Medical Tourism Singapura Jadi Pilihan Wisatawan Indonesia

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Di Asia Tenggara, Thailand menjadi negara yang fokus akan perkembangan medical tourism. Pemerintah Thailand terus mendorong mekanisme serta infrastruktur untuk mempromosikan negaranya sebagai destinasi medical tourism. Perkembangan Thailand di sektor medical tourism menunjukkan bahwa kini negara berkembang juga dapat menjadi destinasi medical tourism.

Alasan meningkatnya medical tourism di Thailand karena selain untuk permasalahan kesehatan juga untuk kesempatan berlibur. Setelah mendapatkan perawatan kesehatan rumah sakit, turis dapat berlibur ke sejumlah destinasi wisata memaksimalkan pemulihan.

Bagi para pasien asal Indonesia, negara tetangga terdekat untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas tinggi adalah Singapura. Tidak hanya untuk pasien di Tanah Air, Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan perawatan kesehatan yang diakui oleh World Health Organization (WHO). Singapura bahkan masuk ke dalam negara teratas dengan sistem layanan kesehatan paling efisien pada tahun 2014. Bersaing dengan lebih dari 50 negara lainnya.

Pada semester awal tahun 2019, Newsweek mengumumkan Singapore General Hospital (SGH) sebagai rumah sakit terbaik ketiga di dunia. Lembaga riset ValueChampion juga menempatkan Singapura sebagai Top 5 HealthCare System di Asia Pasifik. Melihat dari kualitas pelayanan, aksesibilitas dan keterjangkauan.

Bersama dengan Jepang, Hong Kong dan Australia, negara-negara ini konsisten memberikan output berupa harapan hidup, tingkat kematian rendah serta akses terhadap layanan berkualitas. Masyarakat Indonesia sendiri sudah lama menjadikan Singapura sebagai tujuan untuk mendapatkan pelayanan medis dengan teknologi mumpuni dan lengkap.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah rumah sakit serta pusat medis di Singapura memperoleh akreditasi Joint Commission International (JCI). “Tidak semua rumah sakit bisa mendapatkan akreditasi seperti ini. Dengan rasio jumlah pasien dan rumah sakit yang cukup seimbang, maka lumrah apabila banyak pasien dari negara-negara lain seperti Indonesia lebih memilih berobat ke Singapura.

Ditambah lagi dengan pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang semakin meningkat setiap tahun membuat masyarakat di sini cenderung mencari perawatan medis yang lebih lengkap,” ujar Tatiana Gromenko, Founder Singapore Guidebook (SGB) seperti dilansir laman Marketeers, Senin (14/10/2019). (ndy/Marketeers)

Wouw Keren, 2 Resor di Bali Lolos 50 Resor Terbaik di Dunia

this formate

GIANYAR, bisniswisata.co.id: Dua resor di Bali masuk dalam kategori 50 resor terbaik di dunia tahun 2019 pilihan pembaca Conde Nast Traveler, sebuah Majalah travel dan gaya hidup bertaraf internasional, Conde Nast telah merilis daftar tempat-tempat mengingap eksklusif paling hot di penjuru dunia. Tempat-tempat tersebut tergolong baru dan belum banyak diketahui wisatawan mancanegara.

Tahun ini, Conde Nast mencatat ada 66 properti keren dari jumlah itu hanya 50 resor terbaik pilihan pembaca. Dan, dua resor di Bali yang mewakili Indonesia dalam kategori The Best Resorts in the World: 2019 Readers’ Choice Awards adalah Capella Ubud dan Ayana Resort and Spa. Capella Ubud, resor bernuansa etnis berada di posisi ke-44, sedangkan Ayana Resort and Spa di posisi ke-41 dari total 50 resor terbaik di dunia.

Capella Ubud terletak di tengah hutan seluas 4 hektar di daerah Ubud, Bali. Resor ini menawarkan pengalaman menginap untuk wisatawan di tenda-tenda Eropa di era 1800-an. “Berlokasi di jantung hati hutan hijau, kami memilik tenda kemah yang bersatu harmonis dengan alam sekitar. Terinspirasi dari tenda Eropa 1800-an, arsitek Vill Bensley merancang Capella Ubud sebagai peringatan akan semangat petualangan,” tulis situs resmi Capella Ubud.

Ada 21 kamar yang menyerupai tenda pribadi di Capella Ubud yang terletak di lereng, lengkap dengan kolam renang air asin. Lokasinya sendiri berada di Desa Keliki, Kecamatan Tegallalang, Ubud, Gianyar. Hotel ini pada 2018 masuk peringkat kedelapan Hotel Mewah Baru Terbaik di 2018 versi Situs informasi wisata, Luxury Travel Intelligence.

Nuansa Capella yang dihadirkan benar-benar suasana tradisional. Properti dibangun sedemikian rupa agar terlihat seperti perkemahan yang didirikan oleh pedagang rempah-rempah awal abad ke-19. Para tamu harus melewati jembatan gantung untuk mencapai lokasi menginap, berupa 22 tenda kanvas berkonsep glamping. Masing-masing dilengkapi kolam air asin.

Para juri Conde Nast Traveler mengatakan, Capella Ubud ini ideal bagi mereka yang ingin mendekati Bali dengan cara yang lebih mawas. Tinggal di sini seperti kembali ke masa-masa liar di pulau itu.

Sementara Ayana Resort and Spa merupakan Resort kelas dunia dan sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri. Pelayanan dan fasilitas resortnya sudah tidak bisa diragukan lagi. Apalagi letak Ayana Resort yang berada di atas tebing khas daerah Jimbaran. Ayana Resort juga memiliki pantai privat yang bisa Anda kunjungi sewaktu-waktu.

Total Ayana memiliki 572 kamar serta 78 vila yang memiliki akses ke kolam renang. Fasilitas lain adalah tersedia sebanyak 17 restoran, ruang pertemuan, 11 kolam renang, 11 lokasi buat resepsi pernikahan, Aquatonic Seawater Therapy Pool, spa dalam gedung dan spa di bukit karang serta lapangan golf.

Untuk memudahkan wisatawan beraktivitas di Ayana tersedia angkutan khusus (shuttle tram) yang melayani wisatawan ke Rimba Lobby, Ayana Lobby, Thermes Marins Spa, Villa Lobby dan Kubu Beach setiap 10-15 menit. Sampai saat ini wisatawan yang menginap di Ayana pada posisi teratas ditempati wisatawan asal China, Jepang, Australia, dan Indonesia.(ndy/Conde Nast)

Pembangunan Bandara di Papua & Papua Barat Terhambat Lahan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut upaya percepatan pembangunan infrastruktur seperti bandara di Papua dan Papua Barat masih terkendala masalah pembebasan lahan. Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemda untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Saya tadi membahas beberapa bandara Papua dan Papua Barat, seperti di Manokwari, Fakfak, Raja Ampat, dan Sorong. Selain itu, kita membahas yang berkaitan dengan pelabuhan di Sorong untuk perbaikan,” kata Budi usai menggelar rapat koordinasi bersama Pemprov Papua dan Papua Barat beserta sejumlah bupati Papua Barat di Jakarta, Ahad kemarin.

Dilanjutkan, kendala pembebasan lahan memengaruhi cepat atau lambatnya penyelesaian pembangunan bandara-bandara tersebut. “Seperti di Rendani, Manokwari, ada yang mesti diselesaikan dulu pembebasan tanah pada 2020. Kami baru akan menyelesaikan pada 2021. Di Raja Ampat sepanjang 1.525 m sudah selesai semuanya (pembebasan lahan) dan tahun depan diselesaikan,” lontarnya.

Kondisi alam Papua juga menjadi faktor. Di beberapa daerah di pegunungan Papua misalnya, lahan yang disediakan untuk pembangunan dan perluasan bandara tidak cukup rata. Hal itu menjadikan biaya pembangunan cukup mahal dan waktu penyelesaian pun menjadi lama. “Kadang mereka itu membebaskan tanah, tetapi konturnya itu signifikan. Kalau konturnya signifikan, turun-naik itu development cost-nya menjadi mahal,” jelasnya.

Untuk menyelesaikan masalah itu pihaknya juga mengundang Dirjen Pengadaan Tanah untuk ikut meninjau. Dengan demikian, pembangunan pun bisa dipastikan berjalan efektif. “Di Fakfak kemarin itu belum bisa terjadi karena masalahnya itu (kontur lahan),” tambah Menhub seperti dilansir laman Medcom, Senin (14/10/2019)

Selama ini akses menuju daerah pegu­nungan di tengah Pulau Papua hanya melalui Wamena. Namun, kondisi saat ini terjadi kelebihan kapasitas di bandara Wamena. Kemenhub pun akan memperpanjang dan memperluas bandara lain, yakni di Distrik Dekai untuk mempercepat distribusi logistik ke tengah Papua.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, mengungkapkan pembebasan lahan di Papua,­ khususnya di Kabupaten Raja Ampat, memerlukan pendekatan adat. Di daerah itu terdapat banyak tanah adat yang merupakan milik masyarakat adat, baik yang digarap maupun tidak digarap.

Menurutnya, proses pembebasan lahan di Papua untuk pembangunan bandara sebenarnya tidak sulit. Selain lahan yang masih sangat luas, harga ganti rugi lahan pun sebenarnya cukup murah. “Di sana masih murah sih, sekitar Rp25.000 per meter,” tambahnya.

Untuk membebaskan lahan, ia mengisahkan bahwa pihaknya selalu menggunakan berbagai pendekatan yang bisa diterima masyarakat adat. Pendekatan secara adat menurutnya paling efektif mengingat budaya masyarakat di sana masih sangat kuat. Pemda bersama masyarakat adat setempat bisa duduk bersama menyelesaikannya.

Ia menambahkan, pembebasan lahan untuk pembangunan bandara di Raja Ampat berjalan cukup baik. Pihaknya sudah mengajukan tambahan anggaran untuk perpanjangan landasan. Selain itu, Pemda Raja Ampat juga mengajukan bandara alternatif lainnya di Pulau Misol, yakni lahan di kedua tempat itu sudah tidak bermasalah. (ndy/Medcom)

Hutan 3 Gunung Terbakar, Wisatawan Pendaki Diminta Waspada

this formate

GARUT, bisniswisata.co.id: KAWASAN hutan di lereng tiga gunung dilalap di Jago Merah. Ketiga gunung itu, Gunung Cikuray di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar), Gunung Andong di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng) dan Gunung Ringgit di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (Jatim). Akibat kebakaran itu disarankan agar wisatawan pendaki gunung diminta waspada dalam aktifitas pendakian.

Kebakaran di jalur pendakian menuju gunung tertinggi di Kabupaten Garut itu tidak hanya melanda di jalur pendakian, tetapi juga perkebunan di sekitar lokasi. Hingga sekarang ini, proses pemadaman sedang dilakukan tim gabungan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat, Tubagus Agus Sofyan, mengatakan, kebakaran lahan di Gunung Cikuray di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, terjadi sejak Minggu (13/10) sore sekitar pukul 17.10 WIB.

Sekarang ini pihaknya berupaya pemadaman agar tidak menjalar ke lahan lainnya. Berdasarkan laporan yang diterima, jalur pendakian dan perkebunan di sekitar Gunung Cikuray mengalami kebakaran, meskipun jarak ke perkampungan warga sekitar 5 kilometer.

“Proses pemadaman sedang dilakukan hingga malam ini, meski posisi kebakaran tersebut itu terus meluas karena angin berhembus cukup kencang sehingga para petugas mengalami kesulitan untuk memadamkan api termasuk akses menuju lokasi juga cukup sulit,” kata Tubagus seperti dilansir Antara, Senin (14/10/2019).

Tubagus mengatakan, proses pemadaman di Gunung Cikuray ini tengah dilakukan bersama Dinas Pemadam Kebakaran dibantu polisi, TNI, dan warga, serta para petugas Gunung Cikuray. Kebakaran Gunung Cikuray yang terjadi sejak sore diketahui oleh warga dari jarak pandang cukup jauh, hingga mereka baru melaporkan kejadian tersebut.

“Gunung Cikuray yang terbakar itu diperkirakan dari alang-alang, rumput, dan ranting pohon yang telah mengering. Akan tetapi, untuk saat ini tim gabungan juga tetap berupaya menuju lokasi karena tadi saya menerima informasi dari Muspika Bayongbong menurunkan tim ke lokasi kebakaran guna memadamkan kobaran api, karena khawatir merembet ke permukiman warga,” ujarnya.

Sementara itu, petugas Damkar Garut, Wawan, mengungkapkan, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, masyarakat, relawan dan para petugas Gunung Cikuray untuk sekarang masih dalam perjalanan menuju titik lokasi kebakaran dan sekarang ini api masih terus menyala. Untuk pemadaman api berada di jalur pendakian Gunung Cikuray, tentu membutuhkan waktu.

“Kami bersama tim gabungan masih berupaya untuk memadamkan kobaran api, tetapi untuk menuju lokasi itu memang medan cukup berat dan peralatan yang dibawa petugas berupa air hingga peralatan lainnya. Mudah-mudahan api tidak menjalar ke lokasi lainnya, meski lokasi yang terbakar paling banyak alang-alang dan rumput serta pohon ranting kondisi mengering ditambah angin cukup kencang,” tuturnya.

Gunung Andong

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto mengatakan, waktu kejadian kebakaran Ahad (13/10) sekitar pukul 15.00 WIB di Dusun Temu, Desa Jogoyasan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Penyebab kebakaran di Gunung Andong tersebut belum diketahui. “Kronologi peristiwa itu, yakni pada hari Minggu sekitar pukul 17.30 WIB BPBD Kabupaten Magelang mendapat informasi Penyuluh Kehutanan Gunung Andong, Hanif bahwa telah terjadi kebakaran hutan di lereng Gunung Andong di Dusun Temu, Desa Jogoyasan, Kecamatan Ngablak,” katanya.

Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan dari Perhutani, MPA Girirejo, rekan Basecamp dan relawan. Saat ini titik api yang berada di lereng bagian tengah sudah padam dan masih terdapat satu titik api yang berada di atas tebing yang terjal. Mengingat kondisi medan atau lokasi yang sulit dijangkau, maka dilanjutkan pemantauan. “Antara tebing bagian atas dengan bawah telah dibuatkan sekat api, agar api tidak menjalar,” katanya.

Namun, katanya, berdasarkan informasi angin berhembus cukup kencang dan berubah arah menyebabkan api menjalar ke puncak. Ia menyampaikan sekitar pukul 21.15 WIB tim BPBD Kabupaten Magelang menuju lokasi kebakaran. Dan wisatawan pendaki diminta meningkatkan kewaspadaanya.

Gunung Ringgit

Kebakaran di Gunung Ringgit, Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo belum bisa dipadamkan. Kebakaran selama 3 hari sudah menghabiskan 90 persen hutan dan lahan (hutla) di lokasi tersebut. “Kebakaran di Ringgit ini terparah sejak 2009. 2009 hanya terbakar di pucuknya. Namun tahun ini hingga siang ini sudah 90 persen lahan terbakar,” kata Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Hidayat.

Menurut Hidayat, kebakaran di Ringgit kali ini berasal dari Pal atau tapal batas antara Ringgit dan Gunung Welirang. “Dari Pal menyebar ke Welirang, ke Arjuno dan ke Ringgit,” terang Hidayat.

Medan kebakaran di Ringgit sangat sulit dijangkau karena tebing curam. Hal itu menjadi kendala terbesar pemadaman. Pemadaman, kata dia, seharusnya difokuskan untuk menyelamatkan lahan yang tersisa. “Lokasi sangat curam sehingga nggak bisa dijangkau. Yang tersisa ini harus diselamatkan,” terangnya

Kebakaran di Ringgit ini menyebabkan pipa saluran air dari gunung ke pemukiman terganggu. Selain itu, banyak satwa mati. “Banyak satwa yang terbakar, kera dan rusa. Banyak juga yang naik dan turun untuk menyelamatkan diri. (Saluran) air juga tak berjalan lancar,” kata Nuroso Adi, Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Arjuno.

Titik kebakaran di Ringgit ini tersebar di Kelurahan Ledug dan Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen. Api masih berkobar di sejumlah titik dan terus melebar. Angin cukup kencang membuat api cepat meludeskan semak belukar dan pohon.

Gunung Ringgit merupakan salah satu gunung yang berada di gugusan Arjuno-Welirang. Di kompleks ini selain Gunung Ringgit juga terdapat Gunung Kembar Satu dan Dua serta Gunung Lincing. Masyarakat sering juga menyebut Bukit Ringgit, Bukit Kembar Satu dan Dua serta Bukit Lincing. (ndy/ant)

Festival Lereng Telomoyo Lahir dari Kegalauan Anak Desa

this formate

UNGARAN, bisniswisata.co.id: Festival Lereng Telomoyo 2019, sukses digelar. Festival digelar di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan Ungaran Jawa Tengah, berlangsung dua hari, Sabtu (12/10) dan Ahad (13/10) , yang diikuti 17 penampil dengan berbagai background kesenian, mulai seni tari, teater, hingga musik.

“Festival Lereng Telomoyo merupakan sarana untuk para pegiat kesenian. Pada even pertama hanya untuk lokal Desa Menari di dusun tawon, namun festival tahun ini diikuti sanggar dari Kabupaten Semarang, Salatiga, dan Magelang,” ungkap Trisno penggagas Festival Lereng Telemoyo.

Lahirnya Festival ini, bermula dari keprihatinan anak muda desa yang meninggalkan kearifan lokal dalam pengelolaan mata pencarian utama yakni pertanian dan peternakan di lereng gunung Telomoyo, tepatnya di Dusun Tanon membuat Trisno tergerak mengamalkan ilmu yang sudah ia dapatkan di perguruan tinggi untuk bisa berbuat lebih mengembangkan potensi desanya.

Menurutnya selama ini untuk pertanian dan peternakan di desanya sudah kehilangan regenerasi sehingga kearifan lokal dalam setiap aspek mulai memudar. “Saya miris prihatin banyak daerah yang ditinggalkan anak-anak mudanya dan ketika sebuah daerah ditinggalkan oleh energi mudanya maka pembangunan dari berbagai aspek akan mundur,” kata penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2015 untuk kategori Lingkungan.

Karena itu, Trisno ingin mengubah cara pandang pemuda dan warga dengan pendekatan wisata, karena menurutnya dengan wisata pintu masuk yang efektif dalam melakukan konservasi dengan fokus membuat laboratorium sosial berkonsep pemberdayaan.

“Dengan pendekatan wisata, jalan mulai terbuka dan tahun 2012 warga komitmen lebih terbuka dengan wisata. Konservasi yang sudah jalan adalah kesenian lokal dan dolanan tradisional sedang profesi petani peternak pelan-pelan dijalankan,” ucapnya seperti dilansir laman SuaraMerdeka, Ahad (13/10/2019).

Dengan kegiatan wisata ini, ingin anak-anak muda desanya aktif menjaga kearifan lokal sehingga bisa mengembangkan konservasi desa. Ke depan akan diinisiasi membuat taruna tani untuk fokus agar anak muda bertani dan berternak. “Kami mendorong anak muda kalau bertani tidak mesti mencangkul, berternak tidak harus masuk kandang tetapi membantu orangtua mereka memperoleh akses pasar dan membuat komunitas yang membuka ruang di pertanian dan peternakan,”.

Sejauh ini indikator dari suksesnya konservasi yang sudah dilakukan Trisno adalah meningkatnya wawasan dan kapasitas warga serta membaiknya tata kelola. Sehingga banyak anak-anak muda yang mau kembali ke kampung halamannya untuk mencintai profesi orangtuanya dan merawat kearifan lokal.

Tak hanya itu, dari aspek pembangunan SDM adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan serta menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan warga desa setiap bulannya bisa melaksanakan kegiatan sosial pengobatan gratis sebagai upaya menyengkuyung saling tolong menolong. “Pertumbuhanya bukan statistik nominal finansialnya tapi perubahan kapasitas SDM yang kita harapkan,” tuturnya.

Berkat inisiasinya mengembangkan potensi desa melalui lingkungan dan kearifan lokal, secara ekonomi warga mendapatkan pertumbuhan antara 5 sampai 10 persen dari profesi asli mereka sebagai petani dan peternak. Dan setiap tahunnya ada kunjungan 1.500 sampai 3.000 orang. “mereka ada tambahan sebagai pemandu wisata, rumahnya dijadikan sebagai homestay dan ada yang jualan di pasar rakyat ini kenaikannya setelah 2015,” katanya.

Disisi lain Trisno menilai Telomoyo memiliki akar kesenian dan kebudayaan yang kuat, terutama untuk tarian. Dia mencontohkan, tari asal Tanon seperti Tari Lembu Tanon dan Geculan Bocah. Sementara yang dari daerah lain adalah Rodatin, Ngoser, Gemah Ripah, Kidung Singgah Sikoro, dan Sekar Mayang.

Dalam Festival Lereng Telomoyo 2019, terdapat empat panggung. Yakni panggung utama, dua panggung supporting, dan panggung yang berada di Pasar Srawung. “Pasar Srawung adalah pasar tradisional di Dusun Tanon yang menjadi area srawung atau interaksi. Ini sangat menarik karena di pasar tersebut kita belajar memanusiakan manusia dalam komunikasi yang setara dan mutualisme,” paparnya.

Dia menargetkan dalam dua hari penyelenggaraan ada 3000 pengunjung. Menurut Kang Tris jumlah tersebut berasal dari wisatawan dan fans setiap sanggar yang datang secara mandiri. Saat ini kemajuan teknologi sangat pesat dan tidak bisa ditolak. Sehingga, yang bisa dilakukan adalah melakukan penyelarasan teknologi dengan kearifan lokal. Tujuannya agar manusia era modern tidak tercerabut dadi akarnya. “Dan salah satu caranya adalah dengan tarian ini,” paparnya. (ndy)

Majukan Wisata Museum, Dialokasikan Anggaran Rp 129 Miliar

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah telah mengalokasian dana sebesar Rp129 miliar untuk wisata museum. “Sudah ada dana alokasi khusus (DAK) untuk museum. Dana bisa digunakan untuk program museum serta pelayanan publik,” kata Muhadjir dalam acara Puncak Peringatan Hari Museum Indonesia 2019 di Taman Fatahillah Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu.

Puncak Peringatan Hari Museum Indonesia ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Museum Enjoy Jakarta yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan Dinas Pariwi-sata dan Kebudayaan DKI Jakarta yang bertema Museum menyatukan keberagaman.

Muhadjir mengatakan museum merupakan simbol peradaban suatu bangsa yang harus di rawat. “Semakin kita peduli, semakin merawat, semakin meningkatkan kapasitas fungsi dari museum berarti bangsa itu juga akan makin tinggi tingkat peradab­annya,” lontar menteri seperti diunduh laman MediaIndonesia, Ahad (13/10/2019).

Kepala Seksi Pengembangan Museum Direktorat Pelestari­an Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Safei mengungkapkan pengunjung yang datang ke peringatan Hari Museum Indonesia 2019 yang diikuti 61 stan museum pada hari pertama hingga terakhir mencapai 20 ribu orang. “Makin ke sini pengunjung semakin banyak. Masyarakat mulai mengunjungi museum karena program atau kegiat-annya semakin menarik,” kata Safei, kemarin.

Pemandu Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Suseno, mengungkapkan antusiasme masyarakat yang berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari penjualan tiket per harinya. “Setiap Selasa sampai Kamis rata-rata hampir 700-800 pengun­jung yang datang. Kalau Jumat sampai Minggu, bisa sampai 2.000 sampai 2.500 tiket,” tutur Suseno.

Pengunjung tidak hanya melihat koleksi yang dipamerkan, tapi juga berswafoto dengan latar belakang bangun­an museum yang merupakan peninggalan zaman Belanda. Pihak museum pun melengkapi fasilitas dengan menyediakan tempat khusus untuk swafoto dan charger bagi pengunjung. Koleksi museum selain diorama selalu diganti setiap tahunnya agar pengunjung tidak merasa bosan.

Kondisi museum di daerah tidak seperti di kota. Stan Museum Prabu Siliwangi di acara Hari Museum selalu ramai pengunjung. Faktanya, Museum Prabu Siliwangi yang terletak di Sumedang justru tidak banyak diminati masyarakat di daerah. Pengelola museum Irwan mengharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada museum-museum yang berada di daerah.

“Bagi kami, inginnya itu keadilan, jangan berfokus pada museum yang ada di kota-kota besar, tapi museum yang di daerah juga diangkat. Agenda-agenda ke daerah tolong di-tingkatkan,” tutur Irwan.

Kurator Koleksi Museum Benteng Vredeburg Jauhari Chusbiantoro berharap ke depan pemerintah dapat memberikan perhatian lebih bagi museum dengan meningkatkan pelatihan sumber daya manusia (SDM) di museum. “Kalau SDM bagus sesuai dengan kebutuhan museum, pengunjung nantinya juga akan meningkat,” jelas Jauhari. (ndy)

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Jadi Lebaran Pecinta Kopi

this formate

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id: FESTIVAL Ngopi Sepuluh Ewu (Ngopi Sepuluh Ribu) kembali menyedot animo ribuan orang untuk datang ke Desa Adat Kemiren, Banyuwangi, Sabtu (12/10) malam. Acara yang sudah memasuki tahun ketujuh ini tak ubahnya menjadi lebarannya para pecinta kopi Banyuwangi.

“Kalau sekadar mau ngopi khas Banyuwangi, banyak kok kafe yang menyediakannya sekarang. Tapi, beda dengan ngopi di sini,” ujar salah satu pengunjung asal Surabaya, Umam, yang mengaku sudah tiga tahun terakhir datang di acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini.

“Ini seperti lebaran. Kita bisa bersilaturahmi. Bertemu dengan teman-teman sesama pecinta kopi. Ngobrol macem-macem. Melepas kangen,” imbuh lelaki yang pernah KKN di Banyuwangi saat kuliah itu.

Tradisi ngopi di Desa Kemiren memang tak sebatas menikmati seduhan biji kopi. Namun, ada pesan filosofis yang terkandung dalam tiap cangkirnya. Dengan secangkir kopi, bisa menyatukan beragam perbedaan serta merekatkan tali persaudaraan.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini dihadiri oleh Direktur Jendral Otonomi Daerah Kementrian Dalam Negeri Akmal Malik. Ia erkesan dengan festival yang digelar warga Kemiren secara swadaya. “Di Banyuwangi ini terasa keguyuban warganya. Mulai Gandrung Sewu hingga Festival Ngopi warga gotong royong untuk memajukan daerahnya lewat atraksinya. Pancasila hadir sesungguhnya di Banyuwangi ini,” ungkap Akmal.

Festival Ngopi Sewu digelar swadaya oleh warga Desa Kemiren. Ini sebagai bentuk penghormatan warga kepada para pengunjung dengan menyuguhkan kopi yang telah menjadi budaya warga Kemiren.

Untuk mempersiapkan 10 ribu cangkir kopi, warga Kemiren menyiapkan tak kurang dari 350 kg bubuk kopi khas Banyuwangi. Ada beragam varian yang disajikan mulai dari arabica, robusta hingga house blend. “Spirit semacam inilah yang perlu dicontoh oleh daerah lain untuk membangun daerahnya,” tuturnya

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga mengapresiasi kegiatan yang merupakan bagian dari kegotongroyongan masyarakat. Semuanya disiapkan dan dirancang oleh warga Kemiren. Partisipasi publik yang tinggi dalam mempersiapkan festival, tambah Anas, bisa mendongkrak berbagai sektor lainnya. Terutama ekonomi kreatif yang sedang bergeliat di desa tersebut.

“Acara ini menjadi cara untuk mengundang orang datang ke sini. Sebagai desa wisata, kedatangan orang ke Kemiren menjadi sesuatu yang penting untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif yang sedang tumbuh di sini. Seperti kuliner, batik, seni pertunjukan hingga penginapan,” ujar Anas seperti dilansir laman MediaIndonesia, Ahad (13/10/2019).

Sesepuh adat Desa Kemiren, Suhailik, menjelaskan warga Kemiren memiliki falsafah lungguh, suguh dan gupuh dalam menghormati. Ngopi Sepuluh Ewu sangat menggambarkan falsafah yang dipegang warga. Lungguh, papar Suhailik, adalah menyiapkan tempat. Sedangkan suguh adalah menyajikan hidangan. Adapun gupuh adalah kesigapan tuan rumah dalam menyambut tamu tersebut.

“Kita siapkan tempat duduk di sepanjang teras warga sebagai bagian dari lungguh. Kita juga siapkan kopi dan beragam jajanan tradisional sebagai suguh. Serta kita berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik sebagai bentuk dari gupuh kita,” ujarnya.

Di tengah ribuan pengunjung dari berbagai kota di Indonesia, hadir pula Bupati Gresik Sambari Halim hingga musisi Indra Lesmana. Mereka berbaur bersama masyarakat menikmati seduhan kopi Banyuwangi.

Hadirnya ribuan tamu wisatawan ini, Suhailik berharap mereka bisa menjadi saudara bagi warga kemiren. “Dengan ngopi bareng di sini, kami ingin mereka menjadi saudara bagi kami. Karena kami punya semboyan, Sak Corot Dadi Sakduluran – Menyeduh Bersama maka Kita Bersaudara,” pungkasnya. (ndy/MI)

Bandara Lampung Didukung Transportasi Kereta Api

this formate

BANDARLAMPUNG, bisniswisata.co.id: Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan sedang menyiapkan pembangunan kereta api (KA) menuju Bandara Radin Inten II. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan transportasi dari dan menuju bandara di Lampung.

“Untuk kereta bandara Lampung akan dikembangkan paling lambat 2021. Memang, Dengan adanya KA bandara, akan mempersingkat waktu tempuh penumpang dari Bandar Lampung ke Radin Inten” papar Menhub Budi Karya Sumadi seperti dilansir laman Republika, Ahad (13/10/2019).

Dilanjutan, jarak tempuh untuk rute tersebut selama satu jam diharapkan bisa kurang dengan adanya KA bandara. Meskipun begitu, Budi menuturkan untuk menyiapkan pembangunan KA bandara di Lampung harus melalui beberapa proses terlebih dahulu. Budi mengatakan salah satunya masih menunggu rolling stock dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dapat memberi usulan bagi pengembangan prasarana transportasi di daerah lain juga. Budi mengatakan yang dapat dikembangkan lebih lanjut seperti Bandara Mohammad Taufik Kiemas (Pekon Serai, Krui, Pesisir Barat Lampung) atau Bandara Gatot Subroto, Way Kanan, Lampung.

Saat ini, pengelolaan Bandara Radin Inten II Lampung sudah diberikan kepada PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) dengan skema pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN). Dengan kerja sama tersebut diharapkan nantinya kinerja pengelolaan bandara tersebut lebih meningkat.

Pengembangan Bandara Radin Inten II, Lampung agar layanan penerbangan dapat maksimal. Bandara tersebut saat ini masih dikelola Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan dan rencananya akan segera dikelola PT Angkasa Pura (AP) II (Persero).

AP II memprediksi pengembangan Bandara Radin Inten II mencapai Rp 467 miliar untuk jangka waktu 30 tahun. Beberapa pengembangan yang akan dilakukan seperti infrastruktur pendukung operasional. “Pengembangan ini bisa seperti perluasan dan renovasi gedung kargo, pengembangan gardu listrik khusus, pembangunan akses jalan, pembangunan gedung operasional CCR dan power quality, serta fasilitas pendukung lainnya,” jelas Awaluddin.

Untuk itu, AP II bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Lampung. Dia mengatakan AP II dan Pemerintah Provinsi Lampung akan melakukan kerja sama pemanfaatan lahan milik pemerintah daerah. Bandara Radin Inten II dilengkapi dengan landasan pacu berdimensi 2.770 meter dengan luas apron mencapai 43.600 meter persegi. Sarana tersebut untuk mengakomodir delapan parking stand pesawat.

Dengan memiliki luas terminal 9.650 meter persegi, Bandara Radin Inten II mampu menampung 3,7 juta penumpang pertahun dengan pergerakan penumpang mencapai lebih dari 2,6 juta penumpang per tahunnya. Tercatat pada tahun 2018 pergerakan kargo sebesar 5.859 ton per tahun. (ndy/Republika)

Overtourism Menghantui Hanoi

this formate

HANOI, bisniswisata.co.id: Fenomena overtourism kembali menghantui sebuah destinasi wisata, kali ini Pemerintah Kota Hanoi Vietnam harus bertindak menutup kawasan pertokoan terkenal di sana karena mempertimbangkan faktor keselamatan. Sebuah kawasan yang dikenal dengan nama train street, di mana kereta berseliweran hanya beberapa meter dari pintu depannya, akhirnya ditutup karena wisatawan yang berkunjung terlalu padat.

Mengutip CNN Travel, Ahad (13/10), pada tanggal 6 Oktober 2019 sebuah kereta terpaksa ‘putar balik’ karena jalur kereta yang dibangun Prancis tahun 1902 itu penuh wisatawan. “Train street memang sudah lama menjadi daya tarik wisatawan, namun sebenarnya itu melanggar beberapa peraturan,” ujar Ha Van Sieu, seorang pejabat di Kementerian Pariwisata Vietnam.

Sayangnya ia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang peraturan tersebut, namun perihal padatnya kawasan tersebut yang kerap mengganggu jadwal kereta api memang sudah lama menjadi masalah di Hanoi.

Warga Hanoi juga banyak berpendapat jika train street perlu mendapat perhatian terkait keselamatan para pengunjungnya. Seorang penulis yang berdomisili di Vietnam, Dave Fox, mengatakan overtourism adalah istilah baru untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lama terjadi dan cenderung diabaikan. “Wisatawan perlu lebih perhatian terhadap tempat yang ingin ditujunya,” ujar Dave.

Ketika overtourism terjadi, ia menambahkan, destinasi tersebut akan lebih ‘kewalahan’ untuk mengatasi masalahnya. Menurutnya mengontrol pengunjung adalah salah satu masalah di industri pariwisata, khususnya di Asia. Hal ini nantinya akan berimbas pada citra buruk destinasi tersebut di media sosial.

Sebelumnya, isu overtourism juga melanda Indonesia tepatnya di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Pemerintah mempertimbangkan untuk menutup Pulau Komodo, namun ada juga yang mengusulkan untuk membatasi akses ke Pulau Komodo dengan cara menaikkan tarif masuk. Tak hanya di Indonesia, Maya Bay di Thailand atau Boracay di Filipina juga mengalami kondisi yang sama terkait overtourism.(ndy/CNN Travel)

Studi: Bahagia itu Ternyata Liburan Bukan Menikah

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi banyak perempuan, menikah bisa jadi hal yang paling didambakan dan membahagiakan dalam hidup. Kenyataannya, menurut sebuah survei terbaru ada hal yang dianggap lebih membahagiakan dibanding pernikahan.

Studi yang dilakukan oleh Booking.com, mengungkapkan untuk beberapa orang, liburan ternyata jauh lebih membahagiakan dibanding peristiwa penting lainnya dalam hidup seperti menikah atau punya anak. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa orang-orang kini sangat menghargai liburan sehingga hal ini bisa menduduki peringkat teratas tentang hal-hal yang membuat mereka paling bahagia dalam hidup.

Sekitar 49 persen responden mengatakan bahwa mereka merasa lebih bahagia saat merencanakan pergi liburan dibanding merencanakan pernikahan. Hampir dari setengah orang yang diwawancara mengungkapkan bahwa perasaan bahagia saat kencan dengan pasangan tak membuat mereka bahagia-bahagia amat.

Sekitar 45 persen menyatakan bahwa bertunangan dengan kekasih ternyata tak memberi mereka banyak dorongan emosional positif seperti sat liburan. Tak cuma itu, penelitian ternyata menyebutkan bahwa 29 persen responden mengungkapkan, pergi traveling jauh lebih membahagiakan dibanding punya anak.

Mengutip Brightside, Ahad (13/10/2019) berikut beberapa alasannya.

Traveling memberi Anda kebahagiaan instan
Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara kepada 17 ribu orang di 17 ribu negara. Responden mengonfirmasi bahwa sangat sedikit hal yang bisa menggantikan bahagianya pergi liburan. Penelitian juga mengungkapkan bahwa 77 persen mengatakan bahwa mereka memesan liburan ketika mereka perlu mencerahkan suasana hati.

Membeli barang tak bisa beri rasa bahagia yang tinggi

Studi menyebut bahwa manusia saat ini ternyata lebih menghargai punya pengalaman baru dibanding punya materi baru atau barang baru. Sekitar 70 persen responden mengatakan bahwa pergi liburan bisa memberi mereka kepuasan dalam tingkat tinggi jauh dibandingkan kebahagiaan yang mereka dapat dari membeli barang. Sekitar 56 persen responden lebih memilih untuk berlibur dibanding membeli pakaian atau gadget baru. Sedangkan 48 persen lainnya menunda perbaikan rumah demi bisa liburan ke tempat-tempat baru.

Rencanakan liburan meningkatkan kebahagiaan emosional

Sekitar 72 persen responden mengaku, merencanakan liburan bisa membuat mereka lebih bahagia. Sekitar 80 persen lainnya merasa lebih bersemangat ketika hanya melihat peta dan memilih tempat yang bakal dikunjungi. Namun tak ada yang bisa mengalahkan perasaan bahagia saat membayangkan akan pergi belanja untuk liburan. Lebih dari separuh responden mengklaim bahwa mereka membeli pakaian untuk liburan adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. (ndy/Brightside)