IATA: Retribusi Wisman di Bali Bertentangan Prinsip Internasional

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: International Air Transport Association (IATA) prihatin dengan langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang menerapkan retribusi atau pajak sebesar US$ 10 per wisatawan mancanegara (wisman), yang berwisata di Pulau Dewata. Hasil restibusi itu kabarnya untuk mendanai kegiatan pelestarian lingkungan dan budaya.

Restribusi itu menjadi perhatian serius IATA. “Memang IATA sampai kini belum melihat salinan resmi usulan Pemprov Bali terkait Retribusi bagi Wisman. Kami sangat prihatin karena potensi penerapan pungutan melalui tiket pesawat udara,” papar Regional Vice President Asia-Pacific IATA, Conrad Clifford dalam surat tertulis yang disampaikan ke Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, M.M.

Surat resmi IATA dikirim ke Gubernur Bali pada tanggal 24 January 2019, dengan tembusan Menteri Perhubungan Budi Karya, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Regional Director, Member and External Relations, ASPAC, IATA, Vinoop Goel, Country Manager Indonesia, IATA Rita Rompas,

Selain itu Greg Leshchuk (Manager, Industry Taxation, IATA), Faik Fahmi (President Director, Angkasa Pura I), Ida Bagus Agung Partha Adnyana (Chairman Bali Tourism Board (BTB), Azril Azahari (Chairman Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI)), Rosan Perkasa Roeslani (Chairman KADIN Indonesia).

Conrad Clifford melanjutkan usulan Retribusi turis Asing di Bali itu, bertentangan Prinsip-Prinsip Internasional. Pengenaan Retribusi turis Asing secara langsung bertentangan dengan kebijakan perpajakan yang diterima dan dipublikasikan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), yang merupakan badan khusus di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Dalam hal ini, Indonesia, sebagai salah satu negara penandatangan Konvensi Penerbangan Sipil Internasional (dikenal juga sebagai Konvensi Chicago) dan sebagai Negara Peserta Perjanjian (Contracting State) dari ICAO, wajib mengikuti kebijakan-kebijakan yang sudah disepakati,” jelasnya.

IATA menjabarkan dalam konvensi Chicago. Pertama, Pasal 15 Konvensi Chicago menyatakan: “Negara Peserta Perjanjian dilarang mengenakan biaya, iuran, pungutan lainnya sehubungan dengan hak untuk transit di atau masuk ke atau keluar dari wilayah negara bersangkutan yang dimiliki suatu pesawat udara ataupun penumpang atau properti di dalamnya”

Kedua, Policies on Taxation in the Field of International Transport (Kebijakan Perpajakan Bidang Perhubungan Internasional) tercantum dalam ICAO Document 86322, menyatakan “setiap Negara Peserta Perjanjian menurunkan hingga sejauh dapat dipraktikkan dan membuat rencana menghilangkan segala bentuk perpajakan atas penjualan atau penggunaan transportasi internasional melalui udara, termasuk pajak atas penerimaan kotor dari operator dan pajak yang dipungut langsung kepada penumpang atau pengirim barang.”

Patut jadi catatan, lanjutnya, penumpang internasional yang berangkat dari bandara Denpasar, Bali saat ini membayar Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara/PJP2U (Passenger Service Charge/PSC) sebesar Rp 225.000,00 sehubungan dengan penyediaan pelayanan dan kemanan penumpang. “Jadi penumpang udara membayar layanan penerbangan yang mereka terima, dan tidak seharusnya membayar lebih dengan diperkenalkannya Retribusi Wisatawan,” lontarnya.

Menurutnya, tanpa kesediaan untuk mengikuti berbagai prinsip ICAO, penerbangan internasional terbebani secara keuangan oleh perpajakan yang berlebihan dan tidak seimbang, yang secara signifikan membatasi keuntungan ekonomi dan sosial yang dihasilkan oleh transportasi udara.

“Kami memahami dana yang dihimpun dari Retribusi Wisatawan digunakan membiayai prakarsa lingkungan dan kebudayaan di Bali. Jadi, pengenaan Retribusi kepada seluruh wisatawan asing yang melakukan perjalanan melalui udara, secara tak adil cuma menargetkan penumpang udara dan industri penerbangan. Sehinga menjadi tidak sepadan dengan prakarsa itu. Misalnya, layanan budaya yang digunakan sehubungan dengan transportasi udara, kerusakan lingkungan yang disebabkan industri penerbangan,” ucapnya.

Sebagai alternatif, lanjutnya, pengenaan retribusi/pajak untuk waktu penggunaan situs budaya atau situs margasatwa. Misalnya: melalui bea masuk atau biaya pengguna akan lebih sesuai alasan utama Retribusi. “Biaya pungutan akan sepenuhnya menjadi beban pengguna layanan dimaksud, dan memastikan bahwa dana yang terkumpul akan diinvestasikan kembali secara lebih efisien ke prakarsa lingkungan dan budaya yang mendasari rencana pengenaan Retribusi,” jelas Conrad Clifford.

Dilanjutkan, Transportasi udara merupakan sektor pendukung, di mana perjalanan udara internasional sangat peka terhadap biaya yang tercantum dalam tiket. Menerapkan pajak baru yang diskriminatif kepada penumpang udara akan memberikan dampak negatif terhadap permintaan atas transportasi udara (air passenger demand), yang akhirnya memberikan dampak negatif terhadap perekonomian di Bali.

Sektor pariwisata dan perjalanan, disokong oleh industri penerbangan, adalah sektor yang penting dan berkembang bagi perekonomian Indonesia dan Bali khususnya.

Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), total kontribusi langsung maupun tidak langsung dari sektor pariwisata dan perjalanan terhadap Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic Product/GDP) Indonesia adalah sebesar Rp 787.100 milyar di tahun 2017 (atau 5,8% dari total PDB), yang diperkirakan akan naik sebanyak 5,4% di tahun 2018, dengan pertumbuhan rata-rata 6,4% per tahun selama 10 tahun ke depan akan menjadi Rp 1.547.440 milyar (atau 6,6% dari PDB) di tahun 2028.

Bahkan sektor pariwisata dan perjalanan telah berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap 12.241.500 lapangan pekerjaan (atau 10.0% dari total lapangan pekerjaan) pada tahun 2017 di Indonesia, yang diharapkan akan naik 2.0% pada tahun 2018 dengan rata-rate pertumbuhan 3,1% selama satu dekade berikutnya akan menjadi 16.985.000 lapangan pekerjaan di tahun 2028 (atau 11.4% dari total lapangan pekerjaan).

Dengan jumlah wisatawan asing di Bali diharapkan melebihi 6 juta orang pada 2018, Bali mewakili bagian yang signifikan dari total sektor pariwisata dan perjalanan di Indonesia maupun kontribusi ekonomi yang dihasilkan sektor tersebut.

“Dampak langsung dari usulan Retribusi Wisatawan Asing berdasarkan analisa kami, pengenaan US$ 10 per penumpang asing yang berangkat berpotensi menurunkan jumlah penumpang udara asing yang berangkat dari Bali sebanyak 190.000 penumpang per tahun, hal mana mengakibatkan penurunan Nilai Tambah Bruto (Gross Value Added, ekivalen dengan PDB) sebesar US$ 90 juta dan pengurangan hingga 16.500 lapangan pekerjaan pada perekonomian lokal,” ungkapnya.

Dampak-dampak negatif, signifikan dan mahal, dapat dihindari apabila usulan Retribusi tersebut dipertimbangkan kembali pelaksanaanya.

“Dari pemahaman yang kami dapat, Retribusi ini diusulkan untuk diterapkan hanya pada wisatawan asing, oleh karenanya penting menjadi catatan bahwa pengecualian pajak atau pembedaan pajak berdasarkan kewarganegaraan misal: untuk warga negara Indonesia tidak dapat diproses secara otomatis atas pembentukan harga dalam sistem teknologi informasi maskapai penerbangan,” katanya.

Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa elemen data terkait yang diperlukan untuk mengajukan pengecualian pajak atau pembedaan nilai pajak berdasarkan kewarganegaraan bukanlah data yang baku dalam Rekaman Data Penumpang (Passenger Name Record, PNR), yang merupakan rekaman yang berisi data pribadi penumpang dan rincian rencana perjalanan penumpang dalam basis data (database) maskapai.

Penerbangan. Walaupun dimasukkan, elemen data tersebut tidak dapat ditransfer oleh maskapai penjual/penerbit tiket kepada maskapai pengangkut (misal: dalam hal penerbangan kerjasama/codeshare flight di mana penumpang melakukan perjalanan menggunakan beberapa maskapai penerbangan) dalam melakukan perhitungan yang akurat untuk perjalanan ke Bali.

Dengan demikian, pengecualian atau pembedaan nilai berdasarkan kewarganegaraan untuk Retribusi Wisatawan Asing tidak dapat diterapkan secara efisien dan benar apabila dipungut melalui tiket pesawat oleh maskapai penerbangan.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, kami dengan hormat memohon Pemerintah Daerah Provinsi Bali untuk tidak meneruskan rencana pengenaan Retribusi Wisatawan Asing di sektor transportasi udara, tutupnya. (ENDY)

HijUp Berharap Indonesia Punya Distrik Fashion Muslim

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Perkembangan fashion muslim di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Sayangnya, hingga kini belum memiliki distrik khusus atau pusat fashion Muslim. Karena itu HijUp, penyedia wadah pasar elektronik busana Muslim, bersama pelaku industri busana Muslim, pengelola toko online serta perancang busana Muslim menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/1/2019)

“Indonesia memiliki strategi pemasaran busana Muslim yang strategis. Indonesia, dapat berkaca dari negara lain seperti Italia, Jepang atau Turki yang memiliki distrik fashion Muslim. Kami berharap Indonesia memiliki distrik khusus atau pusat fashion Muslim,” papar
Diajeng Lestari, pendiri marketplace khusus busana Muslim HijUp dalam keterangan resminya, Jumat (01/02/2019).

Dilanjutkan, Indonesia yang penduduk Muslim terbesar di dunia dan tentunya sektor pariwisata, terutama wisata belanja memiliki potensi yang sangat bagus. Dengan potensi itu, seharusnya ada punya beberapa distrik fashion untuk fashion Muslim yang berstandar internasional. Sehingga wisatawan mancanegara (wisman) yang datang untuk wisata belanja fashion muslim tidak mengalami kesulitan.

Daerah yang paling potensial dijadikan distrik fashion Muslim adalah Jakarta dan Bandung. “Memang pusat fashion Muslim itu harus terkait erat dengan sektor pariwisata. Ide distrik fashion Muslim ini merupakan bagian dari pengembangan sisi hilir industri fashion nasional,” lontarnya.

Di sisi hulu, Diajeng berharap adanya intervensi pemerintah untuk memperkuat produksi busana Muslim nasional. Hal tersebut, berkaitan dengan industri manufaktur. Mengingat, sebagian besar atau sekitar 98% pelaku usaha busana Muslim adalah usaha kecil menengah (UKM).

“Kita perlu mensinergikan dari hulu yaitu bagaimana kita menciptakan produk-produk baru, tadi (dalam pertemuan dengan Presiden) juga dibahas bagaimana menciptakan kain dari serat nanas, dan dari produk-produk yang ada di Indonesia sumbernya,” kata Diajeng.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki pasar yang luar biasa. Bahkan Indonesia dapat menjadi berperan sebagai “pemain”. “Sehingga kita lebih produktif dan kita pada akhirnya juga bisa menghasilkan pertumbumbuhan ekonomi yang juga signifikan di Indonesia,” katanya.

Disisi lain Diajeng secara khusus menyampaikan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam berkiprah di industri busana Muslim kepada Presiden Jokowi. Salah satu poin yang disuarakan adalah insentif bagi marketplace atau platform jual beli daring yang juga menampung barang dagangan dari para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Diajeng menyebutkan, UKM busana Muslim perlu didorong karena mereka menyumbang porsi hingga 98 persen dari keseluruhan penjual yang memanfaatkan platform daring HijUp untuk menawarkan produknya. Diajeng mengakui insentif perpajakan seperti revisi Pajak Penghasilan (PPh) final dari 1 persen menjadi 0,5 persen memang dianggap memudahkan pelaku UMKM.

Namun ia beranggapan masih ada ganjalan bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang busana Muslim, yakni besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen yang dikenakan kepada pembeli dan dipungut oleh penyedia marketplace.

“Pembebasan untuk pajak pertambahan nilai (PPN) karena kita melihat bahwa subsidi pajak itu penting sekali dengan adanya persaingan global seperti saat ini pemain-pemain UKM ini perlu dibesarkan,” jelas Diajeng

Penjelasan Diajeng bukan tanpa alasan. Januari ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 210 Tahun 2019 yang berisi pengenaan pajak terhadap pedagang dan e-commerce yang menjual barang.

Dalam beleid, penyedia marketplace diminta memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPh terkait penyediaan layanan platform marketplace kepada pedagang dan penyedia jasa. “Kini kita bersaing bukan hanya dari level UKM tapi kita harus bersaing menjadi pemain global juga, karena kita lihat banyak dari brand internasional juga menyasar market populasi Muslim Indonesia,” lontarnya.

HijUp, ujar Diajeng, saat ini mewadahi lebih dari 300 desainer busana Muslim Indonesia dan satu tahun ke belakang berhasil mencatatkan visitor (pengunjung) sekitar 7 juta dari seluruh dunia. HijUp juga telah mengirim produk yang dijual ke 52 negara.

Istri pendiri Bukalapak.com, Ahmad Zaky ini mengungkapkan kepada Jokowi bahwa HijUp.com sejak 10 tahun lalu sudah mencanangkan Indonesia untuk menjadi pusat busana Muslim dunia. “Golnya adalah tahun 2020 pak yang mana dalam 48 minggu lagi, kita ingin Indonesia jadi pusat busana Muslim. Tentunya ini merupakan visi besar bersama,” katanya. (NDY)

Batik Karya Gubernur Ridwan Kamil Dipamerkan

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat (Jabar) memamerkan Batik Garuda Kujang Kencana, Batik Ironman, dan Batik Telor Ceplok. Ketiga Batik itu karya Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam Pameran batik bertajuk “Legenda Batik Nusantara” di Graha Manggala Siliwangi Bandung.

Batik karya Ridwan Kamil juga dijual namun hanya bisa diperoleh melalui Dekranasda Jabar. “Kang Emil, hobi mendesain apa pun, termasuk batik. Beliau adalah seorang desainer. Beliau adalah arsitek tetapi senang sekali untuk mendesain apa pun, termasuk mendesain batik sendiri,” papar Ketua Dekranasda Jabar Atalia Praratya Kamil dalam siaran persnya, Kamis (31/1/2019).

Awalnya, kata Atalia, Ridwan Kamil mendesain batik untuk digunakan sendiri namun karena kemudian banyak warga yang berminat dia bekerja sama dengan Batik Komar dan Batik Trusmi untuk memproduksinya dalam jumlah banyak. “Kang Emil mendesain hanya dipakai untuk diri sendiri. Tapi animo masyarakat luar biasa, bahkan yang palsunya pun sudah ada dimana-mana,” kata dia.

Atalia mengatakan batik rancangan suaminya selanjutnya akan dipasarkan di tempat tertentu saja. “Hanya bisa diakses melalui Dekranasda Provinsi Jawa Barat,” katanya.

Atalia juga mengapresiasi penyelenggaraan Pameran Legenda Batik Nusantara, yang menurut dia akan bisa menumbuhkan kecintaan pada produk lokal dan memacu semangat para perajin dan pelaku usaha di bidang seni kriya dan mode.

“Di samping untuk mencintai dan melestarikan budaya bangsa, tapi juga yang paling penting adalah terus mendukung perekonomian masyarakat, khususnya di bidang craft dan fashion. Jadi saya mengapresiasi, luar biasa. Mudah-mudahan mampu untuk terus memberikan semangat kepada seluruh warga Jawa Barat untuk berkarya,” sambungnya.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menegaskan, tak menerima profit dari hasil karyanya itu. “Saya tidak mendapat profit dari imajinasi saya. Tapi, kalau itu membuat orang lain lebih bahagia, daerah lebih terkenal, saya senang. Jadi, ya sudah, saya akan bikin sebanyak-banyaknya, yang nanti mendapat keuntungan rakyat saya,” ujar Kang Emil.

Dijelasnya, desain batiknya telah dibuat oleh perusahaan batik terkemuka seperti Batik Komar dan Batik Trusmi. Ia pun tak keberatan jika ada produsen batik yang berminat mencetak hasil desainnya. “Iya, karena saya bikinnya Garuda Kujang Kencana di Komar, batik Iron Man itu di Trusmi Cirebon. Jadi, saya tawarkan kalau ada produsen batik mau by RK,” lontar mantan Walikota Bandung.

Kang Emil menyayangkan banyak produsen batik yang banyak memakai desainnya tanpa izin. Untuk itu, ia memastikan jika produk asli batik karyanya hanya bisa didapat di Dekranasda Jabar.

“Saya ini orangnya senang berimajinasi. Selama bisa berimajinasi apa saja termasuk membatik, ternyata laku. Karena saya suka kalau lelaki pakai batik teh kayak fokus, ternyata secara visual bagus. Sekarang online shop dibikin tanpa minta izin, enggak apa-apa lah,” ujar Emil. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Inaca Desak Kemenhub Susun Formula Tarif Bagasi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyusun formula tarif bagasi dengan tepat. Mengingat, banyak pertimbangan yang harus disesuaikan antara tarif bagasi dengan keselamatan penerbangan dan operasional maskapai.

“Itu lah kami (Inaca) harapkan agar regulator benar-benar menghitung dan jangan sampai maskapai berbiaya hemat rugi dan akhirnya tutup,” lontar Ketua Umum Inaca Ari Askhara di Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Diharapkan, regulator dapat bijak menentukan tarif bagasi berbayar. Saat ini, Kemenhub sedang menyusum Peraturan Menteri (PM) untuk menentukan batas atas tarif bagasi berbayar. Besaran tarif bagasi berbayar juga terkait dengan keselamatan penerbangan. “Tentunya hal-hal dimana penumpang membawa bagasi di atas batas justru nantinya akan meningkatkan risiko keselamatan penerbangan,” kata Ari.

Pada akhirnya soal bagasi tersebut berujung kepada keselamatan penerbangan. Bila tarif terlalu rendah, kata dia, pada akhirnya penumpang akan membawa barang berlebihan dan akan membahayakan keselamatan penerbangan.

Selama ini karakteristik penumpang maskapai berbiaya hemat dan full service berbeda. “Penumpang full service akan membawa bagasi secukupnya. Penumpang maskapai berbiaya hemat sebagian besar bawa bagasi untuk jualan di daerahnya,” jelas Ari seperti dilansir Republika.co.id

Sehingga, kata Ari, dengan bagasi yang terlalu berat membuat beban pesawat berlebihan. Menurutnya, hal tersebut selain menyangkut keselamatan penerbangan juga mempengaruhi ketepatan waktu setiap penerbangan.

Selain itu, Adi menjelaskan dengan semakin banyak muatan yang diangkut pesawat akan berpengaruh kepada fuel atau bahan bakar pesawat. “Dengan semakin banyak muatan, fuel yang dibakar juga semakin banyak sehinhha margin bisa minus,” tutur Ari.

Kemenhub saat ini tengah mengevaluasi aturan bagasi berbayar yang ada pada Pasal 22 Butir C PM 185 Tahun 2015. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan saat ini akan membuat Peraturan Menteri (PM) mengenai bagasi berbayar dan membutuhkan waktu sekitar sebulan. “Angkutan barang yang di maskapai kita akan membuat PM nya, tiga pekan akan kita selesaikan,” kata Budi di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kamis (31/1). (NDY)

Bonding Bersama Keluarga di Royale Promenade Voyager of The Seas

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Menjelajah laut bersama seluruh anggota keluarga bukan lagi monopoli keluarga Amerika dan Eropah. wisatawan dari India, Jepang, China dan kawasan Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia kini juga gemar berpetualangan di atas kapal pesiar seperti kapal Voyager of the seas dari Royal Caribbean Cruise yang saya tumpangi kali ini.

Memulai perjalanan 4 hari 3 malam dari Marina Bay Cruise Center, Singapura pada 25-28 Januari 2019, tampak bahwa pesiar dengan cruise menjadi pilihan baru untuk liburan bagi keluarga. Kalau sebelumnya imej penumpang cruise adalah orang-orang tua yang sudah pensiunan maka sekarang penumpangnya adalah keluarga.

Meski musim libur sekolah sudah berakhir namun saat check-in banyak sekali rombongan membawa anak-anak dan remaja usia sekolah. Cruise menjadi pilihan karena bisa mengumpulkan anggota keluarga dari generasi yang berbeda-beda untuk berlibur bersama.

Untuk keluarga besar yang mungkin tinggal di tempat berbeda dan menjalani kehidupan terpisah atau selalu sibuk, maka kegiatan di cruise menyediakan peluang besar untuk berkumpul bersama, mengikat ( bonding) tali persaudaraan.

Aktivitas di atas kapal mengalahkan  acara kumpul-kumpul di villa tepi pantai. Bagaimanapun cruise sudah memiliki beragam program untuk multi generasi dan ingin membuat semua orang bahagia. Apalagi  ada tempat-tempat makan yang bebas repot dan bebas biaya ketimbang jika kita menjamu sanak keluarga di villa pantai.

Di atas kapal, berapapun usia, kepribadian, dan minat penumpangnya maka semua dapat dipenuhi. Ada ibu dan anak yang bisa belajar memasak, ayah dan anak ikut tour kapal bertemu dengan kapten, belajar pengetahuan mesin, pasangan tua maupun pengantin baru belajar menari salsa dan aktivitas lainnya yang memperkuat ikatan ( bonding) hubungan kekeluargaan.

Cucu-cucu menggoda nenek dan kakek mereka untuk main flowride, seluncuran air di tengah teriakan tawa. Keluarga besar bisa menonton film bersama di layar raksasa di pool deck. Yang jelas saat liburan keluarga kita tidak hanya punya waktu untuk bersama tetapi juga punya Me Time untuk diri sendiri.

Boulevard di Royal Promenade, tempat berkumpul dan berinteraksi dengan penumpang dan pesta jalanan (party street)
                Pemandangan seputar Royale Promenade

Royal Promenad

Hari kedua di atas Voyager of the seas perhatian saya tumpah pada area ikonik di kapal Royal Caribbean ini yaitu Royal Promenade yang berada di deck lima. Nampaknya area ini dirancang khusus untuk meningkatkan bonding experience dengan seluruh anggota keluarga maupun antara sesama penumpang.

Disini ada boulevard dengan  toko-toko branded, layaknya pusat perbelajaan bergengsi, jejeran restoran, bar dan Cafe Promenade yang buka 24 jam sehari dan sangat cocok untuk memuaskan hasrat ngemil saat larut malam setelah mengikuti beragam kegiatan mulai dari pagi hari. Café Promenade sendiri  menyajikan kopi, teh dan makanan ringan, kue kering, pizza maupun sandwich sepanjang waktu.

Area Royal Promenade ini pun menjadi titik penyelenggaraan parade karakter DreamWorks seperti Shrek dan Fiona, ada Po si Kungfu Panda, Jack si singa, dan sebagainya. Mereka berjalan hilir mudik sambil menari-nari dengan ceria dan di sambut teriakan histeris anak-anak kecil yang menggemaskan saat mereka baru naik kapal bersama keluarganya.

Tempat ini juga sungguh ideal sebagai area meeting point, menonton orang yang lalu lalang,  menikmati live band di depan cafe  dari sore hingga malam atau nonton pertunjukan dari atas jembatan di atas boulevard yang menghubungkan stateroom di deck lima itu usai makan malam.

Di sini pula tamu berinteraksi dan bisa ikut dance class. Saya sendiri bergabung ikut dance sejak pertama kali naik kapal, setelah makan siang jam 2.30. Besoknya atau hari ke dua jam 10 pagi juga ada kelas dance dan di hari ke tiga lebih seru lagi karena para tamu diajarkan jogetnya orang India. Kebayangkan serunya sesi belajar ini apalagi tamu India jumlahnya dominan.

Barang branded dengan potongan harga khusus bisa diperoleh di kawasan Royal Promenade
Bazaar di tengah jalan dengan harga terjangkau

Di sore hari aktivitas di Royal Promenade ini juga sangat beragam mulai dari acara sale ( potongan harga ) produk-produk bermerek internasional seperti jam, tas dan barang kulit lainnya. Bagi yang suka berbelanja atau sekedar window shopping, bisa berlama-lama di area ini dengan sebuah jalan berlantai marmer yang membentang sepanjang tiga per empat dari panjang kapal.

Di jalan ini kadang digelar juga ‘pasar kaget ‘terutama aneka jenis jam tangan, tas pesta, topi, dan selendang yang dibanderol US$ 10 (Rp 140.000). Di saat lain dijual seperangkat perhiasan yang terdiri dari jam, gelang, dan kalung untuk perempuan atau jam, dompet, dan bolpen untuk pria yang sepaketnya dijual seharga US$ 19,99 ( Rp 280.000).

Di sore hari hingga tengah malam hari di area ini juga tidak kehabisan pertunjukan karena ada live show lagu-lagu favorit tahun 70 an dan pastinya berdisco ria. Belum lagi ada game show yang mengajak interaksi penonton, farewell karaoke dan disco lagi dengan lagu-lagu rock and roll jelang midnight.

Hampir tidak ada hentinya kegiatan di “jantung”nya kapal ini, karena itu mereka yang memilih kamar di stateroom Royale Promenade bisa melihat langsung aktivitas di boulevard itu cukup dari jendela di dalam kamar.

Selain stateroom yang menghadap boulevard di Royale Promenade, kapal Voyager of The Seas ini juga menawarkan kabin atau kamar-kamar mewah berbagai tipe untuk para penumpangnya yang hampir semua kamar memiliki balkon dengan pemandangan laut lepas.

Di setiap kamar terdapat kamar mandi yang dilengkapi air panas, ada yang shower maupun bath tube tergantung tipe kamarnya. Layanan televisi yang interaktif dan inovatif juga disediakan untuk memanjakan penumpang. Plus sofa dan meja sehingga kapal ini merupakan hotel mengapung yang menyediakan layanan bintang lima.

Paduan belanja dan kuliner

Belanja layaknya di mall dapat dilakukan di area Royale Promenade dan hal menariknya adalah deretan butik-butik yang menjual beragam keperluan mulai dari perhiasan, tas, baju, parfum, kosmetik korea, jam tangan dan semuanya bebas bea ( duty free).

Item penjualan termasuk merek favorit seperti  Michael Kors, Swarovski, Skagen, G-shock, Fosil, Anne Klein, Guess, Ralph Lauren, Nine West dan banyak lagi. Saya dan Hilma Sabri Nurima yang menjadi roommate tertarik membeli tas kain garis putih dan biru, topi pelaut, baju dan boneka kucing dari film Kucing bersepatu boot.

Area perbelanjaan ini juga menjadi tempat para wanita dan anak-anak menjalankan jurus-jurus merayu para suami/ayah mereka untuk membelikan barang yang diinginkan.

Di Royal Shop tempat kami membeli oleh-oleh berlogo Royal Caribbean, seorang balita usia 4 tahunan wajah India dengan ekstrim malah bergulingan di lantai karpet karena orangtuanya tidak mengizinkannya memiliki boneka kain putri duyung yang sudah dalam genggamannya.

Toko-toko ini umumnya buka dari sore hingga tengah malam. Coach misalnya menjual item beragam mulai dari kaca mata,  baju-baju casual hingga resmi, sepatu, tas wanita, topi. ransel dan barang lainnya yang banyak diminati turis Jepang.

Berjalan-jalan di sepanjang Royal Promenade adalah pesta untuk indra mata, telinga dan rasa karena kemewahan interior yang ada, musik yang terus mengalun dan indra rasa terus bekerja mencicipi beragam snack. Hanya untuk bir, anggur,   jus  dan minuman soda yang berbayar, selebihnya adalah gratis.

Grup musik menghibur para penumpang cruise di area Royal Promenade.
Santai sejenak di depan pertokoan sambil menikmati alunan musik

Deck 5 juga merupakan pusat pelayanan para tamu untuk mengurus kebutuhanya di meja Guest Service (Layanan Tamu), untuk memesan tur di kota persinggahan, membeli paket WIFI, membayar pengeluaran di kapal jika membeli sesuatu di restoran dan pertokoan maupun informasi lainnya.

Berjalan terus menuju haluan di deck lima ini ujungnya terdapat Sapphire Dinning Room dimana dalam kartu akses saya tertera tempat makan pagi, siang atau makan malam dilakukan di restoran tiga lantai ini. Namun saya bisa ke restoran prasmanan lainnya di deck 11.

Dekorasi restoran layaknya interior gedung opera dengan tangga besar, kubah dan langit-langit tinggi, penuh dengan hiasan emas berkesan mewah. Untuk makan malam kita pastikan dengan reservasi dulu dan pilih antara tempat duduk yang ditentukan pada pukul 5.30 sore atau dengan tempat duduk kedua pukul 8:00 malam

Pastikan juga datang  tepat waktu karena ketat tanpa ada lagi pesanan setelah batas waktu. Kode berpakaian juga ketat misalnya tidak memakai celana pendek, hanya sepatu tertutup, smart casual.

Di sini ada tiga tahapan makan mulai dari makanan pembuka, menu utama dan penutup sehingga harus santai dan tidak terburu-buru. Makanan pembukanya banyak pilihan loh seperti Koktail udang, lumpia sayur, salad makanan laut, sup telur, kepiting Maryland, New England Clam chowder, Rare Seared Tuna dan Escargot alias siput darat.

Untuk makanan utamanya bisa pilih antara Steak Diane, Iga BBQ Asia, Cajun BlackSnapper, Fusili dan Pasta Bayam, Ayam dengan sayuran , Shank Domba Direbus, Ayam Rosemary Lemon Panggang, Iga Hitam Asam Manis…

Makanan penutup juga beragam ada Ice Cream kesukaan saya, puding, tiramisu, serbat lemon, strawberry Romanoff yang bebas gula, yogurt lemon rendah lemak. Setiap kali makan malam kami lewarkan di  Sapphire, namun untuk makan pagi dan siang di restoran lainnya.

Sapphire Dining Room seperti gedung opera

Belanja dan kuliner menjadi aktivitas utama kami pada hari ke dua pelayaran dengan kapal pesiar ini. Kami sempat berwisata di Penang selama tiga jam mulai jam 16.00 hingga jam 19.00 dengan menyewa taksi untuk city tour di seputar kota tua George Town  dan kembali ke kapal untuk makan malam.

Ketika kapal berlabuh, penumpang  bebas memilih mau turun dari kapal atau tetap beraktivitas di atas kapal. Jika mau turun, kita juga bebas mau jalan-jalan sendiri atau ikut tour yang disediakan kapal.

Tentu saja kalau ikut tour dari Royal Caribbean, ada garansi kita tidak akan ketinggalan kapal dan membayar pilihan termurah  seharga US$ 37/orang hingga US$ 79/ orang. Hari ini penumpang boleh turun dari jam 3.30 dan bisa kembali ke kapal hingga jam 21.30 sebelum berlayar kembali lagi ke Singapura satu jam berikutnya.

Ketika turun dari kapal, cukup dengan menunjukkan kartu akses ( sea pass card ) masing-masing untuk dipindai. Tidak ada pemeriksaan paspor karena begitu check-in naik kapal sudah di simpan oleh pihak kapal.

Tetap bugar dan terus-menerus bergerak adalah salah satu anjuran beraktivitas di kapal pesiar oleh karena itu setiap kali usai makan malam, saya mengikuti latihan dance cha-cha-cha di Star Lounge sehingga kembali ke kamar bisa tidur pulas dan menyambut aktivitas di hari yang baru dengan penuh semangat.

Jelang tengah malam, kami meninggalkan area Royal Promenade diiringi lantunan lagu-lagu tahun 70 an yang dinyanyikan bersama baik oleh penonton maupun penyanyi dari The Entertainment Family Royal Caribbean.

Sulit untuk tidak ikut bergoyang saat lagu That’s The Way I Like It  dari K.C. & the Sunshine Band dan lagu  Stayin’ Alive – Bee Gees tahun 1977 terdengar dalam lift kapsul yang mengantar kami ke kamar di deck 7.

Apalagi begitu keluar lift terdengar keriuhan suara penonton India di balkon tengah lantai tujuh. Rupanya tamu yang enggan turun mengikuti kegiatan di deck lima bisa melihat langsung kegiatan di Royal Promenade karena itulah mereka ikut nyanyi dan goyang-goyangkan badan mengikuti irama lagu.

Sebagai warga senior yang gemar traveling sepatutnyalah kami melangkah masuk ke kamar apalagi kaki terasa pegal -pegal setelah banyak berjalan kaki selama turun berwisata di kota George Town. Penang, Malaysia.

Godaan menikmati lagu-lagu saat kami remaja harus diabaikan supaya bisa bangun dengan segar dan beraktivitas lagi di kapal. Di hari ke tiga menjelang pulang aktivitas prioritas saya adalah mengeksplor fasilitas olahraga yang membutuhkan banyak energi tentunya.

Start up Fore Coffee dapat Suntikan Dana US$ 8,5 juta

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Start Up on-demand specialty coffee, Fore Coffee mengumumkan telah meraih suntikan pendanaan sebesar US$8,5 juta atau setara dengan Rp 127 miliar. Pendanaan ini diperoleh dari East Ventures, SMDV, Pavilion Capital, Agaeti Venture Capital, Insignia Ventures Partners, dan beberapa angel investor.

Fore Coffee akan menggunakan suntikan dana segar ini untuk mempercepat inovasi dalam memberikan online-to-offline customer experience dan seamless. Tujuannya agar dapat menghadirkan kopi enak, mudah ditemukan, layanan cepat, dan harga bersahabat. Selain itu, Fore Coffee juga akan berinvestasi pada mesin teknologi tinggi untuk mendapatkan kopi dengan kualitas terbaik dan meluncurkan produk-produk baru.

Startup ini didirikan oleh Robin Boe, Jhoni Kusno, dan Elisa Suteja. Elisa adalah mantan Associate East Ventures. Adapun fokus bisninya adalah menghadirkan specialty coffee guna mendorong permintaan terhadap kopi Arabica.

“Kami menggunakan berbagai teknologi, mulai dari aplikasi mobile yang kami buat sendiri, serta teknologi yang telah ada, seperti MokaPOS untuk memantau pembayaran, Member.id untuk loyalty platform, serta GO-FOOD, GrabFood, dan TravelokaEats sebagai platform distribusi,” ujar Robin Boe, CEO Fore Coffee dalam siaran persnya, Kamis (31/1/2019).

Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures mengungkapkan Fore Coffee merupakan persilangan hipotesis antara industri kopi dan ekonomi digital di Indonesia. Tambah Wilson menilai ekosistem digital yang telah berkembang di Indonesia membuat UKM seperti Fore Coffee mendapatkan momentum.

Dalam waktu lima bulan, Fore Coffee berkembang dan kini mempunyai 16 outlet. Adapun jumlah penjualannya sudah mengantarkan lebih dari 100 ribu cangkir kopi setiap bulannya. Aplikasi Fore Coffee juga menjadi nomor 1 untuk kategori F&B di iOS Appstore dan Google Playstore.

Berbicara mengenai strategi, Fore Coffee menggunakan strategi online-to-offline (O2O) yang mengintegrasikan teknologi seperti aplikasi mobile dan kehadiran toko retail. Aplikasi dibuat untuk mempermudah pelanggan dalam mendapatkan produk dan layanan yang mereka inginkan.

Dari sisi outlet, Fore Coffee mendesain beberapa outlet mereka khusus untuk melayani pemesanan secara online saja. Hal ini memungkinkan pelanggan dari berbagai lokasi bisa mendapatkan minuman yang mereka inginkan dalam waktu yang lebih cepat. Sebuah outlet Fore Coffee di wilayah Sudirman bahkan bisa melayani pesanan selama 24 jam, danmenjadi outlet kopi pertama yang mempunyai fasilitas drive-through.

Fore Coffee saat ini telah mempunyai enam belas outlet di mal-mal besar di Jakarta. Pada pertengahan bulan Januari 2019, Fore Coffee meluncurkan menu spesial bernama Rose Latte, berkolaborasi dengan Olivia Lazuardy. (redaksibisniswisata@gmail.com)

William Wongso Beri Tips Posisi Kompor, Kulkas, Oven di Dapur Kuliner

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Area dapur harus dibuat nyaman seperti ruangan lain di dalam rumah. Musababnya, fungsi dapur saat ini bukan sekadar tempat memasak. Dapur juga bisa menjadi tempat bercengkrama yang asyik sambil memasak atau sekadar memanaskan makanan.

Pertambahan fungsi tersebut menjadi tantangan bagaimana cara menata peralatan elektronik hingga alat masak. Sebab, bila salah menata bisa membuat area dapur terlihat kotor dan kurang nyaman. Lalu, sebaiknya seperti apa menata dapur yang sehat dan nyaman? Berikut tips yang disampaikan pakar kuliner Indonesia, William Wongso.

“Kalau bicara soal penataan dapur, budget untuk kontruksi yang diperhatikan. Bila besar dananya, Anda bisa menata dapur dengan maksimal,” kata William Wongso seperti dikutip Tempo, Kamis (31/01/2019).

Menurut dia, posisi kompor harus menghadap depan sehingga yang sedang memasak tidak membelakangi lawan bicara. Perhatikan pula sirkulasi udara, terutama keluaran asap dari kompor. Kulkas, bak cuci piring, dan oven bisa disusun sejajar dan diletakkan berseberangan dengan kompor. Alasannya, lebih sistematis dari persiapan hingga pengolahan.

Disarankan, memiliki dua area dapur, yakni kotor dan bersih. Semua kegiatan mencuci, membersihkan, dan memotong diselesaikan di area dapur kotor. Sementara di dapur bersih tinggal mengolah bahan-bahan saja.

Lantas bagaimana jika memiliki area dapur yang berukuran kecil? William Wongso menyarankan semua kegiatan mencuci hingga membersihkan bahan dilakukan satu per satu di bak cuci piring agar tidak saling terkontaminasi.

“Biasanya ibu-ibu kalau masak di dapur, kondisinya seperti tsunami. Ditambah lagi area dapurnya kecil, maka semakin ruwet proses memasaknya.Para ibu harus membedakan area meracik dan masak. Jangan berpindah ke area lain, sebelum selesai membersihkan bahan-bahan masakan.” sambungnya.

Kondisi dapur yang sehat dan nyaman juga tak terlepas dari cara pengolahan dan penyimpanan bahan-bahan. “Tidak perlu berpikir seperti dapur hotel yang memiliki kulkas untuk setiap jenis bahan masakan, seperti kulkas khusus daging, sayur, atau buah. Bahan masakan kita tetap aman di dalam satu kulkas, asalkan di-bungkus dengan benar,” kata dia.

Jika di rumah ada alat vacuum makanan, ini lebih baik untuk mengunci kesegaran bahan. “Saya sarankan bahan apa pun yang sudah dipakai setengah, sebaiknya segera dihabiskan untuk bisa menyerap gizi terbaik di dalamnya,” ucap William Wongso.

Terkait kebersihan proses pemotongan, William Wongso menyiapkan tiga pisau dan talenan berbeda untuk sayur, protein, dan buah agar tidak saling mengontaminasi. “Saya tidak menunda membuang sampah saat memasak dan selalu bersihkan dengan lap basah dan kering. Biasakan pula membersihkan kulkas setiap minggu,” kata William Wongso. (NDY)

Recovery Pariwisata Banten, MCC Rangkul PWI dan PHRI

this formate

CILEGON, bisniswisata.co.id: Pasca tsunami Selat Sunda yang meluluhkan lantakan Pandeglang Banten pada akhir tahun 2018, kini mulai dilakukan recovery pariwisata Banten. Dengan sebuah harapan kunjungan wisatawan kembali normal dan industri pariwisata Banten tak ingin kondisi pariwisata semakin terpuruk akibat tak ada wisatawan datang.

Untuk itu, Media Crisis Center (MCC) merangkul Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten dan Masyarakat Pariwisata Banten menggelar silaturahmi terkait Recovery Pariwisata Banten. Acara digelar di Asa Japanese Restaurant Kota Cilegon, Rabu (30/01/2019).

“Guna menyikapi pasca dampak bencana Tsunami Selat Sunda terhadap pariwisata ini perlu ada kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam meringankan biaya bagi pengelola hotel dan restauran yang terdampak. Salah satunya yaitu pajak daerah diliburkan dahulu untuk membantu pengelola hotel,” harap Ketua BPD PHRI Pandeglang, Sukarjo dalam keterangan resminya, Kamis (31/01/2019).

Keringanan-keringanan ini, lanjut dia, perlu diberikan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. “Jadi melalui media ini kami menagih janji kami dari pemerintah, karena kondisi hotel di kawasan Banten sepi tamu sehingga okupansi merosot tajam,” jelasnya.

Ashok Kumar, Ketua Harian PHRI BPD Banten mengakui dampak tsunami melanda pesisir Banten adalah merosotnya industri pariwisata Anyer, Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang. “Dampak dari tsunami selat sunda sangat luar biasa untuk pariwisata. Pendapatan industri Pariwisata sangat merosot sekali,” tandasnya serius.

Dilanjutkan, pemulihan industri pariwisata atas dampak bencana harus didukung seluruh pihak, terutama oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. “Harapan kami adanya recovery dari seluruh pihak untuk memulihkan pariwisata di Banten ini. Kami juga meminta bantuannya kepada kawan media. Kami tidak mengeluh, kami akan action langsung untuk memulihkan Pariwisata di Banten ini,” katanya.

Kedepan, dengan menginventarisir masalah akibat dampak tsunami di pesisir Banten tersebut, Lanjut Ashok, pihak PHRI BPD Banten akan melakukan beberapa gagasan dengan menghadirkan wisata baru di daerah Anyer sampai Tanjung Lesung.

“Wilayah Pariwisata Anyer ini kedepannya akan kami jadikan smart tourism remodeling wisata buatan. Kami akan menghadirkan wisata buatan yang menarik wisatawan. Selain itu kami juga akan mengadakan beberapa event yaitu Media Fun Tour, Festival in Anyer dan terdekat, kami akan menggelar Lunar Festival,” ujar Ashok.

Ketua Umum Media Crisis Center (MCC) Pusat Firdaus menuturkan dengan adanya silaturahmi antara PWI Banten dengan PHRI Banten ini dapat melahirkan sinergi dan membantu recovery pemulihan Pariwisata Banten pasca bencana.

“Peran masyarakat pers ini sangat penting dalam membantu pemulihan pariwisata di Banten. Dengan sinergi ini, permasalahan yang ada dapat segera dicarikan solusinya. Terutama agar pemerintah pusat juga memberikan respon yang cepat terhadap pemulihan Pariwisata Banten,” ujar Sekretaris jenderal SMSI Pusat ini.

Kedepan melalui MCC yang merupakan gagasan dari SMSI dan PWI, Firdaus berkomitmen membantu berbagai pihak untuk bersama lakukan pemulihan pariwisata di Provinsi Banten. “MCC berkomitmen membantu pemulihan pariwisata di Banten, dengan mengajak masyarakat pers merubah pola pikir publik bahwa Daerah Tujuan Wisata di Anyer dan Banten dapat dikunjungi,” sambungnya.

Hadir dalam pertemuan ini, Sukarjo Ketua BPD PHRI Pandeglang, Siswanto GM Pisita Anyer, Abdul Ghafur GM Jayakarta Anyer, Tungki T. GM. Pondok Layung, Agus Jaenal BPD PHRI Kabupaten Serang, Agus S. Setiadi PHRI BPD Kota Serang, Firdaus dan pengurus PWI Banten, PWI Kabupaten Serang dan PWI Kota Cilegon.

Pertemuan ini juga dihadiri Firdaus, Ketua Media Crisis Centre (MCC) Nasional yang juga Sekretaris Jenderal Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat. Sebelun acara dimulai, Firdaus di daulat GS Ashok Kumar dan Para pengurus PHRI untuk belajar membuat sajian Jepang. (redaksibisniswisata@gmail.com)

EXPLORE! eps.8: Tempat Paling Keren Buat Nongkrong di Jogja

this formate

EXPLORE! by bisniswisata.co.id
eps.8: Tempat Paling Keren Buat Nongkrong di Jogja

 

Sebagai kota yang kental akan seni dan budaya, Yogyakarta atau yang biasa disebut ‘Jogja’ selalu memiliki tempat-tempat yang nagih untuk dijelajahi.

Ditemani oleh seorang seniman dari Jogja, Kiniko Benardo. Saya memulai eksplorasi saya dengan mengunjungi ‘The Bean Garden Coffee and Eatery’. Sesuai dengan namanya, restoran yang berada di Jl. Ringroad Utara ini menyuguhkan makanan dan minuman serta kopi sebagai andalan nya.

Setelah menikmati panganan ‘English Breakfast’ untuk sarapan, saya melanjutkan perjalanan untuk makan siang ke ‘Move On’. Sebuah kafe di jalan Prawirotaman yang sedang hits baik di kalangan anak muda setempat maupun wisatawan dari lokal dan mancanegara berkat tempat nya yang keren dan strategis serta pilihan menu yang sangat beragam.

Di sore hari, saya bertemu dengan Clementina Orinta. Seorang teman lama yang juga anak gaul di Kota Yogyakarta. Kami bermakan malam di sebuah restoran bernama ‘RM Demangan’ di Caturtunggan, Sleman. Sebuah restoran yang menyuguhkan menu khas nusantara dari Pulau Sumatera sampai Bali dengan sentuhan modern.

Keesokan harinya, saya berkunjung ke Kopi Klotok di daerah Pakem, kaki Gunung Merapi untuk menikmati sarapan makanan khas Indonesia sambil menikmati pemandangan Gunung Merapi serta hamparan sawah yang indah.

Menikmati Kemewahan Kapal Pesiar Voyager of the Seas, Royal Caribbean International

this formate

Royale Promenade, salah satu lantai kapal yang mewah dengan jalanan boulevard di tengah kapal

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Kembali ke Marina Bay Cruise Center, Singapura dan menjadi repeater guest di kapal pesiar (cruise) kali ini merupakan pengalaman ketiga yang saya lakukan untuk perjalanan tiga malam empat hari.

Cruise menjadi salah satu kegiatan wisata yang semakin diminati masyarakat kelas menengah-atas Indonesia. Terbukti peningkatan permintaan perjalanan menggunakan kapal pesiar meningkat bukan hanya di Indonesia tetapi juga terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Setelah tahun 2018 lalu menikmati dua kali perjalanan cruise dengan kapal pesiar lainnya, maka 25-28 Januari 2019  saya berkesempatan datang kembali ke Singapura untuk menikmati pelayanan cruise dengan  Royal Caribbean Internasional, Kapal pesiar pemegang penghargaan kelas internasional.

Enam bulan lalu saat menghadiri jumpa pers perusahaan ini saya bertemu dengan  Angie Stephen, Managing Director Asia Pacific Royal Caribbean International. Dia mengatakan bahwa dari 18 Juni 2018 hingga Juni 2019 kapal pesiarnya melayani 70 pelayaran di kawasan Asia Tenggara dengan start dari Marina Bay Cruise Center, Singapura.

Voyager of the seas saat berlabuh di Marina Bay Cruise Center Singapura

Trend berlibur dengan cruise di kawasan Asia Tenggara tahun 2018 ada peningkatan 20,6 % pada jumlah penumpang, melebihi 4 juta orang. Untuk wisatawan dari Indonesia sedikitnya 1% lebih dari jumlah penduduknya sudah menikmati liburan dengan cruise.

“Saat ini di kawasan Asia ada 38 perusahaan cruise yang aktif dengan 7169 persinggahan terjadwal dan 288 kota tujuan dengan potensi  12,9 juta penumpang/ hari. Bagi Royal Caribbean sendiri penumpang dari Indonesia periose 2016-2017 ada kenaikan 25%,” kata Angie.

Perusahaannya memiliki 25 kapal termasuk yang paling besar dan revolusioner yaitu Oasis Class dan Quantum Class. Selain berlayar di Asia, Royal Caribbean juga melayani liburan ke Alaska, Eropa, Pasifik Selatan dan Karibu.

Voyager of the Seas yang saya tumpangi kali ini terdiri dari 15 decks dengan total penumpang 4269 tamu. Cruise ibarat pengalaman berlibur di hotel terapung diatas lautan samudra yang luas. Nah di atas kapal saatnya kita lebih mengenal diri sendiri maupun sang pencipta, Allah SWT yang maha besar.

Apalagi berada di atas kapal besar yang memiliki panjang 311 meter dan lebar maksimal sekitar 47,4 meter. Tinggi kapal ini mencapai 63 meter dengan berat kotornya sekitar 138 ton. Kapal milik perusahaan Royal Caribbean International yang berbasis di Amerika Serikat ini memiliki kecepatan 43,9 km/jam.

Inti kegiatan dari cruise adalah pengalaman di atas laut bukan di darat. Jadi kapal ini menghadirkan beragam fasilitas dengan keunikan atraksi-atraksi dan hiburan untuk semua usia yang eksklusif dari Royal Caribbean.

Bagian deck atas kapal Voyager of the seas, Royal Caribbean cruise

Keberangkatan

Andi S Indana, Marketing Manager PT Multi Alam Bahari Internasional, wakil pemasaran kapal pesiar itu di Indonesia,  beberapa hari jelang keberangkatan saya mengingatkan untuk membaca Cruise Compass yang tersedia di kamar sebagai panduan melakukan aktivitas setiap hari di kapal.

Sejak turun dari taxi di lantai dua Marina Bay Cruice Center jam 11.30 siang waktu Singapura, saya bersama roommate Helma Sabri Nurima langsung diarahkan petugas untuk menuju counter calon penumpang untuk memperlihatkan paspor. Petugas juga mengecek reservasi online dan menukar lembaran code booking dengan kartu akses (Sea Pass Card)

untuk masuk ke kamar (Stateroom) di deck 7 dan beragam restoran serta tempat-tempat hiburan di atas kapal. Hanya hitungan 5 menit urusan di counter keberangkatan selesai dan calon penumpang di arahkan untuk duduk di area sesuai dengan warna beige  di kartu boarding.

Saat duduk saya bisa mengintip body Voyager of the Seas yang besar sekali lewat jendela kaca yang lebar-lebar. Tak sampai 15 menit rombongan calon penumpang di area saya duduk diarahkan untuk malewati pemeriksaan imigrasi dan begitu keluar pintu pelabuhan langsung berjalan kaki sekitar 100 meter menaiki kapal yang sudah parkir persis di sisi terminal keberangkatan.

Ruang tunggu Marina Bay Cruise Center sebelum pemeriksaan imigrasi
Calon penumpang di kelompakkan dengan kartu boarding berwarna-warni menunggu pelayanan imigrasi

Paspor kemudian disimpan oleh crew kapal dan sesuai arahan langsung menuju deck 3 untuk makan siang di Sapphire Restaurant. Saat menuju restaurant itulah kami berjumpa dengan pengantin baru asal Palembang, Brian dan Ririen.

Pegawai bank Mandiri yang sedang honeymoon ini mencoba cruise dan opsi baru liburan sebagai pengantin baru di atas kapal pesiar ketimbang menikmati wisata darat yang selama ini banyak dilakukan.

Brian yang asal Semarang dan alumni Undip memulai karirnya  di kota Palembang dan berjumpa dengan gadis pujaannya yang sekantor, kelahiran   kota mpek-mpek itu hingga akhirnya menikah pekan lalu.

Memadu kasih, menguatkan ikatan ( bonding) memang bukan monopoli pengantin baru, tetapi juga rombongan keluarga yang datang bersama kakek nenek, anak, menantu hingga 7 cucu yang dilakukan oleh Chandra dan Nancy dari Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara.

Wanita yang terlihat jauh lebih muda dari umur 60 tahun itu pernah berjaya dengan usaha Nancy Salon di kawasan perumahan itu. Kini dia mengaku sudah pensiun dari usaha yang ditekuni karena ingin memiliki kualitas waktu dan hubungan yang erat dengan anggota keluarga bersama suaminya tercinta yang sibuk dengan usaha toko keramik.

“Liburan diatas kapal justru kita bisa kumpul, makan, menonton beragam hiburan dan aktivitas bersama dalam satu atap selama pelayaran. Kalau di darat malah terpisah karena anak, menantu dan cucu tinggalnya di rumah masing-masing,” kata Nancy.

Kemewahan kapal

Dalam perjalanan ke restoran di deck ( lantai) tiga, suasananya tidak seperti di dalam kapal. Roommate saya, tampaknya terkesima melihat interior karena kami seolah berada di hotel mewah.

Melewati deretan lift kapsul dari kaca, terlihat meja-meja dan peralatan casino, restaurant, cafe maupun bar membuat saya tertegun sejenak bersyukur, Ah nikmat mana lagi yang saya dustakan sebagai hambaMu Ya Rabb.

Helma ( kiri) bersama pengantin baru Brian dan Ririen di area Casino

Tiba di Restoran Sapphire, para waiter dan assistant waiter menyambut di pintu masuk dengan sapaan dan senyum lebar. Melihat saya dan Helma mengenakan jilbab maka  seperti koor paduan suara mereka serentak menyapa dengan ucapan Assalamualaikum.

Rupanya mereka adalah crew dari Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan orang dari berbagai daerah di tanah air seperti Jakarta, Bali, Jogjakarta dan daerah lainnya yang bekerja di beragam departemen dalam kapal.

Entah siapa yang memulai sebelum Jovita, salah satu crew restoran mengantar ke meja ada crew lainnya bernyanyi ala acapela dengan nada lagu padang pasir membuat saya langsung menggoyang-goyangkan kepala setengah berjoget.

Sambutan spontan itu membuat kami langsung akrab dan tertawa kecil sambil diantar ke meja makan dekat jendela dan bergabung dengan pengantin baru Brian dan Ririn. Ada juga pasangan suami-istri asal China yang satu meja bersama kami.

Makanan disediakan ala buffet sehingga penumpang yang baru naik kapal ini bisa berputar-putar memilih hidangan apa saja yang akan dimakan mulai dari makanan pembuka, menu utama hingga makanan penutup plus kopi.

Sambil makan mata saya mengagumi interior ruangan dengan dome dan lampu hias besar yang mewah dan luas ditopang tiang-tiang besar dengan hiasan berwarna emas. Rupanya restoran Sapphire ini bertingkat-tingkat dari lantai 3,4 dan 5.

Selama berada di atas kapal jangan khawatir kelaparan karena beragam restoran tersedia baik yang gratisan karena sudah termasuk harga paket cruise, maupun yang berbayar. Selama di kapal penumpang dijamu dengan beragam makanan vegetarian, menu Asia hingga internasional.

  Sapphire Dining Room bergaya interior opera dengan 3 lantai      ( foto: Cruise Critic)

Berbagai pilihan untuk bersantap tersedia diatas kapal termasuk ruang makan utama dan restoran prasmanan Windjammer Cafe serta Café Promenade yang buka 24 jam dan semuanya gratis. Bosan dengan menu yang ada tersedia pilihan di restoran khusus dan berbayar.

Jika mau coba  makan di restoran khusus seperti Chops Grille Steakhouse, restoran Giovanni’s Table Italia, Izumi untuk cita rasa masakan Asia, dan Johnny Rockets, tak perlu uang tunai. Cukup perlihatkan kartu akses ke segala penjuru tinggal di gesek oleh bagian kasir dan di hari terakhir perjalanan semua tagihan di kirim ke kamar dan bayar di guest service yang dipusatkan di deck lima.

Setelah check-in memang makan siang menjadi prioritas karena kamar-kamar (staterooms) baru bisa ditempati penumpang pada jam 1.30. Usai makan barulah kami mencari kamar di lantai 7, sebuah kamar dengan balkon menghadap ke laut.

Di balkon ada sepasang kursi dan meja bulat untuk duduk santai menikmati angin laut dan suara pecahan ombak saat bobot kapal membelah lautan. Saya dan Helma langsung berfoto ria. Ternyata penumpang yang sudah check-in ke atas kapal juga banyak yang melongok balkon menghadap laut.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya ketika menikmati cruise,  balkon menjadi tempat saya berinteraksi dengan alam, menigkatkan spiritual quotien dan melantunkan doa-doa setelah sholat tahajud dengan menengadahkan tangan ke langit sambil memandang langit berbintang.

Begitu masuk kamar, interiornya juga seperti hotel di darat saja. Kamarnya cukup luas, ada lemari besar yang di dalamnya bisa memuat koper di bagian bawah dan atasnya menjadi tempat untuk gantungan baju. Selain lemari besar juga ada meja hias dengan banyak laci-laci dan tempat TV yang memuat info acara serta memperlihatkan bagian-bagian kapal lengkap dengan keterangan posisi kapal, kecepatan dan lainnya.

Lorong menuju kamar dan suasana stateroom dengan balcon

Hal yang mengagumkan adalah ternyata proses produksi kapal ini dimulai pada 1997 silam. Setahun kemudian, tepatnya November 1998, kapal yang diproduksi Aker Finnyards di Turku, Finlandia, ini kemudian diluncurkan.

Nah, pada 29 Oktober 1999 kapal diserahterimakan kepada pemiliknya. Artinya selama kurun waktu 20 tahun beroperasi perawatan dan interiornya terjaga karena kesan Wah, Wow dan kemewahan lainnya tidak luntur.

Melihat kasur empuk rasanya ingin istirahat namun keinginan menjelajah isi kapal mampu melawan rasa mengantuk dan saya langsung menuju decks yang menyediakan beragam fasilitas olahraga mulai dari lantai 11 hingga 14 dan yang hit adalah flowrider, seperti berselancar air tapi bukan di pantai melainkan di atas kapal, tepatnya lantai 13.

Saat di area olahraga itulah terdengar pengumuman dan salah satu crew menghampiri kami untuk bergabung di deck 4 guna latihan menggunakan pelampung dan penyelamatan diri di laut.

Jadi sebelum kapal  meninggalkan Marina Bay Cruise Center pada jam 17.00,  ribuan penumpang sudah memahami apa yang harus dilakukan dan tidak mengabaikan pengumuman yang disiarkan ke seluruh kapal bahkan di dalam kamar.

Kami dikumpulkan di deck luar menghadap laut, berbaris per kelompok lantai dan setiap kartu akses di scan untuk mengecek bahwa setiap penghuni kamar sudah hadir mengikuti pertemuan besar itu sambil belajar pemakaian pelampung jika terjadi gangguan pelayaran.

Pelampung tersedia di setiap lemari di kabin ( kamar) masing-masing dan pertemuan awal ini  sekaligus untuk mengenal para “ tetangga “ selama 3 malam 4 hari berada di atas kapal pesiar dalam perjalanan dari Singapura-Penang,(Malaysia)-Singapura. Lumayan pegal juga kaki ini mengikuti apel besar meski kurang dari satu jam.

Menikmati hiburan

Usai acara latihan keselamatan  lebih baik menunggu parade di Royal Promenade, sebuah boulevard dengan deretan butik-butik duty-free. Para penonton berdiri di samping kiri dan kanan boulevard yang dibatasi dengan tali agar peserta parade leluasa berjalan sambil memberikan pertunjukan menarik.

Mungkin ini juga salah satu cara pengelola kapal untuk bonding karena atraksinya bisa dinikmati bersama pasangan hidup, sekeluarga besar atau bersama teman-teman satu komunitas. Sambil menunggu, salah satu crew kapal joget-joget di sepanjang jalan, meminta penonton bersemangat mengikuti gerakan-gerakannya.

Parade pawai di Royal Promenade deck lima menghibur penumpang kapal pesiar, mengawali perjalanan.

Seperti halnya nonton pawai, penonton tumpah ruah di pinggir jalan menunggu kedatangan para penari. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, parade dari para penari tampil dengan kostum kerajaan dari cerita-cerita dongeng serta tokoh-tokoh film seperti Kungfu Panda, Madagaskar dan Putri Fiona dari film Sherk serta  tokoh lainnya.

Bukan hanya anak-anak yang terhibur tapi juga semua yang hadir merasa puas. Usai nonton parade dan kapal sudah mulai berlayar,  banyak kegiatan hiburan yang bisa dinikmati seperti live music di depan Cafe Promenade. Penyanyi asal Pilipina sempat menyanyikan lagu pembukaan Asian Games, Meraih Bintang oleh Via Vallen. Alhamdulilah lagu itu benar-benar mendunia.

Kembali ke kamar untuk sholat magrib, di balkon cuaca masih terang benderang. Perbedaan waktu satu jam antara Singapura dan Indonesia membuat jadwal sholat berubah. Usai maghrib saya dan Helma sibuk mempersiapkan baju untuk dinner di Sapphire restoran mulai pukul 20.00 malam.

Skater beraksi di lantai es di atas Voyager of the seas yang tengah melaut menuju Penang, Malaysia.

Setekah itu kami putuskan untuk menonton Ice Skating saja, nostalgia saat kecil diajak orangtua kami menonton Ice Skating di Senayan. Kali ini pertunjukan Ice Skatingnya bukan di darat loh, tapi di atas kapal di laut lepas dimana penarinya juga datang dari berbagai negara. Program Director dari kapal ini, Michele yang berasal dari Brazil menyambut langsung dan membuka pertunjukkan.

“ Saat ini di kapal berkumpul tamu dari sedikitnya 20 negara oleh karena itu kami ingin menghibur para penumpang dengan beragam kegiatan hingga lewat tengah malam,” kata Michelle.

Ice Show yang spektakuler sejauh ini merupakan pertunjukan terbaik kapal pesiar Voyager of the Seas yang dibintangi oleh para pemain skater profesional dari seluruh dunia, masing-masing memberikan tema dan aksi lengkap dengan kostum yang memukau, membuat lompatan akrobatik, putaran, dan lift yang lebih spektakuler.

Pertunjukan Ice Skating dengan kostum dan sesi-sesi tematik sangat menarik. Namun apa daya jam juga sudah menunjukkan pukul 23.00 sehingga mata berat untuk kompromi dan saatnya kembali istirahat di kamar.

Beragam acara nonton bareng dengan layar lebar, karaoke dan acara Street party dengan DJ Bruno serta permainan Lotto, Jackpot dan casino terus berlangsung hingga jelang pagi untuk menghibur para tamu Voyager of the seas. Tak kuat begadang, kami pilih beristirahat, kembali ke kamar di deck 7. Good Night everybody…….