindahan Warisan Budaya, Tekstil, dan Budaya Kaya Indonesia ke dalam fashion masa kini,” paparnya.

Bagi Ghea tidak ada yang lebih memuaskan daripada menciptakan Koleksi yang menciptakan kesadaran akan keindahan Warisan Budaya, Tekstil, Budaya Kaya Indonesia dan seperti menceritakan Kisah di belakang mereka kepada Dunia.

Melalui karya bertajuk Keajaiban Indonesia: The Mystic of Java, Ghea Panggabean membuktikan ada The Spirit of Javanese culture, yang diterjemahkan ke dalam berbagai Wayang Prints dan Wayang Colourfull dan Batik Batik Jawa Klasik pada sutra sifon jersey dan organza.

Gaya bervariasi dari Siap-ke -wear de Luxe untuk Evening Wear yang elegan dengan bordir tangan dalam teknik blockprint emas. Juga dia menggunakan beludru dengan hiasan khusus.

Selain Koleksi unik ini, Ghea juga menghadirkan Koleksi yang terinspirasi dari pulau Sumba yang merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia yang masih mempraktekkan penguburan megalitik sebagai tradisi hidup bagi individu-individu terkemuka ketika mereka meninggal. Koleksi ini adalah Interpretasi unik dari Sumba Ikat Tribal Motifs yang terkenal diterjemahkan ke dalam mode modern.

Dengan Identitas Bahasa Indonesia, Ghea menggabungkan Koleksi penuh Warisan Indonesia yang indah dengan bentuk Modern masa kini. Koleksi Ghea telah ditampilkan di banyak bagian dunia yang ditampilkan selama berbagai Acara Mode.

Ghea sadar untuk menciptakan ceruk pasar untuk Komunitas Mode Eropa tidak begitu mudah karena Musim yang berbeda di Eropa dan juga preferensi yang berbeda untuk Warna dan Gaya. Jadi dia selalu mencoba memperbarui dirinya dengan Tren Internasional terbaru. Ini adalah tantangan dan selalu menjadi Passion baginya untuk Menerjemahkan “Heritage into Fashion”.

Untuk Ghea tidak ada yang lebih memuaskan daripada menciptakan Koleksi yang menciptakan kesadaran akan keindahan Warisan Budaya, Tekstil, dan Budaya Kaya Indonesia dan seperti menceritakan Kisah di belakang mereka kepada Dunia.

Duta Besar RI untuk Bulgaria, Sri Astari Rasjid, yang merintis menghadirkan Ghea di SFW, menyatakan tahun ini merupakan pertama kalinya designer indonesia tampil di SFW. Hal ini merupakan upaya untuk mendukung industri kreatif Indonesia dan juga untuk semakin memperkenalkan perancang indonesia di tingkat internasional.

“Dengan melihat respon yang positif dari publik bukan tidak mungkin perancang Indonesia juga dapat hadir di sesi SFW di tahun berikutnya,” ungkapnya didampingi Sekretaris Pertama Pensosbud KBRI Sofia, Nurul Sofia. (redaksibisniswisata@gmail.com)

28 – 29 September 2018, Nusa Dua Fiesta 2018

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), pengelola kawasan The Nusa Dua, Bali, menggelar Nusa Dua Fiesta di Pulau Peninsula kawasan wisata The Nusa Dusa Bali, pada 28-29 September 2018. Nusa Dua Fiesta, acara tahunan yang memadukan musik, budaya, seni dan olahraga untuk menciptakan pengalaman luar biasa bagi semua pengunjung, termasuk wisatawan.

Memasuki tahun ke-22 ini, kini mengangkat Tema “Quintessentially Indonesia”. Tema ini diambil untuk menunjukkan keaslian Indonesia, dengan menampilkan berbagai atraksi wisata dengan target kunjungan sebanyak 30.000 orang.

Kegiatan festival yang didukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung memang bertujuan menambah kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara dan pemulihan pariwisata serta memperkuat brand image Badung sebagai destinasi sport tourism.

Nusa Dua Fiesta menampilkan tiga kegiatan utama yakni “Exotic Bali” yang memperlihatkan ragam seni budaya Bali, “This is Indonesia” yang menyajikan kekayaan budaya Nusantara, dan “Mandiri Badung International Night Run”.

Sejumlah gerai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta aneka kuliner bisa dikunjungi oleh pengunjung, sambil menikmati hiburan musik dari Adera, Gigi, dan Ginda Bestari di panggung utama yang berlokasi di Pulau Peninsula.

Tahun ini juga direncanakan mengikutkan wisata bahari di wilayah Badung sebulan penuh dengan mengangkat berbagai potensi bahari yang terbentang dari Tanjung Benoa, Ungasan, Pecatu, Jimbaran, Kedonganan, Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, hingga Batubelig. Selain itu, tahun ini Nusa Dua Fiesta dikolaborasikan dengan event Badung Night Run 2018.

Festival ini, sekaligus sebagai pemanasan menjelang IMF-World Bank Group Annual Meeting 2018 yang bakal digelar pada 8-14 Oktober 2018. Saat ini, sebagian delegasi telah berdatangan dan melakukan berbagai aktivitas persiapan menjelang pertemuan yang akan dihadiri peserta dari 189 negara itu.

Sejarah festival ini pertama kali diadakan pada tahun 1996 dan kini menjadi salah satu festival terbesar di Bali. Masyarakat didorong untuk menghadiri acara yang menyenangkan ini. Diadakan selama tiga hari, pesta dibuka dengan sebuah upacara di semenanjung Nusa Dua dan diikuti oleh pertunjukan musik, tarian budaya serta kios pasar, warung makan dan parade di malam hari dengan pelampung.

Selain itu, Event Nusa Dua Fiesta 2018 juga menampilkan berbagai informasi potensi daerah, pemasaran produk dan jasa unggulan nasional, pariwisata dan industri, perdagangan, kerajinan dan UKM yang ramah lingkungan.

Entertainment live adalah bagian besar dari festival ini dengan aksi lokal dan internasional yang dimainkan sepanjang hari festival. Anda juga akan menemukan fashion show dan kompetisi termasuk kompetisi latte art dan seni melukis tubuh.

Acara ini juga mempromosikan kesadaran lingkungan, jadi Anda juga akan memperhatikan orang-orang lokal yang membersihkan daerah jalan dan pantai untuk menghormati acara ini.

Festival ini diakhiri dengan berkumpulnya ribuan orang yang melakukan Mentari Pulau Dewata. Setelah pertunjukan ini, live band dan DJ akan memutar musik sampai larut malam. Jadi datanglah ke Nusa Dua Fiesta dan ambil bagian dalam acara budaya yang menyenangkan ini. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Usai Diverifikasi, Apron Bandara Ngurah Rai Beroperasi

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, mulai mengoperasikan dua apron baru setelah menjalani verifikasi dari Kementerian Perhubungan untuk mengakomodasi lalu lintas penerbangan menjelang pertemuan IMF dan Bank Dunia, Oktober 2018. Verifikasi dan evaluasi final meliputi proses verifikasi di apron barat dan apron timur dengan pengukuran kekuatan apron.

“Setelah dievaluasi tahap akhir maka apron sudah layak digunakan,” kata Co-General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Sigit Herdiyanto di Denpasar seperti dilansir Antara, Kamis (27/9).

Petugas verifikasi itu berasal dari sejumlah tim dari beberapa instansi yakni Inspektorat Navigasi Penerbangan, Subdirektorat Standardisasi Bandar Udara, Subdirektorat Peralatan dan Utilitas Bandar Udara serta perwakilan dari Direktorat Keamanan Penerbangan.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-2622 rute Pudong Shanghai-Denpasar menjadi maskapai pertama yang menggunakan apron barat Bandara I Gusti Ngurah Rai, Rabu (26/9). Pesawat itu berhenti parkir pada lajur nomor 57 sekitar pukul 09.20 Wita dengan membawa 98 penumpang.

Di apron timur seluas 4,1 hektare itu, pesawat Garuda Indonesia perdana parkir pada lajur nomor 61 pukul 11.41 Wita. Maskapai nasional dengan nomor penerbangan GA-727 rute Perth-Denpasar itu membawa penumpang 160 orang.

Untuk jangka pendek yakni memenuhi kebutuhan pertemuan IMF dan Bank Dunia, apron barat dikerjakan dengan cara mengurug lahan perairan seluas 8 hektare karena terbatasnya lahan. Jangka panjangnya, pengelola bandara itu juga tengah mengurug lahan perairan apron barat seluas 35,75 hektare.

Perluasan dua apron tersebut membuat konsekuensi di antaranya pemindahan gedung VVIP di sebelah barat ke sebelah timur, pemidahan gedung Base Ops Pangkalan Udara Ngurah Rai dan pengelolaan limbah. Total anggaran untuk investasi pengembangan fasilitas itu mencapai sekitar Rp 2,2 triliun. (EP)