Sadmawati  Pantang Menyerah Demi Mimpi  Menyekolahkan Anak ke Perguruan Tinggi

0
288

Sadmawati, terapis di Jogjakarta yang banyak melayani  customer termasuk wisatawan.

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Senyumnya mengembang saat berjumpa dan saat menyapa tak ada nada keberatan atau keluhan meski untuk datang memenuhi panggilan, motor yang dikendarainya  dihadang angin dan cuaca gelap menjelang hujan di kota gudeg ini

Berawal saat melihat foto dan kisah hidupnya tayang di situs blog dan media sosial seperti Instagram dan Facebook Agustus 2018 lalu sebagai mitra Go MASSAGE, sejak itu bayangan wajah Sadmawati memang sulit dilupakan.

Di balik senyum, tawa renyah dan tutur kata penuh sopan santun saat menjawab pertanyaan lawan bicaranya, Sadmawati ternyata sosok wanita yang kuat bahkan keras kemauan untuk mewujudkan cita-citanya terutama dalam hal pendidikan tinggi anak-anaknya.

Wanita yang akrab disapa Atik ini adalah ibu tiga anak  masing-masing adalah Dian semester 4 di MMTC, Adi kelas 12 dan Danu kelas 6 SD. Sementara suaminya,  Kirdi, bekerja di Kolaka, Sulawesi Tenggara, berpisah jarak dan waktu dengan keluarganya.

“Membesarkan dan menuntaskan impian seorang anak adalah kewajiban orang tua.  Hal yang sangat wajar dan harus dipenuhi. Namun bagi saya, menuntaskan masa depan anak-anak saya adalah mimpi besar (big dream).  Karena di atas kertas, secara hitungan matematis, it’s imposible for me,” ungkapnya saat kami bertemu.

Sebagai orang tua yang tidak bisa memilih untuk memiliki pekerjaan tetap dan mapan, maka tercapainya mimpi anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan tinggi adalah suatu big dream bagi Atik yang penuh semangat ingin mewujudkannya menjadi nyata.

Persoalan hidup, masalah finansial dan keprihatinan yang mendera sejak masa kecil membuat jebolan sebuah perguruan tinggi ini mampu bertahan dengan tekad dan keyakinan untuk pantang menyerah.

“Ada amanat dari Yang Maha Kuasa agar saya pantang menyerah karena sebagai umat Tuhan dapat memberi manfaat dan membantu sesama,”

Mengejar mimpi

Demi mempertahankan kelangsungan hidup maupun pendidikan anak-anaknya, maka jatuh bangun mengejar mimpi tetap dinikmatinya penuh keikhlasan. Beragam profesi demi menyambung hidup juga telah dijalaninya. Sadmawati pernah menjadi translator dan editor di perusahaan penerbit ternama di Jakarta. Tahun 1998, ia pun terkena imbas krisis ekonomi nasional dan di-PHK.

Dari orang kantoran, Atik beralih menjadi penjual kopi bubuk di Solo. Namun nasib baik belum berpihak padanya hingga harus menjual rumahnya di Solo dan tahun 2017, akhirnya memutuskan memboyong anak-anaknya ke Yogyakarta.

Di kota pelajar ini dia mulai menata kehidupan baru di rumah kontrakan dan mencoba segala hal yang bisa dikerjakan mulai dari menerima pesanan kue basah, les private anak SD, menjalani bisnis asuransi hingga memijat. Nah kemahirannya memijat yang menjadi keahlian turun temurun dari neneknya inilah yang akhirnya paling diandalkannya.

Memboyong anak-anak tinggal di Jogjakarta selain ada peluang proyek juga untuk menyemangati anak-anak agar memperjuangkan kelangsungan  pendidikan langsung di kota pelajar.

Sadmawati memiliki pengalaman yang manis berkat kecerdasannya sehingga tergolong sukses di dunia pendidikan. Saat duduk di bangku SD dan SMP di Mojokerto, daerah asalnya, dia pernah menjadi juara 1 pelajar teladan tingkat SD dan SMP se Mojokerto.

Saat SMP, dia pernah diminta bantuan guru Binbingan Penyuluhan( BP) untuk mendampingi teman yang malas belajar dan suka bolos.  Guru-guru sudah angkat tangan untuk handle teman-temannya  iru hingga akhirnya ternyata  mereka semuanya bisa lulus.

“Hobi menari juga mengukir prestasi sebagai juara 1 lomba tari se kota Mojokerto, lalu diliput TVRI dan diliput salah satu majalah budaya di Surabaya,” ungkapnya girang.

Saat diterima di perguruan tinggi tanpa tes dan menerima honor menulis buku juga menjadi kenangan manis sepanjang hidupnya sekaligus menjadi motivasi bagi anak-anaknya untuk terus mengejar ilmu.

Terlahir sebagai  anak bungsu dari enam bersaudara putri dari Bapak Suyoto dan Bu Anik.  Ayahnya yang asli dari Gunungkidul, Jogjakarta dan ibu yang besar di Mojokerto membangun rumah tangga dengan penuh cinta kasih dan peduli sesama.

“ Di masa perjuangan kemerdekaan bapak bekerja sebagai kepala TU di RSUD Wahidin Sudirohusodo Mojokerto, sedangkan ibu adalah seorang bidan di rumah sakit yang sama,” ungkap Atik

Gonjang ganjing tahun 1965, bapak termasuk orang yang kena fitnah dan dikeluarkan dari pekerjaannya.  Sebelumnya ibu sudah berhenti karena repot mengurus dua bayi kembar, kakaknya. Sejak saat itu ekonomi keluarga turun drastis.  Kakak kembar tersebut yang paling merasakan perubahan tersebut.

“Saya lahir tahun 1970, saat situasi financial keluarga lebih baik dari sebelumnya walaupun masih sulit.  Bapak mengerjakan apapun untuk mendapatkan uang, ibu menolong persalinan bayi secara freelance dari kampung ke kampung,”

Tidak jarang ibu membantu persalinan masyarakat kelas bawah disekitar rumah dan  tidak meminta bayaran. Justru terkadang beliau malah membelikan selimut untuk si bayi yang baru dilahirkan.  Saat itu sebagai anak merasa jengkel juga melihat ibu seperti itu.

“Kami sendiri hidup pas-pasan, tetapi mengapa ibu masih bisa bersikap begitu murah hati. Namun ibu selalu menekankan bahwa Tuhan pasti memberi rejeki sesuai dengan yang kita butuhkan. Tuhan sudah siapkan penolong, pasti ada rejeki lewat orang lain,”

Ternyata ucapan ibu itu selalu benar, rejeki mengalir, tidak selalu berupa uang,  namun selalu saja ada penghasilan untuk mencukupi kebutuhan. Pernah tiba-tiba mantan pasien ibu yang kebetulan seorang petani, datang ke rumah memberi sekarung beras.

Suatu saat ada orang mau membeli buah nangka atau mangga di halaman rumahnya dengan harga yang lumayan tinggi. Kebetulan di halaman rumah ada pohon nangka dan mangga yang selalu bagus buahnya meski tanpa perawatan khusus.

Pendidikan moral

“Pendidikan moral dari orang tua yang paling membekas sampai saat ini adalah terkait dengan iman yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Selalu ditanamkan kejujuran, ikhlas, tidak mengeluh dan selalu berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada orang yang jahat kepada kita,” tutur penganut Kristiani ini.

Dia mengaku kedua orangtua selalu menekankan nilai luhur,  religiusitas dan spiritualitas. Anak tidak pernah mendengar mereka  mengeluh, padahal jelas-jelas kenyataan hidup terutama financial keluarga dengan 6 anak cukup berat.

Tapi  karena iman mereka sangat kuat maka  mereka yakin bahwa Tuhan pasti memberikan rejeki jika umatnya aktif berusaha dan memohon (berdoa) serta mau berbagi kepada orang lain walau kitapun dalam posisi kekurangan.

“Cara saya mendidik anak nyaris sama seperti  yang saya terima dari orangtua yaitu iman yang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya  juga menerapkan sikap demokratis tapi bertanggung jawab, sopan dan menghargai siapapun serta sebisa mungkin membantu orang atau minimal mendoakannya dan selalu mengajak anak2 berpikir positif,” jelasnya.

Berjalan bersama kerikil dan oak tajam menuju tujuan ( goal ) adalah suatu yang biasa.  Namun tetap saja dia pernah menerimanya sebagai sesuatu yang berat bahkan merasa menjadi orang yang paling susah dan tidak beruntung di dunia.

“Berkali-kali saya beralih (switch) usaha/bisnis.  Banyak orang merespon bahwa saya tidak pernah tekun dan fokus dalam menjalankan bisnis apapun, maka tidak pernah berhasil.  Banyak orang menilai saya tidak punya goal yang jelas karena saya seolah bingung menentukan passion bisnis saya,” jelas Sadmawati.

Namun dia yakin  punya goal yang jelas, namun belum memungkinkan untuk memilih pekerjaan atau bisnis apa yang sesuai dengan passion.  “Saya menjalani jenis pekerjaan apapun, yang penting menghasilkan uang dan mencukupi serta halal.  Bagi saya saat ini, tidak penting karir atau prestige.,”

Memboyong anak anak  ke Jogjakarta setahun lalu bukan tanpa alasan yang kuat. Alasan utama tidak lain untuk meningkatkan financial keluarga. Keputusan besar yang harus dilakukan dimana ada tawaran untuk mengelola proyek pemberdayaan masyarakat pantai Baros Bantul Jogyakarta.  Tapi ternyata proyek tersebut yang sebelumnya diharapkan dapat menjadi tumpuan harapan peningkatan financial, malah tertunda sampai batas waktu yang tidak jelas.

“So, apapun yang terjadi saya harus tetap survive di Yogya. Maka mulailah saya mencari peluang pekerjaan atau bisnis, terutama yang berbasis jasa.  Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang driver online Go-Jek yang memberi info tentang GO-MASSAGE sehingga saya mencoba mendaftar, karena yakin punya kemampuan dan bakat turunan memijat dari nenek,” ungkapnya.

Registasi online ke GO-MASSAGE belum juga mendapat respon dan jawaban hingga Atiek mengira pasti tidak dipanggil karena selain usia, diapun tidak mempunyai sertifikat khusus memijat.

“ Walau hati kecil tetap berharap dipanggil.  Saya tidak terus menunggu dan menunggu, tapi saya kerjakan usaha lain, yang penting menghasilkan fresh money untuk opersional harian keluarga dari jual makanan di bazar sekolah sampai saat car free day, disamping memberikan les private murid SD,” tanbahnya.

Selang dua bulan setelah registrasi GO-MASSAGE,  dia mendapat sms undangan tes sebagai mitra Go-Jek hingga akhirnya  diterima sebagai terapis dan mulai ambil orderan dari aplikasi. Tapi kemudian rasa minder menyergap. Atik tidak enjoy menjadi terapis sampai akhirnya  bertemu customer seorang ibu, kebetulan beliau adalah seorang guru besar di salah satu universitas negeri terkenal di Yogya.

“ Beliau membesarkan hati saya, memberikan big hug yang kuat hingga membuat saya nangis terharu.  Dalam hati saya berkata “siapa saya”, sampai beliau mau memeluk saya dengan hangat. Luar biasa. Saya sungguh bersyukur,”

Secara professional seorang terapis massage ternyata sangat mulia dan berharga.  Pertemuan dengan pelanggan dari kalangan akademisi itu membuat Sadmawati menikmati pekerjaannya dan sangat bersemangat menjadi terapis. Apalagi penghasilan harian mulai membaik.

“Rasanya terharu saat ada customer yang menjadi segar dan sembuh berkat layanan pijat saya. Pekerjaan ini juga memberikan peluang bertemu dengan banyak customer dengan beragam latar belakang,” .

Pertemuannya dengan sang guru besar, misalnya membuka jalan kelanjutan proyek membantu pengembangan Pantai Baros, Bantul. Hutan Mangrove Pantai Baros merupakan kawasan ekowisata hutan mangrove dan wisata pantai selatan di kabupaten Bantul.

“Mengembangkan wisata mangrove dan melakukan budidaya ikan di hutan mangrove yang selama ini berfungsi sebagai kawasan lindung dapat memberikan penghasilan yang besar bagi masyarakat setempat,”

Tahun 2002, dia juga  pernah menjadi penggerak kelompok tani di Palembang. Mengajak ibu-ibu untuk produksi jahe merah dan kunyit instan. Hasilnya cukup memuaskan hingga memiliki barcode dan dijual di mal/swalayan.

Sadmawati memiliki kepedulian sosial tinggi dan rasa empati kepada orang lain yang berasal dari didikan orang tuanya. Contoh nyata jiwa sosial kedua orangtuanya langsung menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga.

“Tujuan hidup saya hidup bahagia dan membahagiakan sebanyak mungkin orang lain.  Saya juga selalu bersyukur dan berserah diri kepadaTuhan. Selama kita aktif dan mau berusaha dan berserah diri, niscaya Tuhan memberi jalan,”.

Menurut dia jika seseorang  bergerak aktif dan kreatif maka  peluang mendekat dan kita siap menangkapnya karena di mata Tuhan kita adalah sama. Selama kita berjalan on track, tidak usah ragu dan takut. Termasuk berani menghadapi resiko.

“Senyaman nyamannya hidup, pasti punya resiko. Mengandalkan Tuhan, adalah porsi terbesar dalam hidup yang penuh resiko. Semoga Tuhan selalu beserta kita semua,” ujarnya menutup kisah hidupnya.

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.