Uncategorized

Sapta Nirwandar: Multiplier Effect Sport Tourism Dasyat

Pembalap motor dunia di ajang MotoGP Mandalika. ( Foto: Astraoto)

JAKARTA, bisniswisata co.id: Olahraga dan pariwisata atau disebut sport tourism merupakan kegiatan penting dalam menjaring kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi, promosi budaya, kesehatan, dan keberlanjutan.

“ Sport Tourism bukan sekedar olahraga melainkan sebuah pengalaman wisata yang menghidupkan daerah dan masyarakat. Oleh karena itu saat menjadi Dirjen Pemasaran di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, kami sudah berinisiatif menyelenggarakan Tour de Singkarak pertama pada 29 April- 3 Mei 2009,” jelas Sapta.

Bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Union Cycliste Internationale (UCI), badan dunia balap sepeda.Tujuan awalnya mempromosikan Danau Singkarak sebagai ikon pariwisata Sumatera Barat. Sekaligus memperkenalkan konsep baru di Indonesia: sport tourism berbasis alam dan budaya.

“Induknya sport tourism sebenarnya dari kegiatan MICE atau Meeting Incentive, Confrence & Exhibition dimana untuk kegiatan incentive di buat beragam kegiatan termasuk wisata olahraga. Hampir semua cabang olahraga dapat dipadukan dengan wisata namun yang menjadi ukuran adalah jenis olahraga yang akan menyedot ribuan peserta seperti Chicago Maraton 12 Oktober lalu, “ tambahnya.

Menurut dia, Sport tourism menjadi semakin penting di dunia pariwisata modern karena menggabungkan dua sektor besar yang sama-sama punya dampak ekonomi, sosial, dan budaya tinggi yaitu pariwisata dan olahraga.

Mengapa sport tourism penting ? karena meningkatkan perekonomian daerah dan event olahraga seperti marathon, triathlon, atau turnamen tenis, sepak bola internasional menarik ribuan penonton wisatawan domestik dan mancanegara.

Sementara jika membuat event cabang selam dunia maka pesertanya terbatas, tambahnya.
Untuk Chicago marathon yang baru usai misalnya, baik peserta, penonton dan keluarga yang dibawanya mengeluarkan uang untuk akomodasi, transportasi, kuliner, dan cinderamata, yang berarti perputaran ekonomi lokal meningkat signifikan.

“Contoh lain Jakarta Marathon atau Tour de Singkarak terbukti meningkatkan pendapatan sektor pariwisata dan UMKM di daerah penyelenggara,” ungkap Sapta Nirwandar pemegang paten acara Jakarta Marathon ini.

Selan itu sport tourism bisa sekaligus mempromosikan Destinasi Wisata karena membuat daerah lebih dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Media massa dan era digital biasanya menyorot destinasi, budaya lokal, dan keindahan alam sekitar acara olahraga. Oleh karena itu kegiatan Ironman Bali atau Borobudur Marathon bukan hanya tentang lomba, tapi juga tentang memperkenalkan Bali dan Magelang ke dunia.

Sapta yang juga ketua Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia. (Fokbi ) dan founder Jakarta Marathon ini mengatakan sport tourism mendorong gaya hidup sehat dan aktif serta menumbuhkan budaya “travel for wellness”, yaitu berwisata sambil tetap menjaga kesehatan dan kebugaran.

Banyak peserta datang bukan hanya untuk lomba, tetapi juga untuk healing, relaksasi, dan memperkuat hubungan sosial.Manfaat lainnya adalah tingkatkan solidaritas dan kebanggaan komunitas seperti loyalitas supporter bola Indonesia yang mendukung tim sepak bolanya kemanapun berlaga seperti di Arab Saudi yang lalu.

Masyarakat lokal sering terlibat sebagai panitia, relawan, penyedia jasa, atau penonton. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan, solidaritas, dan bangga terhadap daerahnya. Selain itu, bisa memperluas jejaring antar komunitas olahraga dan antar bangsa.

Sapta juga menjelaskan bahwa event olahraga besar biasanya memicu pembangunan fasilitas baru seperti stadion, jalan, hotel, dan area publik yang lebih tertata. Setelah acara, fasilitas ini dapat dimanfaatkan kembali untuk masyarakat umum dan wisatawan.

Jika dikelola dengan baik, sport tourism mendorong pelestarian lingkungan (karena kegiatan outdoor menuntut alam yang bersih dan sehat). Hal ini mendorong pariwisata jangka panjang karena wisatawan cenderung datang kembali untuk event tahunan berikutnya.

“ Portugal dikenal setelah menjadi tuan rumah World Cup, Qatar juga menurut UN Tourism angka kunjungan wisatawan mancanegaranya meningkat tertinggi di dunia karena pernah menjadi tuan rumah sepakbola dunia dengan hospitality Islami dan tidak ada alkohol yang beredar,” kata Sapta mengingatkan.

Di era digital ini event-event berkelas juga karena panitia, pemain, para pendukung, ( komunitas), keluarga, para sponsor harus pro-aktif berpromosi di media sosial. Efek berganda dari marathon, turnamen tenis, sepak bola dan event yang keberlangsungan kegiatannya bisa terus dan berkelanjutan bisa diprediksi penghasilan atau keuntungan, dari tiket, hak siaran dan lain-lainnya, jelasnya.

Pemain sepakbola dunia yang berlaga di lapangan dua tim jadi jumlah pemainnya per tim  terdiri dari sebelas orang ditambah para pemain cadangan dengan salah satu di antara mereka menempati posisi kiper.

“Di arena lapangan yang berlaga dua tim jadi 22 org plus wasit, pemain cadangan, petugas – petugas misalnya total hanya 50 orang. Di stadion yang menonton langsung bisa 80 ribu orang, namun penonton online lewat TV dan media lain bisa jutaan orang,”

Bagi televisi yang ingin menyiarkan langsung bayar ke panitia jadi bagi pemerintah pusat maupun daerah dimanapun sudah bisa memprediksi keuntungannya. Oleh karena itu mengapa ragu membuat event sport tourism ?” tegas Sapta.

Jadi, tambahnya, kalau Indonesia mau menjaring kunjungan wisman yang banyak, ciptakanlah event-event sport tourism yang konsisten dalam penyelenggaraan dan masuk agenda dunia.

“Kementrian yang punya Calender of Event adalah Kementrian Pariwisata jadi berkolaborasilah dengan Kementerian Ekraf, Kementrian Pemuda dan Olahraga agar hasilnya event international yang dasyat,”

Indonesia juga rajanya lautan, adakah event sailing yang mendunia yang sudah diciptakan dan mampu men jaring para yachter untuk berkompetisi di wilayah perairan laut kita ?, ungkapnya mengundang kreativitas sport tourism yang baru di negara kepulauan ini.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)