JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di Jawa lebih mengenal Batik. Di Sumatra Utara ada Ulos. Di Nusa Tenggara Timur ada tenun. Dan di Lampung ada Kain Tapis. Dulu, kain Tapis merupakan pakaian wanita suku Lampung. Kini, sudah menjadi souvenir bahkan menjadi daya tarik desainer untuk dikembangkan bahkan dikenalkan ke penjuru dunia. Hal ini dilakukan Desainer Wignyo Rahadi.
Setelah merambah sejumlah negara Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Rusia, akhir September 2019 Desainer Wignyo Rahadi menjelajah pasar Eropa. Dengan menghadirkan koleksi bertema “Rising Tapis” dalam ajang fashion show skala intemasional La Mode Sur La Seine a Paris, yang berlangsung di Kota Paris, Perancis, kain Tapis karya Desainer Wignyo Rahadi berhasil memukau warga Kota Mode ini.
Peragaan busana digelar di atas Kapal Pesiar Boreas, dengan menyusuri Sungai Seine berkeliling Kota Paris. Di atas kapal yang dihadiri oleh buyer dan media internasional, koleksi Wignyo Rahadi bertajuk “Rising Tapis” mampu memikat para buyers.
“Dengan mengangkat Tapis, saya berharap Tapis sebagai salah satu dari keragaman kain Nusantara yang patut dikembangkan, dapat dikenal secara internasional. Hal ini sejalan dengan acara La Mode Sur La Seine a Paris yang bertujuan untuk mempromosikan karya desainer Indonesia di pasar global, melalui Eropa yang memiliki pengaruh besar terhadap industri fashion dunia,” ungkap desainer Wignyo dalam keterangan resminya, Selasa (15/10/2019).
Hasil rancangan dengan bahan kain Tapis merupakan teknik pengaplikasian benang metalik emas atau perak di atas kain tenun dengan cara sulam, yang mana menjadi salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang umumnya dikenakan para wanita setempat sebagai sarung Wignyo mencoba mengaplikasikan Tapis pada gaya busana modern sesuai segmen pasar Eropa yang dituju.
“Konsep koleksi “Rising Tapis” berfokus pada pengaplikasian Tapis benang emas secara penuh dan mendetail di atas kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang dikombinasikan dengan tenun full bintik, khususnya pada desain outer berupa jaket dan cape,” tambahnya.
KoIeksi pemilik brand Tenun Gaya itu terdiri dari jaket, cape, dress, rok, dan celana cullote yang menggunakan perpaduan material kain Tapis dan tenun ATBM dengan berbagai teknik seperti full bintik, patchwork, dan benang putus. “Warna-warna musim gugur seperti hijau olive, marun, dan emas, mendominasi koleksi ini yang memberikan kesan mewah dan elegan,” tutupnya.
Menurut data, Kain Tapis terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sudi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam. Bahan yang digunakan adalah kain sanwos atau tenun, benang katun dan benang emas atau perak, pembidang.
Kain Tapis ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora fauna yang disulam dengan benang emas dan berbentuk perak. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup.
Di daerah Lampung Utara, Tapis dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat. Dan juga biasa dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin. Kerajinan kain Tapis ini dibuat memakai alat tenun bukan mesin dengan ragam hias yang bermacam-macam.
Pembuatan Tapis ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan cara pembuatannya sudah disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Untuk sebuah kain termasuk kain yang cukup berat karena banyak jalinan benang yang melintas di kainnya. Semakin padat pembuatan coraknya, maka harganya semakin mahal. (redaksi@bisniswisata.co.id)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hobi jalan-jalan ke berbagai destinasi hingga penjuru dunia sudah dijelajahi Nadine Chandrawinata. Namun ada destinasi favorite yang dibangakan selama kunjungan. Destinasi itu adalah Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagi perempuan pegiat lingkungan ini memilih Sumba karena memiliki cerita tersendiri, ada rasa bangga kunjungi Sumba juga Sumba luar biasa dibandingkan destinasi lainnya.
“Sumba selalu jadi favoritku. Aku sudah empat kali datang ke Sumba, nggak pernah bosan dan aku suka banget Sumba,” lontar perempuan kelahiran Hannover Jerman 8 Mei 1984, yang pernah menjadi presenter “My Trip My Adventure”.
Di sejumlah perkampungan di Sumba, menurut Puteri Indonesia 2005 itu, memiliki filosofi, kebudayaan, ritual, dan semua punya cerita masing-masing. “Setiap kain, alat musik, dan semua yang ada di sini punya cerita,” kata Nadine yang pernah mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2006 di dan meraih juara kedua untuk Budaya Nasional Terbaik dan Putri Persahabatan.
Selain itu, Nadine kerap bercengkrama dengan anak-anak di tempat yang dia datangi. Salah satunya di Desa Adat Ratenggaro, Umbu Ngedo, Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. “Jika datang ke Sumba, jangan memikirkan oleh-oleh apa yang bisa dibawa pulang. Sebaliknya, wisatawan sebaiknya membawa sesuatu untuk masyarakat di Sumba,” pesan Nadine seperti diunduh laman Tempo, Selasa (15/10/2019),
Bagi anak-anak desa di Sumba misalnya, mereka senang jika bisa mendapatkan sekadar buah tangan dari wisatawan yang datang.”Bawalah biskuit, permen, cokelat, atau buku cerita yang bermanfaat buat mereka,” ungkap istri aktor Dimas Anggara.
Duta Wisata Bahari tahun 2017, usai travelling di Sumba selalu mengunggah fotonya ke akun Instagram pribadinya dan berbagai aktifitas wisata yang bisa dilakukan di Sumba antara lain mendatangi Kampung Adat Praijing, Sumba Barat yang udaranya segar, bersih dan menikmati aktifitas warga desa yang unik dan menarik. Juga menjelajahi Danau Weekuri, Nusa Tenggara Timur, yang suasananya tenang dan bisa membuat suasana hati jadi damai. (ndy/Tempo)
ANAMBAS KEPRI, bisniswisata.co.id: Anambas Provinsi Kepulaun Riau (Kepri), adalah satu pulau paling utara di Indonesia yang berdekatan dengan Malayasia dan Singapura. Anambas juga dikenal sebagai surga tropis dengan wisata bahari yang sangat menakjubkan. Kini wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) semakin mudah berwisata di Anambas. Pasalnya Anambas memiliki bandara baru, Bandara Letung.
Peresmian bandara tersebut langsung dilakukan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi., Senin (14/10/2019). Kehadiran Bandar Udara Letung diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan potensi pariwisata, yang ada di Kepualauan Anambas, salah satu pulau terluar Indonesia. Selain itu, Kepulauan Anambas ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Laut Nasional.
“Kepulauan Anambas merupakan destinasi wisata yang sangat indah, dengan adanya Bandara Letung dapat menunjang potensi-potensi tersebut dengan mendatangkan banyak turis asing maupun lokal,” ucap Budi Karya dalam keterangannya seperti dilansir laman Tempo, Selasa (15/10/2019)
Dilanjutkan, pembangunan Bandara Letung merupakan wujud nyata dari kehadiran pemerintah dalam mewujudkan konektivitas dan pembangunan infrastruktur yang Indonesia sentris. “Pemerintah melihat pentingnya konektivitas, apalagi Kepulauan Anambas ini terletak di utara Indonesia yang wilayahnya 96 persen merupakan lautan. Dengan adanya Bandara Letung ini merupakan wujud nyata pemerintah hadir bagi masyarakat dalam pembangunan yang Indonesia sentris,”
Dalam beberapa jangka waktu ke depan, Bandara Letung akan terus dikembangkan, “Pada 2021 nanti direncanakan akan dilakukan pengembangan. Runway akan diperpanjang hingga 1.600 meter sehingga segala jenis pesawat ATR dapat mendarat,” kata Menhub Budi Karya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti menjelaskan Kemenhub menginvestasikan hingga Rp200 miliar untuk membangun Bandara Letung. Investasi dilakukan secara bertahap sejak 2014 hingga 2017.
Investasi ini merupakan bagian dari menyambung konektivitas wilayah terdepan dan terpencil di Indonesia. Spesifikasi Bandara Letung yang terletak di Pulau Jemaja, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas. Bandara Anambas mempunyai panjang landas pacu atau runway 1.400 meter x 30 meter, taxiway 125 meter x 15 meter dan apron 125 meter x 70 meter yang mampu memuat 3 pesawat ATR sekaligus.
Landas pacu ini dapat menampung pesawat jensi ATR 72-500 dan sudah diterbangi sepekan 5 kali oleh Wings Air. Dia mencatat empat penerbangan Wings Air Bandara Letung–Bandara Hang Nadim, Batam serta satu penerbangan Bandara Letung–Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang.
Bandara dibangun di atas lahan seluas 136 hektre memiliki terminal seluas 600 meter persegi. Pulau Letung merupakan salah satu pulau terdepan yang berbatasan dengan negara Singapura dan Malaysia, tambahnya sambil menambahkan bandara ini merupakan salah satu dari 15 bandara baru yang dibangun Kemenhub dalam kurun waktu 2015-2019.
Pelaksana Tugas Gubernur Kepulauan Riau, Isdianto mengatakan dengan adanya Bandara Letung, dapat mempersingkat jarak tempuh ke Kepulauan Anambas, yang biasanya harus menggunakan moda transportasi kapal laut. Saat ini Wings Air sudah melayani penerbangan komersil ke Bandara Letung, dari Batam (4x seminggu) dan dari Tanjung Pinang (1x seminggu).
“Sekarang dengan adanya Bandara Letung yang terkoneksi dengan Batam dan Tanjung Pinang, masyarakat bisa lebih cepat sampai. Sebelumnya butuh berjam-jam dengan menggunakan kapal laut. Untuk itu saya berterima kasih kepada Kementerian Perhubungan dengan dibangunnya Bandara Letung ini,” ujar Isdianto. (ndy/Tempo)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi mereka yang suka wisata kuliner dan mencoba menu-menu baru, singgah dan nikmati hidangan ala Basque Country, sebuah daerah otonom di utara Spanyol sambil berinteraksi dengan Chef Oskar Urzelai.
Pria kelahiran Deba Guipuzcoa, Spanyol ini sudah malang melintang sebagai chef di sejumlah hotel berbintang di mancanegara. Kiprahnya di Indonesia sempat bergabung di Hotel Melia Bali Villas and Spa Resort tahun 2004 serta di Grand Melia Jakarta sebagai Executive Sous Chef tahun 2010.
Kini, pria yang ramah dan melayani tamu sepenuh hati membuka restoran Txoko (dibaca Cho-ko) yang artinya sudut yang nyaman di Jl Suryo, kawasan Senopati, Kebayoran Baru tepatnya di sisi kanan setelah bunderan Senopati.
Pilihan lokasi yang tepat karena bertetangga dengan Sudirman Central Business Districk ( SCBD) yang dipenuhi dengan gedung-gedung perkantoran menjulang tinggi. Hidangan ala Basque Country cocok disajikan untuk menjamu tamu-tamu VIP perkantoran mewah itu.
Bukan saja karena menu unik Basque Country yang terletak di Spanyol Utara dan Barat Daya Prancis, tapi juga keramah tamahan dari chef Oskar yang dibesarkan di Teluk Biscay yang kaya hidangan laut dan lekat dengan kehidupan di pegunungan Pyrenees Barat.
Saat menjamu kalangan pers, koki yang memiliki spesialisasi masakan tradisional Spanyol ini menampilkan sedikitnya 10 menu dengan nama-nama yang panjang meski porsinya small namun disajikan penuh penataan yang indah.
Aneka hidangan laut di Txoko yang unik
Makan tengah alias sharing hidangan bersama teman-teman cukup seru mulai dari Grandma’s recipe Basque seafood soup, fried potatoes with spicy tomato and foamy alioli, beef striploin salad with popcorn and black sesame dressing, marinated salmon with avocado foam and mustard ice cream.
Ada juga artichokes with clams, garlic prawn pret a porter, vegetarian red carpaccio, grilled octopus with boletus cream dan black rassejat alias mie seafood with alioli sauce dan ditutup dessert AppleTatin Pays Basque.
“Kami ingin menghadirkan sebagian kecil dari Basque Country dan menawarkan makanan Spanyol yang otentik dan unik di Jakarta. Selain makanan, kami juga ingin orang-orang yang datang ke sini menikmati tempat ini dan bersenang-senang dengan keluarga dan teman,” ujar chef Oskar Urzelai.
Kesungguhannya memberikan pelayanan prima dan menanyakan langsung hasil racikannya pada para tamu jelas menunjukkan sikap perfeksionisnya. Di tambah lagi di kiri pintu masuk para tamu dapat melihat dapur terbuka dengan ubin berwarna biru dimana Oskar dan timnya menyiapkan makanan lezat.
Restoran ini menghadirkan suasana yang berbeda dan unik dengan mengusung suasana Mediterania yang segar, ceria dan cerah. Adanya mural dan interior menarik membuat restoran ini memiliki banyak spot untuk berfoto yang Instagramable.
Pemilihan warna kursi dan dinding berwarna-warni yang dikelilingi oleh kaca dan cermin untuk efek pencahayaan yang lebih terang membuat tamu merasa nyaman. Resto ini memiliki dua lantai yaitu lantai dasar dengan kapasitas 40 orang dan lantai atas 67 orang.
” Kami buka Senin-Sabtu mulai jam 8 pagi hingga midnight dan Minggu mukai jam 11.00-17.00, ada ruang private untuk 16-18 orang dan bisa dibuat set menu secara khusus,” ungkap Oskar.
Biaya untuk makan berdua berkisar Rp 400 ribu tidak termasuk minuman beralkohol karena di Txoko menyediakan sedikitnya 50 minuman anggur dari Spanyol, Prancis, Australia, Chli, Argentina dan Amerika Serikat.
Oskar berharap restorannya menjadi pilihan merayakan berbagai momen spesial mulai dari acara makan malam dewan direksi, mentraktir klien, pesta pertunangan serta acara personal lainnya karena lokasinya juga mudah dijangkau.
Txoko menawarkan berbagai jenis tapas dan pintxos (dibaca : pinchos), tapas ala Basque dengan topping dari berbagai macam bahan. Restorannya menggunakan bahan-bahan lokal dan impor yang berkualitas, dimasak dengan campuran teknik tradisional dan modern.
Beberapa hidangan tapas dan pintxos di restroran ini diantaranya, Beef Striploin Salad, Garlic Prawn pret-a-Porter, Vegetarian Red Carpaccio. Kami memiliki pilihan menu yang fleksibel untuk business lunch – kombinasi dari hidangan pembuka, Tapas, hidangan utama hingga hidangan penutup yang dapat memanjakan selera mitra bisnis,” jelas Oskar.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi sebagian orang, lokasi tempat duduk ketika bepergian dengan pesawat adalah hal yang sangat penting. Entah karena ingin mendapat tempat yang jarak antar bangkunya lebar, atau ingin duduk di dekat jendela bahkan sebaliknya. Satu yang pasti mereka semua ingin mendapat lokasi tempat duduk yang nyaman.
Demi mendapatkannya, tak jarang calon penumpang rela mengeluarkan uang agar bisa duduk di tempat idamannya. Padahal ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum membayar tempat duduk.
Mengutip the points guy, Senin (14/10), berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mendapatkan tempat duduk yang diinginkan saat di pesawat.
#. Ketahui tujuan
Barangkali ada yang maniak untuk duduk di dekat jendela karena beragam alasan, namun sebaiknya ketahui dulu tujuan sebelum memilih tempat duduk. Untuk tujuan yang jauh dan memiliki kemungkinan mengalami turbulensi, sebaiknya pilih tempat duduk di dekat sayap. Tapi jika jaraknya cukup dekat, maka pilihlah tempat duduk yang dekat pintu keluar.
#. Gunakan SeatGuru
SeatGuru adalah situs yang memudahkan calon penumpang untuk melihat lokasi dan jenis tempat duduk dalam sebuah maskapai. Tak hanya itu saja, di situs SeatGuru juga ada penjelasan tentang tempat duduk mana yang sebaiknya dipertimbangkan untuk dipilih oleh calon penumpang.
Lihat juga: Fragmen Sejarah Kampung Akuarium yang Terlupakan
#. Manfaatkan poin
Poin dalam kartu kredit biasanya bisa ditukar untuk menaikkan kelas tempat duduk dalam pesawat. Tak hanya kartu kredit saja, kartu anggota sebuah maskapai juga memiliki poin dengan manfaat yang sama. Tapi sebaiknya cek terlebih dahulu kartu kredit yang dimiliki, sebab tidak semua kartu kredit menawarkan program untuk travel.
#. Kooperatif saat check ini
Percaya tidak percaya, kooperatif saat check in bisa membantu dalam memilih tempat duduk di dalam pesawat. Sehingga tidak ada salahnya untuk senyum dan ramah kepada petugas di konter check in.
#. Minta tolong saat awak kabin
Jika semua cara di atas tidak membuahkan hasil, ada baiknya meminta tolong kepada awak kabin untuk membantu menukar tempat duduk dengan orang lain. Tapi ingat, ini bukan jaminan akan berjalan mulus dan jangan lupa untuk selalu sopan dalam meminta pertolongan. (*)
CAROLINA SELATAN, bisniswisata.co.id: Dunia fashion mengalami perubahan yang sangat besar dan cepat. Buktinya, gaun pengantin yang elegan dan berkesan ternyata tak cuma bisa dibuat dari bahan satin dan hiasan renda yang cantik. Namun kertas toilet yang sederhana, dapat disulap menjadi gaun-gaun pengantin yang terlihat mewah, eksklusif dan menarik perhatian.
Setiap tahun, perusahaan tisu Quilted Northern di South Carolina, Amerika, menggelar kompetisi membuat gaun pengantin dari kertas toilet. Tahun ini kompetisi tersebut memasuki tahun ke-15. Saat awal dimulai, lomba ini mewarkan hadiah sebesar 500 dollar AS. Siapa sangka ternyata peminat lomba ini sangat besar. Tahun ini saja ada 1.500 orang yang ingin berkompetisi dan juru menyaringnya hingga menjadi 12 finalis.
Setiap kontestan diwajibkan membuat kreasi baju pengantin menggunakan kertas toilet Quilted Northern, selotip, lem, dan jarum. Para juri dalam lomba ini terdiri dari desainer gaun pengantin, termasuk Laura Gawne dan Susan Bain. Selain itu ada juga editor fashion dari majalah mode, dan pembawa acara Jeremiah Brent.
Tahun ini pemenang kontes adalah Mimoza Haska yang membuat gaun unik dari kertas toilet yang diubah menjadi benang rajutan. Ia memenangkan hadiah 10.000 dollar AS. “Sejak hari pertama, kami sudah menilai setiap desain berdasarkan keindahannya, orisinalitas, kreativitas, pengerjaannya, dan pemakaian kertas toilet. Semuanya dibuat dengan sangat baik,” kata Susan Bain, salah satu juri.
Para juri sangat mengagumi kreativitas dan bakat para kontestan. Terlebih karena gaun-gaun indah itu dibuat dari kertas toilet sehingga tingkat kesulitannya sangat tinggi. Hasil kreatifitas itu berupa ekor panjang, rok penuh lapis, hiasan bunga-bunga, kerutan, korset berkilau, serta yang biasa ada di gaun-gaun pengantin karya perancang yang terbuat dari sutra dan renda ada pada gaun pernikahan yang seluruhnya dibuat dari tisu toilet dalam final Cheap Chic Weddings Toilet Paper Wedding Dress Contest.
Menurut salah satu penggagas kontes itu, Laura Gawne, kepada kantor berita Reuters, aturannya sederhana. “Mereka harus menggunakan tisu toilet Charmin apa saja dan jenis apa pun lem. Mereka juga bisa menggunakan jarum dan benang. Tanpa tutupan, tanpa Velcro, tidak ada apa-apa. Tanpa kain tambahan, tidak ada apa-apa lagi,” ucap Susan Bain, penggagas kontes yang lain.
Bain dan saudarinya, Gawne, memulai kompetisi ini untuk mempromosikan situs pernikahan mereka. Kontes yang sekarang sudah edisi kesebelas tersebut digelar bekerja sama dengan merek tisu toilet Charmin di toko gaun pengantin Kleinfeld, yang akan mengubah gaun pemenang menjadi gaun siap pakai. Sebelum pertunjukan dimulai, para perancang menyematkan sentuhan terakhir pada gaun-gaun tisu toilet mereka.
“Kami punya 4.585 kelopak bunga yang semuanya buatan tangan,” tutur Carol Touchstone, yang menjadi juara ketiga kontes dengan gaun bunga-bunganya. “Kami menggunakan selotip, lem, dan Charmin.”
Juara pertamanya adalah gaun halterneck gaya tuxedo dengan jaket yang bisa dilepas serta berhias topi tinggi dan dasi kupu-kupu karya Donna Pope Vincler. Dia butuh waktu tiga minggu, 22 gulung tisu, dan banyak selotip dan lem untuk membuatnya.
“Sungguh menakjubkan betapa kuatnya lem dan tisu. Setelah membuatnya, saya memukulnya seperti drum…. Ini sangat kuat. Saya bahkan tidak tahu berapa ada lapis. Saya hanya melakukannya sampai saya kira sudah tidak akan lepas lagi,” ujarnya, seperti dilansir kantor berita Reuters. (ndy/Reuters)
MANILA, bisniswisata.co.id: Seorang turis asal Taiwan ditangkap dan didenda hingga Rp 685.000 karena mengenakan bikini kecil dan tipis di Pantai Boracay, Filipina. Wisatawan bernama Lin Tzu Ting tengah berlibur bersama pacarnya.
Dilansir Daily Mirror, Senin (14/10/2019), Staf hotel yang melihatnya di hari pertama sempat memperingatkan turis berusia 26 tahun supaya tak lagi mengenakan bikini tipis saat hendak keluar pantai. Pasalnya, aturan baru diterapkan bagi wisatawan asing agar tak berbikin tipis saat berwisata di Pantai Boracay, Filipina
Namun Lin mengabaikan peringatan itu. Bahkan, tetap mengenakan bikini yang terlampau seksi itu untuk dua hari beruntun, hingga warga lokal melihatnya. Warga setempat melaporkan ke polisi, yang langsung merespons. Lin pun diminta berganti pakaian sebelum digelandang ke van milik kepolisian setempat.
Lin mengungkapkan, dia mengenakan bikini tipis itu merupakan “simbol seni” dan “ekspresi personal”. Sementara si pacar menyebut itu lumrah di Taiwan. Namun polisi tak menerima, sehingga Lin didenda 2.500 peso (Rp 685.000). Dia diharuskan membayar sebelum meninggalkan Pantai Boracay pada 11 Oktober.
Kepala Grup Manajemen dan Rehabilitasi Antar-lembaga Boracay (BIAMRG) Natividad Bernardino menegaskan setiap turis harus mematuhi kultur dan tradisi Filipina. “Mereka sudah diberi tahu oleh staf hotel. Namun mereka mengabaikannya. Kami mempunyai kultur sendiri sebagai masyarakat Asia dan Filipina,” tegas Bernardino.
Sementara Kepala Polisi Pulau Malay Mayor Jess Baylon berujar, pasangan turis Taiwan itu didenda karena mempertontonkan “gambar erotis”. Bikini yang dikenakan Lin hanya selembar benang, dengan pacar Lin mengatakan bahwa pasangannya itu hanya menunjukkan dia percaya diri. “Namun tradisi dan adat mereka tidak sama dengan kami. Mereka harus menghormati kebudayaan, tradisi, dan sikap pantas kami,” jelasnya.
Pasangan itu dilaporkan meninggalkan Boracay Jumat siang, dengan polisi meminta hotel dan penginapan agar tak mengulangi kejadian serupa. Artinya jangan sampai menerima wisatawan yang melanggar aturan dengan mengenakan pakaian yang tak sopan. (ndy/Daily Mirror)
BOGOR, bisniswisata.co.id: Sabtu pagi mulai jam 10.00 suasana ruang meeting di sisi kolam renang Hotel 101 Bogor penuh dengan keluarga dan kerabat dekat dari Adhi Tirtawisata, pendiri Panorama Tours & Travel yang kini menjelma menjadi perusahaan pariwisata terbesar dan terintegrasi di Indonesia.
Andri, pengemudi Gojek yang tinggal dan mangkal dekat hotel itu ikut senang karena hari itu pak Adhi Tirtawisata merayakan ulang tahun ke 87. “Rumah masa kecil beliau di seberang hotel bu, saya senang melayani tamu-tamu hotelnya karena banyak tamu keluarga yang suka kuliner jadi saya mondar-mandir terus ke hotel yang laris ini,” ujar Andri singkat.
Selain padat dengan kendaraan mobil pribadi, bis-bis Panorama dan rangkaian bunga di halaman, para petugas hotel yang membaur dengan banyaknya tamu juga melayani tamu undangan dengan senyum ketulusan.
Benar juga ucapan Andri si tukang Gojek tadi bahwa salah satu kebanggaannya menjadi tetangga hotel di kawasan Suryakencana, Babakan Pasar, Bogor, tempat Adhi Tirtawisata dibesarkan adalah para karyawannya yang helpful.
Muncul dari belakang hotel yang bertetangga dengan pemukiman rumah penduduk, seorang satpam langsung membimbing tamunya ini menuju lift dan mendampingi hingga tiba di tempat resepsi ultah.
Acara kebaktian baru saja selesai, tayangan perjalanan hidup sang tokoh dan tema perayaan ” Adhipelago” terpampang di atas panggung. Marcel, cucu pertama dari Adhi Tirtawisata yang menjadi ketua panitia perayaan ultah opanya langsung menjelaskan mengapa tema itu yang dipilihnya.
Adhi Tirtawisata menjadi ikon dunia pariwisata di Indonesia. Pionir paket City Tour Jakarta dan fokus bisnisnya ke inbound tour, mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Tidak heran kalau dia diakui sebagai pelopor pariwisata inbound di Indonesia.
“Negara kita sebagai negara kepulauan disebut Archipelago. Akar katanya adalah ‘archi’ yang berarti terpenting atau terutama, dan ‘pelagos’ berarti laut atau wilayah lautan. Saya pakai tema Adhipelago untuk menggambarkan sosok perjalanan hidup opa,” kata Marcel, cucu pertama dari 12 cucu dan 4 anak yang dimiliki Adhi Tirtawisata.
Dalam hal ini Marcel memang jenius memakai tema Adhipelago, mewujudkan satu kata untuk menunjukkan sosok kebanggaannya ini dan bukan sekedar memakai istilah plesetan. Soalnya kata Archipelago pertama kali dipakai oleh Johan Crawford dalam bukunya the history of Indian Archipelago (1820).
Lahirnya asas Archipelago mengandung pengertian bahwa pulau-pulau tersebut selalu dalam kesatuan utuh, sementara tempat unsur perairan atau lautan antara pulau-pulau berfungsi sebagai unsur penghubung dan bukan unsur pemisah.
Asas dan wawasan kepulauan ini bagi keluarga dan kerabat cocok sekali menggambarkan sosok Adhi Tirtawisata. sebagai pemersatu. “Opa Adhi kan dalam perjalanan hidupnya sangat cinta Indonesia, banyak berkeliling Indonesia, menjual paket wisata ke Indonesia pada dunia,” kata Marcel.
Adhi juga menunjukkan pada anak, mantu dan cucunya bagaimana dia memiliki beragam komunitas baik keagamaan maupun dilingkungan industri pariwisata yang tergabung dalam Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC).
Seperti kata Johan Crawford, maka sosok Adhi adalah penghubung dan bukan unsur pemisah. Dalam berbagai kesempatan dia berupaya mempersatukan semua unsur dalam silaturahmi yang erat dan saling asih, asah dan asuh.
Tak tanggung-tanggung, dalam komunitas ITSC ini dia menyatukan rekan media, teman industri dari airlines, perhotelan, travel agent, mantan pejabat pemerintah dan semua unsur pariwisata yang pernah mewarnai kehidupannya sehari- hari.
Tourism is creating from nothing to something.
Ada kalimat-kalimat yang kerap diungkapkannya berulang-ulang dalam berbagai kesempatan yaitu Tourism is creathing from nothing to something. Pariwisata itu menciptakan sesuatu yang tidak ada apa-apanya, menjadi sesuatu yang bernilai.
Lahir pada 12 Oktober 1932, Adhi Tirtawisata memiliki nama asli Thung Tjiang Kwee. Selagi muda dia punya passion mengajar dan menjadi guru SD lalu kuliah di bidang hukum karena ingin menjadi pengacara.
Sempat dua tahun menjalani profesi sebagai pengacara, namun, praktik di dunia hukum dan pengadilan yang ditemuinya banyak yang tidak sesuai dengan hati nuraninya sehingga dia beralih ke pekerjaan lain.
Sebenarnya sewaktu menjadi guru, Adhi juga jadi juragan becak karena tetangganya kepepet butuh uang dan menjual empat buah becaknya pada Adhi. Dia berharap becak itu akan mengantarnya memiliki bis-bis wisata, namun setelah menikah dengan Leony Thung dan kelahiran anak-anak, akhirnya penghasilan juragan becak sekedar menopang hidup.
Adhi mulai mengenal dunia bisnis kepariwisataan memang setahun sebelum lulus kuliah karena bekerja di sebuah perusahaan perjalanan wisata di bagian penjualan tiket pesawat.
Perjalanan hidupnya juga berubah setelah mengenal dunia pariwisata dan mengganti namanya dengan Adhi Tirtawisata untuk memenuhi seruan pemerintah bagi keturunan Tionghoa agar ganti nama dan lebih mudah bepergian ke luar negri.
Mendirikan perusahaan sendiri sejak 47 tahun yang lalu. Panorama tours & Travel melalui era 1972 sebagai masa pioneering dan banyak ditangani sendiri sebagai bisnis keluarga. Tahun 1995 mulai bertransformasi dan merekrut kalangan profesional.
Tahun 2009 di saat globalisasi melanda, bisnis Panorama sudah berbasis Information and Communication Technologies (ICT), punya jaringan internasional dan kantor perwakilan di luar negri dan banyak menggandeng mitra bisnis dari mancanegara hingga sekarang.
Bisnis Panorama group kini berkembang dengan 4 bidang utama yaitu Inbound, Travel & Leisure, Media and Transportation serta Hospitality dengan jaringan hotel dan properti lainnya.
Dia mengemukakan motto kerjanya telah ditanamkan pada empat anak laki-lakinya yaitu, Budijanto Tirtawisata, Satrijanto Tirtawisata, Dharmajanto Tirtawisata, dan Ramajanto Tirtawisata. Mereka paham motto Tourism is creating from nothing to something menuntut untuk selalu berinovasi dan berkreasi sesuai perkembangan jaman.
Tourist is a king
Tourist is a king atau Turis adalah Raja, begitu pendapat Adhi dan sejak awal berbisnis dia berupaya keras untuk menjadi pemimpin yang berkualitas dan menjadi teladan. Hal itu membutuhkan kompetensi, konsistensi, komitmen, pikiran positif, dan visi kedepan, ungkap Adhi.
Perjuangannya membesarkan perusahaan selalu dipenuhi dengan tantangan dan pilihan. Namun ia tetap tegar berdiri meski seringkali persoalan yang dihadapinya juga sulit.
Filosofi bisnis yang membuat usahanya bisa besar seperti sekarang adalah keyakinan bahwa konsumen adalah raja “Tourist is the client and the client is the king, and the king can do no wrong”. Baginya, bisnisnya adalah bisnis jasa, karena itu pelayanan adalah hal utama.
Bukan hanya menjadi filosofi atau slogan biasa. Anthony yang bekerja di maskapai Cathay Pacific (mantan klien) diawal pendirian perusahaan era 1972 -1974 ingat betul bagaimana Adhi sangat bertanggung jawab atas janji pelayanannya.
“Waktu itu kami memakai jasa Panorama untuk menjemput dan mengantar crew Cathay Pacific dari dan ke bandara. Cathay Pacific masuk ke Jakarta secara reguler via bandara Halim Perdana Kusuma,” ungkap Anthony.
Salah satu kekhawatirannya yang terbesar adalah supir kendaraan Panorama terlambat menjemput. Tapi nyatanya hal itu tidak pernah terjadi.” Tapi saya pernah lihat pak Adhi menjadi supir, menjemput sendiri para pilot dan pramugari Cathay Pacific karena supir berhalangan datang,” kata Anthony.
Dia mengaku sangat terkesan dengan komitmen Adhi Tirtawisata dan sangat yakin beliau akan sukses di bisnisnya itu dan kini terbukti kegigihan Adhi dalam membangun usaha dengan sangat total membawa perusahaannya sukses masuk lantai bursa dan terus berkembang.
Memahami berwisata harus nyaman dan aman, biasanya, sebelum membuka paket wisata baru ke kota tertentu, Adhi juga melakukan survei dahulu. Ia turun tangan sendiri dalam proses survey ini dengan menggunakan mobil dan ditemani stafnya ke berbagai kota di Jawa, Bali, dan Sumatera pernah dijelajahinya.
Adhi Tirtawisata ( tengah) bersama komunitas Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC) di hari ultahnya di Hotel 191 Bogir, Sabtu
Budi Tirtawisata, mantan bankir dan putra sulung dari empat putra Adhi Tirtawisata yang juga CEO Panorama mengatakan ayahnya sejak kecil memiliki jiwa pelayanan dan ketekunan yang membuahkan hasil sebagai perusahaan jasa pariwisata terkemuka.
Di saat papanya berusia 87 tahun, dia bangga karena sifat melayani tidak pernah luntur . Begitu pula dalam hal kerja keras, konsisten, rendah hati dan keteladanan yang ditunjukkan pada anak, mantu, cucu serta Panoramanian–sebutan untuk anggota Panorama Group yang bersepakat menjadikan Panorama menjadi milik dunia dan sebaliknya.
“Selamat ulang tahun papa, semoga panjang umur dan selalu dekat dengan anak, cucu dan keluarga besar,” kata Budi, ayah tiga anak yang sulungnya -Marcel, menjadi ketua panitia perayaan ini.
Budi bercerita walau papanya saat ini sudah banyak memandatkan tugas-tugas pokoknya di Panorama kepada empat anak laki-lakinya, namun Adhi seakan tidak ingin beristirahat. Ia tetap aktif pergi berkantor dan pulang seperti biasa setiap hari.
” Papa jam kerjanya mulai jam 9.00 pagi hingga jam 15.00 sore dan hal ini dilakukannya secara konsisten” kata Budi Tirtawisata.
Meity Robot, mantan ketua ASITA dan rekan Adhi Tirtawisata di berbagai organisasi pariwisata mengatakan pendiri Panorama ini seolah tidak tahu cara berhenti bekerja seperti teman-temannya yang sudah pensiun.
” Pak Adhi terus bekerja dan terus berfikir di usianya sekarang. Bahkan beliau mengecek langsung bidang-bidang bisnisnya sehingga tidak pikun dan terus aktif,” kata Meity yang menjadi komisaris independent PT Panorama Sentrawisata Tbk selama 12 tahun.
Menurut Meity Robot, koleganya ini juga suka menanyakan kondisi teman-temannya yang dari awal membangun bisnis pariwisata di negri ini dan yang sudah pulang ke haribaan Allah selalu di doakannya. Kalimat yang sering diucapkannya adalah “Jasamu tak pernah dilupakan.”
Tourism will never die.
Tourism will never die, pariwisata tidak ada matinya, begitulah yang kerap diungkapkan Adhi Tirtawisata. Dia selalu yakin bahwa usaha pariwisata tidak pernah dimakan jaman.
“Setiap generasi memiliki warna, situasi, dan kebutuhan yang selalu berubah. Namun, alam ciptaan Tuhan akan selalu ada. Pariwisata juga akan selalu ada ketika masih ada pergerakan dan keingintahuan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain,” jelas Adhi.
Namun usaha pariwisata tidak selalu ada karena itu pengelolanya harus selalu inovatif, kreatif dan tentunya juga memegang 4 prinsip yang berlaku buat siapa saja yaitu: 1. Rajin, 2. Jujur, 3. Setia dan ke 4. Ingat pada Tuhan.
Empat prinsip inilah yang secara intens dipelajarinya sejak usia 7 tahun saat ikut kepanduan ( pramuka) dan ditularkannya pada semua orang termasuk Broer, anak, menantu, cucu dan seluruh karyawan, mitra dan komunitasnya hingga sekarang.
” Saya teman main sejak kecil di lingkungan rumah, teman main gundu, teman sekolah hingga SMA. Meski beda usia 4 tahun lebih muda, Adhi Tirtawisata adalah teman yang setia dan selalu mengayomi teman-temannya,” kata Broer Kesuma, Arsitek yang kini berusia 84 tahun.
Hidup dalam susah dan senang sejak jaman pendudukan Jepang, Broer melihat sifat melayani dengan hati sudah menjadi karakter sahabatnya ini sehingga bisa meraih kesuksesan hidup dan melakukan suksesi usaha yang dibangun pada anak-anaknya dengan lancar.
Achmad Sari Alam, salah satu anggota ITSC juga mengakui bahwa suksesi, penggantian kemimpinan tertinggi di lingkungan Panorama Group berjalan dengan lancar. ” Perusahaan kompetitor Panorama Group tidak ada yang sesukses pak Adhi melakukan suksesi usahanya pada generasi penerus,” katanya.
Saat ulang tahun ke 87 tahun, Achmad Sari Alam juga menandai begitu banyak perhatian dan ungkapan kasih sayang serta kedatangan teman-teman komunitas, mitra kerja bahkan para mantan klien yang hadir di luar keluarga inti.
” Kita yang hadir bisa belajar bagaimana menanamkan nilai-nilai bisnis yang sesuai dengan ajaran Allah. Usia sepuh masih banyak memiliki teman adalah luar biasa,” kata Achmad Sari Alam, mantan Ketua PHRI Banten.
Bondan Nurdiyanto, salah satu eksekutif di Panorama yang sudah 20 tahun mendampingi Adhi mengatakan cara bagaimana mengelola perusahaan dan menurunkan ilmu bisnisnya dengan sukses kepada empat putranya memang bisa menjadi acuan bagi semua pebisnis lainnya.
“Sejak awal setiap anak diberikan tanggung jawab masing-masing, Budi menjadi CEO, Anto mengurus transportasi, Dharma mengurus inbound dan Rama Tirtawisata menangani outbound,” kara Bondan.
Setiap anak bekerja di bidangnya masing-masing dan saling melengkapi serta terintegrasi dalam memberikan pelayanan sehingga proses suksesi usaha berjalan mengalir tanpa ada hambatan.
“Pegawai di bidang transportasi kami ada yang bekerja dari awal perusahaan dan sekarang anak dan cucunya juga bergabung. Artinya suksesi dan nilai-nilai yang ditanamkan juga bukan sebatas dilingkungan keluarga,” kata Bondan.
Para Panoramanian juga menularkan virus kebaikan itu pada keluarganya sehingga mampu lolos bekerja di perusahaan Tbk tentunya dengan persyaratan tinggi lainnya.
Bagi Bondan sendiri yang 25 tahun sebelumnya bekerja di Pacto Tours & Travel, perjalanan karirnya 20 tahun bersama Adhi Tirtawisata memang bukan sekedar karir, tapi proses spiritual dan kedekatan Adhi pada pada Allah yang membuatnya betah bersama tokoh pariwisata Indonesia ini.
BANDUNG, bisniswisata.co.id: Era revolusi industri 4.0 dan perkembangan segmentasi pasar pariwisata Jawa Barat (Jabar), ternyata lebih diminati wisatawan Milenial, yang mencapai 49 persen. Karena itu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar menggelar acara budaya dengan menyasar generasi milenial.
Event budaya itu bertajuk West Java Festival 2019 (WJFest 2019), di Gedung Sate Bandung pada 18 hingga 20 Oktober 2019.
“Selain merealisasikan visi Gubernur Jabar pelestarian budaya sekaligus mengenalkan ke milenial, festival ini diharapkan bisa lebih meningkatkan promosi di pariwisata,” lontar Kepala Disparbud Jabar, Dedi Taufik dalam keterangan resminya, Senin (14/10/2019)
Fokus utama dalam acara ini, sambung dia, mengangkat ragam budaya sekaligus melakukan pendekatan strategi meningkatkan kunjungan wisatawan secara luas, termasuk generasi muda. Dan untuk menyasar milenial, tema yang diusung “Honour Cultural Diversity”.
Dilanjutkan, ada beberapa konten yang akan menjadi sajian utama festival tersebut. Di antaranya, karnaval budaya yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober Karnaval Budaya dengan melibatkan organisani perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi.
Pada 19 Oktober, karnaval serupa dilangsungkan dengan mengangkat kebudayaan dari 34 Provinsi dan 27 Kabupaten Kota di Jawa Barat. Tema ini dipilih, sebagai bentuk tindak lanjut dari Bhineka Tunggal Ika sekaligus sebagai perwujudan budaya Jawa Barat . “Yakni, budaya Jabar yang someah hade ka semah (ramah, red),” katanya.
Selain karnaval, acara lainnya dimeriahkan makanan, Bussines Meeting perjalanan wisata, Exposition dan Exebition, serta Week End Market. Secara mikro, festival ini akan bisa memberi dampak ekonomi dengan kapitalisasi sebesar Rp 5 miliar, dengan asumsi dikunjungi oleh 2.5000 pengunjung.
Bahkan ada perputaran makro ekonomi selama tiga hari minimal sebesar Rp 50 Miliar rupiah di sekitar kawasan Gedung Sate yang akan masuk ke dalam Kelompok PHRI dan ASITA serta Industri Pariwisata lainnya. “Pada acara festival, semua sistem transaksi sebesar 80 persen akan mempergunakan cashless atau transaksi elektronik. Kami bekerjasama dengan BJB-Digi,” katanya.
WJFest 2019 akan mengaplikasikan sistem transaksi “Pada acara festival, semua sistem transaksi sebesar 80 persen akan mempergunakan cashless atau transaksi elektronik. Kami bekerjasama dengan Bank Jawa Barat (BJB)-Digi,” terang dia.
Selain berdampak ke ekonomi, Dedi menjelaskan tujuan utama penyelenggaraan festival ini mengangkat ragam budaya Jabar sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan, teruatama anak muda. “Dalam era revolusi industri 4.0 dan perkembangan segmentasi pasar pariwisata jawa barat yang lebih diminati oleh kaum Milenial sebesar 49 persen,” kata dia
Selain karnaval, acara tersebut dimeriahkan oleh bazar makanan, bussines meeting perjalanan wisata, exposition dan exebition. Pada WJFest-2019 pun dijadwalkan sebagai penanda launching branding Pariwisata Jawa Barat, yakni dan aplikasi fintech Smiling App. Aplikasi tersebut berisi sistem informasi pariwisata terpadu sehingga bisa memfasilitasi kebutuhan para wisatawan.
Pada WJFest-2019 pun dijadwalkan sebagai penanda launching branding Pariwisata Jawa Barat, yakni Smiling West Java dan Aplikasi Fintech untuk memfasilitasi para wisatawan melalui Smiling App yang di dalamnya terdapat Sistem Informasi Pariwisata Terpadu.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mendukung WJFest 2019 yang mengangkat kebudayaan Jawa Barat. Selain sebagai upaya pelestarian seni dan budaya lokal, hal ini bisa menjadi salah satu opsi pariwisata. “Kami sangat komitmen menjadikan pariwisata sebagai lokomotif perekonomian karena sektor ini dapat merangkul semua kalangan masyarakat dalam meningkatkan perekonomian,” ungkapnya.
Apalagi festival ini digelar setahun sekali ditambah lagi kontennya sangat cocok dengan visi misi Jawa Barat, yaitu konten-konten budaya lokal dihidupkan lagi, dilestarikan, dipopulerkan. “Ini untuk mengimbangi budaya-budaya yang terlalu ngepop dan terlalu luar negeri yang hadir dalam keseharian warga Jawa Barat, khususnya anak-anak milenial,” sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)
Disparbud Jabar, menambahkan WJFest 2019 akan mengaplikasikan sistem transaksi “Pada acara festival, semua sistem transaksi sebesar 80 persen akan mempergunakan cashless atau transaksi elektronik. Kami bekerjasama dengan Bank Jawa Barat (BJB)-Digi,” terang dia.
Selain berdampak ke ekonomi, Dedi menjelaskan tujuan utama penyelenggaraan festival ini mengangkat ragam budaya Jabar sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan, teruatama anak muda. “Dalam era revolusi industri 4.0 dan perkembangan segmentasi pasar pariwisata jawa barat yang lebih diminati oleh kaum Milenial sebesar 49 persen,” kata dia
Selain karnaval, acara tersebut dimeriahkan oleh bazar makanan, bussines meeting perjalanan wisata, exposition dan exebition. Pada WJFest-2019 pun dijadwalkan sebagai penanda launching branding Pariwisata Jawa Barat, yakni dan aplikasi fintech Smiling App. Aplikasi tersebut berisi sistem informasi pariwisata terpadu sehingga bisa memfasilitasi kebutuhan para wisatawan. (redaksibisniswisata@gmail.com)
LOS ANGELES, bisniswisata.co.id: Film Joker masih tetap beretengger di puncak box office, setelah dua pekan penayangan. Akhir pekan lalu, Joker berhasil meraup US$ 55 juta (Rp 777,1 miliar) turun 42,9 persen dari penghasilan sebelumnya. Namun demikian, pencapaian itu rupanya berhasil melebihi jauh dari ekspektasi awal.
Jika menjumlah pendapatan selama dua pekan penayangan di bioskop kawasan Amerika Serikat, film yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix berhasil mencapai angka US$ 192,7 juta (Rp 2,7 triliun). Jumlah pendapatan itu rupanya mencatatkan sejarah sebagai pendapatan dengan angka tertinggi di Oktober, melampaui film Gravity dengan jumlah US$ 43,2 juta pada 2013.
Secara internasional, Joker juga mengirimkan tumpukan kesuksesan dalam skala besar. Telah diputar di 79 pasar, film ini membawa sekitar US$ 543,9 juta (Rp 7,6 triliun) selama dua pekan penayangan. Penghasilan ini menjadikan film garapan Tod Phillips ini dinobatkan sebagai adaptasi DC Comics terbesar kesembilan di dunia, dan berada di belakang Justice League ($ 657,9 juta).
Penghasilan Joker diprediksi akan terus mengalir, mengingat terdapat beberapa jadwal pembukaan baru akhir pekan ini, termasuk debut di Perancis (US$ 10,3 juta) dan Jerman (US$ 9,3 juta) yang belum masuk daftar hitungan.
Tempat kedua diduduki oleh film yang baru saja rilis pekan lalu, alam adaptasi animasi The Addams Family. Film ini berhasil mengungguli ekspektasi pra-akhir pekan Box Office Mojo, dengan menghasilkan sekitar US$ 30,29 juta (Rp 427,9 miliar) selama tiga hari penayangan.
Penonton pada hari pembukaan memberikan nilai “B +” untuk film ini di situs CinemaScore, dengan persentase 59 persen ditonton oleh perempuan dan 48 persen di antaranya adalah penonton di bawah usia 17 tahun.
Film The Addams Family menampilkan pengisi suara bertabur bintang seperti, Oscar Isaac, Charlize Theron, Chloe Grace Moretz, Finn Wolfhard, Nick Kroll dan Bette Midler. Film persembahan Paramount, Gemini Man, menempati posisi ketiga. Namun perolehan penghasilan film ini tak sesuai dengan prediksi. Film action-thriller yang disutradarai oleh Ang Lee ini hanya berhasil memperoleh $ 20,5 juta selama tiga hari pertama di 3.642 layar domestik.
Jika Joker dan The Addams Family melampaui ekspektasi, berbanting terbalik dengan film yang dibintangi oleh Will Smith ini. Bagaimana tidak? Film ini memakan biaya produksi yang cukup tinggi, yaitu US$ 138 juta (US$ 1,9 triliun) dan menerima “B +” dari CinemaScore dari penonton hari pembukaan.
Secara internasional, Gemini Man memulai debutnya di lima pasar minggu lalu dan berkembang menjadi 58 negara di akhir pekan ini, dan menghasilkan sekitar US$ 39 juta (Rp 551 miliar). Negara Prancis dan Jerman, adalah dua pasar teratas dengan total masing-masing $ 5,1 juta (Rp 72 miliar) dan US$ 4,5 juta (Rp 63,5 miliar). Sedangkan untuk pasar baru, baik Meksiko dan Rusia melihat debut US$ 2,7 juta (Rp 38,1 miliar).
Film ini belum dibuka di Jepang atau Taiwan, di mana akan tayang pada tanggal 25 Oktober. Posisi empat ditempati oleh Universal dengan fitur animasi mereka yang bertajuk, Abominable. Film ini menghasilkan US$ 6,17 juta (Rp 87,1 miliar) saat memasuki minggu ketiga.
Mengakhiri lima teratas adalah rilis Focus berjudul, Downton Abbey, yang memasuki minggu ke empat dalam rilis dan membawa sekitar US$ 4,9 juta (Rp 69,2 miliar). Sedangkan untuk total keseluruhan, film ini berada di angka US$ 82,68 juta (Rp 82,68 miliar). Secara internasional film ini menambahkan US$ 4,1 juta (Rp 57,9 miliar) lagi akhir pekan ini.
Berikut adalah 10 daftar film box office:
1. Joker – US$ 55 juta
2. The Addams Family (2019) – US$ 30,2 juta
3. Gemini Man – US$ 20,5 juta
4. Abominable – US$ 6,1 juta
5. Downton Abbey – US$ 4,9 juta
6. Hustlers – US$ 3,8 juta
7. Judy – US$ 3,2 juta
8. It: Chapter Two – US$ 3,2 juta
9. Jexi – US$ 3,1 juta
10. Ad Astra – US$ 1,9 juta