HijUp Berharap Indonesia Punya Distrik Fashion Muslim

0
191
Busana Muslim desainer Indonesia di New York Fashion Week (Foto: StuntFM)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Perkembangan fashion muslim di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Sayangnya, hingga kini belum memiliki distrik khusus atau pusat fashion Muslim. Karena itu HijUp, penyedia wadah pasar elektronik busana Muslim, bersama pelaku industri busana Muslim, pengelola toko online serta perancang busana Muslim menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/1/2019)

“Indonesia memiliki strategi pemasaran busana Muslim yang strategis. Indonesia, dapat berkaca dari negara lain seperti Italia, Jepang atau Turki yang memiliki distrik fashion Muslim. Kami berharap Indonesia memiliki distrik khusus atau pusat fashion Muslim,” papar
Diajeng Lestari, pendiri marketplace khusus busana Muslim HijUp dalam keterangan resminya, Jumat (01/02/2019).

Dilanjutkan, Indonesia yang penduduk Muslim terbesar di dunia dan tentunya sektor pariwisata, terutama wisata belanja memiliki potensi yang sangat bagus. Dengan potensi itu, seharusnya ada punya beberapa distrik fashion untuk fashion Muslim yang berstandar internasional. Sehingga wisatawan mancanegara (wisman) yang datang untuk wisata belanja fashion muslim tidak mengalami kesulitan.

Daerah yang paling potensial dijadikan distrik fashion Muslim adalah Jakarta dan Bandung. “Memang pusat fashion Muslim itu harus terkait erat dengan sektor pariwisata. Ide distrik fashion Muslim ini merupakan bagian dari pengembangan sisi hilir industri fashion nasional,” lontarnya.

Di sisi hulu, Diajeng berharap adanya intervensi pemerintah untuk memperkuat produksi busana Muslim nasional. Hal tersebut, berkaitan dengan industri manufaktur. Mengingat, sebagian besar atau sekitar 98% pelaku usaha busana Muslim adalah usaha kecil menengah (UKM).

“Kita perlu mensinergikan dari hulu yaitu bagaimana kita menciptakan produk-produk baru, tadi (dalam pertemuan dengan Presiden) juga dibahas bagaimana menciptakan kain dari serat nanas, dan dari produk-produk yang ada di Indonesia sumbernya,” kata Diajeng.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki pasar yang luar biasa. Bahkan Indonesia dapat menjadi berperan sebagai “pemain”. “Sehingga kita lebih produktif dan kita pada akhirnya juga bisa menghasilkan pertumbumbuhan ekonomi yang juga signifikan di Indonesia,” katanya.

Disisi lain Diajeng secara khusus menyampaikan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam berkiprah di industri busana Muslim kepada Presiden Jokowi. Salah satu poin yang disuarakan adalah insentif bagi marketplace atau platform jual beli daring yang juga menampung barang dagangan dari para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Diajeng menyebutkan, UKM busana Muslim perlu didorong karena mereka menyumbang porsi hingga 98 persen dari keseluruhan penjual yang memanfaatkan platform daring HijUp untuk menawarkan produknya. Diajeng mengakui insentif perpajakan seperti revisi Pajak Penghasilan (PPh) final dari 1 persen menjadi 0,5 persen memang dianggap memudahkan pelaku UMKM.

Namun ia beranggapan masih ada ganjalan bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang busana Muslim, yakni besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen yang dikenakan kepada pembeli dan dipungut oleh penyedia marketplace.

“Pembebasan untuk pajak pertambahan nilai (PPN) karena kita melihat bahwa subsidi pajak itu penting sekali dengan adanya persaingan global seperti saat ini pemain-pemain UKM ini perlu dibesarkan,” jelas Diajeng

Penjelasan Diajeng bukan tanpa alasan. Januari ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 210 Tahun 2019 yang berisi pengenaan pajak terhadap pedagang dan e-commerce yang menjual barang.

Dalam beleid, penyedia marketplace diminta memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPh terkait penyediaan layanan platform marketplace kepada pedagang dan penyedia jasa. “Kini kita bersaing bukan hanya dari level UKM tapi kita harus bersaing menjadi pemain global juga, karena kita lihat banyak dari brand internasional juga menyasar market populasi Muslim Indonesia,” lontarnya.

HijUp, ujar Diajeng, saat ini mewadahi lebih dari 300 desainer busana Muslim Indonesia dan satu tahun ke belakang berhasil mencatatkan visitor (pengunjung) sekitar 7 juta dari seluruh dunia. HijUp juga telah mengirim produk yang dijual ke 52 negara.

Istri pendiri Bukalapak.com, Ahmad Zaky ini mengungkapkan kepada Jokowi bahwa HijUp.com sejak 10 tahun lalu sudah mencanangkan Indonesia untuk menjadi pusat busana Muslim dunia. “Golnya adalah tahun 2020 pak yang mana dalam 48 minggu lagi, kita ingin Indonesia jadi pusat busana Muslim. Tentunya ini merupakan visi besar bersama,” katanya. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.