JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di Jawa lebih mengenal Batik. Di Sumatra Utara ada Ulos. Di Nusa Tenggara Timur ada tenun. Dan di Lampung ada Kain Tapis. Dulu, kain Tapis merupakan pakaian wanita suku Lampung. Kini, sudah menjadi souvenir bahkan menjadi daya tarik desainer untuk dikembangkan bahkan dikenalkan ke penjuru dunia. Hal ini dilakukan Desainer Wignyo Rahadi.
Setelah merambah sejumlah negara Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Rusia, akhir September 2019 Desainer Wignyo Rahadi menjelajah pasar Eropa. Dengan menghadirkan koleksi bertema “Rising Tapis” dalam ajang fashion show skala intemasional La Mode Sur La Seine a Paris, yang berlangsung di Kota Paris, Perancis, kain Tapis karya Desainer Wignyo Rahadi berhasil memukau warga Kota Mode ini.
Peragaan busana digelar di atas Kapal Pesiar Boreas, dengan menyusuri Sungai Seine berkeliling Kota Paris. Di atas kapal yang dihadiri oleh buyer dan media internasional, koleksi Wignyo Rahadi bertajuk “Rising Tapis” mampu memikat para buyers.
“Dengan mengangkat Tapis, saya berharap Tapis sebagai salah satu dari keragaman kain Nusantara yang patut dikembangkan, dapat dikenal secara internasional. Hal ini sejalan dengan acara La Mode Sur La Seine a Paris yang bertujuan untuk mempromosikan karya desainer Indonesia di pasar global, melalui Eropa yang memiliki pengaruh besar terhadap industri fashion dunia,” ungkap desainer Wignyo dalam keterangan resminya, Selasa (15/10/2019).
Hasil rancangan dengan bahan kain Tapis merupakan teknik pengaplikasian benang metalik emas atau perak di atas kain tenun dengan cara sulam, yang mana menjadi salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang umumnya dikenakan para wanita setempat sebagai sarung Wignyo mencoba mengaplikasikan Tapis pada gaya busana modern sesuai segmen pasar Eropa yang dituju.
“Konsep koleksi “Rising Tapis” berfokus pada pengaplikasian Tapis benang emas secara penuh dan mendetail di atas kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang dikombinasikan dengan tenun full bintik, khususnya pada desain outer berupa jaket dan cape,” tambahnya.
KoIeksi pemilik brand Tenun Gaya itu terdiri dari jaket, cape, dress, rok, dan celana cullote yang menggunakan perpaduan material kain Tapis dan tenun ATBM dengan berbagai teknik seperti full bintik, patchwork, dan benang putus. “Warna-warna musim gugur seperti hijau olive, marun, dan emas, mendominasi koleksi ini yang memberikan kesan mewah dan elegan,” tutupnya.
Menurut data, Kain Tapis terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sudi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam. Bahan yang digunakan adalah kain sanwos atau tenun, benang katun dan benang emas atau perak, pembidang.
Kain Tapis ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora fauna yang disulam dengan benang emas dan berbentuk perak. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup.
Di daerah Lampung Utara, Tapis dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat. Dan juga biasa dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin. Kerajinan kain Tapis ini dibuat memakai alat tenun bukan mesin dengan ragam hias yang bermacam-macam.
Pembuatan Tapis ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan cara pembuatannya sudah disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Untuk sebuah kain termasuk kain yang cukup berat karena banyak jalinan benang yang melintas di kainnya. Semakin padat pembuatan coraknya, maka harganya semakin mahal. (redaksi@bisniswisata.co.id)










