Sadmawati  Pantang Menyerah Demi Mimpi  Menyekolahkan Anak ke Perguruan Tinggi

this formate

Sadmawati, terapis di Jogjakarta yang banyak melayani  customer termasuk wisatawan.

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Senyumnya mengembang saat berjumpa dan saat menyapa tak ada nada keberatan atau keluhan meski untuk datang memenuhi panggilan, motor yang dikendarainya  dihadang angin dan cuaca gelap menjelang hujan di kota gudeg ini

Berawal saat melihat foto dan kisah hidupnya tayang di situs blog dan media sosial seperti Instagram dan Facebook Agustus 2018 lalu sebagai mitra Go MASSAGE, sejak itu bayangan wajah Sadmawati memang sulit dilupakan.

Di balik senyum, tawa renyah dan tutur kata penuh sopan santun saat menjawab pertanyaan lawan bicaranya, Sadmawati ternyata sosok wanita yang kuat bahkan keras kemauan untuk mewujudkan cita-citanya terutama dalam hal pendidikan tinggi anak-anaknya.

Wanita yang akrab disapa Atik ini adalah ibu tiga anak  masing-masing adalah Dian semester 4 di MMTC, Adi kelas 12 dan Danu kelas 6 SD. Sementara suaminya,  Kirdi, bekerja di Kolaka, Sulawesi Tenggara, berpisah jarak dan waktu dengan keluarganya.

“Membesarkan dan menuntaskan impian seorang anak adalah kewajiban orang tua.  Hal yang sangat wajar dan harus dipenuhi. Namun bagi saya, menuntaskan masa depan anak-anak saya adalah mimpi besar (big dream).  Karena di atas kertas, secara hitungan matematis, it’s imposible for me,” ungkapnya saat kami bertemu.

Sebagai orang tua yang tidak bisa memilih untuk memiliki pekerjaan tetap dan mapan, maka tercapainya mimpi anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan tinggi adalah suatu big dream bagi Atik yang penuh semangat ingin mewujudkannya menjadi nyata.

Persoalan hidup, masalah finansial dan keprihatinan yang mendera sejak masa kecil membuat jebolan sebuah perguruan tinggi ini mampu bertahan dengan tekad dan keyakinan untuk pantang menyerah.

“Ada amanat dari Yang Maha Kuasa agar saya pantang menyerah karena sebagai umat Tuhan dapat memberi manfaat dan membantu sesama,”

Mengejar mimpi

Demi mempertahankan kelangsungan hidup maupun pendidikan anak-anaknya, maka jatuh bangun mengejar mimpi tetap dinikmatinya penuh keikhlasan. Beragam profesi demi menyambung hidup juga telah dijalaninya. Sadmawati pernah menjadi translator dan editor di perusahaan penerbit ternama di Jakarta. Tahun 1998, ia pun terkena imbas krisis ekonomi nasional dan di-PHK.

Dari orang kantoran, Atik beralih menjadi penjual kopi bubuk di Solo. Namun nasib baik belum berpihak padanya hingga harus menjual rumahnya di Solo dan tahun 2017, akhirnya memutuskan memboyong anak-anaknya ke Yogyakarta.

Di kota pelajar ini dia mulai menata kehidupan baru di rumah kontrakan dan mencoba segala hal yang bisa dikerjakan mulai dari menerima pesanan kue basah, les private anak SD, menjalani bisnis asuransi hingga memijat. Nah kemahirannya memijat yang menjadi keahlian turun temurun dari neneknya inilah yang akhirnya paling diandalkannya.

Memboyong anak-anak tinggal di Jogjakarta selain ada peluang proyek juga untuk menyemangati anak-anak agar memperjuangkan kelangsungan  pendidikan langsung di kota pelajar.

Sadmawati memiliki pengalaman yang manis berkat kecerdasannya sehingga tergolong sukses di dunia pendidikan. Saat duduk di bangku SD dan SMP di Mojokerto, daerah asalnya, dia pernah menjadi juara 1 pelajar teladan tingkat SD dan SMP se Mojokerto.

Saat SMP, dia pernah diminta bantuan guru Binbingan Penyuluhan( BP) untuk mendampingi teman yang malas belajar dan suka bolos.  Guru-guru sudah angkat tangan untuk handle teman-temannya  iru hingga akhirnya ternyata  mereka semuanya bisa lulus.

“Hobi menari juga mengukir prestasi sebagai juara 1 lomba tari se kota Mojokerto, lalu diliput TVRI dan diliput salah satu majalah budaya di Surabaya,” ungkapnya girang.

Saat diterima di perguruan tinggi tanpa tes dan menerima honor menulis buku juga menjadi kenangan manis sepanjang hidupnya sekaligus menjadi motivasi bagi anak-anaknya untuk terus mengejar ilmu.

Terlahir sebagai  anak bungsu dari enam bersaudara putri dari Bapak Suyoto dan Bu Anik.  Ayahnya yang asli dari Gunungkidul, Jogjakarta dan ibu yang besar di Mojokerto membangun rumah tangga dengan penuh cinta kasih dan peduli sesama.

“ Di masa perjuangan kemerdekaan bapak bekerja sebagai kepala TU di RSUD Wahidin Sudirohusodo Mojokerto, sedangkan ibu adalah seorang bidan di rumah sakit yang sama,” ungkap Atik

Gonjang ganjing tahun 1965, bapak termasuk orang yang kena fitnah dan dikeluarkan dari pekerjaannya.  Sebelumnya ibu sudah berhenti karena repot mengurus dua bayi kembar, kakaknya. Sejak saat itu ekonomi keluarga turun drastis.  Kakak kembar tersebut yang paling merasakan perubahan tersebut.

“Saya lahir tahun 1970, saat situasi financial keluarga lebih baik dari sebelumnya walaupun masih sulit.  Bapak mengerjakan apapun untuk mendapatkan uang, ibu menolong persalinan bayi secara freelance dari kampung ke kampung,”

Tidak jarang ibu membantu persalinan masyarakat kelas bawah disekitar rumah dan  tidak meminta bayaran. Justru terkadang beliau malah membelikan selimut untuk si bayi yang baru dilahirkan.  Saat itu sebagai anak merasa jengkel juga melihat ibu seperti itu.

“Kami sendiri hidup pas-pasan, tetapi mengapa ibu masih bisa bersikap begitu murah hati. Namun ibu selalu menekankan bahwa Tuhan pasti memberi rejeki sesuai dengan yang kita butuhkan. Tuhan sudah siapkan penolong, pasti ada rejeki lewat orang lain,”

Ternyata ucapan ibu itu selalu benar, rejeki mengalir, tidak selalu berupa uang,  namun selalu saja ada penghasilan untuk mencukupi kebutuhan. Pernah tiba-tiba mantan pasien ibu yang kebetulan seorang petani, datang ke rumah memberi sekarung beras.

Suatu saat ada orang mau membeli buah nangka atau mangga di halaman rumahnya dengan harga yang lumayan tinggi. Kebetulan di halaman rumah ada pohon nangka dan mangga yang selalu bagus buahnya meski tanpa perawatan khusus.

Pendidikan moral

“Pendidikan moral dari orang tua yang paling membekas sampai saat ini adalah terkait dengan iman yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Selalu ditanamkan kejujuran, ikhlas, tidak mengeluh dan selalu berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada orang yang jahat kepada kita,” tutur penganut Kristiani ini.

Dia mengaku kedua orangtua selalu menekankan nilai luhur,  religiusitas dan spiritualitas. Anak tidak pernah mendengar mereka  mengeluh, padahal jelas-jelas kenyataan hidup terutama financial keluarga dengan 6 anak cukup berat.

Tapi  karena iman mereka sangat kuat maka  mereka yakin bahwa Tuhan pasti memberikan rejeki jika umatnya aktif berusaha dan memohon (berdoa) serta mau berbagi kepada orang lain walau kitapun dalam posisi kekurangan.

“Cara saya mendidik anak nyaris sama seperti  yang saya terima dari orangtua yaitu iman yang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya  juga menerapkan sikap demokratis tapi bertanggung jawab, sopan dan menghargai siapapun serta sebisa mungkin membantu orang atau minimal mendoakannya dan selalu mengajak anak2 berpikir positif,” jelasnya.

Berjalan bersama kerikil dan oak tajam menuju tujuan ( goal ) adalah suatu yang biasa.  Namun tetap saja dia pernah menerimanya sebagai sesuatu yang berat bahkan merasa menjadi orang yang paling susah dan tidak beruntung di dunia.

“Berkali-kali saya beralih (switch) usaha/bisnis.  Banyak orang merespon bahwa saya tidak pernah tekun dan fokus dalam menjalankan bisnis apapun, maka tidak pernah berhasil.  Banyak orang menilai saya tidak punya goal yang jelas karena saya seolah bingung menentukan passion bisnis saya,” jelas Sadmawati.

Namun dia yakin  punya goal yang jelas, namun belum memungkinkan untuk memilih pekerjaan atau bisnis apa yang sesuai dengan passion.  “Saya menjalani jenis pekerjaan apapun, yang penting menghasilkan uang dan mencukupi serta halal.  Bagi saya saat ini, tidak penting karir atau prestige.,”

Memboyong anak anak  ke Jogjakarta setahun lalu bukan tanpa alasan yang kuat. Alasan utama tidak lain untuk meningkatkan financial keluarga. Keputusan besar yang harus dilakukan dimana ada tawaran untuk mengelola proyek pemberdayaan masyarakat pantai Baros Bantul Jogyakarta.  Tapi ternyata proyek tersebut yang sebelumnya diharapkan dapat menjadi tumpuan harapan peningkatan financial, malah tertunda sampai batas waktu yang tidak jelas.

“So, apapun yang terjadi saya harus tetap survive di Yogya. Maka mulailah saya mencari peluang pekerjaan atau bisnis, terutama yang berbasis jasa.  Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang driver online Go-Jek yang memberi info tentang GO-MASSAGE sehingga saya mencoba mendaftar, karena yakin punya kemampuan dan bakat turunan memijat dari nenek,” ungkapnya.

Registasi online ke GO-MASSAGE belum juga mendapat respon dan jawaban hingga Atiek mengira pasti tidak dipanggil karena selain usia, diapun tidak mempunyai sertifikat khusus memijat.

“ Walau hati kecil tetap berharap dipanggil.  Saya tidak terus menunggu dan menunggu, tapi saya kerjakan usaha lain, yang penting menghasilkan fresh money untuk opersional harian keluarga dari jual makanan di bazar sekolah sampai saat car free day, disamping memberikan les private murid SD,” tanbahnya.

Selang dua bulan setelah registrasi GO-MASSAGE,  dia mendapat sms undangan tes sebagai mitra Go-Jek hingga akhirnya  diterima sebagai terapis dan mulai ambil orderan dari aplikasi. Tapi kemudian rasa minder menyergap. Atik tidak enjoy menjadi terapis sampai akhirnya  bertemu customer seorang ibu, kebetulan beliau adalah seorang guru besar di salah satu universitas negeri terkenal di Yogya.

“ Beliau membesarkan hati saya, memberikan big hug yang kuat hingga membuat saya nangis terharu.  Dalam hati saya berkata “siapa saya”, sampai beliau mau memeluk saya dengan hangat. Luar biasa. Saya sungguh bersyukur,”

Secara professional seorang terapis massage ternyata sangat mulia dan berharga.  Pertemuan dengan pelanggan dari kalangan akademisi itu membuat Sadmawati menikmati pekerjaannya dan sangat bersemangat menjadi terapis. Apalagi penghasilan harian mulai membaik.

“Rasanya terharu saat ada customer yang menjadi segar dan sembuh berkat layanan pijat saya. Pekerjaan ini juga memberikan peluang bertemu dengan banyak customer dengan beragam latar belakang,” .

Pertemuannya dengan sang guru besar, misalnya membuka jalan kelanjutan proyek membantu pengembangan Pantai Baros, Bantul. Hutan Mangrove Pantai Baros merupakan kawasan ekowisata hutan mangrove dan wisata pantai selatan di kabupaten Bantul.

“Mengembangkan wisata mangrove dan melakukan budidaya ikan di hutan mangrove yang selama ini berfungsi sebagai kawasan lindung dapat memberikan penghasilan yang besar bagi masyarakat setempat,”

Tahun 2002, dia juga  pernah menjadi penggerak kelompok tani di Palembang. Mengajak ibu-ibu untuk produksi jahe merah dan kunyit instan. Hasilnya cukup memuaskan hingga memiliki barcode dan dijual di mal/swalayan.

Sadmawati memiliki kepedulian sosial tinggi dan rasa empati kepada orang lain yang berasal dari didikan orang tuanya. Contoh nyata jiwa sosial kedua orangtuanya langsung menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga.

“Tujuan hidup saya hidup bahagia dan membahagiakan sebanyak mungkin orang lain.  Saya juga selalu bersyukur dan berserah diri kepadaTuhan. Selama kita aktif dan mau berusaha dan berserah diri, niscaya Tuhan memberi jalan,”.

Menurut dia jika seseorang  bergerak aktif dan kreatif maka  peluang mendekat dan kita siap menangkapnya karena di mata Tuhan kita adalah sama. Selama kita berjalan on track, tidak usah ragu dan takut. Termasuk berani menghadapi resiko.

“Senyaman nyamannya hidup, pasti punya resiko. Mengandalkan Tuhan, adalah porsi terbesar dalam hidup yang penuh resiko. Semoga Tuhan selalu beserta kita semua,” ujarnya menutup kisah hidupnya.

 

Hindari Serangan Badai, Ribuan Turis Dievakuasi dari Pulau di Thailand

this formate

THAILAND, bisniswisata.co.id: Thailand memang hebat dalam mengantisipasi bencana alam, termasuk melindungi wisatawan asing yang berwisata di negara Gajah Putih. Buktinya untuk menghindari serangan badai Pabuk, Puluhan ribu turis asing terpaksa diungsikan dari pulau Koh Phangan dan Koh Tao di Thailand. Badai ini diperkirakan menciptakan gelombang hingga setinggi tujuh meter, yang dapat mengancam keselamatan para turis.

Dua pulau wisata itu kini nyaris kosong setelah ribuan turis diungsikan dengan kapal-kapal ke pulau utama Thailand, sehari sebelumnya. “Pulau-pulau itu nyaris kosong, antara 30 ribu hingga 50 ribu orang sejak pesta malam tahun baru telah diungsikan,” kata Krikkrai Songthanee, kepala distrik Koh Phangnan seperti dilansir AFP, Kamis (3/1/2019).

Pabuk diperkirakan akan menghantam Koh Phangan, Koh Tao, dan Koh Samui pada Jumat malam (4/1). Diperkirakan kecepatan angin mencapai 104 kilometer per jam sebelum mereda di daratan.

“Kami memprediksi akan ada gelombang setinggi lima hingga tujuh meter di dekat pusat badai. Biasanya di Teluk Thailand gelombangnya hanya setinggi dua meter,” kata Phuwieng Prakammaintara, direktur jenderal Departemen Meteorologi Thailand.

Pabuk yang berarti lele raksasa dalam bahasa Laos diprediksi menyebabkan hujan lebat di selatan Thailand, termasuk tempat wisata di Laut Andaman dan provinsi Pattani yang berbatasan dengan Malaysia.

Pemerintah Thailand juga telah mengeluarkan larangan berenang di laut jelang badai Pabuk menerjang. Rabu lalu di pulau Koh Samui, seorang pria Rusia tewas tenggelam setelah dia dan keluarganya mengabaikan larangan ini.

“Petugas pulau telah mengeluarkan peringatan dan mengibarkan bendera merah tanda bahaya, tapi mungkin keluarga ini mengira situasinya tidak berbahaya,” kata Boonnam Srinarat, polisi di Samui. (EP)

Jumlah Desa Wisata di Bali Naik 124 Persen

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali memiliki 110 desa wisata terbanyak di Indonesia. Perhitungan terakhir selama 2018, mengalami grafik kenaikan hingga 124% dibanding pendataan pada empat tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) Bali juga mencatat jumlah desa dengan objek wisata naik 32% pada 2018. Perhitungan terakhir pada 2018, ada 162 desa dengan objek wisata yang sebelumnya pada 2014 hanya 122 desa wisata.

Kepala BPS Bali Adi Nugroho mengatakan data ini didapat lewat melakukan pendataan potensi desa (Podes) yang biasnya dilaksanakan tiga kali selama sepuluh tahun. Pendataan podes sebelumnya dilakukan pada 2014, dan saat ini kembali dilakukan sejak Mei 2018.

Dari data Podes 2018 dihitung Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori tertinggal, berkembang, atau mandiri. Semakin tinggi IPD menunjukkan semakin mandiri desa tersebut.

Hingga perhitungan Podes 2018, tidak ada lagi desa dengan kategori tertinggal di Bali. Bali saat ini hanya memiliki dua kategori yakni desa mandiri dengan persentase 27,67% atau 176 desa dan desa berkembang sebanyak 72,23% atau 460 desa.

“Pendataan potensi desa pada tahun ini mencatat Bali memiliki 716 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri dari 636 desa dan 80 kelurahan, 57 wilayah administrasi setingkat kecamatan, dan 9 wilayah administrasi kabupaten atau kota,” kata Adi Nugroho seperti dilansir laman Bisnis.com, Kamis (3/1/2019).

Meski sebagian kecil desa berkategori mandiri, jumlahnya telah bertambah sebanyak 75% dibandingkan pendataan 2014 lalu. Sementara, desa berkembang berkurang sebanyak 70 desa atau sebesar 15,22% pada 2018 dibanding 2014. Selain itu, desa tertinggal yang sebelumnya tercatat ada empat pada 2014, telah berubah semuanya menjadi desa berkembang pada 2018, tambahnya.

Pengembangan wisata di desa telah menjadi sumber perekonomian baru dengan tetap memegang teguh warisan budaya. Pada umumnya, desa wisata di Bali memiliki tradisi dan budaya yang khas serta didukung oleh alam lingkungan yang masih terjaga.

“Rata-rata nilai Indeks Pembangunan Desa di Bali untuk dimensi transportasi adalah 82,48, dimensi pengelenggaraan pemerintahan desa 77,44, dimensi pelayanan dasar sebesar 70,16, dan dimensi kondisi infrastruktur 64,32, dan dimensi pelayanan publik 60,80,” katanya.

Dia memerinci ada 266 desa atau kelurahan di Bali yang memiliki kegiatan pelestarian lingkungan. Tercatat pula, ada 156 desa atau kelurahan yang melakukan kegiatan pengelolaan daur ulang sampaj maupun limbah.

Namun demikian, masih ada 450 desa lainnya yang tidak melakukan pelestarian lingkungan. Masih pula ada 560 desa lainnya yang belum melakukan pengolahan atau daur ulang sampah.

Kondisi tersebut menyebabkan desa atau kelurahan di Bali memiliki beberapa tantangan salah satunya bencana alam. Jenis bencana alam yang didata pada Podes 2018 adalah tanah longsor, banjir, gempa bumi, tsunami, gelombang pasang laut, angin puyuh, gunung meletus, kebakaran hutan, hingga kekeringan.

Adapun selama 2018 ada 190 desa atau kelurahan yang terdampak bencana tanah longsor, banjir sebanyak 95 desa atau kelurahan, gelombang pasang laut 24 desa atau kelurahan, kebakaran hutan 11 desa atau kelurahan, dan kekeringan 7 desa atau kelurahan.

Selain masalah bencana alam, tantangan lainnya adalah pencemaran lingkungan. Selama 2018, tercatat 130 desa atau kelurahan terdampak pencematan air, pencemaran udara 136 desa atau kelurahan dan 12 desa atau kelurahan mengalami pencemaran tanah.

“Jumlah desa dengan sistem peringatan dini bencana alam ada 613 desa, jalur evakuasi ada 169 desa, desa dengan perlengkapan keselamatan ada 144 desa, dan desa dengan sistem peringatan dini khusus tsunami ada 36 desa,” katanya. (EP)

Terbang ke Israel, Philippine Airlines Minta Izin Melintasi Saudi

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Filipina sedang meminta izin agar maskapai penerbangannya bisa melintasi ruang udara Arab Saudi dalam penerbangan menuju ke Israel. Jika izin melintas ini diberikan, enam bulan Philippine Airlines akan meluncurkan penerbangan langsung dari Manila menuju ke Tel Aviv.

“Badan penerbangan sipil menyurati pemerintah Arab Saudi terkait izin melintas ini. Surat sudah dikirim pada Oktober lalu,” kata Presiden Philippines Airlines, Jaime Bautista seperti diunduh Channel News Asia, Kamis (3/1/2019).

Pada Maret tahun lalu, pemerintah Arab Saudi untuk pertama kali membuka ruang udaranya untuk penerbangan komersial Air India dari New Delhe menuju Tel Aviv. Izin yang diberikan kepada Air India itu sekaligus mengakhiri larangan yang diberlakukan selama 70 tahun terakhir.

Namun, sejauh ini belum terdapat indikasi pemerintah Arab Saudi mengizinkan maskapai penerbangan Israel melintasi ruang udaranya. Sehingga, maskapai penerbangan Israel El Al harus terbang memutari wilayah udara Arab Saudi.

Kondisi ini membuat Israel meminta Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) melobi Saudi agar memberikan izin melintas. Penerbangan langsung Manila-Tel Aviv akan amat menguntungkan ribuan warga Filipina yang bekerja di Israel.

Penerbangan langsung ini juga akan menguntungkan dunia wisata. Pada 2017, jumlah wisatawan Filipina yang berkunjung ke Israel meningkat 61 persen. Tahun 2016, jumlah wisawatawan Israel yang datang ke Filipina meningkat 42 persen. (EP)

7 Januari 2019, Jepang Berlakukan Pajak “Sayonara”

this formate

TOKYO, bisniswisata.co.id: Jepang mulai menarik retribusi senilai 1.000 yen (Rp135 ribu) bagi setiap wisatawan asing maupun warga negara Jepang yang meninggalkan negara dengan sebutan “Matahari Terbit”, pada Senin, 7 Januari 2019.

Menurut laporan The Japan Times, Kamis (3/1/2019), pemerintah mulai menarik pungutan pajak untuk setiap orang yang meninggalkan Jepang dengan pesawat terbang atau kapal tanpa memandang kewarganegaraannya. Artinya, turis asing maupun warga negara Jepang yang hendak melakukan kunjungan ke luar negeri dikenai kewajiban yang disebut pajak “Sayonara” ini.

Berdasarkan undang-undang yang ditetapkan sejak April 2018, retribusi dihitung setiap seseorang melakukan perjalanan ke luar Jepang. Biaya retribusi akan ditambah ke tiket pesawat, kapal, atau biaya perjalanan lainnya.

Meski berlaku untuk setiap kepergian dari Jepang, aturan ini tidak berlaku bagi wisatawan asing yang hanya transit di Jepang selama kurang dari 24 jam dan anak-anak di bawah 2 tahun. Selain itu, tiket kepergian yang dibeli sebelum 7 Januari juga dibebaskan dari kewajiban retribusi.

Dalam laporannya, pendapatan pajak tersebut akan dimanfaatkan pemerintah Jepang untuk mengakomodasi wisatawan asing yang lebih banyak, pengembangan turisme, dan peningkatan prosedur imigrasi.

Secara spesifik, pendapatan dari retribusi akan digunakan untuk membuat gerbang pengenal (scan) wajah di bandara sehingga proses imigrasi menjadi lebih cepat. Pemerintah juga berencana mengalokasikan pendapatan untuk membuat papan informasi multibahasa dan memperkenalkan lebih banyak terminal pembayaran transportasi umum nontunai.

Jumlah pengunjung ke Jepang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, jumlah kunjungan ke Jepang mencapai 30 juta untuk pertama kalinya. Pemerintah Jepang juga menargetkan peningkatan kunjungan asing menjadi 40 juta orang pada 2020 ketika Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas.

Disisi lain, Jepang juga serius menggaet turis Muslim dunia. Gelombang kuat wisatawan Muslim dari berbagai negara membuat pengusaha di negeri Matahari Terbit, berupaya menyajikan restoran halal dan hotel sesuai syariat Islam.

Sejumlah pengusaha mendirikan hotel ramah Muslim memenuhi kebutuhan wisatawan Islam, termasuk di kaki Gunung Fuji. Selain itu, bandara internasional di Jepang juga memiliki mushala dan menyediakan restoran yang menawarkan makanan halal. Saat ini, Negeri Matahari Terbit itu merencanakan pembuatan bandara di Jepang yang lebih ramah wisatawan Muslim.

Desember 2018, Jepang menggelar peragaan busana pertama bagi Muslimah. Acara itu diadakan bersamaan dengan kegiatan Halal Expo Jepang di Tokyo. Sekitar 10 merek, terutama dari Singapura, memamerkan karya-karyanya dalam pameran tersebut.

Berkat peran media sosial dan tarif perjalanan udara yang murah dari Asia Tenggara, Jepang mampu merayu wisatawan Muslim untuk plesiran ke negara yang masyhur dengan bunga sakura itu. Pada 2017, hampir 360 ribu turis Indonesia mengunjungi negara itu. Jumlah tersebut naik dari hanya 80 ribu pada 2010.

Saat ini, sejumlah hotel di negara itu memasang tanda arah kiblat di setiap kamar. Semua makanan Jepang disiapkan di dapur mengantongi sertifikat halal. Sejumlah hotel juga dinyatakan bebas alkohol.

Sektor pariwisata Jepang terbukti menjuarai pasar perjalanan Muslim global. Hal itu terlihat dari perubahan besar dalam 10 tahun terakhir. Organisasi Pariwisata Dunia menyebut Asia adalah pasar dunia yang paling banyak dikunjungi pada 2017 setelah Eropa. Penggerak utamanya adalah prevalensi teknologi seluler, akses internet di seluruh Asia, dan generasi milenial.

Tidak sedikit Muslimah yang mulai melakukan perjalanan wisata sendiri. Media sosial memang memacu minat generasi milenial Muslim dalam perjalanan. Apalagi, promo maskapai penerbangan murah membuat orang Asia Tenggara semakin terinspirasi melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang lebih ramah dan mudah diakses. (EP)

Jumlah Wisman Berwisata ke Jateng Turun

this formate

SEMARANG. bisniswisata.co.id: Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jawa Tengah tercatat sebanyak 1.844 kunjungan sepanjang November 2018, turun 2,69% dibandingkan Oktober 2018 yang tercatat sebanyak 1.895 kunjungan. Jumlah itu tercatat masuk melalui Bandara Ahmad Yani, Semarang.

“Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terbanyak masih berasal dari warga MaIaysia yaitu 904 kunjungan, disusul Singapura 320 kunjungan, dan India sebanyak 119 kunjungan,” sebut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Sentot Bangun Widoyono dalam keterangan tertulis, Kamis (3/1/2019).

Dilnajutkan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jateng tercatat sebesar 46,6% pada November 2018 atau naik 0,44 poin dibanding TPK bulan sebelumnya yang sebesar 46,16%.

Bila dibandingkan periode yang sama pada 2017, maka TPK November 2018 mengalami penurunan 7,51 poin. “TPK November 2018 tertinggi terjadi di hotel bintang 4, yaitu sebesar 52,43%, dan terendah hotel bintang 1 sebesar 30,8%,” ujar Sentot.

Selanjutnya, Rata-rata Lama Menginap (RLM) tamu hotel berbintang adalah sekitar1,29 malam, turun 0,03 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,32 malam.

“Pada November 2018, RLM mancanegara tercatat sebesar 2,01 malam, mengalami kenaikan sebesar 0,03 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,98 malam. Sementara itu, untuk RLM domestik tercatat 1,28 malam, mengalami penurunan 0,03 poin dibandingkan dengan periode Oktober 2018 yang sebesar 1,31 malam,” paparnya.

Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani menjadi bandara yang paling banyak dijadikan tempat oleh masyarakat untuk pergi atau datang dengan menggunakan moda transportasi udara pada November 2018.

Badan Pusat Statistik Jawa Tengah mencatat, jumlah keberangkatan penumpang dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani sebanyak 200.927 orang atau sekitar 68,15% dari total jumlah keberangkatan penumpang dari Jawa Tengah, yakni 294.846 orang.

Posisi bandara kedua terbanyak yang menjadi tempat masyarakat untuk pergi menggunakan pesawat adalah Bandara Adi Soemarmo, Boyolali dengan jumlah keberangkatan penumpang sebanyak 93.629 orang atau 31,76%.

Adapun jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap pada November 2018 sebanyak 290 orang atau sekitar 0,1% dari total jumlah keberangkatan penumpang dari Jawa Tengah.

Masih berdasarkan data BPS Jawa Tengah, jumlah kedatangan penumpang pesawat ke Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani mencapai 206.695 orang atau sekitar 68,50% dari total jumlah kedatangan penumpang penerbangan komersial ke Jawa Tengah.

Setelah itu, bandara yang kedua terbanyak menjadi tempat kedatangan penumpang pesawat ke Jawa Tengah adalah Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, yakni 94.819 orang. Sementara jumlah penumpang yang datang melalui Bandara Tunggul Wulung, Cilacap sebanyak 242 orang. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Bencana Alam Dituding Penyebab Kunjungan Wisman Anjlok

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang 2018 rupanya ikut mempengaruhi anjloknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. “Promosi berpengaruh, tapi memang berbagai bencana di 2018 seperti erupsi Gunung Agung, gempa Lombok, tsunami Palu dan Banten akan berpengaruh pada jumlah wisman,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto di Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Dijelaskan, Jumlah kunjungan wisman pada November 2018 mengalami penurunan sebesar 11,26 persen dibandingkan bulan Oktober 2018. Namun secara years on years, Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia November 2018 naik 8,16 persen dibanding jumlah kunjungan pada November 2017, yaitu dari 1,06 juta kunjungan menjadi 1,15 juta kunjungan

Secara kumulatif, kunjungan wisman Januari hingga November 2018 sebesar 14,4 juta kunjungan. Angka itu mengalami peningkatan 11,63 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017. Meski begitu, diperlukan kunjungan wisman sebanyak 2,6 juta pada Desember 2018 untuk bisa mencapai target kunjungan sebesar 17 juta yang dicanangkan pemerintah.

“Sudah ada komitmen pemerintah untuk segera membenahi sehingga pariwisata bisa pulih kembali. Bencana berturut-turut tentu mempengaruhi minat wisman datang ke Indonesia,” kata Suhariyanto.

Kendati demikian, tren kunjungan wisman ke Indonesia sejak 2014 terus mengalami peningkatan. Secara berturut-turut kunjungan wisman pada 2014 adalah sebesar 9,4 juta kunjungan, 2015 sebesar 10,2 juta kunjungan, 2016 sebesar 11,5 juta kunjungan, dan 2017 sebesar 14 juta kunjungan.

Selama November 2018, lima besar kunjungan wisman ke Indonesia berdasarkan negara didominasi oleh Malaysia sebesar 186 ribu kunjungan atau 16,23 persen dari total kunjungan November 2018. Kemudian, diikuti oleh Singapura sebesar 153 ribu kunjungan atau 13,41 persen, Timor Leste sebesar 142 ribu atau 12,37 persen, Cina sebesar 124 ribu atau 10,85 persen, dan Australia sebesar 97 ribu atau 8,5 persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang pada November 2018 mencapai rata-rata 60,19 persen atau naik 2,31 poin dibandingkan dengan TPK November 2017. “Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama November 2018 tercatat sebesar 1,85 hari atau terjadi kenaikan 0,05 poin jika dibandingkan keadaan November 2017,” kata Suhariyanto.

Sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada November 2018 mencapai rata-rata 60,19 persen atau naik 2,31 poin dibandingkan dengan TPK November 2017 yang tercatat sebesar 57,88 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK Oktober 2018, TPK hotel klasifikasi bintang pada November 2018 mengalami kenaikan sebesar 1,35 poin.

“Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama November 2018 tercatat sebesar 1,85 hari, terjadi kenaikan 0,05 poin jika dibandingkan keadaan November 2017,” sambungnya. (EP)

Cathay Pasific Lakukan Kesalahan Memalukan, Kenapa?

this formate

DA NANG, bisniswisata.co.id: Cathay Pasific, operator maskapai internasional terbesar di Asia melakukan kesalahan memalukan awal pekan ini. Maskapai yang bermarkas di Hong Kong menjual tiket kelas bisnis dan premium rute penerbangan Vietnam ke Kanada dan Amerika Serikat (AS) dengan harga ekonomi.

Selain itu, Tarif di kabin premium dari Da Nang ke New York mulai dari 675 dolar AS untuk perjalanan pada Agustus 2019. Padahal seharusnya harganya bisa mencapai 16 ribu dolar AS.

Gary Leff, blogger perjalanan dan pengisi program “View from the Wing” menuliskan kesalahan fatal Cathay Pasific pada 31 Desember 2018. Menurut sebuah unggahan di One Mile at a Time, perjalanan pulang-pergi dari Hanoi (Vietnam) ke Vancouver (Kanada) dengan kelas campuran bisnis dan kelas satu bisa didapat dengan harga kurang dari 1.000 dolar AS.

Kesalahan penetapan harga terjadi setelah peretasan canggih pada sistem komputer Cathay tahun lalu yang mengekspos informasi pribadi 9,4 juta penumpang dalam pelanggaran data maskapai terbesar di dunia.

Juru bicara Cathay melalui sambungan telepon, dilansir dari laman Time.com, mengaku mengetahui masalah harga ini dan akan memberikan rincian lebih lanjut nanti.

Menurut situs Cathay Rabu (2/1), tiket kelas bisnis ke New York dari Da Nang (Vietnam) dijual dengan harga 16 ribu dolar AS untuk perjalanan Juli dan September. Namun harga tiket tidak tersedia untuk perjalanan Agustus.

Maskapai lain juga pernah melakukan kesalahan penetapan harga serupa. Singapore Airlines Ltd pada 2014 dan Hong Kong Airlines Ltd tahun lalu keliru memberi harga tiket bisnis dengan harga ekonomi. Kedua operator tidak mengungkapkan berapa banyak orang yang membeli tiket lebih murah itu.

Menurut laman situsnya, Cathay telah menjual tiket ke AS dan tujuan lain dari Vietnam dalam penawaran yang berakhir 31 Desember lalu. Tiket perjalanan pulang pergi ke Los Angeles dijual mulai dari 2.940 dolar AS. (EP)

2 Hotel Mewah di Bali Masuk 10 Terbaik Dunia

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Dua hotel di Bali masuk dalam jajaran 10 besar hotel mewah terbaik di dunia pada 2018 berdasarkan penilaian Luxury Travel Intelligence (LTI). Kedua hotel itu adalah Capella Ubud Gianyar dan Como Uma Canggu.

Capella berlokasi di tengah hutan Ubud, Bali. Terdapat 22 kamar yang didesain terinsipirasi tempat tinggal penjelajah Eropa pada 1800an. Arsiteknya, Bill Bensley, merancang hotel mewah itu sebagai penghormatan kepada mereka yang berjiwa petualang.

Dikutip dari laman capellahotels.com, Selasa (2/1/2019) konstruksi bangunan hotel yang menduduki peringkat 8 dunia ini dibangun di sela-sela pepohonan dan terkesan tersembunyi. Dikelilingi alam, Anda bisa memilih kamar yang menawarkan pemandangan sungai, hutan, Bukit Keliki, atau sawah.

Setiap kamar dilengkapi dengan kolam air asin agar Anda bisa merasakan sensasi berenang di pantai Bali. Dalam laman booking.com, harga kamar per malam di hotel ini antara Rp 15,9 juta hingga Rp 22,3 juta.

Sementara, Como Uma Canggu berlokasi di selatan Bali menawarkan panorama Samudera Hindia yang menawan. Luxury Travel Intelligence menempatkan hotel ini di peringkat 10 sebagai hotel mewah terbaik di dunia.

Dengan semangat para peselancar, hotel ini memasukkan unsur Asia dan Italia dalam interior kamar. Hal itu lantaran latar belakang dua arsitek yang dipekerjakan, Koichiro Ikebuchi yang berdarah Jepang dan Paola Navone yang berbasis di Milan.

Resort ini menyediakan 52 kamar dan suites, 55 residen yang terdiri satu dan dua kamar, dan 12 penthouse. Berada tak jauh dari Pantai Echo dan sekitar 500 meter dari Pantai Batu Bolong Bali, Anda bisa mendapatkan pemandangan lautan luas dari kolam renang di atap hotel.

Harga yang ditawarkan untuk menginap di hotel ini ‘relatif’ lebih terjangkau dibandingkan di Capella Ubud Hotel, yakni mulai dari Rp 3,4 juta per malam. Sementara, biaya menginap di penthouse mencapai Rp 20 jutaan semalam. (EP)

Sajikan Restoran Halal, Kiat Jepang Gaet Turis Muslim

this formate

TOKYO, bisniswisata.co.id: Jepang serius dan tidak main-main merealisasikan target menggaet turis Muslim dunia. Gelombang kuat wisatawan Muslim dari berbagai negara membuat pengusaha di negeri Matahari Terbit, berupaya menyajikan restoran halal dan hotel sesuai syariat Islam.

Sejumlah pengusaha mendirikan hotel ramah Muslim memenuhi kebutuhan wisatawan Islam, termasuk di kaki Gunung Fuji. Selain itu, bandara internasional di Jepang juga memiliki mushala dan menyediakan restoran yang menawarkan makanan halal. Saat ini, Negeri Matahari Terbit itu merencanakan pembuatan bandara di Jepang yang lebih ramah wisatawan Muslim.

Desember 2018, Jepang menggelar peragaan busana pertama bagi Muslimah. Acara itu diadakan bersamaan dengan kegiatan Halal Expo Jepang di Tokyo. Sekitar 10 merek, terutama dari Singapura, memamerkan karya-karyanya dalam pameran tersebut.

Berkat peran media sosial dan tarif perjalanan udara yang murah dari Asia Tenggara, Jepang mampu merayu wisatawan Muslim untuk plesiran ke negara yang masyhur dengan bunga sakura itu. Pada 2017, hampir 360 ribu turis Indonesia mengunjungi negara itu. Jumlah tersebut naik dari hanya 80 ribu pada 2010.

Saat ini, sejumlah hotel di negara itu memasang tanda arah kiblat di setiap kamar. Semua makanan Jepang disiapkan di dapur mengantongi sertifikat halal. Sejumlah hotel juga dinyatakan bebas alkohol.

Sektor pariwisata Jepang terbukti menjuarai pasar perjalanan Muslim global. Hal itu terlihat dari perubahan besar dalam 10 tahun terakhir. Organisasi Pariwisata Dunia menyebut Asia adalah pasar dunia yang paling banyak dikunjungi pada 2017 setelah Eropa. Penggerak utamanya adalah prevalensi teknologi seluler, akses internet di seluruh Asia, dan generasi milenial.

Tidak sedikit Muslimah yang mulai melakukan perjalanan wisata sendiri. Media sosial memang memacu minat generasi milenial Muslim dalam perjalanan. Apalagi, promo maskapai penerbangan murah membuat orang Asia Tenggara semakin terinspirasi melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang lebih ramah dan mudah diakses.

Sejumlah aplikasi seluler, seperti Perjalanan Halal, www.halaltrip.com, memungkinkan pelancong mengetahui arah kiblat saat berada di mana saja di seluruh dunia. Bahkan, aplikasi itu memiliki informasi waktu shalat atau lokasi restoran halal terdekat.

Sejauh ini pembelanja Muslim terbesar berasal dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pelancong Teluk kaya menghabiskan lebih dari 40 miliar dolar Amerika Serikat (AS) secara global tahun lalu.

Indonesia berada di urutan ketiga dalam pengeluaran para pelancong Muslim, yakni sebesar 7,5 miliar dolar AS dan terus bertambah. Kemudian ada Malaysia yang menghabiskan sekitar setengahnya dari total pengeluaran Indonesia.

Pelancong dari Asia, terutama dari Malaysia dan Indonesia, diperkirakan akan menyasar negara di Eropa dalam dua tahun mendatang. Segmen pelancong Muslim muda yang tumbuh cepat dari Asia Tenggara, lebih cenderung memilih tujuan, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Jepang mengalami peningkatan kedatangan wisatawan asing mencapai rekor 31 juta pada 2018. Angka itu naik tajam dari hanya 6,2 juta pada 2011 karena bencana gempa bumi dan tsunami besar di Jepang Timur pada 2011.

Pemerintah Jepang memperkirakan jumlah kedatangan wisatawan akan mencapai 40 juta pada 2020 saat Olimpiade Tokyo. Olimpiade itu menawarkan potensi pasar besar bagi perusahaan halal Malaysia dan lembaga sertifikasi halal.

Di Shinjuku, sebuah perusahaan yang dijalankan oleh orang Malaysia bernama MHC Co. Ltd berwenang mengeluarkan standar halal di Jepang untuk restoran dan produsen makanan. “Tujuan kami adalah meningkatkan jumlah restoran halal di kawasan Tokyo untuk Olimpiade,” kata Iori pejabat di MHC, Numata, seperti dilansir New Straits Times, Selasa (2/1/2018). (EP)