Dongkrak Kunjungan Wisman, Yogya Genjot Sport Tourism

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Yogyakarta kini semakin aktif membidik Sport Tourism sebagai lahan baru, untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) maupun domestik (Wisdom). Mengingat, Yogyakarta berhasil mengelar turnamen tahunan golf bertajuk Golf Coronation Cup atau Piala Raja yang digarap Yogyakarta selama 10 tahun.

Turnamen golf sukses menaikkan kunjungan turis mancanegara maupun domestik, baik sebagai peserta, dari sisi promosi, maupun pengunjung. Setelah turnamen golf itu mapan dan dikenal pecinta golf di dalam maupun luar negeri, Yogyakarta selanjutnya menggenjot turnamen basket sebagai lahan sport tourism barunya, papar perwakilan lembaga Panitrapura atau semacam sekretariat Keraton Yogya Raden Mas Rio Suryo Satrianto.

Dilanjutkan, Branding yang diangkat juga sama: Piala Raja Jogja Istimewa Cup (JIC) 2019 yang digelar tuan rumah klub BPD DIY Bima Perkasa Yogyakarta pada 1-6 Oktober di GOR Amongrogo Yogyakarta. “Piala Raja ini menjadi bentuk dukungan Kasultanan, bersama Pemerintah DIY mendorong tumbuhnya sport tourism,” lontar Rio seperti dilansir laman Tempo, Ahad (15/09/2019).

Melalui event olahraga selama hampir sepekan itu, sambung dia, diproyeksikan membawa dampak positif pada sektor pariwisata dan berkontribusi menggeliatkan perekonomian daerah. Terutama karena meningkatnya kunjungan, sehingga tingkat keterisian hotel-hotel juga meningkat. “Turnamen ini juga dinilai kian meningkatkan branding Yogyakarta, sebagai daerah yang memiliki kalender tetap berbagai kegiatan olahraga yang layak disambangi tiap tahun,” ungkapnya.

Presiden klub BPD DIY Bima Perkasa Edy Wibowo menuturkan turnamen ini selain memberi dampak kunjungan ke Yogya, sengaja digelar berdekatan waktunya sebelum bergulirnya kompetisi basket profesional, Indonesia Basketball League (IBL) musim 2020 yang dimulai Januari nanti.

“Klub peserta bisa menjadikannya sebagai ajang pemanasan sebelum IBL 2020 bergulir. Selain tentu saja untuk mengangkat nama Yogyakarta sebagai acuan penyelenggaraan turnamen bergengsi,” ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, untuk menyemarakkan turnamen itu sejumlah klub kasta tertinggi basket tanah air berlisensi IBL dilibatkan. Mulai Satya Wacana Salatiga, Pacific Caesar Surabaya, Amartha Hangtuah, Pelita Jaya dan tuan rumah BPD DIY Bima Perkasa Yogyakarta. Bahkan, turut terlibat pula Tim Nasional (Timnas) Basket Indonesia proyeksi SEA Games 2019 Filipina sebagai peserta.

Dengan peserta enam tim itu, kompetisi dibagi dalam dua grup dengan masing masing 3 tim. Hari pertama sampai ketiga digunakan sebagai babak penyisihan. Hari keempat untuk perebutan peringkat 5-6. Sedangkan di hari kelima semifinal. Dihari keenam atau terakhir untuk laga final dan perebutan peringkat ketiga.

“Tim-tim peserta turnamen ini banyak dari luar kota dan harapannya pendukungnya ikut berdatangan. Harapan kami ini membangkitkan ekonomi daerah,” ujar Direktur Pemasaran BPD DIY Agus Tri Murjianto.

Agus mengatakan satu cara cukup ampuh untuk mendongkrak kunjungan wisata agar tak hanya mengandalkan musim liburan panjang, tak lain dengan memperbanyak event. Seperti yang sudah sukses lewat turnamen golf Piala Raja, yang tahun ini bisa mendatangkan lebih dari 400 peserta baik dari mancanegara dan nusantara hanya dalam waktu tiga hari.

Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyal mengaku mengapresiasi konsistennya turnamen Piala Raja, yang digelar klub BPD DIY Bima Perkasa dan tahun ini sudah masuk gelaran ketiga ini. “Kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh semua pihak bagaimana bahu membahu meningkatkan prestasi olahraga sekaligus yang berdampak pada sektor pariwisata,” ujarnya. (ndy)

Teater Tetas Pentaskan Adipati Karna, Bayi di Aliran Sungai, 20-21 September 2019.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Teater Tetas akan kembali menggelar pertunjukan yang berbasis dari cerita wayang di Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Jalan Bulungan Blok C Nomor 1, Kebayoran Baru, pada 20 dan 21 September 2019 mulai pukul 20.00 WIB, kata Harrys Syaus, Sutradaranya, kemarin.

Judul pementasannya yakni Adipati Karna, Bayi di Aliran Sungai, yang bersumber dari karya AGS Arya Dipayana. Sutradaranya adalah Harris Syaus. Elly Lutan,  koreografer tari yang kini memimpin Deddy Lutan Dance Company, bertindak sebagai penata gerak dan busana.

Adapun dalang muda dan pemimpin Wayang Urban, Nanang Hape, menjadi penata musiknya. Penata artistik Sugeng Yeah dan penata cahaya Herry W. Nugroho. Pentas ini terselenggara berkat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, London School of Public Relations, Sewasewa.id, dan Simpul Teater Jakarta Selatan (Sintesa). 

Werner Schulze, guru besar emeritus dari Universitas Musik dan Seni Pertunjukan Wina,Austria, juga terlibat dalam proses produksi pementasan ini. Tetas dan Werner berkolaborasi untuk tur pentas di Eropa pada 2012 dan 2016, serta berlanjut sampai sekarang. 

Adapun para aktris dan aktor yang bermain dalam pentas ini adalah Artasya Sudirman, Derry Oktami, Khiva Iskak, Jourdy Pranata, Laras Sardi, Mian Tiara, dan Chicco Kurniawan. Selain mereka adalah Armand Wiriadinata, Donny Suryatin, Yova Tri Wahyuni, Melkyor Hali Widodo.

Deretan pemain lainnya adalah Mariyo Suniroh, Luqman Dandiri, Rizki Ovan, Fanny Rahmalia, Ode Muhammad, Fizal Aji Pratama, Rasini, Stevan Rizky, Vandy Wu, Anton E. Girgis, Dika Tize, Andrea Nadinata, Priadi Cipta Wijaya, dan Bangung Dwi Prasetyo. Sedangkan para pemusik adalah Hendrikus Wisnugroho, Yosan Wahyu, Tendri Yusuf, Wiwid Kurniawan, dan Vokal Pi. Tema pentas ini adalah kisah kehidupan Adipati Karna dari karya sastra wayang Mahabarata. 

Kisah ini ditulis kembali oleh AGS Arya Dipayana, pendiri Tetas yang kini sudah almarhum, dalam bahasa Indonesia dan menjadi sebuah naskah drama yang berjudul Bayi di Aliran Sungai. Dalam cerita wayang Mahabarata dari India yang sudah mengalami banyak penyesuaian dalam tradisi di Nusantara sejak dulu kala, Karna adalah anak Dewi Kunti, ibu para Pandawa, dari hubungan gelapnya dengan Batara Surya. 

Untuk menutup aibnya, bayi Karna itu dihanyutkan di aliran sungai dan kemudian ditemukan oleh sepasang suami istri. Setelah peristiwa pembuangan bayi itu berlalu sekian tahun lamanya, pada suatu ketika di arena ujian ketangkasan murid-murid Durna, muncullah seorang pemuda menantang Arjuna.

Prabu Kresna dan Dewi Kunti tidak bisa mengubah pendirian Adipati Karna yang telanjur kukuh untuk tetap berada dan berperang di pihak Kurawa. Perang Baratayudha pun terjadi dan jasadnya terbaring di padang Kurusetra. Dia dibunuh Arjuna, adik dari rahim yang sama.

Pada 1999, AGS Arya Dipayana menulis dan menyutradarai pentas Bayi di Aliran Sungai ini pada pentas keliling Teater Tetas di Makassar Art Forum dan Gedung Kesenian Jakarta. Sekarang Harris sebagai sutradara melakukan interpretasi ulang dalam sudut pandang cerita dan bentuk garapan. 

Salah satu wujud interpretasinya adalah pada penambahan kata pada judulnya, yaitu Adipati Karna, Bayi di Aliran Sungai.Hal itu sejalan dengan fokus yang dipilih sang sutradara ini, yaitu dampak perang saudara yang bisa dipetik dari penggalan kisah Mahabarata ini.

Bahwa kualitas seseorang adalah kumpulan dari perbuatannya dan bukan dari kata-kata atau darah siapa yang mengalir di tubuhnya.“Di luar semua itu, perang, atas nama dan alasan apapun, hanya akan menyengsarakan bagi yang menang maupun yang kalah,” kata sang sutradara Teater Tetas ini . 

Atas dasar itu, bentuk pengucapan pentas Adipati Karna, Bayi Aliran Sungai pada 20-21 September 2019 ini bisa jadi akan berbeda dari sebelumnya. Di dukung para sahabat almarhum AGS, seperti Elly Lutan, Nanang Hape, Sugeng Yeah, Yanusa Nugroho, Yoyik Lembayung, Deddy Lutan Dance Company dan komunitas seni di Gelanggang Bulungan, Jakarta Selatan, memungkinkan Harris untuk melakukan semacam revitalisasi pergelarannya.

Teater Tetas didirikan pada 30 September 1978 oleh mendiang AGS Arya Dipayana. Kelompok ini dikenal sebagai kelompok teater kontemporer yang kerap berangkat menyusun pertunjukkannya dari khasanah wayang.

 

Ingin Sensasi Makan di Tengah Hutan, Agathis Resto Solusinya

this formate

BANYUMAS, bisniswisata.co.id: Obyek wisata Baturraden, memang keren. Berada di lereng Gunung Slamet, bukan hanya menawarkan pemandangan yang indah, hawa yang sejuk, wahana rekreasi yang menarik, sajian kesenian tradisional yang tetap lestari hingga kawasan hutan yang masih asri, ditambah lagi aneka kulinernya yang khas, tradisional dan sangat sesuai selera. Apalagi makannya di tengah hutan.

Memang makan di tengah hutan merupakan destinasi wisata baru di Baturraden, yang merupakan perpaduan wisata alam dan kuliner. Destinasi wisata itu, Agathis Resto namanya. Berlokasi di dalam komplek Baturraden Adventure Forest (BAF), tepatnya di Dusun II, Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ketika sudah masuk ke dalam komplek BAF, kamu akan menemukan bangunan terbuka dari bambu di sebelah kiri.

Ada banyak pilihan menu di Agathis Resto. Dari camilan seperti mendoan, jamur, pisang goreng, hingga makanan berat dengan aneka lauk seperti nasi ayam, lele, dan sayur-sayuran. Pilihan minumannya pun beragam dari teh, kopi, hingga jus buah. Kabar baiknya, harga makanan dan minuman di sini nggak terlalu mahal. Pengunjung cukup merogoh kocek mulai 5 ribu hingga 30 ribu rupiah saja.

Terdapat dua pilihan tempat makan di Agathis Resto. Seperti dilansir laman Inibaru, Sabtu (14/09/2019), di ruangan terbuka atau di ruang terbuka sesungguhnya, yaitu hutan. Untuk pengunjung yang memilih makan di ruangan terbuka, disediakan dua pilihan tempat duduk yaitu bangku kayu dan lesehan. Bangku kayu terdapat di lantai satu sedangkan lesehan di lantai dua.

Nah, kalau kamu pengin mencoba sensasi makan di tengah hutan, kamu harus berjalan sedikit menanjak dari ruangan terbuka tersebut. Tapi sebelum berjalan naik, pastikan kamu memesan makanan terlebih dahulu ya di lantai satu, agar nggak perlu bolak-balik.

Setelah berjalan menanjak, barulah terlihat meja dan kursi yang diletakkan di antara pohon-pohon. Udara sejuk Baturraden ditambah rindangnya pohon membuat lelahnya berjalan menanjak nggak lagi terasa. Suasana hutan yang tenang membuat pengunjung bisa berbincang-bincang dengan leluasa sehingga suasana menjadi makin akrab. Sambil menunggu pesanan datang, pengunjung bisa berswafoto di ayunan, atau di antara pepohonan hijau. Dijamin deh, foto yang kamu ambil akan terlihat aestethic!

Kalau kamu datang untuk makan siang, nggak perlu takut kepanasan. Karena meskipun saat siang hari matahari sedang panas-panasnya, udara kaki Gunung Slamet tetap terasa menyejukkan. Ditambah lagi pepohonan rindang menghalau sinar matahari. Jadi nggak kerasa deh kalau hari masih siang!

Selain sensasi makan di tengah hutan, di Agathis Resto kamu juga bisa loh merasakan sensasi ngopi di tengah hutan. Tapi ngopi di tengah hutan baru bisa dinikmati ketika weekend saja. (ndy)

Lagi, Turis di Bali Ngamuk sambil Ancam Telanjang

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Kesekian kalinya, sederetan aksi tidak terpuji turis asing di Bali kembali terjadi. Sabtu (14/9/2019) siang. Turis asal Inggris bernama Emma Jane diduga depresi kemudian mengamuk bahkan mencoba telanjang di Kantor Kecamatan Kuta Kabupaten Badung Bali.

Kepala Satpol PP Badung I Gusti Agung Kerta Suryanegara mengatakan, turis asing asal Inggris ditemukan di Jalan Wana Segara, Kuta, Badung. Emma mengamuk dan berulah melempar mobil sambil berteriak. Emma kemudian diamankan petugas Linmas dan dibawa ke Kantor Satpol PP. “Menurut info kaling Banjar Segara sebelumnya, katanya pernah bikin resah orang juga di mal beberapa hari lalu,” kata Suryanegara, Sabtu (14/9/2019).

Meski sudah diamankan di Kantor Satpol PP, Emma tak bisa diam. Ia bahkan mencoba untuk telanjang dengan membuka baju. Tindakan itu coba dihentikan oleh petugas Satpol PP. “Stres dan mau buka baju dan mau telanjang kami cegah,” ungkapnya.

Kini turis tersebut akan diserahkan ke pihak Imigrasi. Kemudian kedutaan akan dihubungi untuk penanganan selanjutnya.

Ia mengatakan, kasus turis asing berbuat ulah dalam setahun terakhir sering terjadi. Pada 2017, WNA berulah hanya bisa dihitung jari. Kemudian pada 2018 kasus itu bertambah menjadi satu hingga dua orang dalam sebulan.

Kasus turis mengamuk di Bali, antara lain:

#. Tendang Pengendara Motor
Nicolas Carr (27), wisatawan asal Australia mengamuk di jalan Sunset Road, Kuta, Badung dan menendang seorang pengendara sepeda motor hingga terjatuh, yang terjadi pada Sabtu (10/8/2019) sekitar pukul 05.30 Wita. Bahkan Carr sengaja menabrakkan dirinya ke sejumlah mobil yang sedang melintas. Aksi pria berbaju putih ini menyita perhatian warga setempat. Beberapa orang coba mengejar sambil mengeluarkan kata-kata bernada umpatan.

#. Diduga Depresi lantas Ngamuk
Selasa (30/7/2019) pukul 14.30 Wita, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar geger karena seorang turis mengamuk tak karuan sehingga menjadi perhatian warga sekitar. Turis bernama Adam Geoghegan yang bertelanjang dada di tepi jalan sambil berteriak. Turis ini berusaha ditenangkan oleh warga sekitar. Namun justru lari dan menghindari warga. Saat lari tersebut, ia sempat berhasil dihentikan oleh temannya. Namun ia berontak dan lolos, kemudian mengambil sebatang kayu sepanjang 60 centimeter. Kayu tersebut digunakan untuk menakut-nakuti dan mengayunkannya seperti mau memukul warga. Tak hanya itu, ia juga naik ke pelinggih yang berada di sekitar lokasi. Saat memanjat pelinggih itulah ia berhasil diamankan oleh warga sekitar, ditenangkan oleh temannya dan diamankan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Gianyar.

#. Naik Patung Catur Muka
Sabtu, (2/2/2019), seorang wisatawan asing mengamuk di Denpasar bahkan sampai naik ke Patung Catur Muka. Petugas Satpol PP pun datang dan memintanya untuk turun. Bukan mematuhinya, pelancong wanita tanpa identitas malah marah-marah. Setelah berhasil diamankan, ternyata dia tidak membawa identitas apapun dan diketahui mengalami gangguan kejiwaan dan saat itu juga dibawa ke Rumah sakit Jiwa Denpasar.

#. Bermasalah dengan suami
Senin (9/9/2019), Sandra wisatawan asal Belanda mengamuk di sebuah hotel di sekitar Candidasa, Kecamatan Manggis, Karangasem Bali. Turis bule asal Belanda yang bernama Sandra itu, menyebabkan keributan di sebuah hotel di sekitar Candidasa, Kecamatan Manggis, Bali. Perilaku wisatawan asing tersebut pun membuat resah penghuni hotel. Petugas hotel akhirnya melapor ke Public Safety Center (PSC) Karangasem. Dan diamankan Satpol PP Karangasem. Hasil interogasi, Sandra mengaku tengah masalah dengan suaminya, Michele. Sandra sering mengamuk dan mengigau setiap bertemu suaminya. Diduga ia memiliki masalah internal sejak dulu.

#. Ngamuk di kantor Konsulat Jenderal Swiss
Kamis (31/01/2019) warga di Jl Ganetri Denpasar geger gara-gara suara teriakan minta tolong dari petugas Konsulat Jenderal Swiss. Beberapa warga yang mendengar teriakan langsung mendatangi kantor tersebut. Ternyata ada turis asal Switzerland bernama Peter Hugo (68) mengamuk dengan merusak barang-barang di dalam kantor konsulat dan mau mencelakai orang di Konjen Swiss. Tak ada yang berani melerai, karena turis itu memiliki badan lebih besar dan tinggi. Polisi bersma petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar datang kelokasi kemudian memberikan suntikan bius dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah sadar Peter mengaku kehilangan paspor, karena pengurusan paspor butuh waktu, Peter pun emosi dan mengamuk.

#. Diduga Kehabisan Uang dan Bekal
Seorang turis perempuan asal Rusia bernama Anna Ivanova (30) diamankan Satpol PP Kabupaten Gianyar, Bali, pada Selasa (9/7). Petugas mengamankan Anna di tempat penginapannya di Villa Gong, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Warga melapor karena perempuan yang sudah tinggal selama dua minggu itu mengamuk dan membuat keributan di vila. Anna diduga mengamuk diduga karena depresi kehabisan bekal dan uang selama berlibur di Bali. Saat diamankan, Anna sempat menendang petugas Satpol PP. Anna pun dimasukkan Rumah sakit Jiwa di Bangli. (end)

Romantis untuk Gaya Pakaian Feminin, Modern, dan Sleek

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Brand  Charles & Keith meluncurkan koleksi Fall 2019 limited edition, hasil kolaborasi dengan seniman asal Tiongkok, Oamul Lu (dibaca: Lumao) di Indonesia. Pada kolaborasi ini, Oamul Lu menggambarkan seorang perempuan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni. Karya ini terinspirasi dari elemen udara yang mencerminkan kebebasan di alam terbuka.

Koleksi ini terdiri dari empat produk, yaitu tote bag, crossbody, wallet, dan card holder. Cocok dipadukan dengan gaya pakaian feminin, modern, dan sleek, berkat konsep minimalis dan ilustrasi khas Oamul Lu,  jelas Ita Dwi Yulianti, Head of Marketing brand ini di Indonesia.

Titan Tyra, Elle Yamada, Sonia Eryka, dan Cindy Karmoko membagikan inspirasi outfit yang cocok untuk dipadukan dengan koleksi  by Oamul Lu, seperti pemilihan fashion item berwarna merah muda, pastel, dan putih. Selain itu, para influencer juga menyampaikan bahwa desain minimalis karya Oamul Lu membuat koleksi ini dapat dikenakan untuk berbagai acara.

“Charles & Keith selalu berkomitmen untuk mendorong para perempuan menjadi berani mengekspresikan diri mereka melalui fashion. Hal ini tercermin melalui hasil kolaborasi kami dengan Oamul Lu. Koleksi ini mengusung desain yang romantis sehingga para perempuan bisa bebas berpakaian sesuai dengan selera mereka,”  tambah Ita Dwi Yulianti.

Pengusaha fashion, Charles & Keith Wong mendirikan brand ini pada 1996 setelah menemukan adanya potensi dalam menyediakan desain sepatu untuk wanita Timur,  terutama wanita urban yang stylish dan dikenal karena selera desain fashion yang tepat dan menarik.

Dengan wanita sebagai fokus utama maka produknya mulai sepatu, tas, kacamata, aksesoris, dan perhiasan. Dengan menekankan pada empat brand value: Experimental, Desirable, Curated, dan Modernity, Charles & Keith menjadi inspirasi fashion dan kecantikan setiap hari.

 

 

Yogyakarta International Art Festival Dimeriahkan Seniman 19 Negara

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Mark duduk di atas bangku kayu di bawah rimbunnya pohon pinus di objek wisata Seribu Batu, Hutan Pinus Mangunan, Bantul. Tangannya sibuk mengayunkan kuasnya di atas sebuah buku kecil berukuran sekitar 5×8 cm. “Ini sketsa saja. Saya mendapat ide gambar ini setelah kemarin menemukan lampu stroberi,” kata pria asal Belanda, Sabtu (14/9/2019).

Ia mengaku, dirinya sering membuat sketsa dulu di buku kecil agar tidak lupa. Mark mengatakan, ia banyak inspirasi ketika berada di Yogyakarta. Banyak hal menarik. Salah satunya adalah ketika dia melihat lampu penerang jalan di Fakultas Ilmu Budaya Yogyakarta. “Lukisan lampu ini saya beri judul, The Time of Dreaming,” kata Mark sambil menunjukkan tiga lukisan dalam kesatuan yang baru saja diselesaikannya.

Mark adalah salah satu seniman yang mengikuti Yogyakarta International Art festival 2019. Sebanyak 34 seniman dari 19 negara, termasuk Indonesia, berada di Yogyakarta selama lima hari untuk mengenal budaya dan objek-objek wisata di Yogyakarta.

Setiap seniman diwajibkan membuat karya seni yang akan ditampilkan di Limanjawi Art House, Borobudur, Magelang pada 16 September 2019. Pameran itu akan berlangsung selama 2 minggu.

Hadi Soesanto selaku penggagas Yogyakarta International Art Festival menjelaskan, kegiatan dua tahunan yang dilangsungkan sejak 2015, sudah memasuki tahun ketiga. Ajang ini, kata dia seperti dilansir laman MediaIndonesia, menjadi tempat pertukaran budaya. Kita bisa melihat karya-karya seniman-seniman dari luar negeri lengkap dengan prosesnya. “Seringkali pameran hanya menampilkan lukisannya saja. Tidak tahu cara membuatnya. Ternyata, cara membuatnya berbeda-beda,” sambungnya.

Menurut dia, tidak ada tema khusus dalam Yogyakarta International Art Festival. Dengan cara ini, seniman bisa lebih dalam mengeksplorasi ide mereka dan menjadikan karya seni sesuai dengan ketertarikan masing-masing seniman. “Setiap tahun seniman yang datang ke sini tidak pernah sama, berbeda-beda dan mendorong seniman muda,” kata dia.

Dengan cara itu, seniman akan mendapatkan pengalaman baru dan karya yang dihasilkan lebih segar. Anang Batas dari SatabGnana Foundation, selaku penyelenggara, mengungkapkan Yogyakarta International Art Festival sekaligus menjadi ajang memperkenalkan budaya dan objek wisata di Yogyakarta kepada para seniman dari luar negeri.

Selama di Yogyakarta, selain menyaksikan tarian tradisional, peserta juga diajak Tur Merapi, Tebing Breksi, tur keliling Kota Yogyakarta, hingga diskusi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Para seniman dari 19 negara, yaitu Amerika, Taiwan, India, Malaysia, Turkey, Siprus, Belanda, Korea Selatan, Banglades, Kanada, Jepang, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina dan tuan rumah Indonesia.

Berbagai event digelar Yogyakarta International Art Festival 2019, antara lain:

9-12 September : Omah Petroek
13 September : Tebing Breksi
14 September : Yogyakarta Street
15 September : City Tour
16 September : Opening Exhibition
17 September : Farewell Party

Festival Layang-layang, Budaya Pesisir Wajib Dilestarikan

this formate

GIANYAR, bisniswisata.co.id: Kabupaten Gianyar Bali kembali menggelar Gianyar Layang-Layang Festival. Festival yang memasuki tahun ke-7 diselenggarakan oleh Belega Layang-Layang Club (Balac) yang berlangsung di Pantai Masceti Medahan Blahbatuh, dibuka secara resmi oleh Bupati Gianyar Made Mahayastra Sabtu (14/9/2019).

Bupati menyambut baik dan mengapresiasi yang setinggi-setingginya kepada generasi muda, milenial yang tergabung dalam Balac Belega dan tokoh masyarakat memprakarsai penyelenggaraan Gianyar Layang-Layang Festival ini.

“Festival ini memberikan kontribusi positif bagi promosi kepariwisataan di Gianyar. Juga mampu memberikan media pendidikan budaya tradisional untuk generasi muda,” papar Bupati dalam sambutan pembukaan Festival Layang-layang.

Selain itu, lanjut dia, layangan merupakan budaya pesisir yang harus tetap dilestarikan. Apalagi perhelatan lomba layang-layang memberikan wadah penyaluran minat dan bakat di bidang seni dan budaya, khususnya seniman/undagi muda serta mempertahankan budaya bangsa.

Bahkan Festival ini merupakan wadah penyaluran ekspesi, bakat, seni layangan. Gianyar tak hanya dikenal seni tari dan tabuh, layangan juga hasil budaya masyarakat Gianyar mesti dilestarikan.

“Ke depan festival ini dapat terus dilaksanakan berkelanjutan dan meningkatkan kualitasnya pada tahun-tahun mendatang agar kemajuan budaya dan pembinaan kesenian yang memiliki nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan karakter bangsa dapat terus dilestarikan.” sambungnya.

Ketua panitia I Komang Elen Juniadi mengatakan lomba layang-layang ini merupakan wadah bertemunya para pecinta layang-layang, sekaa demen yang menjadi peserta, dan masyarakat umum. “Tema yang di usung dalam perhelatan Gianyar Layang-Layang Festival VII 2019 yakni Yadnya Cakra yang berarti kreativitas tiada henti,” terang Elen.

Lebih lanjut Elen menjelaskan peserta yang mengikuti lomba ini berjumlah 718 peserta, dibagi menjadi dua hari yakni di hari Sabtu (14/9) sebanyak 195 peserta dan di hari Ahad (15/9) sebanyak 523 peserta. (ndy)

Gading Marten Temukan Kedamaian di Himalaya

this formate

NEPAL, bisniswisata.co.id: Hobby petualangan jelajah alam sudah menyatu bagi Gading Marten. Mengisi liburan sekaligus melepas kepenatan, Aktor dan presenter melakukan petualangan ke pegunungan Himalaya di Nepal. Di kawasan pegunungan es, lelaki kelahiran Jakarta 37 tahun lalu mengaku mendapat ketenangan bahkan penuh kedamaian.

“Di Himalaya, saya menemukan kedamaian,” lontar bapak satu anak Gempita Nora Marten dalam unggahan lewat akun Instagram @gadiing. Dalam dua hari sudah ada yang melihat 129,664 tayangan.

Dalam unggahan lewat akun Instagram @gadiing, ia memperlihatkan cuplikan keseruan video berlibur ke Nepal. Gading memberi nama liburan bersama temannya dengan nama “Namaste Journeys”.

Kota pertama yang dikunjungi Gading saat di Nepal adalah Kathmandu. Dirinya mengunjungi beberapa tempat di kota itu. Salah satunya adalah Boudhanath Temple yang terkenal. Selain itu, ada obyek wisata lain yang dikunjunginya yaitu Bhaktapur yang dianggap sebagai tempat suci.

Gading terlihat menggunakan jaket tebal berwarna kuning. Ia melengkapi penampilannya dengan menggunakan perlengkapan sarung tangan, topi kupluk, dan celana berwarna merah dengan paduan hitam. Aksesoris itu paling penting untuk membuatnya hangat saat berada di atas puncak gunung. (ndy)

13 -15 September 2019, Festival Jajan Pasar & Pameran Industri Jasa Boga

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) menggelar Festival Jajan Pasar dan Pameran Industri Jasa Boga bertaraf internasional di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali, pada 13 hingga 15 September 2019.

Festival ini diharapkan akan mempercepat pengenalan kuliner dan produk jasaboga Indonesia di mata masyarakat dunia. Karena Bali itu pintu gerbang dan jendela dunia serta beragam etnis dan suku bangsa ada di Bali. Juga, bisa menjadi inspirasi para penggiat kuliner Indonesia agetap berjuang mengembangkan kuliner nasional. Tujuan lainnya untuk mendorong pertumbuhan produk jasaboga Indonesia.

Animo peserta terhadap Festival Jajan Pasar dan Pameran Industri Jasa Boga ini, sangat tinggi. Terbukti semua gerai dalam arena #artfoodfestapji sudah terisi penuh. Festival ini digelar di atas lahan seluas 8.700 meter persegi dengan 130 booth yang dibagi beberapa zona. Yakni zona industri, zona fashion, art and beauty, zona F&B yang di dalamnya terdapat area khusus untuk vegetarian, organic dan healthy food.

Pengunjung juga bisa menikmati beragam industri kreatif dalam zona milenial, seperti body and face painting, hiburan dan lainnya yang sedang berkembang saat ini. Selain itu, ada pula beberapa pelatihan langsung yaitu, Keamanan Pangan oleh Aerofood (ACS), Star Up Business oleh Fatma Bahalwan dan Gapura Digital Google,

Juga ada Training Fruit and Vegetable Carving oleh Kitchen Artist I Ketut Suaryana, Training Chocolate Pralin oleh Ketua Indonesia Pastry Alliance (IPA) Bali Chef Agus Suama, Master Class Barista oleh Indolakto, dan Master Class Cooking oleh Chef Vindex Tengker.

Bahkan ada beberapa lomba, seperti Lomba Jajan Pasar yang didukung oleh Rose Brand, Kompetisi Barista: Latte Art didukung oleh Indomilk, Flaire Competition didukung oleh Vibe. Ada juga Lomba Masak dalam Bambu, Membuat Masakan Nusantara, dan lainnya.

APJI akan memamerkan kekhasan kuliner dan budaya yang diikuti perwakilan negara sahabat yaitu Kerajaan Thailand yang akan memamerkan kuliner kekhasan negaranya. Diharapkan 10 ribu pengunjung menghadiri gelaran yang akan menjadi program tahunan APJI di Bali. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Cerita Menarik Melatari Nama Presiden di Lima Objek Wisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Nama destinasi wisata bisa terinspirasi dari apa saja, termasuk juga dari nama Presiden Indonesia. Ada berapa destinasi wisata dengan nama Presiden Republik Indonesia (RI), baik di Indonesia ataupun luar negeri. Selain mudah untuk diingat, tentu saja ini memiliki maksud tertentu di baliknya, bisa penghormatan ataupun ingin mengenang jasa-jasanya.

Memang bukan sembarang menyematkan nama presiden tentunya. Tentu ada cerita yang melatari penggunaan nama presiden di suatu tempat. Sayangnya dari tujuh presiden Indonesia, hanya nama Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang namanya belum dipakai nama untuk obyek wisata

Berikut lima objek wisata yang menggunakan nama presiden Indonesia, antara lain:

#. Tugu Soekarno
Tugu Soekarno merupakan obyek wisata bersejarah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tugu Soekarno terletak di Jalan S. Parman, di tepi Sungai Kahayan, tak jauh dari bundaran besar sebagai pusat Kota Palangkaraya. Tugu ini menjadi saksi sejarah karena di sana Presiden pertama RI itu pernah meletakkan tiang pancangnya dan menyatakan Palangkaraya sebagai calon ibu kota negara. Saat itu, Soekarno mengajak duta besar Rusia, D.A. Zhukov dan Duta Besar Amerika Serikat, Hugh Cumming Jr berkeliling Kota Palangkaraya. Kini Tugu yang berada di tengah kota dan diselimuti pepohonan rindang, sehingga wisatawan bisa berlama-lama di sini. Sore hari, tempat ini jadi salah satu destinasi untuk menyaksikkan matahari terbenam. Malam hari, lampu hias warna warni akan membuat foto makin cantik saja.

#. Bukit Soeharto
Nama lengkapnya Taman Hutan Raja Bukit Soeharto. Letaknya di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dengan luas lebih dari 61 ribu hektare. Kawasan ini diberi nama Soeharto karena pernah melakukan perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda melalui bukit tersebut. Soeharto kemudian menetapkan kawasan tersebut sebagai Hutan Lindung. Di obyek wisata ini, wisatawan bisa melihat orangutan. Mengingat, Bukit Soeharto merupakan Pusat Reintroduksi dan Rehabilitasi Orangutan Wanariset Samboja dan Hutan Pendidikan Universitas Mulawarman.

#. Puncak Habibie
Puncak Habibie di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sejatinya bukan objek wisata. Di tempat ini terdapat fasilitas radar udara milik Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Tahun 1990 saat BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, dia memerintahkan agar dibangun sebuah radar udara di sana. Sejak itu, masyarakat sekitar menyebut sebagai Puncak Habibie. Puncak Habibie terletak di Jalan Cisolok, Desa Pasirbaru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Letaknya tak jauh dari jalan nasional yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Banten. Puncak Habibie yang berada di ketinggian 380 meter di atas permukaan laut atau mdpl, itu kerap menjadi tempat singgah wisatawan yang melintas di jalur nasional. Memang pemandangannya sangat bagus, pesona perbukitan, pesisir pantai, sampai laut yang membentang indah.

#. Kebun Raya Megawati
Meman obyek wisata ini bukan di Indonesia. Namun mungkin sebuah kebetulan ada kebun raya di Korea Selatan (Korsel) yang bernama Megawati, nama Presiden Kelima RI. Kebun Raya Megawati berada di kawasan Seogwipo, Pulau Jeju, Korea Selatan. Di kebun raya ini terdapat berbagai flora dan fauna yang sengaja dipelihara maupun yang liar. Tempat ini telah diresmikan pada sejak Mei 2017 yang memiliki luas sekitaran 100.000 meter persegi. Kebun raya ini dikelilingi hutan cukup lebat. Dan kerap didatangi wisatawan.

#. Kampoeng Jokowi
Kampoeng Jokowi adalah nama untuk kawasan Perkebunan Teh Nusantara VIII Dayeuhmanggung, Kecamatan Cilawu, Garut, Jawa Barat. Obyek wisata itu sebelumnya bernama Kampung Cipinang. Awal 2017, namanya menjadi Kampoeng Jokowi dengan alasan banyaknya penduduk yang mengidolakan Presiden Joko Widodo. Obyek wisata memiliki 40 rumah dengan arsitektur bangunan peninggalan Belanda. Rumah-rumah itu dicat warna-warni sehingga memberi kesan yang menyegarkan. Di area seluas sekitar 4 hektare, wisatawan bisa memilih aneka spot foto yang unik atau mampir ke perkebunan teh yang letaknya tidak jauh dari Kampoeng Jokowi. (ndy)